DEBATE CLUB
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > [CLEAN] Anda bertanya Quranist menjawab
Total Views: 200033 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 4 of 227 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›

Neshamakh - 30/01/2012 02:03 AM
#61

HADITH MUTAWATIR

Skema hadist standard: [X] mendengar dari [A] mendengar dari (B) mendengar dari [C] mendengar dari [D] mendengar dari [E] yang mendengar dari atau melihat [R] mengatakan atau melakukan sesuatu

Keterangan
- [X] adalah imam pengumpul hadist
- [A](B)[C][D] [E]perawi
- [R] adalah Rasul
- Sanad : yang disandarakan pada perawi. Contoh Perawi [A],(B),[C],[D], [E]
- Thaqabah = tingkatan/geneasi sanad. Contoh : thaqabah [A] , thaqabah (B),[C],[D],[E]

Untuk mudahnya secara istilah hadist dikatakan mutawatir jika perawinya banyak pada setiap thaqabah sanad.

CATATAN PENTING :
- [X] terpaut kurang lebih 250 tahun lebih dari masa [R]

SYARAT MUTAWATIR
- Diriwayatkan oleh jumlah yang banyak
- Jumlah yang banyak harus ada di tiap thaqabah sanad
- Menurut kebiasaan tidak mungkin mereka bersekongkol/bersepakat untuk berdusta

Jumlah perawi di tiap thaqabah sanad untuk dikatakan mutawatir berbeda beda. Ada yang memakai minimal 4, 5, 12, dst.
Pada kenyataannya jumlah ini tidak baku menjadi aturan khusus. Dan biasanya HANYA banyak di satu thaqabah sanad contoh thaqabah [D] atau thaqbah [C], atau thaqabah (B), atau thaqabah [A]

Skema Hadits Mutawattir jika berdasarkan syarat yang ada [kita mengambil jumlah minimum 4 di tiap thaqabah sanad]

[X] mendengar dari [A1,A2,A3,A4] yang mendengar dari [B1,B2,B3,B4] yang mendengar dari [ C1,C2,C3,C4] yang mendengar dari [ D1,D2,D3,D4] yang mendengar dari [E1,E2,E3,E4] yang mendengar dari atau melihat apa yang Rasul katakan atau lakukan

Skema tersebut tidak baku pada kenyataannya! Jumlah bisa berbeda di tiap thaqabah, yang dijadikan syarat mutawatir hanya thaqabah tertentu!

Contoh:
Bisa dikatakan mutawatir jika hanya thaqabah [A] atau (B) atau [C] atau [D] atau [E] yang jumlahnya 4
Contoh: [ - ] yang mendengar dari dst

[X] – [A1,A2,A3,A4] – [B1,B3] – [C1,C2,C3] – [D1]-[E1] - [R]

atau

[X] – [A1] – [B1,B2] – [C1,C2] – [D1,D2] - [E1,E2,E3,E4] – [R]

Mutawatir lafdhi
Contoh : dengan skema yang tidak baku di tiap thaqabah namun ada satu thaqabah berjumlah minimal yang ditentukan [X]

[X] – [A1] – [B1] – [C1] – [D1] - [E1,E2,E3,E4] melihat [R] makan coklat dari belgia pada hari Y dengan tangan kanan

Mutawatir lafhdy terpenuhi jika matan hadist (isi pesan) lafadh dan maknanya disampaikan secara mutawatir [tidak terikat di thaqabah mana]. Artinya makna dan lafadh sama persis bahwa R makan coklat belgia pada hari Y dengan tangan kanan

Mutawatir ma'nawi terpenuhi jika maknanya saja yang disampaikan secara mutawatir, dan lafadhnya berbeda-beda.
Contoh:

[X] – [A1] – [B1] – [C1] – [D1] - [E1,E2,E3,E4] melihat [R] makan dengan tangan kanan.

Pada kenyataannya hadist mutawatir hanya sedikit sekali jika dibandingkan dengan hadist ahad. Dan dari yang sedikit itu jumlah hadist mutawatir lafdhi sangat sedikit jika dibandingkan dengan mutawatir maknawi.

MEMBEDAH KELEMAHAN MUTAWATIR

Faktor penting yang kemudian perlu dicatat
- [X] terpaut kurang lebih 250 tahun dengan [R]
- [X] mungkin sejaman dengan [A], mungkin sejaman dengan (B), tidak sejaman dengan [C][D][E][R]
- [A] mungkin sejaman dengan (B), mungkin sejaman dengan [C] tapi tidak sejaman dengan [D][E][R]
- (B) mungkin sejaman dengan [C], mungkin sejaman dengan [D] tapi tidak sejaman dengan [E][R]

Hukum yang biasa ditetapkan dan didoktrinkan [X] dalam mutawatir:

DIDOKTRINKAN : Karena hadist mutawatir tergolong hadist sahih yang diklasifikasikan oleh [X] dan mengandung upaya [X] dan berdasarkan ilmu [X] MAKA TIDAK PERLU DIPERTANYAKAN LAGI KEBENARANNYA dan mengharuskan manusia untuk mempercayainya dengan sepenuh hati. Maka [X] menetapkan hadith mutawatir adalah qathi tidak perlu diadakan penelitian dan penyelidikan tentang keadaan [A,B,C,D,E]. Kepastian ini tidak bisa diganggu gugat seperti manusia haruis meyakini bahwa monas ada di jakarta, london ibukota inggris dst.

Jika melihat dari segi hukum yang didoktrinkan oleh [X] maka jelas terlihat layaknya [X] seorang diktator yang tidak boleh digangu gugat keputusannya. Pada kenyataannya Setelah [X] banyak kitab kitab hadit sahih terbit. Imam [Y] (salah satu murid [X])menerbitkan buku sahih tidak lama setelahnya, dan setelah Imam muslim terbit kitab kitab yang lain!!

MENILIK DARI SEGI RANTAI DAN APLIKASI ALJARH WAT'TADIL TERHADAP PERAWI DI SETIAP THAQABAH

Skema sempurna mutawatir terpenuhi jika berdasarkan syarat jumlah minimum 4 perawi di tiap thabah terpenuhi:
[X] – [A1,A2,A3,A4] – [B1,B2,B3,B4] – [C1,C2,C3,C4] – [D1,D2,D3,D4] - [E, E1-E4] - [R]

[X] mungkin pernah bertemu dengan [A1] dan secara objektif bisa mengetahui si [A1] menyampaikan informasi benar karena [X] mendapatkan informasi yang sama dari [A2][A3][A4]. NAMUN bagaimana mungkin [X] bisa secara objektif menyimpulkan thaqabah [A, A1-4]] mendapatkan informasi dari [B1,B2,B3,B4] yang katanya mendengar dari [C1,C2,C3,C4] yang katanya mendengar dari [D1,D2,D3,D4] dst. ?

Bagaimana mungkin [A, A1-A4] yang dipastikan tidak mengetahui sifat yang mensucikan di thaqabah [C,C1-C4] jika yang di thaqabah [B, B1-B4] saja tidak bisa diketahui secara pasti. Jika memang begitu bagaimana status [X]

Ada kelemahan yang terkuak dan lubang yang tidak bisa disangkal disini. Jika Thaqabah [A, A1-4] tidak bisa memastikan bahwa thaqabah [B, B1-4] mendapatkan informasi dengan benar dan tidak bisa mensifati dengan benar dari thaqabah [C, C1-4] bagaimana [X] bisa memastikan hal tersebut dan tehadap thaqabah lain? Apakah penilaian [X] bisa dikatakan Akurat tentang tiap thaqabah?

Itu contoh dengan skema semmpurna jika syarat mutawatir di tiap thaqabah dipenuhi. Bagaimana dengan jika hanya ada satu thaqabah yang berjumlah minimal untuk disebut mutawatir?

Skema yang sering ditemukan dalam kitab hadist
[X] mendnegar dari [A1-A tidakterbatas] yang mendengar dari [B1] yang mendengar dari [C1] yang mendengar dari [D1].

Sementara [X] tidak sejaman dengan [B1][C1]dan apalagi [D1]

Ilmu aljarh wa'tadil yang kemudian dipakai untuk [X] bisa menentukan apakah [A](B)[C][D][E] adalah orang yang benar atau orang yang cacat hanyalah ilusi. Nabi sendiri tidak bisa mengetahui mana yang beriman bagaimana dengan [X] yang mendefinisikan sahabat sebagai setiap orang yang hidup pada masa Rasul yang hidup dan mati dalam keadaan beriman?.

Ini malah memperbesar masalah, Jika [ A] saja tidak mungkin mengetahui dan memastikan kebenaran sifat tentang thaqabah [C] bagaimana mungkin [X] bisa menganalisa aljarh wa'tadil terhadap orang yang sudah meninggal (B)[C][D][E] dan mendapatkan data yang tidak pasti salah?

OBJEKTIF?




SEBELUM MELANJUTKAN FAKTOR WAKTU YANG HARUS DIPERHITUNGKAN


METODE PENELITIAN DAN PENGUMPULAN HADITH

Jumlah hadith yang diteliti dan dikumpulkan = 600,000 hadith
Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, [X] menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, [X] sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi.

16 TAHUN = 8,409, 600 menit
60 menit x 24 jam x365hari x 16 tahun =8.409.600 menit (16 tahun)
Hadith yang dikumpul 600,000 dalam tempo 16 tahun.
8.409.600 / 600.000 =14,016 menit

Bisa dikatakan diperlukan waktu 14 menit untuk [X] mensahihkan satu hadist
Waktu diatas menggunakan asumsi [X] tidak tidur, makan, ibadah dan tidak berjalan kemana mana. Sementara jelas [X] travell ke Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat.

TRANSPORTASI YANG DIGUNAKAN PADA ZAMAN X
- Unta, Dengan kecepatan rata rata 65 kilometer /jam

DAPAT DIASUMSIKAN WAKTU [X] UNTUK MENSAHIHKAN ATAU MENDHOIFKAN SATU HADIST JAUH DIBAWAH ANGKA DIATAS

[CLEAN] Anda bertanya Quranist menjawab
Neshamakh - 30/01/2012 02:05 AM
#62

[b]HADIST AHAD[/B]

Ahad = Satu.
Hadist ahad hadith yang belum mencapai syarat mutawatir
Sering dicampuradukan dengan istilah khabarul wahid, khabar yang diriwayatkan oleh satu orang.

Terbagi atas tiga macam:
-Hadith Mahsyur
-Hadith Aziz
-Hadith Gharib : Gharib mutlaq dan Gharib nisbi


HADITH MAHSYUR

Mahsyur = Nampak
Hadith mahsyur menurut istilah ahli hadith adalah hadith yang diriwayatkan oleh 3 orang atau lebih di setiap thaqabah namun belum mencapai syarat mutawatir.

Contoh : [ X] menetapkan jumlah hadith dikatakan mutawatir harus mempunyai minimal 4 perawi di setiap thaqabah (walau pada kenyataan tidak berlaku di setiap thaqabah). Maka yang bisa dikatakan hadith mahsyur adalah jika perawi (mengikuti syarat) di setiap thaqabah berjumlah 3 (kurang dari penetapan jumlah mutawatiryang ditetapkan oleh [X] ) (pada kenyataannya juga tidak berlaku di setiap thaqabah)

Skema sempurna hadith mahsyur [ jika mengikuti syarat ]

[X] – [A, A1-A3] – [B, B1-B3] – [C, C1-C3] – [D, D1-D3] – [E, E1 – E3] – [R]

Hadith mahsyur ini sering juga disebut sebagai Al-Mustafidh.

MASALAH: Informasi bahwa [A] tidak bisa memverikasi secara pasti bahwa [B,B1-3] mendapatkan informasi dari [C, C1-3] yang mendapatkan dari thaqabah selnjutnya dengan benar bagaimana dengan [X]? Sama halnya dengan klasifikasi pensifatan perawi (Aljarh wat'tadil) yang berbeda generasi dengan [X] dst. Terlebih jika hanya dalam hitungan menit [X] harus mensifatkan perawi di thaqabah yang berbeda generasi dengannya.

Sangat mungkin [X] memang mesahihkan atau mendhoifkan suatu hadist dengan pendekatan katanya, katanya, katanya.
Katanya si [B, B1-B3][C,C1-3][D,D1-D3] dst orang orang yang, beriman, shaduq, naqid, wara dst

HADITH AZIZ

Aziz : yang sedikit, yang gagah, yang kuat
Hadith adalah hadith yang diriwayatkan dengan minimal dua sanad (jalur) yang berbeda.

Tidak ada bedanya dengan hadith mutawatir dan hadith mahsyur.
Contoh [ X] menetapkan standrd mutawatir 4, maka mahsyur 3, dan Aziz yang kurang dari Aziz tapi belum bisa disebut gharib!

Untuk mudahnya :
Jika dibedah dengan skema hadith mutawatir sempurna
a. [X] – [A1] – [B1] – [C1] – [D1] – [E1] - [R]
b. [X] – [A2] – [B2] – [C2] – [D2] – [E2] – [R]
ahli..kubur3 - 30/01/2012 02:07 AM
#63

Ijin off dlu yah kk TS,ntar kalo ol om karungin id-id perusuh disini

Wassalam [CLEAN] Anda bertanya Quranist menjawab
Neshamakh - 30/01/2012 02:08 AM
#64


HADITH DLAIF

Dla'if menurut bahasa adalah lawan dari kuat.
Hadist dla'if menurt istilah adalah haditt yang didalamnya tidak didapati syarat hadith shahih dan tidak pula didapati syarat hadith hasan.

Tingkatan hadith dlaif

Hadith dla'if bertingkat tingkat keadaanya berdasarkan pada lemahnya para perawi antara lain :
-dla'if, dla'if jiddan, wahi, munkar. Dan seburuk buruk hadith adalah maudlu (palsu)

Sedikit kembali keatas : Bagaimana [X] bisa memastikan secara benar bahwa hadith yang disahihkannya tidak palsu?

HADITH YANG TERTOLAK KARENA GUGRUNYA SANAD

Menurut ilmu yang ada Keguguran sanad ada dua macam:

1. Keguguran secara dhahir dan dapat diketahui oleh ulama hadith karena faktor perawi yang tidak pernah bertemu dengan guru (syaikhnya), atau tidak hidup dijamannya

Mudahnya ilmu ini mengatakan dan mendoktrinkan:
Jika [X] dapat mengetahui (B) tidak sejaman dengan [C] dst >--- gugur sanad secara dhahir

Keguguran sanad dalam hal ini, ada yang gugur pada awal sanad, atau akhirnya, atau tengahnya. Para ulama memberikan istilah kepada hadith yang sandanya ggugur secara dhahir dengan 4 istilah yang disesuaikan tempat dan jumlah perawi yang gugur.

a. Mu'allaq
b. Mursal
c. Mu'dlal
d. Munqathi

2. Keguguran sanad yang tidak jelas dan tersembunyi. Didoktrinkan ini tidak dapat diketahui kecuali oleh para ulama yang ahli dan mendalami jalan hadith serta illat-illat sanadnya.

Ada dua jenis :
a. Mudallas
b. Mursal.

Jika kita teliti dengan hati yang bersih, merupakan fakta tidak bisa dibantah bahwa untuk mengkasifikasikan hadith sehingga bisa disebut dla'if, ataupun shahih, bahwa didoktrinkan secara turun temurun :

-[X] bisa mengetahui dengan pasti orang yang tidak hidup sejaman dengannya TIDAK PERNAH bertemu dengan orang yang tidak pernah hidup sejamannya juga. >--- hadith dlaif
-[X] bisa mengetahui dengan pasti orang yang tidak hidup sejaman dengannya PERNAH bertemu dengan orang yang tidak pernah hidup sejamannya juga. >--- hadith shahih

Sama seperti halnya, hadith yang bisa dikatakan shahih karena faktor yang hanya diketahui [X], hadith bisa juga berstatus dla'if karena faktor yanghanya diketahui [X].



HADITH MU'ALLAQ

haidth mu'allaq bagian dari hadith dlaif/lemah

Definisi:
Mu'allaq secara bahasa adalah isim maf'ul yang berarti terikat dantergantung. Sanad yang seperti ini disebut mu'allaq karena hanya terikat dan tersambung pada bagian atasnya saja, sementara bagian bawah terputus, sehingga menjadi sesuatu yang tergantung pada atap dan yang semacamnya.

Hadith mu'allaq menurut istilah hadith yang gugur perawinya, baik seorang, baik dua orang, baik semuanya pada awal sanad secra berurutan.

Mudahnya :
Skema yang seharusnya
[X] - [A] - (B) - [C] - [D] - [E] melihat [R] minum kopi torabika dengan gula sedikit

Maka hadith dapat dikatakan mu'allaq bila;
Contoh satu:
[X] - [C] - [D] - [E] melihat [R] minum kopi torabika dengan gula sedikit
Contoh dua:
[X] - [E] melihat [R] minum kopi torabika dengan gula sedikit

Keterangan:
[X] menghilangkan sanad [A] dan (B) dan langsung meriwayatkan dari [C][D][E][R]
[X] menghilangkan semua sanad kecuali [E]
Dalam dua contoh diatas jelas [X] tidak hidup sejaman dan dipastikan tidak pernah bertemu dengan [C][D][E][R]

Hukumnya Hadith mu'allaq :
(perlu diperhatikan para 'alim ulama' di TV dan para ahlul sunnah yang sering menghilangkan sanad dalam penyampaian hadith)

HADITH MU'ALLAQ adalah HADITH MARDUD (DITOLAK) dikarenakan gugur dan hilangnya salah satu syarat diterimanya suatu hadith, yaitu bersambungnya sanad, dengan cara menggugurkan seorang atau lebih dari sanadnya tanpa dapat diketahui keadaannya.

Dalam segi hukum cukup keras. Jika [X] meriwayatkan langsung dari perawi yang tidak hidup sejaman dengannya, sehingga bsia dipastikan [X] tidak pernah bertemu dengan mereka dan menghilangkan rantai perawi yang hidup sejamannya maka hadith itu akan tertolak.

Ada yang dilupakan. Bagaimana [X] bisa memastikan [C] tidak mengugurkan sanad dalam periwayatannya, dan [C] pernah hidup sejaman dan bertemu dengan [D] dst dengan pasti?

NAMUN

Quote:
Apa yang anda akan simpulkan jika didoktrinkan bahwa 2+2 = 4, berdasarkan syarat ilmu matematika dasar yang tidak bisa dibantah kemudian didoktrinkan 2+2 bisa saja bukan 4 berdasarkan ilmu matematika dasar juga?


Hukum Hadith Mu'allaq dalam kitab hadith yang menduduki ranking paling sahih (teratas)

1. JIKA DIRIWAYATKAN dengan tegas dan jelas, yaitu dengan sighat jazm (kata kerja aktif); seperti qalla, dzkara, haaka, MAKA HADITHNYA DIHUKUMI SAHIH

Mudahnya :
Contoh satu:
Walau [X] tidak hidup sejaman dan tidak pernah bertemu dengan [C], jika dalam penyampaiannya [X] menggunakan kata kerja aktif maka hadith tersebut shahih.
Contoh dua:
Walau [X] tidak hidup sejaman dan tidak pernah bertemu dengan [E], jika dalam penyampaiannya [X] menggunakan kata kerja aktif maka hadith tersebut shahih.

2. JIKA DIRIWAYATKAN dengan shighat tamridl (kata kerja pasif) seperti qilla, dzukira, hiika maka
-TIDAK DIPANDANG SAHIH SEMUANYA, ada yang SAHIH , HASAN dan DLA'IF

Mudahnya :
Contoh satu dan dua
Walau [X] tidak hidup sejaman dan tidak pernah bertemu dengan [C][D][E], jika dalam penyampaiannya [X] menggunakan kata kerja pasif maka tidak semuanya dlaif, ada juga yang hasan dan ada juga yang shahih!

Dengan kata lain,
Perhatikan dengan baik dan renungkan fakta yang tidak bisa dibantah dibawah ini:

1. Jika syarat tidak diterimanya suatu hadith karena hilangnya salah satu syarat diterimanya satu hadith shahih maka hadith tersebut bisa menjadi shahih, tergantung penyampaian [X]

2. Hadith yang seharusnya TERTOLAK/MARDUD bisa menjadi shahih jika disampaikan oleh [X] dengan kata kerja aktif dan pasif (walau tidak semua dlm kata kerja pasif).

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikan/mewahyukan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu . Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. [6:112]

Pertanyaannya, apa kelebihan sighat jazm dalam mengukur kebenaran??

Bersambung
Crucifixion - 30/01/2012 02:11 AM
#65

Quote:
Original Posted By ahli..kubur3
Ijin off dlu yah kk TS,ntar kalo ol om karungin id-id perusuh disini

Wassalam [CLEAN] Anda bertanya Quranist menjawab


met tidur om
berarti ID om masuk daftar juga donk confused:
Neshamakh - 30/01/2012 02:12 AM
#66

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan lahwal hadith (perkataan yang tidak berguna) untuk menyesatkan dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. [31:6]

HADITH MURSAL

Mursal menurut bahasa merupakan isim maf'ul yang berarti dilepaskan. Sedangkan hadith mursal menurut istilah adalah hadith yang gugur perawi dari sanadnya setelah tabi'in (setelah [E]).

Contoh:
[X] - [A] - (B) - [C] - [D] - [s][E][/s] -[R]

Dengan kata lain [X] bisa secra pasti mengetahui bahwa [D] tidak pernah bertemu [R], dan karena [D] tidak menyebutkan perantara antara [D] - [R] menghilangkan sanad [E] maka hadith ini disebut sebagai hadith mursal.

menurut ulama fiqh dan ushul fiqih lebih umum dari itu, yaitu bahwa setiap hadith yang munqathi menurut mereka adalah hadith mursal.

Jika diperhatikan dengan teliti dan mengaitkan hadith mu'allaq maka bisa dikatakan [X] mengetahui [D] meriwayatkan dengan cara mengugurkan sanad [E], dan langsung ke [R] pertanyaannya apakah kemudian jika [D] menyampainkan riwayatnya dengan kata kerja aktif dan pasif bisa diterima?

HUKUM HADITH MURSAL

1. Jumhur (mayoritas) ahli hadith dan ahli fiqih berpendapat bahwa HADITH MURSAL adalah DLA'IF dan menganggapnya sebagai hadith tertolak (Mardud), karena tidak diketahui kondisi perawinya. Bisa jadi perawi yang gugur dari sanad adalah sahabat [E] atau tabi'in [D]

Quote:
Bukankah dikatakan [X] bisa mengetahui dengan pasti [D] menghilangkan sanad [E] sehingga bisa dikatakan hadith mursal? lalu kenapa ahli hadith dan ahli fiqih mengatakan hadith mursal tertolak karena tidak diketahui kondisi perawinya? kenapa jadi mengedepankan kondisi yang 'bisa jadi' dalam memastikan suatu hadith?


2. Jika yang gugur itu adalah sahabat [E] MAKA tidak mungkin hadithnya ditolak, karena semua sahabat adalah adil!

Quote:
Jika kita lihat baik baik definisi sahabat menurut ahli hadith yaitu; seluruh orang yang hidup dan pernah ketemu Rasul, dalam keadaan beriman di zaman Rasul dan meninggal juga dalam keadaan beriman.

Refleksikan ayat ayat tentang ketidak tahuan Rasul tentang orang yang menyatakan keimanan namun malah merencakan untuk merubah rubah apa yang dikatakan Rasul pada malam hari. Dan kaitkan dengan usaha untuk menipu dengan perkataan yang indah. Jika RAsul sendiri tidak tahu mereka yang munafik bagaimana [X] bisa memastikan pensifatankepada [E] dengan pasti? Mudah mudahan Allah membuka segala pintu hati yang tertutup.


3. Jika yang gugur itu adalah tabi'in [D] maka sangat dimungkinkan hadith tersebut dla'if.

Quote:
Lagi lagi sebuah pensifatan subjektif yang pada akhirnya tidak bisa dipegang sebagai kebenaran yang hakiki



Berbagai pendapat Imam 4 mahdzab tentang hadith mursal.

1. Bahwa hadith mursal adalah shahih dan dapat dijadikan sebagai hujjah! Terlebih jika si tabi'in tidak meriwayatkan hadith kecuali dari orang orang yang tsiqah dan dapat dipercaya. Pendapat ini mahsyur dalam mahdzab Malik, Abu Hanifah, dan salah satu dari dua pendapat Imam Ahmad.

Quote:
Tidak bisa dipungkiri dalam hal 'agama' percaya = beriman. Imam mahdzab mengatakan mereka bisa tahu pasti tabi'in tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang tsiqh dan dapat diimani. Setelah bisa mensifati dan mendoktrinkan [D] orang yang suci hingga hadithnya bisa diteriman mereka bisa tahu [D] tidak mengambil selain dari [E] yang tsiqah dan dapat diimani. [D] dan [E] dapat dipastikan tidak sehidup sejaman dengan Imam 4 mahdzab.


2. Imam syafi'i berpendapat bahwa hadith mursal para tabi'in senior dapat diterima apabila terdapat hadith mursal dari jalur lain, atau dibantu dengan perkataan sahabat.

Quote:
Dengan kata lain hadith yang tergolong tertolak ini bisa menjadi sahih jika ada hadith serupa dari jalu lain, Tentunya jika jumlah jalur lain mencapat syarat mutawatir, maka hadith mursal yang tergolong hadith mardud ini bisa menjadi hadith sahih.


MURSAL SHAHABI

Jumhur muhaditin dan ulama ushul fiqih berpendapat bahwa murshal shahabi adalah shahih dan dapat dijadikan hujjah.

Mursal shahabi yaitu apa yang dikhabarkan oleh seorang shahabat [E] tentang sesuatu yang telah dikerjakan atau dikatakan oleh Nabi [R], yang menunjukan bahwa [D] tidak menyaksikan secara langsung atau tidak mendengar secara langsung karena faktor usianya yang masih kecil, atau karena faktor ketrlambatan masuk islam.


Mudahnya mursal shahabi mengatakan:

[X] - [A] - (B) - [C] - [D] - [ E ] pada tahun 2008 hari jum'at - [R] minum kopi dengan tangan kanan dan mengatakan kopi jawa ini enak sekali

Sementara diketahui [X] 'katanya' bahwa [E] baru masuk islam atau mengenal rasul pada tahun 2012. Ini bisa menjadi hadith sahih . Dengan kata lain walau [E] tidak melihat langsung atau mendengar langsung dari [R] bisa dijadikan hujjah sebagai suatu kebenaran.

HUKUM LAIN TENTANG HADITH MURSAL (MURSAL SHAHABI):

Maka murshal shahabi adalah maqbul. Karena [X] - [A] - mengetahui dengan pasti (tidak pasti salah) [E] yang tidak hidup sejaman dengannya adalah orang yang adil. Jumhur ulama dan ulama ushul fiqih menetapkan pada dhahirnya seorang shabat (def shabat ahlul sunnah) tidak meriwayatakn suatu hadith kecuali dia telah mendengarnya dari [R] atau dari orang lain dithaqabah [E] misal [E1 yang melihat langsung [R] melakukan itu pada hari A tahun A

Quote:
Kalau melihat syarat hadith mu'allaq bukankah didoktrinkan ketika [E] yang tidak menyaksikan secara langsung dan hanya mendengar dari [E1] tidak boleh dihilangkan sanadnya oleh [E]? dan jika [E] tidak menyandarkan pada orang lain di thaqabahnya yang katanya menyaksikan secara langsung maka hadith ini gugur? ups lupa..ternyata hadith muallaq yang tergolong mardud juga bisa jadi shahih...


Quote:
Jika teliti sejauh ini akan terlihat bagaimanapun hadith2 yang tergolong tertolak ternyata bisa menjadi sahih. berbagai kondisi diciptakan agar hadith yang tertolak karena tidak terdapat syarat diterimanya suatu hadith bisa menjadi hadith yang shahih dan dijadikan hujjah


Mari kita renungkan lagi peringatan dari Allah:

[b]Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikan/mewahyukan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu . Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. [6:112]

Nabi sendiri dikabarkan tidak tahu tentang musuh yang ada dari golongan manusia yang ada di sekelilingnya

Di antara orang-orang arab yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. [9:101]

Bahkan pada masa Nabi ada mereka yang munafik, di depan Nabi berkata ta’at tapi ketika malam hari mereka berkumpul untuk merubah apa yang telah Nabi katakan.

Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. [2:8]

Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: " taat". Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari merubah apa yang kau katakan. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung. [4:81]
Neshamakh - 30/01/2012 02:16 AM
#67

MUDALLAS


Definisinya

Mudallas menurut bahasa adalah isim maf’ul drai at-tadlis. Dan tadlis dalam bahasa berarti penyembunyian aib barang dagangan dari pembeli. Diambil dari kata ad-dalsu, yaitu kegelapan atau percampuran kegelapan; seakan-akan seorang mudallis karena penutupannya terhadap orang yang memahami hadits telah menggelapkan perkaranya, sehingga hadits tersebut menjadi gelap.

Tadlis menurut istilah : “Penyembunyian aib dalam hadits dan menampakkan kebaikan pada dhahirnya”.

Pembagian Tadlis
Tadlis ada dua macam, yaitu :
- Tadlis Al-Isnad
- Tadlis tsawiyah

Tadlis Al-Isnad

Tadlis Al-Isnad adalah bila seorang perawi meriwayatkan hadits dari orang yang ia temui apa yang tidak dia dengarkan darinya; atau dari orang yang hidup semasa dengan perawi namun ia tidak menjumpainya; dengan menyamarkan bahwa ia mendengarkan hadits tersebut darinya.

Mudahnya
[X] – [A1 – A4 ]

[X] dan thaqabah [A] sejaman
[X] mendapatkan bukti kuat bahwa [A1] tidak mendapatkan dari [A4], tapi [A1] mendengar dari [A2] yang mendapatkan dari [A3] yang mendapatkan dari [A4].
Walau [A1] pernah bertemu dengan [A4] tapi tidak pernah mendengar langsung dari [A4]
Singkatnya [A1] memutuskan rantai [A2,A3] dan langsung ke [A4] sementara [A1] tidak pernah mendengar langsung dari [A4]

Ini masih bisa diterima, karena thaqabah/generasi [A] mungkin hidup sejaman dengan [X] sehingga hal ini bisa dikonfirmasi. Permasalahan timbul jika terdapat tadlis al-isnad pada thaqabah yang tidak sejaman

contoh
[X] – [A] – (B) – [C] – [D1 -D4] – [E] - [R]

Bagaimana mungkin [X] bisa mengetahui dengan pasti [D1] pernah bertemu dengan [D4] tapi tidak mendengar langsung dari [D4] melainkan mendengar dari [D2] yang mendengar dari [D3] dan [D4]?

Bagaimana jika multi layer memiliki tadlis al isnad dengan jumlah transmisi di tiap thaqabah lebih dari 5?

[X] – [A] -[B1-B6] – [C1 -C6 ] - [D1 – D6] – [E1- E6] – R

Apakah bisa ditemukan kebenaran hal ini dalam hitungan menit? Bagaimana mungkin [X] bisa memastikan hal yang pada hakikinya ghaib bagi dia?
Belum lagi aplikasi aljarhwa tadil terhadap perawi di tiap thaqabah.

HUKUMNYA

Sebagian ahli hadits dan fuqahaa menolak riwayat mudallis secara muthlaq, baik dia menegaskan bahwa ia mendengarkan hadits itu atau tidak. Meskipun dia hanya melakukan tadlis sekali, sebagaimana dikutip dari pendapat Imam Asy-Syafi’I rahimahullah.

Adapun Ibnu Shalah memerinci dalam masalah ini :

Apa yang diriwayatkan oleh mudallis dengan lafadh yang memiliki banyak kemungkinan (muhtamal) dan tidak menjelaskan bahwa ia telah mendengar atau bersambung sanadnya, maka hukumnya adalah mursal, ditolak, dan tidak dijadikan sebagai hujjah.

Sedangkan bila lafadh periwayatannya jelas menunjukkan bahwa sanadnya bersambung, seperti ”Aku mendengar”, “Telah menceritakan padaku”, “Telah mengkhabarkan padaku”; maka diterima dan dijadikan hujjah.

Dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim dan kitab-kitab lainnya, banyak hadits yang sang mudallis berkata di dalamnya : “Telah menceritakan kepadaku”, “Aku telah mendengar”, “Telah mengkhabarkan kepadaku”; semua itu datang dari Sufyan bin ‘Uyainah, Sufyan Ats-Tsauri, Al-A’masy, Qatadah, dan Hasyim bin Basyir.

Ibnu Shalah berkata : “Dan yang benar adalah membedakan antara keduanya. Apa yang dijelaskan di dalamnya adanya pendengaran langsung adalah diterima. Sedangkan yang menggunakan lafadh muhtamal adalah ditolak.

Quote:

[Lihat baik baik!! bagaimanapun jika [X] mengetahui pasti thaqabah yang tidak hidup sejamannya walaupun ada mudalis di thaqabah tersebut namun jika periwayatannya jelas dan sanad bersambung maka hadist tertolak ini bisa menjadi sahih dan dijadikan hujjah!

Bagaimanapun didoktrinkan jika ada perawi yang berbohong tentang mendapatkan hadistnya dari mana maka bisa diterima jika penyampaiannya jelas.


Tadlis taswiyah


Diantara tadlis isnad ada yang dikenal dengan tadlis taswiyyah. Yang memberi nama demikian adalah Abu Al-Hasan bin Qaththan. Definisnya adalah : Periwayatan rawi akan sebuah hadits dari Syaikhnya, yang disertai dengan pengguguran perawi yang dla’if yang terdapat di antara dua perawi tsiqah yang pernah bertemu, demi memperbaiki hadits tersebut.

Contoh:
[X] – [A1-A2-A3-] -

[X] mengetahui dengan pasti [A1] adalah perawi yang tsiqah
[X] mengetahui dengan pasti [A2] perawi yang dlaif
[X] mengetahui dengan pasti [A3] adalah perawi yang tsiqah
[X] mengetahui [A1] pernah bertemu dengan [A3] tapi tidak mendengar langsung dari [A3] melainkan melalui [A2]

maka
[X] meriwayatkan dari [A1] dengan menyebutkan nama [A1] lengkap yang mendapat dari [A2] yang disebutkan hanya gelar/suku agar tidak diketahui secara jelas dan terlihat ada perawi dlaif (membenarkan hadistnya agar jalurnya terlihat tsiqah). [X] menyebutkan [A3] nama secara lengkap.
Dalam posisi ini [X] dikatakan sebagai mudallis

Hal ini diperlukan agar membenarkan hadist tersebut agar seorang mudallis menyenbunyikan perawi yang dlaif agar terlihat perawinya tsiqah semua.

Doktrinnya:
bisa saja thaqabah [A] yang menjadi mudallis terhadap thaqabah (B)
bisa saja thaqabah (B) yang menjadi mudallis terhadap thaqabah selanjutnya
Bisa saja [X] yang menjadi mudalis terhadap thaqabh yang tidak sejaman dengannya, begitupun dengan thaqabah lain.


Yang menjadi pertanyaan:
[X ] bisa mengetahui thaqabah yangtidak hidup sejaman dengannya melakukan tadlis tsawiyah?
Contoh:
[X] bisa mengetahui dengan pasti di thaqabah [C1]/[D1]/[E1]tsiqah [C2]/[D2]/[E2] dlaif [C3]/[D3]/[E3] tsiqah?

HUKUMNYA

Tadlis taswiyyah meskipun termasuk tadlis isnad, namun ia termasuk yang paling buruk di antara macam-macam tadlis. Al-‘Iraqy berkata,”(Jenis tadlis) ini mencemarkan siapa yang sengaja melakukannya”. Dan diantara orang yang paling sering melakukannya adalah Baqiyyah bin Al-Walid. Abu Mishar berkata,”Hadits-hadits Baqiyyah tidaklah bersih, maka berjaga-jagalah engkau darinya”.

Sebagian ahli hadits dan fuqahaa menolak riwayat mudallis secara muthlaq, baik dia menegaskan bahwa ia mendengarkan hadits itu atau tidak. Meskipun dia hanya melakukan tadlis sekali, sebagaimana dikutip dari pendapat Imam Asy-Syafi’I rahimahullah.

Adapun Ibnu Shalah memerinci dalam masalah ini :

Apa yang diriwayatkan oleh mudallis dengan lafadh yang memiliki banyak kemungkinan (muhtamal) dan tidak menjelaskan bahwa ia telah mendengar atau bersambung sanadnya, maka hukumnya adalah mursal, ditolak, dan tidak dijadikan sebagai hujjah.

Sedangkan bila lafadh periwayatannya jelas menunjukkan bahwa sanadnya bersambung, seperti ”Aku mendengar”, “Telah menceritakan padaku”, “Telah mengkhabarkan padaku”; maka diterima dan dijadikan hujjah.

Dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim dan kitab-kitab lainnya, banyak hadits yang sang mudallis berkata di dalamnya : “Telah menceritakan kepadaku”, “Aku telah mendengar”, “Telah mengkhabarkan kepadaku”; semua itu datang dari Sufyan bin ‘Uyainah, Sufyan Ats-Tsauri, Al-A’masy, Qatadah, dan Hasyim bin Basyir.

Ibnu Shalah berkata : “Dan yang benar adalah membedakan antara keduanya. Apa yang dijelaskan di dalamnya adanya pendengaran langsung adalah diterima. Sedangkan yang menggunakan lafadh muhtamal adalah ditolak.

[quote]Catat baik baik!! bagaimanapun jika [X] mengetahui pasti thaqabah yang tidak hidup sejamannya walaupun ada mudalis di thaqabah tersebut namun jika periwayatannya jelas dan sanad bersambung maka hadist tertolak ini bisa menjadi sahih dan dijadikan hujjah!


Dia berkata,”Dan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim terdapat semacam ini dari sejumlah perawi, seperti Dua Sufyan (Ats-Tsauri dan Ibnu ‘Uyainah), Al-A’masy, Qatadah, Hasyim, dan selain mereka”.

Masih ingat selama [X] menyampaikan dengan shigat jazm maka walauoun tertolak maka bisa jadi sahih dan jika [X] meriwayatkan dengan shigat tarmidl maka bisa sahih dan tertolak??
ini berlaku juga di tiap thaqabah jika (B)[C][D] meriwayatkan dengan shigat jazm dan shigat tarmidl maka bagaimanapun harus sahih statusnya walaupun ada syarat diterimanya suatu hadist dilanggar.

REMINDER FROM QURAN


Nabi sendiri dikabarkan tidak tahu tentang musuh dari manusia yang ada di sekelilingnya

Di antara orang-orang arab yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. [9:101]

Bahkan pada masa Nabi ada mereka yang munafik:


Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: " taat". Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari merubah apa yang kau katakan. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung. [4:81]

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan lahwal hadith (perkataan yang tidak berguna) untuk menyesatkan dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. [31:6]
lubeguka - 30/01/2012 02:18 AM
#68

Salam gan ts

wew agan ngebedah ilmu hadist ya ??? Mudah mudah keliatan jelas bahwa ilmu hadist itu kayak apa


shakehand2
pendeco - 30/01/2012 02:21 AM
#69

Quote:
Original Posted By ahli..kubur3
Dasar tukang parkir goblok,ts nya ini sama ama ts trid sf yang di pindahin ke dc!!karena tridnya direq locked dolo nah sekarang d buat baru!!
Ngarti gak lu gok(begok)??

--------------
Muslim katrok lu kira hadist di buat nabi muhammad!!
gila: belajar ngaji dulu biar gak malu-maluin [CLEAN] Anda bertanya Quranist menjawab


Eh ngehe fuck2: gw jg udh tau nih ts yg waktu itu tp gw belaga2 aj...tp bener kan nih repost soalnya waktu itu udah ada trus dbikin lg.
Quote:
Original Posted By Ahli.Dubur
dasar klonengan goblok.. Udah tidur aja sana hammer:

jadi menurut kamu hadist dibuat sama siapa?

Miting aek aja kau sana...!! [CLEAN] Anda bertanya Quranist menjawab


Wkwkwk ada jg toh ahli dubur....sifat begonya sama kek ahli kubur jg ga nihngakak
Neshamakh - 30/01/2012 02:22 AM
#70

Quote:
Original Posted By lubeguka
Salam gan ts

wew agan ngebedah ilmu hadist ya ??? Mudah mudah keliatan jelas bahwa ilmu hadist itu kayak apa


shakehand2


all thanks to rekan ane yg nicknya Rehctaw gan iloveindonesiasYb
pendeco - 30/01/2012 02:25 AM
#71

Quote:
Original Posted By ahli..kubur3
Ijin off dlu yah kk TS,ntar kalo ol om karungin id-id perusuh disini

Wassalam [CLEAN] Anda bertanya Quranist menjawab


Eh tapir....ada jg lu perusuh disini betakilan aja lu ga bs diem:dp
bagisignalfx - 30/01/2012 03:36 AM
#72

thread yang menarik \)

ane suka dengan gaya to the point agan ts dalam menulis krn sangat membantu ane sebagai non muslim yg awam ttg ajaran islam. 5 stars for that \)

ane tertarik dengan bagian yg ini:

Quote:
Original Posted By Neshamakh


Orang sering lupa bahwa percaya pada kitab hadis berarti percaya kepada penulis kitab hadis. Semua isi kitab hadis adalah tanggungjawab penulisnya dan bukan tanggungjawab Nabi Muhammad. Perlu diingat bahwa Nabi Muhammad tidak pernah membaca dan meng-edit kitab hadis. Kitab hadis sama saja dengan buku-buku tulisan manusia yang tidak bisa lepas dari kesalahan.

Percaya kepada kitab hadis berarti beriman kepada penulis kitab hadis. Padahal, penulis kitab hadis adalah bukan Rasul Allah.


ane melihat ada masalah dalam tulisan agan ts di atas. bukan masalah dogma, melainkan masalah konsistensi berpikirnya. ts menyebut bahwa percaya pada hadis berarti percaya/beriman pada penulis hadis. krn itu bukan tanggung jawab nabi muhammad tapi penulis hadis.

berdasarkan yg ane baca di thread abmm, (cmiiw) alquran telah mengalami proses penyalinan dari waktu ke waktu sampai standarisasi alquran pada masa kalifah usman yg kemudian membakar seluruh mushaf alquran dan kemudian "meresmikan" alquran berdialek qureshi sebagai alquran yg otoritatif, katakanlah begitu. karena proses itu, jika mengikuti alur pemikiran ts ttg hadis di atas, bukankah bisa dikatakan bahwa agan ts sedang beriman kepada penyalin alquran dan bukan pada nabi muhammad sendiri? penyalin alquran juga bukanlah rasul dan bisa salah.

ane sendiri berpendapat penyalinan kitab suci dari masa ke masa itu bukan masalah yg serius selama kita bisa melakukan kritik teks, bibliografi dan sebagainya secara jujur dan terbuka sebagai dasar utk sampai kepada teks kitab suci yg otoritatif di masa modern ini.
Neshamakh - 30/01/2012 03:44 AM
#73

Quote:
Original Posted By bagisignalfx
thread yang menarik \)

ane suka dengan gaya to the point agan ts dalam menulis krn sangat membantu ane sebagai non muslim yg awam ttg ajaran islam. 5 stars for that \)

ane tertarik dengan bagian yg ini:



ane melihat ada masalah dalam tulisan agan ts di atas. bukan masalah dogma, melainkan masalah konsistensi berpikirnya. ts menyebut bahwa percaya pada hadis berarti percaya/beriman pada penulis hadis. krn itu bukan tanggung jawab nabi muhammad tapi penulis hadis.

berdasarkan yg ane baca di thread abmm, (cmiiw) alquran telah mengalami proses penyalinan dari waktu ke waktu sampai standarisasi alquran pada masa kalifah usman yg kemudian membakar seluruh mushaf alquran dan kemudian "meresmikan" alquran berdialek qureshi sebagai alquran yg otoritatif, katakanlah begitu. karena proses itu, jika mengikuti alur pemikiran ts ttg hadis di atas, bukankah bisa dikatakan bahwa agan ts sedang beriman kepada penyalin alquran dan bukan pada nabi muhammad sendiri? penyalin alquran juga bukanlah rasul dan bisa salah.

ane sendiri berpendapat penyalinan kitab suci dari masa ke masa itu bukan masalah yg serius selama kita bisa melakukan kritik teks, bibliografi dan sebagainya secara jujur dan terbuka sebagai dasar utk sampai kepada teks kitab suci yg otoritatif di masa modern ini.


Bagi kami, Al-Quran sudah berupa kitab pada masa nabi Muhammad masih hidup. namun teori ini juga masih berkembang kok.
lubeguka - 30/01/2012 03:46 AM
#74

Quote:
Original Posted By bagisignalfx
thread yang menarik \)

ane suka dengan gaya to the point agan ts dalam menulis krn sangat membantu ane sebagai non muslim yg awam ttg ajaran islam. 5 stars for that \)

ane tertarik dengan bagian yg ini:



ane melihat ada masalah dalam tulisan agan ts di atas. bukan masalah dogma, melainkan masalah konsistensi berpikirnya. ts menyebut bahwa percaya pada hadis berarti percaya/beriman pada penulis hadis. krn itu bukan tanggung jawab nabi muhammad tapi penulis hadis.

berdasarkan yg ane baca di thread abmm, (cmiiw) alquran telah mengalami proses penyalinan dari waktu ke waktu sampai standarisasi alquran pada masa kalifah usman yg kemudian membakar seluruh mushaf alquran dan kemudian "meresmikan" alquran berdialek qureshi sebagai alquran yg otoritatif, katakanlah begitu. karena proses itu, jika mengikuti alur pemikiran ts ttg hadis di atas, bukankah bisa dikatakan bahwa agan ts sedang beriman kepada penyalin alquran dan bukan pada nabi muhammad sendiri? penyalin alquran juga bukanlah rasul dan bisa salah.

ane sendiri berpendapat penyalinan kitab suci dari masa ke masa itu bukan masalah yg serius selama kita bisa melakukan kritik teks, bibliografi dan sebagainya secara jujur dan terbuka sebagai dasar utk sampai kepada teks kitab suci yg otoritatif di masa modern ini.


Kalau boleh ane komentar gan:

Cerita bahwa Al-Qur'an dikodifikasikan pada masa abu bakr trus usman juga adanya di kitab hadist gan. D

Sementara jika Al-Qur'an dipelajari maka cukup tegas dan sangat jelas tugas yang diemban oleh Nabi. Nabi Muhammad sendri yang mempunyai tugas untuk menyampaikan risalah Allah dengan terang, bukan kemudian meninggalkan risalah Allah berceceran di kulit, tulang, batu dst seperti diceritakan di hadist gan. Itulah kenapa beliau diberi gelar 'Nabi/yang menerim berita', yang tak lain adalah untuk menyampaikan naba/berita, untuk itulah beliau diutus/rasul . D

Ada usaha terselubung di dalam kitab hadist hingga kemudian ingin mengatakan bahwa jalur penyampaian Al-Qur'an dan jalur hadist sama. Hingga kemudian orang didoktrin secara turun termurun untuk percaya kepada kitab hadist karena perawinya adalah perawi Al-Qur'an.

Jika agan perhatikan juga Banyak kata 'kitab' didalam Qur'an. Jika diselidiki lebih dalam hadist tentang pengumpulan Al-Qur'an dan diuji dengan Quran maka akan ditemukan sosok Nabi yang tidak melakukan satu satunya tugas yang diberikan oleh Allah.

Bukan Abu bkar atau usman yang berbohong di hadist tapi nama mereka dicatut sedemikian rupa agar seolah olah keluar dari mulut mereka agar kemudian diterima hadistnya. Ini namanya politik adu domba antara Nabi dan sahabat2nya.

Apa yang dibawa Nabi udah direncanai sejak awal untuk dihancurkan dari dalam. Zaman Nabi banyak yang munafik ganmereka merubah rubah perkataan Nabi.udah disinggung ayatnya sama TS diatas. Apalagi setelah Nabi Muhammad udah ga ada lagi Nabi dan utusan, sejak Al-Qur;an udah ga ada kitab lagi ampe akhir jaman.... jadi plong dah tuh musuh manusia buktiin janjinya di hadapan Allah untuk nyesatin manusia sebanyak banyaknya D


Mudah mudahan ente paham gan D
Neshamakh - 30/01/2012 04:09 AM
#75

Rekonstruksi sejarah Al-Quran berdasarkan Al-Quran sendiri

Author/Penulis: Isa

Hadits-hadits telah menunjukkan kepada kita bahwa Al-Qur-an versi saat ini yang kita punyai hari ini tidak dikumpulkan oleh Rasul maupun oleh sahabatnya tetapi dilakukan oleh Hajaj Ibn Yusuf sekitar satu abad setelah Rasul wafat. Ini adalah periode ketika hadits-hadits mulai dicatat. Hal yang sangat penting secara keseluruhan adalah bahwa suatu konspirasi ingin menyatakan bahwa nilai teks Al-Qur-an dan Hadits pada tingkat yang sama, sejauh kepedulian mereka, pencatatan dan finalisasi terkait kedua hal tersebur, dan jika kemurnian dan keaslian hadits meragukan, maka hal yang sama juga terjadi pada text Al-Qur-an. Konspirasi ingin menekankan bahwa teks Al-Qur-an saat ini tidaklah Al-Qur-an sebagaimana yang didiktekan oleh Rasul sendiri, tetapi pada akhirnya adalah hasil koreksi oleh Hajaj Ibn Yusuf.

Berikut adalah inti sari dari buku "Kitab al Masahif" yang ditulis oleh Abu Bakr Abdullah Ibn Abi Daood dari Baghdad (230-316 A.H.) yang menerima penghormatan besar dari para ahli Hadits, masyarakat dan Pemerintahan Baghdad. Seberapa jauh Hadits-hadits yang dia dikutip bertentangan satu dengan lainnya sebagaimana yang nampak?. Bahwa Al-Qur-an dikumpulkan oleh Zaid bin Tsabit di bawah instruksi Abu Bakr Assiddiq -Kalif pertama; atau bahwa Abu Bakr Siddiq mengumpulkan sendiri dan Zaid bin Tsabit telah memeriksanya; atau bahwa pengumpulan Al-Qur-an dimulai oleh Umar -Kalif kedua dan diselesaikan oleh Usman -Kalif ketiga; atau bahwa Al-Qur-an dikumpulkan selama kalifah Usman saja oleh Zaid bin Tsabit; bahwa urutan ayat Al-Qur-an disusun oleh Usman sendiri dan seterusnya dan sebagainya.


Semua hadits-hadits yang saling bertentangan ini dikaitkan kepada para sahabat Rasul yang, menurut Al-Qur-an, kebanyakan mereka adalah orang-orang yang benar. Seseorang dapat dengan baik membayangkan adanya racun dari hadits-hadits seperti ini yang dapat merasuk ke dalam pikiran para pembaca terhadap Al-Qur-an dan betapa banyak kecurigaan mereka yang timbul terhadap integritas dan kemurnian Al-Qur-an. Jika hadits seperti itu dipercayai, maka tidak ada perbedaan antara Al-Qur-an dan Taurat versi terakhir saat ini dan Alkitab, yang kita percayai tidak dalam format yang asli sebagaimana ketika diwahyukan masing-masing kepada Musa dan Yesus Kristus. Atas dasar hadits-hadits ini, Orientalist non-Muslim bertanya kepada kita hari ini agar menjelaskan bagaimana bisa Al-Qur-an dikatakan sebuah buku yang aman dan tidak diubah. Dengan begitu seorang orientalist terpelajar, Arthur Jaffery telah mengumpulkan semua hadits sejenis yang saling bertentangan dan berbeda mengenai proses pengumpulan Al-Qur-an di dalam bukunya yang berjudul, Material for the History of the text of the Quran. Ia secara khusus telah menyebutkan bahwa janganlah diletakkan dalam semangat bahwa bukunya telah disusun oleh seorang non-Muslim. Kata dia, sumber bukunya, tidak lain adalah buku yang terkenal yaitu "Kitab al Masahif". Jadi ia telah mencoba untuk menantang klaim kita bahwa Al-Qur-an yang kita punyai hari ini sama persis sebagaimana yang diwahyukan kepada Muhammad.


Konspirasi tertentu terhadap Al-Qur-an oleh orang-orang non-Arab benar-benar tidak menguntungkan, tetapi tentu saja secara menguntungkan Al-Qur-an sendiri berdiri sebagai saksi melawan konspirasi tersebut, dan cukup dirinya sendiri memecahkan dongengan dari konspirasi ini. Meski demikian keadaan masih tidak menguntungkan karena adanya fakta bahwa para Mullah kita masih berpegang pada keyakinan bahwa hadits-hadits ini sahih. Ketika dikatakan bahwa hadits seperti itu tidak bisa dipakai sebagai dasar “Al-Diin” kita, dikarenakan hadits-hadits tersebut tidak diberikan kepada Muslimin oleh Rasul dalam wujud sebuah buku yang terkumpul secara aman, jawaban yang datang dari para Mullah adalah bahwa kasus yang sama terjadi pada Al-Qur-an, sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai keaslian dan integritas Hadits dan Al-Qur-an adalah pada level yang sama. Tetapi, pada sisi lain, isi ayat Al-Qur-an begitu tegas, begitu logis dan begitu dinamis, sehingga tidak ada argumentasi oleh Mullah atau orang lain yang dapat tegak melawannya.


Sekarang mari kita uji bagaimana Al-Qur-an sendiri menyinarkan cahayanya terhadap pokok permasalahan yang sedang kita bahas.


Al-Qur-an telah menekankan pentingnya menulis. Rekaman yang permanen dari suatu ucapan dapat dijaga hanya dalam bentuk tulisan, karena kata-kata yang dibicarakan ketika diucapkan akan hilang selama-lamanya seperti nafas yang membawanya. Karena pesan ilahiah disebarkan dan meluas melalui ruang dan waktu, dan pesan tersebut tidak dibawa oleh manusia secara individu, ucapan tertulis membentuk inti yang menyebar menjadi pengetahuan manusia dan bahkan oleh Nabi-nabi lainnya sebelum Muhammad. Seberapa banyak penekanan Al-Qur-an tentang menulis adalah nampak nyata dengan adanya fakta bahwa wahyu yang pertama kali datang kepada Muhammad (menurut sejarah) adalah sebagai berikut:


96:3. Bacalah, dan Pemelihara kamu Yang Mulia,
96:4. Yang mengajar penggunaan pena,
96:5. Dia mengajar manusia apa yang dia tidak tahu.

Dikatakan lagi:

68:1. Nun. Demi pena, dan apa yang mereka tulis.

Betapa pentingnya Al-Qur-an menyuruh menulis dan betapa bebasnya penulisan dokumen yang dipraktekkan selama periode wahyu Al-Qur-an adalah nyata dari ayat berikut;

2:282. Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berkontrak secara hutang satu sama lain, sampai suatu tempoh yang dinyatakan, hendaklah kamu menulisnya,


Dikatakan lebih lanjut pada ayat yang sama:

.., dan jangan kamu tidak suka untuk menulisnya, kecil atau besar, dengan tempohnya; itu adalah lebih adil pada pandangan Allah, lebih tegak untuk kesaksian, dan lebih sesuai supaya kamu tidak ragu-ragu,


Dapat disimpulkan dari ayat di atas bahwa ketika tidak diperbolehkan meninggalkan keragu-raguan terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan transaksi timbal-balik yang bersifat biasa, bagaimana mungkin penulisan Al-Qur-an, yang merupakan pesan terakhir untuk membimbing umat manusia, malah diabaikan. Itulah mengapa wahyu pertama yang datang kepada Muhammad mengingatkan Beliau tentang pentingnya mengurangi pesan lisan ke dalam penulisan.



Tentang orang yang tidak beriman, Al-Qur-an berkata:

68:47. Atau, yang ghoib ada di sisi mereka, lalu mereka menulisnya?


Ayat tersebut memberitahukan bahwa yang ghoib tidak dalam pengetahuan orang yang tidak beriman, jika tidak demikian tentu mereka sudah menulisnya sebagai bimbingan bagi mereka sendiri atau untuk bimbingan orang lain, sebagaimana yang sedang berlaku pada kasus Al-Qur-an.


Yang kedua, jika seandainya informasi sejarah yang menyatakan bahwa Muhammad itu buta huruf adalah benar, adalah sulit dibayangkan bahwa Muhammad tidak pernah belajar menulis setelah wahyu yang pertama menyuruh dia untuk melakukan penulisan, padahal Beliau adalah uswatun hasanah. Pada kenyataannya telah jelas dari ayat berikut bahwa Beliau mungkin buta hurufnya hanya selama sebelum menerima wahyu:


29:48. Tidaklah sebelum (menerima wahyu) ini kamu membaca sesuatu Kitab, atau menulisnya dengan tangan kanan kamu; jika demikian, tentulah orang-orang yang mengikuti yang palsu menjadi ragu-ragu.


Kata "Qablihi" pada ayat di atas sangat penting yang berarti "sebelum wahyu ini datang”. Jadi Al-Qur-an telah menyatakan bahwa Muhammad bisa membaca dan menulis setelah menerima wahyu.


Berikutnya adalah bukti yang Qur-ani bahwa Muhammad sendiri biasa menulis ayat yang diwahyukan yang kemudian Beliau mendiktekan kepada orang lain:

25:5. Mereka (orang-orang kafir) berkata, "Dongeng orang-orang dahulu kala, yang dia (muhammad) menulisnya, yang diimlakkan kepadanya pada waktu awal pagi dan petang."


Di sini kata "Aktatab" sangat penting yang bermakna "mencatat, terutama ketika orang kedua mendiktekan."

Lebih dari itu, praktek memelihara catatan tertulis dari wahyu sudah berlaku berabad-abad sebelum wahyu Al-Qur-an. Untuk mengurangi pesan ilahiah yang bersifat lisan ke dalam tulisan bukanlah merupakan sesuatu hal yang baru dimulai.


Al-Qur-an menyatakan:


2:213. Manusia adalah umat yang satu, kemudian Allah membangkitkan Nabi-Nabi sebagai pembawa berita gembira dan peringatan, dan Dia menurunkan bersama mereka Buku (Al-Kitab) dengan benar, untuk menghakimi antara manusia mengenai apa yang mereka perselisihkan.

57:25. Sesungguhnya Kami mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang jelas, dan Kami menurunkan bersama mereka al-Kitab dan Timbangan, supaya manusia menegakkan keadilan.

2:101. Apabila datang kepada mereka seorang rasul dari Allah, mengesahkan apa yang bersama mereka, segolongan dari mereka yang diberi Al-Kitab melemparkan Kitab Allah ke belakang punggung mereka, seolah-olah mereka tidak mengetahui.


Al-Qur-an yang kudus telah menggunakan kata 'buku' [Kitab] untuk dirinya sendiri pada tempat yang sangat banyak. Lembaran kertas tertulis yang terserak tidak pernah disebut buku/ kitab. Sebuah buku adalah suatu risalah terulis pada sejumlah lembaran yang diikat bersama-sama. Setelah 'Sura Fateha' bab pembukaan, teks Al-Qur-an mulai dengan ayat berikut:

2:2. Al-Kitab (Buku) itu, di dalamnya tiada keraguan, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,

berlanjut
Neshamakh - 30/01/2012 04:11 AM
#76

Lanjut...


Pada beratus-ratus tempat lainnya Al-Qur-an telah memanggil dirinya sebagai sebuah buku dalam berbagai konteks yang berbeda. Al-Qur-an adalah sebuah buku yang berisi koleksi berbagai bab "Surah". Jadi untuk mendukung kebenaran yang terkandung di dalamnya, Al-Qur-an menantang lawan-lawan Muhammad yang meragukan wahyu di dalam Al-Qur-an dan yang berkata bahwa ia (Muhammad) yang menciptakan sendiri ayat-ayatnya, dalam firman berikut:


10:38. Atau mereka berkata, "Dia mengada-adakannya." Katakanlah, "Datangkanlah sebuah surah yang serupa dengannya, dan panggillah siapa saja yang sanggup, selain dari Allah, jika kamu berkata benar."

11:13. Atau mereka berkata, "Dia mengada-adakannya"? Katakanlah, "Datangkanlah sepuluh surah yang serupa dengannya, yang diada-adakan itu, dan panggillah siapa saja yang sanggup, selain dari Allah, jika kamu berkata benar."


Diulangi lagi:

17:88. Katakanlah, "Jika manusia dan jin berkumpul untuk mendatangkan yang serupa dengan Al-Qur'an ini, mereka tidak akan dapat mendatangkan yang serupa dengannya, walaupun mereka saling membantu satu sama lain."


Jadi, seluruh dunia ditantang untuk menghasilkan sebuah buku seperti Al-Qur-an dan hingga kini belum ada yang mampu menghasilkan satupun. Keindahannya, martabat dan keasliannya adalah bukti dari dirinya sendiri bahwa sebuah buku yang diwahyukan oleh Allah dan yang dikumpulkan oleh seorang yang kepadanya wahyu diturunkan.


Al-Qur-an adalah sebuah buku yang tidak hanya ditulis tetapi juga dipraktekkan secara bersamaan dengan turunnya yang berangsur-angsur. Maka dikatakan:

29:45. Bacalah apa yang diwahyukan kepada kamu dari al-Kitab,
18:27. Bacalah apa yang diwahyukan kepada kamu dari Kitab Pemelihara kamu; tiada yang dapat menukar kata-kata-Nya.


Tetapi kendati demikian, ketika orang-orang yang tidak beriman tetap saja bertindak sebagai oposisi terhadap Al-Qur-an, mereka ditanya sebagaimana ayat berikut:

29:51. Apa, adakah tidak mencukupi bagi mereka bahwa Kami menurunkan kepada kamu Al-Kitab yang dibacakan kepada mereka?


Dikatakan lagi:

68:37. Atau, adakah kamu sebuah Kitab, yang di dalamnya kamu mempelajari,


Ayat di atas dengan jelas menunjukkan bahwa Al-Qur-an adalah sebuah buku yang ditulis dan dikumpulkan bersamaan dengan datangnya wahyu dan bahwa Muhammad dan para sahabatnya biasa membaca buku tersebut. Orang yang tidak beriman ditanya apakah mereka juga mendapat wahyu seperti ini dan apakah mereka juga menulisnya dan kemudian melaksanakannya sebagaimana yang dilakukan oleh Muhammad dan para sahabatnya. Ini juga menunjukkan bahwa ayat-ayat dalam buku tersebut telah mempunyai susunan dan urutan yang teratur, sehingga bisa dipraktekkan oleh Rasul dan para pengikutnya.


Al-Qur-an disusun dalam bentuk sebuah buku yang dipastikan aman dari perubahan dan pembaharuan:

56:75. Tidak! Aku bersumpah dengan tempat jatuh bintang-bintang,
56:76. Dan ia sesungguhnya adalah sumpah yang besar, sekiranya kamu mengetahuinya,
56:77. Sesungguhnya ia adalah sebuah al-Qur'an yang mulia,
56:78. Dalam Kitab yang terpelihara,
56:79. Tiada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang dibersihkan,
56:80. Satu penurunan dari Pemelihara semua alam.


Hukum kemasyarakatan yang diberikan kepada umat manusia melalui para pesuruh Tuhan adalah cerminan hukum dasar yang mengatur organisasi dari semua hal pada semua tingkatan yang menandakan bahwa otoritas yang memberikan hukum adalah Satu. Bintang-bintang mengikuti orbitnya, dihitung secara persis, yang dikendalikan oleh hukum yang abadi.


Maka hukum yang terdapat di Al-Qur-an yang kudus untuk bimbingan umat manusia adalah kekal, dan jika diikuti, menghasilkan sesuatu yang tidak pernah berubah. Jadi Al-Qur-an dipelihara dalam wujud sebuah buku yang secara pasti aman sejak diwahyukan. Tetapi orang-orang yang diuntungkan denganya hanyalah mereka yang mempunyai pikiran bersih dan tidak memihak, bebas dari prasangka dan gagasan yang disuap.


Benda yang digunakan oleh Muhammad untuk menulis Al-Qur-an:

Al-Qur-an menunjukkan bahwa kepastian buku tersebut, jika dibandingkan dengan pengendalian bergeraknya bintang-bintang, dicatat oleh Muhammad dan para sahabatnya, tidak pada bebatuan, maupun pada daun-daun kurma, maupun pada potongan tulang-belulang sebagaimana yang disampaikan olah para Mullah, tetapi pada kertas kulit binatang.


Pada ayat di bawah, lima hal merupakan bukti yang mendukung kebenaran bahwa pandangan hidup yang diikuti oleh orang-orang yang tidak beriman akan membawa kebinasaan, dan salah satu dari lima hal ini adalah Al-Qur-an yang ditulis pada kertas kulit gulungan. Dikatakan bahwa:


52:1. Demi Gunung,
52:2. Dan sebuah Kitab yang tertulis,
52:3. Dalam kertas kulit bergulung yang terbuka,
52:4. Dan Rumah yang dimakmurkan,
52:5. Dan bumbung yang dinaikkan,
52:6. Dan laut yang melimpah,
52:7. Sesungguhnya azab Pemelihara kamu hampir terjadi,


Sejauh ini kita sudah mempelajari ayat yang diuraikan di atas bahwa Al-Qur-an yang hadir di hadapan Muhammad dalam wujud sebuah buku tulis, dengan susunan dan urutan tertentu, dan ditulis pada kertas kulit gulungan.


Al-Qur-an yang kudus menguraikan lebih lanjut tanda yang membedakan para juru tulis yang biasa menulis Al-Qur-an di hadapan Muhammad. Dikatakan bahwa:

80:11. Tidak sekali-kali! Ia adalah Peringatan,
80:12. Dan siapa saja yang menghendaki, mengingatinya,
80:13. Pada naskhah-naskhah gulungan yang dimuliakan,
80:14. Dinaikkan, dibersihkan,
80:15. Oleh tangan-tangan para jurutulis,
80:16. Yang mulia, yang taat.


Dengan jelas sekali dari ayat di atas bahwa Al-Qur-an didiktekan, segera setelah diwahyukan kepada Muhammad, kepada para juru tulis yang terhormat, saleh dan adil. Jadi pernyataan tentang segala penambahan, perubahan atau pembaruan sebagaimana yang dicatat oleh para Mullah tidak terbukti. Proses pendiktean, dari teks asli yang dijaga oleh Muhammad sendiri, berlanjut siang dan malam. Bagaimanapun hal itu adalah mungkin, bagi sebuah buku yang akan dijadikan pedoman hidup bagi semua generasi masa depan umat manusia.


Praktek mempelajari Al-Qur-an dengan ingatan adalah sesuatu yang lazim pada zaman Muhammad dan masih berlanjut lebih dari 14 abad hingga hari ini

Kita belajar dari uraian di atas bahwa Al-Qur-an menekankan pentingnya penulisan dan bahwa Rasul dan para sahabatnya tekun mencatat pesan-pesan wahyu. Tetapi jika kita perhatikan sejenak sejarah dunia dan revolusi yang terjadi pada masa lalu, kita belajar betapa harta benda pengetahuan yang besar telah dibinasakan. Kristen mempunyai Alkitab dalam bentuk tulisan. Bangsa Yahudi dengan sungguh-sungguh menyimpan Taurat, sehingga sebuah copy yang terjaga dalam sebuah kotak terkunci dijaga dengan penuh penghormatan. Tetapi invasi Bakht Nasr dan serangan gencar orang-orang Romawi memusnahkan rakyat dan buku suci mereka selama-lamanya. Dengan cara yang sama peradaban Mesir yang besar diruntuhkan rata dengan tanah oleh bangsa Yunani. Jadi memelihara catatan pengetahuan dalam bentuk tulisan tidaklah cukup. Akan menjadi lebih aman lagi jika hal-hal tertentu juga dihapal secara turun-temurun. Kedua cara pemeliharaan pengetahuan, dikombinasikan bersama-sama, akan lebih menjamin keselamatannya.


Kita telah menekankan di atas adanya standard yang dipakai oleh Rasul dan para sahabatnya dalam memelihara catatan tertulis Al-Qur-an. Sekarang mari kita perhatikan aspek lainnya yaitu pelajaran Al-Qur-an dengan hapalan. Rasul diperintahkan, di dalam awal turunnya wahyu, pada firman berikut:

73:1. Wahai al-muzzammil (yang terpilih diantara para pengikutmu),
73:2. Berdirilah (untuk sholat) pada waktu malam, tetapi tidak sepanjang malam,
73:3. Separuh darinya, atau kurang sedikit,
73:4. Atau tambah sedikit, dan bacalah al-Qur’an dengan tartil (pelan-pelan berurutan dan bertahap).


Meskipun Rasul yang diberi instruksi khusus ini, sesungguhnya itu bermakna bagi keseluruhan Masyarakat Islam yang dengan setia mengikuti praktek ini. Tetapi karena volume teks Al-Qur-an yang meningkat sedikit demi sedikit dan pada saat yang sama tanggung-jawab untuk memelihara dan penegakkan masyarakat Islam meningkat, maka tidak mungkin lagi untuk membaca keseluruhan Al-Qur-an setiap malam. Sehingga Instruksi Ilahiah perihal menghafal Al-Qur-an dimodifikasi. Dikatakan pada ayat terakhir dari ayat di atas:

73:20. Pemelihara kamu mengetahui bahwa kamu berjaga-jaga hampir dua per tiga malam, atau separuhnya, atau satu per tiganya, dan segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menentukan malam dan siang. Dia mengetahui bahawa kamu tidak akan mampu menghitungnya, dan Dia menerima taubat kamu. Maka bacalah dari al-Qur’an semudah yang dapat. Dia mengetahui bahwa di antara kamu ada yang sakit, dan yang lain di antara kamu berpergian di bumi, mencari pemberian Allah, dan yang lain berperang di jalan Allah. Maka bacalah darinya semudah yang dapat.


Tetapi sejarah menunjukkan bahwa praktek menghafal keseluruhan Al-Qur-an dalam satu malam tetap berlanjut dan masih berlanjut terutama sepanjang bulan suci Ramazan. Hasilnya adalah bahwa mempelajari Al-Qur-an dengan hapalan masih dipraktekkan di kalangan Umat Islam selama lebih dari 14 abad. Banyaknya 'Haffaz' (mereka yang mempelajari Al-Qur-an di luar kepala) telah menjadi bagian dan sama sekali tidak kecil di kalangan Umat Islam di seluruh duni.


Difirmankan bahwa:

29:49. Tidak, ia adalah ayat-ayat, bukti-bukti yang jelas, di dalam dada orang-orang yang diberi pengetahuan; dan tiada yang menyangkal ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.


berlanjut
Neshamakh - 30/01/2012 04:13 AM
#77

Lanjut..

Siapa yang mengurutkan ayat-ayat Al-Qur-an?


Namun ada aspek Al-Qur-an yang lain yang berharga untuk disebutkan. Urutan ayat Al-Qur-an dan pengumpulannya dalam wujud sebuah buku adalah perintah Allah atas dasar wahyu berikut:

75:16. Janganlah menggerakkan lidah kamu dengannya untuk menyegerakannya,
75:17. Atas Kamilah untuk mengumpulkannya, dan untuk membacakannya.
75:18. Maka, apabila Kami membacanya, kamu ikutilah bacaannya.
75:19. Kemudian atas Kamilah untuk menjelaskannya.


Ayat ini mengingatkan Rasul agar bersabar dalam membacakan suatu ayat sebelum wahyu dengan kuat diserap oleh Beliau, karena Allah sendiri mengambil alih pengumpulan, pembacaan yang benar dan penjelasan Al-Qur-an.


Sekarang mari kita rangkum kembali informasi yang sudah terkumpulkan sejauh ini, dari Al-Qur-an sendiri, mengenai penyelamatan dan penjagaan Al-Qur-an:

1. Dalam permulaan wahyu kepada Muhammad, pentingnya menulis ditanamkan kepada Beliau, karena dokumen tertulis jauh lebih asli dan jauh dari kecurigaan.
2. Jika anggapan bahwa Muhammad yang buta huruf itu benar, maka hal itu hanyalah terjadi hingga periode waktu sebelum wahyu datang kepadanya.
3. Setelah wahyu dimulai, Muhammad biasa mendiktekan ayat yang diwahyukan kepada para sahabatnya segera setelah ayat-ayat tersebut diwahyukan dan ini dilaksanakan secara konsisten.
4. Al-Qur-an telah memanggil dirinya sebagai sebuah buku pada banyak tempat, sehingga nyata bahwa daun-daun, bebatuan atau tulang-tulang yang berserak tidak layak disebut sebuah buku.
5. Al-Qur-an adalah sebuah kumpulan beberapa bab surah.
6. Salinan Al-Qur-an telah wujud pada kaum muslimin zaman Muhammad dan mereka biasa membacanya dengan penglihatan.
7. Benda yang digunakan untuk menulis Al-Qur-an adalah potongan dari kertas kulit yang dibentangkan.
8. Para juru tulis yang kepadanya Rasul mendiktekan ayat-ayat Al-Qur-an adalah yang paling terhormat, dan laki-laki yang saleh dengan integritas tinggi.
9. Rasul dan para sahabatnya biasa membaca keseluruhan Al-Qur-an setiap malam yang menunjukkan bahwa kata-kata Al-Qur-an mempunyai suatu urutan teratur.
10. Laki-laki dan perempuan menghafalkan Al-Qur-an di luar kepala dan hal ini dipelihara secara aman di dalam ingatan sejumlah besar muslimin selama zaman Rasul.
11. Allah mengambil alih Sendiri pengumpulan, pembacaan yang benar dan penjelasan ayat-ayat Al-Qur-an, dengan memperkenalkan suatu masalah dengan jalan dan konteks yang berbeda-beda.


Kemudian datang pernyataan yang sangat penting, yaitu:

15:9. KAMILAH YANG MENURUNKAN PERINGATAN, DAN KAMILAH YANG MENJAGANYA.


Dan dikatakan lagi:

41:41. Orang-orang yang tidak percaya kepada Peringatan apabila ia datang kepada mereka - dan sesungguhnya ia adalah Kitab yang perkasa.

41:42. Kepalsuan tidak datang kepadanya dari depannya, dan tidak juga dari belakangnya; satu penurunan dari yang Bijaksana, Terpuji.


Jadi teks Al-Qur-an telah dijaga selamanya dari pemalsuan, penambahan dan pembaruan, meskipun seluruh dunia bertekad memusnahkannya.


Karakteristik Al-Qur-an sebagai sebuah buku:

Selanjutnya kita akan menguraikan sebagian dari ayat di mana Al-Qur-an menyebut dirinya sebuah 'BUKU’. Uraian ini untuk menggambarkan berbagai karakteristik buku tersebut dan derajat keunggulannya, sedemikian sehingga seorang pembaca akan mampu menilai sendiri, apakah sebuah buku sekaliber ini yang bertindak sebagai sebuah pemandu umat manusia sepanjang zaman, merupakan sesuatu yang terabaikan pada potongan-potongan batu, tulang belulang dan dedaunan dll. Sebagaimana yang dilaporkan oleh para Mullah, tanpa dikumpulkan secara tersusun rapi dan teratur oleh orang yang tidak hanya sebagai penerima tetapi juga seorang penyampai dan yang juga diberi tanggung jawab menegakkan pesan-pesan sosial sesuai pesan-pesan Ilahiah. Dinyatakan bahwa:

10:37. Al-Qur'an ini tidak mungkin diada-adakan oleh selain dari Allah, tetapi ia adalah satu pengesahan bagi apa (wahyu) yang sebelumnya, dan satu penjelasan Al-Kitab, yang di dalamnya tiada keraguan, dari Pemelihara semua alam.

32:2. Penurunan secara berangsur-angsur dan sistimatis dari Al-Kitab tersebut, yang di dalamnya tiada keraguan, adalah dari Pemelihara semua alam.
32:3. Atau, adakah mereka berkata, "Dia mengada-adakannya"? Tidak, ia adalah yang benar dari Pemelihara kamu,..


Kata "tanzeel" di dalam ayat di atas perlu diperhatikan. “tanziil” berarti menempatkan berbagai hal, masing-masing dalam suatu cara sesuai permintaan dan pada tempat yang sesuai. Ini menunjukkan bahwa wahyu Al-Qur-an bukanlah sesuatu yang subyektif. Bukan produk dari otak Rasul. Tetapi diberikan kepada Beliau secara obyektif. Al-Qur-an bukan sesuatu yang ditemukan, tetapi diwahyukan. Kata "tanzeel" sangat banyak di dalam Al-Qur-an. Perihal contoh:

39:1. Penurunan yang gradual dan sistematis dari Al-Kitab adalah dari Allah, Yang Perkasa, Yang Bijaksana. 45:2, 46:2

14:1. Alif Lam Ra. Sebuah Kitab yang Kami menurunkan kepada kamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dengan izin Pemelihara mereka ke jalan Yang Perkasa, Yang Terpuji.

16:64. Dan Kami tidak menurunkan kepada kamu Al-Kitab melainkan supaya kamu memperjelaskan kepada mereka apa yang padanya mereka memperselisihkan, dan sebagai satu petunjuk, dan satu rahmat bagi kaum yang mempercayai.


Pada beberapa tempat lainnya Al-Qur-an telah disebut, "Kitabun mubeen". Suatu kata dengan akar itu "Ba"-"Ya"-"Nun" yang berarti 'untuk menyingkapkan apa yang tersembunyi', untuk menjadikan sesuatu nyata menjelma dan jelas. Kebalikan dari kata "katmun" yang berarti 'menyembunyikan'. Jadi Al-Qur-an adalah sebuah buku, sebuah pedoman hidup, yang menyingkapkan realitas yang tersembunyi.

15:1. Alif Lam Ra. Inilah ayat-ayat al-Kitab, dan al-Qur'an yang jelas.

27:1. Tha Sin. Inilah ayat-ayat al-Qur'an, dan sebuah Kitab yang jelas.

12:1. Alif Lam Ra. Inilah ayat-ayat Kitab yang jelas.

26:2. Inilah ayat-ayat al-Kitab yang jelas.

43:2. Demi Kitab yang jelas, 44:2


Al-Qur-an telah dipanggil sebagai "Kitab bil Haqq" yang berarti merupakan sesuatu yang akhirnya terbukti dan kebenaran yang tidak dapat dipungkiri, suatu kenyataan yang tidak bisa ditantang, suatu pedoman hidup yang bersifat membangun.

2:176. Itu adalah kerana Allah menurunkan al-Kitab yang haq, dan orang-orang yang berselisih mengenai al-Kitab adalah dalam perpecahan yang jauh.

3:3. Dia menurunkan kepada kamu al-Kitab yang haq, mengesahkan apa yang sebelumnya, dan Dia menurunkan Taurat dan Injil,

4:105. Sesungguhnya Kami menurunkan kepada kamu Kitab yang haq supaya kamu menghakimkan antara manusia dengan apa yang Allah memperlihatkan kepada kamu.

13:1. Alif Lam Mim Ra. Inilah ayat-ayat Kitab; dan apa yang diturunkan kepada kamu dari Pemelihara kamu adalah yang haq, tetapi kebanyakan manusia tidak mempercayai.


Pedoman hidup yang diberikan oleh Al-Qur-an disebut "Mubarak". Sebuah kata dengan akar "Ba"-"Ra"-"Kaf" yang berarti, "Penjagaan, stabilitas, pertumbuhan, pengembangan dan penjelmaan." Kata tersebut adalah karakteristik dari fenomena yang berhubungan dengan asal kehidupan di atas bumi. Difirmankan:

6:155. Ini ialah sebuah Kitab yang Kami menurunkan, yang diberkati; maka ikutlah ia, dan bertakwalah supaya kamu dikasihani.

38:29. Sebuah Kitab Kami menurunkan kepada kamu, diberkati, supaya mereka mengingati, dan supaya orang-orang yang mempunyai minda merenungkan ayat-ayatnya.


Al-Qur-an adalah sebuah buku yang terperinci dan menjelaskan dirinya, dan menerangkan dirinya dengan memperkenalkan pokok permasalahan dengan berbagai jalan dan dalam konteks yang berbeda, sehingga menjadikan suatu persoalan dengan mudah dapat dimengerti:

41:3. Sebuah Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan sebagai sebuah Qur'an berbahasa Arab bagi kaum yang mengetahui,

6:114. Apa, adakah aku akan mencari sebarang hakim selain Allah? Dan Dia yang menurunkan kepada kamu Kitab yang cukup jelas;

18:54. Sesungguhnya Kami mengulang-ulangi untuk manusia di dalam al-Qur'an ini tiap-tiap macam perumpamaan;

39:23. Allah menurunkan hadis yang paling baik sebagai sebuah Kitab, yang serupa (mutasyabihat) dalam pengulangannya,

berlanjut
Neshamakh - 30/01/2012 04:15 AM
#78

Lanjut..

Al-Qur-an bukanlah sebuah buku yang berisi uraian khayalan. Malahan merupakan pedoman hidup:

5:48. Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.


Al-Qur-an telah disebut sebagai "Kitabil Hakeem". Sebuah kata dengan akar "Ha"-"Kaf"-"Mim" yang berarti, "memanfaatkan, menempatkan sesuatu dalam perspektif yang sesuai dan proporsi yang tepat".

Dikatakan bahwa:

10:1. Alif Lam Ra. Inilah ayat-ayat al-Kitabil Hakeem.

31:2. Inilah ayat-ayat al-Kitabil Hakeem,
31:3. Untuk satu petunjuk dan satu rahmat bagi orang-orang yang berbuat baik,

11:1. Alif Lam Ra. Sebuah Kitab yang ayat-ayatnya menentukan, dan kemudian dijelaskan, dari Hakeem, yang Menyadari.


Al-Qur-an adalah lengkap dan pedoman hidup terakhir yang diwahyukan oleh Allah. Menyediakan bimbingan untuk pengembangan kepribadian manusia, demikian juga berjalannya sosial kemasyarakatan secara tenang hari ini sebagaimana yang terjadi 1400 tahun yang lalu dan akan tetap seperti itu sepanjang zaman. Apapun yang bersifat membangun yang kita temukan di masyarakat dunia hari ini adalah seirama dengan Al-Qur-an; dan apapun yang positif, bersifat membangun dan berkesinambungan, yang mana manusia masih mencari-cari, harus sudah tersedia di Al-Qur-an. Apapun yang tidak diterima oleh Al-Qur-an pasti merupakan hal yang negatif, bersifat nerusak dan tidak tahan lama. Ras manusia harus memakai pedoman hidup ini, mungkin dengan sepenuh hati atau setelah coba-coba:

41:41. Orang-orang yang tidak percaya kepada Peringatan apabila ia datang kepada mereka - dan sesungguhnya ia adalah Kitab yang perkasa.



Sekarang silahkan pembaca memutuskan sendiri. Apakah tidak fantastik/ ajaib menuduh bahwa Al-Qur-an, setelah diwahyukan, ditinggalkan secara terabaikan selama berabad-abad, atau yang seperti itu, dengan cara sembrono, berserakan pada potongan batu, tulang belulang dan dedaunan dan lain lain. Apakah perlu mencari bantuan kepada ahli intrik, konspirator dan iman orang Islam untuk menemukan bagaimana dan oleh siapa Al-Qur-an dikumpulkan dalam wujud sebuah buku? Dalam kata-kata Al-Qur-an sendiri:

1. Bukan buku yang dipalsukan.
2. Merupakan konfirmasi wahyu yang mendahuluinya dan suatu ukuran pembeda antara yang hak/ kebenaran dan yang salah.
3. Menempatkan berbagai hal yang berhubungan dengan permasalahan manusia secara rapi, dalam perspektif benar dan dalam proporsi yang tepat (hakeem).
4. Merupakan sebuah buku yang menyingkapkan realitas hidup yang tersembunyi.
5. Merupakan sesuah buku yang bersifat membangun.
6. Merupakan sebuah buku yang pedoman hidupnya mempromosikan penjagaan, ketenangan, pertumbuhan dan penjelmaan kepribadian manusia dan juga masyarakat.
7. Merupakan sebuah buku yang menjelaskan dirinya sendiri.
8. Bukan merupakan puisi (yang sumbang, sia-sia, dan uraian khayalan).
9. Merupakan sebuah buku yang hukumnya berdasar pada nilai-nilai permanen.


Dapatkah sebuah buku yang diwahyukan dengan standard seperti ini, yang menurut Al-Qur-an sendiri, didiktekan secara berangsur-angsur sedikit demi sedikit, bersamaan dengan pewahyuan, kepada para juru tulis yang paling dihormati dan saleh yang manusia-manusia berintegritas tinggi: dan kemudian disalin, dihafalkan dan dipraktekkan sehari-hari oleh sejumlah besar orang yang beriman, dan keselamatannya Allah yang mengambil alih Sendiri, dikatakan telah ditinggalkan dan terabaikan?

Author/Penulis: Isa
Pr0p1000 - 30/01/2012 04:46 AM
#79

Quote:
Original Posted By 3ngs3l



boleh nanya?
kalo di agan alirannya apa aja?


maksudnya gimana nih gan....

Dulu saya pernah baca, ada aliran khawarij=ingkar sunah.
Aliran islam yang gak mau pake hadist,jadi cuma murni qur'an. Aliran ini udah dianggap sebagai aliran sesat. Apakah tret ini juga merupakan bagian dari dakwah khawarij? [CLEAN] Anda bertanya Quranist menjawab
Neshamakh - 30/01/2012 04:49 AM
#80

Quote:
Original Posted By Pr0p1000
maksudnya gimana nih gan....

Dulu saya pernah baca, ada aliran khawarij=ingkar sunah.
Aliran islam yang gak mau pake hadist,jadi cuma murni qur'an. Aliran ini udah dianggap sebagai aliran sesat. Apakah tret ini juga merupakan bagian dari dakwah khawarij? [CLEAN] Anda bertanya Quranist menjawab


Kasian ya orang2 terdahulu yang hanya menggunakan Al-Quran (4 khalifah pertama dan sahabat2 lainnya) tanpa hadist.. neraka semua dong ya?
Page 4 of 227 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > [CLEAN] Anda bertanya Quranist menjawab