Spiritual
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Spiritual > ...::: [Share and Cleans] Sufisme :::...
Total Views: 31455 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 7 of 45 | ‹ First  < 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 >  Last ›

badman007 - 29/12/2008 11:41 AM
#121

wahhh hot lagi ...ngacir:
PelawaQ Aneh - 29/12/2008 04:09 PM
#122

Quote:
Original Posted By badman007
wahhh hot lagi ...ngacir:


sambelnya enak omDD
mbahmetal - 29/12/2008 05:24 PM
#123

Quote:
Original Posted By hmphbrph
Landasan Islam adalah al-Qur'an & as-Sunnah (yang Shohih)..BUKAN DARI YANG LAIN.

di Islam tidak ada firqah (sekte/aliran), organisasi, partai, dan lain-lain semisal.
CUKUP AL-QUR'AN & AS-SUNNAH

[COLOR="Blue"]Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ummatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan. Beliau ditanya: "Siapa dia wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "(golongan) yang berada di atas apa yang aku dan para shahabatku berada (di atasnya)." (HR. At-Tirmidzi dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash).[/COLOR]


kentut sing islami ono ra???
wyansonata - 29/12/2008 09:13 PM
#124
x
hehehehe ...

nyimak aja wis ...

sebab wis akeh sing pinter keblinger ...
hateisworthless - 30/12/2008 12:40 AM
#125

misi om numpang ngedeprok disini D
shakehand
submit - 30/12/2008 02:45 AM
#126

indahnya kita bercinta.....
charlie luciano - 30/12/2008 03:03 AM
#127

Quote:
Original Posted By soeyat
8 PRINSIP
-----------
1. kesadaran dalam bernafas,
2. memperhati kan tiap langkah diri,
3. perjalanan mistik didalam diri,
4. kesendirian didalam keramaian,
5. pengingatan kembali
6. menjaga pemikiran sendiri,
7. memperhati kan pemikiran sendiri, dan
8. pemusatan perhatian kepada Allah


Dari Sang Guru
"Abdul Khaliq Gadjuani" of Naqsyabandy
kuli warnet - 30/12/2008 05:58 AM
#128

COBAAN HIDUP
Syaikh Nazim Al-Qubrusi Al-Haqqani qs
( Mufti Turky, Syaikhul Hadist & Ulama Tasawuf Dunia )

...::: [Share and Cleans] Sufisme :::...


Bismillahir-Rohmaanir-Rohim

Syaikh Abdullah Faiz ad Daghestani qs almarhum pernah berbicara mengenai ujian-ujian hidup yang biasanya terjadi pada kita. Setiap hari adalah
hari baru dan para pencari harus siap dan waspada akan datangnya ujian-ujian, sampai keimanannya menjadi semakin nyata.

Setiap orang bisa meningkatkan maqamnya dengan ujian hidup tersebut. Ada yang masih dibawah kendali egonya, dimana dia akan diuji dengan apa yang tidak disukai oleh egonya. Apapun bisa menjadi penyebab, baik dari pihak keluarga, pekerjaan maupun tetangga, hal-hal yang paling tidak kalian inginkan justru terjadi. Cara untuk menjadi berkembang adalah dengan menjadi semakin sabar.

Tidak ada yang namanya berkembang secara cepat. Kita harus setuju dengan segala sesuatu yang terjadi dan menimpa kita. Itulah tanda akan perkembangan, tahan menderita atas apapun yang membuat kalian sengsara. Tidak penting untuk mampu terbang di angkasa atau berjalan di atas air atau bisa dilihat di berbagai tempat dalam waktu yang sama atau mendapat mimpi spiritual yang indah-indah.

Kesabaran adalah penting. Bersabar melawan segala gelombang kejahatan seperti sebuah gunung yang tetap kokoh walaupun diterjang badai. Itulah yang dinamakan perkembangan. Atau seperti lautan yang tak akan kotor akibat aliran sungai-sungai di dalamnya. Manusia dengan kekuatan yang luar biasa mungkin bisa terbang, tapi bisa juga pada akhirnya dia kehilangan iman ketika setan berlomba-lomba menyerangnya. Kita harus mampu bertahan dari kesulitan yang berasal dari siapapun.

Syaikh Abdullah qs (alm), berkata, “kita harus siap dengan apapun yang datang dan berlawanan dengan apa yang kita harapkan, siap untuk bertoleransi dengannya. Inilah tingkatan iman yang sebenarnya. Tiga kali
sehari Syaikh melihat murid-muridnya, bukan menengok untuk memberikan kenikmatan, namun untuk mengirimkan sesuatu yang tidak disenangi para pencari. Apakah kalian akan sabar atau menyerah ?

Jika kalian sabar, maka hati kalian akan memberikan kalian kepuasan, dan sebuah cahaya keluar dari mata kalian, lalu keyakinan yang lebih akan datang. Di setiap kesempatan itu, maqam kalian bisa meningkat ataupun
menurun. Seperti keadaan dunia saat ini yang dipenuhi dengan setan dan kejahatan.

Nabi saw bersabda : “Menjaga agama di masa kini adalah lebih susah daripada
menggenggam bara api”. Bersabarlah, karena imbalan dari Allah adalah tidak terbatas. Inilah jalan keimanan yang sebenarnya, seperti jalannya para Nabi dan Awliya, untuk bisa bertahan atas segala keburukan dari umat manusia. Ketika dunia kita sedang bersinar, melihat matahari yang sedang terbit dan langit dipenuhi bintang, kami sadar ada Sang Pencipta Yang Maha Agung.

Namun kadang, terjadi pula kesedihan atau peristiwa mengerikan musibah kecelakaan, misalnya kematian seseorang yang kita cintai – orang tua, suami, istri, saudara ataupun teman-teman. Bila tragedi ini terjadi, bagaimana menjaga keimanan kita atas Kasih Sayang Tuhan? Bagaimana kita bisa merasakan bahwa Dia juga perhatian atas apa yang terjadi pada kita ?

Ketika kalian bersabar atas kesusahan atau kesulitan itu, maka Allah swt akan mengubah dosa-dosa kalian menjadi kebaikan (hasanaat). Coba kalian perhatikan, berapa banyakkah Umat Nabi Muhammad saw yang tidak memiliki kesulitan? Apakah kau mempunyai kesulitan? Kalian punya kesulitan? Kita semua punya kesulitan. Jadi, Allah swt membersihkan keburukanmu dan kejahatanmu dengan kesulitan.

Mereka yang kita kasihi, akhirnya akan meninggal, begitu juga dengan
kalian. Namun bila cinta itu mencapai si penerima hakiki dari segala Cinta,
maka tujuan utama cinta manusiapun telah tercapai dan akan diterima dan indah dalam Hadirat Tuhan. Namun bila kita gagal dalam menyerahkan diri pada KehendakNya - lalu membenci Tuhan karena telah meletakkan kita dalam sebuah eksistensi yang hanya sementara, atas keadaan yang terjadi, atas perasaan-perasaan, maka hidup ini akan menjadi sebuah pil yang amat pahit
untuk di telan. Hidup menjadi sebuah lautan kesedihan, karena Dia Yang Maha Kuasa memanggil semua hamba-hamba- Nya, satu demi satu untuk kembali ke Hadirat-Nya, meninggalkan kita dan dunia ini.

Dialah Tuhan kita, Satu-satunya Pemelihara eksistensi kita. Dia mempunyai hak atas kita dan untuk menguji, melihat siapa yang akan tetap menjadi benar dan menjaga cintanya pada Pencipta-Nya. Mereka yang kita kasihi, sanak saudara, istri maupun suami, semua yang kita cintai akan meninggal. Lalu Dia akan melihat apa yang akan kalian perbuat; dapatkah kalian mentransformasikan cinta dan tragedi yang menimpa sebagai jembatan
meningkatnya kasih sayang kalian pada Sang Pencipta ?

Sedikit sekali yang bisa menerima dan memahami hal ini. Inilah penyebab mengapa mereka tak mampu melihat Kebijaksanaan Tuhan di balik peristiwa-peristiwa yang menyedihkan. Mereka tidak menyadari ketika Tuhan kita membelokkan kita untuk mencintai-Nya secara ekslusive dan keseluruhan, akibatnya merekapun menderita.

Segala hal yang Dia anugerahkan pada keturunan Adam adalah sementara saja, tidak berharga dibanding Cinta Hakiki itu. Kalian harus berikan cinta kalian pada Dia Yang selalu ada – dari pra keabadian sampai setelah keabadian. “ Terpujilah selalu – Tuhan Yang Selalu Hidup, Bagi Dia Yang
Tak ada istilah mati “

Wa min Allah at Tawfiq

shakehand
badman007 - 30/12/2008 09:16 AM
#129

Quote:
Original Posted By PelawaQ Aneh
sambelnya enak omDD


wahhh klo gitu om harus nyobain dendeng batokok DDD
prabuanom - 30/12/2008 09:20 AM
#130

Quote:
Original Posted By soeyat
kgak usa dìjelasin, uda jelas kok.
gue yakin sampean semua lebih ngerti dari gue yg orang gunung dan awem lg

ada gunung dimadura cak?
soeyat - 30/12/2008 10:31 AM
#131

Quote:
Original Posted By prabuanom
ada gunung dimadura cak?


Sbenarnya kgak, cm perbukitan bos
mangkutaraja - 01/01/2009 11:27 AM
#132

Hermawan_B - 01/01/2009 04:28 PM
#133

sufisme itu... sulit sekali digambarkan keindahannya...

namun untuk mewujudkannya dibutuhkan praktek nyata dalam kehidupan sehari-hari...

sufisme itu... meliputi seluruh "ilmu" yang ada, didunia sampai dengan akhirat...
wyansonata - 01/01/2009 05:50 PM
#134
x
alhamdulillah
Hermawan_B - 01/01/2009 06:57 PM
#135

akhirudda'wahum... alhamdulillah...
kuli warnet - 01/01/2009 09:27 PM
#136
Gerbang Sufi
Banyak sekali kajian historis mengenai Tasawuf atau Sufi. Ada sejumlah pendekatan yang dilakukan untuk menganalisa lintasan sejarah Tasawuf atau Thariqat Tasawuf, antara lain:

1. Kajian terhadap teks-teks Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang berkaitan dengan dimensi Sufistik.
2. Kajian terhadap profil para tokoh Sufi dengan pemikiran, pandangan, tindakan dan karya-karyanya.
3. Kajian filosufi dibalik ungkapan Sufistiknya.
4. Kajian praktek Sufistik dan Thariqatnya dari masa ke masa.
5. Kisah-kisah Sufi.

Sebagaimana diketahui Islam lahir dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw. dengan doktrin-doktrin keagamaan, bersifat eksoteris dan esoteris, atau bersifat lahiriyah maupun batiniyah. Kedua doktrin tersebut bermuara pada satu titik, yang disebut dengan Titik Tauhid. Yaitu meng-Esakan Allah swt. baik dalam keyakinan maupun amaliyah ummat manusia. Oleh sebab itu, kelak akan muncul sejumlah istilah atau terminologi dalam ilmu-ilmu Islam sebagai pendekatan lain dari pemahaman amaliyah Islam itu sendiri.

Unsur-unsur Tauhid (theology) dalam tradisi historis Islam, lebih banyak responsinya ketika Rasulullah Muhammad saw, berada di Makkah, baru ketika hijrah ke Madinah sejumlah doktrin tentang amaliyah yang kelak disebut dengan doktrin Syari’at diturunkan. Lebih jauh tentang kajian historis responsi doktrin keagamaan antara periode Makkah dan Madinah ini, bisa dilihat dari beberapa kitab tentang Asbabun Nuzul, yaitu kajian tentang sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur’an, dan Asbabul Wurud, berkait dengan sebab-sebab munculnya hadits Nabi saw.

Sementara itu, fungsi-fungsi hadits Nabi antara lain menjelaskan praktek Al-Qur’an, -- dan karenanya kedudukan Hadits juga setara dengan Wahyu – lebih banyak memberikan petunjuk yang bersifat historis, yaitu kepentingan-kepentingan zaman saat itu, walaupun, kedua sumber agama itu tetap bersifat universal dan a historis. Apalagi ketika, sumber-sumber tersebut dibuat telaah seputar dunia esoteris, maka fungsi-fungsi historis hanya sebagai pelengkap belaka, selebihnya justru elemen-elemen fundamental akan muncul sebagai landasan pandangannya.

...::: [Share and Cleans] Sufisme :::...[CENTER][/CENTER]

Seluruh ummat Islam pada periode Rasulullah saw, baik ketika di Makkah maupun di Madinah, sama sekali tidak memunculkan potensi-potensi konflik, apalagi muncul suatu kontradiksi , baik dari segi pemahaman keagamaan maupun raktek keagamaan, bahkan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Hal demikian karena ummat Islam terikat suatu kesepakatan terhadap kedua sumber utama praktek ibadah mereka, sementara Rasul Muhammad saw, menjadi rujukan utama setiap masalah, sekaligus menjadi hakim atas semua persoalan yang muncul.

Tetapi perbedaan mulai muncul, terutama dalam soal pandangan yang bersifat publik, yaitu mengenai Khilafah paska Rasulullah saw, sepeninggal beliau. Perbedaan pandangan ini memuncak ketika periode Khalifah Utsman bin Affan – ra, dan Ali bin Abi Thalib – semoga Allah memuliakan wajahnya --. Kelak perbedaan ini turut mewarnai munculnya faksi-faksi dalam praktek Islam, dan turut memberikan warna terhadap sejarah perkembangan Tasawuf itu sendiri, yang beriringan dengan dinamika sejarah Teologi dan mazhab-mazhab fiqih.

Istilah-istilah yang menjadi terminologi dalam Tasawuf, juga tidak pernah terekam, secara akademis dalam sejarah periode Islam awal. Bahkan di zaman Nabi kata Sufi, kata Syari’at, Hakikat, atau pun Thariqat, tidak dimunculkan sebagai istilah tersendiri dalam praktek keagamaan. Semata, karena para Sahabat dan Tabi’in, adalah sekaligus para pelaku Syari’at, Thariqat dan Hakikat, dalam kesehariannya. Hanya satu setengah abad kemudian, istilah-istilah itu muncul dengan terminologi tersendiri, dalam kerangka memudahkan praktek ke-Islaman yang sebenarnya.
Untuk melihat sejarah Tasawuf, definisi seputar Tasawuf dari para pelaku serta tokoh-tokohnya sangat membantu alur hitoris itu hingga dewasa ini. Pada zaman Nabi saw. kita mengenal istilah yang sangat komprehensif mengenai dunia esoteris, yang disebut dengan Al-Ihsan. Dalam riwayat Al-Bukhari, disebutkan oleh Rasulullah saw, dalam sabdanya:
“Hendaknya engkau menyembah kepada Allah seaakan-akan engkau melihatNya, maka apabila engkau tidak melihatNya sesungguhnya Dia melihatmu.” (H.r. Bukhari)

...::: [Share and Cleans] Sufisme :::...

Istilah Al-Ihsan tersebut, dalam prakteknya, memunculkan tradisi agung dalam Islam, yaitu amaliyah batin yang kekal membangunkan suatu akademi esoteris yang luar biasa. “Seakan-akan melihat Allah dan Allah melihatnya,” adalah puncak dari prestasi moral seorang hamba Allah disaat sang hamba berhubungan denganNya.

Proses-proses berhubungan itulah yang kemudian diatur dalam praktek Tasawuf. Karena dalam setiap tradisi Thariqat Tasawuf yang memiliki sanad sampai kepada Rasulullah saw. – kelak disebut dengan Thariqat Mu’tabarah – menunjukkan bahwa tradisi Sufistik sudah berlangsung sejak zaman Rasulullah saw. Hanya saja tradisi tersebut tidak terpublikasi secara massif mengingat dunia esoteris adalah dunia spesifik, dimana tidak semua khalayak menerimanya.

Doktrin-doktrin Dzikir dan pelaksanaannya yang dilakukan melalui Baiat pada Rasulullah saw. menggambarkan hubungan-hubungan psikhologis antara Rasul saw. ketika itu dengan sahabat dan Allah swt.

Di lain pihak, tradisi akademi Tasawuf nantinya melahirkan produk-produk penafsiran esoterik atau metafisik, terhadap khazanah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Selain Al-Qur’an secara khusus punya penekanan terhadap soal-soal Tasawuf, ternyata seluruh kandungan Al-Qu’ran juga mengandung dimensi batin yang sangat unik. Jadi tidak ada alasan sama sekali untuk menolak Tasawuf, hanya karena beralasan bahwa Tasawuf tidak ada dalam Al-Qur’an. Padahal seluruh kandungan Al-Qur’an tersebut mengandung dua hal: dzahir dan batin, syari’at dan hakikat.

...::: [Share and Cleans] Sufisme :::...

Prof. Dr. Said Aqiel Siradj mencatat bahwa istilah Tasawuf, kebanyakan refrensi menyebutkan muncul dari Ma’rif al-Karkhy (w. 200). Namun Said Aqil cenderung berpihak pada Abu Abdillah (Abu Musa) Jabir bin Hayyan bin Abdillah al-Kufi al-Azdy (w. 161 H.) salah satu murid dari Ja’far ash-Shadiq yang terkenal dengan temuannya, Aljabar. Jabir bin Hayyan inilah yag pertama kali mendapat gelar sebagai Sufi, karena sebagai seorang ilmuwan matematik dan kimia, Jabir justru memasuki dunia Sufi dengan segala penemuannya.

Kesadaran Jabir bin Hayyan memasuki dunia Sufi bermula dari aksioma Dhomir (kata ganti): Ana (aku, orang pertama), Huwa (dia, orang ketiga) dan Anta (kamu, orang kedua). Ketiga kata ganti tersebut bisa melekat pada satu orang, semisal Ahmad. Ketika ia menyebut dirinya pasti menggunakan kata ganti Ana, jika ia tidak ada ditempat maka ia disebut dengan Dia, sementara ketika ia ada di hadapan Anda, maka Anda menyebutnya Anta. Lalau kemana larinya Ana, Anta, Huwa, setelah Ahmad meninggal dunia? Jabir menyimpulkan bahwa semua dlomir yang yang disandang itu kembali kepada Yang berhak mempunyai Ana, Anta dan Huwa, yaitu Allah swt.

Baru pada abad ketiga hijriyah dinamika tasawuf baru pada taraf Tasawuf Sunni (akhlaqy). Baru kemudian menurut Said Aqil, berkembang Tasawuf Falsafi sebagaimana digaungkan oleh Abu Yazid al-Bistamy (w.261H.), disusul Abu Mansur Al-Hallaj (w.309) masing-masing dengan teori Al-fana’ dan Anal Haq. Dua abad berikutnya muncullah as-Suhrawardi al-Maqtul dengan pandangan Isyraqynya, disusul Muhammad bin Abu Bakr Ibrahim bin Abi Ya’kub Ishak al-Aththar (w. 621 H), memperkenalkan teori Al-Ittihad. Hampir bisa diskatakan bahwa puncak prestasi dari Tasawuf falsafy itu pada Ibnu Araby.

...::: [Share and Cleans] Sufisme :::...


Abdurrahman as-Sulamy (W. 412 H) dalam kitabnya Thabaqatus Shufiyah, membagi generasi Sufi menjadi lima periode hingga peridodenya. Kitab Thabaqatus Shufiyah tersebut sangat berperan besar dalam menyatukan visi besar kaum Shui, mengingat ucapan-ucapan para tokoh Shufi dikutip di sana, bahkan dengan sejumlah landasan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebelumnya Ulama dan Sufi besar ini menulis buku yang cukup bagus pula, Tarikhus Shufiyah. Sebelumnya para Ulama Shufi juga menulis, walaupun tidak sekomprehensif As-Sulamy, beberapa kitab tentang sejarah dan biografi para Sufi. Antara lain:

Thabaqatun Nusaak, karya Abu Sa’id Ibnul A’raby (W. 341 H) yang sering dibuat refrensi utama oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’.
Akhbarush-Shufiyah waz-Zuhad, tulisan Muhammad bin Dawud bin Sulaiman, yang populer dengan Abu Bakr an-Naysabury (W. 342 H.)
Tarikhush-Shufiyah , karya Ahmad bin Muhammad bin Zakaria an-Nasawy az-Zahid (W. 396 H).

As-Sulamy dalam Thabaqat, merinci sejumlah nama besar dari seluruh periode itu, dengan lima generasi. Generasi ini menurut As-Sulamy adalah generasi terbaik, yang meletakkan dasar-dasar utama Sufi, dan masuk dalam katergori sabda Rasulullah saw:
“Sebaik-baik ummat manusia adalah generasi abadku, kemudian generasi abad yang berikutnya, lalu generasi abad berikutnya…” (H.r. Bukhari)

Generasi inilah yang juga pernah diprediksi oleh Rasulullah saw, dalam sabdanya: “Ummatku senantiasa ada empat puluh orang, berperilaku dengan budi pekeri Ibrahim Al-Khalil Alaihissalam, manakala ada suatu perkara datang, mereka diserahi.”

Generasi pertama sampai generasi kelima, berjumlah 100 tokoh Sufi, masing-masing generasi terdiri 20 tokoh:

Generasi pertama :
Al-Fudhail bin ‘Iyadh; Dzun Nuun al-Mishry; Ibrahim bin Adham; Bisyr Al-Hafy; Sary as-Saqathy; Al-Harits al-Muhasiby; Syaqiq al-Balkhy; Abu Yazid al-Bisthamy; Abu Sulaiman ad-Darany; Ma’ruf Al-Karkhy; Hatim al-Asham; Ahmad bin Abil Hawary; Ahmad bin Hadhrawiyah; Yahya bin Mu’adz ar-Razy; Abu Hafsh an-Naysabury; Hamdun al-Qashshar; Manshur bin Ammar; Ahmad bin Ashim al-Anthaky; Abdullah bin Khubaiq al-Anthaky dan Abu Turab an-Nakhsyaby.

Generasi Kedua :
Abul Qasim al-Junaid; Abul Husayn an-Nuury; Abu Utsman al-Hiry an-Naysabury; Abu Abdullah ibnul Jalla’; Ruwaim bin Ahmad al-Baghdady; Yusuf bin ibnul Husain ar-Razy; Syah al-Kirmany; Samnun bin Hamzah al-Muhibb; Amr bin Utsman al-Makky; Sahl bin Abdullah at-Tustary; Muhammad bin Fadhl al-Balkhy; Muhammad bin Ali at-Turmudzy; Abu Bakr al-Warraq; Abu Sa’id al-Kharraz; Ali bin Sahl al-Asbahany; Abul Abbas bin Masruq ath-Thusy; Abu Abdullah al-Maghriby; Abu Ali az-Juzajany; Muhammad dan Ahmad, keduanya putra Abul Ward; Abu Abdullah As-Sijzy.

Generasi Ketiga :
Abu Muhammad al-Jurairy; Abul Abbas bin Atha’ al-Adamy; Mahfud bin Mahmud an-Naisabury; Thahir al-Muqaddasy; Abu Amr ad-Dimasyqy; Abu Bakr bin Hamid At-Turmudzy; Abu Ishaq Ibrahim al-Khawash; Abdullah bin Muhammad al-Kharraz ar-Razy; Bunan bin Muhammad al-Jamal; Abu Hamzah al-Baghdady al-Bazzaz; Abul Husayn al-Warraq an-Naisabury; Abu Bakr Al-Wasithy; Al-Husayn bin Mashur al-Hallaj; Abul Husayn bina s-Shaigh ad-Dainury; Mumsyadz ad-Dinawary; Ibrahim al-Qashshar; Khairun Nasaj; Abu Hamzah al-Khurasany; Abu Abdullah ash-Shubaihy; Abu Ja’far bin Sinan.

Generasi Keempat :
Abu Bakr asy-Syibly; Abu Muhammad al-Murtaisy; Abu Ali ar-Rudzbary; Abu Ali Ats-Tsaqafy; Abdullah bin Muhammad bin Manazil; Abul Khair al-Aqtha’ at-Tinaty; Abu Bakr al-Kattany; Abu Ya’qub an-Nahrajury; Abul Hasan al-Muzayyin; Abu Ali ibnul Katib; Abul Husayn bin Banan; Abu Bakr bin Thohir al-Abhury; Mudzaffar al-Qurmisainy; Abu Bakr bin Yazdaniyar; Abu Ishaq Ibrahim ibnul Maulid; Abu Abdullah bin Salim al-Bashry; Muhammad bin Alyan an-Nasawy; Abu Bakr bin Abi Sa’dan.

Generasi Kelima :
Abu Sa’id ibnul A’raby; Abu Amr az-Zujajy; Ja’far bin Muhammad al-Khuldy; Abul Abbas al-Qasim as-Sayyary; Abu Bakr Muhammad bin Dawud ad-Duqqy; Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad asy-Sya’’any; Abu Amr Ismail bin Nujaid; Abul Hasan Ali bin Ahmad Al-Busyanjy; Abu Abdullah Muhammad bin Khafif; Bundar ibnul Husayn as-Syirazy; Abu Bakr ath-Thimistany; Abul Abbas Ahmad bin Muhammad ad-Dainury; Abu Utsman Said bin Salam al-Maghriby; Abul Qasim Ibrahim bin Muhammad an-Nashruabadzy; Abul Hasan Ali bin Ibrahim al-Hushry; Abu Abdullah at-Targhundy; Abu Abdullah ar-Rudzbary; Abul Hasan Ali bin Bundar ash-Shairafy; Abu Bakr Muhammad bin Ahmad asy-Syabahy; Abu Bakr Muhammad bin Ahmad al-Farra’; Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Muqry’ dan Abul Qasim Ja’far bin Ahmad al-Muqri’; Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad ar-Rasy; Abu Abdullah Muhammad bin Abdul Khaliq ad-Dinawary.

Setelah periode As-Sulamy muncul beberapa Sufi seperti Abul Qasim al-Qusyairy, disusul prestasi puncak pada Abu Hamid Al-Ghazali ( yang bergelar Hujjatul Islam), kemudian Syeikh Abdul Qadir al-Jilany, Ibul Araby, dan Sultanul Auliya Syeikh Abul Hasan- Asyadzily.

Dari seluruh tokoh sufi di atas, melahirkan banyak mazhab Tasawuf yang kelak muncul dalam ordo-ordo Thariqat. Semula arti Thariqat itu sendiri adalah metode atau sistem. Berikutnya Thariqat melibatkan komunitas sufistik yang tergabung dalam ordo tersebut, sehingga menjadi semacam organisasi spiritual Islam.

...::: [Share and Cleans] Sufisme :::...

Wa min Allah at Tawfiq

shakehand
kuli warnet - 01/01/2009 09:48 PM
#137
Dimanakah Posisi Anda ?!
Shultonu' Auliya Syaikh Abdul Qodir Al Jilany

...::: [Share and Cleans] Sufisme :::...

Hari Juma’at pagi, 12 Rajab Akhir 545 H di Pesantrennya.



Jika anda menginginkan jadi raja dunia dan akhirat, maka jadikanlah seluruh dirimu hanya untuk Allah Azza wa-Jalla, hingga dirimu menjadi pemimpin dan pemuka atas dirimu dan atas yang lain. Sungguh aku telah menasehatimu, dan aku benar-benar meluruskanmu maka terimalah pembenaran dariku. Jika anda mendustai, maka anda berdusta, maka dusta itu kembali padamu. Jika anda membenarkan, dan melakukan tindak kebenaran, berarti anda benar dan kebenaran itu kembali bagimu, “Sebagaimana anda beragama, maka agama itu milikmu…”.
Ambillah dariku obat bagi penyakit agamamu, amalkanlah, maka akan sembuh.

Orang terdahulu telah berkeliling mengitari timur hingga barat hanya untuk mencari Wali-wali yang saleh, dimana mereka adalah dokter-dokter hati dan dokter agama. Jika mereka dapatkan salah seorang dari mereka, maka mereka mencari obat bagi agamanya.
Sedangkan anda dewasa ini, malah membenci Ulama, Fuqoha’, para Wali, dimana mereka itu adalah orang-orang yang mengajari adab dan mengajarkan pengetahuan. Tidak aneh jika anda saat ini tidak menemukan obat itu.

Celakanya, setiap hari anda dapatkan pengetahuan dariku, obat dariku, dan aku bangunkan fondasi, tetapi setiap hari pula kalian merusaknya. Aku berikan obat padamu, tapi anda tidak mengamalkannya. Setiap hari kukatakan, “Jangan makan makanan ini, karena di dalamnya ada racun. Makan saja yang ini, karena di dalamnya ada obat. Tapi anda malah makan yang ada racunnya. Sebentar lagi anda pasti merobohkan agama dan imanmu.

Aku memberikan nasehat padamu. Aku tidak takut dengan pedangmu. Juga tidak sama sekali berharap emasmu. Siapa pun yang bersama Allah Azza wa-Jalla, tidak akan lari karena jumlah banyak (yang melawan) baik dari kalangan Jin, Manusia, hamparan makhluk bumi, dan seluruh binatang buas lainnya.

Jangan sekadar bangga dengan para Syeikh, lalu anda tidak mengamalkan ilmunya. Kalian semua adalah orang yang begitu tolol pada Allah Azza wa-Jalla, pada RasulNya, pada orang-orang saleh, yang senantiasa teguh bersamaNya dan ridlo atas tindakanNya. Seluruh keselamatan terletak pada kerelaan hati atas rencanaNya, dan pendeknya angan-angan anda, disamping zuhud di dunia. Jika anda melihat bahwa diri anda sesungguhnya lemah, maka cukuplah anda mengingat kematian dan pendek angan-angan. Rasulullah saw, menceritakan tentang hadits Qudsy:
“Tak ada yang lebih utama bagi yang mendekat dari orang-orang yang mendekat kepadaKu dibanding orang yang melaksanakan fardlu yang Aku wajibkan pada mereka.

Dan senantiasa hambaKu mendekat kepadaKu dengan ibadah-ibadah sunnah, hingga Aku mencintainya. Bila Aku mencintainya, maka Aku adalah Pendengaran baginya, Penglihatan, Tangan dan Pengokoh baginya.
DenganKu ia mendengar, dan denganKu ia melihat, dan denganKu ia memukul.”

Ia memandang seluruh perbuatannya bersama Allah Azza wa-Jalla, bersamaNya ia keluar dari upayanya, kekuatannya, dan memandang dirinya dan lainnya, hingga gerak dan upayanya serta kekuatannya bersama Allah Azza wa-Jalla. Tidak bersama dirinya dan tidak bersama makhluk-makhlukNya. Ia orientasikan dirinya, dunianya, akhiratnya, sebagai ketaatan kepada Allah Azza wa-Jalla, apalagi pasti ketaatannya adalah taqarrubnya yang menjadi sebab cintanya Allah Azza wa-Jalla kepadanya.

Dengan ketaatannya ia mencintai dan taqarrub. Dengan kemaksiaatan yang ada, ia marah dan benci, serta menjauhi. Dengan taatnya ia bahagia, dan dengan maksiat ia lari. Karena siapa yang berbuat buruk akan lari. Dengan jejak syara’ ia raih kebajikan. Dengan kontra pada Allah ia dapatkan keburukan. Siapa yang dalam upayanya tidak berselaras dengan aturan Ilahi maka ia tergolong orang yang paling hancur.

Karena itu beramal dan tekunlah, tapi jangan anda bersandar pada amal. Orang yang tidak pernah beramal ibadah ia senantiasa tama’. Dan orang yang mengandalkan amalnya senantiasa kagum pada diri sendiri dan terpedaya.

Manusia ada yang berdiri antara dunia dan akhirat.
Ada yang berdiri antara syurga dan neraka.
Ada yang berdiri antara makhluq dan Khaliq.
Jika anda orang zuhud, posisi anda berada diantara dunia dan akhirat.
Jika anda orang yang takut pada Allah, posisi anda diantara syurga dan neraka.
Jika anda orang ‘arif posisi anda berdiri antara makhluk dan Khaliq. Di satu sisi anda melihat makhluk, dan disi lain anda Melihat Khaliq.

Anda mengenal mereka, dimana mereka melihat situasi akhirat dan hisabnya, serta seluruh apa yang ada di dalamnya. Tidak! Bahkan anda anda diberi tahu apa yang anda saksikan dan anda lihat. Tak ada berita yang lebih nyata dibanding melihat secara nyata. Ada kalangan yang sangat menunggu bertemu Allah Azza wa-Jalla, mereka senantiasa berharap di seluruh waktunya. Mereka tidak takut akan kematian, karena kematian sebagai sebab bertemu Allah Azza wa-Jalla Sang Kekasih. Berpisahlah sebelum engkau dipisahkan. Tinggalkan sebelum engkau ditinggalkan. Hijrahlah sebelum dihijarhi oleh keluarga dan seluruh makhluk. Raihlah apa yang berguna ketika kamu dikuburan. Bertobatlah dari ambisi meraih hal-hal yang dibolehkan namun dengan cara menuruti nafsu.

Hai kaum Sufi, hati-hatilah dalam seluruh tingkahmu. Hati-hati itu adalah pakaian agama. Carilah pakaianmu dariku bagi agamamu. Ikuti aku, karena aku senantiasa teguh berpijak pada jejak rasulullah saw. Aku pengikutnya dalam soal makanan, minuman, perkimpoian dan perilakunya. Apa pun yang ditunjukkannya menuju kepada Allah Azza wa-Jalla, senantiasa aku berserasi demikian, hingga aku berselaras dengan kehendak allah Azza wa-Jalla, tanpa pikir panjang. Hanya dengan memuji Allah, bahkan aku tak terlintas dengan pujian dan cacianmu, dengan pemberian dan hambatanmu, dengan kebaikan maupun kejahatanmu, dengan penerimaan maupun penolakanmu.

Anda memang bodoh. Dan orang bodoh tidak peduli dengan Allah Azza wa-Jalla. Jika anda merasa menang dan bahagia, serta menyembah Allah Azza waJalla, maka ibadahmu itu tertolak. Karena ibadahmu bersamaan dengan kebodohanmu, sedangkan seluruh kebodohan itu merusak.

Baginda Nabi saw, bersabda:
“Siapa yang menyembah Allah Azza wa-Jalla dengan cara yang bodoh, maka unsur yang merusak lebih banyak dibanding yang menimbulkan kebaikan.” (Ditakhrij oleh al-‘Ajluny).

Anda tidak beruntung selama tidak mengikuti jejak Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. Sebagian Sufi mengatakan: “Siapa yang yang tidak punya guru, maka gurunya adalah Iblis.”

Karena itu ikutilah jejak para Syeikh, para Ulama Billah, yang berpegang teguh pada Kitab dan Sunnah, yang mengamalkan keduanya, dan berhusnudzonlah kepada mereka. Anda belajar dari mereka dan beradablah yang sopan dengan mereka serta keluarga mereka, anda akan bahagia. Sebaliknya jika anda tidak mengikuti jejak Kitab dan Sunnah serta tidak berguru pada para Syeikh yang arif, anda tidak akan beruntung selamanya.
Ingatlah kata-kata, “Siapa yang mengandalkan pikirannya, akan tersesat.”

Bersihkan dirimu dengan berguru pada para Syeikh yang lebih alim dibanding anda, sibukkan dirimu untuk diperbaiki olehnya, baru kamu pindah ke pembersihan berikutnya.

Baginda Nabi saw, bersabda:
“Mulailah dari dirimu, kemudian pada orang sekitarmu.” (Hr. Bukhari).
“Tak ada nilai sedekah sedangkan keluarga dekat sangat membutuhkannya.” (Hr Ahmad).


Wa min Allah at Tawfiq

shakehand
kuli warnet - 01/01/2009 10:10 PM
#138
Kajian Kitab Fathur Robbany
Shultonu' Auliya Syaikh Abdul Qodir Al Jilany

...::: [Share and Cleans] Sufisme :::...

Menuju Kesalehan Qalbu
(Hari Ahad Pagi tanggal 3 Syawal tahun 545 H)


Berpaling dari Allah Azza wa Jalla ketika ketentuan TakdirNya turun, berarti pertanda matinya Agama, matinya Tauhid, matinya Tawakkal dan matinya ke-Ikhlasan. Sedangkan qalbu orang-orang mukmin tidak tahu, kenapa dan bagaimana sampai tidak tahu. Bahkan mengatakan, “Ya” (atas tindakan menyimpang itu, pen).

Nafsu itu, secara keseluruhan selalu kontra dan antagonis. Siapa yang ingin membaharui jiwanya, hendaknya ia memerangi nafsunya sehingga aman dari kejahatannya. Karena nafsu itu semuanya adalah buruk dalam keburukan. Bilamana anda telah memerangi, dan anda bisa tenang, maka seluruh jiwa anda akan meraih kebaikan dalam kebaikan. Sehingga anda selaras dalam seluruh kepatruhan kepada Allah dan meninggalkan seluruh kemaksiatan. Disinilah dikatakan dalam al-Qur’an:
“Wahai jiwa yang tenteram kembalilah kepada Tuhanmu dengan jiwa yang ridlo dan diridloi oleh Tuhan.”

Jiwa meraih keteguhan, dank arena itu telah sirna keburukannya. Jiwa tidak lagi bergantung pada makhluk mana pun. Benarlah jika hal ini dikaitkan dengan Nabiyullah Ibrahim as, dimana beliau telah keluar dari nafsunya dan abadi dengan tanpa hawa nafsu, sementara qalbunya tenteram, disaat itu berbagai ragam makhluk mendatanginya, menawarkan diri mereka masing-masing untuk membantunya. Lalu Ibrahim as, menegaskan, “Aku tidak ingin pertolongan kalian, karena KemahatahuanNya atas kondisiku sungguh telah cukup bagiku untuk permintaanku.” Maka ketika kepasrahan dan tawakkalnya benar, lalu, dikatakan pada api, “Jadilah dirimu dingin dan menyelamatkan pada Ibrahim.” Sebagai pertolongan dari Allah ta’ala Azza wa-Jalla bagi mereka yang sabar di dunia tanpa terhingga di dunia. Sedangkan kenikmatan di akhirat pun tanpa terhitung pula. Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan ditunaikan pahalanya tanpa terhingga.”

Segala hal tidak akan pernah tersembunyi di Mata Allah, karena itulah hendaknya kalian bersabar bersama Allah sesaat saja, anda akan melihat hasilnya berupa kelembutan dan kenikmatan bertahun-tahun. Dan keberanian adalah sabar sesaat itu sendiri.

Allah bersama orang-orang yang sabar. Dengan pertolongan dan kebaikanNya, maka bersabarlah bersama Allah. Ingatlah selalu padaNya, dan jangan melupakanNya. Jangan sampai sampai anda baru sadar ketika maut sudah tiba, karena sadar pada saat setelah maut adalah tindakan sia-sia. Sadarlah sebelum anda menemuiNya. Sadarlah sebelum anda disadarkan oleh kejutan yang membuat anda menyesal, diwaktu sebuah penyesalan tidak ada artinya lagi. Perbaikilah hatimu, sebab jika hatimu baik seluruh dirimu dan perilakumu akan baik pula. Karena itu Nabi SAW bersabda, “Dalam diri manusia ada segumpal darah, manakala ia baik, akan baik seluruh tubuhnya, dan bila rusak, rusaklah perilaku jasadnya. Ingatlah, (Tidak lain) adalah Qalbu.”

Memperbaiki (mensalehkan) qalbu itu dengan ketaqwaan dan tawakkal pada Allah Ta’ala, mentauhidkanNya, dan ikhlas dalam beramal. Sebaliknya jika hal itu tidak dilakukan justru akan merusak qalbu. Qalbu ibarat burung yang terbang dalam sangkar, seperti mutiara dalam bejana, dan seperti harta dalam perbendaharaan. Ibarat ini memakai metafor burung bukan dengan sangkar, dengan mutiara, bukan dengan bejana, dengan harta, bukan dengan perbendaharaan.

Ya Allah, sibukkanlah tubuhku dalam kepatuhan padaMu, sibukkanlah hatiku dengan ma’rifatMu, dan sibukkanlah sepanjang hayatku dalam malam-malam dan siang. Kumpulkanlah kami dengan orang-orang dahulu yang shaleh, limpahilah kami rizki sebagaimana Engkau limpahi mereka, dan semoga Engkau terhadap kami, seperti Engkau terhadap mereka. Amin.

Wahai kaum sufi! Jadilah kalian hanya untuk Allah, sebagaimana kaum shaleh kepadaNya. Sehingga kalian meraih apa yang telah mereka raih. Bila kalian ingin agar Allah Ta’ala semata bagi kalian, maka sibukkanlah dengan ketaatan dan kesabaran bersamaNya, ridlo atas tindalakanNya, baik bagi diri kalian maupun orang lain. Kaum Sufi senantiasa senantiasa zuhud di dunia, dan mereka meraih bagian mereka dari dunia dengan tangan ketaqwaan dan kewara’an, kemudian meraih akhirat. Mereka beramal dengan amaliyah yang menjaga jiwa mereka dan mereka patuh kepada Tuhannya. Mereka menyadarkan jiwa mereka sendiri baru kemudian menyadarkan jiwa orang lain.

Anakku, nasihatilah dirimu baru nasihati orang lain. Anda harus lebih dulu memperhatikan diri anda, dan jangan keburu memperbaiki orang lain, karena masih banyak bongkahan jiwamu yang masih harus diperbaiki. Celaka, jika anda merasa lebih tahu orang lain, sedangkan anda buta, bagaimana anda menuntun orang lain? Orang yang menuntun orang lain pastilah orang yang melihat hatinya. Bahwa sesungguhnya yang bisa membersihkan jiwa mereka adalah orang yang telah menyelami lautan yang jernih dan terpuji. Orang yang bisa menunjukkan jalan menuju Allah Ta’ala adalah orang yang ma’rifat kepada Allah. Sedangkan orang yang bodoh terhadap Allah, bagaimana mereka bisa menunjukkan kepadaNya?

Tak ada kalam bagi anda dalam melaksanakan perintah Allah, anda mencintaiNya dan beramal kepadaNya, bukan untuk yang lainNya. Anda harus takut padaNya bukan selainNya. Dan semua itu adanya dalam hati, bukan dalam retorika ucapan. Semua itu tersembunyi, tidak dalam publikasi.
Manakala Tauhid adalah pintu rumah, dan syirik berada di dalam rumah, itulah munafiq yang sesungguhnya. Sungguh sial anda, ucapan anda penuh dengan retorikan ketaqwaan, sednagkan hati anda penuh dengan kecurangan. Ucapan anda berterimakasih kepadaNya, sedangkan hati anda menentangNya. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan mereka tidak diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan, demi keopatuhan pada agama.”

Tinggalkanlah sekutu anda dengan makhluk, dan manunggalkanlah diri anda dengan Allah Ta’ala. Karena Dialah Pencipta segalanya, semuanya. Dan di TanganNya-lah segala ini berada. Wahai para petualang dunia yang memburu selain DiriNya, apakah anda tidak berfikir, adakah sesuatu yang diluar gengaman perbendaharaan Allah ta’ala? “Dan tak ada sesuatu pun kecuali bagi kami perbendaharaanNya.”

Wahai muridku, jika anda ingin selamat dalam genggaman takdir, hendaknya anda bersandar pada kesabaran, mengikat pada keselarasan aturan Ilahi, ibadah sembari menunggu jalan keluar. Jika demikian anda telah meraih kebenaran dari Sang Kuasa Takdir, melaui Fadlal dan anugerahNya, lebih dari kebajikan yang anda buru dan anda harapkan.

Wahai kaum Sufi. Selaraskanlah diri kalian dengan ketentuan takdir. Dan terimalah dari Abdul Qadir yang terus berjuang dalam berselaras dengan Qadar. Keselarasanku dengan ketentuan Takdir telah melangkahkan diriku kepada Sang Kuasa.

Muridku, kemarilah. Tunduklah kepada Allah Ta’ala, terhadap takdir dan tindakanNya, dan seluruh tubuh kita harus berpijak pada keselarasan takdir, lalu kita meniti jalan dengan kendaraan takdir itu. Karena takdir itu adalah utusan dari Sang Raja, dan kita memuliakannya karena siapa yang mengutusnya. Jika kita bebruat demikian, kita senantiasa bersanding kepada Al-Qadir (Sang Kuasa Takdir).


Anda dipersilakan meminum dari lautan ilmunya, memakan dari sajian keutamaannya, bergembira bersama dengan kemesraan Ilahiyahnya dan berselubung dalam kasih sayangnya. Mereka (para wali itu) adalah tokoh-tokoh Ilahi dari berbagai golongan dan kelompok.

Wahai para murid, hendaknya engkau bertaqwa, berpijak pada aturan syariah, kontra terhadap kepentingan nafsu, hawa nafsu, syetan dan pecundang-pecundang keburukan. Orang mukmin senantiasa perang melawan semua itu, bahkan tegak kepalanya, tidak menyarungkan senjatanya, tidak melepaskan pedal di atas kuda-kudanya. Mereka tidur karena lelap (bukan menikmati tidur), dan mereka makan dari laparnya ucapan mereka. Bahwa mereka berkata, karena kehendak Ilahi untuk berbuat demikian, dan kata-kata mereka menggerakkan dunia, sebagaimana tubuh-tubuh kita berkata esok di hari kiamat, bicara kepada Allah, seakan-akan mereka berkata seperti benda-benda padat ini semua berkata. Manakala Allah menghendaki mereka, Allah menyiapkan mereka untuk tabligh kepada sesama dengan peringatan dan kabar gembira dengan hujah-hujah yang meyakinkan. Maka demikianlah Allah menggerakkan lisan para Nabi dan Rasul, lalu ketika Allah Ta’ala mewafatkan, maka para pewarisnya dari para Ulama yang mengamalkan ilmunya, mewarisi kata-kata itu demi kebajikan makhluk, sekaligus sebagai pewarisnya.
“Para Ulama adalah pewaris para Nabi”.

Wahai kaum Sufi, bersyukurlah kamu kepada Allah Ta’ala atas nikmat-nikmatNya, lihatlah betapa nikmat itu melimpah dari Allah Ta’ala. “Apa yang datang padamu dari nikmat itu sungguh dari Allah.”

Manakah syukur anda itu, wahai orang-orang yang berselingkuh dari nikmatNya? Wahai orang yang memandang nikmatNya tetapi menganggap datang dari selain DiriNya? Terkadang kalian melihat nikmat itu dari Allah, terkadang bukan dari Allah, dan anda menunggu sesuatu yang bukan dari Allah? Terkadang pula anda meminta pertolongan lewat nikmat itu, demi kepentingan hawa kemaksiatan anda?

Wahai muridku, anda sangat membutuhkn kewara’an dalam khalwat anda, yang bisa mencerabutnya dari kemaksiatan anda dan dosa-dosa anda. Anda membutuhkan muroqobah yang mengingatkan anda akan Pandangan Allah Ta’ala kepada anda. Anda sangat membutuhkan semua itu dalam khalwat-khalwat anda, lalu kebutuhan untuk memerangi hawa nafsu anda dan syetan-syetan. Karena runtuhnya kebesaran manusia oleh kesalahannya. Runtuhnya ahli zuhud dengan syahwat- kesenangannya. Runtuhnya para wali Abdal karena pikiran dan bisikan imajinatif dalam khalwatnya. Runtuhnya para Shiddiqin dalam kejapan-kejapan hati (pada selainNya).

Mereka disibukkan memelihara hati mereka, karena mereka tidur di pintu Allah. Mereka tegak berdiri di panggung dakwah, mengajak makhluk untuk ma’rifat kepada Allah Ta’ala. Mereka terus menerus memanggil hati sembari mengumandangkan, “Wahai masyarakat qalbu, wahai para ruh, wahai manusia, wahai Jin, wahai penempuh jalan Ilahi, kemarilah-kemarilah….menuju Pintu Sang Raja. Bergegaslah kepadaNya dengan telapak kaki hatimu, dengan pijakan ketaqwaan dan tauhidmu, dengan ma’rifat dan wara’mu yang luhur, dengan zuhud di dunia dan di akhirat, zuhud dari segala hal selain Allah. Itulah kesibukan sufi, cita-citanya adalah menata kebajiakn makhluk, hasratnya membubung langit dan bumi, dari Arasy sampai bintang Tata surya.

Wahai muridku, tinggalkan nafsumu dan hawanya. Jadilah kalian ini sebagai tanah yang diinjak oleh para Sufi, menjadi debu-debu yang menempel di tangan mereka. Allah berfirman, “Allah mengeluarkan kehidupan dari kematian, dan mengeluarkan kematian dari kehidupan.” Allah mengeluarkan Ibrahim as, dari kedua orangtuanya yang mati dalam kekafiran. Orang mukmin itu hidup, dan orang kafir itu mati. Orang bertauhid itu hidup. Orang musyrik itu mati. Karena itu Allah berfirman dalam hadits Qudsi, “Yang pertama kali mati dari mahlukku adalah Iblis”. Karena Iblis yang pertama maksiat kepadaKu, lalu ia mati dengan maksiat itu.

Inilah akhir zaman. Pasar kemunafikan telah muncul, mall kedustaan telah bertebaran, karena itu janganlah anda bersanding duduk dengan para munafiqin, pendusta, dan Dajjalin. Sungguh celaka anda jika jiwa anda diselubungi kemunafikan, kedustaan, kekafiran, kelacutan dan kemusyrikan. Bagaimana anda bisa bersanding dengan itu semua?

Karena itu jauhilah dan jangan berselaras dengan kendali apalagi bergabung. Penjarakan semua kebusukan itu, sesuai dengan wataknya. Tekanlah semua itu dengan perjuangan jiwa. Sedangkan hawa nafsu, hendaklah kalian setir, jangan sampai engkau lepas. Sedikit engkau lepas engkau akan dikendalikannya.

Anda juga jangan memanjakan seleramu, karena selera alami itu seperti anak kecil yang belum memiliki kepandaian. Bagaimana anda belajar pada anak kecil yang kurang ilmu dan anda menerimanya?

Sementara syetan adalah musuhmu dan musuh bapakmu Nabi Adam as. Bagaimana anda bisa tenteram dengan syetan, anda menerimanya, sedangkan antara diri anda dengan syetan ada dendam mendarah daging, dan permusuhan primordial. Karena itu anda tidak bisa main dengan syetan, sebab syetan telah membunuh ayah bundamu. Jika anda tenteram bersama syetan anda akan dibunuh, sebagaimana syetan membunuh keduanya. Karena itu jadikan Taqwa sebagai pedangmu, Tauhidullah Azza wa Jalla, Muraqabah, Khalwat, Shidq, mohon pertolongan Allah, semua sebagai bala tentaramu. Itulah senjata, dan itulah pasukan dimana kamu harus mengusirnya, menyerangnya, memporakporandakan pasukan syetan itu. Bagaimana anda tidak mengusirnya, sedangkan Allah bersama anda?

Jadikan kehidupan dunia dan akhirat dalam satu wadah, lalu bersimpuhlah kepada Tuhanmu dengan ketelanjangan hatimu, tanpa dunia dan tanpa akhirat. Janganlah anda terima di ruang hatimu apa pun selain Allah, jangan pula kamu mengikat hatimu dengan kemakhlukan. Putuskan semua sebab akibat, dan lepaskan semuanya. Jika anda sudah bisa mandiri di sana, maka dunia ini anda jadikan untuk nafsumu, akhirat untuk hatimu, Allah untuk Sirrmu (hakikat rahasia dirimu).

Wahai sahabat. Jangan sampai anda bersama nafsu anda, bersama kesenangan nafsunya, jangan bersama dunia, juga jangan bersama akhirat. Jangan. Janganlah bersama semua, melainkan hanya bersama Allah Azza wa Jalla. Anda jika demikian, benar-benar sampai pada Kemahabendaharaan Ilahi yang abadi, dan pada saat yang sama, hidayah datang dari Allah, dimana tak ada lagi kegelapan setelah itu semua.

Taubatlah anda dari dosa anda, bergegaslah menuju Tuhan anda. Jika kamu taubat, taubatlah dengan lahir dan batin anda. Karena taubat itu adalah jantung kedaulatan.

Lepaskan baju-baju maksiatmu dengan taubat yang murni dan rasa malu kepada Allah secara hakiki. Bukan dengan kesemuan dan kepura-puraan.

Itulah amaliyah qalbu setelah penyucian badan dengan amaliyah syariat. Lahiriyah punya amaliyah, batiniyah juga punya amaliyah. Qalbu, manakala telah keluar dari dari aturan sebab akibat (duniawi) dan lepas dari ikatan dengan makhluk, maka Qalbu akan mengarungi lautan tawakkal, lautan ma’rifat kepada Allah, dam lautan IlmuNya bersamaNya. Qalbu akan meningggalkan sebab akibat duniawi, dan menuju Sang Pencipta sebab akibat. “Dialah yang menciptakan diriku dan memberi hidayah padaku.”

Allah menunjukkan dari satu benua ke benua lain. Dari satu tempat ke tempat lain, sampai berhenti di benua kemandirian yang istiqomah.

Manakala disebut Tuhannya, langsung memancarlah ekspressinya, dan terbukalah tirai-tirai, karena qalbu penempuh hanya menuju kepada Allah Ta’ala, menembus jarak dan meninggalkan semuanya di belakangnya.

Apabila dalam perjalannan ada ketakutan dan kekawatiran akan kehancuran, tiba-tiba muncul imannya, lalu membuatnya jadi berani, lalu reduplah api ketakutan dan kekawatiran. Lalu bergantu dengan cahaya kegembiraan, kebahagiaan dan kesenangan melalui taqarrubnya.

Wahai muridku. Jikalau telah tiba penyakit, maka hadirlah dengan kesabaran, tenanglah, sampai obatnya tiba. Jika obatnya ada di tangan anda, terimalah dengan tangan kesyukuran. Jika anda bisa demikian, anda hidup dalam kehidupan masa depan. Ketakutan itu datangnya dari api yang memotong nurani kaum beriman, membuat raut muka menguning, membuat hati jadi gelisah. Jika terjadi demikian dari kaum beriman, Allah menumpahkan air Kasih sayangNya dan kelembutanNya, lalu Allah membukakan pintu akhirat, sampai mereka melihat tempat tenteramnya.

Manakala mereka tenteram dan tenang, serta riang jiwanya sejenak, Allah membukakan pintu keagunganNya. Kemudian Allah menghadapkan hati dan sirr mereka pada Kebesaran itu, yang membuat mereka sangat ketakutan dibanding yang pertama, tiba-tiba Allah membukakan pintu KemahaindahanNya, lantas mereka tenang, tenteram dan bangkit mendaki derajat-derajat keluhuran, satu demi satu.

Wahai sahabatku. Jangan sampai cita rasamu hanyalah memenuhi hasrat makan dan minum, pakaian dan perkimpoian, kesenangan dan apa yang anda kumpulkan. Sebab semua itu hanayalah citarasa nafsu dan watak. Lalu manakah citarasa qalbu dan sirrmu? Citarasanya adalah menuju Allah Tala.

Citarasamu adalah citasa yang lebih penting dari sekadarnya, yaitu Allah, Tuhanmu dan apa yang ada di sisiNya. Dunia ini hanya sebagai pengganti belaka, yang sesungguhnya adalah kahirat. Makhluk semua adalah kesemuan, yang hakiki adalah Khaliq. Ketika anda meninggalkan kepentingan dunia, maka anda akan meraih gantinya, kenikmatan akhirat. Ukurlah usia anda di dunia ini, untuk sebuah persiapan besar menyongsong akhirat, karena anda akan menerima datangnya Malaikat maut.

Dunia adalah tempat dapur para Sufi. Akhirat adalah pestanya. Jika datang kecemburuan Allah, maka segeralah beralih, menuju maqam akhirat, lalu tidak lagi butuh dunia dan tidak lagi butuh akhirat.

Wahai para pendusta! Anda mencintai Allah ketika mendapatkan nikmat, tetapi ketika mendapatkan bencana, anda telah lari dari Allah, seakan-akan anda putus cinta dengan allah. Seorang hamba diukur dengan ujian, manakala anda tetap teguh bersama Allah dalam musibah bencana, berarti anda memang mencintai Allah. Jika anda berubah, sungguh anda ini dusta.

Seorang laki-laki datang kepada rasulullah SAW, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku mencintaimu.” Rasulullah saw, menjawab, “Siapkan dirimu dengan kefakiran sebagai pakaianmu.”

Laki-laki lain datang kepada Nabi SAW, “Aku mencintai Allah Azza wa-Jalla.” Nabi saw, menjawab, “Ambillah bencana sebagai pakaian.”

Mencintai allah dan mencintai rasulullah saw, senantiasa disertai dengan kefakiran kepada Allah dan ujian. Karena itu sebagian orang saleh berkata, “Setiap bencana disertai pertanda agar tidak mudah klaim pengakuan. Sebab jika tidak demikian, semua orang bisa mengklaim mencintai Allah Ta’ala. Lalu bencana dan kefakiran sebagai pengokoh atas cinta ini.”

Tuhan, berikanlah kami kebajikan di dunia, dan kebajikan di akhirat. Lindungilah kami dari azab neraka.

rose: amin . . . .


Wa min Allah at Tawfiq

shakehand
prabuanom - 02/01/2009 06:30 PM
#139

nyimak dan nyemak ah D
grinder_groovy - 02/01/2009 06:39 PM
#140

mantap mas kuli warnet...
Page 7 of 45 | ‹ First  < 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Spiritual > ...::: [Share and Cleans] Sufisme :::...