BUKU new
Home > CASCISCUS > BUKU new > AJAHN BRAHMAVAMSO dan Bukunya
Total Views: 3945 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 3 of 9 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›

tuyitno - 23/03/2012 01:45 PM
#41

ane juga punya 3 koleksi buku ajahn..
cacing 1 sama 2..
sama guru cacing datang..

mantap gan..
ane demen katanya ajahn yang kita harus jadi manusia "kekinian"
nobiqxu - 23/03/2012 07:41 PM
#42

Quote:
Original Posted By Minibalanar


Kalau proyek ini sudah selesai, nanti saya pikirkan untuk membuat Thread buku-buku Ajahn Chah \)

Terima kasih

shakehand


mau dibantuin ga gan?
Minibalanar - 23/03/2012 09:35 PM
#43

Quote:
Original Posted By nobiqxu
mau dibantuin ga gan?


Tidak perlu \)

Terima kasih
elvatanz - 24/03/2012 10:01 AM
#44

nice info gan :matabelo
semoga artikelnya berman faat cendols
morpheus - 29/03/2012 08:31 PM
#45

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3 sudah terbit juga

ane sudah beli tapi belum baca
ric_q0709 - 05/04/2012 06:42 PM
#46

slogan-slogan beliau sangat sederhana, jadi bisa diingat kapanpun dan dimanapun kita berada, sangat membantu pada saat kita mengalami kesulitan ataupun kebahagiaan. jadi tidak hanya berlaku untuk saat kesulitan aja, tapi pada saat bahagia, kita harus ingat bahwa semua bersifat sementara. dengan menyadari itu, kita bisa terlepas dari kesengsaraan batin. \)

trit nya sangat bagus nih, membahas cerita-cerita dari beliau. semoga semua mahluk berbahagia.
permenkaramel - 06/04/2012 09:25 PM
#47

izin bookmark gan :bookmarksYb
Minibalanar - 20/04/2012 08:46 AM
#48

Baik! Begitu ya! Aku Pergi!

Baik! Begitu ya! Aku Pergi!Sepasang suami isteri kebangsaan Kanada, telah menyelesaikan kontrak kerjanya di Perth. Saat sedang mempersiapkan kepulangan ke kampung halaman mereka di Toronto, mereka mendapatkan ide hebat untuk berlayar pulang ke Kanada. Mereka berencana membeli sebuah kapal layar kecil, dan dengan bantuan dari pasangan muda lain, mereka akan berlayar mengarungi Samudera Pasifik menuju Vancouver. Sesampai di sana, mereka akan menjual kapal itu, memulihkan investasinya, dan menyimpannya untuk masa depan mereka. Ide ini tidak hanya masuk akal secara finansial, tetapi ini juga merupakan sebuah petualangan seumur hidup bagi kedua pasangan muda tersebut.

Ketika mereka tiba dengan selamat di Kanada, mereka mengirimkan sepucuk surat ke temannya untuk menceritakan perjalanan mereka yang menakjubkan. Khususnya, mereka menceritakan sebuah kejadian yang menunjukkan betapa bodohnya kalau kita marah, dan alasan mengapa kemarahan seharusnya dijauhi.

Si tengah perjalanan mereka, disuatu tempat di Samudera Pasifik, berkilo-kilo meter dari daratan terdekat, mesin kapal mereka mogok. Kedua orang prianya mengambil perkakas kerja, masuk ke dalam ruangan mesin, dan mencoba untuk memperbaikinya. Para perempuan duduk santai di geladak, menikmati hangatnya sinar mentari sembari membaca majalah.

Ruang mesin sangatlah panas dan menyesakkan. Bagi kedua pria itu, si mesin kelihatannya sengaja mogok dan ogah diperbaiki. Mur-mur besar dari baja tak mau berputar, sekrup kecil yang penting malah tergelincir dan jatuh ke tempat berminyak yang tak terjangkau, dan kebocoran tak mau berhenti juga.

Keputusasaan membiakkan kejengkelan, pertama-tama kepada si mesin yang bandel itu, berikutnya diantara mereka. Kejengkelan tumbuh dengan cepat menjadi kemarahan. Lalu kemarahan meledak menjadi kegusaran. Salah satu dari pria itu sudah tak tahan lagi. Dia membanting kunci inggrisnya dan berteriak, "Baik! Begitu ya! Aku pergi!"

Dalam kegilaan amuknya, dia pergi ke kabinnya, membersihkan diri, mengganti baju, dan mengepak koper-kopernya. Lalu dia muncul di geladak, sambil tetap menggerutu, memakai jas terbaiknya, dengan koper di kedua tangannya.

Para perempuan yang sedang bersantai bercerita bahwa mereka hampir saja jatuh dari kapal karena tertawa terpingkal-pingkal melihat pemandangan itu. Si pria malang itu melihat bahwa di sekelilingnya hanya ada lautan, sejauh mata memandang, hanyalah cakrawala. Tidak ada tempat untuk pergi.

Pria itu merasa sangat tolol; wajahnya memerah karena malu. Dia berbalik, kembali ke kabinnya, membongkar koper-kopernya, berganti baju, dan turun kembali ke ruang mesin untuk membantu temannya. Mau tak mau. Habis, mau kemana lagi?
Minibalanar - 20/04/2012 08:45 AM
#49

Cara Memadamkan Pemberontakan

Ketika kita menyadari bahwa tak ada tempat untuk kabur, kita akan hadapi masalah, alih-alih melarikan diri. Kebanyakan masalah mempunyai solusi yang tak dapat kita lihat ketika lari dari permasalahan.

Pada pertengahan hingga akhir tahun 1970-an, saya mengalami pengalaman pribadi berkenaan dengan bagaimana suatu pemerintahan nasional menemukan suatu solusi bagi sebuah krisis besar, krisis yang sangat mengancam kelangsungan sistem demokrasi mereka.

Vietnam Selatan, Laod, dan Kamboja jatuh ke tangan kaum komunis hanya dalam hitungan hari pada tahun 1975. “Teori Domino” yang dipercaya oleh kekuatan-kekuatan Barat pada saat itu meramalkan bahwa Thailand pun akan segera jatuh ke tangan komunis. Selama periode itu, saya adalah seorang biksu muda di Thailand timur laut. Wihara tempat saya menetap paling lama berjarak dua kali lebih dekat ke Hanoi ketimbang ke Bangkok. Kami diberitahu untuk mencatatkan diri ke kedutaan besar kami dan rencana evakuasi pun telah disiapkan. Kebanyakan negara barat terkejut ketika mengetahui bahwa Thailand ternyata tidak jatuh ke tangan komunis.

Saat iu Ajahn Chah cukup terkenal dan banyak jenderal penting dan pejabat senior Thailand datang ke wiharanya untuk meminta nasihat dan inspirasi. Saat itu saya telah fasih berbahasa Thai, dan sedikit bahasa Laos, jadi bisa cukup memahami keseriusan keadaan saat itu. Tentara dan pemerintah sebenarnya tidak mengkhawatirkan kaum gerilyawan Merah (komunis) yang berada di luar perbatasan, tetapi mereka mengkhawatirkan para aktivis dan simpatisan komunis yang berada di dalam negeri mereka sendiri.

Banyak mahasiswa Thai yang cemerlang telah beranjak ke hutan belantara di Thailand timur laut untuk memberi dukungan kepada tentara gerilyawan komunis internal – Thai. Persenjataan dan pelatihan mereka diberikan oleh kekuatan dari luar perbatasan. Tetapi desa-desa di bagian “merah muda” dari wilayah itu dengan senangnya menyokong makanan dan kebutuhan lainnya untuk mereka. Mereka mendapat dukungan dari penduduk lokal. Mereka menjadi ancaman yang gawat.

Pemerintah dan tentara Thai menemukan solusinya dalam tiga strategi berikut:

Menahan Diri

Tentara tidak menyerang markas komunis, sekalipun setiap prajurit tahu di mana lokasi markas mereka. Ketika saya hidup sebagai biksu pengelana pada tahun 1979-80, saat tengah mencari gunung dan hutan belantara untuk bermeditasi dalam kesunyian, saya akan menghampiri tentara yang sedang berpatroli dan mereka akan memberikan saran kepada saya. Mereka akan menunjukkan sebuah gunung dan memberitahu saya supaya tidak pergi kesana – sebab disanalah kaum komunis tinggal. Lalu mereka akan menunjukkan gunung yang lain dan berkata bahwa gunung itu tempat yang bagus untuk bermeditasi, tak ada orang komunis disana. Saya mengikuti nasihat mereka. Pada saat itu kaum komunis telah menangkap beberapa biksu pengelana yang sedang bermeditasi di hutan, dan membunuh mereka – setelah disiksa terlebih dahulu, begitu kata mereka kepada saya.

Mengampuni

Selama periode maut ini, diadakan suatu pengampunan di tempat dan tanpa syarat. Di mana pun salah satu kaum pemberontak ingin diampuni kasusnya, dia boleh meletakkan senjata begitu saja dan kembali ke desa atau kampusnya. Dia mungkin saja berada dalam pengawasan, tetapi tidak ada hukuman yang dikenakan kepadanya. Saya tiba di sebuah desa di wilayah Kow Wong beberapa hari setelah kaum komunis menyergap sebuah jip besar yang penuh dengan tentara Thai dan membunuh mereka semua di luar desa itu. Anak-anak muda di desa itu sebagian besar bersimpati kepada kaum komunis, tetapi mereka tidak ikut bertempur. Mereka bercerita kepada saya bahwa mereka sempat diancam dan ditahan oleh tentara Thai, tetapi dibebaskan lagi.

Memecahkan Akar Masalah

Selama bertahun-tahun itu, saya melihat jalan-jalan baru dibangun di daerah itu, dan jalan yang lama diaspal kembali. Para penduduk desa sekarang dapat membawa hasil produksinya untuk dijual ke kota. Raja Thailand mengawasi sendiri dan membiayai pembangunan ratusan waduk-waduk kecil yang terkait dengan rancangan sistem irigasi, yang memungkinkan para petani miskin di Thailand timur laut menanam padi dua kali dalam setahun. Listrik masuk desa, menjangkau dusun-dusun terpencil; bersamaan dengan itu dibangun pula sekolah dan klinik. Wilayah termiskin di Thailand diberi perhatian penuh dari pemerintah di Bangkok, dan para penduduk desa pun menjadi relatif lebih makmur.

Suatu ketika, seorang tentara Thailand yang sedang berpatroli di hutan berkata kepada saya, “Kami tidak perlu menembak kaum komunis. Mereka semua saudara-saudara sebangsa kami. Apabila saya bertemu dengan mereka ketika mereka turun atau mengambil perbekalan di desa, kami mengenal siapa mereka, saya hanya akan memperlihatkan arloji baru saya, atau memperdengarkan lagu-lagu Thai dari radio baru saya – lalu mereka berhenti menjadi komunis.

Itulah pengalamannya, dan juga rekan-rekan tentaranya.

Kaum komunis Thai memulai pemberontakan dengan begitu marahnya kepada pemerintah, sampai mereka rela mengorbankan masa mudanya. Tetapi penahanan diri sebagai bagian dari strategi pemerintah telah membantu mencegah kemarahan itu menjadi lebih parah. Pengampunan melalui amnest, memberikan mereka jalan keluar yang aman dan terhormat. Memecahkan permasalahan, melalui pembangunan, membuat penduduk desa yang miskin menjadi makmur. Penduduk desa melihat tak ada perlunya lagi menyokong kaum komunis, karena mereka sudah merasa puas dengan pemerintahan yang telah mereka miliki. Dan kaum komunis sendiri mulai merasa sangsi dengan apa yang mereka perbuat, hidup dengan susah payah di pegunungan dan hutan belantara.

Satu demi satu mereka meletakkan senjatanya dan kembali ke tengah keluarganya, kampung, atau kampusnya. Pada awal tahun 1980-an , nyaris tak ada lagi pemberontak yang tersisa, jadi para jenderal tentara gerilyawan, para pemimpin komunis, juga menyerahkan diri mereka. Saya ingat pernah melihat sebuah artikel di Bangkok Post mengenai seorang pengusaha cerdik yang membawa para wisatawan Thai ke hutan, mengunjungi gua-gua bekas tempat kaum komunis yang sempat mengancam keutuhan bangsa.

Lalu apa yang terjadi pada para pemimpin pemberontakan tersebut? Apakah mereka juga ditawari pengampunan tanpa syarat seperti halnya anggota pemberontak? Tidak sama-sama amat. Mereka tidak dihukum, juga tidak diasingkan. Malahan, mereka ditawari jabatan penting dalam pelayanan pemerintahan Thai, sebagai pengakuan atas kualitas kepemimpinan mereka, kemampuan untuk bekerja keras, dan kepedulian kepada rakyat! Sungguh langkah yang cemerlang. Buat apa menyia-nyiakan sumber daya anak-anak muda yang pemberani dan berdedikasi seperti itu?

Ini adalah kisah nyata sebagaimana yang saya dengar dari para tentara dan penduduk Thailand di timur laut pada masa itu. Inilah yang saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri. Sayangnya kejadian seperti itu nyaris tidak pernah dilaporkan dimana-mana.

Pada saat buku ini ditulis, dua orang mantan pemimpin komunis itu telah mengabdikan diri mereka sebagai menteri dalam kabinet pemerintahan nasional Thailand.
Minibalanar - 07/05/2012 08:36 AM
#50

Komitmen
Pandangan saya mengenai hubungan dan pernikahan adalah sebagai berikut:
ketika suatu pasangan berpacaran, mereka sekadar terlibat,
saat mereka bertunangan, mereka tetap saja hanya terlibat
mungkin lebih mendalam; ketika mereka menyatakan sumpah pernikahan, itulah yang di sebut komitmen

makna dari upacara pernikahan adalah komitmen
selama upacara pernikahan, untuk menekankan makna pernikahan dengan cara yang akan di ingat seumur hidup
saya menjelaskan tentang perbedaan antara keterlibatan dan komitmen
sama dengan perbedaan antara telur dengan bacon (daging babi asap)

Pada saat inilah
para ipar dan teman - teaman mempelai mulai memberikan perhatiaannya.
mereka mulai bertanya - tanya "lho apa hubungan telor dan bacon dengan pernikahan?"

Saya melanjutkan,"Dengan telur, si ayam cuma terlibat saja;
sedangkan dengan bacon, si babi berkomitmen penuh.
semoga pernikahan ini menjadi sebuah pernikahan babi."
Minibalanar - 07/05/2012 08:40 AM
#51

PENYUNYIAN


Pemicu dari kemarahan kita kebanyakan adalah pengharapan yang tak sampai. Kadang kita begitu menginvestasikan diri ke dalam sebuah proyek yang ketika tak menghasilkan sesuatu sebagaimana seharusnya, kita jadi marah. Semua "seharusnya" merujuk pada pengharapan, suatu prediksi masa depan. Sekarang kita mungkin menyadari bahwa masa depan itu tak pasti, tak dapat diramalkan. Terlalu mengandalkan suatu pengharapan masa depan, suatu "seharusnya", itu namanya cari-cari masalah.

Seorang umat Buddha dari Barat yang saya kenal beberapa tahun lalu menjadi bhikkhu di Timur Jauh. Dia bergabung dengan sebuah kelompok meditasi yang sangat ketat, di sebuah vihara terpencil di pegunungan. Setiap tahun mereka mengadakan penyunyian (retret) meditasi selama 60 hari. Latihannya keras, kaku, dan bukan untuk pikiran yang lemah.

Mereka bangun pada pukul 3.00 dini hari, dan pada pukul 3.10 mereka bermeditasi dengan duduk bersila. Sepanjang hari diatur ketat dalam rutinitas 50 menit meditasi duduk, 10 menit meditasi jalan, 50 menit meditasi duduk, 10 menit meditasi jalan, dan seterusnya. Mereka makan di dalam aula tempat bermeditasi, duduk bersila di tempat untuk bermeditasi; tak diperbolehkan bercakap-cakap. Pada pukul 10 malam mereka boleh tidur, tetapi hanya di aula di tempat yang sama ketika mereka duduk bermeditasi. Bangun pada pukul 3 dini hari itu tidak wajib: Anda boleh saja bangun lebih awal jika mau, tapi tidak boleh terlambat. Istirahat hanya pada saat wawancara harian dengan guru yang sangar, dan tentu saja sedikit waktu untuk ke toilet.

Setelah tiga hari, kaki dan punggung si bhikkhu Barat terasa sangat nyeri. Dia tak terbiasa duduk lama dalam posisi yang terasa sangat tidak nyaman bagi orang Barat. Lebih-lebih, dia masih harus melewati delapan minggu lagi. Dia mulai sungguh­-sungguh sangsi apakah dia mampu bertahan selama itu.

Pada akhir minggu pertama, segala sesuatunya tak menjadi lebih baik. Dia sering merasa tersiksa sekali, berjam-jam duduk seperti itu. Mereka yang pernah mengikuti retret meditasi 10 hari pasti tahu bagaimana sakitnya. Dan dia masih harus menghadapinya tujuh setengah minggu lagi.

Namun orang ini sangat keras hati. Dia menghimpun segenap tekadnya dan terus bertahan, detik demi detik. Pada akhir dari dua minggu pertama, dia benar-benar sudah tak tahan: rasa sakitnya sudah kelewatan. Tubuh Barat-nya tak cocok untuk perlakuan seperti ini. Ini sih bukan ajaran Buddha, bukan Jalan Tengah. Lalu dia memandang sekeliling, melihat bhikkhu-bhikkhu Asia, mereka juga tengah menggeretakkan gigi; rasa gengsi mendorongnya untuk melewatkan dua minggu berikutnya. Selama periode ini, tubuhnya terasa seperti terbakar rasa sakit. Satu-satunya kelegaan adalah saat gong pukul 10 malam, saat dia dapat merentangkan tubuhnya yang tersiksa untuk sedikit santai. Tapi rasanya begitu dia terlelap, gong pukul 3 dini hari berbunyi lagi, membangunkannya untuk hari penuh siksaan berikutnya.

Pada akhir hari ke-30, harapan terlihat berkedip-kedip suram di kejauhan. Sekarang dia telah melewati tanda setengah jalan. Dia sedang dalam perjalanan mudik, "Hampir sampai," dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Hari-hari terasa bertambah panjang dan rasa sakit pada lutut dan punggungnya terasa makin menusuk. Pada saat-saat itu dia rasanya akan menangis. Tetapi tetap saja, dia maju terus. Dua minggu lagi. Satu minggu lagi. Pada minggu terakhir, waktu terasa seperti diseret semut. Sekalipun sekarang dia sudah terbiasa menahan rasa sakit, masih saja itu tidak lebih mudah. Kalau menyerah sekarang, pikirnya, itu namanya tidak setia pada segala sesuatu yang telah ditahannya sejauh ini. Dia tetap ingin merampungkannya, sekalipun dia bisa terbunuh; dan pada saat itu dia pikir itu bisa saja terjadi.

Dia terbangun oleh gong pukul 3 dini hari pada hari ke-60. Dia sudah hampir rampung. Rasa nyerinya pada hari terakhir itu sudah tak terperikan lagi. Seolah-olah rasa nyeri ingin mengolok­-oloknya untuk maju terus, tetapi sekarang sudah tak ada lagi pukulan-pukulan yang menderanya. Bahkan meskipun hanya tersisa beberapa jam saja, dia masih sangsi apakah dia mampu bertahan. Lalu tibalah 50 menit terakhir. Dia memulai sesi itu dengan membayangkan semua hal yang akan dia lakukan, mulai dari satu jam begitu retret usai: berendam air hangat, makan yang enak-enak, ngobrol, bermalas-malasan—tiba-tiba rasa nyeri menginterupsi rencananya, menuntut seluruh perhatiannya. Dia membuka sedikit matanya, dengan diam­-diam, beberapa kali selama sesi akhir untuk mengintip jam. Dia tidak percaya sang waktu bergerak begitu lambatnya. Mungkin baterai jam itu perlu diganti? Mungkin jam itu akan berhenti selamanya tepat lima menit sebelum retret berakhir? Lima puluh menit terakhir terasa seperti lima puluh kalpa, tetapi bahkan yang paling abadi pun harus berakhir juga suatu hari.Termasuk yang ini. Gong pun berbunyi, begitu manisnya, untuk mengakhiri retret.

Gelombang kegembiraan mengaliri tubuhnya, menenggelamkan rasa sakit ke balik tabir. Dia berhasil. Sekarang dia bisa bersenang-senang. Ayo berendam!

Sang guru menabuh gong lagi untuk meminta perhatian semua orang. Dia punya pengumuman. Dia berkata, "Ini adalah sebuah retret yang luar biasa. Banyak bhikkhu yang mencapai kemajuan besar, dan beberapa menyarankan kepada saya, saat wawancara pribadi, untuk sebaiknya melanjutkan retret ini selama dua minggu lagi. Saya rasa ini usulan yang hebat. Retret ini dilanjutkan. Ayo duduk lagi."

Semua bhikkhu melipat kaki lagi dan duduk diam bermeditasi, untuk memulai retret selama 2 minggu lagi. Si bhikkhu Barat bercerita bahwa dia tak merasa sakit lagi di tubuhnya. Dia hanya mencoba menduga-duga siapa gerangan bhikkhu sialan yang telah menyarankan sang guru untuk melanjutkan retret ini, dan berpikir apa yang akan dia lakukan kalau nanti dia tahu siapa bhikkhu itu. Dia punya rencana tak berperi-kebhikkhu-an buat si bhikkhu yang tak berperasaan itu. Kemarahannya mengeringkan semua rasa sakitnya. Dia, menjadi sangat marah. Dia menjadi garang. Dia belum pernah merasa semarah itu sebelumnya. Tiba-tiba gong berbunyi lagi. Itu adalah 15 menit tercepat dalam hidupnya.

"Retret selesai," kata sang guru. "Ada makanan dan minuman untuk kalian semua di ruang makan. Silakan bersantai. Kalian boleh bercakap-cakap sekarang."

Si bhikkhu Barat jadi kebingungan. "Saya pikir kita akan bermeditasi selama dua minggu lagi. Ada apa?" Seorang bhikkhu senior yang bisa berbahasa Inggris melihat kebingungannya dan datang menghampiri. Sembari tersenyum dia berkata, "Jangan khawatir! Sang guru berbuat begitu setiap tahun!"
Minibalanar - 07/05/2012 08:42 AM
#52

Menyejukkan hati dengan Pemberian Maaf
Ketika seseorang menyakiti kita, kita tidak harus menjadi penghukum bagi mereka.
Jika kita umat Kristen, Muslim, atau Yahudi, tentunya kita percaya
bahwa biarlah Tuhan yang akan menghukum mereka.
Jika kita umat Buddha, Hindu atau Sikh, kita tahu bahwa hukum karma akan
menyediakan ganjaran yang setimpal bagi penganiaya kita.
Dan jika Anda adalah pengikut agama modern psikoterapi,
Anda tahu bahwa para penganiaya Anda harus menjalani terapi yang mahal
selama bertahun-tahun karena dihantui oleh rasa bersalahnya!

Jadi mengapa kita harus menjadi orang yang "memberi pelajaran" kepada mereka?
Setelah mempertimbangkan dengan bijaksana,
kita akan menyadari bahwa kita tidak semestinya menjadi algojo.
Kita tetap dapat menunaikan tugas-tugas bagi masyarakat saat kita membiarkan
kemarahan berlalu dan menyejukkan hati dengan pemaafan.


Dua rekan biksu Barat saya terlibat dalam perbantahan.
Salah satu biksu adalah mantan marinir Amerika Serikat yang pernah
menjadi prajurit lini depan selama Perang Vietnam dan pernah terluka parah.
Yang satunya adalah mantan pebisnis sangat sukses
yang telah menghasilkan banyak uang dan pensiun pada usia pertengahan dua puluhan.
Keduanya, cerdas, kuat, dan berperangai keras.

Para biksu tidak semestinya terlibat perbantahan,tetapi mereka malah cekcok.
Para biksu tidak dibenarkan adu jotos, tetapi mereka malah nyaris.
Mereka berhadapan, mata dengan mata, hidung dengan hidung,
saling menyemburkan amarah.
Di tengah kecamuk adu mulut itu, si mantan marinir tiba-tiba menekuk lututnya
dan bersujud dengan anggunnya kepada biksu mantan pebisnis
yang menjadi sangat kaget karenanya.
Sambil menengadah dia berkata,

"Maaf. Ampuni saya"

Itu adalah salah satu sikap langka yang langsung datang dari hati,
spontan dan lebih inspiratif daripada yang terencana.
Dengan segera mereka berbaikan kembali, dan mereka jadi benar-benar menarik perhatian.
Biksu mantan pebisnis itu sampai terisak.

Beberapa menit kemudian mereka terlihat berjalan bersama-sama sebagai sahabat.Nah, para biksu dibenarkan untuk itu.
Minibalanar - 07/05/2012 08:44 AM
#53

Pemaafan Positif
Memaafkan mungkin hanya bisa diterapkan di wihara. Saya tahu Anda berpikir bahwa kalau kita memberikan maaf dalam kehidupan nyata, kita hanya akan dimanfaatkan oleh orang lain. Orang lain akan melangkahi kita, mereka akan berpikir bahwa kita lemah. Saya setuju. Pemberian maaf seperti itu jarang bisa berhasil. Seperti kata orang, "Dia yang memberikan pipi sebelahnya, harus pergi ke dokter gigi dua kali, bukannya sekali!"

Pemerintah Thai, memberikan lebih dari sekedar pemaafan melalui pengampunan tanpa syarat, namun juga mengobati akar permasalahannya, yaitu kemiskinan, dan menanganinya dengan piawai. Itulah sebabnya pemberian pengampunan berhasil.

Saya menyebut pemberian maaf seperti itu sebagai "pemaafan positif". "Positif" berarti memberikan dorongan positif pada hal-hal baik yang kita harapkan. "Pemaafan" berarti melepaskan hal-hal buruk yang menjadi bagian dari masalah--bukan memperdalam, melainkan membiarkannya berlalu. Contohnya, dalam sebuah kebun, hanya menyirami sama sekali adalah seperti sekedar mempraktikkan pemaafan; dan menyirami bunga tetapi tidak menyirami tanaman liar melambangkan "pemaafan positif".

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, pada akhir ceramah Jumat malam di Perth, seorang perempuan datang kepada saya. Seingat saya, dia secara rutin hadir pada setiap ceramah mingguan ini, tetapi ini pertama kalinya dia berbicara dengan saya. Dia mengatakan bahwa dia ingin mengucapkan terima kasih, bukan hanya kepada saya, tetapi juga kepada semua biksu yang mengajar di wihara kami. Lalu dia mulai menjelaskan apa sebabnya. Dia mulai datang ke wihara kami 7 tahun silam. Dia mengaku, pada saat itu dia tidak begitu tertarik pada ajaran Buddha ataupun meditasi. Alasan utamanya datang ke wihara adalah sekedar mencari-cari alasan untuk meninggalkan rumah.

Dia punya suami yang kasar. Dia adalah korban kekerasan rumah tangga yang menakutkan. Pada saat itu, dukungan dari lembaga-lembaga untuk menolong korban kekerasan seperti itu belumlah ada. Dalam sebuah luapan emosi, dia tidak bisa berpikir jernih untuk minggat selamanya dari rumah. Jadi dia datang ke wihara dengan gagasan bahwa 2 jam di wihara berarti 2 jam dia bebas dari kekerasan.

Apa yang didengarnya dari wihara kami mengubah hidupnya. Dia mendengar dari biksu-biksu mengenai pemberian maaf yang benar--pemaafan positif. Dia memutuskan untuk mencobanya ke suaminya. Dia bercerita bahwa setiap kali suaminya memukul, dia memaafkannya dan membiarkannya berlalu. Bagaimana dia bisa melakukannya, hanya dia yang tahu. Lalu setiap kali sang suami melakukan atau mengatakan sesuatu yang baik, betapa pun sepelenya, saat itu juga dia akan memeluknya atau mencium, ataupun memberikan tanda-tanda untuk mengisyaratkan kepada sang suami bahwa betapa berarti kebaikan tersebut baginya. Dia sungguh-sungguh bersyukur atas kebaikan itu.

Dia menghela napas dan berkata kepada saya bahwa dia melakukannya selama 7 tahun. Pada saat itu matanya jadi berkaca-kaca, dan demikian pula saya. "Selama 7 tahun," katanya, "dan sekarang Anda tidak akan dapat mengenali pria itu lagi. Dia telah berubah 180 derajat. Sekarang, kami punya hubungan kasih yang luar biasa beserta dua anak yang hebat." Wajahnya memancarkan cahaya laksana orang suci. Rasanya saya hendak berlutut di hadapannya. "Anda lihat tempat duduk itu?" katanya, menunjukkan kepada saya, "Minggu ini, sebagai kejutan dia membuatkan tempat duduk kayu untuk bermeditasi. Andai saja itu terjadi 7 tahun yang lalu, dia hanya akan menggunakannya untuk memukul saya!" Kerongkongan saya yang tersumbat menjadi lega bersamaan dengan gelak kami berdua.

Saya mengagumi perempuan itu. Dia meraih dan memenangkan kebahagiaannya sendiri, menurut saya, dari kecemerlangan kualitas dirinya sendiri. Dan dia telah mengubah seorang monster menjadi seorang pria yang penuh perhatian. Dia menolong diri sendiri sekaligus orang lain, dengan sungguh mengagumkan.

Itu adalah contoh ekstrem dari pemaafan positif, hanya direkomendasikan bagi mereka yang ingin jadi suci. Namun demikian, hal itu telah menunjukkan apa yang bisa dicapai saat pemberian maaf dipadukan dengan pemberian dukungan pada kebajikan yang telah dilakukan.
Minibalanar - 07/05/2012 08:48 AM
#54

Sanjungan Membuat kita berhasil


Kita Semua tentunya senang dipuji kan?tetapi sayangnya hampir sepanjang waktu kita hanya mendengar tentang kejelekan kita.Saya kira itu adil,karena hampir sepanjang waktu kita pun hanya membicarakan kejelekan orang lain.kita ini jarang sekali mengucapkan pujian.Coba saja dengar sendiri apa yang anda bicarakan.

Tanpa Pujian,tanpa dorongan positif terhadap kualitas-kualitas yang baik,kualitas-kualitas tersebut akan layu dan mati,tetapi seulas pujian bisa menjadi sebuah tonggak pengobar semangat.kita semua ingin mendengar diri kita di puji,kita hanya ingin memastikan bahwa apa yang telah kita lakukan sudah benar adanya.

Suatu ketika ,saya membaca artikel di sebuah majalah mengenai sebuah kelompok terapi yang menggunakan metode dorongan positif untuk membantu anak-anak yang mengalami suatu kelainan perilaku makan yang langka.kapan pun anak-anak itu menelan makanan padat,mereka akan langsung memuntahkannya.saat seorang anak berhasil untuk tidak memuntahkan secuil makanan selama semenit atau lebih,kelompok itu akan merayakannya.Para orang tua akan memakai topi kertas dan berdiri di kursi bersorak,dan bertepuk tangan,para perawat akan menari-nari dan melemparkan pita warna-warni;seseorang akan memainkan musik favorit anak-anak.Seketika akan ada perayaan besar,Di mana anak yang berhasil menahan makannya menjadi pusat perhatian.Anak-anak itu akan mulai berlatih menahan makanan lebih lama,dan lebih lama lagi.Sukacita mereka akan mengaktifkan kembali sistem saraf mereka.Seperti itulah,anak-anak mendambakan pujian.kita pun demikian.

jadi siapa yang bilang kalau"sanjungan akan membuat kita tak berhasil"?justru sanjungan Kawan akan membuat kita berhasil.
Minibalanar - 07/05/2012 08:54 AM
#55

Cara Menjadi VIP

Pada tahun pertama vihara didirikan, dia menanamkan dalam dirinya bahwa dia harus belajar cara bangun-membangun. Struktur utamanya terdiri dari enam toilet dan enam blok pancuran untuk mencuci, jadi dia juga harus belajar segala sesuatu mengenai perpipaan. Dalam upaya belajar, dia membawa rancangannya ke toko pipa, merentangkannya di atas meja toko, dan berkata, “ Tolong!”.

Karena itu adalah pesanan yang lumayan besar, pria di toko, Fred, tak segan memberikan waktunya untuk menjelaskan komponen apa saja yang diperlukannya, mengapa diperlukan dan bagaimana cara memasangnya. Akhirnya dengan segala kesabaran, akal sehat dan masukan dari Fred, pipa system pembuangan limbah di vihara selesai juga. Petugas lembaga pengawas kesehatan setempat datang, memberi ujian berat dan system itu dinyatakan lulus. Pemuda ini senang sekali.

Beberapa hari kemudian, datanglah tagihan untuk semua komponen perpipaan itu. Pemuda itu kemudian meminta cek dari bendahara untuk pembangunan vihara tersebut dan mengirimkan cek itu beserta sepucuk surat ucapan terima kasih, terutama Fred yang telah berbaik hati membantu pembangunan vihara.

Saat itu pemuda ini tidak menyadari bahwa toko besar itu, dengan banyak cabang tersebar di seluruh kota Perth, memiliki departemen-departemen yang terpisah. Surat pemuda ini dibuka dan dibaca oleh seorang juru tulis pada salah satu departemen, yang menjadi tertegun ketika menerima sepucuk surat pujian, lalu segera menyampaikannya kepada manajer keuangan. Biasanya kalau bagian keuangan menerima selembar cek beserta sepucuk surat itu pastilah surat yang berisi pengaduan. Kepala bagian keuangan juga terkejut dan segera membawa surat pemuda itu kepada direktur pengelola perusahaan. Sang direktur membaca surat itu dan merasa senang. Kemudian dia mengangkat telepon di mejanya, menelepon Fred yang berada di bagian meja penjualan di salah satu cabang perusahaannya dan memberitahunya tentang surat pemuda ini yang tergeletak di atas meja kayu mahoni direkturnya.

“Inilah yang kita cari di perusahaan kita, Fred. Hubungan baik dengan pelanggan! Inilah yang membuat kita maju.”

“ Ya, Pak.”

“ Anda telah melakukan pekerjaan yang hebat, Fred.”

“ Ya, Pak.”

“ Saya berharap kita punya lebih banyak karyawan seperti Anda.”

“ Ya, Pak.”

“ Gaji Anda berapa ya? Barangkali kami dapat memberikan lebih banyak.”

“ YA, PAK.”

“ Kerja bagus, Fred.”

“ Terima kasih, Pak.”

Sejam atau dua jam setelah kejadian itu, pemuda ini pergi lagi ke toko tersebut untuk menukar sebuah komponen yang akan digunakan untuk keperluan lainnya. Ada dua orang tukang pipa yang berbadan besar, dengan bahu selebar tanki, sedang menunggu untuk dilayani di depan saya. Namun Fred melihat saya.

“BRAM!” panggilnya dengan senyum lebar. “ Mari ke sini!”

Saya diperlakukan seperti VIP. Saya dibawa ke bagian belakang toko, dimana seharusnya pelanggan dilarang masuk, untuk memilih komponen pengganti yang saya perlukan. Teman Fred di bagian penjualan memberi tahu Bram tentang telepon yang baru saja diterima Fred dari sang direktur.

Bram kemudian menemukan komponen yang dia perlukan, tetapi komponen itu lebih besar dan jauh lebih mahal daripada komponen yang mao dia tukarkan.

“Berapa saya harus membatar?” tanya Bram. “ Berapa selisihnya?”

Dengan senyum yang sangat lebar, Fred menjawab,” Bram, untuk Anda tak ada selisihnya!”

Jadi, pujian bagus juga untuk alasan financial.
Minibalanar - 07/05/2012 08:55 AM
#56

Pujian dapat menghemat uang kita, mempererat
hubungan dan menciptakan kebahagiaan. Kita perlu
lebih sering menaburnya ke sekitar kita.

Orang yang paling sulit untuk kita puji adalah diri kita
sendiri. Saya dibesarkan utk percaya bahwa memuji diri
sendiri akan membuat kita menjadi besar kepala.
Sebenarnya bukan begitu. Yang benar adalah menjadi besar hati. Memuji
kualitas baik dari diri kita sendiri berarti membesarkan hati dengan cara
yang positif.

Saat saya masih seorang mahasiswa, guru meditasi
pertama saya memberikan sebuah nasihat untuk
dipraktekkan. Awalnya beliau menanyakan apa yang
pertama-tama saya lakukan begitu bangun pagi.

"Pergi ke kamar mandi," kata saya.
"Apa ada sebuah cermin di kamar mandimu?" tanya beliau.
"Tentu."
"Bagus," katanya. "Nah setiap pagi, bahkan sebelum
kamu menggosok gigi, saya ingin kamu menatap cermin
dan tersenyum pada dirimu sendiri."
"Pak !" Saya mulai protes. "Saya ini mahasiswa.
Kadang-kadang saya tidur sangat larut dan bangun
pagi-pagi dengan perasaan kurang enak. Pada pagi-pagi
tertentu bahkan saya ngeri melihat wajah saya sendiri,
boro-boro tersenyum."

Beliau terkekeh, menatap mata saya dan berkata,
"Jika kamu tidak bisa tersenyum secara alami, kamu dapat
memakai dua jarimu, taruh di kedua sudut mulut,
dan tekanlah ke atas. Seperti ini," Beliau menunjukkan
caranya.

Beliau jadi terlihat menggelikan. Saya terkekeh-kekeh
melihatnya. Beliau menyuruh saya untuk mencobanya,
dan saya menurutinya.

Pada pagi berikutnya, saya menarik turun diri saya dari
tempat tidur, melangkah terhuyung-huyung ke kamar
mandi. Saya menatap diri saya di cermin.
"Urrrgh!" Itu bukan pemandangan yang manis.
Sebuah senyum alami tidak bisa muncul. Jadi saya
meletakkan dua jari telunjuk di sudut mulut dan
menekannya ke atas. Lantas saya melihat seorang
mahasiswa muda bodoh menampilkan wajah tololnya
di cermin, dan saya tak tahan untuk tidak tersenyum.
Begitu muncul sebuah senyum alami,
saya melihat mahasiswa di cermin tersenyum kepada saya.
Saya pun tersenyum lebih lebar lagi, dan orang yang
di cermin pun membalas dengan senyuman yang lebih
lebar juga. Dalam beberapa detik, kami mengakhirinya
dengan tertawa bersama.

Saya terus mempraktekkan nasihat itu setiap pagi selama
2 tahun. Setiap pagi, tak peduli bagaimana perasaan saya
saat bangun, saya segera tertawa begitu melihat diri saya
di cermin, biasanya sih dengan bantuan dua jari.
Sekarang orang bilang saya banyak senyum.
Barangkali itu karena otot-otot di sekitar mulut saya
menetap dalam posisi seperti itu.

Kita dapat mencoba trik dua jari kapan saja,
terutama bermanfaat ketika kita merasa sakit, bosan atau
tertekan. Tertawa telah terbukti bisa melepaskan hormon
endorphin ke dalam aliran darah kita, yang dapat
memperkuat sistem kekebalan tubuh kita dan membuat
kita merasa bahagia.

Hal itu akan membantu kita melihat 998 bata bagus
di tembok kita, bukan hanya dua bata jelek. Dan tertawa
membuat kita terlihat rupawan. Itulah sebabnya kadang
saya menyebut vihara kami di Perth sebagai
"salon kecantikan Ajahn Brahm"
Minibalanar - 07/05/2012 01:03 PM
#57

Ini Pun Akan Berlalu

Salah satu pengajaran tak ternilai yang dapat membantu mengatasi depresi, adalah juga salah satu yang paling sederhana, mudah untuk disalahpahami. Hanya jika kita akhirnya sudah terbebas dari depresi, barulah kita boleh menyatakan diri sudah betul-betul memahami cerita berikut ini.

Seorang narapidana baru merasa ketakutan dan tertekan. Tembok-tembok batu di selnya seperti menyerap habis semua kehangatan; jeruji-jeruji besi bagai mencemooh segala belas kasih; suara gelegar baja yang beradu ketika gerbang ditutup, mengunci harapan jauh-jauh. Hatinya terpuruk sedalam hukumannya yang sedemikian lama. Di tembok, di atas kepala tempat tidur lipatnya, dia melihat sebuah kalimat yang tergores di sana: INI PUN AKAN BERLALU.

Kalimat itu melecut semangatnya, mungkin demikian juga dengan narapidana lain sebelum dia. Tak peduli betapa beratnya, dia akan menatap tulisan itu dan mengingatnya: ini pun akan berlalu. Pada hari dia dibebaskan, dia mengetahui kebenaran dari kata-kata itu. Waktunya telah terpenuhi; penjara pun telah berlalu.

Ketika dia menjalani kembali kehidupan normalnya, dia sering merenungi pesan itu, menulisnya di secarik kertas untuk ditaruh di samping tempat tidurnya, di mobil, dan di tempat kerja. Bahkan saat dia mengalami hal-hal yang buruk, dia tak akan menjadi depresi. Dengan mudah dia akan mengingat "ini pun akan berlalu", dan terus berjuang. Saat-saat yang buruk pun tidak memerlukan waktu lama untuk berlalu. Lalu ketika saat-saat yang menyenangkan tiba, dia menikmatinya, tetapi tanpa terlalu sembrono. Sekali lagi dia akan mengingat, "ini pun akan berlalu", dan terus lanjut bekerja, tanpa menggampangkan hal yang menyenangkan itu. Saat-saat yang indah biasanya juga tak akan bertahan lama-lama.

Bahkan ketika dia menderita kanker, "ini pun akan berlalu" telah memberinya pengharapan. Pengharapan memberinya kekuatan dan sikap positif yang mengalahkan penyakitnya. Suatu hari, dokter spesialis memastikan bahwa "kanker pun telah berlalu".

Pada hari-hari terakhirnya, di atas ranjang kematian, dia membisikkan kepada orang-orang yang dicintainya, "ini pun akan berlalu," dan dengan enteng dia meninggalkan dunia ini. Kata-katanya adalah pemberian cinta terakhir bagi keluarga dan teman-temannya. Mereka belajar darinya bahwa "kesedihan pun akan berlalu".

Depresi adalah sebuah penjara yang sering dialami oleh kita-kita ini. "ini pun akan berlalu" membantu melecut semangat kita; juga menghindarkan salah satu penyebab depresi hebat, yaitu tidak mensyukuri saat-saat bahagia.
Minibalanar - 07/05/2012 01:05 PM
#58

Pengorbanan Gagah Berani

saat saya masih seorang guru sekolah, perhatian saya tertarik pada seorang siswa yang mendapat peringkat terbawah pada ujian akhir tahun dalam kelas saya yang terdiri dari 30 siswa. saya melihat dia tertekan karena nilainya yang tidak bagus, lalu saya menghampiri dan mengajaknya berbicara.

saya berkata padanya "harus ada orang yang berada di peringkat 30 dari 30 siswa di kelas ini. tahun ini orang itu adalah kamu, kamu yang telah melakukan pengorbanan gagah berani supaya tak ada seorangpun temanmu menderita malu karena mendapat peringkat terbawah di kelas ini. kamu sungguh baik, begitu penuh belas kasih. kamu pantas mendapatkan medali"

kita berdua tahu bahwa apa yang saya katakan itu konyol, tetapi dia menyeringai lebar. dia tak lagi menganggap peringkat terbawahnya sebagai sebuah kiamat.

dia mendapat peringkat yang jauh lebih baik pada tahun berikutnya, ketika tiba giliran orang lain melakukan pengorbanan gagah berani.
Minibalanar - 07/05/2012 01:07 PM
#59

Gundukan Pupuk Kandang
Hal-hal yang tak menyenangkan, seperti duduk di peringkat terbawah di kelas kita, terjadi dalam kehidupan. Hal-hal itu dapat terjadi pada setiap orang. Perbedaan antara orang yang bahagia dan orang yang tertekan hanyalah pada cara mereka bereaksi terhadap kemalangan.

Bayangkan Anda baru saja mengalami suatu sore yang indah di pantai bersama seorang teman. Ketika Anda kembali ke rumah, Anda mendapati gundukan pupuk kandang tepat di depan pintu rumah Anda. Ada tiga hal untuk diketahui sehubungan dengan gundukan pupuk kandang ini :

1. Anda tidak memesannya. Ini bukan kesalahan Anda.
2. Anda merasa kehabisan akal. Tidak ada yang melihat siapa yang menimbunnya di situ, jadi Anda tidak dapat menelepon pelakunya untuk menyingkirkan pupuk kandang itu.
3. Pupuk itu kotor dan semerbak memenuhi seluruh rumah Anda. Sungguh tak tertahankan.

Pada perumpamaan ini, gundukan pupuk kandang di depan rumah Anda melambangkan pengalaman-pengalaman traumatik yang menimpa kita dalam kehidupan. Seperti halnya dengan gundukan pupuk kandang itu, ada tiga hal untuk diketahui sehubungan dengan tragedi dalam kehidupan kita:

1. Kita tidak memesannya. Kita berkata, "Kenapa saya?"
2. Kita merasa kehabisan akal. Tak seorang pun, sekalipun teman terbaik kita, dapat menyingkirkannya (meski mereka telah mencoba).
3. Tragedi itu sangat menyakitkan, penghancuran kebahagiaan kita, dan rasa sakit yang ditimbulkannya menghantui sepanjang hidup kita. Sungguh tak tertahankan.

Ada dua cara merespon timpaan gundukan pupuk kandang itu. Cara pertama adalah membawa kotoran itu kemana-mana bersama kita. Kita taruh segenggam di saku kita, sebagian di tas kita, dan sebagian lagi di baju kita. Kita bahkan menaruhnya di celan panjang kita. Kita dapati, ketika kita membawa kotoran itu kemana-mana, kita kehilangan banyak teman! Bahkan teman-teman terbaik pun tampaknya jadi tak begitu sering lagi dekat-dekat dengan kita.

"Membawa kotoran ke mana-mana" adalah perumpamaan untuk keadaan tenggelam dalam depresi, hal-hal negatif, atau amarah, itu adalah sebuah respon terhadap kemalangan yang lumprah dan dapat dimaklumi. Tetapi kita kehilangan banyak teman, karena lumprah dan dapat dimaklumi pula jika teman-teman kita tak suka berada di samping kita yang selalu merasa dipresi. Lagi pula, dengan cara ini, gundukan kotoran itu sendiri tak menjadi berkurang, tetapi baunya malah bertambah busuk karena makin matang.

Untunglah, ada cara kedua. Ketika kita tertimpa gundukan pupuk kandang, kita menghela napas, dan setelah itu mulai bekerja. Ambil gerobak dorong, garu dan sekop. Kita garu kotoran itu ke gerobak dorong, membawanya ke belakang rumah, dan menguburnya di kebun kita. Memang ini sulit dan melelahkan, tetapi kita tahu tak ada pilihan lain. Kadang, kita hanya mampu mengatasi separuh gerobak saja dalam sehari, namun kita melakukan sesuatu yang menyelesaikan masalah, daripada hanya mengeluh saja dan terbenam dalam depresi. Dari hari ke hari, kita menggaru dan mengubur kotoran itu. Dari hari ke hari gundukan itu makin berkurang. Kadang diperlukan waktu beberapa tahun, namun pagi yang cerah tiba jugaketika gundukan kotoran di depan rumah kita tak berbekas lagi. Selanjutnya, sebuah keajaiban terjadi di belakang rumah kita. Bunga-bunga di kebun kita bermekaran dengan warna-warni memenuhi semua sudut. Keharuman menyebar sampai ke jalan, sehingga para tetangga dan bahkan orang lewat pun tersenyum bahagia karenanya. Lalu pohon buah di sudut taman yang hampir rubuh karena tergelayuti oleh buah-buahnya. Dan buahnya sunguh manis; Anda tidak dapat membeli buah seperti itu. Ada begitu banyak buah, sehingga kita dapat membaginya dengan para tetangga, bahkan orang yang lewat pun dapat ikut menikmati sedapnya rasa buah ajaib itu.


"Mengubur kotoran" adalah perumpamaan untuk menyambut datangnya tragedi sebagai penyubur bagi kehidupan kita. Itu pekerjaan yang harus kita lakukan sendiri; tak ada yang dapat membantu kita. Namun dengan menguburnya di taman hati kita, dari hari ke hari, gundukan rasa sakit itu akan makin berkurang. Bisa saja itu membutuhkan beberapa tahun, namun pagi yag cerah akan tiba tatkala kita melihat tak ada lagi rasa sakit di dalam hidup kita dan di dalam hati kita, sebuah keajaiban telah terjadi. Bunga-bunga kebajikan bermekaran memenuhi seluruh tempat, dan harum cinta menyebar sampai jauh, para tetangga kita, teman kita, bahkan samapi juga ke orang-orang yang tak kita kenal. Lalu pohon kebijaksanaan yang tumbuh di sudut taman hati kita menjadi tergelayut karena saratnya buah pencerahan akan hakikat kehidupan. Kita dapat membagi-bagikan buah-buah yang enak itu dengan gratis, bahkan kepada orang-orang yang tak kita kenal, tanpa sengaja merencanakannya.

Ketika kita telah mengenal rasa sakit yang tragis, pelajarilah pelajaran yang diberikannya, dan tumbuhkan taman kita, lalu kita dapat merangkulkan lengan kita ke dalam tragedi yang mendalam dan berkata, dengan lembut, "Aku tahu." Mereka akan tahu bahwa kita telah paham. Belas kasih dimulai. Kita tunjukkan pada mereka gerobak dorong, garu sekop dan dorongan semangat tanpa batas. Jika kita belum dapat menumbuhkembangkan taman kita sendiri, semuai ini tak dapat kita lakukan.

Saya mengenal banyak biksu yang piawai dalm bermeditasi, yang penuh kedamaian, tenang dan tentram dalam menghadapi kemalangan, tetapi hanya sedikit di antaranya yang menjadi guru hebat. Saya sering heran, mengapa begitu.

Sekarang menjadi jelas bagi saya bahwa biksu-biksu yng relatif tidak tertimpa banyak kemalangan, yang memiliki sedikit kotoran untuk dikuburkan, adalah mereka yang tidak menjadi guru-guru hebat. Adalah biksu-biksu yang mengalami kesukaran yang besar, dengan diam menguburkannya, dan datang dengan taman yang subur, adalah mereka yang menjadi guru-guru hebat. Mereka semua memiliki kebijaksanaan, ketenangan dan welas asih; tetapi hanya mereka yang memiliki kotoran lebih banyaklah yang dapat membaginya pada dunia. Guru saya, Ajahn Chan, yang bagi saya pribadi adalah menara dari semua guru, pasti memiliki armada truk yang mengangkut pupuk kandang yang berjejer di depan pintu rumahnya, pada masa-masa awal kehidupannya.

Barangkali pesan moral dari cerita ini adalah, jika Anda ingin melayani dunia, jika Anda ingin mengikuti jalan belas kasih, maka bila suatu ketika terjadi tragedi dalam hidup Anda. Anda dapat berkata, "Cihui! Aku dapat banyak pupuk untuk taman hatiku."
Minibalanar - 07/05/2012 01:11 PM
#60

Terlalu Berlebihan Berharap

Terlalu berlebihan berharap untuk hidup tanpa rasa sakit,

Adalah salah berharap untuk hidup tanpa rasa sakit,

Karena rasa sakit adalah pertahanan tubuh kita.

Tak peduli seberapa tak sukanya kita,

Dan tak ada yang suka rasa sakit,

Rasa sakit itu penting,

Dan kepada rasa sakitlah kita harus berterima kasih.

Bagaimana lagi kita bisa tahu,

Untuk menarik tangan kita dari api?

Jari kita dari belati?

Kaki kita dari duri?

Jadi rasa sakit itu penting

Dan kepada rasa sakitlah kita harus berterima kasih.

Namun,

Ada sejenis rasa sakit yang tak ada gunanya,

Itulah rasa sakit kronis,

Itulah pasukan elite rasa sakit yang bukan untuk pertahanan,

Itu adalah kekuatan yang menyerang.

Penyerang dari dalam,

Penghancur kebahagiaan pribadi,

Penyerang ganas bagi kemampuan pribadi,

Penyerbu tak kenal lelah bagi kedamaian pribadi,

Dan, pelecehan berkelanjutan bagi hidup!

Rasa sakit kronis adalah aral rintang terberat bagi pikiran.

Kadang rasa sakit itu nyaris mustahil untuk dilampaui,

Namun, kita harus tetap mencoba,

Dan mencoba,

Dan mencoba,

Sebab jika tidak, ia akan menghancurkan kita.

Dan

Dari pertempuran itu akan muncul hal-hal yang baik,

Kepuasan penaklukan rasa sakit.

Pencapaian kebahagiaan dan kedamaian,

Pada kehidupan sekalipun darinya.

Itu sungguhlah suatu pencapaian,

Pencapaian yang sangat istimewa, sangat pribadi,

Rasa akan kekuatan,

Kekuatan batiniah,

Yang harus dialami untuk bisa dipahami.

Jadi, kita semua harus menerima rasa sakit,

Sekalipun rasas sakit yang merusak.

Karena itu bagian dari segala sesuatu,

Dan pikiran dapat mengatasinya,

Dan pikiran akan menjadi lebih kuat dalam mengalaminya.

~ Jonathan Wilson-Fuller~

Alasan untuk menyertakan puisi diatas, atas perkenan dari penulisnya, adalah karena puisi tersebut ditulis oleh Jonathan pada saat dia baru berumur 9 tahun!
Page 3 of 9 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›
Home > CASCISCUS > BUKU new > AJAHN BRAHMAVAMSO dan Bukunya