BUKU new
Home > CASCISCUS > BUKU new > AJAHN BRAHMAVAMSO dan Bukunya
Total Views: 3945 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 9 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›

Minibalanar - 05/02/2012 03:28 PM
#1
AJAHN BRAHMAVAMSO dan Bukunya
AJAHN BRAHMAVAMSO dan Bukunya

Ajahn Brahmavamso lahir di London tahun 1951. Beliau memandang dirinya sebagai seorang Buddhis saat berusia 17 tahun lewat buku Agama Buddha yang dibacanya saat masih sekolah. Beliau tertarik pada Agama Buddha dan meditasi yang telah berkembang ketika belajar Teori Fisika di Universitas Cambridge. Setelah menyelesaikan tingkatannya dan belajar selama 1 tahun, Beliau melakukan perjalanan ke Thailand untuk menjadi bhikkhu. Beliau ditahbiskan di Bangkok saat berusia 23 tahun oleh kepala biara Wat Saket dan selanjutnya menghabiskan 9 tahun untuk belajar serta berlatih Tradisi Meditasi Hutan dari Y.M. Ajahn Chah. Pada tahun 1983, beliau diminta untuk membantu mendirikan Biara Hutan dekat Perth, Australia Barat. Ajahn Brahm sekarang adalah kepala biara Bodhinyana dan direktur kerohanian pada Perkumpulan Buddhis Australia Barat.



***





Yang Mulia Ajahn Brahmavamso Mahathera ( yang lebih dikenal dengan sebutan Ajahn Brahm ) dilahirkan dari pasangan Peter Betts di London, Inggris pada tanggal 7 Agustus 1951. Beliau berlatarbelakang dari masyarakat pekerja, dan mendapatkan beasiswa untuk belajar Teori Fisika di Universitas Cambridge pada akhir tahun 1960-an.



Setelah tamat dari Cambridge, beliau mengajar selama setahun di SMA, sebelum melakukan perjalanan ke Thailand untuk menjadi Bhikkhu dan berlatih dengan Y.M. Ajahn Chah Bodhinyana Mahathera. Ketika masih dalam tahun-tahun pertama sebagai bhikkhu junior, beliau diminta untuk menerjemahkan aturan-aturan kebhikkhuan (Vinaya) ke dalam bahasa Inggris yang kemudian menjadi dasar disiplin biara di dalam banyak biara Theravada di negara-negara barat.



Mengunjungi Australia



Yang Mulia Ajahn Brahm kemudian di undang ke Perth, Australia oleh komunitas Buddhis Australia Barat untuk membantu Ajahn Jagaro dalam tugas-tugas mengajar. Pada mulanya mereka berdua tinggal di dalam sebuah rumah tua di pinggiran kota, Perth Utara. Tetapi pada akhir tahun 1983 membeli 97 akre (393.000 m2) tanah di pedalaman perhutanan perbukitan Serpentine, Perth Selatan. Tanah tersebut kemudian menjadi biara Bodhinyana (mengambil nama guru mereka, Ajahn Chah Bodhinyana). Bodhinyana menjadi biara Buddhis pertama yang diresmikan di Hemisphere Selatan dan sekarang menjadi komunitas Bhikkhu Buddhis terbesar di Australia.



Yang Mulia Ajahn Brahmavamso merupakan kepala biara Bodhinyana saat ini dan pemimpin kerohanian perkumpulan Buddhis di Australia Barat. Biara Bodhinyana menyediakan sebuah lingkungan ideal yang sunyi dan sederhana yang sangat baik sekali untuk Sangha yang mempersembahkan hidup mereka terhadap praktek menanam kebajikan, meditasi dan kebijaksanaan.



Menjadi Seorang Pemimpin



Pada tahun 1994, Ajahn Jagaro mengambil sebuah cuti panjang dari Australia Barat dan melepas jubah setahun kemudian, secara tiba-tiba meninggalkan Ajahn Brahm untuk mengambil alih. Meskipun ada reservasi awal, Ajahn Brahm mengambil bagian dengan semangat dan dengan segera diundang untuk memberi pengajarannya yang humoris dan menyemangati di bagian lain di Australia dan di Asia Tenggara.



Beliau telah menjadi seorang pembicara pada konferensi Buddhis Internasional di Phnom Penh pada tahun 2002, dan pada Konferensi Global Buddhis. Beliau merupakan pemimpin konferensi keempat dari Konferensi Global Buddhis yang diadakan di Perth bulan Juni 2006. Tetapi penghargaan seperti ini tidak membuat Beliau berhenti mendedikasikan waktu dan perhatiannya terhadap orang yang sakit dan sekarat, yang di penjara atau menderita penyakit kanker, orang-orang yang berkeinginan mempelajari meditasi, dan tentu saja perkumpulan Sangha Bhikkhu di Bodhinyana.



Ajahn Brahm juga telah berpengaruh dalam membangun Biara Wanita Dhammasara di Gidgegannup di sebuah perbukitan Perth bagian timur laut untuk menjadi biara wanita yang independen secara keseluruhan, di mana orang-orang Sri Lanka berlatih. Biarawati Australia Ajahn Sr. Vayama saat ini menjadi kepala biara.



Pencapaian



Saat ini Ajahn Brahm adalah Kepala Biara Bodhinyana di Serpentine, Australia Barat. Direktur Kerohanian Perkumpulan Buddhis Australia Barat, Penasehat Kerohanian Perkumpulan Buddhis Victoria, Penasehat Kerohanian Perkumpulan Buddhis Australia Selatan, Pelindung kerohanian dari Persahabatan Buddhis di Singapura dan saat ini bekerjasama dengan bhikkhu dan biarawati dari seluruh tradisi Buddhis untuk memdirikan Perkumpulan Sangha Australia.



Pada Oktober 2004, Ajahn Brahm diberi penghargaan John Curtin Medal untuk visi, kepemimpinan dan pelayanannya terhadap komunitas Australia oleh Universitas Curtin. Ajahn Brahm juga menulis dua buku di antaranya Membuka Pintu Hati (Opening the Door of Your Heart) yang sebelumnya diterbitkan dengan judul ”Who Ordered This Truckload of Dung?” dan Mindfulness, Bliss and Beyond : A meditator’s Handbook.



Ratusan ceramah dari Ajahn Brahm saat ini telah tersedia secara akses gratis baik dalam format digital audio maupun video. Format ini telah diakses jutaan kali dalam setahun dan sekarang benar dikatakan bahwa hampir tidak ada orang, di manapun di dunia ini yang kelewatan sedetikpun, yang tidak mengakses dan mendengarkan ceramah dari Ajahn Brahm.



Buku-buku yang di tulis oleh Ajahn Brahmavamso
Opening The Door Of Your Heart / Who Ordered This Truckload Of Dung?
Setelah hampir 30 tahun sebagai bhikkhu, lahir dan mendapat pendidikan barat namun melatih diri dalam tradisi Bhikkhu hutan di Thailand, Ajahn Brahmavamso memiliki banyak kisah – kisah lucu dan menarik. Dalam kumpulan ajaran beliau, ada banyak sekali kisah – kisah kehidupan nyata yang dapat dijadikan petunjuk untuk memahami perhatian (mindfullness), kebijaksanaan, cinta dan belas kasih. Dalam setiap ceritanya, kejadian nyata merupakan sumbernya.
Di tahun 1983, Beliau mulai mendirikan vihara di Australia, di mana sekarang Beliau menetap. Dalam kisah beliau, menceritakan bahwa para bhikkhu sangat miskin dan apabila membutuhkan bangunan, beliau menggunakan pintu yang di ambil dari gerobak sampah, beliau belajar membuat tembok batubata. Beliau lebih banyak mengajarkan tentang filosofis buddhis kepada orang – orang barat dalam menjalani kehidupan mereka, membimbing grup meditasi di penjara Australia, dan mengunjungi orang-orang yang berduka maupun bersuka cita. Kisah – kisah yang menampilkan hal-hal yang lucu, pemikiran yang mendalam, dan pencerahan. Dengan penyampaian kata-kata yang bijak, kisah – kisah ini mengungkapkan kualitas bakti, kerendahan hati dan ketekunan. Kisah – kisah tersebut juga menggambarkan pencerahan, kebijaksanaan dan belas kasih dalam kehidupan sehari-hari. Kisah – kisah tentang harapan dan cinta, bagaimana memaafkan, bebas dari ketakutan, dan melewati masa-masa sulit sangat berhubungan dengan ajaran Buddha dan jalan menuju kebahagiaan.
Mindfulness, Bliss & Beyond

Sebuah buku yang sangat membantu dan berisi pengalaman – pengalaman tentang meditasi, yang ditulis oleh seorang bhikkhu dengan pengalaman yang luas dan mendalam. Ajahn Brahmavamso adalah salah satu generasi dari barat yang telah mempelajari, melatih dan ahli dalam ajaran Buddha yang begitu luas, dan sekarang menawarkan bimbingannya kepada orang-orang yang berlatih di dunia modern. Dalam buku “Mindfulness, Bliss and Beyond” akan ditemukan sejumlah ajaran untuk mengembangkan dan mendalami meditasi, sejumlah petunjuk untuk mencapai pemusatan pikiran dan memperoleh pengetahuan pandangan terang.


Ajahn Brahmavamso menawarkan pengertian yang bijak dan halus tentang mengubah kesulitan awal dan bagaimana mengubah pikiran menuju kegiuran, kebahagiaan, dan keseimbangan Jhana. Jadi, bagi Anda yang yang tertarik dalam melatih Jhana dan mendalami jalan Buddha dapat membaca buku ini dan mencoba untuk berlatih. Anda akan mendapatkan kata-kata bijak dan bahkan pengalaman yang ditunjukkan oleh beliau. Gunakan dan praktekkan nasihat-nasihat dari Ajahn Brahmavamso sebagaimana juga yang telah diajarkan oleh Buddha, namun janganlah menjadi terikat olehnya. Biarkan nasihat-nasihat tersebut membimbing Anda ke arah pembebasan dari segala keterikatan, dan memperoleh hati yang bebas. Semoga ajaran – ajaran ini membawa pengertian, manfaat dan berkah bagi semuanya.

--

Thread berisi kisah-kisah yang ada pada Buku-buku beliau, diupdate ( Kalau bisa setiap hari) secara Rutin

Semoga bermamfaat

shakehand2
Minibalanar - 05/02/2012 05:54 PM
#2

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 1

Quote:

AJAHN BRAHMAVAMSO dan Bukunya


Kesempurnaan dan Kesalahan
1. Dua Bata Jelek
2. Taman Kuil
3. Yang Sudah Selesai, Ya Sudah Selesai
4. Petunjuk Kedamaian Pikiran untuk Si Bodoh
5. Rasa Bersalah dan Pengampunan
6. Rasa Bersalah dan Penjahat
7. Anak-anak Kelas B
8. Bocah di Pasar Swalayan
9. Kita Semua Penjahat
10. Biarkan Rasa Bersalah Berlalu Selamanya

Cinta dan komitmen
11. Cinta tanpa Syarat
12. Membuka Pintu Hati
13. Pernikahan
14. Komitmen
15. Ayam atau Bebek
16. Mensyukuri Kekurangan
17. Kasmaran
18. Cinta Sejati

Rasa Takut dan Rasa Sakit
19. Bebas dari Rasa takut
20. Meramal Masa Depan
21. Berjudi
22. Apakah Rasa Takut Itu?
23. Takut Berbicara di Depan Umum
24. Takut Sakit
25. Biarlah Rasa Takut Berlalu
26. Cabut Gigi Sendiri
27. Tidak Khawatir

Kemarahan dan Pemaafan
28. Kemarahan
29. Pengadilan
30. Penyunyian
31. Siluman Pemangsa Amarah
32. Baik! Begitu ya! Aku Pergi!
33. Cara memadamkan Pemberontakan
34. Menyejukkan Hati dengan Pemberian Maaf
35. Pemaafan Positif

Menciptakan Kebahagiaan
36. Sanjungan Membuat Kita Berhasil
37. Cara Menjadi VIP
38. Senyum Dua Jari
39. Pengajaran yang Tak Ternilai
40. Ini Pun Akan Berlalu
41. Pengorbanan Gagah Berani
42. Gundukan Pupuk Kandang
43. Terlalu Berlebihan Berharap
44. Menjadi Tong Sampah
45. Mungkin Memang Adil

Masalah Kritis dan Pemecahannya
46. Hukum Karma
47. Minum Teh ketika Tidak Ada Jalan Keluar
48. Mengalir Bersama Arus
49. Terjebak Diantara Macan dan Ular
50. Nasihat Hidup
51. Apa Ada Masalah?
52. Membuat Keputusan
53. Menyalahkan Orang Lain
54. Tiga Pernyataan Kaisar
55. Sapi yang Menangis
56. Gadis Cilik dan Kawannya
57. Ular, Walikota dan Biksu
58. Si Ular Jahat

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya part 2

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2 Part 1

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2 Part 2
Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3 Part 1
Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3 Part 2
Minibalanar - 05/02/2012 06:19 PM
#3

Dua Bata Jelek

Setelah kami membeli tanah untuk vihara kami pada tahun 1983, kami jatuh bangkrut. Kami terjerat hutang. Tidak ada bangungan diatas tanah itu, pun tidak sebuah gubuk. Pada minggu-minggu pertama kami tidur diatas pintu-pintu tua yang kami beli murah dari pasar loak. Kami mengganjalkan dengan batu bata pada setiap sudutnya untuk meninggikannya dari tanah (tak ada matras--tentu saja, kami kan bhikkhu hutan).

Bhikkhu kepala mendapatkan pintu yang paling bagus, pintu datar. Pintu saya bergelombang dengan lubang yang cukup besar ditengahnya, di mana dulunya tempat pegangan pintu. Saya senang karena gagang pintu itu telah dicopot, tetapi lantas jadinya ada lubang persis ditengah-tengah ranjang pintu saya. Saya melucu dengan mengatakan bahwa sekarang saya tidak perlu bangkit dari ranjang jika ingin pergi ke toilet !. Kenyataannya, bagaimanapun juga, angin masuk melalui lubang itu. Saya jadi tak bisa tidur nyenyak selama malam-malam itu.

Kami hanyalah bhikkhu-bhikkhu miskin yang memerlukan sebuah bangunan. Kami tak mampu membayar tukang--bahan-bahan bangunannya saja sudah cukup mahal. Jadi saya harus belajar cara bertukang : bagaimana mempersiapkan pondasi, menyemen dan memasang batu bata, mendirikan atap, memasang pipa-pipa--pokoknya semua. Saya adalah seorang fisikawan teoritis dan guru SMU sebelum menjadi Bhikkhu, tidak terbiasa bekerja kasar. Setelah beberapa tahun, saya menjadi cukup terampil bertukang, bahkan saya menjuluki tim saya sebagai BBC (Buddhist Building Company). Akan Tetapi, pada saat memulainya, hal itu sangatlah sulit.

Kelihatannya gampang membuat tembok dengan batu bata: tinggal tuangkan seonggok semen, sedikit ketok sana, sedikit ketok sini. Ketika saya mulai memasang batu bata, saya ketok satu sisi untuk meratakannya, sisi lainnya jadi naik. Lalu saya ratakan sisi itu, batu batanya jadi melenceng. Setelah saya ratakan kembali, sisi yang pertama jadi terangkat lagi. Coba saja sendiri!

Sebagai seorang Bhikkhu, saya memiliki kesabaran dan waktu sebanyak yang saya perlukan. Saya pastikan setiap batu bata terpasang sempurna, tak peduli berapa lama jadinya. Akhirnya saya menyelesaikan tembok batu bata saya yang pertama dan berdiri dibaliknya untuk mengagumi hasil karya saya. Saat itulah saya memperhatikannya --- oh, tidak! -- saya telah keliru menyusun dua batu bata. Semua batu bata lain sudah lurus, tetapi dua bata tersebut tampat miring. Mereka terlihat jelek sekali. Mereka merusak keseluruhan tembok. Mereka meruntuhkannya.


Saat itu, semennya sudah terlanjur terlalu keras untuk mencabut dua batu bata itu, jadi saya bertanya kepada kepala vihara apakah saya boleh membongkar tembokk itu dan membangun kembali tembok yang baru, atau kalau perlu, meledakkannya sekalian. Saya telah membuat kesalahan dan saya menjadi gundah gulana. Kepala vihara bilang tidak perlu, biarkan saja temboknya seperti itu.

Ketika saya membawa para tamu pertama berkunjung keliling vihara setengah jadi kami, saya selalu menghindari membawa mereka melewati tembok bata yang saya buat. Saya tak suka jika ada orang yang melihatnya. Lalu suatu hari, kira-kira 3-4 bulan setelah saya membangun tembok itu, saya berjalan dengan seorang pengunjung dan dia melihatnya.

"itu sebuah tembok yang indah", ia berkomentar dengan santainya.

"Pak," saya menjawab dengan terkejut, "apakah kacamata Anda tertinggal di mobil ? Apakah penglihatan Anda sedang terganggu ? Tidakkah Anda melihat dua batu bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu ?"

Ucapan dia selanjutnya telah mengubah keseluruhan pandangan saya terhadap tembok itu, berkaitan dengan diri saya sendiri dan banyak aspek lainnya dalam kehidupan. Dia berkata, "Ya, Saya dapat melihat dua bata jelek itu, tetapi saya juga dapat melihat 998 batu bata yang bagus."

Saya tertegun. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga bulan, saya mampu melihat batu bata-batu bata lainnya selain dua bata jelek itu. Di atas, di bawah, sebelah kiri, dan sebelah kanan dari dua batu bata jelek itu adalah batu bata-batu bata yang bagus, batu bata yang sempurna. Lebih dari itu, jumlah bata yang terpasang sempurna, jauh lebih banyak daripada dua batu bata jelek itu. Sebelumnya mata saya hanya terpusat pada dua kesalahan yang telah saya perbuat, saya terbutakan akan hal-hal lainnya. itulah sebabnya saya tak tahan melihat tembok itu, atau tak rela membiarkan orang lain melihatnya juga, itulah sebabnya saya ingin menghancurkannya. Sekarang saya dapat melihat batu bata-batu bata yang bagus, tembok itu jadi tampak tak terlalu buruk lagi. itu menjadi, seperti yang dikatakan pengunjung itu, "Sebuah tembok yang indah." Tembok itu masih tetap berdiri sampai sekarang, setelah dua puluh tahun, tetapi saya sudah lupa persisnya di mana dua bata jelek itu berada. Saya benar-benar tak dapat melihat kesalahan itu lagi.

Berapa banyak orang yang memutuskan hubungan atau bercerai karena semua yang mereka lihat dari diri pasangannya adalah "dua bata jelek"? Berapa banyak diantara kita yang menjadi depresi atau bahkan ingin bunuh diri, karena semua yang kita lihat dalam diri kita hanyalah "dua bata jelek"? Pada kenyataannya, ada banyak, jauh lebih banyak batu bata yang bagus--di atas, di bawah, ke kiri, ke kanan dari yang jelek--tetapi pada saat itu kita tak dapat melihatnya, mata kita hanya terfokus pada kekeliruan yang kita perbuat. Semua yang kita lihat adalah kesalahan, dan kita mengira hanya ada kekeliruan semata, karenanya kita ingin menghancurkannya. Dan terkadang, sayangnya, kita benar-benar menghancurkan sebuah "tembok yang indah".

Kita semua memiliku "dua bata jelek", tetapi bata yang baik dalam diri kita masing-masing, jauh lebih banyak daripada yang jelek. Begitu kita melihatnya, semua akan tampak tak begitu buruk lagi. Bukan hanya kita dapat berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan kesalahan-kesalahan kita, tetapi kita juga dapat menikmati hidup bersama rekan kita. Ini kabar buruk bagi pengacara urusan perceraian, tetapi kabar baik bagi Anda.


Saya telah beberapa kali menceritakan anekdot ini. Pada suatu pertemuan, seorang tukang bangunan mendatangi dan memberitahukan saya tentang rahasia profesinya.

"Kami para tukang bangunan selalu membuat kesalahan," katanya, "tetapi kami bilang ke pelanggan kami bahwa itu adalah "ciri unik" yang tiada duanya di rumah-rumah tetangga. Lalu kami menagih biaya tambahan ribuan dollar!"

Jadi, "ciri unik" di rumah Anda bisa jadi awalnya adalah suatu kesalahan. Dengan cara yang sama, Apa yang Anda kira sebagai kesalahan pada diri Anda, Rekan Anda, atau hidup pada umumnya, dapat menjadi sebuah "ciri unik", yang memperkaya hidup Anda di dunia ini, begitu Anda tidak terfokus padanya.
hazard-zip - 06/02/2012 01:34 AM
#4

https://www.kaskus.co.id/showthread.php?p=643370675




AJAHN BRAHMAVAMSO dan BukunyaAJAHN BRAHMAVAMSO dan Bukunya

http://sicacing.blogspot.com

Quote:
AJAHN BRAHMAVAMSO dan Bukunya

website | facebook | email

EHIPASSIKO Foundation
kembali menggelar

AJAHN BRAHM
Tour d’Indonesia 2012.

Talkshow & Peluncuran Buku "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3!"

17-28 Mar 2012.
10 Kota

"All is Well"


"Acara ini terbuka untuk semua kalangan"


[quote="informasi kota dan pemesanan tiket"]
INFORMASI KOTA & PEMESANAN TIKET

DENPASAR: 17 Mar 12, 7-10 pm
Inna Grand Bali Beach
T: 0811385660, 081337883822
Tiket: Gratis

JAKARTA: 18 Mar 12, 1-5 pm
Plenary Hall JCC, Senayan
T: 0215818816, 081511439999, 085715555777
Tiket: Platinum Rp100.000, Gold Rp50.000
Performing: Jubing Kristianto–World Class Guitarist

BANDARLAMPUNG: 19 Mar 12, 7-10 pm
(Info tempat menyusul)
T: 0811728818, 081977939153
Tiket: Rp100.000 & Rp50.000

PANGKAL PINANG: 20 Mar 12, 7-10 pm
Gedung Setia Bakti, Jl. Denpasar
T: 085218818626, 08127365952
Tiket: Rp10.000

SOLO: 22 Mar 12, 6-10 pm
Solo Paragon Hotel, Jl. Dr. Sutomo
T: 08122683609, 02719228888
Tiket: Platinum, Gold, Silver, Bronze

TEMANGGUNG: 23 Mar 12, 3-6 pm
Gedung Narwastu & Mawar Sharon
T: 082135555443, 08156607900
Tiket: Gratis

SURABAYA: 24 Mar 12, 6-9 pm
Zhang Palace, Jl. Lontar 6
T: 0317345135
Tiket: Gratis

BALIKPAPAN: 25 Mar 12, 2-5 pm
BSCC-Dome Balikpapan
T: 081952527118, 0811543710
Tiket: Rp100.000

MEDAN: 27 Mar 12, 7-10 pm
Selecta Grand Royal Ballroom
T: 06130101480, 085361203366
Tiket: Gratis

CIKARANG: 28 Mar 12, 7-10 pm
Hotel Sahid Jaya, Lippo Cikarang
T: 085710092007, 0856191154
Tiket: Platinum Rp100.000, Gold Rp50.000, Silver Rp25.000


[/quote]
Spoiler for "Buku Baroe"
AJAHN BRAHMAVAMSO dan Bukunya


Spoiler for "profil pembicara"
AJAHN BRAHMAVAMSO dan Bukunya
Profil singkat Ajahn Brahmavamso (Ajahn Brahm)
Ajahn Brahm, Lahir di London tahun 1951 dengan nama asli Peter Betts.
pada umur 23 tahun setelah lulus dari Universitas Cambridge sebagai seorang Sarjana Fisika Teori,
beliau memilih untuk menjadi seorang petapa hutan.
Beliau kemudian pergi ke Thailand dan belajar selama 9 Tahun dari seorang Guru yang sangat terkenal yaitu YM. Ajahn Chah.

Kemudian beliau diutus oleh perguruannya untuk pergi ke Australia
untuk mendirikan Vihara Bodhinyana, Vihara pertama di Australia Barat.
dan sudah kurang lebih 30 tahun menjadi kepala Vihara disana,
beliau mendapatkan sebuah medali John Curtin dari Universitas Curtin
karena pelayanan sosialnya sering berkunjung
ke rumah sakit, penjara, rumah duka dan ceramah dimana-mana.

Beliau ini sangat terkenal karena kemampuan bicaranya atau juga linguistik inteligensinya.
beliau selalu menjawab pertanyaan dengan cara yang praktis dan dengan cerita.

[spoiler="ajahn chah"]AJAHN BRAHMAVAMSO dan Bukunya

[/spoiler]
Spoiler for "ajahn brahm d'indonesia"
AJAHN BRAHMAVAMSO dan BukunyaAJAHN BRAHMAVAMSO dan Bukunya
AJAHN BRAHMAVAMSO dan BukunyaAJAHN BRAHMAVAMSO dan Bukunya
AJAHN BRAHMAVAMSO dan Bukunya

[quote="Link"]http://www.ajahnbrahm.org/
http://www.ehipassiko.net/ajahn_brahm.php
http://sicacing.blogspot.com

Berita:
http://www.buddhazine.com/2012/01/16/handaka-vijjananda-permintaan-talk-show-ajahn-brahm-sangat-tingg i/
http://www.facebook.com/comeandsee
[/quote]

Spoiler for "poster big-BWK"
AJAHN BRAHMAVAMSO dan Bukunya
Minibalanar - 06/02/2012 08:12 AM
#5

Taman Kuil


Kuil-kuil Buddhis di Jepang terkenal akan taman-tamannya.
Beberapa tahun yang lampau, terdapatlah sebuah kuil
yang membanggakan tamannya sebagai taman tercantik, diantara semuanya.
Para pelancong berdatangan dari pelbagai penjuru negeri
hanya untuk mengagumi penataannya yang elok,
yang begitu indah dalam kesederhanaannya.

Suatu ketika, seorang biksu tua datang berkunjung.
Dia tiba pagi-pagi sekali, persis setelah fajar.
Dia ingin menyelidiki mengapa taman itu dianggap sebagai
yang paling mengilhami;
jadi dia menyembunyikan dirinya di balik semak yang besar,
dengan sudut pandang yang bagus ke arah taman.


Dia melihat seorang biksu muda muncul dari kuil dengan
membawa dua keranjang anyaman untuk berkebun.
Selama tiga jam, dia memerhatikan biksu muda itu,
yang dengan hati-hati memungut setiap daun
dan ranting yang berjatuhan
dan pohon persik yang tersebar di tengah-tengah taman.

Setiap kali memungut daun dan ranting,
si biksu muda menaruhnya di atas tangannya yang lembut,
memeriksanya dan mempertimbangkan,
dan jika dia menyukai daun dan ranting itu,
dia akan meletakkannya ke dalam salah satu keranjang.
Jika dia merasa daun atau ranting itu tidak berguna baginya,
dia akan membuangnya ke dalam keranjang kedua, keranjang sampah.

Setelah mengumpulkan dan mencermati setiap daun dan ranting,
dia mengosongkan keranjang sampah diatas gundukan di belakang kuil,
dia berhenti sejenak untuk minum teh
dan menata pikiran untuk tahap penting berikutnya.

Si biksu muda melewatkan waktu tiga jam lagi,
dengan penuh perhatian, dengan hati-hati, dengan penuh keterampilan,
menaruh setiap daun dan ranting pada tempat yang semestinya di taman itu.

Jika dia merasa tidak puas dengan posisi sebuah ranting,
dia akan menggeser atau memindahkannya sedikit,
dan sembari tersenyum puas,
dia akan berpindah ke daun berikutnya,
memilih bentuk dan warna yang tepat untuk ditaruh di taman.

Perhatiannya terhadap hal-hal rinci sungguh tak tertandingi.
Penguasaannya atas seni menyusun bentuk dan warna sangat luar biasa.
Pemahamannya akan keindahan alaam begitu tinggi.
Saat dia menyelesaikan pekerjaannya, taman itu terlihat apik sekali.

Kemudian sang biksu tua melangkah masuk ke dalam taman.
Dari balik senyum gigi ompongnya, dia memberi ucapan selamat
kepada si biksu muda.

“Pekerjaan bagus! Pekerjaan sangat bagus, Yang Mulia!
Saya telah mengintip Anda sepanjang pagi.
Ketekunan Anda layak dipuji setinggi langit.
Dan taman Anda…Yah!
Taman Anda nyaris sempurna…”

Wajah biksu muda itu berubah pucat.
Tubuhnya jadi kaku serasa disengat kalajengking.
Senyum kepuasannya tergelincir dari wajahnya
dan jatuh terguling ke jurang besar kehampaan.
Di Jepang, Anda tak akan pernah bisa yakin dengan seringai
seorang biksu tua.

“Ma…mak…maksud Anda apa?” dia tergagap ketakutan.
“Ap… apa yang Anda maksud ‘nyaris sempurna’?
dan dia menjatuhkan diri di kaki si biksu tua.

“Oh,Tuan! Oh,Guru! Kasihanilah saya.
Anda pasti telah dikirim oleh Buddha
untuk menunjukkan kepada saya bagaimana membuat
taman saya benar-benar sempurna.
Ajarkan saya, oh, Sang Bijak! Tunjukkanlah jalannya!”

“Anda benar-benar ingin saya menunjukkannya?”
tanya sang biksu tua dengan mimik purbanya yang mengerut usil.

“Oh,ya. Mohon. Tolong, Guru!”

Lalu sang biksu tua melangkah ke tengah-tengah taman.
Dia merangkulkan lengan-lengannya yang tua namun masih kuat itu
ke batang pohon persik yang rimbun.

Lantas, diiringi dengan gelak membahana seorang suci,
dia mengguncang-guncangkan pohon yang malang itu!
Dedaunan, ranting dan kulit pohon berserakan dimana-mana,
dan masih saja biksu tua itu mengguncang-guncangkan pohon itu.
Ketika tak ada lagi dedaunan yang jatuh, barulah dia berhenti.

Si biksu muda terperanjat.
Taman menjadi kacau balau. Kerja kerasnya sepagian jadi sia-sia belaka.
Rasanya dia ingin membunuh biksu tua itu,
namun sang biksu tua hanya melihat sekeliling untuk mengagumi hasil karyanya.

Lalu, dengan sebuah senyum yang meluruhkan amarah,
dia berkata lembut kepada si biksu muda,

“Sekarang taman Anda barulah benar-benar sempurna.”
natheo1213 - 06/02/2012 09:02 AM
#6

Hohoho... Muncul tritnya... \D/ \D/
Si Cacing ini salah satu buku fave ane...
Baru baca buku 1 & 2, tetep buku 1 is the best...

Cara ane dapetin buku ini terbilang gak biasa, tapi memang sepertinya sudah digariskan supaya ane baca buku ini... malu:
Minibalanar - 06/02/2012 09:09 AM
#7

Quote:
Original Posted By natheo1213
Hohoho... Muncul tritnya... \D/ \D/
Si Cacing ini salah satu buku fave ane...
Baru baca buku 1 & 2, tetep buku 1 is the best...

Cara ane dapetin buku ini terbilang gak biasa, tapi memang sepertinya sudah digariskan supaya ane baca buku ini... malu:


Yang ke 3 akan segera terbit D

Nanti juga ada yang kedua ane tulis disini, buku yang bagus ini, semoga bisa dibaca lebih banyak orang D

Terima kasih atas kunjunganny, semoga bermamfaat

shakehand2
Minibalanar - 07/02/2012 06:45 AM
#8

Yang Sudah Selesai, Ya Sudah Selesai


Musim hujan di Thailand berlangsung dari bulan Juli – Oktober. Selama periode tersebut, para Bhiksu berhenti bepergian, menghentikan semua pekerjaan proyek, dan mencurahkan diri sepenuhnya untuk belajar dan bermeditasi. Periode tersebut disebut “wassa” atau penyunyian musim hujan”.

Beberapa tahun yang lalu di Thailand selatan, seorang kepala wihara terkenal membangun sebuah aula baru di wihara hutannya. Saat wassa tiba, dia menghentikan seluruh pekerjaan proyek dan memulangkan tukang-tukangnya. Ini adalah saat untuk hening di wiharanya.

Beberapa hari berikutnya seorang pengunjung datang, menyaksikan bangunan setengah jadi, dia bertanya kepada kelapa wihara, kapan aulanya akan selesai. Tanpa ragu-ragu, sang Bhiksu berkata, “Aulanya sudah jadi.”

“Apa maksud Anda dengan ‘aulanya sudah jadi’?” tanya balik si pengunjung. “itu belum ada atapnya, tak ada pintu atau jendela, banyak potongan kayu dan kantong semen berserakan. Apakah Anda akan membiarkannya begitu saja? Apa yang Anda maksud ‘aulanya sudah jadi’?”

Kepala wihara tersenyum dan menjawab lirih, “yang sudah selesai ya sudah selesai,” dan diapun beranjak pergi untuk bermeditasi.

Itulah satu-satunya cara untuk melaksanakan penyunyian atau rehat. Jika tidak demikian, pekerjaan kita tak akan pernah selesai.
Minibalanar - 08/02/2012 07:07 AM
#9

Petunjuk Kedamaian Pikiran untuk Si Bodoh


Saya menceritakan kisah sebelumnya kepada sekelompok besar pendengar, pada suatu Jumat petang di Perth. Pada hari Minggu-nya, seorang ayah datang dengan marah-marah untuk berbicara kepada saya. Dia mengikuti ceramah tesebut dengan anak remajanya. Masalahnya, ketika hari Sabtu siang si anak ingin pergi bersama teman-temanya, si ayah bertanya kepada anaknya, "Kamu sudah bikin PR belum?" Anaknya menjawab,"Seperti yang diajarkan Ajahn Brahm semalam di wihara, Papa, Daa...daaaa.....!"

Pada hari minggu berikutnya saya menceritakan kisah yang lain.

Kebanyakan orang di Australia memiliki taman di rumahnya, tetapi hanya segelintir orang yang tahu bagaimana menemukan kedamaian di taman mereka. Bagiorang lainnya, taman hanyalah tempat bekerja yang lain, Jadi saya menganjurkan mereka yang punya taman untuk memelihara keindahan taman dengan berkebun sejenak, dan memelihara hati mereka dengan sejenak duduk dalam damai di tamannya, menikmatai berkah alam.

Orang Bodoh pertama akan berpikir, ini gagasan bagus yang mengasyikkan. Jadi pertama-tama mereka memutuskan untuk membereskan segala pekerjaan remeh-temeh, sesudah itu mereka baru melarutkan diri dalam kedamaian di taman. Jadi hamparan rumput harus dipotong, bunga perlu disirami, dedaunan perlu dipangkas, semak-semak harus dibabat, jalan setapak harus disapu.... Tentu saja itu semua menghabiskan seluruh waktu luang mereka, dan pekerjaan yang beres pun baru sebagian kecil. Pekerjaan mereka jadinya tak pernah selesai, dan mereka tak akan pernah memiliki sejenak waktu untuk diam dalam damai. Pernahkah Anda perhatikan bahwa di dalam budaya kita, orang-orang yang "istirahat dalam damai" hanya dapat ditemukan di pekuburan?

Orang bodoh kedua berpikir bahwa mereka lebih pintar dari orang bodoh pertama. Mereka menyingkirkan semua garu dan penyiram, lantas duduk di taman sambil membaca majalah, bisa jadi, yang berisi gambar pemandangan alam nan aduhai. Tetapi, itu berarti menikmati majalah, bukannya menemukan kedamaian di taman,

Orang Bodoh ketiga menyingkirakan semua peralatan berkebun, semua majalah, koran dan radio, dan duduk diam dalam damai di tamannya... selama kira-kira 2 detik! Lalu mereka mulai berpikir, "Rumput itu perlu dipotong dan semak-semak disana harus dibabat segera. Jika saya tidak menyiram bunga-bunga itu, mereka akan layu. Dan tanaman kaca-piring yang indah akan tampak bagus di sudut sana. Ya! Dengan sedikit hiasan tempat mandi burung di depan situ. Saya bisa membelinya di tempat pembibitan...." Itu sih namanya menikmati berpikir dan berencana. Tak ada kedamaian pikiran di situ.

Pekebun yang bijak akan mempertimbangkan, "Saya telah bekerja cukup lama, sekarang waktunya untuk menikmati buah dari pekerjaan saya untuk mendengarkan kedamaian. Jadi biarpun rumput perlu dipotong dan dedaunan harus dipangkas dan bla, bla, bla! TIDAK SEKARANG." Dengan cara inilah, kita temukan kebijaksanaan untuk menikmati taman, sekalipun tidak sempurna.

Siapa tahu ada seorang biksu tua Jepang bersembunyi di balik salah satu semak dan siap untuk melompat keluar dan membeitahu kita betapa sempurnanya taman tua kita yangberantakan. Sungguh, jika kita memusatkan perhatian kepada pekerjaan yang telah kita selesaikan, mungkin kita akan mengerti bahwa yang sudah selesai, ya sudah selesai. Namun jika kita memusatkan perhatian hanya untuk melihat kesalahan pada sesuatu yang harus diperbaiki, seperti dalam kasus tembok bata di wihara saya, kita tidak akan pernah tahu apa itu kedamaian.

Pekebun yang bijak akan menikmati lima belas menit kedamaian di tengah kesempurnaan dari tidak sempurnanya alam, tidak berpikir, tidak berencana, dan tidak merasa bersalah. Kita semua berhak untuk pergi dan mendapatkan kedamaian; tetapi orang lain pantas kehilangan kedamaian dengan cara mereka sendiri! Lalu setelah memperoleh bagian penting dan vital dari lima belas menit dalam damai, kita bisa meneruskan tugas berkebun kita.

Saat memahami bagaimana menemukan kedamaian di taman, kita akan tahu bagaimana menemukannya kapan saja, di mana saja. Khususnya kita akan tahu bagaimana menemukan kedamaian di dalam taman hati kita, sekalipun pada saat kita berpikir bahwa ada begitu banyak ketidakberesan, begitu banyak yang harus diselesaikan.
Minibalanar - 09/02/2012 07:01 AM
#10

Rasa Bersalah dan Pengampunan



Beberapa tahun yang lampau, seorang wanita muda Australia datang menemui saya di wihara saya di Perth. Para bhikkhu memang sering dimintai nasihat untuk masalah-masalah umat, barangkali karena kami tidak pernah minta bayaran. Wanita ini datang dengan rasa bersalahnya. Enam bulan sebelumnya, dia mengajak sahabat dan pacar sahabatnya untuk berpergian naik mobil ke padang rumput. Sahabatnya tidak ingin pergi, begitupun pacarnya, tetapi tak asyik rasanya kalau main sendirian saja. Jadi dia membujuk dan merengek sampai akhirnya mereka menyerah dan bersedia pergi bersama-sama.

Lalu terjadilah kecelakaan: mobil mereka tergelincir di jalan batu yang longsor. Sahabatnya tewas, pacar sahabatnya lumpuh. Itu adalah gagasannya, tetapi dia sendiri selamat. Dia bercerita kepada saya dengan duka di matanya : “Kalau saja saya tidak memaksa mereka untuk pergi, sahabat saya pasti masih hidup dan pacarnya tidak akan kehilangan kaki. Seharusnya saya tidak membuat mereka pergi dengan saya. Saya merasa sangat bersalah.”

Pikiran pertama yang melintas di benak saya adalah untuk menenangkannya bahwa itu semua bukan salahnya. Dia tidak merencanakan untuk mengalami kecelakaan itu. Dia tidak berniat menyakiti sahabatnya. Semuanya sudah terjadi. Jangan merasa bersalah. Namun, pikiran berikutnya yang melintas adalah, “Berani taruhan dia pasti sudah mendengar nasehat semacam itu, ratusan kali dan tampaknya tidak mempan.”

Jadi saya diam sejenak, merenungkan situasinya lebih dalam, lalu saya katakan kepadanya bahwa bagus juga kalau dia merasa begitu bersalah. Wajahnya berubah dari sedih menjadi terkejut, dan dari terkejut menjadi lega. Dia belum pernah mendengar perkataan seperti itu sebelumnya : bahwa dia semestinya merasa bersalah. Dugaan saya benar. Dia merasa bersalah akan perasaan bersalahnya. Dia merasa bersalah dan setiap orang bilang bahwa dia tidak boleh merasa bersalah. Karena itu, dia merasa “dua kali bersalah”, merasa bersalah karena kecelakaan itu dan merasa bersalah atas perasaan bersalahnya. Begitulah cara kerja pikiran kita yang ruwet ini.

Hanya ketika kita telah mengatasi lapisan pertama perasaan bersalahnya dan menegaskan bahwa tidak apa-apa kalau dia merasa bersalah, barulah kita bisa melanjutkan ke tahap berikut pemecahan masalahnya : “Lalu Sekarang bagaimana?”

Ada pepatah Buddhis yang sangat membantu : “Daripada mengeluhkan kegelapan, lebih baik menyalakan lilin.” Perasaan bersalah pada hakikatnya berbeda dengan penyesalan. Didalam kebudayaan kita, “bersalah” adalah keputusan yang diketok-palukan oleh hakim pengadilan. Dan jika tak ada seorang pun yang menghukum kita, kita akan menghukum diri sendiri, dengan satu dan lain cara. Perasaan bersalah berarti hukuman di dalam batin kita.

Jadi, wanita muda ini memerlukan suatu kiat pengampunan untuk membebaskannya dari perasaan bersalah. Sekadar memberitahukannya untuk melupakan apa yang terjadi tampaknya tak berkhasiat. Saya menyarankannya untuk menjadi relawan disebuah unit rehabilitasi korban kecelakaan lalu lintas di rumah sakit setempat. Karena di sini, saya piker, dia akan menanggalkan rasa bersalahnya dengan bekerja keras dan juga seperti yang biasanya terjadi pada kerja sukarela, dia akan sangat terbantu oleh orang-orang yang dibantunya.
zackz - 11/02/2012 10:57 AM
#11

bhante ajahn brahm emang top markotop
Minibalanar - 13/02/2012 10:43 AM
#12

Rasa Bersalah Para Penjahat



Sebelum saya tertimpa tugas terhormat yang membebani sebagai kepala vihara, dulunya saya sering mengunjungi penjara-penjara di Perth. Saya menyimpan baik-baik catatan mengenai tugas pelayaran di penjara ini karena bisa saya pakai sebagai kredit prestasi seandainya saya sendiri sampai harus dipenjara.

Pada kunjungan perdana saya ke sebuah penjara besar di Perth, saya terkejut dan terkesan akan banyaknya narapidana yang menghadiri ceramah mengenai meditasi yang saya bawakan. Ruangan pertemuan penuh sesak. Sekitar sembilan puluh lima persen dari populasi penjara hadir untuk belajar meditasi. Makin lama saya berbicara, rupanya semakin gelisahlah para pendengar saya. Baru sepuluh menit berlalu, seorang narapidana, salah satu penjahat paling kondang di penjara, mengangkat tangannya untuk bertanya. Saya mempersilahkannya.

"Apa betul," tanyanya, "Dengan meditasi kita bisa terbang?"

Sekarang saya tahu mengapa ada begitu banyak narapidana yang datang ke ceramah saya. Rupanya mereka semua berencana belajar bermeditasi supaya bisa terbang melewati tembok penjara!

Saya bilang kepada mereka bahwa hal itu tidaklah mustahil, namun itu hanya untuk meditator yang berbakat istimewa saja, dan itu pun setelah bertahun-tahun latihan. Pada kesempatan berikutnya saya datang untuk mengajar di penjara itu lagi, hanya ada empat orang narapidana yang masih setia mengikuti ceramah saya.

Setelah beberapa tahun mengajar di penjara, saya jadi mengenal beberapa penjahat dengan akrab. Salah satu hal yang saya temukan adalah bahwa setiap penjahat merasa bersalah terhadap apa yang telah mereka lakukan. Mereka merasakannya siang dan malam, dalam lubuk hati yang terdalam. Mereka hanya memberitahukan hal ini kepada teman dekat saja. Di depan publik, mereka menampilkan wajah sangar khas penjahat. Tetapi bila mereka bisa mempercayai Anda, ketika mereka menganggap Anda sebagai pembimbing spiritual mereka, meskipun untuk sejenak saja, mereka akan membuka diri dan mengungkapkan rasa bersalah yang memedihkan. Saya sering membantu mereka melalui cerita mengenai "Anak-Anak Kelas B".
Minibalanar - 14/02/2012 07:08 AM
#13

Anak-Anak Kelas B


Beberapa tahun yang lalu, sebuah percobaan di bidang pendidikan diadakan secara rahasia di sebuah sekolah di Inggris. Sekolah itu memiliki dua kelas untuk setiap kelompok anak-anak yang berusia sepantar. Pada akhir tahun ajaran diadakan sebuah ujian dalam rangka memilih anak-anak untuk kelas pada tahun berikutnya. Bagaimanapun, hasil ujian itu tak pernah diumumkan. Dalam kerahasiaan, hanya kepala sekolah dan para pakar psikologi saja yang mengetahui kenyataannya, anak-anak yang mendapat peringkat pertama ditempatkan pada kelas yang sama dengan anak-anak yang mendapat peringkat empat dan lima, delapan dan sembilan, dua belas dan tiga belas, dan selanjutnya. Sementara anak-anak yang mendapat peringkat dua dan tiga pada ujian tersebut ditempatkan pada kelas yang sama dengan anak-anak yang medapat peringkat enam dan tujuh, sepuluh dan sebelas, dan selanjutnya. Dengan kata lain, berdasarkan kinerja selama ujian, anak-anak dibagi rata menjadi dua kelas. Para guru pun diseleksi berdasarkan kesetaraan kemampuan. Bahkan setiap ruang kelas pun diberikan fasilitas yang sama. Segala sesuatunya dibuat setara mungkin, kecuali untuk satu hal: satu disebut "kelas A" dan yang lain disebut "kelas B".

Pada kenyataannya, setiap kelas memiliki anak-anak yang setara kemampuannya. Tetapi di benak setiap orang, anak-anak dari kelas A dianggap sebagai anak-anak yang cerdas, sedangkan anak-anak dari kelas B dianggap tak begitu pandai. Beberapa orang tua dari anak-anak kelas A mendapat kejutan yang menyenangkan karena anak-anaknya lulus dengan baik dan menghadiahi mereka dengan bingkisan dan pujian. Sementara beberapa orang tua dari anak-anak kelas B mengomeli dan menghukum anak-anaknya karena mereka dianggap tak berusaha cukup keras selama ujian. Bahkan para guru pun mengajar anak-anak kelas B denga sikap berbeda; dengan tidak berharap banyak dari mereka. Sepanjang tahun ajaran, ilusi tersebut terus dipertahankan. Lalu tibalah ujian akhir tahun berikutnya.

Hasilnya membuat merinding, tetapi tidak mengejutkan. Anak-anak kelas A menunjukkan kinerja yang lebih baik daripada anak-anak kelas B. Pada kenyataannya hasilnya juga akan seperti itu jika dulunya mereka terpilih sebagai setengah dari yang teratas pada ujian tahun lalu. Mereka benar-benar menjadi anak-anak kelas A (nomor 1). Dan kelompok lain, walaupun setara dengan tahun lalu, mereka menjadi anak-anak kelas B (nomor 2) sungguhan. Seperti apa mereka diajar sepanjang tahun, seperti apa mereka diperlakukan, seperti apa mereka dipercaya, demikianlah jadinya mereka.
Minibalanar - 15/02/2012 10:42 AM
#14

Bocah di Pasar Swalayan

Saya bilang kepada "konco-konco penjara" saya agar jangan pernah berfikir bahwa diri mereka adalah penjahat, melainkan berfikirlah sebagai seseorang yang telah melakukan tindak kejahatan. Sebab jika mereka bilang mereka adalah penjahat, jika mereke diperlakukan sebagai penjahat dan jika mereka percaya bahwa diri mereka adalah penjahat, mereka akan menjadi penjahat betulan. Begitulah cara kerjanya.

Seorang bocah menjatuhkan sekotak susu di bagian kasir sebuah pasar swalayan, kotaknya terbuka dan susunya tumpah menggenangi lantai. "Anak bodoh",kata ibunya.

Dilorong sebelahnya, seorang bocah yang lain menjatuhkan sekotak madu, kotak itu juga pecah dan madunya menjalar kelantai."Itu perbuatan bodoh,Nak", kata ibunya.

Bocah pertama dicap sebagai anak bodoh ; sedangkan bocah yang satunya cuma ditegur karena suatu kesalahan. Bocah yang pertama mungkin akan benar-benar menjadi bodoh; sedang bocah yang satunya akan belajar untuk tidak lagi mengulangi perbuatan bodohnya.

Saya bertanya pada konco-konco penjara, apa saja yang telah mereka perbuat pada hari mereka berbuat kejahatan? Apa saja yang mereka perbuat pada hari-hari lainnya pada tahun itu? apa saja yang telah mereka perbuat pada tahun-tahun kehidupan mereka? kemudian saya ceritakan kembali kisah tembok bata saya. Ada dua batu bata lain di tembok yang mewakili kehidupan kita, terlepas dari kejahatan yang pernah kita perbuat. Pada kenyataanya, selalu ada banyak batu bata yang bagus, jauh lebih banyak daripada yang jelek. Nah apakah anda sebuah tembok jelek yang pantas dihancurkan? atau sebuah tembok yang bagus dengan sepasang batu bata jelek seperti kebanyakan kita?

Beberapa bulan setelah saya menjadi kepala wihara dan tidak lagi mengunjungi penjara, saya menerima sebuah telepon pribadi dari salah seorang petugas penjara.Dia meminta saya untuk kembali mengunjungi penjara. Dia memberikan ucapan selamat yang akan selalu say hargai. Dia bilang bahwa konco-konco penjara saya, murid saya, setelah mereka menyelesaikan masa hukumannya, tak pernah balik lagi ke penjara.
Minibalanar - 16/02/2012 12:23 PM
#15

Kita Semua Penjahat

Pada kisah sebelum ini saya bercerita mengenai orang-orang yang "bekerja" bersama saya di penjara, tetapi pesannya berlaku juga bagi siapa pun "yang mendekam" dalam penjara rasa bersalah. "Kejahatan" yang menyebabkan kita merasa bersalah - apa lagi yang telah kita lakukan pada hari itu, pada tahun itu, dalam hidup ini? Dapatkah kita melihat batu bata lain di tembok? Dapatkah kita memandang melampaui perbuatan bodoh kita yang menyebabkan perasaan bersalah kita? Jika kita terlalu lama terfokus pada perbuatan-perbuatan "Kelas B" kita mungkin akan menjadi seorang manusia "Kelas B". Itulah sebabnya mengapa kita tetap mengulang kesalahan-kesalahan kita dan menimbun perasaan bersalah kita. Tetapi bila kita melihat bagian lain dari kehidupan kita, bata lain di tembok kita, ketika kita meraih sudut pandang yang realistik, maka pandangan cerah yang menakjubkan akan merekah bagai sekuntum bunga di hati - kita layak dimaafkan.
yalong - 17/02/2012 02:56 PM
#16

bookmark dulu agan2 yang cantik n ganteng.. D
Minibalanar - 17/02/2012 06:43 PM
#17

Biarkan Rasa Bersalah Berlalu, Selamanya


Tahapan tersulit dari perjalanan untuk bebas dari rasa bersalah adalah meyakinkan diri kita bahwa kita layak untuk dimaafkan. Kisah - kisah yang telah diceritakan sejauh ini bertujuan untuk membantu kita, tetapi langkah terakhir untuk keluar dari penjara, harus dilakukan sendiri.

Saat masih bocah, seorang teman saya bermain dengan sahabat karibnya di sebuah dermaga. Bermaksud untuk bergurau, dia mendorong sahabatnya ke dalam air dan sahabatnya tenggelam.

Selama beberapa tahun bocah itu hidup bersama dengan perasaan bersalah yang melumpuhkan. Orang tua sahabatnya yang mati tenggelam tinggal di sebelah rumahnya. Si bocah tumbuh dengan mengetahui bahwa ia telah memisahkan mereka dari putranya. Lalu pada suatu pagi, seperti yang diceritakannya kepada saya, dia menyadari bahwa dia tidak perlu terpenjara lagi oleh rasa bersalahnya. Dia melangkah keluar dari penjaranya sendiri menyongsong udara hangat kebebasan.
Minibalanar - 18/02/2012 12:20 PM
#18

Cinta Tanpa Syarat

Sewaktu saya masih berumur 13 thn, ayah saya memanggil dan mengatakan sesuatu yang mengubah hidup saya. Kami berdua berada di dalam mobilnya yang tua dan usang, dipinggir jalan London, Dia memutar badannya kearah saya dan berkata : "Nak, apapun yang kamu lakukan dalam hidupmu, ketahuilah, pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu"

Saya hanyalah remaja belia pada saat itu. Saya tidak benar mengerti apa yang dimaksudkan ayah, tapi saya tahu itu adalah sesuatu yang penting, maka saya selalu mengigatnya. Ayah meninggal dunia tiga tahun kemudian.

Ketika saya menjadi bhikkhu di Thailand, saya kembali memikirkan kata ayah. Rumah kami saat itu hanyalah sebuah flat kecil miskin di London, bukan sebuah rumah yang bagus untuk dibukakan pintunya. Tetapi saya menyadari bahwa bukan itu maksud ayah sebenarnya. Apa yang terkandung di dalam kata-kata ayah, seperti sebuah permata yang terbungkus kain, adalah sebuah ungkapan cinta paling jernih yang pernah saya dengar.
"Nak, apapun yang kamu lakukan dalam hidupmu, ketahuilah, pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu"

Ayah saya menawarkan cinta tanpa syaratnya. Tidak ada maksud tersembunyi. Saya adalah putranya, cukup itu saja. Begitu indah, Begitu Nyata, Dan ...... Dia bersungguh-sungguh.

Diperlukan keberanian dan kebikjasanaan untuk mengatakan hal tersebut kepada orang lain, untuk membuka pintu hati Anda kepada seseorang, tanpa embel-embel "jika". Mungkin kita berpikir mereka akan mengambil keuntungan dari kita, tapi bukan begitu, tidak demikian menurut pengalaman saya. Sewaktu anda menerima cinta semacam itu dari orang lain, itu bagaikan menerima hadiah paling berharga. Anda menghargainya, menyimpan dengan baik dan menjaganya supaya jangan pernah sampai hilang. Jika Anda bersungguh-sungguh dan itu datang dari dalam hati anda, orang itu akan menyambut kedepan, bukan mundur, untuk mengapai cinta Anda.
Minibalanar - 18/02/2012 10:16 PM
#19

Membuka Pintu Hati

Orang di jaman sekarang terlalu banyak berpikir.
Kalau saja mereka mengurangi proses berpikir mereka sedikit,
maka hidup mereka anda akan menjadi jauh lebih gampang.

Di vihara kami di Thailand, setiap minggu di suatu malam,
bhikkhu-bhikkhu begadang melewatkan waktu tidur mereka untuk
bermeditasi semalaman di ruang utama. Ini sudah menjadi
tradisi bhikkhu hutan. Tidaklah terlalu berat, karena kami
selalu bisa tidur di pagi harinya.

Suatu pagi, sesudah semalaman bermeditasi, ketika kami sudah
siap kembali ke pondok masing-masing untuk tidur, kepala
vihara memanggil seorang bhikkhu junior, orang Australia.
Betapa kecewanya dia karena kepala vihara memberikan dia
setumpukan besar jubah untuk dicuci, seraya menyuruhnya
untuk melakukannya sekarang juga. Sudah menjadi tradisi kami
untuk membantu kepala vihara mencuci jubahnya dan juga
melayaninya melakukan hal-hal kecil lainnya.

Ini merupakan pekerjaan mencuci yang banyak. Lagipula,
seluruh cucian harus dikerjakan dengan cara tradisional ala
bhikkhu hutan. Air harus ditimba dari sumur, membuat api
besar dan memasaknya sampai mendidih. Potongan kayu dari
pohon nangka harus dipotong menjadi kepingan-kepingan kecil
dengan menggunakan kapak. Potongan kecil tersebut dimasukkan
ke dalam air mendidih tadi untuk mengeluarkan sarinya, yang
berfungsi sebagai "deterjen". Lalu setiap jubah diletakkan
secara terpisah di dalam sebuah bak kayu yang panjang,
kemudian air mendidih kecoklatan itu ditumpahkan ke
dalamnya. Jubah-jubah itu kemudian dipukul-pukul dengan
tangan sampai bersih. Bhikkhu itu kemudian harus
mengeringkannya di bawah sinar matahari, membolak-baliknya
secara teratur agar pewarna alaminya tidak luntur. Mencuci
satu jubah saja sudah lama dan repot. Mencuci sebegitu
banyak jubah membutuhkan waktu berjam-jam. Si bhikkhu muda
Brisbane ini sudah lelah semalaman tidak tidur. Saya kasihan
juga kepadanya.

Saya datang ke pelataran tempat mencuci itu untuk
membantunya. Sesampai di sana, dia sedang memaki-maki, lebih
condong ke tradisi Brisbane daripada tradisi Buddhis. Dia
mengeluhkan betapa tidak adil dan kejamnya. "Tidak bisakah
kepala vihara menunggu sampai besok? Tidakkah dia menyadari
bahwa saya tidak tidur semalaman? Saya tidak menjadi bhikkhu
untuk mencuci!" Kata-katanya tidak persis seperti itu, tapi
itulah yang masih cukup sopan untuk ditulis di sini.

Saat itu terjadi, saya telah menjadi bhikkhu selama beberapa
tahun. Saya mengerti yang dia alami dan tahu jalan keluar
dari permasalahannya. Saya berkata kepadanya, "Berpikir jauh
lebih berat daripada mengerjakannya."

Dia menjadi terdiam dan memandang saya. Setelah beberapa
lama berdiam diri, tanpa berkata apa-apa dia kembali bekerja
dan saya kembali ke tempat untuk tidur. Belakangan di hari
itu, dia datang menemui saya untuk mengucapkan terima kasih
atas bantuan saya mencuci jubah. Memang benar, dia
menyadari, berpikir adalah bagian yang terberat. Ketika dia
berhenti mengeluh dan hanya mengerjakan cuciannya, sama
sekali tidak ada masalah.

Bagian terberat dari segala hal dalam hidup adalah
memikirkannya.
Minibalanar - 19/02/2012 10:54 AM
#20

Mensyukuri Kekurangan

Seusai sebuah upacara pernikahan di Singapura, beberapa tahun yang lalu, sang ayah mertua memanggil menantu barunya kepojok untuk memberinya nasihat tentang bagaimana agar pernikahannya awet dan bahagia.

''Kamu mungkin sangat mencintai anak saya'' katanya kepada si pemuda.
''Ya, iyaaa doong......'' desah si pemuda.

''Dan kamu mingkin berpikir dialah perempuan paling hebat di dunia,'' sambung si mertua.

''Dan begitu sempurna dalam segala hal,'' si menantu mengiyakan dengan nada kurang sabar.

''Itulah yang kamu rasakan sewaktu baru menikah,'' kata si mertua.
''Namun setelah beberapa tahun, kamu akan mulai melihat kekurangan-kekurangan anak saya.
Saat kamu mulai menyadarinya, saya ingin kamu ingat ini ; Jika dia tidak mempunyai kekurangan itu, Menantuku, dia mungkin sudah menikah dengan orang lain yang jauh lebih baik dari kamu''.

Jadi kita harus selalu bersyukur atas kekurangan -kekurangan pasangan kita, karena jika sedari awal mereka tidak memiliki kekurangan-kekurangan itu, mereka sudah akan menikah dengan orang lain yang jauh lebih baik daripada kita.
Page 1 of 9 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›
Home > CASCISCUS > BUKU new > AJAHN BRAHMAVAMSO dan Bukunya