Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
Total Views: 10114 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 5 of 13 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 >  Last ›

angsip - 29/09/2011 02:58 AM
#81

cool:

Quote:
Original Posted By balaprabu
nggeh sami sami


tak balas mewalik disini ah... ngacir:

Peace:
cool:
balaprabu - 29/09/2011 03:09 AM
#82

Quote:
Original Posted By angsip
cool:



tak balas mewalik disini ah... ngacir:

Peace:
cool:


jiaaaaaaaaaaaah ada yang ngebales mewalik disini wakakakka ngakaks
Kiageng Grubyuk - 29/09/2011 09:23 AM
#83

Quote:
Original Posted By balaprabu
Hiasan Pernikahan

Sehari sebelum pernikahan, biasanya gerbang rumah pengantin perempuan akan dihiasi janur kuning yang terdiri dari berbagai macam tumbuhan dan daun-daunan:

2 pohon pisang dengan setandan pisang masak pada masing-masing pohon, melambangkan suami yang akan menjadi kepala rumah tangga yang baik dan pasangan yang akan hidup baik dan bahagia dimanapun mereka berada (seperti pohon pisang yang mudah tumbuh dimanapun).


Tebu Wulung atau tebu merah, yang berarti keluarga yang mengutamakan pikiran sehat.


Cengkir Gading atau buah kelapa muda, yang berarti pasangan suami istri akan saling mencintai dan saling menjagai dan merawat satu sama lain.


Berbagai macam daun seperti daun beringin, daun mojo-koro, daun alang-alang, dadap serep, sebagai simbol kedua pengantin akan hidup aman dan keluarga mereka terlindung dari mara bahaya.


Selain itu di atas gerbang rumah juga dipasang bekletepe yaitu hiasan dari daun kelapa untuk mengusir roh-roh jahat dan sebagai tanda bahwa ada acara pernikahan sedang berlangsung di tempat tersebut.


Sebelum Tarub dan janur kuning tersebut dipasang, sesajen atau persembahan sesajian biasanya dipersiapkan terlebih dahulu. Sesajian tersebut antara lain terdiri dari: pisang, kelapa, beras, daging sapi, tempe, buah-buahan, roti, bunga, bermacam-macam minuman termasuk jamu, lampu, dan lainnya.


Arti simbolis dari sesajian ini adalah agar diberkati leluhur dan dilindungi dari roh-roh jahat. Sesajian ini diletakkan di tempat-tempat dimana upacara pernikahan akan dilangsungkan, seperti kamar mandi, dapur, pintu gerbang, di bawah Tarub, di jalanan di dekat rumah, dan sebagainya.


Dekorasi lain yang dipersiapkan adalah Kembar Mayang yang akan digunakan dalam upacara panggih

[code]http://id.wikipedia.org/wiki/Pernikahan_adat_Surakarta[/code]


agak berbeda dari yang saya ngerti,
1. pisang raja sepasang = sang manten pada hari itu dianggap sebagai raja, juga berarti doa bagi kelanjutan besok.

2. kalau make tratag/ tenda jaman dulu pas 4 sudutnya memakai bambu ampel, artinya bemoga terhindar dari segala gangguan, ampel = tampel = nampel

3. tiang kanan kiri pintu memakai bambu wulung, artinya temen, nglengke, niat

4. tiang lainya memakai bambu apus, artinya samudana supaya terhindar dari gangguan.

5. tebu wulung = antebing kalbu , sudah meniatkan diri untuk menuju ke pernikahan

6. cengkir gading = kencenging pikir, gading = hal yang berharga, sudah meniatkan pikiran untuk menuju hal yang berharga, sakral.

7. dedaunan, godong opo opo (9macam), diharapkan besok mendapat rejeki berlimpah yang komplit, opo opo ono

8. blegetepe = digambarkan seperti rumah, atau omah omah, jadi diharapkan pengantin walau sederhana nantinya mempunyai rumah sendiri, mandiri

9.sajen tarup, doa pada leluhur yang datang (Ki Ageng Tarup)

10. Kembar mayang = adalah sarana yang daimbil dari Ki Ageng Tarup untuk kelancaran pada pesta pernikahan itu, diambil pada saat acara malam midodareni, malam turunya widodari supaya pengantin seperti bidadari.

maaf, hanya share sedikit
angel.wijaya - 29/09/2011 10:45 AM
#84

Quote:
Original Posted By balaprabu
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Makna Ketupat

Ketupat sebagai karya budaya dikaitkan dengan suatu hasil dengan beraneka macam bentuk. Sedang ketupat sebagai ungkapan budaya adalah merupakan simbol yang di dalamnya terkandung manka dan pesan tentang kebaikan.


ini ada tambahan yg lumayan bagus kang

Filosofi ketupat

Ketupat memiliki makna tersendiri. Bungkus ketupat dibuat dari janur kuning yang dianyam sedemikian rupa hingga membentuk segi empat. Janur kuning merupakan lambang dari penolak bala. Pada Kraton Surakarta, ada sepotong kain panjang yang disebut Samir yang merupakan aksesoris wajib yang harus dikenakan. Samir kuning tersebut dipercaya sebagai penolak bala. Nah, janur kuning inilah kemudian yang dianggap sebagai Samir penolak bala. Dulu, selongsong ketupat itu dibuat sendiri. Tangan-tangan terampil wanita bekerja dengan cekatan merangkai helai-helai janur. Di kala pembuatan selongsong ini biasanya suasana begitu ramai.

Bentuk segi empat merupakan wujud dari prinsip “kiblat papat lima pancer”, yang bermakna bahwa ke mana pun manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Tuhan.

Secara harfiah, “kiblat papat lima pancer” bermakna “empat arah mata angin dan satu pusat”. Kalo dijelantrahkan bisa bermakna macam-macam. Salah satu maknanya adalah makna filosofi keseimbangan alam. Kita tahu ada 4 arah mata angin utama, yaitu timur, selatan, barat, dan utara. Akan tetapi semua arah ini bertumpu pada satu pusat. Bila salah satunya hilang, keseimbangan alam akan hilang. Begitu juga dengan manusia. Ke mana pun manusia ini pergi (ke penjuru mata angin) tentu dia tak lepas dari yang namanya pusat, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, supaya manusia tetap “seimbang” hendaklah selalu ingat kepada Tuhan, pusat dari segalanya. Itulah kira-kira hasil otak-atik gathuk yang saya tangkap dari filosofi “kiblat papat lima pancer” ini.
Kemudian beras yang menjadi isi dari ketupat menjadi lambang dari kemakmuran. Diharapkan setelah hari raya, kita akan selalu dilimpahi dengan kemakmuran. Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari kata bahasa Jawa “ngaku lepat” yang berarti “mengakui kesalahan”. Sehingga dengan ketupat kita diharapkan mengakui kesalahan kita dan saling memaafkan serta melupakan kesalahan dengan cara memakan ketupat tersebut. Ada lagi tradisi unik yang kini sudah sangat jarang ditemukan.

Selain simbol maaf, ada yang percaya kalo ketupat dapat menolak bala. Caranya dengan menggantungkan ketupat yang sudah matang di atas kusen pintu depan rumah. Biasanya ketupat digantung bersamaan dengan pisang. Ketupat ini digantungkan berhari-hari bahkan berbulan-bulan sampai kering hingga Lebaran tahun berikutnya. Tapi tradisi menggantungkan ketupat yang kental nuansa mistisnya ini kini sudah sangat jarang ditemukan. Percaya atau tidak, tapi itulah filosofi dan tradisi yang saya ketahui dari cerita orang-orang tua.

Sumber
balaprabu - 29/09/2011 11:09 AM
#85

Quote:
Original Posted By Kiageng Grubyuk
agak berbeda dari yang saya ngerti,
1. pisang raja sepasang = sang manten pada hari itu dianggap sebagai raja, juga berarti doa bagi kelanjutan besok.

2. kalau make tratag/ tenda jaman dulu pas 4 sudutnya memakai bambu ampel, artinya bemoga terhindar dari segala gangguan, ampel = tampel = nampel

3. tiang kanan kiri pintu memakai bambu wulung, artinya temen, nglengke, niat

4. tiang lainya memakai bambu apus, artinya samudana supaya terhindar dari gangguan.

5. tebu wulung = antebing kalbu , sudah meniatkan diri untuk menuju ke pernikahan

6. cengkir gading = kencenging pikir, gading = hal yang berharga, sudah meniatkan pikiran untuk menuju hal yang berharga, sakral.

7. dedaunan, godong opo opo (9macam), diharapkan besok mendapat rejeki berlimpah yang komplit, opo opo ono

8. blegetepe = digambarkan seperti rumah, atau omah omah, jadi diharapkan pengantin walau sederhana nantinya mempunyai rumah sendiri, mandiri

9.sajen tarup, doa pada leluhur yang datang (Ki Ageng Tarup)

10. Kembar mayang = adalah sarana yang daimbil dari Ki Ageng Tarup untuk kelancaran pada pesta pernikahan itu, diambil pada saat acara malam midodareni, malam turunya widodari supaya pengantin seperti bidadari.

maaf, hanya share sedikit


mantab mbah...mangga dilanjut thumbup:
balaprabu - 29/09/2011 11:18 AM
#86

Quote:
Original Posted By angel.wijaya
ini ada tambahan yg lumayan bagus kang

Filosofi ketupat

Ketupat memiliki makna tersendiri. Bungkus ketupat dibuat dari janur kuning yang dianyam sedemikian rupa hingga membentuk segi empat. Janur kuning merupakan lambang dari penolak bala. Pada Kraton Surakarta, ada sepotong kain panjang yang disebut Samir yang merupakan aksesoris wajib yang harus dikenakan. Samir kuning tersebut dipercaya sebagai penolak bala. Nah, janur kuning inilah kemudian yang dianggap sebagai Samir penolak bala. Dulu, selongsong ketupat itu dibuat sendiri. Tangan-tangan terampil wanita bekerja dengan cekatan merangkai helai-helai janur. Di kala pembuatan selongsong ini biasanya suasana begitu ramai.

Bentuk segi empat merupakan wujud dari prinsip “kiblat papat lima pancer”, yang bermakna bahwa ke mana pun manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Tuhan.

Secara harfiah, “kiblat papat lima pancer” bermakna “empat arah mata angin dan satu pusat”. Kalo dijelantrahkan bisa bermakna macam-macam. Salah satu maknanya adalah makna filosofi keseimbangan alam. Kita tahu ada 4 arah mata angin utama, yaitu timur, selatan, barat, dan utara. Akan tetapi semua arah ini bertumpu pada satu pusat. Bila salah satunya hilang, keseimbangan alam akan hilang. Begitu juga dengan manusia. Ke mana pun manusia ini pergi (ke penjuru mata angin) tentu dia tak lepas dari yang namanya pusat, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, supaya manusia tetap “seimbang” hendaklah selalu ingat kepada Tuhan, pusat dari segalanya. Itulah kira-kira hasil otak-atik gathuk yang saya tangkap dari filosofi “kiblat papat lima pancer” ini.
Kemudian beras yang menjadi isi dari ketupat menjadi lambang dari kemakmuran. Diharapkan setelah hari raya, kita akan selalu dilimpahi dengan kemakmuran. Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari kata bahasa Jawa “ngaku lepat” yang berarti “mengakui kesalahan”. Sehingga dengan ketupat kita diharapkan mengakui kesalahan kita dan saling memaafkan serta melupakan kesalahan dengan cara memakan ketupat tersebut. Ada lagi tradisi unik yang kini sudah sangat jarang ditemukan.

Selain simbol maaf, ada yang percaya kalo ketupat dapat menolak bala. Caranya dengan menggantungkan ketupat yang sudah matang di atas kusen pintu depan rumah. Biasanya ketupat digantung bersamaan dengan pisang. Ketupat ini digantungkan berhari-hari bahkan berbulan-bulan sampai kering hingga Lebaran tahun berikutnya. Tapi tradisi menggantungkan ketupat yang kental nuansa mistisnya ini kini sudah sangat jarang ditemukan. Percaya atau tidak, tapi itulah filosofi dan tradisi yang saya ketahui dari cerita orang-orang tua.

Sumber


oke makasih tambahannya mengenai ketupat kang shakehand
angel3wijaya - 29/09/2011 03:06 PM
#87

Muludan dan Pelal Gunung Jati Cirebon

Pelal adalah asimilasi atau penyerapan dari kata fadhal (Arab) yang berarti keutamaan atau afdhal artinya utama. malam pelal bermakna suatu malam dimana Allah menurunkan keutamaan bagi bumi dan penghuninya, yaitu dengan kelahiran bayi yang kelak akan menjadi nabi yang suci, yaitu Muhammad saw.

Inti dari malam pelal di Gunung Jati adalah dua peristiwa.
1. adalah pembacaan maulid deiba'i, bertempat di Paseban Agung Pesambangan.
Pembacaan prosa sejarah Nabi Muhammad ini diikuti oleh para sesepuh dan tokoh mayarakat Gunung Jati dan sekitarnya dan juga oleh para santri dan masyarakat secara luas.

2. adalah iringan panjang jimat yang diantar dari kediaman Jeneng menuju pesambangan di tengah-tengah pembacaan maulid deiba'i.

Malam itu hampir ribuan orang memenuhi sepanjang perjalanan yang akan dilalui iring-iringan panjang jimat. Mereka berdiri berdesak-desakan, berjubel saling berimpit menanti dengan penuh harapan dapat memperoleh berkah sebanyak-banyaknya dari keluarnya panjang jimat ini.

Panjang jimat adalah iring-iringan symbol-simbol yang ada di pesambangan. Sedangkan jimat sendiri berasal dari kata "siji sing kedah dirumat", satu yang harus tetap dipelihara, dijaga agar tetap lestari keberadaannya. Dan yang satu itu adalah kelip keimanan dalam hati, yang telah ditanam oleh Nabi Muhammad saw. yang dibawa melalui kelahiran beliau malam ini. Sebagaimana digambarkan dalam iringan panjang jimat yaitu menjaga sebuah lilin agar tetap menyala hingga ahir tujuan (hidup), yaitu pesambangan (pertemuan dengan Tuhan).

Terlihat sekali gambaran pesan moral itu dalam iringan panjang jimat ini.
Bagaimana selama perjalanan dari kediaman Jeneng hingga memasuki Gapura Manglayang menuju Paseban Agung ini dikerahkan segenap daya,
dengan melibatkan seluruh kemampuan yang ada bahkan dengan pengawalan puluhan polisi membentuk barikade pagar betis untuk menjaga dan mengamankannya,
agar jeneng dan penghulu sebagai simbol-*simbol ahsani taqwiim di Pesambangan ini tidak sampai jatuh dan nyala lilin tidak sampai padam.
Mereka mewartakan demikian serius dan sepenuh hati, dengan mengerahkan segala daya dan kemampuan demi menjaga dan merawat jati diri kemanusiaan
agar tidak sampai jatuh (tsumma rodadnaahu asfala saafiliina) dan kelip keimanan dalam dada tidak sampai padam (illaalladziinaamanu wa'amilushshoolihat).


gambaran iringan panjangjimat itu sebagai berikut:

Empat orang Bekel Anom dengan formasi 1 di depan dua di belakang membawa lilin, satu orang lagi membawa anglo (perapian kecil tempat wewangian).
Di belakang mereka berjalan Jeneng (sesepuh pesambangan) dan Penghulu (sesepuh masjid) mengapit kemung kecil yang dibungkus kain putih.
Selanjutnya adalah empat orang Bekel Anom dengan formasi 2-2 membawa lilin dan diiringi oleh empat Bekel Sepuh dengan formasi 2-2.
Kesemuanya melantunkan sholawat nabi sepanjang perjalanan.

Sekarang dirampingkan, dengan tidak meninggalkan simbol*-simbol utamanya yaitu sebuah kemung, sosok jeneng dan sebuah lilin yang menyala.

Rosululloh Muhammad saaw. adalah kekasih yang mulia, yang Allah memakaikannya dengan pakaian ketenangan dan kepedulian yang tinggi,
dan mencemerlangkan wajahnya dengan kewibawaan dan keutamaan serta Allah menaburi kepalanya dengan ketaatan.

Ternyata kelipan cahaya lilin itu adalah Nur Muhammad,
cahaya muhammad yang dengannya Allah menciptakan alam semesta ini.
Dan dengan Nur Muhammad, Allah memberikan hukum agar makhluk-Nya bisa menjalani kehidupan.

Nur Muhammad yang menjadi penerang atas gulita dijagat raya ini, maka jagalah, peliharalah, rumatlah jangan sampai meredup lalu padam.
Inilah yang digambarkan oleh iring-iringan panjang jimat pada malam pelal di Gunung Jati.


Brekat Pelal

Brekat pelal berupa ketan rasul yaitu iketana ajaran Rosulallah Muhammad saaw. Di Gunung Jati, ketan rasul itu terdiri dari

Nasi ketan berwarna putih atau kuning
Cemplung
Serundeng
Uyo sango
Kacang goreng
Dadar terigu yang diler atau diiris tipis-tipis
Telur asin yang dibelah empat atau delapan
Gesek atau ikan asin.
Yang dapat kita tangkap dari isi ketan rasul ini adalah suatu ikatan atau kebersamaan/kebersatuan yang suci (putih) atau yang agung (kuning) dari berbagai elemen masyarakat Pantura yang diwakili oleh gesek sebagai simbol masyarakat nelayan, kacang dan kelapa mewakili masyarakat petani, telur mewakili masyarakat peternak dan dadar terigu yang dibuat tipis dan lebar mewakili pedagang yang menggelar modal. Iketan suci (biasa kita melafalkannya dengan shilaturrahmi atau persatuan dan kesatuan) adalah modal dasar untuk terciptanya masyarakat yang harmonis, kuat dan mandiri. Hal yang menjadi dasar dari penyebaran agama islam yang menyeluruh dan menyentuh segala lapisan masyarakat.

Lebih rinci lagi penjabaran isi brekat rasul ini sebagai berikut :

Ketan rasul adalah symbol ajaran islam yang agung dan suci. cemplung adalah symbol pesan agar kita nyemplung, masuk kedalam islam dengan kaffah atau sempurna (Udkhulu fissilmi Kaaffah). setelah berada didalamnya, kita berkewajiban menyampaikan kembali ajaran islam ini kepada yang lain (ballighuu'annii walauayatan:aihadits).
Hal ini disimbolkan dengan serundeng atau serundang yang diartikan sebagai serune ing pengundang atau kesungguhan untuk menyeru ummat untuk ber-amar ma'ruf nahi munkar, berlaku kebajikan dan meninggalkan hal-hal yang jelek.
Sedangkan uyo sango adalah dua gabungan dua kata, yaitu uyo dan sango. Uyo berarti garam, bahwa menjadi muslim sebagai rahmatan lil alamin, hendaknya kehadiran kita bisa diterima oleh siapapun saja sebagai penyedap kehidupan, dicari dan dibutuhkan dalam kehidupan untuk memberi efek lezat sebagaimana fungsi garam pada setiap masakan. Hal ini diajarkan dan ditauladankan oleh para wali sanga dalam kerangka dakwah mereka. Hingga filosofi uyo dari para wali ini ini dikenal melalui symbol uyo sango. Baik cemplung, serundang maupun uyo sango ini bahannya semua dari kelapa. Tumbuhan yang seluruh bagiannya memiliki manfaat, artinya semenjak kita masuk islam, melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar dan memfungsikan diri sebagai pelengkap dan penyedap kehidupan serta memberikan manfaat dimanapun kita berada.

Kacang adalah tumbuhan yang tumbuh dan berkembang dari dirinya sendiri di dalam tanah, bukan distek atau dicangkok. Kacang menjadi simbol rasa percaya diri untuk tumbuh berkembang dengan kemampuan sendiri dengan kepribadian yang murni yang berakar pada asal penciptaan manusia yakni bumi atau tanah.

Dadar aci terigu mengandung pesan agar manusia selalu mengaji pada asal kejadiannya. Mendadar muasalnya agar tidak menjadi sombong, takabbur dan semena-mena.

Sedangkan gesek atau ikan asin, memberikan pesan agar kita rerus menjaga lentera keimanan dalain kalbu kita agar tidak sampai mati. sebab selama lentera keimanan itu hidup, kita tidak akan terpengaruh, tergiur atau terseret masuk kedalam peradaban modern yang cenderung bebas, vulgar dan tanpa batas. Selama lentera keimanan masih menyala, syetan tidak akan bisa mengalahkan kita meskipun dengan iming-iming yang mempesona, kita akan tetap bisa mempertahankan kejayaan diri. Laksana ikan yang masih hidup, yang tidak terpengaruh oleh asinnya air laut yang mengelilinginya. Namun jika mati, maka jasadnya menjadi asin, menjadi gesek yang jelek. Asinnya ikan masih bisa kita nikmati, tapi jika spiritual kita tercemar dan iman tauhid mati oleh kebudayaan yang busuk produk syaethonir rojim, kita akan menjadi makhluk terbuang yang sia-sia. Nasib kita kelak tak ubah bagai padi gabug yang tak berisi, dipisahkan, lalu dibakar. Naudzu billah

diambil seperlunya dari buku "Mengaji pada Sunan Gunung Jati" karya Abdul Ghofar Abu Nidalloh

Sumber
angel3wijaya - 29/09/2011 03:07 PM
#88

Hasil Diskusi Makna dan Filosofi Sintren

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Sintren merupakan salah satu jenis seni pertunjukan rakyat Jawa Barat yang banyak terdapat di daerah Pantura (pantai utara),
terutama di wilayah Cirebon, Indramayu, Subang, dan Kuningan.
Penari sintren biasanya memakai kaca mata hitam untuk menutupi posisi biji mata sewaktu trance.
Di dalam pertunjukan sintren biasanya digunakan kemenyan dan kurungan ayam yang ditutupi kain hitam, supaya pemain sintrennya tidak terlihat ketika berada dalam kurungan tersebut.
Lagu-lagu yang dilantunkan umumnya bersifat memanggil bidadari, kekuatan ruh yang dipercayai dapat mendatangkan kekuatan tertentu,
seperti tercermin dalam lagu Kembang Terate, Gulung-Gulung Klasa, Turun Sintren, Simbar Pati, Kilar Blatar dan lain-lain.

Beberapa makna yang terdapat di balik sintren, antara lain:
1. makna mitis yang memiliki hubungan dengan perolehan secara magis.
Ini tercermin lewat lagu-lagu yang dilantunkan dengan monoton
tapi sederhana dan mampu memberikan kekuatan tertentu,
sehingga pemain sintren dari kondisi terikat kuat dapat lepas dan berpakaian dalam hitungan detik.

2. adalah makna teatrikal. Makna teatrikal ini digambarkan dengan tampilnya pawang dengan pemain sintren dan kurungan secara simultan.
Lalu sintren berganti rupa dalam penampilannya sejak diikat dan dimasukkan ke dalam kurungan
dan keluar lagi serta masuk lagi dalam kurungan.

Filosofi didalam kehidupan umat manusia,
Dijelaskan bahwa manusia ketika pada saat lahir masih kedalam suci dan bersih tanpa sehelai benang.
Kurungan melambangkan dunia. Tali dianggap sebagai sebuah ikatan batin antara manusia dengan Allah SWT.
Kemenyan melambangkan sebuah rasa karena manusia memiliki rasa, cipta dan karsa yang membuat manusia menjadi mahkluk yang sempurna.

Uang yang dilempar melambangkan bahwa Manusia jatuh karena harta
jika Ia memiliki harta yang banyak ia bisa jatuh tanpa sadar kedalam kesombongan dan keangkuhan sehingga ia menjadi manusia yang paling kuat.
(Narasumber : H. Enoch, M.Hum (Rektor STSI Bandung), Abidin Aslich ( Kepala Disporbudpar Kota Cirebon ), Dedi Gumelar "Miing Bagito" (Seniman/Anggota DPR Komisi X tentang Pendidikan, Kebudayaan, Pariwsata, Sosial)


Kesenian tradisional kita tak lepas dari kehidupan sosial, agama seperti Jaipong dan Sintren yang mengutamakan Silaturahmi dan Tuntunan.
Agama Islam menganjurkan bahwa setiap umat manusia wajib bersilaturahmi baik terhadap sesama maupun Allah SWT.
Silaturahmi bisa dilakukan dengan berbagai cara termasuk kesenian.
Sintren jika diteliti lebih jauh filosofi ini justru sebagai dakwah bagi manusia yang hilang keimanannya.
Sesungguhnya Harta yang diberikan Allah SWT hanya bersifat titipan jadi kita sebagai umatnya menggunakan harta dengan sebaik2nya.

Jadi jelas baik Kesenian Jaipong dan Sintren jangan dibilang musyrik.
Kesenian itu itu Baik, Indah jika kita memaknai dengan hal2 positif tetapi Kesenian itu buruk jika dimaknai dengan hal2 negatif.

Jangan pernah menjelek2an Kesenian Tradisional maka Kesenian ini hancur maka hancurlah Bangsa Indonesia, kita dukung Kesenian Tradisional yang kaya makna dan filosofi yang bisa kita petik hikmahnya. (Dedi "Miing" Gumelar)


* diposting oleh Komunitas Sindhung Aluwung Jati dari Kang Sabar Atmaja, dari hasil seminar "Mengungkap Sisi dan Filosofi Kesenian Sintren" pada 7 Juni 2011 di Teater Bundar - Sekolah Tinggi Seni Indonesia (Halaman STSI) Bandung
Sumber
balaprabu - 29/09/2011 03:16 PM
#89

oke makasih om atas tambahan artikelnya thumbup:
angel.wijaya - 29/09/2011 03:22 PM
#90

Quote:
Original Posted By balaprabu
oke makasih om atas tambahan artikelnya thumbup:


mudah2an tambahan dari saya, ga meleset dri relnya yah shakehand
balaprabu - 29/09/2011 03:36 PM
#91

Quote:
Original Posted By angel.wijaya
mudah2an tambahan dari saya, ga meleset dri relnya yah shakehand


sips makasih ya thumbup:
mas muso - 29/09/2011 10:18 PM
#92

Quote:
Original Posted By balaprabu
wah kayanya biar saja tread saya ini sederhana apa adanya aja tanpa indeks \)

sekalian melatih agar pembacanya mau membaca keseluruhan isi tread, ga cuma membaca yang perlunya saja terus pergi. biar belajar rasa kebersamaan D


woke lah kalo begitu o
hanya usul dari nubi malu:
balaprabu - 29/09/2011 11:51 PM
#93

Quote:
Original Posted By mas muso
woke lah kalo begitu o
hanya usul dari nubi malu:


sementara begini dulu ya mbah, hehehe mohon dimaklumi kekurangan dari saya shakehand
balaprabu - 30/09/2011 10:57 AM
#94
filsafafat reog Ponorogo
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Nama asli dari kesenian ini adalah REYOG. Huruf-huruf reyog mewakili sebuah huruf depan kata-kata dalam tembang macapat Pocung yang berbunyi: (R) rasa kidung (E) engkang sukmo adi luhung (Y) Yang Widhi, Yang Agung, (O) olah kridaning Gusti (G) gelar gulung kersaneng Kang Moho Agung. Menurut bupati pertama ponorogo, kata reog berasal dari kata Riyokkun yang maknanya berarti khusnul khotimah.


Sejarah Asal Muasal

Sejarah keberadaan Reog sebagai seni mulai muncul ketika pada thn 1400-an ketika itu Dadak Merak dimaksudkan untuk menyindir Raja Brawijaya V, yang lebih terpengaruh oleh permaisurinya. Bentuk Reog pun sebenarnya merupakan sebuah sindiran dari Demang Ki Ageng Kutu Suryongalam terhadap Majapahit, Prabu Brawijaya V yang bergelar Bhree Kertabumi yang belum melaksanakan tugas – tugas kerajaan secara tertib, adil dan memadai. Sebab kekuasaan raja dikuasai atau dipengaruhi bahkan dikendalikan oleh pemaisurinya. Digambarkan pada Dadak Merak (Singo Barong), bahwa Kepala Macan/Singo barong simbolisasi laki-laki diatasnya adalah Burung Merak sebagai simbolisasi wanita, Artinya Lelaki yang dibawah wanita. Konon waktu itu para penari reog sebenarnya adalah sekumpulan pendekar-pendekar (bekas pasukan khusus Majapahit) yang kecewa terhadap junjungannya yang berniat memberontak. Akhirnya diredam oleh para petinggi kerajaan yang sangat berpengaruh dengan dialihkan menjadi suatu bentuk perkumpulan kesenian.

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Dadak merak : melambangkan kekuasaan / kecantikan.

Barong : melambangkan kekuatan atau lelaki perkasa. Legenda menyebutkan bahwa barong yang dihiasi merak menandakan bahwa Raja Brawijaya V tak berkutik dibawah dewi campa (permaisuri) .

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Warok dengan berpakaian hitam dengan muka merah: Menggambarkan tokoh yang beringas dan penuh dengan ilmu hitam. Namun legenda lain menceritakan sosok warok adalah pasukan yang bersandar pada kebenaran dalam pertarungan antara yang baik dan jahat dalam cerita kesenian reog. Orang sakti dan memiliki kearifan yang tinggi, serta menjadi tokoh sentral atau “orang tua” didaerahnya masing-masing yang disegani.


beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Gemblak / penari jatilan : Gemblak / jatilan adalah lelaki kesayangan dari warok. Memelihara gemblak adalah tradisi, seolah menjadi kewajiban setiap warok untuk memelihara gemblak agar bisa mempertahankan kesaktiannya.

Legenda lain yang menyebutkan bahwa jatilan ( pasukan berkuda ) yang bersifat fiminim mengilustrasikan bahwa prajurit majapahit bak perempuan yang tidak bernyali untuk menggempur demak bintoro.

Jadi Reog merupakan “sindiran” kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Urutan Tarian

Alur cerita pementasan Reog yaitu warok, kemudian jatilan, Bujangganong, Kelana Sewandana, terakhir barongan atau dadak merak.

Alur Cerita

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat mementaskan tariannya.

[code]http://openwinside.wordpress.com/2010/03/02/filsafat-reog-ponorogo/[/code]
angel.wijaya - 30/09/2011 11:43 AM
#95

Quote:
Original Posted By balaprabu
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Nama asli dari kesenian ini adalah REYOG. Huruf-huruf reyog mewakili sebuah huruf depan kata-kata dalam tembang macapat Pocung yang berbunyi: (R) rasa kidung (E) engkang sukmo adi luhung (Y) Yang Widhi, Yang Agung, (O) olah kridaning Gusti (G) gelar gulung kersaneng Kang Moho Agung. Menurut bupati pertama ponorogo, kata reog berasal dari kata Riyokkun yang maknanya berarti khusnul khotimah.


Sejarah Asal Muasal

Sejarah keberadaan Reog sebagai seni mulai muncul ketika pada thn 1400-an ketika itu Dadak Merak dimaksudkan untuk menyindir Raja Brawijaya V, yang lebih terpengaruh oleh permaisurinya. Bentuk Reog pun sebenarnya merupakan sebuah sindiran dari Demang Ki Ageng Kutu Suryongalam terhadap Majapahit, Prabu Brawijaya V yang bergelar Bhree Kertabumi yang belum melaksanakan tugas – tugas kerajaan secara tertib, adil dan memadai. Sebab kekuasaan raja dikuasai atau dipengaruhi bahkan dikendalikan oleh pemaisurinya. Digambarkan pada Dadak Merak (Singo Barong), bahwa Kepala Macan/Singo barong simbolisasi laki-laki diatasnya adalah Burung Merak sebagai simbolisasi wanita, Artinya Lelaki yang dibawah wanita. Konon waktu itu para penari reog sebenarnya adalah sekumpulan pendekar-pendekar (bekas pasukan khusus Majapahit) yang kecewa terhadap junjungannya yang berniat memberontak. Akhirnya diredam oleh para petinggi kerajaan yang sangat berpengaruh dengan dialihkan menjadi suatu bentuk perkumpulan kesenian.

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
Dadak merak : melambangkan kekuasaan / kecantikan.

Barong : melambangkan kekuatan atau lelaki perkasa. Legenda menyebutkan bahwa barong yang dihiasi merak menandakan bahwa Raja Brawijaya V tak berkutik dibawah dewi campa (permaisuri) .

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
Warok dengan berpakaian hitam dengan muka merah: Menggambarkan tokoh yang beringas dan penuh dengan ilmu hitam. Namun legenda lain menceritakan sosok warok adalah pasukan yang bersandar pada kebenaran dalam pertarungan antara yang baik dan jahat dalam cerita kesenian reog. Orang sakti dan memiliki kearifan yang tinggi, serta menjadi tokoh sentral atau “orang tua” didaerahnya masing-masing yang disegani.


beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
Gemblak / penari jatilan : Gemblak / jatilan adalah lelaki kesayangan dari warok. Memelihara gemblak adalah tradisi, seolah menjadi kewajiban setiap warok untuk memelihara gemblak agar bisa mempertahankan kesaktiannya.

Legenda lain yang menyebutkan bahwa jatilan ( pasukan berkuda ) yang bersifat fiminim mengilustrasikan bahwa prajurit majapahit bak perempuan yang tidak bernyali untuk menggempur demak bintoro.

Jadi Reog merupakan “sindiran” kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Urutan Tarian

Alur cerita pementasan Reog yaitu warok, kemudian jatilan, Bujangganong, Kelana Sewandana, terakhir barongan atau dadak merak.

Alur Cerita

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat mementaskan tariannya.

[CODE]http://openwinside.wordpress.com/2010/03/02/filsafat-reog-ponorogo/[/CODE]


saya jadi ingat kesenian serupa
namanya Reak di cianjur

Quote:

Reak (Cianjur, Jawa Barat)
Asal-usul
Di Kampung Pasir Kuda, Desa Rahong, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur ada sebuah kesenian tradisinonal yang bernama reak, yaitu sebuah kesenian yang merupakan perpaduan antara: reog, angklung, kendang pencak, dan topeng. Konon, kesenian ini lahir sekitar abad ke-12. Ketika itu Prabu Kiansantang (putra Prabu Siliwangi) menginginkan agar penduduk pulau Jawa, khususnya Jawa Barat menganut agama Islam. Dalam agama Islam ada kewajiban bahwa seorang anak laki-laki mesti dikhitan. Mengingat bahwa khitanan berarti memotong bagian ujung penis, maka dalam pelaksanaanya seringkali membuat anak menjadi ketakutan. Untuk itu, para sesepuh Sumedang menciptakan suatu kesenian dengan tujuan agar yang disunat terhibur, sehingga mengurangi rasa takut. Dan, kesenian itu disebut sebagai “reak” karena merupakan perpaduan dari berbagai jenis kesenian, sehingga mewujudkan kehiruk-pikukan dan kesorak-soraian baik dari pemain maupun penonton. Sekitar tahun 50-an kesenian ini dibawa oleh para pedagang Sumedang ke daerah Cianjur.


Sumber
balaprabu - 30/09/2011 11:52 AM
#96

Quote:
Original Posted By angel.wijaya
saya jadi ingat kesenian serupa
namanya Reak di cianjur



Sumber


wah menarik kang, ada potonya?
angel.wijaya - 30/09/2011 12:06 PM
#97

Quote:
Original Posted By balaprabu
wah menarik kang, ada potonya?


ga terlalu jelas fotonya
tp kalo reak yg diadopsi dari reog abad ke-12 (dlm keterangan diatas), berarti reog jauh lebih tua yah

Spoiler for Pict
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya


ini ada videonya
[YOUTUBE]NhHJkw-TG0c[/YOUTUBE]
balaprabu - 30/09/2011 12:10 PM
#98

Quote:
Original Posted By angel.wijaya
ga terlalu jelas fotonya
tp kalo reak yg diadopsi dari reog abad ke-12 (dlm keterangan diatas), berarti reog jauh lebih tua yah

Spoiler for Pict
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya


ini ada videonya
[YOUTUBE]NhHJkw-TG0c[/YOUTUBE]


unik juga kang thumbup:
angel.wijaya - 30/09/2011 12:19 PM
#99

Quote:
Original Posted By balaprabu
unik juga kang thumbup:


saya melihatnya,ini membuktikan seni & budaya bisa menyatukan keragaman suku (daerah) lain
kesenian tsb di adopsi, digubah dg kebiasaan adat setempat,
tapi tanpa menghilangkan ciri khas kesenian aslinya thumbup:
buhitoz - 30/09/2011 12:23 PM
#100

Quote:
Original Posted By angel.wijaya
saya melihatnya,ini membuktikan seni & budaya bisa menyatukan keragaman suku (daerah) lain
kesenian tsb di adopsi, digubah dg kebiasaan adat setempat,
tapi tanpa menghilangkan ciri khas kesenian aslinya thumbup:


seni dan budaya itu adaptif
mampu menyesuaikan diri dengan tempat dan lingkungan

nah...jadi kalo ada yang memaksakan kehendak...pengen bener sendiri...
itu namanya gak nyeni dan gak berbudaya...
begitu kali, ya...
Page 5 of 13 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya