BUKU new
Home > CASCISCUS > BUKU new > Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu
Total Views: 87632 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 98 of 105 | ‹ First  < 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 >  Last ›

daninoviandi - 28/08/2012 04:09 PM
#1941
Nasib mbak Kerani
     Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

Luar biasa!

Entah deh, apa yang harus saya lakukan kalau nemuin boss kaya gini. Stupid yang namanya stupid ya kok gak tanggung-tanggung. Baca sinopsis di belakang buku aja bikin mengerutkan kening. Level seorang bos masa nyuruh cuaca diurusin juga?! Ah, apa buku ini hanya dilebih-lebihkan ya? Yah, setidaknya, si mbak Kerani (si penulis, chaos @ work) bilang di bukunya kalau penderitaan dia ini memang paling memilukan. Dia bahkan bilang kalau ada yang merasa bossnya galak atau menyebalkan, orang itu merupakan orang rmalang kedua setelah si mbak kerani ini.

Dengan setting di negeri jiran Malaysia, kita disuguhi kosakata melayu dalam perbincangan yang disuguhkan oleh mbak kerani. Nah, mereka kan di Malaysia ya kerjanya, tapi si stupid boss ini orang Indonesia! Yang membingungkan lagi, si bos-orang-Indonesia ini justru malah menunjukkan kebegoannya di luar negeri, haduh, apa kata dunia ya??? Belum lagi, mbak kerani sebagai teman sesama orang Indonesia, lah ya wong bukannya dikasih gaji gede atau gimana, eeeh, ini mah malah diperlakukan sama aja kaya semua karyawan lainnya. Gaji kebanyakan ditunggak, bahkan kadangkala si mbak kerani ini nalangin dulu buat beli-beli kebutuhan perusahaan, parah bener deh.

Si mbak kerani sendiri nyebut boss-nya ini otaknya kurang center. Ah, sulit dibayangkan apabila saya punya boss yang kaya gini, ngeselinnya minta ampun, bikin geleng-geleng kepala sendiri. Bahkan kadang-kadang mikir juga, kok ada ya orang yang kaya gini? Kebiasaan si boss dodol yang paling menyebalkan tuh menurut saya setiap perjalanan naek mobil, cerewet dan sotoynya minta ampun, pengen sekali-kali nurunin tuh bos di pinggir jalan.

Yah, sabar aja deh buat mbak kerani, mudah-mudahan gajinya cepet dibayar sama si bos, biar gak memperpanjang terus kontraknya disana, dan keluar dari neraka dunia, hehehe. Terakhir, saya sangat bersyukur saya gak punya boss kaya gitu, mudah-mudahan jangan pernah deh, amit-amit, hiii...

By the way, buku ini ringan buat hiburan, boleh dibaca di kala suntuk dengan aktivitas sehari-hari, tapi sebaiknya jangan dibaca pas lagi kesel ama boss deh, bisa-bisa buku ini malah kaya Catcher in the Rye, menginspirasi buat membunuh, hiii... 4 bintang layak buat buku ini, seru!


Judul: My Stupid Boss #1
Penulis: Chaos @ Work
Penerbit: Gradien Mediatama
Tebal: 200 hal.
Terbit: 2009
Rate: 4/5
daninoviandi - 28/08/2012 05:24 PM
#1942
Kantor Baru si Boss
     Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

Buku kedua dari serial My Stupid Boss. Si Mbak kerani masih betah aja kerja di si boss macho ini. Eh, ternyata ada alasan khusus kenapa mbak kerani masih belum move on dari tempat ini. Guess what? Gajinya masih ditunggakin ama si boss gila!!! Haduh, makin parah aja nih boss kelakuannya, padahal sesama bangsa Indonesia lho.

Buku kedua ini bahasannya lebih terfokus, tidak seperti buku pertama yang cenderung tanpa tema. Jadi, tema global dari buku ini ialah: niat si Boss pindah kantor ke tempat yang baru. Ah, si boss ini kenapa baru kepikiran sekarang deh. Denger cerita dari mbak kerani, kantor lama kan udah bener-bener usang. AC aja yang nyala cuma di kantor si boss, di yang lain mah boro-boro. Bahkan, para karyawan lain harus bersiap-siap kalau sewaktu-waktu bangunan kantor ini rubuh saking usangnya bangunan kantor lama. Yah, untung aja si boss mau move on deh, tapi ya walaupun siap-siap move on, tetap aja kelakuan si boss ini bikin geleng-geleng kepala lagi. Mulai dari mbak kerani yang ketiban sial gara-gara si boss ngeliat bangunan kantor baru masih acak-acakan. Contohnya aja, banyak batu kerikil yang membuat si boss tersandung. Lah, ya namanya juga lagi ngebangun ya, pasti masih banyak barang-barang berserakan, nah ini malah ngomel ke si mbak kerani, katanya: “kamu harusnya mengawasi pembangunan bangunan baru ini, jangan sampai batu-batu kerikil berserakan seperti ini.” Ya jelas aja mbak kerani bengong, ini kan bukan tugas dia, makanya mbak kerani Cuma bisa berharap ada kursus buat sniper yang benar-benar instant.

Masih banyak kelakuan-kelakuan konyol si boss di buku ini. Tapi buku ini gak hanya tentang si boss, teman-teman mbak kerani yang udah nongol dari buku pertama, muncul lagi disini. Jadi ya sebaiknya ngurut dulu kalo mau baca, biar gak kebingungan. Tapi overall, gak bakal bingung lah baca buku ini, wong bukunya juga ringan kok. Tapi walaupun ringan, pesan buku ini tetap sampai, bagaimana kita bisa merasakan apa yang dialami oleh mbak kerani. Gemas, sebal, bahkan hingga ingin ikut mbak kerani kursus menjadi sniper, hehehe... sama deh seperti buku pertama, 4 bintang pas buat buku ini.


Judul: My Stupid Boss #2
Penulis: Chaos @ Work
Penerbit: Gradien Mediatama
Tebal: 240 hal.
Terbit: 2009
Rate: 4/5
dansus.06 - 29/08/2012 12:30 AM
#1943

Quote:
Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

JUDUL: Le Petit Prince (Pangeran Cilik)

PENULIS: Antoine de Saint-Exupery

PENERJEMAH: Henri Chambert-Loir

PENERBIT: Gramedia Pustaka Utama

KOVER: Softcover

ISBN: 978-979-22-7694-7

HARGA: Rp35.000,-


Quote:

Inilah buku yang sampai sekarang—saat saya menulis review ini—membuat saya heran dan bertanya-tanya. Buku ini memang kecil dan ringan—lha wong saya saja bisa menamatkannya dalam waktu sekitar dua jam, tapi saya tidak mampu benar-benar menangkap secara keseluruhan apa yang ingin disampaikan Monsieur Saint-Exupery kepada kita—para pembaca. Saya sendiri malah bingung mengkategorikan buku ini masuk ke dalam buku anak-anak atau malah buku untuk dewasa—meski di halaman persembahan Monsieur Saint-Exupery mempersembahkan buku ini untuk orang dewasa. Saya sih kemudian manut saja dengan pernyataan Monsieur Saint-Exupery tersebut karena saya yakin juga anak-anak tidak bakalan paham dengan isi buku ini. Apalagi buku ini juga masuk ke dalam daftar 1001 Books You Must Read before You Die—yang menurut saya malah merupakan deretan buku-buku yang lumayan bikin pusing pembacanya. D

Jujur saja buku ini memang buku yang nyaman dibaca. Ukuran font-nya cukup besar dan line spacing-nya lebar. Apalagi dalam buku ini juga disisipkan cukup banyak ilustrasi dari sang penulis sendiri—malah terkadang dalam satu halaman lebih banyak ilustrasi daripada tulisannya. Jadi tidak heran kalau kita dalam semenit bisa membalik beberapa halaman. Meski begitu memahami cerita dan menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh penulis dalam buku ini tidak semudah itu. Yang saya tahu sebelum membaca buku ini adalah buku ini mengajak kita berpikir dan berimajinasi tidak seperti biasanya. Contohnya adalah gambar/ilustrasi pertama yang ditampilkan dalam buku ini. Mungkin bagi orang dewasa pada umumnya gambar tersebut adalah gambar sebuah topi, tapi bagi imajinasi anak-anak—dan yang membikin gambar tersebut—gambar itu adalah gambar seekor ular yang memakan gajah! Dari buku ini saya juga dibuat tersentak ketika disuguhi fakta bahwa orang-orang dewasa lebih menyukai angka daripada imajinasi. Contohnya, jika kita—terutama anak kecil—bercerita tentang seorang teman baru para orang dewasa tidak akan menanyakan: Bagaimana nada suaranya? Permainan apa yang disukainya? Apa ia mengoleksi kupu-kupu? Alih-alih pertanyaan tersebut, mereka justru akan menanyakan: Berapa umurnya? Berapa saudaranya? Berapa berat badannya? Berapa gaji ayahnya? Contoh lainnya? Orang dewasa tidak akan dapat membayangkan jika kita bercerita seperti ini: "Aku melihat rumah yang bagus, dibuat dari batu bata merah muda dengan bunga kerenyam di jendela dan burung merpati di atapnya." Tapi ketika kita bercerita "Aku melihat rumah seharga 1 milyar rupiah." maka mereka akan langsung berseru "Wah, pasti rumah itu bagus sekali!"

Dan setelah menyelesaikan buku ini, harus saya akui imajinasi saya terbatas! Beberapa kali saya dibuat bingung dengan jalinan cerita buku ini. Bagi pembaca yang kurang bisa berimajinasi, buku ini mungkin terasa konyol ketika membaca kisah perjalanan Pangeran Cilik. Sekarang bayangkan saja planet yang besarnya cuma tiga langkah, masa rotasinya satu menit, lalu ada planet di mana kita bisa menyaksikan matahari terbenam sebanyak 43 kali. Nah! Agak-agak konyol, kan? Tapi, saya salut terhadap Monsieur Saint-Exupery karena mampu mengajak kita untuk berpikir dan berimajinasi dengan cara yang tidak biasa. Selain itu tidak ada yang sangat spesial dari buku ini.

RATE: 3/5
vidavacia - 29/08/2012 01:02 AM
#1944

^^
kok terbitan gramedia, tapi penterjemahnya beda ya? yg punya gw, penterjemahnya listiana srisanti, yg terkenal sebagai penterjemah harry potter. jadi penasaran, kalo dari nama penterjemahnya yg berbau prancis, kayaknya ini diterjemahkan dari bahasa aslinya deh think:

gw pernah bikin thread tentang le petit prince bbrp tahun yg lalu. gak tau kenapa dihapus \(

buku ini memang bukan untuk anak2 karena penuh simbol. pesan moralnya banyak. bbrp aja yg gw tangkep adalah:

- soal hubungan antara manusia. konsep "menjinakkan" paralel dengan pdkt. kalau kita sudah berhasil menjinakkan seseorang, bertanggung jawablah, jangan disia2kan, walaupun sifatnya sulit, nyebelin, penuntut (digambarkan oleh mawarnya pangeran kecil). btw, tentang si mawar juga ada bukunya waktu itu gw liat di kino ato aksara ya. ragu2 pengen beli, karena mahal. ini penampakannya:

Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

- tentang ilmuwan turki yg omongannya gak direken oleh dunia internasional. betapa manusia lebih melihat penampilan daripada isi >= judging the book by its cover.

- terus planet2 yg disinggahi pangeran kecil itu kan melambangkan sifat2 manusia. ada yg narsis, matre, gila kuasa, sok intelek, dll. begitu juga binatang2 yg ditemui pangeran kecil di bumi: rubah, ular..

- manusia berusaha menciptakan penemuan2 yg bisa menghemat waktu mereka. tapi setelah itu apa? mereka tetap diburu2 deadline dan tidak bisa santai menikmati hidup (go out and smell the roses). contoh yg jelas aja sekarang ini. gadget diciptakan kan untuk mendekatkan yg jauh, tapi sekarang kita lihat orang kalo ketemuan malah sibuk dengan gadget masing2 D

- little prince juga mengajarkan tanggung jawab dan komitmen pada pekerjaan melalui cerita baobabnya.

dst dst.
i love this book to death p

a perfect 5/5

edit:
ternyata bener dugaan gw matabelo:
pantesan judulnya beda: pangeran CILIK.
masak harus beli lagi sihh? capedes

Quote:

Henri Chambert-Loir adalah peneliti di Ecole Française d'Extrême-Orient sejak 1971. Beliau telah menerjemahkan ke dalam bahasa Prancis sekitar enam karya sastra Indonesia (antara lain Perjalanan Penganten karya Ajip Rosidi dan Para Priyayi karya Umar Kayam) dan menerjemahkan beberapa karya ilmiah Prancis ke dalam bahasa Indonesia (salah satunya Le Candi Sewu karya Jacques Dumarsay). Sadur, Sejarah Penerjemahan di Indonesia dan Malaysia adalah salah satu hasil penyuntingannya merangkum 65 karangan penulis Indonesia dan asing tentang terjemahan yang pernah dilakukan dari semua bahasa asing (Sanskerta, Parsi, Arab, Urdu, Tionghoa, Jepang, dan beberapa bahasa Eropa) ke dalam sembilan bahasa lokal (Jawa, Melayu, Sunda, Bali, Sasak, Aceh, Batak, Bugis, dan Makassar), dalam segala bidang, selama sepuluh abad (dari abad ke-9 semapai ke-20).
dansus.06 - 29/08/2012 08:58 AM
#1945

Quote:
Original Posted By vidavacia
^^
kok terbitan gramedia, tapi penterjemahnya beda ya? yg punya gw, penterjemahnya listiana srisanti, yg terkenal sebagai penterjemah harry potter. jadi penasaran, kalo dari nama penterjemahnya yg berbau prancis, kayaknya ini diterjemahkan dari bahasa aslinya deh think:

gw pernah bikin thread tentang le petit prince bbrp tahun yg lalu. gak tau kenapa dihapus \(

buku ini memang bukan untuk anak2 karena penuh simbol. pesan moralnya banyak. bbrp aja yg gw tangkep adalah:

- soal hubungan antara manusia. konsep "menjinakkan" paralel dengan pdkt. kalau kita sudah berhasil menjinakkan seseorang, bertanggung jawablah, jangan disia2kan, walaupun sifatnya sulit, nyebelin, penuntut (digambarkan oleh mawarnya pangeran kecil). btw, tentang si mawar juga ada bukunya waktu itu gw liat di kino ato aksara ya. ragu2 pengen beli, karena mahal. ini penampakannya:

Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

- tentang ilmuwan turki yg omongannya gak direken oleh dunia internasional. betapa manusia lebih melihat penampilan daripada isi >= judging the book by its cover.

- terus planet2 yg disinggahi pangeran kecil itu kan melambangkan sifat2 manusia. ada yg narsis, matre, gila kuasa, sok intelek, dll. begitu juga binatang2 yg ditemui pangeran kecil di bumi: rubah, ular..

- manusia berusaha menciptakan penemuan2 yg bisa menghemat waktu mereka. tapi setelah itu apa? mereka tetap diburu2 deadline dan tidak bisa santai menikmati hidup (go out and smell the roses). contoh yg jelas aja sekarang ini. gadget diciptakan kan untuk mendekatkan yg jauh, tapi sekarang kita lihat orang kalo ketemuan malah sibuk dengan gadget masing2 D

- little prince juga mengajarkan tanggung jawab dan komitmen pada pekerjaan melalui cerita baobabnya.

dst dst.
i love this book to death p

a perfect 5/5

edit:
ternyata bener dugaan gw matabelo:
pantesan judulnya beda: pangeran CILIK.
masak harus beli lagi sihh? capedes


woww...kalo dijelaskan terperinci begini mata saya jadi kebuka D
jadi inget juga cerita soal penemu asteroid dari turki itu.
kemaren pas nulis review itu sama sekali gak inget cz saking bingungnya D
mungkin kalo udah bisa nangkep maksudnya kaya gini saya juga ngasih rate 5/5 D
kayanya harus baca ulang lagi nih biar paham Yb

btw buku ini di bagian akhir ada KATEBELECE (gak tau artinya apa) dari penerjemah. Mr. Henri ini cerita kalo buku ini sebenernya direncanakan sbg cetakan ulang buku Pangeran Kecil terbitan Pustaka Jaya yg terbit tahun 1979 (yg diterjemahkan oleh 4 mahasiswi UI dan disunting oleh Wing Kardjo).
jadi niatnya Mr. Henri ingin merevisi dikit2 di beberapa bagian.
tapi kemudian beliau sadar bahwa dia tidak sedang merevisi, tapi merombak.
jadilah kemudian beliau menerjemahkan ulang dari versi aslinya, kemudian membandingkannya dengan hasil terbitan PJ untuk dilakukan beberapa penyesuaian.
tapi saya sendiri belum bisa mbandingin dengan yang versi terjemahannya Listiana Srisanti karena gak punya D. entah beda dengan ini yg versi ini atau tidak.
btw emang beda ya mbak arti kata CILIK dan KECIL dlm bahasa Prancis?

*sepertinya salah kamar nih kalo diskusi di sini. lebih pas kalo di trit 1001 D Yb
vidavacia - 29/08/2012 11:05 AM
#1946

Quote:
Original Posted By dansus.06
woww...kalo dijelaskan terperinci begini mata saya jadi kebuka D
jadi inget juga cerita soal penemu asteroid dari turki itu.
kemaren pas nulis review itu sama sekali gak inget cz saking bingungnya D
mungkin kalo udah bisa nangkep maksudnya kaya gini saya juga ngasih rate 5/5 D
kayanya harus baca ulang lagi nih biar paham Yb

btw buku ini di bagian akhir ada KATEBELECE (gak tau artinya apa) dari penerjemah. Mr. Henri ini cerita kalo buku ini sebenernya direncanakan sbg cetakan ulang buku Pangeran Kecil terbitan Pustaka Jaya yg terbit tahun 1979 (yg diterjemahkan oleh 4 mahasiswi UI dan disunting oleh Wing Kardjo).
jadi niatnya Mr. Henri ingin merevisi dikit2 di beberapa bagian.
tapi kemudian beliau sadar bahwa dia tidak sedang merevisi, tapi merombak.
jadilah kemudian beliau menerjemahkan ulang dari versi aslinya, kemudian membandingkannya dengan hasil terbitan PJ untuk dilakukan beberapa penyesuaian.
tapi saya sendiri belum bisa mbandingin dengan yang versi terjemahannya Listiana Srisanti karena gak punya D. entah beda dengan ini yg versi ini atau tidak.
btw emang beda ya mbak arti kata CILIK dan KECIL dlm bahasa Prancis?

*sepertinya salah kamar nih kalo diskusi di sini. lebih pas kalo di trit 1001 D Yb


KATABELECE? itu bukan artinya >rekomendasi contohnya kalo orang mau ngutang. #eh, bener gak sih?eek:

usul diterima. ayo lanjut diskusi di thread 1001 D
dansus.06 - 30/08/2012 12:19 AM
#1947

Quote:
Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

JUDUL: Nostradamus: The Complete Prophecies for The Future

PENULIS: Mario Reading

PENERJEMAH: Rahmani Astuti

PENERBIT: Imania

KOVER: Softcover

ISBN: 978-602-95607-8-7

HARGA: Rp86.000,- (karena dapat diskon jadinya cuma Rp19.780 Yb)


Quote:
Sebenarnya saya bingung juga mau menulis apa di review buku ini. Jujur saja ketika melihat judul buku ini ekspektasi saya sangat besar terhadap buku ini. Saya mengharapkan buku ini akan menjelaskan ramalan-ramalan yang pernah dikemukakan oleh Nostradamus secara mendetail—bahkan kalau perlu disertai dengan penjelasan-penjelasan dan bukti-bukti ilmiah. Apalagi tebal buku ini yang 471 halaman saya anggap cukup untuk mewakili ekspektasi saya tersebut. Tetapi, ketika saya menyelesaikan membaca buku ini ekspektasi saya tersebut hanya tinggal angan-angan.

Berikut penjelasannya....

Kalau dilihat dari judul buku ini, seharusnya buku ini menyajikan seluruh ramalan yang pernah dikemukakan Nostradamus secara lengkap. Well, hal itu memang sudah dilakukan buku ini. Meski saya sendiri kurang tahu apakah sudah lengkap dari A sampai Z apa belum. Tapi, setidaknya sudah cukup banyak—dan lengkap—karena ramalan untuk tahun 2001 sampai 7074 tersaji di sini. Cara penyajian ramalan-ramalan di buku ini adalah dibagi-bagi menurut kuatrain. Contohnya: September 2001; Subjek: Bencana Menara Kembar; Kuatrain 1/87; kemudian ditampilkan ramalan Nostradamus dalam bahasa Prancis yang bentuknya mirip-mirip dengan bait puisi, lalu diterjemahkan dan ditafsirkan.

Nah, sayangnya di buku ini dalam pendahuluannya tidak dijelaskan secara terperinci apa itu nomor kuatrain dan bagaimana sistematika pembagian nomor kuatrain tersebut dalam ramalan-ramalan Nostradamus. Kalau dari yang saya tangkap di pendahuluan buku ini ramalan Nostradamus itu terbagi dalam beberapa centuries—yang sepertinya untuk mewakili masing-masing abad yang diramal—dan masing-masing centuries tersebut disusun oleh kuatrain-kuatrain. Jika sistematikanya seperti itu seharusnya urutan nomor kuatrain di setiap tahun yang diramalkan berurutan, tapi kenyataannya masih banyak yang tidak berurutan dalam buku ini. Contohnya saya ambil Subjek Bencana Menara Kembar pada September 2001. Untuk subjek Bencana Menara Kembar I nomor kuatrainnya 1/87, tapi di subjek Bencana Menara Kembar II nomor kuatrainnya malah 10/49. Mungkin untuk hal ini terkesan sepele, tapi hal tersebut bisa membingungkan bagi pembaca yang masih awam—termasuk saya ini.

Selanjutnya penafsiran untuk setiap bait-bait ramalannya sendiri sangat singkat. Paling banyak cuma dua halaman dan sebagian besar hanya satu halaman. Harapan saya untuk disuguhi data-data dan penjelasan yang sedikit berbau ilmiah langsung lenyap tak berbekas. Oleh karena itu buku ini dapat saya selesaikan dalam waktu yang relatif cepat—dua hari saja. Lha wong bisa dibilang kita tidak perlu mikir dalam membaca buku ini. Meski begitu kita juga bisa sedikit belajar tentang kosakata-kosakata dalam bahasa Prancis dan beberapa hal tentang mitologi Romawi/Yunani dari penafsiran-penafsiran tersebut. Sebab Nostradamus ini suka sekali meramalkan sesuatu menggunakan permainan kata-kata dan menganalogikan sesuatu menggunakan tokoh, kisah, atau istilah dalam mitologi Romawi/Yunani.

Dan untuk tampilan buku, sebenarnya buku ini cukup menarik. Kover buku ini menurut saya dikemas dengan cukup menarik. Apalagi dengan judul yang cukup "wah" tersebut, pasti secara tak sadar akan membuat kita tertarik. Dan karena kover buku inilah ekspektasi yang telah saya sebutkan di awal tadi muncul. Sebagai tambahan pula, buku ini berat—berat dalam artian denotatif lho. Mungkin dikarenakan kertas yang digunakan buku ini sejenis dengan kertas HVS 80 gram. Dan secara keseluruhan buku ini bisa dibilang mengecewakan karena tidak sesuai ekspektasi saya dan saya dengan suksesnya "diperdaya" oleh kover yang menarik D. By the way, don’t judge the book by its cover. \)

RATE: 2/5
dansus.06 - 30/08/2012 07:51 PM
#1948

Quote:
Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

JUDUL: Passion! Ubah Hobi Jadi Duit

PENULIS: Dedy Dahlan

PENERBIT: Elex Media Komputindo

KOVER: Softcover

ISBN: 978-979-27-9506-6

HARGA: Rp37.800,-


Quote:
Buku-buku tentang langkah-langkah berbisnis dan entrepreneurship banyak bertebaran di luar sana. Tapi, jika Anda secara spesifik mencari buku yang memberikan langkah-langkah berbisnis yang sesuai dengan hobi dan passion Anda, buku inilah pilihannya. Dalam buku ini kita akan menemui beberapa kiat dari Dedy Dahlan untuk memulai bisnis/karier yang sesuai dengan passion kita. Kiat-kiat tersebut disampaikan secara runut dalam satu bab pendahuluan dan diikuti dengan tujuh bab materi dengan bahasa yang lugas, santai, dan mudah dipahami.

Di awal buku ini Dedy Dahlan akan mengajak kita merenung, sebenarnya apa sih impian finansial kita? Kalau kita menjawab ingin punya bisnis, buat apa sebenarnya punya bisnis sendiri? Nah, kalau kita ingin menjadi kaya dan punya banyak uang dengan memiliki bisnis sendiri maka di sini Dedy Dahlan akan membuka mata kita bahwa berbisnis itu bukan sekedar mengumpulkan kekayaan. Justru tujuan berbisnis itu bukan menjadi kayanya, tapi lebih ke menikmati setiap proses yang ada dan bagaimana kita menjalaninya dengan suka cita. Selain itu, Dedy Dahlan juga mengajarkan bahwa ada yang lebih penting daripada sekedar uang dalam berbisnis maupun berkarier, yaitu kepuasan pribadi atau emotional income! Sebab percuma saja kita memiliki uang segunung tapi tidak memiliki kepuasan emosional sama sekali. Inilah pondasi pertama yang disampaikan Dedy Dahlan pada kita, bahwa agar kita dalam melakukan sesuatu—entah itu dalam bekerja, berkarier, berbisnis—semuanya harus dilakukan dengan rasa suka cita. Dan jika kita melakukan sesuatu yang sesuai dengan passion kita otomatis kita akan melakukan hal tersebut dengan sepenuh hati dan suka cita. Inilah pentingnya passion!

Di bab selanjutnya Dedy Dahlan akan membantu kita bagaimana menentukan apa yang selama ini menjadi passion kita. Biasanya passion kita ini tidak jauh-jauh dari hobi kita. Setelah kita mengetahui passion kita, barulah kita diberikan opsi untuk memilih jalan sukses kita. Menurut Dedy Dahlan dalam berkarier/berbisnis ada tiga jalan sukses yang dapat ditempuh, yaitu Jalan Akademi, Jalan Profesional Mandiri, dan Jalan Bisnis. Jalan apa yang harus kita pilih dan bagaimana penerapannya dapat kita baca secara lengkap di bab kedua. Setelah itu kita harus memilih bidang pilihan yang paling sesuai dengan kita. Karena itu untuk benar-benar menekuni bidang pilihan kita, kita harus benar-benar mengenal siapa diri kita dan apa motivasi kita. Hal ini dibahas oleh Dedy Dahlan di bab ketiga. Terkadang pula kita masih ragu-ragu untuk merintis karier atau bisnis yang sesuai dengan passion kita karena tidak bisa meninggalkan pekerjaan lama kita. Kalaupun harus keluar dari pekerjaan tersebut untuk fokus pada merintis karier/bisnis, kita tidak akan mempunyai uang untuk memenuhi kebutuhan harian. Nah, masalah itu juga telah dipikirkan oleh Dedy Dahlan dan dikupas olehnya di bab keempat untuk memberi kita solusi masalah tersebut. Kemudian di bab-bab selanjutnya Dedy Dahlan menekankan pada kita bahwa mencari mentor untuk membimbing kita juga penting, dan yang terpenting lagi adalah bagaimana menerapkannya dalam tindakan nyata atau action!

Membaca buku ini seakan-akan kita mengobrol langsung dengan Dedy Dahlan. Bahasa yang digunakan benar-benar santai dan membumi, serta semuanya disampaikan tanpa adanya kesan menggurui. Meski ukuran font dalam buku ini mampu membuat kita memicingkan mata, tetapi gaya bahasa tersebut dan line spacing yang lebar menjadikan buku ini masih sangat enak dibaca. Dan yang paling penting—dan jarang ditemui di buku-buku bisnis atau entrepreneurship kebanyakan—Dedy Dahlan menekankan bahwa uang jangan dijadikan tujuan dalam berbisnis dan berkarier. Sebab jika kita berkarier atau berbisnis untuk uangnya saja maka kita akan mudah "dibeli". Karena itu berkarier/berbisnislah untuk kepuasan pribadi, untuk pendapatan emosional, maka tak ada seorang pun yang dapat "membeli" kita dan menghentikan langkah kita kecuali diri kita sendiri. Do what you love and the money will follow. Tanpa ragu-ragu lagi saya memberikan rating five star untuk buku ini menjadikannya salah satu kitab wajib entrepreneurship dalam hidup saya.

RATE: 5/5
daninoviandi - 31/08/2012 11:44 AM
#1949
Mau Jadi Pembunuh?
     Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu


Mengapa buku ini disukai para pembunuh?


Errr... Tulisan itu terpampang besar-besar di bagian belakang buku. Tanpa sinopsis apa-apa, hanya tulisan itu. Bikin penasaran? Sejujurnya, buat saya gak begitu buat penasaran ya. Maksudnya, saya gak beli buku ini gara-gara tulisan di belakang buku ini, boro-boro tahu ada tulisan kaya gitu, maklum, beli online, hehe... Ajaibnya, di buku yang saya beli ini, terselip uang seratus ribu rupiah milik dari pemiliknya yang terdahulu, padahal beli buku ini kalau dihitung-hitung yah, Cuma 15 ribu lah. Kenapa juga saya gak penasaran? Yah, udah dengar selentingan juga sih, kalau buku ini amat terkenal akibat peristiwa pembunuhan John Lennon, apalagi buku ini masuk list 1001 buku yang harus dibaca sebelum wafat, jadi ya dibeli gara-gara alasan masuk list 1001 itu, bukan gara-gara kenapa buku ini disukai pembunuh, hehe...

Oke, masuk ke isi buku. Ah, sumpah deh, sampai akhir buku tetap bingung. Apa sih yang bikin buku ini mempengaruhi orang buat membunuh? Dari isi buku ini aja gak ada kok adegan pembunuhan-pembunuhannya sama sekali. Err, walaupun ada, peristiwa pembunuhan yang terjadi HANYA di dalam alam pikiran Holden Caulfield. Ya, hanya di dalam pikiran. Malah saya berpendapat, si Holden ini kebanyakan berkhayal. Emang sih, dia memberontak dengan cara berkali-berkali keluar (atau dikeluarkan?) dari sekolahnya. Alasannya sih, dia gak tahan sama orang-orang munafik yang ada di sekolahnya. Tapi apa sebenarnya alasan dia dikeluarkan? Yah, dari peristiwa di buku ini yang menceritakan kenapa Holden dikeluarkan dari Pencey College, alasan dia dikeluarkan yaitu gara-gara dia tidak lulus hampir semua mata pelajaran! Bayangkan, dia hanya lulus di pelajaran Bahasa Inggris, apa seperti itu dapat dikatakan seorang pemberontak? Well, mungkin Holden memberontak dengan cara dia malas belajar dan masa bodoh pada sekolahnya, tapi tetap saja, menurut saya sangat konyol menjadikan hal itu sebagai alasan untuk menjadikan buku ini menginspirasi untuk membunuh orang!

Jadi, inti dari buku ini ialah tentang “petualangan” Holden Caufield yang dikeluarkan dari sekolah Pencey. Seharusnya, Holden mulai meninggalkan sekolah hari Rabu. Tetapi akibat dia telah begitu muak dengan situasi di Pencey (apalagi setelah teman sekamarnya, Stradlater, mengencani sahabat masa kecilnya, Jane), dia akhirnya minggat lebih awal, yaitu pada hari sabtu. Nah, yang dia lakukan ialah kembali ke kotanya, New York, tapi tidak kembali ke rumahnya. Dia menginap di hotel, dan memulai petualangannya sendiri di kota itu dengan berkeliling di kota New York. Berbagai kejadian unik dan liar ia alami, mulai dari nostalgia masa lalu, hingga kejadian saat ia menyewa jasa wanita panggilan. Sampai akhirnya, ia tak bisa menahan hasrat untuk bertemu dan curhat dengan adik kesayangannya, Phoebe. Ia pulang ke rumah dengan cara menyelinap pada akhirnya, dan menceritakan segalanya kepada Phoebe. Phoebe pulalah akhirnya yang menjadi obat untuk Holden dalam menatap masa depannya yang terlalu banyak dipenuhi oleh angan-angan.

Dari segi cerita, mungkin buku ini terkesan biasa. Yang membuat buku ini wah ialah pengaruhnya terhadap Chapman (pembunuh Lennon) dan kata-kata kasar yang banyak bertebaran di buku ini. Well, kata “sialan” mungkin tidak terdengar begitu kasar apabila di Indonesiakan. Entah, apakah “sialan” ini terjemahan dari “s**t” yang merupakan kata kasar di luar negeri sana. Sempat bertanya-tanya juga tentang definisi kasar disini, “ah, Cuma sialan doang,” pikir saya. Tapi semuanya berubah ketika buku mendekati akhir. Terjemahan bebas dari (mungkin) “F**k you”, sangat membuat tercengang apabila di Indonesiakan. Ah, silahkan baca sendiri apakah terjemahan yang terdapat di dalam buku ini. Tapi jujur saja, saya kaget kata ini ada di buku terjemahan seperti ini. Sampai akhirnya saya berpikir, wajar juga apabila dikatakan buku ini mengandung kata-kata kasar.

Dari segi judul, mungkin The Catcher in the Rye ini agak membingungkan. Saya belum menangkap arti sebenarnya dari buku ini. Tetapi setelah membuka halaman 165 dari buku ini, agak terjawab juga darimana judul buku ini. Ini merupakan senandung dari seorang anak yang Holden temui di sekitar Broadway. Anak itu bersenandung: “ kalau ada yang datang dari ladang gandum untuk menangkap seseorang”. Ah, masih gak ngerti juga kenapa senandung anak ini begitu penting sehingga dijadikan judul buku.

Akhirnya, menurut saya, walaupun dari segi cerita agak biasa saja. Kehebohan dan keterkenalan buku inilah yang layak menjadikan buku ini masuk list 1001 buku yang mesti dibaca sebelum wafat. Coba saja sebut “The Catcher in the Rye”, setidaknya banyak orang yang tahu dan mengaitkan buku ini dengan kematian John Lennon. Tetapi yah, tetap saja gak ngerti apa yang bikin buku ini bisa bikin orang membunuh. Rata-rata bintang aja deh buat buku ini, 3 bintang cukup.


Judul: The Catcher in the Rye
Penulis: J.D. Salinger
Penerbit: Banana
Terbit: Juli 2007
Tebal: 300 hal.
Rate: 3/5
daninoviandi - 31/08/2012 05:45 PM
#1950
Arti Sebuah Koma
     Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

Ibuk,

Perjalanan kehidupan sebuah keluarga. Berawal dari seorang ibuk yang melahirkan seorang ibuk lainnya. Ibuk yang menjadi tokoh utama di dalam buku ini. Ibuk yang tidak lulus SD. Ibuk yang membantu ibuk-nya berjualan di pasar. Ibuk yang pemalu, tidak gemar bergaul. Ibuk yang akhirnya dipersunting oleh seorang kenek angkot. Ibuk yang nantinya melahirkan lima orang buah hati. Ibuk yang berambisi membuat anak-anaknya “mengalahkan” dirinya yang SD saja tidak lulus. Ibuk yang beambisi mengalahkan kesulitan dan kemiskinan hidupnya demi ambisinya tersebut.

Tampillah Bayek. Anak laki-laki satu-satunya dari ibuk. Anak yang diharapkan oleh bapak untuk mewariskan pekerjaannya dalam menyetir angkot untuk mencari nafkah. Anak yang setiap kakaknya dibelikan sesuatu oleh ibuk selalu ikut merengek merajuk meminta dibelikan hal yang sama. Anak yang diramalkan oleh orang pintar bakal merubah nasib keluarga ibuk. Anak yang bahkan masih minta ditunggu oleh ibuk ketika telah bersekolah SD. Anak yang akhirnya “mengalahkan” sang ibuk, bersekolah hingga merantau jauhnya ke kota Bogor, Jakarta, hingga New York. Tetapi hati Bayek tetaplah berada di kampung halamannya, Batu, Malang. Tempat kelahirannya, tempat tinggal keluarga besarnya, tempat tinggal ibuk, pahlawannya.

***

Masih bercerita tentang kehidupan sang penulis. Kali ini (untungnya), penulis tidak mengambil sudut pandang seorang anak kecil seperti di buku pertamanya. Buku yang sebenarnya (cmiiw) merupakan kisah hidup si penulis dan keluarganya, namun tetap dikategorikan fiksi oleh penerbit. Mungkin dengan pertimbangan ada beberapa hal yang agak disamarkan disini. Seperti si penulis sendiri, beliau menyebut dirinya Bayek di buku ini. Entah apa arti dari kata Bayek sendiri, namun yang jelas, lewat Bayek ini, penulis secara apik menceritakan kehidupannya secara lugas, dan terkesan apa adanya. Mulai dari kisah pertemuan ibuk dan bapaknya, hingga perjuangannya ketika hidup di luar negeri, kota big apple, berjauhan dengan keluarganya di kota apel.

Kali ini penulis menekankan bagaimana kisah dan perjuangan orang tua, terutama ibuk, dalam menghidupi keluarganya. Lima anak tidak menghalangi niat ibuk untuk memenuhi ambisinya. Jatuh bangun keluarga ini terlihat jelas disini. Nasib berubah gara-gara anak lelaki mereka, ya, si penulis ini, Mas Iwan Setyawan. Buku ini seolah-olah merupakan suplemen dari buku 9 Summers 10 Autumns yang ditulis oleh ia juga, namun lebih lengkap bercerita tentang keluarga, dan update kehidupan si penulis.

Buku ini sangat mengingatkan pada ibuk. Tidak hanya ibuk sebenarnya, kejadian yang menimpa bapak di akhir-akhir buku juga mengingatkan saya kepada bapak, sungguh sangat menyentuh. Saya juga dapat merasakan kesedihan si penulis ketika menulis bagian tentang bapak ini. Ada yang unik dari judul buku ini: “Ibuk,” ya, ibuk dengan koma di belakangnya, unik. Saya sempat bertanya-tanya, dan saya belum menemukan jawabannya, apakah ini disengaja ataukah tidak. Tetapi, pendapat pribadi saya mengatakan, mengapa judulnya memakai koma, ialah karena, kisah ibuk masih berlanjut terus, belum sampai titik. Seperti juga kasih sayang setiap orang ibuk di belahan dunia manapun kepada anak dan keluarganya, terus berlanjut, seperti koma, dan tidak akan berakhir, seperti titik. Begitu juga mama saya :”). I love you mom.


Judul: Ibuk,
Penulis: Iwan Setyawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juni 2012
Tebal: 291 hal.
Rate: 4/5
Izunayuma - 31/08/2012 10:25 PM
#1951
SRC 2012 - Agustus
Perawan – perawan Pemburu Unicorn

RAMPANT

Spoiler for COVER
Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu


PENULIS : DIANA PETERFREUND
PENERBIT : VIOLET BOOKS (PT. GRAMEDIA WIDIASARANA INDONESIA)
JUMLAH HALAMAN : 383
TAHUN TERBIT : 2011


Quote:
Astrid Llewelyn hanya ingin hidup normal. Ia bosan dianggap aneh oleh teman – temannya hanya karena tidak memiliki kekasih selama bersekolah di SMA. Mendekati prom night, tanpa disangka – sangka seorang lelaki yang banyak diidolakan oleh teman – teman wanitanya, memintanya untuk menjadi kekasih. Hati Astrid melambung tinggi, seorang Brandt Ellison yang tampan dan terkenal menjadi kekasihnya.

Tapi kebahagiannya tidak berlangsung lama. Suatu malam, saat sedang berduaan dengan Brandt di tepi hutan, Brandt diserang seekor hewan buas dan terluka parah. Brandt berhasil diselamatkan, tapi hidup Astrid tidak akan pernah sama lagi. Cerita – cerita yang selama ini ia anggap dongeng belaka, ternyata nyata. Hewan buas yang menyerang Brandt adalah seekor unicorn, hewan yang selama ini selalu ia dengar ceritanya sedari kecil. Selama ini ia menganggap ibunya berbohong dan hanya mengarang – ngarang semua cerita tentang unicorn. Cerita bahwa mereka adalah keturunan pemburu unicorn yang legendaris.

Kini, unicorn – unicorn itu telah kembali, dan Lilith, ibu Astrid, memerintahkan Astrid masuk biara untuk pelatihan pemburu unicorn, yang biasa disebut The Cloisters of Ctesias di Roma, Italia. Tentu saja awalnya Astrid menolak dengan keras, tapi ibunya terlalu keras kepala untuk dibantah dan akhirnya dengan terpaksa Astrid setuju untuk pergi ke Roma.

Biara yang dimaksud ternyata adalah bangunan kuno yang mengalami kerusakan disana-sini. Di biara tersebut, Astrid berkenalan dengan Cory, seorang pemburu unicorn juga seperti dirinya dan pamannya Neil yang menjadi pengurus biara. Dan ternyata ada tujuh lagi pemburu unicorn yang akan tinggal di biara tersebut. Astrid juga berkenalan dengan seorang pemuda misterius bernama Giovanni saat berjalan – jalan ke Piazza Navona, sebuah plaza di Roma.

Seperti apa serunya kehidupan Astrid dan teman –temannya di biara? Siapa sebenarnya Giovanni?

***

Awalnya saya ragu bisa menyelesaikan membaca buku ini. Paragraf pembukanya agak sulit dimengerti. Mungkin kapasitas otak saya yang kurang memadai. Tapi saya paksakan membaca dan terus membaca, dan ternyata setelah memasuki halaman 70, saya mulai memahami jalan cerita buku ini. Meskipun ada beberapa nama tokoh dan istilah yang pengucapannya cukup sulit, tapi tetap tidak mengurangi keseruan buku ini.

Alur yang digunakan adalah maju dan sesekali mundur. Seperti saat Astrid mendapatkan penglihatan tentang peperangan antara nenek moyangnya dan unicorn. Penggambaran sosok unicorn sangat detail dan jelas, meski saya tetap agak kesulitan menggambarnya di otak saya. Yang paling seru adalah aksi dari sembilan gadis pemburu tersebut. Dengan bersenjatakan busur panah, pisau, dan pedang, mereka memburu unicorn – unicorn jahat yang berkeliaran di sekitar mereka. Syarat untuk menjadi pemburu adalah mereka harus tetap perawan. Dan perjuangan mereka mempertahankan keperawanannya menjadi bumbu novel ini.

Diana Peterfreund, sang penulis Rampant, terkesan sangat menguasai tema tentang unicorn. Hal itu ternyata adalah hasil riset yang mendalam tentang hewan mistis ini. Diana sampai menjelajahi Italia, pergi ke makam – makam tua, dan mencoba olahraga memanah untuk mengetahui rasanya membidikkan panah. Tapi Diana bukan spesialis buku bergenre fantasy, karena ternyata ada karyanya yang masuk kategori non-fiksi.

Seandainya buku ini difilmkan pasti akan seru sekali. Bersetting kota Roma yang indah dan romantis. Oh iya, ada beberapa kalimat yang cukup vulgar di dalam buku ini, sehingga saya tidak menyarankan buku ini untuk dibaca orang yang usianya dibawah 17 tahun. Untuk yang sudah berusia 17 tahun keatas dan suka dengan genre fantasy, saya rekomendasikan untuk membaca buku ini.

Rate 4 / 5
dansus.06 - 31/08/2012 10:44 PM
#1952
SRC Agustus 2012
Quote:
Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

JUDUL: Ronggeng Dukuh Paruk

PENULIS: Ahmad Tohari

PENERBIT: Gramedia Pustaka Utama

EDISI: Softcover

ISBN: 978-979-22-7728-9

HARGA: Rp65.000,-


Quote:
Sudah lama Dukuh Paruk tidak memiliki seorang ronggeng. Dan keadaan itu langsung berubah ketika Srintil didaulat menjadi ronggeng baru dukuh tersebut. Seluruh warga Dukuh Paruk bersuka cita. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Rasus. Didaulatnya Srintil menjadi ronggeng membuat Rasus semakin sulit untuk menyatakan cintanya kepada Srintil. Dan bagi Srintil, keputusannya menjadi ronggeng membawanya ke dalam kehidupan yang penuh lika-liku. Mulai dari manisnya menikmati kekayaan dan ketenaran dalam hidup hingga pahitnya hidup akibat huru-hara politik di dukuh tersebut yang selalu membuatnya trauma....


Begitu menerima buku ini di rumah, saya agak terkejut dengan penampilan ukuran buku ini yang tampak melebar (21 x 15 cm). Padahal sebelumnya tidak tampak seperti itu ketika masih menaksir-naksir buku ini di toko buku. Penampilan tersebut membuat buku ini sedikit berbeda dari ukuran dimensi novel kebanyakan. Selanjutnya untuk kover buku ini saya harus jujur bahwa saya tidak menyukainya. Kenapa? Karena kovernya diambil dari film yang diadaptasi dari buku ini, yaitu Sang Penari. Dari dulu saya memang tidak suka dengan kover buku yang diambil dari filmnya karena menurut saya itu tidak kreatif. Bagi saya kover untuk buku ya harus didesain tersendiri tanpa diembel-embeli sedikit cuplikan dari filmnya. Lagipula versi film kan biasanya datang belakangan. Saya justru lebih suka kover edisi sebelumnya—yang bergambar seorang ronggeng sedang menari dengan latar belakang berwarna oranye. Kover tersebut justru lebih tepat sasaran dan menggambarkan isi buku ini. Sangat disayangkan edisi tersebut sudah jarang ditemui di toko buku sehingga saya pun "terpaksa" membeli edisi ini.

Selanjutnya saya ingin membuktikan apa yang sering diucapkan di forum tentang ukuran font dan line spacing buku ini—yang katanya kecil-kecil dan cukup rapat. Ketika saya mulai membolak-balik buku ini hal tersebut memang benar. Apalagi margin di kanan, kiri, atas, bawah juga tidak lebar-lebar amat. Lengkap sudah syarat yang harus dipenuhi buku ini untuk disebut buku yang "padat". Spesifikasi-spesifikasi tersebut cukup membuat saya ciut nyali untuk membaca buku ini. Ditambah dengan durasi masing-masing bab dalam buku ini yang cukup panjang—rata-rata di atas dua puluh halaman—membuat buku ini tampak semakin "menyeramkan" untuk dibaca.

Namun, semua itu langsung sirna ketika saya mulai membaca buku ini. Buku ini memang lebih banyak narasi daripada dialognya, tetapi narasi yang disajikan oleh Ahmad Tohari sangat menarik minat saya sehingga buku ini tidak terasa membosankan. Ahmad Tohari dengan sempurna mampu menggambarkan suasana pedesaan dengan sangat detail dan latar belakang masyarakatnya yang sangat menciri di pedesaan. Salah satu gambarannya bisa kita lihat di cuplikan paragraf berikut: Sepasang burung bangau melayang meniti angin, berputar-putar tinggi di langit. Tanpa sekali pun mengepak sayap, mereka mengapung berjam-jam lamanya. Suaranya melengking seperti keluhan panjang. .... Sawah berubah menjadi menjadi padang kering berwarna kelabu. Segala jenis rumput, mati. Yang menjadi bercak-bercak hijau di sana-sini adalah kerokot, sajian alam bagi berbagai jenis belalang dan jangkrik. Tumbuhan jenis kaktus ini justru hanya muncul di sawah sewaktu kemarau berjaya [halaman 9]. Narasi seperti itu hanya bisa ditulis oleh seorang pengamat yang luar biasa. Narasi-narasi yang ada di paragraf-paragraf selanjutnya semakin menegaskan kemampuan Ahmad Tohari tersebut. Kondisi sosial-budaya pedesaan pun mampu digambarkan dengan apik oleh Ahmad Tohari lewat kombinasi narasi dan dialog dalam setiap paragraf. Terutama yang menarik saya adalah keluguan khas orang desa dari warga Dukuh Paruk ketika berinteraksi dan berdialog dengan orang kota yang, bisa dibilang, sedang berkampanye politik [halaman 183]. Saya hanya bisa tersenyum-senyum dan geleng-geleng kepala membaca bagian tersebut karena mengingatkan saya pada pekerjaan saya yang setiap harinya mengharuskan berinteraksi dengan masyarakat desa. Maka tak heran pula jika Ahmad Tohari menyisipkan beberapa kata, frasa, tembang, dan makian dalam bahasa Jawa pada narasi dan dialog agar kita juga ikut merasakan bahwa "Ya, seperti inilah hidup di pedesaan Jawa." Khusus untuk makian-makian dalam bahasa Jawa yang ditampilkan Ahmad Tohari di buku ini, harus saya akui sebagian besar sangat kasar. Tidak disensornya makian-makian tersebut menjadikan buku ini buku yang cukup vulgar dan dikhususkan ke pembaca yang sudah berumur.

Buku ini merupakan penyatuan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk/Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Karenanya dalam buku ini terbagi menjadi tiga bagian yang sesuai dengan judul-judul tersebut. Tokoh utama cerita sudah pasti sang ronggeng sendiri, Srintil. Kemudian Rasus yang sejak anak-anak memendam cinta pada Srintil, suami-istri Kartareja yang merupakan dukun ronggeng di Dukuh Paruk, dan Sakarya yang merupakan kamitua Dukuh Paruk sekaligus kakek Srintil. Dari segi cerita, alurnya sedang-sedang saja dan plot yang ditampilkan runut dan tidak banyak melompat-lompat. Kalaupun ada plot yang sedikit "melenceng" maka kita tidak begitu kesulitan menebak ke mana arah plot tersebut dan untuk apa plot tersebut ditampilkan. Yang menarik adalah sudut pandang bercerita yang disajikan Ahmad Tohari. Di bab pertama bagian pertama kita akan membaca cerita dari sudut pandang orang ketiga, tetapi mulai bab kedua hingga akhir bagian pertama kita akan membaca cerita dari sudut pandang Rasus. Entah apa maksud Ahmad Tohari melakukan hal tersebut. Tetapi, menurut saya hal tersebut bagus karena bisa saja dimaksudkan agar kita turut merasakan emosi Rasus bagaimana ia harus memendam cinta pada Srintil dan harus menerima fakta bahwa Srintil sering diperlakukan tidak senonoh ("dijual", dicolek pipi dan pinggulnya, diteriaki teriakan-teriakan cabul) karena Srintil adalah seorang ronggeng dan dia adalah milik umum. Dan mulai bagian kedua hingga ketiga sudut pandang kembali lagi menjadi orang ketiga—kecuali mulai halaman 387 hingga akhir, sudut pandang kembali ke Rasus.

Bagian menarik lain buku ini adalah adanya unsur-unsur dan peristiwa politis yang ditampilkan dalam cerita. Setting cerita buku ini sebagian besar ada di sekitar tahun 1960-an yang kita tahu di masa tersebut ada satu peristiwa yang sangat terkenal di negeri ini, yaitu G-30S/PKI. Hal itu mulai terasa ketika kelompok ronggeng mulai ditawari untuk tampil di acara—yang sepertinya kampanye—oleh kelompok yang saya terjemahkan sebagai PKI. Berhubung ronggeng merupakan seni rakyat maka PKI pun memanfaatkannya untuk menyuarakan suara politiknya lewat strategi politik kebudayaan. Apalagi PKI juga memiliki corong untuk menyuarakan hal tersebut, yaitu Lekra. Dan itu terlihat dengan dimodifikasinya beberapa tatacara pelaksanaan meronggeng untuk kepentingan politik PKI [halaman 226-230]. Maka tidak heran jika warga Dukuh Paruk juga dikonfrontasikan dengan kelompok yang disimbolkan caping hijau, yang sepertinya simbol dari pesantren/NU dan lembaga keseniannya, Lesbumi—yang pada zaman itu bersaing dengan Lekra untuk meraih hati masyarakat.

Saya harus memberikan sedikit bocoran di sini bahwa ending cerita buku ini sangat ironis. Pesan kehidupan yang paling mengena di buku ini justru saya dapatkan di bagian ending. Ending buku ini sesuai dengan filosofi kehidupan Sakarya, yaitu bahwa segala sesuatu berpasang-pasangan adanya, tak terkecuali sesuatu yang bernama kegembiraan. Pasangannya pastilah kesusahan [halaman 179]. Hal tersebut sangat sesuai dengan isi cerita dari awal hingga pertengahan yang isinya memang penuh dengan hura-hura dan kegembiraan. Di bagian akhir cerita ini pula kita dapat melihat bagaimana bentuk pengorbanan dan cinta tulus Rasus kepada Srintil. Karena itu memang tidak salah jika ending buku ini dibuat ironis dan menyedihkan oleh Ahmad Tohari. Inilah pesan kehidupan yang bisa kita ambil, bahwa kita jangan terlalu larut dalam kegembiraan karena bisa saja setelah itu kita terjerumus dalam kesedihan.

Secara keseluruhan buku ini adalah buku yang luar biasa—terlihat dari banyaknya hal yang saya bahas di atas dan panjangnya review ini. Kita dapat mengambil pelajaran moral dan kehidupan, sosial-budaya, serta sejarah dari buku ini. Jika bukan karena isinya yang luar biasa, saya tega memberikan rating bintang empat pada buku ini karena kovernya. Tapi, sepertinya pepatah don’t judge the book by its cover berlaku di sini. Karena itu review ini dan rating bintang lima adalah bentuk apresiasi tertinggi yang bisa saya lakukan terhadap karya Ahmad Tohari yang satu ini.

RATE: 5/5
after_dark - 31/08/2012 11:23 PM
#1953

SRC Agustus12

Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

Judul: The Reader (Sang Juru Baca)
Penulis: Bernhard Schlink
Penerbit: Elex Media Komputindo
Jumlah Halaman: 227

Sewaktu sedang berjalan jalan, penyakit kuning Michael Berg kambuh. Ia lalu ditolong oleh perempuan setengah baya bernama Hanna. Keesokan harinya, Michael Berg mengunjungi rumah Hanna. Ia bermaksud untuk mengucapkan terima kasih. Tapi kemudian terjadilah sesuatu, waktu ia tak sengaja melihat Hanna sedang memakai stocking, dan terlihat kakinya. Ia berumur lima belas tahun, dan masih lugu hingga ia langsung kabur keluar dari rumah Hanna.Tapi insiden pasang stocking itu telah begitu mengusik ketenangan hidupnya. Ia penasaran.
Begitulah kemudian ia mulai menemui Hanna lagi, dan tak butuh waktu lama hingga benih benih cinta mulai tumbuh di hati keduanya. Tapi ada sesuatu tentang Hanna yang tidak diketahui oleh Michael Berg.

Pertama kali melihat The Reader, saya langsung jatuh cinta pada covernya. Simple, tapi elegan, dalam balutan warna hitam dan putih. Sebuah buku yang terbuka, dengan sekuntum bunga mawar di atasnya. Buku yang terbuka, berarti sedang dibaca, dan ini tentu saja merujuk pada judul buku ini, The Reader, yang diterjemahkan menjadi Sang Juru Baca. Sementara sekuntum bunga mawar, menurut saya, menggambarkan dualisme makna cinta yang saling kontradiktif satu sama lain. Mahkota mawar sebagai simbol keindahan cinta, sementara durinya melambangkan rasa sakit yang menyertainya. Dan fakta bahwa buku ini termasuk dalam daftar 1001 Buku yang Harus Kau Baca Sebelum Mati, serta ingatan bahwa saya pernah sekali menonton filmnya di masa lalu( meski tak sampai selesai ) membuat saya tak ragu untuk membelinya.

Buku ini ternyata dibagi menjadi tiga bagian. Tiga bagian itu dibagi lagi menjadi beberapa bab. Dalam satu bab, hanya ada beberapa lembar halaman. Tak banyak. Hal itu seharusnya membuat buku ini mudah untuk dibaca, karena ini seperti memisah misah bagian buku menjadi kecil. Seperti memakan kue nastar rainbow (salah satu varian terbaru kue nastar) satu demi satu. Nikmat. Tentu saja, bagi orang yang biasa makan kue nastar langsung satu toples sekaligus, logika ini menjadi tidak valid.
Tapi ternyata kenikmatan itu tidaklah abadi. Memasuki bagian dua, saya tak lagi menikmati buku ini. Bab demi bab yang sedikit itu nyatanya terlalu melelahkan untuk dibaca. Ini karena Bernhard Schlink terlalu bertele tele dalam bercerita. Terlalu asik memainkan pemikiran pemikiran dari Michael Berg, hingga sampai pada titik ga-usah-mikir-gitu-juga-ga-ngaruh. Hal yang seharusnya selesai dalam satu dua kalimat, malah melebar kemana mana.
Ada kalanya hal ini cukup membantu untuk menciptakan chemistry ke dalam tokoh tokohnya, tapi apabila tidak dikerjakan dengan benar, yang terjadi malah sebaliknya. Untunglah, mendekati akhir cerita, saya kembali menemukan kenikmatan membaca buku ini terutama karena jalinan cerita yang tidak mudah untuk ditebak itu.
The Reader mulanya merujuk pada Michael Berg yang kerap membacakan sebuah novel kepada Hanna, sewaktu mereka sedang berdua. Namun maksud 'The Reader' ini semakin meluas ketika mendekati ending. Alasan mengapa Hanna kerap memintanya untuk membaca novel inilah yang kemudian menjadi kunci dari segala peristiwa yang terjadi.
Buku ini memang tidak mampu memberikan sesuatu yang mengesankan, sesuatu yang akan saya nikmati ketika sedang membaca, tapi saya lupakan setelahnya. Bahkan dengan aura muram yang biasanya sanggup untuk menyentuh hati itu. Ah ya, buku ini sebaiknya dijauhkan dalam jangkauan anak anak. Karena isinya sanggup untuk membikin orang berpikir yang tidak tidak, terutama pada bagian bagian awal. Dan bagi yang sudah membaca bukunya, dan ingin melihat imajinasinya menjadi kenyataan, maka tontonlah filmnya. Sebab The Reader telah diadaptasi menjadi sebuah film dengan judul yang sama, dan dibintangi oleh Kate Winslet.

Rating 3 of 5
CSdnadychi - 01/09/2012 12:24 AM
#1954
Jalan Menuju Kekuasaan
SRC 2012 - Bulan Agustus


Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

Judul: The Road to The Empire
Pengarang: Shinta Yudisia
Penerbit: Forum Lingkar Pena


Quote:

Takudar, Arghun, Buzun, adalah tiga putra Tuqluq Timur Khan, penguasa kekaisaran Mongolia, keturunan Jenghiz Khan. Setelah pembunuhan terhadap Kaisar dan permaisurinya, Takudar, Pangeran Kesatu yang juga pewaris sah tahta kekaisaran, menghilang. Arghun Khan, Pangeran Kedua naik menjadi Kaisar dengan konspirasi dan bantuan Albuqa Khan, orang kepercayaannya. Sementara Buzun, Pangeran Ketiga, tetap mengabdi di kekaisaran, tapi dengan rasa rindu dan penasaran terhadap hilangnya sang kakak, Takudar.

Arghun Khan menjadi Kaisar dengan semangat ekspansi untuk menguasai dunia, melanjutkan kebesaran leluhurnya, Jenghiz Khan. Ia bahkan berambisi menaklukkan Jerusalem. Namun, dalam gerakan penaklukan dan usaha meluaskan wilayah kekuasaan dengan ambisi yang begitu besar, selalu rakyat yang menjadi korban. Termasuk di dalamnya masyarakat Muslim, yang sejak Khalifah Rasyidin telah menyatu dengan bangsa Mongolia sebagai warga minoritas.

Bagi masyarakat Muslim Mongol, membiarkan gerakan ekspansi berarti juga menyiapkan kuburan massal. Tak ada pilihan, perlawanan harus dilakukan. Pada saat bersamaan, Pangeran Kesatu yang dalam pelariannya diselamatkan oleh orang-orang Muslim, telah kembali. Meski tersisih, menggelandang, dan tak punya kekuatan pasukan, menegakkan kembali kebenaran sejarah adalah sebuah hal yang niscaya. Bersama orang-orang Muslim, Baruji alias Takudar Muhammad Khan merencanakan perlawanan untuk merebut tahta. Buzun, Pangeran Ketiga pun berada dalam dilema. Haruskah ia memihak salah satu kakaknya?

Di sisi lain, perempuan-perempuan yang ada di sekeliling Arghun, Takudar, maupun Buzun, memainkan peran masing-masing. Almamuchi alias Uchatadara, gadis dari suku Tar Muleng yang selama ini setia menjadi pelayan Takudar. Urghana, putri Albuqa Khan yang mencintai Buzun, tapi harus menghadapi kekerasan hati Arghun, yang juga mencintainya. Selir Albuqa Khan, Han Shiang, yang licik. Juga Karadiza, gadis Muslim lugas dan pemberani.

Maka, intrik dan konspirasi politik pun bertabur dalam novel ini. Berbalut kisah heroisme dengan bumbu romantisme yang tak berlebihan.



"Aku berjanji menjadi seorang Muslim, usai cita-citaku mempersatukan mongolia tercapai." ujar Kaisar Tuqluq Timur Khan.

"Bagaimana jika kita terlalu tua dan tak sempat bertemu lagi?" sebersit khawatir menyergap Syaikh Jamaluddin.

"Kita harus saling mewariskan berita ini kepada masing-masing orang yang dapat dipercaya." jawab Kaisar.


Itulah percakapan pembuka dari Kaisar Tuqluq Timur Khan, Ayah dari Takudar, Arghun, dan Buzun, dengan Syaikh Jamaluddin, Ayah dari Rasyiduddin yang memiliki nama lain Salim. Keduanya berjanji untuk saling bertemu lagi dan sang Kaisar akan masuk Islam. Untuk menghapus kekhawatiran Syaikh Jamaluddin, sang Kaisar menunjuk putera Tertuanya, Takudar, untuk menjadi pewaris janji tersebut sedangkan Syaikh Jamaluddin menunjuk puteranya, Rasyiduddin, untuk menggantikannya membimbing Takudar dalam agama Islam.

The Road to The Empire, novel ini merupakan novel terakhir dari dua buah novel karya Shinta Yudisia yang berjudul Sebuah janji (buku pertama) dan The Lost Prince (buku kedua). Berbeda dari buku pertama dan kedua yang sampulnya agak kekanak-kanakan,

Quote:

Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu


Trilogi sebuah janji ini hanya bisa diungkapkan dalam satu kata, "EPIK!"

Kisah Takudar dibawakan Shinta Yudisia dengan mengalir dan jelas. Intrik-intrik politik diungkapkan secara terang-terangan antar tokoh, bagaimana mereka saling memaparkan rencana mereka untuk menjatuhkan musuh.

Arghun, adik pertama Takudar, yang kini menjadi Kaisar, menggantikan Ayahandanya yang terbunuh, memimpin mongolia dengan semena-mena. Puncaknya, lelaki itu menginginkan kejayaan masa lalu yang pernah dicapai leluhurnya, Jengis Khan, untuk mempersatukan timur dan barat di bawah panji-panji Mongolia. Bersama dengan para serdadunya, Arghun pun berangkat ke arah barat, ingin menundukkan sebuah kota suci yang menjadi tempat 3 agama yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi. Di perjalanan itulah, perang besar pun terjadi!

Penyampaian cerita Shinta Yudisia mengenai mongol ini benar-benar membuat saya melongo. Dia menggambarkan keindahan Istana-istana mongol, keindahan daerah Mongolia serta bagaimana cara para putri mongol berbusana dengan sangat detail dan mudah diimajinasikan. Sangat mengejutkan kalau pembuat novel ini adalah orang Indonesia.

Novel berlatarkan sejarah ini sangat nyaman untuk diikuti dari awal sampai akhir. Selain intrik politik yang serius di masing-masing pihak, Takudar, Arghun, Buzun, bahkan Jendral Arghun pula, romansa dalam cerita ini pun dikisahkan dengan baik sekalipun berakhir getir. Watak-watak antar tokoh, terutama orang-orang mongolia, digambarkan begitu tegas dan teguh pada apa yang telah diucapkan. Seperti Almamuchi, pelayan setia Takudar, yang telah berjanji pada Permaisuri Ilkhata untuk senatiasa menjaga Pangerannya sampai sang Pangeran siap.

Di akhir buku, terdapat sebuah halaman yang berisikan salinan surat Takudar Khan kepada Sultan Mesir saat dirinya meminta pertolongan untuk membantunya merebut lagi kekuasaaan di Mongolia. Pada akhir cerita, terdapat sebuah kata yang benar-benar berkesan bagi saya

""Orang-orang Mongolia selalu menepati janji sebab, mereka percaya Langit Biru melihat semua."

rate heart:heart:heart: heart: heart: untuk novel ini D
Zuko99 - 01/09/2012 12:28 AM
#1955
SRC Agustus 2012
Judul Buku : The Rainmaker
Penulis : John Grisham
Penerbit : Gramedia
744 hlm; 18 cm

Rate : 4/5

Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

Quote:
Rudy Baylor, mahasiswa semester terakhir fakultas hukum, diminta memberi nasihat bukum bagi sekelompok orang lanjut usia. Di situlah ia bertemu "klien" pertamanya Dot dan Buddy Black. Putra mereka, Donny Ray, menderita Leukimia, dan perusahaan asuransi menolak membayar biaya pengobatannya. Mulanya Rudy tidak begitu berminat dengan kasus ini, tapi kemudian ia menyadari ini merupakan masalah penipuan licik oleh sebuah perusahaan raksasa terhadap orang-orang lemah yang buta hukum. Ia pun tergerak untuk membantu. Tapi masalahnya ia belum lulus, tak punya uang dan pekerjaan, dan mesti menghadapi salah satu pengacara top serta perusahaan terkemuka di Amerika.



Awalnya sempet putus asa, ketika sekedar membolak-balik halaman buku. Khawatir buku ini berakhir (lagi) sebagai salah satu koleksi buku yang gak akan mampu saya tuntaskan membacanya. Akhh,... hurufnya kok kecil-kecil sekali, Times New Roman size 10 (apa 11, ntahlah, yang jelas bukan 12), dan tebal buku yang sampai 700-an halaman, rasanya beraaattt. Pasti bikin sakit mata kan? Apalagi dengan tema hukum yang diusung buku ini. Semakin bertambah kekhawatiran saya. Baru ini saya membaca buku fiksi bertema hukum. hammer:

Ehm,.. tapi, Para dewan juri yang tersohor, dan rekan reviewer yang sedang berlomba, saya persembahkan, pahlawan kita : Rudy Baylor dalam The Rainmaker.

Mahasiswa terakhir fakultas hukum, yang kemudian dikenal sebagai "Pengacara 50 juta dolar" ini telah mampu memikat saya untuk terus membaca kisahnya. Dituturkan dengan Rudy Baylor sendiri sebagai pencerita kisah ini, dan diawali dengan penderitaan-nya sebagai seorang Mahasiswa miskin bangkrut, yang dapat dikatakan ditelantarkan oleh Ibunya- bahkan setelah ayahnya meninggal, Ibunya merasa tidak harus membagi uang Asuransi yang besarnya cukup lumayan. Well, Kasihan sekali kau Rudy. Rasa iba saya terhadap Rudy makin menjadi, ketika kantor Pengacara yang seharusnya mempekerjakan Rudy, begitu dia lulus ujian Pengacara, malahan merger dengan sebuah Biro Hukum yang cukup besar-Trent & Brent, Biro Hukum ini, sekedar mewawancarai Rudy pun, rasanya mustahil. Jadi dapat dipastikan, Rudy Baylor mengawali karir Pengacaranya hampir sebagai pengangguran.

Namun, Rudy Baylor punya beberapa kasus, ketika dia memberikan nasihat hukum bagi sekelompok orang lanjut usia. Salah satunya adalah kasus yang melibatkan sebuah perusahaan asuransi besar, semula kasus ini tidak terlalu menarik minta Rudy, hanya saja kemudian, karna telah dicampakkan dengan semena-mena oleh perusahaan-perusahaan besar, dan dengan jiwa Pengacara sejati yang niat awalnya adalah untuk melayani masyarakat dan memberikan keadilan hukum bagi siapa saja. Rudy Baylor pun mendalami kasus ini dengan sepenuh jiwa raga. Apalagi ketika bertemu dengan Donny Ray yang sekarat. Rudy makin membenci perusahaan Asuransi besar pembohong itu, dan dengan kebenciannya dia menggempur mereka habis-habisan.

Jangan tanya bagaimana akhir dari buku ini, seluruh petualangan Rudy terangkai sistematis. Dengan alur bercerita maju, dan sedikit flash back mengenai masa lalu Rudy, serta tokoh lain yang terlibat dengannya. Tangan saya sampai basah berkeringat ketika membacanya, hanyut dengan ketegangan dan larut dalam intrik-intrik dunia Pengacara, yang ternyata di memphis sana tidak se-eksklusif kelihatannya. Dibuku ini Rudy menceritakan, bagaimana para pengacara bahkan harus mengais-ngais kasus lewat koran dan harus tega mendatangi (dan sedikit memaksa) korban kecelakaan yang sedang dirawat dirumah sakit untuk menandatangani Surat Kuasa penuntutan. Belum lagi soal suap-menyuap, rupanya ini hal biasa dalam dunia pengacara. Rudy merasa jengah, apalagi ketika ditugaskan di sebuah Rumah Sakit untuk "memancing" kasus. Tapi disinilah, dia kemudian bertemu dengan Mrs. Kelly Riker. Kisah cinta mereka merusak hampir keseluruhan buku, saya gak iba sama sekali dengan Mrs. Riker ini dengan kisah penganiayaan yang dialaminya. Apakah seharusnya saya iba? entahlah, tapi Mrs. Riker ini, kadang merusak konsentrasi Rudy ketika mati-matian memperjuangkan kasus keluarga Black. Apalagi ketika Rudy pergi meninggalkan Memphis dan kemasyurannya sebagai "Pengacara 50 juta dollar" dan Deck-Paralawyer (Profesi baru entah apa) yang sudah setia menemani petualangan Rudy- demi menyosongsong masa depan baru dengan Mrs. Riker, saya sampai meneteskan airmata, untuk Deck (semakin membenci Mrs. Riker dan kisah cinta konyol mereka). berdukas
Karna tanpa Rudy, Deck tidak akan mampu melanjutkan Kantor Pengacara yang sudah mereka bangun bersama, Deck bukan Pengacara. dia cuman paralawyer, dengan prestasi 6 kali gagal ujian Pengacara.

Entah lah apa maksud John Grisham menyelipkan kisah cinta ini, mungkin sebagai pemanis supaya ceritanya gak membosankan. Padahal point yang paling bikin bosan (menurut saya) justru kisah cinta mereka itu. Roman picisan. Tapi selain itu, keseluruhan cerita adalah adalah kisah petualangan yang akan memberikan kita pengalaman serta banyak pengetahuan baru, tidak hanya mengenai dunia hukum, tapi juga kesehatan. Istilah-istilah hukum dalam buku ini pun, dengan murah hati, dijelaskan oleh Rudy Baylor tanpa kesan menggurui, tidak membosankan sama sekali, karna dia cuman bercerita... Belum lagi mengenai Leukimia dan metode pengobatan cangkok tulang sum-sum, dijelaskan dengan sejelas-jelasnya tanpa kita merasa sedang membaca buku kesehatan (hal. 588-589). Hampir semua kalimat bikin berdebar, tersenyum dan bersedih. Saya pastikan emosi kita akan diaduk ketika membaca kisah petualangan Rudy Baylor.

Bagian Favorit saya tentu saja sidang kasus Black versus Great Benefit Insurance. Bagian tanya jawab Rudy dengan para saksi, dan lawan pengacaranya yang terkenal Leo F. Drummond, benar-benar bikin berdebar. Sempat membayangkan bagaimana kerennya kalau buku ini difilmkan.

Karna Buku ini memang Keren,... \)

Eh, soal rate yang tidak sempurna itu, selain kisah cinta yang mengganggu dan huruf-huruf yang teramat kecil, adalah ukuran panjang dan lebar buku ini. Terlalu kecil untuk ukuran buku setebal itu, sangat gak nyaman dipegang, apalagi ketika kita sampai disekitar pertengahan buku, susah dibuka, butuh tenaga, sehingga gak nyaman ketika dibaca sambil tiduran.
komet795 - 01/09/2012 12:28 AM
#1956
SRC Agustus 2012
Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

Judul Buku : Remember When

Author : Winna Efendi

Penerbit : Gagas Media

Tahun Terbit : 2011

Tebal : 252 Halaman

Harga : Rp34.400,00 (bukabukudotcom)


Ketika Kau dan Aku Jatuh Cinta...


Quote:
Pasti pernah denger soal cinta segitiga kan? Nah, kali ini Mbak Winna 'ngasih lihat' kita soal cinta segiempat! Wew kebayang kan gimana riweuhnya? Dua aja udah riweuh, eh terus ada lagi istilah cinta segitiga, lha ini malahan ada cinta segiempat! Maaakkk tuluuunnnggg! >,,<

Eits, tapi tenang...cerita di dalam novel remaja ini gak rumit untuk diikutin dan dipahamin kok. Bahkan saya udah bisa nebak akan jadi kayak gimana ending ceritanya, huehuehe namanya juga novel remaja buuu...genre romance pulaaa...typical.

Jadi, ini tuh cerita tentang kehidupan masa-masa SMA yang dilakoni oleh Moses, Adrian, Freya, dan Gia. Moses ini sahabatnya Adrian dari kecil. Sedangkan Freya itu sahabatnya Gia di sekolah. Di awal cerita, saya disuguhi prolog yang manis dan indah dari Winna Efendi. Dari sini, keliatan banget kualitas tulisannya Winna itu seperti apa. Singkat, jelas, tapi penuh makna!

Lanjuuut...

Moses sudah cukup lama menyimpan rasa buat Freya, cewek manis dan pinter, teman sebangkunya. Tapi, Moses yang dingin, kaku dan pemalu selalu gak kesulitan buat mengungkapkan perasaan yang sebenernya ke Freya. Beda dengan Moses (si ketua OSIS yang pemalu) Adrian, yang terkenal playboy dan populer di kalangan temen-temennya, akan secepetnya nembak Gia (cewek yang feminin banget), sasaran hatinya. Singkat cerita, mereka berdua akhirnya sukses jadian. Moses dengan Freya. Adrian dengan Gia.

Lho kok cepet banget alurnya? Kok udah jadian aja? Di mana bagian 'galau'nya? Hahaha! Awalnya saya mikir gitu. Di awal saya pikir tadinya akan dikisahkan gimana perjuangan dan kebodohan-kebodohan yang dilakukan seseorang kalo lagi ngejar pujaan hatinya. Tapi, saya ternyata ketipu -_-

Bukan itu yang Winna ingin jabarkan.

Semakin masuk ke dalam bab-bab selanjutnya, saya mulai paham konflik apa yang sebenernya sedang terjadi di antara Moses-Freya dan Adrian-Gia. Moses yang terlalu aktif organisasi dan sama sekali gak romantis, bukanlah cowok yang selama ini Freya impi-impikan. Freya merasa hubungan mereka terlalu datar. Kadang, Freya iri dengan sahabatnya, Gia, yang bisa pulang sekolah bareng sama pacarnya, Adrian. Sedangkan pacar Freya? Kayaknya lebih milih untuk sibuk di sekretariat OSIS.

Di satu sisi, Adrian merasa Gia tipe cewek yang biasa banget. Cantik sih, tapi selama mereka pacaran, Adrian merasa hubungan mereka gak ada gregetnya. Adrian mulai jenuh.

Dari sini, kayaknya ketebak yah bakal jadi kayak apa jalan ceritanya? Yup! Freya dan Adrian yang merasa sama-sama kesepian (dan belakangan baru diketahui bahwa mereka menyukai aliran musik yang sama!) akhirnya jadi saling suka. Tapi mereka merahasiakan soal 'rasa itu' kepada pasangannya masing-masing. Tapi, sejauh apapun Adrian dan Freya mencoba membuang 'rasa itu' jauh-jauh, mereka toh gak bisa membohongi perasaan mereka sendiri.

Nah lhooo...kira-kira mereka bakal kayak gimana nih ke depannya? Melakukan hubungan gelap, mengaku ke pasangan masing-masing... atau...??? Well, apapun itu, Winna mampu menuliskannya dengan ciamik dan bikin greget saya naik turun. Hehehe...

***

Ngeliyat plotnya sih majuuu terus pantang mundur. Dengan alur yang cepet banget di awal, tapi kemudian berubah menjadi tenang menghanyutkan memasuki pertengahan bab. Hal ini pastinya bikin emosi pembaca sukses teraduk-aduk. Novel ini dibagi jadi 5 bab, yang masing-masing bab menggambarkan fase-fase hidup yang mereka lewati. Di antaranya, ada bagian saat mereka jadian, bagian saat konflik itu sendiri terjadi, bagian saat kelulusan sekolah, dan 2 bab lainnya. Pembagian bab ini menurut saya lumayan membantu kita memetakan cerita.

Karena terdiri dari 4 tokoh utama, maka penulisan sudut pandang pun dibagi jadi 4. Dari sisi Moses, Freya, Gia, dan Adrian. Setiap kali pergantian sudut pandang, Winna memilih untuk mencantumkan nama tokohnya sebagai 'judul'. Pilihan yang tepat untuk novel dengan sudut pandang lebih dari satu tokoh utama. Bisa bayangin dong, yang tadinya mau rileks san santai baca novel remaja malah jadi dibikin mikir gara-gara bingung 'ini siapa sih yang lagi giliran bercerita?' huehuehe...

Satu lagi nilai plus novel ini yaitu kavernya! Setuju kan kalo saya bilang gambar di covernya elegan dan suasana romancenya kerasa banget? Terlihat simpel tapi berfilosofis. Menurut saya, kenapa kursi? Karena mungkin di kursi itu sepasang manusia akan berjumpa dan saling bertukar cerita sampai akhirnya timbul cinta. Tsaaah... yah itu sih pure kesimpulan saya sendiri, hehe... Well, apapun itu, kover berbahan doff ini sangat meneduhkan untuk dipandang (dan yang pasti sangat menjual!). Tak lupa seperti kebanyakan novel terbitan Gagas Media lainnya, selalu ada sinopsis cerita berupa sajak cinta yang membuat siapa saja yang membacanya jadi penasaran pengen mbaca isinya (setidaknya saya begitu p )

Mengenai font, kertas, dan berat bukunya, sangat nyaman banget buat dibawa ke mana-mana. Fontnya gak bikin capek, kertasnya lentur warna kecoklatan (sama sekali gak kaku), serta berbonus pembatas buku menjadi salah satu kelebihan tersendiri di buku ini.

Rate 4/5 untuk buku ini. Cukup bagus untuk ukuran cerita romance remaja. Yang mau atau sedang galau, sila baca... p
jackLuna - 02/09/2012 12:32 AM
#1957

Quote:
Original Posted By daninoviandi
Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

     Kumpulan cerita pendek, atau lebih tepatnya kumpulan pelajaran dan kisah para sahabat Nabi yang terjadi di masa setelah Nabi.

Walaupun buku ini tipis, banyak hal yang bisa kita dapat dari buku ini. Seperti misalnya mengapa dua buah lalat bisa membedakan nasib dua orang pria, hingga bagaimana caranya mencari teman sejati untukmu. Semua cerita ini dikemas dalam bahasa yang ringan khas Kang Abik. Buku ini memang buku islami, namun untuk non muslim juga saya kira bisa dibaca. Karena tidak ada unsur pemaksaan harus-masuk-Islam di buku ini. Tidak ada pula huruf-huruf Arab, sehingga bisa dibaca oleh semua orang. Ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits ditulis dalam bahasa Indonesia, dan juga berkaitan dengan isi kisah yang diceritakan, sehingga kisah-kisah yang diceritakan bisa menggugah hati.

So, Iqra, bacalah, gak akan rugi baca buku ini \)
Rate 4 of 5



gan apakah ini buku terbitan 2012 ya?? mnta pencerahannya D
mksh atas riviu nya D


Quote:
Original Posted By daninoviandi
     Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

Ibuk,

Perjalanan kehidupan sebuah keluarga. Berawal dari seorang ibuk yang melahirkan seorang ibuk lainnya. Ibuk yang menjadi tokoh utama di dalam buku ini. Ibuk yang tidak lulus SD. Ibuk yang membantu ibuk-nya berjualan di pasar. Ibuk yang pemalu, tidak gemar bergaul. Ibuk yang akhirnya dipersunting oleh seorang kenek angkot. Ibuk yang nantinya melahirkan lima orang buah hati. Ibuk yang berambisi membuat anak-anaknya “mengalahkan” dirinya yang SD saja tidak lulus. Ibuk yang beambisi mengalahkan kesulitan dan kemiskinan hidupnya demi ambisinya tersebut.

Tampillah Bayek. Anak laki-laki satu-satunya dari ibuk. Anak yang diharapkan oleh bapak untuk mewariskan pekerjaannya dalam menyetir angkot untuk mencari nafkah. Anak yang setiap kakaknya dibelikan sesuatu oleh ibuk selalu ikut merengek merajuk meminta dibelikan hal yang sama. Anak yang diramalkan oleh orang pintar bakal merubah nasib keluarga ibuk. Anak yang bahkan masih minta ditunggu oleh ibuk ketika telah bersekolah SD. Anak yang akhirnya “mengalahkan” sang ibuk, bersekolah hingga merantau jauhnya ke kota Bogor, Jakarta, hingga New York. Tetapi hati Bayek tetaplah berada di kampung halamannya, Batu, Malang. Tempat kelahirannya, tempat tinggal keluarga besarnya, tempat tinggal ibuk, pahlawannya.

***

Masih bercerita tentang kehidupan sang penulis. Kali ini (untungnya), penulis tidak mengambil sudut pandang seorang anak kecil seperti di buku pertamanya. Buku yang sebenarnya (cmiiw) merupakan kisah hidup si penulis dan keluarganya, namun tetap dikategorikan fiksi oleh penerbit. Mungkin dengan pertimbangan ada beberapa hal yang agak disamarkan disini. Seperti si penulis sendiri, beliau menyebut dirinya Bayek di buku ini. Entah apa arti dari kata Bayek sendiri, namun yang jelas, lewat Bayek ini, penulis secara apik menceritakan kehidupannya secara lugas, dan terkesan apa adanya. Mulai dari kisah pertemuan ibuk dan bapaknya, hingga perjuangannya ketika hidup di luar negeri, kota big apple, berjauhan dengan keluarganya di kota apel.

Kali ini penulis menekankan bagaimana kisah dan perjuangan orang tua, terutama ibuk, dalam menghidupi keluarganya. Lima anak tidak menghalangi niat ibuk untuk memenuhi ambisinya. Jatuh bangun keluarga ini terlihat jelas disini. Nasib berubah gara-gara anak lelaki mereka, ya, si penulis ini, Mas Iwan Setyawan. Buku ini seolah-olah merupakan suplemen dari buku 9 Summers 10 Autumns yang ditulis oleh ia juga, namun lebih lengkap bercerita tentang keluarga, dan update kehidupan si penulis.

Buku ini sangat mengingatkan pada ibuk. Tidak hanya ibuk sebenarnya, kejadian yang menimpa bapak di akhir-akhir buku juga mengingatkan saya kepada bapak, sungguh sangat menyentuh. Saya juga dapat merasakan kesedihan si penulis ketika menulis bagian tentang bapak ini. Ada yang unik dari judul buku ini: “Ibuk,” ya, ibuk dengan koma di belakangnya, unik. Saya sempat bertanya-tanya, dan saya belum menemukan jawabannya, apakah ini disengaja ataukah tidak. Tetapi, pendapat pribadi saya mengatakan, mengapa judulnya memakai koma, ialah karena, kisah ibuk masih berlanjut terus, belum sampai titik. Seperti juga kasih sayang setiap orang ibuk di belahan dunia manapun kepada anak dan keluarganya, terus berlanjut, seperti koma, dan tidak akan berakhir, seperti titik. Begitu juga mama saya :”). I love you mom.


Judul: Ibuk,
Penulis: Iwan Setyawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juni 2012
Tebal: 291 hal.
Rate: 4/5


sya jg tertarik ma buku ni gan,, kira2 haraganya brapa ya?
Zuko99 - 03/09/2012 02:57 AM
#1958
SRC September 2012
Judul Buku : Ayahku (Bukan) Pembohong
Penulis : Tere Liye (Darwis Darwis)
Penerbit : Gramedia
304 hlm; 20 cm

Rate : 4/5


Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu

Quote:
Danau Para Sufi
"Setelah lima tahun bekerja keras, hanya untuk memahami sebuah kebijaksanaan hidup sederhana, Ayah tahu jawabannya. Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup, Dam. Hakikat itu berasal dari hati kita sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar, membuat hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati yang datang dari luar hati kita. "
"Kalau kau punya hati yang lapang, hati yang dalam, mata air kebahagiaan itu akan mengucur deras. Tidak ada kesedihan yang bisa merusaknya, termasuk kesedihan karena cemburu, iri, atau dengki dengan kebahagiaan orang lain. Sebaliknya, kebahagiaan atas gelar hebat, pangkat tinggi, kekuasaan, harta benda, itu semua tidak akan menambah sedikit pun beningnya kebahagiaan yang kau miliki."


Kutipan yang saya ambil dari bagian-bagian akhir buku karya Bang Darwis kali ini, menurut saya merupakan rangkuman dari keseluruhan cerita yang tersaji dalam buku setebal 304 halaman ini. Mengajak pembaca untuk dapat memaknai hidup dengan kesederhanaan, lapang dada, bersyukur, dan bekerja keras, memang sudah menjadi misi Bang Darwis dalam setiap tulisan-tulisannya.

Sebelum sampai pada cerita "Danau Para Sufi" yang merupakan cerita terakhir yang diceritakan oleh Ayah Dam, kepadanya, jauh-jauh hari sebelumnya, saat Dam masih kecil, dan bahkan belum dapat berbicara, Ayahnya sudah menceritakan kisah-kisah petualangan dan membacakan buku-buku. Begitulah cara Ayah Dam, mencoba menanamkan kebaikan kepadanya. Dan harapan Ayah, sepertinya terpenuhi, Dam, tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, sopan kepada siapa saja, sabar, rajin, bahkan hampir semua kebaikan ada padanya. Ayah Dam, terkenal pula sebagai orang paling jujur dan dapat dipercaya. Hampir seluruh kota mengenalnya.

Hanya saja, ketika Ibunya wafat, Dam menimpakan semua kesedihan dan penyesalannya yang tidak sempat membawa Ibunya berobat kepada sang Ayah. Dam, merasa dikhianati, ketika Ayahnya berbohong, mengenai kondisi Ibunya yang sebenarnya sudah kritis. Dam mana tau, bahwa kondisi Ibunya sudah kritis bahkan sebelum melahirkannya. Ayah, menutupi semua, demi kebaikan Dam sendiri. Tapi Dam, justru menyalahkan sang Ayah, dan merasa Ayahnya tidak berusaha berbuat apapun untuk Ibunya.

Ketika sampai pada bagian kesalahpahaman Dam dengan Ayahnya ini, rasa-rasanya saya ingin menjerit. Berteriak di telinga Dam, atau menempeleng kepalanya sekalian, supaya dia bisa mengerti, bagaimana niat baik Ayahnya yang berbohong demi kebaikan. Hanya itu satu-satunya kebohongan Ayah, dan Dam berkesimpulan bahwa semua cerita-cerita Ayah selama ini adalah kebohongan-kebohongan lainnya. Dan mulai saat itu, Dam membenci cerita-cerita Ayahnya.

Fyuhhh,.. Ketika akhirnya selesai membaca buku ini. Saya benar-benar ingin sekali menempeleng Dam. Sebegitu kuatnya emosi saya terlibat dalam buku ini, sebegitu hebatnya Bang Darwis membuat cerita yang mampu melibatkan emosi kita ketika membaca bukunya. Sudah beberapa buku karya Darwis Tere Liye yang saya baca, dan hampir semua menguras airmata. Walau di bagian-bagian awal buku saya sempat tergelak-gelak, menertawai Dam yang berenang telanjang karna tali celana pendeknya putus ditengah kolam, atau olok-olokan antara dirinya dengan Jarjit, dan kelucuan-kelucuan serta kenakalan kisah masa kecil Dam lainnya. Namun, ketika tiba di bagian sepertiga akhir buku, awan mendung mulai menggantung, dan tanpa tertahankan airmata ini satu-satu, jatuh bercucuran.

Di bagian awal sejujurnya saya sempat bosan juga dengan kisah petualangan Ayah Dam, dan kesimpangsiuran kebenaran cerita-cerita yang pernah disampaikannya kepada Dam. Tapi seperti kata Dam kepada anak-anaknya, biarlah entah cerita itu benar atau tidak, Ayah hanya sedang mencoba menanamkan kebaikan dalam setiap ceritanya, saya pun lanjut membaca. Kemudian, buku ini menjadi rekor, salah satu buku yang tuntas saya baca dalam satu hari. D

Jalan cerita dalam buku ini seperti kerucut, pada mulanya bersisian antara kisah Dam pada masa lalu, dengan kisahnya pada saat ini. Namun diakhir, kisah masa lalu dan masa kini Dam menyatu, karna kisah masa lalu Dam, dirangkai dari masa yang paling lama ke masa yang paling kini. Layout buku ini asyik, pilihan huruf yang terangkai tidak terlalu kecil, dan dipisahkan dengan spasi 1,5 nyaman dimata saya.

Buku ini, sangat saya rekomendasikan, bagi siapa saja. Semua umur. Hanya pesan saya, jangan membaca buku ini (apalagi ketika memasuki bagian akhir) di tempat umum. Pilihan membaca di bis kota juga bukan pilihan yang baik. Rasanya gak enak dilihatin orang kiri-kanan, karna terisak-isak sendirian. Apalagi kenikmatan meresapi kesedihan itu, bakal kurang greget, karna suara nyanyian pengamen, deru Bis dan teriakan Kondektur. D
Ketika menyimpan buku ini di dalam tas, mungkin kita akan merasa seperti sedang membawa-bawa kitab mengenai pelajaran hidup yang amat berharga.

Dan, soal rate yang cuman 4 itu, terus terang saya ngerasa gak sreg dengan endingnya. Jadi yah, karna Bang Darwis pernah bilang dia gak akan bikin sekuel dari setiap buku yang ditulisnya, baiklah saya karang sendiri versi happy endingnya di kepala saya. \)

Kisah Danau Para Sufi itu cuman sebagian, bukan cerita utuh. Peace:
komet795 - 03/09/2012 09:36 AM
#1959

Quote:
Original Posted By Zuko99
Judul Buku : Ayahku (Bukan) Pembohong
Penulis : Tere Liye (Darwis Darwis)
Penerbit : Gramedia
304 hlm; 20 cm

Rate : 4/5


Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu



Kutipan yang saya ambil dari bagian-bagian akhir buku karya Bang Darwis kali ini, menurut saya merupakan rangkuman dari keseluruhan cerita yang tersaji dalam buku setebal 304 halaman ini. Mengajak pembaca untuk dapat memaknai hidup dengan kesederhanaan, lapang dada, bersyukur, dan bekerja keras, memang sudah menjadi misi Bang Darwis dalam setiap tulisan-tulisannya.

Sebelum sampai pada cerita "Danau Para Sufi" yang merupakan cerita terakhir yang diceritakan oleh Ayah Dam, kepadanya, jauh-jauh hari sebelumnya, saat Dam masih kecil, dan bahkan belum dapat berbicara, Ayahnya sudah menceritakan kisah-kisah petualangan dan membacakan buku-buku. Begitulah cara Ayah Dam, mencoba menanamkan kebaikan kepadanya. Dan harapan Ayah, sepertinya terpenuhi, Dam, tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, sopan kepada siapa saja, sabar, rajin, bahkan hampir semua kebaikan ada padanya. Ayah Dam, terkenal pula sebagai orang paling jujur dan dapat dipercaya. Hampir seluruh kota mengenalnya.

Hanya saja, ketika Ibunya wafat, Dam menimpakan semua kesedihan dan penyesalannya yang tidak sempat membawa Ibunya berobat kepada sang Ayah. Dam, merasa dikhianati, ketika Ayahnya berbohong, mengenai kondisi Ibunya yang sebenarnya sudah kritis. Dam mana tau, bahwa kondisi Ibunya sudah kritis bahkan sebelum melahirkannya. Ayah, menutupi semua, demi kebaikan Dam sendiri. Tapi Dam, justru menyalahkan sang Ayah, dan merasa Ayahnya tidak berusaha berbuat apapun untuk Ibunya.

Ketika sampai pada bagian kesalahpahaman Dam dengan Ayahnya ini, rasa-rasanya saya ingin menjerit. Berteriak di telinga Dam, atau menempeleng kepalanya sekalian, supaya dia bisa mengerti, bagaimana niat baik Ayahnya yang berbohong demi kebaikan. Hanya itu satu-satunya kebohongan Ayah, dan Dam berkesimpulan bahwa semua cerita-cerita Ayah selama ini adalah kebohongan-kebohongan lainnya. Dan mulai saat itu, Dam membenci cerita-cerita Ayahnya.

Fyuhhh,.. Ketika akhirnya selesai membaca buku ini. Saya benar-benar ingin sekali menempeleng Dam. Sebegitu kuatnya emosi saya terlibat dalam buku ini, sebegitu hebatnya Bang Darwis membuat cerita yang mampu melibatkan emosi kita ketika membaca bukunya. Sudah beberapa buku karya Darwis Tere Liye yang saya baca, dan hampir semua menguras airmata. Walau di bagian-bagian awal buku saya sempat tergelak-gelak, menertawai Dam yang berenang telanjang karna tali celana pendeknya putus ditengah kolam, atau olok-olokan antara dirinya dengan Jarjit, dan kelucuan-kelucuan serta kenakalan kisah masa kecil Dam lainnya. Namun, ketika tiba di bagian sepertiga akhir buku, awan mendung mulai menggantung, dan tanpa tertahankan airmata ini satu-satu, jatuh bercucuran.

Di bagian awal sejujurnya saya sempat bosan juga dengan kisah petualangan Ayah Dam, dan kesimpangsiuran kebenaran cerita-cerita yang pernah disampaikannya kepada Dam. Tapi seperti kata Dam kepada anak-anaknya, biarlah entah cerita itu benar atau tidak, Ayah hanya sedang mencoba menanamkan kebaikan dalam setiap ceritanya, saya pun lanjut membaca. Kemudian, buku ini menjadi rekor, salah satu buku yang tuntas saya baca dalam satu hari. D

Jalan cerita dalam buku ini seperti kerucut, pada mulanya bersisian antara kisah Dam pada masa lalu, dengan kisahnya pada saat ini. Namun diakhir, kisah masa lalu dan masa kini Dam menyatu, karna kisah masa lalu Dam, dirangkai dari masa yang paling lama ke masa yang paling kini. Layout buku ini asyik, pilihan huruf yang terangkai tidak terlalu kecil, dan dipisahkan dengan spasi 1,5 nyaman dimata saya.

Buku ini, sangat saya rekomendasikan, bagi siapa saja. Semua umur. Hanya pesan saya, jangan membaca buku ini (apalagi ketika memasuki bagian akhir) di tempat umum. Pilihan membaca di bis kota juga bukan pilihan yang baik. Rasanya gak enak dilihatin orang kiri-kanan, karna terisak-isak sendirian. Apalagi kenikmatan meresapi kesedihan itu, bakal kurang greget, karna suara nyanyian pengamen, deru Bis dan teriakan Kondektur. D
Ketika menyimpan buku ini di dalam tas, mungkin kita akan merasa seperti sedang membawa-bawa kitab mengenai pelajaran hidup yang amat berharga.

Dan, soal rate yang cuman 4 itu, terus terang saya ngerasa gak sreg dengan endingnya. Jadi yah, karna Bang Darwis pernah bilang dia gak akan bikin sekuel dari setiap buku yang ditulisnya, baiklah saya karang sendiri versi happy endingnya di kepala saya. \)

Kisah Danau Para Sufi itu cuman sebagian, bukan cerita utuh. Peace:


parah emang bang darwis... gantung mulu... gregetan sendiri jadinya... nohope:
daninoviandi - 03/09/2012 10:17 AM
#1960

Quote:
Original Posted By jackLuna
gan apakah ini buku terbitan 2012 ya?? mnta pencerahannya D
mksh atas riviu nya D




sya jg tertarik ma buku ni gan,, kira2 haraganya brapa ya?


yang pertama: udah lama itu, terbitan 2007 \) http://www.goodreads.com/book/show/1658116.Ketika_Cinta_Berbuah_Surga

yang kedua: waduh, berapa ya harganya bingung: soalnya ini dikasih temen malu:
Page 98 of 105 | ‹ First  < 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 >  Last ›
Home > CASCISCUS > BUKU new > Serapium Catalogue ~ Silahkan Review, Saran dan Diskusi Buku Favoritmu