Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
Total Views: 10114 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 8 of 13 | ‹ First  < 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 > 

balaprabu - 07/10/2011 02:45 PM
#141
falsafah ritual ya qowiyu
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Qowiyyu —salah satu asmaul-husna yang artinya Yang Maha Kuat— adalah juga nama event tahunan sebaran apem di Jatinom, Klaten. Wartawan SOLOPOS Aries Susanto menjadi saksi masih kuatnya jejak kesalehan sosial Ki Ageng Gribik dalam Yaqowiyu itu.

Para santri berbaju putih itu melangkah perlahan menuruni tangga sambil memanggul gunungan apem. Dari mulut mereka mengalun zikir tiada henti, “Yaqowiyu ya aziz, qowina walmuslimin. Yaqowiyu ya rozak, warzuqna walmuslimin.”

Tiba di tepi Kali Soka, di tanah lapang Sendang Plampeyan, suara zikir itu terdengar kian keras. Seperti menggema di tengah-tengah ribuan orang yang berdiri di bawah terik mentari.

Zikir itu terus berkumandang hingga sesaat sebelum perhelatan religius akbar Yaqowiyu dimulai. Sebait doa mengawali. Begitu doa usai dipanjatkan, ribuan orang yang menyemut di tempat itu riuh berebut apem.

Ada yang terjatuh, terjengkang, terinjak, berteriak dan juga tertawa. Namun ada pula yang terus khusyuk berdoa di kejauhan tanpa berebut apem.

“Kula sampun tuwa. Mboten saget rebutan apem (Saya sudah tua. Tak bisa berebut apem),” kata Mbah Warso, perempuan renta asal Baki, Sukoharjo. Jumat (21/1) siang itu, Desa Jatinom—sebuah desa yang menjadi cikal bakal Kecamatan Jatinom, Klaten—memang sangat padat.

Di setiap ruas jalan dan gang, penuh para penjaja makanan apem. Mereka meyakini bahwa apem adalah berkah pada hari itu. “Apem itu afwun, artinya memaafkan. Jadi, ya berebut maaf,” jelas Panji Supardi, juru kunci makam Ki Ageng Gribik suatu hari.

Asal-muasal tradisi sebaran apem memang tak bisa dilepaskan dari sosok Ki Ageng Gribik, ulama kharismatik yang hidup di abad XVI. Dalam perjalanannya, Ki Ageng Gribik menjadi sangat dicintai warganya karena kesalehan sosialnya.

“Dan sebaran apem adalah salah satu tradisi peninggalan Ki Ageng Gribik yang harus kita jaga. Karena di dalamnya penuh dengan pesan sosial, cinta kasih dan saling peduli kepada sesama,” kata Bupati Sunarna dalam kata sambutannya pada acara itu.

Sejak ratusan tahun silam, tradisi yang bernama Yaqowiyu itu terus menyimpan magnet bagi ribuan warga Klaten dan sekitarnya, tak terkecuali wisatawan mancanegara. Ketika pertengahan bulan Safar tiba, maka sebaran apem menjadi puncak acara yang dinanti-nanti.

Mbah Warso barangkali adalah saksi hidup betapa sebaran apem selalu menggerakkan hatinya untuk mendatangi acara itu. Kini, meskipun usianya telah menginjak 83 tahun, Mbah Warso tak pernah goyah untuk mendatangi acara setahun sekali itu. “Dateng mriki niku ngalap berkah (Ke sini untuk mengharap berkah-red),” katanya.

Berkah, bagi Mbah Warso barangkali sungguh berarti. Mungkin bagi kesehatannya, bagi rezekinya, bagi laku hidupnya agar selalu setia mengikuti jejak kesalehan sosial Ki Ageng Gribik. – Oleh : Aries Susanto

[code]http://klatenonline.com/klaten/yaqowiyu-meriah-pesan-sosial-ki-ageng-gribik-tetap-terjaga.htm[/ code]
balaprabu - 07/10/2011 02:48 PM
#142
ya qowiyu part 2
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

KLATEN- Jumlah pengunjung upacara adat ritual sebar kue apem atau disebut “Yaqowiyu” di Desa/Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang digelar pada Jumat (21/1), ditargetkan lebih dari 25.000 orang, kata Camat setempat Joko Purwanta di Klaten.

“Kami targetkan jumlah pengunjung upacara puncak Yaqowiyu, di Sendang Plampeyan, Jatinom, lebih dari 25 ribu orang atau meningkat dibanding tahun sebelumnya 20 ribu orang,” kata Joko Purwanta, selaku ketua panitia Yaqowiyu, Jumat (14/1).

Menurut dia, meningkatnya target jumlah pengunjung tersebut, karena kegiatan tahun ini ada tambahan jumlah kesenian yang akan ditampilkan sebelum upacara dimulai.

“Tambahan kesenian yang akan ditampilkan di antaranya sebanyak lima grup seni Reog Ponorogo dan 20 marching band,” katanya.

Selain itu, panitia juga menyiapkan kue apem yang akan disebarkan dalam upacara puncak tersebut sekitar lima ton dari swadaya masyarakat.

Menurut dia, upacara Yaqowiyu yang merupakan tradisi sejak zaman Mataram Islam oleh Kiai Ageng Gribig dalam penyebaran agama di wilayah Jatinom.

Yaqowiyu adalah upacara adat yang diadakan setiap bulan Jawa pada Sapar. Oleh penduduk setempat sering disebut dengan Saparan. Upacara Yaqowiyu ditandai dengan penyebaran kue apem, sebuah kue bundar dari tepung beras dengan potongan kelapa di tengahnya.

Menurut dia, panitia telah menyiapkan dua menara sebagai tempat disebarkan kue apem yang dilakukan oleh para santri.

Menurut kepercayaan masyarakat kue apem ini mempunyai kekuatan supranatural yang membawa kesejahteraan bagi yang berhasil mendapatkannya.

Sementara Panji Supardi, juru kunci Makam Kiai Ageng Gribig di Jatinom mengatakan, upacara Yaqowiyu dimulai sejak kembalinya Kyai Ageng Gribig dari menunaikan shalat Jumat di Tanah Suci Mekah dengan membawa kue gimbal (kue bahan baku gandum).

Menurut dia, karena oleh-oleh kue gimbal hanya dua biji, maka oleh pengikutnya dioleh lagi dan dicampurkan tempung beras dibuat apem.

Oleh karena itu, kue apem tersebut kemudian dibagikan kepada para santrinya dengan merata.

“Mengapa Kue apem sebetulnya dalam arti lain, agar manusia diberikan ampunan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Jadi jika masyarakat mendapatkan kue apem, maka mereka akan diberikan ampunan segala kesalahannya,” katanya.

Joko Purwanta menambahkan, perayaan upacara penyebaran apem tahun ini, diperkiarakan lebih meriah dibanding tahun sebelumnya.

Oleh karena itu, pihaknya mengharapkan Jatinom lebih dikenal dengan kue apem. Sehingga, Jatinom menjadi lahan bisnis bagi masyarakat sekitar sebagai sentra kue apem.

Selain itu, pihaknya juga mengharapkan dengan kegiatan Yaqowiyu, maka Jatinom banyak dikunjungan orang yang dapat dimanfaatkan masyarakat setempat dengan berjualan.

Dengan demikian, masyarakat Jatinom khususnya akan lebih meningkat perekonomiannya sehingga mereka lebih sejahtera dalam kehidupannya.(ant/hrb)

[code]http://klatenonline.com/klaten/upacara-adat-ritual-yaqowiyu-targetkan-25-000-pengunjung.htm[/co de]
Masagung - 07/10/2011 03:00 PM
#143

wah...kalau apem saparan saya nggak perlu ikut rebutan mas, tinggal minta aja dikasih sepiring D
balaprabu - 07/10/2011 03:21 PM
#144

Quote:
Original Posted By Masagung
wah...kalau apem saparan saya nggak perlu ikut rebutan mas, tinggal minta aja dikasih sepiring D


wah enak tuh mbah hehehehee D
Masagung - 07/10/2011 03:43 PM
#145

Quote:
Original Posted By balaprabu
wah enak tuh mbah hehehehee D


apem itu kan dari warga yg dikumpulkan ke masjid, nah biasanya kan pada bikin lebih buat dimakan dirumah. D





disekitar penyebaran apem tsb juga banyak tempat yg menarik untuk dikunjungi mas spt umbul suran, goa plampeyan, goa mbelan atau makam ki ageng gribig.
balaprabu - 07/10/2011 04:38 PM
#146

Quote:
Original Posted By Masagung
apem itu kan dari warga yg dikumpulkan ke masjid, nah biasanya kan pada bikin lebih buat dimakan dirumah. D





disekitar penyebaran apem tsb juga banyak tempat yg menarik untuk dikunjungi mas spt umbul suran, goa plampeyan, goa mbelan atau makam ki ageng gribig.


ooo gitu mbah, wah saya malah belum pernah kesana mbah D
farizbd - 09/10/2011 11:50 AM
#147

ijin nyimak ya ganiloveindonesiasiloveindonesiasiloveindonesias
balaprabu - 09/10/2011 12:20 PM
#148
falsafah tayuban
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

ANGGAPAN tayub sebagai tarian mesum merupakan penilaian yang keliru. Sebab, tidak seluruh tayub identik dengan hal-hal yang negatif. Dalam tayub, ada kandungan nilai-nilai positif yang adiluhung. Selain itu, tayub juga menjadi simbol yang kaya makna tentang pemahaman kehidupan dan punya bobot filosofis tentang jati diri manusia.

Kesan tayub sebagai tarian mesum muncul pada abad 19. Pada 1817, GG Rafles dari Inggris, dalam bukunya berjudul ''History of Java'', menulis tayub sebagai tarian ronggeng mirip pelacuran terselubung. Kesan sama juga dituliskan oleh peneliti asal Belanda, G Geertz dalam bukunya ''The Religion of Java''.

Tapi, menurut koreografer Tayub Wonogiren, S Poedjosiswoyo BA, orang Jawa akan protes bila kesan Rafles dan Gertz itu diterima secara utuh. Sebab, kata dia, kesan mesum yang diberikan pada tayub hakikatnya terbatas pada pandangan sepintas yang baru melihat kulitnya saja, tanpa mau mengenali isi maupun kandungan nilai filosofisnya.

Dalam buku ''Bauwarna Adat Tata Cara Jawa'' karangan Drs R Harmanto Bratasiswara disebutkan, tayuban adalah tari yang dilakukan oleh wanita dan pria berpasang-pasangan. Keberadaan tayub berpangkal pada cerita kadewatan (para dewa-dewi), yaitu ketika dewa-dewi mataya (menari berjajar-jajar) dengan gerak yang guyub (serasi).

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya


Menurut Poedjosiswoyo, berdasarkan sejarahnya, tayub lahir sebagai tarian rakyat pada abad Ke XI. Waktu itu, Raja Kediri berkenan mengangkatnya ke dalam puri keraton dan membakukannya sebagai tari penyambutan tamu keraton. Betapa tayub memiliki kandungan nilai adiluhung, kiranya dapat disimak dari tulisan dalam buku ''Gending dan Tembang'' yang diterbitkan Yayasan Paku Buwono X.

Dalam buku itu disebutkan, tayub telah dipakai untuk penobatan Prabu Suryowiseso sebagai Raja Jenggala, Jawa Timur, pada abad XII. Keraton Jenggala kemudian kemudian membakukan tayub sebagai tari adat kerajaan, yang mewajibkan permaisuri raja menari ngigel (goyang) di pringgitan untuk menjemput kedatangan raja.

Nilai Agamis

Tayub juga diyakini memiliki kandungan nilai agamis. Hal itu terjadi pada abad XV, ketika tayub digunakan sebagai media syiar agama Islam di pesisir utara Jawa oleh tokoh agama Abdul Guyer Bilahi, yang selalu mengawali pagelaran ayub dengan dzikir untuk mengagungkan asma Allah.

Budaya kejawen penganut paham tasawuf menilai tayub kaya kandungan filosofis akan gambaran jati diri manusia lengkap dengan anasir keempat nafsunya. Dalam tarian itu selalu ada penari pria yang menjadi tokoh sentral, sebagai visualisasi keberadaan Mulhimah. Kemudian dilengkapi dengan empat penari pria pendamping, yang disebut sebagai pelarih, sebagai penggambaran anasir empat nafsu manusia, terdiri atas aluamah (hitam), amarah (merah), sufiah (kuning) dan mutmainah (putih).

Selain itu, pemeran penari tledhek wanita sebagai penggambaran dari cita-cita keselarasan hidup yang diidamkan manusia. ''Yang inti kesimpulannya, untuk meraih cita-cita, harus terlebih dahulu mampu mengendalikan anasir empat nafsu. Yang ini identik dengan pakem wayang lakon Harjuno Wiwoho-Dewi Suprobo,'' kata Poedjosiswoyo. (Bambang Pur-43)

[code]http://www.suaramerdeka.com/harian/0511/23/bud2.htm[/code]
balaprabu - 09/10/2011 12:22 PM
#149

Quote:
Original Posted By farizbd
ijin nyimak ya ganiloveindonesiasiloveindonesiasiloveindonesias


yah silakan gan
balaprabu - 12/10/2011 12:47 AM
#150

dah beberapa hari ga sempat update karena sibuk di tread wayang. saatnya update lagi \)
balaprabu - 12/10/2011 12:52 AM
#151
falsafah tari topeng cirebon part one
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Oleh Prof. Drs. JAKOB SUMARDJO

panji.jpgSUDAH lama tari Topeng Cirebon mengundang tanda tanya akibat daya pesonanya yang tinggi, tidak saja di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Tari Panji, yang merupakan tarian pertama dalam rangkaian Topeng Cirebon, adalah sebuah misterium. Sampai sekarang belum ada koreografer Indonesia yang mampu menciptakan tarian serupa untuk menandinginya. Tarian Panji seolah-olah “tidak menari”. Justru karena tariannya tidak spektakuler, maka ia merupakan sejatinya tarian, yakni perpaduan antara hakiki gerak dan hakiki diam. Bagi mereka yang kurang peka dalam pengalaman seni, tarian ini akan membosankan. Tarian kok tidak banyak gerak? Bukankah hakikat tari itu memang gerak (tubuh)?

Inilah teka-teki Tarian Panji dalam Topeng Cirebon. Bagaimana penduduk desa mampu menciptakan tarian semacam itu? Penduduk desa yang tersebar di sekitar Cirebon hanyalah pewaris dan bukan penciptanya. Penduduk desa ini adalah juga penerus dari para penari Keraton Cirebon yang dahulu memeliharanya. Ketika Raja-raja Cirebon diberi status “pegawai” oleh Gubernur Jenderal Daendels, dan tidak diperkenankan memerintah secara otonom lagi, maka sumber dana untuk memelihara semua kesenian Keraton tidak dimungkinkan lagi. Para abdi dalem Keraton terpaksa dibatasi sampai yang amat diperlukan sesuai dengan “gaji” yang diterima Raja dari Pemerintah Hindia Belanda.

Begitulah penari-penari dan penabuh gamelan Keraton harus mencari sumber hidupnya di rakyat pedesaan. Topeng Cirebon yang semula berpusat di Keraton-keraton, kini tersebar di lingkungan rakyat petani pedesaan. Dan seperti umumnya kesenian rakyat, maka Topeng Cirebon juga dengan cepat mengalami transformasi-transformasi. Proses transformasi itu berakhir dengan keadaannya yang sekarang, yakni berkembangnya berbagai “gaya” Topeng Cirebon, seperti Losari, Selangit, Kreo, Palimanan dan lain-lain.

Untuk merekonstruksi kembali Topeng Cirebon yang baku, diperlukan studi perbandingan seni. Berbagai gaya Topeng Cirebon tadi harus diperbandingkan satu sama lain sehingga tercapai pola dan strukturnya yang mendasarinya. Dengan metode demikian, maka akan kita peroleh bentuk yang mendekati “aslinya”. Namun metode ini tak dapat dilakukan tanpa berbekal dasar filosofi tariannya.

Dari mana filsafat tari Topeng Cirebon itu dapat dipastikan? Tentu saja dari serpihan-serpihan tarian yang sekarang ada dan dipadukan dengan konteks budaya munculnya tarian tersebut. Konteks budaya Topeng Cirebon tentu tidak dapat dikembalikan pada budaya Cirebon sendiri yang sekarang. Untuk itu diperlukan penelusuran historis terhadapnya.

Siapakah Empu pencipta tarian ini? Sampai kiamat pun kita tak akan mengetahuinya, lantaran masyarakat Indonesia lama tidak akrab dengan budaya tulis. Meskipun budaya tulis dikenal di Keraton-keraton Indonesia, tetapi tidak terdapat kebiasaan mencatat pencipta-pencipta kesenian, kecuali dalam beberapa karya sastranya saja.

Di zaman mana?

Kalau pencipta tidak dikenal, sekurang-kurangnya di zaman mana Topeng Cirebon ini telah ada? Kepastian tentang ini tidak ada. Namun ada dugaan bahwa di zaman Raja Majapahit, Hayam Wuruk, tarian ini sudah dikenal. Dalam Negarakertagama dan Pararaton dikisahkan raja ini menari topeng (kedok) yang terbuat dari emas. Hayam Wuruk menarikan topeng emas (atapel, anapuk) di lingkungan kaum perempuan istana Majapahit. Jadi Tari topeng Cirebon ini semula hanya ditarikan para raja dengan penonton perempuan (istri-istri raja, adik-adik perempuan raja, ipar-ipar perempuan raja, ibu mertua raja, ibunda raja).

Dengan demikian dapat diduga bahwa Topeng Cirebon ini sudah populer di zaman Majapahit antara tahun 1300 sampai 1400 tarikh Masehi. Mencari dasar filosofi tarian ini harus dikembalikan pada sistem kepercayaan Hindu-Budha-Jawa zaman Majapahit. Tetapi mengapa sampai di Keraton Cirebon? Setelah jatuhnya kerajaan Majapahit (1525), tarian ini rupanya dihidupkan oleh Sultan-sultan Demak yang mungkin mengagumi tarian ini atau memang dibutuhkan dalam kerangka konsep kekuasaan yang tetap spiritual. Dalam babad dikisahkan bahwa Raden Patah menari Klana di kaki Gunung Lawu di hadapan Raja Majapahit, Brawijaya. Ini justru membuktikan bahwa Topeng Cirebon erat hubungannya dengan konsep kekuasaan Jawa. Bahwa hanya Raja yang berkuasa dapat menarikan topeng ini, ditunjukkan oleh babad, yang berarti kekuasaan atas Jawa telah beralih kepada Raden Patah, dan Raja Majapahit hanya sebagai penonton.

Dari Demak tarian ini terbawa bersama penyebaran pengaruh politik Demak. Demak yang pesisir ini memperluas pengaruh kekuasaan dan Islamisasinya di seluruh daerah pesisir Jawa, yang ke arah barat sampai di Keraton Cirebon dan Keraton Banten. Inilah sebabnya berita-berita Belanda menyebutkan keberadaan tarian in di Istana Banten. Banten dan Cirebon, sedikit banyak membawa kebudayaan Jawa-Demak, terbukti dari penggunaan bahasa Jawa lamanya. Sedangkan Demak sendiri dilanjutkan oleh Pajang yang berada di pedalaman, kemudian digantikan oleh Mataram yang juga di pedalaman.

Topeng Majapahit ini, dengan demikian, hanya hidup di daerah pesisir Jawa Barat, sedangkan di Jawa pedalaman topeng tidak hidup kecuali bentuk dramatik lakon Panjinya. Kalau topeng tetap hidup dalam fungsi ritualnya, tentunya juga berkembang di kerajaan-kerajaan Islam Jawa pedalaman. Rupanya topeng dipelihara di Jawa Barat karena pesona seninya. Topeng sangat puitik dan kurang mengacu pada mitologi Panji yang hinduistik. Topeng lebih dilihat sebagai simbol yang mengacu pada realitas transenden. Inilah sebabnya sultan-sultan di Jawa Barat yang kuat Islamnya masih memelihara kesenian ini.

Topeng Cirebon adalah simbol penciptaan semesta yang berdasarkan sistem kepercayaan Indonesia purba dan Hindu-Budha-Majapahit. Paham kepercayaan asli, di mana pun di Indonesia, dalam hal penciptaan, adalah emanasi. Paham emanasi ini diperkaya dengan kepercayaan Hindu dan Budha. Paham emanasi tidak membedakan Pencipta dan ciptaan, karena ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal.

Siapakah Sang Hyang Tunggal itu? Dia adalah ketidak-berbedaan. Dalam diriNya adalah ketunggalan mutlak. Sedangkan semesta ini adalah keberbedaan. Semesta itu suatu aneka, keberagaman. Dan keanekan itu terdiri dari pasangan sifat-sifat yang saling bertentangan tetapi saling melengkapi. Pemahaman ini umum di seluruh Indonesia purba, bahkan di Asia Tenggara dan Pasifik. Dan filsuf-filsuf Yunani pra-Sokrates, filsuf-filsuf alam, juga mengenal pemahaman ini. Boleh dikatakan, pandangan bahwa segala sesuatu ini terdiri dari pasangan kembar yang saling bertentangan tetapi merupakan pasangan, adalah universal manusia purba.



[code]http://cerbonan.wordpress.com/2007/07/27/filosofi-topeng-cirebon/[/code]
balaprabu - 12/10/2011 12:54 AM
#152
falsafah tari topeng cirebon part two
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnyabeberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Mengandung semua sifat ciptaan

Sang Hyang Tunggal Indonesia purba ini mengandung semua sifat ciptaan. Karena semua sifat yang dikenal manusia itu saling bertentangan, maka dalam diri Sang Hyang Tunggal semua pasangan oposisi kembar tadi hadir dalam keseimbangan yang sempurna. Sifat-sifat positif melebur jadi satu dengan sifat-sifat negatif. Akibatnya semua sifat-sifat yang dikenal manusia berada secara seimbang dalam diriNya sehingga Sifat itu tidak dikenal manusia alias Kosong mutlak. Paradoksnya justru Kosong itu Kepenuhan sejati karena Dia mengandung semua sifat yang ada. Kosong itu Penuh, Penuh itu Kosong, itulah Sang Hyang Tunggal itu. Di dalamNya tiak ada perbedaan, tunggal mutlak. Di Cina purba, Sang Hyang Tunggal ini disebut Tao.

Topeng Cirebon menyimbolkan bagaimana asal mula Sang Hyang Tunggal ini memecahkan diriNya dalam pasangan-pasangan kembar saling bertentangan itu, seperti terang dan gelap, lelaki dan perempuan, daratan dan laut. Dalam tarian ini digambarkan lewat tari Panji, yakni tarian yang pertama. Tarian Panji ini merupakan masterpiece rangkaian lima tarian topeng Cirebon. Tarian Panji justru merupakan klimaks pertunjukan. Itulah peristiwa transformasi Sang Hyang Tunggal menjadi semesta. Dari yang tunggal belah menjadi yang aneka dalam pasangan-pasangan.

Inilah sebabnya kedok Panji tak dapat kita kenali secara pasti apakah itu perwujudan lelaki atau perempuan. Apakah gerak-geriknya lelaki atau perempuan. Kedoknya sama sekali putih bersih tanpa hiasan, itulah Kosong. Gerak-gerak tariannya amat minim, namun iringan gamelannya gemuruh. Itulah wujud paradoks antara gerak dan diam. Tarian Panji sepenuhnya sebuah paradoks. Inilah kegeniusan para empu purba itu, bagaimana menghadirkan Hyang Tunggal dalam transformasinya menjadi aneka, dari ketidakberbedaan menjadi perbedaan-perbedaan. Itulah puncak topeng Cirebon, yang lain hanyalah terjemahan dari proses pembedaan itu.

Empat tarian sisanya adalah perwujudan emanasi dari Hyang Tunggal tadi. Sang Hyang Tunggal membagi diriNya ke dalam dua pasangan yang saling bertentangan, yakni “Pamindo-Rumyang”, dan “Patih-Klana”. Inilah sebabnya kedok “Pamindo-Rumyang” berwarna cerah, sedangkan “Patih-Klana” berwarna gelap (merah tua).

Gerak tari “Pamindo-Rumyang” halus keperempuan-perempuanan, sedangkan Patih-Klana gagah kelaki-lakian. Pamindo-Rumyang menggambarkan pihak “dalam” (istri dan adik ipar Panji) dan Patih-Klana menggambarkan pihak “luar”. Terang dapat berarti siang, gelap dapat berarti malam. Matahari dan bulan. Tetapi harus diingat bahwa semuanya itu adalah Panji sendiri, yang membelah dirinya menjadi dua pasangan saling bertentangan sifat-sifatnya. Inilah sebabnya keempat tarian setelah Panji mengandung unsur-unsur tarian Panji. Untuk hal ini orang-orang tari tentu lebih fasih menjelaskannya.

Topeng Panji menyimbolkan peristiwa besar universal, yakni terciptanya alam semesta beserta manusia ini pada awal mulanya. Topeng Panjing atau topeng Cirebon ini mengulangi peristiwa primordial umat manusia, bagaimana “penciptaan” terjadi. Tidak mengherankan kalau di zaman dahulu hanya ditarikan oleh para raja. Raja mewakili kehadiran Sang Hyang Tunggal itu sendiri, karena dalam paham kekuasaan Jawa, Raja adalah Dewa itu sendiri, yang dikenal dengan paham dewa-Raja.

Topeng Cirebon adalah gambaran sangat puitik tentang hadirnya alam semesta serta umat manusia. Sang Hyang Tunggal yang merupakan ketunggalan mutlak tanpa pembedaan, berubah menjadi keanekaan relatif yang sangat berbeda-beda sifatnya. Tari Panji adalah tarian Sang Hyang Tunggal itu sendiri, dan tarian-tarian lainnya yang empat adalah perwujudan dari emanasi diriNya menjadi pasangan-pasangan sifat yang saling bertentangan.

Topeng Cirebon adalah tarian ritual yang amat sakral. Tarian ini sama sekali bukan tontonan hiburan. Itulah sebabnya dalam kitab-kitab lama disebutkan, bahwa raja menarikan Panji dalam ruang terbatas yang disaksikan saudara-saudara perempuannya. Untuk menarikan topeng ini diperlukan laku puasa, pantang, semedi, yang sampai sekarang ini masih dipatuhi oleh para dalang topeng di daerah Cirebon.

Tarian juga harus didahului oleh persediaan sajian. Dan sajian itu bukan persembahan makanan untuk Sang Hyang Tunggal. Sajian adalah lambang-lambang dualisme dan pengesaan. Inilah sebabnya dalam sajian sering dijumpai bedak, sisir, cermin yang merupakan lambang perempuan, didampingi oleh cerutu atau rokok sebagai lambang lelaki. Bubur merah lambang dunia manusia, bubur putih lambang Dunia Atas. Cowek batu yang kasar sebagai lambang lelaki, dan uleg dari kayu yang halus sebagai lambang perempuan. Pisang lambang lelaki, buah jambu lambang perempuan. Air kopi lambang Dunia Bawah, air putih lambang Dunia Atas, air teh lambang Dunia Tengah. Sesajian adalah lambang keanekaan yang ditunggalkan.

Dari: Pikiran Rakyat, Kamis, 29 Januari 2004
manuttan - 12/10/2011 01:15 AM
#153

Quote:
Original Posted By balaprabu
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

ANGGAPAN tayub sebagai tarian mesum merupakan penilaian yang keliru. Sebab, tidak seluruh tayub identik dengan hal-hal yang negatif. Dalam tayub, ada kandungan nilai-nilai positif yang adiluhung. Selain itu, tayub juga menjadi simbol yang kaya makna tentang pemahaman kehidupan dan punya bobot filosofis tentang jati diri manusia.

Kesan tayub sebagai tarian mesum muncul pada abad 19. Pada 1817, GG Rafles dari Inggris, dalam bukunya berjudul ''History of Java'', menulis tayub sebagai tarian ronggeng mirip pelacuran terselubung. Kesan sama juga dituliskan oleh peneliti asal Belanda, G Geertz dalam bukunya ''The Religion of Java''.

Tapi, menurut koreografer Tayub Wonogiren, S Poedjosiswoyo BA, orang Jawa akan protes bila kesan Rafles dan Gertz itu diterima secara utuh. Sebab, kata dia, kesan mesum yang diberikan pada tayub hakikatnya terbatas pada pandangan sepintas yang baru melihat kulitnya saja, tanpa mau mengenali isi maupun kandungan nilai filosofisnya.

Dalam buku ''Bauwarna Adat Tata Cara Jawa'' karangan Drs R Harmanto Bratasiswara disebutkan, tayuban adalah tari yang dilakukan oleh wanita dan pria berpasang-pasangan. Keberadaan tayub berpangkal pada cerita kadewatan (para dewa-dewi), yaitu ketika dewa-dewi mataya (menari berjajar-jajar) dengan gerak yang guyub (serasi).

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya


Menurut Poedjosiswoyo, berdasarkan sejarahnya, tayub lahir sebagai tarian rakyat pada abad Ke XI. Waktu itu, Raja Kediri berkenan mengangkatnya ke dalam puri keraton dan membakukannya sebagai tari penyambutan tamu keraton. Betapa tayub memiliki kandungan nilai adiluhung, kiranya dapat disimak dari tulisan dalam buku ''Gending dan Tembang'' yang diterbitkan Yayasan Paku Buwono X.

Dalam buku itu disebutkan, tayub telah dipakai untuk penobatan Prabu Suryowiseso sebagai Raja Jenggala, Jawa Timur, pada abad XII. Keraton Jenggala kemudian kemudian membakukan tayub sebagai tari adat kerajaan, yang mewajibkan permaisuri raja menari ngigel (goyang) di pringgitan untuk menjemput kedatangan raja.

Nilai Agamis

Tayub juga diyakini memiliki kandungan nilai agamis. Hal itu terjadi pada abad XV, ketika tayub digunakan sebagai media syiar agama Islam di pesisir utara Jawa oleh tokoh agama Abdul Guyer Bilahi, yang selalu mengawali pagelaran ayub dengan dzikir untuk mengagungkan asma Allah.

Budaya kejawen penganut paham tasawuf menilai tayub kaya kandungan filosofis akan gambaran jati diri manusia lengkap dengan anasir keempat nafsunya. Dalam tarian itu selalu ada penari pria yang menjadi tokoh sentral, sebagai visualisasi keberadaan Mulhimah. Kemudian dilengkapi dengan empat penari pria pendamping, yang disebut sebagai pelarih, sebagai penggambaran anasir empat nafsu manusia, terdiri atas aluamah (hitam), amarah (merah), sufiah (kuning) dan mutmainah (putih).

Selain itu, pemeran penari tledhek wanita sebagai penggambaran dari cita-cita keselarasan hidup yang diidamkan manusia. ''Yang inti kesimpulannya, untuk meraih cita-cita, harus terlebih dahulu mampu mengendalikan anasir empat nafsu. Yang ini identik dengan pakem wayang lakon Harjuno Wiwoho-Dewi Suprobo,'' kata Poedjosiswoyo. (Bambang Pur-43)

[CODE]http://www.suaramerdeka.com/harian/0511/23/bud2.htm[/CODE]


wah ini mah kesenian daerah saya kang D

sekalian mau tanya kang ndk papa ya D

kalau makna dan simbol dari kupat dan lepet biasanya saya nemuain di beberapa daerah tu di letak kan di pintu pintu
apakah hanya maknanya kalau lepat minta maf atau ada makna lain di dalamnyaa

maaf kalau merepotkan
balaprabu - 12/10/2011 01:24 AM
#154

Quote:
Original Posted By manuttan
wah ini mah kesenian daerah saya kang D

sekalian mau tanya kang ndk papa ya D

kalau makna dan simbol dari kupat dan lepet biasanya saya nemuain di beberapa daerah tu di letak kan di pintu pintu
apakah hanya maknanya kalau lepat minta maf atau ada makna lain di dalamnyaa

maaf kalau merepotkan


tolak bala kalo itu mbah \)
Masagung - 13/10/2011 01:53 AM
#155

Quote:
Original Posted By balaprabu
tolak bala kalo itu mbah \)


apem yaqowiyu juga dipasang diatas pintu mbah
balaprabu - 13/10/2011 02:00 AM
#156

Quote:
Original Posted By Masagung
apem yaqowiyu juga dipasang diatas pintu mbah


tolak balak juga mbah?
angel.wijaya - 13/10/2011 02:08 AM
#157

Quote:
Original Posted By balaprabu
tolak bala kalo itu mbah \)


di tempat saya dipercaya untuk menyambut roh2 sesepuh/saudara yang sudah tiada mbah
balaprabu - 13/10/2011 02:10 AM
#158

Quote:
Original Posted By angel.wijaya
di tempat saya dipercaya untuk menyambut roh2 sesepuh/saudara yang sudah tiada mbah


iya apem, kolak ama apa itu satu lg. ada juga di tread ini. lupa saya hehehe
MatJalil - 13/10/2011 03:29 AM
#159

Wah, trnyata msh ada org2 yg mau ngugemi ajaran leluhur. Kebanyakan org memberi 'cap' jelek ttg ajaran mulia dr para pendahulu qta tanpa tahu makna sesungguhnya. Salam kenal bwt TS dr nubie ^_^ beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
balaprabu - 13/10/2011 03:40 AM
#160

Quote:
Original Posted By MatJalil
Wah, trnyata msh ada org2 yg mau ngugemi ajaran leluhur. Kebanyakan org memberi 'cap' jelek ttg ajaran mulia dr para pendahulu qta tanpa tahu makna sesungguhnya. Salam kenal bwt TS dr nubie ^_^ beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya


salam kenal juga gan shakehand
Page 8 of 13 | ‹ First  < 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 > 
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya