DEBATE CLUB
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?
Total Views: 126104 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 77 of 332 | ‹ First  < 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 >  Last ›

memeknyan - 30/11/2011 09:28 PM
#1521

Dopostt (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?
beuted - 30/11/2011 09:39 PM
#1522

lah apakah si pengajar juga mengajarkan ilmu perhomonisasi kepada murid nya?
kalo si guru yang "kelainan" itu mengajarkan ilmu tanpa ada unsur lain ya sah2 aja.
lain cerita nya kalo tu guru "sakit" mengajarkan cara ngesex ala homo.
baru deh guru model gitu sudah bisa dibakar sampe tinggal abu shakehand
Choa - 30/11/2011 09:58 PM
#1523

Quote:
Original Posted By widya poetra
Ybhi:


Kok wikipedia nohope:
Ane ambil dari situs aslinya tuh http://www.familyresearchinst.org/2009/02/what-causes-homosexual-desire-and-can-it-be-changed/
coba cek bagian references di bawah, gak ada apa2
terus coba cek angka setelah kutipan,
kalo di ane not found tuh, siapa tau error-nya di ane.



Fakta ya fakta, norma ya norma.
Kalo fakta bilang insiden homo melecehkan anak2 lebih kecil daripada hetero,
kenapa si Cameron bilang sebaliknya,
itu udah memutarbalikkan fakta demi norma.



Ini mau bahas fatwa tukang ojek atau homo, gan. nohope:




Bukan masalah pro & kontra,
kontra boleh,
tapi jangan memutar balikkan fakta dong,
apalagi di pengadilan hammer:

Dan itu yang dilakukan oleh pendiri FRI,
wajar saja diragukan kredibilitasnya.

Soal mencari titik tengah lihat post paling bawah.


nohope:
Bukannya membuktikan pemutarbalikkan fakta oleh FRI dan Paul Cameron itu keliru, malah ngomongin politisi dan UU.
Justru itu yang diperjuangkan kaum LGBT.




http://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&q=homosexual+apa&btnG=Telusuri&as_ylo=&as_vis=0

cek juga wiki:
http://en.wikipedia.org/wiki/American_Psychological_Association
The American Psychological Association (APA) is the largest scientific and professional organization of psychologists in the United States.


Kalau ilmu bilang homoseksualitas bukan kelainan terima nggak, gan? D
Lihat post paling bawah.



Sumber wiki darimana,
jelas2 itu sumber dari jurnal langsung capedes

Di sini kan lagi bahas homo jadi tenaga pendidik, bukan pedofil jadi tenaga pendidik. nohope:

Emang kalo pedofilnya hetero, menurut ente oke2 aja jadi tenaga pendidik? hammer:



Justru faktanya demikian,
berdasarkan penelitian,
ternyata yang melecehkan anak2 itu lumayan banyak yang orientasi seksualnya hetero (tertarik sama lawan jenis, gak tertarik sama sesama jenis),
ingat di sini orientasi seksual kepada orang yang sama2 dewasa,
kalo orientasi seksual kepada anak2 itu namanya pedofil,
buat hetero-pedofil, jenis kelamin anak2nya ternyata bebas takuts:.
Itu fakta, gan.


nohope:

Kalo banyak malah meyakinkan itu bukan generalisasi,
kalo ngasih contoh 1 terus disimpulkan secara umum itu baru generalisasi.

Ini orang gimana sih. berdukas




Ini kan ane lagi ngomentarin pendapatnya ente:

Anak kecil dilecehkan oleh seseorang yang berjenis kelamin sama, setelah dewasa jadi homoseksual.

Ente menyimpulkan: pelecehan dengan seks yang sama menyebabkan homoseksual.

Itu belum tentu benar,
bisa jadi anak tersebut memang udah punya orientasi homoseksual dan punya sifat2 tertentu yang membuatnya lebih berisiko diincar oleh pedofil.



Lha,
emangnya guru hetero gak bisa salah. nohope:

Guru punya porsi banyak mempengaruhi orientasi seksual,
then PROVE IT.



Cuman ditegur aja ya,
bukan dilarang. o



Nih

All major national mental health organizations have officially expressed concerns about therapies promoted to modify sexual orientation. To date, there has been no scientifically adequate research to show that therapy aimed at changing sexual orientation (sometimes called reparative or conversion therapy) is safe or effective. Furthermore, it seems likely that the promotion of change therapies reinforces stereotypes and contributes to a negative climate for lesbian, gay, and bisexual persons. This appears to be especially likely for lesbian, gay, and bisexual individuals who grow up in more conservative religious settings.
Sumber: clik


The task force conducted a systematic review of the peer-reviewed journal literature on sexual orientation change efforts (SOCE) and concluded that efforts to change sexual orientation are unlikely to be successful and involve some risk of harm, contrary to the claims of SOCE practitioners and advocates.
Sumber: click



Sampai puas tentunya,
kalo melanggar etik tinggal kasih sanksi indisipliner.
Bukan asal nglarang. nohope:



Silakan saja kalo punya dasar.



Cuman ditegur saja ya,
bukan dilarang?
Kalo pendidik homo tinggal ditegur saja jangan berlagak "femme".




nohope:



Yang suka ngomongin kelainan2,
coba baca ini dulu:

Mengenai hal itu dr Lukas Mangindaan, SpKJ, Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia membenarkannya.

"Homoseksualitas kini tidak lagi dikategorikan sebagai gangguan jiwa atau penyimpangan seksual. Penghapusan homoseksualitas sebagai gangguan jiwa merupakan keputusan Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) pada 17 Mei 1990 dan keputusan Departemen Kesehatan Indonesia yang dicantumkan dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia, edisi II tahun 1983," kata dr Lukas saat berbicara dalam seminar nasional Seksualitas yang Ditabukan: Tantangan Keberagamaan di Hotel Sahid, Jakarta Pusat, Selasa (11/11/2008).

Lebih lanjut dr Lukas menuturkan, baik homoseksualitas, biseksualitas, atau heteroseksualitas kini dikategorikan sebagai bagian dari identitas atau ciri khas seseorang.

"Sesuatu yang berbeda tidak secara otomatis berarti 'lebih baik' atau 'lebih buruk' dan kita juga perlu melihat pelbagai jenis identitas diri orang sebagai bagian dari keberagaman manusia, jadi kita perlu bersikap pluralistik tanpa harus bersikap apriori atau disertai dengan perasaan emosional tertentu. Justru yang diperlukan adalah sikap berempati," paparnya.

Sumber: click


Nah,
kalo homoseksualitas bukan lagi kelainan,
maka semua argumen anda runtuh berantakan.



PS:
tambahan,
yang di atas dikritisi yang melecehkan anak2 itu pedofil,
ya emang tepat sekali yang melecehkan anak2 itu pedofil, bisa hetero bisa homo.
Nah, riset yang ini meneliti orang2 yang normal / bukan pedofil, baik hetero maupun homo, tentang respon seksualnya terhadap anak-anak.

Freund dkk menemukan bahwa laki2 homoseksual respon terhadap anak2 laki tidak beda dengan laki2 heteroseksual merespon anak2 perempuan. Respon diukur dari perubahan volume *sensor*.
Sumber: Journal of Sex Research Volume 26, Issue 1, 1989
Ternyata mitos kalo homo suka ngincer anak2.


mesti gua akui berat counter argument loh :thumbup

jika ente bawa WHO, habis dah urusan dari segi hukum, bagai mana kalau dari segi agama?
semua agama pasti melarang dan masih termasuk penyimpangan

kedua bagaimana dari segi budaya indonesia?

dari 3 hal 2 hal melarang hombreng dkk bekerja di dunia pendidikan
cuma satu hal dari segi hukum (yang hampir seratus persen tidak di taati di negara republik ini mendukung

so pelarangan still win in this country
bagi homo, gay, lesbi bekerja di dunia pendidikan

case close contra win army:
jyouninz - 30/11/2011 10:02 PM
#1524

Quote:
Original Posted By Choa
mesti gua akui berat counter argument loh :thumbup

jika ente bawa WHO, habis dah urusan dari segi hukum, bagai mana kalau dari segi agama?
semua agama pasti melarang dan masih termasuk penyimpangan

kedua bagaimana dari segi budaya indonesia?

dari 3 hal 2 hal melarang hombreng dkk bekerja di dunia pendidikan
cuma satu hal dari segi hukum (yang hampir seratus persen tidak di taati di negara republik ini mendukung

so pelarangan still win in this country
bagi homo, gay, lesbi bekerja di dunia pendidikan

case close contra win army:


closed apa'an amazed:

gue PRO, malu:

sekarang jawab pertanyaan gue, ada gak guru yang ngaku kalo dia gay/lesbi ? malu:
Choa - 30/11/2011 10:51 PM
#1525

Quote:
Original Posted By jyouninz
closed apa'an amazed:

gue PRO, malu:

sekarang jawab pertanyaan gue, ada gak guru yang ngaku kalo dia gay/lesbi ? malu:


ngak tahu,

kalau ngaku , pecat army:

anti vbot
jyouninz - 30/11/2011 11:12 PM
#1526

kissing: hi:

Quote:
Original Posted By Choa
ngak tahu,

kalau ngaku , pecat army:

anti vbot


nah, emang ada jadi persyaratan tenaga pendidik profesional :

[SIZE="4"]
[*]tidak gay tidak pula lesbian


?

secara umum, tidak ada larangan ataupun persyaratan mengenai hal ini,
yang saya liat hanya point of ignorance disini malu:
emang ada peraturan di hukum atau agama manapun bahwa seorang TENAGA PENGAJAR HARUS seorang yang TIDAK GAY/LESBIAN ? D

disini kita bicara tentang tenaga pengajar profesional D
tau arti profesional kan? D[/SIZE]
—I have cried because of God—
Choa - 30/11/2011 11:20 PM
#1527

Quote:
Original Posted By jyouninz
kissing: hi:



nah, emang ada jadi persyaratan tenaga pendidik profesional :

[SIZE="4"]
[*]tidak gay tidak pula lesbian


?

secara umum, tidak ada larangan ataupun persyaratan mengenai hal ini,
yang saya liat hanya point of ignorance disini malu:
emang ada peraturan di hukum atau agama manapun bahwa seorang TENAGA PENGAJAR HARUS seorang yang TIDAK GAY/LESBIAN ? D

disini kita bicara tentang tenaga pengajar profesional D
tau arti profesional kan? D[/SIZE]
—I have cried because of God—


gua tanya dulu

ente ngertinya pembahasan disini,
kalau pendidikan sekolah meliter itu termasuk pendidik ngak para instrukturnya
baik dari kalangan meliter sendiri atau dari kalangan sipil

jawab yabatas
widya poetra - 30/11/2011 11:37 PM
#1528

Ybhi:

Quote:
Original Posted By Choa
mesti gua akui berat counter argument loh :thumbup

jika ente bawa WHO, habis dah urusan dari segi hukum, bagai mana kalau dari segi agama?
semua agama pasti melarang dan masih termasuk penyimpangan

kedua bagaimana dari segi budaya indonesia?

dari 3 hal 2 hal melarang hombreng dkk bekerja di dunia pendidikan
cuma satu hal dari segi hukum (yang hampir seratus persen tidak di taati di negara republik ini mendukung

so pelarangan still win in this country
bagi homo, gay, lesbi bekerja di dunia pendidikan

case close contra win army:

Kristen, Islam kayaknya gak ada harapan,

kalo Hindu kayaknya juga gak ada harapan deh,
kalo Budha, mungkin perlu ditanya dulu.
Konghuchu juga perlu ditanyaken dulu.

Jangan lupa,
aliran kepercayaan di Indonesia juga punya hak,
ntar ane cari aliran kepercayaan mana yang menghormati homoseksual.
Kalo nggak ada, ane bikin sendiri aja deh. ngakaks

Mau bahas segi agama dan budaya,
siapa takut. siul:

tapi mau molor dulu.............ngacir:
jyouninz - 30/11/2011 11:38 PM
#1529

kissing: hi:

Quote:
Original Posted By Choa
gua tanya dulu

ente ngertinya pembahasan disini,
kalau pendidikan sekolah meliter itu termasuk pendidik ngak para instrukturnya
baik dari kalangan meliter sendiri atau dari kalangan sipil

jawab yabatas


kalo saya mau lebih luas, D
ini lebih kepada fenomena seorang gay/lesbian, yang bekerja di lembaga pendidikan \)
pekerjaan di lembaga pendidikan itu gak cuma jadi tenaga pendidik/pengajar \)
ada juga admin, TU, kepsek, dan lain2 mungkin yang mendukung terjadinya pendidikan,

nah, sekali lagi, yang saya nyatakan adalah profesionalitas seorang yang bekerja di mana pun itu,.

untuk jawaban dari pertanyaan(atau pernyataan sih itu? bingungs ), adalah, iya.
—I have cried because of God—
volzhierrr - 30/11/2011 11:52 PM
#1530

Quote:
Original Posted By prop1000


kalaupun, sekali lagi, kalaupun sex-orientation dipengaruhi oleh lingkungan, darimana loe berkesimpulan bahwa hal tersebut hanya mungkin terjadi kalau gurunya homo?


kalau "Hanya", seolah2 cmn dr guru homo doang.
apa yg lu blng bs dr guru heterosex sekalipun, scr langsung/tdk

tp permasalahnya definisi baik/buruk thdp homosexual sendiri..
guru homo klo liat murid ada gelagat homo bknnya di didik, supaya berubah. malah ngk masalah karna dia sendiri homo.

Quote:
Original Posted By prop1000

so, jelasin posisi loe kalau gitu.
pro-pelarangan untuk guru TK & SD saja? atau semuanya?


pro..

untuk semuanya.
TK/SD dpt mempengaruhi. langsung/tdk langsung
SMP/SMA. cuman jadi goblog2an anak muridnya. biarpun tuh homo pinter sekalipun. kalau gayanya kayak olga.
anak murid bakal kurang respek dalam ajarannya. (terkecuali orang homo yang badannya pada keker, mukanya macam debcol. )
pengalaman gw guru SMA yg bencong2 kgk ada yg tegas.

mending sama guru muka sangar, biar tuh guru goblog. murid2 lebih tkut. dan lebih memperhatikan pelajarannya.


gw bkn nyolot...
angling.kusumo - 01/12/2011 12:03 AM
#1531

Quote:
Original Posted By Choa
mesti gua akui berat counter argument loh :thumbup

jika ente bawa WHO, habis dah urusan dari segi hukum, bagai mana kalau dari segi agama?
semua agama pasti melarang dan masih termasuk penyimpangan

kedua bagaimana dari segi budaya indonesia?

dari 3 hal 2 hal melarang hombreng dkk bekerja di dunia pendidikan
cuma satu hal dari segi hukum (yang hampir seratus persen tidak di taati di negara republik ini mendukung

so pelarangan still win in this country
bagi homo, gay, lesbi bekerja di dunia pendidikan


case close contra win army:


case close dari hongkong.?! :P

maap kalo tulisan saya dibawah tulisan ini adalah tulisan OOT

ni ane tulis lagi tema debatnya.
Topik 8 :Pelarangan Gay / Lesbian Bekerja di Lembaga/Institusi Pendidikan.
pro atau kontra.?

baca dan pahami baik2.
perdebatan bukanlah membahas mengenai realita apa yang terjadi. tapi lebih ke, mengenai apa yang selayaknya/sebaiknya terjadi. dan tentunya kelayakan itu dinilai dari alur logis yang jelas yang disertai data2 ilmiah yang valid.

ane beri gambaran bagaimana perdebatan yang layak.
argumen.
- dari segi hukum. pro atau kontra.?
a. saya pro. karena logikanya berdasarkan data yang valid adalah begini, dan begini, maka begini. (premis 1, premis 2, premise n, konklusi/kesimpulan)
b. saya kontra. karena logikanya berdasarkan data yang valid adalah begini, dan begini, maka begini.
- dari segi agama. pro atau kontra.?
- dari segi budaya. pro atau kontra.?
- dari segi kemanusiaan.
- dari segi sudut pandang universal
- dari segi pendidikan itu sendiri.
- dari segi dll dkk dst.

counter argumen.
- dari segi hukum.
wah ga bisa gitu. bahwa premise n yang anda cantumkan adalah sebuah data yang invalid yang berakibat menyebabkan konklusi anda salah. seharusnya, bla bla bla bla...

reverse counter argumen.
hoo... anda salah memahami. yang saya maksud adalah, bla bla bla bla bla bla...

dst...

kemudian setelah dirasa cukup (time based atau kesepakatan) ditariklah kesimpulan logis berdasarkan argumen2 diatas itu tentang mana yang selayaknya menjadi prioritas. yang mana secara logis yang akan memberikan hasil yang terbaik.
apakah dengan menjadi pro.?
ataukah dengan menjadi kontra.?

[intellectual debate]

cmiiw...
monggo lanjut lagi debatnya. ^ ^)v
widya poetra - 01/12/2011 12:06 AM
#1532

Ybhi:


Post 1 kali lagi deh sebelum molor


Quote:
Original Posted By volzhierrr
kalau "Hanya", seolah2 cmn dr guru homo doang.
apa yg lu blng bs dr guru heterosex sekalipun, scr langsung/tdk

tp permasalahnya definisi baik/buruk thdp homosexual sendiri..
guru homo klo liat murid ada gelagat homo bknnya di didik, supaya berubah. malah ngk masalah karna dia sendiri homo.

pro..

untuk semuanya.
TK/SD dpt mempengaruhi. langsung/tdk langsung
SMP/SMA. cuman jadi goblog2an anak muridnya. biarpun tuh homo pinter sekalipun. kalau gayanya kayak olga.
anak murid bakal kurang respek dalam ajarannya. (terkecuali orang homo yang badannya pada keker, mukanya macam debcol. )
pengalaman gw guru SMA yg bencong2 kgk ada yg tegas.

mending sama guru muka sangar, biar tuh guru goblog. murid2 lebih tkut. dan lebih memperhatikan pelajarannya.

gw bkn nyolot...

Homo ada juga yang sangar, macho,
hetero ada juga yang gak sangar, feminim.

Berarti bukan masalah orientasi seksualnya dong,
tapi masalah gayanya.

Di form lamaran dicantumin mesti dicantumin begini:
Gaya & Sikap:
1. Sangat macho
2. Macho
3. Agak macho
4. Agak feminim
5. Feminim
6. Sangat feminim

Kalo yang nglamar cowok ngisinya di 4-6, langsung ditolak.
Kalo yang nglamar cewek ngisinya di 1-3, langsung ditolak.


ngakak
volzhierrr - 01/12/2011 12:06 AM
#1533

Quote:
Original Posted By widya poetra

Yang suka ngomongin kelainan2,
coba baca ini dulu:

Mengenai hal itu dr Lukas Mangindaan, SpKJ, Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia membenarkannya.

"Homoseksualitas kini tidak lagi dikategorikan sebagai gangguan jiwa atau penyimpangan seksual. Penghapusan homoseksualitas sebagai gangguan jiwa merupakan keputusan Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) pada 17 Mei 1990 dan keputusan Departemen Kesehatan Indonesia yang dicantumkan dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia, edisi II tahun 1983," kata dr Lukas saat berbicara dalam seminar nasional Seksualitas yang Ditabukan: Tantangan Keberagamaan di Hotel Sahid, Jakarta Pusat, Selasa (11/11/2008).

Lebih lanjut dr Lukas menuturkan, baik homoseksualitas, biseksualitas, atau heteroseksualitas kini dikategorikan sebagai bagian dari identitas atau ciri khas seseorang.

"Sesuatu yang berbeda tidak secara otomatis berarti 'lebih baik' atau 'lebih buruk' dan kita juga perlu melihat pelbagai jenis identitas diri orang sebagai bagian dari keberagaman manusia, jadi kita perlu bersikap pluralistik tanpa harus bersikap apriori atau disertai dengan perasaan emosional tertentu. Justru yang diperlukan adalah sikap berempati," paparnya.

Sumber: click


Nah,
kalo homoseksualitas bukan lagi kelainan,
maka semua argumen anda runtuh berantakan.



orang WHO nya homo juga kali... D
kali ini gw kontra sama WHO.

yg normal itu yang hetero, dengan lawan jenis. bisa memiliki keturunan..
klo homo udah termasuk kelainan, mana ada cowok hamil. palingan homo adopsi anak. kalau homo dibilang normal. maka ntar kalau pada homo/lesbi semua keturunannya gmn coba.
widya poetra - 01/12/2011 12:13 AM
#1534

Ybhi:

Malah dibales lagi,
kalo gitu 1 post lagi aja deh.

Quote:
Original Posted By volzhierrr
orang WHO nya homo juga kali... D
kali ini gw kontra sama WHO.

yg normal itu yang hetero, dengan lawan jenis. bisa memiliki keturunan..
klo homo udah termasuk kelainan, mana ada cowok hamil. palingan homo adopsi anak. kalau homo dibilang normal. maka ntar kalau pada homo/lesbi semua keturunannya gmn coba.

Jadi yang normal yang bisa memiliki keturunan gitu?

Kalau ane tau calon istri ane itu steril dan gak bisa punya anak,
tapi ane tetep nikahin karena emang tertarik dengan istri ane,
lalu ane palingan adopsi anak.
Berarti ane gak normal?

Emang homo/lesbi populasinya berapa persen sih amazed:
Bagus dong pada gak punya keturunan,
soalnya bumi udah overpopulated. beer:
angling.kusumo - 01/12/2011 12:13 AM
#1535

satu pertanyaan yang lo, lo para anti homo kudu jawab.

kalo lo bilang homo/lesbi itu menyimpang, menyimpang apanya sih.?
menyimpang dari mana.?
kalo dia menyimpang, yang lurus itu gimana.?
kenapa dia bisa dibilang lurus.?
volzhierrr - 01/12/2011 12:14 AM
#1536

Quote:
Original Posted By widya poetra
Ybhi:


Post 1 kali lagi deh sebelum molor



Homo ada juga yang sangar, macho,
hetero ada juga yang gak sangar, feminim.

Berarti bukan masalah orientasi seksualnya dong,
tapi masalah gayanya.

Di form lamaran dicantumin mesti dicantumin begini:
Gaya & Sikap:
1. Sangat macho
2. Macho
3. Agak macho
4. Agak feminim
5. Feminim
6. Sangat feminim

Kalo yang nglamar cowok ngisinya di 4-6, langsung ditolak.
Kalo yang nglamar cewek ngisinya di 1-3, langsung ditolak.


ngakak


ngakak
jadi kesannya malah narsis... yah yg nilai guru lain. masa tulis di form..

ya dong, lebih ke penampilan. gk perlu ditulis. penampilan kan biasanya langsung dinilai pas wawancara.
kayak lu lamar kerja kekantor aja. ngk mungkin lu dateng2 pake celana pendek, kaos oblong, sendal jepit
palingan pake kemeja, sepatu bot, dasi.

klo tuh guru pas wawancara menunjukan gelagat bencis2.... TOLAK!!!!!
volzhierrr - 01/12/2011 12:29 AM
#1537

Quote:
Original Posted By widya poetra
Ybhi:

Malah dibales lagi,
kalo gitu 1 post lagi aja deh.


Jadi yang normal yang bisa memiliki keturunan gitu?

Kalau ane tau calon istri ane itu steril dan gak bisa punya anak,
tapi ane tetep nikahin karena emang tertarik dengan istri ane,
lalu ane palingan adopsi anak.
Berarti ane gak normal?

Emang homo/lesbi populasinya berapa persen sih amazed:
Bagus dong pada gak punya keturunan,
soalnya bumi udah overpopulated. beer:


yah kasusnya beda dong. klo istri lu ngk punya keturunan kan karna penyakit/kelainan.

lah kalau homo. cowok normal/kelainan juga tetep aja mana bs hamil ngakak

nah, klo homo udah dibilang normal sih ntar lama2 bakal bisa bertambah tuh populasi homo.
bayangin aja. gw klo ditaksir sama 100 homo. mana bangga...
jijik iyee...

untungnya skg overpopulasi. kalau nanti 10juta taun lagi. tuh homo meningkat derastis sampe2 jumlah hetero sama dengan jumlah homo skg. gk lama dah tuh kehidupan manusia...

mending pake program KB atau semacamnya buat ngatasin overpopulasi dah. drpd pake para maho memperbanyak pengikutnya..
BL4CK.D1CK - 01/12/2011 01:05 AM
#1538

hi (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?

Quote:
Original Posted By volzhierrr
orang WHO nya homo juga kali... D
kali ini gw kontra sama WHO.

yg normal itu yang hetero, dengan lawan jenis. bisa memiliki keturunan..
klo homo udah termasuk kelainan, mana ada cowok hamil. palingan homo adopsi anak. kalau homo dibilang normal. maka ntar kalau pada homo/lesbi semua keturunannya gmn coba.


@bold: sy punya beberapa teman yg memang homo malu:

mereka masih bisa punya keturunan karena "terpaksa" menjalani pernikahan dengan wanita demi meredam "tekanan" sosial malu:

jadi kalau anda bilang homo dan lesbi (gay) tidak bisa punya keturunan sebaiknya direvisi lagi malu:
Yb1987 - 01/12/2011 03:47 AM
#1539

Quote:
Original Posted By wariman
Profesionalisme dan komitmen pekerjaan...

Mau lesbi, gay, mandul, gangbang, creampies, blowjob, apapun itu kek tp kalau profesional dan tau koridor serta kapasitasnya sebagai pengajar, gak lebih, napa enggak??? (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?
underlined: that's the point actually :2thumbup


Quote:
Original Posted By sir_dedi


halah mengedepankan kebebasan berpendapat tapi apa yg diaspirasikan malah bertentangan dgn moralitas yg berlaku di masyarakat fuck:
kebebasan dengkul loe melocot fuck2:
ngakak
ngga da hubungannya kali itu..

kebebasan berpendapat kan brarti mengutarakan apa yang dipikirkan.
belum tentu lah benar salah..
palagi sudut pandang orang kan berbeda..
ada sudut lancip, siku2, ma tumpul gila:

klo ngikut apa yang ada di masyarakat sih namanya membuntut.. ngacir:


Quote:
Original Posted By samsudin
gua tersinggung mad:

gimana kalau mata pelajarannya bahasa sunda? masa masih pilih ricky martin... malus
ngakak


Quote:
Quote:
Original Posted By angling.kusumo
hadir.!

Topik 1 :Pendidikan sex dibawah umur.?
PRO
Quote:
Original Posted By angling.kusumo
Topik 2 : Budaya v.s. Agama
Budaya

Quote:
Original Posted By KaskusGeeker
Ok gan nice argumen, tapi keknya itu topik 1. Yang mana udah ga dibahas lagi disini. Skrg lagi bahas topik 8. Jadi topik 1 nya udah ga dibahas lagi. Silahkan menanggapi topik 8. Yaitu pelarangan gay/lesbian bekerja di lembaga pendidikan. Setuju atau ngga.

Monggo shakehand (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?

Quote:
Original Posted By angling.kusumo
waduhh... maap. D

okokok saya akan berpindah ke topik 8.
^ ^)v
orang yang bersemangat tinggi recsel
Choa - 01/12/2011 05:46 AM
#1540

Quote:
Original Posted By jyouninz
kissing: hi:



kalo saya mau lebih luas, D
ini lebih kepada fenomena seorang gay/lesbian, yang bekerja di lembaga pendidikan \)
pekerjaan di lembaga pendidikan itu gak cuma jadi tenaga pendidik/pengajar \)
ada juga admin, TU, kepsek, dan lain2 mungkin yang mendukung terjadinya pendidikan,

nah, sekali lagi, yang saya nyatakan adalah profesionalitas seorang yang bekerja di mana pun itu,.

untuk jawaban dari pertanyaan(atau pernyataan sih itu? bingungs ), adalah, iya.
—I have cried because of God—

kalau jawaban ente ya

berarti sudah selesai, karena ada aturan tertulis di peraturan meliter, termasuk di amrik sendiri masih melarang p
Page 77 of 332 | ‹ First  < 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 >  Last ›
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?