Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.
Total Views: 26797 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 11 of 80 | ‹ First  < 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 >  Last ›

Digdadinaya - 10/11/2011 02:28 PM
#201

Quote:
Original Posted By prabuanom
wahahahahaha bisa bisanya mbah buto aja, tp emang bener lho mbah buto tinggi gede, saya ama mas novi aja msh kalah tinggi. eeh mbah buto lbh tinggi dr mas novi D


jadi tambah pengen kopdar....D
*jangan2 sya paling muda lagi....gak brani ah~ .............ngacir:
prabuanom - 10/11/2011 02:28 PM
#202

Quote:
Original Posted By ButoGalak
tapi saya gak brewokan lho Peace:....................aaaampuuuuuuuuuuuuuuuuunnnnnnnnnnn __________ ngacir:


yg brewokan tuh surya paloh hammer:
prabuanom - 10/11/2011 02:29 PM
#203

Quote:
Original Posted By Digdadinaya
jadi tambah pengen kopdar....D
*jangan2 sya paling muda lagi....gak brani ah~ .............ngacir:


kapan kapan kopdar, ketemu penguasa plengkawati D
ButoGalak - 10/11/2011 02:30 PM
#204

Quote:
Original Posted By Digdadinaya
jadi tambah pengen kopdar....D
*jangan2 sya paling muda lagi....gak brani ah~ .............ngacir:


tgl 3-4 saya ke semarang lho D
saya masih abg kok tenang aja ngakak
prabuanom - 10/11/2011 02:32 PM
#205

Quote:
Original Posted By ButoGalak
tgl 3-4 saya ke semarang lho D
saya masih abg kok tenang aja ngakak


nah satnya ketemuan tuh mbah buto ama kang digda D
Digdadinaya - 10/11/2011 02:40 PM
#206

Quote:
Original Posted By ButoGalak
tgl 3-4 saya ke semarang lho D
saya masih abg kok tenang aja ngakak


3-4 Desember???
PM no HP / YM aja kang...sapa tau bisa ngobrol2 di simpang lima sambil nyawang ciblek..D

soalnya lagi jarang OL ni...jadi g bisa ngaskus setiap hari...
pleke.nyut - 10/11/2011 03:38 PM
#207

thread pendopo budaya/mengkritisi turset pindah di sini yach,.... nohope:
Masagung - 10/11/2011 03:46 PM
#208

Quote:
Original Posted By pleke.nyut
thread pendopo budaya/mengkritisi turset pindah di sini yach,.... nohope:


napa om ?
emang disono udah sepi ya ? D
prabuanom - 10/11/2011 03:51 PM
#209

Quote:
Original Posted By Digdadinaya
3-4 Desember???
PM no HP / YM aja kang...sapa tau bisa ngobrol2 di simpang lima sambil nyawang ciblek..D

soalnya lagi jarang OL ni...jadi g bisa ngaskus setiap hari...


pm aja sekalian minta fbnya om D
klenut - 10/11/2011 05:41 PM
#210

Quote:
Original Posted By pleke.nyut
thread pendopo budaya/mengkritisi turset pindah di sini yach,.... nohope:


masa sih?
buhitoz - 10/11/2011 06:22 PM
#211
Ki Akhamadi, Dalang Wayang Golek Cepak
( Indramayu, Jawa Barat )
Oleh Iskandar Abeng | Pada Senin, 5 April 2010

Ki Akhamadi adalah salah satu tokoh dalang wayang golek cepak Indramayu yang berumur 63 tahun. Ki Akhamadi merupakan generasi ke 5 penerus dalang wayang golek cepak, leluhurnya yaitu Ki Pugas, Ki Warya, Ki Koja, Ki Salam. Hingga saat ini Ki akhamadi masih aktif dalam berkesenian, walaupun dalam keseharian ia lebih sering menghabiskan waktunya di rumah sebagai Imam masjid.

Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.

Wayang golek cepak yang selama ini menjadi alat berkesenian dan juga sebagai sumber kehidupannya, tampak mulai lesu di dalam kancah kebudayaan. Jika di ihat sekarang masyarakat lebih cenderung menampilkan bentuk-bentuk kesenian yang lain dalam konteks event. Sebut saja masyarakat lebih menyukai organ tunggal yang sifatnya lebih praktis dan modern ketimbang wayang golek cepak yang dalam pelaksanaanya lumayan repot, dikarenakan banyaknya alat atau nayaga. Nayaga adalah pemain gamelan pada sebuah pagelaran wayang golek cepak.

Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.

Karena lesunya minimnya perhatian dan apresiasi masyarakat terhadap pagelaran wayang golek cepak, Ki Akhamadi semakin terpuruk dalam mengisi beras di rumahnya. Sampai beliau terpaksa menjual beberapa tokoh wayang golek cepak asli yang dia punya, seperti tokoh wayang golek Hanoman, Naga, Garuda, Menak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun beliau tidak menjual seluruh wayang golek cepak yang asli (warisan dari nenek moyangnya), hanya beberapa saja. Beliau juga sempat menjual beberapa peti wayang golek cepak ke negara lain, diantaranya Belanda dan Jepang, tetapi itu pun bukan wayang golek asli melainkan duplikat, yang di pesan di Desa Gadingan, Indramayu.

Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.

Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.

Dalam silahturahmi ke rumah beliau saya mengabadikan salah satu aset artikel yang sangat menarik, yakni naskah kuno tahun 1310 Hijriyah yang lumayan masih bisa terbaca, 1 peti wayang golek warisan turun temurun dan 1 peti wayang golek duplikat.

Spoiler for naskah kuno
Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.


Tahun 2009 lalu Ki Akhamadi jatuh sakit sampai beberapa bulan lamanya, beliau merasa panas, dingin disertai batuk-batuk. Karena sakit yang berkepanjangan dan perlu terus berobat terpaksa 1 set gamelan dijual seharga 15 juta ke sesama dalang yang ada di Indramayu. Walaupun begitu, Ki Akhamadi tetap menjalankan profesinya sebagai dalang jika beliau mendapatkan kesempatan untuk mendalangi sebuah pagelaran wayang golek cepak Indramayu. Beliau meminjam gamelan dan beberapa nayaga dari teman-teman dalang lainnya.

Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.

Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.

Ki Akhamadi belum bisa menitiskan ilmu pewayangan wayang golek cepak . Ketika saya bertanya sebabnya, beliau menjawab bahwa hingga saat ini belum ada orang yang cocok untuk menerima ilmu pewayangannya. Dan alasan yang paling utama kenapa belum ada penerusnya, karena beliau sendiri tidak diberikan keturunan laki-laki.

sumber: http://akumassa.org/kontribusi/indramayu-jawa-barat/ki-akhamadi-dalang-wayang-golek-cepak/
buhitoz - 10/11/2011 06:27 PM
#212

Quote:
Original Posted By pleke.nyut
thread pendopo budaya/mengkritisi turset pindah di sini yach,.... nohope:


ha ha ha
Jangan GR ah, mbah Kenyut...
Namanya juga ngobrol ngalor ngidul
gak jelas juntrungannya

Peace:
buhitoz - 10/11/2011 07:58 PM
#213
Boma Menggugat
Wayang Orang “Boma” Pelajaran bagi Orangtua Durhaka

Aku bocah kang sepo ing panjongko lan sepi ing asmoro. Sepo, sepi, sepah. Ting balengkrah ora entuk cacah. Sing tak gayuh mung pangrengkuh Bopo tumrap anak.
(Aku adalah anak yang kehilangan cita-cita dan sepi dalam asmara. Hanya kesepian yang tersebar hingga tak terhitung lagi. Yang aku inginkan hanya kedekatan seorang Bapak kepada anaknya.)

[JAKARTA] Cerita anak durhaka kepada orangtua sudah sering dikisahkan. Tapi bagaimana dengan kisah orangtua yang durhaka terhadap anak? Tema itulah yang ditampilkan dalam lakon wayang orang Boma di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis (8/4) malam oleh Yayasan Kusuma Budhaya.

“Nama Boma mungkin kalah tenar dengan nama-nama lain dari Pandawa, namun kisah tentangnya memiliki kedalaman nilai yang sangat relevan dengan kondisi masayarakat saat ini. Boma berusaha mencari tahu sebabnya kenapa ia jadi anak terbuang,” sebut produser pertunjukan, Bram Kushardjanto, kepada SP.

Kisah Boma ini memberikan sisi lain dari karakter Pandawa Lima yang biasanya menjadi ikon pahlawan dalam kisah pewayangan. Dalam lakon ini Boma membongkar sisi hitam Kresna. Boma adalah seorang anak yang dikucilkan dalam kehidupan. Ibunya, Dewi Pertiwi, tidak yakin siapa ayah Boma hingga ia meminta seorang pendeta membesarkan Boma.

Dewi Pertiwi adalah istri Prabu Kresna, raja dari Kerajaan Dwarawati. Dewi Pertiwi tidak yakin kalau Boma adalah anak dari suaminya, karena ia pernah selingkuh dengan Prabu Bomantara dari Kerajaan Trajutrisna. Saat itu Dewi Pertiwi sedang ditugaskan meredakan kemarahan Prabu Bomantara di kahyangan. Namun, keduanya malah memadu kasih.

Lalu lahirlah seorang anak yang kemudian diberi nama Sitija. Saat Sitija dewasa, ia pun mencari tahu siapa ayahnya. Ia mendatangi Prabu Kresna dan meminta mengakuinya sebagai anak. Namun, Kresna meminta Sitija membunuh Bomantara.

Saat perang tanding antar- Bomantara itulah datang Dewi Pertiwi melerai. Namun, Bomantara lebih dulu dilukai Sitija. Sebelum ajalnya datang, Bomantara mendapatkan informasi bahwa Sitija adalah anaknya dengan Dewi Pertiwi. Ia pun kemudian langsung menyerahkan tahtanya kepada Sitija. Sitija kemudian menjadi raja dengan gelar Bomanarakasura atau biasa disebut Boma.

Meski tugas telah dilaksanakan, tapi Kresna tetap tidak mau mengakui Boma sebagai anaknya. Akhirnya, Boma dan Kresna pun bertempur. Pertiwi kembali kebingungan, biar bagaimanapun ia masih belum yakin siapa ayah Boma. Sampai akhirnya Boma berhasil dibunuh oleh Kresna, padahal saat itu Pertiwi baru yakin kalau Boma adalah anak dari Kresna.
Kisah ini tentu saja mengusik rasa pertanggungjawaban kita sebagai orangtua. Bagaimana kesalahan orangtua namun anaknya yang harus menanggung.

“Hingga saat ini, kita masih menggunakan istilah kedurhakaan seorang anak terhadap orangtua. Namun hampir tidak pernah kita bicarakan kedurhakaan orangtua terhadap anaknya. Banyak contoh di sekitar kita. Bayi yang lahir kemudian dibuang di pinggir jalan. Orangtua yang berkata kasar dan menggunakan kekerasan fisik selama membesarkan anaknya. Boma adalah anak yang menggugat orangtuanya. Boma menyadarkan kita apakah kita sudah menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak kita,” jelas Bram.

Sepanjang 90 menit, pergelaran itu menyuguhkan komposisi gerak yang maskulin karena sebagian besar diperankan oleh penari laki-laki dan hanya dua penari perempuan. Musik diiringi secara langsung oleh seperangkat gamelan dengan pengrawitnya. Instrumen modern, seperti biola dan jimbe sebagai pengkaya warna nada. "Agar musik terdengar lebih dinamis," ujar sutradara Subono.

Hanya musik yang kaya tak didukung tata panggung yang kuat. Panggung tampak sederhana. Boleh dibilang, tata lampu menjadi unggulan bagi setting panggung yang senyap dari ornamen itu.

Toh, secara keseluruhan pementasan Boma tetap menarik. Menurut Subono, tokoh Boma sangat menarik. "Jika sejak kecil seseorang telah terbuang, proses dewasanya akan menggemparkan," katanya.

Ya, dunia pewayangan memang akan selalu multitafsir

sumber:
- http://old.nabble.com/Wayang-Orang-%E2%80%9CBoma%E2%80%9D-Pelajaran-bagi-Orangtua-Durhaka-td28206062. html
- http://www.tempointeraktif.com/hg/panggung/2010/04/11/brk,20100411-239484,id.html
Digdadinaya - 10/11/2011 07:59 PM
#214

Quote:
Original Posted By buhitoz
ha ha ha
Jangan GR ah, mbah Kenyut...
Namanya juga ngobrol ngalor ngidul
gak jelas juntrungannya

Peace:


lha iyo...Forbud kan forum paling bermutu tapi paling gak jelas yo kang...hahahahaha

ngalor ngidul tapi yo tetep mbalik neng tempate...
klenut - 10/11/2011 09:09 PM
#215

Artikel yg menarik, kang buhitoz.
Boma ternyata seorang anak yg merasa terbuang, bahkan ibunya pun ragu siapa yg jd bapaknya. Dg memahami ini, bgm dg predikat antagonis yg kerap disandangnya? Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.
Digdadinaya - 10/11/2011 09:38 PM
#216

Quote:
Original Posted By klenut
Artikel yg menarik, kang buhitoz.
Boma ternyata seorang anak yg merasa terbuang, bahkan ibunya pun ragu siapa yg jd bapaknya. Dg memahami ini, bgm dg predikat antagonis yg kerap disandangnya? Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.


bener kang.....anak harus patuh orang tua,tapi ortu durhaka? gmana???

Sitija tu ada yang bilang juga kalo anaknya Wisnu dengan Pertiwi..tapi begitu Wisnu nitis ke Kresna,dia gak mengakui...

sebenernya,menurut sy...(menurut saya lho....) Kresna kok seakan2 berbuat kurang terpuji ke anak2nya ya....

selain Boma, ada juga Gunadewa yang dibuang oleh Kresna, ia anak Kresna dan Jembawati (anak Kapi Jembawan).Gunadewa berwujud manusia tetapi punya ekor kera...Kresna malu,akhirnya Gunadewa dibuang n dibesarkan sama Kakeknya......
angel.wijaya - 10/11/2011 10:22 PM
#217

Quote:
Original Posted By prabuanom
kapan kapan kopdar, ketemu penguasa plengkawati D


wakakaka kena lagi ngakaks
engsap - 10/11/2011 10:45 PM
#218

Quote:
Original Posted By Digdadinaya
jadi tambah pengen kopdar....D
*jangan2 sya paling muda lagi....gak brani ah~ .............ngacir:


jelas lebih muda saya dong p


kalo ngomongin wayang enak pake musiknya dong. nih musik wayang bali (gender)

[YOUTUBE]mq5AH2IfBhs[/YOUTUBE]
Digdadinaya - 10/11/2011 10:57 PM
#219

Quote:
Original Posted By engsap
jelas lebih muda saya dong p


kalo ngomongin wayang enak pake musiknya dong. nih musik wayang bali (gender)



hwooooh............nantang bli??? PM tanggal lahir!!..:cool
hehehehe....

wah...asik ni...sayang inet lemot..
buhitoz - 10/11/2011 11:00 PM
#220

Quote:
Original Posted By engsap


jelas lebih muda saya dong p


kalo ngomongin wayang enak pake musiknya dong. nih musik wayang bali (gender)

[YOUTUBE]mq5AH2IfBhs[/YOUTUBE]

Yaa...ane skrg lg gk bisa dengerin, mbah.
Eniwey, tengkyu mbah. Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.
Page 11 of 80 | ‹ First  < 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.