Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.
Total Views: 26797 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 5 of 80 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 >  Last ›

abijoz - 03/11/2011 12:41 PM
#81

Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.

Usia teater tutur ini sudah amat tua, sekurang-kurangnya sudah ada sejak zaman Majapahit (menurut berita Cina tahun 1416). Sisa-sisanya masih terdapat di Pacitan dan kemungkinan hampir punah karena seni ini tidak dapat diajarkan kepada orang-orang lain kecuali keturunannya saja, takut terhadap pelanggaran pantangan nenek moyangnya.
abijoz - 03/11/2011 01:13 PM
#82

Tercatat dalam sejarah, pada tahun 861 M, Raja Hindu Jayabaya dari Mamenang, Jawa, memerintahkan seniman-senimannya untuk membuat gambar dari patung-patung leluhurnya di atas daun palem. Dia kemudian menyebutnya wayang purwa. Selanjutnya wayang purwa pun mengalami pergeseran makna, hingga saat ini, wayang purwa lebih dikenal sebagai wayang kulit.

Spoiler for o:

Gambar-gambar di atas daun tersebut kemudian dibuat lagi di atas selembar kertas. Karena mahalnya harga kertas pada masa itu, kertas yang digunakan pun tidak dipotong-potong menjadi banyak. Sebaliknya, gambar-gambar tersebut dilukiskan saling bersebelahan sepanjang kertas yang ada. Kertas yang telah berisi gambar kemudian digulung menggunakan tongkat di ujung-ujungnya, dan disimpan dalam bentuk surat gulungan. Saat Raja ingin melihatnya kembali, surat gulungan dikeluarkan dan dibuka, dipindahkan dari satu ujung tongkat ke ujung lainnya. Gambar yang ada pun diterangkan dengan narasi.

Seperti wayang lainnya, wayang beber dimainkan oleh dalang. Dalam pertunjukannya, dalang memulainya dengan memberikan petunjuk bagi gamelan untuk mulai bermain. Selanjutnya dalang membuka gulungan yang akan diceritakan. Dengan bernyanyi dan berbicara, dalang menarasikan cerita dengan lebih detail. Gambar ditunjukkan satu per satu. Setiap gulungan merupakan satu kisah atau satu bagian dari suatu kisah. Kisah yang biasa diangkat oleh wayang beber biasanya adalah kisah Ramayana, Mahabarata, Jenggala, atau kisah-kisah duniawi dari desa dan kerajaan lain.

Sayangnya, saat ini keberadaan wayang beber sudah hampir punah. Wayang pun lebih identik dengan wayang kulit yang kepopulerannya hingga ke luar negeri.
balaprabu - 03/11/2011 01:22 PM
#83

Quote:
Original Posted By angel.wijaya
wakakaka....mbah buto sukanya yg begitu ngakaks

________________ ngacir:


kalo aden sukanya yg gimana? wowcantik:
buhitoz - 03/11/2011 03:47 PM
#84

Quote:
Original Posted By balaprabu


kalo aden sukanya yg gimana? wowcantik:

Senengnya godain banowati. Spy ada sensasinya, deg2an takut ketauan duryudana
Ha ha ha
Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.
abijoz - 03/11/2011 03:51 PM
#85

Quote:
Original Posted By buhitoz
Senengnya godain banowati. Spy ada sensasinya, deg2an takut ketauan duryudana
Ha ha ha
Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.


satu paket juga sama dursilawati \)b
buhitoz - 04/11/2011 02:55 PM
#86
Politik Wayang
Hampir sepuluh tahun saya berada di tanah Jawa. Makan dan minum dari tanah yang petaknya paling kecil dibanding 4 pulau besar lainnya di Indonesia. Padahal saya sendiri tidak pernah berpikir akan berdiam lama di pulau ini. Tetapi saya menikmatinya. Semakin lama saya menikmatinya, semakin mengolah pikir dan rasa. Proses dewasa dan sosial pribadi saya juga erat sekali dengan pulau wayang ini.

Saya berani menyebutnya pulau wayang. Karena saya melihat memang filosofi wayang lekat hingga ke sendi-sendi kehidupan masyarakatnya. Mungkin sebagian orang-orang di pulau jawa akan membantah karena merasa tidak mewakili filosofi-filosofi wayang tersebut. Belum lagi jika sudah membawa unsur budaya dan ke-lokal-an. Saya belum menemukan seorang Sunda asli mau dikatakan sebagai orang jawa. Walau sebenarnya mereka tinggal di Pulau Jawa sebelah barat. Tetapi sebagai ‘penonton’, orang pendatang, saya bisa menilai, wayang adalah topeng dan sekaligus ruh kehidupan di Jawa. Mungkin untuk orang Sunda saya bisa menawarkan lebih, “bagaimana kalau wayang golek saja”?

Fachry Ali pernah menulis sebuah buku “Refleksi Paham -Kekuasaan jawa- Dalam Indonesia Modern” (1986). Ada juga De Jong, S dalam “Salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa” (1976). Buku-buku budaya terbaru yang berbau fiksi sejarah seperti karya Langit Kresna Hariadi, juga menjelaskan secara implisit mengenai kekuatan budaya jawa dalam politik dan kekuasaan.

Lalu apa hubungannya dengan wayang? Pemahaman saya yang secuil ini membawa pemikiran ke sana. Bagaimana lakon budaya, punggawa dan penguasa dalam wayang-wayang jawa selalu bisa dilakonkankan dengan sempurna dalam kehidupaan politik negeri ini. Sejak zaman Indonesia menjadi negara yang merdeka, hingga “merasa” postmodern seperti sekarang, banyak orang berusaha membuktikan bahwa pembangunan Indonesia menjadi seperti ini karena dipengaruhi kebudayaan Jawa sehari-hari. Infiltrasi budaya njawani ini sampai ke pelosok-pelosok nusantara. Bahkan buku-buku sejarah SMU di Aceh juga lebih banyak halaman bercerita sejarah raja-raja Jawa – kalau kata adik saya, tidak dihapal, resikonya tidak lulus.

Kembali ke wayang. Ada 2 tokoh wayang menarik yang saya kutip dari artikel Seno Gumira di Majalah Jakarta – Jakarta. Sengkuni dan Kresna. Siapa yang tidak kenal kedua tokoh belakang layar dalam panggung Mahabaratha ini, bagaimana mereka menginspirasi sebuah film serial India kolosal terbaik di TPI di masa orde baru dulu. Kadang membuat saya betah untuk menunda-nunda jadwal masuk siang ke sekolah hanya untuk menanti kejutan-kejutan trik dan politik kedua tokoh ini. Mereka berdua aktif dalam permainan kekuasaan, menggunakan otak mereka – bukan dengan aji kesaktian.

Memang benar Kresna adalah titisan Betara Wisnu yang tidak terkalahkan, tetapi sebagai Kresna dalam Mahabharata, Kresna tidaklah berperan sebagai Rama dalam lakon Ramayana – Sinta. Bukan pula Kresna sebagai Arjuna Sasrabahu di zaman sebelum perang Mahabharata. Dalam Mahabharata, ia hanya diizinkan menggunakan akalnya. Kecuali jka dalam keadaan terpaksa tidak mampu menahan amarah, seperti dalam lakon Kresna Duta, maka otomatis “takdir” menentukannya harus bertiwikrama.

Dalam lakon Mahabharata, seperti diajarkan dalam ‘cerita-cerita baik’ dan menginspirasi, Sengkuni adalah seorang yang licik pembawa angkara murka (busuklah pokoknya), sedang Kresna adalah sumber segala kebaikan pesan dan perjuangan menuju kebenaran. Seperti layaknya semua dongeng masa kanak-kanak, kebenaran selalu absolute dimana sang jagoan dan tertindas harus menjadi pemenang. Cinderella maried berbahagia dan Putri Salju dikecup sang pangeran.

Tetapi coba kita lihat dari sisi politik. Kresna justru adalah tokoh yang sangat politis. Ia punya segala kelebihan nirwana. Backing dari Suralaya dan sebuah Kaca Lopian yang bisa menjawab semua masalah. Bahkan sudah tahu persis bagaimana jalannya sejarah yang akan datang, tahu akhir kisah Barathayudha dari awal cerita dipentaskan. Ya jelas, karena memang skenario nya adalah : “Pandawa memenangkan Bharatayudha“.

Bagaimana dengan sang laknat Sengkuni? Sungguh dia adalah seorang mediocre dari kampung coret Gandara. Cuma manusia biasa dengan modal otak saja. Tanpa ilmu-ilmu ajaib dari langit. Tetapi justru tampil dalam pentas secara lebih manusiawi. Sangat manusiawi malah, karena ada sifat iri dan dengki-nya itu. Kalau anda perhatikan, justru akal dan taktik politiknya sungguh mengagumkan dan bertebaran di sepanjang kisah Mahabharata.

Dasar nasib sial cuma terlahir sebagai manusia biasa, segala langkah Sengkuni jelas sudah terbaca oleh Kresna karena support dari Dewata. Berusaha sampai njengking sekalipun tetap saja kalah, karena tidak punya backing pemegang nasib dan takdir seperti sang Kresna.

Opini mitos Mahabharata di atas memang sangat dangkal adanya. Saya juga terinspirasi dari Seno. Tetapi bisa jadi benar juga, kenapa pandangan konservatif biasanya lebih cenderung memihak legitimasi Kresna. Dan sebaliknya dalam pandangan modern justru Sengkuni yang lebih manusiawi berada dalam batas realitas yang lebih mudah diterima. Meski kedua pandangan tersebut juga belum patut dijadikan teladan.

Lalu saya ditanya oleh seorang teman, “Jadi kamu memihak siapa?”. Well, mungkin menjadi Sengkuni lebih baik bagi saya. Manusia yang cerdik dan bisa menjadi kontrol penguasa dengan segala kekuatan politis yang licik.

sumber: http://www.kapucino.org/2008/04/05/politik-wayang/
buhitoz - 04/11/2011 09:05 PM
#87
Kumbo karno dan bung hatta
Pada hari-hari ketika Kumbo Karno sudah merasa muak terhadap kehidupan keraton dan oleh karena itu ia menyendiri di Panglebur Gongso, di rumahnya, bersama Togog, ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di keraton. Ia tak peduli.

Tapi hari itu ketenangan negeri Alengka terasa mencurigakan. Suasana itu dibuat seperti untuk menyelubungi sesuatu. Naluri Kumbo Karno mencium ada yang tak beres. Maka disuruhnya Togog, abdi dalem, untuk menyelidik.

Syahdan, Togog mampu menyusup sampai ke sumber berita yang aktual, dan layak dipercaya. Siang itu, setelah sidang kabinet yang melelahkan membujuk Dasamuka untuk mengembalikan Shinta, Gunawan Wibisono dikepruk dengan sepenggal besi oleh Dasamuka, Gunawan roboh dan mati seketika.

Kematiannya dirahasiakan. Segenap kawula dan kadang sentana keraton yang ada di dalam bangunan gedung istana tak boleh keluar. Sebaliknya, yang ada di luar tidak boleh masuk ke dalam. Segenap pintu dijaga ketat demi kerahasiaan itu.

Kemudian, dengan cara siluman, jasad Wibisono dibuang ke laut. Dengan demikian, Dasamuka bisa bersikap seolah-olah biasa, seolah-olah tak ada sesuatu yang terjadi. Tetapi Kumbo Karno yang mendengar hal itu dari Togog menggeram. Suaranya menggelegar di langit. Langkah kaki raksasa sebesar gunung yang menahan marah itu mengguncang bumi Alengka. Ia menuntut balas.

Sambil menuju keraton Alengka, Kumbo Karno mengobrak-abrik keindahan taman. Benteng dirobohkan. Beringin ditumbangkan. Alengka, pendeknya bagai diguncang prahara.

Melihat amok adiknya itu, Dasamuka mengkirik. Benar dia sakti mahambara. Tetapi Kumbo Karno pun bukan tandingan biasa. Dia bersembunyi. Disuruhnya Patih Prahasta meredam kemarahan adiknya.

“Ingat, anakku, Kumbo Karno,” bujuk Prahasta. Bumi bisa kau telan bila kau mau. Tapi lupakah kau, anakku, pada kawulo cilik yang tak bersalah, yang juga bisa jadi korban kemarahanmu, jika kau tak mau mengendalikan diri? Badaniah, engkau memang raksasa. Tapi aku tahu, jiwamu satria sejati…….

Kumbo Karno lilih dalam bujukan. Tapi sejak saat itu pula ia tidak mau lagi melihat polah tingkah Dasamuka. Tak tega melihat kekejaman kakaknya, Kumbo Karno menyingkir. Ia bertapa tidur di Panglebur Gongso. Bertahun-tahun lamanya.

Orang menyebut Kumbo Karno seorang patriot. Ia salah satu contoh satria utama. Tapi ada pula yang menilainya pengecut. Ia satria yang rela mati konyol. Dan ia pun dianggap tak berbuat sesuatu melihat kejahatan merajalela di depan matanya. Tapa tidurnya dianggap lambing sikap skeptis yang tak bertanggung jawab. Sikap yang bahkan merugikan bangsa dan negara yang ia bela.

Kita tahu, dunia wayang itu pralambang. Dan segala bahasa yang digunakan di dalamnya adalah juga bahasa pralambang.

Tidurnya Kumbo Karno di situ tentu tidak harfiah berarti ia menggeletak di kasur dan enak-enak bermimpi.

Bagi saya, tidur di situ artinya menarik diri dari kehidupan politik. Ia menyingkir. Menonaktifkan diri dari riuh rendah urusan kenegaraan yang ruwet. Dasamuka yang ekspansif, kolonial, dan mengagungkan superioritas diri, otomatis membuat Kumbo karno yang berpijak pada bahasa moral, lelah secara badani dan jiwani.

“Terserahlah, kalau suaraku tidak diperlukan,” begitu arti tidurnya. “Tapi tunggulah. Keruntuhan bakal menimpamu.”

Dalam berbagai rezim pemerintahan otoriter hal itu bisa ditemui. Raja cuma mau mendengar suaranya sendiri. Atau, suara siapa saja yang bersedia menjadi bayangannya, dan membuntut segala sikap dan tindakannya. Terhadap suara tandingan, Raja itu bersikap anti. Pembungkaman, akibatnya disistematisasikan. Penjara diperlebar. Kumbo Karno adalah pesakitan yang masuk penjara semacam itu.

Apakah beda Kumbo Karno dari Bung Hatta? Dua-duanya terpental atau mementalkan diri, dari pemerintahan yang tak mereka dukung. Dua-duanya kecewa melihat keadaan. Dua-duanya, akibatnya, lalu memilih jalan sepi. Dua-duanya satria yang melambangkan suara moral.

Bung Hatta, menjelang hari-hari akhir mitos dwi tunggal, banyak dikecewakan oleh sikap dan kebijakan politik Bung Karno. Dan ketika keputusan mundur dari pemerintahan di tahun 1956 itu akhirnya diambil, tokoh proklamator kedua itu berkata:

“ Setelah ikut serta dalam menjalankan tugas membangun bangsa dari atas selama sebelas tahun, saya ingin menyumbangkan kekuatan saya dari bawah sebagai orang biasa yang bebas dari kedudukan apapun.”

Bung Hatta mutung (merajuk)? Mungkin tidak. Tipe orang yang datar jiwanya dan rasional seperti Bung Hatta bukan tipe orang perajuk. Ia mengambil sikap dengan perhitungan matang seorang negarawan.

Saya selalu memberi arti tindakan semacam itu sebagai suatu gerakan moral. Sebuah tindakan yang diambil berdasarkan pertimbangan jangka panjang, demi kepentingan bangsa dan negara. Dan bukan berdasarkan pertimbangan praktis, buat diri sendiri, kelompok atau partai politik di mana ia berafiliasi.

Seperti sikap Kumbo Karno terhadap Dasamuka, Bung Hatta pun bukan tak suka pada Bung Karno secara pribadi. Hubungan Bung Hatta (dan keluarga) dengan Bung Karno (dan keluarga), kabarnya baik-baik saja. Bung Hatta Cuma tidak setuju dengan kebijakan politik Bung Karno.

Jarang orang bisa “membelah” diri seperti Bung Hatta. Ia tegas memisahkan yang pribadi dari yang resmi kenegaraan dan politik. Dan itu pula yang membuat Bung Hatta dihormati kawan dan disegani lawan-lawan politiknya.

Ketika sejumlah tokoh disembelih PKI dalam tragedi 1965 dulu itu, nama Bung Hatta sebenarnya tercantum dalam daftar yang harus disingkirkan dan dibabat.

Tapi ketika sejumlah jasad menggeletak, Bung Hatta masih selamat. Dan itu kabarnya, berkat keputusan mendadak Aidit: nama Bung Hatta dicoret dari daftar merah.

Kita tidak tahu mengapa Aidit mengambil keputusan itu. Padahal kita tahu, Bung Hatta gigih menangkal segala gerak politik PKI. Ia tergolong yang paling anti PKI. Tapi dugaan saya, seperti halnya ia anti terhadap sikap politik Bung Karno, sikap anti PKI Bung Hatta tak disertai rasa dendam, dengki dan sikap sejenis itu. Ia menolak tanpa menimbulkan permusuhan. Anti tanpa mengembangkan kebencian. Dan mengalahkan tanpa membuat orang yang kalah merasa hilang muka.

Seperti Kumbo Karno yang tidak memberontak melawan Dasamuka, Bung Hatta tak berontak mengangkat senjata terhadap Bung Karno. Dan seperti Kumbo Karno, Bung Hatta pun memilih tapa tidur untuk memberi kesempatan Bung karno merenung. Tapi di situ pula kelemahan gerakan moral: lawan politik kelewat enak dibiarkan dan ditinggal tidur. Ia bebas merajalela…….

Mochammad Sobary, Jawa Pos, 19 Januari 1992.
Dari buku kumpulan tulisannya: “Kang Sejo Melihat Tuhan.”
balaprabu - 04/11/2011 09:57 PM
#88

wah mantab tulisannya artikel dr mbah buhitoz. sengkuni memang fenomenal, kita mesti bisa belajar dari sengkuni. kumbokarno dan bung hata, simbol malas dan gerah, tp tidak mau memusuhi. biarkan saja berjalan semaunya toh pasti ambruk sendiri. sikap yang mengambil jalan tengah.
klenut - 05/11/2011 12:37 AM
#89

Juragan Buhitoz
permisi baca-baca dulu ya...
D
K120NY - 05/11/2011 01:52 PM
#90

wah...mantab mbahbuhitoz, ikutan nyimak ya malu:
buhitoz - 05/11/2011 02:05 PM
#91

Quote:
Original Posted By klenut
Juragan Buhitoz
permisi baca-baca dulu ya...
D

Mangga kang
Nyumbang tulisan atuh
Ha ha ha Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.
buhitoz - 05/11/2011 02:09 PM
#92

Quote:
Original Posted By K120NY
wah...mantab mbahbuhitoz, ikutan nyimak ya malu:

Wah simbah bisa aja
Cuma copas aja kok
Siapa tau menarik dibaca kl lg iseng
D
Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.
bergodo - 05/11/2011 07:04 PM
#93

Quote:
Original Posted By abijoz
Wayang Kampung sebelah (WKS).

http://wayangkampung.blogspot.com/

Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.


yang model ini baru aq tau,.. D D
mungkin ada sedikit mengikuti perkembangan jamankah..??
buhitoz - 05/11/2011 09:26 PM
#94

Quote:
Original Posted By bergodo


yang model ini baru aq tau,.. D D
mungkin ada sedikit mengikuti perkembangan jamankah..??

Menarik ya, mbah
D
Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.
balaprabu - 05/11/2011 09:50 PM
#95

Quote:
Original Posted By bergodo
yang model ini baru aq tau,.. D D
mungkin ada sedikit mengikuti perkembangan jamankah..??


pertunjukan wayang ini pernah lihat di tv sebagai bentuk sindiran situasi masarakat. tapi katanya pernah dibubarin ormas islam radikal. karena risih banyak sindiran di dalamnya.

http://harianjoglosemar.com/berita/pentas-wks-dibubarkan-orang-orang-berjubah-44962.html
bergodo - 07/11/2011 03:57 PM
#96

Quote:
Original Posted By balaprabu
pertunjukan wayang ini pernah lihat di tv sebagai bentuk sindiran situasi masarakat. tapi katanya pernah dibubarin ormas islam radikal. karena risih banyak sindiran di dalamnya.

http://harianjoglosemar.com/berita/pentas-wks-dibubarkan-orang-orang-berjubah-44962.html


karena memang selain tontonan ada unsur tuntunan juga,..
banyak sinidiran juga kah..??? D
balaprabu - 07/11/2011 05:40 PM
#97

Quote:
Original Posted By bergodo
karena memang selain tontonan ada unsur tuntunan juga,..
banyak sinidiran juga kah..??? D


pastinya menjadi cerminan dari peri kehidupan dimasyarakat D
buhitoz - 07/11/2011 09:35 PM
#98
Kematian yang Tertunda dan AntiOedipus [Catatan dari Pementasan "Rama Barghawa"
---
Event Title: Sedekah Bumi Desa Bagel Rembang
Description: Wayang Kulit Semalam Suntuk dengan Lakon "Rama Barghawa" dengan Dalang Ki Sigid Ariyanto
Location: Desa Bagel Rembang
Date/Time: 2011, Maret 22.
---

"Jika memang kau akan memenuhi permintaanku, maka aku pegangi perkataanmu. Inilah permintaanku: kembalikan ibuku yang sudah mati. Setelah dia hidup lagi, ampuni segala kesalahannya. Dan benahi rumah tanggamu dengan ibu, tidak ada pertikaian lagi dalam keluarga ini."
[Rama Bhargawa]


Sedekah bumi di Bagel Rembang malam itu sangat meriah, nanggap pementasan wayang kulit Ki Sigid Ariyanto dengan lakon "Rama Bhargawa". Karakter wayang yang dimainkan lebih sedikit jika dibandingkan lakon yang menceritakan zaman setelahnya, yaitu Ramayana dan Mahabharata. Bentuk wayangnya juga antik, kuno, dan tentu saja, ceritanya sangat menarik. Ki Sigid Ariyanto masih menampilkan performance prima, dengan iringan Sanggar Cakraningrat yang rajin mengolah teks-teks baru untuk dimasukkan ke dalam babak canda Limbuk Cangik, gara-gara para punakawan, serta permainan gamelan para yaga yang memukau ratusan penonton di dekat kandang dan persawahan desa Bagel malam itu. Masyarakat yang terbiasa dengan tontonan ketoprak, malam itu masih bisa menikmati canda sinden dan dhagelan, serta gending-gending yang biasa dimainkan di panggung ketoprak. Pementasan yang sudah lama ditunggu, namun selalu ada yang baru dari permainan Ki Sigid Ariyanto.
Kalau di sebuah festival Dalang Sigid memainkan kesetiaan Renuka, maka malam itu sajiannya lain. Renuka memang selingkuh, sebelum mati bunuh-diri. Malam itu, Rama Bhargawa benar-benar bermain sebagai Rama Bhargawa versi Jawa (berbeda dari cerita dari India) yang memiliki muatan teks yang sangat kompleks.

/* Sinopsis */
Pementasan wayang kulit semalam suntuk menceritakan Rama Barghawa, brahmana muda yang sangat sakti, biasa membasmi kejahatan di tengah masyarakat, layaknya superhero. Kapak Rama Bhargawa fungsinya mirip misil nuklir. Bisa diperintah, bisa memenggal kepala musuh dari jauh, dan menuntaskan peperangan. Suatu kali, Rama Barghawa mengalami dilemma saat bapaknya meminta dia menangani sebuah kasus rumit, terkait isu perselingkuhan ibunya. Rama Barghawa harus mengadili ibunya, demi tegaknya moralitas masyarakat. Sang Bapak meminta Ram Barghawa mengeksekusi ibunya, jika benar selingkuh. Ternyata memang Renuka, ibu Rama Barghawa itu, ketahuan sedang selingkuh. Renuka tetaplah seorang ibu baginya. Rama Barghawa melunak, melakukan kesepakatan: ibunya tidak dibunuh, dia akan dibuatkan sebuah rumah kecil di tengah hutan, untuk memperbaiki kesalahan. Rama Barghawa berjanji akan memalsukan kematian ibunya. Ternyata sang ibu memilih jalan lain: bunuh diri. Kenyataan yang sungguh pahit. Rama Barghawa marah, kembali ke pertapaan, meminta bapaknya menghidupkan sang Ibu kembali, mengampuni kesalahannya, dan memperbaiki hubungan mereka. Tidak mungkin semua itu bisa terwujud. Rama Barghawa menjadi tidak percaya pada kedigdayaan seorang begawan, tidak percaya pada masyarakat, namun tidak ada solusi yang bisa diberikan. Dia mendatangi pusat kota, membunuh semua ksatria yang dia temui. Ksatria yang korup, ksatria yang mendukung pemerintahan yang menciptakan masyarakat yang sakit. Semua itu harus diakhiri. Rama Barghawa mulai melakukan pembasmian kasta ksatria. Sekarang misinya untuk dirinya sendiri: mencari kematian. Dia menantang siapapun untuk mengalahkan dirinya. Tidak ada yang menang melawan Rama Barghawa. Berita kekacauan ini menurunkan Naraddha, yang menjelma menjadi raksasa, lantas melerai perbuatannya. Naraddha mengabarkan takdir, bahwa yang bisa membunuh Rama Barghawa adalah raja keturunan Wishnu. Dia mendengar kabar tentang raja titisan Wishnu bernama Arjuna Sasrabahu. Mereka bertarung, Arjuna Sasrabahu mati di kapak sakti Rama Barghawa. Naraddha melerai lagi, menjelaskan bahwa raja titisan Wishnu yang dimaksudkan adalah Rama Wijaya. Sayangnya, Rama Wijaya belum dilahirkan. Rama Barghawa diperintahkan Naraddha untuk bertapa, menunggu kedatangan Rama Wijaya, menyempurnakan spiritualitasnya.

/* Versi dan Pembebasan Teks Wayang */
Wayang selalu bebas diceritakan, tidak peduli bagaimana cerita itu berasal. Persoalan terpenting di wayang bukan pada "kebenaran" cerita, melainkan "bagaimana" cerita itu menginspirasikan tindakan seseorang atau tata nilai dalam suatu masyarakat. Tidak mengherankan, jika ada banyak versi cerita Rama Barghawa. Tidak jarang versi itu berseberangan. Silakan Anda bandingkan beberapa referensi awal untuk melihat teks Rama Barghawa. Anda bisa bandingkan permainan Ki Purba Carita, Ki Sigid Ariyanto, Wikipedia, cerita yang berlaku di India, Ensiklopedi Wayang, novel Rahuvana Tatwa karya Agus Sunyoto, atau search di Google. Versinya bisa berlainan, berseberangan. Faktanya sangat mengejutkan, namun tidak akan saya kutip semuanya di sini. Yang menarik perhatian saya dari lakon Rama Barghawa adalah ide ceritanya.

/* Zaman dan Masyarakat Rama Barghawa */
Rama Barghawa hidup di zaman tetrayuga, zaman kasta ksatria merayakan kebiasaan saling bunuh untuk mencapai kebenaran dan kekuasaan. Elite politik yang bermain dengan senjata dan pasukan. Entah itu pasukan berseragam resmi, ataupun barisan underground yang memihak kepentingan kekuasaan. Masyarakat di masa Rama Barghawa adalah masyarakat yang sakit. Banyak korupsi, berita skandal, angka korupsi, data kemiskinan, agenda kegiatan, dan masa di mana media berhasil mengubah peta politik dengan melakukan "propaganda kebenaran", informasi dianggap sebagai ilmu, status intelektual menjadi medan borjuasi ekonomi, zaman di mana seksualitas dikabarkan di ruang publik, zaman perdebatan menjadi hiburan, kemiskinan menjadi parodi, mengejar rating, di mana sejarah menjadi riwayat orang lain. Zaman orang mengaku kiai, memamerkan poligami, menyukai "solusi konkret", tidak lagi fokus pada masalah.
Kalau saja Rama Barghawa pastilah dia hanya dianggap sebagai "person", bukan sebagai keresahan, bukan sebagai gerakan. Bagaimana kalau Rama Barghawa bukan "person"? Apa yang terjadi jika Rama Barghawa adalah personifikasi sebuah generasi, atau mewakili sebuah organisasi?

/* Kematian yang Tertunda dan AntiOedipus */
Rama Barghawa tidak percaya pada bapaknya, bahkan tidak percaya pada janji bapaknya yang ternyata tidak bisa mengabulkan permintaannya. Rama Barghawa adalah generasi yang memenggal filsafat dari tubuh epistemologi, hingga filsafat menjadi "idealisme", hanya kelihatan "fungsi"nya saja. Rama Bhargawa menyajikan "cara" yang paling ekstrem: nihilisme.
Semua yang tidak bisa menuntaskan pertanyaannya, harus dibunuh.
Jika para elit terdapat sedikit cacat dalam kebijakan ataupun riwayat (biarpun itu kata media), harus berani menghadapi peperangan dengannya. Melawan [kata] "rakyat". Kata-kata menjadi media resistensi, misil pamungkas Rama Barghawa yang tidak bisa dikalahkan. Siapapun yang dianggapnya mendukung pemerintahan korup, walaupun itu "pegawai negeri", mantan "orang partai", atau pejabat, bisa dianggap sebagai penopang kerusakan. Semuanya akan "dibunuh" Rama Barghawa. Rama Barghawa seperti remaja beraliran punk yang mengibarkan "A" besar. Meneriakkan "anarki" dan "invasi". Mengedarkan stiker, "Aparat Busuk". Atau seperti jaringan bawah tanah yang menteror siapapun dengan isu pembantaian, negara bayangan, gerakan spiritual, aliansi intelektual, kebangkitan kerajaan, nusantara era modern, atau apapun yang sering Anda lihat di Facebook sebagai ketidakpercayaan kepada institusi negara. Melawan parlemen, melawan sistem, melawan apa saja yang dianggapnya menindas, tidak ideal, tidak seperti Indonesia yang dicita-citakan para pendahulu, yang dianggap tidak Jawa, atau tidak Islam, dan seterusnya.
Generasi yang melawan bapaknya, generasi yang tidak percaya pada "tema" kesepakatan politik. Generasi yang tidak mempan diberi apapun, selain kematian yang sempurna.

/* Postscript */
Rama Bhargawa adalah cerita tentang masyarakat yang sakit, mesin hasrat (desire machine), generasi yang membalas, ketidakpercayaan terhadap sistem, keluarga yang mengalami deteritorialisasi dalam jalinan politik negara, tubuh yang mengalami keabadian jiwa, keinginan mencapai spiritualitas dari seorang begawan-petarung dengan cara ksatria: melakukan peperangan. Peperangan untuk menyempurnakan kematian, dengan gaya nihilistik. Generasi yang memilih menghancurkan-diri dalam ketidaksadaran, membentuk "fight club" yang tidak lagi percaya pada label politik, agama, kekuasaan, generasi yang ingin mempertarungkan takdir dan kebetulan.
Sudahkah generasi Rama Barghawa mengalami pembebasan di masyarakat sekarang?

sumber: http://www.dalangsigid.com/2011/06/kematian-yang-tertunda-dan-antioedipus.html

Bargawa is a punk rocker!
hey ho...let's go!
D
pleke.nyut - 07/11/2011 10:56 PM
#99

lakon “Semar Mbangun Khayangan (Forum Maya)”

Semar pun dengan lembut dan santun mengatakan bahwa ia sedang prihatin melihat perilaku para pemimpin dan nayaka praja Amarta (Kaskus) yang menurutnya sudah tidak merakyat (menubie) lagi. Para pemegang wewenang mengalami degradasi moral,” keluh Semar, "yang seharusnya ngayomi lan melindungi (ngayemi) rakyat’e malah menjauhi (ngado’i) dan tidak merakyat,” ulasnya. Semar melihat dan menegaskan, dalam memegang tampuk kewenangan jauh dari hati nurani.

Shang Hyang Wenang pun memberi “piyandel” pegangan. yang bermakna jika jadi pemegang wewenang mestinya bisa memberikan pencerahan yang bijaksana, harus menerima perbedaan atau pluralisme yang ada. Tidak boleh memihak salah satu golongan dan harus bertindak adil kepada para rakyatnya (kaskuser). Mengingat Amarta (Kaskus) dulu dibangun berdasarkan masyarakat yang plural atau majemuk dan berasal dari berbagai suku, ras, dan agama, segala perbedaan itu sebagai kekuatan dan jati diri dalam membangun Amarta (kaskus).

Shang Hyang Wenang mengingatkan bahwa apa yang dimaksud dengan Mbangun Khayangan (forum maya) Semar adalah bagaimana membangun jiwa para pemegang wewenang di Amerta (kaskus)

shakehand2
buhitoz - 07/11/2011 11:39 PM
#100

ok, mbah kenyut
tengkyu
D
Page 5 of 80 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.