Pisau
Home > LOEKELOE > ACTIVITY & HOBBY > Pisau > Memilih Pisau Survival yang Tepat
Total Views: 6669 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 3 of 5 |  < 1 2 3 4 5 > 

widjojono - 09/03/2012 08:21 PM
#41

Quote:
Original Posted By SteelEnthusiast
Ternyata pada berpengalaman survival semua yah. Gak nyangka pak tabib juga ternyata punya pengalaman survival juga. Kalo juragan kingkong sih sudah pasti deh. Saya paling heboh ya kemping sekolah/kuliah aja. hammer


eehhh... gak juga om SteelEnthusiast Yth,
itu pas pengalaman SMU saja, pun THAB nya paling di sekitar Bdg, tapi liat Aitor Jungle King -1 itu bener2 keren....
kalo inget kemping sekolah jadi inget piso survival ala pramuka D
http://pisauku.blogspot.com/2010/10/pisau-pramukasebuah-kesia-siaan.html
ini tulisan salah satu sesepuh Forpis ttg pisau Pramuka yg kesohor cendols....
cicak_cobing - 09/03/2012 11:20 PM
#42

Quote:
Original Posted By naturalist
Sepakat Om.



Ini bukan masalah ente jurusan bahasa atau bukan Bro, satu, tidak ada negara indonesa di bumi ini, adanya Indonesia.
Yang kedua, jangan menggunakan istilah dengan rancu dengan pemahaman sendiri atau bahkan berteori untuk sesuatu yang sudah jelas dan dipahami secara umum. Mungkin ente harus buka primbon lagi untuk mendalami apa itu tang, scale, jimping, grind, pesi, sarung, gagang, pin, bolt dll.

Mungkin ketika ada pertanyaan terkait survival di laut, ada dua hal yang terkait: material baja anti korosi dan bentuk. Dalam beberapa pisau selam yang saya lihat beberapa ujungnya tidak lancip, berbentuk segi empat, bahkan ada yang materialnya non-magnetic.

Bagi saya ketika orang berteori dengan asumsi akan menghadapi situasi hidup dan mati dan salah satunya kemudian tergantung pada pisau biasanya berandai2 memiliki pisau superior dengan fitur2 beraneka ragam dengan harapan fitur2 tersebut berdaya guna ketika kondisi yang menentukan hidup dan mati itu tiba. Percaya sama saya, ketika kondisi yang menentukan hidup dan mati (atau keselamatan) itu menjumpai kita yang pertama muncul dibenak orang kebanyakan adalah, kenapa hal ini "menimpa" saya. Akan tetapi sedia payung sebelum hujan itu penting.

Saya nggak mau berteori macem2 seperti bahwa pilot bawa pisau ini, tentara bawa pisau itu, mapala/pecinta alam bawa ini dll.

Spoiler for pengalaman

Satu kali saya mengalami kejadian yang silahkan dinilai sendiri apakah ini termasuk kondisi yang bisa masuk ke kategori survival.
Saat itu saya survei untuk keanekaragaman hayati di hutan Bukit Barisan Selatan (lebih dari sewindu sebelum Kopassus melakukan ekspedisi Bukit Barisan Selatan, dan kemaren saya dikontak oleh salah satu anggota tim pendahulu yang mempersiapkan untuk ekspedisi Kathulistiwa yang rencana mulai April nanti). Daerah itu (sesuai namanya) membuat kami harus naik turun punggungan dan jurang/lembah, bahkan pernah satu kali karena beratnya medan, dari jam 8 pagi hingga jam 6 sore jalan setelah dicek di GPS jarak lurus yang kami tempuh cuma 1.5km. Hal ini karena topografi yang ekstrem yang membuat kami terkadang harus memutar. Di awal keberangkatan kami menemukan beberapa lubang jebakan dengan tombak (kayu dan bambu yang diruncingi).
Ketika pekerjaan selesai, kami pulang dan menemukan satu punggungan yang bagus (walau banyak menemukan tulang belulang beberapa individu gajah yang dibunuh pemburu), tiba-tiba saja dunia menadi gelap dan saya menyadari hanya melihat kotak persegi empat yang cerah. Sebelumnya saya mendengar teriakan dari forest ranger yang bergabung dengan tim saya. Setelah beberapa saat saya menyadari bahwa saya berada pada lobang jebakan dengan ketinggian hampir 3meter. Untungnya berdasarkan pelajaran dari senior di kampus bahwa dalam packing sebaiknya bagian bawah ransel kita diisi dengan benda2 yang lunak seperti sleeping bag, baju, terpal dll baru kemudian alat keras/metal macam trangia dan galon bahan bakarnya di tempatkan di bagian atas. Hal ini berimplikasi ketika saya jatuh ke dalam lobang jebakan tersebut saya tidak merasakan sakit pada pinggang dan punggung . Lubang tersebut bagian bawah berupa lumpur dan juga dindingnya agak miring sehingga proses gesekan ransel dengan dinding jebakan ketika sudah dekat dengan dasar membuat saya jatuhnya tidak keras. Yang paling beruntung adalah tidak ada tombak dalam lubang ini. Jika ada, mungkin saya tidak akan pernah mengetik di kaskus. Pertanyaannya bagaimana kemudian saya bisa naik. Badan saya yang paling berat dibandingkan anggota tim yang lain. Waktu itu saya membawa golok gagang tanduk bahan per baja Toyota Hardtop dengan empu turunan Banten tinggal di daerah Talang Padang, Lampung. Saya kemudian keluarkan golok dari sarungnya, untuk sarungnya tidak pecah dan golok kemudian tidak berpotensi berbahaya ketika saya jatuh. Dalam hal ini pelajaran pertama adalah, gunakan kayu berkualitas untuk sarung golok ada. Kemudian saya gunakan golok tersebut untuk membuat takikan/cekungan pada dinding jebakan, saya gunakan kaki dan punggung untuk saling menekan dinding agar bisa naik keluar dari lobang jebakan. Waktu itu golok saya adalah model golok ujung naik dengan tip rounded melebar pada bagian ujung (yang dekat gagang lebih sempit daripada ujung), model ini ternyata enak banget untuk membuat lobang pada dinding jebakan, tipe gagang tradisional seperti golok umumnya, hal ini juga sangat enak dalam digenggam, bagian ujung gagang berada dibagian tengah telapak tangan saya ketika saya tusukkan golok ke dinding jebakan. Sayangnya bahan tanduk dengan tangan berlumpur agak sedikit licin dan berbahaya jika tangan meleset. Akan tetapi telapak tangan kanan saya tempatkan pada ujung gagang tangan kiri memegang gagang golok. Saya berhasil keluar dengan penampilan seperti monster swamp things. Saya nggak tahu, apakah situasi ini bisa dianggap situasi survival yang diidam2kan para penyuka pisau. Saya sih malas jika harus memiliki pengalaman ini lagi ke depannya hammer
Sewaktu forest ranger tersebut berteriak, ternyata beliau masuk ke lubang jebakan yang lain, akan tetapi dengan posisi kaki terkait kayu yang melintang sehingga tidak terjatuh ke dalam lubang
Jika saya bayangkan kembali kejadian itu:
1. Untung saya nggak bawa pisau komando FS , pasti akan kelamaan dalam membuat lobang [spoiler= sebenarnya] sebenarnya nggak punya sih jadi nggak bawa

2. Untung saya nggak demen ama model jungle king aitor dll, jika bawa itu agak lama juga dalam buat lubang
3. Victorinox saya tersimpan manis di saku, nggak kepake dalam kasus ini
4. Pisau sendok garpu wannabe juga tersimpan manis di dalam ransel
5. Untung golok ada dipinggang bukan di dalam ransel
6. Dalam perjalanan bekerja bertahun2 di rimba tidur di tenda, nggak pernah sekalipun membutuhkan machete macam gator yang punggungnya bergerigi[/spoiler]
Spoiler for jangan sampai

jangan sampai trit ini hilang lenyap dan menjadi ajang bully hammer
Mungkin judulnya saja diganti dengan pengalaman survival yang dihadapi dengan pisaumu dan dirimu, nggak usah comot blog sana sini pengalaman orang diposting dimari

wew, ternyata survivalist sejati nih.. thumbup:
menurut pengalaman bokap gw yang sering masuk ke hutan, katanya sih ga pake piso- cuma membutuhkan golok aja..
sedangkan orang bule biasanya pake pisau ato kampak.. mungkin beda tempat dan suasana justru aplikasinya berbeda juga.. pokoknya, apa yang berguna buat orang bule disana belum tentu berguna untuk kita disini lho.. hmmm.. think:
naturalist - 09/03/2012 11:47 PM
#43

Quote:
Original Posted By widjojono
Makasih mas Seagate Yth.

Oiya salah satu piso survival yg beken lewat filem nya Tommy Lee jones itu kan yg waktu itu ada di FJB juga, Tom brown tracker http://www.tombrowntracker.com/
ini juga menimbulkan pro kontra di Forpis disananya ya? konon ada yg menjelekkan, ada yg nge belain,... juga dengan pemakaian Kukri sebagai Survival knife http://www.m4040.com/Survival/Ghurka/Khukri%20Modification.htm
Jadi selain pisau2 yang "lazim" digunakan untuk survival seperti pisau Aitor, ternyata banyak pengembangan pisau survival dari pisau jenis lain.
Pun tokoh2 di media elektronik banyak yg membawa pisaunya yg sesuai dengan mereka masing2 seperti http://www.shtfblog.com/gear-review-the-bear-grylls-survival-knife/

Mengenai bentuk "tang" yang diharuskan full tang, sebenernya saya agak kurang setuju, karena rat tail pun juga lebarnya 1,5cm an, jadi kalau baja dengan lebar 1,5 cm dan tebal 5-6mm itu patah dengan pemakaian yg seharusnya, saya rasa kekuatan tangannya hebat sekali bisa mbacok batang sampe tang nya patah, kecuali dipakai buat mengungkit batu (ini bego nya si pemakai menurut saya) itulah kenapa di THAB (Teknik Hidup di Alam Bebas) yang diajarkan kakak senior dari W*****i & Ma*****a, beliau2 mengajarkan tetap menggunakan akal sehat saat survival, misalnya saat haus, ada air jangan langsung diminum, karena jika kita diare di hutan dipastikan tewas berdukas... juga pemakaian alat harus hati2, termasuk didalamnya pemakaian pisau.....dan beliau2 banyak yang memilih pisau Rat tail ini.....

Dulu sering saya bawa butiran iodium untuk membuat air mentah tawar bisa kita minum tanpa terlebih dahulu dimasak. Lama2 malas, air berasa nggak segar hammer
Bukan bermaksud mengajarkan untuk jorok dan mengambil langkah yang berbahaya, satu kali di pedalaman Papua bersama masyarakat asli berjalan menembus hutan. Air matang di botol sudah habis, sungai kecil yang kami lalui keliatan sangat bening dan seolah2 akan mampu memuaskan dahaga kita. Setelah memotret jejak kaki kasuari di pinggir sungai berlumpur, saya berdiri di tengah sungai kecil tersebut menghadap ke arah air berasal. Kemudian saya teguk air yang bening menyegarkan. Uiiiih seger bener, sedap.
Setelah jalan beberapa meter ke arah air berasal, ada sedikit jejak yang menyisakan air kecoklatan yang mulai mengendap dan mulai bening, woeeekkkkkkk, bekas babi hutan buang kotoran hammer ... tapi airnya seger lho tadi rasanya hammer
Untung nggak diare hammer
Mungkin ini hasil efek ciblon di sungai keruh saat masih kecil dimana menjadi tempat memandikan sapi-kerbau-orang boker dengan air keruh kecoklatan lumpur dan tletong yang tertelan membuat usus jadi sedikit tahan hammer.
Dalam perjalan bersama kawan2 dari Papua ini, salah satu sumber makanan yang bisa digunakan untuk survival adalah buah woka yang mulai berkecambah, tempurungnya lebih keras dari tempurung kelapa (mirip lontar, Borassus sp.). Setelah tempurung dihancurkan kentosnya (seperti kentos kelapa), manis dan enak untuk dimakan. Selain itu jika musim buah kenari kita tinggal bikin api bakar buah kenari makan kacang yang ada di dalamnya. Selain itu biji2 ketapang juga menyediakan kacang yang enak dimakan pula, mentah tanpa dibakar pun enak
naturalist - 09/03/2012 11:54 PM
#44

Quote:
Original Posted By cicak_cobing
wew, ternyata survivalist sejati nih.. thumbup:
menurut pengalaman bokap gw yang sering masuk ke hutan, katanya sih ga pake piso- cuma membutuhkan golok aja..
sedangkan orang bule biasanya pake pisau ato kampak.. mungkin beda tempat dan suasana justru aplikasinya berbeda juga.. pokoknya, apa yang berguna buat orang bule disana belum tentu berguna untuk kita disini lho.. hmmm.. think:

Kalo saya waktu itu bawa kukri kayaknya susah juga situasinya....
Emang golok enak di medan outdoor
Saya rasa masalah kebiasaan saja, terkait pula hutan dan kondisi tegakannya.
widjojono - 10/03/2012 06:49 AM
#45

Quote:
Original Posted By naturalist
Dulu sering saya bawa butiran iodium untuk membuat air mentah tawar bisa kita minum tanpa terlebih dahulu dimasak. Lama2 malas, air berasa nggak segar hammer
Bukan bermaksud mengajarkan untuk jorok dan mengambil langkah yang berbahaya, satu kali di pedalaman Papua bersama masyarakat asli berjalan menembus hutan. Air matang di botol sudah habis, sungai kecil yang kami lalui keliatan sangat bening dan seolah2 akan mampu memuaskan dahaga kita. Setelah memotret jejak kaki kasuari di pinggir sungai berlumpur, saya berdiri di tengah sungai kecil tersebut menghadap ke arah air berasal. Kemudian saya teguk air yang bening menyegarkan. Uiiiih seger bener, sedap.
Setelah jalan beberapa meter ke arah air berasal, ada sedikit jejak yang menyisakan air kecoklatan yang mulai mengendap dan mulai bening, woeeekkkkkkk, bekas babi hutan buang kotoran hammer ... tapi airnya seger lho tadi rasanya hammer
Untung nggak diare hammer
Mungkin ini hasil efek ciblon di sungai keruh saat masih kecil dimana menjadi tempat memandikan sapi-kerbau-orang boker dengan air keruh kecoklatan lumpur dan tletong yang tertelan membuat usus jadi sedikit tahan hammer.
Dalam perjalan bersama kawan2 dari Papua ini, salah satu sumber makanan yang bisa digunakan untuk survival adalah buah woka yang mulai berkecambah, tempurungnya lebih keras dari tempurung kelapa (mirip lontar, Borassus sp.). Setelah tempurung dihancurkan kentosnya (seperti kentos kelapa), manis dan enak untuk dimakan. Selain itu jika musim buah kenari kita tinggal bikin api bakar buah kenari makan kacang yang ada di dalamnya. Selain itu biji2 ketapang juga menyediakan kacang yang enak dimakan pula, mentah tanpa dibakar pun enak

Kang Naturalist Yth...
Hahahahahahaha..... ngakak dulu bang ngakaks...
kebayang dong mas bro shock liat ada tokai miss piggy dikali? hehehe...
memang manusia sebenernya juga punya sistem pertahanan, apalagi kita yang dibesarkan "diumbar" oleh orang tua, jajan di sekolahan pun cenderung kotor, tapi usus kita punya pertahanan yg kuat, itulah kenapa kalo mas bro kedatengan temen bule wong londo ya jangan diajak makan pecel atau warteg, kita gak apa2 dia kena traveller's diarhea...hahahaha...
Pernah liat sih mas ada water purifier yg kaya seruling pendek gemuk yg ada cartridge filternya, dulu sih belum ada ya, paling pake tablet water purifier gitu. Kalau saya dulu sih masih sma, jadi THAB sambil navigasi nya pun masih di pantau kakak2 alumni yang di Wanadri ITB & Mahitala Unpar, jadi masih aman, bentuk simulasi saja. Itu aja potong kompas jarak 5-7km an nyimpang dari titik yg seharusnya kira2 mau 800m, ya kadang malem2 baca azimuth back azimuth ngantuk, ujan, dingin , plus laper ya mbacanya dah ngantuk2...
sayang ga kesampaian mau kuliah di geologi ITB..... udah ngayal pengen masuk Wanadri padahal, hahahahaha....
Quote:
Original Posted By naturalist
Kalo saya waktu itu bawa kukri kayaknya susah juga situasinya....
Emang golok enak di medan outdoor
Saya rasa masalah kebiasaan saja, terkait pula hutan dan kondisi tegakannya.

Kukri kadang terlalu berat ya mas, juga kebiasaan chop nya, kalo kapak juga kayaknya ga bisa slice, memang yg saya rasa sih golok lumayan cocok buat survival, di literatur juga Gurkha buat trabas lebih pakai golok, bukan kukri.
TheJapemethe - 10/03/2012 07:36 AM
#46

Quote:
Original Posted By naturalist
Spoiler for pengalaman mas Naturalist
Dulu sering saya bawa butiran iodium untuk membuat air mentah tawar bisa kita minum tanpa terlebih dahulu dimasak. Lama2 malas, air berasa nggak segar hammer
Bukan bermaksud mengajarkan untuk jorok dan mengambil langkah yang berbahaya, satu kali di pedalaman Papua bersama masyarakat asli berjalan menembus hutan. Air matang di botol sudah habis, sungai kecil yang kami lalui keliatan sangat bening dan seolah2 akan mampu memuaskan dahaga kita. Setelah memotret jejak kaki kasuari di pinggir sungai berlumpur, saya berdiri di tengah sungai kecil tersebut menghadap ke arah air berasal. Kemudian saya teguk air yang bening menyegarkan. Uiiiih seger bener, sedap.
Setelah jalan beberapa meter ke arah air berasal, ada sedikit jejak yang menyisakan air kecoklatan yang mulai mengendap dan mulai bening, woeeekkkkkkk, bekas babi hutan buang kotoran hammer ... tapi airnya seger lho tadi rasanya hammer
Untung nggak diare hammer
Mungkin ini hasil efek ciblon di sungai keruh saat masih kecil dimana menjadi tempat memandikan sapi-kerbau-orang boker dengan air keruh kecoklatan lumpur dan tletong yang tertelan membuat usus jadi sedikit tahan hammer.
Dalam perjalan bersama kawan2 dari Papua ini, salah satu sumber makanan yang bisa digunakan untuk survival adalah buah woka yang mulai berkecambah, tempurungnya lebih keras dari tempurung kelapa (mirip lontar, Borassus sp.). Setelah tempurung dihancurkan kentosnya (seperti kentos kelapa), manis dan enak untuk dimakan. Selain itu jika musim buah kenari kita tinggal bikin rapi bakar buah kenari makan kacang yang ada di dalamnya. Selain itu biji2 ketapang juga menyediakan kacang yang enak dimakan pula, mentah tanpa dibakar pun enak

Jadi tambah pengetahuan.. :2thumbup
Nyobain biji ketapang belakang kantor ah..........................ngacir:
Quote:
Original Posted By widjojono
Spoiler for pengalaman pak Jon
Kang Naturalist Yth...
Hahahahahahaha..... ngakak dulu bang ngakaks...
kebayang dong mas bro shock liat ada tokai miss piggy dikali? hehehe...
memang manusia sebenernya juga punya sistem pertahanan, apalagi kita yang dibesarkan "diumbar" oleh orang tua, jajan di sekolahan pun cenderung kotor, tapi usus kita punya pertahanan yg kuat, itulah kenapa kalo mas bro kedatengan temen bule wong londo ya jangan diajak makan pecel atau warteg, kita gak apa2 dia kena traveller's diarhea...hahahaha...
Pernah liat sih mas ada water purifier yg kaya seruling pendek gemuk yg ada cartridge filternya, dulu sih belum ada ya, paling pake tablet water purifier gitu. Kalau saya dulu sih masih sma, jadi THAB sambil navigasi nya pun masih di pantau kakak2 alumni yang di Wanadri ITB & Mahitala Unpar, jadi masih aman, bentuk simulasi saja. Itu aja potong kompas jarak 5-7km an nyimpang dari titik yg seharusnya kira2 mau 800m, ya kadang malem2 baca azimuth back azimuth ngantuk, ujan, dingin , plus laper ya mbacanya dah ngantuk2...
sayang ga kesampaian mau kuliah di geologi ITB..... udah ngayal pengen masuk Wanadri padahal, hahahahaha....

Kukri kadang terlalu berat ya mas, juga kebiasaan chop nya, kalo kapak juga kayaknya ga bisa slice, memang yg saya rasa sih golok lumayan cocok buat survival, di literatur juga Gurkha buat trabas lebih pakai golok, bukan kukri.

Bentuk kukri yang unik (apalagi pake diukir-ukir) bagi ane lebih berfungsi buat pamer & gagah2an sama temen yang ikutan jalan ke hutan sebenernya.. hammers Walopun tipe sirupate ndak patio berat & lumayan buat nebas2. Tapi...
Tetep aja yang bener2 nrabas di depan ialah anggota yang bawa parang & golok.. hammers

Berarti saatnya pesen golok ke bladesmith terpercaya..
........................................ngacir:
fasolgasin - 10/03/2012 12:09 PM
#47

wah rame bener nih thread..
Quote:
Original Posted By naturalist

Sepakat Om.



Ini bukan masalah ente jurusan bahasa atau bukan Bro, satu, tidak ada negara indonesa di bumi ini, adanya Indonesia.
Yang kedua, jangan menggunakan istilah dengan rancu dengan pemahaman sendiri atau bahkan berteori untuk sesuatu yang sudah jelas dan dipahami secara umum. Mungkin ente harus buka primbon lagi untuk mendalami apa itu tang, scale, jimping, grind, pesi, sarung, gagang, pin, bolt dll.

Mungkin ketika ada pertanyaan terkait survival di laut, ada dua hal yang terkait: material baja anti korosi dan bentuk. Dalam beberapa pisau selam yang saya lihat beberapa ujungnya tidak lancip, berbentuk segi empat, bahkan ada yang materialnya non-magnetic.

Bagi saya ketika orang berteori dengan asumsi akan menghadapi situasi hidup dan mati dan salah satunya kemudian tergantung pada pisau biasanya berandai2 memiliki pisau superior dengan fitur2 beraneka ragam dengan harapan fitur2 tersebut berdaya guna ketika kondisi yang menentukan hidup dan mati itu tiba. Percaya sama saya, ketika kondisi yang menentukan hidup dan mati (atau keselamatan) itu menjumpai kita yang pertama muncul dibenak orang kebanyakan adalah, kenapa hal ini "menimpa" saya. Akan tetapi sedia payung sebelum hujan itu penting.

Saya nggak mau berteori macem2 seperti bahwa pilot bawa pisau ini, tentara bawa pisau itu, mapala/pecinta alam bawa ini dll.

Spoiler for pengalaman

Satu kali saya mengalami kejadian yang silahkan dinilai sendiri apakah ini termasuk kondisi yang bisa masuk ke kategori survival.
Saat itu saya survei untuk keanekaragaman hayati di hutan Bukit Barisan Selatan (lebih dari sewindu sebelum Kopassus melakukan ekspedisi Bukit Barisan Selatan, dan kemaren saya dikontak oleh salah satu anggota tim pendahulu yang mempersiapkan untuk ekspedisi Kathulistiwa yang rencana mulai April nanti). Daerah itu (sesuai namanya) membuat kami harus naik turun punggungan dan jurang/lembah, bahkan pernah satu kali karena beratnya medan, dari jam 8 pagi hingga jam 6 sore jalan setelah dicek di GPS jarak lurus yang kami tempuh cuma 1.5km. Hal ini karena topografi yang ekstrem yang membuat kami terkadang harus memutar. Di awal keberangkatan kami menemukan beberapa lubang jebakan dengan tombak (kayu dan bambu yang diruncingi).
Ketika pekerjaan selesai, kami pulang dan menemukan satu punggungan yang bagus (walau banyak menemukan tulang belulang beberapa individu gajah yang dibunuh pemburu), tiba-tiba saja dunia menadi gelap dan saya menyadari hanya melihat kotak persegi empat yang cerah. Sebelumnya saya mendengar teriakan dari forest ranger yang bergabung dengan tim saya. Setelah beberapa saat saya menyadari bahwa saya berada pada lobang jebakan dengan ketinggian hampir 3meter. Untungnya berdasarkan pelajaran dari senior di kampus bahwa dalam packing sebaiknya bagian bawah ransel kita diisi dengan benda2 yang lunak seperti sleeping bag, baju, terpal dll baru kemudian alat keras/metal macam trangia dan galon bahan bakarnya di tempatkan di bagian atas. Hal ini berimplikasi ketika saya jatuh ke dalam lobang jebakan tersebut saya tidak merasakan sakit pada pinggang dan punggung . Lubang tersebut bagian bawah berupa lumpur dan juga dindingnya agak miring sehingga proses gesekan ransel dengan dinding jebakan ketika sudah dekat dengan dasar membuat saya jatuhnya tidak keras. Yang paling beruntung adalah tidak ada tombak dalam lubang ini. Jika ada, mungkin saya tidak akan pernah mengetik di kaskus. Pertanyaannya bagaimana kemudian saya bisa naik. Badan saya yang paling berat dibandingkan anggota tim yang lain. Waktu itu saya membawa golok gagang tanduk bahan per baja Toyota Hardtop dengan empu turunan Banten tinggal di daerah Talang Padang, Lampung. Saya kemudian keluarkan golok dari sarungnya, untuk sarungnya tidak pecah dan golok kemudian tidak berpotensi berbahaya ketika saya jatuh. Dalam hal ini pelajaran pertama adalah, gunakan kayu berkualitas untuk sarung golok ada. Kemudian saya gunakan golok tersebut untuk membuat takikan/cekungan pada dinding jebakan, saya gunakan kaki dan punggung untuk saling menekan dinding agar bisa naik keluar dari lobang jebakan. Waktu itu golok saya adalah model golok ujung naik dengan tip rounded melebar pada bagian ujung (yang dekat gagang lebih sempit daripada ujung), model ini ternyata enak banget untuk membuat lobang pada dinding jebakan, tipe gagang tradisional seperti golok umumnya, hal ini juga sangat enak dalam digenggam, bagian ujung gagang berada dibagian tengah telapak tangan saya ketika saya tusukkan golok ke dinding jebakan. Sayangnya bahan tanduk dengan tangan berlumpur agak sedikit licin dan berbahaya jika tangan meleset. Akan tetapi telapak tangan kanan saya tempatkan pada ujung gagang tangan kiri memegang gagang golok. Saya berhasil keluar dengan penampilan seperti monster swamp things. Saya nggak tahu, apakah situasi ini bisa dianggap situasi survival yang diidam2kan para penyuka pisau. Saya sih malas jika harus memiliki pengalaman ini lagi ke depannya hammer
Sewaktu forest ranger tersebut berteriak, ternyata beliau masuk ke lubang jebakan yang lain, akan tetapi dengan posisi kaki terkait kayu yang melintang sehingga tidak terjatuh ke dalam lubang
Jika saya bayangkan kembali kejadian itu:
1. Untung saya nggak bawa pisau komando FS , pasti akan kelamaan dalam membuat lobang [spoiler= sebenarnya] sebenarnya nggak punya sih jadi nggak bawa

2. Untung saya nggak demen ama model jungle king aitor dll, jika bawa itu agak lama juga dalam buat lubang
3. Victorinox saya tersimpan manis di saku, nggak kepake dalam kasus ini
4. Pisau sendok garpu wannabe juga tersimpan manis di dalam ransel
5. Untung golok ada dipinggang bukan di dalam ransel
6. Dalam perjalanan bekerja bertahun2 di rimba tidur di tenda, nggak pernah sekalipun membutuhkan machete macam gator yang punggungnya bergerigi[/spoiler]
Spoiler for jangan sampai

jangan sampai trit ini hilang lenyap dan menjadi ajang bully hammer
Mungkin judulnya saja diganti dengan pengalaman survival yang dihadapi dengan pisaumu dan dirimu, nggak usah comot blog sana sini pengalaman orang diposting dimari

oke gan ngga lagi lagi..:sorry

nanti ane nulis artikel smdiri dah, tunggu yah...malus
widjojono - 10/03/2012 04:28 PM
#48

Quote:
Original Posted By fasolgasin
wah rame bener nih thread..

oke gan ngga lagi lagi..:sorry

nanti ane nulis artikel smdiri dah, tunggu yah...malus


Eh masbro Fasolgasin Yth,
copas juga gak apa2 lah.....masih mending masbro bisa bikin thread yang rame, saya malah ga pernah bikin thread, soalnya mau nulis apaan? ntar nulis jadi nya stensilan En* Arr*w atau Ni*k cart*r malah runyam ngakak

Btw mau tanya nih seputar pisau survival, di foto kan itu Extrema ratio ya? kalo gak salah itu kan salah satu piso mahal (menurut saya), nah mas bro ada gak pisau recomend yg terjangkau harganya? jadi supaya ada gambaran lah....

Maju terus mas bro....
Must_Seagate - 10/03/2012 11:17 PM
#49

Quote:
Original Posted By widjojono
Makasih mas Seagate Yth.

Oiya salah satu piso survival yg beken lewat filem nya Tommy Lee jones itu kan yg waktu itu ada di FJB juga, Tom brown tracker http://www.tombrowntracker.com/
ini juga menimbulkan pro kontra di Forpis disananya ya? konon ada yg menjelekkan, ada yg nge belain,... juga dengan pemakaian Kukri sebagai Survival knife http://www.m4040.com/Survival/Ghurka/Khukri%20Modification.htm
Jadi selain pisau2 yang "lazim" digunakan untuk survival seperti pisau Aitor, ternyata banyak pengembangan pisau survival dari pisau jenis lain.
Pun tokoh2 di media elektronik banyak yg membawa pisaunya yg sesuai dengan mereka masing2 seperti http://www.shtfblog.com/gear-review-the-bear-grylls-survival-knife/

Mengenai bentuk "tang" yang diharuskan full tang, sebenernya saya agak kurang setuju, karena rat tail pun juga lebarnya 1,5cm an, jadi kalau baja dengan lebar 1,5 cm dan tebal 5-6mm itu patah dengan pemakaian yg seharusnya, saya rasa kekuatan tangannya hebat sekali bisa mbacok batang sampe tang nya patah, kecuali dipakai buat mengungkit batu (ini bego nya si pemakai menurut saya) itulah kenapa di THAB (Teknik Hidup di Alam Bebas) yang diajarkan kakak senior dari W*****i & Ma*****a, beliau2 mengajarkan tetap menggunakan akal sehat saat survival, misalnya saat haus, ada air jangan langsung diminum, karena jika kita diare di hutan dipastikan tewas berdukas... juga pemakaian alat harus hati2, termasuk didalamnya pemakaian pisau.....dan beliau2 banyak yang memilih pisau Rat tail ini.....


he he setuju saya mas Jhon, Tom Brown Tracker terkenal dan malah sempet dipakai sebagai acuan TNI AD sebagai pisau mereka, hanya saja tidak global, hanya dikususkan di daerah tertentu, itu juga bukan Tom Brown yang diimport dari sana melainkan produk lokal dengan mengadopsi bentuknya, walopun terkenal saya pribadi sangat tidak tertarik dan masih bingung akan keuntungan memakai pisau dengan bentuk seperti itu (mungkin karena saya ndak punya hammer\).

Sekali lagi kalau saya bilang, pemilihan alat untuk survival harus dihadapkan kepada realita keadaan dan bukan berdasarkan teori kosong yang berasal dari teknik marketing dari suatu produk tertentu, hanya orang yang pernah mengalami perjuangan survive yang bisa membagi pengalaman. D

Quote:
Original Posted By SteelEnthusiast
Ternyata pada berpengalaman survival semua yah. Gak nyangka pak tabib juga ternyata punya pengalaman survival juga. Kalo juragan kingkong sih sudah pasti deh. Saya paling heboh ya kemping sekolah/kuliah aja. hammer


Justru pelajaran survival pertama yang saya dapatkan berasal dari kemping pramuka om D

Quote:
Original Posted By cicak_cobing
wew, ternyata survivalist sejati nih.. thumbup:
menurut pengalaman bokap gw yang sering masuk ke hutan, katanya sih ga pake piso- cuma membutuhkan golok aja..
sedangkan orang bule biasanya pake pisau ato kampak.. mungkin beda tempat dan suasana justru aplikasinya berbeda juga.. pokoknya, apa yang berguna buat orang bule disana belum tentu berguna untuk kita disini lho.. hmmm.. think:


Setuju pakde, kalau orang bule survive masuk hutan pake bawa2 kapak segala ya udah bukan survive lagi ya kesannya, itu memang udah persiapan. Jadi kalo orang bilang survive masuk hutan bawa bulldozer kan ga asik amat ya pak de Cicak hahaha.

Saya punya keyakinan bokap pak De Cicak adalah orang yang sudah mencicipi keramahan hutan terhadap manusia yang masuk ke dalam hutan tersebut, sama seperti mas Naturalist D

Quote:
Original Posted By naturalist
Spoiler for
Dulu sering saya bawa butiran iodium untuk membuat air mentah tawar bisa kita minum tanpa terlebih dahulu dimasak. Lama2 malas, air berasa nggak segar hammer
Bukan bermaksud mengajarkan untuk jorok dan mengambil langkah yang berbahaya, satu kali di pedalaman Papua bersama masyarakat asli berjalan menembus hutan. Air matang di botol sudah habis, sungai kecil yang kami lalui keliatan sangat bening dan seolah2 akan mampu memuaskan dahaga kita. Setelah memotret jejak kaki kasuari di pinggir sungai berlumpur, saya berdiri di tengah sungai kecil tersebut menghadap ke arah air berasal. Kemudian saya teguk air yang bening menyegarkan. Uiiiih seger bener, sedap.
Setelah jalan beberapa meter ke arah air berasal, ada sedikit jejak yang menyisakan air kecoklatan yang mulai mengendap dan mulai bening, woeeekkkkkkk, bekas babi hutan buang kotoran hammer ... tapi airnya seger lho tadi rasanya hammer
Untung nggak diare hammer
Mungkin ini hasil efek ciblon di sungai keruh saat masih kecil dimana menjadi tempat memandikan sapi-kerbau-orang boker dengan air keruh kecoklatan lumpur dan tletong yang tertelan membuat usus jadi sedikit tahan hammer.
Dalam perjalan bersama kawan2 dari Papua ini, salah satu sumber makanan yang bisa digunakan untuk survival adalah buah woka yang mulai berkecambah, tempurungnya lebih keras dari tempurung kelapa (mirip lontar, Borassus sp.). Setelah tempurung dihancurkan kentosnya (seperti kentos kelapa), manis dan enak untuk dimakan. Selain itu jika musim buah kenari kita tinggal bikin api bakar buah kenari makan kacang yang ada di dalamnya. Selain itu biji2 ketapang juga menyediakan kacang yang enak dimakan pula, mentah tanpa dibakar pun enak


ngakak .... sueeeegeeeerrrr . . . . . . .

Quote:
Original Posted By TheJapemethe
Jadi tambah pengetahuan.. :2thumbup
Nyobain biji ketapang belakang kantor ah..........................ngacir:

Bentuk kukri yang unik (apalagi pake diukir-ukir) bagi ane lebih berfungsi buat pamer & gagah2an sama temen yang ikutan jalan ke hutan sebenernya.. hammers Walopun tipe sirupate ndak patio berat & lumayan buat nebas2. Tapi...
Tetep aja yang bener2 nrabas di depan ialah anggota yang bawa parang & golok.. hammers

Berarti saatnya pesen golok ke bladesmith terpercaya..
........................................ngacir:


Wis to mas, bentuk seperti yang saya posting diatas walopun jelek dan kasar tapi akan sangat bersahabat bagi kita kalau dibawa masuk kehutan

Quote:
Original Posted By fasolgasin
wah rame bener nih thread..

oke gan ngga lagi lagi..:sorry

nanti ane nulis artikel smdiri dah, tunggu yah...malus


Bukan itu intinya bro . . . hahah, sebenernya ini pembahasan jadi rame kayak pasar malem gini lebih kepada benturan orang yang menulis artikel tersebut, bukan melulu kepada TS, benturannya ya antara ajang iklan/promosi. toeri melawan praktek lapangan. Seperti dibilang temen2 diatas bahwa apayang baik buat bule belum tentu baik buat kita, kondisi hutan di Jawa dan Kalimantan berbeda, apalagi hutannya buke sama hutan kita disini, jadi kita ndak boleh telan mentah2 teori2 yang subyektif D

Keep sharing bro, welcome to the SubFORPIS beer:
jogjaraya - 04/07/2012 03:36 AM
#50

agan-agan sekalian, untuk saat ini saya punya pisau survival sekedar buat di lihat, di coba, dan di timang2. jarang di jajal ke hutan. Soalnya disini dah ndak ada hutan, kalo mau ke gunung males juga dah ndak ada temannya. Lagian pekerjaan saya memang jauh dari nuansa hutan atau gunung. jadi satu-satunya pisau Survival saya adalah multitol victorinox, pisau, gunting, pinset dan jarumnya sangat berguna.

meskipun demikian saya tetap demen pisau survival. maksud saya disini pisau dengan bilah sekitar 5-7 inci. maka kemudian, waktu jalan di amazon.com saya kesengsem dengan desain gerber. Jadi ambil pisau di bawah ini deh. kebetulan pas ngecek di ebay, ada free ongkir. ya sudah.... saya ambil aja. toh harganya cukup murah. dan sekarang, masih menunggu kiriman datang. dan gambar di bawah ini, di comot dari tetangga sebelah.

Fitur utama yang membuat saya suka secara fisual.
- Desain dan corak warna
- blade serated + edge
- Ada peluitnya di lanyard pisaunya
- ada fire starter
- ada, diamond sharpener di wadahnya
- ada panduan untuk survival

Kelihatannya sih menjanjikan, Tapi entahlah. namanya juga produk industri yang penuh dengan trik marketing


Memilih Pisau Survival yang Tepat

Memilih Pisau Survival yang Tepat[/spoiler]
Spoiler for Gerber Bear Grylls Survival Series Ultimate Fixed Blade Knife
Memilih Pisau Survival yang Tepat

Spoiler for Gerber Bear Grylls Survival Series Ultimate Fixed Blade Knife
Memilih Pisau Survival yang Tepat

Spoiler for Gerber Bear Grylls Survival Series Ultimate Fixed Blade Knife
Memilih Pisau Survival yang Tepat
S.W.I.D.Y.A - 04/07/2012 04:52 AM
#51

Quote:
Original Posted By jogjaraya
agan-agan sekalian, untuk saat ini saya punya pisau survival sekedar buat di lihat, di coba, dan di timang2. jarang di jajal ke hutan. Soalnya disini dah ndak ada hutan, kalo mau ke gunung males juga dah ndak ada temannya. Lagian pekerjaan saya memang jauh dari nuansa hutan atau gunung. jadi satu-satunya pisau Survival saya adalah multitol victorinox, pisau, gunting, pinset dan jarumnya sangat berguna.

meskipun demikian saya tetap demen pisau survival. maksud saya disini pisau dengan bilah sekitar 5-7 inci. maka kemudian, waktu jalan di amazon.com saya kesengsem dengan desain gerber. Jadi ambil pisau di bawah ini deh. kebetulan pas ngecek di ebay, ada free ongkir. ya sudah.... saya ambil aja. toh harganya cukup murah. dan sekarang, masih menunggu kiriman datang. dan gambar di bawah ini, di comot dari tetangga sebelah.

Fitur utama yang membuat saya suka secara fisual.
- Desain dan corak warna
- blade serated + edge
- Ada peluitnya di lanyard pisaunya
- ada fire starter
- ada, diamond sharpener di wadahnya
- ada panduan untuk survival

Kelihatannya sih menjanjikan, Tapi entahlah. namanya juga produk industri yang penuh dengan trik marketing


Memilih Pisau Survival yang Tepat

Memilih Pisau Survival yang Tepat[/spoiler]
Spoiler for Gerber Bear Grylls Survival Series Ultimate Fixed Blade Knife
Memilih Pisau Survival yang Tepat

Spoiler for Gerber Bear Grylls Survival Series Ultimate Fixed Blade Knife
Memilih Pisau Survival yang Tepat

Spoiler for Gerber Bear Grylls Survival Series Ultimate Fixed Blade Knife
Memilih Pisau Survival yang Tepat


saya sih gak punya pengalaman survival,paling mentok kemah pramuka doang,jadi gak bisa ngasih opini pribadi hammer
tapi ada link reviewnya di postingan om widjo
http://www.shtfblog.com/gear-review-the-bear-grylls-survival-knife/

cuma mau menyarankan ati kalo mau beli piso ini,soalnya yang KW juga udah banyak beredar mas,kalo yang asli mungkin bisa dipertanggungjawabkan kualitasnya,tapi kalo yang KW gak tau deh D

ini beberapa link yang menjual BG produksi china dengan harga hampir 1/2 dari harga resmi gerber
http://www.aliexpress.com/product-gs/508591625-Direct-Marketing-NEW-Gerber-Bear-Grylls-knife-Ultimate -Survival-Fixed-Blade-Scout-Knife-hunting-outdoor-knives-wholesalers.html

ini kutipan review salah satu pengguna pisonya
Quote:
This product is a fake just like the Bear Grylls name it carries. Gerber has chosen to build this knife as a gimmic. Very poor quality, not even as good as some of Gerber's $15 knives. Save your money and get a real survival knife; Gerber LMF, esee, TOPS, Ka-Bar Becker, Cold steel, or even a SOG. Spend an extra $20-60 and get a knife worth the money.

kalo mau baca2 review lainnya ada disini :
http://www.rei.com/product/816234/gerber-bear-grylls-ultimate-knife


semoga membantu,maaf kalo ada yang salah o
jogjaraya - 04/07/2012 11:04 PM
#52

Quote:
Original Posted By S.W.I.D.Y.A
saya sih gak punya pengalaman survival,paling mentok kemah pramuka doang,jadi gak bisa ngasih opini pribadi hammer
tapi ada link reviewnya di postingan om widjo
http://www.shtfblog.com/gear-review-the-bear-grylls-survival-knife/

cuma mau menyarankan ati kalo mau beli piso ini,soalnya yang KW juga udah banyak beredar mas,kalo yang asli mungkin bisa dipertanggungjawabkan kualitasnya,tapi kalo yang KW gak tau deh D

ini beberapa link yang menjual BG produksi china dengan harga hampir 1/2 dari harga resmi gerber
http://www.aliexpress.com/product-gs/508591625-Direct-Marketing-NEW-Gerber-Bear-Grylls-knife-Ultimate -Survival-Fixed-Blade-Scout-Knife-hunting-outdoor-knives-wholesalers.html

ini kutipan review salah satu pengguna pisonya

kalo mau baca2 review lainnya ada disini :
http://www.rei.com/product/816234/gerber-bear-grylls-ultimate-knife


semoga membantu,maaf kalo ada yang salah o


Thanks gan, atas infonya. sebelum membeli produk ini, saya sempatkan membaca beberapa review tentang produk ini. memang ada review yang positif dan ada pula yang negative. Akan tetapi saya terlanjur suka dengan desainnya. masalah baik buruknya, belum tahu. karena saya belum lihat secara langsung sih. nanti jika sudah saya sampai, akan saya review dimari gan.
naturalist - 05/07/2012 08:38 AM
#53

Quote:
Original Posted By jogjaraya
Thanks gan, atas infonya. sebelum membeli produk ini, saya sempatkan membaca beberapa review tentang produk ini. memang ada review yang positif dan ada pula yang negative. Akan tetapi saya terlanjur suka dengan desainnya. masalah baik buruknya, belum tahu. karena saya belum lihat secara langsung sih. nanti jika sudah saya sampai, akan saya review dimari gan.

Yang saya bold itu yang terpenting Mas Bro dalam membeli dan memilih pisau. Sama dengan meminang perempuan untuk menjadi isteri. Nggak peduli orang bilang apa yang penting kita CINTA D....
Jangan sampai kecewa ama pilihan kita. Ketika kelemahan dari pisau tersebut misalnya kita dapatkan, kita syukuri dengan kelebihannya..
Kemudian untuk fungsi, kita timbang-timbang dengan rasional, apakah akan berdaya guna sesuai fitrahnya atau tidak.
Y036H4 - 05/07/2012 09:41 AM
#54

Quote:
Original Posted By naturalist
Yang saya bold itu yang terpenting Mas Bro dalam membeli dan memilih pisau. Sama dengan meminang perempuan untuk menjadi isteri. Nggak peduli orang bilang apa yang penting kita CINTA D....
Jangan sampai kecewa ama pilihan kita. Ketika kelemahan dari pisau tersebut misalnya kita dapatkan, kita syukuri dengan kelebihannya..
Kemudian untuk fungsi, kita timbang-timbang dengan rasional, apakah akan berdaya guna sesuai fitrahnya atau tidak.


Muantab ulasannya Mas, saya setuju dan salut banget dengan pengalaman anda .Itu yang kadang2 ada rasa jengah, orang2 pedahulu kita sudah membuktikan toh bahwa bedog,mandau, parang dll,sudah terbukti keandalan secara fungsi, kalau saya lebih suka buatan anak negeri dan pengalanman sendiri sudah terbukti..mudah2an pengalaman anda banyak menginspirasi banyak kawan dimari....amiin
Sekali lagi ..salut buat Mas Anto..
catros - 05/07/2012 01:34 PM
#55

Quote:
Original Posted By Y036H4
Muantab ulasannya Mas, saya setuju dan salut banget dengan pengalaman anda .Itu yang kadang2 ada rasa jengah, orang2 pedahulu kita sudah membuktikan toh bahwa bedog,mandau, parang dll,sudah terbukti keandalan secara fungsi, kalau saya lebih suka buatan anak negeri dan pengalanman sendiri sudah terbukti..mudah2an pengalaman anda banyak menginspirasi banyak kawan dimari....amiin
Sekali lagi ..salut buat Mas Anto..


saya salah satu pengagum dan pengguna buatan anak negeri lho..D
secara udah dari kecil diperkenalkan dan menggunakannya
udah terbukti handal dan bisa diandalkan
jogjaraya - 05/07/2012 04:41 PM
#56

Quote:
Original Posted By catros
saya salah satu pengagum dan pengguna buatan anak negeri lho..D
secara udah dari kecil diperkenalkan dan menggunakannya
udah terbukti handal dan bisa diandalkan


iya gan, untuk fungsi saya memang lebih suka pisau/golok/bendo buatan lokal. murah, tahan lama, tajam dan kuat.

Tapi untuk di lihat-lihat, saya seneng buatan luar. karena secara disain dia menang.
S.W.I.D.Y.A - 05/07/2012 05:29 PM
#57

Quote:
Original Posted By jogjaraya
Thanks gan, atas infonya. sebelum membeli produk ini, saya sempatkan membaca beberapa review tentang produk ini. memang ada review yang positif dan ada pula yang negative. Akan tetapi saya terlanjur suka dengan desainnya. masalah baik buruknya, belum tahu. karena saya belum lihat secara langsung sih. nanti jika sudah saya sampai, akan saya review dimari gan.

ditunggu di trit review gan D
Quote:
Original Posted By naturalist
Yang saya bold itu yang terpenting Mas Bro dalam membeli dan memilih pisau. Sama dengan meminang perempuan untuk menjadi isteri. Nggak peduli orang bilang apa yang penting kita CINTA D....
Jangan sampai kecewa ama pilihan kita. Ketika kelemahan dari pisau tersebut misalnya kita dapatkan, kita syukuri dengan kelebihannya..
Kemudian untuk fungsi, kita timbang-timbang dengan rasional, apakah akan berdaya guna sesuai fitrahnya atau tidak.

pendapat yang bijak mas matabelo:
widjojono - 05/07/2012 08:30 PM
#58

Sebagai tambahan dari nubie, kalau menurut saya, pemilihan pisau survival ini nanti berubah2 jenis type dan ukurannya sejalan dengan umur \)

Dulu saat saya SMP-SMU, seneng banget jenis piso Rambo yg gagangnya bisa dibuka, rasanya gagah, apalagi punggung piso ada gergaji, saya sampai sempet punya yg buatan China yg gagangnya ada kompas bejendol gede spt jamur, kado ultah saat saya SMP, itu saya bawa pramuka dengan bangga banget ngakaks.... akhirnya khrom bilah lepas2, berkarat, ama bapak saya dibuka pake kunci T no 10, di amplasin, di khrom ulang D nah disitu saya "ngeh"...nanya ke bapak, "pak, ini peso keren, tapi gagangnya seupil, kalo tusuk kenceng patah ya pak?... jawab bapak saya "ya iya lah, ini kan piso anak2, mangkanya bapak beliin kamu ini piso, yg penting kamu seneng kan kaya stallone?" trus saya tanya "lha pak, kalo piso orang dewasa kayak gimana?" jawab bapak saya "ya kaya piso bapak yg biasa tak bawa nembak itu"... saya nyaut "piso jelek itu pak? buset, apa ga ada yg bagusan dikit?" (pisaunya bentuk kaya piso petruk gareng, full tang dari baja per, bilah 30 cm ngelengkung keatas spt pisau Arab, jelek, agak karatan, tapi tajemnya minta ampun, sarung pake kain terpal didobel)......

Sampai saat ini, bapak saya masih pakai piso/golok itu buat berkebun....

Ini ceritaku, mana ceritamu? \)
jogjaraya - 05/07/2012 10:32 PM
#59

Memilih Pisau Survival yang Tepat

ada yang tau track record pisau ini?

Mora BUSHCRAFT 2010
catros - 06/07/2012 09:19 AM
#60

Quote:
Original Posted By jogjaraya
Memilih Pisau Survival yang Tepat

ada yang tau track record pisau ini?

Mora BUSHCRAFT 2010


yg begini mah udah banyak yg review diluar sana
coba deh tanya mbah google

http://www.bladeforums.com/forums/showthread.php/740386-New-Mora-Bushcraft-Line-Early-Impressions

http://www.naturalbushcraft.co.uk/kit/reviews/frosts-mora-knife-comparison-2010-range.html

http://vimeo.com/14273125



pisau yg bikin ngiler
Page 3 of 5 |  < 1 2 3 4 5 > 
Home > LOEKELOE > ACTIVITY & HOBBY > Pisau > Memilih Pisau Survival yang Tepat