BUKU new
Home > CASCISCUS > BUKU new > Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu
Total Views: 87632 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 103 of 105 | ‹ First  < 98 99 100 101 102 103 104 105 > 

oyxpik - 23/09/2012 08:29 AM
#2041
SRC Juni 2012 "Hyun Bin ?"
[CODE]Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu
[/CODE]

SRC bulan ehem... Juni

[CODE]Judul : The Secret Garden
Penulis : Frances Hodgson Burnett
Penerbit : Barnes & Noble Classics[/CODE]


Quote:
Kolera telah mewabah dan membunuh banyak korban di India. Betapa malangnya Mary, orang tuanya telah menjadi korban penyakit mematikan itu. ‘Ayah’nya pun pergi meninggalkannya dan menelantarkan dirinya.

Mary akhirnya sebatang kara. Dia dititipkan di rumah pamannya di Inggris, Yorkshire. Tepatnya di Misselthwaite Manor. Oh-oh… ternyata rumah barunya ini sangat besar, luas, mempunyai ratusan kamar namun sangat sepi dan dingin. Tidak ada para ‘Ayah’ yang bisa Mary perintah untuk melakukan apa saja. Tidak ada yang memanjakannya dan menelan semua caci makinya dengan sabar. Bahkan Mary mulai merindukan sosok orang tuanya yang tidak pernah peduli padanya itu.

Di tengah-tengah keadaan yang baru bagi Mary ini, dia menemukan sebuah kebun rahasia. Kebun ini ditutup selama 10 tahun setelah kematian bibinya dan tidak ada yang boleh memasukinya sebelumnya kecuali Mary.

Hey, tapi tunggu dulu! Bukan itu saja rahasia yang ada di dalam Misselthwaite Manor!

----------------------------------------------------------------------------------------------------- -----------

Hyun Bin ?

Sebelum lebih jauh membaca ada baiknya kata-kata ini diserap terlebih dahulu...

maaf, anda tidak akan menemukan kisah cinta Hyun Bin di dalam buku ini.

Judul buku ini memang sama dengan judul suatu drama korea yang sempat booming, namun isinya sangat berbeda. Saya akui, itulah hal yang membuat saya melirik The Secret Garden. Cover buku ini berwarna hijau dengan gambar seorang anak perempuan tersenyum, menawarkan kepada pembaca sebuah plot yang berkutat dalam kesederhanaan. Akhinya saya menjadikan buku ini tantangan di bulan… Juni. (Ya, saya telat dan saya malu akan hal itu).

Mungkin karena tersugesti dengan label klasik, saya sudah mempersiapkan ancang-ancang membaca buku yang bahasa penulisannya “khas klasik”. Yah… tahu kan ? Bahasanya yang agak-agak puitis dan tutur kata tokohnya yang agak susah dimengerti. Ternyata… tidak perlu ! Saya kaget dengan gaya penulisan Burnette yang jauh dari prasangka buruk saya. Gaya bahasa beliau ringan , mampu membuat kita terlarut dalam cerita dan tidak harus merasakan membaca ulang di tengah-tengah akibat kehilangan jejak. Saking terlarutnya dengan penulisan beliau, saya hampir tidak menyadari ada ilustrasi gambar yang kadang muncul di tengah-tengah cerita.

Penggambaran penulis tentang setting cerita benar-benar patut diacungi banyak jempol. Saya ulangi, banyak jempol. Seramnya kata-kata beliau menggambarkan Misselthwaite Manor yang sangat sepi, mempunyai banyak kamar yang tak berpenghuni, dan jika malam terdengar tiupan angin kencang dari padang luas di sekelilingnya membuat petualangan Mary di awal novel terkesan mendebarkan. Namun itu belum apa-apa dibandingkan dengan dahsyatnya tangan penulis menyulap suasana menjadi sebuah kebun rahasia yang indah dengan bunga-bunga mawar yang menjalar liar di sekelilingnya, ranting-ranting yang merambat dengan natural, hijaunya daun yang mulai timbul merangkak dari bawah tanah, dan warna-warni bunga yang berkemilauan dimainkan cahaya. Saya bukan orang yang dengan mudah mengimajinasikan sesuatu, tapi penggambaran oleh Mrs. Burnette benar-benar nyata dan memukau. Rasanya saya sendiri sedang ikut ke kebun rahasia dan bernyanyi layaknya Coldplay “para…para… paradise... para… para… paradise…” Ditambah dengan angin semilir yang bertiup dan… ah, malah mengkhayal.

Tokoh-tokoh dalam cerita ini lucu dan menyenangkan. Yah, Mary si anak pemurung yang lama kelamaan menjadi periang, Colin yang sakit-sakitan dan pemarah, serta Dickon yang disukai oleh banyak orang dan sahabat para hewan. Kenapa lucu dan menyenangkan ? Karena saya suka dengan kepolosan yang mereka miliki dan kadang merasa iri dengan masa kecil mereka yang dihabiskan bermain di alam bebas. Belum terjamah dengan permasalahan rumit dan teknologi yang menguasai diri.

Bukan hanya tokoh utamanya saja yang memberikan kesan, tiap tokoh membawa warna yang berbeda untuk buku ini. Saya menyukai sosok ibu Dickon yang ramah dan keibuan, Martha si pelayan yang riang dan cerewet, Ben yang selalu melakukan hal-hal konyol di tengah-tengah cerita, dan tidak bisa dilupakan songbird Robin yang protektif turut menyumbang rasa serta warna ke dalam cerita ini. Di buku ini beberapa karakter di atas menggunakan logat Yorkshire, jika anda membaca versi bahasa aslinya, kalimat-kalimat berdialek Yorkshire sangat sering muncul. Awalnya membingungkan, tapi dapat dengan mudah terbiasa dan akhirnya tahu maksud dari kata-kata mereka. Contohnya ini… “Well enow. Th’ carriage is waitin’ outside for thee” Hayoo, apa artinya tuh ?

Dibalik semua itu, ada plot sederhana dan tidak banyak neko-neko yang disajikan. Bercerita tentang anak kesepian yang menemukan taman rahasia dan berbagai macam rahasia dan kenangan buruk di Misselthwaite Manor. Sederhana dan tidak terlalu menantang. Namun menurut saya Burnette memang sengaja tidak menonjolkan plot yang wah dalam cerita ini sehingga kekuatan buku ini ada di detail penulisan dan pesan yang tersirat.

Buku ini bagus, kaya akan amanat-amanat, indah, dan... menenangkan. Bahkan buku ini mengajarkan kita tentang bepikir positif jauh sebelum Rhonda Byrne menulis The Secret. Jadi...apalagi yang bisa saya kemukakan di sini selain… mengajak anda semua membaca buku ini. Anak, ibu, bapak, semua umur… dapat dengan mudah menikmati buku produksi tahun 1911 ini. Jangan takut bosan hanya karena genrenya klasik dan jangan berprasangka buruk hanya karena ceritanya sederhana dan tidak ada pembunuhan di dalamnya. Mari baca dan rasakan keindahannya, folks. You shall read it, there’s magic in it!

4/5
khalempong - 23/09/2012 06:34 PM
#2042

tenggelanya kapal van der wijck ada yg ngalamin gak halaman 100 cacat? halamannya sih betul cuman pas lamaran si aziz itu tiba2 langsung loncat ke surat meninggalnya mak angkatnya si zainuddin

mau komplain bukunya jauh \(
daninoviandi - 24/09/2012 05:03 PM
#2043
Siapa Meniru Siapa?
     Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu


Setelah Kudo, Hattori dan Kindaichi, Jepang kembali menelurkan seorang detektif muda amatir berbakat. Kiyoshi Mitarai, seorang astrolog dan peramal, adalah nama dari detektif tersebut. Mitarai kali ini bersama his-dr.Watson berusaha mengungkap kasus pembunuhan yang terjadi sekitar 40 tahun lalu, sekitar tahun 1930-an, sebuah kasus pembunuhan yang terkenal dengan nama Pembunuhan Zodiak Tokyo. Berbeda dengan detektif-detektif di atas, Mitarai ini muncul dalam bentuk novel, bukan komik, sehingga dibutuhkan nalar dan imajinasi untuk menggambarkan apa yang sedang diceritakan di buku ini. Untungnya, ada beberapa ilustrasi yang si penulis sertakan di buku ini, sehingga sedikit memberikan gambaran kepada para pembacanya, terutama pembaca dengan otak lemah seperti saya.

Kisah diawali dengan sebuah “surat wasiat” dari Heikichi Umezawa. Surat itu berisi obsesi dan minat Heikichi terhadap ilmu astrologi dan yang paling utama terhadap dunia pembuatan manekin. Celakanya, ia justru terobsesi membuat manekin dari potongan-potongan tubuh manusia asli. Kebetulan persyaratan manusia yang dibutuhkan untuk membuat manekin yang diinginkannya sangat sesuai dengan karakter dan zodiak-zodiak dari keenam putrinya yang masih perawan. Di surat itu pun diceritakan bagaimana cara membunuh, bagian tubuh apa saja yang dibutuhkan dari tiap orang tersebut, sampai petunjuk tatacara penguburannya. Surat wasiat inilah yang menarik perhatian Mitarai untuk memecahkannya. Karena selama lebih dari 40 tahun kasus ini bergulir, belum ada kesimpulan yang pasti, siapakah tersangka sebenarnya, dan apa motifnya.

Pengungkapan kasus ini membawa Mitarai dan “asistennya” dalam penyelidikan yang mendetail. Apalagi muncul Mrs. Iida, beliau membawakan sepucuk surat wasiat juga dari ayahnya, yang isinya masih berkaitan dengan kasus pembunuhan berantai ini, dan menjadi kunci dari kasus ini, karena polisi serta orang-orang yang telah menyelidiki kasus ini sebelumnya sama sekali tidak mengetahui fakta baru yang terdapat dalam surat wasiat ini. Penyelidikan pun berlanjut hingga kota Kyoto, menyelidiki masa lalu Heikichi, menemui patung azoth di sebuah museum, hingga akhirnya kasus ini dapat terungkap oleh sebuah peristiwa tidak sengaja, yaitu gara-gara uang robek yang disambung dengan perekat. Akhirnya, si pembunuh pun diketahui, namun kasus yang sudah kadaluarsa, membuat Mitarai tidak bisa bertindak apa-apa, selain mengagumi tindak tanduk si pelaku yang dapat dengan bebas lepas dari tindakan hukum.

***

Banyak yang bilang kasus ini mirip dengan kasus di komik detektif Kindaichi yang berjudul Mummy’s Curse. Yap, kita sebagai orang Indonesia mungkin saja mengenal duluan kasus ini melalui Kindaichi, namun yang peru diingat adalah terbitnya buku ini yang lebih dahulu dibanding kasus Mummy’s Curse yang muncul tahun 1993. Di wikipedia sendiri disebutkan buku ini pertama terbit sekitar tahun 1979, makanya setting dari buku ini sekitar tahun 1970-an. Jadi siapa meniru siapa harus lebih dipertanyakan lagi.

Cerita buku ini sendiri sangat mendetail, di awal saja suguhan surat wasiat Heikichi Umezawa sangat detail. Mulai dari zodiak, planet yang menyertainya, hingga karakter-karakternya. Jalan ceritanya sendiri mengalir, dengan sudut pandang aku yaitu seorang Ishioka, “asisten”-nya Mitarai. Fakta-fakta dan petunjuk banyak diberikan di awal-awal bagian buku ini. Bahkan menariknya, si penulis, Soji Shimada, sampai menyelak di tengah-tengah buku, menantang para pembaca untuk menebak siapakah pelaku yang sebenarnya berdasarkan petunjuk dan fakta yang diberikan. Well, saya berhasil menebaknya, karena kasus ini seperti telah disinggung di atas, telah begitu familiar karena pernah diceritakan di komik detektif Kindaichi. Namun motif si tersangka sendiri sunggu sangat sulit ditebak apabila kita melewatkan “sesuatu” hal yang penting untuk diperhatikan di awal buku dan di gambar yang diberikan.

Buku ini layak dikoleksi oleh para penggemar buku bergenre detektif, walaupun agaknya para penggemar Kindaichi bisa jadi agak kecewa dengan buku ini. Namun, penggambaran detail yang disuguhkan oleh penulis bisa sedikit menjadi penghibur bagi pembaca yang sudah membaca kasus ini sebelumnya. Jangan lupa juga untuk berimajinasi, jangan bawa tahun-tahun kelahiran dan terjadinya kasus ini serta setting tahun di buku ini. Imajinasikan pikiran kita dengan menganggap kita hidup di masa lampau atau mereka yang hidup di masa kini, agar jangan sampai yang ada di benak kita justru adalah bukan perempuan-perempuan muda yang menjadi korban pembunuhan, melainkan orang-orang jaman dahulu yang hidup di awal abad ke 20. Jadi kesimpulannya, saya berikan bintang 4 untuk buku ini.


Judul: The Tokyo Zodiac Murder
Penulis: Soji Shimada
Tebal: 360 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 28 Juni 2012
Rate: 4/5
oyxpik - 25/09/2012 05:35 PM
#2044
Jekyll dan Hyde
Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

Penulis : Robert Louis Stevenson
Judul : Dr. Jekyll dan Tuan Hyde
Halaman : 188 halaman
Terbit : 2009
Harga : Rp 28.000,00

[CODE]Sosok itu kerdil, mengerikan, dan kejahatan nampak jelas di wajahnya. Ketika orang melihatnya rasanya bagaikan ada hujan es yang sedang mengguyur pembuluh-pembuluh vena tubuh. Kontan, ketika sosok itu menendang-nendang tubuh anak kecil yang tidak berdaya di jalanan pada malam itu, semua orang menghujatnya. Semua orang mengingatnya sebagai sosok setan kerdil yang tidak berkeprimanusiaan. Mereka memanggilnya Tuan Hyde.

Rasa penasaran Utterson timbul ketika mendengar cerita itu. Hyde. Ya, Hyde! Satu-satunya nama pewaris tunggal yang muncul di surat wasiat sahabatnya, Dr. Henry Jekyll. Kecurigaan demi kecurigaan mulai terpupuk oleh sikap ganjil Jekyll yang tampaknya menutup-nutupi sesuatu. Ada apa sebenarnya ?
[/CODE]


Dr. Jekyll dan Tuan Hyde adalah buku terjemahan dari karya asli Robert Louis Stevenson yang berjudul The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde. Portico Publishing menerbitkan buku keluaran tahun 1886 ini ke dalam bahasa Indonesia. Dari covernya yang gelap dan bergambar dua sosok yang berbeda di kiri dan kanan, membuat saya sudah mengira-ngira bahwa buku ini horor dan mengerikan. Memang kurang menarik jika dilihat dari sisi cover dan bagi orang-orang yang belum pernah mendengar tentang Dr. Jekyll and Mr. Hyde, pasti akan menganggap buku ini bercerita tentang monster-monster serigala.

Walaupun begitu, Robert Louis Stevenson menorehkan sebuah cerita klasik yang sangat-sangat-sangat membuat bulu kuduk merinding. Suasana itu sebagian besar dibangun oleh narasi tokoh-tokoh buku ini tentang Hyde. Stevenson selalu mengungkapkan Hyde sebagai sosok yang "tidak bisa disebut sebagai manusia, dengan kelainan fisik yang tidak bisa dijelaskan" membuat saya mengawang-awang sendiri dan membayangkan seramnya sosok Hyde. Stevenson juga sangat sering memakai setting malam hari yang dingin dan gelap dalam cerita ini.

Menegangkan dan membuat penasaran adalah kekuatan lain di buku ini. Temponya cepat, berbagai konflik muncul dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama dan ini membuat saya tidak bosan dalam membacanya. Dalam 188 halaman, buku ini adalah bacaan yang cepat dan benar-benar membuat saya susah untuk menutup buku ini di tengah-tengah cerita. (Kalau nggak kuliah pasti lanjut terus deh.

Bahasa yang digunakan Stevenson juga sangat puitis. Namun kadang saya agak sulit memahaminya karena terjemahannya yang terlalu kaku. Walaupun begitu, plot yang kuat tetap membawa saya sampai garis finish buku dan akhirnya tidak memusingkan gaya terjemahannya.

Nama Dr. Jekyll dan Hyde ini terkenal dalam dunia kejiwaan sebagai suatu kelainan kepribadian ganda. Dan ini merupakan salah satu buku yang pertama kali memperkenalkan isu kepribadian ganda yang sekarang menjamur di novel-novel misteri. Sayang kalau belum membaca buku ini, apalagi kalau anda penggemar cerita-cerita misteri.

3/5 untuk buku ini (seharusnya bisa 4 kalau terjemahannya mudah dicerna)
rosseva - 26/09/2012 12:06 PM
#2045

salam kenal semua, ijin nyimak dulu yan, nubie nih..seneng juga ad thread begini, jd bisa sharing
dansus.06 - 26/09/2012 03:02 PM
#2046

Quote:
Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

JUDUL: The Sorceress (The Secrets of The Immortal Nicholas Flamel #3)

PENULIS: Michael Scott

PENERJEMAH: Mohammad Baihaqqi

PENERBIT: Matahati

EDISI: Softcover

ISBN: 9786028590105


Quote:
Kekuatan Josh telah dibangkitkan oleh Mars Ultor atas prakarsa John Dee. Namun, hal itu serta-merta tidak membuat Josh langsung berpihak kepada Dee. Berkat usaha gigih dari Sophie, Nicholas, Saint-Germain, dan Joan of Arc untuk mencari Josh, akhirnya Josh sadar juga untuk kembali ke jalan yang benar. Dan setelah kejadian itu Nicholas memutuskan membawa si kembar ke London untuk menemukan Gilgamesh Sang Raja—manusia abadi lain yang diproyeksikan untuk mengajari si kembar Sihir Air.

Hal itu menambah deretan kegagalan John Dee dalam menghadapi Nicholas Flamel. Namun, untuk kali ini dia bisa tersenyum karena Nicholas memutuskan membawa si kembar ke London—yang merupakan kandang dari Dee, Sang Magician. Dengan dibantu oleh Tetua Gelap seperti Bastet dan Cernunnos, Dee mengejar rombongan Nicholas. Sementara itu Machiavelli diperintah olehnya menuju Alcatraz untuk membereskan beberapa ulah yang dilakukan Perenelle di penjara tersebut.

Di lain pihak rombongan Nicholas akhirnya juga mendapatkan bantuan—meski tidak sepenuhnya meyakinkan—dari Palamedes Sang Kesatria Saracen. Bantuan ini juga mempertemukan mereka dengan salah satu manusia paling dikenal dalam sejarah, yakni William Shakespeare yang dikenal sebagai Sang Penyair. Bersama-sama mereka mempertahankan diri dari serangan dan kejaran Dee yang dibantu oleh Cernunnos, Sang Dewa Bertanduk. Sementara di sisi lain dunia Perenelle berjuang menghadapi sphinx dan makhluk-makhluk kegelapan lainnya agar lolos dari penjara Alcatraz. Dengan dibantu hantu Juan Manuel de Ayala dan Tetua Laba-laba Areop-Enap Perenelle mencoba peruntungannya agar bisa lolos dari penjara Alcatraz—hingga di saat-saat terakhir usahanya Niccolo Machiavelli datang untuk membunuhnya.

***

Tidak begitu banyak berbeda dengan prekuelnya kali ini Michael Scott menampilkan setting yang berbeda dalam The Sorceress, yaitu London. Salah satu situs bersejarah yang sangat masyhur di daratan Britania tidak ketinggalan ditampilkan dan dibahas Scott di sini, yaitu Stonehenge. Dalam buku ini situs tersebut nantinya akan berfungsi sebagai gerbang ley karena situs tersebut faktanya memang terletak di persimpangan garis ley dunia.

Karakter-karakter baru juga kembali muncul dalam sekuel ini, yaitu Palamedes dan William Shakespeare. Palamedes di sini digambarkan sebagai supir taksi sebagai kamuflasenya dan memiliki sebuah kastil yang terbuat dari tumpukan mobil-mobil bekas di salah satu sudut London. Sementara Shakespeare berperan membantu Palamedes menjaga kastil milik Kesatria Saracen tersebut. Di tempat itulah Palamedes menampung rombongan Nicholas untuk sementara dari kejaran Dee dan di tempat itulah nantinya akan terjadi pertempuran besar antara kubu Nicholas melawan kubu Dee.

Tidak seperti buku-buku sebelumnya, dalam buku ini porsi scene yang melibatkan Perenelle dibuat lebih banyak dan berimbang dengan scene yang melibatkan rombongan Nicholas. Hal ini sepertinya dilakukan oleh Scott karena judul sekuel ini adalah The Sorceress—julukan Perenelle. Yah, tidak mengherankan juga jika hal tersebut dilakukan Scott karena cerita buku ini selain menitikberatkan pada perjuangan rombongan Nicholas di London, tapi juga pada perjuangan Perenelle meloloskan diri dari Alcatraz. Apalagi di dalam buku ini Machiavelli mulai diperintah untuk beraksi di Alcatraz. Tentunya scene di Alcatraz ini tidak kalah seru dengan scene di London.

Dan seperti buku-buku sebelumnya, buku ini juga seru untuk diikuti. Masih dengan format kemasan serta gaya bercerita, alur, dan plot yang tidak berbeda dengan buku-buku sebelumnya, saya tidak tahu lagi apa yang mesti saya bahas di sini. Seperti di buku-buku sebelumnya juga, rating empat bintang masih layak untuk buku ini.

RATE: 4/5
dansus.06 - 26/09/2012 03:12 PM
#2047

Quote:
Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

JUDUL: The Necromancer (The Secrets of The Immortal Nicholas Flamel #4)

PENULIS: Michael Scott

PENERJEMAH: Mohammad Baihaqqi

PENERBIT: Matahati

EDISI: Softcover

ISBN: 9786028590259


Quote:
Nicholas, Sophie, dan Josh akhirnya kembali lagi ke San Francisco. Di sana mereka akhirnya bertemu dan berkumpul lagi dengan Perenelle yang berhasil meloloskan diri dari Alcatraz. Kesempatan itu mereka manfaatkan untuk mengumpulkan kembali kekuatan, dan bagi si kembar untuk sedikit beristirahat serta mengunjungi rumah Bibi Agnes. Ketika sedang mengunjungi Bibi Agnes ini si kembar secara tak terduga bertemu Aoife—kembaran Scathach—dan rekannya, Niten. Tidak seperti Scathach, Aoife memiliki latar belakang yang misterius. Kemisteriusannya semakin terbukti karena dalam kesempatan tersebut Aoife menculik Sophie. Hal itu membuat Josh mendatangi pasangan Flamel untuk meminta pertolongan. Kejadian itu membuat pasangan Flamel sedikit mengubah rencana mereka dan membantu Josh menemukan Sophie. Dan petualangan baru mereka itu membawa mereka kepada sebuah pertemuan dengan Sang Penguasa Api, Prometheus.

Sementara itu kegagalan Dee di London membuatnya menjadi seorang buronan. Semua Tetua saat ini menginginkannya dan mereka mengutus semua makhluk dari dunia mitologi untuk memburu dan menangkapnya. Keadaan dari pemburu menjadi diburu itu membuat Dee mengubah total semua rencananya. Jika sebelumnya dia mengabdi pada Tetua Gelap, sekarang dia berencana menghancurkan kehidupan para Tetua. Dibantu Virginia Dare—manusia abadi lainnya—Dee beraksi menghindari kejaran para pesuruh Tetua dan berusaha mewujudkan rencana gilanya yang telah dia rancang. Hal tersebut juga membuat Machiavelli tak luput dari sasaran para Tetua. Dia bersama Billy the Kid diciduk dari Alcatraz untuk menemui salah satu Tetua, yaitu Quetzalcoatl untuk menerima vonis.

Dan di tempat lain Scathach dan Joan of Arc terdampar di sebuah masa lalu setelah melintasi gerbang ley di Paris untuk menolong Perenelle. Dan kejadian itu membuat Saint-Germain ingin menolong mereka keluar dari alam bayangan tersebut. Bersama Palamedes dan William Shakespeare, Saint-Germain pergi menemui Tammuz—salah satu Tetua yang menjadi majikan Palamedes. Dengan bantuan Tammuz mereka pun bergabung dengan Scathach dan Joan of Arc di tempat antah berantah tersebut. Setelah diselidiki lebih jauh ternyata mereka tidak terdampar di masa lalu, melainkan di sebuah alam bayangan. Pertanyaannya, alam bayangan siapa?

***

Fiuh, menurut saya buku ini paling kompleks dibanding tiga buku prekuelnya. Lihat saja sinopsis ceritanya di atas. Padahal buku ini juga paling tipis dibanding tiga buku prekuelnya, "hanya" 492 halaman. Meski begitu ketegangan dan keseruan cerita buku ini yang paling mantap. Plot yang segitu banyaknya dan alur yang lebih progresif membuat buku ini hampir menyamai ketegangan buku-buku karya Dan Brown. Kita juga akan diajak berpindah-pindah scene secara cepat—mulai San Francisco, London, Alcatraz, hingga alam bayangan tempat terdamparnya Scathach dan Joan of Arc—yang akan membuat kita bertanya-tanya: ke mana tujuan akhir plot-plot ini?

Cerita dari buku ini juga seperti antiklimaks bagi Dee karena pada akhirnya dia menjadi buruan para Tetua. Sementara konflik internal dalam tubuh rombongan Nicholas juga semakin menjadi-jadi dalam buku ini. Seperti apa konfliknya tidak dapat saya sebut secara detail di sini karena berhubungan erat dengan ending buku ini. Dan satu lagi, tidak ada sihir elemental baru yang diajarkan ke si kembar dalam buku ini—kecuali Josh yang mendapat ilmu Sihir Api dari Prometheus. Plot-plot yang melibatkan Dee dan rombongan Nicholas inilah yang nantinya di akhir buku ini akan bermuara ke satu titik. Sementara plot yang melibatkan rombongan Scathach akan membawa kita pada satu titik yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Benar-benar sebuah twist yang cerdik dari Scott.

Scott juga tidak berhenti membuat kita terkejut dengan karakter-karakter baru yang selalu ditampilkannya di setiap sekuel. Selain para Tetua yang tidak jauh-jauh dari dewa-dewa mitologi, kali ini yang menjadi sorotan adalah Aoife, Niten, Prometheus, dan Virginia Dare. Niten dan Virginia Dare adalah manusia abadi. Kalau kita bisa tahu siapa itu Virginia Dare lewat Google, maka Niten ternyata adalah salah seorang ahli pedang dan samurai terkenal dari Jepang, yaitu Miyamoto Musashi.

Dan mengenai judul dari buku ini—The Necromancer, saya bertanya-tanya merujuk kepada siapakah judul tersebut. Jika di sebelumnya The Alchemyst merujuk kepada Nicholas, The Magician merujuk kepada Dee, dan The Sorceress merujuk kepada Perenelle, maka siapakah The Necromancer ini? Sepanjang membaca buku ini saya hampir dibikin frustrasi untuk menemukan jawabannya. Tapi, lagi-lagi secara cerdik Scott menempatkan jawabannya di akhir buku ini. Lalu siapakah The Necromancer itu? Sebenarnya bukan siapa-siapa juga sih. Tapi akhirnya saya paham juga dengan maksud sekuel ini diberi judul tersebut oleh Scott. Baca saja sampai akhir buku ini, maka nanti Anda juga akan paham.

Lalu secara penampilan dan kemasan buku ini sebenanya tidak jauh berbeda juga dengan prekuel-prekuelnya. Tapi entah kenapa di buku ini saya merasakan ukuran font buku ini sedikit lebih kecil dari buku-buku prekuelnya. Dan setelah saya bandingkan ternyata memang benar. Mungkin karena itu tebal buku ini paling tipis dibanding prekuel-prekuelnya. Namun, line spacing buku ini masih tetap longgar sehingga masih sangat enak untuk dibaca. Dan nilai tambah berupa cerita yang lebih kaya tapi tetap tidak membingungkan, ketegangan yang lebih terasa, serta beberapa twist cerdas dari Scott membuat saya memberikan rating lebih pada buku ini, yaitu 4,5.

RATE: 4.5/5
dansus.06 - 26/09/2012 03:35 PM
#2048

Quote:
Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

JUDUL: Setan Angka: Sebuah Petualangan Matematika

PENULIS: Hans Magnus Enzensberger

PENERJEMAH: Nuurcholis

ILUSTRATOR: Rotraut Susanne Berner

PENERBIT: TransMedia

EDISI: Softcover

ISBN: 978-979-757-181-8


Quote:
Ini bukan dongeng, bukan pula memoar. Tapi kejadian-kejadian yang ada dalam buku ini bisa saja Anda alami di kehidupan Anda.

Perkenalkan Robert, seorang anak berumur 12 tahun yang sangat membenci matematika dan terutama guru matematikanya. Baginya angka-angka dan segala macam hitung-hitungan adalah hal yang menjemukan. Tapi, pandangannya tersebut perlahan-lahan berubah sejak bertemu Setan Angka dalam mimpinya. Dari malam ke malam Setan Angka mengajaknya bertualang menjelajahi dunia matematika. Segala macam keunikan dan keajaiban matematika pun ditemui Robert. Dan di akhir perjumpaannya dengan Setan Angka, Robert pun menyadari bahwa sebenarnya matematika itu asyik!

***

Setelah menyelesaikan buku ini saya simpulkan hanya ada dua keistimewaan buku ini, yaitu kovernya yang keren dan berbagai keunikan dan kejaiban matematis yang mungkin tidak kita perhatikan atau ketahui. Contohnya bagaimana semua angka yang kita kenal selama ini (kecuali angka nol) pada dasarnya berasal dari angka 1, keistimewaan-keistimewaan angka nol, beberapa fakta yang mungkin tidak kita ketahui tentang The Golden Ratio-nya bilangan Fibonacci, dan masih banyak lagi keunikan dan keajaiban matematika yang dapat kita temukan di buku ini. Oh, ya. Untuk soal kover buku ini harus saya akui memang keren! Simpel dan benar-benar tepat sasaran sesuai judul bukunya. Kover ini juga lah salah satu faktor yang membuat saya memutuskan membeli buku ini.

Selain dua hal di atas tidak ada yang istimewa lagi dari buku ini. Semuanya biasa-biasa saja, bahkan menurut saya sedikit kekanak-kanakan. Tapi ya wajar juga sih. Soalnya oleh penerbitnya buku ini dikategorikan ke dalam fiksi anak. Dan anehnya meski dikategorikan ke dalam fiksi anak, justru menurut saya buku ini tidak begitu cocok dibaca oleh anak-anak. Kenapa? Pertama, Setan Angka dalam buku ini digambarkan sebagai tokoh yang keras dan galak. Kedua, Setan Angka juga ini sering mengumpat-umpat jika Robert agak lamban berpikir atau tidak bisa mengerjakan beberapa soal. Umpatannya pun cukup keras, seperti "Dasar otak udang!". Bahkan Robert pun pernah disebutnya "kroco". Entah ini penerjemahannya yang tidak beres atau dari bahasa asli penulisnya memang seperti itu, menurut saya buku ini tidak cocok dibaca anak-anak. Menurut saya lebih pantas jika dibaca oleh orang tua untuk kemudian diajarkan kepada anak-anak. Padahal buku ini juga dilengkapi ilustrasi-ilustrasi yang menarik untuk anak-anak. Sayang sekali jika buku ini tidak bisa dibaca oleh anak-anak karena bahasa yang terlalu vulgar tadi.

Well, seperti yang saya sebut tadi buku ini memang sedikit kekanak-kanakan. Seperti membaca buku dongeng untuk anak-anak saja. Tapi, cukup banyak ilmu dan wawasan baru tentang matematika yang saya peroleh dari buku ini. Apalagi kover buku ini menurut saya sangat bagus untuk dikoleksi. Yah, tiga bintang masih layak lah untuk buku ini.

RATE: 3/5
vitawulandari - 26/09/2012 08:16 PM
#2049
A Walk To Remember: Kekuatan Cinta dan Doa
SRC September
Start on: 18 September 2012
Finished on: 26 September 2012

Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

Judul: A Walk To Remember (Kan Kukenang Selalu)
Penulis: Nicholas Sparks
Genre: Romantis
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 979-686-756-7
Bahasa: Indonesia (Terjemahan)
Terbit: Januari 2002
Hal: 254 hlm


"Aku terus membalik-balik halaman yang membuat foto siswa kelas 1, sampai aku melihat foto Jamie Sullivan. Aku berhenti sebentar, kemudian membalik halaman itu, sambil mengutuk diriku sendiri karena berani mempertimbangkannya. Jamie Sullivan? Putri Hegbert? Tidak bisa. Tidak mungkin. Teman-temanku akan memanggangku hidup-hidup."

Landon Carter adalah pemuda berusia 17 tahun yang tinggal di Beaufort, North Carolina, yang terletak di pesisir dekat Morehead City. Di kota daerah selatan itu juga tinggal Hegbert Sullivan, seorang pendeta tua yang telah mengabdikan hidupnya pada gereja Babtis. Ayah dan sang pendeta tidak merasa cocok satu sama lain, bahkan dalam suatu kesempatan di khotbah tersirat sindiran untuk keluarga besarnya. Sialnya, sang pendeta mempunyai putri yang ternyata teman sekelasnya di Beaufort High School bernama Jamie Sullivan. Sudah di pastikan Jamie tidak pernah masuk dalam daftar agenda pergaulannya. Namun situasi berkata lain, Landon harus mengajak Jamie ke pesta dansa homecoming karena sudah tak ada lagi teman wanita yang bersedia menemaninya.

“Aku mau pergi denganmu, dengan satu syarat. Kau harus berjanji bahwa kau tidak akan jatuh cinta padaku”

Landon setuju dan berjanji. Mana mungkin dia bisa jatuh cinta kepada Jamie, seorang gadis bertubuh kurus bermata biru, yang rambut prang madunya di sanggul keatas mirip perawan tua. Apalagi selama di perjalanan Jamie melontarkan kata-kata seperti iman, kebahagiaan bahkan penebusan dosa, tentu saja bukan topik kesukaan anak bandel semacam Landon. Namun, malam itu justru menjadi awal kekaguman Landon atas pribadi Jamie yang selalu tampak begitu ceria, tidak peduli apa pun yang terjadi di sekitarnya. Kedekatan mereka berlanjut ketika Landon memutuskan untuk mengambil peran dalam sebuah drama Natal bertajuk The Christmas Angel.

Sejak saat itu Landon terbiasa melakukan sesuatu yang benar. Mengantarkan Jamie pulang, menemaninya mengunjungi panti asuhan, mengumpulkan botol-botol berisi uang receh untuk di sumbangkan dan menghabiskan malam Natal bersama anak-anak panti asuhan. Jamie sangat terkesan dengan perubahan sikap Landon, sampai akhirnya berani memberikan Al-Kitab kesangannya (peninggalan sang ibunda) sebagai kado Natal.

"Terima kasih atas apa yang telah kaulakukan. Ini merupakan Natal terbaik yang pernah kualami."

Namun, ketika cinta di antara mereka semakin berkembang, satu rahasia terungkap. Landon mulai memahami segala yang terjadi selama ini. Mereka berdua sama-sama takut, yang dapat dilakukan hanyalah mempertanyakan masih berapa banyak waktu yang mereka miliki untuk bersama. Bagaimana akhir kisahnya? Silahkan di baca sendiri ^_^

Dulu saya tidak begitu tertarik untuk membaca buku ini. Namun karena rekomendasi teman sekolah yang sekaligus ]penjaga perpustakaan, akhirnya saya membawa buku ini ke daftar pinjaman. Melihat covernya sekilas nothing special, hanya pepohonan gersang tanpa menyelipkan kutipan.

Well, sebenernya alur cerita novel ini biasa saja, seperti cerita romance pada umumnya. Dua orang bertemu karena terpaksa, dekat karena kebiasaan, saling mengagumi satu sama lain dan akhirnya bersama dalam cinta. Ceritanya mudah ditebak? Ya! Namun kisah cinta itu mengalir lembut. Menggerakkan bibir saya untuk tersenyum dan mencairkan air mata saya untuk menetes. Nicholas Spark menceritakan kisah cinta dan perjuangan Landon begitu indah, membuat saya ingin terus membaca tanpa terlewatkan satu momenpun.

Penokohan dalam novel ini sangat pas. Jamie Sullivan, sebagai anak pendeta yang taat di gambarkan sebagai gadis manis yang selalu membawa Alkitab ke mana pun ia pergi, membaca Alkitab selama istirahat makan siang di sekolah, relawan panti asuhan di Morehead City, ikut kegiatan pengumpulan dana sampai menolong binatang di jalan. Namun dia tetap seorang gadis yang beranjak dewasa, punya naluri jatuh cinta, juga punya perasaan luka di balik keceriaannya. Sebut saja ketika Landon mengungkapkan perasaannya, Jamie langsung menunduk dan menangis seraya berkata:

“Kau tidak mungkin bisa jatuh cinta padaku, Landon. Kita masih bisa berteman, kita masih bisa saling bertemu… tapi kau tidak bisa mencintaiku”

Point of view novel ini juga berbeda dengan novel romance yang pernah saya baca sebelumnya. Novel ini hanya menggunakan satu sudut pandang, yaitu sudut pandang tokoh cowok. Disinilah kepiawaian penulis, meskipun hanya satu sundut pandang namun semua tokoh tergambarkan dengan jelas emosinya. Seperti kebiasaan Jamie menggosok rambut ketika sedang gelisah ataupun kesedihan pendeta lewat tatapan sayunya. Eksplorasi setting cerita juga merupakan salah satu kelebihan dalam novel ini. Saya begitu takjub dengan deskripsi musim semi dan musim gugur di kota kecil Beaufort, suka dengan senja di tepi Dermaga Iron Steamer serta candle light dinner di restoran Flauvin’s yang terletak di tepi pantai Morehead City.

Satu hal lain yang membuat saya menaikkan rating novel ini adalah kepuasan terhadap endingnya. Endingnya (no spoiler) berhasil memunculkan emosi yang dalam. Semua di ceritakan detail dan gamblang, tak satupun menyisakan pertanyaan dalam benak saya. Akhirnya, saya menutup buku ini seraya tersenyum dan meyakini kekuatan doa.

Quote favorit:

“Aku tidak bisa menyerahkan Jamie sama seperti aku tidak bisa menyerahkan hatiku. Tapi yang dapat kulakukan adalah membiarkan seseorang ikut menikmati kebahagiaan yang selalu diberikan Jamie kepadaku" (pendeta Hegbert Sullivan)


Congratulation Nicholas Sparks, I love this book so much ^_^

Rate: 5 out of 5 stars
daninoviandi - 26/09/2012 09:34 PM
#2050

Quote:
Original Posted By oyxpik
Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

Penulis : Robert Louis Stevenson
Judul : Dr. Jekyll dan Tuan Hyde
Halaman : 188 halaman
Terbit : 2009
Harga : Rp 28.000,00

[CODE]Sosok itu kerdil, mengerikan, dan kejahatan nampak jelas di wajahnya. Ketika orang melihatnya rasanya bagaikan ada hujan es yang sedang mengguyur pembuluh-pembuluh vena tubuh. Kontan, ketika sosok itu menendang-nendang tubuh anak kecil yang tidak berdaya di jalanan pada malam itu, semua orang menghujatnya. Semua orang mengingatnya sebagai sosok setan kerdil yang tidak berkeprimanusiaan. Mereka memanggilnya Tuan Hyde.

Rasa penasaran Utterson timbul ketika mendengar cerita itu. Hyde. Ya, Hyde! Satu-satunya nama pewaris tunggal yang muncul di surat wasiat sahabatnya, Dr. Henry Jekyll. Kecurigaan demi kecurigaan mulai terpupuk oleh sikap ganjil Jekyll yang tampaknya menutup-nutupi sesuatu. Ada apa sebenarnya ?
[/CODE]


Dr. Jekyll dan Tuan Hyde adalah buku terjemahan dari karya asli Robert Louis Stevenson yang berjudul The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde. Portico Publishing menerbitkan buku keluaran tahun 1886 ini ke dalam bahasa Indonesia. Dari covernya yang gelap dan bergambar dua sosok yang berbeda di kiri dan kanan, membuat saya sudah mengira-ngira bahwa buku ini horor dan mengerikan. Memang kurang menarik jika dilihat dari sisi cover dan bagi orang-orang yang belum pernah mendengar tentang Dr. Jekyll and Mr. Hyde, pasti akan menganggap buku ini bercerita tentang monster-monster serigala.

Walaupun begitu, Robert Louis Stevenson menorehkan sebuah cerita klasik yang sangat-sangat-sangat membuat bulu kuduk merinding. Suasana itu sebagian besar dibangun oleh narasi tokoh-tokoh buku ini tentang Hyde. Stevenson selalu mengungkapkan Hyde sebagai sosok yang "tidak bisa disebut sebagai manusia, dengan kelainan fisik yang tidak bisa dijelaskan" membuat saya mengawang-awang sendiri dan membayangkan seramnya sosok Hyde. Stevenson juga sangat sering memakai setting malam hari yang dingin dan gelap dalam cerita ini.

Menegangkan dan membuat penasaran adalah kekuatan lain di buku ini. Temponya cepat, berbagai konflik muncul dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama dan ini membuat saya tidak bosan dalam membacanya. Dalam 188 halaman, buku ini adalah bacaan yang cepat dan benar-benar membuat saya susah untuk menutup buku ini di tengah-tengah cerita. (Kalau nggak kuliah pasti lanjut terus deh.

Bahasa yang digunakan Stevenson juga sangat puitis. Namun kadang saya agak sulit memahaminya karena terjemahannya yang terlalu kaku. Walaupun begitu, plot yang kuat tetap membawa saya sampai garis finish buku dan akhirnya tidak memusingkan gaya terjemahannya.

Nama Dr. Jekyll dan Hyde ini terkenal dalam dunia kejiwaan sebagai suatu kelainan kepribadian ganda. Dan ini merupakan salah satu buku yang pertama kali memperkenalkan isu kepribadian ganda yang sekarang menjamur di novel-novel misteri. Sayang kalau belum membaca buku ini, apalagi kalau anda penggemar cerita-cerita misteri.

3/5 untuk buku ini (seharusnya bisa 4 kalau terjemahannya mudah dicerna)

ini terbitan narasi ya mbak dit?think:
dansus.06 - 26/09/2012 11:07 PM
#2051

Quote:
Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

JUDUL: Atheis

PENULIS: Achdiat K. Mihardja

ILUSTRATOR: S. Sutikno

PENERBIT: Balai Pustaka

EDISI: Softcover, Cetakan Ke-12 Tahun 1992

ISBN: 979-407-185-4


Quote:
Hasan telah tiada. Kepergiannya membuatku mengingat-ingat kembali awal perkenalanku dengannya. Aku ingat ketika dia datang kepadaku untuk memintaku menilai karangannya yang hampir serupa dengan autobiografi.

Kubaca hasil karangannya itu....

Karangan itu bercerita tentang perjalanan hidupnya sendiri. Bagaimana dia menjalani kehidupan dari kecil hingga dewasa dan telah dididik untuk percaya kepada Tuhan serta taat pada agama. Jalan hidupnya mulai berubah ketika bertemu Rusli—kawan masa kecilnya—dan adik angkat Rusli, Kartini. Tak disangkanya bahwa Rusli ini adalah seorang atheis. Ingin menghindar dari Rusli dia sebenarnya. Tapi, pesona Kartini membuatnya tidak mampu melakukannya. Lama-lama jatuh hati lah dia kepada Kartini. Pelan-pelan pula paham atheis merasuki dirinya melalui perantara Kartini. Dan jika Anwar tidak hadir dalam kisah itu, tak mungkin Hasan akan tercebur sepenuhnya ke dalam paham atheis. Tapi, siapa sangka pula bahwa Anwar lah yang kembali menyadarkannya untuk ingat kepada Tuhan—setelah Anwar merusak hubungan rumah tangganya dengan Kartini.

***

Karya Achdiat K. Mihardja ini pada awalnya saya kira sebuah novel yang murni berlatar belakang sosial politik. Tapi, ternyata saya keliru. Memang judul novel ini adalah Atheis, sebuah kata yang identik dengan komunis dan paham ini pernah tumbuh subur di republik ini pada masa awal kemerdekaannya. Inilah yang membuat saya mengira-ngira bahwa novel ini bercerita tentang pergerakan sosial politik paham tersebut di masa itu. Namun, begitu membuka halaman pertama buku ini dan di sana tercetak jelas kata “roman”, sadarlah saya bahwa saya keliru mengira-ngira isi novel ini.

Seperti roman pada umumnya, buku ini juga bercerita tentang sebuah kisah percintaan. Dan seperti karya sastra Indonesia angkatan lama pada umumnya, buku ini juga menyajikan sesuatu yang sesuai dengan masa ketika karya sastra tersebut ditulis—entah dalam hal kebudayaan maupun kondisi sosial politik. Dalam karyanya ini Achdiat K. Mihardja mengeset setting waktu ke masa 1940-an ketika Indonesia masih dalam posisi dijajah Belanda dan masa peralihan ketika dijajah Jepang. Dan dalam karyanya ini kita seakan diajak untuk menelusuri bagaimana paham atheis atau komunisme dapat tumbuh di republik ini pada masa itu. Karena karya ini juga merupakan roman maka kita juga akan dibawa untuk mengikuti bagaimana kisah cinta yang terjalin antara Hasan dan Kartini.

Keseluruhan cerita buku ini berpusat pada karakter Hasan. Tapi, dalam buku ini kisah kehidupan Hasan tersebut tidak diceritakan oleh Hasan sendiri, tapi oleh “aku” melalui sebuah karangan autobiografi yang ditulis Hasan. Autobiografi itulah yang menjadi inti cerita buku ini. Jadi alur cerita buku ini kalau boleh saya katakan sebagai alur mundur/flashback. Hasan di sini digambarkan sebagai karakter yang taat pada agama dan sepenuhnya percaya kepada pada Tuhan. Hal itu tidak lepas dari didikan orangtuanya yang memang benar-benar taat pada perintah agama. Apalagi Hasan juga keturunan wedana (raden) sehingga sedikit banyak mempengaruhi karakternya sebagai sosok yang lurus. Seperti yang ditampilkan ringkasan cerita di atas, Hasan kemudian bertemu dengan Rusli ketika sedang bekerja. Pada saat itu Rusli juga membawa serta adik angkatnya yang bernama Kartini dan diperkenalkannya pula kepada Hasan. Nah, mulai di sinilah benih asmara mulai muncul antara Hasan dan Kartini. Kartini sendiri di sini digambarkan sebagai wanita yang memiliki kecantikan khas nusantara yang mengingatkan Hasan pada salah satu cinta masa lalunya. Tapi, Kartini juga memiliki sisi yang kurang pas sebagai wanita di zaman tersebut, seperti suka merokok, bebas, dan berpandangan modern. Selanjutnya kita pun akan mengetahui bahwa Rusli ini adalah seorang atheis. Dia digambarkan sebagai seorang pria yang logis, sangat pandai berbicara, dan pandai membujuk. Paham yang dianut mereka itu sebenarnya membuat Hasan untuk menginsafkan mereka. Tapi, karena Rusli pandai bersilat lidah dan membujuk maka niat itu pun gagal. Lalu Hasan berniat menghindari mereka. Tapi karena rasa cintanya kepada Kartini mulai tumbuh dan Rusli memperlakukan dirinya dengan sangat hormat dan sopan, maka niat itu pupus juga.

Dialog yang terjadi antara Hasan dan Rusli ketika membahas masalah agama dan ketuhanan membuat saya merasakan betapa “ngerinya” orang-orang komunis. Pada bagian ini saya jadi teringat sebuah obrolan dengan bapak saya bahwa orang komunis itu cerdas-cerdas, logika mereka sangat kuat. Mereka hanya percaya pada apa yang mampu dirasakan oleh pancaindra mereka. Karena itu mereka tidak percaya pada hal-hal yang sifatnya gaib, seperti Tuhan contohnya. Dan menurut mereka agama itu hanyalah candu yang tidak akan membawa manusia ke mana-mana melainkan hanya sebuah pelarian saja. Kalimat bapak saya tersebut benar-benar saya rasakan ketika membaca buku ini. Semua hal itu juga dipaparkan di sini. Di sini pun Rusli memaparkan bahwa Tuhan itu ada karena pemikiran manusia. Jadi sebenarnya yang “menciptakan” Tuhan itu ya manusia sendiri dan berujung pada sebuah pernyataan bahwa sebenarnya Tuhan itu adalah aku sendiri. Kuatnya logika dan penyajian fakta-fakta yang tak tergoyahkan tersebut menyebabkan komunis begitu “digdaya” dalam buku ini dan Hasan—yang mewakili kaum agamis—benar-benar tak berdaya menghadapi gempuran-gempuran tersebut. Ditambah lagi dengan perasaannya kepada Kartini semakin membuatnya gelap mata [halaman 108].

Sebenarnya dalam tahap ini Hasan belum sepenuhnya masuk ke dalam paham atheis karena terkadang dia masih menjalankan shalat. Hanya pemikirannya menjadi lebih bebas dan modern. Dia menjadi berani keluar berdua bersama Kartini, seperti menonton di bioskop, ke pasar, dan makan di restoran Tionghoa. Padahal sebelum mengenal Rusli dan Kartini dia sangat menentang hal-hal seperti itu. Semakin “tenggelamnya” Hasan terjadi ketika muncul tokoh Anwar dalam buku ini. Anwar adalah teman Rusli yang juga sama-sama atheis. Anwar ini bisa dibilang garis kerasnya komunis lah. Secara terbuka dia menentang adanya Tuhan dan agama serta kebobrokan dan kekolotan sistem feodal yang masih menjamur di negeri ini. Secara tegas dia menekankan bahwa semua manusia itu sederajat, tidak perlu manusia satu harus “menyembah-nyembah” manusia lain. Melalui tokoh Anwar ini sepertinya Achdiat K. Mihardja ingin menyampaikan kritik sosial terhadap sistem hierarki yang ada pada zaman tersebut.

Hadirnya tokoh Anwar ini memberikan warna lain dalam cerita buku ini. Kehadiran Anwar inilah yang menjadi awal mula “kesengsaraan” titik balik kehidupan Hasan. Anwar lah yang membuat Hasan benar-benar masuk ke dalam paham atheis. Hal itu berujung pada konflik antara Hasan dan orangtuanya yang membuat hubungan mereka menjadi sangat jauh. Tak hanya itu, Hasan pun cemburu kepadanya dan menjadi salah satu penyebab utama hubungan rumah tangganya dengan Kartini menjadi hancur. Dan ajaibnya dalam keadaan hancur lebur seperti itu Hasan justru sadar kembali akan adanya Tuhan dan kembali memohon ampun pada-Nya.

Keseluruhan nilai moral buku ini sebenarnya telah dirangkum sendiri oleh Achdiat K. Mihardja dalam dialog antara “aku” dan Hasan di sepertiga akhir buku. Seperti tugas kita sebagai manusia yang paling penting sejak dilahirkan di dunia ini adalah hidup itu sendiri. Dan bagaimana kita menjalani hidup yang sempurna adalah bagaimana kita menjaga hubungan dengan sesama makhluk, dengan alam, dengan Sang Pencipta, dan yang tidak kalah penting adalah dengan diri sendiri. Selain itu hal yang mampu menyempurnakan hubungan-hubungan itu adalah rasa kemanusiaan yang berlandaskan pada rasa saling menyayangi, mengasihi, dan mencintai sesama makhluk di dunia ini. Sebab hal-hal itulah dasar kehidupan yang paling utama yang harus ada di dalam hati kita. Jika itu semua sudah terpenuhi selanjutnya kita gunakan alat yang menjadikan kita pembeda dari makhluk lainnya agar hidup ini lebih sempurna, yaitu akal dan pikiran yang sehat [halaman 190-191]. Pesan tersebut mungkin terasa agak “kiri”, tapi memang ada benarnya. Malah semua agama di dunia pun tidak ada yang tidak mengajarkan untuk mengasihi dan menyayangi sesama makhluk. Apalah arti kita sebagai manusia, meskipun kita beragama, tapi tidak memiliki hal tersebut. Sepertinya itu yang ingin ditekankan Achdiat K. Mihardja dalam karyanya ini.

Buku ini memang tidak tebal—hanya 232 halaman saja, tapi benar-benar sarat akan makna dan pelajaran. Saya tidak mempermasalahkan gaya bahasa yang menurut saya terasa “lucu” karena saya hidup di zaman sekarang dan terbiasa dengan EYD terbaru. Ukuran huruf dan jenis huruf serta line spacing yang digunakan juga terasa kunonya—kecil-kecil dan rapat. Tapi, saya memakluminya karena ini adalah karya sastra angkatan lama, diterbitkan pertama kali tahun 1949, dan yang saya baca ini edisi cetakan keduabelas yang terbit tahun 1992. Justru saya malah mendapatkan pengalaman baru karena mengetahui ragam bahasa nasional kita dan kultur negara ini di masa itu. Seolah-olah saya benar-benar dibawa ke masa lalu ketika membaca buku ini. Dan sayangnya gap era yang sangat jauh itu dengan masa kini membuat saya belum benar-benar sepenuhnya memahami buku ini. Oh, ya. Siapkan logika dan iman Anda ketika membaca buku ini. Karena seperti yang saya bilang sebelumnya orang-orang komunis itu logikanya luar biasa. Selain itu agar kita juga tidak ikut-ikut terjerumus seperti Hasan.

RATE: 4/5
eclips3 - 27/09/2012 12:51 AM
#2052

^
^
^
Terima order buat bikin ripiw SRC ane 3 bulan ke depan ga?
dansus.06 - 27/09/2012 01:07 AM
#2053

Quote:
Original Posted By eclips3
^
^
^
Terima order buat bikin ripiw SRC ane 3 bulan ke depan ga?


ngakak

asal cocok persekot dan fulusnya ngakaks
KRS1 - 27/09/2012 10:11 AM
#2054

Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu
Kekuasaan, di mana saja, kapan pun akan selalu menjadi impian bagi manusia dalam hidupnya. Buku ini mengisahkan salah satu epos perebutan kekuasaan di tanah Jepang, pada abad 12. Khusus menggambarkan kehidupan Kiyomori, selaku pemimpin klan Heike, salah stau klan samurai besar di Jepang, selain klan Genji, yang merupakan musuh utama klan Heike.

Kesetiaan samurai di buku ini, digambarkan, dimanfaatkan oleh para bangsawan, untuk tahta kerajaan. Maka tak heran, sesama saudara pun akan saling menikam. Tak kenal saudara, yang ada hanyalah satu kepentingan. Kawan bisa menjadi lawan di lain waktu, demikian juga sebaliknya.

Eiji Yoshikawa, sudah snagat luar biasa menuliskan kisah Klan Heike ini. Meskipun bukunya tebal, tapi saya masih bisa menikmati meskipun kadangkala harus membolak-balik halaman-halamannya, untuk mengetahui siapakah tokoh ini, dan berpihak pada siapakah, mengingat banyak tokoh dan nama yang tak gampang diingat dengan sekilas baca.

Sekedar informasi, NHK mengangkat kisah Heike ini, dalam taiga (drama klasik) Jepang yang akan tayang mulai tahun 2012.

Spoiler for Aktris Takei Emi, bakal menjadi salah satu pemerannya
Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu
daninoviandi - 27/09/2012 10:48 PM
#2055
Radar Neptunus d(^_^)b
     Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu


Perahu Kertas. Judul yang diambil dari kebiasaan aneh Kugy, si agen Neptunus berzodiak Aquarius yang selalu berkeyakinan bahwa perahu kertas yang dibuatnya dan ia tulisi surat untuk Neptunus lalu ia alirkan di sungai. Ia yakin, perahu itu akan sampai, dan suratnya akan dibaca oleh Neptunus. Tetapi itu dulu, ketika Kugy masih kecil. Walaupun ukuran badannya tetap kecil, seperti panggilan kesayangan Keenan kepadanya, Kugy mulai beranjak dewasa dan mulai merasakan cinta. Namun sifat khasnya yang tengil dan berantakan tetap tidak berubah. Ya, itulah Kugy.

Keenan, seorang keturunan Belanda, terobsesi menjadi pelukis walau ditentang mati-matian oleh ayahnya, tak sengaja bertemu Kugy di stasiun kereta api di Bandung ketika dijemput oleh sepupunya, Eko dan pacarnya Noni. Mereka berempat pun akhirnya bersahabat baik, Keenan mulai jatuh hati pada Kugy dan tulisan-tulisannya, tanpa mengetahui bahwa sebenarnya Kugy pun menyimpan perasaan yang sama, walaupun ia telah memiliki pacar di Jakarta bernama Ojos.

Waktu memang tak bersahabat dengan kisah cinta Kugy dan Keenan, seolah waktu membuat cinta mereka bertepuk sebelah tangan. Putus dengan Ojos, Kugy malah menghadapi fakta bahwa Keenan sedang coba dijodohkan dengan Wanda, sepupu dari Noni. Kugy pun “melarikan diri”, mencoba mengalihkan perhatian dengan mengajar di sekolah terbuka. Tanpa tahu apa yang terjadi dengan Kugy, Keenan pun tahu bahwa sebenarnya ia tak mencintai Wanda, sehingga ia pun ikut melarikan diri ke Pulau dewata. Disana ia menemukan tambatan hati dalam diri Luhde, sementara Kugy yang mendadak rajin kuliah akhirnya lulus cepat dan bekerja di suatu perusahaan agency. Kugy pun bertemu tambatan hati disana. Bosnya, Remi, jatuh hati kepadanya dan mengajaknya untuk menikah. Namun, radar Neptunus yang semenjak dahulu mengikat Keenan dan Kugy pada akhirnya benar-benar berfungsi dengan baik, tanpa sengaja mereka pun bertemu lagi, kali ini dengan pasangan masing-masing dan cinta masing-masing.

Dee berhasil membuat cerita yang lain dari buku-bukunya yang sebelumnya melalui buku ini. Kisah cinta yang mengalir indah dan membuat penasaran sungguh memikat hati. Bagaimana waktu mengalir dengan cepat di buku ini tidak mengurangi kenikmatan membaca buku ini. Banyak tokoh yang datang dan pergi, namun tokoh Keenan dan Kugy terlalu kuat untuk dibuat pergi. Banyaknya pula peristiwa manis yang kebetulan sungguh sangat menambah daya tarik dan pesona buku ini. Apalagi ditambah ketengilan Kugy dan sifat cool Keenan dan Remi, membuat tokoh-tokoh dalam buku ini sungguh membuat penasaran dan ingin ditemui di dunia nyata.

Setting yang berpindah-pindah pun tak menjadi masalah, karena Dee dengan jeli menuliskan setting tempat adegan berada di setiap awal babnya. Belanda, Jakarta, Bandung dan Bali seolah-olah hidup lewat jalinan cerita yang dituliskan oleh Dee. Hal yang unik lainnya yaitu bagaiman Dee menciptakan istilah-istilah khusus yang menjadi trademark dari buku ini. Radar Neptunus, Agen Neptunus, menjadi tren yang diciptakan oleh Dee. Lihat saja fenomena bagaimana Radar Neptunus dipraktikkan. Belum lagi basic menulis, melukis, dan periklanan pada diri Kugy, Keenan, dan Remi membuat pembacanya mendapatkan ilmu tentang dunia-dunia seni tersebut.

Akhirnya, rasa penasaran jualah yang membawa buku ini dihabiskan dalam keremangan lampu kopaja. Rasa penasaran yang akhirnya terbayar dengan ending yang manis, dan rasa pengorbanan yang besar dari tokoh-tokohnya. Buku yang wajib dibaca dan dirate bintang 5 oleh para Agen Neptunus di luar sana.


Judul: Perahu Kertas
Penulis: Dewi Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: 29 Agustus 2009
Tebal: 456 hal.
Rate: 5/5
KRS1 - 28/09/2012 03:28 PM
#2056

Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

[*]Judul: The Tokyo Zodiac Murders
[*]Penulis: So?ji Shimada
[*]Penerjemah: Barokah Ruziati
[*]Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
[*]Jumlah Halaman: 360
[*]ISBN: 9789792285918



Di tahun 1936 terjadi rentetan kasus pembunuhan yang menggemparkan Jepang. Seorang pelukis kaya, Heikichi Umezawa, tewas terbunuh di studio lukisnya. Di laci mejanya, didapatkan sebuah surat rencana pembunuhan kejam yang justru akan dilakukan oleh Umezawa terhadap putri-putrinya dan keponakannya, untuk menciptakan sebuah Azoth yang terdiri dari potongan-potongan tubuh anak-anak dan keponakan-keponakannya. Belakangan setelah Umezawa terbunuh, didapat korban baru, Kazue, anak tiri Heikichi, dan selanjutnya ternyata rencana Heikichi dilanjutkan dengan pembantaian sadis terhadap anak-anak dan keponakan-keponakan Heikichi, dengan bagian-bagian tubuh ditemukan hilang. Padahal Heikichi yang merencankan pembantaian itu justru sudah dibunuh.

Kisah pembunuhan beruntun ini sampai dnegan tahun 1979 belum terkuak. Di saat itu, detektif amatir Mitarai Kiyoshi ditemani oleh rekannya Ishioka Kazumi, ketiban urusan untuk dapat menyelesaikan kasus yang terpendam lebih dari empat puluh tahun tersebut. Berbekal isi buku yang menggambarkan kejadian kasus tersebut ditambah dengan sepucuk surat dari seorang polisi yang tak sengaja ikut terlibat dalam kasus tersebut, Mitarai berusaha mengungkap siapa pelaku pembunuhan sadis tersebut.

Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

Mengikuti cerita Mitarai mengunkap kasus empat puluh tahun yang lalu, merupakan sebuah kesenangan tersendiri bagi saya, yang memang menyukai kisah-kisah detektif. Kita akan menjumpai banyak petunjuk penyelesaian kasus yang bertebaran, mencermati satu persatu dan harus mencocokan dengan fakta yang didapat di TKP. Membaca buku detektif memang permainan yang mengasyikkan bagi otak, apalagi kalau tebakan-tebakan yang kita lakukan, tidak sesuai dengan hasil akhir di jalan ceritanya. Saya angkat jempol buat penulis yang berhasil membuat misteri yang tak mudah tertebak penyelesaiannya ini.

Dan saya memang gagal menebak siapa dalang di balik kasus pembunuhan yang menghebohkan tersebut, tetapi sangat dipuaskan dengan cerita yang memikat. Tak pelak, buku ini sangat rekomendatif buat penggemar cerita-cerita detektif. Buku ini mengingatkan saya akan duet Holmes dengan Dr. Watson, meskipun ceritanya, Mitarai tidak menyukai Holmes. Bagaimana Mitarai melakukan pengamatan menyendirinya, memang mirip dengan Holmes. Sementara Ishioka yang berusaha menyelesaikan kasusnya dengan caranya sendiri, mirip dengan cara Watson.

Membaca The Tokyo Zodiac Murders, bagi saya merupakan salah satu pengalaman mengasyikkan. Tak banyak novel detektif yang ditulis oleh penulis Jepang, kebanyakan dalam bentuk manga, dan kisah yang diangkat oleh So?ji Shimada ini sangat berkesan, tak kalah dengan penulis kisah detektif lainnya.
dansus.06 - 30/09/2012 08:05 PM
#2057
SRC September 2012
Quote:
Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

JUDUL: The Alchemist (Sang Alkemis)

PENULIS: Paulo Coelho

PENERJEMAH: Tanti Lesmana

PENERBIT: Gramedia Pustaka Utama

EDISI: Softcover; Juli 2010

ISBN: 978-979-22-1664-6


Quote:
Santiago adalah seorang penggembala domba dari daratan Andalusia. Di suatu waktu ia mengalami mimpi yang sama sebanyak dua kali. Dalam mimpi tersebut ia dibawa ke piramida di Mesir dan diberi tahu bahwa di situ ia akan menemukan harta karun. Dan dalam salah satu perjalanannya menggembala domba ia meminta seorang perempuan Gipsi untuk menafsirkan mimpi tersebut. Sang perempuan Gipsi menyarankan Santiago untuk mencari harta karun tersebut dengan meminta imbalan sepersepuluh bagian dari harta karun itu. Tapi, Santiago masih ragu menuruti saran perempuan Gipsi tersebut. Di saat itu ia justru bertemu Raja Salem. Sang raja juga memberikan saran serupa dengan meminta imbalan sepersepuluh jumlah dombanya. Akhirnya Santiago memutuskan mencari harta karun itu. Petualangan baru pun dihadapinya—melintasi benua menuju Afrika dan melewati padang pasir yang ganas. Berulang kali pula ia kehilangan hartanya dan berkali-kali pula ia menemui jenis orang yang berbeda-beda. Termasuk Sang Alkemis, orang yang berjasa besar membantunya menemukan harta karun itu.

***

The Alchemist sebenarnya buku karya Paulo Coelho yang pertama saya beli, tapi bukanlah karya Paulo Coelho yang pertama kali saya baca secara tuntas. Saya membeli buku ini hampir dua tahun yang lalu karena rekomendasi dari sahabat saya. Namun, setelah terbeli saya malah tidak pernah menuntaskannya. Begitu beberapa waktu yang lalu saya membaca Eleven Minutes—karya Paulo Coelho lainnya—dan dibuat terpukau olehnya, maka saya benar-benar meniatkan untuk membaca ulang dan menuntaskan buku ini. Dan keputusan tersebut memang tepat karena buku ini memang luar biasa!

Penampilan fisik buku ini bisa dibilang menarik. Ukurannya yang tidak terlalu jumbo (20 x 13,5 cm) dan tebal 216 halaman memberi kesan buku ini adalah buku yang ringan. Kover depannya juga tampak elegan karena gambar untuk kover tidak terlalu ramai dan judul serta nama penulis dalam kover dicetak ber-emboss dan memiliki efek hologram. Gambar dalam kover tersebut juga sangat tepat sasaran dengan isi buku karena setelah membaca tuntas buku ini kita akan tahu bahwa gambar tersebut memang memenuhi syarat untuk "menceritakan" perjalanan Santiago.

Santiago adalah tokoh utama dan protagonis dalam karya Paulo Coelho ini. Dia adalah seorang penggembala domba yang berasal dari Andalusia—sebuah teritori di Spanyol yang letaknya paling selatan. Dia digambarkan sebagai seorang anak yang menuruti kata hatinya dan suka berkelana. Hal itu dibuktikan dengan dia lebih memilih menjadi penggembala domba daripada menuruti keinginan ayahnya agar dia menjadi pastor [halaman 26]. Tokoh-tokoh lain frekuensi dan durasi kemunculannya tidak sesering Santiago, bahkan bisa dibilang mereka hanya "datang dan pergi". Contohnya sang perempuan Gipsi, Melkisedek Sang Raja Salem yang meyakinkan Santiago untuk mencari harta karun di piramida, seorang pemandu yang ditemui Santiago di Tangier yang ternyata penipu, pedagang kristal tempat Santiago bekerja di Tangier, Fatima—cinta yang ditemukan Santiago di gurun pasir, bahkan Si Orang Inggris yang menjadi teman seperjalanan Santiago. Mungkin hanya Sang Alkemis tokoh selain Santiago yang benar-benar berpengaruh dalam cerita buku ini. Konsekuensinya kita tidak akan dibuat bingung dengan banyaknya tokoh utama yang bisa saja malah tidak berpengaruh banyak pada cerita.

Setting tempat yang dibangun Paulo Coelho pun tidak monoton di satu tempat saja. Justru imajinasi kita akan dibawa berkelana ke daratan Andalusia, Tangier, oasis Al-Fayoum, hingga piramida di Mesir. Setting waktu yang dibangun pun merangsang kita untuk menerka-nerka di zaman apa kisah Santiago ini terjadi. Saya sendiri pun tertarik untuk mengetahuinya, bahkan selama membaca buku ini selalu memikirkannya. Kemudian saya pribadi memperkirakan kisah ini terjadi di antara abad ke-15 hingga ke-17. Alasannya dalam kisah ini agama Islam sudah berkembang, sistem transportasi saat melintasi gurun pasir masih tradisional (menggunakan karavan, unta, dan kuda), dan terutama karena Si Orang Inggris telah membawa revolver [halaman 115] (jenis revolver paling awal dikembangkan pada sekitar abad ke-16). Apalagi di masa itu alkimia bisa dibilang juga sedang "ngetren" di Eropa dan ini dibuktikan dengan hasrat Si Orang Inggris yang begitu besar untuk mencari Sang Alkemis. Kombinasi setting tempat dan waktu tersebut benar-benar mengingatkan saya pada kisah-kisah di zaman Nabi atau Kisah 1001 Malam sehingga cerita yang dibangun Paulo Coelho ini menjadi terkesan klasik.

Alur yang dipilih Paulo Coelho juga memudahkan kita dalam membaca dan memahami cerita, yaitu alur progresif. Kecepatan alurnya pun cepat karena kita diajak untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya secara cepat. Plot yang dibangun pun bersifat linear sehingga memahami cerita akan terasa mudah karena jalan cerita bergerak lurus dari awal sampai akhir. Dan yang luar biasa dari buku ini adalah unsur-unsur plausibilitas (keterpercayaan), suspense, surprise, dan kepaduannya yang hampir sempurna. Begitu membacanya kita dapat merasakan unsur plausibilitasnya karena bukan tidak mungkin ada seorang penggembala bermimpi mendapatkan harta karun dan berusaha mewujudkannya. Selain itu tempat-tempat yang dihadirkan oleh Paulo Coelho semuanya memang nyata ada di dunia ini sehingga unsur tersebut sangat terasa dalam buku ini. Sentuhan suspense dan surprise dari Paulo Coelho juga menarik. Meski saya tidak merasakan suspense yang sangat menegangkan seperti dalam genre thriller, tapi entah kenapa saya selalu penasaran dengan apa yang akan terjadi pada Santiago selanjutnya di setiap halaman buku ini. Dan yang tak kalah mengesankan adalah surprise pada ending cerita. Benar-benar di luar perkiraan saya. Kepaduannya juga patut diacungi jempol karena dari awal sampai akhir tidak ada satu tokoh ataupun peristiwa yang melenceng dari tema cerita. Semuanya seakan-akan saling terhubung dan saling melengkapi—contohnya peran Raja Salem, pedagang kristal, dan Sang Alkemis dalam "membimbing" Santiago.

Dan pesan kehidupan yang ingin disampaikan Paulo Coelho adalah manusia harus berjuang mengerahkan segala daya dan upaya untuk mewujudkan takdir mereka. Takdir adalah apa yang selalu ingin dicapai dan karenanya setiap manusia memiliki mimpi. Inilah yang selalu ingin diwujudkan oleh manusia, tapi biasanya lama-kelamaan manusia menjadi merasa mustahil meraih dan mewujudkan mimpinya. Padahal di saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya [halaman 30-31]. Dan penyebab utama hal itu pada umumnya adalah takut gagal. Hal itu sangat disayangkan sebab jauh lebih baik jika kita gagal/mati di tengah jalan dalam mewujudkan mimpi/takdir daripada orang lain yang bahkan tidak tahu takdir mereka [halaman 182]. Karenanya mendengarkan suara hati juga sangat penting dalam hal ini karena di mana hatimu berada, di situlah hartamu berada [halaman 165]. Dan dari titik ini bisa dibilang Paulo Coelho menganalogikan bahwa semua manusia adalah alkemis. Alkemis ini konon dikenal memiliki kemampuan mengubah logam biasa menjadi emas. Tapi, banyak juga alkemis-alkemis yang gagal melakukan hal itu karena mereka hanya sekedar mencari emas/harta yang ditakdirkan bagi mereka, tapi tidak mau menjalani takdir itu [halaman 161]. Dan karenanya alkimia ada agar setiap orang mencari harta karunnya sendiri dan muncul keinginan menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya [halaman 192]. Menurut saya karena itulah buku ini diberi judul The Alchemist oleh Paulo Coelho.

Membaca buku ini benar-benar memberikan kepuasan batin yang luar biasa. Selain karena hal-hal yang saya sebut di atas, penerjemahan buku ini juga bagus, dan enak dibaca—karena ukuran font yang cukup besar, line spacing yang longgar, serta perbandingan narasi dan dialognya yang berimbang. Semua itu membuat saya tidak ragu untuk memberikan rating five star lagi pada karya Paulo Coelho ini.

RATE: 5/5
Izunayuma - 30/09/2012 11:47 PM
#2058
SRC September 2012
Dalam Cinta Tak Ada Yang Jadi Nomor Dua

ALPHA WIFE

Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

PENULIS: OLLIE
PENERBIT: GAGAS MEDIA
JUMLAH HALAMAN: 193 halaman
TAHUN TERBIT: 2009


Quote:
Nama wanita itu adalah Malena Katrine Wibowo. Ia adalah seorang Editor in Chief dari sebuah majalah fashion ternama, Glam Lady. Kariernya cemerlang dan penghasilannya besar. Bahagia sekali pasti hidupnya. Tapi…ternyata tidak demikian. Dibalik senyum dan kemewahan yang selalu diperlihatkannya, tersimpan kegundahan yang sangat besar. Sumber dari kegundahan itu adalah Eric, suaminya. Eric bekerja sebagai seorang guru komputer di sebuah sekolah swasta.

Apa yang salah dengan Eric? Ia suami yang sangat baik dan sayang kepada Lena. Kesalahan Eric hanya satu, pekerjaannya sebagai guru dan gajinya yang kecil. Guru adalah pekerjaan yang sangat mulia, tapi bukan itu yang diharapkan Lena. Ia ingin Eric bekerja di tempat lain yang lebih bergengsi dan lebih besar gajinya.

Eric yang sederhana dan setia dengan kemeja kotak – kotak berwarna coklat andalannya dan Lena yang sangat fashionable, sungguh merupakan dua pribadi yang sangat bertentangan. Persamaan mereka adalah sama – sama keras kepala dan tidak mau mengalah. Dan hal tersebut menyebabkan sering terjadinya perselisihan. Puncaknya saat salah satu dari mereka pergi dari rumah. Bagaimana kelanjutan pernikahan mereka?

***

Hanya butuh waktu kurang dari tiga jam untuk menyelesaikan novel yang tidak terlalu tebal ini. Padahal, awalnya saya kurang berminat untuk membaca novel semacam ini, karena dari judulnya saja, sudah bisa ditebak kalau isinya tentang kehidupan pernikahan. Saya berpikir, “Ah, paling gitu – gitu aja ceritanya, ngebosenin. “ Tapi ternyata tidak semembosankan yang saya kira. Tema yang diangkat Ollie, sang penulis, cukup menarik.

Temanya adalah Alpha Wife. Jujur, saya tidak tahu apa itu Alpha wife. Tapi untungnya mbak Ollie sedikit memberi penjelasan tentang itu. Alpha Wife adalah istri yang kariernya lebih cemerlang dan penghasilannya lebih besar dari sang suami. Hal semacam ini sebenarnya sudah biasa kita temui sekarang ini. Banyak yang bisa bertahan dan langgeng, tapi tidak sedikit juga yang berakhir dengan perceraian. Tapi bagaimana sebenarnya perasaan istri dan suami dengan keadaan seperti ini? Hanya mereka yang mengetahui.

Novel ini menggambarkan kondisi semacam itu dengan cukup apik. Jika dilihat dari cover novelnya, sepatu wanita menginjak dasi yang biasa dipakai pria, pasti banyak yang berpikiran kalau sang suami ditindas habis – habisan oleh sang istri. Namun kenyatannya tidak demikian. Lena memang malu dengan pekerjaan dan penghasilan suaminya, tapi ia tetap mengabdi dan memperlakukan suaminya dengan baik dan hormat. Begitu pula dengan Eric. Ia sangat mencintai istrinya. Penggalan halaman 60 berikut ini adalah contoh ungkapan cinta dan sayang mereka terhadap satu sama lain.

Quote:
“Jangan di sini….,” desis Eric.

“Kenapa Ban? Tempat paling romantis di dunia ini ada pada dirimu. Kita tidak perlu kemana – mana….” Lena tersenyum sambil menatap suaminya dalam – dalam.

Eric tak mampu berkata – kata. Ia tersenyum dalam diam. Wanita inilah yang ingin ia bahagiakan sepanjang hidupnya.


Alur yang digunakan adalah alur maju. Bahasanya ringan dan mudah dicerna. Pada awal – awal terasa sedikit membosankan, tapi menginjak bab kedua ceritanya mulai mengalir dengan manis. Banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik dari novel ini. Salah satunya adalah menghargai dan menyadari bahwa kesuksesan juga berlangsung atas silent support dari pasangan. Sayangnya novel ini kurang tebal, sehingga membuat jalan ceritanya terkesan terburu – buru. Seandainya intrik yang dimasukkan lebih banyak, pasti lebih seru lagi.

Novel ini layak dibaca oleh penggemar chicklit maupun metropop. Dan saya rekomendasikan untuk dibaca pasangan yang sudah menikah. Semoga mendapat pelajaran dari kisah Eric dan Lena.



RATE 3,5 / 5
CSdnadychi - 30/09/2012 11:53 PM
#2059

SRC 2012 - September


Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

Judul: Arok Dedes

Pengarang: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Lentera Dipantara


Siapa yang tidak mengenal Pramoedya Ananta Toer? Beliau adalah sastrawan asal Indonesia yang telah melahirkan banyak karya, mulai dari Gadis Pantai, Bumi Manusia, dan salah satu karyanya yang lain adalah Arok Dedes.

Arok atau yang lebih dikenal dengan nama 'Ken Arok' merupakan Raja pertama Singosari, sebuah Kerajaan yang letaknya ada di Jawa Timur sana. Dia memiliki dua orang istri yaitu Ken Dedes serta Ken Umang. Di buku sejarah SD tepatnya di buku IPS, saya masih ingat, cerita mengenai berdirinya kerajaan singosari ini hanya diceritakan pada satu lembar kertas. Ya! Satu lembar kertas ukuran folio! Ckckck..., itu pun sudah dari awal diperkenalkan riwayat Arok yang katanya anak pungut yang ditemukan di area kuburan sampai Arok meninggal karena ditikam anak tirinya, Anusapati. Sedangkan dalam novel setebal 553 halaman, hanya memuat kisah perjalanan politik jatuhnya Akuwu Tumapel! Sungguh perbedaan yang sangat jauh sekali saudara-saudara. Sayang, tidak ada Trilogi Arok-Dedes. Seandainya ada, mungkin kisahnya akan sampai saat Ken Arok mati ditikam anak tirinya. *Sayang, itu tidak mungkin terjadi*

Menurut cerita sejarah dari buku IPS dulu, kisah Arok-Dedes merupakan kisah mistik karena adanya kutukan keris Mpu Gandring yang mengatakan bahwa kelak Arok akan mati ditikam dengan keris buatannya serta anak-cucu keturunannya akan saling bunuh dengan keris tersebut. Namun, kenyataan pada novel Pak Pramoedya, saya tidak mendapati adanya kutukan tersebut. Yang saya dapati dalam novel ini justru pertarungan politik yang luar biasa menakjubkan sampai saya melongo.

Pertarungan politik macam apa?

Adu domba, siasat lempar batu sembunyi tangan, kemudian kelicikan Arok serta kepandaiannya dalam mengatur pasukan. Kepiawaian Pak Pramoedya dalam menyusun percaturan politik Tanah Tumapel membuat saya terkesima. Taktik yang sederhana tetapi tetap efektif untuk menjatuhkan lawan yaitu Adu Domba!

Bagi saya sebagai pembaca, bisa dibilang bahwa Arok adalah seorang pengkhianat, begitupula Ken Dedes, Permaisuri Tunggul Ametung, yang membantu Arok meloloskan rencana. Namun, jika ditelaah mengenai alasan Arok memberontak, pikiran saya berubah. Dia bukan penkhianat, dia adalah pahlawan! Pahlawan bagi Tumapel yang menderita dan tertindas karena kesewenang-wenangan Akuwu!

Roman Arok-Dedes ini dibuka dengan upacara pernikahan Ken Dedes dan Tunggul Ametung. Dedes yang masih belia, dipaksa untuk menikah dengan sang Akuwu yang usianya melebihi usia sang Ayah. Pak Pramoedya menceritakan gambaran pernikahan dengan dengan detail, yang mana pikiran saya sendiri tidak mampu untuk menggambarkan.

Quote:

Berdua mereka berdiri di depan peradun, mengawasi lembaran kapas yang tergelar di atas tilam. Sinar empat damar di setiap pojok bilik itu menerangi seluruh ruangan. Dan bayang-bayang hampir tiada. Tunggul Ametung menoleh pada dua orang wanita yang duduk bersimpuh di pintu. Mereka mengangkat sembah dan pergi, hilang di balik tabir berat potongan-potongan ranting bambu petung


Ini merupakan salah satu paragraf yang sulit saya imajinasikan. Saya tahu ini menggambarkan tempat, tapi saya tidak bisa jelas mendapat gambaran seperti apa wilayah itu.

Kemudian, cerita mengalir, mulai dari kehidupan Dedes di Istana, sampai akhirnya cerita memasuki babak baru, diperkenalkannya sang tokoh utama lain yaitu, Arok! Lagi-lagi, saya cuma bisa mengawang-awang saat menelaah cerita yang digambarkan.

Quote:

"Sebagai pribadi kau tak perlu mengetahuinya. Sebagai 'brahmana' muda kau wajib mendapat sepotong dua potong pengertian untuk dapat sampai sendiri pada keseluruhan. Matsiya-manuya-madya-mutra dalam kesatuan maithuna, itulah wabah sekarang ini yang dibawa oleh ajarannya. Yang memeluk Syiwa, yang Wisynu, apalagi yang Buddha sendiri, semua kena rambatannya. Hanya yang waspada juga tahu arti hidup dan mati."

"Sahaya, Bapa."

"Hidup yang berarti, dan mati lebih berarti lagi."


Itu adalah potongan percakapan antara Arok dan Dang Hyang Lohgawe, guru Arok. Saya kembali bengong saat membaca kalimat ini. Berusaha menelaah kata-kata penuh makna sang Guru dan, memang membutuhkan waktu untuk memahaminya. |\(._.")

Cerita ini bergulir perlahan-lahan, naik ke klimaks cerita, di mana akhirnya Tunggul Ametung seperti yang dikatakan sejarah pula, mati ditangan seorang lelaki bernama Kebo Ijo. Itu pun sebenarnya karena siasat Arok pula.

Roman Arok-Dedes karya Pak Pram ini memang bagus dan kental dengan siasat politik. Cara penggambaran beliau terhadap masyarakat Tumapel serta kehidupan masyarakat Hindu-Buddha jaman dulu pun menarik. Hanya saja, terkadang saya tak paham dengan penggambaran yang beliau ceritakan dalam novel ini. Selain itu, terkadang lontaran percakapan antar tokoh juga terlalu tinggi, membuat pikiran saya mengawang-awang nohope:

Satu kata untuk ending cerita ini, MEMUKAU!

Masing-masing karakter mengalami pendewasaan yang bisa diterima oleh logika pembaca (menurut saya). Terutama Dedes! Dia-lah tokoh utama yang menurut saya, awalnya lugu tetapi akhirnya terpengaruh dengan manisnya kekuasaan sebagai Permaisuri Tumapel.


Rate 4/5 untuk novel ini o
kura2berbikini - 01/10/2012 01:00 AM
#2060
SRC September 2012
Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

Judul : Anak-Anak Liar
Penulis : Enid Blyton
Penerbit : PT. Gramedia
Edisi : Soft Cover
Kategori : Fiksi Anak
Rilis : Cet. Kedua, Maret 1990
ISBN : 979-403-332-2
Tebal : 240 hlm

Don’t judge a book by its cover..
Begitulah pepatah yang seringkali kita dengar. Namun bagiku, pepatah itu tidak selalu berlaku. Desain cover, tema cover, penulisan judul buku, maupun permainan warna yang terangkum dalam cover adalah hal penting utama bagi saya. Seperti buku ini, Anak-Anak Liar. Covernya menggambarkan sekelompok anak dan juga seekor anjing yang sedang bermain bersama dengan riang gembira, sementara kelompok anak lainnya hanya menyaksikan kegiatan mereka dengan didampingin oleh seorang wanita. Mengapa kedua kelompok anak tersebut tidak bergabung bermain bersama, tertawa bahagia? Itulah hal pertama yang menjadi pertanyaan saya. Dominasi warna hijau untuk rerumputan dan pepohonan adalah hal kedua yang menarik minat saya, karena warna hijau memberikan nuansa kedamaian tersendiri bagi saya.

Ketertarikan saya berlanjut kepada sinopsis ceritanya. Di dalam buku ini, Enid Blyton sebagai penulis cerita yang sangat mencintai dunia anak dan petualangan ternyata mengisahkan tentang dua keluarga yang sangat berbeda karakteristiknya, yaitu Keluarga Carlton dan Keluarga Taggerty. Keluarga Carlton terdiri dari suami istri Carlton, dan ketiga anak mereka; John, Margery, dan Annett. Ketiga anak tersebut terbiasa untuk tampil rapi, memiliki sopan santun yang sangat baik, ketekunan, serta kasih sayang dan perlindungan. Sementara itu Keluarga Taggerty terdiri dari suami istri Taggerty, dan keempat anak mereka; Pat, Maureen, Biddy, dan si bayi Michael. Pat, Maureen, dan Biddy sangat bertolak belakang dibandingkan dengan anak-anak Keluarga Carlton. Mereka seringkali tampil kumal, kasar, tidak peduli dengan orang lain, serta liar.

Lalu apa jadinya ketika kedua keluarga tersebut tinggal bersebelahan? Apakah anak-anak Carlton akan menjadi liar seperti anak-anak Taggerty, atau justru anak-anak Taggerty yang kemudian berubah menjadi anak-anak penurut?

John, Margery, dan Annett awalnya sangat membenci anak-anak tetangga sebelah rumah mereka. Anak-anak keluarga Taggerty selalu bermain dengan suara berisik dan pakaian mereka kotor. Ibu Carlton tidak menyukai hal itu. Namun setelah beberapa waktu, ternyata Pak Carlton justru meminta anak-anaknya untuk mau berteman dengan Pat, Maureen, Biddy, dan Michael. Mau tak mau, John dan adik-adiknya pun menurut. Mereka mulai saling berkunjung dan ternyata mereka mulai menyukai menghabiskan waktu bersama. Apalagi rumah keluarga Taggerty sangat luas dan banyak tempat yang dapat dijadikan setting permainan mereka.

Namun lama-kelamaan, setelah mereka semakin akrab, kedekatan mereka saling mempengaruhi. Pat beberapa kali memarahi Annett yang sangat manja, senang pamer, dan pengadu. Annett pun akhirnya mulai menghilangkan kebiasaan itu. Pat juga mengajarkan John untuk melakukan permainan-permainan yang biasa dimainkan oleh anak laki-laki, seperti memanjat pohon, atau mengajak anjing berjalan-jalan. Meski demikian, ada beberapa hal dimana kedua kelompok anak tersebut tidak cocok. Anak keluarga Taggerty tidak pernah berdoa, Pat yang pemalas dan gemar berbohong, dan ketiganya tidak suka membantu orang tua.

Seperti pada umumnya, selalu ada klimaks dari sesuatu hal. Begitu pula yang terjadi pada cerita Anak-Anak Liar. Ibu Taggerty kecelakaan. Pat, Maureen, dan Biddy pun akhirnya menyadari keburukan watak dan kebiasaan mereka. Keluarga Carlton lah yang kemudian membantu anak-anak keluarga Taggerty untuk berubah menjadi anak-anak yang lebih baik perangainya.

Untuk kategori fiksi anak, saya memberi nilai 4,5/5 untuk buku ini. Enid Blyton mampu membuat saya membayangkan berbagai permainan menarik yang dilakukan oleh anak-anak dalam cerita ini, konflik-konflik yang biasa timbul di antara anak-anak, namun Ia juga mengajarkan kepada para pembacanya untuk menanamkan nilai-nilai yang baik ke dalam diri mereka dengan cara yang sangat cocok bagi kelompok usia anak.
Page 103 of 105 | ‹ First  < 98 99 100 101 102 103 104 105 > 
Home > CASCISCUS > BUKU new > Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu