DEBATE CLUB
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?
Total Views: 126104 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 318 of 332 | ‹ First  < 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 >  Last ›

evil1000 - 24/09/2012 09:56 PM
#6341

Quote:
Original Posted By .xeliamp.
eh goblok, emang lu kira seks itu kek bertamu, interaksi sosial yg lumrah? D
goblok anjing lo, emak lu yg autis nih D D D

dasar guwoblokk, sejak kapan autisme gak punya free-will? D D
coba kasih contoh ama gua njinggg, orang sakit jiwa aja masih bisa nolak D

LOL, autisme itu orang yg butuh penanganan khusus, butuh waktu untuk si autis tersebut mengerti sesuatu D D

fail fail, emang gada gunanya debatin hal ginian ama orang sipilis macem elu fuck2:


lah, malah ngomongin masalah lumrah lu jing? D lu kira donor organ tanpa persetujuan keluarga itu lumrah? ngakak
idealisme goblok lu itu ngga lumrah tod D kalo lu mau bantah gw, ngga usah bawa lumrah2an lah disini ngakak

HAHAHAHAHAH! sekarang lu samakan status orang autis dan orang gila?? D beda kasus coiiii, mentally retarded dan psychological disorder itu bukan dalam kubu yg sama, goblok! ngakak
anw, free-will itu bisa muncul, jika si autis mendapat rehab dini utk mengembalikan status perkembangan mental & otak. sedangkan pd contoh ini kan udh jelas2 gw sematkan bahwa emak lu adalah si autis yg tdk memiliki free will!

baca nih jing D

Quote:
The behaviors of infants, senile or autistic humans show clear evidence of will, but that will does not appear to be free in the folk psychological sense. There is little reasoning, deliberation, or rationality.

source : http://www.psychologytoday.com/blog/one-among-many/200902/free-will-can-i-have-one


dan emak lu termasuk yg kaya gt! fuck2:

buat memahami analogi nya aja otak lu kaga mampu tong nohope:

intinya adalah : gw meposisikan elu sebagai orang ketiga, yg diserahi hak orang kedua yg akan gw apa2in karena si orang kedua tidak bisa melakukan pilihan. sama aja kan kaya kasus donor organ?
GOBLOK LU!
Destakdes - 24/09/2012 10:35 PM
#6342

Quote:
Original Posted By .xeliamp.
maksud gua orang lain goblok, dan organnya itu diambil dari mayat dalam keadaan baik, goblok sialan lo njingggg berbusa:



lah loh lah loh, kok jadi bahas setuju atau kagak sih? D D
ya jelas di indonesia kagak setuju, karena mayoritas tolol kek elu D D


makanya kalo ngejelasin pake bahasa yang jelas, jgn bahasa2 seperti manusia yang gak disekolahkan
dari tadi gua ngasih opsi dari orang keadaan mati dan hidup dan sesuai prosedur, think before talking bro capedes
dari awal permasalahan yang dibahas disini antara pro dan kontra
masalah:
Quote:
Quote:
Original Posted By Hashimi
gimana kalo transplantasi organ dari terpidana mati? pro atau kontra
jadi setiap orang yg baru dihukum mati, organ2nya langsung dipreteli dan disimpan buat yg mau transplan organ



yang jadinya kalau seseorang mau transplantasi organ harus lewat prosedur2 yang ada.
disini gua gak menentang soal orang mau transplantasi itu, wong itu jg perbuatan mulia. yang dijadikan masalah prosedurnya yang dijadikan bahasan itu "langsung"
tanpa prosedur itu yang gak gue setuju.

lo gak usah melebar kemana mana dengan bahasa2 lo seperti manusia yg gak disekolahkan hammers
yggsdrasill - 25/09/2012 01:09 AM
#6343

Quote:
Original Posted By .xeliamp.
sukarela atau tidak, sebaiknya transplantasi harus tetap dilakukan
btw, gua gak bilang tentang jasad orang yg dihukum mati kok, tapi semua jasad yang berada dalam keadaan baik. terserah jenis kematiannya kek gimana D D D D D

jika mendiang keluarga tidak setuju, memang menurut lo apa yang jadi pemicunya? nohope:


ada banyak hal yang menyebabkan manusia tetap menginginkan tubuh yang meninggal, salah satunya ikatan, dan ini merupakan hak (urusan) mereka
Angel.Michael - 25/09/2012 09:53 AM
#6344

Quote:
Original Posted By joeraygaul
Bertentangan dengan nurani?
Come on bro .................. nohope:
Di negara kita dengan kebudayaan timur yang melekat kuat di mana pada setiap warga negara masih berakar faham "retensi" mengatakan bentuk vonis mati bertentangan dengan hati nurani adalah .................. wow capedes.

Entahlah bila (maaf) salah satu anggota keluarga bro (atau saya) menjadi korban dari tindak kejahatan berat sementara bro dan saya hanya menyaksikan si pelaku tersebut masih bisa "hidup tenang" (walau di balik jeruji besi). berdukas

Bukankah pembunuhan, menyebabkan seseorang secara langsung kehilangan "nyawa" (dan juga kepemilikan akan "tubuh") telah merusak "hak kepemilikan tubuh". :nohope

Apalagi bila menghilangkan "nyawa" secara terencana, sistematis, berulang, dan lebih dari satu nyawa. berdukas

Memperlakukan seperti binatang?
Come on Mike, berarti saya dan para donor organ lainnya adalah seperti "binatang" ketika memberikan organ yang sudah tidak terpakai pada orang lain yang membutuhkan?
Perilaku para donatur organ adalah perilaku binatang ketika tidak menghargai tubuhnya sendiri ketika sudah tidak bernyawa?

Menurut kamu transplantasi organ adalah tindakan "yang seperti binatang"?

Sekarang, ketika seseorang melakukan kejahatan berat, apakah ia memperlakukan korbannya secara "manusiawi"? think:


ane kan dah bilang gak mempermasalahkan pendonoran organ, masalahnya adalah pengaturan dalam undang2 ..... orang disembeliih 'hanya' karena undang2 ya apa bedanya dengan binatang / benda mati - yang punya surat hak kepemilikan sehingga bebas diperlakukan seperti apa saja, karena surat dakwaan lengkap maka sebadan2nya dipreteli semua .....

terus n'tar kalo orang yang dihukum mati gak setuju organ tubuhnya didonorkan 'n minum racun untuk merusak organ tubuhnya, siapa lagi yang jadi terdakwa nanti ? ...... D

Quote:

Di atas kalau gak salah sudah ada yang posting tuh "harga" dari setiap organ.
Bila telah ditetapkan oleh UU yang bersifat mengikat dan demi tujuan kemanusian, apakah benar tidak akan tersedia tenaga medis sebagai operatornya? nohope:
Jelas sekali mekanisme pengerjaan, pemanfaatannya pun harus ditetapkan dalam UU, dan pada hal ini pun akan memperoleh keuntungan baru, menekan transplantasi organ secara ilegal.


memang berapa banyak hukuman mati dalam 1 taon kok bisa menekan transplantasi secara ilegal ? ..... nohope:

obat2an dan rumah sakit pun pasti sangat mahal harganya, apa bisa tunjuk sembarang rumah sakit 'n bilang harus operasi organ terdakwa dan pasang, kalau rumah sakit itu sendiri menolak apa masuk dalam undang2 juga ? ...

Quote:

Kamu yang nampaknya kurang memiliki pemahaman mengenai mekanisme peradilan, hukum dan persidangan \).
UU dan hukum bersifat kaku dan tidak fleksibel, bila terdapat "pemutarbalikkan" sebagaimana yang kamu maksudkan adalah pemutarbalikkan fakta2 bukti, keterangan2 saksi dan keterangan2 pendukung lainnya \).
Gak mengikuti kasus Antasari Azhar secara detail ya Mike \)?


sebelum jauh2 ke organ tubuh, sebenernya gimana harta benda milik kepunyaan orang yang dihukum mati itu sendiri ? apa diserahkan ke keluarga atau langsung menjadi milik negara ?

kalau harta saja diwariskan bisa ke keluarga terdekat, tapi organ tubuh sudah menjadi milik negara dan harus didonorkan nampaknya aneh sekali ....... D

Quote:

Hey hey hey Mike, akan saya ulang, yang melakukan kejahatan tersebut si recipient atau si terdakwa mati?
Mengapa harus membenci si recipient?
Pelaku dari perbuatan tersebut si terdakwa mati atau si recipient?
Apa pikiran sedemikian piciknya tidak bisa membedakan 2 orang yang berbeda (antara si terdakwa dan recipient)? nohope:


pasti ada efek psikologis untuk keluarga / sahabat terdekat korban itu sendiri, kalau semua 'hanya' dibentengi dengah hukum dan untuk 'alasan' membantu orang lain apa sudah benar2 tepat ?

ane yakin lain ceritanya kalau terdakwa A mendonorkan mata / tangannya karena pernah melukai keluarga B, dan A benar2 menyesal karena hal tersebut dibandingkan B mendapat anggota tubuh A 'hanya' karena undang2 saja mengharuskan hal tersebut .....
joeraygaul - 25/09/2012 09:59 AM
#6345

Quote:
Original Posted By Suicide.Phenom
heheheh, bisa jadi bunglon dong bro D


Saya hanya mencoba untuk memaparkan argument apa adanya saja, baik dari sisi kekurangan maupun kelebihannya malus.

Quote:
ya, kan masih banyak option2 lain selain mengesahkan UU transplantasi dan mejudicial review kan UU yg sudah ada..
seperti mengkampanyekan pola hidup sehat, memfasilitasi pendoror organ yg lebih baik ext..

Pengadaan UU ini selain dengan tujuan memanfaatkan organ2 terpidana mati yang sia2 juga untuk menutup celah eksploitasi organ secara ilegal \).
Quote:
diagnosa disni yg terindikasi sebagai pelanggarannya, keharusan , bahkan ketika hati nuraninya berkata tidak mau, yg dirampas itu kan hak hidup bukan yang lain2 lohh D

Bila bro mengetengahkan permasalahan hati nurani, coba kita menggunakan sudut pandang dari si korban ketika tindak pidana dilakukan oleh terdakwa terhadap diri si korban.
Quote:
kejahatan kemanusiaanya berbeda bro, yg satu merupakan kejahatatan kemanusiaan yg legal , Pembuatan UU tersebut bukan berangkat dari balas membalas loh \)

Masyarakat kita sebagian besar menganut faham retensi ketimbang abolisi, memang pada dasarnya suatu vonis adalah "suatu pembalasan".
Pembalasan ini yang telah diatur oleh Hukum dan UU kadang setimpal kadang tidak.
Tujuan mengundang2kan transplantasi organ ini adalah upaya pembalasan yang setimpal terhadap kejahatan manusia, ketika seseorang menghilangkan "kehidupan" orang lain, sudah selayaknya dengan "kehidupan" dan "tubuh"-nya sendiri dapat memberikan ganti kehidupan bagi orang lain.

Quote:
kalau mereka ingin, bukannya lebih baik memperbaikin sistem yg ada mengenai trasnparansi dan keakuntabilitasannya ?? kok malah ingin mengakhirinya ya D

Bila mereka melakukan itu, akan sangat rentan sangkutannya dengan kebijakan politik China yang memang tertutup. Bila salah satu keran dibuka deras, ada kemungkinan keran lain diminta untuk dibuka dengan deras pula. Tampaknya mereka tidak ingin seperti itu \).
.
Quote:
itu kan masalah waktu, sapa tau ntar hukuman mati buat TIPIKOR sudah ada, dan hukuman2 mati buat tindak kejahatan lainnya
disisi lain,ini merupakan pengkerdilan terhadap dunia medis yg dari tahun ketahun sudah mengalamin peningkatan yg cukup singnifikan.
adaikan pun disahkan, mau sampe kapan tuh UU bertahan D

Selama masih dibutuhkan saja bro, bila nanti di masa depan sudah ada teknik medis yang lebih baik sudah selayaknya UU inipun dibatalkan \).
Selama belum ada alternatif, UU ini layak dipertimbangkan.
joeraygaul - 25/09/2012 10:28 AM
#6346

Quote:
Original Posted By Destakdes
Memang betul kalau sudah divonis hukum mati berarti mutlak. dan ane gak melarang jg kalau memang harus di pretelin demi kehidupan orang lain.
Tapi tidak dengan cara dipretelin seenaknya tanpa prosedur yg ada dan hak kepemilikan diri dan anggota tubuhnya krn merupakan satu kesatuan dari keberadan pribadinya di dalam dunia.
sejak dari masa kelahiran hingga kematian, manusia sebagai individu jg otomatis memiliki hak atas kepemilikan tubuhnya secara absolut (Hasil universal declaration of human right tahun 1958)

Lho kan dengan dibuatkannya UU berarti prosedur pun harus diatur melalui UU bro.
Segala sesuatu yang berhubungan dengan transplantasi ini bila disahkan melalui UU ya sudah jelas berbagai prosedur pelaksanaan transplantasi ini harus pula diatur melalui UU.
Sekarang, ketika "hak asasi" mendasarnya yaitu "hak untuk hidup" telah dicabut oleh negara berdasarkan hukum dan UU bagaimana bisa tubuhnya yang telah dicabut kepemilikannya melalui hukum dapat dikatakan memiliki hak kepemilikan yang absolut?



Quote:
dan bagaimana ingin "disatukan" dengan "vonis hukuman mati" jika ternyata kalau disatukan itu melanggar hak atas kepemilikan tubuh terpidana?
jika itu dijalankan berarti sama saja dengan ilegal tidak transparan
sedangkan ente blg


Justru disinilah celah2 pemanfaat organ2 dijual secara ilegal beraksi.

Memang menurut bro kalau sudah diatur dan ditetapkan melalui hukum dan UU digolongkan sebagai tindakan ilegal ya ? nohope:
UU yang saya bawa adalah UU lama yang memang sudah seharusnya direvisi dan diperbaiki, pada UU tersebut terdapat celah, oleh karena itu melalui penyusunan UU baru berbagai celah yang timbul ini dapat ditutup seoptimal mungkin.


Quote:
1. menurut ane mentransplantasikan organ terpidana mati dgn cara meminta perstujuan dari terpidana dan pihak keluarga itu bukanlah suatu tindak yang bikin terkesan memanjakan penjahat,
wong mentransplantasikan itu jg kebaikan tp yang dijadikan masalah kan mempreteli tanpa sepengetahuan dari pihak terpidana dan keluarga. ini masalahnya
disini kasusnya si terpidana yg dihukum vonis mati, tapi jika diambilnya dgn cara langsung di preteli nah ini yg jadi masalah gak sesuai prosedur, yg bakal jadinya ilegal right? makanya ada prosedur2nya supaya gak jadi ilegal

2. Kurang Memperhatikan kepentingan yang luas(kepentingan masyarakat), Kepentingan negara, Kepentingan Korban tindak pidana
disini kurang memperhatikan kepentingan2 yang ane bold diatas gimana? jika terpidana dan pihak keluarga ternyata setuju untuk mendonorkan. bukannya itu memperhatikan kepentingan2 yang ane bold di atas?

Oh memang tidak, makanya saya berkata bila hal ini telah ditetapkan menjadi UU maka ini akan menjadi konsekwensi logis dari tindakan/perbuatan/aksi kejahatan berat, yang terutama sekali kejahatan2 terhadap nilai kemanusiaan.
Bila hal ini telah menjadi UU yang disahkan, bila tidak ingin dieksekusi mati dan bagian tubuhnya tidak dimanfaatkan demi kepentingan orang lain jangan melakukan kejahatan berat, itu saja, simple, tidak berbelat-belit.

Quote:
Jadi Hakikatnya tubuh manusia itu sanglah berbeda denan barang sehingga tidak dapat diberlakukan konsep hukum benda pada umumnya.
terdapat satu nilai yang harus diberlakukan terhadap tubuh manusia sebagai bagian dari keberadaannya.
dan harus berdasarkan konsep2 kemanusiaan.
hak atas tubuh harus dipandang sebagai satu kesatuan dari keberadaan yang manunggal dan bertanggung jawab.
oleh karenanya disini berlaku satu batasan mutlak terhadap hak seseorang atas tubuhnya yaitu nilai kemanusiaan.
hakikat nilai kemanusiaan yg adil dan beradab dari sila kedua pancasila.
nilai kemanusiaan harus dipahami sebagai penghargaan atas harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa


Bila bro menggunakan argument seperti ini, maka sudah selayaknya hukuman mati pun ditiadakan dari bumi Indonesia ini, karena vonis matinya sendiri telah melanggar HAM, Pancasila dan konstitusi. Di mana secara jelas dinyatakan bahwa hak manusia paling mendasar adalah hak untuk hidup, tapi coba bro perhatikan UUD45 pasal 28 (setelah amandemen), hak2 yang dijamin oleh negara ini pun tetap saja memiliki batasan2. Negara sebagaimana ditetapkan melalui hukum dan UU memiliki kewenangan untuk mencabut atau menghilangkan seluruh hak atau sebagian hak dari seseorang bila secara hukum orang tersebut merupakan suatu ancaman dan perusak dari nilai2 kemanusiaan yang telah ada.

Coba, ketimbang kita menggunakan sudut pandang dari terpidana mati saja, gunakan sudut pandang dari si korban juga.
joeraygaul - 25/09/2012 10:49 AM
#6347

Quote:
Original Posted By yggsdrasill
maksud gw yg bersalah itu orangnya sdgkan jika sdh mati maka otaknya jg sdh mati, masalahnya tubuhnya itu tidak bisa dibegitukan saja diklaim (atau istilahnya dihilangkan haknya) dikembalikan ke keluarga atau memang ada relanya dia menyumbang, shg lebih menegakkan ham, walaupun di indo banyak yg menentang ham sbg produk barat


Nah ini kontradiktif lagi bro, bro menganjurkan untuk menegakkan HAM tapi bro sendiri berkata di Indonesia banyak yang menentang HAM bingungs

Yang dinyatakan pada universal human right declaration dan konstitusi kita adalah hak untuk hidup, namun hak inipun mempunyai batasan2 makanya ada hukum dan dibuatkan UU yang mengatur tindak pidana dan etika masyarakat.

Memang terpidana matinya ini bukan pelanggar HAM begitu bro ? nohope:

Bila tidak melakukan kejahatan kemanusiaan berat, mengapa sampai harus dijatuhi hukuman mati?

Toh organnya juga dimanfaatkan untuk kemanusiaan juga. nohope:
joeraygaul - 25/09/2012 11:02 AM
#6348

Quote:
Original Posted By Angel.Michael
ane kan dah bilang gak mempermasalahkan pendonoran organ, masalahnya adalah pengaturan dalam undang2 ..... orang disembeliih 'hanya' karena undang2 ya apa bedanya dengan binatang / benda mati - yang punya surat hak kepemilikan sehingga bebas diperlakukan seperti apa saja, karena surat dakwaan lengkap maka sebadan2nya dipreteli semua .....

terus n'tar kalo orang yang dihukum mati gak setuju organ tubuhnya didonorkan 'n minum racun untuk merusak organ tubuhnya, siapa lagi yang jadi terdakwa nanti ? ...... D

Coba kamu pahami dulu Mike, UU adalah suatu prosedural hukum, tidak seenaknya dan memiliki wewenang.

Sekarang organ ini akan dimanfaatkan demi tujuan kemanusiaan, tanpa nilai2 komersil, dan semata-mata dimanfaat kan demi peningkatan kualitas hidup dari orang lain, menurut kamu tindakan binatang gitu?
Organ yang dimanfaatkan demi kebaikan orang lain lebih "rendah" gitu statusnya ketimbang organ yang dikubur/dikremasi terus membusuk dan dikonsumsi oleh mikro organisme?



Quote:
memang berapa banyak hukuman mati dalam 1 taon kok bisa menekan transplantasi secara ilegal ? ..... nohope:

Baca berita atau tulisan jangan sepotong2 Mike, tau dukun Ahmad Suroji (Dukun AS) dan WN Nigeria kurir narkoba yang dieksekusi mati di LP Nusakambangan?
Kamu baca lagi UU yang mengatur prosedur eksekusi mati yang saya bawa, apa menurut kamu mereka setelah eksekusi mati dikubur dengan kondisi tubuh yang utuh dan lengkap \)?
Quote:
obat2an dan rumah sakit pun pasti sangat mahal harganya, apa bisa tunjuk sembarang rumah sakit 'n bilang harus operasi organ terdakwa dan pasang, kalau rumah sakit itu sendiri menolak apa masuk dalam undang2 juga ? ...

RSCM dan rumah2 sakit pemerintah lainnya adalah milik negara, harus taat dan tunduk pada UU nohope:
Mereka bisa ditunjuk dan menjadi operator dari penyelenggaraan ini.



Quote:
sebelum jauh2 ke organ tubuh, sebenernya gimana harta benda milik kepunyaan orang yang dihukum mati itu sendiri ? apa diserahkan ke keluarga atau langsung menjadi milik negara ?
kalau harta saja diwariskan bisa ke keluarga terdekat, tapi organ tubuh sudah menjadi milik negara dan harus didonorkan nampaknya aneh sekali ....... D

Sekarang nyawa atau tubuh si terpidana mati ini "milik siapa" sehingga negara dapat memutuskan untuk mencabut hak hidup dari yang bersangkutan?

Bukankah negara memiliki wewenang melalui hukum untuk mencabut sebagian atau keseluruhan hak dari seseorang bila dianggap perlu?



Quote:
pasti ada efek psikologis untuk keluarga / sahabat terdekat korban itu sendiri, kalau semua 'hanya' dibentengi dengah hukum dan untuk 'alasan' membantu orang lain apa sudah benar2 tepat ?

ane yakin lain ceritanya kalau terdakwa A mendonorkan mata / tangannya karena pernah melukai keluarga B, dan A benar2 menyesal karena hal tersebut dibandingkan B mendapat anggota tubuh A 'hanya' karena undang2 saja mengharuskan hal tersebut .....

Benar2 yakin karena memang terjadi atau hanya menduga2 saja Mike?
Apa segala "sesuatu" ini tidak memiliki berbagai sisi positif dan negatif?
Bagaimana bila kamu atau salah satu anggota keluarga kamu mengalami kegagalan fungsi organ dan harus segera melakukan transplantasi organ?
Terpikirkan sampai ke situ Mike?
Apa pergi ke China "membeli" organ dari para gelandangan dan terpidana mati yang tersedia di sana? \)
Angel.Michael - 25/09/2012 12:41 PM
#6349

Quote:
Original Posted By joeraygaul
Coba kamu pahami dulu Mike, UU adalah suatu prosedural hukum, tidak seenaknya dan memiliki wewenang.

Sekarang organ ini akan dimanfaatkan demi tujuan kemanusiaan, tanpa nilai2 komersil, dan semata-mata dimanfaat kan demi peningkatan kualitas hidup dari orang lain, menurut kamu tindakan binatang gitu?
Organ yang dimanfaatkan demi kebaikan orang lain lebih "rendah" gitu statusnya ketimbang organ yang dikubur/dikremasi terus membusuk dan dikonsumsi oleh mikro organisme?


Undang2 apa sesederhana itu ? untuk meningkatkan taraf hidup orang lain .... D

coba agan liat di pasal 15 undang2 yang agan bawa ....



(1) Penguburan diserahkan kepada keluarganya atau sahabat terpidana, kecuali jika berdasarkan kepentingan umum Jaksa Tinggi/Jaksa yang bertanggungjawab memutuskan lain.

berarti soal penguburan pun tergantung tuntutan jaksa kan ? dan masih bisa disanggah oleh pengacaranya itu baru soal penguburan, apalagi soal transplantasi nanti ? pasti jadi 1 pasal baru lagi dan bisa jadi perdebatan panjand di pengadilang
sangat2 tidak masuk akal kalau hal kemanusiaan seperti itu harus dibuat undang2nya ..... lama2 hubungan ibu dan anak juga dibuat undang2nya secara lengkap dnk .... D


(2) Dalam hal terahir ini, dan juga jika tidak ada kemungkinan pelaksanaan penguburan oleh keluarganya atau sahabat terpidana maka penguburan diselenggarakan oleh Negara dengan mengindahkan cara penguburan yang ditentukan oleh agama/kepercayaan yang dianut oleh terpidana.

kalo bicara di RI Indonesia sendiri masih menghargai agama lho, jadi setelah dipreteli dan dibelah2 pasal 15 hukumnya ayat 2 masih berlaku yah .... D

Quote:

Baca berita atau tulisan jangan sepotong2 Mike, tau dukun Ahmad Suroji (Dukun AS) dan WN Nigeria kurir narkoba yang dieksekusi mati di LP Nusakambangan?
Kamu baca lagi UU yang mengatur prosedur eksekusi mati yang saya bawa, apa menurut kamu mereka setelah eksekusi mati dikubur dengan kondisi tubuh yang utuh dan lengkap \)?

RSCM dan rumah2 sakit pemerintah lainnya adalah milik negara, harus taat dan tunduk pada UU nohope:
Mereka bisa ditunjuk dan menjadi operator dari penyelenggaraan ini.


warga luar negeri ? ya mungkin lebih mudah kalau status WNA karena ada batasan 'antar negara' tapi tiap negara juga beda2 penyakit dkk apa segampang itu cocok dengan penerima donor ? ...... D

berarti tiap rumah sakit butuh pengacara juga ya kalau ditunjuk ama jaksa jadi pelaksananya menurut undang2 ..... D

Quote:

Sekarang nyawa atau tubuh si terpidana mati ini "milik siapa" sehingga negara dapat memutuskan untuk mencabut hak hidup dari yang bersangkutan?

Bukankah negara memiliki wewenang melalui hukum untuk mencabut sebagian atau keseluruhan hak dari seseorang bila dianggap perlu?


hak keseluruhan di cabut ? masih ada hal2 tertentu yang dihargai oleh negara
kalo liat di pasal 15 yang agan bawa, bahkan negarapun masih menghargai 'mayat' itu dengan mengadakan upacara penguburan sesuai dengan kepercayaannya ....... p

Quote:

Benar2 yakin karena memang terjadi atau hanya menduga2 saja Mike?
Apa segala "sesuatu" ini tidak memiliki berbagai sisi positif dan negatif?
Bagaimana bila kamu atau salah satu anggota keluarga kamu mengalami kegagalan fungsi organ dan harus segera melakukan transplantasi organ?
Terpikirkan sampai ke situ Mike?
Apa pergi ke China "membeli" organ dari para gelandangan dan terpidana mati yang tersedia di sana? \)


mungkin berpikir juga kalau melalui rumah sakit dan mengambil organ tubuh terpidana dan tidak ada yang mempertanggungjawabkannya nanti ....
jika suatu saat gagal pencangkokannya mau menuntut siapa ? dokter bedah / RS yang bersangkutan ? atau harus diatur juga menurut undang2 ? ... D
joeraygaul - 25/09/2012 01:53 PM
#6350

Quote:
Original Posted By Angel.Michael
Undang2 apa sesederhana itu ? untuk meningkatkan taraf hidup orang lain .... D

coba agan liat di pasal 15 undang2 yang agan bawa ....



(1) Penguburan diserahkan kepada keluarganya atau sahabat terpidana, kecuali jika berdasarkan kepentingan umum Jaksa Tinggi/Jaksa yang bertanggungjawab memutuskan lain.

berarti soal penguburan pun tergantung tuntutan jaksa kan ? dan masih bisa disanggah oleh pengacaranya itu baru soal penguburan, apalagi soal transplantasi nanti ? pasti jadi 1 pasal baru lagi dan bisa jadi perdebatan panjand di pengadilang
sangat2 tidak masuk akal kalau hal kemanusiaan seperti itu harus dibuat undang2nya ..... lama2 hubungan ibu dan anak juga dibuat undang2nya secara lengkap dnk .... D

Masih berkelit juga ya Mike?

Pada pasal tersebut bila terdapat kepentingan, penguburan (bisa ditafsirkan juga pengolahan jenazah) akan diserahkan dan diputuskan oleh jaksa yang berwenang, dalam hal ini jaksa/negara memiliki hak dan wewenang atas jenazah si terpidana \).

Mike kamu belum tau UU dan pencatatan sipil ya?
Masalah hukum perdata pun kamu tampaknya kurang memiliki pemahaman nohope:
memang fungsi pencatatan sipil itu buat apa kalau tidak mengatur hubungan kekerabatan selain sekedar pencatatan? capedes


Quote:
(2) Dalam hal terahir ini, dan juga jika tidak ada kemungkinan pelaksanaan penguburan oleh keluarganya atau sahabat terpidana maka penguburan diselenggarakan oleh Negara dengan mengindahkan cara penguburan yang ditentukan oleh agama/kepercayaan yang dianut oleh terpidana.

kalo bicara di RI Indonesia sendiri masih menghargai agama lho, jadi setelah dipreteli dan dibelah2 pasal 15 hukumnya ayat 2 masih berlaku yah .... D

Baca ayat sebelumnya pada pasal pertama, memang kurang paham dengan makna "kepentingan" ya?



Quote:
warga luar negeri ? ya mungkin lebih mudah kalau status WNA karena ada batasan 'antar negara' tapi tiap negara juga beda2 penyakit dkk apa segampang itu cocok dengan penerima donor ? ...... D

Hehehe capek saya ngetiknya,
Kamu berpikiran kalau eksekusi mati itu diadakan seketika begitu vonis final dibacakan ya \)?

Quote:
berarti tiap rumah sakit butuh pengacara juga ya kalau ditunjuk ama jaksa jadi pelaksananya menurut undang2 ..... D

Gak paham ya fungsi rumah sakit milik pemerintah/negara nohope:?
ngakaks
Well2, memang rumah sakit milik pemerintah/negara tidak tunduk pada kebijakan negara yang sudah ditetapkan melalui UU? capedes


Quote:
hak keseluruhan di cabut ? masih ada hal2 tertentu yang dihargai oleh negara
kalo liat di pasal 15 yang agan bawa, bahkan negarapun masih menghargai 'mayat' itu dengan mengadakan upacara penguburan sesuai dengan kepercayaannya ....... p


Baca ayat pertama Mike ....................................

Quote:
mungkin berpikir juga kalau melalui rumah sakit dan mengambil organ tubuh terpidana dan tidak ada yang mempertanggungjawabkannya nanti ....
jika suatu saat gagal pencangkokannya mau menuntut siapa ? dokter bedah / RS yang bersangkutan ? atau harus diatur juga menurut undang2 ? ... D


Baca juga prosedur medis Mike, dan memang menurut kamu negara kita ini negara barbar ya?
Ya jelaslah mengenai kesehatan pun diatur dengan UU. nohope:
Berbagai proses kesehatan dan prosedur medis di negara kita ini memiliki peraturan dan UU, mengenai keberhasilan atau tidak keberhasilan dari transplantasi, buat apa ada diagnosa?
yggsdrasill - 25/09/2012 08:46 PM
#6351

Quote:
Original Posted By joeraygaul
Nah ini kontradiktif lagi bro, bro menganjurkan untuk menegakkan HAM tapi bro sendiri berkata di Indonesia banyak yang menentang HAM bingungs

Yang dinyatakan pada universal human right declaration dan konstitusi kita adalah hak untuk hidup, namun hak inipun mempunyai batasan2 makanya ada hukum dan dibuatkan UU yang mengatur tindak pidana dan etika masyarakat.

Memang terpidana matinya ini bukan pelanggar HAM begitu bro ? nohope:

Bila tidak melakukan kejahatan kemanusiaan berat, mengapa sampai harus dijatuhi hukuman mati?

Toh organnya juga dimanfaatkan untuk kemanusiaan juga. nohope:


Memang demikian hak dibatasi hak yang lain, yang menjadi persoalan jika manusia itu telah mati apa hak kepemilikan tubuhnya juga harus dicabut, sementara ia sdh mati dan tidak mengganggu hak orang lain?
Suicide.Phenom - 25/09/2012 09:59 PM
#6352

Quote:
Original Posted By joeraygaul
Saya hanya mencoba untuk memaparkan argument apa adanya saja, baik dari sisi kekurangan maupun kelebihannya malus.


Pengadaan UU ini selain dengan tujuan memanfaatkan organ2 terpidana mati yang sia2 juga untuk menutup celah eksploitasi organ secara ilegal \).

Bila bro mengetengahkan permasalahan hati nurani, coba kita menggunakan sudut pandang dari si korban ketika tindak pidana dilakukan oleh terdakwa terhadap diri si korban.
bro UU dibuat untung mengisi kekosongan hukum dimasyarakat, pemaanfaatan organ terpidana mati dengan alasan telah terjadi eksploitasi organ secaara ilegal seolah2 pemerintah tidak mampu mengatasinya. itu kan masalah penegakan hukum

Quote:
Masyarakat kita sebagian besar menganut faham retensi ketimbang abolisi, memang pada dasarnya suatu vonis adalah "suatu pembalasan".
Pembalasan ini yang telah diatur oleh Hukum dan UU kadang setimpal kadang tidak.
Tujuan mengundang2kan transplantasi organ ini adalah upaya pembalasan yang setimpal terhadap kejahatan manusia, ketika seseorang menghilangkan "kehidupan" orang lain, sudah selayaknya dengan "kehidupan" dan "tubuh"-nya sendiri dapat memberikan ganti kehidupan bagi orang lain.
jgn yg aneh aneh dulu bro alasan untuk mengundangkan UU ini, udah balik kezaman bar2 cem dulu aja, balas membalas ngakaks
lah kalo dicina kan korupsi dihukum mati, merugikan negara, jangan jangan definisi kehidupan bro luas lagi D
Quote:
Bila mereka melakukan itu, akan sangat rentan sangkutannya dengan kebijakan politik China yang memang tertutup. Bila salah satu keran dibuka deras, ada kemungkinan keran lain diminta untuk dibuka dengan deras pula. Tampaknya mereka tidak ingin seperti itu \).
.
negara china itu kan sosialis, berbeda dgn indonesia..
masyarakat kita masih sangat kental dengan budaya2 tiap2 daerah,kan repot kalo2 mayat yg akan di adatin sebelum penguburan/pembakaran/ext dilihat organ2nya dalam dan luarnya sudah dipreteli aka KOPONG D

Quote:
Selama masih dibutuhkan saja bro, bila nanti di masa depan sudah ada teknik medis yang lebih baik sudah selayaknya UU inipun dibatalkan \).
Selama belum ada alternatif, UU ini layak dipertimbangkan.
UU nya udah kayak kacang goreng aja donk, padahal masalahnya sepele D, pola hidup sehat dan rasa saling tolong menolong \)

Sebenarnya apa inti dari keinginan untunk membuat peraturan transplatasi hukuman pidana mati ? harus jelas.. apakah itu disitu terjadi kekosongan hukum yg harus perlu diatur dgn UU ? atau karena
-minimnya masyarakat yg mauu mendonorkan organnya/organ sedikit.
ini kan masalah sukarela,,hati nurani,,jgn karena gak ada yg mau menjadi pendonor, trus diakalin supaya menjadi "ada"
-Mayat terpidana mati gak ada gunannya/biar berguna
yg bilang gak ada gunanya siapa ? siapa tau dari keluarga terpidana ada yg benar2 membutuhkan, atau buat dipajang di etalase tokonya... itu kan mayat ada yg punya,,

terlebih lg akan terjadi crash perUUnya yg sudah ada, seperti pengetian pidana mati yg di tembak (sudah merusak organ), kemudian perihal surat wasiat, kepemilikan mayat serta norma2 adat tiap2 daerah..

Im done with this...
joeraygaul - 26/09/2012 10:41 AM
#6353

Quote:
Original Posted By Suicide.Phenom
bro UU dibuat untung mengisi kekosongan hukum dimasyarakat, pemaanfaatan organ terpidana mati dengan alasan telah terjadi eksploitasi organ secaara ilegal seolah2 pemerintah tidak mampu mengatasinya. itu kan masalah penegakan hukum

Betul, UU dibuat untuk mengisi kekosongan peraturan dalam masyarakat, bertindak sebagai subjek hukum yang mengatur berbagai prosedur dalam bermasyarakat dan bernegara.
Bila UUnya belum ada, mengenai pemanfaatan organ terpidana mati, tetap akan terbuka celah terjadinya tindak penyelewengan. Bila tidak ada aturan UU yang mengatur secara prosedural dan terperinci tentu penegakkan pun akan menjadi kendala.


Quote:
jgn yg aneh aneh dulu bro alasan untuk mengundangkan UU ini, udah balik kezaman bar2 cem dulu aja, balas membalas ngakaks
lah kalo dicina kan korupsi dihukum mati, merugikan negara, jangan jangan definisi kehidupan bro luas lagi D
negara china itu kan sosialis, berbeda dgn indonesia..
masyarakat kita masih sangat kental dengan budaya2 tiap2 daerah,kan repot kalo2 mayat yg akan di adatin sebelum penguburan/pembakaran/ext dilihat organ2nya dalam dan luarnya sudah dipreteli aka KOPONG D

Well kalau begitu tujuan dari penetapan vonis kalau bukan untuk memberikan balasan yang setimpal pada dasarnya apa bro?
Hukuman dan vonis premis dasarnya adalah untuk "membalas" atas perbuatan yang dilakukan, dan efek sekundernya adalah untuk memberikan efek jera dan peringatan agar bila hendak melakukan suatu perbuatan dapat memikirkan konsekwensi logisnya.
Definisi "kehidupan" saya biasa2 saja, saya memiliki kesepakatan dengan definisi "kehidupan" yang umum.

Quote:
UU nya udah kayak kacang goreng aja donk, padahal masalahnya sepele D, pola hidup sehat dan rasa saling tolong menolong \)

Bukan seperti kacang goreng bro, sebagai negara hukum dan beradab, memang sudah selayaknya hal2 yang sensitif dan menyangkut kepentingan umum dan bermasyarakat sudah selayaknya dibuatkan UU dan peraturan secara legal formal.

Quote:
Sebenarnya apa inti dari keinginan untunk membuat peraturan transplatasi hukuman pidana mati ? harus jelas.. apakah itu disitu terjadi kekosongan hukum yg harus perlu diatur dgn UU ? atau karena
-minimnya masyarakat yg mauu mendonorkan organnya/organ sedikit.
ini kan masalah sukarela,,hati nurani,,jgn karena gak ada yg mau menjadi pendonor, trus diakalin supaya menjadi "ada"
-Mayat terpidana mati gak ada gunannya/biar berguna
yg bilang gak ada gunanya siapa ? siapa tau dari keluarga terpidana ada yg benar2 membutuhkan, atau buat dipajang di etalase tokonya... itu kan mayat ada yg punya,,

Pada postingan2 sebelumnya saya sudah memaparkan :

[*]Agar tidak terjadi pengeksploitasian tubuh/jenazah dari terpidana mati secara tidak transparan dan ilegal karena terdapat celah penafsiran dari prosedur pelaksanaan hukuman mati di Indonesia yang saat ini masih berlaku.
[*]Ratio calon donor dan recipient yang lumayan tidak balance.


Pada proses transplantasi, organ yang biasanya dimanfaatkan adalah organ internal, yang mengalami proses pembusukan lebih cepat ketimbang anggota tubuh bagian luar, bila jenazah dikembalikan pada pihak keluarga pun, tepat seperti yang bro katakan, hanya bagian dalam saja yang kosong, tapi tampilan mayat "tetap utuh" (tampak luar) dan masih layak untuk dipajang di etalase toko atau lemari pajang di rumah sekali pun.


Quote:
terlebih lg akan terjadi crash perUUnya yg sudah ada, seperti pengetian pidana mati yg di tembak (sudah merusak organ), kemudian perihal surat wasiat, kepemilikan mayat serta norma2 adat tiap2 daerah..

Im done with this...


Makanya melalui UU baru ini proses eksekusi pun disesuaikan bro, bisa dilakukan melalui proses suntik mati atau proses lain tapi yang terpenting dapat meminimalkan rasa sakit yang ditimbulkan.


Berarti lewat diskusi kita dapat disimpulkan kendala pada penetapan UU semacam ini bukan mendapatkan kendala dari nilai2 kemanusiaan, melainkan kendala dari etika dan norma yang berlaku. Karena bila kita mengatakan tindakan ini adalah tindakan yang bertentangan dengan nilai2 "kemanusiaan", bukankah dengan penyelenggaraan transplantasi ini pun kita melakukan suatu tindak kemanusiaan? Meningkatkan kesempatan hidup dan kualitas hidup bagi orang lain yang membutuhkan tanpa nilai2 komersil karena diselenggarakan oleh negara? \)

Thx bro atas diskusi dan tukar pikirannya.

shakehand2
joeraygaul - 26/09/2012 10:48 AM
#6354

Quote:
Original Posted By yggsdrasill
Memang demikian hak dibatasi hak yang lain, yang menjadi persoalan jika manusia itu telah mati apa hak kepemilikan tubuhnya juga harus dicabut, sementara ia sdh mati dan tidak mengganggu hak orang lain?


Berangkat pada pengertian yang sederhana saja bro, orang hidup atau orang mati yang bisa memiliki "hak"?
mjbr - 26/09/2012 10:52 AM
#6355

Quote:
Original Posted By joeraygaul
Berarti lewat diskusi kita dapat disimpulkan kendala pada penetapan UU semacam ini bukan mendapatkan kendala dari nilai2 kemanusiaan, melainkan kendala dari etika dan norma yang berlaku. Karena bila kita mengatakan tindakan ini adalah tindakan yang bertentangan dengan nilai2 "kemanusiaan", bukankah dengan penyelenggaraan transplantasi ini pun kita melakukan suatu tindak kemanusiaan? Meningkatkan kesempatan hidup dan kualitas hidup bagi orang lain yang membutuhkan tanpa nilai2 komersil karena diselenggarakan oleh negara? \)

Thx bro atas diskusi dan tukar pikirannya.

shakehand2

pernah baca kalo etika dan norma bakalan gugur kalo seseorang sudah mati,
dan negara bisa melakukan eksploitasi terhadap jasad tersebut,
baik untuk komersil, politik, dan lainnya,

tapi gw kurang yakin masalah ini,,

sory, kalo gw asal nyolot tanpa baca page belakang,,
maloman - 26/09/2012 02:49 PM
#6356

permisi ikutan menyuarakan pendapat nih.. D

kalo ane berpikiran begini..
pertama-tama yg perlu dibahas terlebih dahulu adalah dari topik "terpidana mati"nya, gan. kalo ane pribadi ga setuju dengan adanya hukuman mati diberlakukan di Indonesia. karena negara kita memiliki Pancasila dimana sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. dari sila pertama tersebut sangat bisa diartikan bahwa Indonesia adalah negara yg percaya pada 1 Tuhan diatas segalanya, khususnya dalam hal kepemilikian nyawa seseorang.

istilah "terpidana mati" memiliki makna kurang lebih demikian: seseorang telah diputuskan oleh pengadilan bahwa orang tersebut akan/sudah ditentukan waktu kematiannya. dari kacamata ane, hal ini bertentangan dengan sila I Pancasila dimana notabene nyawa seseorang hanyalah milik Sang Pencipta, mati-hidup seseorang hanya bisa ditentukan oleh Tuhan satu-satunya, terlepas dari seberat apapun kejahatan yang dilakukannya.

oke sekarang kita bahas mengenai "transplantasi organ" nya.
berhubung ane tidak setuju dengan adanya hukuman mati, berarti ane otomatis tidak setuju dengan adanya transplantasi organ dari seseorang apabila organ tersebut merupakan organ vital yang menjadi penopang nyawanya. namun, apabila organ yang didonorkan merupakan bagian tubuh yang dapat diambil tanpa harus mencabut nyawa orang tersebut, ane setuju dengan catatan sebagai berikut:
- harus dengan persetujuan dari calon pendonor.
- bisa dijadikan pendonor sebagai pengganti hukuman masa tahanan.
- harus dengan persetujuan dari keluarga calon resipien.

contoh kasus:
si A adalah terpidana hukuman terberat "seumur hidup" tanpa remisi.
di tempat lain, ada si B yang sedang mengalami kondisi kritis karena gagal ginjal.
dalam hal ini, si A bisa diberikan pilihan untuk mendonorkan salah satu ginjalnya demi menurunkan masa tahanannya.

sekarang kita bahas apabila hukuman mati diberlakukan selamanya & seluruh dunia.
seorang pelaku kejahatan yang telah dieksekusi mati, tetap memiliki keluarga. jasad dari terpidana mati tersebut adalah hak keluarganya. itulah sebabnya setelah eksekusi, jasad akan dikembalikan/diserahterimakan kepada pihak keluarga, yang diundang hadir / minimal diberitahukan jadwal eksekusi sang terpidana mati.
oleh sebab itu, menurut ane transplantasi organ dari sang terpidana mati bisa saja dilakukan selama itu mendapat ijin dari pihak keluarganya.
apabila sang terpidana mati tidak memiliki sanak saudara atau tidak ada yang datang mengakui dirinya sebagai anggota keluarga, maka jasad sang terpidana mati adalah milik negara. penggunaan organ tubuhnya untuk didonorkan kepada sesama yang membutuhkan tidak jadi masalah selama dilakukan dengan prosedur yang benar, dan tetap pada akhirnya jasad sang terpidana mati harus dimakamkan dengan cara pantas.
fajarhas - 26/09/2012 03:28 PM
#6357

Quote:
Original Posted By Hashimi
gimana kalo transplantasi organ dari terpidana mati? pro atau kontra
jadi setiap orang yg baru dihukum mati, organ2nya langsung dipreteli dan disimpan buat yg mau transplan organ


gw sepakat, tapi mesti ada izin dulu dari pihak keluarga D
fajarhas - 26/09/2012 04:29 PM
#6358

Quote:
Original Posted By maloman

kalo ane berpikiran begini..
pertama-tama yg perlu dibahas terlebih dahulu adalah dari topik "terpidana mati"nya, gan. kalo ane pribadi ga setuju dengan adanya hukuman mati diberlakukan di Indonesia. karena negara kita memiliki Pancasila dimana sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. dari sila pertama tersebut sangat bisa diartikan bahwa Indonesia adalah negara yg percaya pada 1 Tuhan diatas segalanya, khususnya dalam hal kepemilikian nyawa seseorang.

istilah "terpidana mati" memiliki makna kurang lebih demikian: seseorang telah diputuskan oleh pengadilan bahwa orang tersebut akan/sudah ditentukan waktu kematiannya. dari kacamata ane, hal ini bertentangan dengan sila I Pancasila dimana notabene nyawa seseorang hanyalah milik Sang Pencipta, mati-hidup seseorang hanya bisa ditentukan oleh Tuhan satu-satunya, terlepas dari seberat apapun kejahatan yang dilakukannya.


adakalanya tuhan pun mengijinkan hukuman mati mas D


Quote:
Original Posted By maloman

oke sekarang kita bahas mengenai "transplantasi organ" nya.
berhubung ane tidak setuju dengan adanya hukuman mati, berarti ane otomatis tidak setuju dengan adanya transplantasi organ dari seseorang apabila organ tersebut merupakan organ vital yang menjadi penopang nyawanya. namun, apabila organ yang didonorkan merupakan bagian tubuh yang dapat diambil tanpa harus mencabut nyawa orang tersebut, ane setuju dengan catatan sebagai berikut:
- harus dengan persetujuan dari calon pendonor.
- bisa dijadikan pendonor sebagai pengganti hukuman masa tahanan.
- harus dengan persetujuan dari keluarga calon resipien.

contoh kasus:
si A adalah terpidana hukuman terberat "seumur hidup" tanpa remisi.
di tempat lain, ada si B yang sedang mengalami kondisi kritis karena gagal ginjal.
dalam hal ini, si A bisa diberikan pilihan untuk mendonorkan salah satu ginjalnya demi menurunkan masa tahanannya.


sikap keluarga korban keganasan si A gimana mas? emang mau setuju-setuju aja gitu?

Quote:
Original Posted By maloman
sekarang kita bahas apabila hukuman mati diberlakukan selamanya & seluruh dunia.
seorang pelaku kejahatan yang telah dieksekusi mati, tetap memiliki keluarga. jasad dari terpidana mati tersebut adalah hak keluarganya. itulah sebabnya setelah eksekusi, jasad akan dikembalikan/diserahterimakan kepada pihak keluarga, yang diundang hadir / minimal diberitahukan jadwal eksekusi sang terpidana mati.
oleh sebab itu, menurut ane transplantasi organ dari sang terpidana mati bisa saja dilakukan selama itu mendapat ijin dari pihak keluarganya.
apabila sang terpidana mati tidak memiliki sanak saudara atau tidak ada yang datang mengakui dirinya sebagai anggota keluarga, maka jasad sang terpidana mati adalah milik negara. penggunaan organ tubuhnya untuk didonorkan kepada sesama yang membutuhkan tidak jadi masalah selama dilakukan dengan prosedur yang benar, dan tetap pada akhirnya jasad sang terpidana mati harus dimakamkan dengan cara pantas.


maka dari itu perlu ada UU biar negara transparan dalam hal mekanismenya (tentu bukan untuk dikomersilkan) D
yggsdrasill - 26/09/2012 05:48 PM
#6359

Quote:
Original Posted By joeraygaul
Berangkat pada pengertian yang sederhana saja bro, orang hidup atau orang mati yang bisa memiliki "hak"?


secara agama masih ada, dan masih ada hak waris di keluarganya
joeraygaul - 26/09/2012 05:51 PM
#6360

Quote:
Original Posted By yggsdrasill
secara agama masih ada, dan masih ada hak waris di keluarganya


Bisa dipaparkan ketentuan menurut "agama" ini?
Page 318 of 332 | ‹ First  < 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 >  Last ›
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?