DEBATE CLUB
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?
Total Views: 126104 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 82 of 332 | ‹ First  < 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 >  Last ›

hasyasheen - 02/12/2011 10:20 PM
#1621

Quote:
Original Posted By IkutNyolot
mbok ya, klo nulis itu yang lengkap toh nduk...

Klo begini kan jadinya cuma tanya jawab. Ya dilengkapi argumen elo, mw kontra gw atau gimana.

Ini kok cuma malah nanya. nohope:

Lo kira ini sesi wawancara apa? gila:


tidak, saya hanya mempelajari arah pembicaraan saja,

tindakan preventif dalam keadaan terburuk(yang kamu bayangkan), itu tidak mutlak harus melarang seorang yang mengidap kelainan seperti itu dalam memenuhi hak nya sebagai manusia, yaitu bekerja.

lembaga bisa saja memberi arahan kepada tenaga pengajar ataupun pegawai di dalam nya, agar menjaga batas terhadap ruang pribadi dan profesi itu tetap bersekat, tidak tercampur dalam pekerjaan nya.
pelarangan, sekali lagi, hanya menimbulkan suatu bentuk ketidak-toleran dalam memberi kesempatan orang lain dalam menjalani hidupnya secara normal di luar eksistensi dalam dunia pribadi nya.
IkutNyolot - 02/12/2011 10:29 PM
#1622

Quote:
Original Posted By hasyasheen
tidak, saya hanya mempelajari arah pembicaraan saja,

tindakan preventif dalam keadaan terburuk(yang kamu bayangkan), itu tidak mutlak harus melarang seorang yang mengidap kelainan seperti itu dalam memenuhi hak nya sebagai manusia, yaitu bekerja.

lembaga bisa saja memberi arahan kepada tenaga pengajar ataupun pegawai di dalam nya, agar menjaga batas terhadap ruang pribadi dan profesi itu tetap bersekat, tidak tercampur dalam pekerjaan nya.
pelarangan, sekali lagi, hanya menimbulkan suatu bentuk ketidak-toleran dalam memberi kesempatan orang lain dalam menjalani hidupnya secara normal di luar eksistensi dalam dunia pribadi nya.


Klo kita berbicara tentang tindakan pencegahan, maka hal tersebut mutlak.
Dalam hal skenarion terburuk memang tidak ada toleransi.

Sekarang lo mengkaitkan antara masalah toleran/tidak toleran.
Ingat dalam hal tersebut kita anggap bahwa manusia homo adalah sumber bahayanya.

Karena sumber bahayanya adalah mereka, maka sah untuk mendiskreditkan mereka. Sama seperti sebuah perusahaan tidak akan membiarkan penderita cacat mental untuk mengoperasikan mesin produksi.

Itu bukan tindakan tidak toleran, melainkan tindakan yang memang seharusnya untuk mencegah hal yang tidak kita inginkan.

Artinya, dalam dunia pengajaran, homo memang seharusnya tidak diberikan hak untuk mengajar. Hal ini dilakukan bukan karena ingin memenggal hak mereka, melainkan demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti sang anak (murid) yang kemudian terpengaruh untuk menjadi homo.

D
hasyasheen - 02/12/2011 10:49 PM
#1623

Quote:
Original Posted By IkutNyolot
Klo kita berbicara tentang tindakan pencegahan, maka hal tersebut mutlak.
Dalam hal skenarion terburuk memang tidak ada toleransi.

hmmm, seakan-akan sebuah ketakutan yang berlebihan dalam menyikapi hal2 yang nisbi.

Quote:
Sekarang lo mengkaitkan antara masalah toleran/tidak toleran.
Ingat dalam hal tersebut kita anggap bahwa manusia homo adalah sumber bahayanya.

manusia homo atau ke-homo-an nya?,
kurang tepat dalam hal ini, sudah saya katakan di atas, solusinya adalah adanya sekat antara kehidupan pribadi dan profesi.

Quote:
Karena sumber bahayanya adalah mereka, maka sah untuk mendiskreditkan mereka. Sama seperti sebuah perusahaan tidak akan membiarkan penderita cacat mental untuk mengoperasikan mesin produksi.

orientasi sex itu masalah nya lebih kepada nurture dalam hal ini, dan, selama si penderita tidak menampakkan kepribadian nya di dalam kegiatan kerja nya, maka dia tidak akan berubah menjadi salah satu faktor "pendukung" dalam menyebarkan "wabah" tsb.
selama dia masih profesional, maka analogi mu tidak berlaku, kuncinya terletak pada profesionalism si penderita itu sendiri,

Quote:
Itu bukan tindakan tidak toleran, melainkan tindakan yang memang seharusnya untuk mencegah hal yang tidak kita inginkan.

sama dengan ini ;
Quote:
Original Posted By IkutNyolot
Klo kita berbicara tentang tindakan pencegahan, maka hal tersebut mutlak.
Dalam hal skenarion terburuk memang tidak ada toleransi.

amazed:

Quote:
Artinya, dalam dunia pengajaran, homo memang seharusnya tidak diberikan hak untuk mengajar. Hal ini dilakukan bukan karena ingin memenggal hak mereka, melainkan demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti sang anak (murid) yang kemudian terpengaruh untuk menjadi homo.

masalah utama yang saya lihat, adalah penempatan "worst case scenario" yang saya kira ini menimbulkan semacam tembok penghalang dalam memberi alternative lain untuk case di atas secara global, dan general.
seorang homosex, boleh bekerja dan mengajar pada institusi atau lembaga pendidikan, dengan catatan si penderita mampu menjaga sekat antara kepribadian dan profesi..

Quote:
D


capedes
friendboy - 02/12/2011 11:11 PM
#1624

Quote:
Original Posted By IkutNyolot
Klo kita berbicara tentang tindakan pencegahan, maka hal tersebut mutlak.
Dalam hal skenarion terburuk memang tidak ada toleransi.

Sekarang lo mengkaitkan antara masalah toleran/tidak toleran.
Ingat dalam hal tersebut kita anggap bahwa manusia homo adalah sumber bahayanya.

Karena sumber bahayanya adalah mereka, maka sah untuk mendiskreditkan mereka. Sama seperti sebuah perusahaan tidak akan membiarkan penderita cacat mental untuk mengoperasikan mesin produksi.

Itu bukan tindakan tidak toleran, melainkan tindakan yang memang seharusnya untuk mencegah hal yang tidak kita inginkan.

Artinya, dalam dunia pengajaran, homo memang seharusnya tidak diberikan hak untuk mengajar. Hal ini dilakukan bukan karena ingin memenggal hak mereka, melainkan demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti sang anak (murid) yang kemudian terpengaruh untuk menjadi homo.

D


Skenario terburuk itu hanya dipakai pada kasus2 dimana bisa membahayakan nyawa orang lain, misalnya ya pelarangan penggunaan HP di pesawat tadi, itu pun telah didukung oleh bukti2 ilmiah, bukan hanya spekulasi dari beberapa golongan yang bias terhadap hal tersebut.

Jika skenario terburuk dipakai ke konteks2 sosial seperti ini, maka tentu hasilnya belum tentu akan lebih baik, misal: lo pernah diuber2 sama ondel2, sampai2 lo ngebanned semua akses yang berhubungan dengan ondel2 ke kehidupan keluarga lo, sampe suatu ketika pada saat anak lo ujian, ada pertanyaan "gambar apakah ini?" gambar tersebut adalah gambar ondel2, dan karena anak lo ga tau, maka dia ngejawab salah.

Begitu juga dengan hal ini, ketika lo menggunakan skenario terburuk, maka hasilnya belum tentu akan lebih baik, banyak gay yang pinter dan gw sih lebih baik diajar science sama orang2 disini (bagian biography) daripada sama guru hetero yang abal2.

Kalau sekolah mau maju, maka mereka harus hire orang yang mampu dan cakap untuk menjadi guru, dan kedua hal tersebut (kemampuan & kecakapan) tidaklah ditentukan oleh orientasi sexual seorang guru, gay maupun hetero bisa menjadi seorang guru profesional yang memiliki kemampuan mumpuni dan cakap dalam menjadi seorang pendidik. Sekolah yang maju akan menegur semua guru yang tidak profesional, seperti mengumbar kehidupan pribadi mereka di sekolah apalagi di ruang kelas.

Jika yang ditakutkan "menular" adalah perilaku kemayu atau tomboy dari seorang guru, maka ini juga sebenarnya bukan masalah orientasi sexual, karena tidak semua gay/lesbian itu kemayu/tomboy, dan tidak semua orang kemayu/tomboy itu gay/lesbian.
radianfahmi - 03/12/2011 03:00 AM
#1625

kalo menurut ane sih ga jadi masalah kalo gay kerja di lembaga pendidikan. disini gay maksudnya jd guru kan?

selama kualitas mengajarnya bagus knp ngga? kalo masalah takut menular ke murid, kita bisa milih pengajar gay yg berperan sebagai cowo. pasti tau kan kalo gay ada 2. gay yg peranya jd cowo sama gay yg peranya jd cewe. yg jadi cewe contohnya kaya si olga :genits.

karena gay(cowo) ga mungkin yg namanya nunjukin sifat feminin macem olga begitu. semua org yg berprofesi sebagai guru jg pasti menampilkan sifat yg baik kan? sopan, berwibawa dll. biarpun aslinya ga baik tp karena tuntutan sebagai guru ya harus terlihat baik.

jd ga mungkin nular gay nya kalo begitu.
IkutNyolot - 03/12/2011 09:30 AM
#1626

Quote:
Original Posted By hasyasheen
hmmm, seakan-akan sebuah ketakutan yang berlebihan dalam menyikapi hal2 yang nisbi.

Bukan suatu ketakutan yang berlebihan gw rasa.
Dalam menanggapi hal seperti ini, memang kita harus bertindak extra.
Sama seperti saat orang tua ingin agar anaknya tidak menjadi pengidap narkoba, anak yg melanggar aturan, mengkomsumsi bokep sebelum waktunya dsb.
Artinya tindakan tersebut bukan sebuah ketakutan, melainkan tindakan preventif yang sewajarnya.

Quote:
Original Posted By hasyasheen

manusia homo atau ke-homo-an nya?,
kurang tepat dalam hal ini, sudah saya katakan di atas, solusinya adalah adanya sekat antara kehidupan pribadi dan profesi.

Seperti yang sudah gw katakan, sekat itu tidak bisa dijaga ketika guru mendeklarasikan bahwa dirinya homo. Dengan mendeklarasikan saja, itu artinya udah menghilangkan sekat antara kehidupan pribadi dan profesinya.
Siapa yg bisa menjamin klo sang anak tidak melihat identitasnya sebagai homo saat guru menjalankan profesinya?
Tidak ada.

Quote:
Original Posted By hasyasheen

orientasi sex itu masalah nya lebih kepada nurture dalam hal ini, dan, selama si penderita tidak menampakkan kepribadian nya di dalam kegiatan kerja nya, maka dia tidak akan berubah menjadi salah satu faktor "pendukung" dalam menyebarkan "wabah" tsb.
selama dia masih profesional, maka analogi mu tidak berlaku, kuncinya terletak pada profesionalism si penderita itu sendiri,


Benar, dalam hal ini nurture memegang peranan lebih penting.

Lo baca dulu disini :
http://www.utexas.edu/courses/bio301d/Topics/Gay/Text.html
Liat lagi penjelasan dibawah.

Quote:
Original Posted By hasyasheen

sama dengan ini ;

amazed:
masalah utama yang saya lihat, adalah penempatan "worst case scenario" yang saya kira ini menimbulkan semacam tembok penghalang dalam memberi alternative lain untuk case di atas secara global, dan general.
seorang homosex, boleh bekerja dan mengajar pada institusi atau lembaga pendidikan, dengan catatan si penderita mampu menjaga sekat antara kepribadian dan profesi..

capedes


Jika seorang guru itu menyembunyikan identitasnya, justru tidak ada masalah. Sekarang adalah dan setau gw, yang dibahas disini adalah jika guru itu menunjukkan identitasnya.

Nah, disinilah masalah itu dimulai.
Masalah alternative yg elo katakan, maka pertanyaannya adalah siapa yang dapat menjamin sang penderita bener-bener dapat menutupi identitasnya?

Tapi gw rasa, argumen elo udah ga relevan, berhubung yang kita bicarakan adalah ketika sang guru ini, menyampaikan atau menunjukkan identitas kehomoannya.

D
IkutNyolot - 03/12/2011 09:59 AM
#1627

Quote:
Original Posted By friendboy
Skenario terburuk itu hanya dipakai pada kasus2 dimana bisa membahayakan nyawa orang lain, misalnya ya pelarangan penggunaan HP di pesawat tadi, itu pun telah didukung oleh bukti2 ilmiah, bukan hanya spekulasi dari beberapa golongan yang bias terhadap hal tersebut.


Tentu saja, saat seorang ikutan menjadi homo disini adalah hal yang paling ditakutkan. Siapa orang tua yang bercita-cita anaknya hidup menyimpang?
Tentu tidak ada.
Apakah lingkungan sebagai faktor penentu bukan berdasarkan penelitian ilmiah?
Coba lo baca-baca disini :
https://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=8757305

Disitu udah gw banyak gw bahas, mengenai mith homo disebabkan oleh gen, dan lingkungan ga memberi pengaruh.

Intinya faktor lingkungan mungkin malah memberi pengaruh yang lebih besar.
Apakah penelitian tersebut bias?
Tentu saja tidak, malah sebaliknya kebanyakan penelitian yang mendukung homo disebabkan oleh faktor biologis/genetis justru terlihat lebih bias.

Intinya sekarang disepakati bahwa tidak dapat dikatakan bahwa genetic lah yang memberi pengaruh lebih besar. Nurture juga sangat berpengaruh.

Quote:
Original Posted By friendboy

Jika skenario terburuk dipakai ke konteks2 sosial seperti ini, maka tentu hasilnya belum tentu akan lebih baik, misal: lo pernah diuber2 sama ondel2, sampai2 lo ngebanned semua akses yang berhubungan dengan ondel2 ke kehidupan keluarga lo, sampe suatu ketika pada saat anak lo ujian, ada pertanyaan "gambar apakah ini?" gambar tersebut adalah gambar ondel2, dan karena anak lo ga tau, maka dia ngejawab salah.


Analogi lo ga tepat. Karena disini kita berbicara mengenai masa depan sang anak. Dan demi masa depan sang anak, hal tersebut bukanlah sesuatu yang berlebihan, dan seperti yang gw katakan, cukup beralasan.

Quote:
Original Posted By friendboy

Begitu juga dengan hal ini, ketika lo menggunakan skenario terburuk, maka hasilnya belum tentu akan lebih baik, banyak gay yang pinter dan gw sih lebih baik diajar science sama orang2 disini (bagian biography) daripada sama guru hetero yang abal2.


Hahaha...
Worst case scenario tidak berbicara mengenai mendapat hasil yang lebih baik, melainkan mendapatkan suatu keadaan dimana bahaya itu bisa diminimalisir.
Selama bahaya itu kita minimilasi, berarti faktor keamanannya semakin besar.
Hal yang sama berlaku dalam pengajaran sekolah ini.

Jika kita meminimilasi lingkungan yang dapat menyebabkan si anak menjadi homo maka hal ini lebih baik kepada si anak. Terlebih ini adalah lingkungan sekolah. Jadi sangat penting sekali.


Quote:
Original Posted By friendboy

Kalau sekolah mau maju, maka mereka harus hire orang yang mampu dan cakap untuk menjadi guru, dan kedua hal tersebut (kemampuan & kecakapan) tidaklah ditentukan oleh orientasi sexual seorang guru, gay maupun hetero bisa menjadi seorang guru profesional yang memiliki kemampuan mumpuni dan cakap dalam menjadi seorang pendidik. Sekolah yang maju akan menegur semua guru yang tidak profesional, seperti mengumbar kehidupan pribadi mereka di sekolah apalagi di ruang kelas.

Jika yang ditakutkan "menular" adalah perilaku kemayu atau tomboy dari seorang guru, maka ini juga sebenarnya bukan masalah orientasi sexual, karena tidak semua gay/lesbian itu kemayu/tomboy, dan tidak semua orang kemayu/tomboy itu gay/lesbian.


Klo mengkaitkan masalah kepintaran, maka hal ini ga relevan dengan pembicaraan. Anak-anak hetero juga banyak yang pinter. Jika memilih antara yang pinter dan normal dengan yang pinter tapi menyimpang, tentu saja pilihan untuk memilih yang pinter dan normal jauh lebih baik.

Nah, biar lebih nyambung dengan argumen gw. Maka ada baiknya elo baca juga penjelasan gw diatas. Okoy.
friendboy - 03/12/2011 03:43 PM
#1628

Quote:
Original Posted By IkutNyolot
Tentu saja, saat seorang ikutan menjadi homo disini adalah hal yang paling ditakutkan. Siapa orang tua yang bercita-cita anaknya hidup menyimpang?
Tentu tidak ada.


Ya, tidak ada orang tua yang ingin anaknya hidup menyimpang, tapi standard "menyimpang" disini itu ga pasti, belum tentu semua orang bilang bahwa homosexual itu suatu penyimpangan, bahkan di Indonesia juga ada kok orang tua yang ga masalah dengan orientasi sexual anaknya yang berbeda, mungkin sangat sedikit, tapi bukan berarti tidak ada. Untuk orang2 seperti itu, mereka lebih takut jika anaknya menjadi seorang homophobia daripada menjadi seorang homosexual.

So, argumen lo bahwa menjadi homo adalah hal yang paling ditakutkan itu menjadi tidak valid lagi karena itu adalah suatu generalisasi.

Quote:
Apakah lingkungan sebagai faktor penentu bukan berdasarkan penelitian ilmiah?
Coba lo baca-baca disini :
https://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=8757305

Disitu udah gw banyak gw bahas, mengenai mith homo disebabkan oleh gen, dan lingkungan ga memberi pengaruh.

Intinya faktor lingkungan mungkin malah memberi pengaruh yang lebih besar.
Apakah penelitian tersebut bias?
Tentu saja tidak, malah sebaliknya kebanyakan penelitian yang mendukung homo disebabkan oleh faktor biologis/genetis justru terlihat lebih bias.

Intinya sekarang disepakati bahwa tidak dapat dikatakan bahwa genetic lah yang memberi pengaruh lebih besar. Nurture juga sangat berpengaruh.


Yang menyepakati siapa? Hanya berdasarkan satu paper kita ga bisa mengambil suatu kesepakatan, lah wong para expert di APA sama RPA (yang notabene sudah melakukan banyak penelitian tentang ini) aja ga bilang bahwa nurture itu pengaruhnya lebih besar daripada nature. Tapi yang pasti, para expert di APA dan RPA menyatakan bahwa homosexualitas secara khusus (dan orientasi sexual secara umum) itu bukanlah suatu penyimpangan terlepas apapun penyebabnya.

Quote:
Analogi lo ga tepat. Karena disini kita berbicara mengenai masa depan sang anak. Dan demi masa depan sang anak, hal tersebut bukanlah sesuatu yang berlebihan, dan seperti yang gw katakan, cukup beralasan.


Mungkin cukup beralasan bagi orang2 homophobia, tapi hal ini tidak cukup beralasan bagi orang2 yang toleran.

Quote:
Hahaha...
Worst case scenario tidak berbicara mengenai mendapat hasil yang lebih baik, melainkan mendapatkan suatu keadaan dimana bahaya itu bisa diminimalisir.
Selama bahaya itu kita minimilasi, berarti faktor keamanannya semakin besar.
Hal yang sama berlaku dalam pengajaran sekolah ini.

Jika kita meminimilasi lingkungan yang dapat menyebabkan si anak menjadi homo maka hal ini lebih baik kepada si anak. Terlebih ini adalah lingkungan sekolah. Jadi sangat penting sekali.


Nope, dalam masalah teknis saja, worst case scenario itu sudah mulai jarang dipakai, karena biasanya akan memberikan cost yang jauh lebih besar, dan itu merugikan. Apalagi dalam masalah sosial seperti ini, melarang seseorang untuk bekerja pada suatu profesi padahal dia memiliki kemampuan dan kecakapan itu tidak lain dan tidak bukan adalah suatu bentuk tindak diskriminasi, dan tidak ada orang yang ingin didiskriminasi. Anda juga tidak ingin didiskriminasi tentunya hanya karena fisik anda atau mungkin hanya karena agama anda.

Quote:
Klo mengkaitkan masalah kepintaran, maka hal ini ga relevan dengan pembicaraan. Anak-anak hetero juga banyak yang pinter. Jika memilih antara yang pinter dan normal dengan yang pinter tapi menyimpang, tentu saja pilihan untuk memilih yang pinter dan normal jauh lebih baik.

Nah, biar lebih nyambung dengan argumen gw. Maka ada baiknya elo baca juga penjelasan gw diatas. Okoy.


Apa itu normal? Dari sisi psikologi, heterosexuality, bisexuality, dan homosexuality itu semuanya normal.
IkutNyolot - 03/12/2011 09:19 PM
#1629

Quote:
Original Posted By friendboy
Ya, tidak ada orang tua yang ingin anaknya hidup menyimpang, tapi standard "menyimpang" disini itu ga pasti, belum tentu semua orang bilang bahwa homosexual itu suatu penyimpangan, bahkan di Indonesia juga ada kok orang tua yang ga masalah dengan orientasi sexual anaknya yang berbeda, mungkin sangat sedikit, tapi bukan berarti tidak ada. Untuk orang2 seperti itu, mereka lebih takut jika anaknya menjadi seorang homophobia daripada menjadi seorang homosexual.

So, argumen lo bahwa menjadi homo adalah hal yang paling ditakutkan itu menjadi tidak valid lagi karena itu adalah suatu generalisasi.


Begini jek, gw tau lo homo, makanya pandangan elo jadi bias.
Homoseks sampai kapanpun adalah tetap suatu penyimpangan.
Karena organ seks pria dan wanita memang sudah terdesain untuk saling melengkapi.
Jika kita melihat kewajaran, maka yg normal adalah ketertarikan yang terjadi antara pria-wanita, bukan pria-pria dan wanita-wanita.

Jadi homoseksualitas itu memang suatu penyimpangan.
Untuk makhluk homo cem elo, mungkin elo memang lebih takut klo anak-anak tumbuh jadi homophobic.
Tapi biar elo tau, orang tua manapun hampir sebagian besar (mayoritas) tidak menginginkan anaknya menjadi maklhuk tidak normal (menyimpang), makhluk yang berbeda dengan mereka (normal-hetero).

Lo mengambil contoh, minoritas orang yang mungkin tidak masalah (dengan makhluk homo), namun hal tesebut tidak mematahkan apa-apa karena sifatnya yang minor. Makanya umumnya berlaku seperti yang diatas. Karena disini kita berbicara hal yang umum, dan pelajaran sekolah itu bersifat umum maka pembelaan elo menjadi fail (karena merupakan contoh khusus yang bersifat minor).



Quote:
Original Posted By friendboy

Yang menyepakati siapa? Hanya berdasarkan satu paper kita ga bisa mengambil suatu kesepakatan, lah wong para expert di APA sama RPA (yang notabene sudah melakukan banyak penelitian tentang ini) aja ga bilang bahwa nurture itu pengaruhnya lebih besar daripada nature. Tapi yang pasti, para expert di APA dan RPA menyatakan bahwa homosexualitas secara khusus (dan orientasi sexual secara umum) itu bukanlah suatu penyimpangan terlepas apapun penyebabnya.


Yang bilang klo nature tidak lebih dominan dari nurture cuma satu paper?
Satu paper gigilo peyang!! mad:
Banyak oiiiiiiii!!!!

Makanya sekarang mulai diputuskan bahwa dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk meneliti masalah homo ini. Karena penelitian terbaru (dan jumlahnya bukan cuma satu), mengindikasikan bahwa faktor nurture memiliki peranan yang lebih besar.

Masalah APA dan RPA yang mengatakan klo homosex itu bukan suatu penyimpangan, itu udah merupakan keputusan politis dibandingkan dengan keputusan medis.

Homosex dihilangkan dari daftar mentality disorder, pada tahun 70-an. Hal ini sebenarnya dikarenakan suara mereka dianggap berpengaruh didalam pemilu di amerika.

Karena itulah APA sendiri mengeluarkan homoseksualitas dari daftar gangguan mental. APA sendiri menganggap homoseks secara mental sehat, dari sisi pandang bahwa suatu ketertarikan seksual.

Hal ini sebenarnya menimbulkan dilema, bahwa jika demikian maka phedophil, bestiality, fetish dsb, juga seharusnya tidak dimasukkan kedalam daftar mentality disoder.

Namun karena politik sudah berbicara, maka APA pun mengeluarkan homoseks dari daftar penyakit mental.

Intinya, alasan APA mengeluarkan homoseksualitas dari daftar penyakit mental sama sekali tidak punya alasan yang cukup kuat.



Quote:
Original Posted By friendboy

Mungkin cukup beralasan bagi orang2 homophobia, tapi hal ini tidak cukup beralasan bagi orang2 yang toleran.

Nope, dalam masalah teknis saja, worst case scenario itu sudah mulai jarang dipakai, karena biasanya akan memberikan cost yang jauh lebih besar, dan itu merugikan. Apalagi dalam masalah sosial seperti ini, melarang seseorang untuk bekerja pada suatu profesi padahal dia memiliki kemampuan dan kecakapan itu tidak lain dan tidak bukan adalah suatu bentuk tindak diskriminasi, dan tidak ada orang yang ingin didiskriminasi. Anda juga tidak ingin didiskriminasi tentunya hanya karena fisik anda atau mungkin hanya karena agama anda.


Wakakakakakakakakaka..........
Numpang ngakak dah gw.
Klo perusahaan itu perusahaan yg ga mau mengikuti standar yang ada alias perusahaan miskin pelanggar aturan maka pernyataan elo benar.

Masalahnya worst case scenario itu, adalah penting dalam meminimalisir kecelakaan. Dan dalam hitungan jangka panjang, jauh lebih menguntungkan sekalipun initial cost dan operational cost mahal.

Nah, itu satu.
Kedua, lo keberatan masalah biaya kan?
Sekarang denga menempatkan worst case scenario untuk kasus homo masuk sekolahan ini, ada pertambahan biaya ga?
Biaya mahal ga?
Artinya argumen elo ga nyambung... tuolllllollllllll.......... DD

Sekarang lo bicara masalah diskriminasi.
Kan udah gw bilang, dalam rangka upaya preventif hal ini memang harus dilakukan. Hal yang sama berlaku bagi misal seorang pencuri ga boleh jadi guru, dsb.

Jadi ini bukan diskriminasi tapi memang suatu kepatutan.


Quote:
Original Posted By friendboy


Apa itu normal? Dari sisi psikologi, heterosexuality, bisexuality, dan homosexuality itu semuanya normal.


Acuan lo itu apa ?
APA?
ga sekalian lo tambahin phedopili? Bestiality? Fetish?

Acuan kok organisasi yang gampang kepengaruh politik........ berbusa:
sir_dedi - 03/12/2011 09:33 PM
#1630

Quote:
Original Posted By widya poetra
Ybhi:


Good...good...good...

jadi dalam lembaga pendidikan pun ada sekat2nya.
Artinya,
seseorang yang punya pandangan tidak sama dengan apa yang diajarkan oleh mata ajaran lain pun gak serta merta dilarang,
Itu yang pertama.

Yang kedua,
di atas nyebut2 SMA (mungkin juga SMP mengingat SMP juga udah usia "gawat"; gak percaya? coba lihat saja si dedi saat SMP udah "maen" di bilik warnet),
pendidikan seksualnya harusnya mencakup perilaku seksual juga, termasuk tentang mstr-bsi. Otomatis menyinggung rekreasional dong. Kalau fungsi yang dianggap cuman prokreasi berarti mstr-bsi dilarang dong. Kenyataannya? Gak tau emang pendidikan di SMP/SMA sekarang gimana? confused:

Kalau usia lebih dini lagi nggak tau pendidikan seks-nya gimana hammer:


Mana yang masih SMP/SMA,
coba di sekolahan diajarin seks yang kayak apa.
Biar bapak prop sama bapak kusumo ngerti.
Kalau ane masih SD jadi belum tau apa2. malus



edited:
ki kusumo mulai garang.
Ane nonton aja deh linux2:

dr sekian byk nama knp nama gw yg dijadiin contoh nohope:

hancur dah pencitraan yg sudah gw bangun selama ini \(\(\(

mohon diganti nama pemerannya mad:
Quote:
Original Posted By angling.kusumo
wah... lagi lagi :nohope

lo bisanya cuma ngecrot doang sih. baca dong statemen2 yang sebelumnya. capedes

gw kan udah bilang, dasar argumen gw itu ide logis yang mana pada kenyataannya belom sampe situ. dan gw juga udah bilang, kalao data mengenai pure sex ed yang bersifat rekreasional gw ga punya (lha wong memang kenyataannya blom sampe situ). dan data2 yang gw berikan (meskipun belom sampe kayak ide gw) sudah mengarah kepada itu.

set dah. kayak debat ama anak sd nih. muter2 ngeles mulu. nohope:

ini berarti namanya baru dugaan.
tp parahnya dugaannya tanpa didasari data2 yg valid ngakaks
mrNidhiHutauruk - 03/12/2011 11:24 PM
#1631

jawaban paling intelek yg pernah akuk dengar..

memberikan kesempatan kerja atau kesempatan hidup bagik tukang sodomi dan lesbi itu sama dg mematikan mata pencaharian yg berarti pulak merusak perekonomian pelacur2 macam binik kuk contohnya berdukas

disamping itu jugak melawan kodrat kehendak tuhan yg maha esa

satu2nya profesi yg cocok utk lesbishomo adalah tambal ban, itu sudah dan pasti betul beer: (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?
friendboy - 03/12/2011 11:47 PM
#1632

Quote:
Original Posted By IkutNyolot
Begini jek, gw tau lo homo, makanya pandangan elo jadi bias.


hoahm... Argumen kuno dari seorang homophobic ketika sudah kalah argumennya, menuduh tanpa bukti ngakaks

Quote:
Original Posted By IkutNyolot
Homoseks sampai kapanpun adalah tetap suatu penyimpangan.


Or so you said, faktanya para expert psikolog di APA dan RPA ga ngomong gitu, dan gw lebih percaya mereka daripada lo yang ga punya kompetensi dalam hal ini D

Quote:
Original Posted By IkutNyolot
Karena organ seks pria dan wanita memang sudah terdesain untuk saling melengkapi.
Jika kita melihat kewajaran, maka yg normal adalah ketertarikan yang terjadi antara pria-wanita, bukan pria-pria dan wanita-wanita.


Lagi2 lo memakai standard yang ga pasti, penyakit orang2 bigot penyuka generalisir nohope:

Quote:
Jadi homoseksualitas itu memang suatu penyimpangan.
Untuk makhluk homo cem elo, mungkin elo memang lebih takut klo anak-anak tumbuh jadi homophobic.
Tapi biar elo tau, orang tua manapun hampir sebagian besar (mayoritas) tidak menginginkan anaknya menjadi maklhuk tidak normal (menyimpang), makhluk yang berbeda dengan mereka (normal-hetero).

Lo mengambil contoh, minoritas orang yang mungkin tidak masalah (dengan makhluk homo), namun hal tesebut tidak mematahkan apa-apa karena sifatnya yang minor. Makanya umumnya berlaku seperti yang diatas. Karena disini kita berbicara hal yang umum, dan pelajaran sekolah itu bersifat umum maka pembelaan elo menjadi fail (karena merupakan contoh khusus yang bersifat minor).


Disini kita berdebat bukan dari sudut pandang mayoritas dan minoritas, karena mayoritas itu belum tentu benar, di negara ini Muslim mayoritas, bukan berarti bahwa Islam itu benar dan agama lain salah, sebaliknya, di Amerika, Kristen itu mayoritas, tapi bukan berarti Kristen itu benar dan agama lain salah. Bottom line is, hanya karena orang lain minoritas, belum tentu mereka tidak normal.

Jadi, lo ga bisa bilang bahwa hanya karena suatu hal itu minoritas, maka hal tersebut berhak untuk diabaikan. Kalau cuma ngeliat dari mayoritas dan minoritas, maka buat apa debat dul! capedes

Quote:
Original Posted By IkutNyolot
Yang bilang klo nature tidak lebih dominan dari nurture cuma satu paper?
Satu paper gigilo peyang!! mad:
Banyak oiiiiiiii!!!!

Makanya sekarang mulai diputuskan bahwa dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk meneliti masalah homo ini. Karena penelitian terbaru (dan jumlahnya bukan cuma satu), mengindikasikan bahwa faktor nurture memiliki peranan yang lebih besar.


Ok, anggap sajalah lebih dari satu, itu tidak berarti bahwa seorang anak akan tumbuh menjadi seorang homosexual hanya karena gurunya homosexual, sebesar apa pengaruh seorang guru terhadap anak didik, mengapa guru lain tidak memberikan pengaruh juga kepada si anak didik tersebut, jika guru homosexual hanya satu atau dua, seharusnya guru hetero yang notabene banyak itu pasti akan bisa memberikan pengaruh kepada si anak.

Quote:
Original Posted By IkutNyolot
Masalah APA dan RPA yang mengatakan klo homosex itu bukan suatu penyimpangan, itu udah merupakan keputusan politis dibandingkan dengan keputusan medis.

Homosex dihilangkan dari daftar mentality disorder, pada tahun 70-an. Hal ini sebenarnya dikarenakan suara mereka dianggap berpengaruh didalam pemilu di amerika.

Karena itulah APA sendiri mengeluarkan homoseksualitas dari daftar gangguan mental. APA sendiri menganggap homoseks secara mental sehat, dari sisi pandang bahwa suatu ketertarikan seksual.

Hal ini sebenarnya menimbulkan dilema, bahwa jika demikian maka phedophil, bestiality, fetish dsb, juga seharusnya tidak dimasukkan kedalam daftar mentality disoder.

Namun karena politik sudah berbicara, maka APA pun mengeluarkan homoseks dari daftar penyakit mental.

Intinya, alasan APA mengeluarkan homoseksualitas dari daftar penyakit mental sama sekali tidak punya alasan yang cukup kuat.


Buktinya apa bahwa itu cuma politik?

APA sudah menyatakan bahwa homosexualitas itu tidak menyimpang sejak tahun 70-an, tapi faktanya sampai saat ini same-sex marriage di Amerika belum jadi federal law, seharusnya jika tekanan politik para LGBT itu kuat seperti klaim lo di atas, maka same-sex marriage itu sudah diperbolehkan secara federal di US. Jangan lupakan juga Bush di tahun 2004 menang karena posisi dia yang oppose sama same-sex marriage, dan jangan lupakan juga bahwa sampai tahun ini, belum semua state di US yang menghilangkan diskriminasi terhadap orientasi sexual.

Jadi, argumen lo di atas bahwa putusan APA itu adalah keputusan politis itu cuma bullsh*t, karena fakta yang ada saat ini berbeda sekali.

Selain itu, jika memang itu hanya keputusan politis, maka seharusnya keputusan itu tidak akan diadopsi oleh negara lain, dan faktanya, negara lain (termasuk Indonesia) mengadopsi keputusan itu, apakah kekuatan LGBT di negara2 tersebut sangat besar? Indonesia? I don't think so. Jadi yang peyang disini itu adalah kepala lo ngakaks

Sudah lebih dari 30 tahun keputusan ini dipakai, jika memang keputusan tersebut tidak didasari oleh dasar ilmiah, seharusnya keputusan tersebut sudah berubah, karena jika keputusan tersebut salah, pasti fakta yang ada akan berbicara bahwa keputusan tersebut salah, dan pasti keputusan itu akan diubah.

Quote:
Wakakakakakakakakaka..........
Numpang ngakak dah gw.
Klo perusahaan itu perusahaan yg ga mau mengikuti standar yang ada alias perusahaan miskin pelanggar aturan maka pernyataan elo benar.

Masalahnya worst case scenario itu, adalah penting dalam meminimalisir kecelakaan. Dan dalam hitungan jangka panjang, jauh lebih menguntungkan sekalipun initial cost dan operational cost mahal.

Nah, itu satu.
Kedua, lo keberatan masalah biaya kan?
Sekarang denga menempatkan worst case scenario untuk kasus homo masuk sekolahan ini, ada pertambahan biaya ga?
Biaya mahal ga?
Artinya argumen elo ga nyambung... tuolllllollllllll.......... DD


Argumen bodoh, antara lo kerja di perusahaan yang abal2 atau posisi lo cuma cleaning service jadi ga ngerti tentang masalah worst case scenario.

Gini loh dul, meminimalisir kecelakaan itu tentu sangat penting, tapi bukan berarti bahwa asumsi yang diambil itu harus konservatif. Ada yang namanya risk-based protection, perhitungan proteksi yang dibuat berdasarkan resiko yang most likely to happen, bukan berdasarkan semua resiko, dan ini bukan masalah perusahaan besar atau kecil, kaya atau miskin, tapi ini masalah efisiensi dan efektivitas. Masalah cost itu ada di masalah teknis, bukan di masalah sosial dul, makanya baca yang bener.

Quote:
Original Posted By IkutNyolot
Sekarang lo bicara masalah diskriminasi.
Kan udah gw bilang, dalam rangka upaya preventif hal ini memang harus dilakukan. Hal yang sama berlaku bagi misal seorang pencuri ga boleh jadi guru, dsb.

Jadi ini bukan diskriminasi tapi memang suatu kepatutan.


Pencuri itu seorang kriminal, sedangkan gay/lesbi itu bukan, persamaan lo ga setara dul. Sampai sekarang ga ada yang bisa memberikan fakta dasar mengapa seseorang ga boleh jadi guru hanya karena orientasi sexual mereka, yang ada cuma spekulasi kosong yang berdasarkan bias dan intoleransi. capedes

Quote:
Original Posted By IkutNyolot
Acuan lo itu apa ?
APA?
ga sekalian lo tambahin phedopili? Bestiality? Fetish?


Pedophilia dan bestiality itu termasuk disorder dul, sedangkan fetish itu masuk disorder jika fetish tersebut menyebabkan tekanan besar bagi orang tersebut atau mempengaruhi kehidupan mereka secara signifikan, kalau jadi orang ya jangan bego2 amat lah ngakaks

Quote:
Original Posted By IkutNyolot
Acuan kok organisasi yang gampang kepengaruh politik........ berbusa:


Or so you said ngakak

Jangan kebanyakan kemakan doktrin dogma yang berdasarkan kebencian, hasilnya cuma bakal jadi orang yang kepo dan bego iloveindonesias
angling.kusumo - 03/12/2011 11:53 PM
#1633

Quote:
Original Posted By sir_dedi

ini berarti namanya baru dugaan.
tp parahnya dugaannya tanpa didasari data2 yg valid ngakaks


ini dia salah satu contoh lagi orang dengan logika katro yang terperangkap dalam asumsinya. nohope:
Choa - 04/12/2011 12:52 AM
#1634

Quote:
Original Posted By mrNidhiHutauruk
jawaban paling intelek yg pernah akuk dengar..

memberikan kesempatan kerja atau kesempatan hidup bagik tukang sodomi dan lesbi itu sama dg mematikan mata pencaharian yg berarti pulak merusak perekonomian pelacur2 macam binik kuk contohnya berdukas

disamping itu jugak melawan kodrat kehendak tuhan yg maha esa

satu2nya profesi yg cocok utk lesbishomo adalah tambal ban, itu sudah dan pasti betul beer: (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?


macam potingan ini di thread intelectual
masuk kategori ngak sih bingung
mrNidhiHutauruk - 04/12/2011 02:09 AM
#1635

Quote:
Original Posted By Choa


macam potingan ini di thread intelectual
masuk kategori ngak sih bingung


ada masalah sama akuk ko bengak ? mad:

tak sukak keluarkan muncung ko kita adu cakap cool: (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?
IkutNyolot - 04/12/2011 10:25 AM
#1636

Quote:
Original Posted By friendboy
hoahm... Argumen kuno dari seorang homophobic ketika sudah kalah argumennya, menuduh tanpa bukti ngakaks


Udah deh, ngaku aja klo lo homo. D
Makanya lo ga bisa mengerti tentang umum/normalitas.
Makanya lo selalu bersembunyi dengan pandangan, ada sekelompok kecil orang yang ga masalah klo anaknya homo.

Klo ga homo terus apa donk lo? D

Quote:
Original Posted By friendboy

Or so you said, faktanya para expert psikolog di APA dan RPA ga ngomong gitu, dan gw lebih percaya mereka daripada lo yang ga punya kompetensi dalam hal ini D


Makanya belajar. Cari alasannya kenapa?
Udah gw bilangin kan dilemanya dengan penyakit disorder lainnya.
Nah seharusnya lo mulai mikir disitu.
Kenapa?
Tapi gw jamin makhluk homo macem lo pasti langsung terima bulat-bulat tanpa pernah berpikir kenapa, dan apakah alasannya cukup kuat.

Toh mendukung elo. siul:


Quote:
Original Posted By friendboy

Lagi2 lo memakai standard yang ga pasti, penyakit orang2 bigot penyuka generalisir nohope:


Standar ga pasti apa monyetttttttttt!!!!!!!!!
Dari segi kenormalan, kita bisa melihat memang wanita dan pria itu harus saling ada ketertarikan biar ada keturunan. Desain alamnya emang udah begitu tuoollllllllollllllllllll.

Sama kayak manusia yang lahir dengan 2 kaki, maka yg 2 kaki adalah kewajaran.
Terus kalau ada segelintir orang lahir dengan kaki satu, artinya yg punya kaki satu itu ga normal.

Hal yang sama juga berlaku bagi kaum homo macem elo nyet!!
Lo udah lari dari standar kenormalan.
Homo itu ga normal.
Ngerti njing?



Quote:
Original Posted By friendboy

Disini kita berdebat bukan dari sudut pandang mayoritas dan minoritas, karena mayoritas itu belum tentu benar, di negara ini Muslim mayoritas, bukan berarti bahwa Islam itu benar dan agama lain salah, sebaliknya, di Amerika, Kristen itu mayoritas, tapi bukan berarti Kristen itu benar dan agama lain salah. Bottom line is, hanya karena orang lain minoritas, belum tentu mereka tidak normal.

Jadi, lo ga bisa bilang bahwa hanya karena suatu hal itu minoritas, maka hal tersebut berhak untuk diabaikan. Kalau cuma ngeliat dari mayoritas dan minoritas, maka buat apa debat dul! capedes


Eh kadal buduk!!
Ini kan lagi ngomongin masalah sosial. Masalah umum. Jadi standarnya ya jelas bagaimana pandangan umum. Tollloll abis emang elo.
Dan analogi elo tentang agama dan dibandingkan ama masalah ini ga nyambung tuollllollllllllll.


Ini perkara keinginan sebagian besar orang agar anaknya berlaku normal. Udah gw sebutin alasannya kenapa orang tua seperti itu.

Ditambah udah gw bilangin, kenapa dari standar kenormalan aja, homo itu penyimpangan.

Jadi ini adalah pandangan umum dengan alasan yang kuat.


Quote:
Original Posted By friendboy

Ok, anggap sajalah lebih dari satu, itu tidak berarti bahwa seorang anak akan tumbuh menjadi seorang homosexual hanya karena gurunya homosexual, sebesar apa pengaruh seorang guru terhadap anak didik, mengapa guru lain tidak memberikan pengaruh juga kepada si anak didik tersebut, jika guru homosexual hanya satu atau dua, seharusnya guru hetero yang notabene banyak itu pasti akan bisa memberikan pengaruh kepada si anak.


Eh, kadal dongok!!
Kan udah gw bilang, ini adalah tindakan preventif.
Jadi disini kita mengabaikan kondisi yang paling baik. Kita melihat kondisi terburuk yang mungkin terjadi.
Jika tindakan preventif ini bisa dilakukan kenapa tidak?
Jadi argumen elo udah gw balas dari tadi guoblllokkkkkkkkkkkkk......... Lo cuma ngulang2 aja dari tadi... nohope:
Bikin capek gw aja lo njing!!



Quote:
Original Posted By friendboy

Buktinya apa bahwa itu cuma politik?
APA sudah menyatakan bahwa homosexualitas itu tidak menyimpang sejak tahun 70-an, tapi faktanya sampai saat ini same-sex marriage di Amerika belum jadi federal law, seharusnya jika tekanan politik para LGBT itu kuat seperti klaim lo di atas, maka same-sex marriage itu sudah diperbolehkan secara federal di US. Jangan lupakan juga Bush di tahun 2004 menang karena posisi dia yang oppose sama same-sex marriage, dan jangan lupakan juga bahwa sampai tahun ini, belum semua state di US yang menghilangkan diskriminasi terhadap orientasi sexual.


same-sex marriage belum menjadi federal law, karena masih mendapat tentangan dari pihak lain. Untuk menjadikan ini pihak politikus memang belum berhasil. Makanya yang paling mudah untuk diubah adalah suatu institusi bukan pemerintah. Dan tentu saja APA adalah organisasi yang paling tepat dalam langkah untuk menenangkan hati para homo yang ingin menjual suaranya di pemilu ini.

Kemenangan bush pada tahun 2004, sama sekali ga bisa menjadi bukti bahwa keputusan APA tahun 70-an bukan didasari oleh tekanan politik. Fakta yang lain adalah banyaknya para gay yang memiliki banyak uang mensponsori dana-dana penelitian ke badan-badan ilmiah untuk mendukung temuan bahwa gay bukanlah suatu penyimpangan dan merupakan sesuatu yang normal.

Namun penelitian saat ini, yg kemudian semakin gencarnya, dan juga debat mengenai penelitian yang dilakukan menunjukkan kejanggalan atas penelitian-penelitian sebelumnya yang menunjukkan gay lebih kepada nature.

Arah penelitian yang semakin gencar tanpa dipengaruhi penyumbang dana dari pihak gay ini, membuat para peneliti mengubah pandangan mereka tentang gay yang lebih condong kepada nature.

Sekalipun saat ini para peneliti masih mengatakan faktor utama adalah gabungan antara nature+nurture, tapi arah trend penelitian menunjukkan bahwa gay lebih ditentukan oleh faktor nurture.

Karena itulah kemudian APA mengubah pendapatnya dengan mengatakan bahwa setiap orang dilahirkan dengan orientasi yg mungkin menjadi hetero ataupun menjadi homo, kemudian ditentukan oleh nurture selama perkembangan si manusia.

Kenapa? Ini semua karena arah trend penelitian sekarang mulai menunjukkan pertentangan bahwa faktor nature adalah penyebab utama gay.

Quote:
Original Posted By friendboy

Jadi, argumen lo di atas bahwa putusan APA itu adalah keputusan politis itu cuma bullsh*t, karena fakta yang ada saat ini berbeda sekali.

Selain itu, jika memang itu hanya keputusan politis, maka seharusnya keputusan itu tidak akan diadopsi oleh negara lain, dan faktanya, negara lain (termasuk Indonesia) mengadopsi keputusan itu, apakah kekuatan LGBT di negara2 tersebut sangat besar? Indonesia? I don't think so. Jadi yang peyang disini itu adalah kepala lo ngakaks

Sudah lebih dari 30 tahun keputusan ini dipakai, jika memang keputusan tersebut tidak didasari oleh dasar ilmiah, seharusnya keputusan tersebut sudah berubah, karena jika keputusan tersebut salah, pasti fakta yang ada akan berbicara bahwa keputusan tersebut salah, dan pasti keputusan itu akan diubah.


Nah, lo nanya kenapa kemudian pemikiran tersebut diadopsi oleh negara lain?
Sebenarnya hal ini mengacu pada 2 faktor : faktor kasian + faktor mencari celah atas ketidakmampuan para psikolog menyelesaikan masalah ini.

Pada tahun 90-an terapi untuk penyembuhan gay mulai dilakukan baik di negara inggris dsb. Hasilnya karena belum bisa menemukan terapi yang tepat, persentase jumlah kesembuhan lebih kecil dari presentase jumlah orang yang akhirnya depresi.

Berkat kegagalan ini, serta ketidakmampuan para ahli saat itu, maka mereka sepakat untuk menerima putusan APA, bahwa gay bukan suatu penyimpangan.

Hal ini menunjukkan bahwa para peneliti telah menyerah untuk mencarikan solusi untuk gay. Jadi hal tersebut lebih didasarkan pada keengangan dan ketidakmampuan para ahli saat itu untuk mencarikan penyembuhannya.

Ditambah jika pihak mereka mengatakan memang homoseks adalah penyimpangan maka kehidupan para mahkluk homo ini akan semakin keras dikehidupannya karena akan ditentang/dicemooh oleh masyarakat sekitar.

So ada 2 masalah disini : 1. Para peneliti tidak bisa menemukan solusi yang tepat. 2. Kehidupan para makhluk gay bisa depresi jika terus mendapat tekanan.

Oleh karena itu, solusi yang paling mungkin adalah menyetujui putusan APA, agar setidaknya para homo bisa hidup tenang.

Tapi menurut gw, alasan ini sekalipun didasari oleh rasa kemanusiaan, tetap saja ini adalah bentuk kebohongan. Bentuk keputus-asaan untuk mencarikan solusi.

Untung saja, peneliti muda saat ini, mulai melek matanya dan mulai mempertanyakan kembali putusan sebelumnya mengenai homo ini.

Dan tentu saja mereka mulai bergerak mencari penyebab utama dan mulai mencari penyembuhannya.

Jadi jangan kuatir, lo juga mungkin bisa sembuh kok.. maho:



Quote:
Original Posted By friendboy

Argumen bodoh, antara lo kerja di perusahaan yang abal2 atau posisi lo cuma cleaning service jadi ga ngerti tentang masalah worst case scenario.


Ga ngerti gigi lo monyet.
Lo kenal PT. BADAK dengan standar safety nya?
Lo pernah mengitung kerugian perusahaan (jangka panjang) saat ada karyawan mengalami kecelakaan kerja dibandingkan dengan modal awal demi safety?
Ga pernah kan nyet?!
Jadi ga usah sok paham lo tollollll. mad:

Standar safety itu memperhitungkan worst case scenario, karena itu di pom bensin lo ga boleh ngidupin hp, di pesawat ga boleh ngidupin hp, lo harus pake helm ke lapangan sekalipun diruang terbuka bebas, karena itu klo lo bekerja diketinggian harus dilengkapi harness yang memadai, karena itu disetiap ruangan tersedia alat pemadam kebakaran dan lampu darurat sekalipun sumber ignisinya sangat sedikit, lo tau kenapa arrester harus dipasang sekalipun probabilitas kena petir 1 : 1000?

Ga tau kan lo nyet?!

Jadi perusahaan yang bagus memperhitungkan worst case scenario,
Dasar lo emang homo TOLLLOLLL!!!!!! mad:
IkutNyolot - 04/12/2011 10:25 AM
#1637

Quote:
Original Posted By friendboy

Gini loh dul, meminimalisir kecelakaan itu tentu sangat penting, tapi bukan berarti bahwa asumsi yang diambil itu harus konservatif. Ada yang namanya risk-based protection, perhitungan proteksi yang dibuat berdasarkan resiko yang most likely to happen, bukan berdasarkan semua resiko, dan ini bukan masalah perusahaan besar atau kecil, kaya atau miskin, tapi ini masalah efisiensi dan efektivitas.


Sok ngerti lo nyet!! mad:
Perhitungan most-likely to happen itu masuk kedalam standar rendah proteksi dodol!!

Klo standar paling bagus itu udah merupakan tindakan preventif apa yang mungkin terjadi. Lo kalo ga ngerti apa-apa masalah ini ga usah sok nyerocos dah nyet.

Lo pelajari dulu itu standar ohsas 18000 & 18001, baru deh lo jedotin kepala lo ampe peyang dan ngomong lagi kemare.

Dan biar lo tau, sistem pencegahan preventif itu juga ga melulu berkaitan dengan masalah teknis, dalam masalah manajemen juga bisa. Dan oleh karena itu bisa juga diterapkan dalam kaitan yang kita bahas ini.

Gimana udah ngerti sampe disini njing!! mad:

Quote:
Original Posted By friendboy

Masalah cost itu ada di masalah teknis, bukan di masalah sosial dul, makanya baca yang bener.


Jadi lo setuju klo keberatan elo, di worst case scenario untuk diterapkan dipermasalahin ga ada kendala masalah biaya kan njin!!!!

Artinya keberatan elo sebelumnya ga bisa dipake monyet!!!
Jadi penggunaan tindakan preventif dengan dasar worst case scenarion disini ga ada masalah donk kutu kuprreeettttttttt!!!!!
Quote:
Original Posted By friendboy

Pencuri itu seorang kriminal, sedangkan gay/lesbi itu bukan, persamaan lo ga setara dul. Sampai sekarang ga ada yang bisa memberikan fakta dasar mengapa seseorang ga boleh jadi guru hanya karena orientasi sexual mereka, yang ada cuma spekulasi kosong yang berdasarkan bias dan intoleransi. capedes

Oi njing!!!

Baca tulisan gw monyet!!
Ini tindakan preventif dengan dasar worst case scenario. Kita ga mw anak-anak itu meniru tindakan guru kita. Lo setuju klo worst case scenario dimasalah ini ga bermasalah di biaya. Artinya lo udah ga punya alasan monyett!!!!

Masalah kenapa ga boleh gay, udah gw jelasin karena ada faktor nurture yang bisa berpengaruh terhadap gay tidaknya seseorang.
Dan itu bukan spekulasi, anjinggggggg tolllollllllll!!!!
Ada penelitiannya monyetttttttt!!!!!

Ga dibaca argumen gw sebelumnya, bikin emosi aja lo muka panttaaatttttt!!!!!
mad:

Quote:
Original Posted By friendboy

Pedophilia dan bestiality itu termasuk disorder dul, sedangkan fetish itu masuk disorder jika fetish tersebut menyebabkan tekanan besar bagi orang tersebut atau mempengaruhi kehidupan mereka secara signifikan, kalau jadi orang ya jangan bego2 amat lah ngakaks
Or so you said ngakak

Jangan kebanyakan kemakan doktrin dogma yang berdasarkan kebencian, hasilnya cuma bakal jadi orang yang kepo dan bego iloveindonesias


Kebanyakan dogma gigi lo penyang!!
Klo seorang phedopilia disahkan oleh APA, yakinlah tekanan mereka dari RL akan berkurang.
Fetish juga ga menunjukkan kerugian apa-apa pada diri mereka, hanya ketertarikannya aja yang beda.

Makanya sama aja dengan homo njing.... Oleh karena itulah pengeluran homo dari daftar mentality disorder ga kuat alasannya.

Ngerti sampai disini nyet?
Coba deh lo renungkan dalam-dalam. Klo homo bisa dikeluarkan dari daftar penyakit karena dianggap hanya beda orientasi, kenapa si pedopil juga ga?
Toh pedofil pasti bisa hidup bahagia jika diberikan hak ngentotin anak kecil?

Coba deh, lo pahamin dulu bener-bener blok... baru nyerocos lagi disini pake argumen yg layak. D
KaskusGeeker - 04/12/2011 12:12 PM
#1638

[COLOR="Black"]@ALL:

Topik ini akan ditutup besok..

silahkan memberikan colisng statement masing-masing selagi ada wktu..


terimakasih kepada para homolover maupun homophobic krena sudah berpartisipasi memikirkan gay dan lesbian beer:[/COLOR]
dimasrhamdani - 04/12/2011 12:36 PM
#1639

ijin baca2 aja pak bos
IkutNyolot - 04/12/2011 04:26 PM
#1640

Quote:
Original Posted By KaskusGeeker
[COLOR="Black"]@ALL:

Topik ini akan ditutup besok..

silahkan memberikan colisng statement masing-masing selagi ada wktu..


terimakasih kepada para homolover maupun homophobic krena sudah berpartisipasi memikirkan gay dan lesbian beer:[/COLOR]


Duh, lagi ga ada kerjaan terus lagi jadi jomblo begini.. \(

Gw buatin CS yang mantap dah.

Pertama dari hasil perdebatan, ada satu fakta yang tidak dapat diganggu gugat oleh para homolover, yaitu penyebab kehomoan seseorang dipengaruhi oleh faktor nature+nurture.

Sekalipun arah trend penelitian saat ini mengarah pada nurture lebih berpengaruh maka akan lebih adil bagi kita untuk mengatakan bahwa kombinasi keduanya yang bertanggung jawab.

Dalam kasus ini, kita berbicara apakah seorang yang mendeklarasikan dirinya adalah seorang homo dibolehkan untuk menjadi pengajar.

Seperti telah dibahas dalam perdebatan antara gw dan beberapa orang, gw lebih menempatkan posisi bahwa demi mencegah sang anak (murid) menjadi homo, maka makhluk homo (apalagi yang terang2an) mendeklarasikan dirinya harus ditolak menjadi pengajar.

Alasan pertama adalah karena faktor nurture ternyata berpengaruh dalam pembentukan kehomoan seseorang.
Dari 2 faktor penyebab seseorang menjadi gay (nature + nurture), maka hanya nurture yang dapat kita kontrol dan kita kendalikan.

Dalam perdebatan, pihak homolover mengajukan keberatan karena menganggap probabilitas seorang anak mengikuti guru menjadi seorang homo sangat kecil sekalipun memang faktor lingkungan berpengaruh.

Namun, dalam defense gw, gw mengajukan prinsip worst case scenario. Bahwa kondisi paling buruk tetap dapat terjadi, dan satu orang anak saja menjadi seorang homo adalah suatu kerugian yang sangat besar.

Worst case scenario ini sangat beralasan, mengingat penelitian yang belum bisa menentukan faktor mana yang paling berpengaruh (nature or nurture), tetapi hasil penelitian2 terbaru menunjukkan bahwa nurture bisa memiliki pengaruh yang cukup besar. Oleh karena itu, dengan prinsip worst case scenario ini, maka perlu dilakukan pengontrolan terhadap nurture.

Dalam kasus ini, salah satu caranya adalah dengan melarang sang homo menjadi guru.

Beberapa keberatan lainnya dari pihak homolover adalah terlalu berlebihan menempatkan worst case scenario dalam masalah sosial dan terlebih menghilangkan hak seorang homo. Namun seiring perdebatan mulai terlihat bahwa worst case scenario dapat diterapkan dalam masalah sosial bukan juga dalam masalah teknis. Dalam perdebatan juga ditunjukkan bahwa pelarangan tersebut bukan merupakan suatu pelanggaran hak, melainkan suatu kepatutan agar tujuan tindakan preventif berdasarkan worst case scenario ini dapat efektif.

Pihak homolover juga berkeberatan dengan mengatakan worst case scenario dari segi biaya terlalu mahal, mulai ditinggalkan dan tidak dapat diterapkan dalam kehidupan sosial. Padahal pernyataan tersebut hanya menunjukkan ketollllolllllan pihak homolover saja.

Karena prinsip worst case selalu dipakai untuk safety, sekalipun biaya mahal untuk perusahaan yang memang mengikuti peraturan dan standar safety yang ada. Ditambah seiring perdebatan terbukti masalah cost ini tidak relevan jika dikaitkan dengan penerapan dalam kasus yang diperdebatkan. Karena penerapan tindakan preventif melarang makhluk homo mengajar ini, sama sekali tidak berindikasi pada tingginya biaya ataupun kerugian yang bakal diterima. Ketolllolllan lain dari pihak homolover adalah mengira bahwa prinsip worst case scenario hanya menyangkut masalah teknis/teknik saja. Padahal prinsip ini banyak diterapkan dalam berbagai bidang, sebagai bentuk continuous improvement serta tindakan preventif demi mengurangi resiko hal-hal yang tidak diinginkan.

Dengan demikian pada dasarnya, pihak homolover tidak punya landasan yang kuat untuk menolak tindakan preventif ini. Pihak homolover hanya bisa berkeberatan bahwa hal tersebut melanggar hak si homo. Namun seperti sudah dijelaskan atas dan dalam debat, bahwa pelarangan ini bukanlah suatu pelanggaran melainkan suatu kepatutan.

Sama halnya dengan tidak membiarkan pencuri menjadi guru, atau koruptor menjadi presiden, atau orang cacat dan tidak sehat tidak boleh menjadi presiden.

Hal ini merupakan suatu tindakan yang beralasan. Oleh karena itu, dengan CS ini, saya menyatakan bahwa pihak homolover tidak mampu menyanggah kenapa tindakan preventif tidak boleh dilakukan. Dan dalam debat juga sudah ditunjukkan bahwa tindakan preventif adalah sesuatu yang harus, wajar dan sangat beralasan.

Dengan kata lain, kesimpulannya adalah : makhluk-makhluk gay pegi mate aja lu... fuck2: , eh salah.... malus:

maksud gw, makhluk-makhluk gay tidak boleh mengajar di institusi.

Terimakasih. metal:
Page 82 of 332 | ‹ First  < 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 >  Last ›
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > (Intelectual Debaters Club) Topik 35 : Perlukah UU Anti Penistaan Agama?