SUPRANATURAL
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Ilmu Warisan Leluhur
Total Views: 20232 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 26 of 32 | ‹ First  < 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 >  Last ›

GhostBe - 01/01/2012 06:06 PM
#501

Quote:
Original Posted By KuliPacul
Ketika itulah terdengar satu seruan dari langit, “Wahai (sekalian) manusia, sesungguhnya Allah telah membinasakan orang-orang yang zalim, orang-orang munafik dan sekutu-sekutu mereka. Allah telah mengangkat seorang yang terbaik dari umat Muhammad SAW sebagai pemimpin kamu semua. Oleh itu, sambutlah dia di Makkah. Dia adalah al-Mahdi yang bernama Ahmad bin Abdullah.”
Lalu ada satu pertanyaan kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah kami dapat mengenalinya?” Jawab baginda, “Dia adalah dari keturunanku, iaitu perawakannya seakan-akan Bani Israel, kulitnya kemerah-merahan seolah-olah wajahnya bercahaya laksana bintang, pipi kanannya bertahi lalat hitam (yang hidup). Dia tampan orangnya, berusia 40 tahun. Dia akan didatangi oleh Wali-wali Abdal dari Syam, Wali-wali Nujabak dari Mesir, Asoib dari Timur dan pengikut-pengikutnya. Mereka kemudian pergi ke Makkah bersama-sama, lantas (setelah membaiat Imam Mahdi) berangkat (pula) ke Syam. Waktu itu, Jibril berada di depannya dan Mikail berada di belakangnya. Penghuni langit, penduduk bumi, burung-burung, binatang buas dan ikan-ikan di laut semuanya suka/redha kepadanya. Air menjadi mudah (didapati) di mana-mana negeri pun yang dikuasainya, sungai-sungainya mengalir (deras dan banyak), harta karun (melimpah ruah dan) mudah didapati. Dia lantas pergi ke Syam dan menyembelih as-Sufyani di bawah pokok yang dahan-dahannya (menjulur) sampai ke Laut Tibriyah.”
:toast

wallahu'alam

maaf ya gan TSnya lari dari topik shakehand2....(copas dari pesbuk) Lazkar melayu


emang bener se.. pemahaman orang pada umumnya ttg Imam Mahdi yaaa spt yg agan sampeikan.

Sebagai wong Jawa, menyikapi sebuah cerita kita harus bijak.. tidak menolak dan tidak sepenuhnya menerima..
Menyikapi hal spt tsb diatas.. para spiritualis kasunyatan Jawa menyikapinya dengan bijak.. dituangkan dalam sebuah sesanti "Aja Kandheg ing carita yen durung weruh rupa lan rasane"
maknanya.. jangan berhenti (hny mempercayai) di cerita jika belum mengetahui wujud dan roso nya (membuktikannya sendiri)..

Ajaran disini adalah ajaran kasunyatane urip, ajaran realita kehidupan..
ora ngucap yen ora meruhi.... tidak akan bicara jika tidak mengetahui.

Jadi semua yang disampaikan dalam thread ini adalah FR, buah dari perjalanan spiritual kami.

Silakan agan menjalaninya dengan tekun. Agan akan tahu sendiri.Peace:
KuliPacul - 01/01/2012 07:56 PM
#502

Quote:
Original Posted By GhostBe
emang bener se.. pemahaman orang pada umumnya ttg Imam Mahdi yaaa spt yg agan sampeikan.

Sebagai wong Jawa, menyikapi sebuah cerita kita harus bijak.. tidak menolak dan tidak sepenuhnya menerima..
Menyikapi hal spt tsb diatas.. para spiritualis kasunyatan Jawa menyikapinya dengan bijak.. dituangkan dalam sebuah sesanti "Aja Kandheg ing carita yen durung weruh rupa lan rasane"
maknanya.. jangan berhenti (hny mempercayai) di cerita jika belum mengetahui wujud dan roso nya (membuktikannya sendiri)..

Ajaran disini adalah ajaran kasunyatane urip, ajaran realita kehidupan..
ora ngucap yen ora meruhi.... tidak akan bicara jika tidak mengetahui.

Jadi semua yang disampaikan dalam thread ini adalah FR, buah dari perjalanan spiritual kami.

Silakan agan menjalaninya dengan tekun. Agan akan tahu sendiri.Peace:


maaf gan maklum nubi....meturnuwun dah ngingetin...........shakehand
GhostBe - 01/01/2012 10:20 PM
#503

Quote:
Original Posted By rifkitapai
Bkn tgas luar pak De tpi lg liburan,hehehe
Okey dah pak De suhu ntr lo dah drumah biar lbih nyaman bersih2nya,hehe
mhon ijin mgamalkan laku tirakatnya yah pak De, wlwpun msh blum semuanya\) mhon bimbingannya juga..


ooiyyaa.. ni musim liburan, ampe lupa' nee. hammer:

mau ngejalanin laku, ya monggo.. semampunya ajah, yang penting ikhlas.

kalo mw maksimal, ngejalani laku ntu.. yang komplit n ikhlas.. hehe.. he.. \)
GhostBe - 01/01/2012 11:43 PM
#504

Quote:
Original Posted By KuliPacul
maaf gan maklum nubi....meturnuwun dah ngingetin...........shakehand


kalo Allah swt sudah berkehendak... tidak ada yg tidak mungkin utk diketahui,

hijab NYA akan dibuka utk umat NYA yang taat. Yb
GhostBe - 02/01/2012 12:11 AM
#505

Quote:
Original Posted By tronton_97
sebuah cerita yg mgkn bisa jadi perenungan, saya copas dari tetangga sebelah :

Dan mohon maaf bila kurang berkenan cerita ini

Spoiler for syahadat


Oleh : Ehma Ainun Najib

Waktu yang diminta oleh Saridin untuk mempersiapkan diri telah dipenuhi. Dan kini ia harus membuktikan diri. Semua santri, tentu saja juga Sunan Kudus, berkumpul di halaman masjid.

Dalam hati para santri sebenarnya Saridin setengah diremehkan. Tapi setengah yang lain memendam kekhawatiran dan rasa penasaran jangan-jangan Saridin ternyata memang hebat.

Sebenarnya soalnya di sekitar suara, kefasihan dan kemampuan berlagu. Kaum santri berlomba-lomba melaksanakan anjuran Allah, Zayyinul Qur’an ana biashwatikum – hiasilah Qur’an dengan suaramu.

Membaca syahadat pun mesti seindah mungkin.

Di pesantren Sunan Kudus, hal ini termasuk diprioritaskan. Soalnya, ini manusia Jawa Tengah: lidah mereka Jawa medhok dan susah dibongkar. Kalau orang Jawa Timur lebih luwes. Terutama orang Madura atau Bugis, kalau menyesuaikan diri dengan lafal Qur’an, lidah mereka lincah banget.

Lha, siapa tahu Saridin ini malah melagukan syahadat dengan laras slendro atau pelog Jawa.

Tapi semuanya kemudian ternyata berlangsung di luar dugaan semua yang hadir. Tentu saja kecuali Sunan Kudus, yang menyaksikan semua kejadian dengan senyum-senyum ditahan.

Ketika tiba saatnya Saridin harus menjalani tes baca syahadat, ia berdiri tegap. Berkonsentrasi. Tangannya bersedekap di depan dada. Matanya menatap ke depan. Ia menarik napas sangat panjang beberapa kali. Bibirnya umik-umik [komat-kamit] entah membaca aji-aji apa, atau itu mungkin latihan terakhir baca syahadat.

Kemudian semua santri terhenyak. Saridin melepas kedua tangannya. Mendadak ia berlari kencang. Menuju salah satu pohon kelapa, dan ia pilih yang paling tinggi. Ia meloncat. Memanjat ke atas dengan cepat, dengan kedua tangan dan kedua kakinya, tanpa perut atau dadanya menyentuh batang kelapa.

Para santri masih terkesima sampai ketika akhirnya Saridin tiba di bawah blarak-blarak [daun kelapa kering] di puncak batang kelapa. Ia menyibak lebih naik lagi. Melewati gerumbulan bebuahan. Ia terus naik dan menginjakkan kaki di tempat teratas. Kemudian tak disangka-sangka Saridin berteriak dan melompat tinggi melampaui pucuk kelapa, kemudian badannya terjatuh sangat cepat ke bumi.

Semua yang hadir berteriak. Banyak di antara mereka yang memalingkan muka, atau setidaknya menutupi wajah mereka dengan kedua telapak tangan.

Badan Saridin menimpa bumi. Ia terkapar. Tapi anehnya tidak ada bunyi gemuruduk sebagaimana seharusnya benda padat sebesar itu menimpa tanah. Sebagian santri spontan berlari menghampiri badan Saridin yang tergeletak. Mencoba menolongnya. Tapi ternyata itu tidak perlu.

Saridin membuka matanya. Wajahnya tetap kosong seperti tidak ada apa-apa. Dan akhirnya ia bangkit berdiri. Berjalan pelan-pelan ke arah Sunan Kudus. Membungkuk di hadapan beliau. Takzim dan mengucapkan, sami’na wa atha’na -aku telah mendengarkan, dan aku telah mematuhi.

Gemparlah seluruh pesantren. Bahkan para penduduk di sekitar datang berduyun-duyun. Berkumpul dalam ketidakmengertian dan kekaguman. Mereka saling bertanya dan bergumam satu sama lain, namun tidak menghasilkan pengertian apa pun.

Akhirnya Sunan Kudus masuk masjid dan mengumpulkan seluruh santri, termasuk para penduduk yang datang, untuk berkumpul. Saridin didudukkan di sisi Sunan. Saridin tidak menunjukkan gelagat apa-apa. Ia datar-datar saja.

“Apakah sukar bagi kalian memahami hal ini?” Sunan Kudus membuka pembicaraan sambil tetap tersenyum. “Saridin telah bersyahadat. Ia bukan membaca syahadat, melainkan bersyahadat. Kalau membaca syahadat, bisa dilakukan oleh bayi umur satu setengah tahun. Tapi bersyahadat hanya bisa dilakukan oleh manusia dewasa yang matang dan siap menjadi pejuang dari nilai-nilai yang diikrarkannya.”

Para santri mulai sedikit ngeh, tapi belum sadar benar.

“Membaca syahadat adalah mengatur dan mengendalikan lidah untuk mengeluarkan suara dan sejumlah kata-kata. Bersyahadat adalah keberanian membuktikan bahwa ia benar-benar meyakini apa yang disyahadatkannya. Dan Saridin memilih satu jenis keberanian untuk mati demi menunjukkan keyakinannya, yaitu menjatuhkan diri dari puncak pohon kelapa.”

Di hadapan para santri, Sunan Kudus kemudian mewawancarai Saridin: “Katamu tidak takut badanmu hancur, sakit parah atau mati karena perbuatanmu itu?”

“Takut sekali, Sunan.”

“Kenapa kamu melakukannya?”

“Karena syahadat adalah mempersembahkan seluruh diri dan hidupku.”

“Kamu tidak menggunakan otakmu bahwa dengan menjatuhkan diri dari puncak pohon kelapa itu kamu bisa cacat atau meninggal?”

“Aku tahu persis itu, Sunan.”

“Kenapa kau langgar akal sehatmu?”

“Karena aku patuh kepada akal sehat yang lebih tinggi. Yakni bahwa aku mati atau tetap hidup itu semata-mata karena Allah menghendaki demikian, bukan karena aku jatuh dari pohon kelapa atau karena aku sedang tidur. Kalau Allah menghendaki aku mati, sekarang ini pun tanpa sebab apa-apa yang nalar, aku bisa mendadak mati.”

“Bagaimana kalau sekarang aku beri kau minum jamu air gamping yang panas dan membakar tenggorakan dan perutmu?”

“Aku akan meminumnya demi kepatuhanku kepada guru yang aku percaya. Tapi kalau kemudian aku mati, itu bukan karena air gamping, melainkan karena Allah memang menghendaki aku mati.”

Sunan Kudus melanjutkan: “Bagaimana kalau aku mengatakan bahwa tindakan yang kau pilih itu memang tidak membahayakan dirimu, insya Allah, tetapi bisa membahayakan orang lain?”

“Maksud Sunan?”

“Bagaimana kalau karena kagum kepadamu lantas kelak banyak santri menirumu dengan melakukan tarekat terjun bebas semacam yang kau lakukan?”

“Kalau itu terjadi, yang membahayakan bukanlah aku, Sunan, melainkan kebodohan para peniru itu sendiri,” jawab Saridin, “Setiap manusia memiliki latar belakang, sejarah, kondisi, situasi, irama dan metabolismenya sendiri-sendiri. Maka Tuhan melarang taqlid, peniruan yang buta. Setiap orang harus mandiri untuk memperhitungkan kalkulasi antara kondisi badannya dengan mentalnya, dengan keyaknannya, dengan tempat ia berpijak, serta dengan berbagai kemungkinan sunatullah atau hukum alam permanen. Kadal jangan meniru kodok, gajah jangan memperkembangkan diri seperti ular, dan ikan tak usah ikut balapan kuda.”

“Orang memang tak akan menyebutmu kadal, kuda, atau kodok, melainkan bunglon. Apa katamu?”

“Kalau syarat untuk terhindar dari mati atau kelaparan bagi mereka adalah dengan menyebutku bunglon, aku mengikhlaskannya. Bahkan kalau Allah memang memerintahkanku agar menjadi bunglon, aku rela. Sebab diriku bukanlah bunglon, diriku adalah kepatuhanku kepada-Nya.”


Saridin adalah contoh suatu keyakinan dan ketaatan yg selayaknya dimiliki seorang hamba terhadap Allah swt.

Makanya.. didalam kehidupan, Allah selalu menguji hambanya dalam hal keimanan. Tujuannya untuk mengetahui tingkatan keyakinan dan ketaatan seorang hamba terhadap Allah swt.
GhostBe - 02/01/2012 06:46 PM
#506

Quote:
Original Posted By statham.style
Nah Gan inilah budaya kita sebagai orang Indonesia iloveindonesias. Mari kita lestarikan, lalu patenkan. awas Malaysia mengintai army:


ckckckckckck



setubuuuuuh gan.iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
bonjava - 02/01/2012 10:15 PM
#507

Quote:
Original Posted By GhostBe
Saridin adalah contoh suatu keyakinan dan ketaatan yg selayaknya dimiliki seorang hamba terhadap Allah swt.

Makanya.. didalam kehidupan, Allah selalu menguji hambanya dalam hal keimanan. Tujuannya untuk mengetahui tingkatan keyakinan dan ketaatan seorang hamba terhadap Allah swt.



selamet malam agan2... shakehand2
ttg ujian dari NYA ini, sptnya agak sulit dicerna mas'e..

utk hamba yg sadar diri... atau hamba yg sdh bisa memahami perjalanan hidup, pasti dia bs membedakannya.
apakah suatu kejadian itu sbg sebuah ujian, atau sebuah hukuman, ataukah Allah mengingatkn seseorang dgn memberinya musibah.

lalu bagi yg blom bisa memahami perjalanan hidup gmn mas'e?
tasmaniandevil - 02/01/2012 10:35 PM
#508

kebanyakan ilmu yang dbahas ilmu warisan jawa ya gan alias kejawen,,,
ane jadi ikut bangga sebagai sesama orang jawa shakehand
GhostBe - 02/01/2012 10:38 PM
#509

Quote:
Original Posted By bonjava
selamet malam agan2... shakehand2
ttg ujian dari NYA ini, sptnya agak sulit dicerna mas'e..

utk hamba yg sadar diri... atau hamba yg sdh bisa memahami perjalanan hidup, pasti dia bs membedakannya.
apakah suatu kejadian itu sbg sebuah ujian, atau sebuah hukuman, ataukah Allah mengingatkn seseorang dgn memberinya musibah.

lalu bagi yg blom bisa memahami perjalanan hidup gmn mas'e?


salaman dulu yak... shakehand

emang rancu pemahaman na... mn musibah, mn hukuman, mn ujian.

keberuntungan bagi orang laku krn memiliki kehalusan "rasa". cendolb
GhostBe - 02/01/2012 11:05 PM
#510

Quote:
Original Posted By tasmaniandevil
kebanyakan ilmu yang dbahas ilmu warisan jawa ya gan alias kejawen,,,
ane jadi ikut bangga sebagai sesama orang jawa shakehand


bener gan :thumbup

kita patut bersyukur.. bahwa ajaran Jawa itu sangat islami dan para leluhur jawa telah menjalani kehidupannya sesuai dengan Al Qur'an.

bukti lainnya, penanggalan Jawa oleh Sultan Agung disamakan penetapan awal tahunnya dengan penanggalan hijriah (1 Suro = 1 Muharram)
bonjava - 02/01/2012 11:16 PM
#511

Quote:
Original Posted By GhostBe
salaman dulu yak... shakehand

emang rancu pemahaman na... mn musibah, mn hukuman, mn ujian.

keberuntungan bagi orang laku krn memiliki kehalusan "rasa". cendolb


dengan laen kate... orang harus menjalani LAKU TIRAKAT agar tertuntun di jalan yang benar.

Quote:
Original Posted By GhostBe
bener gan :thumbup

kita patut bersyukur.. bahwa ajaran Jawa itu sangat islami dan para leluhur jawa telah menjalani kehidupannya sesuai dengan Al Qur'an.

bukti lainnya, penanggalan Jawa oleh Sultan Agung disamakan penetapan awal tahunnya dengan penanggalan hijriah (1 Suro = 1 Muharram)


sy ini contohnya mas'e.. perasaan "rasa" nya sdh halus, tapi stlh beberapa tahun ini sering berkunjung ke Jawa dan mukim di padepokan, ternyata rasa sy masih kurang halus. malus
GhostBe - 02/01/2012 11:47 PM
#512

Quote:
Original Posted By bonjava
dengan laen kate... orang harus menjalani LAKU TIRAKAT agar tertuntun di jalan yang benar.

sy ini contohnya mas'e.. perasaan "rasa" nya sdh halus, tapi stlh beberapa tahun ini sering berkunjung ke Jawa dan mukim di padepokan, ternyata rasa sy masih kurang halus. malus


yaa sabarlah, kan misi prosesss... gak bs serta merta, bertahap dan pasti bs Peace:
bonjava - 03/01/2012 03:48 AM
#513

Quote:
Original Posted By GhostBe
yaa sabarlah, kan misi prosesss... gak bs serta merta, bertahap dan pasti bs Peace:



okelah kalo beg.. beg.. begituu... \)

menjalani hidup tanpa pamrih utk semua yg dilakukan , mmg butuh waktu penyesuaian.
Pertama, karena selama ini kami tidak berpengetahuan sedikitpun ttg perjalanan sebuah doa.
kedua, kami belum tau tata cara/adab berdo'a agar senantiasa Allah selalu memberikan ridho'

Setelah memahami bahwa dalam kehidupan ini kita diperintahkan hanya berserah diri kepada Allah, dan bertindak harus berdasar rasa hati..
tentu kami harus belajar dari awal agi toh. malu
tronton_97 - 03/01/2012 10:04 AM
#514

Quote:
Original Posted By bonjava
okelah kalo beg.. beg.. begituu... \)

menjalani hidup tanpa pamrih utk semua yg dilakukan , mmg butuh waktu penyesuaian.
Pertama, karena selama ini kami tidak berpengetahuan sedikitpun ttg perjalanan sebuah doa.
kedua, kami belum tau tata cara/adab berdo'a agar senantiasa Allah selalu memberikan ridho'

Setelah memahami bahwa dalam kehidupan ini kita diperintahkan hanya berserah diri kepada Allah, dan bertindak harus berdasar rasa hati..
tentu kami harus belajar dari awal agi toh. malu


memang mgkn kayak spt itu ya pak de ( spt yg di bold ) itu saya alami sendiri, sblmnya saya didik dg wirid brjml sekian ribu dan hrs selesai dalam sehari, shg dlm mengamalkan amalan tsb seolah olah secara sirri dikejar ama target, kalau gk selesai gk akan dpt hasil.

dg belajar pasrah diri kepada Allah, dan tidak dikejar dg target dlm melakukan setiap ibadah dan hrs dilakukan dg ikhlas walau sedikit, memang terasa kayak ada bimbingan dari-Nya setiap ada mslh dalam hidup ini. terasa ringan dan tanpa beban, Wallahualam.
tasmaniandevil - 03/01/2012 02:53 PM
#515

Quote:
Original Posted By bonjava
dengan laen kate... orang harus menjalani LAKU TIRAKAT agar tertuntun di jalan yang benar.



sy ini contohnya mas'e.. perasaan "rasa" nya sdh halus, tapi stlh beberapa tahun ini sering berkunjung ke Jawa dan mukim di padepokan, ternyata rasa sy masih kurang halus. malus


maksud dari "rasa" itu apa ya bingung:
BonekBandoenk - 03/01/2012 06:46 PM
#516

tingkat keberhasilan berapa persen mbah
pounch - 06/01/2012 01:21 AM
#517

Salam salim komplit gus2 kasunyataneurip shakehand2 , pembabaran2nya ruaarbiasa Yb
Ilmu Warisan Leluhur
pounch - 06/01/2012 01:25 AM
#518

Quote:
Original Posted By BonekBandoenk
tingkat keberhasilan berapa persen mbah

sepertinya dr postingan pembabaran disini tidak perlu pake persenan puh, cukup kerelaan melaksanakannya.
Ilmu Warisan Leluhur
GhostBe - 06/01/2012 07:31 AM
#519

Quote:
Original Posted By tasmaniandevil
maksud dari "rasa" itu apa ya bingung:


rasa = perasaan hati... heart: heart: heart:
adanya didalam lubuk hati,,,
merupakan "chip kebenaran" yg ditanam Allah pd manusia.

contoh.. siapapun tau, ngambil barang orang laen tuh salah. hati pasti ngatain salah...
orang korupsi/mencuri sebetulnya tau kalo korupsi/nyuri tuh salah.. dia matiin perasaan hatinya.
perasaan hati yg selalu berdiri di kebaikan itu namanya rasa.
bonjava - 06/01/2012 08:24 AM
#520

Quote:
Original Posted By BonekBandoenk
tingkat keberhasilan berapa persen mbah



prinsip dasar Laku tirakat itu menjalani tanpa mengharap-harap hasil akhir.

dalam Laku tirakat ntu, yang diutamakan keikhlasan hati orang yg menjalani.

masak pasrah diri kpd Allah swt pake pamrih Yb
Page 26 of 32 | ‹ First  < 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Ilmu Warisan Leluhur