Spiritual
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Spiritual > ...::: [Share and Cleans] Sufisme :::...
Total Views: 31455 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 11 of 45 | ‹ First  < 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 >  Last ›

badman007 - 05/03/2009 06:25 PM
#201

Quote:
Original Posted By PelawaQ Aneh
dipraktekin omDngacir:D


lum ada guru euyyy, mana berani awak DDD ... ngacir:
PelawaQ Aneh - 05/03/2009 06:41 PM
#202

Quote:
Original Posted By badman007
lum ada guru euyyy, mana berani awak DDD ... ngacir:

jatidiri omDngacir:D
badman007 - 05/03/2009 09:05 PM
#203

Quote:
Original Posted By PelawaQ Aneh
jatidiri omDngacir:D


btw, tokoh sufi pujaan abang siapa bang ... boleh tau Peace:...ngacir:
PelawaQ Aneh - 05/03/2009 09:59 PM
#204

Quote:
Original Posted By badman007
btw, tokoh sufi pujaan abang siapa bang ... boleh tau Peace:...ngacir:

Para KekasiHhDngacir:D
submit - 06/03/2009 10:47 PM
#205

Quote:
Original Posted By kuli warnet
maaf dalam isLam tidak ada reinkanasi bro . . .

shakehand



silahkanb buka2 page2 belakang mas . . .
dan mudah2an ketemu . . .

shakehand




syukran akhi

shakehand


barakallahu fik mas kuli

shakehand
badman007 - 08/03/2009 04:00 PM
#206

Quote:
Original Posted By PelawaQ Aneh
Para KekasiHhDngacir:D


Yahhhh curang, salah satunya sebutin donk bang Peace:

Menurut Syaikh AL Isyrak Tauhid ada lima jenis yang juga menentukan tingkatan seseorang ... ngacir:
submit - 08/03/2009 04:34 PM
#207

Quote:
Original Posted By badman007
Yahhhh curang, salah satunya sebutin donk bang Peace:

Menurut Syaikh AL Isyrak Tauhid ada lima jenis yang juga menentukan tingkatan seseorang ... ngacir:


daku setuju ama om @badman007 om @PelawaQ.....
hateisworthless - 09/03/2009 02:50 AM
#208

Quote:
Original Posted By badman007
Yahhhh curang, salah satunya sebutin donk bang Peace:

Menurut Syaikh AL Isyrak Tauhid ada lima jenis yang juga menentukan tingkatan seseorang ... ngacir:


mohon penjabarannya tentang 5 jenis tsb gan ? shakehand
badman007 - 09/03/2009 01:57 PM
#209

Quote:
Original Posted By hateisworthless
mohon penjabarannya tentang 5 jenis tsb gan ? shakehand


1. Tiada Tuhan selain ALLAH.
Tauhidnya orang awam ... ngacir:
vhuda - 09/03/2009 02:16 PM
#210

Quote:
Original Posted By badman007
1. Tiada Tuhan selain ALLAH.
Tauhidnya orang awam ... ngacir:

lanjut omo
badman007 - 09/03/2009 02:23 PM
#211

Quote:
Original Posted By hateisworthless
mohon penjabarannya tentang 5 jenis tsb gan ? shakehand


Gak jadilah bang, setelah awak pikir2 serem juga babarannya ...
Karena dari jabarannya ntar abang bisa tau tingkat yang dicapai wali songo maupun Syaikh Siti Jenar Peace:

Lanjut bang kuli Warnet ... ngacir:
vhuda - 09/03/2009 02:26 PM
#212

Quote:
Original Posted By badman007
Gak jadilah bang, setelah awak pikir2 serem juga babarannya ...
Karena dari jabarannya ntar abang bisa tau tingkat yang dicapai wali songo maupun Syaikh Siti Jenar Peace:

Lanjut bang kuli Warnet ... ngacir:

ga ikhlas omo
hateisworthless - 09/03/2009 02:26 PM
#213

Quote:
Original Posted By badman007
Gak jadilah bang, setelah awak pikir2 serem juga babarannya ...
Karena dari jabarannya ntar abang bisa tau tingkat yang dicapai wali songo maupun Syaikh Siti Jenar Peace:

Lanjut bang kuli Warnet ... ngacir:


wah \( terus kapan kami yang awam dan penggembira ini bisa ngertinya om gan sesepuh o
badman007 - 09/03/2009 02:36 PM
#214

Quote:
Original Posted By vhuda
ga ikhlas omo


bukan gitu bang, cuma memang pesan nya Syaikh Al Isyra sendiri agar membabar keilmuannya dengan orang yang tepat. Ini kan forum bang Peace:

klo awak di teriakin kafir gak masalah om, karena awak lum bisa ngingat Tuhan setiap saat. Takutnya salah orang yang diteriakin bang kan kasian yang berteriak Peace:

Quote:
Original Posted By hateisworthless
wah \( terus kapan kami yang awam dan penggembira ini bisa ngertinya om gan sesepuh o

waduhhh maap bang, ntar awak posting tapi topik lain aja yah pokoknya dari Syaikh AL Isyra juga bang Peace:... ngacir:
badman007 - 09/03/2009 02:55 PM
#215
Syaikh Al-Isyraq
Bab 7: Burung Hoopoe dan Burung Hantu

(11) Suatu kali ketika sedang terbang, burung hoopoe tiba di
lingkungan beberapa burung hantu, lalu mampir di sarang
mereka. Nah, sebagaimana yang dikenal baik oleh masyarakat
Arab, burung hoopoe termasyhur karena ketajaman matanya,
sementara burung-burung hantu itu pada siang hari buta.
Burung hoopoe melewatkan malam itu bersama burung-burung
hantu di dalam sarang mereka, dan mereka menanyainya tentang
segala macam hal. Pada waktu fajar, ketika burung hoopoe
berkemas dan siap untuk pergi, burung-burung hantu itu
berkata, 'Kawanku yang malang! Sungguh aneh, apa yang akan
kamu lakukan ini? Bisakah kita bepergian pada siang hari?'

'Ini mengherankan,' kata si hoopoe, 'Semua pekerjaan
berlangsung pada siang hari.'

'Apakah kamu gila?' burung-burung hantu itu bertanya. 'Pada
siang hari, dengan ketidakjelasan yang disebarkan matahari
atas kegelapan malam, bagaimana kita bisa melihat?'

'Justru sebaliknya,' kata si hoopoe, 'Semua cahaya di dunia
ini tergantung pada cahaya matahari, dan darinyalah segala
sesuatu yang bersinar itu mendapatkan cahayanya.
Sesungguhnya ia dinamakan "mata dari hari," sebab ia
merupakan sumber cahaya.'

Tetapi burung-burung hantu itu mengira dapat mengalahkan
logika si hoopoe dengan menanyakan mengapa tak seorang pun
dapat melihat pada siang hari.

'Janganlah beranggapan bahwa lewat analogi dengan diri
kalian sendiri setiap orang itu seperti kalian. Semua yang
lain dapat melihat pada siang hari. Lihatlah aku. Aku dapat
melihat, aku berada di dunia yang dapat dilihat, dapat
diamati. Ketidakjelasan itu telah hilang, dan aku dapat
mengenali permukaan yang cemerlang dengan jalan
menyingkapkannya tanpa gangguan keragu-raguan.'

Ketika burung-burung hantu itu mendengar ini, mereka menjadi
ribut menjerit-jerit dan, sambil bertengkar satu sama
lainnya, mereka berkata, 'Burung ini berbicara tentang
kemampuan melihat pada siang hari, ketika kita terserang
kebutaan.' Dengan segera mereka menyerang si hoopoe dan
melukainya dengan paruh dan cakar mereka. Mereka mengutuknya
dengan memanggilnya 'si melek-siang-hari;' sebab kebutaan
pada siang hari merupakan kewajaran di kalangan mereka.
'Jika kamu tidak menarik kembali perkataanmu,' mereka
berkata, 'kamu akan dibunuh!'

'Jika aku tidak membuat diriku buta,' pikir si hoopoe,
'mereka akan membunuhku. Karena mereka merasakan kesakitan
terutama pada mata mereka, kebutaan dan kematian akan
terjadi secara serentak.' Dan kemudian, diilhami oleh
pepatah, 'Berbicaralah dengan orang-orang sesuai dengan
tingkat kecerdasan mereka,' dia menutup matanya dan berkata,
'Lihat! Aku menjadi buta seperti kalian.'

Melihat memang demikianlah halnya, mereka berhenti memukul
dan melukai si burung hoopoe, yang menyadari bahwa
mengungkap rahasia Ilahi di kalangan orang-orang yang tidak
percaya sama saja dengan menyebarkan rahasia kekafiran
mereka. Dan karenanya, sampai tiba waktu perpisahan, secara
susah payah dia bertahan dengan berpura-pura buta dan
berkata:

Berkali-kali aku mengatakan bahwa aku akan
menyingkapkan semua rahasia di dunia yang fana
ini.

Tetapi, karena takut akan pedang dan adanya
hasrat untuk menyelamatkan diriku, [aku telah
mengunci] bibirku dengan seribu paku.

Dia mengeluh dalam-dalam dan berkata, 'Dalam diriku ada
banyak pengetahuan; jika aku melepaskannya, aku akan
terbunuh.'

Jika selubung itu diangkat, aku tidak akan
menjadi lebih yakin (catatan: perkataan ini
diyakini berasal dari 'Ali ibn Abi Thalib).

Agar mereka menyembah Allah yang mengungkapkan
segala yang terpendam di langit dan di bumi
serta mengetahui apa-apa yang disembunyikan dan
dinyatakan. (QS 27:25)

Jelaslah, tidak sesuatu pun yang tidak
dari Kami perbendaharaannya. Dan Kami tidak
mengaruniakan semua kebutuhan itu, kecuali dengan
kadar yang serba tertentu. (QS 15:21 )
badman007 - 09/03/2009 02:58 PM
#216

VII. Bahasa Semut

Bab 6: Bunglon dan Kelelawar

(10) Suatu kali pernah timbul pertentangan antara beberapa
ekor kelelawar dan seekor bunglon. Perkelahian antara mereka
sudah sedemikian sengitnya, sehingga pertentangan itu sudah
melampaui batas. Para kelelawar setuju bahwa jika saat
petang menjelang malam telah menyebar melalui ceruk
lingkaran langit, dan matahari telah turun di hadapan
bintang-bintang menuju lingkup terbenamnya matahari, mereka
akan bersama-sama menyerang si bunglon dan, setelah
menjadikannya tawanan mereka, menghukumnya sesuka hati dan
melampiaskan dendam. Ketika saat yang dinantikan tiba,
mereka menyerang dengan tiba-tiba, dan semuanya bersama-sama
menyeret bunglon yang malang dan tak berdaya itu ke dalam
sarang mereka. Dan malam itu mereka memenjarakannya.

Ketika fajar tiba, mereka bertanya-tanya apakah sebaiknya
bunglon itu disiksa saja. Mereka semua setuju bahwa dia
harus dibunuh, tetapi mereka masih merencanakan bagaimana
cara terbaik untuk melaksanakan pembunuhan itu. Akhirnya
mereka memutuskan bahwa siksaan yang paling menyakitkan
adalah dihadapkan pada matahari. Tentu saja, mereka sendiri
tahu bahwa tidak ada siksaan yang lebih menyakitkan, selain
berada dekat dengan matahari; dan, dengan membuat analogi
dengan keadaan mereka sendiri, mereka mengancam supaya dia
memandang matahari. Bunglon itu, sudah pasti, tidak
mengharapkan yang lebih baik lagi. 'Penghukuman' semacam itu
persis seperti yang diinginkannya, sebagaimana dikatakan
oleh Husayn Manshur,

Bunuhlah aku, kawan-kawanku, sebab dengan
terbunuhnya diriku, aku akan hidup. Hidupku ada
dalam kematianku, dan kematianku ada dalam
hidupku. (keterangan: baris-baris ini terdapat
dalam Al-Hallaj, 14.1)

Maka ketika matahari terbit, mereka membawanya keluar dari
rumah mereka yang menyedihkan agar dia tersiksa oleh cahaya
matahari, siksaan yang sesungguhnya merupakan jalan
keselamatan baginya.

Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur
dalam peperangan di jalan Allah itu mati. Tidak!
Bahkan mereka hidup. Mereka mendapat rizki dan
Tuhannya. (QS 3:169)

Kalau saja para kelelawar itu tahu betapa murah hati
tindakan mereka terhadap bunglon itu, dan betapa mereka
telah berbuat keliru, karena mereka justru memberinya
kesenangan, mereka pasti akan mati sedih. Bu-Sulayman Darani
berkata, "Jika orang-orang yang lalai itu tahu betapa mereka
telah mengabaikan kesenangan orang-orang yang sadar, mereka
pasti akan mati karena kecewa." (dikutip dalam bahasa Persia
'Aththar, Tadzkirah, hal. 282)
badman007 - 09/03/2009 02:59 PM
#217

Bab 8: Burung Merak Raja di Bawah Keranjang

(12) Seorang raja mempunyai sebuah taman, yang sepanjang
empat musim selalu ditumbuhi tanam-tanaman yang wangi, hijau
subur dan menyenangkan. Air mengalir berlimpah-limpah
melaluinya, dan segala macam burung bernyanyi dari
dahan-dahan pohon. Setiap hal yang baik dan indah yang dapat
kita bayangkan terdapat di dalam taman itu. Dan di antara
semuanya itu ada sekelompok burung merak yang cantik.

Sekali waktu sang raja mengambil salah seekor burung merak,
dan memerintahkannya agar ia dimasukkan ke dalam kantung
kulit supaya bulu-bulunya tidak dapat dilihat, sehingga ia
tidak dapat mengagumi keindahannya sendiri dengan cara apa
pun. Dia juga memerintahkan agar burung merak itu
ditempatkan di bawah sebuah keranjang yang hanya mempunyai
satu lubang, melalui lubang itu sedikit biji-bijian dapat
dituangkan ke dalamnya untuk makanannya.

Lama waktu berlalu. Burung merak itu lupa pada dirinya
sendiri, sang raja, taman, dan burung-burung merak lainnya.
Ia melihat pada dirinya sendiri. Burung tersebut tidak
melihat apa-apa kecuali kantung kulit yang kotor itu. Ia
mulai menyukai tempat tinggalnya yang gelap dan jelek; ia
percaya di dalam hatinya bahwa tidak mungkin ada tempat yang
lebih besar dari ruangan di dalam keranjang itu, sedemikian
rupa sehingga ia menganggapnya sebagai keyakinan bahwa jika
ada orang menyatakan tentang suatu kehidupan, tempat tinggal
atau kesempurnaan di luar yang ia ketahui, maka ia
menganggapnya sebagai kekafiran mutlak, omong kosong besar
dan kebodohan yang murni.

Sekalipun demikian, setiap kali angin segar berhembus, dan
harumnya bunga-bunga dan pepohonan, violet (= sejenis
tumbuhan yang bunganya berbau harum), melati dan tumbuhan
rempah-rempah sampai ke hidung burung itu, ia merasakan
kesenangan yang mengejutkan melalui lubang itu. Timbul
kekhawatiran di dalam hatinya. Ia merasakan adanya hasrat
untuk pergi dan kerinduan batin, tetapi ia tidak tahu dari
mana kerinduan itu berasal, sebab, kecuali kantung kulit
itu, ia tidak mengetahui apa-apa; selain keranjang itu,
tidak ada dunia lain; selain biji-bijian itu, tidak ada
makanan lain. Ia telah melupakan semuanya. Ketika
sekali-sekali ia mendengar suara burung-burung merak
bernyanyi, dan burung-burung lain berlagu, kerinduan dan
hasratnya timbul; tetapi ia tidak terbangunkan oleh
suara-suara burung-burung itu atau hembusan angin. Pernah ia
bergairah memikirkan sarangnya.

Angin sepoi-sepoi bertiup menyentuhku dan hampir
mengucapkan kata-kata, 'aku adalah kurir untukmu
dari kekasihmu.'

(13) Lama sekali ia memikirkan apa sesungguhnya angin yang
harum itu, dan darimanakah bunyi-bunyian yang indah itu
datang.

Wahai kilat yang menyambar, dari perlindungan
siapa engkau muncul?

Tetapi ia tidak sadar-sadar juga, meskipun sepanjang masa
itu kesenangan tetap tinggal di hatinya.

Ah, kalau saja Laila sekali saja
mengirimkan salam karunianya, meskipun diantara
kami terbentang debu dan bebatuan besar.

Salam kegembiraanku akan merupakan jawabnya,
atau akan menjeritlah kepadanya si burung hantu,
burung sakit yang memekik di tengah keremangan
kuburan.

Burung merak itu bodoh, karena ia telah lupa kepada dirinya
dan juga tanah airnya.

. . . janganlah hendaknya kamu bertingkah seperti
orang yang melupakan Allah, yang mengakibatkan
Allah membuat mereka lupa diri pula. (QS 59:19)

Setiap kali hembusan angin atau suara-suara datang dari
taman, timbul hasrat dalam diri si burung merak tanpa
mengetahui mengapa demikian.

Kedua baris ini adalah karya seorang penyair:

Kilat Ma'arra bergerak di tengah malam, ia
melewati malam di Rama yang melukiskan
kebosanannya.

Ia benar-benar menyedihkan para penunggang,
kuda-kudanya, unta-unta, dan terus bertambah
menyedihkan, hingga ia hampir menyedihkan
pelana-pelana (catatan: baris-baris ini berasal
dari Al-Ma'arri, Siqth al-Zand. hal. 51).

(14) Ia tetap kebingungan selama beberapa waktu, sampai
suatu hari sang raja memerintahkan agar burung itu
dilepaskan dari keranjang dan kantung kulitnya untuk dibawa
menghadapnya.

Peristiwa kebangkitan itu terjadi hanya dengan
satu kali tiupan sangkakala saja. (QS 37:19)

Apakah dia tidak mengetahui, apabila nanti sudah
dibangkitkan segala isi kubur? Dan telah
terungkap segala isi kalbu? Sesungguhnya Tuhan
mereka pada hari itu maha mengetahui
keadaannya. (QS 100:9-11)

Ketika burung keluar dari penutupnya, burung merak itu
melihat dirinya berada di tengah-tengah taman. Ketika
memandang bulu-bulunya sendiri, dan melihat taman beserta
aneka ragam bunganya, atmosfir dunia, kesempatan untuk
berjalan kesana-kemari dan terbang tinggi, serta semua
suara, irama, bentuk dan berbagai benda yang ada, ia berdiri
mendesah seakan-akan tak sadarkan diri (ejakulasi teofanik
'syath' yang terkenal dari Husayn ibn Manshur Al-Hallaj).

Wahai, sungguh aku menyesali kelalaianku dalam
memenuhi kewajiban kepada Allah. (QS 39.56)

Lalu Kami singkapkan tabir yang menutupi
matamu, maka pandanganmu menjadi lepas jelas. (QS
50:22)

Mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,
padahal ketika itu kamu melihat orang yang
sedang melepaskan nyawanya itu, sedangkan Kami
lebih dekat lagi kepadanya daripada kamu,
namun kamu tidak melihat? (QS 56:83-85)

Jangan berbuat begitu, kelak kamu akan tahu
akibatnya. Sekali lagi, jangan berbuat begitu,
kelak kamu akan tahu juga akibatnya. (QS
102:3-4)
submit - 10/03/2009 12:43 PM
#218

SUFI YANG MENYEBUT DIRINYA ANJING

Maulana Darwis, kepala Tarekat Naqsyabandiyah dan salah seorang guru besarnya, suatu
hari duduk di Zawiah-nya ketika seorang pendeta yang marah, menyerobot masuk.

"Kau duduk di sana," teriaknya, "Anjing kau ini, dikelilingi murid, ditaati mereka dalam
setiap keterangan! Aku di lain pihak, memanggil orang untuk mengusahakan
pengampunan-Nya, melalui doa dan kecermatan, sebagaimana diperintahkan kepada
kami."

Pada kata "anjing", beberapa Pencari bangkit untuk mengusir pendeta tersebut.

"Tenanglah," ujar Maulana, "karena 'anjing' sebenarnya kata-kata yang baik. Aku anjing,
yang taat pada majikannya, menuntun domba dengan isyarat, penjelasan tentang
keinginan Majikan kita. Seperti seekor anjing, aku, marah pada penyelundup dan pencuri.
Dan aku mengibaskan ekorku dengan senang ketika teman Majikanku mendekat."

"Menggonggong, mengibas dan mencintai adalah sikap seekor anjing, kita melatih
mereka; karena Majikan memiliki kita, dan tidak menggonggong serta mengibas dengan
sendirinya."
jagonly - 10/03/2009 05:35 PM
#219

Ah sayang saia tidak pandai yg beginian...(maksudnya metafora2 yg kaya diatas)
Tau nya cuma ber amal aja nih..
Cuma sedikit paham Wuquf, Muraqabah gitu2 aja....

Ijin nyimak yah
hateisworthless - 10/03/2009 08:02 PM
#220

Quote:
Original Posted By jagonly
Ah sayang saia tidak pandai yg beginian...(maksudnya metafora2 yg kaya diatas)
Tau nya cuma ber amal aja nih..
Cuma sedikit paham Wuquf, Muraqabah gitu2 aja....

Ijin nyimak yah


mohon pencerahannya gan, maksutnya apa ya yg dibold diatas ? shakehand
Page 11 of 45 | ‹ First  < 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Spiritual > ...::: [Share and Cleans] Sufisme :::...