Kepolisian
Home > CASCISCUS > MILITER & KEPOLISIAN > Kepolisian > Ketika Sri Sultan HB IX kena tilang di Pekalongan, The Untold Story
Total Views: 2252 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 3 |  1 2 3 > 

B.174.DIA - 19/12/2011 02:05 PM
#1
Ketika Sri Sultan HB IX kena tilang di Pekalongan, The Untold Story
Ketika Sri Sultan HB IX kena tilang di Pekalongan, The Untold StoryKota batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960an menyambut fajar dengan kabut tipis , pukul setengah enam pagi polisi muda Royadin yang belum genap seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi brigadir polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan gagahnya. Kudapan nasi megono khas pekalongan pagi itu menyegarkan tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir.

Becak dan delman amat dominan masa itu , persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir. Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam ber plat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman . Brigadir Royadin memandang dari kejauhan ,sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju kearahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan ditepi posnya, ayunan tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut Sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti dihadapannya.

Saat mobil menepi , brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat.

“Selamat pagi!” Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna . “Boleh ditunjukan rebuwes!” Ia meminta surat surat mobil berikut surat ijin mengemudi kepada lelaki di balik kaca , jaman itu surat mobil masih diistilahkan rebuwes.

Perlahan , pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara penuh.

“Ada apa pak polisi ?” Tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget , ia mengenali siapa pria itu . “Ya Allah…sinuwun!” kejutnya dalam hati . Gugup bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik , naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna.

“Bapak melangar verbodden , tidak boleh lewat sini, ini satu arah !” Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dirinya tak habis pikir , orang sebesar sultan HB IX mengendarai sendiri mobilnya dari jogja ke pekalongan yang jauhnya cukup lumayan., entah tujuannya kemana.

Setelah melihat rebuwes , Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan , namun sultan menolak.

“ Ya ..saya salah , kamu benar , saya pasti salah !” Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa.

“ Jadi…?” Sinuwun bertanya , pertanyaan yang singkat namun sulit bagi brigadir Royadin menjawabnya .

“Em..emm ..bapak saya tilang , mohon maaf!” Brigadir Royadin heran , sinuwun tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya, jangankan begitu , mengenalkan dirinya sebagai pejabat Negara dan Rajapun beliau tidak melakukannya.

“Baik..brigadir , kamu buatkan surat itu , nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal !” Sinuwun meminta brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang. Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai polisi tidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di depan hidungnya. Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak mendapatkan dispensasi. “Sungguh orang yang besar…!” begitu gumamnya.

Surat tilang berpindah tangan , rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia menghormat pada sinuwun sebelum sinuwun kembali memacu Sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal.

Beberapa menit sinuwun melintas di depan stasiun pekalongan, brigadir royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya dan segala macam pikiran berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar Sedan hitam itu tapi manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan pada siapapun berhasil menghibur dirinya.

Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas , Ia menyerahkan rebuwes kepada petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut.,Ialu kembali kerumah dengan sepeda abu abu tuanya.

Saat apel pagi esok harinya , suara amarah meledak di markas polisi pekalongan , nama Royadin diteriakkan berkali kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap komisaris polisi selaku kepala kantor.

“Royadin , apa yang kamu lakukan ..sa’enake dewe ..ora mikir ..iki sing mbok tangkep sopo heh..ngawur..ngawur!” Komisaris mengumpat dalam bahasa jawa , ditangannya rebuwes milik sinuwun pindah dari telapak kanan kekiri bolak balik.

“ Sekarang aku mau Tanya , kenapa kamu tidak lepas saja sinuwun..biarkan lewat, wong kamu tahu siapa dia , ngerti nggak kowe sopo sinuwun?” Komisaris tak menurunkan nada bicaranya.

“ Siap pak , beliau tidak bilang beliau itu siapa , beliau ngaku salah ..dan memang salah!” brigadir Royadin menjawab tegas.

“Ya tapi kan kamu mestinya ngerti siapa dia ..ojo kaku kaku , kok malah mbok tilang..ngawur ..jan ngawur….Ini bisa panjang , bisa sampai Menteri !” Derai komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara.

Brigadir Royadin pasrah , apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi , yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja ..memang Koppeg(keras kepala) kedengarannya.

Kepala polisi pekalongan berusaha mencari tahu dimana gerangan sinuwun , masih di Tegalkah atau tempat lain? Tujuannya cuma satu , mengembalikan rebuwes. Namun tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar , keberadaa sinuwun tak kunjung diketahui hingga beberapa hari. Pada akhirnya kepala polisi pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk mengembalikan rebuwes tanpa mengikut sertakan Brigadir Royadin.

Usai mendapat marah , Brigadir Royadin bertugas seperti biasa , satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak teman temannya yang mentertawakan bahkan ada isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota pekalongan selatan.

Suatu sore , saat belum habis jam dinas , seorang kurir datang menghampirinya di persimpangan soko yang memintanya untuk segera kembali ke kantor. Sesampai di kantor beberapa polisi menggiringnya keruang komisaris yang saat itu tengah menggengam selembar surat.

“Royadin….minggu depan kamu diminta pindah !” lemas tubuh Royadin , ia membayangkan harus menempuh jalan menanjak dipinggir kota pekalongan setiap hari , karena mutasi ini, karena ketegasan sikapnya dipersimpangan soko .

“ Siap pak !” Royadin menjawab datar.

“Bersama keluargamu semua, dibawa!” pernyataan komisaris mengejutkan , untuk apa bawa keluarga ketepi pekalongan selatan , ini hanya merepotkan diri saja.

“Saya sanggup setiap hari pakai sepeda pak komandan, semua keluarga biar tetap di rumah sekarang !” Brigadir Royadin menawar.

“Ngawur…Kamu sanggup bersepeda pekalongan – Jogja ? pindahmu itu ke jogja bukan disini, sinuwun yang minta kamu pindah tugas kesana , pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat.!” Cetus pak komisaris , disodorkan surat yang ada digengamannya kepada brigadir Royadin.

Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya : “ Mohon dipindahkan brigadir Royadin ke Jogja , sebagai polisi yang tegas saya selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat.” Ditanda tangani sri sultan hamengkubuwono IX.

Tangan brigadir Royadin bergetar , namun ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sangup menolak permntaan orang besar seperti sultan HB IX namun dia juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di kota pekalongan .Ia cinta pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini .

“ Mohon bapak sampaikan ke sinuwun , saya berterima kasih, saya tidak bisa pindah dari pekalongan , ini tanah kelahiran saya , rumah saya . Sampaikan hormat saya pada beliau ,dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya !” Brigadir Royadin bergetar , ia tak memahami betapa luasnya hati sinuwun Sultan HB IX , Amarah hanya diperolehnya dari sang komisaris namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban ketegasannya.

July 2010 , saat saya mendengar kepergian purnawirawan polisi Royadin kepada sang khalik dari keluarga dipekalongan , saya tak memilki waktu cukup untuk menghantar kepergiannya . Suaranya yang lirih saat mendekati akhir hayat masih saja mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua sanak family yang berkumpul. Ia pergi meninggalkan kesederhanaan perilaku dan prinsip kepada keturunannya , sekaligus kepada saya selaku keponakannya. Idealismenya di kepolisian Pekalongan tetap ia jaga sampai akhir masa baktinya , pangkatnya tak banyak bergeser terbelenggu idealisme yang selalu dipegangnya erat erat yaitu ketegasan dan kejujuran .

Hormat amat sangat kepadamu Pak Royadin, Sang Polisi sejati . Dan juga kepada pahlawan bangsa Sultan Hamengkubuwono IX yang keluasan hatinya melebihi wilayah negeri ini dari sabang sampai merauke.



Depok June 25? 2011
Aryadi Noersaid

Catatan: saya mendapatkan tulisan ini dari salah satu grup FB yang saya ikuti dan tidak menyertakan link sumber, ketika saya googling saya cuma mendapatkan sumber dari sini
Saya posting juga di blog saya di sini
Bagaimana rekan rekan di Satwil Pekalongan, apakah ada yang pernah mendengar cerita di atas? Monggo share dan komentar di sini

Terima Kasih

Sumber : www.ikaba2002.com
Tengkuarifin - 19/12/2011 02:34 PM
#2

nice ... hormat saya buat beliau , semoga menjadi inspirasi buat kita bersama.iloveindonesias
Silenius - 19/12/2011 03:57 PM
#3

Dari lubuk hati yang paling dalam, saya sampaikan hormat saya.
chipax - 19/12/2011 04:06 PM
#4

Hormat saya kepada pak Royadin.
Demi tugas, dia menjalankan sesuai aturan.
Entah apa yang akan terjadi, bila ini berlangsung di era 2000an. . Ketika Sri Sultan HB IX kena tilang di Pekalongan, The Untold Story
Jin Kartubi 77 - 19/12/2011 06:31 PM
#5

Hanya bisa terjadi ketika Great King bertemu dengan Great Cop. Sama-sama berkelas, sama-sama orang besar.
Semoga masih bisa kita jumpai orang-orang seperti ini di masa kita, anyway bisa untuk cerita ke anak cucu kelak.....
aadinath - 19/12/2011 11:18 PM
#6

kalo pejabat sekarang kaya nya kalo di tilang langsung ngoceh2 ke pimpinan polri nya o

shutup:
.acui. - 20/12/2011 09:44 AM
#7

Quote:
Original Posted By aadinath
kalo pejabat sekarang kaya nya kalo di tilang langsung ngoceh2 ke pimpinan polri nya o

shutup:


bener bgt berbusa:

blm lg ditilang udah ngomal ngomel n nelpon sana nelpon sini hammer:
skincopz - 20/12/2011 09:56 AM
#8

jadi polisi zaman sekarang tambah serba salah, negakin peraturan dibilang masyarakat atau petinggi negri "dasar sok! kaku! sok alim!"
skincopz - 20/12/2011 09:58 AM
#9

Quote:
Original Posted By aadinath
kalo pejabat sekarang kaya nya kalo di tilang langsung ngoceh2 ke pimpinan polri nya o

shutup:


apalagi kaskuser abG langsung dia buat trit " GAN GW ABIS DITILANG POLISI " WKWKWKKWKWK
kabeishitrahell - 20/12/2011 11:53 AM
#10

Quote:
Original Posted By Jin Kartubi 77
Hanya bisa terjadi ketika Great King bertemu dengan Great Cop. Sama-sama berkelas, sama-sama orang besar.
Semoga masih bisa kita jumpai orang-orang seperti ini di masa kita, anyway bisa untuk cerita ke anak cucu kelak.....


Subhanallah, the two of you are the best officer and gentleman this country ever have. Indonesian Police Officer and The Great Sultan, allow me to proudly salute you! iloveindonesias
oq77 - 20/12/2011 11:14 PM
#11

mustahil masa kini ketemu pejabat negara yang berjiwa besar sperti sultan HB IX ini, dan aparat yang setegas pak Royadin
20052010 - 20/12/2011 11:26 PM
#12

Quote:
Original Posted By oq77
mustahil masa kini ketemu pejabat negara yang berjiwa besar sperti sultan HB IX ini, dan aparat yang setegas pak Royadin


Jgn berkata mustahil gan,tp berdoalah mudah2an kita akan memiliki org2 seperti mereka.bukan tidak mungkin toh hal tsb bs terjadi lg.
boy78us - 21/12/2011 07:57 AM
#13

perilaku polisi yang sangat patut menjadi panutan polisi jaman sekarang dan untuk Ngarso Dalem adalah sosok pejabat dan pemimpin yang sejati untuk ditiru para anggota Hewan jaman sekarang
biben87 - 21/12/2011 12:45 PM
#14

salut saya buat brigadir royadin beer:
hormat says buat sri sultan HB IX :2thumbup

dua2nya adalah ksatria : berani menegakkan kebenaran dan berani mengakui kesalahan iloveindonesia iloveindonesia
biben87 - 21/12/2011 12:50 PM
#15

eh.. eh..gmana klo 'dia' yg ditilang yah!! bisa2 bikin album baru:shutups
Zinpa - 21/12/2011 01:41 PM
#16

dari lubuk hati terdalam saya turut mendoakan semoga arwah beliau diterima oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, dan di tempatkan di tempat yang selayak-layaknya atas pengabdiannya....
ZeeLow - 21/12/2011 07:32 PM
#17

kalo pulisi sekarang .... wani piro ... hammer:
kabeishitrahell - 22/12/2011 01:16 PM
#18

Quote:
Original Posted By ZeeLow
kalo pulisi sekarang .... wani piro ... hammer:


Oknum itu gan... jangan biasakan ente maen pukul rata aja
risk_vanbrebetz - 22/12/2011 01:31 PM
#19

amazing....
agar jadi panutan sepanjang masa. beer:
semuda - 22/12/2011 02:04 PM
#20
Yuks kita berdoa
Insja Allah..

Apa yang ceritakan oleh Agan diatas dapat memberikan inspirasi bagi kita semua...supaya tidak perlu jumawa dengan korp maupun jabatan..pada akhirnya dipanggil juga oleh Nya....bahwa kita semua sama sama makhlukNya...

iloveindonesia
Page 1 of 3 |  1 2 3 > 
Home > CASCISCUS > MILITER & KEPOLISIAN > Kepolisian > Ketika Sri Sultan HB IX kena tilang di Pekalongan, The Untold Story