MELEK HUKUM new
Home > CASCISCUS > MELEK HUKUM new > Tips Jual Beli Tanah dan Bangunan
Total Views: 71740 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 3 of 89 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›

bluwind - 07/11/2011 05:54 PM
#41

Quote:
Original Posted By amrozilagi
bukannya prakteknya begitu o
yg dipake nilai NJOP think:


mungkin praktek d lapangan seperti itu gan D
tapi dari yg saya dapet d bangku kuliah (teori) dan berdasarkan UU BPHTB, yang d pakai adalah yg tertinggi antara harga transaksi dan NJOP PBB..
bila lebih tinggi harga transaksi, maka yg dipakai harga transaksinya gan, tapi u/ mnekan besarnya pajak, umumnya d pakai NJOP PBB..

tapi hal ini berakibat penyembunyian keadaan yang sebenarnya, yg bisa berakibat banyak d kemudian hari
amrozilagi - 07/11/2011 05:57 PM
#42

Quote:
Original Posted By bluwind
mungkin praktek d lapangan seperti itu gan D
tapi dari yg saya dapet d bangku kuliah (teori) dan berdasarkan UU BPHTB, yang d pakai adalah yg tertinggi antara harga transaksi dan NJOP PBB..
bila lebih tinggi harga transaksi, maka yg dipakai harga transaksinya gan, tapi u/ mnekan besarnya pajak, umumnya d pakai NJOP PBB..

tapi hal ini berakibat penyembunyian keadaan yang sebenarnya, yg bisa berakibat banyak d kemudian hari


ya sudah pake harga pasar aja kalo gitu D D D
bluwind - 07/11/2011 06:05 PM
#43

Quote:
Original Posted By amrozilagi
ya sudah pake harga pasar aja kalo gitu D D D


harga pasar bukan termasuk dasar pengenaan menurut UU BPHTB gan D
tapi tidak menutup kemungkinan hal seperti itu bisa terjadi, lhaa wong apa yg ada di UU dan bangku kuliah tidak selamanya berlaku dalam kehidupan sebenarnya (praktek)
amrozilagi - 07/11/2011 06:12 PM
#44

Quote:
Original Posted By bluwind
harga pasar bukan termasuk dasar pengenaan menurut UU BPHTB gan D
tapi tidak menutup kemungkinan hal seperti itu bisa terjadi, lhaa wong apa yg ada di UU dan bangku kuliah tidak selamanya berlaku dalam kehidupan sebenarnya (praktek)


ikut kebiasan dalam praktek aja kalo gitu pan fakta notoir jadinya D D D

ngacir:
bluwind - 07/11/2011 06:16 PM
#45

Quote:
Original Posted By amrozilagi
ikut kebiasan dalam praktek aja kalo gitu pan fakta notoir jadinya D D D

ngacir:


nahh.. itu diee masalahx gan,
ane gak tau kebiasaan dalam praktek tuu seperti apa hammers
siapacakapni - 07/11/2011 06:42 PM
#46

Ane mau tanya gan..

Ayah ane kan mau jual rumah.. kemudian ada pembeli yang berminat ( kebetulan pembelinya notaris ). Notaris ini mau beli rumah nya dengan cara bayar dulu uang mukanya yaitu 50 % dari harga jual rumah. Sisanya dibayarkan mencicil selama 5 bulan. Yang menjadi permasalahan sertifikat tanahnya mau dijaminkan sama pihak ketiga dulu ( pihak ketiga dalam hal ini adalah stafnya si notaris yang profesinya notaris juga ) setelah uang mukanya dibayarkan. Yang jadi pertanyaan :

1. Apakah sebaiknya sertifikat itu dijaminkan apa tidak..? Mengingat si penjamin tak lain punya hubungan dengan pembeli..
2. Kalau dijaminkan status sertifikat itu bagaimana..?
3. Kalau misalnya sertifikat itu di blok oleh BPN dari pihak saya...? bagaimana hukumnya...?

Thanx before sebelumnya... iloveindonesia
amrozilagi - 07/11/2011 06:50 PM
#47

Quote:
Original Posted By siapacakapni
Ane mau tanya gan..

Ayah ane kan mau jual rumah.. kemudian ada pembeli yang berminat ( kebetulan pembelinya notaris ). Notaris ini mau beli rumah nya dengan cara bayar dulu uang mukanya yaitu 50 % dari harga jual rumah. Sisanya dibayarkan mencicil selama 5 bulan. Yang menjadi permasalahan sertifikat tanahnya mau dijaminkan sama pihak ketiga dulu ( pihak ketiga dalam hal ini adalah stafnya si notaris yang profesinya notaris juga ) setelah uang mukanya dibayarkan. Yang jadi pertanyaan :

1. Apakah sebaiknya sertifikat itu dijaminkan apa tidak..? Mengingat si penjamin tak lain punya hubungan dengan pembeli..
2. Kalau dijaminkan status sertifikat itu bagaimana..?
3. Kalau misalnya sertifikat itu di blok oleh BPN dari pihak saya...? bagaimana hukumnya...?

Thanx before sebelumnya... iloveindonesia


AJB nya di mana? setelah seluruh hutangnya lunas?
siapacakapni - 07/11/2011 07:47 PM
#48

Quote:
Original Posted By amrozilagi
AJB nya di mana? setelah seluruh hutangnya lunas?


setelah lunas semua cicilannya gan...
JohnLemod - 07/11/2011 08:16 PM
#49

Quote:
Original Posted By LinMichaeL

Di prakteknya hampir semua memakai nilai NJOP untuk perhitungan pajak dan tidak ada masalah. Tapi, ada pula yg takut ini itu sehingga antara Pihak Pembeli dan Penjual sepakat memakai nilai riil jual beli. (Biasanya yg takut dr Pihak Pembeli tentunya, soalnya kalo Penjual kan habis terima duit udah gak bingung apa2 lagi. sedangkan Pembeli bingung Balik Namanya)
Pada faktanya sampai sekarang tidak terjadi apa2 meski memakai nilai NJOP.

Oleh karena itu, kita kembalikan ke Para Pihak mau menggunakan yg mana untuk perhitungan Pajak. Kalau PPAT biasanya tidak menyuruh menggunakan nilai NJOP, semua dikembalikan ke Para Pihak. Kalau PPAT menyuruh, wah, bisa dicari2 kantor pajak gara2 pendapatan negara berkurang gara2 si PPAT yg menganjurkan.


Terima kasih atas jawabannya gan, memang benar dlm prakteknya notaris mengembalikan kembali kepada penjual/pembeli, jadi keputusan memilih harga yg mana akan dipakai menjadi tanggung jawab penjual/pembeli, bukan notaris, sehingga notaris akan selalu berada di posisi netral.


Quote:
Original Posted By amrozilagi
ikut kebiasan dalam praktek aja kalo gitu pan fakta notoir jadinya D D D
ngacir:


Dlm prakteknya sih gan seperti yg saya tulis diatas, penjual/pembeli lebih memilih nilai NJOP, ato bahkan kalo harga yg disepakati 450 jt tp ditulis di AJB cuma 400 jt dan yg dilaporkan pun pasti lebih sedikit. Malah kadang ada penjual/pembeli yg dgn sengaja menaikkan harga lebih tinggi dr yg disepakati utk menutupi kekurangan pajak miliknya. Sungguh klo dipikir2 sistem pajak kita itu fleksibel dan kurang ketat, makanya banyak gayus2 yg siap menyokot para WP yg tidak hati2.
kerahitamshop - 07/11/2011 08:20 PM
#50

Lengkap banget informasinya. Masih bingung ce, tapi makasih banget buat infonya. Nanti kalo ada masalah perihal tanah jadi gampang nanyanya. Sukses buat agan-agan semua. thumbup:
LinMichaeL - 07/11/2011 09:56 PM
#51

Quote:
Original Posted By bluwind
hmm.. jika ada kasus seperti PPAT yang mengusulkan dan menyarankan pada para pihak u/ menggunakan NJOP PBB sebagai dasar penghitungan BPHTB, kalo gitu kan PPAT bisa kena pasal mengenai aktor intelektual kan yahh??

terus terang kasus kek gini yg bikin deg2an kalo nanti jadi notaris juga D


betul, yang pasti kalo PPAT menyuruh menggunakan NJOP, tentu rasanya kurang 'gimana gitu'. sebab secara teori memang dipilih yg lebih besar. kalo ternyata harga realisasi lebih besar, harusnya itu yg kita gunakan.

namun, beginilah praktek... semua tidak selalu sesuai dengan teori.. haha..
(jawaban yg ini kurang berwibawa..bata)
LinMichaeL - 07/11/2011 10:00 PM
#52

Quote:
Original Posted By amrozilagi
butuh second opinion o
mengenai nilai penjaminan atas satu objek dalam APHT berbeda dengan yg tertera di sertifikat HT..
nilai penjaminan dalam PK sama dengan yg tercantum dalam sertifikat HT..
langkah apa yg harus dilakukan jika ingin melakukan eksekusi?
apakah harus dibuat akta baru, yg berarti SHT nya harus di roya terlebih dahulu dan para pihak harus menandatangani ulang perjanjian jaminan tersebut?
trims


sepertinya ini tidak ada hubungannya dengan jual beli, tapi akan saya coba menjawab.

Yg saya tanyakan terlebih dahulu, nilai penjaminan yg mana yg benar?
Seharusnya yg menjadi acuan adalah nilai di APHT, karena dari APHT lah para pihak setuju sejumlah yg tersebut di APHT dan di ttd.
Sehingga bila terjadi ketidaksamaan nilai antara APHT dan Sertipikat Hak Tanggungan, maka yg harusnya dibetulkan tentu saja Sertipikat Hak Tanggungan nya. Kalo di PK salah ya dikoreksi juga.

Jangan di roya gan, kan hilang tuh HT nya. Lagian atas dasar apa mau diroya? lunas? kan enggak juga. kalau diroya trus pemiliknya gak mau ttd gmn donk?
kalo pengalaman saya ada kesalahan tulis di SHT ya dikoreksi gan, bisa koq..

semoga membantu hehehe
LinMichaeL - 07/11/2011 10:07 PM
#53

Quote:
Original Posted By siapacakapni
Ane mau tanya gan..

Ayah ane kan mau jual rumah.. kemudian ada pembeli yang berminat ( kebetulan pembelinya notaris ). Notaris ini mau beli rumah nya dengan cara bayar dulu uang mukanya yaitu 50 % dari harga jual rumah. Sisanya dibayarkan mencicil selama 5 bulan. Yang menjadi permasalahan sertifikat tanahnya mau dijaminkan sama pihak ketiga dulu ( pihak ketiga dalam hal ini adalah stafnya si notaris yang profesinya notaris juga ) setelah uang mukanya dibayarkan. Yang jadi pertanyaan :

1. Apakah sebaiknya sertifikat itu dijaminkan apa tidak..? Mengingat si penjamin tak lain punya hubungan dengan pembeli..
2. Kalau dijaminkan status sertifikat itu bagaimana..?
3. Kalau misalnya sertifikat itu di blok oleh BPN dari pihak saya...? bagaimana hukumnya...?

Thanx before sebelumnya... iloveindonesia



1. saran saya pribadi ya jangan dijaminkan. kenapa? karena itu sertipikat masih atas nama ayah agan kan? kalo ada apa2 nanti ribet. trus yg saya bingung, itu dijaminkan untuk apa? harusnya hutang piutang kan? sapa yg hutang? si notaris yg mau beli? kalo iya, itu mah namanya ayah agan dijadikan penjamin buat hutangnya notaris yg mau beli.. saya tidak menjudge itu buruk, tp secara logika apakah tidak aneh mau beli tp sertipikat dijaminkan? dalam kondisi yg demikian (BELUM AJB, karena BELUM LUNAS), bank saja tidak mau lho.
2. dijaminkan artinya status tanahnya istilahnya di blockir sama Kantor Pertanahan (BPN), sehingga tanah tersebut tidak dapat dipindahtangankan sampai blockirnya dicabut. Itu kalo dijaminkan beneran lho y. dgn kata lain2 agan bener2 tanda tangan perjanjian jaminan (APHT/Akta Pemberian Hak Tanggungan)
3. saya kurang ngerti mksdnya? diblok gmn y? agan yg memblockir? buat apa agan blockir? itu kan masih milik agan sebelum dilunasi, jd hak sepenuhnya ada di ayah agan.

semoga membantu. PM g saya bls y, lsg di sini.. hehe
LinMichaeL - 07/11/2011 10:09 PM
#54

Quote:
Original Posted By kerahitamshop
Lengkap banget informasinya. Masih bingung ce, tapi makasih banget buat infonya. Nanti kalo ada masalah perihal tanah jadi gampang nanyanya. Sukses buat agan-agan semua. thumbup:


bisa bertanya gan kalo emg ada yg kurang paham. kadang2 emg bahasa hukum tidak mudah dimengerti. tp thread ane sudah semaksimal mungkin pake bahasa yg umum digunakan koq..\)biloveindonesiasiloveindonesias
amrozilagi - 07/11/2011 10:54 PM
#55

Quote:
Original Posted By LinMichaeL
sepertinya ini tidak ada hubungannya dengan jual beli, tapi akan saya coba menjawab.

Yg saya tanyakan terlebih dahulu, nilai penjaminan yg mana yg benar?
Seharusnya yg menjadi acuan adalah nilai di APHT, karena dari APHT lah para pihak setuju sejumlah yg tersebut di APHT dan di ttd.
Sehingga bila terjadi ketidaksamaan nilai antara APHT dan Sertipikat Hak Tanggungan, maka yg harusnya dibetulkan tentu saja Sertipikat Hak Tanggungan nya. Kalo di PK salah ya dikoreksi juga.

Jangan di roya gan, kan hilang tuh HT nya. Lagian atas dasar apa mau diroya? lunas? kan enggak juga. kalau diroya trus pemiliknya gak mau ttd gmn donk?
kalo pengalaman saya ada kesalahan tulis di SHT ya dikoreksi gan, bisa koq..

semoga membantu hehehe

jadi gini, PK ini udah di adendum 2 kali,,,

nah ada perbedaan nilai penjaminan antara adendum 1 dan adendum 2,,,
yang tercantum di APHT = nilai penjaminan di adendum 1 padahal APHT dibuat berdasarkan AKta PK adendum 2.

nilai penjaminan di SHT = nilai penjaminan di PK adendum 2,,,

jadi kesimpulan sementara nilai di SHT lah yg benar....

kalo seperti ini gimana? mana yg harus diubah?
LinMichaeL - 07/11/2011 11:15 PM
#56

Quote:
Original Posted By amrozilagi
jadi gini, PK ini udah di adendum 2 kali,,,

nah ada perbedaan nilai penjaminan antara adendum 1 dan adendum 2,,,
yang tercantum di APHT = nilai penjaminan di adendum 1 padahal APHT dibuat berdasarkan AKta PK adendum 2.

nilai penjaminan di SHT = nilai penjaminan di PK adendum 2,,,

jadi kesimpulan sementara nilai di SHT lah yg benar....

kalo seperti ini gimana? mana yg harus diubah?


Jadi di APHT yg dilekatkan di tengah2 SHT itu isinya bertentangan kah?
Yg saya bingungkan, bagaimana Kantor Pertanahan bisa memasang nilai jaminan berdasarkan PK adendum 2, sedangkan APHT yg diberikan itu APHT yg nilai jaminannya berdasarkan PK adendum 1?
Kan aneh.. Karena Kantor Pertanahan menulis SHT berdasarkan APHT yg diserahkan ke dia. Kalau dia salah ketik di SHT, ya minta koreksian di SHTnya.
Bisa koq minta pembetulan.
amrozilagi - 07/11/2011 11:21 PM
#57

Quote:
Original Posted By LinMichaeL
Jadi di APHT yg dilekatkan di tengah2 SHT itu isinya bertentangan kah?
Yg saya bingungkan, bagaimana Kantor Pertanahan bisa memasang nilai jaminan berdasarkan PK adendum 2, sedangkan APHT yg diberikan itu APHT yg nilai jaminannya berdasarkan PK adendum 1?
Kan aneh.. Karena Kantor Pertanahan menulis SHT berdasarkan APHT yg diserahkan ke dia. Kalau dia salah ketik di SHT, ya minta koreksian di SHTnya.
Bisa koq minta pembetulan.


nah itu dia anehnya, kalo APHT & PK nya sama bisa dipastikan BPN nya yg salah..

nah ini APHT dengan PK & SHT ga sinkron capedes

kalo masalahnya begini gimana? harus di buat APHT barukah? kalo buat APHT baru berarti ttd ulang para pihak?
lexia - 08/11/2011 08:48 AM
#58

gan pertanyaan gua lum dijawab
misalkan antara pbb dan sertifikat luas bangunan ga sama yaitu PBB 144 sedangkan sertifikat 166
apakah waktu transaksi pemkot harus diundang untuk cek (HARUS?) apakah ga usah sengaja diundang jadi ntar nunggu pemkot survei sendiri?

kalo pbb ga diperbaharui jadi tetap 144 dan sertifikat tetap 166 ga apa kan gan?tujuannya biar bayar PBB nya lebih kecil
LinMichaeL - 08/11/2011 09:27 AM
#59

Quote:
Original Posted By lexia
gan pertanyaan gua lum dijawab
misalkan antara pbb dan sertifikat luas bangunan ga sama yaitu PBB 144 sedangkan sertifikat 166
apakah waktu transaksi pemkot harus diundang untuk cek (HARUS?) apakah ga usah sengaja diundang jadi ntar nunggu pemkot survei sendiri?

kalo pbb ga diperbaharui jadi tetap 144 dan sertifikat tetap 166 ga apa kan gan?tujuannya biar bayar PBB nya lebih kecil


Lho kayaknya sudah saya balas lwt PM.

Jadi gini gan, kalau ada perbedaan seperti itu dan agan memaksakan untuk membayar pajak sesuai PBB (padahal luas aslinya lebih besar), maka pada saat PPAT akan meminta Validasi pajak, pasti akan ketahuan. Karena dia akan mensurvei. Lalu agan dan penjual/pembeli akan dihubungi lagi oleh pihak PPAT untuk membayar kekurangannya. Menurut saya tentu akanlebih merepotkan, terutama apabila agan sebagai pembeli. Mengapa? Karena Penjualnya kan bisa jadi uda menghilang tuh habis dibyr lunas, akhirnya Pembeli deh yg terpaksa nanggung kekurangannya. Sebab kalo selisihnya gak dibyr kan gak bisa balik nama. (Kantor Pertanahannya gak mau kalau pajak belum lunas/belum di validasi)

Sehingga kalo agan ingin byr PBB lebih kecil (mencoba peruntungan sapa tau gak ketauan gt), ya terserah agan si.. Tapi seperti penjelasan saya di atas, kalo ketauan sama aja mesti bayar. Jadi mendingan PBBnya dikoreksi biar enak..iloveindonesiasiloveindonesias

Semoga membantu..cendolscendols
lexia - 08/11/2011 09:29 AM
#60

Quote:
Original Posted By LinMichaeL
Lho kayaknya sudah saya balas lwt PM.

Jadi gini gan, kalau ada perbedaan seperti itu dan agan memaksakan untuk membayar pajak sesuai PBB (padahal luas aslinya lebih besar), maka pada saat PPAT akan meminta Validasi pajak, pasti akan ketahuan. Karena dia akan mensurvei. Lalu agan dan penjual/pembeli akan dihubungi lagi oleh pihak PPAT untuk membayar kekurangannya. Menurut saya tentu akanlebih merepotkan, terutama apabila agan sebagai pembeli. Mengapa? Karena Penjualnya kan bisa jadi uda menghilang tuh habis dibyr lunas, akhirnya Pembeli deh yg terpaksa nanggung kekurangannya. Sebab kalo selisihnya gak dibyr kan gak bisa balik nama. (Kantor Pertanahannya gak mau kalau pajak belum lunas/belum di validasi)

Sehingga kalo agan ingin byr PBB lebih kecil (mencoba peruntungan sapa tau gak ketauan gt), ya terserah agan si.. Tapi seperti penjelasan saya di atas, kalo ketauan sama aja mesti bayar. Jadi mendingan PBBnya dikoreksi biar enak..iloveindonesiasiloveindonesias

Semoga membantu..cendolscendols


kallo selisiih 25m2 kira2 berapa ya gan?
jadi mau ga mau pasti ketahuan ya gan ga ada cara lain.
kalo njop 320jt dan luas bangunan 166 kira2 biaya notaris untuk balik nama dan AJB kisaran berapa ya gan
Page 3 of 89 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›
Home > CASCISCUS > MELEK HUKUM new > Tips Jual Beli Tanah dan Bangunan