DEBATE CLUB
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?
Total Views: 126104 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 3 of 332 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›

tongol - 04/11/2011 08:11 PM
#41

Quote:
Original Posted By KaskusGeeker
Ok jadi perlu batasan umur dan level pendidikan sex..

Batasan nya tambahin deh ya
1. Pendidikan sex yang dimaksud adalah tentang senggama, akibat senggama dan bahaya senggama diluar nikah.
2. Umur yang dimaksud adalah umur pada akil baligh artinya SMP kelas 3 menjelang SMA
Setujukah? (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?


tentang senggama?maksudnya berbagai macam posisi senggama?

gini dulu deh,lo dulu sekolah ga?klo elo sekolah kls brp dan seperti apa pendidikan seks yg di berikan di sekolah lo?
menurut lo pelajaran biologi udah cukup belom tanpa harus ada kurikulum baru yg ngebahas pendidikan seks itu sendiri.

klo gw nih ya,ada yg semacam pendidikan seks itu pas masuk sma ngebahas cara make kondom dll dll sama kk kelas.
udah itu doank selebihnya praktek dilapangan.
Yb1987 - 04/11/2011 08:16 PM
#42

Quote:
Original Posted By Ngaku2 mus¡c healing
pertama : bahan debatnya basi .. udah banyak bahan ini dikupas tuntas

kedua : gw setuju jika pendidikan seks dimulai sejak sekolah dasar, dari pengenalan alat-alat reproduksi dan seterusnya .. pendidikan seks gak sebatas membicarakan ngentodnya doang, tapi juga diawali dari pengenalan terhadap alat-alat reproduksi itu sendiri

ketiga : bawah gw homo \)

lama tak jumpa o



biar ngga oot

batasan umur yang dinyatakan 'di bawah umur' itu brapa?
mengingat anak jaman skarang lebih cepat mateng o


---

baru baca
Quote:
Original Posted By KaskusGeeker
Ok jadi perlu batasan umur dan level pendidikan sex..

Batasan nya tambahin deh ya
1. Pendidikan sex yang dimaksud adalah tentang senggama, akibat senggama dan bahaya senggama diluar nikah.
2. Umur yang dimaksud adalah umur pada akil baligh artinya SMP kelas 3 menjelang SMA
Setujukah? (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?

lu apdet pekiwan dulu..

baru gw apdet jawaban gw D
KaskusGeeker - 04/11/2011 08:32 PM
#43

Quote:
Original Posted By tongol


tentang senggama?maksudnya berbagai macam posisi senggama?

gini dulu deh,lo dulu sekolah ga?klo elo sekolah kls brp dan seperti apa pendidikan seks yg di berikan di sekolah lo?
menurut lo pelajaran biologi udah cukup belom tanpa harus ada kurikulum baru yg ngebahas pendidikan seks itu sendiri.

klo gw nih ya,ada yg semacam pendidikan seks itu pas masuk sma ngebahas cara make kondom dll dll sama kk kelas.
udah itu doank selebihnya praktek dilapangan.


Kurikulum pendidikan sex kan jadi wacana karena memang dirasa dari pelajaran Biologi aja ga cukup. Apa yg dipelajari dari Biologi hanya tentang reproduksi saja. Bukan tentang apa itu sex, akibat sex dan bagaimana bisa sex itu terjadi.

Maka muncullah pendidikan sex untuk meredam para siswa akil baligh yang bertanya2 dan malah mencoba sendiri. Tujuannya untuk, menghindari adanya sex diluar nikah.

Karena diharap dgn adanya pendidikan ini para siswa tau bahaya dan risiko sex diluar nikah. (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?
Negima - 04/11/2011 08:33 PM
#44

Quote:
Original Posted By wariman
Topik basi, udah sering...
Yg lain napa nohope:


Pendidikan sex usia dini itu gak perlu
Remaja itu msh labil, rasa keingin tahuannya besar

Ada indikasi mengarah pada coba mencoba hal baru
Nah kalau dikenalkan kepada sex, apa gak menutup kemungkinan si anak2 ini mengikuti dan mencoba ilmu yg baru mereka dapat??

Sosialisasi yg perlu diberikan adalah bahaya2 akan sex bebas, mindset anak usia remaja itu gampang di doktrin..
Takut2i mereka akan bahaya sex bebas... (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?


seandainya nggak tau akan seks...
bukan'a malah semakin besar kemungkinan jadi korban om-om bejad kayak elo bingungs
KaskusGeeker - 04/11/2011 08:33 PM
#45

Quote:
Original Posted By Yb1987

lama tak jumpa o



biar ngga oot

batasan umur yang dinyatakan 'di bawah umur' itu brapa?
mengingat anak jaman skarang lebih cepat mateng o


---

baru baca

lu apdet pekiwan dulu..

baru gw apdet jawaban gw D


Kalo bisa update udah gw update gan.. Acces denied \( \( (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?
Yb1987 - 04/11/2011 08:41 PM
#46

Quote:
Original Posted By KaskusGeeker
Kalo bisa update udah gw update gan.. Acces denied \( \( (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?

lah kok access denied?
karena pake wap kah? think:


klo misal ngga bisa apdet, gimana caranya lu mo apdet topik tiap minggu?


mending lu mikir ulang.. capedes
tongol - 04/11/2011 08:59 PM
#47

Quote:
Original Posted By KaskusGeeker
Kurikulum pendidikan sex kan jadi wacana karena memang dirasa dari pelajaran Biologi aja ga cukup. Apa yg dipelajari dari Biologi hanya tentang reproduksi saja. Bukan tentang apa itu sex, akibat sex dan bagaimana bisa sex itu terjadi.

Maka muncullah pendidikan sex untuk meredam para siswa akil baligh yang bertanya2 dan malah mencoba sendiri. Tujuannya untuk, menghindari adanya sex diluar nikah.

Karena diharap dgn adanya pendidikan ini para siswa tau bahaya dan risiko sex diluar nikah. (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?


tetep ga ngaruh sih sebenernya mau ada atau ga ada penambahan kurikulum baru tsb.

mau bahaya mau engga yg penting enak dulu bahaya dll belakangan dipikirinnya..
spammersr - 04/11/2011 09:24 PM
#48

Quote:
Original Posted By uprajudir
teori butuh praktek, praktek juga butuh teori. gak bisa lu lepas satu sama lain.

coba inti dari pendidikan seks apa nyed?
untuk safety sex kan?
kalo kejarannya itu ya yang secara teori yang dapet.
seberapa ngaruh sih pendidikan seks untuk anak kecil, jika tujuan utamanya safety sexual intercourse?


lah praktiknya itu disebut apa nyed ? SE kan? emang pendidikan sex cuma sebatas ngentod gitu gila:
kan lu sendiri yang bilang teori yang kayak gitu dipasang di SMP/SMA, goblog bener dah capedes
yang gw bilang bertahap tuh gini nyed dari kecil tahu bedanya laki ama perempuan, tahu cara berpakaian laki ama perempuan dll, baru teori selevel tadi .sex education di otak lu cuma dibatas ngentod ama ngentod sih capedes . lo ngomong "teori butuh praktek, praktek juga butuh teori" sebenernya cuma ngulang perkataan gw tadi,cuman dari perspektif berbeda
genit: genit: genit: genit: genit: genit:
arif_juve - 04/11/2011 09:27 PM
#49

Quote:
Original Posted By KaskusGeeker
Kurikulum pendidikan sex kan jadi wacana karena memang dirasa dari pelajaran Biologi aja ga cukup. Apa yg dipelajari dari Biologi hanya tentang reproduksi saja. Bukan tentang apa itu sex, akibat sex dan bagaimana bisa sex itu terjadi.

Maka muncullah pendidikan sex untuk meredam para siswa akil baligh yang bertanya2 dan malah mencoba sendiri. Tujuannya untuk, menghindari adanya sex diluar nikah.

Karena diharap dgn adanya pendidikan ini para siswa tau bahaya dan risiko sex diluar nikah. (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?


akil baligh itu masuk kategori dibawah umur?

btw udah pada browsing belum gimana silabusnya

kalo dari DIY mungkin ini
Spoiler for .

Pendidikan seks yang terdiri dari 6 bab dan 29 pokok bahasan, adalah sebagai berikut :

I. Hubungan antar Manusia
A. Keluarga
1. tujuan berkeluarga
2. komunikasi intensif dalam keluarga
3. kasih sayang dalam keluarga
4. interaksi dalam keluarga
5. fungsi keluarga
B. Pertemanan (saling membutuhkan antar manusia)
1. komunikasi agresif dengan orang lain
2. komunikasi pasif dengan orang lain
3. komunikasi asertif dengan orang lain
C. Pacaran
1. Pacaran sehat secara fisik
2. Pacaran sehat secara psikis
3. Pacaran sehat secara sosial
D. Perkawinan
1. Tujuan perkawinan
2. Perencanaan perkawinan

II. Perkembangan manusia
A. Gambaran umum perkembangan manusia secara fisik
1. Proses kejadian manusia secara sains (kehamilan)
2. Organ reprodukasi wanita
3. Organ reproduksi pria
4. Menstruasi
5. Mimpi basah
B. Gambaran umum perkembangan manusia secara psikis
1. Anak
2. Remaja (pubertas)
3. Dewasa

III. Pengembangan Diri
A. Mengenal dan menerima diri
1. Mengenal diri dan menemukan konsep diri
2. Kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain
B. Mengembangkan kepercayaan
1. Definisi kepercayaan
2. Mempercayai dan dapat dipercaya
3. Saat yang tepat untuk dapat mempercayai orang lain
4. Kepercayaan sebagai sebuah dugaan pribadi
C. Membuka diri
1. Segala hal mengenai membuka diri
2. Menerima umpan balik
D. komunikasi inter personal
1. Pengertian komunikasi
2. Menyampaikan Pesan Secara Efektif
3. Menyatakan Perasaan
4. Mengekspresikan perasaan secara verbal
5. Menyatakan perasaan secara non verbal
E. Mendengar secara aktif
1. Pengertian mendengarkan
2. Beberapa macam cara mendengarkan
3. Memberikan respon terhadap permasalahan orang lain
4. Respon yang tepat
5. Membantu menyelesaikan masalah orang lain
F. Konflik
1. Strategi memecahkan konflik
2. Manfaat konflik
3. Konflik yang membangun dan merusak
4. Strategi mengatasi konflik
5. Hal-hal yang mempengaruhi penyelesaian konflik
6. Tips menghadapi konflik secara efektif
G. Strategi pemecahan masalah
H. Merencanakan masa depan

IV. Perilaku seksual
A. Gambaran umum tentang perilaku seksual
B. Mengelola dorongan seks
C. Abstinance
D. Orientasi seksual
1. Heteroseksual
2. Homoseksual
3. Biseksual
4. Transeksual
E. Perilaku Seksual
1. Kissing
2. Necking
3. Petting
4. Intercouse
5. Anal
6. Oral
7. Vaginal
8. Masturbasi/Onani
F. Kelainan Seksual
1. Zoofilia (bestialitas)
2. Exhibitionisme
3. Voyeurisme
4. Pedhophilia
5. Necrofilia
6. Masochisme
7. Sadisme
8. Hiperseks

V. Kesehatan Seksual
A. 12 Hak Reproduksi
1. Mendapatkan informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi
2. Mendapatkan pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi
3. Kebebasan berpikir dan membuat keputusan tentang kesehatan reproduksi
4. Memutuskan jumlah dan jarak kelahiran anak
5. Hidup dan terbebas dari resiko kematian karena kehamilan, kelahiran, atau masalah gender
6. Kebebasan dan keamanan dalam pelayanan kesehatan reproduksi
7. Bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk
8. Mendapatkan manfaat dari kemajuan ilmu pengtahuan di bidang kesehatan reproduksi
9. Kerahasiaan pribadi
10. Membangun dan merencanakan keluarga
11. Kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik
12. Kebebasan dari segala bentuk diskriminasi
B. Kontrasepsi
1. Definisi Kontrasepsi
1. Macam-macam kontrasepsi
2. Keuntungan dari kontrasepsi
3. Kerugian dari kontrasepsi
4. Hak-hak konsumen untuk akses kontrasepsi
5. Hak-hak remaja untuk akses kontrasepsi
C. Kekerasan
1. Kekerasan fisik
2. Kekerasan psikis
3. Kekerasan sosial
4. Kekerasan seksual
5. Tindakan hukum bagi perilaku kekerasan/pelecehan seksual
6. Tips menghadapi kekerasan/pelecehan seksual
D. Kehamilan Yang Tidak Dikehendaki
1. Definisi KTD
2. Penyebab KTD
3. Pemecahan Masalah KTD
4. Meneruskan kehamilan
5. Menghentikan kehamilan
E. Aborsi
1. Definisi Aborsi
2. Jenis-jenis aborsi
3. Alasan individu untuk aborsi
4. Dampak dari aborsi
F. IMS
1. Definisi IMS
2. Jenis –jenis IMS
3. Cara penularan IMS
4. Penyebab dari IMS
5. Gejala-gejala dari IMS
6. Pengobatan untuk IMS
7. Mitos-mitos yang terjadi di masyarakat tentang IMS
G. HIV/AIDS
1. Definisi HIV/AIDS
2. Penyebab HIV/AIDS
3. Sejarah HIV/AIDS
4. Cara penularan HIV/AIDS
5. Fase/Tahapan HIV/AIDS
6. Pencegahan HIV/AIDS
7. Mitos yang terjadi di masyarakat tentang HIV/AIDS
8. ODHA
9. Stigma dan diskriminasi untuk ODHA
10. Dukungan dan perlindungan terhadap ODHA
11. Pengobatan HIV/AIDS
H. NAPZA
1. Definisi NAPZA
2. Jenis-jenis NAPZA
a. Dihisap
b. Dihirup
c. Disuntikan
3. Efek menggunakan NAPZA
a. Depresan
b. Stimulan
c. Halusinogen
4. Faktor penyebab NAPZA
a. Kondisi remaja
b. Komunikasi orangtua
c. Tanggungjawab masyarakat
d. Tanggungjawab negara
5. Pencegahan
a. Mengurangi Suplai
b. Mengurangi Penggunaan
c. Pengurangan Dampak
d. Penegakan Hukum

VI. Budaya dan Masyarakat
A. Gender
1. Gambaran umum tentang Gender
2. Definisi dan Istilah Gender
3. Pengertian dan Perbedaan Gender dengan Sex
4. Pembagian peran menurut Jenis Kelamin
5. Akar dan penyebab ketimpangan gender
a. Struktur budaya
b. Struktur social
c. Struktur politik
d. Struktur politik
e. Struktur ekonomi
f. Penafsiran agama
g. Dampak ketimpangan gender dalam kehidupan remaja
6. Pola ketimpangan gender (subordinasi, marginalisasi, sterotype, double burden, violence)
7. Persoalan keterkaitan antara peran gender dengan persoalan seksualitas / kesehatan reproduksi
a. Proses sosialisasi gender dan seksualitas laki-laki dan perempuan
b. Konsep cinta dan pacaran
c. Akses dan keterbukaan mengenai seksualitas
d. Perilaku seksualitas dan gender
B. Agama, Kehidupan Sehari-hari dan Seksualitas
1. Persoalan seksualitas dan agama
a. Perkembangan manusia dalam doktrin agama
b. Agama dan sexual taboo dalam perilaku dan orientasi seksual
c. Agama dan isu IMS dan HIV/AIDS
d. Agama dan isu kaum marginal
2. Fenomena seksualitas dalam kehidupan sehari-hari
a. Pembahasan mengenai fenomena seksualitas aktual
b. Proses menggali kepekaan social dan budaya dalam persoalan seksualitas
c. Perspektif yang mendukung remaja dalam melihat fenomena seksualitas dalam kehidupan sehari-hari.

sumber : http://soepritjahjono.wordpress.com/2009/12/19/materi-pembelajaran-pendidikan-seks/


nah sono dah debatin tuh isinya
gue mah males
thethinkers - 04/11/2011 09:29 PM
#50

gak tertarik sama temanya...

jadi males ikutan debat.. cuma pengen +1 aja iloveindonesia

nunggu ganti topik aja
hasyasheen - 04/11/2011 09:41 PM
#51

Quote:
Pendidikan seks di sekolah untuk anak di bawah umur , setujukah anda ?


saya rasa tidak perlu, pengetahuan dimana-mana akan mengundang rasa penasaran yang berlebih, yang berujung pada proving atau implementasi nyata.

seperti yang kita tahu, justru masalah pelecehan seksual kerap dialami di daerah2 yang alur informasi nya berkembang pesat dan pengetahuan2 tentang seks terbuka secara bebas. anak2 dalam hal ini tidak luput dari dampaknya.

pengetahuan tentang seks, hanya akan menimbulkan dampak sistemik sebab pada usia dini sangatlah susah untuk menanamkan secara instan soal pendidikan akhlaq secara menyeluruh.
pendidikan seks harus juga diimbangi oleh pendidikan akhlaq, tidak boleh tidak.


adakah yang mau meng-counter argumen saya?
soerya - 04/11/2011 10:10 PM
#52

wel, kalo batasan usia SMP kelas 2 , gw setuju
cepet atao lambat mereka pasti bertanya dan ingin tahu
edukasi perlu sesuai dengan tahapan perkembangan anak.

anak TK dijelasin soal SMP mana ngeh

btw

klo anak lu yg umur 5 thn nanya, "yah, ini kenapa titid adek koq ga ada, malah ada segitiganya ?"
ampe sekarang gw bingung jelasinnya hammer:
drtommy94 - 04/11/2011 10:25 PM
#53

First Post at Page one updated!!!
drtommy94 - 04/11/2011 10:26 PM
#54

Quote:
Original Posted By KaskusGeeker
Kalo bisa update udah gw update gan.. Acces denied \( \( (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?


Coba edit post #13

nanti gw merged ke first post
widya poetra - 04/11/2011 10:36 PM
#55

Ybhi:

Quote:
Original Posted By arif_juve
akil baligh itu masuk kategori dibawah umur?

btw udah pada browsing belum gimana silabusnya

kalo dari DIY mungkin ini
Spoiler for .

Pendidikan seks yang terdiri dari 6 bab dan 29 pokok bahasan, adalah sebagai berikut :

I. Hubungan antar Manusia
A. Keluarga
1. tujuan berkeluarga
2. komunikasi intensif dalam keluarga
3. kasih sayang dalam keluarga
4. interaksi dalam keluarga
5. fungsi keluarga
B. Pertemanan (saling membutuhkan antar manusia)
1. komunikasi agresif dengan orang lain
2. komunikasi pasif dengan orang lain
3. komunikasi asertif dengan orang lain
C. Pacaran
1. Pacaran sehat secara fisik
2. Pacaran sehat secara psikis
3. Pacaran sehat secara sosial
D. Perkimpoian
1. Tujuan perkimpoian
2. Perencanaan perkimpoian

II. Perkembangan manusia
A. Gambaran umum perkembangan manusia secara fisik
1. Proses kejadian manusia secara sains (kehamilan)
2. Organ reprodukasi wanita
3. Organ reproduksi pria
4. Menstruasi
5. Mimpi basah
B. Gambaran umum perkembangan manusia secara psikis
1. Anak
2. Remaja (pubertas)
3. Dewasa

III. Pengembangan Diri
A. Mengenal dan menerima diri
1. Mengenal diri dan menemukan konsep diri
2. Kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain
B. Mengembangkan kepercayaan
1. Definisi kepercayaan
2. Mempercayai dan dapat dipercaya
3. Saat yang tepat untuk dapat mempercayai orang lain
4. Kepercayaan sebagai sebuah dugaan pribadi
C. Membuka diri
1. Segala hal mengenai membuka diri
2. Menerima umpan balik
D. komunikasi inter personal
1. Pengertian komunikasi
2. Menyampaikan Pesan Secara Efektif
3. Menyatakan Perasaan
4. Mengekspresikan perasaan secara verbal
5. Menyatakan perasaan secara non verbal
E. Mendengar secara aktif
1. Pengertian mendengarkan
2. Beberapa macam cara mendengarkan
3. Memberikan respon terhadap permasalahan orang lain
4. Respon yang tepat
5. Membantu menyelesaikan masalah orang lain
F. Konflik
1. Strategi memecahkan konflik
2. Manfaat konflik
3. Konflik yang membangun dan merusak
4. Strategi mengatasi konflik
5. Hal-hal yang mempengaruhi penyelesaian konflik
6. Tips menghadapi konflik secara efektif
G. Strategi pemecahan masalah
H. Merencanakan masa depan

IV. Perilaku seksual
A. Gambaran umum tentang perilaku seksual
B. Mengelola dorongan seks
C. Abstinance
D. Orientasi seksual
1. Heteroseksual
2. Homoseksual
3. Biseksual
4. Transeksual
E. Perilaku Seksual
1. Kissing
2. Necking
3. Petting
4. Intercouse
5. Anal
6. Oral
7. Vaginal
8. Masturbasi/Onani
F. Kelainan Seksual
1. Zoofilia (bestialitas)
2. Exhibitionisme
3. Voyeurisme
4. Pedhophilia
5. Necrofilia
6. Masochisme
7. Sadisme
8. Hiperseks

V. Kesehatan Seksual
A. 12 Hak Reproduksi
1. Mendapatkan informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi
2. Mendapatkan pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi
3. Kebebasan berpikir dan membuat keputusan tentang kesehatan reproduksi
4. Memutuskan jumlah dan jarak kelahiran anak
5. Hidup dan terbebas dari resiko kematian karena kehamilan, kelahiran, atau masalah gender
6. Kebebasan dan keamanan dalam pelayanan kesehatan reproduksi
7. Bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk
8. Mendapatkan manfaat dari kemajuan ilmu pengtahuan di bidang kesehatan reproduksi
9. Kerahasiaan pribadi
10. Membangun dan merencanakan keluarga
11. Kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik
12. Kebebasan dari segala bentuk diskriminasi
B. Kontrasepsi
1. Definisi Kontrasepsi
1. Macam-macam kontrasepsi
2. Keuntungan dari kontrasepsi
3. Kerugian dari kontrasepsi
4. Hak-hak konsumen untuk akses kontrasepsi
5. Hak-hak remaja untuk akses kontrasepsi
C. Kekerasan
1. Kekerasan fisik
2. Kekerasan psikis
3. Kekerasan sosial
4. Kekerasan seksual
5. Tindakan hukum bagi perilaku kekerasan/pelecehan seksual
6. Tips menghadapi kekerasan/pelecehan seksual
D. Kehamilan Yang Tidak Dikehendaki
1. Definisi KTD
2. Penyebab KTD
3. Pemecahan Masalah KTD
4. Meneruskan kehamilan
5. Menghentikan kehamilan
E. Aborsi
1. Definisi Aborsi
2. Jenis-jenis aborsi
3. Alasan individu untuk aborsi
4. Dampak dari aborsi
F. IMS
1. Definisi IMS
2. Jenis –jenis IMS
3. Cara penularan IMS
4. Penyebab dari IMS
5. Gejala-gejala dari IMS
6. Pengobatan untuk IMS
7. Mitos-mitos yang terjadi di masyarakat tentang IMS
G. HIV/AIDS
1. Definisi HIV/AIDS
2. Penyebab HIV/AIDS
3. Sejarah HIV/AIDS
4. Cara penularan HIV/AIDS
5. Fase/Tahapan HIV/AIDS
6. Pencegahan HIV/AIDS
7. Mitos yang terjadi di masyarakat tentang HIV/AIDS
8. ODHA
9. Stigma dan diskriminasi untuk ODHA
10. Dukungan dan perlindungan terhadap ODHA
11. Pengobatan HIV/AIDS
H. NAPZA
1. Definisi NAPZA
2. Jenis-jenis NAPZA
a. Dihisap
b. Dihirup
c. Disuntikan
3. Efek menggunakan NAPZA
a. Depresan
b. Stimulan
c. Halusinogen
4. Faktor penyebab NAPZA
a. Kondisi remaja
b. Komunikasi orangtua
c. Tanggungjawab masyarakat
d. Tanggungjawab negara
5. Pencegahan
a. Mengurangi Suplai
b. Mengurangi Penggunaan
c. Pengurangan Dampak
d. Penegakan Hukum

VI. Budaya dan Masyarakat
A. Gender
1. Gambaran umum tentang Gender
2. Definisi dan Istilah Gender
3. Pengertian dan Perbedaan Gender dengan Sex
4. Pembagian peran menurut Jenis Kelamin
5. Akar dan penyebab ketimpangan gender
a. Struktur budaya
b. Struktur social
c. Struktur politik
d. Struktur politik
e. Struktur ekonomi
f. Penafsiran agama
g. Dampak ketimpangan gender dalam kehidupan remaja
6. Pola ketimpangan gender (subordinasi, marginalisasi, sterotype, double burden, violence)
7. Persoalan keterkaitan antara peran gender dengan persoalan seksualitas / kesehatan reproduksi
a. Proses sosialisasi gender dan seksualitas laki-laki dan perempuan
b. Konsep cinta dan pacaran
c. Akses dan keterbukaan mengenai seksualitas
d. Perilaku seksualitas dan gender
B. Agama, Kehidupan Sehari-hari dan Seksualitas
1. Persoalan seksualitas dan agama
a. Perkembangan manusia dalam doktrin agama
b. Agama dan sexual taboo dalam perilaku dan orientasi seksual
c. Agama dan isu IMS dan HIV/AIDS
d. Agama dan isu kaum marginal
2. Fenomena seksualitas dalam kehidupan sehari-hari
a. Pembahasan mengenai fenomena seksualitas aktual
b. Proses menggali kepekaan social dan budaya dalam persoalan seksualitas
c. Perspektif yang mendukung remaja dalam melihat fenomena seksualitas dalam kehidupan sehari-hari.

sumber : http://soepritjahjono.wordpress.com/2009/12/19/materi-pembelajaran-pendidikan-seks/


nah sono dah debatin tuh isinya
gue mah males

Nah,
itu udah lengkap banget yang dibahas apaan dalam pendidikan seks.

Sebenarnya tinggal studi banding saja ke negara2 yang sudah menerapkan pendidikan seks,
dampak positifnya signifikan atau nggak.
Kalau nggak ya nggak usah.
Silakan kalo ada yang mau nyari,
gue mah males hammer:


Btw topiknya udah gak menarik lagi buat orang2 intelek di sini,
btw berhubung ini tret di sticky ya mohon diketatkan aturannya,
misalnya yang tidak intelek dilarang masuk.
Postingan yang dinilai tidak intelek oleh dr. tommy selaku moderator paling intelek se-kaskus seharusnya dihapus dan id yang posting diban 3 hari.
KaskusGeeker - 04/11/2011 10:40 PM
#56

Quote:
Original Posted By hasyasheen


saya rasa tidak perlu, pengetahuan dimana-mana akan mengundang rasa penasaran yang berlebih, yang berujung pada proving atau implementasi nyata.

seperti yang kita tahu, justru masalah pelecehan seksual kerap dialami di daerah2 yang alur informasi nya berkembang pesat dan pengetahuan2 tentang seks terbuka secara bebas. anak2 dalam hal ini tidak luput dari dampaknya.

pengetahuan tentang seks, hanya akan menimbulkan dampak sistemik sebab pada usia dini sangatlah susah untuk menanamkan secara instan soal pendidikan akhlaq secara menyeluruh.
pendidikan seks harus juga diimbangi oleh pendidikan akhlaq, tidak boleh tidak.


adakah yang mau meng-counter argumen saya?


Pelecehan dulu apa pendidikan sex dulu yg muncul? Bukannya pendidikan sex muncul akibat banyaknya pelecehan seksual maupun remaja yang hamil diluar nikah, atau banyaknya ABG yg sudah tdk perawan. Maka muncullah solusi dari negara Barat yaitu memasukkan pendidikan sex dlm kurikulum pendidikan.

Efektifkah?
Spoiler for survey
Berdasarkan survei yang dilakukan Pusat Penelitian AIDS dan Penyakit Seks Menular, Universitas Washington, Seattle, Amerika Serikat (AS), pendidikan seks secara komprehensif di sekolah efektif menghindari kehamilan dini pada remaja.

Survei yang dilakukan secara nasional sejak 2002 melibatkan 1.700 remaja berusia 15-19 tahun yang belum menikah.

Hasilnya, sebanyak 60 persen remaja yang menerima pendidikan seks komprehensif di sekolah terhindar dari kehamilan dini atau tak ingin hamil dibandingkan remaja yang tak pernah mendapatkan pendidikan seks.

Selain itu, remaja yang mendapatkan pendidikan seks komprehensif mampu mengurangi aktivitas hubungan seks remaja di luar nikah. Hanya, dalam penelitian ini tak diketahui seberapa efektif pendidikan seks menghindari remaja dari ancaman penyakit kelamin menular. Pasalnya, penularan itu melibatkan berbagai faktor luar, selain adanya aktivitas seks yang tidak benar.

"Yang jelas, pendidikan seks komprehensif di sekolah mampu mencegah kehamilan yang tak dikehendaki remaja. Hal itu berdampak untuk menekan angka kelahiran yang tinggi," papar Pamela K Kohler dari Pusat Penelitian AIDS dan Penyakit Seks Menular, Universitas Washington.

Kohler pun mengakui adanya anggapan yang salah soal pendidikan seks. Selama ini banyak yang mengatakan bahwa pendidikan seks dan cara mengontrol angka kelahiran akan semakin membuat remaja ingin berhubungan seks. "Itu anggapan yang tidak benar," jelasnya.

Meski demikian, Pemerintah AS mengkritik hasil penelitian tersebut dan tetap menyatakan bahwa pendidikan seks yang diberikan di luar sekolah tetap efektif. Untuk itu, Pemerintah AS setiap tahun mengeluarkan sekitar USD170 juta untuk setiap negara bagian atau kelompok sosial yang mengadakan program pendidikan seks.

Kegiatan ini bertujuan agar remaja tak melakukan hubungan seks. Namun, Kohler mengkritik langkah pemerintah karena pendidikan seks di luar sekolah tak menunjukkan efektivitas untuk menghindari remaja berhubungan seks dini ataupun mengurangi angka kelahiran. Sebab, berdasarkan survei yang dilakukannya secara nasional, pendidikan seks di sekolah lebih efektif dibandingkan di luar sekolah.

Buktinya, remaja yang mendapat pendidikan seks komprehensif di sekolah -sebanyak dua pertiga- menghindari hubungan seks atau tak ingin hamil. Sebaliknya, pendidikan seks di luar sekolah hanya mencapai seperempat orang.

Sementara itu, remaja yang tak menerima pendidikan seks secara formal angkanya lebih rendah lagi, sekitar 10 persen. "Itulah bedanya sudut pandangan pemerintah dan peneliti," ungkap Kohler. sumber


Dan nyatanya pendidikan sex cukup efektif dilaksanakan. Dan dengan pendidikan sex komprehensif, ketakutan mengenai adanya remaja yg saking penasarannya sampe nyoba2 akan hilang. Tujuan pendidikan sex kan memang menyadarkan remaja untuk berpikir dahulu sblum melakukan.

Masalah akhlak tentu saja itu pun harus dilakukan dan itu diluar sekolah. Tugas orang tua. Dimana dinyatakan dalam hadits. Pendidikan sex harus sudah dilakukan ketika sudah umur 10 tahun.

Tapi pertanyaannya efektifkah pendidikan sex di Indonesia? Dan cocok ga?
(Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?
coldstone - 04/11/2011 10:40 PM
#57

Tolol banget kalo ngasih tau ke anak SMP bahwa ada mode2 sex aneh2 macam sado-masochism, bestiality, anal sex, dll kayak di silabusnya si Arip.. :berbusa
widya poetra - 04/11/2011 10:43 PM
#58

Ybhi:

Quote:
Original Posted By coldstone
Tolol banget kalo ngasih tau ke anak SMP bahwa ada mode2 sex aneh2 macam sado-masochism, bestiality, anal sex, dll kayak di silabusnya si Arip.. :berbusa

Kenapa tolol, gan?
Coba di-elaborate.
coldstone - 04/11/2011 10:47 PM
#59

Quote:
Original Posted By widya poetra
Ybhi:


Kenapa tolol, gan?
Coba di-elaborate.


Kalo anak SMP pan belum cukup umur buat tau. Lha wong yg cowo2 aja banyak yg belum mimpi basah, boro2 perlu tau tindakan seks yg aneh2. hammer:
Apa ga precocious nantinya? (Dewasa sebelum waktunya)?

(Sori ga bisa terlalu serius, ane di warnet, dan yg punya warnet sdh mo tidur nih) ngakaks:
widya poetra - 04/11/2011 10:55 PM
#60

Ybhi:

Quote:
Original Posted By coldstone
Kalo anak SMP pan belum cukup umur buat tau. Lha wong yg cowo2 aja banyak yg belum mimpi basah, boro2 perlu tau tindakan seks yg aneh2. hammer:
Apa ga precocious nantinya? (Dewasa sebelum waktunya)?

(Sori ga bisa terlalu serius, ane di warnet, dan yg punya warnet sdh mo tidur nih) ngakaks:

Kurang elaborate, gan.

Dengan alasan yang sama bisa dibilang juga anak SMP gak perlu tau kontrasepsi, aborsi, pelecehan seksual, bahkan gak perlu tau perkawinan sekalipun.

Jadi kurang pas alasan ente,
btw harusnya kalo masih smp bisa dicuci otak dong kalo kelainan seksual itu negatif,
btw lagi tumben homoseksual gak dimasukin kelainan,
pasti yang nyusun itu kafir. ngakaks
Page 3 of 332 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?