DEBATE CLUB
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?
Total Views: 126104 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 75 of 332 | ‹ First  < 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 >  Last ›

ciciNdian - 29/11/2011 09:01 PM
#1481

Quote:
Original Posted By Choa
buang lamaran mereka saat psikotes

beres, army:


Atau,
"Maaf pendidikan kami berlandaskan ketuhanan yang maha esa. dan pilihan anda melanggar kodrat tuhan yme. Which is incompatible. Jadi silakan cari sekolah sekuler sana"

kesian soalnya udh sekolah tinggi2, malah ngaku2 mahos
Choa - 29/11/2011 09:05 PM
#1482

Quote:
Original Posted By ciciNdian
Atau,
"Maaf pendidikan kami berlandaskan ketuhanan yang maha esa. dan pilihan anda melanggar kodrat tuhan yme. Which is incompatible. Jadi silakan cari sekolah sekuler sana"

kesian soalnya udh sekolah tinggi2, malah ngaku2 mahos


terserah entelah pandai-pandai memilih pendidik
coz pendidik merupakan salah satu faktor pembentuk karakter suatu negara

masih ingat mentri job ave, menpostel?
coba dah malu ngak?
KaskusGeeker - 29/11/2011 09:05 PM
#1483

Quote:
Original Posted By angling.kusumo
hadir.!

Topik 1 :Pendidikan sex dibawah umur.?
PRO

tujuan pendidikan sex pada dasarnya adalah sama dengan tujuan pendidikan2 yang lain. yaitu bertujuan untuk memberikan informasi yang valid, pengetahuan tentang apa, mengapa dan bagaimana, pengetahuan yang mungkin kita butuhkan untuk mejawab tantangan permasalahan kehidupan kita di hari nanti. dan dalam konteks ini, informasi/pengetahuan itu bergerak dalam konteks ruang sexualitas.

dan itu adalah hal yang baik. informasi dan pengetahuan tak pernah salah. dengan adanya informasi itu, pengetahuan itu, pelajar jadi memiliki gambaran tentang apa yang mungkin akan mereka hadapi nanti.

masalah materi tentu saja (juga seperti pendidikan2 yang lain) selayaknya disesuaikan dengan usia sang pelajar.

namuan permasalahannya tidak semudah itu.
baca di bawah.



masalah banyaknya hamil diluar nikah, 'sex usia muda', sex bebas, dll dkk dst.
di sini kita harus memahami manusia pada bentuk alaminya. prilaku2 diatas itu (khususnya pada saat usia remaja) sama sekali tak ada hubungannya dengan apakah ia mendapatkan pendidikan sex yang baik atau tidak. prilaku2 itu adalah 'pure' masalah hormonal. anda bisa saja memberikan edukasi sex yang mendalam, peringatan2 bahkan larangan2, tapi semua itu (pada usia remaja) kemungkinan besar tidak akan berlaku.! karena pada saat kita berada pada usia itu, hormon2 dalam tubuh kita yang mengendalikan reaksi sexual kita. jika ada kesempatan (terlepas dari terdidik atau tidaknya ia dalam masalah sexual), remaja2 itu akan melakukan hubungan sex dengan suka rela dan bahagia. itu alami.! natural.! itu hukum alam.!

anda bisa bilang 'curiocity', rasa kepenasaran. saya akan mengatakan ini kalam alam. anda bisa lihat sendiri buktinya dalam kehidupan nyata sehari2 kita.

bahkan menurut pendapat saya pribadi, budaya manusia pada saat ini yang kita tuangkan kedalam kata2 "moralitas" telah menjadikan anak-anak kita manja. kita menetapkan usia bawah umur sampai dengan 17 - 18, dan dengan itu kita memperlakukan mereka (dan mereka biasa diperlakukan) sebagai 'anak2' hingga batasan umur tersebut. sedang pada kenyataannya, alam menyampaikan kepada kita bahwa setelah seorang anak itu akil balik/pubertas, sekitar usia 11/12 - 13/14 (menstruasi, perubahan fisik dan tanda2 lainnya). dalam usia pubertas itu seseorang secara bertahap mulai mencapai kematangan fisik. secara biologis tubuhnya sudah mampu membuahi dan dibuahi. hormon sexual mereka sudah berkemnbang. dan itu menjadikan mereka dewasa. bukan lagi anak2. tapi apa yang kita lakukan.? apa yang budaya kita lakukan dalam kata2 yang bertajuk 'moral.? kita menyangkal alam.! kita mengkerdilkan mental anak2 kita.! dan apa yang terjadi.? tentu saja alam menang. hormon dalam tubuh para remaja terbukti tak bisa dibendung oleh apa yang kita jargonkan sebagai moralitas. oleh karena itu timbullah masalah, mental anak2 didalam tubuh yang matang. dan kita terus saja tidak menyadari hal ini dan terus menimpakan kesalahan kepada pendidikan moralitas.!

apakah kita sudah begitu buta.? tuli.? tak bisa merasa dan berfikir.? tak bisa melihat apa yang alam sampaikan kepada kita.?

maap kalau sedikit OOT.
yang saya coba sampaikan adalah. permasalahan di sini terletak bukan pada ya atau tidaknya pendidikan sexual. namun lebih kepada pengekangan pertumbuhan mental yang kita paksakan atas nama 'moralitas budaya'

jadi kalau kita mau benar2 menyelasaikan masalah yang kita katakan sebagai 'prilaku sexual usia dini', maka kita harus menyelasiakannya pada akar permasalahannya dan bukan terus menerus memahat kulitnya.

jangan kerdilkan pertumbuhan mental, jiwa, pikir anak2 kita. perlakukan mereka sebagai dewasa (usia pubertas). karena pada usia itu alaminya mereka adalah manusia dewasa.!


"don't fight the nature. coz you'll eventually going to lose."

monggo.


Ok gan nice argumen, tapi keknya itu topik 1. Yang mana udah ga dibahas lagi disini. Skrg lagi bahas topik 8. Jadi topik 1 nya udah ga dibahas lagi. Silahkan menanggapi topik 8. Yaitu pelarangan gay/lesbian bekerja di lembaga pendidikan. Setuju atau ngga.

Monggo shakehand (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?
angling.kusumo - 29/11/2011 09:12 PM
#1484
argumen
Topik 2 : Budaya v.s. Agama
Budaya

karena pada dasarnya agama dan keyakinan itu satu hal yang memiliki wajah yang berbeda.
agama itu keyakinan berbungkus budaya seperti juga halnya budaya adalah agama/keyakinan yang di denotasikan kedalam kehidupan sehari-hari. keduanya berbasiskan satu hal yang sama. yaitu nilai2 moralitas (lokal maupun universal). hanya saja kediuanya berbeda pada konteks ruang. agama biasanya memiliki konteks ruang yang lebih luas. meskipun pada akhirnya agama itupun akan mensublimasi kedalam nafas2 kebudayaan setempat.

so,, jika kita berani melihat kedalam dan meninggalkan kulitnya, budaya adalah pemenangnya disini.
angling.kusumo - 29/11/2011 09:13 PM
#1485

Quote:
Original Posted By KaskusGeeker
Ok gan nice argumen, tapi keknya itu topik 1. Yang mana udah ga dibahas lagi disini. Skrg lagi bahas topik 8. Jadi topik 1 nya udah ga dibahas lagi. Silahkan menanggapi topik 8. Yaitu pelarangan gay/lesbian bekerja di lembaga pendidikan. Setuju atau ngga.

Monggo shakehand (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?


waduhh... maap. D

okokok saya akan berpindah ke topik 8.
^ ^)v
sir_dedi - 29/11/2011 09:50 PM
#1486

saran ke ts \)

mohon topik yg dibahas jangan sampai bertabrakan dgn topik yg sudah dibuat user di tret di luar IDC ,kasarnya tret repost
knp gk sekalian aja di merger di tret aslinya shakehand:



Quote:
Original Posted By widya poetra
Ybhi:


Kenapa nggak,
kalo profesional ya silakan,

ane lebih memilih anak ane diajar sama Ricky Martin daripada si Udin,
coba kita ambil figur dari sejarah,
orang tua mana sih yang gak mau anaknya diajarin oleh Leonardo da Vinci?

Justru opini masyarakat yang fobia perlu dirubah sehingga tidak menekan kaum homoseksual. Apa gak tergerak hatinya kalau ternyata justru masalah yang dijumpai pada kaum homoseksual (stres, depresi, bunuh diri, dll.) ternyata akarnya ada pada kaum hetero yang gak mau menerima perbedaan.

oke,memilih guru mana itu hak masing2,

tapi jika ditinjau dr sisi aturan apakah requirement ricky martin sudah terpenuhi utk menjadi tenaga pengajar ?,jika dilihat dr persyaratan2 yg dipost oleh juragan thethinker dimana disebutkan tenaga pengajar harus berakhlak mulia.
gw msh menyangsikan hal itu jika gay tersebut beragama D
angling.kusumo - 29/11/2011 10:17 PM
#1487
agumen topik 8
Topik 8 :Pelarangan Gay / Lesbian Bekerja di Lembaga/Institusi Pendidikan.
posisi: Kontra alias tidak setuju.

pertama tama, kita harus bisa memisahkan label2 kedalam ruang2 konteks yang selayaknya.

status gay/lesbian disini adalah sebuah pilihan hidup, selera/orientasi sexual. yang mana kehidupan apa yang akan seseorang pilih adalah murni menjadi haknya sebagai seorang manusia selama ia tidak menjadi gangguan (secara asset fisikal dan asset intelektual) individu lain dan bagi komunitas lokal dimana ia bertempat tinggal dan berkegiatan.

mengapa gangguan di sini saya batasi dalam konteks fisikal, intelektual.?
mengapa saya tidak memasukan 'perbedaan nilai2 moralitas' sebagai salah satu bentuk gangguan.?

karena pada dasarnya hanya di wilayah itulah hukum dapat diterapkan, diwujudkan dan dikontrol secara layak. diluar itu, semuanya adalah masalah pendapat (personal ataupun komunal). karena setiap individu memiliki nilai2nya tersendiri. dan itu tak bisa dijadikan acuan. masalah moralitas, masalah nilai2 hidup adalah masalah personal yang menjadi hak, pilihan setiap pribadi.

seperti yang diketahui oleh setiap orang yang dapat berfikir bahwa nilai2 kebenaran adalah nilai2 relatif yang bermain dalam konteks2 yang ada.

sekarang kita lihat konteksnya dalam masalah pekerjaan.
pekerjaan, (dalam bidang apapun, termasuk juga pendidikan) adalah masalah profesionalitas. dalam pekerjaan, kita memiliki kewajiban untuk melakukan apa yang diminta oleh yang mempekerjakan kita dengan imbalan gaji/bayaran.

sekarang kita lihat apakah ada permasalahan di sini.?
contoh: seorang guru matematika yang berstatus gay. jika si guru tersebut dapat dengan profesional menjalankan tugasnya/kewajibanya sebagai guru matematika (yaitu mengajarkan matematika kepada anak muridnya), memberikan informasi yang valid tanpa mendoktrinkan persepsi, adakah alasan yang cukup kuat bagi kita untuk tidak mempekarjakan guru tersebut.?

sekarang bandingkan dengan seorang guru matematika yang 'straight', namun dalam menjalankan pekerjaannya ia tidak profesional. bukannya mengajarkan matematika secara utuh malah menanamkan persepsinya kepada anak didiknya. mana yang kita pilih.? saya rasa kita bisa melihatnya.

jadi pertama, gay atau tidak, lesbi atau tidak, bukanlah sebuah acuan yang tepat untuk menilai kelayakan seseorang dalam menjalankan pekerjaannya.

lalu apa.?
gaya bicara.?
cara berpakaiannya.?
gaya dan caranya bersikap yang berbeda dari nilai2 kewajaran yang anda yakini.?

yup. saya setuju bahwa dalam katagori2 tertentu, penampilan, prilaku dan sikap mental yang layak dan sesuai dengan pekerjaannya adalah sesuatu yang tidak kalah penting dari apa yang dilakukannya dalam pekerjaannya.
misalnya: seorang manajer yang bermental berpakaian lusuh, berprilaku rusuh dan bermental kuli tidak akan menjadi seorang menajer yang baik (dalam artian profesional) meskipun ia melakukan 'his/her paper work perfectly'.

dan ya. meskipun ada pepatah yang berkata 'don't judge a book by it's cover', namun pada realitanya penampilan itu penting bagi kebanyakan orang kebanyakan. dan masyarakat kita, para terdidik kita adalah orang kebanyakan.

tapi yang perlu kita sadari adalah bahwa menjadi gay/lesbian/hemaprodit itu berbeda dengan menjadi bencong. banyak contoh2 yang kita temukan dari kehidupan sehari-hari seorang yang gay dapat berprilaku, berpenampilan, kelihatan lebih laki2 dari yang non gay. (dan begitu juga yang lesbi ataupun yang hemaprodit).

so jika anda menganggap bahwa gay itu = bencong,. maka anda salah besar. maka argumen andapun salah.

monggo.
sir_dedi - 29/11/2011 10:21 PM
#1488

upss salah deh Peace:

vbot
poqwajah - 29/11/2011 10:31 PM
#1489

Quote:
Original Posted By widya poetra
Ybhi:


Kenapa nggak,
kalo profesional ya silakan,

ane lebih memilih anak ane diajar sama Ricky Martin daripada si Udin,
coba kita ambil figur dari sejarah,
orang tua mana sih yang gak mau anaknya diajarin oleh Leonardo da Vinci?

Justru opini masyarakat yang fobia perlu dirubah sehingga tidak menekan kaum homoseksual. Apa gak tergerak hatinya kalau ternyata justru masalah yang dijumpai pada kaum homoseksual (stres, depresi, bunuh diri, dll.) ternyata akarnya ada pada kaum hetero yang gak mau menerima perbedaan.


wah.. gasalah gan? koq perbandingannya ga sebanding gituh sih??
hahahaha... kalo mau dibandingin tolong yg sebanding dong gan...
ituh malah menggali lubang sendiri.... masa udin di samain sama ricky martin? hahahaha....
agan mau diajarin nyanyi sama elton john? ato david foster? hahahaha... pasti david foster donk... hehehe..

masyarakat ituh semuanya nyaman di comfortzone masing2.. dan untuk berubah (mau menerima kaum homo) ituh berarti keluar dari comfort zone... memang saya setuju kalo selalu berada di comfortzone kita ga akan maju... tapi kalo kita keluar dari comfort zone untuk melanggar agama sih.., kayanya ga perlu yah?? bener ga?
lagian pendapat masyarakat ituh sangat penting untuk lembaga pendidikan..
coba bayangkan.. "bila ada sekolah terkenal 'A' yg dulu terkenal untuk matematikanya.. karena mereka menerima guru gay/lesbie mereka malah dikenal di public bukan sebagai sekolah A yg terkenal di bidang matematika.. tapi 'sekolah A yang punya guru gay/lesbie'"
nah gimana gan? kalau anda sebagai yayasan ato kepala sekolah... apakah anda masih mau menerima orng2 tersebut?

maka dari itu... gay/lesbie untuk lembaga pendidikan tuh ga cocok.. untuk masalah yang lain... kita bahas dilain topik gan... biar ga OOT.. hehehe...
poqwajah - 29/11/2011 10:52 PM
#1490

Quote:
Original Posted By angling.kusumo


sekarang kita lihat konteksnya dalam masalah pekerjaan.
pekerjaan, (dalam bidang apapun, termasuk juga pendidikan) adalah masalah profesionalitas. dalam pekerjaan, kita memiliki kewajiban untuk melakukan apa yang diminta oleh yang mempekerjakan kita dengan imbalan gaji/bayaran.

sekarang kita lihat apakah ada permasalahan di sini.?
contoh: seorang guru matematika yang berstatus gay. jika si guru tersebut dapat dengan profesional menjalankan tugasnya/kewajibanya sebagai guru matematika (yaitu mengajarkan matematika kepada anak muridnya), memberikan informasi yang valid tanpa mendoktrinkan persepsi, adakah alasan yang cukup kuat bagi kita untuk tidak mempekarjakan guru tersebut.?

sekarang bandingkan dengan seorang guru matematika yang 'straight', namun dalam menjalankan pekerjaannya ia tidak profesional. bukannya mengajarkan matematika secara utuh malah menanamkan persepsinya kepada anak didiknya. mana yang kita pilih.? saya rasa kita bisa melihatnya.

di quote sedikit mas...
betul untuk masalah profesional kita tidak boleh membeda2kan.. karena dalam pekerjaan.. yg layak dan cocok pasti akan mendapatkan pekerjaan tanpa memandang status sosial dan pilihan mereka. untuk contoh... mereka yg mendesign pakaian.. atau salon.. kebanyakan orng-orng yg berstatus tidak biasa.
tetapi... untuk masalah pendidikan saya bertentang keras.. karena guru adalah sosok seseorang yang menjadi figur untuk seorang anak. bukan hanya mengajar.. tapi mereka juga mendidik anak tersebut untuk tanggung jawab.. guru juga berperan sebagai orang tua di sekolah... guru juga berperan sebagai teman... apa jadinya kalo guru tersebut berstatus gay/lesbie.. anak2 akan mendapatkan seorang figur gay/lesbie dalam pikirannya... bukan hanya 1 anak... tapi semua anak yang diajar oleh dia...

hehehe... sedikit pendapat ajah.. hehehe Yb
sangkdk - 30/11/2011 12:05 AM
#1491

Quote:
Original Posted By angling.kusumo
Topik 8 :Pelarangan Gay / Lesbian Bekerja di Lembaga/Institusi Pendidikan.
posisi: Kontra alias tidak setuju.

pertama tama, kita harus bisa memisahkan label2 kedalam ruang2 konteks yang selayaknya.

status gay/lesbian disini adalah sebuah pilihan hidup, selera/orientasi sexual. yang mana kehidupan apa yang akan seseorang pilih adalah murni menjadi haknya sebagai seorang manusia selama ia tidak menjadi gangguan (secara asset fisikal dan asset intelektual) individu lain dan bagi komunitas lokal dimana ia bertempat tinggal dan berkegiatan.

mengapa gangguan di sini saya batasi dalam konteks fisikal, intelektual.?
mengapa saya tidak memasukan 'perbedaan nilai2 moralitas' sebagai salah satu bentuk gangguan.?

karena pada dasarnya hanya di wilayah itulah hukum dapat diterapkan, diwujudkan dan dikontrol secara layak. diluar itu, semuanya adalah masalah pendapat (personal ataupun komunal). karena setiap individu memiliki nilai2nya tersendiri. dan itu tak bisa dijadikan acuan. masalah moralitas, masalah nilai2 hidup adalah masalah personal yang menjadi hak, pilihan setiap pribadi.

seperti yang diketahui oleh setiap orang yang dapat berfikir bahwa nilai2 kebenaran adalah nilai2 relatif yang bermain dalam konteks2 yang ada.

sekarang kita lihat konteksnya dalam masalah pekerjaan.
pekerjaan, (dalam bidang apapun, termasuk juga pendidikan) adalah masalah profesionalitas. dalam pekerjaan, kita memiliki kewajiban untuk melakukan apa yang diminta oleh yang mempekerjakan kita dengan imbalan gaji/bayaran.

sekarang kita lihat apakah ada permasalahan di sini.?
contoh: seorang guru matematika yang berstatus gay. jika si guru tersebut dapat dengan profesional menjalankan tugasnya/kewajibanya sebagai guru matematika (yaitu mengajarkan matematika kepada anak muridnya), memberikan informasi yang valid tanpa mendoktrinkan persepsi, adakah alasan yang cukup kuat bagi kita untuk tidak mempekarjakan guru tersebut.?

sekarang bandingkan dengan seorang guru matematika yang 'straight', namun dalam menjalankan pekerjaannya ia tidak profesional. bukannya mengajarkan matematika secara utuh malah menanamkan persepsinya kepada anak didiknya. mana yang kita pilih.? saya rasa kita bisa melihatnya.

jadi pertama, gay atau tidak, lesbi atau tidak, bukanlah sebuah acuan yang tepat untuk menilai kelayakan seseorang dalam menjalankan pekerjaannya.

lalu apa.?
gaya bicara.?
cara berpakaiannya.?
gaya dan caranya bersikap yang berbeda dari nilai2 kewajaran yang anda yakini.?

yup. saya setuju bahwa dalam katagori2 tertentu, penampilan, prilaku dan sikap mental yang layak dan sesuai dengan pekerjaannya adalah sesuatu yang tidak kalah penting dari apa yang dilakukannya dalam pekerjaannya.
misalnya: seorang manajer yang bermental berpakaian lusuh, berprilaku rusuh dan bermental kuli tidak akan menjadi seorang menajer yang baik (dalam artian profesional) meskipun ia melakukan 'his/her paper work perfectly'.

dan ya. meskipun ada pepatah yang berkata 'don't judge a book by it's cover', namun pada realitanya penampilan itu penting bagi kebanyakan orang kebanyakan. dan masyarakat kita, para terdidik kita adalah orang kebanyakan.

tapi yang perlu kita sadari adalah bahwa menjadi gay/lesbian/hemaprodit itu berbeda dengan menjadi bencong. banyak contoh2 yang kita temukan dari kehidupan sehari-hari seorang yang gay dapat berprilaku, berpenampilan, kelihatan lebih laki2 dari yang non gay. (dan begitu juga yang lesbi ataupun yang hemaprodit).

so jika anda menganggap bahwa gay itu = bencong,. maka anda salah besar. maka argumen andapun salah.

monggo.


oke brai... gay memang bukan hombreng, kalau hombreng sudah jelas keliatan orientasi sexsualnya namun gay kadang di awal2 kita tidak tahu kalau orang tersebut adalah seorang gay...

gw pernah 2 kali punya pengalaman pribadi berkenalan dengan gay, awalnya ngga nyangka juga kalu tu orang gay, tp seiring berjalannya waktu (yaelah bahasa gw nohope: ) si teman ini mulai menunjukkan kelainannya di awali dengan pembicaraan yang "aneh" dan tidak jarang menunjukkan tabiat yang membuat gw risih... secara garis besar nya kedua orang yang gw kenal di waktu yang berbeda ini ujung2 nya selalu menunjukkan bahwa dia adalah seorang gay...

Dan dari situ gw berpikir dan menyimpulkan bahwa para penyimpang ini punya masalah dengan orientasi seks yang mengakibatkan kebutuhan seks mereka sulit tersalurkan karenanya pelaku seks menyimpang ini selalu berpetualang mencari pelampiasan seks nya... mungkin juga mereka berusaha membangun sebuah komunitas seperti mereka di lingkungan dia berada...

Sekarang coba ente bayangkan bagaimana seandainya saudara atau anak ente yang berada di lingkungan pendidikan di mana di dalam nya ada seorang pendidik atau staff yang gay,...

se profesional apapun seseorang tp kalau hasrat seks nya sulit tersalurkan pasti yg menjadi sasaran adalah lingkungan terdekat nya, kalau ente ngga percaya coba ente adain investigasi sendiri... tp kalau sampe ente di grepe2 sama homo ane ngga ikutan... D
angling.kusumo - 30/11/2011 12:45 AM
#1492

sedikit selentingan.
jika saya sebagai seorang lelaki menunjukan ketertarikan saya secara sexual terhadap seorang wanita dalam batas kesopanan yang umum, apakah kemudian ketertarikan saya itu menjadikan saya tidak bermoral.?

sekarang saya ubah pertanyaan itu.
jika saya sebagai gay/lesbian menunjukan ketertarikan saya secara sexual terhadap seorang pria/wanita dalam batas kesopanan yang umum, apakah kemudian ketertarikan saya itu menjadikan saya tidak bermoral.?

moggo dijawab...

.

Quote:
Original Posted By poqwajah
di quote sedikit mas...
betul untuk masalah profesional kita tidak boleh membeda2kan.. karena dalam pekerjaan.. yg layak dan cocok pasti akan mendapatkan pekerjaan tanpa memandang status sosial dan pilihan mereka. untuk contoh... mereka yg mendesign pakaian.. atau salon.. kebanyakan orng-orng yg berstatus tidak biasa.
tetapi... untuk masalah pendidikan saya bertentang keras.. karena guru adalah sosok seseorang yang menjadi figur untuk seorang anak. bukan hanya mengajar.. tapi mereka juga mendidik anak tersebut untuk tanggung jawab.. guru juga berperan sebagai orang tua di sekolah... guru juga berperan sebagai teman... apa jadinya kalo guru tersebut berstatus gay/lesbie.. anak2 akan mendapatkan seorang figur gay/lesbie dalam pikirannya... bukan hanya 1 anak... tapi semua anak yang diajar oleh dia...

hehehe... sedikit pendapat ajah.. hehehe Yb


poin yang bagus masbro poqwajah. justru berdasarkan pendapatnya mas poqwajah ini semakin menekankan ketidak bermasalahan guru gay/lesbian. bahkan dalam hal ini saya memikirkan tentang perlunya seorang guru gay/lesbian. yaitu dalam konteks diversitas guru2. guru2 yang terdiri dari berbagai macam pihak oposisi, untuk mengajarkan sebuah hal yang sangat penting bagi anak2 kita bahwa sudah selayaknya kita menghargai manusia dalam prilaku simbiosis mutualisme sosialnya sebagai manusia dan bukan sebagai label2 yang disematkan kepadanya.

.

Quote:
Original Posted By sangkdk
oke brai... gay memang bukan hombreng, kalau hombreng sudah jelas keliatan orientasi sexsualnya namun gay kadang di awal2 kita tidak tahu kalau orang tersebut adalah seorang gay...

gw pernah 2 kali punya pengalaman pribadi berkenalan dengan gay, awalnya ngga nyangka juga kalu tu orang gay, tp seiring berjalannya waktu (yaelah bahasa gw nohope: ) si teman ini mulai menunjukkan kelainannya di awali dengan pembicaraan yang "aneh" dan tidak jarang menunjukkan tabiat yang membuat gw risih... secara garis besar nya kedua orang yang gw kenal di waktu yang berbeda ini ujung2 nya selalu menunjukkan bahwa dia adalah seorang gay...

Dan dari situ gw berpikir dan menyimpulkan bahwa para penyimpang ini punya masalah dengan orientasi seks yang mengakibatkan kebutuhan seks mereka sulit tersalurkan karenanya pelaku seks menyimpang ini selalu berpetualang mencari pelampiasan seks nya... mungkin juga mereka berusaha membangun sebuah komunitas seperti mereka di lingkungan dia berada...

Sekarang coba ente bayangkan bagaimana seandainya saudara atau anak ente yang berada di lingkungan pendidikan di mana di dalam nya ada seorang pendidik atau staff yang gay,...

se profesional apapun seseorang tp kalau hasrat seks nya sulit tersalurkan pasti yg menjadi sasaran adalah lingkungan terdekat nya, kalau ente ngga percaya coba ente adain investigasi sendiri... tp kalau sampe ente di grepe2 sama homo ane ngga ikutan... D


kalau masalah tata krama penyaluran hasrat sex yang tidak pantas sih jangankan yang gay atau lesbian, yang straight pun juga tampak memuakkan.

kebetulan saya juga punya teman straight, gay dan juga lesbian bro. mereka semua bervariasi. bahkan dalam pengamatan saya, mereka yang gay atau lesbian cenderung jauh lebih sopan dalam menyatakan ketertarikan sexualnya jika dibandingkan dengan mereka yang straight (men or women). meskipun itu juga bukan patokan pasti.

anyway, poinnya adalah... masalah cara (tingkat kesopanan dan kelayakan) seseorang dalam melampiaskan hasrat dorongan sexualnya bukan dilihat dari gay/lesbian atau tidaknya ia. bahkan banyak mereka2 yang straight yang lebih menjijikkan, tidak manusiawi dalam upaya, cara mereka melampiaskan hasrat sexual mereka.

hal itu kembali lagi kepada personaliti dari individunya. juga kembali lagi kepada sistem kontrol hukum setempat.

so,,, argumen mengenai "para penyimpang ini (red: gay and/or lesbian) punya masalah dengan orientasi seks yang mengakibatkan kebutuhan seks mereka sulit tersalurkan karenanya pelaku seks menyimpang ini selalu berpetualang mencari pelampiasan seks nya..." saya rasa tidak cukup valid bro.
poqwajah - 30/11/2011 01:27 AM
#1493

Quote:
Original Posted By angling.kusumo
sedikit selentingan.
jika saya sebagai seorang lelaki menunjukan ketertarikan saya secara sexual terhadap seorang wanita dalam batas kesopanan yang umum, apakah kemudian ketertarikan saya itu menjadikan saya tidak bermoral.?

sekarang saya ubah pertanyaan itu.
jika saya sebagai gay/lesbian menunjukan ketertarikan saya secara sexual terhadap seorang pria/wanita dalam batas kesopanan yang umum, apakah kemudian ketertarikan saya itu menjadikan saya tidak bermoral.?

moggo dijawab...


sebenernya.. ini udh OOT sama topic mas..
tapi saya boleh saya sambungkan ke dalam topic tentang lembaga pendidikan...
seorang gay/lesbi ituh memiliki masalah pada mentalnya... sehingga menyebabkan seseorang menjadi luar biasa (biar sopan \)b) nah tidak hanya gay / lesbi yg luar biasa.. tapi banyak orng yg kelihatan normal pun bisa menderita kelainan mental sehingga menjadi luar biasa contoh : pedophile..
nah orang2 yang luar biasa tersebut.. bila mengajar di sebuah lembaga pendidikan.. tidak menutup kemungkinan untuk tertarik dengan murid2 yang masuk dalam kategori "pasangan" mereka... nah bagaimana perasaan anda bila anda adalah seorang murid yang disukai oleh para "guru" luar biasa tsb?
bermoralkah "guru" luar biasa tsb?


Quote:
Original Posted By angling.kusumo

poin yang bagus masbro poqwajah. justru berdasarkan pendapatnya mas poqwajah ini semakin menekankan ketidak bermasalahan guru gay/lesbian. bahkan dalam hal ini saya memikirkan tentang perlunya seorang guru gay/lesbian. yaitu dalam konteks diversitas guru2. guru2 yang terdiri dari berbagai macam pihak oposisi, untuk mengajarkan sebuah hal yang sangat penting bagi anak2 kita bahwa sudah selayaknya kita menghargai manusia dalam prilaku simbiosis mutualisme sosialnya sebagai manusia dan bukan sebagai label2 yang disematkan kepadanya.


1 point sudah saya berikan diatas gan.. silahkan dibaca.. hehe.. nah untuk penjabaran lagi nih... nah point anda sangat betul tentang berbagai macam pihak oposisi untuk mengajarkan hal2 yang sangat penting untuk anak2 kita.. tetapi.. bukan dengan guru gay/lesbie.. karena beberapa negara yang menganut agama.. akan menggalakan bahwa gay/lesbie ituh dilarang oleh agama.. apakah tidak janggal? sekolah beragama memperbolehkan gurunya menentang agama?
dan juga seseorang menjadi gay/lesbie karena adanya trauma pada sejarah hidupnya.. sehingga dia menjadi luarbiasa... dan apabila mereka menjadi guru.. dan trauma mereka terulang kembali... apakah yang akan terjadi? murka? amarah? kekerasan fisik? kita tidak tahu apa yang akan terjadi oleh seseorang dengan mental yang tidak kuat dan kita tidak tahu sedalam apa trauma yang dimiliki oleh orng tsb. itulah salah satu faktor bahwa seseorang gay/lesbi dilarang bekerja di lembaga pendidikan

dari sini juga saya mendapatkan ide.. untuk menggalakan Psychologists indonesia untuk menyembuhkan trauma2 yang diderita oleh para gay/lesbie..

hehehe... CMIIW gan... pendapat doang ko gan.. hehehe...Yb
kempez - 30/11/2011 08:04 AM
#1494

Quote:
Original Posted By
WELCOME DEBATERS

Intellectual Debaters Club
Visi :
- Menjadi wadah para intelektual debaters berkumpul di dunia maya Indonesia.
Misi :

[*]Mengumpulkan debaters yang pintar berargumen dan cantik mengambil celah.
[*]Mendapatkan solusi dan kesimpulan dari debat.



Latar belakang :

[*]Makin banyaknya debaters DC yang hanya mengandalkan kemampuan bacot dan junknya , menjadikan DC seolah tempat para SARAers , tukang flame dan para troller dan junker bermartabat ngumpul tanpa disertai kejeniusan yang memadai
[*]Kurangnya debat bermutu yang benar-benar memperjuangkan pendapatnya dan didukung dengan data dan sumber yang menunjang ( data dan sumber penunjang argumen , bukan sebaliknya - red ) membuat tret-tret yang bermutu jadi ajang debat kusir yg tidak menemukan inti dari permasalahan yang didebatkan dan pembahasan terlalu meluas dan merubah alur tret .
[*]Para debaters yang memang bertujuan debat tidak menemukan lawan yg sesuai dan akhirnya mengikuti arus atau malah tak ikut lagi terlibat dalam tret debat .



Intellectual debaters club terlahir sebagai wadah untuk menampung para debaters berdebat pintar nan cantik.


IDC terbuka kepada siapa saja , sepanjang berminat debat cantik dengan bebas , sesuai dengan rules yang berlaku di thread ini :

[*]Debat bebas tanpa batasan kriteria SARA tapi harus berkualitas dan tidak sekedar flame
[*]Debaters harus jelas menunjukkan sikap pro atau kontra dan mempertahankan mati-matian pendapatnya
[*]Perdebatan tidak meluas , hanya sebatas motion dari topik debat
Contoh :
motion : hukuman mati buat koruptor
maka perdebatannya kagak bahas mending hukuman mati daripada penjara dsb yg ga berhubungan dgn motion
[*]Bahan debat bisa dari tret yang ada buat didebatkan lagi disini , atau disediakan panitia .
[*]Tiap 1 topik maksimal 1 minggu , bila panitia anggap belum 1 minggu sudah stagnan maka segera akan diganti. Bagi yang punya topik menarik ditunggu by pm
[*]Tiap junk post akan dideleted


Trit ini ga untuk didebatkan keberadaannya atau tempat bahas rulesnya , silahkan pm saia bila ada ide atau mau gabung jadi panitia shakehand

















Let's debate. beer:


Yang mau ikutan langsung aja reply , ingat rulesnya mad:


Gak enak banget gan giliran kristen apakah Yesus anak Tuhan? giliran Silom kok cuman Mendukung kekerasan atau tidak ubah donk OS nya jadi
1. Benarkah si Muhamad Nabi Terakhir???
2. Apakah Al-Quran benar diturunkan langsung oleh Allah untuk muhamad???
3. Apakah mencium batu hajaraswat itu bukan tindakan menyekutukan Tuhan???
4. Benarkah cara berdoa dalam silom itu???
5. Benarkah silom itu hanya plagiat dari kristen???
6. dll

itu baru menarik gan..klo OS islam mendukung kekerasan apaan tuh? mo kentud gw baca OS nya dah pasti jawaban nya iya atau tidak ajah kan dan pasti jawabannya dah pada tahu paling itu cuman oknum, segelintir orang, tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan, sementara kristen OS nya mempertanyakan kebenaran Ilahi dari Yesus? bingungs

Got smart to choosen the OS next time, okayyy???
biar sedikit gak kelihatan lo itu sebenernya agama apa???ngakak
angling.kusumo - 30/11/2011 10:11 AM
#1495

Quote:
Original Posted By poqwajah
sebenernya.. ini udh OOT sama topic mas..
tapi saya boleh saya sambungkan ke dalam topic tentang lembaga pendidikan...
seorang gay/lesbi ituh memiliki masalah pada mentalnya... sehingga menyebabkan seseorang menjadi luar biasa (biar sopan \)b) nah tidak hanya gay / lesbi yg luar biasa.. tapi banyak orng yg kelihatan normal pun bisa menderita kelainan mental sehingga menjadi luar biasa contoh : pedophile..
nah orang2 yang luar biasa tersebut.. bila mengajar di sebuah lembaga pendidikan.. tidak menutup kemungkinan untuk tertarik dengan murid2 yang masuk dalam kategori "pasangan" mereka... nah bagaimana perasaan anda bila anda adalah seorang murid yang disukai oleh para "guru" luar biasa tsb?
bermoralkah "guru" luar biasa tsb?


Quote:
Original Posted By poqwajah
1 point sudah saya berikan diatas gan.. silahkan dibaca.. hehe.. nah untuk penjabaran lagi nih... nah point anda sangat betul tentang berbagai macam pihak oposisi untuk mengajarkan hal2 yang sangat penting untuk anak2 kita.. tetapi.. bukan dengan guru gay/lesbie.. karena beberapa negara yang menganut agama.. akan menggalakan bahwa gay/lesbie ituh dilarang oleh agama.. apakah tidak janggal? sekolah beragama memperbolehkan gurunya menentang agama?
dan juga seseorang menjadi gay/lesbie karena adanya trauma pada sejarah hidupnya.. sehingga dia menjadi luarbiasa... dan apabila mereka menjadi guru.. dan trauma mereka terulang kembali... apakah yang akan terjadi? murka? amarah? kekerasan fisik? kita tidak tahu apa yang akan terjadi oleh seseorang dengan mental yang tidak kuat dan kita tidak tahu sedalam apa trauma yang dimiliki oleh orng tsb. itulah salah satu faktor bahwa seseorang gay/lesbi dilarang bekerja di lembaga pendidikan

dari sini juga saya mendapatkan ide.. untuk menggalakan Psychologists indonesia untuk menyembuhkan trauma2 yang diderita oleh para gay/lesbie..

hehehe... CMIIW gan... pendapat doang ko gan.. hehehe...Yb


hehehe... memang agak sedikit oot masgan. D
tapi ga terlalu jauh qo. masih cukup dekat hubungannya. karena disni saya banyak melihat seseorang yang gay/lesbi seringkali dianggap tidak bermoral, makanya masalah term 'moralitas' saya singgung sedikit di sini.

gini masgan

seorang gay/lesbi ituh memiliki masalah pada mentalnya
pertama, (meskipun belum fix alias masih adanya perdebatan) gay/lesbian itu sudah secara umum (mainstream psychologists and psychiatrists) dikatagorikan sebagai 'bukan penyakit mental'
note: di mana saya pribadi sebenernya tidak sepenuhnya setuju akan hal itu, tapi dalam konteks hak azasi manusia dalam hubungannya dengan kehidupan sosial masa pada saat ini, hal itu masih acceptable dalam kadar2 tertentu.
lihat refrensi:
http://psychology.ucdavis.edu/rainbow/html/facts_mental_health.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Homosexuality_and_psychology

dan juga seseorang menjadi gay/lesbie karena adanya trauma pada sejarah hidupnya
nyang boneng masgan.??? D
coba baca ini biar lebih jelas.
http://evergreeninternational.org/causes.htm

.

karena beberapa negara yang menganut agama.. akan menggalakan bahwa gay/lesbie ituh dilarang oleh agama
kedua, saya tidak akan menyinggung masalah agama, keyakinan dan/atau kepercayaan yang menyatakan, menilai bahwa gay/lesbi itu adalah sebuah kesalahan. karena jujur, yang namanya agama, keyakinan, dan/atau kepercayaan itu sangat sulit untuk diperbincangkan dalam alur yang logis.

namun saya mengasumsikan bahwa yang dimaksudkan 'pendidikan' dalam topik pada ruang debat ini adalah pendidikan yang berada dalam ruang konteks pendidikan umum. so,,, kesimpulannya mudah saja. jika alasan anda adalah karena agama mengatakan seperti itu, maka sekolahkan anak anda dalam sekolah agama yang bergerak dalam ruang nilai2 keagamaan. dan jangan masukan anak anda kedalam sekolah sosial umum yang bergerak dalam ruang nilai2 keumuman sosial (dalam hal ini nilai2 humanisme).

.

banyak orng yg kelihatan normal pun bisa menderita kelainan mental sehingga menjadi luar biasa contoh : pedophile..
nah orang2 yang luar biasa tersebut.. bila mengajar di sebuah lembaga pendidikan.. tidak menutup kemungkinan untuk tertarik dengan murid2 yang masuk dalam kategori "pasangan" mereka

intermezzo,.
jadi bisa saya asumsikan bahwa anda menganggap orang normal (laki2 normal) tidak (tidak bisa) tertarik (secara sexual) terhadap anak didiknya (gadis sma dan/atau bahkan smp misalnya).???
come on... let us be honest to our self.
apa anda tidak bisa melihat kenyataan yang terjadi dalam kehidupan kita ini.?

contoh nyata ni ye gan.
laki2 normal juga ngaceng gan klo liat anak sma yang sexy. bahkan (beberapa) anak smp yang udah masuk masa pubertaspun bisa bikin laki2 normal ngaceng gan. D
baca postingan ane gan.
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=565050831&postcount=1483
padahal anak sma dan smp itu (pada saaat ini) masuk kedalam katagori bawah umur, dan yang suka (memiliki hasrat) sama anak sma dan/atau smp dikatagorikan sebagai penyuka bawah umur >- pedophile. (?)
apakah anda bisa melihat sebuah pemunafikan kenyataan yang lucu di sini.?

nah, seperti yang sudah saya sebutkan, bahwa kengacengan itu, hasrat sexual itu adalah masalah tubuh, masalah personal. siapapun punya masalah itu. dan it's okay. yang menjadi masalah adalah saat kita melakukan sebuah tindakan (prilaku) yang secara nilai moralitas dianggap tidak layak membawa masalah personal itu kedalam ruang komunal. agresi.

.

menampilkan ke oot an is ok dengan syarat, masih memiliki kedekatan interkoneksi masalah dan dengan tujuan sebagai penjelas peletakan nilai2 dasar logika. \)

monggo. ^ ^
sangkdk - 30/11/2011 11:56 AM
#1496

Quote:
Original Posted By angling.kusumo
sedikit selentingan.
jika saya sebagai seorang lelaki menunjukan ketertarikan saya secara sexual terhadap seorang wanita dalam batas kesopanan yang umum, apakah kemudian ketertarikan saya itu menjadikan saya tidak bermoral.?

sekarang saya ubah pertanyaan itu.
jika saya sebagai gay/lesbian menunjukan ketertarikan saya secara sexual terhadap seorang pria/wanita dalam batas kesopanan yang umum, apakah kemudian ketertarikan saya itu menjadikan saya tidak bermoral.?

moggo dijawab...

.



poin yang bagus masbro poqwajah. justru berdasarkan pendapatnya mas poqwajah ini semakin menekankan ketidak bermasalahan guru gay/lesbian. bahkan dalam hal ini saya memikirkan tentang perlunya seorang guru gay/lesbian. yaitu dalam konteks diversitas guru2. guru2 yang terdiri dari berbagai macam pihak oposisi, untuk mengajarkan sebuah hal yang sangat penting bagi anak2 kita bahwa sudah selayaknya kita menghargai manusia dalam prilaku simbiosis mutualisme sosialnya sebagai manusia dan bukan sebagai label2 yang disematkan kepadanya.

.



kalau masalah tata krama penyaluran hasrat sex yang tidak pantas sih jangankan yang gay atau lesbian, yang straight pun juga tampak memuakkan.

kebetulan saya juga punya teman straight, gay dan juga lesbian bro. mereka semua bervariasi. bahkan dalam pengamatan saya, mereka yang gay atau lesbian cenderung jauh lebih sopan dalam menyatakan ketertarikan sexualnya jika dibandingkan dengan mereka yang straight (men or women). meskipun itu juga bukan patokan pasti.

anyway, poinnya adalah... masalah cara (tingkat kesopanan dan kelayakan) seseorang dalam melampiaskan hasrat dorongan sexualnya bukan dilihat dari gay/lesbian atau tidaknya ia. bahkan banyak mereka2 yang straight yang lebih menjijikkan, tidak manusiawi dalam upaya, cara mereka melampiaskan hasrat sexual mereka.

hal itu kembali lagi kepada personaliti dari individunya. juga kembali lagi kepada sistem kontrol hukum setempat.

so,,, argumen mengenai "para penyimpang ini (red: gay and/or lesbian) punya masalah dengan orientasi seks yang mengakibatkan kebutuhan seks mereka sulit tersalurkan karenanya pelaku seks menyimpang ini selalu berpetualang mencari pelampiasan seks nya..." saya rasa tidak cukup valid bro.


serius ente bro... sepanjang pengamatan gw terhadap kaum gay (kalo lesbi emang belum pernah) mereka malah sangat menakutkan menurut saya, kenapa saya katakan begitu.. " seorang gay mengungkapkan ketertarikannya kepada orang normal bisa menimbulkan efek trauma kepada orang yang masih normal (dan ini adalah fakta di gw sebagai orang normal), apalagi jika itu nanti sampai ke dalam lingkungan pendidikan...think "

Biar bagaimanapun gay / lesbi juga punya masalah dengan ke jiwaan karena mereka lebih menyukai sesama jenis, padahal di dunia ini selalu ada dua yang sejalan... ada hitam ada putih, ada siang ada malam, ada laki2 ada wanita, ada baik ada jahat... sementara gay kalo di ibaratkan audio adalah mono bukan stereo... malu:

Oleh karena itu saya tetap Pro bahwa gay di larang bekerja di lingkungan Pendidikan karena punya potensi menularkan ke homoan nya kepada lingkungannya... \)
memeknyan - 30/11/2011 12:10 PM
#1497

Emang udah saatnya formulir or aplikasi calon karyawan musti dicantum kolom orientasi sexual.... Ini diperlukan utk mengikutin perkembangan jaman aja

perlu banget jink thumbup: (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?
prop1000 - 30/11/2011 01:19 PM
#1498

Quote:
Original Posted By memeknyan
Emang udah saatnya formulir or aplikasi calon karyawan musti dicantum kolom orientasi sexual.... Ini diperlukan utk mengikutin perkembangan jaman aja

perlu banget jink thumbup: (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?

isiannya cuman 2: heterosex & other.
begitu pilih other, langsung gak diterima. nohope:

gw juga usul nanti ada pilihan tambahan: monogami & poligami.

nanti ada kelas yang gurunya khusus monogami & ada kelas yang khusus poligami.

what else?

oiya, sekalian panjang konthol juga masukin. biar gampang L,M,S aja.
nanti bisa jadi bahan masukan orang tua murid pilih guru yang mana. hammer:
sangkdk - 30/11/2011 01:32 PM
#1499

Quote:
Original Posted By prop1000
isiannya cuman 2: heterosex & other.
begitu pilih other, langsung gak diterima. nohope:

gw juga usul nanti ada pilihan tambahan: monogami & poligami.

nanti ada kelas yang gurunya khusus monogami & ada kelas yang khusus poligami.

what else?

oiya, sekalian panjang konthol juga masukin. biar gampang L,M,S aja.
nanti bisa jadi bahan masukan orang tua murid pilih guru yang mana. hammer:


beginikah argumen seorang debate entutsias yang katanyan intelek... nohope:

kenapa jadi bahas monogami & poligami... bukannya sekarang lagi bahas monosexual alias kaum penyuka sesama jenis.... D
Inzict - 30/11/2011 01:59 PM
#1500

Quote:
Original Posted By widya poetra
Ybhi:


Yb Halo gan.

Quote:

Sumber aslinya di sini:
http://www.familyresearchinst.org/2009/02/what-causes-homosexual-desire-and-can-it-be-changed/

Ane coba cari2 sumber kutipannya gak ada:
di klik angka-nya keluar "Error 404 - Not Found"

Jadi ane gak bisa ngecek kutipannya.
Itu yang pertama,


Kutipan kalimat yg mana yg error gan? o

Quote:

yang kedua,
track record Family Research Institute itu ternyata buruk.
Lembaga yang masuk dalam daftar kelompok pengajar kebencian,
terhadap kaum gay tentu saja.
Penelitian terhadap kelompok ini menyimpulkan
setidaknya ada 6 error yang serius dalam teknik sampling, metodologi, dan interpretasi sehingga tidak valid.


Family Research Institute (FRI) ini bukan kelompok pengajar kebencian gan,
tp sebuah institute penelitian tentang keluarga, obat2an terlarang & penyakit seks di Colorado Amerika,
yg pendiriannya didasari oleh aturan2 dlm agama Kristen.

Jadi setiap hasil penelitiannya didasarkan dr temuan2 di lapangan
yg disesuaikan dg aturan2 gereja
serta norma2 masyarakat tradisional yg berlaku. o

Sama halnya dg Lembaga Penelitian milik Majelis Ulama Indonesia (MUI),
segala hasil temuan ttg haram atau enggaknya suatu kasus atau suatu produk
didasarkan dr temuan di lapangan yg disesuaikan dg ajaran di Alquran.
Fatwa2 MUI jg bnyk menuai pro & kontra kan o

Kalau sy menggunakan dasar pemikiran anda di atas,
maka bs sy simpulkan MUI jg kelompok pengajar kebencian di Indonesia dong. o

Quote:

Pendirinya, yang nulis artikel di atas, itu Paul Cameron.
Track record-nya juga buruk.
Banyak disebut2 melakukan misinterpretasi riset.
Kredibilitasnya di luar akademia juga meragukan, dalam hal ini dibidang hukum mengenai pelecehan terhadap anak2.
Cek di sini.


Krn Paul Cameron ini pemegang agama Kristen yg taat.
Segala hasil temuannya disesuaikan dg ajaran agama Kristen.
Sama halnya dg para ulama2 di MUI tsb.
Apa ulama2 MUI yg mengeluarkan Fatwa2 itu jg bs dibilang memiliki track yg buruk gan? o

Quote:

Berhubung ane gak bisa dapetin kutipan sumbernya mana,
terpaksa ane pake cara kedua: kredibilitas Paul Cameron dan Family Research Institute mengenai homoseksualitas itu meragukan.
Artinya, artikel yang ente bawa itu meragukan.


Anda meragukan hasil temuan FRI ibaratnya spt anda meragukan kredibilitas fatwa2 MUI di Indonesia gan. o
Sdgkn hasil temuan FRI ini pun dipakai oleh bnyk pengajar2 & dosen psikologi di seluruh dunia.
Buktinya sumber yg sy bawa kmrn adalah dr seorang dosen psikologi sebuah universitas Islam di Indonesia. o

Quote:

Ane cermati keberatan ente saja deh,
ane ambil 2 poin:
1. Homoseksual cenderung agresif mencari penerus dengan mencabuli anak2.
2. Pengaruh budaya.


Bukan hanya dua faktor itu aja kan keberatan saya gan o

Quote:

Yang pertama,
itu tidaklah benar.

Ane ambil dari penelitiannya Jenny dkk,
dia mengamati 269 kasus pelecehan seksual terhadap anak,
82% dilakukan oleh heteroseksual yang merupakan keluarga dekat,
hanya 2 kasus dilakukan oleh homoseksual,
sisanya berarti dilakukan oleh heteroseksual yang bukan keluarga dekat.


Karena jumlah org normal lbh bnyk drpd org2 homo gan nohope:
Perbandingannya tdk sesuai.

Quote:

Nah,
setelah dihitung2 risiko anak yang dilecehkan ternyata dilecehkan oleh yang teridentifikasi homoseksual itu hanya 0-3,1%. Sisanya 96,9-100% berarti oleh heteroseksual.


0-3,1% itu klo dibandingkan dg jumlah homo yg minoritas,
itu sudah termasuk angka yg besar. nohope:

Logikanya begini.
Jumlah org normal 92, jumlah orang homo 8, total semua 100 org.
Kemudian ada kasus pelecehan seksual hasilnya:
1. Dilakukan org normal 30%
2. Dilakukan org homo 3 %
Ya jelaslah lbh bnyk kriminal oleh org normal,
krn jumlah org normal lbh bnyk drpd org homo. nohope:
Tp klo dilihat dr sensus org homo, angka 3% itu trmsk fantastis gan. nohope:

Quote:

Coba bayangkan dari 3,1% itu berapa % yang tenaga pendidik,
keberatan nomer 1 tidak beralasan.
Sumber: Pediatrics Vol. 94 No. 1 July 1, 1994 pp. 41 -44


Sama spt penjelasan di atas, krn jumlahnya yg minoritas. o

Quote:

Mungkin timbul pertanyaan,
masak anak cowok dilecehkan oleh cowok dewasa dan cowok dewasa itu heteroseksual?

Ternyata emang kenyataannya umum seperti itu,
Groth dan Birnbaum dari penelitiannya menyimpulkan bahwa laki2 heteroseksual memberi risiko yang lebih tinggi terhadap anak2 dibanding laki2 homoseksual.

Dari semua pelaku pelecehan yang ditelitinya (175 laki2),
yang gak fix tertarik pada anak2 doang,
ternyata semuanya heteroseksual,
entah korbannya itu anak laki2 maupun anak perempuan.
Sumber: Arch Sex Behav. 1978 May;7(3):175-81.


Setidaknya para homo ini ada yg melakukan pelecehan seksual gan,
dan ada yg "tertarik" menjadi penerus homoseksual berikutnya.

Seperti yg sy tulis di post depan,
cuma butuh 1 homo utk membuat bnyk anak2 mjd homo2 berikutnya.

Quote:

Sekali lagi keberatan bahwa tenaga pendidik homoseksual akan melecehkan anak didiknya itu mitos.


confused: Buktinya bnyk kasusnya.

Quote:

Tambahan sedikit:
- Kalau ada laporan bahwa homoseksual punya insiden dilecehkan secara seksual lebih tinggi dibanding heteroseksual saat anak2,
tidak serta merta pelecehan seksual saat anak2 mengakibatkan homoseksual.

Bisa jadi sebaliknya,
orientasi homoseksualnya yang membuat dia lebih berisiko dilecehkan.
Misalnya, homoseksual yang berperangai seperti anak cewek tentunya lebih berisiko dilecehkan.


confused: Klo org normal melecehkan org homo itu beda lg kasusnya!

Quote:

Keberatan nomer 2,
pengaruh budaya:
intinya mau bilang >= budaya pro maka kaum homoseksual bertambah dengan mengambil contoh studi dari penelitian Kinsey dimana aktivitas homoseksual lebih rendah dijumpai di komunitas yang kuat beragama.

Kurang tepat bila disimpulkan demikian,
yang bener: budaya pro maka kaum homoseksual yang berani mengakui dirinya homoseksual bertambah.


Dan akan bnyk yg "tertarik" ke dalam orientasi tsb. think:
Krn lingkungan jg pny "power" utk mempengaruhi orientasi org lain.
Membiarkan anak didik kita diracun otaknya oleh org homo & mjd tertarik msk ke dlmnya
bagi sy bnr2 spt melepas anak kecil ke dlm kandang macan.

Kontra thdp budaya mendukung homo ini terutama di negara2 Islam & daerah2 berbasis Syariat Islam
sbnrnya mrpkn upaya utk menekan aktivitas & ruang gerak para homo2 ini
spy tdk meracuni orientasi2 masyarakat umum,
khususnya anak2 yg msh labil emosinya & mudah terpengaruh ke dlm pergaulan. think:

Quote:

Seperti kidal saja,
kalo budaya menekan orang kidal supaya pakai tangan kanan
tentunya orang yang pakai tangan kiri lebih sedikit
dibanding budaya yang pro terhadap kidalisme.
Bukan berarti budaya pro menambah orang kidal.


Memangnya kidal sama ya gan dg homoseksual yg bisa "menarik" orang utk masuk di dalamnya. amazed:
Bedanya kidal & homoseksual itu,
kidal itu bawaan, sedang homoseksual itu hasil pengalaman yg disimpulkan oleh pikiran (kemudian disebut orientasi).
Yg namanya orientasi itu sebuah pandangan yg mendasari org utk berpikir & bersikap.
Jd klo orientasi/ pandangannya berubah, ya berubah pola pikir & sikapnya.

Quote:

Sekarang kita hubungkan dengan tenaga pendidik,
seberapa besarkah pengaruh tenaga pendidik yang kerjaannya hanya mengajarkan ilmunya kepada anak didiknya dan bukan mengajarkan bagaimana orientasi seksual?


Guru = digugu & ditiru. thumbup:
Pelajaran yg mempengaruhi orientasi seks, bs ditularkan lwt pelajaran yg diajarkan.
Sy aja msh bnr2 inget bgmn pelajaran biologi guru SD sy ttg organ2 wanita,
smp skrg pelajaran itu msh berpengaruh di pikiran sy dlm menilai wanita D

Quote:

Bandingkan dengan publik figur seperti artis2 yang berlagak sebagai homoseksual,
sebut saja namanya Olga, yang terkesan menyukai sesama jenis,
tema2 ini kan sering muncul di televisi yang notabene banyak ditonton oleh anak2 kecil.

Jadi keberatan kedua karena budaya itu udah salah tempat masih salah kaprah.


Sy kurang tau yg kasus Olga ini, supaya nanti tdk menggeneralisir suatu permasalahan.
Sy jg msh blm jelas ttg kesimpulan anda ini. o

Quote:
Saya lanjut dibawah gan, terlalu panjang soalnya malu:
Page 75 of 332 | ‹ First  < 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 >  Last ›
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?