Arsitektur
Home > LOEKELOE > TEKNIK > Arsitektur > Green Building Design
Total Views: 8714 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 4 of 5 |  < 1 2 3 4 5 > 

striketrought - 01/08/2012 10:41 PM
#61

Green Building Council Indonesia (GBCI) sudah ada sertifikasi untuk zero energy building buat rumah ?

soale terakhir kali ane tanyain ke mereka , ternyata masih belum ada
yodiman - 02/08/2012 01:53 PM
#62
Green Building Material
Banyak yang mengira bahwa Green Building berkonsentrasi utama pada sektor pemilihan material. Aspek Green Architecture yang paling banyak diangkat biasanya seputar aspek pemilihan material yang ramah lingkungan. Material yang paling banyak favoritnya saat ini apabila berbicara tentang Green Material adalah seputar penggunaan bambu. Lalu material berikutnya yang paling banyak dibicarakan adalah seputar material bekas. Tetapi, apakah hanya sebatas itu?

Aspek material “hanyalah” salah satu bagian dari beberapa aspek dalam membangun Green Building. Apabila hanya memandang material yang ramah lingkungan hanya dari sumber terbaharukan atau material daur ulang saja, belum dapat dikatakan menjadi sebuah Green Building. Apabila membicarakan tentang material dalam Green Building, ada baiknya memahami mengenai tentang Life Cycle Assesment atau LCA. Analisis mengenai LCA adalah memahami daur hidup dari material tersebut.
Green Building Design
Pemikiran dalam memilih material sebaiknya memilih material yang berkualitas baik dan dapat baik bagi lingkungan, hingga craddle to craddle. Pertimbangan pemilihan material berdasarkan:

Sumber material:
Green Building Design

[*]Sebaiknya gunakan material yang dari sumber terbaharukan. Misalnya: Kayu, bambu. Di masa depan, material mentah non terbaharukan seperti metal, tembaga. Berikan perhatian khusus pada elemen langka mentah (Raw Element Material ) seperti Lithium, Cobalt, dan material barisan Lantanida. Permintaan yang semakin meningkat sedangkan persediaan terbatas, maka tembaga mentah dapat jadi hanya tersedia hingga 48 tahun mendatang.



[*]Pilihlah material dengan energi produksi rendah. Alumunium membutuhkan energi besar dalam produksinya, yaitu sebesar 155 MegaJoule/kg. Bandingkan dengan kayu olahan yang sebesar 10 MJ/kg, kaca: 15 MJ/kg dan plasterboard 6,75 MJ/kg. Silahkan cari di Google tentang “Embodied Energy in Material” untuk daftar lebih lanjut.



[*]Pilih material bekas atau material hasil daur ulang, untuk mengurangi penggunaan material mentah, sekaligus mengurangi sampah yang telah dibuang. Dapat pula mengurangi Embodied energi dengan mengurangi separuh dari MJ/kg embodied energi per daur pakai.



[*]Apabila menggunakan kayu, pastikan kayu yang digunakan legal, bukan dari hasil illegal logging. Sehingga hutan kita tidak gundul dan terjaga ekosistemnya. Kayu dengan sertifikat SVLK atau FSC paling aman dipilih.



[*]Utamakan sumber material lokal untuk mengurangi karbon dari transportasi.



Manufaktur Material
Green Building Design

[*]Pilihlah pabrik manufaktur material yang juga telah berprinsip ramah lingkungan, misalnya memiliki sertifikat ISO 14001, mengikuti PROPER, dll. Sehingga kita tahu material diolah dengan cara ramah lingkungan



[*]Akan lebih baik apabila sebagian dari material memiliki kandungan daur ulang. Tidak perlu seluruhnya, tetapi minimal ada 30% saja sudah cukup.



[*]Manufaktur yang hemat energi akan menurunkan Embodied Energynya. Apabila manufaktur memiliki sertifkasi ISO 50001 atau program penghematan energi akan lebih baik. Pilihan terbaik apabila manufaktur menggunakan sumber energi terbaharukan.



[*]Pilihlah manufaktur terdekat untuk mengurangi karbon transportasi.



[*]Pilih produk yang dihasilkan manufaktur berkualitas minimal sesuai dengan SNI (apabila ada SNInya).



Penggunaan Produk
Green Building Design

[*]Pilihlah produk material yang mendukung efisiensi energi bangunan gedung.

Pilih material yang dapat secara efektif mengurangi beban OTTV. Ketahui densitas dan nilai K (W/m.K) material tersebut.

[*]Pilihlah produk yang awet saat digunakan, tanpa mengawet kimia berbahaya.



[*]Pilih material yang mudah dibersihkan. Teknologi nano-material dapat menjadi jawaban agar memudahkan pembersihan.



[*]Pilihlah material prefabrikasi/knock down agar memudahkan pemasangan, serta tidak menggunakan lem agar mudah dibongkar dan tidak membawa dampak negatif ke udara dalam ruang. Intinya, bikinlah bangunan seperti Puzzle.



[*]Pilih produk material yang tidak menimbulkan dampak negatif kesehatan bagi manusia, misalnya asbestos yang berbahaya bagi kesehatan apabila hancur. Cat dengan bahan dasar air yang Low VOC.



[*]Pilihlah material dapat memberikan keamanan dari bencana kebakaran dan gempa bumi.



Pembuangan
Green Building Design

[*]Pilihlah material yang dapat didaur ulang kembali. Alumunium adalah material yang 95% dapat didaur ulang. Plastik juga ternyata 80-88% dapat didaur ulang. Apabila memungkinkan, material dikembalikan ke perusahaan manufaktur untuk dijual kembali sebagai bahan mentah.



[*]Pilihlah material yang secara utuh dapat dijual kembali sebagai material bekas, misalnya genting tanah liat utuh, bingkai jendela, material prefabrikasi/knock down, dll..



[*]Memilih material yang dapat ter-biodegradasi. Material-material berbahan dasar organik seperti kayu, bambu, plastik-organik, dapat terdegradasi dengan baik dan tidak menjadi sumber polusi tanah.


Semuanya harus dipertimbangkan dengan baik. Akan sangat membantu apabila membuat semacam checklist material terkait aspek diatas. Pilihlah yang mendekati keempat aspek daur. Tantangannya untuk memilih material Green Building dikatakan sangat sulit untuk memilih material dapat mencakup semua yang ada diatas berupa: dari sumber terbaharukan – legal – lokal – hasil daur ulang – modular – dibuat di pabrik ramah lingkungan dan hemat energi – awet tanpa bahan kimia – mudah dibersihkan – aman bagi kesehatan – dapat di daur ulang/terbiodegradasi. Tantangan berikutnya harus disesuailan dari aspek arsitektur yaitu harus indah dan terjangkau oleh harga yang diinginkan. So....ayo pilih2 material.




yodiman - 02/08/2012 01:58 PM
#63

Quote:
Original Posted By striketrought
Green Building Council Indonesia (GBCI) sudah ada sertifikasi untuk zero energy building buat rumah ?

soale terakhir kali ane tanyain ke mereka , ternyata masih belum ada


Belum ada bos. Paling coba nilai pakai Greenship Home. Penilaian zero energy di rating lain juga gak ada. Nilainya dari aspek2 yang lain juga (Air, lahan, kesehatan, dll).

h3lls0n9 - 08/08/2012 04:05 PM
#64

Pak Yodi, Energy Efficiency Guidelines kemarin itu buat mana ya? Apa akan dipublish disini juga?

Quote:
Original Posted By striketrought
Green Building Council Indonesia (GBCI) sudah ada sertifikasi untuk zero energy building buat rumah ?

soale terakhir kali ane tanyain ke mereka , ternyata masih belum ada


Temen ane ada arsitek yang lagi ngerjain rmah yang zero energy gan. Makin banyak yang sadar soal energi sekarang D
hexadead - 08/08/2012 04:35 PM
#65

Quote:
Original Posted By h3lls0n9

Temen ane ada arsitek yang lagi ngerjain rmah yang zero energy gan. Makin banyak yang sadar soal energi sekarang D


kalau sudah ketemu mungkin bisa di publish hasilnya disini gan.
karena saya juga masih bingung mengakali ketergantungan terhdap energi listrik.
:thumbup
lagicari - 08/08/2012 05:14 PM
#66

Quote:
Original Posted By yodiman


Belum ada bos. Paling coba nilai pakai Greenship Home. Penilaian zero energy di rating lain juga gak ada. Nilainya dari aspek2 yang lain juga (Air, lahan, kesehatan, dll).



gan, Greenship Home itu pegimane, itu bisa keluar sertifikat rumah green gitu apa gak? bingungs
archilest - 08/08/2012 05:20 PM
#67

Pada ngebahas green,narsis di sini dulu

desain rumah
Green Building Design

Evaluation Report ecodesigner
Green Building Design

saving energythumbup:
tapi masih blum zero energi ganmalu

susah kali kalo ampek zero energi.cuma di cina yg mampu dan mengklaim punya bangunan zero energy.
yodiman - 08/08/2012 05:27 PM
#68

Quote:
Original Posted By lagicari


gan, Greenship Home itu pegimane, itu bisa keluar sertifikat rumah green gitu apa gak? bingungs


Saat ini belum ada sertifikatnya. Masih versi Beta. Coba-coba saja dulu.

yodiman - 08/08/2012 05:33 PM
#69

Quote:
Original Posted By h3lls0n9
Pak Yodi, Energy Efficiency Guidelines kemarin itu buat mana ya? Apa akan dipublish disini juga?



Temen ane ada arsitek yang lagi ngerjain rmah yang zero energy gan. Makin banyak yang sadar soal energi sekarang D


Energy efficiency guidelines itu EECHI yang mengeluarkan. Kalau saya dapat saya share deh.
h3lls0n9 - 09/08/2012 09:55 AM
#70

Quote:
Original Posted By hexadead


kalau sudah ketemu mungkin bisa di publish hasilnya disini gan.
karena saya juga masih bingung mengakali ketergantungan terhdap energi listrik.
:thumbup


Belum tau akan beneran zero energy atau enggak sih, tapi dari hasil ngobrol2 sama temen itu saya bisa asumsikan rumahnya ramah lingkungan. Wong orangnya sempet rencana mau bikin pondasi dan temboknya dari olahan lumpur lapindo kok D

Nanti saya izin share sama orangnya kalo bisa deh kisss kisss
hexadead - 09/08/2012 10:54 AM
#71

Quote:
Original Posted By archilest

susah kali kalo ampek zero energi.cuma di cina yg mampu dan mengklaim punya bangunan zero energy.


betul after zero energy; next plan zero maintenance.
:thumbup
archilest - 10/08/2012 07:46 AM
#72

Quote:
Original Posted By h3lls0n9
Belum tau akan beneran zero energy atau enggak sih, tapi dari hasil ngobrol2 sama temen itu saya bisa asumsikan rumahnya ramah lingkungan. Wong orangnya sempet rencana mau bikin pondasi dan temboknya dari olahan lumpur lapindo kok D

Nanti saya izin share sama orangnya kalo bisa deh kisss kisss

maaf gan,,,(mohon dikoreksi)
denger2 lumpur lapindo mutu dan kualitas batanya jelek gan juga bau. cuma denger2 aja si dr omongan teman yg tinggal di sidoarjo.
mungkin lumpur lapindonya bisa sebagai sumber energinya malahan. kan ada di berita baru tu,baterai dari lumpur lapindo lebih murah lagi.mungkin bisa diterapkan sebagai sumber energy alternatifnya. hahaha,,,

Quote:
Original Posted By hexadead
betul after zero energy; next plan zero maintenance.
:thumbup


ogut rasa sulit utk mendapatkan net zero energy(bukan maksut pesimis),,tapi juga tergantung guidelinesnya juga seberapa standartnya yg di jadiin acuan.
net zero energy berartikan tidak ada energi yang terbuang percuma dan energi yg terpakai diminimalisir sangat minim.
apalagi utk skala hunian keluarga (kalo sekedar ramah lingkungan masih bisa masuk kategorilah).
kenapa,krn proses recycling dan reusenya yg sulit diterapkan (mungkin ini tantangannya),,,
rekayasa desain untuk sustainable ogut rasa tidak cocok juga dengan prilaku masyarakat kita apalagi buat muslim(maaf bukan bermaksut sara).seperti misal penggunaan tekn waterles urinals,yg msh banyak keluhannya.
letak dan arah fasade juga menentukan utk dpt mengambil sinar matahari dlm jumlah yang besar(tdk smua site bagus posisinya).

yang pasti utk mewujutkan itu smua yg bener2 net zero energy butuh dana yang cukup besar (investasi berlebih),menerapkan kemajuan teknologi yg modern.
memang hasil yang di dapat juga besar,yg pasti butuh kesadaran yg cukup besar juga(totalitas).
yodiman - 10/08/2012 01:50 PM
#73

Tidak semua teknologi asing bisa diterima di Indonesia.Harus pilih2 strategi untuk sustainable. Meninjau kembali arsitektur lama Indonesia lebih baik karena banyak konsep sustainable yang udah ada.
archilest - 14/08/2012 05:08 PM
#74

trima kasih pak yodi,mengingatkan ogut tentang arsitektur tradisional indonesia.memang khasanah arsitektur indonesia begitu beragam juga banyak yang bisa di terapkan pada desain sustainable.
soulblader3 - 23/08/2012 10:57 PM
#75

Quote:
Original Posted By yodiman
Tanggal 20 Januari 2012, berlokasi di Subang Jawa Barat, GBC Indonesia menganugerahkan sertifikat resmi Green Building untuk yang pertama kalinya bagi sebuah bangunan baru. Gedung tersebut adalah gedung Energetic Material Centre, kantor manajemen pusat (Kampus) PT. Dahana (Persero).
PT. Dahana sendiri adalah perusahaan BUMN yang bergerak di Industri bahan peledak untuk keperluan pertambangan. Sesuai dengan komitmen perusahaan yang menuju ke industri peledak yang semakin aman dan semakin menuju ke arah yang lebih ramah lingkungan, PT. Dahana berinisiatif untuk membangun sebuah bangunan dengan konsep Green Building.
Green Building Design
Fitur-fitur Green Building yang diterapkan pada PT. Dahana menempatkan pada posisi 83% dari penilaian. Hasil tersebut membuahkan diperolehnya peringkat Platinum penilaian GREENSHIP New Building, dari Green Building Council Indonesia.
Green Building Design
Fitur-fitur Green yang diterapkan di Dahana antara lain:
1. Konsumsi energi yang sangat rendah, yaitu 131 kWh/m2 per tahun.
2. Sumber air menggunakan air sungai dengan pengolahan mandiri, air hujan, dan air kondensasi AC.
3. Pada siang hari tidak menggunakan lampu, dengan fitur lux sensor dan ditambah sensor gerak untuk mendeteksi keberadaan manusia.
4. Penggunaan dual flush yang menggunakan air daur ulang.
5. Penggunaan keran air sistem tekan yang dapat menutup sendiri.
6. Penyiraman tanaman dengan air daur ulang, dengan penyiraman sprinkler yang memiliki sensor kelembaban tanah agar pada saat hujan tidak perlu disiram.
7. Fasiltas pedestrian yang teduh dari tanaman rambat hingga ke jalan utama
8. Zero run off, dengan mengalirkan air hujan ke kolam ikan di sekeliling bangunan, sisanya mengalir ke lansekap.
9. Sumber tanaman adalah tanaman hasil budidaya di sekitar proyek
10. 60% dari luas area bangunan adalah area hijau (termasuk Green roof).
11. Menggunakan AC dengan refrigeran HFC yang ramah ozon
12. Penggunaan material ramah lingkungan, termasuk kayu yang bersertifikat legal, menggunakan prefab material.
13. Dilarang merokok di seluruh area gedung, termasuk pengawasan lebih dari satpam gedung.
14. Ventilasi yang cukup, dengan sistem deteksi kadar CO2.
15. Perencanaan manajemen perawatan untuk menjaga kualitas Green Building agar tetap berkelanjutan.
16. Pemisahan sampah organik dan non-organik, diteruskan dengan pengomposan mandiri, kerjasama dengan pengepul setempat untuk sampah non-organik yang dapat didaur ulang, dan kerjasama dengan perusahaan pengolahan limbah B3.
17. Kenyamanan adalah yang utama, dengan dilakukannya survey berkala kepada penghuni terkait kenyamanan gedung, serta sistem tindak lanjutnya.
18. Adanya fasilitas parkir sepeda yang digunakan untuk transportasi pekerja dari rumah (mess) ke gedung, atau ke laboratorium lain.
19. Gedung dibangun tahan gempa, sistem penanganan kebakaran yang ketat, dan memfasilitasi akses untuk penyandang cacat.
20. 80% material bangunan berasal dari dalam negeri, ditambah dengan adanya sertifikat ISO 14001 pada pabrik material bangunan tersebut dari 32% seluruh material bangunan.
Green Building DesignGreen Building Design
PT. Dahana berupaya untuk menjadikan EMC ini sebagai Green Building dengan peringkat tertinggi hingga 10 tahun kedepan. Diharapkan dengan adanya Green Building yang sesungguhnya di Indonesia ini, dapat menjadi contoh bagi pelaksanaan pembangunan berkelanjutan proyek-proyek yang lain. Go Green Indonesia!!!!
iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia :selamat:2thumbup:2thumbup:rate5:rate5


gan bole lirik balik dikit ke sini gk ya? ini gedung atap e bisa dijelasin gk bkin nya gmn + kelebihan dan kekurangan nya maklum ane masih mahasiswa belum paham ane uda baca dar awal ampe sini baru nyangkut dkit soal green:matabelo
inBLu - 27/08/2012 01:02 AM
#76

temen temen ada contoh konsep green building gak D
tapi dalam skala terkecil, rumah, tertarik mulai mengaplikasikan konsep ini ke klien yang umumnya awam tentang green building dan sisi positifnya
h3lls0n9 - 04/09/2012 10:15 AM
#77

Pak Yodi saran dong, harusnya mengenai training GA dan GP diposting di sini biar pesertanya makin banyak ngakak ngakak
6speed - 08/10/2012 11:00 AM
#78

Quote:
Original Posted By h3lls0n9
Kalo software setau saya hampir semua energy simulation software bisa kok ngitung OTTV, contohnya paling terkenal tuh energyplus.
Tapi emang hasilnya gak langsung "OTTV=..." gitu gan. Dia outputnya jenis excel, nanti ketemu heat gain through facade setiap zone kalau gak salah (udah lama ga make jadi lupa). Ujung2nya tetep harus dijumlahin, terus dibagi sama luasan facadenya..

Eco disini maksudnya apa ya? Kalau "eco" maksudnya hemat energi, jelas dong sebuah bangunan yang green harus hemat energi. Kalo gak hemat artinya dia makan banyak energi dan gak membantu bumi kita dong D. Kalo sustainable building itu bangunan yang "sadar lingkungan" istilahnya. Jadi dari proses perencanaan, konstruksi, sampai pengoperasian harus memerhatikan isu-isu lingkungan juga.

Mungkin untuk lebih jelasnya soal green and sustainable building bisa dijawab sama Pak Yodiman langsung deh, saya lebih tau soal teknis itung2annya soalnya hammers hammers


lebih lengkapnya dong om ngitung ottv pake energyplus, ada tugas dari kampus, di suruh nyari ottv pake energyplus D
stevenstanley - 11/10/2012 03:58 PM
#79

Quote:
Original Posted By inBLu
temen temen ada contoh konsep green building gak D
tapi dalam skala terkecil, rumah, tertarik mulai mengaplikasikan konsep ini ke klien yang umumnya awam tentang green building dan sisi positifnya


up cendols sy jg pengen tau yg ini
yodiman - 11/10/2012 06:17 PM
#80
Sampoerna Strategic Square - Greenship GOLD rated
Green Building Design
Sampoerna Strategic Square memperoleh sertifikat green building, dengan predikat GREENSHIP GOLD. Penghargaan diterima pada tanggal 27 September 2012. Setelah perjuangan selama lebih dari 1 tahun, dan sidang penentuan Green Building pada bulan Juli, perjuangan tim dari PT. Buana Sakti terbayarkan dengan berhasilnya diperoleh sertifikat Green Building.
Green Building Design
Perubahan menuju Green Building dari segi renovasi dilakukan tidak cukup banyak, mengetahui bahwa gedung SSS pada 3 tahun lalu melakukan renovasi dan telah memiliki fitur-fitur canggih, antara lain:
1. Lansekap yang cukup luas, 41,28% RTH
2. Memiliki lokasi yang sangat strategis, dekat dengan halte Busway
3. Adanya parkir sepeda yang cukup hingga 200 sepeda, lengkap dengan kamar mandi khususnya.
4. Refrigeran AC HFC
5. Tempat merokok di luar gedung
6. Insulasi dan pencahayaan yang cukup bagus
7. Adanya sistem daur ulang air
Green Building Design
Selain itu, upaya peningkatan manajemen dilakukan, diantaranya:
1. Traning kepada seluruh staff mengenai pentingnya penghematan air dan energi.
2. Memisah sampah menjadi anorganik, organik, dan B3, dan menyalurkannya ke pihak yang mengolahnya secara terpisah.
3. Menghemat energi sebesar 23%
4. Menghemat air lebih dari 20%
5. Pemantauan kualitas air bersih dengan uji laboratorium
6. Menyalurkan barang-barang bekasnya
7. Survey penghuni menunjukkan nyaman beraktifitas dalam gedung.
8. Adanya perjanjian untuk komitmen Green kepada seluruh tenantnya.

Upaya tersebut membuahkan peringkat emas dengan skor 72 atau nilai 61,5%. Fakta lain adalah terjadi peningkatan tenantcy dari 75% sebelum proyek Green Building menjadi di atas 90% setelah proyek Green Building berjalan. Tim dari SSS kini terus berjuang untuk merubah statusnya menjadi PLATINUM tahun depan. Setelah menara perkantoran Grand Indonesia, SSS adalah pemegang sertifikat kedua Green Building untuk kategori existing building di Indonesia. Masih terdapat 10 proyek Existing Building lagi menjalani proses sertifikasi Green Building, dan jumlah ini terus bertambah. :toast:toast:toast:toast:toast
Page 4 of 5 |  < 1 2 3 4 5 > 
Home > LOEKELOE > TEKNIK > Arsitektur > Green Building Design