DEBATE CLUB
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?
Total Views: 126104 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 315 of 332 | ‹ First  < 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 >  Last ›

evil1000 - 23/09/2012 08:54 AM
#6281

Quote:
Original Posted By Angel.Michael


penjara aja gak jelas aturannya, tempat orang2 'gak berguna' ......

menurut ane sih lebih cocok biarlah debu kembali kepada debu aja ..... D


lu aja gw kremasiin jadi abu, gmn? DDDD
fsv - 23/09/2012 10:55 AM
#6282

yang pastinya , orang ga waras aja yang butuh najis
joeraygaul - 23/09/2012 11:37 AM
#6283

Quote:
Original Posted By barcon
Klo boleh tau, hipokrat dan hipokratis itu apa?...
Saudaranya hipokrates kah?... Peace:

matabelo: kagets:
Wah senior DC is come back,

Yang pasti memang tidak memiliki hubungan kerabat dengan aristoteles dan sokrates senpei.

Hanya bahasa ndeso dari hypocrite senpei, malus

Memang lebih tepat bila saya menggunakan kata munafik dan kemunafikan ketimbang hipokrat dan hipokratis, thx koreksinya malus
Quote:
Original Posted By Destakdes
ya karena itu mereka yg berbuat kejahatan luar biasa dihukum mati, tapi kan gabisa langsung main pretelin menurut ane, ya seenggaknya harus ada izin atau perbincangan dari keluarga terpidana dan pelaku terpidana tersebut Yb



gini gan menurut, memang semua manusia memiliki hak untuk hidup. tapi disini yang dibahas orang yg dihukum terpidana mati.
jadi itu semua orang2 terpidana mungkin yang sudah terkena hukuman maksimal krn perbuatan kriminalnya.

sorry itu yg ente bold itu ane salah pemahaman maksudnya itu dari pelaku dan keluarga si pelaku, yang mungkin msh ingin meminta ditolong agar tidak
sampai kepada hukuman mati.

SYARAT PELAKSANAAN TRANPLANTASI ORGAN

Pada transplantasi organ yang melibatkan donor organ hidup, pengambilan organ dari donor harus memperhatikan kesehatan donor yang bersangkutan.
Pengambilan organ baru dapat dilakukan jika donor telah diberitahu tentang resiko operasi, dan atas dasar pemahaman yang benar tadi donor dan ahli watis atau keluarganya secara sukarela menyatakan persetujuannya (pasal 32 ayat 2 UU No. 23/1992)

Syarat dilaksanakannya transplantasi adalah:
1. Keamanan: tindakan operasi harus aman bagi donor maupun penerima organ. Secara umum keamanan tergantung dari keahlian tenaga kesehatan, kelengkapan sarana dan alat kesehatan

2. Voluntarisme: transplantasi dari donor hidup maupun mati hanya bisa dilakukan jika telah ada persetujuan dari donot dan ahli waris atau
keluarganya (pasal 34 ayat 2 UU No. 23/1992).
Sebelum meminta persetujuan dari donor dan ahli waris atau keluarganya, dokter wajib memberitahu resiko tindakan transplantasi tersebut kepada donor (pasal 15 PP 18/1981).

Dalam hal pengambilan organ dari jenazah dikenal ada 2 sistem yang diberlakukan secara nasional
1. Sistem izin (toestemming system): sistem ini menyatakan bahwa transplantasi baru dapat dilakukan jika ada persetujuan dari donor sebelum pengambilan organ. Indonesia menganut sistem ini.

2. Sistem tidak berkeberatan (geen bezwaar system): dalam sistem ini transplantasi organ dapat dilakukan sejauh tidak ada penolakan dari pihak donor. Tidak adanya penolakan dari donor, dalam sistem ini, ditafsirkan sebagai ”donor tidak keberatan dilakukan pengambilan organ” Pasal 14 PP No 18/1981 menyatakan bahwa pengambilan organ dari korban yang meninggal dunia dilakukan atas dasar persetujuan dari keluarga terdekat.
Dalam keluarga terdekat tidak ada, maka keluarga jenazah harus diberitahu. Jika setelah lewat 2 x 24 jam keluarga tidak ditemukan, maka dapat dilakukan pengambilan organ tanpa izin keluarga.


Makanya dibuatkan undang2 dan dipublikasikan bro, maka delik "diberitahukan" pada pasal tersebut telah terpenuhi.
Bila telah menjadi UU dan disahkan secara hukum maka pendonoran organ ini akan menjadi konsekwensi logis dan resiko tambahan dari tindak kriminal berat.
Bila kita memakai sudut pandang "vonis" maka pengambilan organ ini dapat dianggap sebagai "vonis tambahan" pula.
Suicide.Phenom - 23/09/2012 03:15 PM
#6284

gak setujulah,,!!!!
mau diatur secara legal pun itu bertentangan dengan hati nurani
belum lagi keluarga yg secara "sah" yg punya tuh mayat..

kalo pun melalui undang2, apa urgensinya ? D
Hashimi - 23/09/2012 06:54 PM
#6285

Quote:
Original Posted By Suicide.Phenom
gak setujulah,,!!!!
mau diatur secara legal pun itu bertentangan dengan hati nurani
belum lagi keluarga yg secara "sah" yg punya tuh mayat..

kalo pun melalui undang2, apa urgensinya ? D


urgensi? Jelas banyak lah
banyak orang2 yg membutuhkan transplantasi organ dan itu bisa disuplai dgn mudah melalui hukuman mati ini.
toh sejak awal vonis mati memang menghilangkan hak si terdakwa, kenapa tidak ditambhakn kewajiban mendonorkan organnya?
.xeliamp. - 23/09/2012 07:47 PM
#6286

kalo menurut gua mah sih, transplantasi organ dari semua jenazah yang dalam keadaan baik, bukan cuma terpidana mati, relawan dll.

persetan jing sama ga sah secara agama, gak berkeprimanusiaan, gada di kitab!
kalo emang Tuhan Maha Penyayang, Dia pasti setuju! lebih banyak manusia yang selamat hidupnya karena program transplantasi organ!
.xeliamp. - 23/09/2012 07:49 PM
#6287

Quote:
Original Posted By Suicide.Phenom
gak setujulah,,!!!!
mau diatur secara legal pun itu bertentangan dengan hati nurani
belum lagi keluarga yg secara "sah" yg punya tuh mayat..

kalo pun melalui undang2, apa urgensinya ? D


hati nurani? nohope:
dari orang yg masih idup, dipaksa diambil, baru bertentangan ama hati nurani D

lagi pula mayat, kalo dah mati, dikubur, terus manfaatnye buat yg masih idup apaan?!! nohope:
omjackD - 23/09/2012 08:51 PM
#6288

Quote:
Original Posted By .xeliamp.
hati nurani? nohope:
dari orang yg masih idup, dipaksa diambil, baru bertentangan ama hati nurani D

lagi pula mayat, kalo dah mati, dikubur, terus manfaatnye buat yg masih idup apaan?!! nohope:

Donor itu lebih baik ketika ybs masih dalam keadaan hidup, ketimbang sudah mati.

Donor Hidup:
Ginjal
Hati
Paru2
Pankreas & bag dari usus
Jantung
Jaringan

Donor Mayat:
Mata
Ginjal
Paru-paru
Jantung
Hati
Pankreas

Tulang
Katup jantung
Kulit
Sumber: http://health.detik..com/read/2012/04/25/153636/1901331/775/organ-tubuh-yang-bisa-didonorkan-saat-hid up-dan-sudah-mati?l771108bcj

Donor (masih) Hidup lebih diminati dibanding donor (sudah) mayat.

Daftar Harga:

1. Sepasang bola mata: US$ 1.525 atau sekitar Rp 14 juta

2. Kulit Kepala: US$ 607 atau sekitar Rp 5,56 juta

3. Tengkorak dengan Gigi: US$ 1.200 atau sekitar Rp 11 juta

4. Bahu: US$ 500 atau sekitar Rp 4,6 juta

5. Arteri koroner: US$ 1.525 atau sekitar Rp 14 juta

6. Jantung: US$ 119.000 atau sekitar Rp 1,1 miliar 7. Hati: US$ 157.000 atau sekitar Rp 1,4 miliar

8. Tangan dan lengan: US$ 385 atau sekitar Rp 3,5 juta

9. Pint darah: US$ 337 atau sekitar Rp 3,1 juta

10. Limpa: US$ 508 atau sekitar Rp 4,6 juta

11. Perut: US$ 508 atau sekitar Rp 4,6 juta

12. Usus Kecil: US$ 2.519 atau sekitar Rp 23 juta

13. Ginjal: US$ 262.000 atau Rp 2,4 miliar

14. Kandung empedu: US$ 1.219 atau sekitar Rp 11,1 juta

15. Kulit: US$ 10 atau sekitar Rp 91.000 per inci persegi

sumber:http://forum.viva.co.id/internasional/341354-daftar-harga-organ-tubuh-manusia.html
Takujeng - 23/09/2012 10:35 PM
#6289

Quote:
Original Posted By .xeliamp.
kalo menurut gua mah sih, transplantasi organ dari semua jenazah yang dalam keadaan baik, bukan cuma terpidana mati, relawan dll.

persetan jing sama ga sah secara agama, gak berkeprimanusiaan, gada di kitab!
kalo emang Tuhan Maha Penyayang, Dia pasti setuju! lebih banyak manusia yang selamat hidupnya karena program transplantasi organ!


Quote:
Original Posted By .xeliamp.
hati nurani? nohope:
dari orang yg masih idup, dipaksa diambil, baru bertentangan ama hati nurani D

lagi pula mayat, kalo dah mati, dikubur, terus manfaatnye buat yg masih idup apaan?!! nohope:


anda kira semudah .... cangkok tumbuhan..??

>=kalau dari donor g masalaah .....

>=ke resipiennya??? kalau nolak reaksi imun ...? kelangsungan hidup?
>=malpraktik > Pidana?

gejar Uang?? hati nurani?
yggsdrasill - 23/09/2012 10:38 PM
#6290

Quote:
Original Posted By omjackD
Donor itu lebih baik ketika ybs masih dalam keadaan hidup, ketimbang sudah mati.

Donor Hidup:
Ginjal
Hati
Paru2
Pankreas & bag dari usus
Jantung
Jaringan

Donor Mayat:
Mata
Ginjal
Paru-paru
Jantung
Hati
Pankreas

Tulang
Katup jantung
Kulit
Sumber: http://health.detik..com/read/2012/04/25/153636/1901331/775/organ-tubuh-yang-bisa-didonorkan-saat-hid up-dan-sudah-mati?l771108bcj

Donor (masih) Hidup lebih diminati dibanding donor (sudah) mayat.

Daftar Harga:

1. Sepasang bola mata: US$ 1.525 atau sekitar Rp 14 juta

2. Kulit Kepala: US$ 607 atau sekitar Rp 5,56 juta

3. Tengkorak dengan Gigi: US$ 1.200 atau sekitar Rp 11 juta

4. Bahu: US$ 500 atau sekitar Rp 4,6 juta

5. Arteri koroner: US$ 1.525 atau sekitar Rp 14 juta

6. Jantung: US$ 119.000 atau sekitar Rp 1,1 miliar 7. Hati: US$ 157.000 atau sekitar Rp 1,4 miliar

8. Tangan dan lengan: US$ 385 atau sekitar Rp 3,5 juta

9. Pint darah: US$ 337 atau sekitar Rp 3,1 juta

10. Limpa: US$ 508 atau sekitar Rp 4,6 juta

11. Perut: US$ 508 atau sekitar Rp 4,6 juta

12. Usus Kecil: US$ 2.519 atau sekitar Rp 23 juta

13. Ginjal: US$ 262.000 atau Rp 2,4 miliar

14. Kandung empedu: US$ 1.219 atau sekitar Rp 11,1 juta

15. Kulit: US$ 10 atau sekitar Rp 91.000 per inci persegi

sumber:http://forum.viva.co.id/internasional/341354-daftar-harga-organ-tubuh-manusia.html


wih ada sampe milyaran
pantes banyak penculikan anak sekarang ya
dibesarkan untuk disembelih macam babi saja
pertama terpidana mati, lama kelamaan jd ternak manusia
manusia gitu lho, dasarnya memang barbar
yggsdrasill - 23/09/2012 10:44 PM
#6291

Quote:
Original Posted By .xeliamp.
kalo menurut gua mah sih, transplantasi organ dari semua jenazah yang dalam keadaan baik, bukan cuma terpidana mati, relawan dll.

persetan jing sama ga sah secara agama, gak berkeprimanusiaan, gada di kitab!
kalo emang Tuhan Maha Penyayang, Dia pasti setuju! lebih banyak manusia yang selamat hidupnya karena program transplantasi organ!


Quote:
Original Posted By .xeliamp.
hati nurani? nohope:
dari orang yg masih idup, dipaksa diambil, baru bertentangan ama hati nurani D

lagi pula mayat, kalo dah mati, dikubur, terus manfaatnye buat yg masih idup apaan?!! nohope:


hati nurani sangat penting, jika anda masih mau dianggap manusia
transplatasi organ, sama halnya dengan hukuman mati, msh bertentangan dgn nurani manusia
teknologi sangat memungkinkan membuat replika organ buatan
lagipula seperti yg dikatakan, organ itu cocok2an tdk asal transplatasi
solusi yg msh digunakan sdh tepat, yaitu adanya unsur kerelaan atau memang niatnya si penyumbang, bukan krn hukuman dan paksaan
Destakdes - 23/09/2012 11:11 PM
#6292

Quote:
Original Posted By joeraygaul

Makanya dibuatkan undang2 dan dipublikasikan bro, maka delik "diberitahukan" pada pasal tersebut telah terpenuhi.
Bila telah menjadi UU dan disahkan secara hukum maka pendonoran organ ini akan menjadi konsekwensi logis dan resiko tambahan dari tindak kriminal berat.
Bila kita memakai sudut pandang "vonis" maka pengambilan organ ini dapat dianggap sebagai "vonis tambahan" pula.


oke, ane setuju dengan statement ente tentang
Quote:
"pendonoran organ ini akan menjadi konsekwensi logis dan resiko tambahan dari tindak kriminal berat."

Tapi kalau dilihat dari logika ya, mungkin krn perbuatan kejahatannya yg mengharuskannya dihukum mati.

kalau dilihat dari sudut pandang "vonis"/"vonis tambahan", gak bisa dong gan dijadikan vonis tambahan, kenapa? jelas karena disini prosedurnya harus ada persetujuan dari si terpidana dan keluarga. kalau ternyata terpidana dan keluarga terpidana gak setuju mau maksa? jelas gabisa dong. krn prosedur dari awalnya aja dalam
Syarat dilaksanakannya transplantasi adalah
Quote:
Voluntarisme: transplantasi dari donor hidup maupun mati hanya bisa dilakukan jika telah ada persetujuan dari donot dan ahli waris atau
keluarganya. (pasal 34 ayat 2 UU No. 23/1992)


to the point aja yg dijadikan masalah dari awal pro dan kontranya

Quote:
"jadi setiap orang yg baru dihukum mati, organ2nya langsung dipreteli dan disimpan buat yg mau transplan organ"


ane gak setuju jika langsung dipretelin karena itu gak sesuai prosedur seharusnya untuk transplantasi organ yang benar.
krn disitu terpidana masih punya hak utuh atas kepemilikan organ2nya, dan keluarganya jg mana mau walaupun posisi terpidana sudah berbuat kejahatan

ada 2 prosedur sesuai yg udah ane share jg diatas:

1. Sistem izin (toestemming system): sistem ini menyatakan bahwa transplantasi baru dapat dilakukan jika ada persetujuan dari donor sebelum pengambilan organ. Indonesia menganut sistem ini.

2. Sistem tidak berkeberatan (geen bezwaar system): dalam sistem ini transplantasi organ dapat dilakukan sejauh tidak ada penolakan dari pihak donor. Tidak adanya penolakan dari donor, dalam sistem ini, ditafsirkan sebagai ”donor tidak keberatan dilakukan pengambilan organ”
Pasal 14 PP No 18/1981 menyatakan bahwa pengambilan organ dari korban yang meninggal dunia dilakukan atas dasar persetujuan dari keluarga terdekat. Dalam keluarga terdekat tidak ada, maka keluarga jenazah harus diberitahu.

"Jika setelah lewat 2 x 24 jam keluarga tidak ditemukan, maka dapat dilakukan pengambilan organ tanpa izin keluarga."
tuh yang ane bold baru boleh dipretelin tp tetep sesuai prosedur (Kalau sudah mati)

kalau masih hidup yang perlu diperhatikan saat mendonorkan yaitu
1. Resiko yang dihadapi oleh donor harus proporsional dengan manfaat yang didatangkan oleh tindakan tersebut atas diri penerima
2. Pengangkatan organ tubuh tidak boleh mengganggu secara serius kesehatan donor atau fungsi tubuhnya
3. Perkiraan penerimaan organ tersebut oleh penerima
4. Donor wajib memutuskan dengan penuh kesadaram dan bebas, dengan mengetahui resiko yang mungkin terjadi



Quote:
Original Posted By .xeliamp.
hati nurani? nohope:
dari orang yg masih idup, dipaksa diambil, baru bertentangan ama hati nurani D

lagi pula mayat, kalo dah mati, dikubur, terus manfaatnye buat yg masih idup apaan?!! nohope:


gini mungkin bagi orang yang gak kenal sama terpidana masa bodo, tapi gimana dengan keluarganya yg masih peduli? walaupun terpidana susah berbuat jahat pasti masih berarti bagi keluarganya.
jadi jgn dilihat dari sudut pandang krn terpidana sudah mati krn divonis hukum mati krn berbuat jahat yg parah gak berguna.
hidupnya terpidana saja yg sebelum dihukum mati aja berguna untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya, pasti ada sisi positifnya di samping dia berbuat hal negativ Yb
Suicide.Phenom - 23/09/2012 11:17 PM
#6293

Quote:
Original Posted By Hashimi


urgensi? Jelas banyak lah
banyak orang2 yg membutuhkan transplantasi organ dan itu bisa disuplai dgn mudah melalui hukuman mati ini.
toh sejak awal vonis mati memang menghilangkan hak si terdakwa, kenapa tidak ditambhakn kewajiban mendonorkan organnya?

kayaknya gak perlu deh untuk saat ini, lebih baik kampaye kesehatan agar organ2 tubuh kita gak pada rusak, sehingga yg orang2 yg butuh organ bisa diminimalisir..
Quote:
Original Posted By .xeliamp.
hati nurani? nohope:
dari orang yg masih idup, dipaksa diambil, baru bertentangan ama hati nurani D

lagi pula mayat, kalo dah mati, dikubur, terus manfaatnye buat yg masih idup apaan?!! nohope:
maksud gw bagi orang2 yg ditinggalkan, itu mayat ada yg punya loh,manfaatnya sih ada aja, klo mau jelas coba lu tanya sumanto \)

dah pada nonton seven pound lom ?, disitu aja dia benar2 memastikan agar organnya itu jatuh pada orang yg benar,
dan ini nantinya jadi tanggungjawab siapa ? gak bakal tuh buat orang2 gak mampu yg benar2 membutuhkan...
Suicide.Phenom - 23/09/2012 11:25 PM
#6294

Quote:
"pendonoran organ ini akan menjadi konsekwensi logis dan resiko tambahan dari tindak kriminal berat."

ini pernyataan yg kontradiktif, disisi lain sebuah resiko tambahan disisi lain
ada sebuah kepuasan batin dari si terpidana atas perbuatan pendonoran yg ia lakukan.. walaupun itu tidak secara langsung
nohope:
prop1000 - 23/09/2012 11:31 PM
#6295

gw menolak hukuman mati.
jadi donor organ pada terhukum mati gak make sense dibahas.
Destakdes - 23/09/2012 11:42 PM
#6296

Quote:
Original Posted By prop1000
gw menolak hukuman mati.
jadi donor organ pada terhukum mati gak make sense dibahas.


kenapa menolaknya gan? coba dijabarkan gan Yb
joeraygaul - 23/09/2012 11:44 PM
#6297

Quote:
Original Posted By Destakdes
oke, ane setuju dengan statement ente tentang

Tapi kalau dilihat dari logika ya, mungkin krn perbuatan kejahatannya yg mengharuskannya dihukum mati.

kalau dilihat dari sudut pandang "vonis"/"vonis tambahan", gak bisa dong gan dijadikan vonis tambahan, kenapa? jelas karena disini prosedurnya harus ada persetujuan dari si terpidana dan keluarga. kalau ternyata terpidana dan keluarga terpidana gak setuju mau maksa? jelas gabisa dong. krn prosedur dari awalnya aja dalam
Syarat dilaksanakannya transplantasi adalah


to the point aja yg dijadikan masalah dari awal pro dan kontranya



ane gak setuju jika langsung dipretelin karena itu gak sesuai prosedur seharusnya untuk transplantasi organ yang benar.
krn disitu terpidana masih punya hak utuh atas kepemilikan organ2nya, dan keluarganya jg mana mau walaupun posisi terpidana sudah berbuat kejahatan

ada 2 prosedur sesuai yg udah ane share jg diatas:

1. Sistem izin (toestemming system): sistem ini menyatakan bahwa transplantasi baru dapat dilakukan jika ada persetujuan dari donor sebelum pengambilan organ. Indonesia menganut sistem ini.

2. Sistem tidak berkeberatan (geen bezwaar system): dalam sistem ini transplantasi organ dapat dilakukan sejauh tidak ada penolakan dari pihak donor. Tidak adanya penolakan dari donor, dalam sistem ini, ditafsirkan sebagai ”donor tidak keberatan dilakukan pengambilan organ”
Pasal 14 PP No 18/1981 menyatakan bahwa pengambilan organ dari korban yang meninggal dunia dilakukan atas dasar persetujuan dari keluarga terdekat. Dalam keluarga terdekat tidak ada, maka keluarga jenazah harus diberitahu.

"Jika setelah lewat 2 x 24 jam keluarga tidak ditemukan, maka dapat dilakukan pengambilan organ tanpa izin keluarga."
tuh yang ane bold baru boleh dipretelin tp tetep sesuai prosedur (Kalau sudah mati)

kalau masih hidup yang perlu diperhatikan saat mendonorkan yaitu
1. Resiko yang dihadapi oleh donor harus proporsional dengan manfaat yang didatangkan oleh tindakan tersebut atas diri penerima
2. Pengangkatan organ tubuh tidak boleh mengganggu secara serius kesehatan donor atau fungsi tubuhnya
3. Perkiraan penerimaan organ tersebut oleh penerima
4. Donor wajib memutuskan dengan penuh kesadaram dan bebas, dengan mengetahui resiko yang mungkin terjadi





gini mungkin bagi orang yang gak kenal sama terpidana masa bodo, tapi gimana dengan keluarganya yg masih peduli? walaupun terpidana susah berbuat jahat pasti masih berarti bagi keluarganya.
jadi jgn dilihat dari sudut pandang krn terpidana sudah mati krn divonis hukum mati krn berbuat jahat yg parah gak berguna.
hidupnya terpidana saja yg sebelum dihukum mati aja berguna untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya, pasti ada sisi positifnya di samping dia berbuat hal negativ Yb


Begini bro, sebuah vonis, apalagi vonis mati yang telah dijatuhkan oleh pengadilan yang bersifat tetap dan mengikat sudah tidak lagi memperhitungkan persetujuan dari terdakwa atau tidak. Vonis matinya sendiri bila sudah mencapai tingkat putusan yang tetap (setelah diberikan kesempatan banding dan kasasi tapi banding dan kasasi tersebut ditolak) maka sudah tidak ada lagi unsur persetujuan atau tidak dari si terdakwa. Apalagi bila sistem transplantasi ini telah ditetapkan sebagai Undang-Undang yang bersifat baku dan mengikat.
Bila seorang terdakwa telah terbukti pada persidangan melakukan suatu tindak kriminal berat dan melalui banding sampai kasasi tidak bisa melakukan pembuktian sebaliknya atau meringankan, maka setuju atau tidak vonis tetap dijalankan (dieksekusi).
Memang menurut bro sendiri sebuah vonis dari pengadilan yang telah bersifat tetap dan mengikat harus mempertimbangkan persetujuan dari si terdakwa/terpidana?
Pada prosedur pengadilan kita setelah vonis dijatuhkan di pengadilan terendah (tingkat negri), kesempatan diberikan hanya untuk pembuktian terbalik atau upaya peringanan, tapi bila telah sampai pada tingkat kasasi atau pengadilan tertinggi, tetap saja sebuah vonis (apalagi eksekusi mati) tidak akan mempertimbangkan rasa persetujuan dari si terdakwa, apalagi bila bukti2 yang telah diajukan di pengadilan semuanya telah memberatkan tindakan si terdakwa.

Makanya ketika saya berdiri di sisi pro, tindakan transplantasi organ ini agar ditetapkan menjadi sebuah Undang2. Agar dapat terinformasikan dengan baik dan sebagai konsekwensi logis tambahan dari tindak kejahatan berat.
Destakdes - 23/09/2012 11:53 PM
#6298

Quote:
Original Posted By joeraygaul
Quote:
Begini bro, sebuah vonis, apalagi vonis mati yang telah dijatuhkan oleh pengadilan yang bersifat tetap dan mengikat sudah tidak lagi memperhitungkan persetujuan dari terdakwa atau tidak. Vonis matinya sendiri bila sudah mencapai tingkat putusan yang tetap (setelah diberikan kesempatan banding dan kasasi tapi banding dan kasasi tersebut ditolak) maka sudah tidak ada lagi unsur persetujuan atau tidak dari si terdakwa. Apalagi bila sistem transplantasi ini telah ditetapkan sebagai Undang-Undang yang bersifat baku dan mengikat.
Bila seorang terdakwa telah terbukti pada persidangan melakukan suatu tindak kriminal berat dan melalui banding sampai kasasi tidak bisa melakukan pembuktian sebaliknya atau meringankan, maka setuju atau tidak vonis tetap dijalankan (dieksekusi).
Memang menurut bro sendiri sebuah vonis dari pengadilan yang telah bersifat tetap dan mengikat harus mempertimbangkan persetujuan dari si terdakwa/terpidana?
Pada prosedur pengadilan kita setelah vonis dijatuhkan di pengadilan terendah (tingkat negri), kesempatan diberikan hanya untuk pembuktian terbalik atau upaya peringanan, tapi bila telah sampai pada tingkat kasasi atau pengadilan tertinggi, tetap saja sebuah vonis (apalagi eksekusi mati) tidak akan mempertimbangkan rasa persetujuan dari si terdakwa, apalagi bila bukti2 yang telah diajukan di pengadilan semuanya telah memberatkan tindakan si terdakwa.

Makanya ketika saya berdiri di sisi pro, tindakan transplantasi organ ini agar ditetapkan menjadi sebuah Undang2. Agar dapat terinformasikan dengan baik dan sebagai konsekwensi logis tambahan dari tindak kejahatan berat.


yang ane quote maksudnya ane itu yang harus ada persetujuan dari terpidana dan keluarga terpidana itu bagi transplantasi organ yang main ambil pretelin seenaknya.
bukan ketetapan pada vonis hukuman mati. kalau itu ane udah tau sudah ditetapkan dalam undang2

dan itu soal ente pro yg tentang transplantasi organ ditetapkan dalam sebuah undang2 itu yang pengambilannya secara main pretelin tanpa berunding dengan terpidana dan keluarga terpidana. atau yg berunding dulu?
yggsdrasill - 24/09/2012 12:06 AM
#6299

Quote:
Original Posted By joeraygaul
Begini bro, sebuah vonis, apalagi vonis mati yang telah dijatuhkan oleh pengadilan yang bersifat tetap dan mengikat sudah tidak lagi memperhitungkan persetujuan dari terdakwa atau tidak. Vonis matinya sendiri bila sudah mencapai tingkat putusan yang tetap (setelah diberikan kesempatan banding dan kasasi tapi banding dan kasasi tersebut ditolak) maka sudah tidak ada lagi unsur persetujuan atau tidak dari si terdakwa. Apalagi bila sistem transplantasi ini telah ditetapkan sebagai Undang-Undang yang bersifat baku dan mengikat.
Bila seorang terdakwa telah terbukti pada persidangan melakukan suatu tindak kriminal berat dan melalui banding sampai kasasi tidak bisa melakukan pembuktian sebaliknya atau meringankan, maka setuju atau tidak vonis tetap dijalankan (dieksekusi).
Memang menurut bro sendiri sebuah vonis dari pengadilan yang telah bersifat tetap dan mengikat harus mempertimbangkan persetujuan dari si terdakwa/terpidana?
Pada prosedur pengadilan kita setelah vonis dijatuhkan di pengadilan terendah (tingkat negri), kesempatan diberikan hanya untuk pembuktian terbalik atau upaya peringanan, tapi bila telah sampai pada tingkat kasasi atau pengadilan tertinggi, tetap saja sebuah vonis (apalagi eksekusi mati) tidak akan mempertimbangkan rasa persetujuan dari si terdakwa, apalagi bila bukti2 yang telah diajukan di pengadilan semuanya telah memberatkan tindakan si terdakwa.

Makanya ketika saya berdiri di sisi pro, tindakan transplantasi organ ini agar ditetapkan menjadi sebuah Undang2. Agar dapat terinformasikan dengan baik dan sebagai konsekwensi logis tambahan dari tindak kejahatan berat.


jadi Amrozy cs yg kemaren dihukum mati, tubuhnya boleh langsung dipreteli krn sdh dibenarkan undang-undang begitu?
Hashimi - 24/09/2012 12:17 AM
#6300

Quote:
Original Posted By Suicide.Phenom
kayaknya gak perlu deh untuk saat ini, lebih baik kampaye kesehatan agar organ2 tubuh kita gak pada rusak, sehingga yg orang2 yg butuh organ bisa diminimalisir..


gak perlu saat ini?
jelas kebutuhan akan organ pada masa ini sangat banyak, terutama buat ginjal dan kornea
tahu kenapa suplai organ sangat rendah? Karena sedikit sekali yg punya kesadaran untuk mendonorkan organnya, bahkan sesudah meninggal sekalipun. Ini juga terjadi di negara2 maju, dimana orang harus menunggu lama atau membeli secara ilegal, agar bisa mendapatkan organ.

Okelah kita mempertimbangkan dari sisi etika buat orang yg masih hidup dan berkelakuan baik. Nah buat orang yg emang akan dihabisi nyawanya secara legal? Sekalian aja diambil organnya secara legal nohope:

Quote:
Original Posted By Destakdes

ane gak setuju jika langsung dipretelin karena itu gak sesuai prosedur seharusnya untuk transplantasi organ yang benar.
krn disitu terpidana masih punya hak utuh atas kepemilikan organ2nya, dan keluarganya jg mana mau walaupun posisi terpidana sudah berbuat kejahatan

ada 2 prosedur sesuai yg udah ane share jg diatas:

1. Sistem izin (toestemming system): sistem ini menyatakan bahwa transplantasi baru dapat dilakukan jika ada persetujuan dari donor sebelum pengambilan organ. Indonesia menganut sistem ini.

2. Sistem tidak berkeberatan (geen bezwaar system): dalam sistem ini transplantasi organ dapat dilakukan sejauh tidak ada penolakan dari pihak donor. Tidak adanya penolakan dari donor, dalam sistem ini, ditafsirkan sebagai ”donor tidak keberatan dilakukan pengambilan organ”
Pasal 14 PP No 18/1981 menyatakan bahwa pengambilan organ dari korban yang meninggal dunia dilakukan atas dasar persetujuan dari keluarga terdekat. Dalam keluarga terdekat tidak ada, maka keluarga jenazah harus diberitahu.

"Jika setelah lewat 2 x 24 jam keluarga tidak ditemukan, maka dapat dilakukan pengambilan organ tanpa izin keluarga."
tuh yang ane bold baru boleh dipretelin tp tetep sesuai prosedur (Kalau sudah mati)

kalau masih hidup yang perlu diperhatikan saat mendonorkan yaitu
1. Resiko yang dihadapi oleh donor harus proporsional dengan manfaat yang didatangkan oleh tindakan tersebut atas diri penerima
2. Pengangkatan organ tubuh tidak boleh mengganggu secara serius kesehatan donor atau fungsi tubuhnya
3. Perkiraan penerimaan organ tersebut oleh penerima
4. Donor wajib memutuskan dengan penuh kesadaram dan bebas, dengan mengetahui resiko yang mungkin terjadi


kalau gak dipaksa, ya berarti minta persetujuan dulu. Itu mah gak ada bedanya ama minta persetujuan dgn orang biasa yg mau meninggal cd

Emang masalah transplan organ ini termasuk baru dalam etika kedokteran. Jadi mungkin saja akan bertabrakan dgn aturan yg sudah ada, karena memang belum fix bagaimana kita menyikapinya. Dalam hal ini bertentangan dgn prinsip persetujuan pendonor, tapi kan kasusnya si pendonor adalah terpidana mati. Yang mana hak kemanusiaannya (hak untuk hidup) dicabut oleh negara, nah kenapa tidak sekalian hak persetujuan donor juga dicabut?

Manfaatnya juga bisa mengurangi praktik jual beli organ ilegal,
prinsipnya seperti lokalisasi pelacur yg mereduksi praktik pelacuran di tempat lain Yb

Quote:
Original Posted By prop1000
gw menolak hukuman mati.
jadi donor organ pada terhukum mati gak make sense dibahas.


Tapi seandainya ini diterapkan di negara yg melegalkan hukuman mati
bakalan susah buat menghapuskan kedepannya lho p
Page 315 of 332 | ‹ First  < 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 >  Last ›
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?