Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
Total Views: 10114 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 6 of 13 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 >  Last ›

balaprabu - 30/09/2011 12:35 PM
#101

Quote:
Original Posted By angel.wijaya
saya melihatnya,ini membuktikan seni & budaya bisa menyatukan keragaman suku (daerah) lain
kesenian tsb di adopsi, digubah dg kebiasaan adat setempat,
tapi tanpa menghilangkan ciri khas kesenian aslinya thumbup:


Quote:
Original Posted By buhitoz
seni dan budaya itu adaptif
mampu menyesuaikan diri dengan tempat dan lingkungan

nah...jadi kalo ada yang memaksakan kehendak...pengen bener sendiri...
itu namanya gak nyeni dan gak berbudaya...
begitu kali, ya...


seni memang harus dibumikan, karena seni yang tidak membumi tak akan pernah berakar dan tidak dapat jadi jatidiri suatu masyarakat. karenanya proses adaptasi dan penyesuaian itu pasti ada.
angel.wijaya - 30/09/2011 12:40 PM
#102

Quote:
Original Posted By buhitoz
seni dan budaya itu adaptif
mampu menyesuaikan diri dengan tempat dan lingkungan

nah...jadi kalo ada yang memaksakan kehendak...pengen bener sendiri...
itu namanya gak nyeni dan gak berbudaya...
begitu kali, ya...


sptnya begitu mbah Peace:
balaprabu - 30/09/2011 05:56 PM
#103
filsafat makna dari bagian-bagian Ubo Rampe sebuah ritual Jawa
Aura semiotika (ilmu tanda) dari macam-macam syarat (ubo rampe) dalam sebuah konsep ritual peringatan dalam masyarakat Jawa merupakan sebuah pesan yang tersandikan.Berangkat dari sebuah local genius , nenek moyang telah memberikan pesan-pesan yang terselubung, tinggal bagaimana kita mampu memahami dan memaknai dari tiap pesan yang “sengaja” dikirimkan oleh para leluhur untuk kita agar lebih mencintai dan mengambil manfaat dari hasil sebuah warisan budaya. tentang apa saja dan bagaimana makna dari Ubo Rampe berikut ulasannya

Ubo Rampe (konsep merujuk peralatan dan semua piranti juga syarat melakukan sebuah ritual/ kegiatan)

Setiap acara peringatan ulang tahun, atau apapun dalam kelompok-kelompok sosial masyarakat jawa biasanya tumpeng selalu menjadi syarat ritual. Tidak hanya saat memperingati hari ulang tahun seseorang, tumpeng juga menyertai acara ulang tahun lembaga baik peresmian, kenaikan pangkat sampai acara wetonan. Dalam upacara itu, tumpeng dipotong (seharusnya dibelah) dan diberikan kepada generasi penerus. Biasanya tumpeng yang disajikan adalah tumpeng robyong. Lalu apakah ini sekadar gagah-gagahan atau mempunyai makna?

Tumpeng robyong merupakan lambang manusia yang taat beragama dan giat bekerja. Selain tumpeng robyong, ada sekitar 40-an benda yang selalu menyertai sebuah ritual upacara sebagai sesaji, terutama dalam acara ritual yang diadakan oleh keraton. Setiap barang ataupun benda mempunyai makna tersendiri. Agaknya semua ubo rampe tersebut memiliki aura konstruksial makna. :

Cengkir atau buah kelapa hijau dan kelapa gading yang masih muda, merupakan lambang keandalan pikiran dan kekuatan batin. Maksudnya, dalam bertindak, kita tidak boleh hanya mengandalkan pikiran dan fisik, tetapi juga hati dan akal budi.

Kembang mayang melambangkan sepasang manusia yang mantap lahir batin dan siap menyemaikan bibit-bibit manusia unggul generasi berikutnya.

Pusaka keris adalah lambang keberanian dan percaya diri. Berani dan percaya bahwa Tuhan akan menolong siapa pun yang menegakkan kebenaran.

Bubur. Berbagai jenis bubur biasanya disediakan, seperti bubur Sura, bubur Sengkala, dan bubur Pancawarna, yang merupakan lambang cikal bakal manusia. Bubur ini dimaksudkan agar kita selalu ingat proses kelahiran bayi sehingga timbul rasa hormat pada ibu dan ayah serta Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu juga harapan agar kita bisa mengendalikan nafsu angkara.

Sekapur sirih melambangkan segala persoalan yang dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. Maksud dari penyajian sekapur sirih ini adalah agar kita selalu siap dan kuat dalam menghadapi segala cobaan dan benturan dalam hidup.

Kembang setaman adalah lambang sosialisasi diri. Maksudnya agar kita selalu berusaha menjaga harumnya nama diri, kerabat, dan teman.

Kembang pancawarna yang terdiri dari melati, mawar merah, (kantil) gading putih, gading kuning, dan bunga kenanga, melambangkan cinta kasih yang selalu berkembang dan harum mewangi.

Santan kanil (kental) merupakan lambang sari-sari kehidupan dan juga susu ibu. Dimaksudkan agar kita selalu mengingat jasa dan pengorbanan ibu yang telah melahirkan kita.

Damar kembang dibuat dari kelapa yang sudah dibuang serabut dan batoknya, lalu dilubangi bagian yang merupakan bakal tunas, diisi dengan minyak kelapa dan diberi sumbu dari sobekan kain dan dinyalakan. Ini merupakan lambang kehidupan, dimaksudkan agar kita selalu mengisi kehidupan ini dengan hal-hal yang diridloi oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Air putih lambang kesucian. Agar kita selalu bersih, baik lahir maupun batin.

Lambang Kerukunan

Selain tumpeng, biasanya juga muncul berbagai kue basah yang biasa disebut jajan pasar. Kue ini ditata dalam satu wadah yang melambangkan kerukunan dan persatuan dari berbagai suku dan manusia. Nasi yang disajikan pun terdiri dari empat macam, yaitu nasi kuning, nasi brok, nasi byar, dan nasi golong. Semua nasi-nasi tersebut melambangkan bibit manusia generasi mendatang. Maksudnya agar kita hati-hati dan penuh perhatian dalam “membuat” keturunan sehingga menghasilkan generasi yang unggul.

Panggang ayam dan ingkung (ayam goreng utuh) adalah lambang ayah- ibu dan pengorbanan selama hidup mereka dalam membesarkan kita. Sesaji ini dimaksudkan agar kita hormat pada orangtua dan mencintai sesama dengan ikhlas, seperti kedua orangtua mencintai kita.

Pisang raja talun setandan merupakan lambang keberhasilan. Maksudnya agar kita mempunyai tujuan hidup atau cita-cita yang berguna bagi nusa, bangsa, dan sesama serta berusaha meraihnya sampai berhasil.

Sekat padi melambangkan manusia yang berisi, baik lahir maupun batin.

Buah-buahan, dari yang mentah sampai yang matang merupakan lambang dari proses pematangan diri manusia. Pematangan diri yang mengikuti proses alam dan tidak karbitan akan menghasilkan pribadi yang kuat. Berbagai macam daun, mulai daun kluwih, daun pohon beringin, daun andong dan puring, melambangkan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, kita harus selalu ingat kepada-Nya dengan selalu melaksanakan segala perintah-Nya.

Tebu wulung melambangkan kekuatan dan kemantapan batin. Diharapkan, budi pekerti dan kepribadian kita kukuh dan tegak seperti tanaman tebu tersebut.

Janur kuning merupakan lambang cahaya terang. Agar kita selalu mendapatkan jalan yang lurus dan diridloi Allah dalam menjalani hidup ini. Tajali nur.

Taplak kain mori berwarna putih melambangkan kesucian. Dimaksudkan agar segala tindak tanduk kita didasarkan pada hati dan pikiran yang suci bersih, tidak dikotori oleh kecurigaan.

Payung agung merupakan lambang perlindungan. Ditujukan kepada pamong atau pejabat agar selalu melindungi rakyatnya dari “hujan” dan “panas” kehidupan.

Tombak melambangkan kewaspadaan. Kita diharapkan untuk selalu waspada dalam menghadapi segala kemungkinan yang mengancam kelangsungan hidup kita.

Dupa ratus dan wawangian merupakan lambang ketentraman. Dengan menjaga nama diri, keluarga, negara, dan bangsa, diharapkan hidup kita akan nyaman dan tentram.

Umbul-umbul dari pohon bambu dihiasi janur kuning melambangkan kebesaran Tuhan Yang Maha Agung. Selain itu juga agar kita selalu ingat dan melestarikan budaya yang telah diturunkan oleh nenek moyang.

Kiranya seperti itulah aura semiotika dari macam-macam syarat (ubo rampe) dalam sebuah konsep ritual peringatan dalam masyarakat Jawa.Berangkat dari sebuah local genius , nenek moyang telah memberikan pesan-pesan yang terselubung, tinggal bagaimana kita mampu memahami dan memaknai dari tiap pesan yang “sengaja” dikirimkan oleh para leluhur untuk kita agar lebih mencintai dan mengambil manfaat dari hasil sebuah warisan budaya.

[code]http://karsonojawul.blog.uns.ac.id/2010/11/03/filsafat-makna-dari-bagian-bagian-ubo-rampe-sebua h-ritual-jawa/[/code]
balaprabu - 01/10/2011 01:13 PM
#104
filosofi tedak sinten
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Solo - Tedhak Siten ternyata memiliki filosofis tersendiri dalam pelaksanaanya, sehingga macam-macam simbol tersebut dapat dimaknai sebagai gambaran kehidupan sang anak di masa depan. Berikut ini kami akan paparkan beberapa filosofi dari rangakian upacara tedhak siten dan ragam tradisi dan makanan yang tersaji.

Panganan Jadah sebagai salah satu contohnya, memiliki makna tersembunyi yaitu perjalanan hidup yang akan dilalui oleh si anak. Jadah menggambarkan kehidupan yang penuh cobaan, suka dan duka sehingga membutuhkan keuletan.

Adapun jumlahnya tujuh dan memiliki tujuh warna yang berbeda juga melambangkan makna yang berbeda dalam perjalanan hidupnya. Jadah Putih pada langkah berarti kesucian, jadah berwarna merah muda yang melambangkan kelembutan hati, jadah berwarna merah simbol dari keberanian, jadah berwarna hijau merupakan tanda kehidupan. Selanjutnya, jadah berwarna Kuning perlambang bersinar, jadah berwarna Ungu menandakan keluhuran budi dan terakhir jadah berwarna Hitam melambangkan keabadian.

Selain jadah, filosofi lain yang terkandung dalam ritual ini seperti tangga tebu wulung atau tebu hitam menandakan filosofi kemantapan hati, dan pendirian yang teguh. Ketika sang anak menaiki tebu wulung, artinya menggambarkan perjalanan hidup dan mencapai cita-cita yang tinggi dan luhur. Pada prosesi ini juga menandakan si anak mengenal kenyataan hidup yang akan dilalui di kemudian hari.

Jenang blowok yang disajikan dalam upacara ini terdiri dari jenang merah putih dan jenang katul (bekatul atau jenang putih) yang melambangkan perjalanan hidup. Hidup itu tidak selamanya lancar dan terkadang terperosok atau dalam bahasa Jawanya keblowok.

Pada prosesi terakhir, si Anak akan dimandikan dengan air setaman yang memiliki filosofi anak tetap sehat jasmani dan rohani dan membawa keharuman nama keluarga.

Bagaimana dengan kurungan ayam yang disediakan bagi si Anak memilih barang di dalamnya? Konon, pemilihan kurungan ayam yang telah dihiasi dengan berbegai macam ornamen dan barang-barang di dalammnya memiliki makna menggambarkan dunia dengan berbagai pilihan untuk hidup di kemudian hari.

Filosofi yang terakhir tentang Udik-udik, yang terdiri dari beras kuning yang dicampur dengan empon-empon, uang logam dan bunga mawar dan melati yang melambangkan agar si anak kelak menjadi seorang yang senang menolong orang lain dengan memberikan sebagian hartanya kepada orang yang membutuhkan. (imm/imm)

[code]http://today.co.id/read/2011/04/18/25869/menguak_filosofi_tradisi_tedhak_siten[/code]
balaprabu - 01/10/2011 09:56 PM
#105
falsafah kesenian bantengan
Kesenian Bantengan.

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnyabeberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnyabeberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnyabeberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Kesenian Bantengan, yang berkembang dimasyarakat saat ini, sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia umumnya, dan khususnya Jawa Timur dari sejak duhulu kala. Akan tetapi kesenian tersebut sempat beberapa dekade terakhir mengalami kepudaran, sehingga kesenian ini hanya ada di beberapa tempat saja. Oleh karenanya kesenian ini membutuhkan perhatian yang serius dari berbagai lini masyarakat, yang berkepentingan untuk ikut bertanggung-jawab. Dengan adanya Pagelaran Kesenian Bantengan Nuswantara yang diagendakan rutin tahunan di Kota Batu, diharapkan sebagai jembatan membangun kembali Kesenian tersebut untuk mampu menjadi bargening possesion karakteristik masyarakat diantara himpitan kebudayaan asing.

Perkembangan kesenian Bantengan yang terjadi di masyarakat Jawa Timur kususnya, berkembang dimasyarakat pedesaan dan kelompok Pencak silat, sesuai dengan kepentingan dan fungsinya masing-masing. Sifat- sifat ini yang disebut dengan fungsi Eksternal dan Internal kebudayaan Bantengan.

Kegiatan kesenian bantengan biasanya didukung oleh beberapa ornament pendukung, diantaranya:

1. Tanduk (banteng, kerbau, sapi, dll)

2. Kepala banteng yang terbuat dari kayu ( waru, dadap, miri, nangka, loh, kembang, dll)

3. Klontong (alat bunyi di leher)

4. Keranjang penjalin, sebagai badan (pada daerah tertentu yang menggunakan)

5. Kain hitam sebagai badan penyambung kepala dan kaki belakang

6. Gongseng kaki

7. Pendekar pengendali kepala bantengan (menggunakan tali tampar)

8. Jidor, gamelan, pengerawit, dan sinden

9. Sesepuh, pamong, dan pendekar

10. Berbagai macam alat dan kelengkapan yang diperlukan.


Sejarah Kesenian Bantengan

Perkembangan kesenian Bantengan tidak terjadi pada jaman-jaman sekarang ini, melainkan sudah ada sejak Jaman Jenggala, Kahuripan, Gajahyana, bahkan abad-abad sebelumnya. Jika kita menimbang beberapa tulisan skrip para pujangga baik itu yang tertulis di prasasti maupun skrip layang- lontar, maka kita dapat berpedoman sebagaimana acuan kita berkesenian bantengan ini khususnya.


Piwulan ( penjabaran / penjelasan ) tentang Banteng


1. Tanduk, wujud permohonan diri kepada Sang pencipta dengan sikap keteguhan atau sungguh sebagai wujud kuasa Maha Kuasa untuk menjadi penguasa di alam semesta

2. Kepala, wujud tempat pengendalian diri dari bebagai macam keangkaraan di dunia secara ke dalam pada diri pribadi manusia

3. Klontong, wujud sikap kehati-hatian diri dalam menjalani perjalanan hidup, yang selalu berpegangan pada hati suci (Gumantung tanpa centelan)

4. Keranjang, wujud sikap yang selalu menimbang hasil sebab akibat, setelah apa yang diperbuat (Kasyunyatan)

5. Kain hitam, wujud dari hidup yang serba misteri, yang kita tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Untuk itu kita hanya berkewajiban untuk menjalani darma hidup sebagai titah Sang Kehidupan

6. Gongseng kaki, wujud dari tata usaha manusia untuk merubah apa yang sudah menjadi garis laku kehidupannya (Tarian si Hidup)

7. Jidor, gamelan, pengerawit, dan sinden, wujud dari berbagai macam perubahan dan perkembangan kehidupan, dimana kita berkewajiban untuk selalau menyesuaikan diri dari peradapan (Perkembangan jaman)

8. Pendekar pengendali kepala bantengan, wujud pengendali angkara hidup pada diri dari unsur luar. Sebagai Among Projo (aparat keamanan), pelaksana tata hukum yang berlaku. Artinya kita tidak boleh semaunya sendiri, tapi harus selalu menyesuaikan diri atau menempatkan diri.

9. Sesepuh, wujud dari pemimpin yang memutuskan segala sesuatu tata kehidupan baik yang sifatnya horizontal dan vertical (Spiritual dan sosial)

10. Pamong, wujud dari aparat pemerintahan yang berkewajiban untuk mengendalikan segala tata kemasyarakatan

[code]http://bantengannuswantara.wordpress.com/2009/03/11/narasi-pagelaran-kesenian-bantengan-nuswant ara/[/code]
mr. galih - 01/10/2011 10:52 PM
#106

Trit ini harus dilestarikan supaya terjaga dan dapat menjadi penjelasan makna filosofi suatu sesaji/sesajen sehingga tidak gampang asal ngomong "syirik-musyrik" shakehand2
merpatiemas - 02/10/2011 12:22 AM
#107

Quote:
Original Posted By mr. galih
Trit ini harus dilestarikan supaya terjaga dan dapat menjadi penjelasan makna filosofi suatu sesaji/sesajen sehingga tidak gampang asal ngomong "syirik-musyrik" shakehand2


setuja gan shakehand2 karna ga tau akan arti dari sebuah sesaji atw sebuah tanda atw simbol makan dengan mudahnya bilang musrrik Yb
merpatiemas - 02/10/2011 12:23 AM
#108

Quote:
Original Posted By merpatiemas
setuja gan shakehand2 karna ga tau akan arti dari sebuah sesaji atw sebuah tanda atw simbol maka dengan mudahnya bilang musrrik Yb
balaprabu - 02/10/2011 12:26 AM
#109

Quote:
Original Posted By mr. galih
Trit ini harus dilestarikan supaya terjaga dan dapat menjadi penjelasan makna filosofi suatu sesaji/sesajen sehingga tidak gampang asal ngomong "syirik-musyrik" shakehand2


makasih gan shakehand
semoga bisa terus dilestarikan budaya kita ini shakehand
balaprabu - 02/10/2011 12:27 AM
#110

Quote:
Original Posted By merpatiemas
setuja gan shakehand2 karna ga tau akan arti dari sebuah sesaji atw sebuah tanda atw simbol makan dengan mudahnya bilang musrrik Yb


setuju mbah, karena ketidak tahuanlah kadang banyak penilaian salah terbentuk \)
balaprabu - 02/10/2011 11:43 AM
#111
Antara Perkutut Dan Falsafah Jawa
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Antara Perkutut Dan Falsafah Jawa, Penggemar perkutut di Indonesia umumnya orang dari suku Jawa, Madura, Bali, Lombok, Minang dan Cina. Khusus penggemar dari suku Jawa, penghayatan akan kesenangannya terhadap perkutut sangat mendalam. Perkutut alias kukilo menjadi pusat perhatian mereka yang menarik, karena tercantum sebagai lambang dalam ajaran filsafah Jawa “Hastabrata“, yang meliputi:

Karyo (pekerjaan)
Garwo (istri)
Wismo (rumah)
Curigo (keris)
Turonggo (kuda)
Kukilo (perkutut)
Waranggana (pesinden, penyanyi)
Pradonggo (gamelan)

Dari asas dasar falsafah inilah nilai nilai perkutut dalam kebudayaan Jawa berkembang, sehingga burung ini dianggap penggemarnya memiliki nilai luhur yang lebih tinggi dari manusia biasa. Ditengah masyarakat Jawa, kegemaran memelihara perkutut banyak dilakukan oleh para pembesar dan pemuka masyarakat, pejabat pemerintahan, keluarga bangsawan, pdagang kaya, pengusaha, dokter, dan lain lain. Perkutut dikalangan mereka menjadi ajang prestise.

Melatih Kesabaran

Memelihara perkutut muda (piyikan, bakalan) sampai menjadi burung dewasa yang pandai manggung membutuhkan waktu lama (5-10 tahun) untuk perkutut lokal. Hal ini bagi pemelihara memberikan latihan bersikap sabar dan ulet.

Setiap perkutut memiliki temperamen berbeda beda terhadap kecocokan sangkar, makanan, tempat gantungan sangkar, dan lain lain. Hal ini berguna untuk melatih si pemelihara untuk bersikap teliti, awas, tahu kehendak dan berlaku halus terhadap makluk dan orang lain. Otomatis ia dilatih untuk membina diri untuk bersikap sabar dan ulet.

Cara pemeliharaan yang keliru, bisa membuat perkutut yang telah berbunyi mogok bernyanyi. Memulihkannya pasti membutuhkan waktu lama.

Menjalin hubungan baik

Dahulu lomba perkutut dilakukan orang pada musim sehabis panen padi (musim kemarau). Saat itu kesibukan bertani sangat berkurang. suatu kelompok penggemar perkutut melakukan lomba secara gotong royaong.
Kegiatan itu ternyata mencipta hubungan yang erat dan harmonis antara pemuka masyarakat dengan bawahannya, disamping terjalinnya tali persaudaraan antara orang orang yang belum dikenal dan yang tinggal ditempat jauh. Selain itu juga menimbulkan pembinaan moral yang tinggi (saling menghargai, sportif, salaing mengerti), rasa kebersamaan dan senasib, saling tahu sifat dan kemampuan masing masing orang (mempertinggi sikap waspada), dan melatih diri agar bekelakuan positif.

Kalau ditarik kesimpulan, hobi memelihara perkutut bisa memberikan manfaat sebagai berikut:


[*]Merangsang gairah menghargai dan mencintai alam, khususnya dunia perburungan.
[*] Memperluas dan mempererat hubungan persaudaraan antar manusia, melatih berorganisasi dan disiplin.
[*] Membuka peluang lapangan kerja bagi masyarakat lemah ekonomi seperti pengraji sangkar, petani penghasil makanan burung, dan pedagang burung.
[*] Obyek hiburan untuk mengurangi kekosongan batin dan obat stres bagi memreka yang telah melakukan kerja keras atau sibuk melaksanakan tugas rutinnya.



Sajak Jawa
Untuk mengetahui betapa besar pengaruhperkutut terhadap kehidupan pemeliharanya bisa dilihat pada sajak Jawa, berikut terjemahannya.

INGON-INGON PERKUTUT NGEDOHI SETAN

Manawa kasawang saka ilmu jiwa
ingon-ingon manuk perkutut iku ora baen-baen,
sebab kajaba kalebu golongane “Seni Swara”,
ugoa mukarabi marang panggulawentah,
sarta bisa mahanani katentreman.
Priyayi kang seneng kekututan
daleme mesti tata-tertip,
patrap-patrap kang biyayakan,
rembug-rembug kang sora lan kasar,
mesti ora ana,
sakawit ya mung sabab pangeman marang sang kutut,
nanging ora njarak
jebul ndayani marang tata tertib.
Sapa kang ingon-ingon perkutut,
mesti tangi esuk,
sakawit ya mung tumuju marang sang perkutut,
bisaa nggantang ing sadurunge srengenge mletek,
nanging lawase lawas
dadi pakulinan … tangi esuk.
Dina minggu, liburan,
ora kluyuran mrana-mrene,
ora dolan-dolan kang tanpa gawe,
sakawit ya mung arep ngematake anggunge sang perkutut,
naging lawase lawas,
dadi pakulinan … jenak ana ndalem.
Pikolehe kang ceta,
ingon-ingon perkutut nyiyutake pandulu,
ngedohi setan
kang tansah nggegalak racak.
[Disarikan dari "Pangrumate Manuk Perkutut" dalam buku Tangguhe-Candrane lan Jamune Perkutut]
.
HOBI PIARA PERKUTUT MENJAUHI SETAN

Kalau ditilik dari suduk ilmu jima,
hobi piara perkutut bukan pekerjaaan remeh,
selain tergolong “seni suara”,
hobi itu bermanfaat untuk membina budi pekerti,
dan berpengaruh menciptakan ketenteraman hati.
Orang yang hobi piara perkutut,
suasana rumah tangganya pasti tertib,
sikap dan tindakan yang kurang baik,
kata-kata yang keras dan kasar,
pasti terbuang jauh dari rumah,
semula hanya karena rasa sayangnya terhadap perkututnya,
tetapi tidak terduga,
bisa berpengaruh besar terhadap timbulnya tata tertib
didalam rumah.
Siapa un yang hobi piara perkutut,
pasti rajin bangun pagi,
semula tindakan itu semata hanya teringat
pada perkututnya saja,
agar bisa menggantang burungnya sebelum matahari terbit,
tetapi lama kelamaan terbiasa untuk .. bangun pagi.
Hari Minggu, libur
penggemar perkutut tetap dirumah,
tidak pergi kemana-mana
tidak akan melakukan sesuatu yang tiada guna.
Semula tindakan itu berpangkal hanya
ingin menikmati suara perkututnya.
Tetapi lama-kelamaan terbiasa betah tinggal dirumah.
Hasil nyata
hobi piara perkutut bisa membebaskan orang
dari keinginan yang tidak-tidak
dan menjauhkan pengaruh setan
yang senantiasa menggoda untuk berbuat
yang bukan-bukan.

[code]http://bang-bangkit.blogspot.com/2011/03/antara-perkutut-dan-falsafah-jawa.html[/code]
angel.wijaya - 02/10/2011 01:07 PM
#112

mbah, ada hubungankah dg thread ini...bingung:

Kearifan Lokal-Sesajen, Syirik atau arif?
balaprabu - 02/10/2011 01:15 PM
#113

Quote:
Original Posted By angel.wijaya
mbah, ada hubungankah dg thread ini...bingung:

Kearifan Lokal-Sesajen, Syirik atau arif?


ada tapi tread itu tidak menjelaskan mengenai apa maksud dibalik sesajian itu sendiri. maksudnya macam macam sesajian, ritual, kesenian, adat dan makna maknanya. nah itu dijelaskan disini. lagian tread itu berkembang menjadi perang antara orang yg pro sareat dan budaya mania \)

kenapa kok nanya itu?
angel.wijaya - 02/10/2011 01:21 PM
#114

Quote:
Original Posted By balaprabu
ada tapi tread itu tidak menjelaskan mengenai apa maksud dibalik sesajian itu sendiri. maksudnya macam macam sesajian, ritual, kesenian, adat dan makna maknanya. nah itu dijelaskan disini. lagian tread itu berkembang menjadi perang antara orang yg pro sareat dan budaya mania \)

kenapa kok nanya itu?


gpp mbah, tadi pas lagi jalan2 nemu trit tsb, tp isinya koq beda...\), isinya spt yg mbah katakan
dg adanya ini sbg wujud jawaban dr hal tsb (kira2 spt itulah) Peace:
balaprabu - 02/10/2011 02:17 PM
#115

Quote:
Original Posted By angel.wijaya
gpp mbah, tadi pas lagi jalan2 nemu trit tsb, tp isinya koq beda...\), isinya spt yg mbah katakan
dg adanya ini sbg wujud jawaban dr hal tsb (kira2 spt itulah) Peace:


tead itu jd rame karena waktu itu banyak orang yg ga suka dengan forsup terutama mereka yg golongan agama. dimana mereka mangkalnya di forspri sebelum adanya pembatasan ketat. nah mereka lalu menyebar ke forsup mengacau disana lalu merembet juga ke forbud.
balaprabu - 02/10/2011 02:27 PM
#116
sekilas falsafah keris
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

1. Keris sebagai senjata

Menurut Lord Abberton of Eaton, keris pertama diciptakan oleh Panji Inukertapati. Bentuk keris pada relief candi penataran berbeda dengan bentuk keris yang biasa kita jumpai, hal ini dikarenakan penyesuaian dengan perkembangan zaman. Namun corak dan gayanya menandakan sebagai senjata tikam.


2. Keris sebagai peninggalan/pusaka wasiat

Apabila seseorang akan tiba ajalnya atau jauh hari sebelumnya, banyak yang sudah mewasiatkan sesuatu peninggalan yang dianggap berharga semisal tanah, sawah maupun rumah, begitu pula sebilah keris, sesuatu yang paling membanggakan jika pewarisnya diberi kepercayaan untuk memeliharanya.


3. Keris sebagai lambang identitas pribadi

sebilah keris erat kaitannya dengan identitas seseorang, lihatlah keris jaka piturun dengan para Sultan di Yogyakarta, keris Kyai Setan Kober dengan Arya Penangsang, keris Kyai Pulanggeni dengan Raden Harjuna, tombak Kyai Baru dengan Ki Ageng Mangir, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh negeri ini.


4. Keris sebagai lambang kemapanan hidup

Bagi seorang lelaki masyarakat Jawa, hidupnya dikatakan paripurna/mapan, jika telah memiliki: Wisma/rumah, Wanita/istri, Turangga/kendaraan, Kukila/hewan piaraan, dan Curiga/keris.


5. Keris sebagai lambang status sosial

Ini tergambar dari ukiran-tangkai keris yang mempunyai wanda/profil, misalnya: samba keplayu, maraseba, mangkurat, yudawinatan, longok, pakubuwanan, pakucumbring dan lainnya, dimana profil tersebut disesuaikan dengan kepribadian dan kedudukan sosial sang pemakai. Begitu pula dari warna pendok kemalon: merah untuk para sentana-minimal para bupati, hijau untuk para mantri, coklat untuk para bekel, hitam untuk para abdi dalem tingkat biasa (mohon dikoreksi apabila pendapat ini keliru.


6. Keris sebagai tanda jasa/satya lencana

Dalam dunia perkerisan, kita mengenal keris berganja kinatah gajah singa, keris ini merupakan satya lencana yang diberikan kepada para perwira/prajurit Mataram yang telah berjasa menumpas pemberontakan kadipaten pati atas kerajaan Mataram (Sultan Agung).

7. Keris sebagai atribut duta

Sewaktu resepsi pernikahan Pangeran Bernard dengan Putri Juliana dari negeri Belanda, Raja Paku Buwana X (Surakarta) mengutus puteranya G.P.H Suryohamidjojo agar menghadiri resepsi tersebut, maka sang putera diberi izin memakai keris Kanjeng Kyai Pakumpulan.


8. Keris sebagai lambang persahabatan

Pada zaman dahulu, tanda mata yang paling tinggi martabatnya adalah keris, ini dibuktikan dengan istilah "kancing gelung" atau "cundhuk ukel" yaitu pemberian sebilah keris lengkap dari orang tua kepada anak perempuannya yang baru saja menikah, yang pada akhirnya tanggung jawab pemeliharaan keris tersebut dipegang menantu lelaki.


9. Keris sebagai falsafah

Bentuk dhapur dan corak pamor yang beraneka ragam memiliki nilai falsafah, dhapur brojol= penggapaian cita-cita, pamor pedaringan kebak= harapan sukses akan material, dan lain sebagainya.


10. Keris sebagai medium sengkalan (chronogram)

Terkenal istilah sirna ilang kertaning bumi (sirna=0, ilang=0, kerta=4, bumi=1), sengkalan tersebut menggambarkan tahun 1400 saka, begitupula ganja berkinatah gajah singa= gajah singa keris siji= berarti tahun 1558 saka, tahun runtuhnya kadipaten Pati oleh prajurit Mataram.


11. Keris sebagai pelengkap busana

Ini sering dijumpai pada saat resepsi pernikahan umpamanya, sehingga kita dengar istilah disengkelit, dianggar dan lainnya yang kesemuanya ditentukan oleh macam upacara.


12. Keris sebagai medium

Medium=perantara, Keris pusaka dianggap mempunyai kekuatan untuk memperlancar komunikasi dua arah antara alam nyata dengan alam ghaib, fungsi inilah sampai kapanpun akan dianggap paling menarik untuk diperbincangkan.


13. Keris sebagai dekorasi

Umumnya keris yang ditempel ditembok atau media lainnya adalah hanya keris semacam souvenir tanpa kandungan aura/yoni/isi, karena dianggap kurang etis bila menempatkan keris hanya dari sisi estetika saja.


14. Keris sebagai benda koleksi

Biasanya, bagi para keluarga yang mempunyai banyak keris dari hasil warisan, maka mereka sebagian besar hanya memandang dari keindahan luarnya saja tanpa menghiraukan aspek spiritualnya. Ini berarti sering diantara mereka memperjualbelikan keris pusaka sebagaimana benda koleksi yang lain.


15. Keris sebagai obyek hobby

Kalangan yang menempatkan keris sebagai hobby adalah mereka yang mengumpulkan banyak keris pusaka hanya untuk pemuasan hati semata, tanpa menghiraukan baik tidaknya sebuah pusaka.


16. Keris sebagai sipat kandel / piandel

Sipat kandel adalah: suatu sarana yang membuat pemiliknya lebih percaya diri untuk meraih nasib baik, terlindung, selamat dan maksud lain yang sejenis. Kalangan pecinta keris pusaka semacam ini menjadikannya sebagai "jimat". Contoh konkretnya adalah keris Jendral Sudirman, Keris Bung Tomo, Keris Bung Karno, serta nama-nama besar lain negeri ini, disamping para beliau adalah para bijak cendekia namun ada sesuatu yang diharapkan dari keris pusaka, terutama pada saat kritis, hal tersebut adalah hal yang wajar sebagaimana kita membutuhkan sesuatu harus menggunakan alat-alat tertentu untuk mempermudah kerja usaha kita.

Demikianlah uraian singkat kami tentang fungsi sebilah keris pusaka yang bisa kami ketengahkan, besar kiranya harapan kami untuk menerima saran dan kritik dari para pemerhati keris pusaka demi lestarinya warisan nenek moyang yang bernilai tinggi kepada para generasi muda penerus bangsa.

[code]http://peperonity.com/go/sites/mview/kerismulyani/15288201[/code]
balaprabu - 03/10/2011 02:26 AM
#117
falsafah nyadran
Oleh Agus Wibowo
Dimuat Harian Sinar Harapan, 31 Agustus 2008

Bagi masyarakat Jawa, bulan puasa atau Ramadhan merupakan bulan yang suci dan sakral. Mereka yang memeluk agama Islam, sebulan penuh melakukan kewajiban puasa dan ibadah-ibadah lainnya, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena anggapan suci dan sakralnya bulan puasa itu, jauh hari mereka mempersiapkan sebaik-baiknya kondisi fisik dan kondisi rohani melalui tradisi sadranan atau nyadran.

Tradisi nyadran ini dilakukan secara turun-temurun. Sebagaimana ritual dalam penanggalan Jawa lainnya, seperti Suranan, Muludan, dan Syawalan, esensi nyadran adalah memanjatkan doa kepada Tuhan agar diberi keselamatan dan kesejahteraan.

Kita akan menemukan nuansa magis dan unik dalam ritual nyadran. Keunikannya, selain menggunakan uba rampe tertentu, nyadran dilakukan di situs-situs yang dianggap keramat dan dipercaya masyarakat lokal bisa makin mendekatkan dengan Yang Kuasa.

Tempat-tempat itu biasanya berupa makam leluhur atau tokoh besar yang banyak berjasa bagi syiar agama. Sebagai contoh, di Kabupaten Banyumas, masyarakat melaksanakan nyadran di makam Syekh Muchorodin atau Mbah Agung Mulyo.

Di Kadilangu Kabupaten Demak, nyadran dilakukan di makam Sunan Kalijaga. Di Dusun Panjang Lor, Kelurahan Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, ritual nyadran dilakukan di makam Nyi Tirto Tinoyo atau lebih dikenal sebagai Nyi Panjang. Warga Dusun Gesingan, Desa Bulakan, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, menyelenggarakan ritual nyadran di Pemakaman Gesingan.

Waktu pelaksanaan nyadran biasanya dipilih pada tanggal 15, 20, dan 23 Ruwah atau sya’ban. Pemilihan tanggal nyadran itu, kata Gatot Marsono (2007), di samping berdasar kesepakatan, juga berdasar paham mudhunan dan munggahan, yaitu paham yang meyakini bulan Ruwah sebagai saat turunnya arwah para leluhur untuk mengunjungi anak cucu di dunia.

Pengaruh Islam

Adapun prosesi nyadran diawali dengan setiap keluarga membuat kue apem dan ketan kolak. Adonan tiga jenis penganan dimasukkan dalam takir, yaitu tempat makanan terbuat dari daun pisang yang di kanan-kiri ditusuk lidi (biting).

Quote:
Tradisi Nyadran biasanya ada tiga ubo rampe yang selalu ada yaitu apem, kholak dan Ketan.

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Apem berasal dari kata afu’an atau afwan yang artinya maaf (ngapuro)

kholak berasal dari kata kholado sebagai lambang kekal

dan ketan dari kata khoto’ atau khotan yang berarti kesalahan

suer:http://ariesubowo.wordpress.com/2010/08/10/nyekar-dan-nyadran/


Kue-kue tadi di samping dipakai munjung/ater-ater kepada saudara yang lebih tua, juga merupakan ubarampe kenduri. Seusai bersih makam (besik), masyarakat sekampung menggelar kenduri yang berlokasi di sepanjang jalan masuk menuju makam atau lahan kosong di sekitar makam.

Menurut catatan sejarah, tradisi nyadran memiliki kesamaan dengan tradisi craddha yang ada pada zaman kerajaan Majapahit (1284). Kesamaannya terletak pada kegiatan manusia berkaitan dengan leluhur yang sudah meninggal.

Secara etimologis, kata craddha berasal dari bahasa Sansekerta “sraddha” yang artinya keyakinan, percaya atau kepercayaan. Masyarakat Jawa kuno meyakini bahwa leluhur yang sudah meninggal, sejatinya masih ada dan memengaruhi kehidupan anak cucu atau keturunannya.

Oleh karena itu, mereka sangat memperhatikan saat atau waktu, hari dan tanggal meninggalnya leluhur. Pada waktu-waktu (saat) itu, mereka yang masih hidup diharuskan membuat sesaji berupa kue, minuman, atau kesukaan yang meninggal.

Selanjutnya, sesaji itu ditaruh di meja, ditata rapi, diberi bunga setaman, dan diberi penerangan berupa lampu (Budi Puspo Priyadi, 1989).

Ketika Islam datang ke pulau Jawa mulai abad ke-13, banyak tradisi Hindu-Buddha yang terakulturasi dengan ajaran Islam. Akulturasi ini makin kuat ketika Walisongo menjalankan dakwah Islam di Jawa mulai abad ke-15. Proses pengislaman atau pribumisasi ajaran Islam, berlangsung sukses dan membuahkan sejumlah perpaduan ritual, salah satunya adalah tradisi sraddha yang menjadi nyadran.

Karena pengaruh agama Islam pula makna nyadran mengalami pergeseran, dari sekadar berdoa kepada Tuhan, menjadi ritual pelaporan dan wujud penghargaan kepada bulan Sya’ban atau Nisfu Sya’ban. Ini dikaitkan dengan ajaran Islam bahwa bulan Sya’ban yang datang menjelang Ramadhan, merupakan bulan pelaporan atas amal perbuatan manusia.

Oleh karena itu, pelaksanaan ziarah juga dimaksudkan sebagai sarana introspeksi atau perenungan terhadap segala daya dan upaya yang telah dilakukan selama setahun.

Sisi Positif

Pada perkembangan selanjutnya, tradisi nyadran mengalami perluasan makna. Bagi mereka yang pulang dari rantauan, nyadran dikaitkan dengan sedekah, beramal kepada para fakir miskin, membangun tempat ibadah, memugar cungkup dan pagar makam.

Kegiatan tersebut sebagai wujud balas jasa atas pengorbanan leluhur, yang sudah mendidik, membiayai ketika anak-anak, hingga menjadi orang yang sukses. Bagi perantau yang sukses dan kebetulan diberi rezeki berlimpah, pulang nyadran dengan beramal merupakan manifestasi hormat dan penghargaan kepada leluhur.

Bagi umat Islam sendiri, tradisi nyadran masih menimbulkan perdebatan. Itu karena ada dua pendapat berbeda, dikaitkan dengan ajaran Nabi Muhammad Saw. Kelompok pertama atau yang beraliran moderat, beranggapan bahwa ritual nyadran tidak perlu dilakukan karena bertentangan dengan hadits dan as sunnah.

Nyadran sering digolongkan perbuatan syirik atau menyekutukan Tuhan. Sementara menurut kelompok kedua yang beraliran kultural, nyadran adalah kegiatan keagamaan yang sah-sah saja, asal tidak untuk menyembah leluhur atau pekuburan.

Terlepas dari perbedaan pendapat itu, penulis memandang perlu pelestarian tradisi nyadran. Selain sebagai wujud pelestarian budaya adhiluhung peninggalan nenek moyak, terdapat sejumlah kearifan dalam prosesi tradisi nyadran yang sangat relevan dengn konteks kekinian.

Hal ini karena prosesi nyadran tidak hanya sekedar gotong royong membersihkan makam leluhur, selamatan dengan kenduri, dan membuat kue apem ketan kolak sebagai unsur utama sesaji. Lebih dari itu, nyadran menjelma menjadi ajang silaturahmi, wahana perekat sosial, sarana membangun jati diri bangsa, rasa kebangsaan dan nasionalisme.

Ketika pelaksanaan nyadran, kelompok-kelompok keluarga atau trah tertentu, tidak terasa terkotak-kotak dalam status sosial, kelas, agama, golongan, partai politik, dan sebagainya. Perbedaan itu lebur, karena mereka berkumpul menjadi satu, berbaur, saling mengasihi, saling menyayangi satu sama lain.
Seusai nyadran ada warga yang mengajak saudara di desa ikut merantau dan bekerja di kota-kota besar. Di sinilah ada hubungan kekerabatan, kebersamaan, kasih sayang di antara warga atau anggota trah.

Terasa sekali, warga sekampung seakan satu keturunan. Spirit nyadran itu bila dibawa dalam konteks negara, maka akan menjadikan Indonesia yang rukun, ayom, ayem dan tenteram. Inilah sisi positif tradisi nyadran yang kental dengan kearifan lokal. [] Penulis adalah pemerhati sosial keagamaan dan Penggiat Komunitas Aksara Yogyakarta.

[code]http://aguswibowo82.blogspot.com/2008/08/kearifan-kultural-tradisi-nyadran.html[/code]
balaprabu - 03/10/2011 02:32 AM
#118
Chau Du Fa Hui, Tradisi Nyadran Ala Tionghoa
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

WARGA keturunan Tionghoa percaya bahwa antara manusia di dunia dengan orang tua dan leluhur mereka yang sudah meninggal dunia tetap terjalin hubungan bathin. Untuk itu, mereka menggelar upacara tradisi Chau Du Fa Hui yakni upacara nyadran ala Tionghoa.

Secara garis besar, upacara ini hampir sama dengan tradisi nyadran dalam masyarakat Jawa. Mereka melakukan sejumlah prosesi untuk mendoakan arwah orang tua, kakek dan nenek moyang yang sudah meninggal dunia.

Ada beberapa prosesi dalam upacari di antaranya adalah upacara kepada YM Cheng Huang Ye, kemudian upacara mengundang arwah leluhur, uoacara menyeberang jembatan emas dan perak, membersihkan arwah, upacara menghadap YM Tau Yi Tian Zen, upacara persembahan makanan dan ditutup dengan upacara menghantar arwah.

Warga Tionghoa menggunakan berbagai makanan dan minuman yang memiliki simbol dan perlambang tertentu. Seperti kue mangkuk yang melambangkan kemakmuran, kue cetak sebagai simbol harapan panjang umur dan wajik yang bermakna memperat hubungan kekerabatan dan silaturahmi.

Masing-masing makanan tersebut diletakkan di atas meja dan diberi tulis nama leluhur masing-masing keluarga. "Kami percaya bahwa antara kita dan yang sudah hubungan tetap ada hubungan. Tugas kita untuk berbakti pada mereka," jelas Budi Hartoyo, Sektraris Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Keleteng Hok An Kiong Mutilan.

Menurut Budi tujuan upacara Chau Du Fa Hui sama persis dengan tradisi nyadran masyarakat Jawa. Hanya saja cara dan bentuk prosesinya yang berbeda karena terkait faktor tradisi dan kebudayaan yang berbeda.

Replika

Jika ada anggota keluarga yang meninggal kurang dari satu tahun, maka mereka harus menyediakan minatur rumah untuk dikirim kepada ke alam baka. Mereka percaya bahwa orang yang baru meninggal membutuhkan tempat tinggal.

Dalam upacara ini juga disediakan replika kapal laut untuk menghantar seluruh doa dan persembahan tersebut. ”Kami mengirimkan makanan, pakaian, sepatu, perhiasan dan lain sebagainya," kata dia.

Ketua Panitia Upacara Chau Du Fa Hui Budiyono menambahkan bahwa pihaknya juga menyediakan altar khusus untuk arwah leluhur yang tidak pernah dirawat ahli warisnya atau yang terputus keturunannya.

"Selesai upacara kami akan membakar replika kapal layar, kertas serta ratusan peti aneka warna. Peti ini berisi pakaian, sepatu, tas, hp dan semua kebutuhan manusia. Ini kami berikan untuk arwah keluarga kami," jelas Budiyono.

Budiyono mengatakan bahwa rangkaian acara tersebut dipimpin oleh Chen Li Wei Dao Chang, murid generasi ke 22 Quan Zhen Long. Ia merupakan tokoh besar warga Tiong Hoa.
(MH Habib Shaleh/CN26)

[code]http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen/2011/08/07/550/Chau-Du-Fa-Hui-Tradisi-Nyadran -Ala-Tionghoa[/code]
patih.djelantik - 03/10/2011 05:01 AM
#119
Filosofi Poleng
cool:

Warna Poleng di Bali mengandung makna yang tersendiri. Secara umum Poleng adalah merupakan perpaduan warna hitam dan putih yang banyak sekali bisa kita temukan di Bali. Warna ini merupakan makna sakral di Bali yang sampai saat ini tetap ajeg dipergunakan dalam simbol-simbol kehidupan budaya orang Bali. Orang Bali sudah terbiasa dengan warna ini dan mempergunakannya dalam keseharian mereka, dan didalam permaknaan dalam kehidupan mereka. Mereka secara sadar ataupun tidak telah ikut menjaga dan melestarikan simbol-simbol budaya para leluhurnya.

Dalam kehidupan orang Bali sebenarnya dikenal ada tiga macam warna Poleng. Yang pertama, Warna poleng ”Hitam dan Putih” seperti warna papan catur ini disebut dengan Poleng ”Rwa Bhineda”. Warna Poleng ini terdiri dari warna hitam dan putih yang merupakan simbolik dari Dharma dan Adharma, atau unsur positif dan unsur negatif.

Spoiler for Poleng Rwa Bhineda
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya


Poleng yang kedua adalah perpaduan warna antara warna Hitam, warna Abu-abu, dan warna Putih. Warna Poleng ini disebut dengan ”Poleng Sudhamala”. Makna yang terkandung didalamnya yaitu warna Hitam merupakan simbol dari Adharma/ unsur negatif, warna putih merupakan simbol dari Dharma/ unsur positif. Sedangkan warna abu-abu ini merupakan sebagai warna penyelaras dari makna Dharma/ unsur Positif (Warna Putih) dan Adharma/ unsur negatif (warna Hitam).

Spoiler for Poleng Sudhamala
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
yang ini efek gambarnya kayak bergerak takut


Warna Poleng yang ketiga adalah ”Poleng Tridatu”, yaitu : kombinasi perpaduan dari tiga warna yaitu : Warna Merah, Warna Hitam dan Warna Putih. Warna Merah dalam ”Tridatu” ini merupakan lambang dari Rajas, sifat energik. Warna hitam dalam Tridatu ini melambangkan Tamas, atau sifat malas dan Warna Putih simbol dari Satwam yaitu kebijaksanaan atau kebaikan. Adapula yang memaknai Warna tridatu ini sebagai perlambang penyatuan dari Tri Murti yang mana warna Merah merupakan simbolik dari Dewa Brahma, Warna Hitam simbolik dari Dewa Wisnu dan Putih merupakan simbolik dari Dewa Siwa.


Spoiler for Poleng Tridatu
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya


Warna Poleng secara umum pada masyarakat Hindu Bali biasa kita bisa lihat dan dipergunakan pada pakaian Para Pecalang, pada Kul kul (kentongan), patung-patung Penjaga Pntu Gerbang, atau juga biasanya dipakai oleh para Balian. Kesemuanya itu tadi merupakan perlambang dari Penjaga.

Dalam konteks Menjaga atau sebagai Penjaga, warna Poleng di Tanah Lot memiliki makna dan nilai Filosofi yang sangat tinggi. Warna poleng di Tanah Lot merupakan warna Sakral yang sampai saat ini sangat diyakini oleh masyarakat Hindu Bali sebagai penjaga Pura Luhur Tanah Lot. Pura Luhur Tanah Lot yang merupakan sebuah simbol Kesucian yang mengandung nilai Spiritual yang sangat-sangat tinggi. Bahkan warna poleng yang di Tanah Lot tidak hanya sekedar warna yang tertuang dalam selembar kain, akan tetapi warna poleng Sudhamala ini ada pada Duwe (Ular Suci/. Lipi Poleng) yang sudah dikenal ada semenjak berdirinya Pura Luhur Tanah Lot.

Keberadaan Ular Suci yang berwarna Poleng ini sampai saat ini masih sangat dipercaya oleh masyarakat Hindu Bali sebagai penjaga dari kelestarian alam dan kesucian dari Pura Luhur Tanah Lot.

Kepercayaan masyarakat bahwa duwe (Ular Poleng Tanah Lot) yang saat ini masih ada di Tanah Lot, konon berasal dari Selendangnya Beliau Danghyang Dwijendra (dalam Dwijendra Tattwa), yang kemudian di pastu menjadi Ular Poleng yang ditugaskan untuk menjaga kelestarian alam dan Kesucian Pura Luhur Tanah Lot dan keberadaan Ular Suci itupun sampai saat ini bisa kita saksikan masih ada di lingkungan suci Pura Tanah Lot.

Tuhan telah memberikan kita simbol dengan makna-makna filosofi yang tinggi pada warna Poleng itu, dan akhirnya di Tanah Lot sendiri makna Poleng mengandung makna tersendiri dan sangat melegenda di masyarakat.

Makna Filosofi dari Warna Poleng, sengaja kita angkat dalam event ”Tanah Lot Art Festival tahun 2010” ini. Poleng merupakan kampanye sosial kita kepada masyarakat di seluruh dunia. Dengan makna poleng hendaknya kita sebagai manusia merupakan PENJAGA bagi kelestarian alam dan warisan tradisi budaya kita di Tabanan. Melalui tema Poleng, Tanah Lot menyerukan kepada kita semua ’Kita harus berbuat dalam rangka Kelestarian Alam, pelestarian, pengembangan dan penggalian budaya leluhur”. Dengan demikian, kita juga ikut menjaga alam Bali dan Budaya masyarakat Bali khususnya di Tabanan.

Harapan kita bersama, warna Poleng hendaknya mampu menginspirasi kita bersama melalui ”Tanah Lot Art Festival 2010” dengan Tema ”POLENG” kita harus menjaga Alam dan segala bentuk warisan budaya masyarakat kita. Makna Poleng merupakan sebuah kewajiban dan Dharma kita sebagai manusia. Dari Tanah Lot mari kita kumandangkan makna Poleng kepada Dunia bahwa dengan semangat makna POLENG Kita jaga kelestarian alam kita dan budaya masyarakat kita, sebagaimana Ular Poleng/duwe yang ada di Tanah Lot tetap menjaga kesucian Pura Luhur Tanah Lot sampai saat ini.losoosofi

[CODE]http://www.sujanatanahlot.com/index.php?option=com_content&view=article&id=7:filosofi-qpolengq- &catid=3:artikel&Itemid=10[/CODE]

Quote:
kalo poleng tridatu ini juga ada versi gelangnya..
saya juga pake, tapi ta ambilin di google yang maha tau aja gambarnya, males upload fotonya Peace:

Spoiler for benang Tridatu
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
balaprabu - 03/10/2011 10:06 AM
#120

mantab bli thumbup:

mengenai tali ditangan saya pengen nanya, temen saya pernah ngasih. kata dia itu namanya iketan mati. sudah didoakan oleh biksu kata dia. nah saya ingin bertanya ketika diikat mati ditangan. terus dibawa ke tempat tempat kaya diskotik, dll. apakah itu tidak akan mempengaruhi pemakainya?. dalam artian apa ga membawa walat ke diri pribadi kita bli?karena mikir itu waktu itu saya tolak. kalopun dikasih saya taruh di rupang aja sebagai penguat aura magisnya.
Page 6 of 13 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya