DEBATE CLUB
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?
Total Views: 126104 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 314 of 332 | ‹ First  < 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 >  Last ›

Angel.Michael - 22/09/2012 10:46 AM
#6261

Quote:
Original Posted By joeraygaul
Saya akan mengambil posisi pro.

beer:

Awalnya Hashimi menyarankan agar pelaksanaan dari pengambilan organ vital dari terpidana mati ini agar dilaksanakan tanpa "well informed", well ini jelas akan sangat tidak baik \). Tapi bila penggunaan organ dari terpidana mati ini diatur secara legal formal, ditetapkan melalui perangkat hukum dan undang-undang jelas hal ini dapat bernilai positif.

Terdapat beberapa manfaat positif dari pemanfaatan organ dari terpidana mati bila ditetapkan secara legal formal :

[*]Sisi medis dan humanistik, organ dari terpidana mati dapat membantu kelangsungan hidup dari orang lain yang membutuhkan transplantasi organ, terutama bila penyelenggaraan transplantasi organ ini diselenggarakan oleh negara dan ditujukan pada pasien2 yang kurang mampu secara finansial.


lagi2 masalah financial jadi alasan, memang kalau orang sukarela donor organnya buat orang lain yang gak mampu kan jauh lebih baik daripada ambil organ terpidana mati ..... D

Quote:

[*]Bagi ilmu pengetahuan bila misalnya terpidana hukuman mati yang memiliki organ yang kurang sehat dan kurang layak, organ tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan riset/penelitian.


kalo ini sih dah kejadian sejak lama kayanya, dijadikan bahan penelitian, biasa para dokter juga bongkar2 mayat ambil dari kamar mayat, gelandangan dkk yang tanpa identitas jelas .....


Quote:

[*]Menambah efek jera bagi para (calon) pelaku kejahatan, bila hal ini telah diatur secara legal formal dan diinformasikan dengan baik dapat pula menambah efek jera bagi para (calon) pelaku kejahatan berat agar dapat berpikir lebih panjang lagi bila "hendak" melakukan suatu tindak kejahatan tertentu. Selain itu, hal ini dapat juga meningkatkan sedikit "harga diri" dari terpidana mati bila mengetahui bahwa setelah melakukan suatu kejahatan yang sangat berat, dirinya masih bisa bermanfaat bagi orang lain.


yah kalau penjahat tersebut merasa bersalah, kalau gak dan merasa dipermainkan hukum mungkin sangat berbeda ....

Quote:

[*]Memberi kesempatan terakhir bagi para terpidana mati untuk melakukan semacam "penebusan"/redemption atas tindak kejahatan berat yang telah dilakukannya.




setelah seseorang meninggal metode penebusan itu masih berlaku ya ? 'n nama baik dimata masyarakat ? ...... D

Quote:

Jelas hal ini adalah hal yang sangat sensitif, oleh karena itu dalam penyelenggaraan pemanfaatan organ dari terpidana mati ini harus dilaksanakan secara transparan dan akuntable agar pelaksanaannya dapat tepat guna dan tepat sasaran. Terpidana mati ketika organnya hendak dimanfaatkan harus benar2 dinyatakan telah tewas secara medis, pengangkatan organ harus tidak lagi menimbulkan rasa sakit dan penderitaan bagi si terpidana, organ tersebut harus benar2 dimanfaatkan oleh orang yang tidak memiliki kemampuan finansial yang baik dan yang benar2 membutuhkannya.


'nampaknya' beguna, tapi baru 'nampaknya' lho ...

yang bisa dan berwenang ngatur badan hukum apa ?
dan kira2 stok organ tubuhnya ditempatkan dimana ?

penjara aja gak jelas aturannya, tempat orang2 'gak berguna' ......

menurut ane sih lebih cocok biarlah debu kembali kepada debu aja ..... D
Si.ULTRAMAN - 22/09/2012 11:11 AM
#6262

Quote:
Original Posted By joeraygaul
Saya akan mengambil posisi pro.

beer:

Awalnya Hashimi menyarankan agar pelaksanaan dari pengambilan organ vital dari terpidana mati ini agar dilaksanakan tanpa "well informed", well ini jelas akan sangat tidak baik \). Tapi bila penggunaan organ dari terpidana mati ini diatur secara legal formal, ditetapkan melalui perangkat hukum dan undang-undang jelas hal ini dapat bernilai positif.

UU baru? bukannya itu malah bertentangan dengan ketetapan yg ada?

Quote:
Pasal 21
Setiap orang berhak atas keutuhan pribadi, baik rohani maupun jasmani, dan karena itu
tidak boleh manjadi objek penelitian tanpa persetujuan darinya.



Quote:
Terdapat beberapa manfaat positif dari pemanfaatan organ dari terpidana mati bila ditetapkan secara legal formal :
[LIST]
[*]Sisi medis dan humanistik, organ dari terpidana mati dapat membantu kelangsungan hidup dari orang lain yang membutuhkan transplantasi organ, terutama bila penyelenggaraan transplantasi organ ini diselenggarakan oleh negara dan ditujukan pada pasien2 yang kurang mampu secara finansial.
mungkin bisa dianggap bgitu, tapi bagaimana dengan keluarga si pelaku?


Quote:
[*]Bagi ilmu pengetahuan bila misalnya terpidana hukuman mati yang memiliki organ yang kurang sehat dan kurang layak, organ tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan riset/penelitian.

melanggar ini mas om
Quote:
Pasal 21
Setiap orang berhak atas keutuhan pribadi, baik rohani maupun jasmani, dan karena itu
tidak boleh manjadi objek penelitian tanpa persetujuan darinya.



Quote:
[*]Menambah efek jera bagi para (calon) pelaku kejahatan, bila hal ini telah diatur secara legal formal dan diinformasikan dengan baik dapat pula menambah efek jera bagi para (calon) pelaku kejahatan berat agar dapat berpikir lebih panjang lagi bila "hendak" melakukan suatu tindak kejahatan tertentu. Selain itu, hal ini dapat juga meningkatkan sedikit "harga diri" dari terpidana mati bila mengetahui bahwa setelah melakukan suatu kejahatan yang sangat berat, dirinya masih bisa bermanfaat bagi orang lain.
[*]Memberi kesempatan terakhir bagi para terpidana mati untuk melakukan semacam "penebusan"/redemption atas tindak kejahatan berat yang telah dilakukannya.


Jelas hal ini adalah hal yang sangat sensitif, oleh karena itu dalam penyelenggaraan pemanfaatan organ dari terpidana mati ini harus dilaksanakan secara transparan dan akuntable agar pelaksanaannya dapat tepat guna dan tepat sasaran. Terpidana mati ketika organnya hendak dimanfaatkan harus benar2 dinyatakan telah tewas secara medis, pengangkatan organ harus tidak lagi menimbulkan rasa sakit dan penderitaan bagi si terpidana, organ tersebut harus benar2 dimanfaatkan oleh orang yang tidak memiliki kemampuan finansial yang baik dan yang benar2 membutuhkannya.


efek jera? sepertinya tidak juga, bisa2 slama hidup mereka sengaja merusak organ dalamnya dengan cara pola hidup yg tidak sehat.
efek jera hanya memungkinkan bila organnya/anggota tubuhnya diambil sementara si pelaku masih hidup dan tidak dihukum mati.
siapa yang mau menjalani hidup dengan kondisi seperti itu?D

semacam penebusan? hanyalah semacam, bukan benar2 penebusanD
transparan dan akuntablenya seperti apa ya mas tegangansama?
joeraygaul - 22/09/2012 11:32 AM
#6263

Quote:
Original Posted By Angel.Michael
lagi2 masalah financial jadi alasan, memang kalau orang sukarela donor organnya buat orang lain yang gak mampu kan jauh lebih baik daripada ambil organ terpidana mati ..... D

Jadi menurut kamu masalah financial bukan masalah utama ya Mike \)?
Menurut kamu "kesukarelaan" adalah sesuatu yang umum dan pasaran ya sehingga setiap orang memiliki kesukarelaan ? \)

Kamu sudah tau ratio jumlah calon recipient transplantasi organ dibandingkan dengan donatur organ ?
Tanpa saya sajikan data statistiknya di sini pun saya rasa kamu sudah dapat menduga2 walaupun secara kasar jumlah organ tersedia dibandingkan dengan jumlah calon recipient.
Tidak usah jauh2 organ internal seperti ginjal. liver, etc, pada kornea mata saja, coba dah sesekali berkunjung ke RS Mata Aini dan berkunjung ke PPMTI di JL. HR Rasuna Said Kuningan Jakarta sana. Di sana kamu bisa akses data statistik dan ratio antara donatur dan recipient \).

Quote:
kalo ini sih dah kejadian sejak lama kayanya, dijadikan bahan penelitian, biasa para dokter juga bongkar2 mayat ambil dari kamar mayat, gelandangan dkk yang tanpa identitas jelas .....

Lantas bila memanfaatkan organ terpidana juga secara transparan dan akuntable bukan hal yang baik?
Apa sisi negatifnya, bisa kamu paparkan?



Quote:
yah kalau penjahat tersebut merasa bersalah, kalau gak dan merasa dipermainkan hukum mungkin sangat berbeda ....

Sudah tau asas dari hukum dan sistem peradilan?
Apa yang telah dibuktikan oleh pengadilan adalah keputusan mutlak dan mengikat.
Negara sebagai pengemban amanat konstitusi selain sebagai penjamin hak hidup juga memiliki hak untuk memvonis dan mengambil hak hidup bila secara asas hukum "seseorang" dinyatakan telah mengganggu, mengambil, merusak hak hidup/hak asasi dari orang lain apalagi orang banyak sehingga perlu hak hidup dari bersangkutan tersebut untuk dicabut. \)


Quote:
setelah seseorang meninggal metode penebusan itu masih berlaku ya ? 'n nama baik dimata masyarakat ? ...... D


Memang penjahat tidak punya kesempatan ya?
Bila ternyata bagian tubuhnya dapat bermanfaat bagi orang lain memang menurut pemahaman kamu bukan suatu redemption \)?
Setidak2nya, organ tersebut dapat bermanfaat, dan bagi penerima manfaatnya secara langsung tentu ini merupakan suatu hal yang baik/positif bukan ? \)

Quote:
'nampaknya' beguna, tapi baru 'nampaknya' lho ...

Nampaknya saja mike menurut kamu?
Bila tidak berguna, kamu bisa jelaskan mengapa menjadi tidak berguna? \)

Quote:
yang bisa dan berwenang ngatur badan hukum apa ?
dan kira2 stok organ tubuhnya ditempatkan dimana ?

Belajar trias politika dulu dah Mike, im sorry, i think this is a silly question ngakaks.
Pada sistem pemerintahan demokrasi lembaga penyelenggaraan negara dibagi menjadi tiga ; eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Badan hukum yang mengatur jelas adalah badan yang memiliki wewenang yudikatif , dianalisa dan disahkan oleh legislatif, dan pelaksanaannya akan dilakukan oleh eksekutif bila kita membahas mengenai pembuatan dan pelaksanaan undang-undang dan peraturan. \)

Stok organ akan disimpan di mana confused:, Jangan kamu berpikir organ manusia yang hendak ditransplantasikan itu seperti daging beku Mike. Saya walaupun bukan berlatar belakang pendidikan medis melalui informasi yang tersedia, transplantasi organ biasanya dilakukan sesegera mungkin, penyimpanan organ transplantasi memiliki batas waktu penyimpanan yang sangat sedikit, kok bisa terpikir ya sama kamu stok organ akan disimpan ke mana nohope:. Dikiranya daging beku apa ya capedes

Quote:
penjara aja gak jelas aturannya, tempat orang2 'gak berguna' ......

Sudah pernah berkunjung ke penjara?
Carefull Mike, jangan terjebak pada pandangan menggeneralisir \).
Lalu bila mereka memang tidak berguna, kenapa tidak diberikan kesempatan untuk menjadi berguna seoptimal mungkin? \)

Quote:
menurut ane sih lebih cocok biarlah debu kembali kepada debu aja ..... D


Pandangan egoistik tanpa semangat altruistik dan humanistik.
Bila menurut "faham ekonomi", sebuah pandangan yang tidak efisien \).
Ketimbang jadi debu dan tidak ada manfaat langsung bagi orang lain mengapa tidak?
Toh didiamkan saja pun hancur dikonsumsi oleh cacing, belatung, ulat dan mikroorganisme lainnya. sungguh mencerminkan pandangan individualistik yang egoistik. \)
joeraygaul - 22/09/2012 11:48 AM
#6264

Quote:
Original Posted By Si.ULTRAMAN
UU baru? bukannya itu malah bertentangan dengan ketetapan yg ada?

Ketetapan yang mana dek Ultra?
Bila nilai2 tradisional dan etika mungkin saja, tapi bila ketetapan, saya membaca konstitusi, konstitusi hanya menjamin dan membahas hak kehidupan.
Ini yang kita bahas adalah individu yang telah dihilangkan hak kehidupannya oleh Undang2 dan ketetapan yang berlaku pada negara. nohope:




Quote:
mungkin bisa dianggap bgitu, tapi bagaimana dengan keluarga si pelaku?

Berarti tubuh dari terpidana mati ini adalah "hak milik" dari orang lain selain dari yang bersangkutannya itu sendiri (si terpidana mati)?

Quote:
melanggar ini mas om


Apakah berlaku sama bagi seseorang yang hak asasinya yang paling mendasar (hak untuk hidup) yang telah dihilangkan \) oleh Undang2 (divonis mati)?



Quote:
efek jera? sepertinya tidak juga, bisa2 slama hidup mereka sengaja merusak organ dalamnya dengan cara pola hidup yg tidak sehat.
efek jera hanya memungkinkan bila organnya/anggota tubuhnya diambil sementara si pelaku masih hidup dan tidak dihukum mati.
siapa yang mau menjalani hidup dengan kondisi seperti itu?D

memang menurut kamu diadakannya hukuman mati bukan untuk memberikan efek jera bagi masyarakat agar tidak melakukan tindakan2 kejahatan berat ya?
Coba kamu baca pasal2 apa saja yang bisa mendapatkan vonis mati di KUHP.

Quote:

[*]semacam penebusan? hanyalah semacam, bukan benar2 penebusanD
[*]transparan dan akuntablenya seperti apa ya mas tegangansama?




[*]Oh itu bagaimana kamu berpersepsi \), coba kamu paparkan pandangan kontra kamu akan konsep penebusannya itu sendiri \).

[*]Undang2 tersebut sebelum diberlakukan harus disosialisasikan dahulu dengan baik, setiap terpidana mati harus diumumkan ke khalayak umum dan recipient dari organ tersebut juga harus diumumkan ke khalayak umum, terbuka untuk auditor umum, dan harus diprioritaskan pemanfaatan dari organ tersebut tanpa nilai2 komersil, sepenuhnya untuk kemanusiaan.

Destakdes - 22/09/2012 12:00 PM
#6265

Quote:
Original Posted By Hashimi
gimana kalo transplantasi organ dari terpidana mati? pro atau kontra
jadi setiap orang yg baru dihukum mati, organ2nya langsung dipreteli dan disimpan buat yg mau transplan organ


ane gak setuju kalau langsung dipretelin tanpa seizin keluarganya gak sesuai krn dari segi kemanusiaan jg gak adil
walaupun disini posisinya orang terpidana yg melakukan kesalahan itu bersalah tp mereka jg masih punya hak asasi, dari pelaku dan dari keluarga korban itu sendiri
joeraygaul - 22/09/2012 12:09 PM
#6266

Quote:
Original Posted By Destakdes
ane gak setuju kalau langsung dipretelin tanpa seizin keluarganya gak sesuai krn dari segi kemanusiaan jg gak adil
walaupun disini posisinya orang terpidana yg melakukan kesalahan itu bersalah tp mereka jg masih punya hak asasi, dari pelaku dan dari keluarga korban itu sendiri


Bagaimana bila hal tersebut ditetapkan melalui Undang2?
Dilaksanakan diatur secara formal legal.

Bagaimana bisa dikatakan memiliki "hak asasi" bila "hak asasi" yang paling mendasarnya saja, yaitu hak untuk hidup, telah dihilangkan secara formal legal ?
Apakah kita akan berangkat pada pengertian bahwa "tubuh" dari si terpidana mati adalah hak milik dari orang lain bukan hak individu yang bersangkutannya itu sendiri?

@bold ini sangat paradoks, sudah jelas keluarga korban dari pelaku akan menuntut pembalasan yang setimpal dan seberat2nya atas kerugian dan penderitaan yang ditimbulkan oleh si pelaku terhadap korban, mengapa mereka harus keberatan?
Apalagi bila ternyata si pelaku kejahatan ini masih bisa memberikan suatu manfaat baik bagi kemanusiaan dan orang lain. nohope:
IblisDajjal - 22/09/2012 12:14 PM
#6267

Saya setuju kalau terpidana mati disajenkan buat sayah. lumanyun, tidak melanggar HAM dan HAI (Hak Asasi Iblis) kbgt:

IblisDajjal - Malaikat Terang Dunia :angel
Your Partner in Crime, Always Whispering Always Understanding (AWAU) :cool
(Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?
Si.ULTRAMAN - 22/09/2012 12:54 PM
#6268

Quote:
Original Posted By joeraygaul
Ketetapan yang mana dek Ultra?
Bila nilai2 tradisional dan etika mungkin saja, tapi bila ketetapan, saya membaca konstitusi, konstitusi hanya menjamin dan membahas hak kehidupan.
Ini yang kita bahas adalah individu yang telah dihilangkan hak kehidupannya oleh Undang2 dan ketetapan yang berlaku pada negara. nohope:


Quote:
Pasal 21
Setiap orang berhak atas keutuhan pribadi, baik rohani maupun jasmani, dan karena itu
tidak boleh manjadi objek penelitian tanpa persetujuan darinya.

meski udah mati, setidaknya saat masih hidup perlu yang ane boldmad:


Quote:
Berarti tubuh dari terpidana mati ini adalah "hak milik" dari orang lain selain dari yang bersangkutannya itu sendiri (si terpidana mati)?

ane kira keluarga punya hak lho atas keluarganyarolleyes:
bahkan kluarga yg setuju pun blum tentu seluruhnya setuju, bukankah ini bisa menimbulkan masalah baru nantinya???rolleyes:


Quote:
Apakah berlaku sama bagi seseorang yang hak asasinya yang paling mendasar (hak untuk hidup) yang telah dihilangkan \) oleh Undang2 (divonis mati)?
setidaknya tetap memerlukan izin dari yang punya badan disaat masih hidup. selama dia hidup dia punya hak untuk bersuararolleyes:


Quote:
memang menurut kamu diadakannya hukuman mati bukan untuk memberikan efek jera bagi masyarakat agar tidak melakukan tindakan2 kejahatan berat ya?
Coba kamu baca pasal2 apa saja yang bisa mendapatkan vonis mati di KUHP.
apakah sekuat efek jera buat yg masih hidup?D
jika mencuri = potong tangan, jelas pertimbangannya bagi calon pelaku atau anda sekalipun. hidup cacad blum lagi menyandang Ex: pencuri, bisa anda bayangkan beban moralnya?:P
jika hukum mati = dipreteli organ, apa yg mau dipertimbangkan, udah mati inirolleyes:


Quote:

[*]Oh itu bagaimana kamu berpersepsi \), coba kamu paparkan pandangan kontra kamu akan konsep penebusannya itu sendiri \).
maksud ane, penebusannya kan hanya sebagai ungkapan penyesalan saja toh? lha..apakah ini berlaku bagi semua penjahat?? tidak semua penjahat memiliki pemikiran seperti ini loh mas omrolleyes:

Quote:

[*]Undang2 tersebut sebelum diberlakukan harus disosialisasikan dahulu dengan baik, setiap terpidana mati harus diumumkan ke khalayak umum dan recipient dari organ tersebut juga harus diumumkan ke khalayak umum, terbuka untuk auditor umum, dan harus diprioritaskan pemanfaatan dari organ tersebut tanpa nilai2 komersil, sepenuhnya untuk kemanusiaan.

mengingat sebagian watak manusia skrang yg all about money
ginjal mahal om, iki duit loh.... dengan konsep "wani piro" yg sudah berakar
- munkinkah itu bisa berjalan dengan baik? ane kira ini malah bisa menjadi celah adanya "bisnis" baru bagi kalangan2 tertentu.
joeraygaul - 22/09/2012 01:42 PM
#6269

Quote:
Original Posted By Si.ULTRAMAN
meski udah mati, setidaknya saat masih hidup perlu yang ane boldmad:



ane kira keluarga punya hak lho atas keluarganyarolleyes:
bahkan kluarga yg setuju pun blum tentu seluruhnya setuju, bukankah ini bisa menimbulkan masalah baru nantinya???rolleyes:

Pasal tersebut berlaku bagi warga negara yang tidak kehilangan haknya untuk hidup yang tidak melakukan suatu tindakan pelanggaran/kriminal tertentu yang hak hidupnya tidak dicabut \).
Pada pasal tersebut tidak dijelaskan mengenai hak seseorang yang hak asasinya yang paling mendasar yaitu hak untuk hidup yang telah dicabut oleh negara dan hukum karena telah melakukan suatu perbuatan/pidana tertentu yang membuat bersangkutan perlu untuk dihilangkan haknya yang paling mendasar yaitu hak untuk hidup \).

Sekarang coba pikirkan dari sisi keluarga korban atau pihak2 yang telah dirugikan oleh perbuatan si pelaku (terpidana mati). Btw, pada undang2 atau pun piagam hak asasi tidak diatur bahwa "mayat" (khususnya pelaku kejahatan berat tertentu yang mendapat vonis mati) menjadi hak milik dari orang2 tertentu yang memiliki relasi kekerabatan. \)

Hak tersebut masih ada bila yang bersangkutan masih hidup dan tidak dihilangkan hak asasi mendasarnya (hak untuk hidup), tapi bila hak tersebut telah dicabut oleh hukum, well \).
Kalau saya berangkat dari premis kamu, kenapa tidak sekalian saja dicabut/dihilangkan bentuk hukuman mati tersebut. \)

setidaknya tetap memerlukan izin dari yang punya badan disaat masih hidup. selama dia hidup dia punya hak untuk bersuararolleyes:


Quote:
apakah sekuat efek jera buat yg masih hidup?D
jika mencuri = potong tangan, jelas pertimbangannya bagi calon pelaku atau anda sekalipun. hidup cacad blum lagi menyandang Ex: pencuri, bisa anda bayangkan beban moralnya?:P
jika hukum mati = dipreteli organ, apa yg mau dipertimbangkan, udah mati inirolleyes:

Bukan hanya efek jera saja bila kamu paham maksud saya secara objektif (tidak subjektif) terdapat nilai2 positif dari pemanfaatan organ dari terpidana mati.
Memang menurut kamu sendiri vonis matinya itu sendiri tidak menimbulkan efek jera ya?nohope: Apalagi ngebayangin tubuh sendiri bakal dipretelin nantinya bagi orang2 yang agak sedikit penakut, berpikiran egois, dan sangat individualis?
Pada satu sisi memang akan muncul pemikiran seperti ini (sudah mati ini mau diapain kek terserah p), nah bila kamu berpikiran seperti ini mengapa harus berkeberatan bila organ tubuh tersebut ternyata bisa mendatangkan manfaat yang baik bagi orang lainD?



Quote:
maksud ane, penebusannya kan hanya sebagai ungkapan penyesalan saja toh? lha..apakah ini berlaku bagi semua penjahat?? tidak semua penjahat memiliki pemikiran seperti ini loh mas omrolleyes:

Karena tidak semua penjahat berpikiran seperti itu maka melalui undang2 dan ketetapan diciptakan kesempatan/peluang.
Apalagi bila dimanfaatkan untuk tujuan humanistik, apakah tidak ingin sama sekali tubuh yang sudah tidak dimanfaatkan lagi ini akan benar2 tidak bisa memberi manfaat sama sekali bagi orang lain?

Coba kita bayangkan sejenak, sekedar kornea mata saja, bukannya penglihatan itu berharga?
Membantu kaum tunanetra yang tadinya tidak bisa melihat menjadi bisa melihat dan dapat lebih optimal memerankan fungsi2 sosial kemasyarakatannya?

Quote:
mengingat sebagian watak manusia skrang yg all about money
ginjal mahal om, iki duit loh.... dengan konsep "wani piro" yg sudah berakar
- munkinkah itu bisa berjalan dengan baik? ane kira ini malah bisa menjadi celah adanya "bisnis" baru bagi kalangan2 tertentu.


Makanya diumumkan ke khalayak umum dek Ultra, dipublikasikan, dan dibuka seluas2nya untuk auditor umum dan independent. Memang dek Ultra kurang paham ya manfaat dari publikasi dan pengumuman pada khalayak ramai? nohope:

Setiap kebijakan apapun selalu dapat dimanfaatkan oleh orang2 yang berpikiran sesat, namun dengan publikasi, transparansi, dan auditing secara transparan hal2 ini dapat diminimalisir.
Angel.Michael - 22/09/2012 02:37 PM
#6270

Quote:
Original Posted By joeraygaul
Jadi menurut kamu masalah financial bukan masalah utama ya Mike \)?
Menurut kamu "kesukarelaan" adalah sesuatu yang umum dan pasaran ya sehingga setiap orang memiliki kesukarelaan ? \)

Kamu sudah tau ratio jumlah calon recipient transplantasi organ dibandingkan dengan donatur organ ?
Tanpa saya sajikan data statistiknya di sini pun saya rasa kamu sudah dapat menduga2 walaupun secara kasar jumlah organ tersedia dibandingkan dengan jumlah calon recipient.
Tidak usah jauh2 organ internal seperti ginjal. liver, etc, pada kornea mata saja, coba dah sesekali berkunjung ke RS Mata Aini dan berkunjung ke PPMTI di JL. HR Rasuna Said Kuningan Jakarta sana. Di sana kamu bisa akses data statistik dan ratio antara donatur dan recipient \).


nah menurut bro joerey ratio permintaan tinggi, sekarang berapa persen kemungkinan hidup orang2 itu bertambah baik dengan adanya transplantasi organ karena undang2 ? - dengan kata lain seperti terima barang BM dan seperti yang telah disampaikan para DC lain, keluarga transplantasi belum tentu menyetujuinya, apa akan dirahasiakan nanti organ dipakai kemana ? ... D

jauh sekali cara menggunakan undang2 tersebut ......
dibandingkan dengan orang yang benar2 mau mendonorkan organnya setelah ia meninggal untuk orang tertentu ...

Quote:

Lantas bila memanfaatkan organ terpidana juga secara transparan dan akuntable bukan hal yang baik?
Apa sisi negatifnya, bisa kamu paparkan?


yang namanya narapidana pasti punya identitas dunk .... D

Quote:

Sudah tau asas dari hukum dan sistem peradilan?
Apa yang telah dibuktikan oleh pengadilan adalah keputusan mutlak dan mengikat.
Negara sebagai pengemban amanat konstitusi selain sebagai penjamin hak hidup juga memiliki hak untuk memvonis dan mengambil hak hidup bila secara asas hukum "seseorang" dinyatakan telah mengganggu, mengambil, merusak hak hidup/hak asasi dari orang lain apalagi orang banyak sehingga perlu hak hidup dari bersangkutan tersebut untuk dicabut. \)


jadi karena salah menurut hukum suatu negara seseorang yang dihukum mati benar2 'milik' negara ya nyawa dan bagian2 angggota tubuhnya ...... D

Quote:

Memang penjahat tidak punya kesempatan ya?
Bila ternyata bagian tubuhnya dapat bermanfaat bagi orang lain memang menurut pemahaman kamu bukan suatu redemption \)?
Setidak2nya, organ tersebut dapat bermanfaat, dan bagi penerima manfaatnya secara langsung tentu ini merupakan suatu hal yang baik/positif bukan ? \)


kembali lagi ke masalah keluarga kalau begitu ..... nanti penerima organ itu apakah keluarga pendonor dan korban saling mengetahui atau rahasia ? D


Quote:

Nampaknya saja mike menurut kamu?
Bila tidak berguna, kamu bisa jelaskan mengapa menjadi tidak berguna? \)

Belajar trias politika dulu dah Mike, im sorry, i think this is a silly question ngakaks.
Pada sistem pemerintahan demokrasi lembaga penyelenggaraan negara dibagi menjadi tiga ; eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Badan hukum yang mengatur jelas adalah badan yang memiliki wewenang yudikatif , dianalisa dan disahkan oleh legislatif, dan pelaksanaannya akan dilakukan oleh eksekutif bila kita membahas mengenai pembuatan dan pelaksanaan undang-undang dan peraturan. \)

Stok organ akan disimpan di mana confused:, Jangan kamu berpikir organ manusia yang hendak ditransplantasikan itu seperti daging beku Mike. Saya walaupun bukan berlatar belakang pendidikan medis melalui informasi yang tersedia, transplantasi organ biasanya dilakukan sesegera mungkin, penyimpanan organ transplantasi memiliki batas waktu penyimpanan yang sangat sedikit, kok bisa terpikir ya sama kamu stok organ akan disimpan ke mana nohope:. Dikiranya daging beku apa ya capedes

ga ada penyimpanan sementara ?

kebayang dah ada orang mau dihukum mati di rumah sakit dah ada orang yang butuh kornea menunggu, butuh ginjal menunggu waduh apa musti seperti begitu ?

seakan hidup terpidana mati tersebut benar2 sudah tidak ada artinya lagi benar2 dihina, nyawa diambil karena hukum, sudah selesai langsung potong2 daging segar dan bagikan ... semua karena mengikuti hukum yang berlaku ..... bukan karena orang tersebut rela ......

kebayang dah jadi hakim harus memutuskan orang dihukum mati kalo begitu, bisa2 arwahnya gentayangan gangguin si hakim hammer:

Quote:

Sudah pernah berkunjung ke penjara?
Carefull Mike, jangan terjebak pada pandangan menggeneralisir \).
Lalu bila mereka memang tidak berguna, kenapa tidak diberikan kesempatan untuk menjadi berguna seoptimal mungkin? \)


Pernah kunjungan temen ane ada yang kena kasus perdata, dan benar2 'kotor' permainan di dalam sana ....

ya mereka cacat dan tidak berguna dimata hukum lho, bukan cacat mental ...... D

Quote:

Pandangan egoistik tanpa semangat altruistik dan humanistik.
Bila menurut "faham ekonomi", sebuah pandangan yang tidak efisien \).
Ketimbang jadi debu dan tidak ada manfaat langsung bagi orang lain mengapa tidak?
Toh didiamkan saja pun hancur dikonsumsi oleh cacing, belatung, ulat dan mikroorganisme lainnya. sungguh mencerminkan pandangan individualistik yang egoistik. \)


ya kembali lagi ke hak asasi manusia sebenernya,

mereka bersalah di mata hukum, apa perlu seekstrim itu saat mereka dinyatakan bersalah semua bagian tubuh mereka dicek dan dinilai layak atau tidak untuk diambil dan dipakai lagi
Angel.Michael - 22/09/2012 02:44 PM
#6271

Ni iseng contoh kasus aja ya

kalau proses hukum seperti yang bro Joereygaul gambarkan

misal ada gembong teroris tertangkap dan dihukum mati, terus dibilang organ tubuhnya mau didonorkan, sesuai hukum yang berlaku .....

gimana keluarga penerima sendiri nantinya .....

mata anak saya adalah mata 'bekas kepala teroris' dan seluruh negeri tau tersebut
ginjal saya adalah ginjal 'bekas kepala teroris' dan seluruh negeri tau tersebut
paru2 saudara saya adalah 'bekas paru2 kepala teroris' dan seluruh negeri tau hal tersebut

Peace: yah opini aja
joeraygaul - 22/09/2012 03:11 PM
#6272

Quote:
Original Posted By Angel.Michael
nah menurut bro joerey ratio permintaan tinggi, sekarang berapa persen kemungkinan hidup orang2 itu bertambah baik dengan adanya transplantasi organ karena undang2 ? - dengan kata lain seperti terima barang BM dan seperti yang telah disampaikan para DC lain, keluarga transplantasi belum tentu menyetujuinya, apa akan dirahasiakan nanti organ dipakai kemana ? ... D

jauh sekali cara menggunakan undang2 tersebut ......
dibandingkan dengan orang yang benar2 mau mendonorkan organnya setelah ia meninggal untuk orang tertentu ...


Kamu gak baca ya kalau pelaksanaan transplantasi ini harus transparan ya \),
Dan melalui penyelenggaraan secara terbuka kamu akan berpikir bahwa organ2 ini seperti barang2 BM? capedes
Bila penyelenggaraannya tidak diatur melalui Undang2 jelas akan banyak sekali tindak penyelewengan.
Kamu tidak terpikir ya melalui penyelenggaraan transplantasi organ secara terbuka dari terpidana mati kepada orang lain dalam satu sisi "negara" telah berbuat baik dengan meningkatkan kesempatan hidup bagi warga negara lain yang membutuhkannya?
Mengenai persentasi hidup dari orang2 yang menerima transplantasi organ (yang sesuai), bagi pengidap gagal ginjal yang kronis lebih baik mana menjalani hidup dengan bolak-balik cuci darah dengan melakukan transplantasi :?
Para penderita kanker hati, kanker prankeas, buta karena fungsi kornea?
Menurut kamu semua itu tidak terbantu dan meningkat kapasitas hidupnya melalui transplantasi?

Quote:
yang namanya narapidana pasti punya identitas dunk .... D


Punya identitas dan hak, tetapi setelah melakukan tindak pidana haknya telah dicabut \).

Quote:
jadi karena salah menurut hukum suatu negara seseorang yang dihukum mati benar2 'milik' negara ya nyawa dan bagian2 angggota tubuhnya ...... D


Ini merupakan konsekwensi logis, bila tidak ingin mendapatkan hukuman maka jangan berbuat sesuatu yang bisa mendatangkan hukuman \).

Quote:
kembali lagi ke masalah keluarga kalau begitu ..... nanti penerima organ itu apakah keluarga pendonor dan korban saling mengetahui atau rahasia ? D

Transparansi ..............................
Tentu akan saling mengetahui bila dipublikasikan \).


Quote:
ga ada penyimpanan sementara ?

kebayang dah ada orang mau dihukum mati di rumah sakit dah ada orang yang butuh kornea menunggu, butuh ginjal menunggu waduh apa musti seperti begitu ?

seakan hidup terpidana mati tersebut benar2 sudah tidak ada artinya lagi benar2 dihina, nyawa diambil karena hukum, sudah selesai langsung potong2 daging segar dan bagikan ... semua karena mengikuti hukum yang berlaku ..... bukan karena orang tersebut rela ......

kebayang dah jadi hakim harus memutuskan orang dihukum mati kalo begitu, bisa2 arwahnya gentayangan gangguin si hakim hammer:


Coba memakai sudut pandang dari korban tindakan pelaku dan keluarga dari korban tindakan pelaku \). Ini merupakan konsekwensi logis dari pelanggaran hukum. Si pelaku ini sendiri bila hal ini ditetapkan menjadi Undang2 dan telah berlaku sesuai asas legalitas formal, mengapa harus melakukan suatu perbuatan buruk dengan konsekwensi logis yang berat?
Apakah si pelaku memikirkan penderitaan dari si korban ketika ia berbuat kejahatan? Rasa sakit, harga diri dan ketidakberdayaan dari si korban?
Sekarang tubuh yang tidak digunakan lagi ini akan mendatangkan manfaat baik bagi orang lain, dapat memberikan dan meningkatkan kesempatan hidup, mengapa harus menahan diri dari suatu perbuatan yang sangat bernilai humanistik dan altruistik?

Quote:
ya mereka cacat dimata hukum lho, bukan cacat mental ...... D


Melalui hukum pula "sesuatu" dari si pelaku kejahatan berat ini dapat memberikan manfaat yang baik \).

Quote:
ya kembali lagi ke hak asasi manusia sebenernya,

mereka bersalah di mata hukum, apa perlu seekstrim itu saat mereka dinyatakan bersalah semua bagian tubuh mereka dicek dan dinilai layak atau tidak untuk diambil dan dipakai lagi

Apakah ini ekstrem \)?
Ketika "tubuh" yang akan membusuk dan tidak digunakan lagi dapat mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi orang lain?\)
Apakah benar tubuh yang telah mati ini lebih mendatangkan "kemuliaan" dan mafaat yang baik ketika membujur kaku di pekuburan dan sekedar dikonsumsi oleh mikroorganisme ketimbang digunakan untuk keperluan medis yang jelas akan mendatangkan manfaat baik bagi si recepient atau orang lain yang menderita karena memiliki fungsi2 organ yang kurang baik?

Quote:
Original Posted By Angel.Michael
Ni iseng contoh kasus aja ya

kalau proses hukum seperti yang bro Joereygaul gambarkan

misal ada gembong teroris tertangkap dan dihukum mati, terus dibilang organ tubuhnya mau didonorkan, sesuai hukum yang berlaku .....

gimana keluarga penerima sendiri nantinya .....

mata anak saya adalah mata 'bekas kepala teroris' dan seluruh negeri tau tersebut
ginjal saya adalah ginjal 'bekas kepala teroris' dan seluruh negeri tau tersebut
paru2 saudara saya adalah 'bekas paru2 kepala teroris' dan seluruh negeri tau hal tersebut

Peace: yah opini aja


Apakah si penerima organ tersebut adalah yang melakukan hal2 buruk tersebut?
Tidak usah menjadi hipokrat, secara pandangan umum, Suharto adalah seseorang yang dicap tidak memiliki karakter yang cukup baik, demikian pula pandangan umum terhadap Sukarno di era orde lama, tapi kita semua menikmati sedikit banyak karya2 dari mereka \).

Atau kamu lebih suka mengembangkan pandangan yang hipokratis Mike \)?

Bagaimana pandangan si keluarga si recipient ketika mereka melihat anggota keluarganya dalam kondisi "sekarat", terbujur tidak berdaya, tidak menikmati hidup secara optimal? berdukas
Hashimi - 22/09/2012 04:15 PM
#6273

Quote:
Original Posted By Destakdes
ane gak setuju kalau langsung dipretelin tanpa seizin keluarganya gak sesuai krn dari segi kemanusiaan jg gak adil
walaupun disini posisinya orang terpidana yg melakukan kesalahan itu bersalah tp mereka jg masih punya hak asasi, dari pelaku dan dari keluarga korban itu sendiri


Hukuman mati tentu saja berlaku bagi kejahatan2 luar biasa yg setimpal. Daripada sampah masyarakat itu mati begitu saja, lebih baik organnya dipergunakan D D D
ANUBIS.JAVA - 22/09/2012 06:15 PM
#6274

Pro jika dipisahkan dari hukuman mati
misal :
pasal 100a
koruptor > 1 milar rupiah = hukuman mati
pasal 100b
terpidana berhak atas jasad, donor diperbolehkan semoga Tuhan mengampuni dosa terpidana angel:

pasal 101 >koruptor 10 miliar= hukuman mati dan jasadnya menjadi milik negara army:

jika seseorang melakukan kejahatan luar biasa, dia akan tau konsekuensinya
keluargapun ga komplen

note: kalo godfather narkoba emang sapa yg mau pake organnya bingungs
masdheki - 22/09/2012 06:21 PM
#6275

Quote:
Original Posted By Hashimi


Hukuman mati tentu saja berlaku bagi kejahatan2 luar biasa yg setimpal. Daripada sampah masyarakat itu mati begitu saja, lebih baik organnya dipergunakan D D D


Masalahnya bro.....

Apakah organnya benar2 valid dan sehat untuk ditranplantasikan?

Pernah di kuliah saya dulu, bahwa pikiran juga mempengaruhi organ2 dalam tubuh kita......(cuman saya lupa catatannya.....hammers)

Bagaimana dengan organ2 penjahat2 tersebut?

Bagaimana dengan pola hidup / pola makan / kesehatan dirinya sewaktu masih hidup?

Kalau sebelumnya pecandu alkohol atau narkoba bagaimana?
barcon - 22/09/2012 07:23 PM
#6276

Quote:
Original Posted By joeraygaul


Apakah si penerima organ tersebut adalah yang melakukan hal2 buruk tersebut?
Tidak usah menjadi hipokrat, secara pandangan umum, Suharto adalah seseorang yang dicap tidak memiliki karakter yang cukup baik, demikian pula pandangan umum terhadap Sukarno di era orde lama, tapi kita semua menikmati sedikit banyak karya2 dari mereka \).

Atau kamu lebih suka mengembangkan pandangan yang hipokratis Mike \)?

Bagaimana pandangan si keluarga si recipient ketika mereka melihat anggota keluarganya dalam kondisi "sekarat", terbujur tidak berdaya, tidak menikmati hidup secara optimal? berdukas


Klo boleh tau, hipokrat dan hipokratis itu apa?...
Saudaranya hipokrates kah?... Peace:
yggsdrasill - 22/09/2012 10:56 PM
#6277

Quote:
Original Posted By masdheki
Masalahnya bro.....

Apakah organnya benar2 valid dan sehat untuk ditranplantasikan?

Pernah di kuliah saya dulu, bahwa pikiran juga mempengaruhi organ2 dalam tubuh kita......(cuman saya lupa catatannya.....hammers)

Bagaimana dengan organ2 penjahat2 tersebut?

Bagaimana dengan pola hidup / pola makan / kesehatan dirinya sewaktu masih hidup?

Kalau sebelumnya pecandu alkohol atau narkoba bagaimana?


kan dicek dulu bro, ini kaitannya dengan kedokteran
darah aja cocok2an, apalagi organ

sebenernya jika ini dilegalkan sangat bisa "membunuh" sisi humanistik secara perlahan, karena akan ada alasan bagi hukum untuk menjatuhkan hukuman mati, ingat hukum bisa sangat dimanipulasi politik, hukuman mati sendiri masih sedang diperdebatkan apakah sesuai atau tidak dengan kemanusiaan, sebagai salah satu solusi memang demikian, terpidana mati harus bersedia organnya disumbangkan
Destakdes - 22/09/2012 11:40 PM
#6278

Quote:
Original Posted By Hashimi

Hukuman mati tentu saja berlaku bagi kejahatan2 luar biasa yg setimpal. Daripada sampah masyarakat itu mati begitu saja, lebih baik organnya dipergunakan D D D


ya karena itu mereka yg berbuat kejahatan luar biasa dihukum mati, tapi kan gabisa langsung main pretelin menurut ane, ya seenggaknya harus ada izin atau perbincangan dari keluarga terpidana dan pelaku terpidana tersebut Yb

Quote:
Original Posted By joeraygaul
Bagaimana bila hal tersebut ditetapkan melalui Undang2?
Dilaksanakan diatur secara formal legal.
Bagaimana bisa dikatakan memiliki "hak asasi" bila "hak asasi" yang paling mendasarnya saja, yaitu hak untuk hidup, telah dihilangkan secara formal legal ?
Apakah kita akan berangkat pada pengertian bahwa "tubuh" dari si terpidana mati adalah hak milik dari orang lain bukan hak individu yang bersangkutannya itu sendiri?

@bold ini sangat paradoks, sudah jelas keluarga korban dari pelaku akan menuntut pembalasan yang setimpal dan seberat2nya atas kerugian dan penderitaan yang ditimbulkan oleh si pelaku terhadap korban, mengapa mereka harus keberatan?
Apalagi bila ternyata si pelaku kejahatan ini masih bisa memberikan suatu manfaat baik bagi kemanusiaan dan orang lain. nohope:


gini gan menurut, memang semua manusia memiliki hak untuk hidup. tapi disini yang dibahas orang yg dihukum terpidana mati.
jadi itu semua orang2 terpidana mungkin yang sudah terkena hukuman maksimal krn perbuatan kriminalnya.

sorry itu yg ente bold itu ane salah pemahaman maksudnya itu dari pelaku dan keluarga si pelaku, yang mungkin msh ingin meminta ditolong agar tidak
sampai kepada hukuman mati.

SYARAT PELAKSANAAN TRANPLANTASI ORGAN

Pada transplantasi organ yang melibatkan donor organ hidup, pengambilan organ dari donor harus memperhatikan kesehatan donor yang bersangkutan.
Pengambilan organ baru dapat dilakukan jika donor telah diberitahu tentang resiko operasi, dan atas dasar pemahaman yang benar tadi donor dan ahli watis atau keluarganya secara sukarela menyatakan persetujuannya (pasal 32 ayat 2 UU No. 23/1992)

Syarat dilaksanakannya transplantasi adalah:
1. Keamanan: tindakan operasi harus aman bagi donor maupun penerima organ. Secara umum keamanan tergantung dari keahlian tenaga kesehatan, kelengkapan sarana dan alat kesehatan

2. Voluntarisme: transplantasi dari donor hidup maupun mati hanya bisa dilakukan jika telah ada persetujuan dari donot dan ahli waris atau
keluarganya (pasal 34 ayat 2 UU No. 23/1992).
Sebelum meminta persetujuan dari donor dan ahli waris atau keluarganya, dokter wajib memberitahu resiko tindakan transplantasi tersebut kepada donor (pasal 15 PP 18/1981).

Dalam hal pengambilan organ dari jenazah dikenal ada 2 sistem yang diberlakukan secara nasional
1. Sistem izin (toestemming system): sistem ini menyatakan bahwa transplantasi baru dapat dilakukan jika ada persetujuan dari donor sebelum pengambilan organ. Indonesia menganut sistem ini.

2. Sistem tidak berkeberatan (geen bezwaar system): dalam sistem ini transplantasi organ dapat dilakukan sejauh tidak ada penolakan dari pihak donor. Tidak adanya penolakan dari donor, dalam sistem ini, ditafsirkan sebagai ”donor tidak keberatan dilakukan pengambilan organ” Pasal 14 PP No 18/1981 menyatakan bahwa pengambilan organ dari korban yang meninggal dunia dilakukan atas dasar persetujuan dari keluarga terdekat.
Dalam keluarga terdekat tidak ada, maka keluarga jenazah harus diberitahu. Jika setelah lewat 2 x 24 jam keluarga tidak ditemukan, maka dapat dilakukan pengambilan organ tanpa izin keluarga.
masdheki - 23/09/2012 02:25 AM
#6279

Quote:
Original Posted By yggsdrasill
kan dicek dulu bro, ini kaitannya dengan kedokteran
darah aja cocok2an, apalagi organ

sebenernya jika ini dilegalkan sangat bisa "membunuh" sisi humanistik secara perlahan, karena akan ada alasan bagi hukum untuk menjatuhkan hukuman mati, ingat hukum bisa sangat dimanipulasi politik, hukuman mati sendiri masih sedang diperdebatkan apakah sesuai atau tidak dengan kemanusiaan, sebagai salah satu solusi memang demikian, terpidana mati harus bersedia organnya disumbangkan


Well, dari awal sebenarnya saya tidak pernah setuju dengan pemretelan organ tubuh terpidana mati, bro.

Benar, bila hal ini dilegalkan, akan terjadi pembenaran "mematikan" orang demi tujuan yang dianggap "mulia" ini.......

Lagipula donor organ tubuh hanyalah solusi sementara.
Teknologi dalam bidang bioteknologi dan medis seharusnya masih bisa berkembang lebih baik lagi.

Baru2 ini sudah dibuat sejenis organ tubuh manusia buatan dari plastik :
http://health.detik.com/read/2011/10/30/100339/1755685/763/suku-cadang-untuk-tubuh-manusia-sudah-bisa -dibuat

Seandainya ada usaha untuk melegalkan "pemretelan" organ2 tubuh para terpidana mati, maka hal itu hanya menggambarkan perilaku yang buta terhadap perkembangan teknologi.
Selain itu juga dari sisi humanistik, jelas akan mereduksi kemanusiaan seseorang, meskipun dia seorang penjahat bengis yang terpidana mati sekalipun.

Lagipula, bila itu dilakukan tanpa kerelaan dari si pemilik tubuh, maka sama saja dengan melakukan pencurian.
evil1000 - 23/09/2012 08:51 AM
#6280

kriteria mati berapa lama baru organnya diambil?? confused:

kalow udah belatungan mah, disisihin aja buat makanan si kembar afganism-webo :dp

dan yg kedua, masalah informed concent

ketiga, jgn lupa jg hak autonomy, entah dari si terpidana atau keluarganya

keempat, organnya sehat apa kagak? confused:

kelima, selama prosesnya tdk melanggar 4 butir prima facie dan turunannya, ngga masalah recsel

ada yg ngga setuju sm gw?? fuck2:
Page 314 of 332 | ‹ First  < 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 >  Last ›
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?