BUKU new
Home > CASCISCUS > BUKU new > AJAHN BRAHMAVAMSO dan Bukunya
Total Views: 3945 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 4 of 9 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 > 

Minibalanar - 07/05/2012 01:24 PM
#61

MUNGKIN MEMANG ADIL

Sering kali saat kita mengalami depresi, kita berpikir " ini tidak adil! Mengapa aku?" Akan sedikit melegakan jika hidup ini lebih adil.

Seorang Narapidana paruh baya di kelas Meditasi yang saya ajarkan di penjara minta bertemu dengan saya setelah sesi selesai..
Dia telah mengikuti sesi2 saya selama beberapa bulan & saya telah cukup mengenalnya..

'BRAHM' Katanya..
'Saya ingin memberi tahu Anda bahwa saya tidak melakukan Kejahatan yang membuat saya terkunci di penjara ini..
Saya tidak bersalah..
Saya tahu beberapa penjahat mungkin akan mengatakan hal yang sama & berbohong,
Tetapi saya mengatakan yang sebenarnya kepada Anda..
Saya tidak akan berbohong kepada Anda, BRAHM,
Tidak kepada Anda'

Saya percaya kepadanya..
Keadaan & sikapnya membuat saya yakin bahwa dia tidak berbohong..
Saya mulai berpikir betapa tak adilnya ini &
Bertanya2 bagaimana saya bisa memperbaiki ketidakadilan yang mengerikan ini..

Namun dia menyela pikiran saya..
Dengan tersenyum nakal,
Dia berkata :
'Tetapi BRAHM,
Ada banyak kejahatan lain yang saya perbuat,
Tetapi saya tak tertangkap..
Jadi saya kira apa yang terjadi sekarang ini memang ADIL'

Saya tertawa terbahak2..
Rupanya si Tua Bangka ini memahami Hukum KARMA,
Bahkan lebih Baik daripada beberapa Biksu yang saya kenal..

Berapa seringkah kita melakukan 'Kejahatan' yang begitu melukai,
Tindakan yang penuh kedengkian,
Tetapi kita tidak dibuat menderita olehnya?
Apakah kita pernah berkata
'Ini tidak adil !
Mengapa aku tidak ditangkap?'

Ketika kita dibuat menderita oleh suatu alasan yang tidak jelas,
Belum2 kita sudah mengerang..
Bahkan terkadang mengalami Depresi & kita berpikir :
'Ini tidak adil !
Mengapa aku?'

Barangkali itu sebenarnya ADIL..
Seperti Napi yang saya ceritakan,
Barangkali ada banyak 'Kejahatan' lain yang kita perbuat, tetapi kita tak tertangkap..
Inilah yang menjadikan HIDUP ini sebenarnya ADIL..
Minibalanar - 07/05/2012 07:19 PM
#62

Hukum Karma



Kebanyakan orang Barat salah mengerti tentang hukum karma. Mereka beranggapan bahwa hukum karma adalah faham fatalisme, dimana seseorang ditakdirkan menderita atas kejahatan yang tak diketahui pada kehidupan lampau yang telah terlupakan. Itu tidaklah benar, seperti yang akan ditunjukkan oleh cerita berikut ini.

Dua orang perempuan masing-masing sedang membuat kue.

Perempuan yang pertama memiliki bahan-bahan yang memprihatinkan. Terigu tua yang lumutan, sehingga gumpalan-gumpalan hijaunya harus ditampi terlebih dahulu. Mentega yang diperkaya kolesterol yang sudah agak masam. Dia harus menyisihkan bongkahan-bongkahan colat dari gula pasirnya (karena seseorang telah menyendok dengan sendok basah bekas mengaduk kopi), dan satu-satunya buah yang dipunyai adalah kismis purba, sekeras uranium. Dan dapurnya bergaya "Pra- Perang Dunia"--entah Dunia yang mana.

Perempuan kedua memiliki bahan-bahan terbaik. Tepung terigu murni hasil cocok tanam organik, dijamin bukan hasil rekayasa genetik. Dan punya mentega bebas kolesterol, gula pasir dan buah-buahan segar langsung dari kebun sendiri. Dan dapurnya adalah dapur mutakhir, dengan segala peralatan modern.

Perempuan mana yang membuat kue yang lebih enak?

Acapkali, bukan orang yang memiliki bahan-bahan terbaiklah yang dapat membuat kue terbaik—ada yang lebih dari sekedar bahan baku. Kadang-kadang orang dengan bahan-bahan yang mengenaskan mengerahkan segenap daya, perhatian dan cintanya untuk memanggang kuenya sehingga menghaslkan kue yang terlezat. Apa yang kita lakukan dengan bahan-bahanlah yang membuat kue jadi berbeda.

Saya punya beberapa teman yang memiliki bahan-bahan yang menyedihkan dalam hidupnya: mereka lahir dalam kemiskinan, korban kekerasan terhadap anak, tidak pintar di sekolah, mungkin cacat dan tidak mahir olahraga. Namun segelintir kualitas yang mereka miliki mereka racik dengan begitu baik, sehingga menghasilkan kue yang begitu mengagumkan. Saya betul-betul mengagumi mereka. Kenalkah Anda dengan orang-orang seperti ini?

Setengah dari karma adalah bahan-bahan yang kita miliki. Setengah sisanya, bagian yang paling menentukan, adalah apa yang kita lakukan dengan bahan-bahan tersebut, dalam hidup ini.
Minibalanar - 07/05/2012 07:22 PM
#63

Minum Teh Ketika Tak Ada Jalan Keluar

Selalu saja ada sesuatu yang dapat kita perbuat dengan bahan-bahan dalam diri kita, bahkan jika sesuatu itu cuma duduk –duduk saja, menikmati cangkir terakhir teh kita. Kisah berikut ini akan menceritakan seseorang yang pernah bertugas sebagi tentara Inggris pada Perang Dunia II.
Saat itu dia sedang berpatroli di tengah hutan belantara Myanmar; masih muda, jauh dari rumah dan sangat ketakutan. Prajurit pengintai dari kestuannyatelah kembali dan melaporkan berita yang mengerikan kepada kapten. Patrol kci mereka telah terjegal oleh sekelompok besar tentara Jepang. Pasukan mereka kalah banyak dan terkepung rapat. Prajurit muda Inggris itu telah mempersiapkan diri untuk mati.
Dia berharap sang kapten memerintah orang-orangnya untuk bertempur supaya mereka dapat keluar dari kepungan musuh; itu adalah hal yang jantan untuk dilakukan. Mudaah-mudahan seseorang akan melakukannya. Jika tidak, yah, mereka akan mengajak mati beberapa musuh; itulah yang dilakukan oleh para prajurit.
Tetapi yang jadi kapten bukan prajurit itu. Sang kapten memerintahkan orang-orangnya untuk tetap diam, duduk dan membuat secangkir the. Ini tentara kerajaan Inggris, Bung!
Si prajurit berpikir bahwa kepala pasukannya sudah pasti sinting. Bagaimana seseorang bisa memikirkan secangkir teh saat terkepung musuh, tanpa jalan keluar dan terancam mati? Dalam ketentaraan, khususnya saat perang, setiap perintah harus dipatuhi. Jadi mereka semua membuat secangkir teh, yang mereka piker akan menjadi secangkir teh masing-masing. Sebelum mereka menghabiskan tehnya, prajurit pengintai kembali lagi dan berbisik kepada kapten. Sang kapten lalu meminta perhatian semua perajuritnya. “Musuh telah pergi!”dia mengumumkan. “Sekarang ada jalan keluar. Kemas semua barang dan perlengkapan kalian dengan cepat, dan jangan berisik—ayo pergi!!!.
Mereka semua pergi dengan selamat, maka dari itu si prajurit bisa bercerita. Dia memberi tahu bahwa dia berhutang budi pada kebijaksanaan kaptennya, bukan hanya ketika perang Myanmar, tetapi sepanjang hidupnya semenjak itu. Beberapa kali dalam hidupnya dia merasa terkepung oleh musuh yang jumlahnya luar biasa, tanpa jalan keluar dan hampir mati. Apa yang dia maksudkan “musuh” adalah penyakit parah, kesulitan yang luar biasa dan tragedy di tengah-tengah keadaan yang seolah tidak ada jalan keluar. Tanpa pengalaman yang dialaminya di Myanmar, dia pasti mencoba bertempur terus melawan masalahnya, dan tidak diragukan lagi, itu malah akan membuat masalahnya semakin buruk. Tetapi sebaliknya, saat kematian atau masalah maut mengepungnya dari segala penjuru, dengan tenang dia duduk dan membuat secangkir teh.
Dunia ini selalu berubah, kehidupan adalah aliran pelabuhan yang terus-menerus. Dia meminum tehnya, menghemat kekuatannya, dan menantikan saatnya, yang pasti datang, saat dia dapat melakukan sesuatu dengan efektif, misalnya melarikan diri.
Bagi mereka yang tak suka teh, ingat-ingat saja pepatah berikut ini, “Ketika tak ada yang perlu dilakukan, ya jangan ngapa-ngapain!!!” mungkin kedengarannya aneh, tapi hal itu juga bisa menyelamatkan hidup anda .
Minibalanar - 07/05/2012 07:23 PM
#64

Mengalir Bersama Arus
Seorang biksu bijak, yang telah bertahun-tahun saya kenal, tengah bergerak jalan bersama seorang kawan lamanya di sebuah padang. Pada penghujung senja yang terik, mereka tiba di bentangan yang sangat indah dari sebuah pantai yang tersembunyi. Sekalipun ada peraturan bahwa biksu dilarang berenang untuk bersenang-senang, tetapi air biru menggodanya dan dia perlu mendinginkan tubuh selepas perjalanan panjang, jadi dia melepas jubahnya dan pergi berenang.

Saat dia masih muda sebagai umat awam, dia adalah perenang yang tangguh. Namun sekarang, setelah begitu lama menjadi biksu, sudah bertahun-tahun dia tidak pernah berenang lagi. Tak berapa lama setelah dia menceburkan diri kedalam ombak yang bergelora, dia terperangkap di tengah ombak pasang yang kuat yang mulai menyeretnya ke tengah laut. Nantinya dia baru diberitahu bahwa pantai itu sangat berbahaya karena arusnya yang ganas.

Mulanya, biksu tsb mencoba berenang melawan arus. Dia segera sadar bahwa arus itu terlalu kuat baginya. Latihan-latihan yang selama ini dia jalani sekarang datang sebagai penolongnya. Dia lalu bersikap santai, melepas, dan mengalir bersama arus.

Sebuah tindakan yang memerlukan keberanian besar untuk dapat bersikap santai dalam situasi seperti itu, tatkala dia melihat garis pantai terus menjauh. Dia berada ratusan meter dari daratan ketika kekuatan arus mulai berkurang. Barulah sesudah itu dia mulai berenang menjauhi ombang pasang menuju garis pantai.

Dia bercerita kepada saya bahwa berenang kembali ke pantai benar-benar menguras habis seluruh tenanganya. Dia mencapai dartan dalam keadaan amat kelelahan. Dia yakin bahwa jika dia terus mencoba melawan arus, arus itu pasti sudah mengalahkannya. Dia akan terseret ke tengah laut, sama halnya kalau dia mengikuti arus, tetapi dengan tenaga yang sudah terkuras habis sehingga tidak memungkinkan baginya untuk berenang kembali ke pantai. Jika saja dia tidak membiarkan dan mengalir bersama arus, dia yakin dia pasti sudah tenggelam.

Cerita tsb menunjukkan bahwa pepatah, "Ketika tak ada yang perlu dilakukan, ya jangan ngapa-ngapain," bukanlah teori khayalan. Malahan, itu bisa menjadi kebijaksanaan penyelamat kehidupan. Ketika arus terlalu kuat bagi Anda, itulah saatnya untuk mengalir bersama arus. Ketika Anda mampu bertindak dengan efektif, itulah saatnya untuk mengerahkan upaya.
Minibalanar - 07/05/2012 07:24 PM
#65

Terjebak di Antara Macan dan Ular
Ada sebuah cerita kuno Buddhis, yang seperti cerita sebelumnya, menggambarkan mengenai bagaimana kira-kira respon kita dalam menghadapi krisis antara hidup dan mati.

Seorang lelaki berlari tunggang langgang dikejar oleh seekor macan di hutan. Macan dapat berlari lebih cepat daripada manusia dan mereka juga makan manusia. Macan itu sedang lapar ; lelaki itu dalam kesulitan.

Ketika macan hampir saja berhasil menerkamnya, orang itu melihat sebuah sumur di pinggir jalan. Dalam keputusasaannya, tanpa pikir panjang dia melompat ke dalam sumur itu. Segera saja dia sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan fatal. Sumur itu kering dan di dasarnya, dia melihat segulung besar ular hitam.

Secara naluriah dia menggapaikan lengannya untuk meraih tepi sumur, dan tangannya menemukan sebuah akar pohon yang mampu menahan laju kejatuhannya. Ketika dia telah merasa cukup tenang, dia melihat si ular hitam menjulurkan tubuhnya setinggi mungkin untuk mencoba menyerang kakinya, tetapi kakinya sejengkal lebih tinggi. Dia lalu mendongakkan kepala dan melihat si macan mencondongkan tubuhnya di bibir sumur untuk mencoba mencakarnya dari atas ; tetapi tangannya sejengkal lebih jauh dari si macan. Selama dia merenungkan keadaannya yang mengenaskan itu, dia melihat dua ekor tikus, yang satu hitam dan lainnya putih, muncul dari sebuah lubang kecil dan mulai mengerat akar pohon yang dipegangnya.

Selama si macan mencoba mencakarnya, kaki belakangnya berpijak pada sebuah pohon kecil di tepi sumur yang menyebabkan pohon itu bergoyang-goyang. Pada salah satu dahan pohon yang menjuntai dari atas sumur, terdapat sebuah sarang lebah, madu pun mulai menetes jatuh ke dalam sumur. Melihat tetesan madu, lelaki itu menjulurkan lidahnya untuk menangkap tetesan madu tersebut.

"Mmmm ! Sedap sekali," dia berkata kepada dirinya sendiri dan tersenyum.

Kisah itu, sebagaimana diceritakan secara tradisi, berakhir sampai di situ saja. Itulah sebabnya kisah itu menjadi kisah sejati bagi kehidupan. Karena kehidupan, sebagaimana sinetron televisi yang bertele-tele, tidak punya akhir yang rapi. Kehidupan ini selamanya dalam proses penuntasan.

Lebih lanjut, sering dalam kehidupan ini kita bagaikan terjebak di antara macan lapar dan ular hitam, di antara kematian dan sesuatu yang lebih buruk, dengan siang dan malam (kedua tikus) mengunyah-ngunyah seutas tali kehidupan tempat kita bergantung. Bahkan dalam situasi yang menakutkan seperti itu selalu ada saja madu yang menetes entah dari mana. Jika kita bijaksana, kita akan menjulurkan lidah untuk menikmati tetes-tetes madu itu. Mengapa tidak ? Ketika tak ada yg perlu dilakukan, ya jangan ngapa-ngapain, nikmati saja tetes-tetes madu kehidupan.

Seperti yang saya katakan, secara tradisional kisah itu berakhir di sini. Namun demikian, dalam rangka membuat sebuah kesimpulan, saya biasanya menceritakan akhir yang sebenarnya dari kisah itu kepada pemirsa saya. Inilah yang terjadi berikutnya.

Tatkala lelaki itu menikmati tetesan madu, tikus-tikus terus mengerat akar pohon sehingga menjadi makin tipis dan makin tipis saja. Si ular hitam pun terus menjulur-julurkan tubuhnya makin dekat dengan kaki si lelaki ; sementara si macan terus mencondongkan tubuhnya lebih dalam lagi hingga cakarnya nyaris menjangkau tangan si lelaki. Lalu si macan dengan penuh semangat mencondongkan kembali tubuhnya lebih dalam lagi, tiba-tiba dia terjatuh ke dalam sumur, meluncur melewati lelaki itu dan menimpa si ular sampai mati ; macan itu pun sekarat di dasar sumur.

Yah, itu bisa saja terjadi ! Dan sesuatu yang tak terduga biasanya terjadi. Begitulah kehidupan kita. Jadi mengapa menyia-nyiakan momen manisnya madu, bahkan bila kita berada dalam masalah yang benar-benar pelik sekalipun. Masa depan itu tak pasti, kita tak pernah tahu pasti apa yang akan terjadi kemudian.


Masa Depan itu tak pasti, Kita tak pernah tahu pasti apa yang akan terjadi kemudian.
Dan saat segala Masalah yang pelik telah sirna, hidup tidak selalu harus tidak berbuat apa-apa, Menikmati Madu!
Hidup juga harus diperjuangkan dengan segenap daya, agar Hidup dapat semakin Hidup.


KEHIDUPAN tak akan pernah luput dari Masalah, Percobaan dan Penderitaan.

Setiap orang punya kisah duka nestapa sendiri-sendiri, tergantung bagaimana cara kita menyikapi.

Kebanyakan kita melihat hanya dari segi Derita, Nestapa, Masalah, Cobaan tersebut. Sehingga dalam HIDUP tak ada SUKA CITA sedikit pun yang tersisa.
Hanya ada Kesedihan, Duka, Amarah, Kejengkelan dan Perasaan-perasaan Negatif lainnya.
Tidak heran, sering kita temui orang-orang yang mengalami Depresi, Penyakit Psikosomatis,
Bahkan sampai Bunuh Diri.

Alangkah INDAH Kehidupan di Dunia,
Jika kita senantiasa bisa mencari Sisi POSITIF dari segala yang kita alami dan Mampu menikmatinya.
Belajarlah untuk Senantiasa BERSYUKUR.
Niscaya akan selalu ada SUKA CITA di dada.
Minibalanar - 07/05/2012 07:28 PM
#66

NASIHAT HIDUP


Dalam cerita sebelumnya,saat macan dan ularnya mati,itulah saat yang tepat bagi orang tersebut untuk melakukan sesuatu.Dia berhenti menikmati madu,dan dengan segenap daya untuk memanjat ke atas sumur,lalu berjalan keluar dari hutan menuju keselamatan.Hidup tidak selalu harus tidak berbuat apa-apa,menikmati madu.

Seorang pemuda dari Sydney bercerita kepada saya bahwa dia pernah bertemu dengan guru saya,Ajahn Chah,di Thailand,dan menerima nasihat terbaik dalam hidupnya.

Banyak pemuda barat yang tertarik dengan ajaran Buddha,mendengar tentang Ajahn Chah pada awal tahun 80’an.Pemuda ini memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Thailand,khusus untuk menemui sang bikkhu hebat dan mengajukan beberapa pertanyaan.

Sebuah perjalanan panjang.Sesampainya ke Bangkok,delapan jam dari Sydney,dia naik kereta api malam,sepuluh jam menuju Ubon.Di sana dia tawar menawar harga dengan seorang supir taksi untuk membawanya ke Wat Nong Pah Pong,wihara Ajahn Chah.Dalam keadaan lelah namun penuh semangat,akhirnya sampai juga dia di pondok Ajahn Chah.

Sang guru begitu terkenal.Dia sedang duduk di pondoknya,seperti biasa,dikelilingi oleh kerumunan besar orang yang terdiri dari para Bhikkhu dan jenderal,petani miskin dan pedagang kaya,perempuan dusun sederhana dan perempuan penuh riasan dari Bangkok,semua duduk bersisian.Tidak ada diskriminasi di bawah atap pondok Ajahn Chah.

Si pemuda Australia duduk di pojok kerumunan besar itu.dua jam berlalu dan bahkan Ajahn Chah sama sekali tidak memerhatikan kehadirannya.Terlalu banyak orang lain di depannya.Merasa sia-sia,dia pun bangkit dan berjalan keluar.

Dijalan keluar menuju gerbang utama,dia melihat beberapa Bhikkhu sedang menyapu dedaunan di sekitar menara lonceng.Masih ada satu jam sebelum taksi datang menjemput si pemuda di depan gerbang,jadi dia mengambil sebuah sapu,bermaksud untuk berbuat karma baik.

Sekitar tiga puluh menit kemudian,sewaktu sibuk menyapu,dia merasakan ada tangan seseorang di bahunya.Dia menbalikan badan dan dia kaget bercampur gembira,karena itu adalah tangan Ajahn Chah,yang sedang berdiri sambil tersenyum
dihadapannya.Ajahn Chah telah melihat si pemuda barat ini,tetapi tidak berkesempatan untuk menyapanya.Waktu itu,Ajahn Chah dalam perjalanan keluar wihara menuju ke tempat lain,jadi dia hanya berhenti sebentar di depan pemuda dari Sydney ini untuk memberinya sebuah hadiah.Ajahn Chah mengucapkan sesuatu dengan cepat dalam bahasa Thai,lalu berjalan keluar.

Bhikkhu penerjemah berkata kepadanya,” Ajahn Chah bilang bahwa jika kamu mau menyapu,curahkan segala yang ada pada dirimu.” Lalu penerjemah ini pun pergi menyusul Ajahn Chah.

Si pemuda berpikir mengenai ajaran singkat tadi dalam perjalanan panjang kembali ke Australia.Dia menyadari,tentu saja,bahwa Ajahn Chah telah mengajarkannya lebih dari sekedar bagaimana menyapu dedaunan.Artinya menjadi jelas baginya.
“ Apapun yang engkau lakukan,curahkan segala yang ada pada dirimu.”

Dia menceritakannya kembali kepada saya beberapa tahun kemudian di Australia bahwa nasehat hidup ini bernilai seratus kali perjalanan jauh yang telah di tempuhnya.
Nasehat itu sekarang telah menjadi semboyannya dan telah membawa kebahagiaan dan kesuksesan.saat dia sedang bekerja,dia mencurahkan segalanya (pada apa yang dikerjakan).Saat dia sedang istirahat,dia mencurahkan seluruh dirinya (untuk beristirahat total).Saat dia sedang bergaul,dia mencurahkan seluruh dirinya.Itulah rumus untuk sukses.Oh,dan saat dia sedang tidak melakukan apa-apa,dia juga mencurahkan segalanya(dengan tidak melakukan apa-apa).
Minibalanar - 07/05/2012 07:31 PM
#67

Apa Ada Masalah?

Filsuf dan matematikawan Prancis, Blaise Pascal (1623-1662) suatu kali berkata, “Segala masalah manusia disebabkan oleh ketidaktahuannya tentang bagaimana untuk duduk tenang”.

Saya akan menambahkan dengan ini ".. dan tidak tahu kapan saatnya duduk tenang."

Pada tahun 1967, Israel sedang berperang melawan Mesir, Syiria, dan Yordania. Di tengah-tengah peristiwa yang belakangan dikenal sebagai Perang Enam Hari itu, seorang wartawan bertanya kepada mantan Perdana Menteri Inggris, Harold Macmillan, apa pendapatnya tentang masalah di Timur Tengah itu.

Tanpa keragu-raguan, sang negarawan sepuh itu menjawab, “Tak ada masalah di Timur Tengah.” Si wartawan tertegun mendengar jawaban itu

“Apa maksud Anda ‘tak ada masalah di Timur Tengah’?” si wartawan penasaran. “Tak tahukah Anda bahwa sekarang sedang berlangsung perang yang ganas? Tak sadarkah Anda bahwa selama kita sedang berbicara ini, bom-bom jatuh dari langit, tank-tank meledakkan segala sesuatu, dan para prajurit diberondong butiran peluru. Banyak yang tewas atau terluka. Apa yang Anda maksud ‘tak ada masalah di Timur Tengah’?”

Dengan sabar negarawan yang berpengalaman itu menjelaskan. “Pak, sebuah masalah adalah seuatu yang memiliki solusi. Nah, tak ada solusi untuk apa yang sedang terjadi di Timur Tengah, oleh karenanya hal itu tidak bisa dikatakan sebagai sebuah masalah.”
Berapa banyak waktu dalam hidup yang kita sia-siakan karena mengkhawatirkan sesuatu yang, pada saat itu, tak memiliki solusi, dan karena itu, bukanlah sebuah masalah.
Minibalanar - 07/05/2012 07:33 PM
#68

Membuat Keputusan



Sebuah masalah dengan solusi memerlukan sebuah keputusan, namun bagaimanakah cara mengambil keputusan penting dalam hidup kita?

Biasanya kita mencoba mencari orang lain dan memintanya untuk membuat keputusan sulit bagi kita. Dengan begitu, jika kemudian terjadi sesuatu yang salah, kita punya seseorang sebagai kambing hitamnya. Beberapa teman saya pernah mencoba mengakali saya supaya membuat keputusan bagi mereka, tetapi saya menolak. Yang saya lakukan adalah menunjukkan kepada mereka bagaimana mereka bisa membuat keputusan yang bijaksana oleh diiri mereka sendiri.

Saat kita tiba dipersimpangan jalan dan tak yakin arah mana yang harus diambil, kita sebaiknya menepi, rehat sejenak, dan menanti sebuah bis. Segera, biasanya pada saat kita tak berharap, sebuah bis tiba. Di bagian depan bis umum ada tulisan yang menandakan tujuan dari bis itu. Jika tujuan Anda sama naiklah ke bis itu. Jika tidak, tunggulah, akan selalu ada bis lain yang datang.

Dengan kata lain, saat kita harus mengambil suatu keputusan dan tak yakin apa yang akan terjadi, kita sebaiknya menepi, rehat sejenak, dan menunggu. Segera, biasanya saat kita tak berharap, sebuah solusi akan menghampiri. Setiap solusi mempunyai tujuannya sendiri. Jika tujuannya cocok dengan tujuan kita, ambillah solusi itu. Jika tidak, kita tunggu lagi, akan selalu ada solusi lain yang akan datang.

Begitulah cara saya membuat keputusan. Saya mengumpulkan semua informasi dan menunggu kedatangan solusi. Sesuatu yang bagus akan selalu datang, asalkan saya tetap sabar. Biasanya dia datang dengan tak disangka-sangka, ketika saya tidak memikirkannya.
Minibalanar - 07/05/2012 07:36 PM
#69

Menyalahkan Orang Lain

Tatkala Anda tengah berusaha mengambil keputusan penting, anda bisa memilih untuk menggunakan strategi yang disarankan dalam cerita sebelum ini, namun anda tidak harus selalu mengikuti cara itu. Semuanya terserah anda. Jadi kalau ternyata gagal, jangan salahkan saya ya.

Suatu hari seorang mahasiswi datang menemui seorang biksu di wihara kami. Dia akan menempuh ujian penting dalam beberapa hari ke depan dan dia ingin biksu itu membacakan paritta untuknya, supaya dia bernasib baik. Sang biksu dengan baik hati memenuhinya, dengan pikiran hal itu akan memberikan mahasiswi itur rasa percaya diri. Semuanya gratis. Dia tidak memberi dana.

Kami tidak pernah melihat perempuan muda itu lagi, tetapi saya dengar dari teman-temannya, dia menyebarkan berita bahwa biksu-biksu di wihara kami payah, tidak bisa membaca paritta dengan benar. Ujiannya gagal.

Temannya juga menceritakan kepada saya bahwa dia gagal karena dia nyaris tidak belajar sama sekali. Dia adalah seorang cewek pesta. Dia berharap agar para biksu-lah yang mengurusi “hal-hal yang kurang penting”, bagian akademik dari kehidupan kampus.

Memang kelihatannya enak menyalahkan orang lain saat anda tertimpa hal-hal yang buruk, tetapi menyalahkan orang lain itu jarang menyelesaikan masalah.

Seseorang gatal-gatal di pantatnya
Dia menggaruk-garuk kepalanya
Gatalnya tidak akan hilang

Itulah cara Ajahn Chah menggambarkan orang yang menyalahkan orang lain, seperti halnya gatal-gatal di pantat dan menggaruk-garuk di kepala.
Minibalanar - 07/05/2012 07:39 PM
#70

Tiga Pertanyaan Kaisar

Saya menerima undangan untuk menjadi pembicara utama pada sebuah seminar pendidikkan di Perth. Saya heran kenapa undangan itu ditujukan kepada saya. Ketika saya tiba di kantor penyelenggara seminar itu, seorang wanita dengan tanda pengenal yg menunjukkan bahwa dia adalah penyelenggara seminar itu, datang menghampiri dan mengucapkan selamat datang kepada saya, "Apakah Anda ingat saya? tanyannya.
Ini adalah salah satu jenis pertanyaan yg paling berbahaya.
Saya memilih untuk terlihat bodoh dan menjawab , "Tidak".
Dia tersenyum dan mengatakan bahwa tujuh tahun yg lalu saya pernah memberi ceramah pada sebuah sekolah di mana dia adalah kepala sekolahnya. Sebuah kisah yg saya ceritakan disekolahnya telah mengubah arahan kariernya. Dia mengundurkan diri sebagai kepala sekolah. Dia kemudian bekerja dengan dengan tak kenal lelah untuk merancang sebuah program bagi anak2 terlantar-anak2 jalanan, pelacur2 dibawah umur, pecandu2 narkoba-untuk memberikan harapan baru kepada mereka, sesuai dengan situasi mereka. Kisah yg saya tuturkan, katanya telah menjadi falsafah yg mendasari programnya.Kisah ini diadaptasi dari sebuah buku yg disusun oleh Leo Tolstoy, yg saya baca saat masih sebagai mahasisiwa.
Dahulu kala seorang kaisar sedang mencari sebuah falsafah hidup. Dia memerlukan kebijaksanaan sebagai pedoman dan untuk mengembangkan dirinya. Agama dan falsafah yg ada pada saat itu tidak memuaskannya. Jadi dia mencari falsafahnya sendiri melalui pengalaman hidup.
Akhirnya dia menyadari bahwa dia hanya memerlukan jawaban atas tiga pertanyaan mendasar. Dengan tiga jawaban ini, dia akan mendapatkan semua pedoman kebijaksanaan yg diperlukannya. Tiga pertanyaan itu adalah :
1. Kapankah waktu yg paling penting?
2. Siapakah orang yg paling penting?
3. Apakah hal yg paling penting dilakukan?
Setelah melalui pencarian panjang, yg merupakan bagian terpanjang dalam cerita aslinya, akhirnya dia menemukan jawabannya saat mengunjungi seorang pertapa. Menurut anda, apa jawaban dari ketiga pertanyaan tersebut? Tolong lihat lagi pertanyaaannya. Heninglah sejenak, sebelum anda melanjutkan membaca.
Kita semua tahu jawaban untuk pertanyaan pertama, tetapi kita terlalu sering melupakannya. Tentu saja , waktu yg paling penting adalah 'saat ini". Itulah satu2-anya waktu yg kita miliki. Jadi jika anda ingin memberitahukan ayah atau ibu anda bahwa betapa anda benar2 menyayangi mereka, betapa anda berterima kasih karena mereka adalah orang tua Anda, lakukanlah sekarang juga. Jangan tunda besok. Bukan lima menit lagi. Sekarang. Lima menit lagi seringkali sudah terlambat.
Jika anda perlu meminta maaf kepada pasangan anda, jangan banyak berpikir segala alasan. Lakukan saja sekarang juga. Kesempatan mungkin tak pernah datang kembali. Raihlah momennya.
Jawaban untuk peretanyaan kedua benar2 bermaknamendalam. Hanya sedikit orang yg mampu menjawab dengan benar. Ketika sebagai mahasiswa saya membacanya, makna yg terkandung di dalam jawaban itu telah memutar-mutarkan saya selam berhari2. Makna jawaban itu tak terbayangkan mendalamnya. Jawabanya, orang yg paling penting adalah orang yg sedang bersama anda.
Saya teringat ketika menanyakan pertanyaan-2 tsb kpd beberapa profesor dikampus dan tak sepenuhnya didengarkan. Tampak luarnya mereka seperti mendengarkan, tetapi dalam hati mungkin mereka ingin saya cepat2 pergi. Mereka memililki urusan yg lebih penting untuk dikerjakan. Itulah yg saya rasakan; kecut rasanya.
Saya juga teringat saat memberanikan diri mendekati seorang dosen terkenal dan mengajukan sebuah pertanyaan pribadi, dan saya menjadi terkejut dan begitu gembira saat dia memberi perhatian penuh kepada saya. Banyak profesor lain menunggu untuk berbicara dengannya, dan saat itu saya hanyalh seorang mahasisiwa gondrong, namun saya merasa dihargai. Sungguh beda.
Komunikasi, dan cinta, hanya dapat dibagi tatkala seseorang yg bersama anda, tak peduli siapapun mereka, adalah orang yg paling penting sedunia bagi anda, pada saat itu.
Mereka merasakannya. Mereka mengetahuinya. Mereka menanggapinya.
Pasangan suami isteri seringkali mengeluhkan bahwa pasangan mereka tak sungguh2 mendengarkan mereka . Apa yg mereka maksudkan adalah pasangan mereka tidak membuat diri mereka dihargai lagi. Para pengacara perceraian harus mencari pekerjaan lain jika setiap pasangan ingat akan jawaban dari pertanyaan kedua kaisar, dan mempraktekkannya. Jadi tak peduli seberapa lelah atau sibuknya kita, saat kita bersama pasangan kita, kita membuat mereka menjadi orang paling penting sedunia.
Dalam dunia bisnis, dimana seseorang yg bersama kita adalah pelanggan potensial, jika pada saat itu kita memperlakukannya sebagai orang yg paling penting sedunia bagi kita, penjualan kita akan meningkat, dan begitu pula penghasilan kita.
Dalam kisah aslinya, sang kaisar selamat dari usaha pembunuhan atas dirinya karena sungguh2 mendengarkan saran dari seorang anak kecil dalam perjalanan menemui sang petapa. Ketika seorang kaisar yg sangat berkuasa sedang bersama dengan seorang anak kecil, anak itu menjadi orang yg paling penting sedunia baginya, dan hal itu telah menyelamatkan hidupnya.
Setelah hari yg melelhkan, ketika seorang teman datang untuk mencurahkan masalhnya kepada saya, saya ingat akan jawaban untuk pertanyaan kedua kaisar, dan memberikan seluruh perhatian saya kepada mereka. Itu adalah tindakan tak mementingkan diri sendiri. Belas kasih memasok energi, dan itu bisa jalan.
Penyelenggara seminar pendidikkan itupun, dalam wawancara pertamanya dengan anak2 yg akan dientaskannya menerpakan prinsip "orang yg paling penting adalah org yg bersama anda" . bagi banyak dr anak2 tsb, itulah pertama kalinya mereka merasa dihargai, khususnya oleh orang dewasa. Lebih2, dengan menghargai mereka, dia benar2 mendengarkan, tak hanya menghakimi. Anak2 itu didengarkan. Program2- pun dirancang sesuai dgn kebutuhan dan situasi mereka. Anak2 itu merasa dihormati, dan programpun berhasil. Saya akhirnya tak lagi menjadi pembicara utama. Salah seorang dari anak2 itu berbicara setelah saya. Dia menuturkan cerita tetntang masalah2 keluarganya, narkoba, kejahatan, dan bagaimana program itu telah mengembalikan harapan kedalam hidupnya, dan bagaimana dia akan segera duduk dibangku kuliah. Mata saya tersa basah pada penghujung cerita. Itulah pembicara utamanya.
Saat terbanyak dalam hidup anda adalh saat Anda bersama diri sendiri. karenanya, orang yg paling penting, orang yg sedang bersama anda, adalah Anda. Ada banyak waktu untuk memebrikan penghargaan bagi diri Anda sendiri. Siapakah orang pertama yg Anda sadari saat bangun tidur pada pagi hari? Diri anda! Pernahkah Anda menyapa " Selamat pagi diriku. Hari yg cerah!'? Saya melakukannya. Siapakah orang yg terakhir yg anda sadari saat berangkat tidur? Diri Anda sendiri lagi! Saya mengucapkan selamat malam kepada diri saya. Saya memberikan penghargaan pada diri saya sendiri pada saat2 pribadi. Itu manjur lho.
Jawaban untuk pertanyaan ketiga sang kaisar " apakah hal yg paling penting untuk dilakukan?" adalah peduli, " Peduli" berarti "berhati2" dan "mempedulikan". jawaban itu melukiskan bahwa hal yg terpenting adalah mengerti asal muasal diri kita. Sebelum menggambarkan apa yg dimaksud dengan peduli, melalui beberapa cerita, saya merangkum tiga pertanyaan kaisar berikut jawabannya:
1. Kapankah waktu yg paling penting? Saat ini
2. Siapakah orang yg paling penting? Orang yg sedang bersama kita
3. Apakah hal yg paling penting untuk dilakukan? Peduli
Minibalanar - 07/05/2012 07:42 PM
#71

Sapi Yang Menangis

Saya tiba lebih awal untuk memimpin kelas meditasi di sebuah penjara dengan pengamanan minim. Seorang narapidana yang tak pernah saya jumpai sebelumnya, telah menunggu untuk berbicara dengan saya. Dia seorang manusia sebesar raksasa dengan rambut seperti semak belukar, berjanggut, dengan lengan-lengan penuh tato; bekas luka di wajahnya memberitahukan saya bahwa dia telah mengalami banyak perkelahian sadis. Dia terlihat begitu menakutkan sampai-sampai saya heran kenapa dia datang untuk belajar meditasi. Dia bukan jenis orang yang belajar meditasi. Tentu saja saya salah.

Dia berkata kepada saya bahwa belum lama ini terjadi sesuatu yang telah menghantui pikirannya. Saat dia mulai berbicara, saya menangkap kesan Ulster-nya yang kental. Untuk memberikan gambaran latar belakang, dia bercerita bahwa dia tumbuh besar di jalanan Belfast yang penuh kekerasan. Kasus penikamannya yang pertama terjadi pada saat dia baru berumur tujuh tahun. Seorang berandal di sekolah meminta uang bekal makan siangnya. Dia bilang tidak. Si anak yang lebih tua itu lalu menghunus sebilah pisau panjang dan untuk kedua kalinya meminta uang. Dia kira itu cuma gertak sambal saja. Sekali lagi dia bilang tidak. Si penggertak tak pernah meminta untuk ketiga kalinya, dia langsung menikamkan pisaunya ke lengan si anak tujuh tahun, mencabutnya dan langsung kabur.

Dia bercerita bahwa dalam keterkejutan dia berlari pulang dari halaman sekolah, dengan darah mengucur dari lengannya, menuju rumah ayahnya yang tak jauh dari situ. Ayahnya yang pengangguran melihat sekilas pada lukanya lalu membawanya ke dapur, tetapi bukan untuk membalut lukanya. Sang ayah membuka laci dapur, mengambil sebuah pisau dapur yang besar, memberikannya kepada putranya, dan menyuruhnya kembali ke sekolah untuk membalas menikam si penggertak. Begitulah dia dibesarkan. Jika dia tidak tumbuh demikian besar dan kuat, pastilah dia sudah lama tewas.

Penjara itu memiliki peternakan di dalamnya, di mana para napi dengan masa hukuman pendek atau napi yang tak lama akan dibebaskan, dapat bersiap menghadapi kehidupan bebas di antaranya dengan belajar mengenai perdagangan dalam industri peternakan. Lebih lanjut, penjara ini memasok produk-produk makanan murah ke seluruh penjara di Perth, sehingga dapat menekan biaya. Peternakan Australia mengembangbiakan sapi, domba, dan babi, tidak hanya gandum dan sayur mayur; begitu pula dengan penjara yang satu ini. Namun tidak seperti peternakan lainnya, penjara ini mempunyai rumah jagalnya sendiri; langsung di tempat.

Setiap napi wajib punya pekerjaan di penjara ini. Saya mendapat informasi dari beberapa penghuni penjara bahwa pekerjaan sampingan yang paling banyak dicari adalah pekerjaan di rumah jagal. Pekerjaan ini terutama populer di kalangan para pelanggar kekerasan. Dan pekerjaan yang paling disukai, bahkan Anda harus bertarung mendapatkannya, adalah pekerjaan sebagai penjagal itu sendiri. Si raksasa Irlandia yang menakutkan itu adalah seorang penjagal.

Dia menggambarkan keadaan rumah penjagalan itu kepada saya. Pintu berjeruji dari baja antikarat yang super-kuat, lebar pada pembukaannya, turun menyempit ke sebuah lorong tunggal di dalam gedung, yang lebarnya hanya pas untuk satu ekor hewan pada satu saat. Di ujung lorong sempit itu, di atas sebuah landasan, dia kanan berdiri sambil memegang sebuah senapan listrik. Sapi, babi, atau domba akan dipaksa masuk ke lorong antikarat tersebut dengan menggunakan anjing-anjing dan cambuk. Dia berkata bahwa hewan-hewan itu akan selalu menjerit-jerit, dengan caranya masing-masing, mencoba untuk melarikan diri. Hewan-hewan itu dapat mencium bau kematian, mendengar suara kematian, merasakan kehadiran maut. Saat seekor hewan telah berada di sepanjang landasan, dia akan menggeliat, meronta, dan mengeluh dengan suara keras. Meskipun senapan listriknya mampu mematikan seekor banteng besar dengan sekali sengatan tegangan tinggi, tetapi hewan-hewan itu tak pernah berdiam cukup lama sampai dia dapat membidik dengan baik. Jadi ada sekali tembakan untuk membuat hewan itu terdiam, dan tembakan berikutnya untuk mematikannya. Satu tembakan untuk mendiamkan, tembakan berikut untuk mematikan. Hewan demi hewan. Hari demi hari. Orang Irlandia ini selalu merasa bergairah setiap kali mengalami kejadian itu, sampai beberapa hari belakangan ini, saat sesuatu yang sangat merisaukannya terjadi. Dia mulai menyumpah. Selanjutnya, dia terus mengulang, “Demi Tuhan, ini sungguhan!” Dia khawatir kalau saya tidak mempercayainya.

Pada hari itu mereka membutuhkan daging sapi untuk penjara-penjara di sekitar Perth. Mereka tengah menjagal sapi. Satu tembakan untuk mendiamkan, tembakan berikut untuk membunuh. Dia menjalani hari-hari pembantaian seperti biasanya, sampai seekor sapi datang mendekat, dia belum pernah melihat ini sebelumnya. Sapi yang ini tenang. Bahkan tak terdengar suara lenguhan. Kepalanya menunduk ketika dia berjalan dengan penuh sengaja, dengan sukarela, perlahan-lahan menuju tempat di ujung landasan. Dia tak menggeliat, meronta, atau mencoba kabur. Begitu berada di posisinya, sapi itu mengangkat kepalanya dan memandang penjagalnya, dalam diam mencekam.

Belum pernah si Irlandia ini melihat hal-hal semacam ini sebelumnya. Pikirannya menjadi mati-rasa oleh kebingungan. Dia tak mampu mengangkat senapannya; pun tak mampu melepas tatapan matanya dari mata sapi itu. Sapi tersebut melihat tepat ke dalam dirinya. Dia tergelincir ke dalam ruang tanpa waktu. Dia tak dapat memberitahu saya berapa lama kejadian itu berlangsung, tetapi tatkala sapi itu membekukannya melalui kontak mata, dia memperhatikan sesuatu yang bahkan lebih menohoknya. Sapi memiliki mata yang sangat besar. Dia melihat pada mata kiri sapi itu, di atas kelopak bawahnya, air mulai merambang. Gumpalan air mata itu makin bertambah terus, sampai kelopak matanya tak dapat menampungnya lagi, air itu mulai menetes jatuh menyusuri pipinya, membentuk sungai air mata yang berkilauan tertimpa cahaya. Pintu relung hatinya mulai terbuka perlahan-lahan. Dalam ketidakpercayaan, dia melihat mata kanan sapi itu, di atas kelopak bawahnya, terkumpul lebih banyak air mata, yang terus berkumpul, melampaui daya tampung kelopaknya. Sebuah sungai air mata kedua menyusuri wajah sapi itu. Dan si besar Irlandia itu pun terkulai. Sapi itu menangis.

Dia bercerita kepada saya bahwa dia membuang senapannya, bersumpah bahwa petugas penjara boleh melakukan apa saja atas dirinya sejauh batas kemampuannya, ASALKAN SAPI ITU JANGAN DIBUNUH!

Dia mengakhiri kisahnya dengan memberi tahu saya bahwa dia sekarang menjadi seorang vegetarian (sayuranis).

Ini kisah nyata. Para penghuni lain di penjara itu mengkonfirmasikan kebenarannya kepada saya. Seekor sapi yang menangis telah mengajarkan seorang pria yang paling kejam arti kepedulian.
willly - 10/05/2012 12:13 PM
#72

ada ebooknya gak?hehehe
PM ya
Minibalanar - 10/05/2012 12:52 PM
#73

Quote:
Original Posted By willly
ada ebooknya gak?hehehe
PM ya


Tidak gan \)
Minibalanar - 14/05/2012 08:19 PM
#74

Sang Ular Jahat

Cerita terakhir mengenai ular dalam buku ini merupakan sebuah cerita Jataka Kuno. Cerita ini menunjukkan, untuk menjadi “baik” dan “peduli sesama”, tidak selalu berarti kita harus menjadi lembek, lemah dan pasif.

Seekor ulat jahat hidup disebuah hutan dipinggir sebuah desa. Dia kejam, licik dan jahat. Dia akan menggigit orang untuk senang-senang--demi kesenangannya belaka. Ketika si ular jahat sudah berusia lanjut (menurut perhitungan tahun ular tentunya), dia mulai merenungkan apa yang akan terjadi pada para ular ketika mereka mati. Selama hidupnya, dia telah sering melecehkan agama-agama, dan ular-ular yang menurutnya naif dan bodoh, percaya saja pada omong kosong seperti itu. Sekarang dia mulai tertarik pada agama.
Tidak jauh dari liangnya, dipuncak bukit, tinggal seekor ular suci. Semua orang suci bertempat tinggal dipuncak bukit atau gunung, demikian juga ular suci. Ini sudah tradisi. Tidak pernah kita dengar orang suci tinggal di rawa-rawa.
Suatu hari, si ular jahat memutuskan untuk mengunjungi sang ular suci. Ia memakai jas hujannya, kacamata hitam, dan topi supaya teman-teman tidak mengenalinya. Kemudian dia mulai merayap keatas bukitmenuju wihara sang ular suci. Ia tiba ketika ceramah sedang berlangsung. Sang ular suci duduk diatas sebuah batu dengan ratusan ular mendengarkan dengan penuh perhatian. Si ular jahat merayap dipinggir kerumunan, dekat dengan jalan keluar, dan mulai ikut mendengarkan ceramah.
Makin didengarkan, makin terasa masuk akal. Dia mulai merasa yakin, lalu terinspirasi, dan akhirnya terubahkan. Seusai ceramah, dia menghadap sang ular suci, dengan air mata bercucuran, dia mengakui kejahatannya selama ini, dan berjanji, mulai sekarang dia akan menjadi ular yang sama sekali berbeda. Dia bersumpah di depan sang ular suci untuk tidak lagi menggigit manusia. Dia akan menjadi baik. Dia akan mulai menunjukkan kepedulian. Dia akan mulai mengajarkan kepada ular-ular lain bagaimana menjadi baik. Dia bahkan memasukkan uang ke kotak dana di dekat jalan keluar (saat semua ular melihatnya, tentu dong).
Walaupun sesama ular dapat bercakap-cakap, itu terdengar seperti desis yang sama bagi telinga manusia. Si ular jahat, eh, mantan ular jahat, tidak bisa mengatakan kepada orang-orang bahwa dia sekarang pecinta damai. Orang-orang desa masih menghindarinya, walaupun mereka mulai bertanya-tanya atas lambang Cinta Damai Internasional yang dikenakannya dengan jelas di dadanya. Suatu hari seorang penghuni desa asyik mendengarkan walkmannya, dia berjingkrak-jingkrak tepat disebelah si ular, dan si ular sama sekali tidak menyerang, dia hanya tersenyum seperti halnya pemuka agama.
Semenjak itu, orang-orang desa menyadari bahwa si ular jahat tidak lagi berbahaya. Mereka berjalan melewati si ular sewaktu dia duduk bersila dalam meditasinya di luar liangnya. Lalu beberapa anak nakal dari desa mulai mengganggunya.

"Hei, tukang rayap!" mereka mengejeknya dari jarak yang aman.
"Tunjukkan taringmu, jika kamu memang punya, hai cacing kegedean. Dasar dodol, tempe, bikin malu spesiesmu saja!"
Dia tidak suka dipanggil rayap, walaupun ada benarnya juga, ataupun cacing kegedean, tetapi bagaimana dia bisa membela diri? Dia sudah bersumpah untuk tidak akan menggigit.
Menyaksikan si ular sekarang begitu pasif, anak-anak itu menjadi makin berani dan mulai melemparinya dengan batu dan gumpalan tanah. Mereka tertawa kalau ada yang kena. Si ular mengetahui bahwa dia bisa saja merayap cukup cepat untuk menggigit semua anak-anak itu, sebelum Anda usai mengucapkan "World Wildlife Fund". Namun sumpahnya mencegah dia melakukan hal itu. Lalu anak-anak itu makin mendekat dan mulai memukulinya dengan tongkat. Si ular menerima pukulan yang menyakitkan itu, tetapi sekarang dia sadar, dalam dunia nyata, kita harus tega menjadi jahat untuk melindungi diri. Ternyata agama hanyalah omong kosong. Jadi dia merayap dengan menahan rasa sakit keatas bukit untuk mengunjungi sang ular palsu dan akan melepaskan sumpahnya.
Sang ular suci melihatnya datang, dengan tampang lusuh dan lecet-lecet, dan bertanya,"Kenapa kamu?"
"Ini semua salahmu!" si ular jahat mengeluh dengan tampang masam.
"Apa maksudmu 'ini semua salahku'?" protes sang ular suci.
"Kamu mengajarkanku untuk tidak menggigit. Sekarang lihat apa yang terjadi pada diriku! Agama mungkin cocok di wihara, tetapi dalam kehidupan nyata...."
"Oh, kamu ular bodoh!" sang ular suci menyela. "Oh, ular dungu! Oh, ular bego! Memang benar aku menyuruhmu berhenti menggigit, tetapi aku tidak pernah menyuruhmu berhenti mendesis kan?"


Terkadang, dalam kehidupan, orang suci sekalipun harus "mendesis" untuk menjadi baik, tetapi tidak ada yang perlu menggigit.
Minibalanar - 14/05/2012 08:30 PM
#75

Sayap-sayap Belas Kasih

Jika belas kasih dibayangkan sebagai seekor merpati yang anggun, kebijaksanaan adalah bagaikan sayap-sayapnya. Belas kasih tanpa kebijaksanaan tak akan dapat tinggal landas.

Suatu hari, seorang anggota pramuka ingin menunjukkan perbuatan baiknya pada hari itu dengan membantu menyeberangkan seorang nenek di jalanan yang ramai. Masalahnya, si nenek sebenarnya tak ingin menyeberang, tetapi dia merasa sungkan memberitahukan hal itu kepada si anak pramuka.

Cerita tersebut, sayangnya, menggambarkan ada terlalu banyak hal yang terjadi di dunia atas nama belas kasih. Kita kelewat sering mengira bahwa kita tahu apa yang dibutuhkan oleh orang lain.

Seorang pemuda, yang terlahir tuli, tengah mengunjungi dokter untuk pemeriksaan rutin dengan ditemani oleh kedua orang tuanya. Dengan bersemangat sang dokter memberitahu orang tua si pemuda mengenai suatu prosedur pengobatan terbaru yang baru-baru ini dibacanya dari sebuah jurnal kedokteran. Sepuluh persen dari orang-orang yang terlahir tuli dapat dipulihkan kembali pendengarannya melalui sebuah operasi sederhana dan tidak mahal. Sang dokter bertanya kepada orang tua si pemuda apakah mereka ingin mencobanya. Orang tua si pemuda dengan segera mengiyakan.

Pemuda itu adalah salah satu dari sepuluh persen orang-orang tuli yang dapat dipulihkan kembali pendengarannya, namun dia malah menjadi sangat marah dan jengkel kepada kedua orang tua dan dokternya. Dia tidak mengetahui apa yang mereka rembukkan saat pemeriksaan rutinnya. Tak seorang pun yang menanyakan kepadanya apakah dia ingin bisa mendengar. Sekarang dia mengeluh karena dia harus menahan siksaan suara-suara ribut yang terus menerus, yang mana hanya sedikit saja yang dia pahami. Sebenarnya dia memang tidak pernah ingin dipulihkan pendengarannya.

Kedua orang tuanya, dokter, dan saya sendiri, sebelum membaca cerita ini, beranggapan bahwa setiap orang pasti ingin dapat mendengar. Kita pikir kita selalu tahu apa yang terbaik. Belas kasih yang mengandung asumsi seperti itu sungguh tolol dan berbahaya. Itu menyebabkan begitu banyak penderitaan di dunia.
Minibalanar - 14/05/2012 08:42 PM
#76

Perhatian untuk Seorang Anak

Masalah yang berkenaan dengan orang tua adalah mereka selalu mengira bahwa mereka tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Sering kali mereka salah. Kadang mereka benar juga, seperti yang ditulis oleh penyair Tiongkok Su Tung P'o (1036-1101 M), hampir seribu tahun yang lalu :

Pada Kelahiran Putraku

Para keluarga, ketika seorang anak lahir,
Inginkannya jadi cerdas.
Aku, melalui kecerdasanku,
Telah meruntuhkan seluruh hidupku,
Maka ia kan bermahkotakan hidup sentosa,
Dengan menjadi seorang menteri kabinet.
Minibalanar - 14/05/2012 08:59 PM
#77

Bahayanya Membuka Mulut

Para politikus kita terkenal akan keterbukaannya, khususnya mengenai wilayah antara hidung dan dagu mereka. Seperti telah menjadi tradisi berabad-abad, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh pepatah dari cerita Jataka berikut ini

Dahulu kala, seorang raja telah dibuat jengkel oleh salah seorang menterinya . Kapanpun diadakan rapat untuk membahas sesuatu dalam sidang, menteri itu akan menyela dan mulai berpidato yang tampaknya akan berlangsung selamanya. Tak seorang pun, bahkan sang raja sendiri, berkesempatan untuk mengatakan sesuatu. Lebih-lebih, apa yang dikatakan oleh si menteri jauh tidak menarik ketimbang isi swebutir bola pingpong.

Setelah suatu rapat lain yang juga tidak menghasilkan keputusan apa pun, sang raja mencari kedamaian di tamannya, menjauhi kefrustrasian politik. Dibagian taman yang terbuka untuk umum, sang raja menyaksikan sekelompok anak-anak yang riang gembira mengerumuni seorang lelaki paruh baya, seorang lelaki cacat yang duduk di tanah. Anak-anak itu memberikan si lelaki beberapa keping uang logam, menunjuk ke sebuah pohon kecil dan meminta ayam kepadanya. Lelaki itu lalu mengeluarkan sebuah tas penuh kerikil dan sebuah tulupan (sumpitan), lalu mulai menembakkan kerikil ke arah pohon itu.

Dia menembak jatuh daun demi daun pohon kecil itu dengan tembakan beruntun dari tulupannya. Dengan ketepatan yang sempurna, dia memangkas pohon itu menjadi seperti bentuk seekor ayam jantan. Anak-anak itu lalu memberikan uang yang lebih banyak lagi, menunjuk ke arah sebuah semak besar dan meminta seekor gajah. Segera si penembak jitu yang cacat itu dengan tulupannya, memahat semak besar itu menjadi berbentuk seekor gajah. Ketika anak-anak itu bertepuk tangan dengan riuh, sang raja mendapatkan sebuah gagasan.

Lalu sang raja pergi menghampiri si lelaki cacat itu dan menawarkan kekayaan berlimpah ruah kepadanya, jika dia bersedia membantu sang raja membereskan sebuah masalah yang sepele tapi menjengkelkan. Sang raja membisikkan sesuatu ke telinga lelaki itu. Lelaki itu mengangguk-angguk setuju dan sang raja tersenyum untuk pertama kalinya dalam minggu itu.

Pagi berikutnya, sidang berlangsung sebagaimana biasanya. Tak seorang pun memerhatikan kehadiran sebuah tirai baru yang dipasang pada salah satu sisi tembok. Saat itu sidang akan membahas mengenai usulan kenaikan pajak. Tak berapa lama setelah raja mengumumkan agenda sidang, si menteri superbawel memulai celotehannya.

Ketika ia membuka mulutnya, dia merasakan ada sesuatu yang kecil dan lembut mengenai bagian dalam tenggorokannya dan meluncur turun ke dalam perutnya. Dia tetap melanjutkan ocehannya. Benerapa detik kemudian, sesuatu yang kecil dan lembut kembali masuk ke dalam mulutnya. Dia menelannya dan karena itu ocehannya menjadi agak tersendat, tetapi dia terus maju pantang mundur.

Lagi dan lagi dia harus menelan sesuatu itu selama dia berbicara, tetapi sesuatu itu masih saja tak membuatnya berhenti bicara. Setelah setengah jam berpidato dengan penuh semangat dan menelan sesuatu itu setiap beberapa detiknya, dia merasa amat sangat mual. Tetapi, sikap kepala batunya tidak membuat dia menghentikan pidatonya.

Setelah beberapa menit kemudian, wajahnya terlihat bersemu kehijauan, perutnya terasa mual, dan akhirnya dia terpaksa menghentikan ocehannya. Dengan sebuah tangan memegangi perutnya yang sakit dan tangan yang lain menutupi mulutnya untuk mencegah sesuatu yang menjijikkan keluar dari sana, dengan panik ia bergegas mencari kamar mandi terdekat.

Dengan gembira raja menghampiri tirai dan menyibaknya untuk berterima kasih kepada pria cacat itu, yang sebelumnya memang bersembunyi di balik titai tersebut bersama dengan tulupan dan sekantong amunisinya. Sang raja tak dapat lagi menahan tawanya begitu melihat sekantong besar amunisi yang sudah hampir habis, peluru-peluru tahi ayam yang telah ditembakkan ke mulut si menteri dan berhasil menimbulkan kerusakan parah terhadap menteri malang itu.

Si menteri tidak dapat menghadiri sidang selama beberapa minggu. Sungguh mengesankan , betapa banyak urusan dapat diselesaikan selama ketidakhadirannya. Lalu ketika dia kembali menghadiri sidang, dia menjadi pendiam sekali. Dan jika dia terpaksa harus berbicara, dia akan selalu melindungi mulutnya dengan telapak tangannya.

Barangkali di parlemen kita dewasa ini, kehadiran penembak jitu seperti pria itu akan sangat berguna!
Minibalanar - 14/05/2012 09:07 PM
#78

Kura-kura yang bawel

Rasanya kita semestinya belajar untuk berdiam diri pada usia yang lebih dini dalam kehidupan kita : karena hal itu mungkin dapat menolong kita menghindari banyak kesulitan pada kemudian hari. Saya menceritakan kisah berikut ini kepada anak-anak yang datang berkunjung mengenai betapa pentingnya untuk berdiam diri.

Zaman dahulu kala di sebuah danau di pegunungan, hiduplah kura-kura yang bawel. Siapapun yang ditemuinya akan diajak bicara banyak, panjang lebar, tanpa jeda, dan sering membuat pendengarnya bosan, terganggu, hingga akhirnya jengkel. Mereka sering merasa heran bagaimana si kura-kura bisa bicara terus-menerus tanpa menarik nafas. binatang-binatang lain mulai menghindari kura-kura karena tahu mereka akan mati kutu jika kura-kura mulai berbicara pada mereka.

Si kura-kura bawel jadi kesepian karenanya.

Setiap musim panas, sepasang angsa putih datang ke danau di pegunungan untuk berlibur. Mereka baik hati karena membiarkan si kura-kura berbicara sepanjang yang dia mau. mereka tidak pernah protes ataupun meninggalkan kura-kura. Si kura-kura jadi merasa senang pada sepasang angsa itu.

Ketika musim panasa mulai berakhir dan hari-hari menjadi dingin, sepasang angsa bersiap-siap pergi dari danau itu. Si kura-kura mulai menangis. Dia benci musim dingin dan kesepian. “Andai saja aku bisa ikut pergi bersama kalian,” desahnya. “Kadang, ketika salju menutupi lereng dan danau, aku membeku, aku merasa begitu kedinginan dan kesepian.”

Sepasang angsa itu merasa kasihan pada si kura-kura, karena itu mereka mengajukan sebuah penawaran untuknya, “Kura-kura sayang, jangan menangis. Kami dapat membawamu asalkan kamu bersedia memegang satu janji saja.”

“Ya! Ya! Saya janji!” kata si kura-kura bawel, bahkan sebelum sepasang angsa mengatakan janji apa yang harus dia penuhi. “Kura-kura selalu menepati janji. Pernah, aku berjanji pada kelinci untuk berdiam diri sebentar saja setelah aku memberi tahu tentang semua perbedaan cangkang kura-kura dan…”

Satu jam kemudian, ketika si kura-kura berhenti bicara, sepasang angsa melanjutkan kata-kata mereka, “Kura-kura, kamu harus berjanji untuk tetap menutup mulutmu.”
“Gampang!” kata si kura-kura bawel. “Sebenarnya bangsa kura-kura terkenal sanggup menutup mulut kami dengan baik. Kami sebenarnya jarang sekali berbicara. Saya pernah menjelaskan hal ini kepada seekor ikan belum lama ini…”

Satu jam kemudian ketika si kura-kura bawel diam sejenak, sepasang angsa itu menyuruh si kura-kura untuk menggigit bagian tengah sebuah tongkat kayu yang panjang dan menyuruhnya untuk tetap menutup mulut. Lalu salah satu angsa memegang salah satu ujung tongkat dan yang lain memegang ujung lainnya. Keduanya lalu mulai mengepakkan sayap dan terbang.

Inilah pertama kali dalam sejarah dunia kita: kura-kura terbang!

Lebih tinggi dan lebih tinggi lagi mereka terbang menjulang. Makin lama danau di pegunungan itu makin mengecil. Bahkan gunung yang besar pun terlihat kecil di kejauhan. Si kura-kura yang merasa takjub berusaha mengingat pemandangan itu baik-baik untuk diceritakan pada teman-temannya nanti ketika dia sudah pulang.

Mereka terus terbang dan semuanya berjalan lancar sampai mereka melewati sebuah sekolah yang anak-anaknya baru pulang sekolah. Beberapa anak melihat sepasang angsa dan kura-kura bawel. Lalu seorang anak berteriak, “Hei, lihat! Ada kura-kura bodoh terbang!”

Mendengar itu, kura-kura bawel tidak dapat menahan dirinya. “Siapa yang kau bilang… ups!.. booo...doo..hhh!!!”

BRAAAK! Terdengar suara keras ketika tubuh kura-kura menghempas tanah. Dan itu adalah suara terakhir yang dapat dia keluarkan.

Si kura-kura bawel tewas karena dia tidak dapat menutup mulutnya pada saat benar-benar diperlukan.

Jadi, jika anda tidak belajar bagaimana berdiam diri pada saat yang tepat, dan bilamana saat itu benar-benar penting, Anda tak akan mampu menutup mulut anda lagi. Bisa jadi anda akan berakhir sebagai hamburger, seperti kura-kura bawel itu.
Minibalanar - 14/05/2012 09:13 PM
#79

Sang Pengusir Setan

Berikut adalah kisah nyata mengenai dunia gaib di Thailand, tentang kebijaksanaan adikodrati Ajahn Chah yang menakjubkan.

Pemuka kampung dari desa terdekat, disertai seorang teman, berjalan dengan tergesa-gesa untuk menemui Ajahn Chah di gubuknya, tempat beliau menerima tamu. Seorang perempuan desa telah kerasukan roh jahat dan beringas pada malam sebelumnya. Mereka tidak mampu menolongnya, maka mereka membawanya ke biksu sepuh ini. Sewaktu mereka berbicara dengan Ajahn Chah, dalam jarak yang tak terlalu jauh, terdengar jeritan perempuan.

Segera Ajahn Chah memerintahkan dua samanera muda untuk menyalakan api dan memasak air; lalu beliau memerintahkan dua samanera lain untuk menggali lubang besar di luar gubuknya. Tak seorang pun dari samanera-samanera itu yang tahu, untuk apa.

Empat lelaki desa yang kuat, petani berotot dari timur laut Thailand, nyaris tidak sanggup menahan rontaan si perempuan. Sewaktu mereka menyeretnya melalui salah satu bagian paling keramat di wihara, dia meneriakkan kata-kata kotor.

Ajahn Chah melihatnya dan menyuruh para samanera itu, "Gali lebih cepat! Didihkan airnya! Kita perlu lubang yang besar dan banyak-banyak air panas!" Tak seorang pun biksu dan penduduk dapat menerka, apa yang akan beliau lakukan.

Saat mereka menarik perempuan yang berteriak-teriak itu ke gubuk Ajahn Chah, mulutnya sudah berbusa-busa. Matanya yang berwarna merah darah terbelalak lebar penuh kegilaan. Wajahnya menggambarkan ekspresi kegilaan ditambah lontaran kata-kata kotor dan ludah ke Ajahn Chah. Makin banyak orang membantu memegangi perempuan ini.

"Sudah belum lubangnya? Cepat! Air panasnya sudah? Ayo cepat!" Ajahn Chah berteriak di tengah riuh teriak si perempuan. "Kita harus melempar dia ke dalam lubang! Siramkan air panas ke tubuhnya! Lalu kubur dia! Itu satu-satunya cara untuk mengusir roh jahat ini! Gali lebih cepat! Tambah lagi air panasnya!"

Kami telah belajar dari pengalaman bahwa tak seorang pun dapat menebak pasti apa yang akan dilakukan Ajahn Chah. Dia adalah "ketidakpastian" dalam wujud seorang biksu. Penduduk desa sudah yakin bahwa beliau akan melempar perempuan kerasukan itu ke dalam lubang, menyiramnya dengan air panas, dan menguburnya. Dan mereka akan membiarkannya saja. Si perempuan tampaknya juga berpikiran sama, karena dia mulai sedikit reda. Sebelum lubangnya selesai digali, dan sebelum airnya mendidih, si perempuan sudah bersimpuh tenang dalam kelelahan di hadapan Ajahn Chah, dengan penuh hormat menerima pemberkahan, sebelum akhirnya mereka menuntunnya pulang. Luar biasa.

Ajahn Chah tahu, kerasukan atau sekadar gila, ada sesuatu yang sangat perkasa di dalam diri kita masing-masing, yang dinamakan pertahanan diri. Dengan piawai dan dramatis, Ajahn Chah menekan tombol pertahanan diri di dalam perempuan itu, dan membuat rasa takut sakit dan rasa takut matinya mengusir roh jahat yang merasukinya.

Itulah kebijaksanaan: muncul begitu saja, tak terencana, tak terulang.
Minibalanar - 14/05/2012 09:16 PM
#80

Yang Terbesar di Dunia

Putri dari seorang teman lama saya dari masa kuliah tengah menjalani tahun pertamanya di bangku SD. Gurunya bertanya kepada kelas berisi anak-anak lima tahunan itu, “Apakah yang paling besar di dunia?”

“Ayah saya!” kata seorang gadis kecil.

“Gajah!” kata seorang bocah yang baru-baru ini mengunjungi kebun binatang.

“Gunung!” jawab yang lainnya.

Anak teman saya berkata, “Mata saya adalah hal yang paling besar di dunia!”

Seluruh kelas hening sesaat, mereka mencoba memahami jawaban si gadis kecil. “Apa maksudmu?” tanya sang guru, sama-sama dibuat bingung.

“Ya…,” si filsuf cilik mulai menerangkan, “mata saya bisa melihat ayahnya dan dapat melihat gajah. Mata saya pun dapat melihat gunung serta banyak hal lainnya. Karena semua itu dapat masuk ke dalam mata saya, mata saya pastilah sesuatu yang paling besar di dunia!”

Kebijaksanaan bukanlah pembelajaran, tetapi melihat dengan jernih apa yang tidak dapat diajarkan.

Dengan segala hormat kepada putri teman saya itu, saya akan sedikit menambahkan kebijaksanaan yang telah diketahuinya. Bukanlah mata Anda, tetapi PIKIRAN Andalah yang merupakan hal terbesar di dunia.

Pikiran Anda dapat melihat segala sesuatu yang dapat dilihat oleh mata, dan juga dapat melihat melampaui apa yang tampak dengan imajinasi. Pikiran juga dapat mengetahui adanya suara, yang mana mata tidak dapat melhatnya, dan menyadari sentuhan, baik yang nyata maupun yang ciptaan impian. Pikiran Anda pun dapat mengetahui apa yang berada di luar jangkauan pancaindra Anda. Karena segala seusatu yang dapat diketahui dapat masuk ke dalam pikiran Anda, maka pikiran Anda pastilah merupakan hal terbesar di dunia. Pikiran memuat segalanya.
Page 4 of 9 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 > 
Home > CASCISCUS > BUKU new > AJAHN BRAHMAVAMSO dan Bukunya