Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.
Total Views: 26797 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 3 of 80 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›

prabuanom - 31/10/2011 04:15 PM
#41
wayang gambuh
Adalah salah satu jenis wayang Bali yang langka, pada dasarnya adalah pertunjukan Wayang Kulit yang melakonkan ceritera Malat, seperti wayang panji yang ada di Jawa.

Karena lakon dan pola acuan pertunjukan adalah Dramatari Gambuh, maka dalam banyak hal wayang Gambuh merupakan pementasan Gambuh melalui wayang kulit. Tokoh-tokoh yang ditampilkan ditransfer dari tokoh-tokoh Pegambuhan, demikian pula gamelan pengiring dan bentuk ucapan-ucapannya.

Konon perangkat wayang Gambuh yang kini tersimpan di Blahbatuh adalah pemberian dari raja Mengwi yang bergelar I Gusti Agung Sakti Blambangan, yang membawa wayang dari tanah Jawa (Blambangan) setelah menaklukan raja Blambangan sekitar tahun 1634. Almarhum I Ketut Rinda adalah salah satu dalang wayang Gambuh angkatan terakhir yang sebelum meninggal sempat menurunkan keahliannya kepadaI Made Sidja dari (Bona) dan I Wayan Nartha (dari Sukawati).

[code]http://www.babadbali.com/seni/wayang/wayang-gambuh.htm[/code]
prabuanom - 31/10/2011 04:16 PM
#42
wayang tantri
Wayang Tantri adalah wayang kreasi baru. Walaupun struktur pertunjukan, bentuk-bentuk wayangnya dan dialognya masih tetap mengacu kepada wayang tradisional Bali (kecuali figur-figur binatangnya).

Lakon yang dibawakan adalah cerita Ni Diah Tantri dan cerita-cerita mengenai kehidupan binatang lainnya. Wayang ini pertama kali diciptakan pada tahun 1981 oleh I Made Persib, mahasiswa jurusan Seni Pedalangan pada Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar, sebagai sebuah garapan pakeliran baru untuk ditampilkan pada Festival Seni Institut Kesenian Indonesia (IKI) di Bandung.

Waktu itu Made Persib memilik lakon "Pedanda Baka" atau "Cangak Maketu". Dua tahun kemudian, dengan penafsiran dan penggarapan yang lebih kaya, didukung ketrampilan teknik yang lebih matang, dalang kondang I Wayan Wija dari Banjar Babakan Sukawati mementaskan Wayang Tantri versi baru yang diiringi dengan gamelan batel Semar Pagulingan yang berlaras pelog. Jumlah pemain Wayang Tantri hampir sama dengan Wayang Ramayana.

Selain seorang dalang dengan dua orang pembantunya, dalam rombongan Wayang Tantri ini juga ada sekitar 13 orang penabuh gamelan yang memainkan 4 gender rambat, 2 kendang, 1 kajar, 1 klenang, 1 kempur dan kemong, 1 cengceng dan beberapa buah suling. Munculnya wayang Tantri ini tentu saja semakin memperkaya dan menyemarakkan seni pewayangan Bali. Namun yang lebih penting untuk dicatat adalah bahwa wayang Tantri membawa inovasi penting terutama dalam seni musik wayang yang selama ini didominir oleh musik - musik berlaras slendro. Juga cukup menonjol adalah penampilan figur-figur binatang dengan gerak-geriknya yang mendekati kenyataan.

[code]http://www.babadbali.com/seni/wayang/wayang-tantri.htm[/code]
sakradeva - 31/10/2011 07:27 PM
#43

Quote:
Original Posted By prabuanom
Wayang Tantri adalah wayang kreasi baru. Walaupun struktur pertunjukan, bentuk-bentuk wayangnya dan dialognya masih tetap mengacu kepada wayang tradisional Bali (kecuali figur-figur binatangnya).

Lakon yang dibawakan adalah cerita Ni Diah Tantri dan cerita-cerita mengenai kehidupan binatang lainnya. Wayang ini pertama kali diciptakan pada tahun 1981 oleh I Made Persib, mahasiswa jurusan Seni Pedalangan pada Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar, sebagai sebuah garapan pakeliran baru untuk ditampilkan pada Festival Seni Institut Kesenian Indonesia (IKI) di Bandung.

Waktu itu Made Persib memilik lakon "Pedanda Baka" atau "Cangak Maketu". Dua tahun kemudian, dengan penafsiran dan penggarapan yang lebih kaya, didukung ketrampilan teknik yang lebih matang, dalang kondang I Wayan Wija dari Banjar Babakan Sukawati mementaskan Wayang Tantri versi baru yang diiringi dengan gamelan batel Semar Pagulingan yang berlaras pelog. Jumlah pemain Wayang Tantri hampir sama dengan Wayang Ramayana.

Selain seorang dalang dengan dua orang pembantunya, dalam rombongan Wayang Tantri ini juga ada sekitar 13 orang penabuh gamelan yang memainkan 4 gender rambat, 2 kendang, 1 kajar, 1 klenang, 1 kempur dan kemong, 1 cengceng dan beberapa buah suling. Munculnya wayang Tantri ini tentu saja semakin memperkaya dan menyemarakkan seni pewayangan Bali. Namun yang lebih penting untuk dicatat adalah bahwa wayang Tantri membawa inovasi penting terutama dalam seni musik wayang yang selama ini didominir oleh musik - musik berlaras slendro. Juga cukup menonjol adalah penampilan figur-figur binatang dengan gerak-geriknya yang mendekati kenyataan.

[code]http://www.babadbali.com/seni/wayang/wayang-tantri.htm[/code]


selama ini di Bali Wayang Tantri identik dengan Dalang I Wayan Wija dari Sukawati Gianyar, saya salah satu penggemarnya lho Dimas
dulu kemana2 dia pentas selalu nonton

jadi sosok I Made Persib kurang begitu di kenal

sekedar info di SINI
prabuanom - 31/10/2011 07:39 PM
#44

Quote:
Original Posted By sakradeva
selama ini di Bali Wayang Tantri identik dengan Dalang I Wayan Wija dari Sukawati Gianyar, saya salah satu penggemarnya lho Dimas
dulu kemana2 dia pentas selalu nonton

jadi sosok I Made Persib kurang begitu di kenal

sekedar info di SINI


Wayang Tantri
Friday, 18 February 2011 04:33 Wayang-Indonesia
Wayang Kulit Tantri diciptakan pada tahun 1987 oleh Dalang I Wayan Wija (52 tahun) dari Banjar Babakan, Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. Wija menciptakan Wayang Kulit Tantri1 berawal dari keinginan menampilkan khasanah yang berbeda dari bentuk pewayangan Bali yang sudah ada. Lebih jauh ia ingin memvisualisasikan ceritera tantri (Tantri Kamandaka) yang banyak berkisah tentang tabiat/perilaku hewan dan binatang. Dalang Wija sepertinya berjodoh dengan satwa (ceritera) tantri, karena ia bisa bebas berkreativitas diluar norma pakem pewayangan tradisi yang ketat. Dalang Wija diakui memiliki kemampuan lebih selain suara/tembang (vokal) sangat empuk dan memikat serta kemampuan tetikesan (Jawa: sabet) sangat terampil. Figur-figur Wayang Kulit Tantri garapan Wija sepintas tak jauh beda dengan wayang kulit tradisi Bali lainnya, hal itu disebabkan ia masih tunduk dengan pola wayang tradisi dan tidak berani berinovasi terlalu tajam, serta mengkhawatirkan dapat cemohan dari masyarakat pencinta pewayangan. Hal ini disebabkan norma-norma dalam seni tradisional lebih ketat dari seni modern, selain itu individu-individu kretaif tidak pernah dapat membuang begitu saja warisan budaya yang masih hidup, karena masih relevan sebagai titik tolak untuk menciptakan bentuk-bentuk yang baru. Namun demikian inovasi wayang yang berhasil ia ciptakan antara lain, kayonan dengan motif pagoda/meru (tempat suci) tumpang tujuh di tengah dengan latar belakang pepohonan bercorak dekoratif lengkap tertatah binatang seperti singa, banteng, kera, burung, dan puncaknya menur/murda. Sedangkan di bawah meru ditopang empas (kura-kura) dililit oleh dua ekor naga dengan ekor menjulur ke atas. Gagasan ini terinspirasi dari ceritera “pamuteran Mandaragiri” (Adi Parwa), mengisahkan perebutan tirta amerta antara para dewa dengan para raksasa dengan memutar gunung Mandara dengan lilitan seekor naga di lautan susu, supaya gunung tidak tenggelam kura-kura besar (empas) menopangnya dari dasar gunung.2 Wija juga menambahkan beberapa tokoh panakawan seperti, pan kayan; pangkur; kembar; wijil dan “panakawan sisipan” lainnya. Termasuk pula hewan dan binatang-binatang dimana dua kaki di depan terlepas (diberi katik/tangkai) dengan posisi berdiri seperti, lembu, singa, anjing, kodok, kelinci dan yang lainnya. Demikian juga kelompok burung kedua sayap lehernya terlepas dan pada ujung sayap dipasang tangkai seperti, angsa, bebek, cangak, dan burung atat. Disamping itu ia juga menambahkan beberapa binatang seperti, jerapah; orang hutan; menjangan, zebra, kangguru dan yang lainnya.3 Inovasi wayang yang paling mutakhir dari karya dalang Wija adalah “Barong”, transformasi Barong (binatang totem) dalam dramatari Calonarang. Dari kemampuan menatah dan tikes/sabet, Wija berhasil menghidupkan wayang barong yang berisi empat tangkai (satu di kepala, dua di kaki depan, dan satu lagi pada kaki belakang) dengan kedua tangannya. Sebuah teknik tetikasan/sabet tersulit yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh dalang-dalang lainnya di Bali, bahkan ia bisa melakukannya dengan satu tangan kanan (tangan kiri memegang tokoh Rangda/Calonarang ketika adegan siat/perang). Diiringi instrumen gamelan palegongan, sajian Wija semakin menarik dan asyik ditonton, karena gamelan ini berlaras pelog memungkinkan ia bisa bebas berolah vokal tidak seperti gamelan gender dengan laras slendro untuk bervariasi tandak (gending) sangat terbatas. Namun demikian, dalang Wija masih patuh dan mengikuti struktur pertunjukan wayang konvensional, dimulai dari gending pategak (Jawa: talu), pamungkah, jejer/simping (dramatik personae), cabut kayon, petangkilan (paseban), angkat-angkatan (keberangkatan tokoh dan pasukan), rebong (adegan romantis), bapang (khusus keluar panakawan Delem), pasiat, dan bugari (penutup). Para dalang di wilayah kelahirannya (Babakan, Sukawati) mengakui, termasuk seniman akademis memberikan apresiasi yang sama terhadap keunggulan vokal, tikes/sabet, dan keterampilan Wija membuat dan menatah wayang kulit. Hal tersebut dibuktikan ketika mendapat predikat I dalam festival Wayang Kulit Ramayana se-Bali tahun 1982. Dan berkat kepiawaiannya itu, ia beberapa kali diundang pentas ’ngwayang’ ke luar negeri antara lain, Amerika Serikat (1982), Jepang (1983). Wija yang sempat mengajar di SMKI/SMK3 (1984-1990) dan STSI Denpasar (1990 – 1999), ia juga turut misi kesenian pada Asia Pacific Festival di Vancouver (1985). Pada tahun 1992 dia tampil di India dan melanjutkan perjalananya ke Amerika bergabung dengan Mabou Mimes Theatre Company. Wija bertemu dengan dalang asing Larry Reed (AS) lantas berkolaborasi menggarap wayang raksasa dengan kelir lebar dan tata cahaya listrik yang kemudian disebut wayang listrik.
Pada tanggal 1 Agustus 1998, Dinas Kebudayaan Daerah Bali mengambil inisiatif untuk melakukan “Sarasehan Wayang Tantri” melibatkan seniman dalang, pengrawit, pembina dalang/wayang, dan birokrat dari sembilan kabupaten dan kodya se-Bali dengan dua pembicara yakni, I Made Persib, B.A., (pemrakarsa dan dalang awal Wayang Kulit Tantri dan guru pedalangan SMK3 Sukawati, Gianyar, Bali); dan Drs. I Nyoman Suarka, M.Hum. (dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar) dan I Dewa Ketut Wicaksana, SSP., M.Hum. (STSI Denpasar), sebagai pemandunya. Hasil sarasehan tersebut digunakan sebagai bahan acuan dalam rangka ’Parade Wayang Kulit Tantri se-Bali’ tahun 1999.4

1Wayang Kulit Tantri semula muncul di ASTI Denpasar dengan dalang I Made Persib, B.A. dalam rangka Festival IKI (Institut Kesenian Indonesia) di Bandung tahun 1980. Lakonnya Pedanda Baka (Cangak Maketu) dengan iringan gamelan Semarpagulingan tujuh nada.



2I Dewa Ketut Wicaksana, Kekayonan Wayang Kulit Bali: Analisis Bentuk, Fungsi dan Makna Simbolis-nya, Laporan Penelitian STSI Denpasar, 1999, p.12. Penelitian ini juga diseminarkan di STSI Denpasar, pada tanggal 2 Januari 1999 serta dipublikasikan pada Jurnal Seni Budaya MUDRA, no. 7, Th. VII, STSI Denpasar, Februari 1999, pp.75-88

3Kadek Suartaya, SSKar., M.Si., “Wayang Menggeliat Menyiasati Zaman” dalam Koran Tempo, Jakarta, Minggu, 5 Mei 2002. Dalang I Wayan Wija juga merancang ’Wayang Dinosaurus’, berkisah tentang binatang-binatang purba.

4Laporan Parade dan Sarasehan Wayang Kulit Tantri, Dinas Kebudayaan Propinsi Daerah Tingkat I Bali, 1998/1999.

saya tampilkan linknya bli shakehand
maykelzz - 31/10/2011 09:51 PM
#45

widihhh keren banget
kita harus cinta budaya bangsa kita
jangan sampai di ambil sama negara lain
buhitoz - 31/10/2011 10:25 PM
#46

trims, mbah prabu
shakehand

Quote:
Original Posted By sakradeva
selama ini di Bali Wayang Tantri identik dengan Dalang I Wayan Wija dari Sukawati Gianyar, saya salah satu penggemarnya lho Dimas
dulu kemana2 dia pentas selalu nonton

jadi sosok I Made Persib kurang begitu di kenal

sekedar info di SINI


mbah sakradeva, sorry..... itu namanya unik....Persib
malus

Quote:
Original Posted By maykelzz
widihhh keren banget
kita harus cinta budaya bangsa kita
jangan sampai di ambil sama negara lain


:thumbup
trims, mbah
pleke.nyut - 01/11/2011 02:57 AM
#47

kata wayang terbentuk dari kata “YANG” yang diberi awalan “WA”, ditilik dari beberapa kata dalam bahasa jawa yang memiliki akar rumpun kata “YANG” sama seperti “layang”, “doyang”, “puyeng”, “reyong”, yang berarti : selalu bergerak, tidak tetap, samar-samar, dan sayup-sayup.

seperti asal kata “YANG” dan awalan “WA” tadi, memiliki arti tersendiri. “YANG” itu etimologinya berasal dari kata Hyang yang pada akhirnya menjadi kata Eyang yang juga berarti kakek, nenek, atau leluhur yang telah meninggal. sedangkan “WA” sendiri berarti keturunan atau trah,

contohnya; Pandawa – berasal dari kata PANDU – WA , “PANDU” = Nama ayah Pandawa Lima, Sedangkan “WA” = Keturunan, sehingga Pandawa = Keturunan Pandu.

Kurawa yang menjadi musuh Pandawa, berasal dari kata KURU – WA , KURU = sebuah daerah bernama Tanah Kuru ( Mahabarata), “WA” = keturunan, sehingga Kurawa = Keturunan Daerah Kuru.

Quote:

PIRAMIDA

Orang jawa beserta leluhurnya sering menyebut gunungan dengan nama “Kayon” sehingga dalam pewayangan ada istilah “Tancep Kayon” yang berarti menancapkan wayang yang berbentuk gunungan sebagai simbol perpindahan adegan.

Bila ditilik dari etimologi kata “Kayon” itu sendiri adalah berasal dari kata “Kayu” (kayu pohon), “Kayu” itu sendiri adalah dari kata “Kayat/Hayat” yang berarti hidup. berarti Kayon (gunungan) = Hidup.

Gunungan sendiri itu juga berasal dari kata Gunung tentunya, sebuah tempat yang di bumi dengan permukaan yang tinggi, sejuk, oksigen yang tipis, di lerengnya terdapat hutan belukar yang hijau dan juga diantaranya terdapat tanah-tanah yang subur yang siap ditanami.

Para leleuhur kita memposisikan gunung sebagai tempat yang suci, sebut saja Gunung Dieng yang berasal dari kata Dhyang, dan juga Gunung Parahyangan yang berarti Gunung Para Hyang (para leluhur/dewa). makin kita naik keatas gunung makin hilang pula sifat individualistik, yang tampak akan lebih umum, jamak. tingkat kesadaran manusia akan semakin tinggi akan sesuatu disekitarnya, sehingga orang tersebut akan lebih berpikir holistik (menyeluruh).


Quote:

Dalam kehidupan sehari-hari bentuk gunung diwujudkan para leluhur kita dalam berbagai peralatan. Diantaranya adalah caping, topi bambu berbentuk kerucut, sehingga air hujan tidak mengganggu kepala, akan tetapi Mripat (Maripat) tetap dapat memandang dengan leluasa. Selanjutnya, atap rumah joglo, yang menunjukkan bahwa pusat bangunan dengan lantai tertinggi terlelak di pusat, dibawah puncak atap dan merupakan tempat berdoa yang paling efektif. Payung kraton bertingkat tiga juga menggambarkan tingkatan dari kamadhatu, rupadhatu dan arupadhatu.

Bentuk gunungan sendiri simetris dengan bagian bawah melengkung seperti masih bersifat dualistis keatas makin hilanglah sifat Dualistis, bukan malah menjadi individualis melainkan menuju ke Hyang Esa.


Quote:

Dalam Gunungan terdapat gambaran tentang air, api, angin dan tanah. Gunungan mewakili lima unsur alam, yaitu tanah, air, api, angin dan ruang. Semua benda di alam ini merupakan kombinasi dari kelima unsur tersebut. Dalam setiap babak kehidupan mulai dari lahir sampai mati para leluhur mengingatkan perlunya kesadaan untuk memahami sangkan paraning dumadi, asal muasal kehidupan. Manusia ini asalnya Bapa Ibu — Simbah — Eyang — dari Hyang Murbeing Dumadi , Yang Maha Pemberi Kehidupan, melalui lima unsur alami dan akhirnya kembali juga kepada lima unsur alami dan bersatu dengan Yang Maha Kuasa. Itulah mengapa setiap babak selalu diawali dan diakhiri dengan dimainkannya Gunungan oleh sang Dalang. Segala sesuatu diiawali dengan kelahiran, kemudian jagad gumelar, dunia terkembang dan diakhiri dengan jagad ginulung, dunia tergulung dan musnah. Di dunia ini tidak ada yang abadi. dan pada akhirnya setelah meninggal manusia, akan kemabali ke mula-mula
”caping, topi bambu berbentuk kerucut, sehingga air hujan tidak mengganggu kepala, akan tetapi Mripat (Maripat) tetap dapat memandang dengan leluasa.”
Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.

Spoiler for sumber
twiki - 01/11/2011 05:46 AM
#48

bagus nih gan... \)b iloveindonesias
mohon ijin nyimak ane gan .. malus:
ccck - 01/11/2011 09:18 AM
#49

ijin menyimak dengan seksama mbah buhitoz shakehand

\)
Digdadinaya - 01/11/2011 10:57 AM
#50

wah,trit baru tentang wayang lagi ni.....kula nuwun kang Dasamuka...
buhitoz - 01/11/2011 02:23 PM
#51

Quote:
Original Posted By twiki
bagus nih gan... \)b iloveindonesias
mohon ijin nyimak ane gan .. malus:
silakan mbah.
shakehand Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.
buhitoz - 01/11/2011 02:27 PM
#52

Quote:
Original Posted By Digdadinaya
wah,trit baru tentang wayang lagi ni.....kula nuwun kang Dasamuka...

Mbah, gmn kabarnya? Sibuk aja euy. Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.
sakradeva - 01/11/2011 03:01 PM
#53
Wayang Listrik Kontemporer
I Made Sidia
Cara Seniman Muda melestarikan Wayang

Wayang adalah kesenian luhur warisan leluhur kita, kehadirannya tidak saja sebagai sarana hiburan, tapi lebih daripada itu, kisah wayang kaya akan nilai nilai kehidupan, penuh dengan filsafat hidup, wayang pun merupakan sarana pendidikan budi pekerti dan ajaran Agama.
seiring perubahan jaman, wayang ( dalam artian luas tidak sekedar seni pertunjukan, namun juga seni sastra ) menghadapi tantangan berat, perubahan perilaku anak bangsa sebagai pemilik dan penikmat wayang mulai bergeser, kini berbagai sajian hadir didepan mata memanjakan Anak Negeri, mulai dari sinema, game, musik dll memlaui berbagai media baik media cetak dan elektronik berupa TV, Komputer, consol game dll.
kegelisahan pewaris budaya akan nasib wayang di masa mendatang sedikit terobati ketika mulai muncul pejuang muda dalam budaya, seniman yang berkreasi berbekal seni warisan leluhur dipadukan dengan kemajuan jaman melalui bakat dan inovasi.

I Made Sidia, seniman asal Desa Bona Gianyar Bali salah satu diantara mereka yang tampil menjawab kegalauan akan nasib wayang, bersama rekan rekan senimannya yang tergabung dalam sanggar Seni Paripurna, I Made Sidia tidak hanya melestarikan dan mengembangkan Wayang melalui pertunjukkan tapi juga dengan cara mendidik anak-anak yang tertarik dengan wayang maupu Seni lainnya seperti seni Tari dan Karawitan di Sanggar Seni nya yang terletak di Desa Bona.

Wayang Kontemporer, sebagaian lagi orang bilang Wayang Listrik garapan I Made Sidia ini terbilang unik, peralatan tradisonal wayang perannya diganti dengan peralatan elektronik. blencong atau lampu kuno dengan minyak kelapa (untuk proyeksinya) diganti proyektor yang dioperasikan dengan komputer. Penggunaan alat-alat elektronik ini melahirkan gambar dan visual efek sebagai latar dalam pertunjukan. Alat-alat itu dengan mudah menampilkan gambar berbeda, seperti hutan, gunung, kota, dan candi, baik berwarna maupun hitam-putih
Penggunaan LCD projector, slide lampu sebagai permainan cahaya, tiga layar dengan ukuran berbeda, dan gambar yang disadur dari Internet untuk latar inilah yang membuat wayang Made Sidia dinamai wayang listrik. dia pun aktif mengenalkan wayang ke manca negara dan berkolaborasi dengan dalang luar negeri.
Tema cerita yang diangkat pun bervariatif, meski cerita tetap bersumber pada Ramayana dan Mahabharata namun isu terkini seperti pelestarian lingkungan, masalah sosial, politik dan ekonomi menjadi topik yang diketengahkan.

Spoiler for beberapa video


[youtube]xJEDV0fWABE[/youtube]

[youtube]bVNcJQiRPvU[/youtube]

[youtube]7vevB5PVNkc[/youtube]

[youtube]u8PGJKgdMaU[/youtube]

source:

Bali Post
antaranews
ISI Denpasar
Wikipedia

pleke.nyut - 01/11/2011 04:03 PM
#54

byk konsep wayang tanpa kelir/blencong apa masih di anggap wayang?

Quote:

Wayang, asal kata dari wajib sembahyang kemudian disingkat menjadi wayang.

"Pagelaran Wayang kulit tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, juga sebagai sarana ruwatan yaitu ritual untuk melepaskan diri dari keruwetan dan kesusahan," tuturnya. "Ruatan, menurut tradisi orang Jawa dimaksudkan untuk ngudari ruwet rentek (melepas keruwetan dan kesusahan ), mberat sukerto (membuang sial),"


buhitoz - 01/11/2011 05:57 PM
#55

Trims mbah sakradeva dan mbah plekenyut
shakehand Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.
buhitoz - 01/11/2011 05:59 PM
#56

Trims mbah sakradeva dan mbah plekenyut
shakehand Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.
angel.wijaya - 01/11/2011 09:42 PM
#57

menyimak dahulu kang dasamuka,
mgkn nanti saya ikut posting berdasarkan karakter aja mgkn yah Peace:
buhitoz - 02/11/2011 02:11 PM
#58

Quote:
Original Posted By angel.wijaya
menyimak dahulu kang dasamuka,
mgkn nanti saya ikut posting berdasarkan karakter aja mgkn yah Peace:

Sip! Tengkyu papi Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.
jerowacik - 02/11/2011 04:43 PM
#59

nyuwun ijin melu nyimak kangmas \)
salam shakehand
K120NY - 02/11/2011 05:33 PM
#60

numpang nyimak ya mbah, btw komennya kenyut oot tuh
Page 3 of 80 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.