Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
Total Views: 10114 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 7 of 13 | ‹ First  < 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 >  Last ›

engsap - 03/10/2011 10:15 AM
#121

Quote:
Original Posted By balaprabu
mantab bli thumbup:

mengenai tali ditangan saya pengen nanya, temen saya pernah ngasih. kata dia itu namanya iketan mati. sudah didoakan oleh biksu kata dia. nah saya ingin bertanya ketika diikat mati ditangan. terus dibawa ke tempat tempat kaya diskotik, dll. apakah itu tidak akan mempengaruhi pemakainya?. dalam artian apa ga membawa walat ke diri pribadi kita bli?karena mikir itu waktu itu saya tolak. kalopun dikasih saya taruh di rupang aja sebagai penguat aura magisnya.


tidak ada pantangannya sih mas, emang diiket mati sampe lepas sendiri, dipake kekamar mandi aja gapapa.. kayak yang saya pake sekarang.. dari ta iket ketat sekarang malah jadi longgar nohope:

biasanya saya pake tridatu gini, paling lama 2 minggu tapi ini bertahan sampe 1 bulan lebih D
dapetnya di pura Dalem, entah deh ada aura nya atau tidak saya gak tau gak bisa merasakan malus
balaprabu - 03/10/2011 10:17 AM
#122

Quote:
Original Posted By engsap
tidak ada pantangannya sih mas, emang diiket mati sampe lepas sendiri, dipake kekamar mandi aja gapapa.. kayak yang saya pake sekarang.. dari ta iket ketat sekarang malah jadi longgar nohope:

biasanya saya pake tridatu gini, paling lama 2 minggu tapi ini bertahan sampe 1 bulan lebih D
dapetnya di pura Dalem, entah deh ada aura nya atau tidak saya gak tau gak bisa merasakan malus


adalah bli, pasti ada manfaatnya. kapan kapan kalo ketemu sarva saya minta aja ah iketan matinya. soalnya kemaren mau make kok takut. karena masih banyak dosa hahaha Peace:
engsap - 03/10/2011 10:34 AM
#123

Quote:
Original Posted By balaprabu
adalah bli, pasti ada manfaatnya. kapan kapan kalo ketemu sarva saya minta aja ah iketan matinya. soalnya kemaren mau make kok takut. karena masih banyak dosa hahaha Peace:


saya juga, tapi tetep aja pake D
katanya sih harus pake di tangan kanan..

mintak aja mas, buat perlindungan sama penolak bala o
balaprabu - 03/10/2011 10:40 AM
#124

Quote:
Original Posted By engsap
saya juga, tapi tetep aja pake D
katanya sih harus pake di tangan kanan..

mintak aja mas, buat perlindungan sama penolak bala o


iya bli D sip dah D

malah ama temen temen diiketin di motor, supaya ga kecelakaan katanya D
engsap - 03/10/2011 10:59 AM
#125

Quote:
Original Posted By balaprabu
iya bli D sip dah D

malah ama temen temen diiketin di motor, supaya ga kecelakaan katanya D


wakakaka... ada tuh tradisinya juga di bali.. namanya tumpek Landep, biasanya hari khusus untuk memberikan sesajen kepada benda-benda yang terbuat dari logam seperti keris, tombak. mungkin kalo di jawa pas Suroan kali ya..

tapi sekarang malah semua yang berbahan logam (motor, mobil) bahkan teknologi (komputer) pun dikasi banten pada saat tumpek landep D
kalo gak salah motor sama mobil juga dikasi benang deh, diiket dispionnya ngakaks

ini ada artikel menarik tentang tumpek Landep

[CODE]http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/11/16/b1.html[/CODE]

hammer:
balaprabu - 03/10/2011 11:10 AM
#126

Quote:
Original Posted By engsap
wakakaka... ada tuh tradisinya juga di bali.. namanya tumpek Landep, biasanya hari khusus untuk memberikan sesajen kepada benda-benda yang terbuat dari logam seperti keris, tombak. mungkin kalo di jawa pas Suroan kali ya..

tapi sekarang malah semua yang berbahan logam (motor, mobil) bahkan teknologi (komputer) pun dikasi banten pada saat tumpek landep D
kalo gak salah motor sama mobil juga dikasi benang deh, diiket dispionnya ngakaks

ini ada artikel menarik tentang tumpek Landep

[CODE]http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/11/16/b1.html[/CODE]

hammer:

diatruh disini gak papa bli, sekalian falsafahnya thumbup:
engsap - 03/10/2011 11:16 AM
#127

Quote:
Original Posted By balaprabu
diatruh disini gak papa bli, sekalian falsafahnya thumbup:


gak enak ah mbah.. muatannya terlalu agama o

link tumpek Landep juga

[CODE]http://sanggrahanusantara.blogspot.com/2010/03/hakikat-tumpek-landep.html[/CODE]

hammer:
balaprabu - 03/10/2011 11:31 AM
#128

Quote:
Original Posted By engsap
gak enak ah mbah.. muatannya terlalu agama o

link tumpek Landep juga

[CODE]http://sanggrahanusantara.blogspot.com/2010/03/hakikat-tumpek-landep.html[/CODE]

hammer:


hem gitu ya bli?nanti saya lihat dulu deh. kalo sempet nanti saya posting disini
balaprabu - 04/10/2011 03:20 PM
#129
falsafah KIRAB AGUNG TAPA MBISU
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Sudah menjadi tradisi masyarakat Yogyakarta Hadiningrat sejak ratusan tahun silam, bahwa setiap malam 1 Suro (tahun baru Jawa) masyarakat melaksanakan tradisi kirab mubeng benteng mengitari Kraton. Kirab agun adalah malam hening cipta, atau mesu budi, bertujuan untuk maneges keselamatan lahir dan batin kepada Sang Hyang Jagad Nata. Acara mesu budi dimulai tepat pukul 00.00 wib berangkat dari alun-alun utara Kraton dengan dipandu oleh para abdi dalem kraton yang mengusung pusaka Tumbak Kyai Slamet dan pusaka pendampingnya. Kirab agung ditempuh dengan berjalan tanpa alas kaki mengitari benteng Kraton sembari tapa mbisu alias diam seribu bahasa (tidak berbicara apapun). Kirab agung adalah bentuk meditasi atau semedi sambil berjalan. Eneng ening sinambi mlampah. Ngalap berkah tumurune wahyu dyatmika. Keselamatan bukan hanya untuk diri sendiri, juga untuk keselamatan bumi seisinya meliputi binatang, tumbuhan, dan mahluk halus.

Sepuluh tahun lalu, acara ini sempat meredup diakibatkan oleh adanya upaya penggusuran tradisi secara sistematis antara lain dengan cara menempelkan stigma negatif pada acara tersebut. Namun sejak gempa besar di Jogja pada 27 Mei 2006 lalu, masyarakat seolah seperti terbangun kesadarannya, bahwa selama ini telah melupakan nilai-nilai luhur warisan para pendahulu bangsa. Sejak itu peserta Kirab Agung kian ramai lagi. Dua hari sebelum malam 1 Suro, Jogja dan wilayah sekitarnya dalam seharian siang dan malam selalu diguyur hujan sangat lebat sesekali disertai guntur menyambar-nyambar. Namun rupanya berkah alam gayung bersambut. Malam 1 Sura ini langit bersih terang benderang, hawa tidak gerah, terasa lebih sejuk dari biasanya, malam pun terasa begitu hening seolah-olah alam semesta sedang melaksakanan meditasi. Ada suatu fenomena yang fantastis, malam ini malam 1 Suro 1944 (malam 8 Desember 2010) kirab Agung yang dimulai dari pukul 00.00 hingga 03.00 wib diikuti sekitar 5000 perserta, terdiri dari laki-laki, perempuan, tua, muda, dewasa bahkan anak-anak dengan latar belakang beragam etnis dan agama.

Sebagaimana prinsip dalam pandangan hidup Jawa, Kirab Agung memiliki nilai universal, tidak sektarian dan primordial. Hal ini sebagai refleksi akan pemahaman spiritual Javaisme yang anti sektarianisme dan primordialisme, karena bagi pemahaman Javaisme, kedua mazab pikir tersebut justru mencerminkan level kesadaran seseorang masih sangat rendah. Setelah gempa Jogja 27 Mei 2006 lalu, kini masyarakat Jogjakarta seolah dibangunkan kesadaran spiritualnya yang kedua kali dengan peristiwa letusan gunung Merapi yang sangat dahsyat. Masyarakat menjadi lebih menyadari pentingnya keharmonisan dan keselarasan antara mikrokosmos dengan makrokosmos. Kesadaran spiritual yang tergugah itu telah memberikan impilkasi dengan melonjaknya jumlah peserta Kirab Agung secara signifikan. Yah, terlepas dari ada tidaknya “skenario” besar Ki Sabdopalon dan Ki Noyogenggong, yang jelas lingkungan alam di sekitar kita telah mengajarkan kepada manusia supaya hidup lebih arif dan bijaksana dengan memahami dan menghayati gamabudi; budi pekerti luhur.

TAPA MBISU

Tapa mbisu hakekatnya adalah bentuk laku prihatin dengan me-nonaktifkan mulut untuk hal-hal negatif dan sia-sia. Melalui tapa mbisu ini kita diajarkan untuk mampu memenej mulut kita. Maka dalam kirab agung seluruh mulut peserta harus diam non-active, sementara itu yang diaktifkan adalah mata batinnya. Ini sebagai bentuk laku sembah cipta, sembah kalbu. Tapa mbisu adalah cara untuk melatih diri kita untuk tidak terbiasa besar mulut, omdo atau omong doang, sampai mulut berbusa. Karena tabiat ini bukanlah gambaran budi pekerti yang luhur. Diam itu lebih baik ketimbang obral bicara tanpa makna. Diam adalah lebih baik daripada bersuara (provokatif) yang akan menimbulkan ketakutan, kebencian dan amarah orang lain. Istilah kasarnya, menengo, ojo kakehan cangkem !! Jika mulut kita terkendali dengan sebaik-baiknya, ia akan menjadi berkah buat diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Sebaliknya, mulut akan berubah menjadi “harimau” (malapetaka) buat diri sendiri.

[code]http://sabdalangit.wordpress.com/2010/12/08/kirab-agung-tapa-mbisu/[/code]
balaprabu - 04/10/2011 03:30 PM
#130
hakekat tumpak landhep
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Oleh : I Wayan Sudarma (Shri Danu D.P)-Bekasi

“api ched asi papebhyah
sarvebhyah papakrittamah
sarvam jnanaplavenai 'va
vrijinam samtarishyasi”
(BhagavadgītāIV.36)

Walau seandainya engkau paling berdosa diantara manusia yang memikul dosa dengan perahu ilmu-pengetahuan ini lautan dosa engkau akan seberangi.

Setiap hari suci agama umat Hindu sesungguhnya tak hanya sekadar rerahinan rutin yang mesti dirayakan. Namun, didalamnya ada nilai filosofis yang penting dimaknai dalam kehidupan sehari-hari.

Tumpek Landep, misalnya, memiliki nilai filosofi agar umat selalu menajamkan pikiran. Setiap enam bulan sekali umat diingatkan untuk melakukan evaluasi apakah pikiran sudah selalu dijernihkan (disucikan) atau diasah agar tajam? Sebab, dengan pikiran yang jernih dan tajam, umat menjadi lebih cerdas, lebih jernih ketika harus melakukan analisis, lebih tepat menentukan keputusan dan sebagainya.

Lewat perayaan Tumpek Landep itu umat diingatkan agar selalu menggunakan pikiran yang tajam sebagai tali kendali kehidupan. Misalnya, ketika umat memerlukan sarana untuk memudahkan hidup, seperti mobil, sepeda motor dan sebagainya, pikiran yang tajam itu mesti dijadikan kendali. Keinginan mesti mampu dikendalikan oleh pikiran.

Dengan demikian keinginan memiliki benda-benda itu tidak berdasarkan atas nafsu serakah, gengsi, apalagi sampai menggunakan cara-cara yang tidak benar. Semua benda tersebut mestinya hanya difungsikan untuk menguatkan hidup, bukan sebaliknya, justru memberatkan hidup.

Dulu, keris dan tombak serta senjata tajam lainnyalah yang digunakan sebagai sarana atau senjata untuk menegakkan kebenaran, kini sarana untuk memudahkan hidup dan menemukan kebenaran itu sudah beragam, seperti kendaraan, mesin dan sebagainya.

Sehingga pada saat Tumpek Landep diupacarai dengan berbagai upakara seperti: sesayut jayeng perang dan sesayut pasupati, dengan maksud untuk memuja Tuhan, dan lebih mendekatkan konsep atau nilai filosofi yang terkandung dalam Tumpek Landep.

Landep=Lancip/Tajam

Kata Landep dalam Tumpek Landep memiliki makna lancip atau tajam.

Sehingga secara harfiah diartikan senjata tajam seperti tombak dan keris. Benda-benda tersebut dulunya difungsikan sebagai senjata hidup untuk menegakkan kebenaran.

Dalam Tumpek Landep benda-benda tersebut diupacarai. Kini, pengertian landep sudah mengalami pelebaran makna. Tak hanya keris dan tombak, juga benda-benda yang terbuat dari besi atau baja yang dapat mempermudah hidup manusia, di antaranya sepeda motor, mobil, mesin, komputer, radio dan sebagainya.

Sementara secara konotatif, landep itu memiliki pengertian ketajaman pikiran. Pikiran manusia mesti selalu diasah agar mengalami ketajaman. Ilmu pengetahuanlah alat untuk menajamkan pikiran, sehingga umat mengalami kecerdasan dan mampu menciptakan teknologi. Dengan ilmu pengetahuan pulalah umat menjadi manusia yang lebih bijaksana dan mampu memanfaatkan teknologi itu secara benar atau tepat guna,
demi kesejahteraan umat manusia. Bukan digunakan untuk mencederai nilai-nilai kemanusiaan.

“tad viddhi pranipatena
paripprasnena sevaya
upadekshyanti te jnanam
jnaninas tattvadarsina” (BhagavadgītāIV.34)

Belajarlah dengan wujud displin,dengan bertanya dan dengan kerja berbakti,
guru budiman yang melihat kebenaranakan mengajarkan padamu ilmu budi-pekerti.

Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Oṁ


[code]http://sanggrahanusantara.blogspot.com/2010/03/hakikat-tumpek-landep.html[/code]
rakyat bergitar - 04/10/2011 06:11 PM
#131

Quote:
Original Posted By balaprabu
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

TAPA MBISU

Tapa mbisu hakekatnya adalah bentuk laku prihatin dengan me-nonaktifkan mulut untuk hal-hal negatif dan sia-sia. Melalui tapa mbisu ini kita diajarkan untuk mampu memenej mulut kita. Maka dalam kirab agung seluruh mulut peserta harus diam non-active, sementara itu yang diaktifkan adalah mata batinnya. Ini sebagai bentuk laku sembah cipta, sembah kalbu. Tapa mbisu adalah cara untuk melatih diri kita untuk tidak terbiasa besar mulut, omdo atau omong doang, sampai mulut berbusa. Karena tabiat ini bukanlah gambaran budi pekerti yang luhur. Diam itu lebih baik ketimbang obral bicara tanpa makna. Diam adalah lebih baik daripada bersuara (provokatif) yang akan menimbulkan ketakutan, kebencian dan amarah orang lain. Istilah kasarnya, menengo, ojo kakehan cangkem !! Jika mulut kita terkendali dengan sebaik-baiknya, ia akan menjadi berkah buat diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Sebaliknya, mulut akan berubah menjadi “harimau” (malapetaka) buat diri sendiri.



:2thumbup
balaprabu - 04/10/2011 09:03 PM
#132

Quote:
Original Posted By rakyat bergitar
:2thumbup


beer: coffee: hem .....udah malam ga krasa
keratonsecret - 04/10/2011 10:58 PM
#133

wah jd makin tau artinya..g cm makan tumpengnya tok.lanjut gan...
balaprabu - 05/10/2011 09:23 AM
#134

Quote:
Original Posted By keratonsecret
wah jd makin tau artinya..g cm makan tumpengnya tok.lanjut gan...


suwun mbah
balaprabu - 05/10/2011 09:48 AM
#135
Tuturagiana Andala" Ritual Sesaji Di Pulau Makassar
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnyabeberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnyabeberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Di beberapa daerah pantai pesisir Pulau Jawa, banyak ditemukan tradisi masyarakat nelayan melarung sesaji di laut.

Isi sesaji yang dilarung pun beragam. Ada yang melarung kepala kerbau, berbagai jenis panganan dan sebagainya.

Namun melihat makna dari tradisi ritual tersebut rata-rata memiliki kesamaan. Para nelayan melarung sesaji dengan tujuan agar dalam melaut untuk menangkap ikan, penguasa alam dapat memberikan rezeki berkelimpahan dan menjauhkan murka alam atau bahaya laut dari nelayan.

Warga nelayan di Pulau Makassar, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), memiliki tradisi melarung sesaji yang disebut "tuturangiana andala". Tradisi ini digelar warga Pulau Makassar, sekali setahun pada setiap kali musim paceklik ikan.

Warga Pulau Makassar kembali menggelar tradisi ritual 'tuturangiana andala' atau melarung sesaji di tengah laut.

Tetuah adat Pulau Makassar, Abdul Hamid (55), memulai ritual tersebut dengan 'batata' atau permohonan kepada penguasa alam ghaib sekitar wilayah pesisir agar dapat menerima persembahan masyarakat nelayan pulau itu.

Mendahului acara ritual 'batata' tersebut, para tokoh adat menyiapkan sesaji berisi berbagai jenis hasil pangan khas daerah setempat seperti cucur, onde-onde, sanggara (dari pisang), waje (beras ketan), nasi, telur ayam serta daun sirih, pinag dan sebagainya dalam empat tempat rakit bambu ukuran setengah meter persegi.

Usai 'batata' tetuah adat dibantu beberapa tokoh adat melanjutkan ritual dengan menyembelih kambing yang telah disiapkan tersebut, dibawa ke tengah laut dengan diiringi pukulan gong dan gendang.

Tiba di tengah laut, sesaji tersebut dilarung di empat titik atau tempat di tengah laut yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat.

"Tuturangiana andala ini merupakan tradisi peninggalan nenek moyang kami. Tradisi ini digelar sekali dalam setahun, biasanya pada setiap kali terjadi musim paceklik ikan," kata Abdul Hamid, seusai memimpin ritual tersebut.


Ungkapan pada pencipta

Masudin (45), tokoh adat Pulau Makassar lainnya menjelaskan ritual 'tuturangiana andala' itu sebagai ungkapan permohonan masyarakat nelayan kepada penguasa alam laut agar melimpahkan rezeki dan menjauhkan marabahaya dari para nelayan setempat dalam berlayar menangkap ikan.

Isi sesaji berbagai jenis panangan khas daerah disertai daun sirih dan pinang, sebagai bentuk rasa syukur warga kepada penguasa laut yang telah memberikan kehidupan bagi keluarga para nelayan.

Leluhur masyarakat Pulau Makassar memaknai musim paceklik ikan sebagai kemarahan penguasa alam laut kepada para nelayan yang hanya menangkap ikan di laut tanpa memberikan sesuatu kepada alam laut.

Demikian pula dengan bahaya gelombang laut disertai tiupan angin kecang yang sering menenggelamkan perahu para nelayan, sebagai bentuk murka penguasa laut kepada para nelayan yang menggantung hidup dari hasil laut.

"Sesajen itu dibuat dalam empat tempat dan dilarung di empat lokasi karena masyarakat Pulau Makassar meyakini penguasa alam berada di empat penjuru arah mata angin, barat, timur, utara dan selatan. Diharapkan, setelah sesajen itu dilarung, penguasa alam laut di empat penjuru mata angin segera melimpahkan rezeki dan menghilangkan bahaya gelombang laut," katanya.

Biasanya , setelah warga nelayan menyelenggarakan ritual 'tuturangiana andala' tersebut, hasil tangkapan ikan para nelayan mulai melimpah dan bahaya gelombang laut disertai tiupan angin kencang segera berkurang.

Makanya, masyarakat nelayan Pulau Makassar, hingga saat ini masih terus menyelenggarakan tradisi ritual 'tuturangiana andala' peninggalan para leluhur itu.

Pulau Makassar, merupakan pulau kecil yang terletak di selat Buton, hanya berjarak sekitar lima mil laut dari Kota Baubau.

Diberi nama Pulau Makassar, karena pulau berpenduduk sekitar 7000 jiwa itu, dalam cacatan sejarah Buton, pernah menjadi tempat berlindungnya para tentara kerajaan Goa di Sulawesi Selatan saat berseteru dengan pihak Kesultanan Buton di Kota Baubau.

Pemerintah Kota Baubau menjadikan Pulau Makassar yang terletak di selat Buton, hanya sekitar empat mil laut dari Kota Baubau sebagai salah satu obyek wisata karena pulau tersebut memiliki panorama alam pulau yang cukup indah dan eksotik.

Wilayah perairan Pulau Makassar juga memiliki terumbu karang dan beragam jenis ikan yang tidak kalah menarik dibandingkan dengan perairan laut Wakatobi yang terletak di Pusat segi tiga terumbu karang dunia.

"Kalau di Wakatobi hanya alam bawah lautnya yang menjadi 'surga', di pulau Makassar panorama alam di darat juga bagai surga." katanya.

Jadi, berada di Pulau Makassar tidak hanya di alam bawah laut bisa menikmati surga tapi di daratanpun dapat menikmati surga berupa panorama alam yang cukup eksotis. Oleh karena itu kata Amirul, warga Pulau Makassar harus menjaga kelestarian terumbu karang di wilayah pesisir pulau kecil di selat Pulau Buton itu, sehingga potensi perikanan di perairan laut pulau itu tetap terpelihara dan menjadi sumber pendapatan bagi kesejahteraan warga pulau.

"Keindahan alam bawah laut dengan terumbu karangnya yang indah, tidak hanya bisa menarik minat para wisatawan selam akan tetapi juga perikanan di dalam kawasan itu bisa menjadi sumber pendapatan warga," katanya.

(A056/AB/ANTARA)

[code]http://www.antarakl.com/index.php/feature/505-tuturagiana-andalaq-ritual-sesaji-di-pulau-makass ar[/code]
balaprabu - 05/10/2011 09:59 AM
#136
filosofi sedekah laut poncosari
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Ngentak adalah salah satu dusun dari 24 dusun yang terletak di wilayah Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Propinsi DIY. Dusun ini terletak kurang lebih 27 kilometer dari pusat Kota Jogja, dan kurang lebih 17 kilometer dari pusat kota Bantul. Sebagian besar dari penduduk Dusun Ngentak adalah nelayan yang tinggal di wilayah pantai Pandan Simo. Di wilayah tersebut, dikenal beberapa upacara adat, misalnya upacara Sedekah Laut, upacara Anggoro Asih, dan sebagainya.

Penduduk dusun Ngentak yang sebagian besar beragama Islam ini dikenal dengan upacara adat Sedekah Laut yang ditujukan kepada Sang Penguasa Laut Selatan. Para penduduk mempunyai mitos akan Kanjeng Ratu Kidul atau Nyai Roro Kidul yang menjadi penguasa Laut Selatan yang menguasai Laut Selatan beserta isinya dan kondisi alanmya. Oleh karena itu, para nelayan mengadakan upacara Sedekah Laut untuk memohon kebebasan dari segala mara bahaya yang mengancamnya seperti adanya ombak besar, angin besar, dan diberi penghasilan ikan yang melimpah. Sedekah Laut tersebut juga dimaksudkan sebagai rasa syukur nelayan atas keselamatan dan penghasilan yang berlimpah.

Upacara Sedekah Laut di Dusun Ngentak, Desa Poncosari dilaksanakan setiap tahun sekali dan jatuh pada hari minggu pertama di bulan Syawal. Misalnya lebaran pertama jatuh pada hari Rabu, maka pada hari Minggunya dilakukan Upacara Sedekah Laut. Pada tahun 2000, lebaran jatuh pada hari Minggu Wage, 9 Januari 2000, oleh karena itu Sedekah Laut dilaksanakan pada hari Minggu, 16 Januari 2000.

Pemilihan hari Minggu pertama di bulan Syawal tersebut dimaksudkan agar saudara-saudara atau anak cucu yang tinggalnya jauh dari Desa Poncosari masih berlibur di rumah orang tuanya sehingga bisa menyaksikan upacara tersebut. Di samping itu, hari Minggu merupakan hari libur sehingga banyak orang yang hadir di Pantai Pandan Simo. Upacaranya sendiri biasa dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB.

Pelaksanaan upacara ditangani oleh para nelayan Dusun Ngentak. Salah satu di antara mereka, ada satu orang yang bertugas untuk melabuh sesaji ke tengah laut. Menurut pemangku adat, orang pilihan tersebut harus seseorang yang handal. Sedangkan para istri nelayan bertugas memasak dan menyiapkan sesaji.

Acara Sedekah Laut dimulai dengan pembakaran kemenyan dan doa-doa dipimpin oleh mBah Cokro seabgai Juru Kunci petilasan HB VII. Sebelum membakar kemenyan terlebih dahulu mBah Cokro duduk bersila menghadap ke laut lalu menyembah dan dilanjutkan dengan pembakaran kemenyan. Setelah selesai lalu berdoa bersama dipimpin oleh juru kunci.

Dalam upacara ini, peralatan yang biasa digunakan adalah sebagai berikut:
- Perahu tempel, yang nantinya dipakai untuk membawa sesaji yang akan dilabuh ke tengah laut,
- Ancak, dari belahan bambu yang dianyam dengan bentuk segi empat untuk tempat sesaji,
- Jodhang, terbuat dari kayu yang dibuat empat persegi panjang untuk mengangkut sesaji yang akan dibawa ke pesisir,
- Tampah/tambir, bentuknya bulat dari anyaman bambu untuk tempat sesaji,
- Pengaron, terbuat dari tanah liat untuk tempat nasi,
- Takir, terbuat dari daun pisang yang dibentuk lalu pada kedua ujungnya diberi janur atau daun nyiur muda untuk tempat jenang sesaji,
- Ceketong, terbuat daun pisang untuk sendok.

Sesajinya ada bermacam-macam, yaitu:
- Sesaji yang khusus untuk Kanjeng Ratu Kidul yang nantinya dilabuh,
- Bunga Telon, terdiri dari mawar, melati, kantil, kenanga dan sebagainya,
- Alat-alat kecantikan khusus wanita meliputi bedhak, sisir, minyak wangi, pensil alis, dan sebagainya,
- Pakaian sak pengadek atau lengkap wanita, ada baju, celana, BH, kebaya yang semuanya harus baru,
- Jenang-jenangan, yang berwarna merah, putih, hitam, palang katul, dan sebagainya,
- Jajan pasar, yaitu makanan kecil-kecilan seperti kacang, lempeng, slondok, dan sebagainya yang dibeli di pasar,
- Nasi udhuk atau nasi gurih, beras yang dimasak bersama santan, garam, dan sebagainya,
- Ayam ingkung, ayam jantan yang dimasak utuh dengan kedua kaki dan sayap diikat,
- Pisang sanggan, dari pisang raja yang berjumlah genap,
- Pisang raja pulut, sesisir pisang raja dan sesisir pulut,
- Lauk pauk, terdiri dari rempeyek, krupuk, kedelai, tanto dan sebagainya,
- Lalapan, terdiri dari kol, buncis yang dirajang halus.

Selama persiapan dan pelaksanaan upacara Sedekah Laut, semua kegiatan di laut dihentikan. Pada malam menjelang hari H, diadakan tahlilan yang dipimpin oleh Rois atau Kaur wilayah Dusun Ngentak. Pagi harinya, barang-barang yang dimasak untuk persiapan sesaji mulai diatur di tempat yang telah disiapkan oleh ibu-ibu dan kemudian dicek kelengkapannya oleh Pemangku Adat. Di lain pihak, bapak-bapak yang akan mengikuti prosesi siap memakai pakaian kejawen, sedang Tekong yang bertugas untuk melabuhkan sudah siap dengan pakaian melaut yang dilengkapi dengan pelampung. Perlu diketahui bahwa masyarakat pedusunan Ngentak ini tiap-tiap RT sudah mempunyai seragam tersendiri, misalnya warga RT 01 seragamnya bunga-bunga merah, warga RT 02 bunga-bunga kuning dan sebagainya. Seragam ini dipakai setiap ada kegiatan di kampung dan setiap ada Upacara Sedekah Laut.

Menjelang pukul 10.00 WIB, jodhang beserta sesaji yang lain mulai diusung dibawa ke pesisir dengan diiringi teberapa barisan yang berseragam dari RT di wilayah Ngentak. Sesampai di sana telah diterima oleh panitia yang bertugas. Namun sebelum itu terlebih dahulu Juru Kunci sudah datang ke Petilasan HB VII untuk membakar kemenyan dan memohon doa restu atau istilahnya amit-amit. Kemudian acara puncak Sedekah Laut adalah melabuh barang sesaji ke tengah laut oleh seorang Tekong yang bertugas.

Semua barang yang dipakai untuk upacara mempunyai makna sebagai persembahan puji syukur pada Yang Maha Agung lantaran Kanjeng Ratu Kidul sebagai penjaga Laut Selatan atas keselamatan dan penghasilan mereka dalam mencari ikan di Segoro Kidul atau Laut Selatan. Berbagai sesaji itu mempunyai makna/lambang tersendiri:
- Pisang sanggan, sebagai lambang bahwa raja atau ratu adalah yang tertinggi,
- Pisang raja pulut, sebagai lambang pengikut, supaya tetep, lengket, kelet, sehingga hubungan antara raja dengan rakyat itu tetap abadi dan melekat,
- Jenang palang (merah putih) dengan palang, sebagai lambang supaya masyarakat Ngentak dalam mencari nafkah tidak ada yang menghalang-halangi,
- Jenang merah putih, sebagai lambang ibu yang melahirkan manusia,
- Jenang hitam, sebagai lambang persembahan kepada saudara atau kakang kawah adi ari-ari,
- Nasi ameng, sebagai lambang permohonan keselamatan dari Yang Maha Agung,
- Nasi rasulan/udhuk, sebagai lambang junjungan Nabi Muhammad SAW,
- Ayam ingkung, sebagai lambang junjungan Nabi Besar Muhammad SAW,
- Air tawar, sebagai lambang keselamatan,
- Alat kecantikan dan pakaian wanita, sebagai lambang kesukaan wanita untuk berdandan,
- Bunga, sebagai lambang permohonan dari keharuman.

Kurang lebih 15 tahun tradisi ini dilakukan oleh masing-masing rumah. Dalam perkembangannya, upacara Sedekah Laut ini dilaksanakan secara berkelompok sehingga semakin meriah dan semarak. Sekarang, dalam upacara, diiringi acara-acara kesenian seperti Salawatan, Jathilan, dan sebagainya.

[code]http://gudeg.net/id/directory/72/334/Sedekah-Laut-Poncosari.html[/code]
Masagung - 06/10/2011 02:02 PM
#137

Peusijuek dalam Budaya Aceh

Setiap daerah memiliki kearifan lokal dalam kehidupannya. Begitu juga dengan Aceh, peusijuek atau tepung tawar salah satunya.


beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Peusijuek (tepung tawar) merupakan sebuah kearifan masyarakat Aceh dalam menyelesaikan suatu sengketa dan memulai sesuatu yang baru, serta berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan dan tata cara hidup bermasyarakat. Agama kemudian melengkapinya.

Beragam jenis peusijuek dilakukan oleh masyarakat Aceh dalam berbagai hal. Jauh-jauh hari tentang peusijuek telah ditulis banyak orang, tak terkecuali penulis asan Belanda Cristian Snouck Hurgronje dalam buku Aceh di Mata Kolonial. Berikut ini beberapa diantaranya:

Peusijuek Meulangga

Peusijuek meulangga (melanggar) dilakukan untuk mendamaikan perselisihan/pertengkaran antar warga yang mengakibatkan keluarnya darah. Peusijuk ini biasanya dilakukan di Meunasah dipimpin oleh Geuchik (kepala desa) yang bertindak sebagai wakil dari kedua belah pihak yang bertikai. Ia juga menjadi hakim yang mendamaikan perselisihan tersebut secara adat.

Bagi pihak yang melakukan pelanggaran—seperti perkelahian misalnya—hingga menimbulkan keluarnya dara pihak lain, maka dia diharuskan memberi sejumlah uang kepada pihak yang darahnya keluar. Pemberian uang tersebut disebut sayam. Jumlah uang yang diberikan tergantung pada kesepakatan kedua belah pihak.

Zaman dahulu sebagaimana disebut Snouck Hurgronje, peusijuek meulangga diawali dengan denda adat meulangga untuk menghilangkan luka atau hinaan dan dendam pihak yang darahnya keluar. Biasanya pihak yang darahnya keluar akan datang bergerombolan ke kampung pihak yang menyebabkan keluar darah untuk memberikan denda adat.

Kelompok tersebut datang menjumpai Geuchik untuk memberitahukan maksud kedatangan mereka. Geuchik menerima tamu yang tak diundang tersebut dan mempermaklumkan apa yang akan dikerjakaan oleh mereka sebagai denda adat terhadap warganya yang telah melakukan pelanggaran.

Setelah melapor kepada geuchik, kelompok tersebut akan mendatangi rumah sipelanggar, mereka menyorakinya agar keluar dari rumah. Lalu Geuchik desa tersebut akan berdialog dengan kelompok itu untuk menenangkannya. Sebagai simbolis perdamaian, Geuchik akan memotong dua batang pisang raja dan menyerahkan kepada kelompok tersebut. Setelah menerima pohong pisang raja tersebut, kelompok tersebut akan memotong pohon di pagar rumah si pelanggar, sebagai simbol perusakan. Biasanya zaman dahulu warga menanam pohon kedondong di pagar rumah mereka.

Setelah pohon kedondong itu di potong, kelompok yang datang tersebut akan membangun sebuah miniatur rumah di halaman rumah si pelanggar. Rumah miniatur tersebut kemudian dibakar sebagai simbol bahwa mereka telah melampiaskan dendam dengan cara membakar rumah si pelanggar. Pembakaran itu disaksikan oleh Geuchik dan masyarakat desa setempat. Setelah itu, mereka akan minta izin kepada Geuchik untuk kembali ke kampungnya. Pada kesempatan itu antara Geuchik dan kelompok yang dilanggar menentukan kapan acara peusijuek terhadap pihaknya dilakukan sebagai langkah perdamaian secara adat.

Pada waktu peusijuk, kedua pihak yakni yang melanggara dan yang dilanggar didadirkan ke Meunasah untuk didamaikan dengan cara ditepung tawar. Peusijuk itu dilakukan di kampung pihak yang dirugikan—yang darahnya keluar—Pihak yang menyebabkan darah keluar akan membawa hidangan bulukat kuneng (nasi ketan kuning) beserta tumpoe untuk melakukan peusijuek. Pada saat peusijuk terhadap korban (yang darahnya keluar) dilakukan, pihak pelanggar akan menyerahkan sepotong kain putih sebagai simbol mengharap pertentangan itu dilupakan (hati kembali putih bersih dari dendam).

Bersama diserahkannya kain putih tersebut, diberikan pula sayam, sebagai uang tembusan kesalahan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Sayam hanya diberikan pada kasus-kasus bersar yang melukai korban atau menyebabkan korban harus menjalani perawan. Sayam juga dimaksudkan sebagai uang pengganti perawatan korban. Setelah peusijuek dilakukan, maka tak ada lagi permusuhan antar kedua pihak. Peusijuek meulangga ini sering juga disebut peusijuek ro darah gob, yang bermakna tepung tawar tumpahnya darah orang lain.

Peusijuek Pade Bijeh

Peusijuek Pade bijeh (benih padi) dilakukan oleh petani terhadap padi yang akan dijadikan bibit. Perusijuk ini dilakukan secara personal oleh petani di rumahnya ketika pati yang akan dijadikan bibit direndam. Setelah direndam selama satu malam, bibit tersebut akan dimasukkan kedalam karung dan diletakkan di tempat dingin.

Dua sampai tiga malam kemudian bibit basah tersebut akan menjadi kecambah. Kecambah itu kemudian diuraikan hingga terlepas. Saat itulah peusijuek dilakukan, tujuannya menharapkan agar bibit tersebut diberkahi Allah SWT dan bisa tumbuh menjadi padi yang subur.

Setelah prosesi peusijuek dilakukan dengan memercikkan air yang meggunakan ikatan akar berbagai jenis tanaman, bibit tersebut baru dibawa ke sawah untuk ditabur di neuduk, yakni petak khusus di sawah yang dibuat untuk tabu pade bijeh (menyemai benih)

Peusijuk Peudong Rumoh

Peusijuek peudong rumoh dilakukan ketika seseorang hendak membangun rumah sebagai tempat tinggal. Sebelum tiang-tiang rumah didirikan, maka siempunya hajatan akan membuat nasi ketan (bulukat) untuk peusijek rangka rumah yang akan didirikan.

Peusijuek dilakukan oleh Tgk Imum Gampong dengan membaca doa-doa agar rumah yang akan didirikan diberkati oleh Allah SWT sebagai tempat tinggal yang akan memberikan ketentraman. Setelah membaca doa, Tgk Imum akan melakukan sipreuk breuh pade (menabur beras dan padi) sebagai simbul kesejahteraan, kemudian memercikkan air dengan akar-akaran berbagai tumbuhan rerumputan.

Setelah itu Tgk Imum akan mengambil secuil ketan, sambil berdoa ia meniup ketan tersebut untuk kemudian disangkutkan di tiang utama rumah yang akan dibangun. Kemudian ketan yang dibuat oleh pemilik rumah dibagikan kepada para tetangga untuk disantap. Selanjutnya baru tukang yang membuat rumah bekerja sampai rumah itu selesai dibangun.

Peusijuek juga dilakukan setelah rumah selesai dibangun, yakni ketika si pemilik rumah ingin masuk mendiami rumah tersebut. Upacara peusijuk ini juga dilakukan hampir sama dengan pesijuek pada saat pembangunan rumah dilakukan. Bedanya bila pada saat pembangunan rumah nasi ketan dan akar-akaran (seunijuek) disangkutkan di tiang utama, pada peusijuek rumoh baro disanglutkan di atas ventalasi pintu utama rumah.

Peusijuek Keureubeun dan Kenderaan

Peusijuek keureubeun (kurban) dilakukan biasanya pada hari raya Idul Adha, saat masyarakat muslim mengurbankan ternaknya sebagaimana diperintahkan agama. Sebelum ternak disembelih untuk dikurbankan, maka dilakukan prosesi peusijuek mengharap keridhaan Allah SWT agar kurbannya diterima, dan bisa menjadi kenderaan baginya di hari akhirat kelak.

Sementara peusijuek kenderaan dilakukan oleh orang yang baru membeli kenderaan baru sebelum kenderaan tersebut digunakan. Peusijuek ini dilakukan untuk meminta keberkatan dari Allah SWT agar pengguna kenderaan tersebut terhindar dari kecelakaan. Prosesi peusijuek juga sama dengan peusijuek-peusijuek lainnya.

Peusijuek Khitanan dan Orang Sakit

Peusijuek khitanan dilakukan terhadap anak yang akan dikhitan. Tujuannya mengharap dari Allah SWT agar proses khitanan bagi si anak berjalan lancar dan si anak cepat sembuh setelah dikhitan. Pada peusijuek ini, biasanya saudara-saudara si anak akan datang memberi semangat, kepadanya juga akan diberikan sejumlah uang dari oraang-orang yang datang menjenguknya pada saat peusijuek. Tujuannya agar si anak merasa bahagia dan tidak takut ketika dikhitan.

Begitu juga dengan peusijuek orang yang baru sembuh dari sakit, atau baru pulih dari kecelakaan dilakukan untuk mengembalikan semangat (puwoe roh) si sakit yang baru sembuh. Biasanya dilakukan terhadap orang-orang yang baru sembuh dari penyakit kronis atau kecelakaan berat.

Peusijuek ini dilakukan berulang-ulang secara bergiliran oleh sanak saudara si sakit yang baru sembuh. Umpamanya, peusijuek kalimpertama dilakukan oleh keluarga pihak perempuan, esoknya dilakukan oleh keluarga pihak pria, dan hari hari seterusnya oleh pihak keluarga lainnya. Orang yang datang pada peusijuek ini juga membawakan uang sebagai sedekah bagi orang yang dipeusijuek.

Peusijuek Orang Naik Haji

Peusijuk orang naik haji ada yang dilakukan oleh saudara atau masyarakat kampung bila ada warga kampungnya yang akan naik haji. Tujuannya mendoakan agar orang yang akan naik haji tersebut bisa melaksanakan ibadah haji dengan sempurna. Prosesi acara peusijuek juga sama dengan peusijuek-peusijuek lainnya.

Beragam prosesi peusijuk ini masih dilakukan oleh masyarakat Aceh hingga sekarang, dengan tujuan mengharap keberkatan dari apa yang dipeusijuk. Sebuah kearifan yang patut untuk dipertahankan sebagai warisan bagi generasi yang akan datang.


sumber : http://harian-aceh.com/2011/06/09/peusijuek-dalam-budaya-kita
balaprabu - 06/10/2011 04:29 PM
#138

Quote:
Original Posted By Masagung
Peusijuek dalam Budaya Aceh

Setiap daerah memiliki kearifan lokal dalam kehidupannya. Begitu juga dengan Aceh, peusijuek atau tepung tawar salah satunya.


beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Peusijuek (tepung tawar) merupakan sebuah kearifan masyarakat Aceh dalam menyelesaikan suatu sengketa dan memulai sesuatu yang baru, serta berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan dan tata cara hidup bermasyarakat. Agama kemudian melengkapinya.

Beragam jenis peusijuek dilakukan oleh masyarakat Aceh dalam berbagai hal. Jauh-jauh hari tentang peusijuek telah ditulis banyak orang, tak terkecuali penulis asan Belanda Cristian Snouck Hurgronje dalam buku Aceh di Mata Kolonial. Berikut ini beberapa diantaranya:

Peusijuek Meulangga

Peusijuek meulangga (melanggar) dilakukan untuk mendamaikan perselisihan/pertengkaran antar warga yang mengakibatkan keluarnya darah. Peusijuk ini biasanya dilakukan di Meunasah dipimpin oleh Geuchik (kepala desa) yang bertindak sebagai wakil dari kedua belah pihak yang bertikai. Ia juga menjadi hakim yang mendamaikan perselisihan tersebut secara adat.

Bagi pihak yang melakukan pelanggaran—seperti perkelahian misalnya—hingga menimbulkan keluarnya dara pihak lain, maka dia diharuskan memberi sejumlah uang kepada pihak yang darahnya keluar. Pemberian uang tersebut disebut sayam. Jumlah uang yang diberikan tergantung pada kesepakatan kedua belah pihak.

Zaman dahulu sebagaimana disebut Snouck Hurgronje, peusijuek meulangga diawali dengan denda adat meulangga untuk menghilangkan luka atau hinaan dan dendam pihak yang darahnya keluar. Biasanya pihak yang darahnya keluar akan datang bergerombolan ke kampung pihak yang menyebabkan keluar darah untuk memberikan denda adat.

Kelompok tersebut datang menjumpai Geuchik untuk memberitahukan maksud kedatangan mereka. Geuchik menerima tamu yang tak diundang tersebut dan mempermaklumkan apa yang akan dikerjakaan oleh mereka sebagai denda adat terhadap warganya yang telah melakukan pelanggaran.

Setelah melapor kepada geuchik, kelompok tersebut akan mendatangi rumah sipelanggar, mereka menyorakinya agar keluar dari rumah. Lalu Geuchik desa tersebut akan berdialog dengan kelompok itu untuk menenangkannya. Sebagai simbolis perdamaian, Geuchik akan memotong dua batang pisang raja dan menyerahkan kepada kelompok tersebut. Setelah menerima pohong pisang raja tersebut, kelompok tersebut akan memotong pohon di pagar rumah si pelanggar, sebagai simbol perusakan. Biasanya zaman dahulu warga menanam pohon kedondong di pagar rumah mereka.

Setelah pohon kedondong itu di potong, kelompok yang datang tersebut akan membangun sebuah miniatur rumah di halaman rumah si pelanggar. Rumah miniatur tersebut kemudian dibakar sebagai simbol bahwa mereka telah melampiaskan dendam dengan cara membakar rumah si pelanggar. Pembakaran itu disaksikan oleh Geuchik dan masyarakat desa setempat. Setelah itu, mereka akan minta izin kepada Geuchik untuk kembali ke kampungnya. Pada kesempatan itu antara Geuchik dan kelompok yang dilanggar menentukan kapan acara peusijuek terhadap pihaknya dilakukan sebagai langkah perdamaian secara adat.

Pada waktu peusijuk, kedua pihak yakni yang melanggara dan yang dilanggar didadirkan ke Meunasah untuk didamaikan dengan cara ditepung tawar. Peusijuk itu dilakukan di kampung pihak yang dirugikan—yang darahnya keluar—Pihak yang menyebabkan darah keluar akan membawa hidangan bulukat kuneng (nasi ketan kuning) beserta tumpoe untuk melakukan peusijuek. Pada saat peusijuk terhadap korban (yang darahnya keluar) dilakukan, pihak pelanggar akan menyerahkan sepotong kain putih sebagai simbol mengharap pertentangan itu dilupakan (hati kembali putih bersih dari dendam).

Bersama diserahkannya kain putih tersebut, diberikan pula sayam, sebagai uang tembusan kesalahan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Sayam hanya diberikan pada kasus-kasus bersar yang melukai korban atau menyebabkan korban harus menjalani perawan. Sayam juga dimaksudkan sebagai uang pengganti perawatan korban. Setelah peusijuek dilakukan, maka tak ada lagi permusuhan antar kedua pihak. Peusijuek meulangga ini sering juga disebut peusijuek ro darah gob, yang bermakna tepung tawar tumpahnya darah orang lain.

Peusijuek Pade Bijeh

Peusijuek Pade bijeh (benih padi) dilakukan oleh petani terhadap padi yang akan dijadikan bibit. Perusijuk ini dilakukan secara personal oleh petani di rumahnya ketika pati yang akan dijadikan bibit direndam. Setelah direndam selama satu malam, bibit tersebut akan dimasukkan kedalam karung dan diletakkan di tempat dingin.

Dua sampai tiga malam kemudian bibit basah tersebut akan menjadi kecambah. Kecambah itu kemudian diuraikan hingga terlepas. Saat itulah peusijuek dilakukan, tujuannya menharapkan agar bibit tersebut diberkahi Allah SWT dan bisa tumbuh menjadi padi yang subur.

Setelah prosesi peusijuek dilakukan dengan memercikkan air yang meggunakan ikatan akar berbagai jenis tanaman, bibit tersebut baru dibawa ke sawah untuk ditabur di neuduk, yakni petak khusus di sawah yang dibuat untuk tabu pade bijeh (menyemai benih)

Peusijuk Peudong Rumoh

Peusijuek peudong rumoh dilakukan ketika seseorang hendak membangun rumah sebagai tempat tinggal. Sebelum tiang-tiang rumah didirikan, maka siempunya hajatan akan membuat nasi ketan (bulukat) untuk peusijek rangka rumah yang akan didirikan.

Peusijuek dilakukan oleh Tgk Imum Gampong dengan membaca doa-doa agar rumah yang akan didirikan diberkati oleh Allah SWT sebagai tempat tinggal yang akan memberikan ketentraman. Setelah membaca doa, Tgk Imum akan melakukan sipreuk breuh pade (menabur beras dan padi) sebagai simbul kesejahteraan, kemudian memercikkan air dengan akar-akaran berbagai tumbuhan rerumputan.

Setelah itu Tgk Imum akan mengambil secuil ketan, sambil berdoa ia meniup ketan tersebut untuk kemudian disangkutkan di tiang utama rumah yang akan dibangun. Kemudian ketan yang dibuat oleh pemilik rumah dibagikan kepada para tetangga untuk disantap. Selanjutnya baru tukang yang membuat rumah bekerja sampai rumah itu selesai dibangun.

Peusijuek juga dilakukan setelah rumah selesai dibangun, yakni ketika si pemilik rumah ingin masuk mendiami rumah tersebut. Upacara peusijuk ini juga dilakukan hampir sama dengan pesijuek pada saat pembangunan rumah dilakukan. Bedanya bila pada saat pembangunan rumah nasi ketan dan akar-akaran (seunijuek) disangkutkan di tiang utama, pada peusijuek rumoh baro disanglutkan di atas ventalasi pintu utama rumah.

Peusijuek Keureubeun dan Kenderaan

Peusijuek keureubeun (kurban) dilakukan biasanya pada hari raya Idul Adha, saat masyarakat muslim mengurbankan ternaknya sebagaimana diperintahkan agama. Sebelum ternak disembelih untuk dikurbankan, maka dilakukan prosesi peusijuek mengharap keridhaan Allah SWT agar kurbannya diterima, dan bisa menjadi kenderaan baginya di hari akhirat kelak.

Sementara peusijuek kenderaan dilakukan oleh orang yang baru membeli kenderaan baru sebelum kenderaan tersebut digunakan. Peusijuek ini dilakukan untuk meminta keberkatan dari Allah SWT agar pengguna kenderaan tersebut terhindar dari kecelakaan. Prosesi peusijuek juga sama dengan peusijuek-peusijuek lainnya.

Peusijuek Khitanan dan Orang Sakit

Peusijuek khitanan dilakukan terhadap anak yang akan dikhitan. Tujuannya mengharap dari Allah SWT agar proses khitanan bagi si anak berjalan lancar dan si anak cepat sembuh setelah dikhitan. Pada peusijuek ini, biasanya saudara-saudara si anak akan datang memberi semangat, kepadanya juga akan diberikan sejumlah uang dari oraang-orang yang datang menjenguknya pada saat peusijuek. Tujuannya agar si anak merasa bahagia dan tidak takut ketika dikhitan.

Begitu juga dengan peusijuek orang yang baru sembuh dari sakit, atau baru pulih dari kecelakaan dilakukan untuk mengembalikan semangat (puwoe roh) si sakit yang baru sembuh. Biasanya dilakukan terhadap orang-orang yang baru sembuh dari penyakit kronis atau kecelakaan berat.

Peusijuek ini dilakukan berulang-ulang secara bergiliran oleh sanak saudara si sakit yang baru sembuh. Umpamanya, peusijuek kalimpertama dilakukan oleh keluarga pihak perempuan, esoknya dilakukan oleh keluarga pihak pria, dan hari hari seterusnya oleh pihak keluarga lainnya. Orang yang datang pada peusijuek ini juga membawakan uang sebagai sedekah bagi orang yang dipeusijuek.

Peusijuek Orang Naik Haji

Peusijuk orang naik haji ada yang dilakukan oleh saudara atau masyarakat kampung bila ada warga kampungnya yang akan naik haji. Tujuannya mendoakan agar orang yang akan naik haji tersebut bisa melaksanakan ibadah haji dengan sempurna. Prosesi acara peusijuek juga sama dengan peusijuek-peusijuek lainnya.

Beragam prosesi peusijuk ini masih dilakukan oleh masyarakat Aceh hingga sekarang, dengan tujuan mengharap keberkatan dari apa yang dipeusijuk. Sebuah kearifan yang patut untuk dipertahankan sebagai warisan bagi generasi yang akan datang.


sumber : http://harian-aceh.com/2011/06/09/peusijuek-dalam-budaya-kita


thumbup:


makasih mas agung thumbup:
balaprabu - 06/10/2011 04:37 PM
#139
erau kutai kertenagara part 1
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Sejarah Erau

Erau pertama kali dilaksanakan pada upacara tijak tanah dan mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun. Setelah dewasa dan diangkat menjadi Raja Kutai Kartanegara yang pertama (1300-1325), juga diadakan upacara Erau. Sejak itulah Erau selalu diadakan setiap terjadi penggantian atau penobatan Raja-Raja Kutai Kartanegara.

Dalam perkembangannya, upacara Erau selain sebagai upacara penobatan Raja, juga untuk pemberian gelar dari Raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap Kerajaan.

Pelaksanaan upacara Erau dilakukan oleh kerabat Keraton/Istana dengan mengundang seluruh tokoh pemuka masyarakat yang mengabdi kepada kerajaan. Mereka datang dari seluruh pelosok wilayah kerajaan dengan membawa bekal bahan makanan, ternak, buah-buahan, dan juga para seniman. Dalam upacara Erau ini, Sultan serta kerabat Keraton lainnya memberikan jamuan makan kepada rakyat dengan memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya sebagai tanda terima kasih Sultan atas pengabdian rakyatnya.

Setelah berakhirnya masa pemerintahan Kerajaan Kutai Kartanegara pada tahun 1960, wilayahnya menjadi daerah otonomi yakni Kabupaten Kutai. Tradisi Erau tetap dipelihara dan dilestarikan sebagai pesta rakyat dan festival budaya yang menjadi agenda rutin Pemerintah Kabupaten Kutai dalam rangka memperingati hari jadi kota Tenggarong, pusat pemerintahan Kerajaan Kutai Kartanegara sejak tahun 1782.

Pelaksanaan Erau

Pelaksanaan Erau yang terakhir menurut tata cara Kesultanan Kutai Kartanegara dilaksanakan pada tahun 1965, ketika diadakan upacara pengangkatan Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat.

Sedangkan Erau sebagai upacara adat Kutai dalam usaha pelestarian budaya dari Pemda Kabupaten Kutai baru diadakan pada tahun 1971 atas prakarsa Bupati Kutai saat itu, Drs.H. Achmad Dahlan. Upacara Erau dilaksanakan 2 tahun sekali dalam rangka peringatan ulang tahun kota Tenggarong yang berdiri sejak 29 September 1782.

Atas petunjuk Sultan Kutai Kartanegara yang terakhir, Sultan A.M. Parikesit, maka Erau dapat dilaksanakan Pemda Kutai dengan kewajiban untuk mengerjakan beberapa upacara adat tertentu, tidak boleh mengerjakan upacara Tijak Kepala dan Pemberian Gelar, dan beberapa kegiatan yang diperbolehkan seperti upacara adat lain dari suku Dayak, kesenian dan olahraga/ketangkasan.

Erau Sebagai Pesta Budaya

Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kutai untuk menjadikan Erau sebagai pesta budaya yakni dengan menetapkan waktu pelaksanaan Erau secara tetap pada bulan September berkaitan dengan hari jadi kota Tenggarong, ibukota Kabupaten Kutai dan Kesultanan Kutai Kartanegara.

Festival Erau yang kini telah masuk dalam calendar of events pariwisata nasional, tidak lagi dikaitkan dengan seni budaya Keraton Kutai Kartanegara tetapi lebih bervariasi dengan berbagai penampilan ragam seni dan budaya yang ada serta hidup dan berkembang di seluruh wilayah Kabupaten Kutai.

Mata Acara Pokok Erau

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
Menjamu Benua

Mendirikan Ayu

Kesenian dan Adat Kutai

Menyisikan Lembu Suana dan Tambak Karang

Beluluh

Bekanjar dan Beganjur

Seluang Mudik

Belian, Bekenjong

Dewa Memanah, Besaong Manok, Menjala

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
Bepelas, Tepong Tawar

Merebahkan Ayu, Beburay, dan Syukuran

Mengulur Naga dan Belimbur

Ziarah ke Makam Aji Imbut (pendiri kota Tenggarong)

Ziarah ke Kutai Lama

lebih lengkap maknanya lihat situs :
http://www.kerajaannusantara.com/id/kutai-kartanegara/upacara

(KutaiKartanegara.com)
balaprabu - 06/10/2011 04:45 PM
#140
erau kutai kertanagara part 2
Kegiatan Penunjang Erau
yaitu kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan upacara adat Keraton Kutai Kartanegara. Kegiatan tersebut semata-mata sebagai tambahan dalam rangka pelestarian nilai-nilai seni dan budaya baik daerah pada khususnya maupun nasional pada umumnya agar bisa hidup dan berkembang ditengah-tengah perkembangan jaman. Yang termasuk penunjang Erau:
Upacara Pembukaan & Tari Massal
>> Marching Band
>> Pembukaan Erau
>> Penyalaan Brong
>> Sajian Tari Massal

Upacara-Upacara Adat Suku Pedalaman
>> Upacara Adat Ngugu Tahun
>> Upacara Adat Penhos
>> Upacara Adat Mamad
>> dan lain-lain

Kesenian
>> Kesenian Tradisional
>> Kesenian Nusantara
>> Kesenian Mancanegara

Olahraga
>> Olahraga Tradisional
>> Olahraga Populer

Pameran Pembangunan & Bazaar

Pertunjukan Hiburan Masyarakat
>> Pawai / Karnaval
>> Marching Band
>> Hiburan Band
>> Show Artis Ibukota

Tata Kehidupan Suku Dayak
>> Perkawinan Suku Dayak
>> Pengobatan Belian
>> Hudoq
>> dan lain-lain

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

KutaiKartanegara.com 11/07/2011 12:31 WITA
Pesta adat Erau 2011 yang telah berlangsung selama sepekan secara resmi ditutup Wakil Gubernur Kalimantan Timur H Farid Wadjdy di Keraton Kutai Kartanegara ing Martadipura atau Museum Mulawarman, Tenggarong, Minggu (10/07) kemarin.


Penutupan Erau 2011 ini ditandai dengan pelaksanaan upacara Mengulur Naga sekaligus Belimbur sebagai puncak kemeriahan Erau yang paling dinanti-nanti masyarakat.


Dikatakan Wagub Farid Wadjdy, Erau bukan hanya sekedar ungkapan rasa syukur dan pererat persatuan, tapi juga sebagai usaha pelestarian dan pengembangan adat istiadat.


"Erau ini juga merupakan salah satu event untuk mensukseskan program tahun kunjungan wisata Kaltim khususnya Kukar," ujarnya di hadapan ribuan warga dan pengunjung yang memadati halaman Museum Mulawarman.


Sebelum upacara Mengulur Naga dimulai, terlebih dahulu dilakukan dengan pembacaan riwayat singkat tentang Naga oleh salah seorang kerabat Kesultanan Kutai.

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Setelah itu, Putra Mahkota HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat memimpin pelaksanaan upacara Mengulur Naga di Kutai Lama, Kecamatan Anggana, yang merupakan ibukota pertama Kerajaan Kutai Kartanegara di masa silam.


Dua replika naga kemudian dibawa beramai-ramai menuju dermaga depan Museum Mulawarman untuk dinaikkan di atas kapal. Setelah 3 kali berputar di sungai Mahakam di kota Tenggarong, kapal yang membawa naga berangkat menuju ke Kutai lama, dan singgah di Samarinda Seberang untuk dilaksanakan prosesi Naga Bekenyawa oleh tokoh adat Bugis di Samarinda Seberang.


Sementara itu, saat Naga dibawa menuju ke Kutai Lama, Sultan Kutai H Adji Mohd Salehoeddin II melaksanakan prosesi Beumban, Begorok serta turun ke Rangga Titi untuk memercikkan air Tuli dari Kutai Lama, sebagai tanda dimulainya acara Belimbur atau siram-siraman air.


Adat Belimbur sendiri memiliki makna untuk mensucikan diri dari pengaruh-pengaruh jahat sehingga kita kembali suci dan bersih serta menambah semangat untuk membangun daerah. Demikian pula terhadap bumi dan sekitarnya bersih dari perbuatan jahat serta dihindari segala marabahaya. (her)

http://erau.kutaikartanegara.com/
Page 7 of 13 | ‹ First  < 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya