Palembang
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > SUMATERA > Palembang > [Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe
Total Views: 48621 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 12 of 19 | ‹ First  < 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 >  Last ›

wakyah kelebu - 16/12/2009 05:31 PM
#221

Quote:
Original Posted By DedeknyAA
Cindo nian Oiiiiiiiii Palembang nie.........
Dak nyalahkenyo.
Cewek2nyo Cantek2 cak aku.wakakakakakmahomahomaho


asli cew" ma'ini ari la begaya galo dak cag jaman mak kito dulu....
blekatze - 16/12/2009 08:47 PM
#222

Quote:
Original Posted By de2xsys
Caknyo emang palsu mang gambar tuh. aku pernah baco di blog tapi lupo blog sapo hammer:

kalu jembatan bagian tengah naek, harusnyo bandul/pemberatnyo turun.
lagian ngapo jembatannyo diangkat, kan katik kapal yang liwat.

Bandingke dengan yang ini

[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe
Sebenernyo ini taun 1964, waktu uji coba naek-turunke bagian tengahnyo.

atau yang ini

[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe


Posisi pemberat kalu normalnyo.
[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe


Thx utk yang punyo gambar, aku upload ulang.

nah iyo jugo ye D bandul nyyo dak peratike mang D
meongmarah - 16/12/2009 08:57 PM
#223

Quote:
Original Posted By de2xsys
Caknyo emang palsu mang gambar tuh. aku pernah baco di blog tapi lupo blog sapo hammer:

kalu jembatan bagian tengah naek, harusnyo bandul/pemberatnyo turun.
lagian ngapo jembatannyo diangkat, kan katik kapal yang liwat.

Bandingke dengan yang ini

Spoiler for gambar

[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe
Sebenernyo ini taun 1964, waktu uji coba naek-turunke bagian tengahnyo.

atau yang ini

[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe


Posisi pemberat kalu normalnyo.
[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe



Thx utk yang punyo gambar, aku upload ulang.


bener jugo mang D
SinChaNkaskus - 18/12/2009 12:54 PM
#224

alangke indahnyo kota kito ni yo mang,,, sng aku jingok ft2 jaman dulu~ cak tenang nian,,, klo skrg la keramean pulok~ilovekaskus
wakyah kelebu - 18/12/2009 09:14 PM
#225

alangkeh indahnyo owww

kota palembang ma"ini arii
noped - 22/12/2009 01:04 PM
#226

Sebagai Keturunan orang palembang asli.
ANe salud ama Palembang, moga tahun depan bisa ke Palembang lagi.

Salam,
Noped
Kaskus reg Bali - Banyuwangi
aremantai - 24/12/2009 06:50 AM
#227

jingok sungai musi zaman dulu, pikiran aku cuma sikok

pasti maseh banyak patin waktu itu ye malu:
blekatze - 24/12/2009 12:33 PM
#228

Quote:
Original Posted By aremantai
jingok sungai musi zaman dulu, pikiran aku cuma sikok

pasti maseh banyak patin waktu itu ye malu:


bukan cuman paten kalo mang D iwak sembilang samo betutu n ikan tapa D
rohitsingh - 18/01/2010 02:03 PM
#229

Sejarah Tarian Gending Sriwijaya

[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe

Sebagai daerah yang sangat kaya menyimpan koleksi sejarah masa lalu, Palembang juga memiliki banyak ragam seni tari. Dari imajinasi dan khayalan terhadap zaman keraton Kerajaan Sriwijaya pada abad VI SM, yang sangat tersohor dengan ekspansi wilayah dan pusat Agama Budha sampai zaman keemasan kesultanan Palembang Darussalam. tahapan sejarah masa lalu itu sampai kini memberikan banyak inspirasi bagi masyarakatnya. Salah satunya adalah tarian. Menurut Elly Rudi, salah seorang koreografer (penata tari) di Palembang, yang terkenal dengan tari tradisi Palembang adalah tari Gending Sriwijaya. Tari tersebut melukiskan kegembiraan gadis-gadis Palembang saat menerima tamu yang diagungkan. Tepak yang berisi kapur, sirih, pinang, dan ramuan lainnya dipersembahkan sebagai ungkapan rasa bahagia.“Tidak sebatas itu, tari Gending Sriwijaya yang juga diiringi gamelan dan lagu yang berjudul sama juga merupakan sebuah ungkapan terhadap indahnya kehidupan keraton,” katanya. Elly menambahkan, penciptaan tari Gending Sriwijaya dilakukan jauh sesudah kehidupan Kerajaan Sriwijaya. Syairnya diciptakan oleh Nungtjik AR, pencipta lagu oleh Dahlan Mahiba, dan penarinya adalah Sukainah Rozak. Sebagai sebuah gambaran, bisa juga disebut sebagai imajinasi para pengarangnya. itu memang sangat menggambarkan kehidupan waktu itu,” katanya. Sehingga banyak orang kemudian mengagumi tarian tersebut. Bahkan, ketika menyebut tradisi Palembang, orang pasti akan menyebut tari Gending Sriwijaya, lengkap dengan syair dan irama lagunya. dia juga mengatakan seiring perkembangan waktu, tari tradisi Palembang pun mengalami pergeseran. Bukan perubahan tari secara fundamental, namun para seniman semakin berani dan bisa berkreasi. Salah satunya adalah tari Kipas. Tari yang memiliki dasar gerak dan pakem dari tari Batanghari Sembilan itu, memiliki kekhasan sendiri.
“Walau kreasi, tapi tidak lepas dari gerak tradisional tari Sumsel,” katanya. Masih menurut Elly, tari Kipas yang disebut juga tari Lenggok Musi tersebut, diciptakan sebagai jawaban terhadap kondisi kekinian, misalnya masalah politik dan ekonomi yang tidak menentu. “Orang sekarang suka bersaing dan cepat sekali emosi,” katanya. Kipas, kemudian menjadi simbol penyejuk, sehingga bila menontonnya, hati setiap orang akan luluh dan mampu memberikan kesan dan niat untuk mengubah diri. Selain itu, Lenggok Musi menjadi perlambang indahnya Sungai Musi.Warna tradisi Palembang menjadi ciri tak terpisahkan. Musik yang digunakan pun sangat khas, yaitu akordion, gamelan, gendang melayu, gong, dan gitar tunggal. Bila dilihat dari sudut itu, siapa bilang tari tradisi Palembang tidak bergerak dinamis.
Macam – macam tarian

1. Tari Gending Sriwijaya

adalah tari penyambutan dari Kota Palembang. Tari ini melukiskan kegembiraan gadis-gadis Palembang saat menerima kunjungan tamu yang diagungkan. “Tepak” yang berisi, kapur, sirih, pinang, dan ramuan lainnya dipersembahkan sebagai ungkapan rasa bahagia.

2. Tari Genta Siwa

Tari Geta Siwa merupakan tarian persembahan atau pemujaan yang menggambarkan keagungan Dewa Siwa. Tarian ini juga melukiskan keagungan Kerajaan Sriwijaya, gerakan-gerakan dalam tarian ini merupakan kolaborasi dari tari Gending Sriwijaya, tari Tanggai dan tari Lilin.

2. Tari Tampak Rebana

Tari Rampak Rebana adalah sebuah tari garapan baru yang bersumber dari musik sarafol anam dan tari Rodat. Akan tetapi penata tari hanya mengambil sebagian kecil dari bunyi pukulan terbangan dan gerakan yang terdapat pada musik sarofal anam dan tari Rodat, sehingga pada tari Tampak Rebana ini musik tidak hanya dimainkan oleh pemain musik tetapi juga dapat dimainkan oleh penari.

3. Tari Dana

Rasa gembira bagi kalangan remaja ketika mereka bertemu dengan teman-temannya, saling bercengkrama dan saling bercanda ria. Perasaan tersebut diwujudkan melalui ayunan langkah dan lenggak-lenggok tangan yang dibawakan oleh remaja-remaja dalam tari Dana ini. Biasanya tarian ini dibawakan secara berpasangan tetapi perkembangan sekarang tarian ini umumnya dibawakan oleh laki-laki saja.

4. Tari Melati Karangan

Tari ini menggambarkan tentang keagungan para gadis dan ibu daerah Palembang dengan ciri khasnya masing-masing. Lenggak dan subangnya itulah ciri khas gadis Palembang, sedangkan baju kurung dan selendang merupakan ciri khas ibu-ibu dari Palembang.

5. Tari Lenggok Musi

Tarian ini diilhami oleh alunan dan sentakan riak gelombang Sungai Musi. Kipas adalah lambang kesejukan. Setiap orang yang kepanasan pasti berkipas-kipas agar tubuhnya merasa sejuk. Sebagai lambang kedamaian-kesejukan, kipas dipakai sebagai properti

=================================================
Gending Sriwijaya merupakan tari spesifik masyarakat Sumatera Selatan untuk menyambut tamu istimewa yang bekunjung ke daerah ini, seperti kepala negara, kepala-kepala pemerintahan negara sahabat, duta-duta besar atau yang setara itu. Tari tradisional ini berasal dari masa kerajaan Sriwijaya. Tarian yang khas ini mencerminkan sikap tuan rumah yang ramah, gembira dan bahagia, tulus dan terbuka terhadap tamu yang istimewa itu. Tarian digelarkan 9 penari muda dan cantik-cantik yang berbusana Adat Aesan Gede, Selendang Mantri, paksangkong, Dodot dan Tanggai. Mereka merupakan penari inti yang dikawal dua penari lainnya membawa payung dan tombak. Sedang di belakang sekali adalah penyanyi Gending Sriwijaya. Namun saat ini peran penyanyi dan musik pengiring ini sudah lebih banyak digantikan tape recorder. Dalam bentuk aslinya musik pengiring ini terdiri dari gamelan dan gong. Sedang peran pengawal terkadang ditiadakan, terutama apabila tarian itu dipertunjukkan dalam gedung atau panggung tertutup. Penari paling depan membawa tepak sebagai Sekapur Sirih untuk dipersembahkan kepada tamu istimewa yang datang, diiringi dua penari yang membawa pridon terbuat dari kuningan. Persembahan Sekapur Sirih ini menurut aslinya dilakukan oleh putri saja. Sultan atau bangsawan. Pembawa pridon biasanya adalah sahabat akrab atau inang pengasuh sang putri. Demikianlah pula penari-penari lainnya. Tari Gending Sriwijaya, termasuk lagu pengiringnya, diciptakan tahun 1944 untuk mengingatkan para pemuda bahwa para nenek moyang adalah bangsa dan besar yang menghormati persaudaraan dan persahabatan antar manusia dan hubungan antara manusia dengan Sang pencipta.

Masyarakat Palembang memiliki seni tari sendiri, baik bergaya modern hasil kreasi seniman-seniwatinya, maupun tari-tarian klasik.Diantaranya, tari tepak atau tari tanggai yang biasa digelarkan untuk menyambut tamu-tamu terhormat. Tarian ini memiliki persamaan dengan tari Gending Sriwijaya. Perbedaannya pada jumlah penari dan busananya. Tari tepak atau tanggai dibawakan oleh 5 penari, sedang Gending Sriwijaya 9 penari. Busana penari tepak atau tanggai ini tidak selengkap busana dan asesori penari Gending. Tari Melati Karangan, merupakan perlambang keagungan kerajaan Sriwijaya mempersembahkan mealati dalam bentuk emas kepada kaisar Cina di abad ke VII. Tari Dana merupakan tarian rakyat yang biasa dibawakan para remaja. Tari digelarkan dalam acara gembira yang dibawakan 4-6orang penari atau secara massal oleh putra-putri. Tari Dana juga dikenal diseluruh Sumatera Selatan.

Festival Musi diselenggarakan berkaitan dengan perayaan Hari Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus. Puncakfestival ini adalah lomba bidar di sungai Musi, setelah peringatan resmi Hari Kemerdekaan itu berakhir. Festival Musi terkadang juga diikuti dengan lomba perahu hias, lomba bidar mini dan renang alam. Ribuan penonton menyaksikan lomba tersebut dari kedua sisi sungai dan jembatan Ampera. Sememtara itu warga kota menggelarkan pula berbagai atraksi hiburan seperti panggung terbuka untuk lagu dan tari, dan kegiatan-kegaitan lain yang menggembirakan.

[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe
cabe97 - 18/01/2010 02:13 PM
#230

dulur dulur, ado yang tau sejarah nyo Tari Tanggai Palembang dak ye .. ?
mohon bantuan nyo dulur?
terimo kasih sebelum nyo dulur ... \)
blekatze - 18/01/2010 02:25 PM
#231

Quote:
Original Posted By cabe97
dulur dulur, ado yang tau sejarah nyo Tari Tanggai Palembang dak ye .. ?
mohon bantuan nyo dulur?
terimo kasih sebelum nyo dulur ... \)


nah itu dipucuk biso bantu dak mang D[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe
cabe97 - 18/01/2010 03:04 PM
#232

Quote:
Original Posted By blekatze
nah itu dipucuk biso bantu dak mang D[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe


\( tari tanggai mang ...
yg di pucuk tu tari gending ... \)
tp dak papo la, di save dululah, pasti kagek beguno \)

thanks mang \)
wilsonb15on - 22/01/2010 03:39 PM
#233

Numpang ngeliat ye....
wilsonb15on - 23/01/2010 04:29 PM
#234

Quote:
Original Posted By blekatze
hari ini 10 tahun lalu mungkin masih inget samo gambar2 ini \)


tragedi kerusuhan 19 Oktober 1998
[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe
[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe
[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe
[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe
[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe
[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe



Ngeri yo mang...waktu itu....
wilsonb15on - 23/01/2010 04:33 PM
#235

Quote:
Original Posted By blekatze


TERMINAL
[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe
terminal pasar 16 jaman dulu

[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe
terminal pasar cinde

[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe
pasar 16


Dule bagus nian...sekarang....basah nian.....
wilsonb15on - 23/01/2010 04:36 PM
#236

Quote:
Original Posted By spinneland
[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe
pembangunan jembatan kertapati



Masih setengah jadi...baru separo....
wilsonb15on - 23/01/2010 04:42 PM
#237

Quote:
Original Posted By Benk2 King
[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe



[Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe


Bagus nian ye......

Luas-bersih.....
aal5678 - 21/03/2010 10:15 AM
#238

sebelomnyo salken dulu untuk mangcek samo bicek di thread ini shakehand
maco dari halaman pertamo sampe halaman teraher aq jingok dan ku baco jadi dak galak teduk lagi mato aq ini matabelo:
haselnyo jd namba th bae aq tentang kota tempat aq dilaherken\)
bagus nian info ini thumbup:

tapi ngomong2 blm ado yg posting masaan samo makanan khas kito ;)
semoga plembang lebih maju lagi
blekatze - 29/03/2010 01:24 PM
#239

sisa peradaban tua di bumi sriwijaya


JELAJAH MUSI 2010
Teluk Kijing, Merekam Jejak Masa Lalu

Kamis, Maret 2010 | 03:03 WIB

Dari jauh, hanya pucuk atap-atap rumah yang terlihat di lembah itu. Lalu tampak jendela, dinding, pintu, tangga, dan akhirnya, perkampungan yang terendam pada pekan terakhir Februari lalu. Itulah Desa Teluk Kijing II, Kecamatan Lais, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Di gerbang desa itu kami membelalakkan mata, terpana.

Desa itu memang berada di tepi Sungai Musi. Kami gembira, tapi segera miris oleh realitas depan mata pada pekan terakhir Februari lalu itu. Puluhan hingga ratusan rumah panggung terendam. Sebagian jalan desa pun tidak lagi terlihat. Mobil dan sepeda motor diparkir di lokasi lebih tinggi di luar wilayah desa.

Kepala Desa Teluk Kijing II Margareta mengatakan, 1.500 rumah dari 2.000 rumah di desa itu kebanjiran. ”Ketinggian air ada yang lebih dari orang dewasa (sekitar dua meter),” ujarnya. Akibat air meninggi, warga mengungsi ke kerabat. mereka.

Kisah sejarah

Dari jalan Palembang-Sekayu, desa ini hanya 11 kilometer, dari Palembang hanya 120 kilometer. Melalui sungai, Kijing II hanya 2,5 jam perjalanan dari Palembang dengan kapal cepat (speedboat) kekuatan 40 tenaga kerja.

Kijing II juga tidak terpencil. Telekomunikasi nyambung terus walau hanya sinyal Excelcomindo (XL) yang paling kuat.

Sesungguhnya Teluk Kijing ini menyimpan sejarah. Sekitar 2,5 kilometer ke arah hulu Sungai Musi, dekat tempuran Musi dan Sungai Batanghari Leko, ditemukan reruntuhan candi. Jejak permukiman kuno juga ada dalam rentang 4 kilometer di tepi Musi dan temuan fragmen-fragmen keramik kuno di kebun karet desa itu diduga dari abad VIII Masehi. Desa Kijing mungkin pernah jadi ”kampung internasional”, disinggahi pedagang China dan India.

Terlebih, Sungai Musi sebagai satu-satunya akses penghubung antara kota di pedalaman, seperti Muara Kelingi, Babat Toman, dan Sekayu, dengan Palembang dan muara Musi; makin menjadikan posisi Teluk Kijing sangat strategis. Sebab ketika itu jalan raya belum dikenal.

Baiklah. Faktanya kini jalan desa sejauh 11 kilometer dari tepi jalan raya utama kini sulit dilalui kendaraan kecil akibat rusak berat. Buruknya kondisi jalan tersebut membuat mobilitas penduduk setempat terganggu.

Saat ini tidak pada tempatnya mencari penyebab kerusakan jalan. Yang terpenting memperbaiki kerusakan yang ada agar transportasi lancar dan ekonomi setempat kian tumbuh.

Harus dicarikan solusi tepat bagi permukiman di desa ini yang nyaman. Apalagi, dinding Sungai Musi di Teluk Kijing pun semakin sering terkena abrasi. (Haryo Damardono)

Teluk Kijing, Janganlah Menangis...

KOMPAS.com - Dari jauh, hanya pucuk atap-atap rumah yang terlihat di lembah itu. Lantas, tampak jendela, dinding, pintu, tangga; dan akhirnya, perkampungan yang terendam. Itulah Desa Teluk Kijing II, Kecamatan Lais, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Di gerbang desa itu kami membelalakkan mata, terpana.

Senja menjelang. Kami berpacu waktu untuk menjemput Tim Jelajah Musi 2010 di tepi Musi. Sebab ketika malam tiba, sangatlah sulit untuk mengarahkan laju kapal karena tepian sungai tak terlihat. Belum lagi, ada ancaman kapal terguling bila menabrak kayu.

Mobil pun digeber lebih dari 100 kilometer per jam, walau jalan desa sempit. Jujur, kami tak tahu di mana letak Musi, tapi begitu kaki menyentuh dinginnya air di desa yang terendam ini, kami tahu: Musi sudah dekat!

Desa itu memang di tepi Musi. Kami gembira, tapi segera miris oleh realitas depan mata. Puluhan hingga ratusan rumah panggung terendam, walau mentari di hari itu sangat terik. Jalan desa pun tak lagi terlihat; mobil dan motor diparkir di tanah tinggi di luar desa.

Di mana-mana terlihat warga menyingsingkan celananya ketika berjalan, anak-anak bermain air beberapa di antaranya bahkan menggunakan sampan kecilnya untuk keliling desa. Sementara orang-orang tua, duduk termanggu di teras atau tangga rumah panggung di sore itu.

Kepala Desa Teluk Kijing II, lelaki bernama Margareta mengatakan, 1.500 rumah dari 2.000 rumah di desa itu kebanjiran. "Ketinggian air ada yang lebih dari orang dewasa," ujarnya dengan tangannya ditumpangkan beberapa sentimeter di atas kepala.

Akibat banjir meninggi, warga mengungsi ke kerabat. Beberapa warga juga berniat untuk merelokasi sendiri rumah mereka, meski tak semua orang mempunyai kemampuan finansial untuk memindahkan rumah.

Kali ini, dua bulan telah berlalu, dan banjir tak pernah sehari pun surut. Banjir juga merendam kebon karet sehingga susah dipanen. "Kami tak punya uang," kata Rahman, petani karet yang nimbrung tangannya seperti menengadah.

Meski terendam sejak Desember 2009, belum datang bantuan dari Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin, apalagi Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. "Juga tak ada pejabat yang datang ke sini," ujar Margareta. Nada suaranya, seolah pejabat sejenis dewa penolong dari langit.

Terisolir?

Terisolirkah Desa Kijing II? Tidak juga. Dari jalan Palembang-Sekayu, desa ini hanya 11 km, dari Palembang hanya 120 km. Melalui sungai, Kijing II hanya 2,5 jam perjalanan dari Palembang dengan kapal cepat (speedboat) kekuatan 40 tenaga kuda.

Kijing II juga tak terpencil. Telekomunikasi nyambung terus, walau hanya sinyal Excelcomindo (XL) yang paling top-markotop.

Andai Desa Kijing II menangisi dirinya sendiri karena merasa terisolir, itulah lelucon terbesar. Itu sebuah kemunduran! Sebab, 2,5 kilometer menghulu Musi, dekat tempuran Musi dan Sungai Batanghari Leko ditemukan reruntuhan candi.

Jejak permukiman kuno juga ada dalam rentang 4 km di tepi Musi, dan temuan fragmen-fragmen keramik kuno di kebon karet desa itu diduga dari abad VIII Masehi. Desa Kijing, mungkin pernah jadi kampung internasional, disinggahi pedagang China dan India.

Terlebih, sungai Musi sebagai satu-satunya akses penghubung antara kota-kota di pedalaman seperti Muara Kelingi, Babat Toman, Sekayu, dengan Palembang dan muara Musi; makin menjadikan posisi desa itu sangat strategis. Sebab jalan raya ketika itu belum dikenal.

Baiklah. Faktanya kini jalan desa sejauh 11 km, kini sulit dilalui kendaraan kecil akibat rusak berat. Cari perusaknya. Apakah kerusakan jalan disebabkan oleh truk sawit, atau truk karet? Kemudian, selidikilah tonase truk-truk itu, mungkin terjadi kelebihan muatan sehingga menghancurkan jalan desa. Lantas, suruh perbaiki jalan desa itu, agar transportasi lancar, dan ekonomi kian tumbuh.

Bagaimana dengan permukiman yang terendam? Segera gelar musyawarah desa untuk merelokasi permukiman. Ada lapangan bola di sisi timur desa, yang ironisnya di tanah tinggi. Mengapa tidak ditukar guling? Rumah di tanah tinggi, dan lapangan di dasar lembah, di tepi Musi?

Bila jalan desa kerap terendam, buatlah jembatan kayu sebagai penghubung dari rumah ke rumah. Di muara Musi, di Desa Sungsang, warga juga membangun jembatan itu karena tinggal di atas tanah pasang-surut. Singkatnya, beradaptasilah bi la ingin bermukim di tepi Musi. Dan warga di Teluk Kijing, janganlah terlalu banyak mengeluh dan bermuram durja.

Moch Amron, Plt Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum menegaskan, seharusnya warga di tepian Musi sendiri yang paham tentang pasang-surutnya sungai itu. "Mereka sudah harus tahu, tanpa perlu diberitahu pemerintah, mengenai wilayah-wilayah mana yang seharusnya dihindari untuk dibangun rumah," kata dia.

Berdasarkan keterangan warga, selain diterjang banjir , ternyata tebing sungai di desa itu juga sering longsor. Sepuluh tahun terakhir, 20 rumah ambruk, amblas ke Musi. "Saya sudah lapor ke pemkab, tapi belum ada pembangunan turap," kata Rudi Hartono, anggota DPRD Musi Banyuasin asal Teluk Kijing II.

Harusnya, ada yang memimpin warga untuk mengeser rumahnya menjauh dari tebing sungai. Bergotong-royong-lah! Bantaran sungai di sana sangat luas, bila sekedar untuk menggeser rumah.

Apalagi ironisnya, ladang-ladang yang jauh dari tepi Musi malah ditanami sawit atau karet. Mengapa tidak, permukiman-permukiman itu yang digeser ke tengah kebon, sebaliknya tepian-tepian sungai yang ditanami tanaman keras pencegah erosi, baru kemudian ditanami tanaman produksi.

Jadi warga Kijing II, jangan mengeluh, jangan menangis, apalagi merengek bantuan. Mungkin, leluhur desa yang dulu pernah jadi warga kampung internasional, malah malu dengan kalian. Beradaptasilah, bersahabatlah dengan Musi. Janganlah Musi dibelakangi oleh rumah-rumah kalian seperti sekarang ini....

http://regional.kompas.com/read/2010/03/16/16015232/Teluk.Kijing..Janganlah.Menangis...
galant1993 - 29/03/2010 07:48 PM
#240

Mangstabbbss...
reunian jaman kakek buyut kito dulu...
ngapolah buyut ak dak matok deket mesjid agung pas lagi masih utan cak itu ye... hehehe..iloveindonesia
Page 12 of 19 | ‹ First  < 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 >  Last ›
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > SUMATERA > Palembang > [Sharing Photo] SUMSEL Tempoe Doeloe