Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > Menyan : Dulu dan Kini - Sebuah Pemahaman Tentang Kemenyan dan Dupa
Total Views: 13005 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 2 of 17 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›

TheMans - 11/11/2011 08:09 PM
#21

Walik Dulu cool:

sekalian mau tanya, saya liat menyan ada yang warnanya hitam, putih dan merah, apa setiap wrna itu jenis dan khasiatnya berbeda puh ? mohon pencerahannya o
coffin - 11/11/2011 08:20 PM
#22

Quote:
Original Posted By hateisworthless
Thread mantap :2thumbup

sekaligus memantau thread ini

tidak ada kompromi dan pandang bulu, untuk postingan OOT dan Flame

army:


siap mbah, makasih pantauannyashakehand2

Quote:
Original Posted By angel.wijaya
nambahin sedikit mbah shakehand


Quote:
Original Posted By TheMans
Walik Dulu cool:

sekalian mau tanya, saya liat menyan ada yang warnanya hitam, putih dan merah, apa setiap wrna itu jenis dan khasiatnya berbeda puh ? mohon pencerahannya o


yang kayak diatas itu ya mbah?

katanya sih beda di campurannya,

dan sepertinya memang filosofinya beda

tentang khasiat belum tau D
buhitoz - 11/11/2011 08:26 PM
#23

Ikut mojok, mbah coffin
Numpang belajar Menyan : Dulu dan Kini - Sebuah Pemahaman Tentang Kemenyan dan Dupa
angel.wijaya - 11/11/2011 08:27 PM
#24

Quote:
Original Posted By buhitoz
Ikut mojok, mbah coffin
Numpang belajar Menyan : Dulu dan Kini - Sebuah Pemahaman Tentang Kemenyan dan Dupa


kang tulisanya saya copas di sini tadi shakehand:
coffin - 11/11/2011 08:43 PM
#25

Quote:
Original Posted By buhitoz
Ikut mojok, mbah coffin
Numpang belajar Menyan : Dulu dan Kini - Sebuah Pemahaman Tentang Kemenyan dan Dupa


wah ini dia pakarnya, mohon dishare ilmunya mbahshakehand2

====================

oh iya tak share dulu apa niatan saya kalau bakaran menyan,

dalam setiap dolan ke kawasan petilasan / candi / makam maupun dirumah, saya sempatkan untuk mbakar menyan / dupa tak jarang keduanya karena kata seorang praktisi, mahluk yang menikmati menyan dan dupa dari tingkatan yang berbeda

niatnya adalah sekedar uluk salam, atau oleh oleh untuk di saji / dinikmati oleh mahluk mahluk di sekitar situ baik yang tingkatannya tinggi maupun yang gentayangan,

ini seperti saya bertandang ke rumah saudara atau seorang kawan baik sekedar menyambung tali silaturahmi ataupun keperluan lainnya, saya membawa oleh oleh jajanan,

ada kalanya saya barengi dengan tambahan air putih ataupun bunga,

selain untuk uluk salam, ini juga bentuk rasa terima kasih saya kepada mahluk mahluk sekitar situ, baik yang tingkat tinggi ataupun rendah untuk partisipasinya turut menjaga keutuhan petilasan / candi tersebut, tak lupa membacakan doa doa yang berenergi positif untuk mereka

prinsipnya adalah memberi dan saling berbagi,

bila dirumah, saya memberikan persembahan bunga, buah, air dan dupa kepada dewa dewa,
dalam kepercayaan keluarga kami, dewa dewa memiliki sumbangsih besar dalam mengatur dan menata kehidupan manusia,

tentu para dewa tidak membutuhkan itu semua, karena mereka sudah dalam kondisi memiliki lebih dari apa yang kita persembahkan, namun segala persembahan tersebut adalah semacam simbolisasi sebagai wujud ketulusan dan rasa terima kasih dan bakti kepada mereka,

bagaimana untuk kawan kawan disini?
ezgoing - 11/11/2011 08:53 PM
#26

haduh ga kebagian page one D

Quote:
Original Posted By ]
“NGUKUS”: TRADISI MEMBAKAR KEMENYAN






Rate This

Pengertian “Ngukus“

“Ngukus” merupakan kata kerja dari kata “kukus” , yang mempunyai makna asal “mengepul”, “berasap”, ataupun “mengeluarkan asap”. Dalam budaya Sunda, “Ngukus ” bermakna “aktivitas membakar menyan (kemenyan) yang menyertai ritual tertentu. Sedangkan, “kukusan” bermakna tempat “kukus” yang biasanyadibuat dari tembikar berbetuk mangkuk.

“Kemenyan” berasal dari “getah” [eksudat] kering yang berasal dari pohon kemenyan, yang keluar dengan sendirinya atau senagaja ditoreh [diturih], serupa dengan cara mengambil getah karet. Terdapat beberapa jenis kemenyan yang masing-masing memiliki kadar wangi yang berbeda-beda, sangat tergantung pada kualitasnya. Kemenyan yang bagus, pada masanya, mempunyai harga sebanding dengan emas.

Pada satu sisi, ngukus merupakan bagian dari budaya yang dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Sunda, dan lainnya. Pada sisi lainnya, kepemilikan kemenyan dapat menunjukkan status sosial pemiliknya

Cara "Ngukus"

"Ngukus" dilakukan dengan cara membakar serpihan kayu atau arang hingga meghasilkan bara. Ketika bara sudah terbetuk, maka mulailah ditaburi atau dimasukkan kemenyan tersebut. Sebagian orang, terutama para sepuh, melakukan hal ini dengan membacakan doa-doa atau mantera-mantera tertentu.Jika membakar kemenyan tersebut dilakukan di ruangan, maka ketika "asap" kemenyan sudah terbentuk, maka kukusan kemudian dikelilingkan ke seluruh agar wangi kemenyan menyebar ke seluruh ruangan. Jika hal tersebut dilakukan di luar ruangan, maka ia hanya diputar-putar di atas kepada ke seluruh penjuru angin. setelah itu, maka kukusan dapat disimpan di tempat tertentu, seperti "gowah" >[gudang"►

atau dapur.

Fungsi “Ngukus“

Ada beberapa fungsi ngukus [membakar kemenyan] dalam pelaksanaan ritus atau ritual pada masyarakat Sunda. Pertama, untuk mengharumkan ruangan. Pada zamannya “ngukus” dimaksudkan untuk mengharumkan ruangan, serupa dengan fungsi “dupa” atau minyak wangi. Sebagian meneyebutkan bahwa “kukus” juga dapat mengusir nyamuk. Kedua, meningkatkan konsentrasi ketika melakukan semedi [mujasmedi] atau “bertapa”. Ketiga, sebagian memaknai bahwa “ngukus’ merupakan media untuk menghadirkan “makhluk ghaib” [malaikat atau jin] agar mau mendekat ke ruangan tersebut dan memberkati ritual yang akan dilakukan. Ada juga yang memaknai bahwa kukusan merupakan media untuk menghubungkan dunia manusia dengan dunia ruh.

Cileunyi-Bandung, 20 April 2011

Dadan Rusmana


source : http://dadanrusmana.wordpress.com/2011/04/21/ngukus-tradisi-membakar-kemenyan/



tradisi yang melekat pada beberapa acara kemasyarakatan di berbagai suku \)
coffin - 11/11/2011 09:04 PM
#27

Quote:
Original Posted By ezgoing
haduh ga kebagian page one D



tradisi yang melekat pada beberapa acara kemasyarakatan di berbagai suku \)


sip mantab mbah, nanti tak bikinken index di depan untuk artikel artikel yang ga masuk pekiwan D
ezgoing - 11/11/2011 09:15 PM
#28

Quote:
Original Posted By coffin
wah ini dia pakarnya, mohon dishare ilmunya mbahshakehand2

====================

oh iya tak share dulu apa niatan saya kalau bakaran menyan,

dalam setiap dolan ke kawasan petilasan / candi / makam maupun dirumah, saya sempatkan untuk mbakar menyan / dupa tak jarang keduanya karena kata seorang praktisi, mahluk yang menikmati menyan dan dupa dari tingkatan yang berbeda

niatnya adalah sekedar uluk salam, atau oleh oleh untuk di saji / dinikmati oleh mahluk mahluk di sekitar situ baik yang tingkatannya tinggi maupun yang gentayangan,

ini seperti saya bertandang ke rumah saudara atau seorang kawan baik sekedar menyambung tali silaturahmi ataupun keperluan lainnya, saya membawa oleh oleh jajanan,

ada kalanya saya barengi dengan tambahan air putih ataupun bunga,

selain untuk uluk salam, ini juga bentuk rasa terima kasih saya kepada mahluk mahluk sekitar situ, baik yang tingkat tinggi ataupun rendah untuk partisipasinya turut menjaga keutuhan petilasan / candi tersebut, tak lupa membacakan doa doa yang berenergi positif untuk mereka

prinsipnya adalah memberi dan saling berbagi,

bila dirumah, saya memberikan persembahan bunga, buah, air dan dupa kepada dewa dewa,
dalam kepercayaan keluarga kami, dewa dewa memiliki sumbangsih besar dalam mengatur dan menata kehidupan manusia,

tentu para dewa tidak membutuhkan itu semua, karena mereka sudah dalam kondisi memiliki lebih dari apa yang kita persembahkan, namun segala persembahan tersebut adalah semacam simbolisasi sebagai wujud ketulusan dan rasa terima kasih dan bakti kepada mereka,

bagaimana untuk kawan kawan disini?


kalau saya tidak membakar menyan mas tapi dupa D karena alasan kepraktisan ( agak susah membakar menyan mas, musti bawa anglo/kertas koran bekas/ kapas plus minyak zippo Yb )

maksud dan tujuannya untuk bebrayan/ rukun tetangga D
ButoGalak - 11/11/2011 10:44 PM
#29

ngakak
nyambung dgn trit ane mbah :2thumbup

kalo saya menggunakan menyan malah utk merokok tepatnya klembak menyan cap dewi asmara genit:
nah kalo dupa ya sama dgn om kopin wong pernah bbrp kali jalan bareng ke candi dan petilasan je D

menyan dan dupa sebagai media utk berkomunikasi dgn alam lain ada benarnya juga, walaupun itu tidak mutlak harus makai itu, itu menurut pengalaman yg saya alami D

simbolisasi dari jumlah dupa yg ditancapkan menurut saya Peace:
3 = perwujudan dari cipta rahsa dan karsa
7 = pitulungan/pertolongan
9 = sanga/sangha/suci
11 = sewelas/kawelasan/kasih sayang
17 = pitulungan lan kawelasan/pertolongan dan kasih sayang

menyan dan dupa itu hanya alat bisa utk kebaikan dan bisa utk yg kurang baik, penggunaan menyan oleh "tetangga sebelah" yg utk mengakses info dari leluhur ttg piramid dkk Peace: saya kira sah2 saja ASALKAN HANYA UNTUK KONSUMSI PRIBADI atau kalangan sendiri, yg jadi masalah ketika itu di kroscek dgn sejarah versi yg ada apalagi ditambahi bumbu kesombongan yg mengatakan arkeolog se indo salah semua....yo wis bubrah kabeh karepe piye nek ngene ngakak
patih.djelantik - 11/11/2011 10:58 PM
#30

Waktu saya kecil dulu, sering liat nenek bakar kemenyan. Biasanya sih bakar sambuk (kulit kelapa kering) lalu diatasnya ditabur menyan. Tapi sekarang jarang liat di daerah saya (bali) yang bakar menyan. Lebih banyak menggunakan dupa, mungkin lebih praktis kali ya. D


Ngomongin kemenyan, awas momod forum sebelah datang lho Peace: Menyan : Dulu dan Kini - Sebuah Pemahaman Tentang Kemenyan dan Dupa
zeth - 11/11/2011 11:00 PM
#31

Quote:
Original Posted By ButoGalak
ngakak
nyambung dgn trit ane mbah :2thumbup

kalo saya menggunakan menyan malah utk merokok tepatnya klembak menyan cap dewi asmara genit:
nah kalo dupa ya sama dgn om kopin wong pernah bbrp kali jalan bareng ke candi dan petilasan je D

menyan dan dupa sebagai media utk berkomunikasi dgn alam lain ada benarnya juga, walaupun itu tidak mutlak harus makai itu, itu menurut pengalaman yg saya alami D

simbolisasi dari jumlah dupa yg ditancapkan menurut saya Peace:
3 = perwujudan dari cipta rahsa dan karsa
7 = pitulungan/pertolongan
9 = sanga/sangha/suci
11 = sewelas/kawelasan/kasih sayang
17 = pitulungan lan kawelasan/pertolongan dan kasih sayang

menyan dan dupa itu hanya alat bisa utk kebaikan dan bisa utk yg kurang baik, penggunaan menyan oleh "tetangga sebelah" yg utk mengakses info dari leluhur ttg piramid dkk Peace: saya kira sah2 saja ASALKAN HANYA UNTUK KONSUMSI PRIBADI atau kalangan sendiri, yg jadi masalah ketika itu di kroscek dgn sejarah versi yg ada apalagi ditambahi bumbu kesombongan yg mengatakan arkeolog se indo salah semua....yo wis bubrah kabeh karepe piye nek ngene ngakak


Nah..ini yang saya maksud, kang Ton.
Kita ndak anti menyan kok..sholat pakai dupa juga terasa lebih khusuk.
ButoGalak - 11/11/2011 11:01 PM
#32

Quote:
Original Posted By patih.djelantik
Waktu aku kecil dulu, sering liat nenek bakar kemenyan. Biasanya sih bakar sambuk (kulit kelapa kering) lalu diatasnya ditabur menyan. Tapi sekarang jarang liat di daerah saya (bali) yang bakar menyan. Lebih banyak menggunakan dupa, mungkin lebih praktis kali ya. D Menyan : Dulu dan Kini - Sebuah Pemahaman Tentang Kemenyan dan Dupa


yg jelas lebih praktis dan nyumetnya lebih gampang D
keknya mas bli harus kampanye menyan nih di daerah asal Peace: __________ ngacir:
kejangketek - 11/11/2011 11:12 PM
#33

ane sih cuma beberapa kali make menyan, lebih sering pakai dupa karena praktis.

biasanya ane ngidupin dupa saat ane sedang rekreasi ke sebuah tempat suci/keramat seperti candi, petilasan, makam keramat, dll. intinya cuma sebagai bentuk permisi dan penghormatan pada makhluk lain yang ada di tempat itu, dan wangi dupa cendana bikin rileks/tenang/santai jadi lebih enak pas menghayal tentang tempat yang ane kunjungi

selain itu ane juga meletakan persembahan berupa dupa dan kembang setaman di hadapan pusaka turun-temurun di keluarga ane, tujuannya untuk menghormati dan meninggikan drajat pusaka dan melestarikan budaya keluarga saja
prabuanom - 11/11/2011 11:13 PM
#34

salah kaprah kemenyan memang datang dari mana mana. dikampung saya dijawatimur jangankan kemenyan. membakar hio saja bisa dianggap memuja pesugihan atau santet. padahal maksudnya baik untuk berdoa. apalagi memakai kemenyan, pasti akan dianggap punya perewangan dan segalanya. nah hal ini tentunya terjadi karena pergeseran tata nilai dalam masyarakat yang berganti dari kearifan lokal menjadi suatu pandangan baru yg dipengaruhi agama mayoritas yg menganggap bahwa menggunakan kemenyan adalah sebuah kesalahan. stigmanya yg dilekatkan adalah mengundang demit, atau memberi makan demit. karena itu solusinya kalo dikanpung terpaksa meninggalkan wewangian yg dibakar dan diganti kembang ditakir. itupun juga masih dicurigai...hahaha D
coffin - 11/11/2011 11:23 PM
#35

Quote:
Original Posted By ezgoing
kalau saya tidak membakar menyan mas tapi dupa D karena alasan kepraktisan ( agak susah membakar menyan mas, musti bawa anglo/kertas koran bekas/ kapas plus minyak zippo Yb )

maksud dan tujuannya untuk bebrayan/ rukun tetangga D


Quote:
Original Posted By ButoGalak
ngakak
nyambung dgn trit ane mbah :2thumbup

kalo saya menggunakan menyan malah utk merokok tepatnya klembak menyan cap dewi asmara genit:
nah kalo dupa ya sama dgn om kopin wong pernah bbrp kali jalan bareng ke candi dan petilasan je D

menyan dan dupa sebagai media utk berkomunikasi dgn alam lain ada benarnya juga, walaupun itu tidak mutlak harus makai itu, itu menurut pengalaman yg saya alami D

simbolisasi dari jumlah dupa yg ditancapkan menurut saya Peace:
3 = perwujudan dari cipta rahsa dan karsa
7 = pitulungan/pertolongan
9 = sanga/sangha/suci
11 = sewelas/kawelasan/kasih sayang
17 = pitulungan lan kawelasan/pertolongan dan kasih sayang

menyan dan dupa itu hanya alat bisa utk kebaikan dan bisa utk yg kurang baik, penggunaan menyan oleh "tetangga sebelah" yg utk mengakses info dari leluhur ttg piramid dkk Peace: saya kira sah2 saja ASALKAN HANYA UNTUK KONSUMSI PRIBADI atau kalangan sendiri, yg jadi masalah ketika itu di kroscek dgn sejarah versi yg ada apalagi ditambahi bumbu kesombongan yg mengatakan arkeolog se indo salah semua....yo wis bubrah kabeh karepe piye nek ngene ngakak


ya jane memang dupa menang dari segi kepraktisan membakarnya, apalagi aroma dupa sekarang dah macem macem, ga kayak menyan yang itu itu aja D

aku bawa menyan paling klo pas ngga bawa dupa yang kecil, adanya dupa yang batang dan ga bawa tas gede,

cuma ya itu, nyumete angel D

menyan itu ibarat handphone, alat tambahan buat komunikasi sama yang jauh jauh,

ning nek sudah punya ilmu telepati yo handphone alih fungsi dadi jam beker D
ButoGalak - 11/11/2011 11:23 PM
#36

Quote:
Original Posted By zeth
Nah..ini yang saya maksud, kang Ton.
Kita ndak anti menyan kok..sholat pakai dupa juga terasa lebih khusuk.


injih mas sony...saya juga setuju bahwa semua berawal dari ego sepihak yg mau merasa benar sendiri shakehand2
ngomong2 kalo sholat pake kemenyan kok terasa aneh yah di masjid sekarang ini, dulu pas jaman saya sedang alim2nya sering ke mesjid2 pelosok jogja gak pernah ketemu orang sholat sambil bakar kemenyan atau dupa ngakaks ...btw bagus juga tips mas sony kalo sholat sambil bakar menyan bisa menambah kekhusyukan walopun sekarang saya dah jarang sholat Peace:

barangkali ada yg mau dishare lagi mas...sumonggo shakehand2
buhitoz - 11/11/2011 11:37 PM
#37

Quote:
Original Posted By angel.wijaya
kang tulisanya saya copas di sini tadi shakehand:


Quote:
Original Posted By coffin
wah ini dia pakarnya, mohon dishare ilmunya mbahshakehand2


Kang papi, itu juga ane dapet copas kok

Bukan pakar, mbah
malus
sama sekali bukan

hanya ada pengalaman waktu kecil
di rumah setiap malam selasa dan malam jumat suka bikin parupuyan
terus bakar menyan, di kelilingin dalem rumah

sekarang udah nggak lagi

makanya ane numpang belajar soal menyan itu di sini
shakehand
prabuanom - 11/11/2011 11:44 PM
#38

ngomong ngomong soal menyan di masjid. ini cerita saat jaman kecil dulu, dimana listrik aja masih belum rata. saya ke sebuah masjid di salah satu pinggir kota. pas malam jumat aroma apa yg tercium?aroma kemenyan. sangat kuat sekali. dan memang solat maghrib jd lebih gimana gitu. skarang masjid itu sudah dipugar dan tingkat. terahir pulang kampung sudah tidak ada lagi bau bau kemenyan seperti jaman dulu. jd kangen masa itu. dimana masih agak gelap, dan masih ada suatu akulturasi yang terjadi di dalamnya \)
ButoGalak - 11/11/2011 11:49 PM
#39

Quote:
Original Posted By prabuanom
ngomong ngomong soal menyan di masjid. ini cerita saat jaman kecil dulu, dimana listrik aja masih belum rata. saya ke sebuah masjid di salah satu pinggir kota. pas malam jumat aroma apa yg tercium?aroma kemenyan. sangat kuat sekali. dan memang solat maghrib jd lebih gimana gitu. skarang masjid itu sudah dipugar dan tingkat. terahir pulang kampung sudah tidak ada lagi bau bau kemenyan seperti jaman dulu. jd kangen masa itu. dimana masih agak gelap, dan masih ada suatu akulturasi yang terjadi di dalamnya \)


wah nais inpoh mbah....kalo sekarang mesjid dikeraton ya nyumet menyane pas ada acara aja semisal grebeg...tapi kalo pas sholat berjamaah keknya blom pernah lihat CMIIW...btw dulu pas kecil kalo bau2 menyan suka mrinding disko takut
ezgoing - 11/11/2011 11:51 PM
#40

Quote:
Original Posted By coffin
ya jane memang dupa menang dari segi kepraktisan membakarnya, apalagi aroma dupa sekarang dah macem macem, ga kayak menyan yang itu itu aja D

aku bawa menyan paling klo pas ngga bawa dupa yang kecil, adanya dupa yang batang dan ga bawa tas gede,

cuma ya itu, nyumete angel D

menyan itu ibarat handphone, alat tambahan buat komunikasi sama yang jauh jauh,

ning nek sudah punya ilmu telepati yo handphone alih fungsi dadi jam beker D


jangan salah mas menyan ada grade2 nya juga loh, dl disuruh nyari menyan yang biasa dipakai para dalang top tidak nemu \( cuman memang belum nemu sih menyan yang beraroma jeruk ________ngacir:
Page 2 of 17 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > Menyan : Dulu dan Kini - Sebuah Pemahaman Tentang Kemenyan dan Dupa