Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
Total Views: 10114 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 9 of 13 | ‹ First  < 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 > 

fajarkurtz - 13/10/2011 11:19 AM
#161

kalo ketupat yang di taruh di atas pintu sama kelapa muda yang di gantung di bawah atap rumah, artinya apa gan?
balaprabu - 13/10/2011 11:59 AM
#162

Quote:
Original Posted By fajarkurtz
kalo ketupat yang di taruh di atas pintu sama kelapa muda yang di gantung di bawah atap rumah, artinya apa gan?


sebenernya sih disini bukan tempat nanya gan,


sebenernya lagi satu halaman sebelum agan ada yg nanya hal yg sama juga,


sebenernya sih ketahuan kalo agan ga baca dr awal D
Nulieur - 13/10/2011 12:21 PM
#163

Trit yang mantab juragan.....:2thumbup
ini yang saya cari cari...akhirna nemu juga disini.
matur nuwun gan jadi nambah wawasan saya akhirnya.
Semoga Trit ini ga tenggelam dan memberikan banyak manfaat bagi kita semua....Semoga berkah juga buat TS dan yang ngasih sharing elmunya disini...Amiinnn...

Salam kenal ya agan TS shakehand2
Nulieur - 13/10/2011 12:22 PM
#164

maaf dopos.....
Nulieur - 13/10/2011 12:25 PM
#165

maaf juragan inet dodol....
jadi menuh2in trit neh.......:mewek
balaprabu - 13/10/2011 12:59 PM
#166

Quote:
Original Posted By Nulieur
Trit yang mantab juragan.....:2thumbup
ini yang saya cari cari...akhirna nemu juga disini.
matur nuwun gan jadi nambah wawasan saya akhirnya.
Semoga Trit ini ga tenggelam dan memberikan banyak manfaat bagi kita semua....Semoga berkah juga buat TS dan yang ngasih sharing elmunya disini...Amiinnn...

Salam kenal ya agan TS shakehand2


terimakasih juga mbah shakehand
terimakasih sudah mampir shakehand
ditunggu juga sharenya yah shakehand
Masagung - 13/10/2011 05:35 PM
#167

Quote:
Original Posted By balaprabu
tolak balak juga mbah?


betul mas tapi selain itu juga ada yg menanam/menimbun di sawahnya

Quote:
Original Posted By balaprabu
iya apem, kolak ama apa itu satu lg. ada juga di tread ini. lupa saya hehehe


ketan, kolak dan apem, kalau dpt dari tahlilan biasanya itu jatah saya mas D
balaprabu - 13/10/2011 07:06 PM
#168

Quote:
Original Posted By Masagung
betul mas tapi selain itu juga ada yg menanam/menimbun di sawahnya



ketan, kolak dan apem, kalau dpt dari tahlilan biasanya itu jatah saya mas D


ooo iya ketan mbah hehehe D

hahahhaa tahlilan kalo di wetan ga ada kolak apem ama ketannya mbah. yg ada rawon...jd sekalian makan malam ngakaks
balaprabu - 13/10/2011 07:20 PM
#169
falsafah gamelan
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya


Berbeda dengan alat musik modern yang semua instrumennya perlu di “stem” agar getaran-getaran musik tidak berselisih, gamelan justru membuat supaya getaran-getaran musiknya “berselisih”. Kalau memakai istilah dari Pak Trustho, di dalam musik gamelan justru ada yang namanya “ngumbang nginsep”, yaitu seperti suara kumbang “wung, wung, wung” (gaung),jadi memang dibuat “jarak”. Tapi uniknya,saat gamelan dimainkan bersama-sama terciptalah sebuah musik yang “hidup”, terjadi pencampuran suara baru yang memberikan kenikmatan “wung wung” – pelayangan bunyi yang enak didengar dan dinikmati. Ini menjadi sesuatu yang sulit dianalisa menurut teori musik, bagaimana instrumen musik dengan getaran-getaran “berselisih” ini bisa menghasilkan musik yang begitu indah.


Keunikan lainnya dalam musik gamelan terletak pada jumlah pemain. Musik Gamelan dapat dimainkan secara tunggal (satu instrumen saja), gabungan 2 – 3 instrumen bahkan hingga 20 instrumen atau lebih (ensembel). Para pemain gamelan profesional itu, baik secara perorangan maupun kelompok, dapat dengan mudah bergabung dengan pemain lain meskipun mereka belum pernah berlatih bersama. Sering pula dijumpai seorang pemain gamelan profesional dapat bertukar alat musik dengan pemain lain dalam suatu pagelaran musik. Hal-hal begini bisa dilakukan karena pada diri para pemain gamelan ini sudah ditanam rasa saling bersimpati, saling mengerti dan saling menghayati satu sama lain. Inilah yang dalam bahasa Jawa disebut “pada rasakake”.



Memainkan gamelan sangat berbeda dengan memainkan alat musik modern. Seorang pemain gamelan harus dapat meresapi kedalaman arti gendhing yang sedang dimainkannya sebab setiap gendhing memiliki makna tersendiri. Makna atau nilai-nilai yang terkandung dalam gendhing bisa berupa permohonan kepada Tuhan agar warga memperoleh keselamatan (contoh: Ladrang Sri Wilujeng), rezeki melimpah (contoh: Sri Rezeki), tolak bala (contoh: Sri Dhandang), ucapan syukur atau bisa juga ungkapan kegembiraan (misal: Asmaradana). Dengan makna yang terkandung didalamnya maka musik gamelan seringkali dianggap sakral karena hanya dimainkan saat peristiwa tertentu saja. Gendhing Ketawang Puspa Warna yang direkam dalam piringan emas Voyager (lihat artikel Gamelan Jawa - Bagian 1) biasanya dimainkan untuk menyambut masuknya seorang Pangeran sebagai ucapan salam/ selamat datang.



Gamelan juga digunakan untuk mengiringi tarian seperti tari Serimpi atau tari Bedoyokarena mampu membangun suasana dramatik bagi sebuah tarian sehingga aura tarian itu bisa dihayati dan dirasakan “kedalamannya”. Saat mengiringi wayang musik gamelan juga untuk membangun suasana sehingga cerita yang dibawakan oleh Dalang menjadi “hidup” dan penonton dengan mudah dapat merasakan “suasana”, misalnya suasana perang, damai bahkan romantis.



Falsafah Dalam Musik Gamelan



Jika berbicara tentang pagelaran gamelan atau karawitan, kita mengenal adanya istilah “Pathet”. Pathet dalam Karawitan adalah pembatasan nada atau pembatasan permainan nada. Jadi nada itu tidak dimainkan asal-asalan tapi ada aturan-aturan tertentu. Setiap Pathet itu dikaitkan dengan falsafah kehidupan.


Menurut Pak Trustho, seorang pengrawit senior, ada tiga macam Pathet yang semuanya menggambarkan falsafah kehidupan manusia dari lahir sampai mati: Pathet 6, Pathet 9 dan Pathet Manyuro. Diawali dengan Pathet 6 yang masih sederhana itu menggambarkan bahwa pada awal kehidupan seseorang pola pikirnya itu masih sederhana, belum lengkap, belum dalam. Pada Pathet 9 dimana estetika karawitan, pola garap, pola lagu dan kedalaman rasanya cenderung mulai “menep” (dalam), menggambarkan seseorang yang sudah beranjak dewasa mulai menghadapi berbagai masalah yang harus bisa diatasi. Kemudian, Pathet Manyuro yang sudah matang penggarapan dan permainannya itu menggambarkan masa tua yang sudah penuh solusi / berpengalaman mengatasi berbagai masalah kehidupannya.


Dalam sebuah pertunjukkan gamelan (karawitan) sudah ada pembagian wilayah kerja, dari pemimpin lagu, pemimpin irama hinggapeng-implementasi irama. Semua unsur itu bekerjasama secara otomatis meskipun tidak ada konduktornya; semua pemain sadar akan perannya masing-masing. Misalnya: seorang pemain kendang (pengendang), karena perannya sebagai pemimpin maka ia harus selalu ingat dengan para pendukungnya (pemangku lagu/ pendukung irama). Ia tidak boleh diktator mentang-mentang pemimpin lalu dengan seenaknya membuat tempo sehingga pemain lain “keteteran” tidak bisa mengikuti irama kendangnya. Hal begini tidak boleh terjadi dalam pertunjukkan gamelan (karawitan). Demikian halnya dengan para pendukung seperti saron, demung atau instrumen pendukung lain, juga harus bisa menyesuaikan dengan instruksi yang disampaikan oleh pengendang. Begitu juga dengan instrumen yang secara struktural bersifat kolotumik seperti Gong yang mengamini, atau kenong dan kempul yang membagi-bagi kalimat lagu.


Dengan pemahaman mendalam tentang peran masing-masing maka dalam orkestra gamelan terbangun “pengendapan rasa”: tidak emosional, tidak sombong, saling menghargai dan saling melengkapi. Setiap pemain harus sungguh-sungguh bersabar menunggu gilirannya. Misalnya pemukul gong; gong pasti dipukul lebih lambatdibanding dengan yang lainnya, tapi pukulan gong selalu ditunggu, dan jika salah pasti juga akan mendapat kritikan seperti lainnya. Dengan kata lain, bermain musik gamelan mendidik orang untuk bisa mengelola emosi dan mengendalikan diri.


Gamelan Pusaka

Didalam masyarakat Indonesia, masih ada sebagian orang yang percaya bahwa gamelan tertentu memiliki kekuatan gaib. Suara yang dikeluarkan dari alat musik gamelan seringkali dianggap mempunyai daya magis yang bisa mempengaruhi aura kehidupan manusia. Gamelan seperti ini biasanya bukan lagi sekedar alat musik tapi sudah dianggap sebagai pusaka, dan hanya dimainkan pada saat yang sangat istimewa. Oleh karena keistimewaan itu, gamelan demikian mendapat penghormatan sama halnya seperti menghormati leluhur dan keris pusaka.

Sebenarnya, penghormatan seperti kepada leluhur itu tidaklah berlebihan jika kita melihat dari rasa (roso) dan energi yang terlibat saat sang empu menempa dan membentuk gamelan itu hingga menghasilkan nada yang begitu indah hingga terkesan magis; atau saat sang pemilik gamelan itu dahulu sering menumpahkan perasaan dan pikiran dengan memainkan gamelannya seperti halnya seorang pianis meresap dalam permainan pianonya.

Sebagai alat musik yang dipandang memiliki daya magis, gamelan pusaka seringkali digunakan untuk mengiringi gendhing-gendhing Jawa yang memiliki makna sangat “khusus”, yang seolah mengandung misteri seperti misalnyagendhing Tunggul Kawung yang konon untuk “menahan/memindahkan” hujan, atau sebaliknya gendhing Mego Mendhung yang untuk mendatangkan hujan lebat. Meskipunsemua itu tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, para pemain gamelan (karawitan)bisa membuktikannya dengan “rasa” yang mereka miliki.

Mempertahankan Gamelan = Mempertahankan Budaya Bangsa

Dari pembahasan sebelumnya, bisa disimpulkan bahwa musik gamelan mengandung tatanan, tontonan sekaligus tuntunan yang sangat berguna bagi kehidupan bermasyarakat. Dari susunan pemain atau urutan permainan hingga syair yang dinyanyikan dalam musik gamelan penuh dengan nilai-nilai etika maupun estetika, dan selalu positif.Kalaupun dijaman sekarang ini dalam musik gamelan ada syair-syairyang “kurang baik”,hal itu sebenarnya lebih karena karakteristik sang seniman itu sendiri; mungkin sang seniman terlalu fokus pada situasi kontekstual atau fenomena yang sedang terjadi didalam masyarakat dan tidak menyaringnya secara cermat.

Dengan adanya kekayaan nilai-nilai luhur dan estetika dalam musik gamelan, dengan keunikan musik yang tiada duanya, sudah sepantasnya kita sebagai anak bangsa mempertahankan, melestarikan dan memajukan seni budaya ini. Selama ini, orang-orang dari luar negeri seperti Eropa, Amerika, Jepang dan Australia yang lebih tertarik, lebih menghargai dan sengaja datang ke Indonesia untuk belajar gamelan. Sedangkan selaku pemilik, sebagian besar kita anak bangsa Indonesia, malah malu, masa bodo atau enggan untuk belajar (tentang) gamelan.

Sebenarnya, menumbuhkan kecintaan anak bangsa terhadap budaya Nusantara termasuk gamelan bisa dimulai dari sekolah. Dalam kegiatan ekstra kurikulier, musik gamelan bisa menjadi salah satu dari pilihan jenis musik yang ada. Dengan pengenalan dan kegiatan musik gamelan, diharapkan kandungan nilai-nilai tatanan dan tuntunan kehidupan didalamnya dapat “ditransferkan” kepada para generasi muda. Selain itu, musik gamelan juga bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengelola keresahan generasi muda kita belakangan ini.

Akhir kata: SEBELUM GAMELAN DIKLAIM OLEH NEGARA LAIN SEBAGAI MILIK MEREKA, MARI KITA JAGA DENGAN CARA MENGHARGAI DAN MEMPELAJARI GAMELAN. Semoga berguna

Sumber:
Johanes Papu

http://www.facebook.com/topic.php?uid=127967470557344&topic=203
Masagung - 13/10/2011 09:45 PM
#170

Quote:
Original Posted By balaprabu
ooo iya ketan mbah hehehe D

hahahhaa tahlilan kalo di wetan ga ada kolak apem ama ketannya mbah. yg ada rawon...jd sekalian makan malam ngakaks


kalau di tempat saya ketan, kolak dan apem pasti ada saat ritual yg berkaitan dgn orang mati, krn memang untuk memohonkan ampunan.
balaprabu - 14/10/2011 12:05 AM
#171

Quote:
Original Posted By Masagung
kalau di tempat saya ketan, kolak dan apem pasti ada saat ritual yg berkaitan dgn orang mati, krn memang untuk memohonkan ampunan.


sesuai dengan sesajiannya berarti mbah \)
Masagung - 16/10/2011 11:42 PM
#172

Quote:
Original Posted By fajarkurtz
kalo ketupat yang di taruh di atas pintu sama kelapa muda yang di gantung di bawah atap rumah, artinya apa gan?


kalau ketupat di pintu biasanya pas bakdo kupat gan, gak cuma di pintu kalau dulu juga di hewan ternak spt kerbau, sapi dll lebih banyak ke tujuan tolak balak.

kalau kelapa muda mungkin bukan dibawah atap tapi digantung di penuwun sewaktu pemasangan awal, tujuanya ya memanjatkan doa dan pengharapan supaya rumah tsb berkah dan membawa ketentraman.
balaprabu - 17/10/2011 12:06 AM
#173

Quote:
Original Posted By Masagung
kalau ketupat di pintu biasanya pas bakdo kupat gan, gak cuma di pintu kalau dulu juga di hewan ternak spt kerbau, sapi dll lebih banyak ke tujuan tolak balak.

kalau kelapa muda mungkin bukan dibawah atap tapi digantung di penuwun sewaktu pemasangan awal, tujuanya ya memanjatkan doa dan pengharapan supaya rumah tsb berkah dan membawa ketentraman.


makasih jawabannya mbah shakehand
balaprabu - 17/10/2011 01:36 AM
#174
tradisi cowongan
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

COWONGAN DI DESA PLANA KECAMATAN SOMAGEDE KABUPATEN BANYUMAS

Oleh: Yusmanto

Pendahuluan

Dalam kehidupan masyarakat, masih ada anggapan bahwa alam memiliki kekuatan yang dapat memberikan pengaruh bagi kehidupan mereka baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Oleh karena itu manusia melakukan pendekatan atau berkomunikasi dengan alam dengan melakukan sesaji, sesembahan, ritual-ritual, dan lain-lain dengan harapan alam bermurah hati memberi kesempatan kepada mereka untuk hidup lestari.

Dalam rangka pendekatan tersebut manusia seringkali menggunakan media kesenian dalam upacara-upacara untuk mencapai tujuannya. Melalui aktivitas seni inilah masyarakat melakukan ritual-ritual tertentu yang bermakna sebagai bentuk persembahan seluruh jiwa dan raga terhadap Sang Pencipta. Salah satu jenis kesenian yang keberadaannya berkaitan langsung dengan ritual tradisional adalah cowongan.

Cowongan adalah salah satu jenis ritual atau upacara minta hujan yang dilakukan oleh masyarakat di daerah Banyumas dan sekitarnya. Menurut kepercayaan masyarakat Banyumas, permintaan datangnya hujan melalui cowongan, dilakukan dengan bantuan bidadari, Dewi Sri yang merupakan dewi padi, lambang kemakmuran dan kesejahteraan.

Melalui doa-doa yang dilakukan penuh keyakinan, Dewi Sri akan datang melalui lengkung bianglala (pelangi) menuju ke bumi untuk menurunkan hujan. Datangnya hujan berarti datangnya rakhmat Illahi yang menjadi sumber hidup bagi seluruh makhluk bumi, termasuk manusia. Dilihat dari asal katanya, cowongan berasal dari kata “cowong” ditambah akhiran “an” yang dalam bahasa Jawa Banyumasan dapat disejajarkan dengan kata perong, cemong, atau therok yang diartikan berlepotan di bagian wajah (Fadjar P. 1991:47). Perong, cemong, dan therok lebih bersifat pasif (tidak sengaja). Sedangkan cowongan lebih bersifat aktif (disengaja).

Jadi cowongan dapat diartikan sesuatu yang dengan sengaja dilakukan seseorang untuk menghias wajah. Wajah yang dimaksud adalah wajah irus yang dihias sedemikian rupa agar menyerupai manusia (boneka). Salah satu daerah yang hingga saat ini masih melaksanakan ritual cowongan pada setiap kemarau panjang adalah masyarakat di Desa Plana, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas.

Daerah ini terletak di ujung sebelah timur dari kabupaten Banyumas, kurang lebih 15 km di sebelah timur kota Banyumas, berbatasan dengan kabupaten Banjarnegara dan berbatasan dengan kabupaten Purbalingga. Di sebelah timur terdapat sungai kecil (kali Plana) yang menjadi batas desa tersebut dengan desa Karangsalam, kecamatan Susukan, kabupaten Banjarnegara. Sebelah utara dan barat dilingkari sungai serayu yang mejadi batas kabupaten Banyumas dan kabupaten Banjarnegara.

Walaupun letaknya dekat dengan sungai, tetapi pada saat musim kemarau yang panjang, daerah ini sangat kering dan air sangat sulit untuk di dapat. Apalagi sebagian besar masyarakat di desa Plana bermata pencaharian sebagai petani. Lahan-lahan yang digarap meliputi lahan basah atau sawah, lahan kering berupa tegalan, serta tanah tadah hujan sehingga saat musim kemarau datang lahan ini sangat kering dan petani tidak dapat menggarap sawah mereka.

Masyarakat di desa ini masih percaya, melalui ritual cowongan maka akan segera turun hujan yang sangat berguna agar sumur-sumur dan sumber mata air keluar lagi airnya, sawah dan ladang tidak lagi tandus, dan berbagai tanaman bersemi kembali bagi kelangsungan hidup mereka. Cowongan dilaksanakan hanya pada saat terjadi kemarau panjang. Biasanya ritual ini dilaksanakan mulai pada akhir Mangsa Kapat (hitungan masa dalam kalender Jawa) atau sekitar bulan September. Pelaksanaannya pada tiap malam Jumat, dimulai pada malam Jumat Kliwon.

Dalam tradisi masyarakat Banyumas, cowongan dilakukan dalam hitungan ganjil misalnya satu kali, tiga kali, lima kali atau tujuh kali. Apabila sekali dilaksanakan cowongan belum turun hujan maka dilaksanakan tiga kali. Jika dilaksanakan tiga kali belum turun hujan maka dilaksanakan sebanyak lima kali. Demikian seterusnya hingga turun hujan. Cowongan hingga saat ini masih dapat dijumpai di Desa Plana, Kecamatan Somagede.

[code]http://map-bms.wikipedia.org/wiki/Cowongan[/code]
balaprabu - 17/10/2011 01:43 AM
#175

Tahap-tahap Penyelenggaraan Cowongan

1. Tahap Persiapan a. Mencuri Irus atau Siwur Tahap persiapan dilakukan dengan mencuri irus atau siwur yang akan dijadikan sebagai properti ritual cowongan. Irus tersebut dicuri dari sebuah rumah yang memiliki pintu di bawah pompok (bubungan). Rumah seperti ini menurut kepercayaan masyarakat Banyumas paling mudah dilalui oleh roh halus, termasuk bidadari yang diharapkan datang untuk menurunkan hujan bagi seluruh umat manusia.

b. Irus atau Siwur Bertapa Irus atau siwur yang telah berhasil dicuri, kemudian ditanjapkan di sebuah batang pohon Pisang Raja. Masyarakat di Desa Plana menybutnya siwur atau irus ini dibiarkanb bertapa. Masa bertapa bagi irus atau siwur bisanya selama tujuh hari tujuh malam, dimulai sejak malam Selasa Kliwon hingga malam Selasa Pahing.

c. Rialat Para calon peraga cowongan diharuskan melakukan rialat atau nglakoni, yaitu perilaku mengurangi makan dan tidur. Rialat bisa dilakukan dengan berbagai cara, antara lain: tirakat, ngasrep, ngebleng, ngrowot (tidak makan wohing dami atau padi), puasa, pati geni (tidak makan makanan yang di masak pakai api dan berada dalam ruang tertutup tanpa penerangan api), dan lain-lain. Rialat dilakukan selama tiga hari pada hari-hari yang memiliki jem 40, yaitu hari Rabu Pon hingga Jumat Kliwon. Dalam perhitungan Jawa, hari Rabu memiliki jem tujuh(7), Pon (7), Kamis (8), Wage (4), Jumat (6), dan Kliwon (8). Keseluruhan jem ketiga hari itu berjumlah 40. menurut kepercayaan mereka, rialat pada hari-hari yang memiliki jumlah jem 40 sama dengan melakukan rialat selama 40 hari.

d. Peraga dalam Keadaan Suci Para peraga cowongan diharuskan dalam keadaan suci. Yang dimaksud dengan “suci” di sini adalah tidak sedang haid (menstruasi), nifas atau habis melakukan hubungan seksual. Dengan demikian selama tiga hari hingga pelaksanaan cowongan, para peraga berpantang melakukan atau mengalami hal-hal yang menjadikannya tidak suci.

e. Merias Properti Properti berupa irus atau siwur sebelum dijadikan sebagai properti terlebih dahulu dirias menyerupai seorang perempuan. Pada bagian tempurung, diberi rumbai-rumbai dari ijuk dan janur (daun kelapa yang masih muda) mirip dengan rambut dan aksesories kepala. Bagian yang tidak tertutup ijuk dan janur, diolesi arang dan apu atau enjet (kapur sirih), dibuat menyerupai muka manusia. Pada bagian gagang (tempat pegangan) diberi kain warna-warni yang dipotong-potong, menyerupai baju beraneka warna.

f. Busana Dlam pelaksanaan cowongan, tidak ada ketentuan pakaian bagi para peraga cowongan. Para peraga cowongan memakai pakaianyang biasa dipakai sehari-hari (tidak ada ketentuan tertentu). Biasanya para peraga cowongan juga tidak merias wajahnya, mereka tampil alami sebagaimana biasanya sehari-hari.


2. Tahap Pelaksanaan Cowongan

a. Peraga Cowongan Peraga cowongan hanya dilakukan oleh kaum wanita. Kaum pria tidak diijinkan melakukan ritual ini. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, yang datang dan merasuk ke dalam properti cowongan adalah bidadari, sehingga kaum laki-laki tidak diijinkan untuk memegang properti itu. Peraga tidak ditentukan jumlahnya. Dalam setiap kesempatan memungkinkan berbeda-beda dalam hal jumlah peraga, sesuai dengan jumlah orang yang siap mengikuti ritual cowongan. Oleh karena itu, pelaksanaan cowongan dapat dilakukan oleh satu orang, dua orang, lima orang atau berapapun jumlah orang (wanita suci) yang hadir. Umur peraga cowongan tidak ditentukan. Berapapun umurnya, baik tua maupun muda, sudah menikah ataupun masih gadis tidak jadi soal yang penting mampu memeragakan cowongan dan dalam keadaan suci. Tetapi biasanya sebagian besar peraga cowongan adalah wanit yang sudah tua atau dewasa.

b. Waktu dan Tempat Cowongan Cowongan biasanya dilaksanakan pada setiap terjadinya musim kemarau. Dalam perhitungan kalender Jawa musim kemarau terjadi mulai mangsa Saddha ( sekitar bulan Mei) sampai dengan mangsa kalima (sekitar bulan Oktober). Biasanya pada mangsa Katelu (Agustus) tanah-tanah pertanian sudah mulai mengering dan mulai terjadi kekurangan persediaan air tanah. Puncak kekeringan biasanya dimulai pada mangsa kapat (September) sampai dengan mangsa kalima (Oktober). Apabila pada mangsa kalima belum juga turun hujan maka penduduk akan semakin menderita kekurangan air. Ritual cowongan biasanya dilaksanakan pada mangsa Kapat mejelang mangsa Kalima yaitu sekitar bulan September. Dalam pranata mangsa Jawa, mangsa Kapat berumur 24 hari mulai tanggal 19 September dan berakhir pada tanggal 13 Oktober. Cowongan biasanya dilaksanakan pada paertengahan mangsa Kapat atau awal mangsa Kalima. Pelaksanaan cowongan tidak membutuhkan tempat tertentu dengan persyaratan-persyaratan yang terlalu sulit. Ritual cowongan biasanya dilaksanakan di halaman rumah penduduk yang luas dan memungkinkan. Pelaksanaan cowongan dilaksanakan pada malam hari. Untuk kali pertama, ritual ini dilaksanakan pada malam Jumat Kliwon. Pelaksanaan selanjutnya dilaksanakan pada setiap malam Jumat (seminggu sekali). Menurut kepercayaan masyarakat di Desa Plana, cowongan dilaksanakan selama tujuh kali. Namun demikian apabila sebelum tujuh kali sudah datang hujan, maka ritual tidak dilanjutkan. Sedangkan apabila sudah dilaksanakan selama tujuh kali tidak juga turun hujan, maka dapat dilakukan lagi dengan menggunakan properti yang berbeda dan harus dimulai dari awal lagi sejak tahap persiapan.

c. Sesaji Dalam pelaksanaan ritual cowongan biasanya terdapat berbagai macam sesaji. Beberapa macam sesaji yang biasa dijumpai dalam pelaksanaan ritual ini, antara lain: kemenyan dupa, kembang telon (bunga tiga warna: kenanga, mawar dan kantil) dan jajan pasar. Kemenyan dupa dibakar sebelum pelaksanaan upacara oleh salah seorang peraga cowongan. Biasanya orang yang membakar kemenyan dupa adalah peraga yang paling senior atau paling mengetahui perihal cowongan. Pada saat kemenyan dupa mulai terbakar dan asap mulai mengepul, properti cowongan diletakkan di atas bara dupa agar terkena asap dupa. Sesaji yang lain diletakkan di sekitar arena sebagai kelengkapan pelaksanaan upacara.

d. Pelaksanaan Cowongan Para peraga cowongan secara bersama-sama memegang bagian pegangan properti irus atau siwur dengan tangan kanan. Bersamaan dengan itu, mereka menyanyikan sebuah tembang yang tidak lain adalah doa yang ditujukan kepada Sang Penguasa alam agar hujan segera turun. Tembang tersebut dengan teks sebagai berikut:

Sulasih sulanjana kukus menyan ngundhang dewa Ana dewa ndaning sukma widadari tumuruna Runtung-runtung kesanga sing mburi karia lima Leng-leng guleng, gulenge somakaton.

Gelang-gelang nglayoni, nglayoni putria ngungkung Kacang dawa si kanthi di kaya wite Kanthi angle lirang nini gelang gendhongan nini gelang gendhongan

Anjularet pilise kunir apu Manglong-manglong ngenteni paman juragan Gendhong pisan aku paman, emban pisan aku paman

Anjulanthir ngenthir sabuke seblakena tek anggone tenunan tek anggone tenunan

ayam tukung mrekungkung nang wuwungan dede-dede ayam tukung kaki dhuda njaluk ambung kaki dhuda njaluk ambung

ayam walik mrekithik nang wuwungan dede-dede aya walik kaki dhudha pekalongan kaki dhudha pekalongan

cek incek raga bali rog-rog asem kamilaga aja lunga-lunga laki aja ngambung pipi kiwa sing kiwa kagungan dewa sing tengen kagungan dalem

cek incek raga bali rogrog asem kamilega aja lunga-lunga laki ana ganjur loro-loro ganjure si lara sati nurunaken udhan

lutung-lutunga ngilo ngiloa njaluk udhan reg-regan rog-rogan reg-regan rog-rogan

ana kolang kaling mateng di tutur udhan-udhan reg-regan rog-rogan reg-regan rog-rogan

Ana manuk uruk-uruk udhan sebiyang-biyang dandan kinang Mantu rika agi teka aja suwe-suwe ndalan Sedhek keri dolan Sedhek keri dolan

Sembung-sembung rege mencroka kayu gudhe Ure-ure rambute Ure-ure rambute

Embok nini gandhrung ana yauga sebumbung ndalu Dhing-dhing por anu ngampor anu ngampor suluh dhuwur Babadana tilasana go pranti ngumah petagon

Ler-iler tandhure wis sumilir Tek ijo royo-royo Tek sengguh penganten anyar Tek sengguh penganten anyar

Bocah pangon paculen gumuk kidul Atos-atos dipaculi tandurane kacang ijo Sopito oliho bojo Sopito oliho bojo

Kijing mati ngilari suta ngising Anglilire Sikijing sinawa seba Sikijing sinawa seba

Kembang duren bur kolang-kalingan mega riem-riem Kalingan bathikan lonthang kalingan limaran kembang Kentrng-kentrung sirama sira nglilira Kembang kapas mbok emas ditagih utange beras Ela-ela cendhana mbok ladrang kacir
balaprabu - 17/10/2011 01:51 AM
#176

e. Bidadari pun Bisa Tersinggung Dalam pelaksanaan ritual cowongan, ada kata-kata tertentu yang dapat menyebabkan bidadari yang merasuk ke dalam properti marah. Kata-kata tersebut adalah “Muthu Irus” (untuk properti yang menggunakan irus) atau “Muthu Siwur” (untuk properti yang menggunakan siwur). Menurut penuturan masyarakat Desa Plana, muthu adalah alat untuk mengulek sambal, yang memiliki makna simbolik lingga atau alat kelamin laki-laki. Kata “Muthu Irus” atau “Muthu Siwur” merupakan ungkapan ejekan yang memiliki makna bahwa bidadari yang merasuk ke dalam properti cowongan tidak lagi memiliki maksud suci menurunkan hujan, tetapi terselip maksud lain mencari laki-laki untuk memenuhi hasrat seksualnya. Apabila ada seseorang yang mengejek dengan kata-kata itu, maka biasanya properti cowongan akan mengamuk, mengejar orang yang melakukan ejekan.

3. Tahap Pasca Pelaksanaan Cowongan

Setelah pelaksanaan cowongan berakhir, dilakukan dua macam kegiatan, yaitu malaksanakan upacara slametan dan melarung properti. Slametan dilakukan dengan cara melakukan makan bersama nasi tumpeng beserta lauk pauknya serta jajan pasar. Sebelum itu, mereka melakukan doa bersama secara Islam. Kelengkapan lauk-pauk tidak diharuskan macamnya, terlebih lagi cowongan dilaksanakan pada saat kehidupan warga setempat tengah berada dalam penderitaan akibat kekeringan. Seluruh makanan itu diletakkan di atas daun pisang yang dipersiapkan di atas meja atau di atas tikar di lantai. Slametan dilaksanakan pada malam Jumat ketujuh atau malam Jumat sebelum itu tetapi sudah mulai turun hujan. Pada saat pelaksanaan slametan, para peserta peraga cowongan duduk memutar untuk mengepung nasi tumpeng. Oleh karena itu slametan sering disebut dengan istilah kepungan. Makna pelaksanaan slametan adalah agar selepas pelaksanaan cowongan semua peraga dan seluruh warga desa slamet (selamat), jauh dari segala macam kendala dalam kehidupan mereka. Selain itu, mereka juga berdoa agar hujan segera turun untuk memberikan kesejahteraan dan kedamaian dalam kehidupan seluruh warga desa. Pada pagi harinya (hari Jumat sebelum tengah hari), dilakukan acara melarung properti cowongan. Irus atau siwur yang telah dijadikan sebagai media ritual ini, dilarung atau dihanyutkan di sungai Serayu yang letaknya mengitari lebih dari separuh wilayah Desa Plana. Pelarungan irus atau siwur tidak dilakukan dengan acara khusus. Siapapun, salah seorang di antara peraga cowongan diperbolehkan melarung irus atau siwur tersebut. Makna pelarungan cowongan adalah melarung atau menghanyutkan segala sengkala atau pengaruh roh jahat yang memungkinkan merugikan kehidupan warga masyarakat setempat.

Pembahasan

Cowongan adalah suatu sarana untuk mengungkapkan keinginin masyarakat akan turunnya hujan. Sebagai komunitas petani tradisonal, masyarakat yang bermukim di desa Plana tentu saja sangat membutuhkan datangnya hujan untuk mengairi sawah yang menjadi sumber penghidupan.

Apabila musim kemarau terlalu panjang akibat yang segera dapat dirasakan adalah penderitaan yang diakibatkan oleh kekeringan. Dengan melihat lebih jauh mengenai pelaksanaan cowongan, maka dapat diperoleh gambaran bahwa dalam peaksanaan cowongan terdapat 2 hal penting yaitu aktivitas seni dan bentuk ritual tradisionalyang menjadi sarana komunikasi antara manusia dengan alam yang bertujuan untuk mendatangkan hujan.

Disebut sebagai aktivitas seni karena didalamnya terdapat syair-syair yang tidak lain adalah doa-doa yang dilakukan dalam bentuk tembang, irus atau siwur yang menjadi properti upacara yang dihias menyerupai seorang putri. Doa-doa tersebut ditujukan kepada sang penguasa alam agar hujan segera turun.

Disebut sebagai ritual tradisional karena di dalamnya terdapat sesaji-sesaji, properti-properti, rialat dan doa-doa yang kesemuanya ditujukan sebagai suatu permohonan kepada penguasa seluruh alam agar segera menurunkan hujan. Motivasi mereka untuk melakukan upacara tersebut karena manusia (masyarakat) menghormati adanya makhluk-makhluk halus yang telah membantu, memberi keselamatan dan kepuasan keagamaan. Didalam pertunjukan cowongan terdapat beberapa aspek-aspek penting, yaitu sebagai nerikut :

1. Pertunjukan cowongan sebagai bentuk permainan rakyat jawa. Menurut Koentjaraningrat yang dikutip oleh Parwatri, permainan adalah kegiatan manusia untuk menyegarkan jiwa serta mengisi waktu (Koentjaraningrat, dkk, 1984:145 dalam Parwatri 1993:12). Permainan cowongan merupakan permainan nyanyian yang menggunakan properti irus (boneka) sebagai nini cowong, yang dalam hal ini dikatagorikan sebagai permainan gaib atau permainan ritualmagis cowongan. Permainan ini bersifat sakral, karena merupakan bentukupacara minta hujan yang disertai dengan pertunjukan atau permainan cowongan.

2. Cowongan merupakan pertunjukan ritual. Ciri ritual pertunjukan cowongan dalam upacara minta hujan tercermin dalam :

1. dilaksanakan pada malam Jumat Kliwon.

2. tempat yang digunakan khusus yaitu teras (bagian rumah paling depan).

3. pelakunya semua wanita yang dalam kadaan suci.

4. ada perlengkapan sesaji.


3. Pertunjukan cowongan sebagai bentuk upacara untuk mendatangkan kekuatan magis, yang tercermin dalam :

1. syair-syair lagu yang dinyanyikan oleh pelaku cowongan merupakan doa (mantra).

2. dukun (sesepuh cowongan) mengucapkan mantra yang disertai dengan tindakan membakar kemenyanyang ditujukan kepada leluatan-kekuatn supranatural agar membantu kelancaran pertunjukan tanpa halangan apapun.


4. Pertunjukan cowongan merupakan adat kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat desa Plana pada waktu kemarau panjang. Adat kebiasaan tersebut dilakukan secara turun temurun yang tidak dapat diganti oleh apapun dan selalu dihormati serta ditaati.

5. Pertunjukan cowongan mengandung aspek estetis. Hal ini tercermin dalam syair tembang yang dilagukan dan rias busananya. Kehadiran cowongan tidak tergatung pada penonton seperti yang dikatakan Pariyem “ Ajenga mboten wonten sing nonton, nggih tetep diterasaken. Mangke menawi mandeg sing sami nglampahi kenging bebendu saking sing njampangi (sekalipun tidak ada yang menonton, ya tetap diteruskan. Nanti kalau berhenti para pelakunya terkena hukuman dari yang melindungi).

[code]http://map-bms.wikipedia.org/wiki/Cowongan[/code]
buhitoz - 18/10/2011 02:53 AM
#177

mbah prabu,
tadi ane lagi baca-baca ttg Jayapurusa
terus ternyata nyambung ke tradisi Tingkeban / tujuh bulanan

emang sudah di share juga ttg ubo rampe nya oleh mbah di sini
ane hanya mau sedikit nambahin aja.
shakehand

Selamatan Tingkep

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Urutan Upacara Tingkepan
1. PEMBUKAAN. ucapan selamat datang dan ucapan terimakasih atas kedatangan para tamu undangan.

2. SUNGKEMAN. Upacara dimulai dengan mengarak keluar calon Ibu didampingi calon Bapak ke tempat/ruangan yang telah disediakan, untuk melakukan upacara sungkeman. Calon Ibu dan calon Bapak diapit oleh kerabat melakukan sungkem kepada eyang, bapak ibu dari pihak pria, bapak ibu dari pihak wanita, untuk memohon doa restu, dilanjutkan dengan menyalami para tamu undangan.

3. SIRAMAN. Kemudian segenap kerabat menuju ke tempat upacara siraman. Kesempatan pertama yang memandikan adalah eyang putri dan dilanjutkan oleh Ibu dari pihak pria dan kemudian ibu dari pihak wanita dengan disertai doa dan restunya, agar kelak Ibu dan Anak selamat dan mudah dalam menghadapi kelahiran. Setelah Eyang putri, Ibu pihak pria dan ibu pihak wanita selesai memandikan, dilanjutkan oleh para pinisepuh putri sehingga jumlahnya mencapai tujuh orang.

4. MECAH CENGKIR. Bersamaan dengan selesainya upacara siraman, calon Bapak melakukan upacara memecah cengkir muda dengan parang yang dihias janur. Sekali ayun harus dapat pecah, sebagai lambang doa pengharapan agar anaknya lahir dengan cepat dan lancar seperti pecahnya cengkir.

5. MEMOTONG JANUR. Selanjutnya calon Bapak Ibu diiringi masuk ke ruang dalam untuk ganti busana. Setelah selesai ganti busana, calon Bapak dan calon Ibu menuju tempat/ruang yang sudah disiapkan untuk melakukan upacara memotong Janur. Janur yang telah dihilangkan lidinya, disabukkan melingkar pada pinggang calon Ibu. kemudian calon Bapak, dengan mengunakan keris yang pada ujungnya ditancapi Jambe, memotong janur sampai putus, harapannya agar kelak calon Ibu dapat melahirkan dengan mudah.

6. BROJOLAN. Upacara dilanjutkan dengan Brojolan. Dalam upacara ini kain yang dipakai calon Ibu dimasukkan dua cengkir yang telah dilukis gambar Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih atau Arjuna dan Sumbadra. Tugas memasukan cengkir ini dilakukan oleh Ibu dari pihak puteri. sementara itu Ibu dari pihak pria menerima kedua cengkir yang dibrojolkan sambil berucap “Pria mau, Wanita juga mau, yang penting selamat. Kalau lahir Pria supaya tampan seperti Batara Kamajaya, kalau lahir Wanita cantik seperti Batari Ratih. Selanjutnya kedua cengkir yang sudah diterima tersebut digendong dibawa masuk ke kamar dan ditidurkan seperti layaknya bayi yang baru lahir.

7. MEMAKAI JARIT. Setelah upacara Brojolan, calon Ibu melakukan upacara memakai Jarit tujuh macam secara bergantian. sebagai simbolisasi doa pengharapan untuk anak yang sedang dikandung. dengan urutan sebagai berikut :
a. Jarit dengan motif Wahyutumurun, dengan harapan agar mendapat wahyu dari Tuhan.
b. Jarit dengan motif Sidomulyo, dengan harapan agar hidupnya mendapat kemuliaan.
c. Jarit dengan motif Sidoasih, dengan harapan agar senantiasa hidupnya mendapat kasih sayang dari orang-orang disekelilingnya.
d. Jarit motif Sidoluhur, dengan harapan agar menjadi orang yang berbudi luhur
e. Jarit dengan motif Satriawibawa dengan harapan agar memiliki watak kesatria dan kewibawaan.
f. Jarit dengan motif Sidodrajat dengan harapan agar memperoleh pangkat dan derajat yang baik.
g. Jarit dengan motif Sidomukti supaya mukti.

atau jarit dengan motif Tumbarpecah agar dapat melahirkan dengan cepat seperti pecahnya tumbar. selain memakai tujuh jarit bergantian calon ibu memakai Kemben Liwatan agar pada saat melahirkan dapat menahan rasa sakit dan mampu melewati rasa cemas, sehingga baik Ibu yang melahirkan dan Bayi yang dilahirkan selamat.

Jalannya upacara pemakaian jarit ini adalah sebagai berikut: ketika calon ibu yang mengandung tujuh bulan tersebut memakai jarit yang nomor satu, ia meminta pendapat kepada para pinisepuh dan tamu undangan mengenai pantas dan tidaknya kain yang dikenakan. Para tamu undangan mengatakan tidak pantas. Selanjutnya calon ibu memakai jarit nomor dua, tamu undangan mengatakan tidak pantas. Demikian seterusnya hingga sampai pemakaian jarit yang nomor enam. Baru setelah calon ibu memakai jarit nomor tujuh dengan motif Sidomukti, para pinisepuh dan tamu undangan mengatakan pantas.

Setelah selesai Calon Ibu dan Calon Bapak masuk ke ruang dalam, tentunya jarit-jarit yang tidak jadi dipakai tersebut berserakan melingkar seperti petarangan atau sarang ayam atau tempat untuk bertelur dan mengerami telurnya. Kemudian busana tadi digendong dan ikut dibawa masuk.

8. ANDRAWINA. Sebentar kemudian, Calon Bapak memakai beskap, sabuk dan blangkon dengan motif Bangotulak dan jarit bermotif Sidomukti dan Calon Ibu memakai Jarit bermotif Sidomukti, kebaya hijau dan kemben dengan motif Bangotulak, keluar kembali menuju ruang pahargyan. Diawali dengan doa dan dilanjutkan dengan makan bersama, Bapak dari pihak pria mengedhuk tumpeng dan diberikan kepada calon Bapak dan calon Ibu untuk dimakan bersama, dengan harapan agar anak yang lahir kelak dapat rukun dengan siapa saja seperti Bapak dan Ibunya.

Pada waktu makan ditambah lauk ikan Lele dan brurung Kepodang (jenis lauk yang berwarna kuning) sebagai harapan agar jika lahir laki-laki, berwajah tampan dan berkulit kuning bersih, dan jika lahir perempuan supaya kepala bagian belakang rata seperti ikan lele sehingga jika dipasang sanggul dapat menempel dengan baik.Hidangan pesta ditutup dengan penjualan Dawet.

9. PENUTUP. Selamat jalan dan terimakasih

Inti upacara Tingkepan adalah mensucikan calon Ibu beserta bayi yang ada dalam kandungan agar selalu sehat segar bugar, bersih lahir batin, siap menghadapi saat kelahiran dan selamat. Selain itu juga sebagai ucapan terimakasih atas kepercayaan yang diberikan Tuhan bagi calon Bapak dan Ibu untuk mengandung, melahirkan dan mendampingi anak sebagai ciptaan baru. dan sekaligus memohon agar sesuatunya berjalan lancar dan selamat.

sumber: http://tembi.org/primbon/20100401.htm
buhitoz - 18/10/2011 03:15 AM
#178

Salah satu ubo rampe di prosesi Tingkepan adalah Tumpeng Robyong.
Yang merupakan simbolisasi dari:

Tumpeng Robyong: yaitu nasi putih yang dibentuk kerucut, dililiti kacang panjang dari bawah melingkar-lingkar sampai atas dan di atasnya diberi telor ayam kampung, terasi dan cabai merah panjang. Nasi kerucut yang dinamakan tumpeng tersebut. dikelilingi aneka sayuran yang sudah direbus ; bayam, kobis, kecambah, wortel dan buncis, serta lauk-pauk; tempe, teri, telur, dan bumbu gudangan yang dibuat dari parutan kelapa diberi bumbu dapur dan dikukus. Bumbu dan lauk-pauk tersebut dicampur menjadi satu dengan aneka sayuran.

Rangkaian Tumpeng robyong yang dikelilingi campuran sayuran, bumbu dan lauk-paulnya merupakan manifestasi dari pengadukan samodra yang dilakukan oleh para dewa, dalam upaya mencari tirta amerta atau air hidup abadi.

Dikarenakan Tirta Amerta berada didasar samodra, maka untuk mengambilnya laut perlu diaduk agar Tirta Amerta naik ke permukaan. Yang dipakai mengaduk adalah gunung Mandara atau ada yang menyebut Gunung Meru, digambarkan nasi putih dibentuk kerucut.

Cabai merah panjang menggambarkan api yang keluar dari kawah gunung Mandara. terasi menggambarkan racaun yang terangkat dari dasar samodra. telor adalah gambaran tirta amerta.

Kacang panjang menggambarkan Dewa Naga Basuki yang sedang melilit dan memutar gunung untuk mengaduk samodra.

Aneka sayuran, lauk pauk dan bumbu gudangan adalah isi bawah laut.

Tumpeng robyong menggambarkan bahwa proses pengadukan dalam upaya mencari tirta amerta sedang berlangsung. seluruh isi dasar laut bercampur terangkat ke permukaan digambarkan dengan gudangan. bersamaan dengan terangkatnya seluruh isi lautan terangkat pula kotoran atau racun yang mematikan. Para dewa mengira bahwa cairan kental berwarna kecoklatan tersebut adalah tirta amerta dan ingin segera meminumya. Mengetahui para dewa dalam bahaya, Batara Guru dengan cepat menyambar racun tersebut dengan mulutnya. para dewa selamat dari racun yang mematikan. namun akibatnya racun yang masuk sampai ke leher membuat leher Batara Guru berwarna ungu. sejak saat itu Batara Guru diberi sebutan Sang Hyang Nilakantha.

Setelah racun diamankan, para dewa melajutkan pengadukan samodera dan pada akhirnya membuahkan hasil yaitu tirta amerta. para dewa meminumnya dan mereka hidup abadi dan tak akan mati.

(ternyata simbolisasinya ada kaitannya juga dengan kisah wayang....ane tadi bingung juga pengen share di trit wayang atau di sini....di sini aja deh...terus ane cari lagi info ttg simbolisasi tumpeng ini...:Peace\)

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Tumpeng Robyong merupakan simbol keselamatan, kesuburan dan kesejahteraan.

Tumpeng yang menyerupai Gunung menggambarkan kemakmuran sejati. Air yang mengalir dari gunung akan menghidupi tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan yang dibentuk Robyong disebut semi atau semen, yang berarti hidup dan tumbuh berkembang.

Pada jaman dahulu, tumpeng selalu disajikan dari nasi putih. Nasi putih dan lauk-pauk dalam tumpeng juga mempunyai arti simbolik.

Nasi putih

Berbentuk gunungan atau kerucut yang melambangkan tangan merapat menyembah kepada Tuhan. Juga, nasi putih melambangkan segala sesuatu yang kita makan, menjadi darah dan daging haruslah dipilih dari sumber yang bersih atau halal.

Bentuk gunungan ini juga bisa diartikan sebagai harapan agar kesejahteraan hidup kita pun semakin “naik” dan “tinggi”.


Ayam: ayam jago (jantan)

Dimasak utuh dengan bumbu kuning/kunir dan diberi areh (kaldu santan yang kental), merupakan simbol menyembah Tuhan dengan khusuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Ketenangan hati dicapai dengan mengendalikan diri dan sabar (nge”reh” rasa).

Menyembelih ayam jago juga mempunyai makna menghindari sifat-sifat buruk yang dilambangkan oleh ayam jago, antara lain: sombong, congkak, kalau berbicara selalu menyela dan merasa tahu/menang/benar sendiri (berkokok), tidak setia dan tidak perhatian kepada anak istri.


Ikan Lele

Dahulu lauk ikan yang digunakan adalah ikan lele bukan bandeng atau gurami atau lainnya. Ikan lele tahan hidup di air yang tidak mengalir dan di dasar sungai. Hal tersebut merupakan simbol ketabahan, keuletan dalam hidup dan sanggup hidup dalam situasi ekonomi yang paling bawah sekalipun.



Ikan Teri / Gereh Pethek

Ikan teri/gereh pethek dapat digoreng dengan tepung atau tanpa tepung. Ikan Teri dan Ikan Pethek hidup di laut dan selalu bergerombol yang menyimbolkan kebersamaan dan kerukunan.


Telur

Telur direbus pindang, bukan didadar atau mata sapi, dan disajikan utuh dengan kulitnya, jadi tidak dipotong, sehingga untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu.

Hal tersebut melambangkan bahwa semua tindakan kita harus direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana dan dievaluasi hasilnya demi kesempurnaan.

Piwulang jawa mengajarkan “Tata, Titi, Titis dan Tatas”, yang berarti etos kerja yang baik adalah kerja yang terencana, teliti, tepat perhitungan,dan diselesaikan dengan tuntas.

Telur juga melambangkan manusia diciptakan Tuhan dengan derajat (fitrah) yang sama, yang membedakan hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.


Sayuran dan Urab-uraban

Sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa atau urap. Sayuran-sayuran tersebut juga mengandung simbol-simbol antara lain:

1. Kangkung berarti jinangkung yang berarti melindung, tercapai.
2. Bayam (bayem) berarti ayem tentrem,
3. Taoge/cambah yang berarti tumbuh,
4. Kacang panjang berarti pemikiran yang jauh ke depan/inovatif,
5. Brambang (bawang merah) yang melambangkan mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang baik buruknya,
6. Cabe merah diujung tumpeng merupakan symbol dilah/api yang meberikan penerangan/tauladan yang bermanfaat bagi orang lain.
7. Kluwih berarti linuwih atau mempunyai kelebihan dibanding lainnya.
8. Bumbu urap berarti urip/hidup atau mampu menghidupi (menafkahi) keluarga.


Pada jaman dahulu, sesepuh yang memimpin doa selamatan biasanya akan menguraikan terlebih dahulu makna yang terkandung dalam sajian tumpeng. Dengan demikian para hadirin yang datang tahu akan makna tumpeng dan memperoleh wedaran yang berupa ajaran hidup serta nasehat.

Dalam selamatan, nasi tumpeng kemudian dipotong dan diserahkan untuk orang tua atau yang “dituakan” sebagai penghormatan.

Setelah itu, nasi tumpeng disantap bersama-sama. Upacara potong tumpeng ini melambangkan rasa syukur kepada Tuhan dan sekaligus ungkapan atau ajaran hidup mengenai kebersamaan dan kerukunan.

Ada sesanti jawi yang tidak asing bagi kita yaitu: "Mangan ora mangan waton kumpul (makan tidak makan yang penting kumpul)." Hal ini tidak berarti meski serba kekurangan yang penting tetap berkumpul dengan sanak saudara.

Pengertian sesanti tersebut yang seharusnya adalah mengutamakan semangat kebersamaan dalam rumah tangga, perlindungan orang tua terhadap anak-anaknya, dan kecintaan kepada keluarga.

Dimana pun orang berada, meski harus merantau, haruslah tetap mengingat kepada keluarganya dan menjaga tali silaturahmi dengan sanak saudaranya.

sumber:
http://tembi.org/primbon/20100325.htm
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150159650026401
balaprabu - 18/10/2011 04:21 AM
#179

makasih kang buhitoz thumbup:
buhitoz - 27/10/2011 03:05 AM
#180
Sedikit tambahan tentang tumpeng
Pada sebuah tumpeng, sering kita melihat di puncaknya ditancapkan aksesori berupa "sate" yang terdiri dari: Cabe merah, bawang merah dan telur rebus.



beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnyabeberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Selain dari unsur estetis, ternyata ada makna di balik "sate" tersebut:

Maknanya ; kehidupan ini penuh dengan pahit, getir, pedas, manis, gurih. Untuk menuju kepada Hyang Maha Tunggal banyak sekali rintangannya. Sate ditancapkan di pucuk tumpeng mengandung pelajaran bahwa untuk mencapai kemuliaan hidup di dunia (kemuliaan) dan setelah ajal (surga atau kamulyan sejati) semua itu tergantung pada diri kita sendiri. Jika meminjam istilah, habluminannas merupakan sarat utama dalam menggapai habluminallah. Hidup adalah perbuatan nyata. Kita mendapatkan ganjaran apabila hidup kita bermanfaat untuk sesama manusia, sesama makhluk Tuhan yang tampak maupun yang tidak tampak, termasuk binatang dan lingkungan alamnya.

http://berita.agenbola.com/berita-lain/tata-cara-bancakan.html
Page 9 of 13 | ‹ First  < 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 > 
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya