Home > CASCISCUS > SEPUTAR PEMILU 2009 > [GUS DUR] Yang suka ato nggak suka masuk sini<<< gitu aja kok repost..
Total Views: 6725 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 5 |  1 2 3 4 5 > 

bighappyboy - 01/01/2009 03:35 AM
#1
[GUS DUR] Yang suka ato nggak suka masuk sini<<< gitu aja kok repost..
[GUS DUR] Yang suka ato nggak suka masuk sini<<< gitu aja kok repost..


Bukan kampanye, bukan propaganda, bukan apa2... ayo ngomongin Gus Dur aja, gimana kalo jd presiden, gimana kalo nggak jadi, gimana kalo...dll


Spoiler for biografi
Abdurrahman Wahid

Kewarganegaran :Indonesia

Tempat, Tanggal Lahir : Jombang Jawa Timur, 4 Agustus 1940

Istri : Sinta Nuriyah

Anak :
1. Alissa Qotrunnada Munawaroh (P)
2. Zannuba Arifah Chafsoh (P)
3. Annita Hayatunnufus (P)
4. Inayah Wulandari (P)


ALAMAT
Rumah :
Jl. Warung Silah No. 10, Ciganjur
Jakarta Selatan 12630 - Indonesia

Telepon :
(+ 62-21) 7271820 (rumah)
(+62) 811 175 168 (hp)

Kantor :
Jl. Duren Tiga Raya No. 4
Jakarta 12760 - Indonesia

Telepon :
(+62-21) 79190388
Faksimil :
(+62-21) 7988003

e-mail : [email]redaksi@gusdur.net[/email]

PENDIDIKAN

1966-1970
Universitas Baghdad, Irak
Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab

1964-1966
Al Azhar University, Cairo, Mesir
Fakultas Syari’ah (Kulliyah al-Syari’ah)

1959-1963
Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, Indonesia

1957-1959
Pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia



[CENTER][COLOR="Blue"]JABATAN[/COLOR]

1998-Sekarang
Partai Kebangkitan Bangsa, Indonesia
Ketua Dewan Syura DPP PKB

2004-Sekarang
The WAHID Institute, Indonesia
Pendiri

2000-Sekarang
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Indonesia
Mustasyar

2002-Sekarang
Universitas Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur, Indonesia
Rektor
[/CENTER]


PENGALAMAN JABATAN

1999-2001
Presiden Republik Indonesia

1989-1993
Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat RI

1987-1992
Ketua Majelis Ulama Indonesia

1984-2000
Ketua Dewan Tanfidz PBNU

1980-1984
Katib Awwal PBNU

1974-1980
Sekretaris Umum Pesantren Tebu Ireng

1972-1974
Fakultas Ushuludin Universitas Hasyim Ashari, Jombang
Dekan dan Dosen




PENGALAMAN ORGANISASI



2003
Gerakan Moral Rekonsiliasi Nasional
Penasehat


2002
Solidaritas Korban Pelanggaran HAM
Penasehat

1990
Forum Demokrasi
Pendiri dan Anggota

1986-1987
Festifal Film Indonesia
Juri

1982-1985
Dewan Kesenian Jakarta
Ketua Umum

1965
Himpunan Pemuda Peladjar Indonesia di Cairo – United Arab Republic (Mesir)
Wakil Ketua


AKTIVITAS INTERNASIONAL


2003-Sekarang
Non Violence Peace Movement, Seoul, Korea Selatan
Presiden

2003-Sekarang
International Strategic Dialogue Center, Universitas Netanya, Israel
Anggota Dewan Internasional bersama Mikhail Gorbachev, Ehud Barak and Carl Bildt

2003-Sekarang
International Islamic Christian Organization for Reconciliation and Reconstruction (IICORR), London, Inggris
Presiden Kehormatan

2002-Sekarang
International and Interreligious Federation for World Peace (IIFWP), New York, Amerika Serikat
Anggota Dewan Penasehat Internasional

2002
Association of Muslim Community Leaders (AMCL), New York, Amerika Serikat
Presiden

1994-Sekarang
Shimon Perez Center for Peace, Tel Aviv, Israel
Pendiri dan Anggota

1994-1998
World Conference on Religion and Peace (WCRP), New York, Amerika Serikat
Presiden

1994
International Dialogue Project for Area Study and Law, Den Haag, Belanda
Penasehat

1980-1983
The Aga Khan Award for Islamic Architecture
Anggota Dewan Juri


PENGHARGAAN

2004
Anugrah Mpu Peradah, DPP Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia, Jakarta, Indonesia

2004
The Culture of Peace Distinguished Award 2003, International Culture of Peace Project Religions for Peace, Trento, Italia

2003
Global Tolerance Award, Friends of the United Nations, New York, Amerika Serikat

2003
World Peace Prize Award, World Peace Prize Awarding Council (WPPAC), Seoul, Korea Selatan

2003
Dare to Fail Award , Billi PS Lim, penulis buku paling laris “Dare to Fail”, Kuala Lumpur, Malaysia

2002
Pin Emas NU, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta, Indonesia.

2002
Gelar Kanjeng Pangeran Aryo (KPA), Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XII, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia

2001
Public Service Award, Universitas Columbia , New York , Amerika Serikat

2000
Ambassador of Peace, International and Interreligious Federation for World peace (IIFWP), New York, Amerika Serikat

2000
Paul Harris Fellow, The Rotary Foundation of Rotary International

1998
Man of The Year, Majalah REM, Indonesia

1993
Magsaysay Award, Manila , Filipina

1991
Islamic Missionary Award , Pemerintah Mesir

1990
Tokoh 1990, Majalah Editor, Indonesia



DOKTOR KEHORMATAN




2003
Netanya University , Israel

2003
Konkuk University, Seoul, South Korea

2003
Sun Moon University, Seoul, South Korea

2002
Soka Gakkai University, Tokyo, Japan

2000
Thammasat University, Bangkok, Thailand

2001
Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand

2000
Pantheon Sorborne University, Paris, France

1999
Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand


HOBI


Mendengarkan dan menyaksikan pagelaran Wayang Kulit.

Mendengarkan musik, terutama lagu-lagu karya Beethoven berjudul Symphony No. 9 th, Mozart dalam 20 th piano concerto, Umm Khulsum dari Mesir, Janis Joplin dan penyanyi balada Ebiet G. Ade.


Mengamati pertandingan sepak bola, terutama liga Amerika latin dan liga Eropa.

Mendengarkan audio book, terutama mengenai sejarah dan biografi.

Abdurrahman Wahid telah menghasilkan beberapa buah buku. Hingga saat ini dia terus menulis kolom di sejumlah surat kabar. Selain itu, dia masih aktif memberikan ceramah kepada publik di dalam maupun luar negeri.


Spoiler for latar belakang keluarga
Latar Belakang Keluarga
Abdurrahman "Addakhil", demikian nama lengkapnya. Secara leksikal, "Addakhil" berarti "Sang Penakluk", sebuah nama yang diambil Wahid Hasyim, orang tuanya, dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah menancapkan tonggak kejayaan Islam di Spanyol. Belakangan kata "Addakhil" tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid", Abdurrahman Wahid, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati "abang" atau "mas".

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940. Secara genetik Gus Dur adalah keturunan "darah biru". Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim adalah putra K.H. Hasyim Asy'ari, pendiri jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU)-organisasi massa Islam terbesar di Indonesia-dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang. Ibundanya, Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga merupakan tokoh NU, yang menjadi Rais 'Aam PBNU setelah K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Dengan demikian, Gus Dur merupakan cucu dari dua ulama NU sekaligus, dan dua tokoh bangsa Indonesia.

Pada tahun 1949, ketika clash dengan pemerintahan Belanda telah berakhir, ayahnya diangkat sebagai Menteri Agama pertama, sehingga keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta. Dengan demikian suasana baru telah dimasukinya. Tamu-tamu, yang terdiri dari para tokoh-dengan berbagai bidang profesi-yang sebelumnya telah dijumpai di rumah kakeknya, terus berlanjut ketika ayahnya menjadi Menteri agama. Hal ini memberikan pengalaman tersendiri bagi seorang anak bernama Abdurrahman Wahid. Secara tidak langsung, Gus Dur juga mulai berkenalan dengan dunia politik yang didengar dari kolega ayahnya yang sering mangkal di rumahnya.

Sejak masa kanak-kanak, ibunya telah ditandai berbagai isyarat bahwa Gus Dur akan mengalami garis hidup yang berbeda dan memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab terhadap NU. Pada bulan April 1953, Gus Dur pergi bersama ayahnya mengendarai mobil ke daerah Jawa Barat untuk meresmikan madrasah baru. Di suatu tempat di sepanjang pegunungan antara Cimahi dan Bandung, mobilnya mengalami kecelakaan. Gus Dur bisa diselamatkan, akan tetapi ayahnya meninggal. Kematian ayahnya membawa pengaruh tersendiri dalam kehidupannya.


Dalam kesehariannya, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu ia juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku yang agak serius. Karya-karya yang dibaca oleh Gus Dur tidak hanya cerita-cerita, utamanya cerita silat dan fiksi, akan tetapi wacana tentang filsafat dan dokumen-dokumen manca negara tidak luput dari perhatianya. Di samping membaca, tokoh satu ini senang pula bermain bola, catur dan musik. Dengan demikian, tidak heran jika Gus Dur pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkimpoiannya dilaksanakan ketika ia berada di Mesir.


Spoiler for perjalanan karir
Perjalanan Karir
Sepulang dari pegembaraanya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, tokoh muda ini bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian ia menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Ia kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak. Djohan Efendi, seorang intelektual terkemuka pada masanya, menilai bahwa Gus Dur adalah seorang pencerna, mencerna semua pemikiran yang dibacanya, kemudian diserap menjadi pemikirannya tersendiri. Sehingga tidak heran jika tulisan-tulisannya jarang menggunakan foot note.

Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.

Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula ia merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin. Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap 'menyimpang'-dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU-dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Ia juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, 1987.

Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-'aqdi yang diketuai K.H. As'ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Meskipun sudah menjadi presiden, ke-nyleneh-an Gus Dur tidak hilang, bahkan semakin diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Dahulu, mungkin hanya masyarakat tertentu, khususnya kalangan nahdliyin yang merasakan kontroversi gagasannya. Sekarang seluruh bangsa Indonesia ikut memikirkan kontroversi gagasan yang dilontarkan oleh K.H. Abdurrahman Wahid.

Catatan perjalanan karier Gus Dur yang patut dituangkan dalam pembahasan ini adalah menjadi ketua Forum Demokrasi untuk masa bakti 1991-1999, dengan sejumlah anggota yang terdiri dari berbagai kalangan, khususnya kalangan nasionalis dan non muslim. Anehnya lagi, Gus Dur menolak masuk dalam organisasi ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). Tidak hanya menolak bahkan menuduh organisai kaum 'elit Islam' tersebut dengan organisasi sektarian.

Dari paparan tersebut di atas memberikan gambaran betapa kompleks dan rumitnya perjalanan Gus Dur dalam meniti kehidupannya, bertemu dengan berbagai macam orang yang hidup dengan latar belakang ideologi, budaya, kepentingan, strata sosial dan pemikiran yang berbeda. Dari segi pemahaman keagamaan dan ideologi, Gus Dur melintasi jalan hidup yang lebih kompleks, mulai dari yang tradisional, ideologis, fundamentalis, sampai moderrnis dan sekuler. Dari segi kultural, Gus Dur mengalami hidup di tengah budaya Timur yang santun, tertutup, penuh basa-basi, sampai denga budaya Barat yang terbuka, modern dan liberal. Demikian juga persentuhannya dengan para pemikir, mulai dari yang konservatif, ortodoks sampai yang liberal dan radikal semua dialami.

Pemikiran Gus Dur mengenai agama diperoleh dari dunia pesantren. Lembaga inilah yang membentuk karakter keagamaan yang penuh etik, formal, dan struktural. Sementara pengembaraannya ke Timur Tengah telah mempertemukan Gus Dur dengan berbagai corak pemikirann Agama, dari yang konservatif, simbolik-fundamentalis sampai yang liberal-radikal. Dalam bidang kemanusiaan, pikiran-pikiran Gus Dur banyak dipengaruhi oleh para pemikir Barat dengan filsafat humanismenya. Secara rasa maupun praktek prilaku yang humanis, pengaruh para kyai yang mendidik dan membimbingnya mempunyai andil besar dalam membentuk pemikiran Gus Dur. Kisah tentang Kyai Fatah dari Tambak Beras, KH. Ali Ma'shum dari Krapyak dan Kyai Chudhori dari Tegalrejo telah membuat pribadi Gus Dur menjadi orang yang sangat peka pada sentuhan-sentuhan kemanusiaan.

Dari segi kultural, Gus Dur melintasi tiga model lapisan budaya. Pertama, Gus Dur bersentuhan dengan kultur dunia pesantren yang sangat hierarkis, tertutup, dan penuh dengan etika yang serba formal; kedua, dunia Timur yang terbuka dan keras; dan ketiga, budaya Barat yang liberal, rasioal dan sekuler. Kesemuanya tampak masuk dalam pribadi dan membetuk sinergi. Hampir tidak ada yang secara dominan berpengaruh membentuk pribadi Gus Dur. Sampai sekarang masing-masing melakukan dialog dalam diri Gus Dur. Inilah sebabnya mengapa Gus Dur selalu kelihatan dinamis dan suliit dipahami. Kebebasannya dalam berpikir dan luasnya cakrawala pemikiran yang dimilikinya melampaui batas-batas tradisionalisme yang dipegangi komunitasnya sendiri.


Spoiler for pengalaman pendidikan
Pengalaman Pendidikan
Pertama kali belajar, Gus Dur kecil belajar pada sang kakek, K.H. Hasyim Asy'ari. Saat serumah dengan kakeknya, ia diajari mengaji dan membaca al-Qur'an. Dalam usia lima tahun ia telah lancar membaca al-Qur'an. Pada saat sang ayah pindah ke Jakarta, di samping belajar formal di sekolah, Gus Dur masuk juga mengikuti les privat Bahasa Belanda. Guru lesnya bernama Willem Buhl, seorang Jerman yang telah masuk Islam, yang mengganti namanya dengan Iskandar. Untuk menambah pelajaran Bahasa Belanda tersebut, Buhl selalu menyajikan musik klasik yang biasa dinikmati oleh orang dewasa. Inilah pertama kali persentuhan Gu Dur dengan dunia Barat dan dari sini pula Gus Dur mulai tertarik dan mencintai musik klasik.

Menjelang kelulusannya di Sekolah Dasar, Gus Dur memenangkan lomba karya tulis (mengarang) se-wilayah kota Jakarta dan menerima hadiah dari pemerintah. Pengalaman ini menjelaskan bahwa Gus Dur telah mampu menuangkan gagasan/ide-idenya dalam sebuah tulisan. Karenanya wajar jika pada masa kemudian tulisan-tulisan Gus Dur menghiasai berbagai media massa.

Setelah lulus dari Sekolah Dasar, Gus Dur dikirim orang tuanya untuk belajar di Yogyakarta. Pada tahun 1953 ia masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan, sambil mondok di pesantren Krapyak. Sekolah ini meskipun dikelola oleh Gereja Katolik Roma, akan tetapi sepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Di sekolah ini pula pertama kali Gus Dur belajar Bahasa Inggris. Karena merasa terkekang hidup dalam dunia pesantren, akhirnya ia minta pindah ke kota dan tinggal di rumah Haji Junaidi, seorang pimpinan lokal Muhammadiyah dan orang yang berpengaruh di SMEP. Kegiatan rutinnya, setelah shalat subuh mengaji pada K.H. Ma'sum Krapyak, siang hari sekolah di SMEP, dan pada malam hari ia ikut berdiskusi bersama dengan Haji Junaidi dan anggota Muhammadiyah lainnya.

Ketika menjadi siswa sekolah lanjutan pertama tersebut, hobi membacanya semakin mendapatkan tempat. Gus Dur, misalnya, didorong oleh gurunya untuk menguasai Bahasa Inggris, sehingga dalam waktu satu-dua tahun Gus Dur menghabiskan beberapa buku dalam bahasa Inggris. Di antara buku-buku yang pernah dibacanya adalah karya Ernest Hemingway, John Steinbach, dan William Faulkner. Di samping itu, ia juga membaca sampai tuntas beberapa karya Johan Huizinga, Andre Malraux, Ortega Y. Gasset, dan beberapa karya penulis Rusia, seperti: Pushkin, Tolstoy, Dostoevsky dan Mikhail Sholokov. Gus Dur juga melahap habis beberapa karya Wiill Durant yang berjudul 'The Story of Civilazation'. Selain belajar dengan membaca buku-buku berbahasa Inggris, untuk meningkatan kemampuan bahasa Ingrisnya sekaligus untuk menggali informasi, Gus Dur aktif mendengarkan siaran lewat radio Voice of America dan BBC London. Ketika mengetahui bahwa Gus Dur pandai dalam bahasa Inggis, Pak Sumatri-seorang guru SMEP yang juga anggota Partai Komunis-memberi buku karya Lenin 'What is To Be Done' . Pada saat yang sama, anak yang memasuki masuki masa remaja ini telah mengenal Das Kapital-nya Karl Marx, filsafat Plato,Thales, dan sebagainya. Dari paparan ini tergambar dengan jelas kekayaan informasi dan keluasan wawasan Gus Dur.

Setamat dari SMEP Gus Dur melanjutkan belajarnya di Pesantren Tegarejo Magelang Jawa Tengah. Pesantren ini diasuh oleh K.H. Chudhari, sosok kyai yang humanis, saleh dan guru dicintai. Kyai Chudhari inilah yang memperkenalkan Gus Dur dengan ritus-ritus sufi dan menanamkan praktek-praktek ritual mistik. Di bawah bimbingan kyai ini pula, Gus Dur mulai mengadakan ziarah ke kuburan-kuburan keramat para wali di Jawa. Pada saat masuk ke pesantren ini, Gus Dur membawa seluruh koleksi buku-bukunya, yang membuat santri-santri lain terheran-heran. Pada saat ini pula Gus Dur telah mampu menunjukkan kemampuannya dalam berhumor dan berbicara. Dalam kaitan dengan yang terakhir ini ada sebuah kisah menarik yang patut diungkap dalam paparan ini adalah pada acara imtihan-pesta akbar yang diselenggarakan sebelum puasa pada saat perpisahan santri yang selesai menamatkan belajar-dengan menyediakan makanan dan minuman dan mendatangkan semua hiburan rakyat, seperti: Gamelan, tarian tradisional, kuda lumping, jathilan, dan sebagainya. Jelas, hiburan-hiburan seperti tersebut di atas sangat tabu bagi dunia pesantren pada umumnya. Akan tetapi itu ada dan terjadi di Pesantren Tegalrejo.

Setelah menghabiskan dua tahun di pesantren Tegalrejo, Gus Dur pindah kembali ke Jombang, dan tinggal di Pesantren Tambak Beras. Saat itu usianya mendekati 20 tahun, sehingga di pesantren milik pamannya, K.H. Abdul Fatah, ia menjadi seorang ustadz, dan menjadi ketua keamanan. Pada usia 22 tahun, Gus Dur berangkat ke tanah suci, untuk menunaikan ibadah haji, yang kemudian diteruskan ke Mesir untuk melanjutkan studi di Universitas al-Azhar. Pertama kali sampai di Mesir, ia merasa kecewa karena tidak dapat langsung masuk dalam Universitas al-Azhar, akan tetapi harus masuk Aliyah (semacam sekolah persiapan). Di sekolah ia merasa bosan, karena harus mengulang mata pelajaran yang telah ditempuhnya di Indonesia. Untuk menghilangkan kebosanan, Gus Dur sering mengunjungi perpustakaan dan pusat layanan informasi Amerika (USIS) dan toko-toko buku dimana ia dapat memperoleh buku-buku yang dikehendaki.

Terdapat kondisi yang menguntungkan saat Gus Dur berada di Mesir, di bawah pemerintahan Presiden Gamal Abdul Nasr, seorang nasioonalis yang dinamis, Kairo menjadi era keemasan kaum intelektual. Kebebasan untuk mengeluarkkan pendapat mendapat perlindungan yang cukup. Pada tahun 1966 Gus Dur pindah ke Irak, sebuah negara modern yang memiliki peradaban Islam yang cukup maju. Di Irak ia masuk dalam Departement of Religion di Universitas Bagdad samapi tahun 1970. Selama di Baghdad Gus Dur mempunyai pengalaman hidup yang berbeda dengan di Mesir. Di kota seribu satu malam ini Gus Dur mendapatkan rangsangan intelektual yang tidak didapatkan di Mesir. Pada waktu yang sama ia kembali bersentuhan dengan buku-buku besar karya sarjana orientalis Barat. Ia kembali menekuni hobinya secara intensif dengan membaca hampir semua buku yang ada di Universitas.

Di luar dunia kampus, Gus Dur rajin mengunjungi makam-makam keramat para wali, termasuk makam Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pendiri jamaah tarekat Qadiriyah. Ia juga menggeluti ajaran Imam Junaid al-Baghdadi, seorang pendiri aliran tasawuf yang diikuti oleh jamaah NU. Di sinilah Gus Dur menemukan sumber spiritualitasnya. Kodisi politik yang terjadi di Irak, ikut mempengaruhi perkembangan pemikiran politik Gus Dur pada saat itu. Kekagumannya pada kekuatan nasionalisme Arab, khususnya kepada Saddam Husain sebagai salah satu tokohnya, menjadi luntur ketika syekh yang dikenalnya, Azis Badri tewas terbunuh.

Selepas belajar di Baghdad Gus Dur bermaksud melanjutkan studinya ke Eropa. Akan tetapi persyaratan yang ketat, utamanya dalam bahasa-misalnya untuk masuk dalam kajian klasik di Kohln, harus menguasai bahasa Hebraw, Yunani atau Latin dengan baik di samping bahasa Jerman-tidak dapat dipenuhinya, akhirnya yang dilakukan adalah melakukan kunjungan dan menjadi pelajar keliling, dari satu universitas ke universitas lainnya. Pada akhirnya ia menetap di Belanda selama enam bulan dan mendirikan Perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Eropa. Untuk biaya hidup dirantau, dua kali sebulan ia pergi ke pelabuhan untuk bekerja sebagai pembersih kapal tanker. Gus Dur juga sempat pergi ke McGill University di Kanada untuk mempelajari kajian-lkajian keislaman secara mendalam. Namun, akhirnya ia kembali ke Indoneisa setelah terilhami berita-berita yang menarik sekitar perkembangan dunia pesantren. Perjalanan keliling studi Gus Dur berakhir pada tahun 1971, ketika ia kembali ke Jawa dan mulai memasuki kehidupan barunya, yang sekaligus sebagai perjalanan awal kariernya.

Meski demikian, semangat belajar Gus Dur tidak surut. Buktinya pada tahun 1979 Gus Dur ditawari untuk belajar ke sebuah universitas di Australia guna mendapatkkan gelar doktor. Akan tetapi maksud yang baik itu tidak dapat dipenuhi, sebab semua promotor tidak sanggup, dan menggangap bahwa Gus Dur tidak membutuhkan gelar tersebut. Memang dalam kenyataannya beberapa disertasi calon doktor dari Australia justru dikirimkan kepada Gus Dur untuk dikoreksi, dibimbing yang kemudian dipertahankan di hadapan sidang akademik.


Spoiler for sumber

[GUS DUR] Yang suka ato nggak suka masuk sini<<< gitu aja kok repost..

Kebingungan Wimar Witoelar

Siapa tak kenal dengan Wimar Witoelar? Penampilannya khas: badan tambun, kacamata tebal yang tampak kekecilan dan, ini yang paling mengesankan, rambutnya kribo. Dialah koordinator tim jurubicara presiden ketika Gus Dur masih menjabat. Dia ditunjuk karena paling senior dan paling karib dengan Gus Dur.

Selain itu Wimar gigih membela Gus Dur, dengan menguraikan penjelasan-penjelasan yang cerdik atas pernyataan-pernyataan Gus Dur yang sering membingungkan.

Dia tahu bahwa dengan berperan begitu, makin banyak saja orang yang tak suka dengan dirinya. Misalnya, pada sebuah stasiun TV swasta memberitakan bahwa dia meninggal dunia. Padahal, Wimar bukan meninggal, tapi meninggalkan rumah sakit setelah dirawat beberapa hari karena serangan jantung. Bagaimanapun posisinya mengharuskan dia "pasang badan" demi Gus Dur.

Nah, kalau masyarakat bingung dengan pernyataan Gus Dur, sebenarnya Wimar sendiri tak kalah bingungnya. Kebingungan ini sudah sangat dirasakan-nya sejak sebelum dia diangkat menjadi ketua juru bicara presiden. Wimar pernah menulis "kritik dan saran" yang cukup gamblang di Harian Ibukota, ditujukan kepada orang yang kemudian menjadi "bos"-nya itu.

Dia antara lain menulis bahwa di mata publik, Presiden Wahid membuang bola terus, menyia-nyiakan legitimasi. "Kalau anak orang kaya menghambur-hamburkan dukungan rakyat. Bukan karena terlalu banyak pembisik, tetapi karena terlalu sedikit orang yang memberikan fakta yang pahit."

Dia minta supaya Gus Dur menunjukkan "empati kepada pendukung Anda yang kritis, bukan pada yang cari muka, cari untung, atau cari kesempatan." Lalu. "Mohon Gus Dur menilai orang dari track record dari referensi masyarakat, bukan dari betapa manisnya mereka mencari muka"

Wimar juga mendesak supaya Gus Dur menghapus KKN di kalangan orang-orang dekatnya sendiri. Namun ia mengaku bahwa hal ini susah, karena menyangkut kawan lama Gus Dur , jadi susah cari bukti dan ukuran. "Begini saja" tulis Wimar, "usahakan supaya orang dekat Anda putih bersih dari apa pun yang bisa dipresepsikan sebagai KKN. Mobil baru, seirng jalan-jalan, sanak keluarga yang dagang tak jelas, jenis pergaulan. Yang menentukan adalah presepsi orang, hindarilah salah sangka."

Kemudian sampailah Wimar pada permintaan utamanya: "Tolong sekali-kali bilang, apa yang Anda mau, Gus Dur. Jangan terus-terusan bicara yang membingungkan. Sekali boleh provokatif, untuk mengacaukan lawan. Tetapi lama-lama yang kacau malah kawan, sedangkan lawan berjalan dengan agenda sendiri. Cobalah atur komunikasi publik yang moderen, karena jabatan kepresidenan adalah jabatan yang moderen."

Barangkali berkat saran terakhirnya itulah Wimar, yang memang ahli public relations, mendapat jabatan tingginya di Istana Presiden. Tapi, ya itu tadi: Tampaknya kebingungan Wimar Witoelar mungkin bukan berkurang, malah bertambah. Malah kini dia makin repot: sudah bingung, masih harus menjelaskan pula kepada rakyat lewat pres. (ahm)

Spoiler for sumber


[GUS DUR] Yang suka ato nggak suka masuk sini<<< gitu aja kok repost..

[GUS DUR] Yang suka ato nggak suka masuk sini<<< gitu aja kok repost..

Spoiler for jokes

Obrolan Presiden
Saking udah bosannya keliling dunia, Gus Dur coba cari suasana di pesawat RI-01. Kali ini dia mengundang Presiden AS dan Perancis terbang bersama Gus Dur buat keliling dunia. Boleh dong, emangnya AS dan Perancis aja yg punya pesawat kepresidenan. Seperti biasa...
setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya.

Tidak lama presiden Amerika, Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian dia berkata: "Wah kita sedang berada di atas New York!"

Presiden Indonesia (Gus Dur): "Lho kok bisa tau sih?"

"Itu.. patung Liberty kepegang!", jawab Clinton dengan bangganya.

Ngga mau kalah presiden Perancis, Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangannya keluar. "Tau nggak... kita sedang berada di atas kota Paris!", katanya dengan sombongnya.

Presiden Indonesia: "Wah... kok bisa tau juga?"

"Itu... menara Eiffel kepegang!", sahut presiden Perancis tersebut.

Karena disombongin sama Clinton dan Chirac, giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya keluar pesawat...
"Wah... kita sedang berada di atas Tanah Abang!!!", teriak Gus Dur.

"Lho kok bisa tau sih?" tanya Clinton dan Chirac heran karena tahu Gus Dur itu kan nggak bisa ngeliat.

"Ini... jam tangan saya ilang...", jawab Gus Dur kalem.

Menebak usia mumi



Ini cerita Gus Dur beberapa tahun yang lalu, sewaktu jaman orde baru . Cerita tentang sayembara menebak usia mumi di Giza, Mesir . Puluhan negara diundang oleh pemerintah Mesir, untuk mengirimkan tim ahli paleoantropologinya yang terbaik . Tapi, pemerintah Indonesia lain dari yang lain, namanya juga jaman orde baru yang waktu itu masih bergaya represif misal banyaknya penculikan para aktivis . Makanya pemerintah mengirimkan seorang aparat yang komandan intel .

Tim Perancis tampil pertama kali, membawa peralatan mutakhir, ukur sana ukur sini, catat ini dan itu, kemudian menyerah tidak sanggup . Pakar Amerika perlu waktu yang lama, tapi taksirannya keliru . Tim Jerman menyatakan usia mumi itu tiga ribu dua ratus tahun lebih sedikit, juga salah . Tim Jepang juga menyebut di seputar angka tersebut, juga salah .

Giliran peserta dari Indonesia maju, Pak Komandan ini bertanya pada panitia, bolehkah dia memeriksa mumi itu di ruangan tertutup .

"Boleh, silahkan," Jawab panitia .

Lima belas menit kemudian, dengan tubuh berkeringat pak komandan itu keluar dan mengumumkan temuannya kepada tim juri .

"Usia mumi ini lima ribu seratus dua puluh empat tahun tiga bulan tujuh hari," Katanya dengan lancar, tanpa keraguan sedikit pun .

Ketua dan seluruh anggota tim juri terbelalak dan saling berpandangan, heran dan kagum . Jawaban itu tepat sekali ! Bagaimana mungkin pakar dari Indonesia ini mampu menebak dengan tepat dalam waktu sesingkat itu ? hadiah pun diberikan . Ucapan selamat mengalir dari para peserta, pemerintah Mesir, perwakilan negara-negara asing dan sebagainya dan sebagainya . Pemerintah pun bangga bukan kepalang .

Menjelang kembali ke Indonesia, Pak komandan dikerumuni wartawan dalam dan luar negeri di lobby hotel .

"Anda luar biasa," kata mereka . " Bagaimana cara anda tahu dengan persis usia mumi itu?"

Pak komandan dengan enteng menjawab,"saya gebuki, ngaku dia ."

Nyebut, Bang

Penampilan Gus Dur ketika memberikan pengantar pidato kenegaraan menyambut HUT ke-55 Kemerdekaan RI di Sidang Paripurna DPR Agustus 2000, jauh berbeda dibanding saat ia hadir di tempat yang sama untuk menjawab interpelasi DPR. Kali ini ia tampak tegang. Wajahnya agak cemberut.

Namun segala ketegangan akhirnya cair juga. Para anggota DPR malah beberapa kali dibuat terpingkal-pingkal oleh guyonannya.

Di tengah-tengah pidato tanpa teks itu, Gus Dur bercerita tentang seorang kondektur bus asal Sumatra Utara yang bergelantungan di pintu bus. Ketika bus melaju kencang, rupanya sopir tidak tahu kalau sang kondektur terjatuh kesenggol bus lain. Sang kondektur pun jatuh tersungkur. Kepalanya langsung membentur jalan dan retak. Napasnya sudah Senin-Kamis, terputus-putus.

Saat itulah datang seorang Betawi yang mencoba menolong kondektur yang sekarat itu.

"Bang, nyebut Bang, nyebut," katanya sambil mendekatkan mulutnya ke telinga kanan kondektur itu.

Maksud orang Betawi ini agar kondektur yang sekarat tadi menyebut syahadat La ilaha ilallah, sebelum meninggal. Tapi, karena kondektur tadi bukan orang Islam, dia mengaitkan permintaan nyebut tadi dengan profesinya.


bondet22 - 01/01/2009 03:55 AM
#2

Gw suka kok sama Gus Dur... o

Cocok buat hiburan di BP kaskus yg panas... D

Pas Gus Dur lagi marah aja tetep bisa bikin org lain ketawa... apalagai kalo becanda... D

Liat aja di kaskus, kalo ada thread ttg Gus Dur, pasti comment2-nya kaskuser pada bikin ngakak melulu bacanya... D

TS, share juga dong joke2 ala Gus Dur... D
bighappyboy - 01/01/2009 03:59 AM
#3

Quote:
Original Posted By bondet22


TS, share juga dong joke2 ala Gus Dur... D


segera gan DDD
kumiz - 01/01/2009 04:20 AM
#4

wa fans setia gusdur dari dia diangkat jadi presiden sampe detik iniD

jadi pemilu besok wa akan golput seperti kata gusdur..kecuali si gusdur yg maju jadi capres..tanpa mikir 2x wa bakal milih gusdur.

dan jangan tanya kenapa wa milih gusdurD karena wa sendiri ga taunohope: but my heart tell me that he is the right guyD
BleeMoonFeel - 01/01/2009 04:52 AM
#5

haha, keren nih thread beer:

niat bener bikinnya bang DD
wieLaN - 01/01/2009 04:59 AM
#6

FORZA GUSDUR..
dari pernyataan yang membingungkan.. justru bangsa ini beruntung,, karena dibentuk untuk pintar dalam berpikir.. (terlebih di sekolah kita cuma diajar untuk menghafal dan mengejar nilai)
Tapi, kebanyakan klo denger pernyataan gus dur pasti orang2 disini bilang nyeleneh.. menurut gw padahal engga klo kita kaji lebih dalam..
jadi klo bangsa kita bisa mengkaji dengan analisa yang lebih dalam pasti bisa lebih maju.. semoga..
ukieukzz - 01/01/2009 05:56 AM
#7

hahah...GITU AJA KOK REPOT???
odd or even - 01/01/2009 06:27 AM
#8

mantap deh gusdur...aku ingin tau knapa Gusdur kagak menjadi calon presiden?bukannya dia pernah menjadi presiden RI?
dulu jaman pimpinan dia smuanya aman2 tuh...
mk_ekobudi - 01/01/2009 06:33 AM
#9

I love gus dur.......
cikaok - 01/01/2009 06:52 AM
#10

Gus Dur orang yg paling Demokratis di Indonesia,,,

HIDUP GUS DUR..

Gw dukung GolPut..
esgeha - 01/01/2009 07:07 AM
#11

Gw dukung pilihannya Gus Dur....GOLPUT.
Mnrt gw,Gus Dur adalah presiden yg paling fun,yang bisa bikin gw ketawa walo sedang pidato.... D D
qunqun - 01/01/2009 07:13 AM
#12

gus udah aneh pemikirannya...kena stroke beberapa kali..kayaknya otaknya dah mulai kacau koordinasinya....


tapi kok masih berambisi jadi presiden ya?? PKB aja pecah jadi beberapa partai...

Peace:
sjaria - 01/01/2009 08:04 AM
#13

nggak komplit klo foto-foto gus dur seperti ini nggak ditampilkan:

adu mulut berkepanjangan dengan habib rizieq
[GUS DUR] Yang suka ato nggak suka masuk sini<<< gitu aja kok repost..

gus, gus, bangun gus, gus dur sudah tidak jadi Presiden lagi, sudah diberhentikan oleh MPR.
[GUS DUR] Yang suka ato nggak suka masuk sini<<< gitu aja kok repost..

selamat tinggal rumahku, istanaku
[GUS DUR] Yang suka ato nggak suka masuk sini<<< gitu aja kok repost..

terlelap, seperti biasanya:
[GUS DUR] Yang suka ato nggak suka masuk sini<<< gitu aja kok repost..

no comment:
[GUS DUR] Yang suka ato nggak suka masuk sini<<< gitu aja kok repost..
NimbrunG 2392 - 01/01/2009 09:49 AM
#14

duh gw malu!!
Dare Dvil - 01/01/2009 09:58 AM
#15

gusdur kocak .. mata ny sexy pula .. hahahha
faencool - 01/01/2009 10:05 AM
#16

Quote:
Original Posted By odd or even
mantap deh gusdur...aku ingin tau knapa Gusdur kagak menjadi calon presiden?bukannya dia pernah menjadi presiden RI?
dulu jaman pimpinan dia smuanya aman2 tuh...


setujuuuuuuuu........
doaibu - 01/01/2009 10:06 AM
#17

Quote:
Original Posted By NimbrunG 2392
duh gw malu!!


[GUS DUR] Yang suka ato nggak suka masuk sini<<< gitu aja kok repost..
Silence Yue - 01/01/2009 10:13 AM
#18

ikut nyimak, Gan..

gag tau mo ngomong apa....
idchto - 01/01/2009 10:51 AM
#19

i love Gusdur.. really! beer:
dadias - 01/01/2009 11:02 AM
#20

Gus Dur orang yang hebat, beruntung bangsa Indonesia mempunyai Gus Dur. Tapi kalau untuk menjadi Presiden seperti kurang tepat. Keterbatasan fisik juga sangat mempengaruhi sebagai Presiden Indonesia. Seorang Presiden Indonesia yang dilanda banyak masalah membutuhkan seseorang yang sehat jasmani.
Page 1 of 5 |  1 2 3 4 5 > 
Home > CASCISCUS > SEPUTAR PEMILU 2009 > [GUS DUR] Yang suka ato nggak suka masuk sini<<< gitu aja kok repost..