DEBATE CLUB
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?
Total Views: 126104 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 62 of 332 | ‹ First  < 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 >  Last ›

Inzict - 25/11/2011 10:29 AM
#1221

Quote:
Original Posted By gentongpenguin

Ada beberapa point yang secara definisi mungkin kita beda interpretasi gan.....
kan ane lihat kasus per kasus, case by case,
jadi misal ya, orang sakit berat teriak2,
kewajiban bagi petugas medik (dokter, perawat) membebaskan orang itu dari rasa sakit,


:addfriends Baik gan, mgkn emg interpretasi kita beda.
Spt yg agan ungkap di atas,
bahwa semua dilihat case by case.

OS & batasan yg diberikan TS disini kan digeneralisir
dlm suatu kasus org yg dirawat di RS
dlm keadaan koma atau zero recovery.

Dan dg kasus di atas, apakah euthanasia diperlukan?
Walaupun keluarga besar mendesak para dokter
utk menyuntik mati si sakit
krn merepotkan, tidak tega atau faktor miskin,
apakah tindakan tidak manusiawi itu diperlukan?

Dg dasar kasus di atas,
kemudian dipermasalahkan bagaimana kalau praktek euthanasia ini
disahkan sekalian di dlm undang2?
Dalam kasus ini, saya jelas2 tidak setuju (kontra).

Quote:

inget film perang kan? macem Saving private Ryan, Band pf brother, Blackhawk down,dll.....
kalo ada yang ketembak parah banget, ya MORFIN....
dengan segala konsekuensi bahwa morfin akan menekan fungsi pernafasan dan jantung
sehingga "mempercepat" kematian si tentara,
namun ini langkah terbaik dalam kondisi terburuk gan....


:addfriends Baik gan, sy jelaskan lg.

Pertanyaan saya,
apakah undang2 euthanasia ini umum utk semua situasi,
atau dipisah dalam keadaan tertentu?

Karena kita tahu gan,
undang2 negara dlm keadaan tenang dan darurat perang itu berbeda gan.
Berbeda isi & pelaksanaannya. :addfriends

Sebagai contoh,
UU yg mengatur batasan seorang polisi saat keadaan tenang dg keadaan darurat perang sangat berbeda.

Dlm keadaan biasa, polisi tdk diijinkan utk asal menembak,
hrs memberi tembakan peringatan dulu pd saat menangkap target operasi
& sebisa mungkin tdk ada korban yg meninggal saat penangkapan.

Berbeda halnya dlm keadaan darurat perang, contoh terorisme,
spt yg disahkan oleh DPR & Presiden Megawati dlm UU Darurat Terorisme thn2 kmrn,
polisi diberi lisensi langsung utk menumpas & menembak mati di tempat,
semua tersangka gerakan separatis & teroris yg sedang dikejar tanpa peringatan terlebih dahulu.

Itu bedanya\)

Quote:

kalau si penderita tidak menderita, masih gak teriak2,
ya gak serta merta petugas medis menawarkan euthanasia lah....
semua kan ada protap/SOP nya gan,
gak main amputasi kaki atau tangan yg sehat,
kalo mau amputasi juga banyak pertimbangan yg dilakukan....
euthanasia apalagi.....

jadi agan jangan berprinsip pada 1 pandangan saja,
agan sendiri kalau sakit banget sampai teriak2, pasti minta morfin gan....
kalau tidak di morfin pun akan mati sendiri
tapi lebih lama dan memperpanjang penderitaan...
nah mana yang lebih manusiawi gan?


Biar mati sendiri dg wajar.
Krn itu sudah takdirnya dia mati.
Setidaknya dia tdk dibunuh.

Satu lg gan,
dlm keadaan kritis pun
harusnya seorg dokter jg ga perlu menawarkan pilihan euthanasia.

Masak tenaga medis yg merupakan seorang tenaga penyelamat manusia menawarkan kematian,
itu kan jg gak sesuai dg sumpah dokternya gan. \)

Quote:

kalau yang agan bilang, mencabut alat penunjang hidup,
itu jelas ane gak setuju, krn masuk euthanasia aktif....
dan melanggar sumpah dokter...ini sumpah dokter gan

Spoiler for sumpah dokter
Demi Allah, saya bersumpah bahwa :

Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan ber*moral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;

Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerja*an saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter;
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;
Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial;
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;
Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan ke*dokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;

Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan memper*taruhkan kehormatan diri saya.


Sumpah dokter di atas,
tidak ada kan kalimat saya akan membunuh org yg menjerit2 kesakitan dg sengaja
krn sudah tidak ada pilihan lg utk mengobatinya. gila:

Intinya semua sumpah dokter di atas adalah saya akan mendedikasikan ilmu saya untuk menyelamatkan nyawa orang lain.
Bukan akan sengaja membunuhnya.

Quote:

jadi sekali lagi tinjauan kasusnya luas sekali dan harus case by case....
Gak mudah menjabarkan kasus Euthanasia ini
dan menarik rumusannya yang bisa mencakup semua kasus yang ada gan.....
karena itu maka ada team dokter yang akan mempertimbangkan keputusan yang akan diambil,
tentunya juga dengan keluarga dan pasien itu sendiri....


Tapi klo kesepakatannya antara pihak RS dg pihak keluarga besar adalah menyuntik mati si pasien
ya itu sama aja melanggar sumpah dokter & tdk manusiawi gan.

cd:

Quote:

Tapi kalau orang sakit teriak2 didiemin aja sampe mati sendiri
seperti yang agan cerita
ya itu jelas melanggar sumpah hipokrates,
gak manusiawi gan \(


Manusiawi itu tidak dg sengaja menghilangkan nyawa orang lain gan.
Manusiawi itu biar mati dg alami.

Perihal dia teriak2 di kondisi hampir mati,
kewajiban dokter hanya bs dalam sebatas mencegah kematian
dg memberi obat penenang,
bukan menyuntik dg obat yg dapat membuat si pasien itu mati.

Sptnya agan msh rancu ya antara pengertian obat penenang
dg obat yg disuntikan dlm praktek euthansia ini. \)
Inzict - 25/11/2011 10:36 AM
#1222

Quote:
Original Posted By poni.aneh

jelas salah dimananya?
kalo si pasien sudah OK, napa disebut kriminal?
is it a murder?


Salahnya menghilangkan nyawa seseorang dengan sadar & sengaja,
entah itu permintaan pasien sndr, pihak keluarga atau memang psikopat hobi membunuh,
yg jelas menghilangkan nyawa org laen dg sengaja,
itu kesalahannya.

Anda hdp di sebuah peradaban yg memiliki suatu sistem pengaturan yg disebut hukum.
Terlepas paham apa yg anda anut, yg jelas dlm peradaban masyarakat tsb msh ada peraturan yg baku yg hrs dipatuhi.
Dlm hukum tsb jelas2 dilarang mengambil nyawa orang laen dg sengaja,
dengan cara & alasan apapun,
bagi yg melanggarnya,
akan dijerat dg pasal pembunuhan. \)

Quote:

struggle to >death=== berjuang agar mati, bukan berjuang mati2an.
kalo sudah gak ada harapan hidup/.
udah lumpuh, jelek, item, dekil, kena kanker prostat idup lagi...
kalo dia milih mati,
menurut gw gak ada yg salah.cool:
nyawa2 dia, napa lo yg ribet.


Tugas manusia laen jg saling mengingatkan \)
krn memiliki nurani, menghormati norma2 yg berlaku di masyarakat & menjunjung tinggi humanisme.
Nilai dr seorang manusia itu sndr :addfriends

Quote:

nyawa gw merupakan hak milik gw...
dan gak ada yg bisa merebutnya dari gw.
kecuali gw mati diperkosa abg cakep hammer:
lo mo ngelarang gw... mind u'r own bussinesscool:


gila:
gentongpenguin - 25/11/2011 11:01 AM
#1223

Quote:
Original Posted By Inzict
:addfriends Baik gan, mgkn emg interpretasi kita beda.
Spt yg agan ungkap di atas,
bahwa semua dilihat case by case.

OS & batasan yg diberikan TS disini kan digeneralisir
dlm suatu kasus org yg dirawat di RS
dlm keadaan koma atau zero recovery.

Dan dg kasus di atas, apakah euthanasia diperlukan?
Walaupun keluarga besar mendesak para dokter
utk menyuntik mati si sakit
krn merepotkan, tidak tega atau faktor miskin,
apakah tindakan tidak manusiawi itu diperlukan?

Dg dasar kasus di atas,
kemudian dipermasalahkan bagaimana kalau praktek euthanasia ini
disahkan sekalian di dlm undang2?
Dalam kasus ini, saya jelas2 tidak setuju (kontra).



:addfriends Baik gan, sy jelaskan lg.

Pertanyaan saya,
apakah undang2 euthanasia ini umum utk semua situasi,
atau dipisah dalam keadaan tertentu?

Karena kita tahu gan,
undang2 negara dlm keadaan tenang dan darurat perang itu berbeda gan.
Berbeda isi & pelaksanaannya. :addfriends

Sebagai contoh,
UU yg mengatur batasan seorang polisi saat keadaan tenang dg keadaan darurat perang sangat berbeda.

Dlm keadaan biasa, polisi tdk diijinkan utk asal menembak,
hrs memberi tembakan peringatan dulu pd saat menangkap target operasi
& sebisa mungkin tdk ada korban yg meninggal saat penangkapan.

Berbeda halnya dlm keadaan darurat perang, contoh terorisme,
spt yg disahkan oleh DPR & Presiden Megawati dlm UU Darurat Terorisme thn2 kmrn,
polisi diberi lisensi langsung utk menumpas & menembak mati di tempat,
semua tersangka gerakan separatis & teroris yg sedang dikejar tanpa peringatan terlebih dahulu.

Itu bedanya\)



Biar mati sendiri dg wajar.
Krn itu sudah takdirnya dia mati.
Setidaknya dia tdk dibunuh.

Satu lg gan,
dlm keadaan kritis pun
harusnya seorg dokter jg ga perlu menawarkan pilihan euthanasia.

Masak tenaga medis yg merupakan seorang tenaga penyelamat manusia menawarkan kematian,
itu kan jg gak sesuai dg sumpah dokternya gan. \)



Sumpah dokter di atas,
tidak ada kan kalimat saya akan membunuh org yg menjerit2 kesakitan dg sengaja
krn sudah tidak ada pilihan lg utk mengobatinya. gila:

Intinya semua sumpah dokter di atas adalah saya akan mendedikasikan ilmu saya untuk menyelamatkan nyawa orang lain.
Bukan akan sengaja membunuhnya.

Tapi klo kesepakatannya antara pihak RS dg pihak keluarga besar adalah menyuntik mati si pasien
ya itu sama aja melanggar sumpah dokter & tdk manusiawi gan.

cd:



Manusiawi itu tidak dg sengaja menghilangkan nyawa orang lain gan.
Manusiawi itu biar mati dg alami.

Perihal dia teriak2 di kondisi hampir mati,
kewajiban dokter hanya bs dalam sebatas mencegah kematian
dg memberi obat penenang,
bukan menyuntik dg obat yg dapat membuat si pasien itu mati.

Sptnya agan msh rancu ya antara pengertian obat penenang
dg obat yg disuntikan dlm praktek euthansia ini. \)


begini, kalau saya simpulkan singkatnya begini, agan setuju gak ya :

1. Menghilangkan nyawa manusia dengan cara apapun tidak diperbolehkan.
2. Tujuan utama adalah mempertahankan kehidupan semaksimal mungkin.
3. Tidak ada dokter dan RS di Indonesia yang menyarankan euthanasia.
4. Ini yang saya masih rancu...misal terpaksa, bolehkah memberikan obat penghilang nyeri kelas berat dalam hal ini Morfin? namun pada keadaan tertentu, morfin dapat menekan fungsi pernafasan dan jantung yang bisa menimbulkan kematian juga....

point ke 4 diatas bagaimana gan?
blackmarketnet - 25/11/2011 11:04 AM
#1224

euthanasia aktif atau pasif ni gan?maho

klo aktif gua gak gak setuju najis
tapi klo pasif, boleh dipertimbangkan maho
Inzict - 25/11/2011 12:47 PM
#1225

Quote:
Original Posted By gentongpenguin

begini, kalau saya simpulkan singkatnya begini, agan setuju gak ya :

1. Menghilangkan nyawa manusia dengan cara apapun tidak diperbolehkan.


thumbup: Setuju. Ini argumen saya dr awal.
Menghilangkan nyawa orang lain dg cara apapun, dg alasan apapun,
masuk dlm kategori pembunuhan.

Quote:

2. Tujuan utama adalah mempertahankan kehidupan semaksimal mungkin.


thumbup: Bener.
Apapun kondisinya,
pd level zero recovery sekalipun
ttp semaksimal mungkin mempertahankan kehidupan,
baik dr si pasien, keluarga besar, maupun tenaga medisnya.

Klo pasien yg dlm posisi tertekan menyerah,
atau keluarga besar yg tdk tega & keberatan dlm ekonominya,
setidaknya tenaga medis yg saling mengingatkan
& melakukan tindakan utk mempertahankan hdp,
bukan malah memberi solusi membunuhnya.

Quote:

3. Tidak ada dokter dan RS di Indonesia yang menyarankan euthanasia.


thumbup: Bener. Di Indonesia praktek euthanasia dilarang.
Mengingat Indonesia msh memegang norma2 timur.

Hal ini jg diundang2kan di pasal 344 Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa:
"Barang siapa menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri,
yang disebutkannya dengan nyata dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun".

Juga demikian halnya nampak pada pengaturan pasal-pasal 338, 340, 345, dan 359 KUHP
yang juga dapat dikatakan memenuhi unsur-unsur delik dalam perbuatan eutanasia.

Quote:

4. Ini yang saya masih rancu...
misal terpaksa,
bolehkah memberikan obat penghilang nyeri kelas berat dalam hal ini Morfin?


Boleh jika diperlukan. D
Tergantung situasinya gan.
Morfin kan jg msk dlm kategori obat2an medis.
Digunakan saat2 tertentu sesuai dg penyakit & dosisnya.

Quote:

namun pada keadaan tertentu,
morfin dapat menekan fungsi pernafasan dan jantung yang bisa menimbulkan kematian juga....


Disesuaikan dg jenis penyakit & dosisnya gan.
Kebetulan saya jg bukan dokter. D

Tp dimana2 yg namanya obat itu sbnrnya adalah zat kimia yg jg bs dikategorikan racun.
Sll ada efek sampingnya.

Misal agan kepalanya sakit, lalu minum obat sakit kepala.
Obat sakit kepala agan itu memang menyembuhkan sakit di kepala agan,
tp jg sbnrnya meracuni liver & ginjal agan.
Hanya krn dosisnya kecil,
jdnya msh bs disaring oleh hati yg memang berfungsi menyaring racun.

Prnh denger kan istilah "racun dilawan racun" D
Ya spt itulah obat.
Sakit vs obat,
memang ibarat "racun dilawan racun".

Quote:

point ke 4 diatas bagaimana gan?


shakehand Sudah sy jwb di atas.
poni.aneh - 25/11/2011 01:54 PM
#1226

Quote:
Original Posted By Inzict
Salahnya menghilangkan nyawa seseorang dengan sadar & sengaja,
entah itu permintaan pasien sndr, pihak keluarga atau memang psikopat hobi membunuh,
yg jelas menghilangkan nyawa org laen dg sengaja,
itu kesalahannya.

Anda hdp di sebuah peradaban yg memiliki suatu sistem pengaturan yg disebut hukum.
Terlepas paham apa yg anda anut, yg jelas dlm peradaban masyarakat tsb msh ada peraturan yg baku yg hrs dipatuhi.
Dlm hukum tsb jelas2 dilarang mengambil nyawa orang laen dg sengaja,
dengan cara & alasan apapun,
bagi yg melanggarnya,
akan dijerat dg pasal pembunuhan. \)



Tugas manusia laen jg saling mengingatkan \)
krn memiliki nurani, menghormati norma2 yg berlaku di masyarakat & menjunjung tinggi humanisme.
Nilai dr seorang manusia itu sndr :addfriends



gila:

ok

dasar dari segala hukum di NKRI adalah UUD.
and guess what... UUD pun mengakui pendapat gw.
secara gw berpendapat nyawa gw adalah hak milik gw.
dan di UUD diatur tidak ada seorangpun yg boleh merampas hak milik gw, kecuali gw sendiri tentunyacool:

so, disini pasien yg menghendaki euthanasia,..
karena harapan hidup kecil, (spt contoh yg udah gw jelasin sebelumnya)

lo kalo mo ngelarang2 gw, mending jadi anggota dpr dolo
amandemen tuh pasal.
ok mamen...cool: afro:


--------------------------
vbot..vbot.. di dinding
diam...diam... berkolor....
dadudice - 25/11/2011 10:14 PM
#1227

Quote:
Original Posted By Inzict
thumbdown Prinsip hidup anda berarti cemen, mudah menyerah sm hidup.

Tidak hanya dlm hal2 yg irasional, yg dlm hal ini adalah mukjizat atau keajaiban.
Namun dr hal yg rasional pun jg bs sembuh dg kemajuan teknik pengobatan dr dunia kesehatan.

Jd knp hrs menyerah skrg?
Siapa tahu bsk pagi ada dokter yg menemukan obat utk HIV AIDS jg bisa.
Knp siang ini sudah bunuh diri duluan? gila:

Pemberi fasilitas pun jg dianggap pembunuh dr segi agama & norma (hukum masayarakat yg berlaku).

Di Indoesia di pasal 344 Kitab Undang-undang Hukum Pidana menyatakan bahwa
"Barang siapa menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri,
yang disebutkannya dengan nyata dan sungguh-sungguh,
dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun".

Juga demikian halnya nampak pada pengaturan pasal-pasal 338, 340, 345, dan 359 KUHP yang juga dapat dikatakan memenuhi unsur-unsur delik dalam perbuatan eutanasia.

Jd yg eksekusi maupun pemberi fasilitas utk membunuh jg terjerat pasal2nya.

thumbup: Nah itu ngakuin argumen saya \)

Td anda di atas percaya hal irasional jg,
knp skrg kontras dlm pernyataan ini?.
Anda tdk konsisten.

Kalau hanya mslh faktor ekonomi bukankah bnyk penyandang dana utk melanjutkan pengobatan.
Knp hrs menyerah skrg?

Anda tdk punya biaya pun, Kaskus jg bersedia membantu menggalang dana utk pengobatan anda.

Itu trmsk kategori eutanasia non agresif.
Mati pilhan dia sndr utk menghentikan pengobatannya.
Setidakknya dokter sudah mencegahnya dg cara pernyataan tertulis utk lepas dr tanggungjawab atas pilihan hdp si penderita.
Tetap saja itu tdk menguatkan statement anda utk pro thdp legalitas praktek euthanasia.


Saya memang percaya pada adanya hal yang irasional, akan tetapi saya tetap berpikir secara rasional.. Jadi pemikiran secara rasional terlebih dahulu, lalu kejadian yang irasional menurut saya tidak perlu dipikirkan lagi..
Contohnya seperti cerita kasus saya sebelumnya, dimana berpikir untuk Euthanasia terlebih dahulu setelah itu apabila terjadi hal yang irasional, itu tidak dipikirkan sebelum saya memutuskan untuk Euthanasia..
Istilah simpelnya, saya dalam hal tersebut tidak memikirkan dampak Euthanasia tersebut sebelumnya..

Untuk pelaksanaan Euthanasia memang ada berbagai macam alasan..
sehingga dalam pelaksanaan-nya, Saya mengembalikan lagi kepada penderita penyakit tersebut..
Mengenai alasan penderita dalam melakukan Euthanasia, itu tergantung pada kepribadian diri penderita masing2, ada yang cepat menyerah dan ada pula yang tidak cepat menyerah...
Namun, itu bukanlah alasan bagi saya untuk Kontra terhadap praktek Euthanasia tersebut..
Jadi, apabila contoh kasus seperti apabila saya menderita penyakit yang belum ditemukan obatnya dan saya menderita fisik dan mental saya, saya pun tidak akan memutuskan untuk Euthanasia (meskipun pada saat itu Euthanasia dilegalkan)..
Anda bisa melihat bahwa kepribadian orang memang berbeda-beda, akan tetapi bukan berarti praktek Euthanasia diharamkan..

sedikit OOT : Contohnya seperti Internet, dimana setiap orang bisa dengan bebas dan mudahnya membuka situs terlarang (meskipun pemerintah memblokir, dsb).. Bukan berarti lantas Internet tidak diperbolehkan, karena itu hanyalah sebuah teknologi (Internet) yang sangat bebas penggunaannya..

Kembali ke Euthanasia,
Mengenai pasal-pasal di Indonesia, justru sekarang ini yang menjadi topik debat, dimana TS men-debat-kan mengenai tepat/tidaknya pasal2 tersebut..
Saya menilai pasal tersebut tidaklah tepat karena saya pro dengan praktek Euthanasia ini..
Jika Anda membawa masalah Agama, akan panjang akhirnya karena perdebatan mengenai hal tersebut (hampir) tidak akan pernah selesai..

pada pernyataan-pernyataan saya sebelumnya, saya hanya menyampaikan pendapat saya mengenai pelaku dan pengambil keputusan Euthanasia tersebut.. dengan demikian apabila pasal2 tersebut melarang Euthanasia, saya tetap kontra terhadap pasal2 tersebut..

Mengenai tindakan "menyerah" saya, itu bukan berarti saya cepat putus asa terhadap keadaan.. Namun apabila saya memang dihadapkan pada kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan, mau tidak mau, saya pasti akan menyerah pada kondisi tersebut karena saya tidak lagi mempunyai dana untuk tindakan medis saya...

Memang ada sumbangan-sumbangan, akan tetapi menurut saya itu tidaklah cukup hanya bergantung pada sumbangan-sumbangan..
Berapa banyak orang yang membutuhkan..?
Berapa sumbangan yang dikumpulkan..?
Cukupkah dibagi pada para penderita tersebut..?
Apakah akan selamanya mengandalkan sumbangan tersebut, dimana kondisi fisik tidak memungkinkan lagi untuk menghasilkan biaya..?

Saya pun tidak mudah menyerah pada keadaan.. Namun saya berpikir pada kondisi dimana (misalnya) Saya dan keluarga sudah tidak ada dana lagi sedangkan pengobatan saya dengan biaya yang dikeluarkan adalah selama saya hidup dengan alat bantu tersebut..
dadudice - 25/11/2011 10:36 PM
#1228

Quote:
Original Posted By Inzict

Apabila praktek euthanasia dilegalkan ke dalam undang2,
akan membawa dampak buruk bagi moralitas negara tersebut.
Penyalahgunaan undang2 euthanasia ditakutkan akan menjadi budaya bunuh diri yg dianggap wajar & lumrah dalam suatu peradaban masyarakat.


Sesuai dengan pernyataan saya sebelumnya dimana alasan untuk Euthanasia tergantung pada pribadi masing2..
Jika yang Anda takutkan adalah menjadi budaya untuk "bunuh diri", menurut saya pada saat tersebut itulah peran manusia (bisa jadi orang lain, atau sahabat pasien, atau bahkan keluarga) untuk selalu memberikan motivasi bagi dia untuk tidak mudah menyerah selagi pasien masih memiliki kesadaran..
Kembali lagi, namun ini bukanlah alasan untuk meng-haram-kan praktek Euthanasia tersebut..

Betul kata agan fukoewelewel, dimana untuk melakukan tindakan Euthanasia tersebut pastilah ada "Tim (dokter ybs, atau penegak hukum seperti hakim)" untuk menyetujuinya dengan landasan kebijaksanaan tim tersebut..
KaskusGeeker - 25/11/2011 10:38 PM
#1229

@all : topik ini akan ditutup besok..


masih ada waktu buat mnjawab dan saling berargumen. beer:
sir_dedi - 25/11/2011 10:50 PM
#1230

sukur deh udh ditutup nih treat DDD
tetsugakutekina - 26/11/2011 01:08 AM
#1231

susah nampaknya berdebat di kaskus atau berbagai jenis forum lainnya di indonesia yang ada mekanisme id-nya karena ada "penguasa" yang bisa membanned suatu id


lagipula banyak pendapat di indonesia yang kalo secara internasional dianggap biasa2 saja, di ina dianggap ekstrim jadi menimbulkan banyak kesalahpahaman
tetsugakutekina - 26/11/2011 01:12 AM
#1232

satu2nya cara mengakhiri debat euthanasia

adalah melakukan survey kepada

1. keluarga yang menolak euthanasia dan mempunyai anggota keluarga yang sudah sangat kritis (dan akhirnya meninggal juga)

2. keluarga yang menerima euthanasia yang merelakan anggota keluarganya dieuthanasia

dianalisis keputusan mereka dan dampaknya secara moral, ekonomi, psikologis kepada keluarga

bisa saja dampak bagi keluarga 1 lebih baik dari 2, dan sebaliknya
Inzict - 26/11/2011 02:14 AM
#1233

Quote:
Original Posted By poni.aneh

ok

dasar dari segala hukum di NKRI adalah UUD.
and guess what... UUD pun mengakui pendapat gw.
secara gw berpendapat nyawa gw adalah hak milik gw.
dan di UUD diatur tidak ada seorangpun yg boleh merampas hak milik gw, kecuali gw sendiri tentunya cool:

so, disini pasien yg menghendaki euthanasia,..
karena harapan hidup kecil, (spt contoh yg udah gw jelasin sebelumnya)


cd: Bawa kesini dong gan tulisan pasal2 di UUD yg mengakui pendapat agan. Jgn hanya argumen kira2.

Sedangkan, di UUD 45 pasal 27 ayat 2 menyebutkan:
“Tiap – tiap warganegara berhak atas pekerjaan dan PENGHIDUPAN YANG LAYAK BAGI KEMANUSIAAN”.

Yg layak bagi kemanusiaan itu,
bukan mati dibunuh dg praktek euthanasia.
Itu melanggar rasa kemanusiaan.

Anda kira manusia itu disamain dg binatang ya,
pantas dibunuh gitu aja tanpa ada harganya.
Undang2 yg dibuat & dipatuhi itu
merupakan cara utk mengangkat nilai manusia diantara makhluk2 laen.

Quote:

lo kalo mo ngelarang2 gw, mending jadi anggota dpr dolo
amandemen tuh pasal.
ok mamen...cool: afro:


gila:
Inzict - 26/11/2011 03:31 AM
#1234

Quote:
Original Posted By dadudice

Saya memang percaya pada adanya hal yang irasional,
akan tetapi saya tetap berpikir secara rasional..
Jadi pemikiran secara rasional terlebih dahulu,
lalu kejadian yang irasional menurut saya tidak perlu dipikirkan lagi..

Contohnya seperti cerita kasus saya sebelumnya,
dimana berpikir untuk Euthanasia terlebih dahulu
setelah itu apabila terjadi hal yang irasional,
itu tidak dipikirkan sebelum saya memutuskan untuk Euthanasia..
Istilah simpelnya,
saya dalam hal tersebut tidak memikirkan dampak Euthanasia tersebut sebelumnya..

Untuk pelaksanaan Euthanasia memang ada berbagai macam alasan..
sehingga dalam pelaksanaan-nya,
Saya mengembalikan lagi kepada penderita penyakit tersebut..

Mengenai alasan penderita dalam melakukan Euthanasia,
itu tergantung pada kepribadian diri penderita masing2,
ada yang cepat menyerah dan ada pula yang tidak cepat menyerah...

Namun, itu bukanlah alasan bagi saya untuk Kontra terhadap praktek Euthanasia tersebut..
Jadi, apabila contoh kasus seperti apabila saya menderita penyakit yang belum ditemukan obatnya dan saya menderita fisik dan mental saya,
saya pun tidak akan memutuskan untuk Euthanasia (meskipun pada saat itu Euthanasia dilegalkan)..
Anda bisa melihat bahwa kepribadian orang memang berbeda-beda,
akan tetapi bukan berarti praktek Euthanasia diharamkan..


Sampe di alinea ini sy msh bingung dg prinsip & argumen agan.
Satu sisi anda mendukung kontra saya,
sisi laen anda pro dg praktek euthanasia ini. amazed:

Mslh diharamkan atau tdk praktek ini,
sudah jelas2 diharamkan, terutama di Indonesia.

Mau melihat dr sisi mana,
dr sisi hukum, sisi medis atau sisi agama di Indonesia?
Saya sebutkan semua:
1. Norma Hukum
pasal 344 Kitab Undang-undang Hukum Pidana menyatakan bahwa
"Barang siapa menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri,
yang disebutkannya dengan nyata dan sungguh-sungguh,
dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun".
Juga demikian halnya nampak pada pengaturan pasal-pasal 338, 340, 345, dan 359 KUHP yang juga dapat dikatakan memenuhi unsur-unsur delik dalam perbuatan eutanasia.

2. Pandangan Tenaga Medis
Ketua umum pengurus besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Farid Anfasal Moeloek
dalam suatu pernyataannya yang dimuat oleh majalah Tempo Selasa 5 Oktober 2004 menyatakan bahwa :
Eutanasia atau "pembunuhan tanpa penderitaan" hingga saat ini belum dapat diterima dalam nilai dan norma yang berkembang dalam masyarakat Indonesia.
"Euthanasia hingga saat ini tidak sesuai dengan etika yang dianut oleh bangsa
dan melanggar hukum positif yang masih berlaku yakni KUHP.

3. Agama
Karena terlalu banyak, saya bawa satu contoh aja dr agama Islam.
Eutanasia dalam ajaran Islam disebut qatl ar-rahmah atau taisir al-maut (eutanasia),
yaitu suatu tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit, karena kasih sayang,
dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit, baik dengan cara positif maupun negatif.
Pada konferensi pertama tentang kedokteran Islam di Kuwait tahun 1981, dinyatakan bahwa tidak ada suatu alasan yang membenarkan dilakukannya eutanasia ataupun pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) dalam alasan apapun juga.
Dasar dr disepakati konferensi tsb dr ayat "Janganlah engkau membunuh dirimu sendiri," (QS 4: 29)

Quote:

sedikit OOT :
Contohnya seperti Internet,
dimana setiap orang bisa dengan bebas
dan mudahnya membuka situs terlarang (meskipun pemerintah memblokir, dsb)..
Bukan berarti lantas Internet tidak diperbolehkan,
karena itu hanyalah sebuah teknologi (Internet) yang sangat bebas penggunaannya..


Maaf gan, itu internet, hubungannya dg perkembangan teknologi,
sdgkn praktek euthanasia ini hubungannya dg nyawa manusia.
Jauh gan perbandingannya.

Klo dg dasar contoh internet agan di atas,
maka nanti stlh euthanasia dilegalkan,
akan bnyk dokter2 buka praktek umum bunuh diri ala euthanasia di masyarakat,
yg nantinya bs spt bisnis2 warnet yg berkembang di masyarakat saat ini.

Lalu moral masyarakatnya nanti akan jd bagaimana,
kalau praktek bunuh diri ala euthanasia ini dpt mudah dijumpai di klinik2 umum?
Sdgkn utk melakukan praktek ini pun,
jg ada prosedur yg sangat panjang dr pengadilan
yg hrs dilewati terlebih dahulu.

Quote:

Kembali ke Euthanasia,
Mengenai pasal-pasal di Indonesia,
justru sekarang ini yang menjadi topik debat,
dimana TS men-debat-kan mengenai tepat/tidaknya pasal2 tersebut..
Saya menilai pasal tersebut tidaklah tepat
karena saya pro dengan praktek Euthanasia ini..


Alasannya pasal tsb tdk tepat menurut anda apa?
Jgn hanya bilang krn anda pro.
Jabarkan lg kenapa? shakehand

Quote:

Jika Anda membawa masalah Agama, akan panjang akhirnya karena perdebatan mengenai hal tersebut (hampir) tidak akan pernah selesai..


Sudah selesai kok gan, \)
krn dr sisi agama sudah disepakati semua agama tidak setuju dg praktek ini.
Ada di OS TSnya yg dr wikipedia alasan semua agama di dunia tidak menyetujui praktek euthanasia ini. D

Maksud agan bahasan yg tdk pernah selesai itu mungkin dr sisi orang tidak percaya dogma agama kali (agnostic/ atheis). D

Quote:

pada pernyataan-pernyataan saya sebelumnya,
saya hanya menyampaikan pendapat saya mengenai pelaku
dan pengambil keputusan Euthanasia tersebut..
dengan demikian apabila pasal2 tersebut melarang Euthanasia,
saya tetap kontra terhadap pasal2 tersebut..


Alasannya?
Jgn nulis sepotong2 lalu pergi gan shakehand

Quote:

Mengenai tindakan "menyerah" saya,
itu bukan berarti saya cepat putus asa terhadap keadaan..

Namun apabila saya memang dihadapkan pada kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan,
mau tidak mau, saya pasti akan menyerah pada kondisi tersebut
karena saya tidak lagi mempunyai dana untuk tindakan medis saya...


Di post sebelumnya kan sudah saya jabarkan,
ekonomi bukan alasan utk menyerah & bunuh diri dg praktek euthanasia.
Msh ekonomi bs diperjuangkan lwt penggalangan dana atau sumbangan.
Faktor ekonomi itu bukan alasan yg manusiawi utk mati secara tidak beradab. shakehand

Quote:

Memang ada sumbangan-sumbangan,
akan tetapi menurut saya itu tidaklah cukup hanya bergantung pada sumbangan-sumbangan..
Berapa banyak orang yang membutuhkan..?
Berapa sumbangan yang dikumpulkan..?
Cukupkah dibagi pada para penderita tersebut..?
Apakah akan selamanya mengandalkan sumbangan tersebut,
dimana kondisi fisik tidak memungkinkan lagi untuk menghasilkan biaya..?


Bagaimana jika saya bilang "salah sendiri anda miskin" D
Apakah krn beberapa orang miskin,
lalu praktek bunuh diri ini harus dilegalkan? army:

Msh bnyk norma2 kepatutan & rasa kemanusiaan yg perlu dijaga
drpd menuruti alasan2 orang2 miskin itu utk mati bunuh diri
krn putus asa menyerah dg hidupnya yg menderita.

Mslh kemiskinan ini pun msh bnyk solusi,
satu mgkn dr sumbangan2 atau penggalangan dana swadaya,
kedua jg msh ada program2 pemerintah yg peduli dg kesehatan org miskin,
diantaranya adanya jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas) dg membawa surat miskin dr instansi setempat.

rolleyes: Klo msh kurang jg dananya, think:
temui presiden SBY di istana negara lwt media massa (koran). D
Dulu jg prnh ada berita seorang ibu dtg ke istana negara bertemu paspampres
memohon bertemu SBY meminta sumbangan utk operasi anak perempuannya.
Dan akhirnya dilunasi semua biaya operasi anak tsb oleh presiden hingga sembuh total. thumbup:

think: Apa kemiskinan2 ini yg jd alasan utk bunuh diri
& melegalkan praktek bunuh diri ini? gila:

Msh bnyk jalan yg bs ditempuh \)
asal anda tidak gengsi utk mencari jalan keluar.
Faktor kemiskinan ini bnr2 bukan alasan yg tepat utk mengakhiri hidup. nohope:

[QUOTE]
Saya pun tidak mudah menyerah pada keadaan..
Namun saya berpikir pada kondisi dimana (misalnya) Saya dan keluarga sudah tidak ada dana lagi
sedangkan pengobatan saya dengan biaya yang dikeluarkan adalah selama saya hidup dengan alat bantu tersebut..
Inzict - 26/11/2011 04:20 AM
#1235

Quote:
Original Posted By dadudice

Sesuai dengan pernyataan saya sebelumnya
dimana alasan untuk Euthanasia tergantung pada pribadi masing2..

Jika yang Anda takutkan adalah menjadi budaya untuk "bunuh diri",
menurut saya pada saat tersebut itulah peran manusia (bisa jadi orang lain, atau sahabat pasien, atau bahkan keluarga)
untuk selalu memberikan motivasi bagi dia untuk tidak mudah menyerah
selagi pasien masih memiliki kesadaran..
Kembali lagi, namun ini bukanlah alasan untuk meng-haram-kan praktek Euthanasia tersebut..

Betul kata agan fukoewelewel,
dimana untuk melakukan tindakan Euthanasia tersebut pastilah ada "Tim (dokter ybs, atau penegak hukum seperti hakim)" untuk menyetujuinya dengan landasan kebijaksanaan tim tersebut..


:toast Yg ini jg sudah sy jelaskan di post sy sebelumnya.

Berkaca dr budaya bunuh diri krn malu di Jepang (harakiri),
yg sudah dianggap lumrah & wajar disana.
Dianggap bunuh diri itu hal yg wajar & harus dilakukan utk menjaga kehormatan & harga diri.
Mnrt anda budaya itu benar atau salah? think:

Yg ditakutkan, kalau praktek euthanasia ini dilegalkan,
kita akan kembali ke peradaban masa lalu yg tdk menjunjung kemanusiaan.
Praktek euthanasia akan mjd awal kemunduran dr pola pikir masyarakat.
Ditakutkan setiap org sakit yg putus asa
akan memiliki pemikiran utk selalu memilih euthanasia sbg solusinya,
krn hal itu sudah legal & dianggap wajar dr budaya tsb.
Bukankah kalau tjd hal demikian,
maka moral dr peradaban masyarakat tsb mulai menurun. think:

Kalau dilegalkan memang akan selalu ada pertimbangan tim dokter
dan pihak pengadilan utk memutuskan,
ini jg sudah sy jelaskan di post depan.
Namun apakah euthanasia ini tetap jadi satu2nya solusi bagi si pasien?
Mari kita berkaca lg dr sebuah kasus euthanasia yg pernah tjd di Indonesia:

Kasus Hasan Kusuma - Indonesia

Sebuah permohonan untuk melakukan eutanasia pada tanggal 22 Oktober 2004
telah diajukan oleh seorang suami bernama Hassan Kusuma
karena tidak tega menyaksikan istrinya yang bernama Agian Isna Nauli, 33 tahun,
tergolek koma selama 2 bulan
dan di samping itu ketidakmampuan untuk menanggung beban biaya perawatan jg merupakan suatu alasan.

Permohonan untuk melakukan eutanasia ini diajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Kasus ini merupakan salah satu contoh bentuk eutanasia yang di luar keinginan pasien.
Permohonan ini akhirnya ditolak mentah2 oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat,
dan ternyata setelah menjalani perawatan intensif,
kondisi terakhir pasien (7 Januari 2005) telah mengalami kemajuan dalam pemulihan kesehatannya.

:toast Untung pihak pengadilan tdk gegabah dlm mengambil keputusan,

untung belum disuntik mati tu si istri.
Klo buru2 disuntik mati,
sudah kehilangan istri tu si suami yg bego & putus asa. D

Dr contoh kasus di atas,
di Indonesia yg sudah jelas2 melarang praktek euthanasia dlm undang2nya saja,
masih tetap ada aja yg melanggar,
mengajukan sebuah permohonan pembunuhan istrinya
krn rasa putus asa, tidak tega & faktor ekonomi.
Lalu bagaimanakah kalau praktek itu sudah dilegalkan & menjadi sebuah budaya?

Maka yg akan terjadi adalah meningkatnya pelanggaran2 kemanusiaan
& menurunnya moral masyarakat
yg dikarenakan rasa tdk tega, putus asa & faktor ekonomi semata.

Yg jelas, akan semakin banyak korban pembunuhan
krn kesalahan pengambilan keputusan. shakehand
john.preston - 26/11/2011 06:48 AM
#1236

Quote:
Original Posted By KaskusGeeker

@all : topik ini akan ditutup besok..

masih ada waktu buat mnjawab dan saling berargumen. beer:


Ditunggu topik berikutnya gan!
Gue keburu mau gabung lg!

Quote:
Original Posted By sir_dedi
sukur deh udh ditutup nih treat DDD


Kita tunggu sama2 gan!
gentongpenguin - 26/11/2011 08:00 AM
#1237

Quote:
Original Posted By Inzict
:[SIZE="1"]thumbup: [B]Setuju. Ini argumen saya dr awal.
Menghilangkan nyawa orang lain dg cara apapun, dg alasan apapun,
masuk dlm kategori pembunuhan.



thumbup: Bener.
Apapun kondisinya,
pd level zero recovery sekalipun
ttp semaksimal mungkin mempertahankan kehidupan,
baik dr si pasien, keluarga besar, maupun tenaga medisnya.

Klo pasien yg dlm posisi tertekan menyerah,
atau keluarga besar yg tdk tega & keberatan dlm ekonominya,
setidaknya tenaga medis yg saling mengingatkan
& melakukan tindakan utk mempertahankan hdp,
bukan malah memberi solusi membunuhnya.



thumbup: Bener. Di Indonesia praktek euthanasia dilarang.
Mengingat Indonesia msh memegang norma2 timur.

Hal ini jg diundang2kan di pasal 344 Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa:
"Barang siapa menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri,
yang disebutkannya dengan nyata dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun".

Juga demikian halnya nampak pada pengaturan pasal-pasal 338, 340, 345, dan 359 KUHP
yang juga dapat dikatakan memenuhi unsur-unsur delik dalam perbuatan eutanasia.



Boleh jika diperlukan. D
Tergantung situasinya gan.
Morfin kan jg msk dlm kategori obat2an medis.
Digunakan saat2 tertentu sesuai dg penyakit & dosisnya.



Disesuaikan dg jenis penyakit & dosisnya gan.
Kebetulan saya jg bukan dokter. D

Tp dimana2 yg namanya obat itu sbnrnya adalah zat kimia yg jg bs dikategorikan racun.
Sll ada efek sampingnya.

Misal agan kepalanya sakit, lalu minum obat sakit kepala.
Obat sakit kepala agan itu memang menyembuhkan sakit di kepala agan,
tp jg sbnrnya meracuni liver & ginjal agan.
Hanya krn dosisnya kecil,
jdnya msh bs disaring oleh hati yg memang berfungsi menyaring racun.

Prnh denger kan istilah "racun dilawan racun" D
Ya spt itulah obat.
Sakit vs obat,
memang ibarat "racun dilawan racun".



shakehand Sudah sy jwb di atas.


[QUOTE=dadudice;561467231]Saya memang percaya pada adanya hal yang irasional, akan tetapi saya tetap berpikir secara rasional.. Jadi pemikiran secara rasional terlebih dahulu, lalu kejadian yang irasional menurut saya tidak perlu dipikirkan lagi..
Contohnya seperti cerita kasus saya sebelumnya, dimana berpikir untuk Euthanasia terlebih dahulu setelah itu apabila terjadi hal yang irasional, itu tidak dipikirkan sebelum saya memutuskan untuk Euthanasia..
Istilah simpelnya, saya dalam hal tersebut tidak memikirkan dampak Euthanasia tersebut sebelumnya..

Untuk pelaksanaan Euthanasia memang ada berbagai macam alasan..
sehingga dalam pelaksanaan-nya, Saya mengembalikan lagi kepada penderita penyakit tersebut..
Mengenai alasan penderita dalam melakukan Euthanasia, itu tergantung pada kepribadian diri penderita masing2, ada yang cepat menyerah dan ada pula yang tidak cepat menyerah...
Namun, itu bukanlah alasan bagi saya untuk Kontra terhadap praktek Euthanasia tersebut..
Jadi, apabila contoh kasus seperti apabila saya menderita penyakit yang belum ditemukan obatnya dan saya menderita fisik dan mental saya, saya pun tidak akan memutuskan untuk Euthanasia (meskipun pada saat itu Euthanasia dilegalkan)..
Anda bisa melihat bahwa kepribadian orang memang berbeda-beda, akan tetapi bukan berarti praktek Euthanasia diharamkan..

sedikit OOT : Contohnya seperti Internet, dimana setiap orang bisa dengan bebas dan mudahnya membuka situs terlarang (meskipun pemerintah memblokir, dsb).. Bukan berarti lantas Internet tidak diperbolehkan, karena itu hanyalah sebuah teknologi (Internet) yang sangat bebas penggunaannya..

Kembali ke Euthanasia,
Mengenai pasal-pasal di Indonesia, justru sekarang ini yang menjadi topik debat, dimana TS men-debat-kan mengenai tepat/tidaknya pasal2 tersebut..
Saya menilai pasal tersebut tidaklah tepat karena saya pro dengan praktek Euthanasia ini..
Jika Anda membawa masalah Agama, akan panjang akhirnya karena perdebatan mengenai hal tersebut (hampir) tidak akan pernah selesai..

pada pernyataan-pernyataan saya sebelumnya, saya hanya menyampaikan pendapat saya mengenai pelaku dan pengambil keputusan Euthanasia tersebut.. dengan demikian apabila pasal2 tersebut melarang Euthanasia, saya tetap kontra terhadap pasal2 tersebut..

Mengenai tindakan "menyerah" saya, itu bukan berarti saya cepat putus asa terhadap keadaan.. Namun apabila saya memang dihadapkan pada kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan, mau tidak mau, saya pasti akan menyerah pada kondisi tersebut karena saya tidak lagi mempunyai dana untuk tindakan medis saya...

Memang ada sumbangan-sumbangan, akan tetapi menurut saya itu tidaklah cukup hanya bergantung pada sumbangan-sumbangan..
Berapa banyak orang yang membutuhkan..?
Berapa sumbangan yang dikumpulkan..?
Cukupkah dibagi pada para penderita tersebut..?
Apakah akan selamanya mengandalkan sumbangan tersebut, dimana kondisi fisik tidak memungkinkan lagi untuk menghasilkan biaya..?

Saya pun tidak mudah menyerah pada keadaan.. Namun saya berpikir pada kondisi dimana (misalnya) Saya dan keluarga sudah tidak ada dana lagi sedangkan pengobatan saya dengan biaya yang dikeluarkan adalah selama saya hidup dengan alat bantu tersebut..
KaskusGeeker - 26/11/2011 11:14 AM
#1238
Topik 8. Pelarangan Gay/Lesbian bekerja di Lembaga/Institusi Pendidikan
Rasanya tidak perlu menjelaskan pengertian gay/lesbian, ataupun lembaga pendidikan.

refrerensi bacaan

Saya hanya memberi batasan.
1. Gay/lesbian bukan kelainan sex, hanya orientasi sex, seperti halnya hetero, maupun bisex. Jadi Gay/lesbian adalah normal dan punya hak yang sama dengan orang normal lainnya.
2. Pekerjaan dalam lembaga pendidikan disini dikhususkan sebagai tenaga pengajar, namun bukan berarti admin, TU, Kepsek, bahkan Satpam sekalipun tidak terlibat, karena mereka pun bersentuhan baik langsung maupun tidak langsung dengan peserta didik.

Debaters sudah tau apa itu gay/lesbian, debaters juga tentu tau apa itu lembaga pendidikan.

so, perdebatan tentang Pelarangan Gay/Lesbian bekerja di lembaga/institusi pendidikan tentunya debatable dan tau lah arahnya kemana.

jadi pertanyaannya. SETUJU ATAU TIDAK?

Silahkan berdebat beer:
jebakan.betmen - 26/11/2011 11:52 AM
#1239

setuju ama pelarangan gay army:
ngomongin Agama, Agama gue ngelarang.
ngomongin budaya, kasus begini termasuk imoral.
ngomongin orientasi sex, bisa kena penyakit kalo suka tusbol https://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=8885894
army:
kyourieugie - 26/11/2011 11:55 AM
#1240

Quote:
Original Posted By KaskusGeeker
Rasanya tidak perlu menjelaskan pengertian gay/lesbian, ataupun lembaga pendidikan.

refrerensi bacaan

Saya hanya memberi batasan.
1. Gay/lesbian bukan kelainan sex, hanya orientasi sex, seperti halnya hetero, maupun bisex. Jadi Gay/lesbian adalah normal dan punya hak yang sama dengan orang normal lainnya.
2. Pekerjaan dalam lembaga pendidikan disini dikhususkan sebagai tenaga pengajar, namun bukan berarti admin, TU, Kepsek, bahkan Satpam sekalipun tidak terlibat, karena mereka pun bersentuhan baik langsung maupun tidak langsung dengan peserta didik.

Debaters sudah tau apa itu gay/lesbian, debaters juga tentu tau apa itu lembaga pendidikan.

so, perdebatan tentang Pelarangan Gay/Lesbian bekerja di lembaga/institusi pendidikan tentunya debatable dan tau lah arahnya kemana.

jadi pertanyaannya. SETUJU ATAU TIDAK?

Silahkan berdebat beer:


menjadi gay or lesbian .. itu sebuah pilihan ..

seperti u memilih jalan lurus atau berbelok

seperti u memilih mempunyai seorang istri perek or lonte.


jeritan kaum minoritas..( pengalaman pribadi ya u ?? ) ngakak:
Page 62 of 332 | ‹ First  < 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 >  Last ›
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?