Spiritual
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Spiritual > Akidah Ahlus Sunah Wal jama'ah (Aswaja)
Total Views: 25652 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 52 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›

shamfar - 16/04/2012 12:12 PM
#1
Akidah Ahlus Sunah Wal jama'ah (Aswaja)
A'udzubillahis sami'il 'alim minasy syaithonir rojiim
Bismillahirrahamanirrahiim

Assalamu'alaikum warohmatulllahi wabarokatuh

Sebelumnya permisi buat momod tuk membuat trit ini.

permisi juga buat agan-agan penguhuni forspri.
nubie membuat trit ini bukan berarti dah mahir, tapi sama-sama belajar.
Isi trit ini sebagian besar di ambil dari buku karangan habib munzir yang berjudul kenali akidahmu.

Jika ada yang pertanyaan, kritikan atau tambahan mari kita diskusikan dengan akhlak yang baik \)

semoga bermanfaat,
salam

----------------------------------------------------------------------------------

1. Dimana Allah ? (Mengenai ayat Tasybih)
2. Mengenal Allah bag. 1
3. Mengenal Allah bag. 2
4. Mengenal Allah bag. 3
5. Keindahan Allah Subhanahu wa Ta'ala
6. Keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wa alihi wasallam
7. Tentang memajang foto para ulama
8. Tabarruk
9. Pribadi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa alih wa sallam
10. Mimpi bertemu rasulullah shallallahu alaihi wa alihi wasallam (1)
11.Mimpi bertemu rasulullah shallallahu alaihi wa alihi wasallam (2)
12. Ruh Rasulullah shallallahu alaihi wa alihi wasallam hadir saat maulid
13. Bagaimana kita terus shalat dan maksiat terus berjalan?
14. Pernikahan dengan dzurriyah rasulullah shallallahu alaihi wa alihi wasallam.
15. Akhlaq Rasulullah shallallahu alaihi wa alihi wasallam 1
16. Akhlaq Rasulullah shallallahu alaihi wa alihi wasallam 2
17. Akhlaq Rasulullah shallallahu alaihi wa alihi wasallam 3
18. Akhlaq Rasulullah shallallahu alaihi wa alihi wasallam 4
19. Akhlaq Rasulullah shallallahu alaihi wa alihi wasallam 5
20. Iman naik dan turun
21. 3 sifat yg merasakan lezatnya iman
22. Cinta Allah saja
23. nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai perantara cinta
24. Tawassul
25. AQIDATUL AWWAM ( Asy-Syeikh Ahmad Al Marzuqi Al Maliki ) (1) (2)

(bersambung)

Kisah-kisah:
1. Perindu Rasulullah shallallahu alaihi wa alihi wasallam
2. Pendidikan salah satu dzurriyah rasulullah shallallahu alaihi wa alihi wasallam
3. Kekuatan Maaf Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Lanjut DAFTAR ISI ke-2

Baca Rule Post
shamfar - 16/04/2012 12:27 PM
#2
Dimana Allah ? Mengenai ayat tasybih
Mengenai ayat mutasyabih yang sebenarnya para Imam dan Muhadditsin selalu berusaha menghindari untuk membahasnya, namun justru sekarang sangat digandrungi dan makin banyak muncul masa kini. Jika salah memahami maka akan terjatuh dalam jurang kemusyrikan, seperti membahas bahwa Allah ada di langit, mempunyai tangan, wajah dll, yang hanya membuat kerancuan dalam kesucian Tauhid Illahi pada benak muslimin, akan tetapi karena semaraknya masalah ini diangkat ke permukaan, maka perlu kita perjelas mengenai ayat – ayat dan hadits tersebut.

Dimanakah Allah?
Sebagaimana makna Istiwa, ada yang mengatakan bahwa Allah itu bersemayam di Arsy, dengan menafsirkan kalimat ”ISTIWA” dengan makna ”BERSEMAYAM atau ADA DI SUATU TEMPAT”. Darimana menemukan makna kalimat Istiwa adalah semayam?, padahal tak mungkin kita katakan bahwa Allah itu bersemayam disuatu tempat, karena bertentangan dengan ayat – ayat dan nash hadits lain.
Bila kita mengatakan Allah ada di Arsy, maka dimana Allah sebelum Arsy itu ada? Dan berarti Allah membutuhkan ruang, berarti berwujud seperti makhluk.

Berkata Hujjatul Islam Almuhaddits Al Imam Malik rahimahullah ketika datang seseorang yang bertanya makna ayat : ”Arrahmaanu ’alal Arsyistawa”, Imam Malik menjawab :
”Majhul, Ma’qul, Imaan bihi wajib, wa su’al ’anhu bid’ah (tidak diketahui maknanya, dan tidak boleh mengatakannya mustahil, percaya akannya wajib, bertanya tentang ini
adalah Bid’ah Munkarah), dan kulihat engkau ini orang jahat, keluarkan dia..!”. Demikian ucapan Imam Malik pada penanya ini, hingga ia mengatakannya : ”kulihat engkau ini orang
jahat”, lalu mengusirnya.

Masalah ayat atau hadist tasybih (tangan atau wajah) dalam ilmu tauhid terdapat dua pendapat dalam menafsirkannya.
1. Pendapat Tafwidh Ma’a tanzih
2. Pendapat Ta’wil

II.1.1. Madzhab Tafwidh Ma’a Tanzih
Madzhab Tafwidh Ma’a Tanzih yaitu mengambil dhahir lafadz dan menyerahkan maknanya kepada Allah Ta'ala, dengan I’tiqad Tanzih (mensucikan Allah dari segala penyerupaan)
Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat, ia berkata ”Nu’minu biha wa nushoddiq biha bilaa kaif wala makna”, (Kita percaya dengan hal itu, dan membenarkannya tanpa menanyakannya bagaimana, dan tanpa makna) Madzhab inilah yang juga dipegang oleh Imam Abu Hanifah.
Dan kini muncullah faham mujjassimah yaitu dhohirnya memegang madzhab tafwidh tapi menyerupakan Allah dengan mahluk, bukan seperti para Imam yang memegang madzhab tafwidh.

II.1.2. Madzhab Takwil
Madzhab Takwil yaitu menakwilkan ayat atau hadist tasybih sesuai dengan ke-Esaan dan Keagungan Allah Ta'ala, dan madzhab ini arjah (lebih baik untuk diikuti) karena terdapat
penjelasan dan menghilangkan awhaam (khayalan dan syak wasangka) pada muslimin umumnya, sebagaimana Imam Syafii, Imam Bukhari, Imam Nawawi dll. (Syarah Jauharat Attauhid oleh Imam Baajuri)
Pendapat ini juga terdapat dalam Alqur’an dan sunnah, juga banyak dipakai oleh para sahabat, tabiin dan imam - imam ahlussunnah waljamaah.
Diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah Ta'ala berfirman : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569)

Apakah kita bisa mensifatkan sakit kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita?
Berkata Imam Nawawi berkenaan hadits qudsiy diatas dalam kitabnya yaitu Syarah Nawawiy alaa Shahih Muslim bahwa yang dimaksud sakit pada Allah adalah hamba-Nya, dan kemuliaan serta kedekatan-Nya pada hamba-Nya itu. ”Wa ma’na ajadtaniy indahu ya’niy wajadta tsawaabii wa karoomatii indahu” dan makna ucapan : akan kau temui aku disisinya adalah akan kau temui pahalaku dan kedermawanan-Ku dengan menjenguknya
(Syarh Nawawi ala Shahih Muslim Juz 16 hal 125)
Dan banyak pula para sahabat, tabiin, dan para Imam ahlussunnah waljamaah yang berpegang pada pendapat Ta’wil, seperti Imam Ibn Abbas, Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Tirmidziy, Imam Abul Hasan Al Asy’ariy, Imam Ibnul Jauziy dll (lihat Daf’ussyubhat Attasybiih oleh
Imam Ibn Jauziy).

Maka jelas bahwa akal tak akan mampu memecahkan rahasia keberadaan Allah Ta'ala, sebagaimana firman-Nya : ”Maha Suci Tuhan-Mu Tuhan Yang Maha Memiliki Kemegahan dari apa – apa yang mereka sifatkan, maka salam sejahtera lah bagi para Rasul, dan segala puji atas Tuhan sekalian alam” . (QS. Asshaffat : 180-182).
Walillahittaufiq
shamfar - 16/04/2012 12:38 PM
#3
Apakah keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wa wasallam masih ada hingga kini?
Firman Allah Ta'ala ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa wasallam difitnah bahwa beliau putus keturunannya karena tidak punya anak lelaki, maka Allah Ta'ala menjawab : Sungguh mereka yang memusuhimu itu yang putus keturunannya (QS. Al Kautsar : 3),
ayat ini jelas menjawab ucapan mereka yang mengatakan keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wa wasallam putus, Allah telah menjaminnya bahwa keturunan beliau
shallallahu alaihi wa wasallam tidak putus, ada 100 hadits lebih yang meriwayatkan bahwa keturunan beliau shallallahu alaihi wa wasallam akan berlanjut hingga kebanngkitan Isa bin Maryam di akhir zaman.
shamfar - 16/04/2012 12:48 PM
#4
Bagaimana tentang keindahan Allah Ta'ala ?
Keindahan Allah tak bisa disifatkan, karena berbeda dengan segenap makhluk dan tidak menyerupai makhluk, Allah Ta'ala itu sangat Indah, dan akan semakin indah terasa, dengan hubungan batin kita yang semakin banyak meninggalkan larangannya dan mematuhinya,
Dia 'Azza wa Jalla akan mengalirkan cinta kepada hati hamba-Nya sehingga hamba-Nya mulai asyik pada Nya.

Nah.. inilah sorga terindah sebelum mereka mengenal sorga, dan kelak mereka melihat keindahan Allah, dan Allah jadikan tempat tinggal mereka di sorga, dan sungguh jika disuruh memilih untuk tinggal di neraka namun boleh melihat keindahan Allah maka semua mereka akan meninggalkan sorga dan masuk ke neraka.
Sebagaimana diriwayatkan ketika seorang hamba yang terakhir keluar dari neraka setelah mungkin ratusan ribu tahun dihancur
leburkan di api neraka, setelah jutaan kali tubuhnya dihidupkan kembali dan disiksa, lalu ia dihadapkan pada Allah.., ia melihat Allah.., lalu Allah bertanya padanya, hambaku, berapa lama kau di api neraka?, hamba itu berkata : “aku tak pernah merasakan siksa neraka..”.
kenapa?, hilang seluruh kepedihan neraka karena melihat keindahan Allah Ta'ala...

Nah.., namun Allah menempatkan hamba hamba yang rindu pada-Nya adalah di sorga, maka mereka meminta sorga karena tahu sorga adalah tempat terdekat pada Allah, mereka mendambakan sorga karena itu tempat orang yang dicintai Allah, mereka mengharap sorga karena di sorga lah mereka akan sering berjumpa dan melihat Allah..
sariputra - 16/04/2012 02:24 PM
#5

Quote:
Original Posted By shamfar
Keindahan Allah tak bisa disifatkan, karena berbeda dengan segenap makhluk dan tidak menyerupai makhluk, Allah swt itu sangat Indah, dan akan semakin indah terasa, dengan hubungan batin kita yang semakin banyak meninggalkan larangannya dan mematuhinya,
Dia swt akan mengalirkan cinta kepada hati hamba-Nya sehingga hamba-Nya mulai asyik pada Nya swt.

Nah.. inilah sorga terindah sebelum mereka mengenal sorga, dan kelak mereka melihat keindahan Allah, dan Allah jadikan tempat tinggal mereka di sorga, dan sungguh jika disuruh memilih untuk tinggal di neraka namun boleh melihat keindahan Allah maka semua mereka akan meninggalkan sorga dan masuk ke neraka.
Sebagaimana diriwayatkan ketika seorang hamba yang terakhir keluar dari neraka setelah mungkin ratusan ribu tahun dihancur
leburkan di api neraka, setelah jutaan kali tubuhnya dihidupkan kembali dan disiksa, lalu ia dihadapkan pada Allah.., ia melihat Allah.., lalu Allah bertanya padanya, hambaku, berapa lama kau di api neraka?, hamba itu berkata : “aku tak pernah merasakan siksa neraka..”.
kenapa?, hilang seluruh kepedihan neraka karena melihat keindahan Allah swt...

Nah.., namun Allah menempatkan hamba hamba yang rindu pada-Nya adalah di sorga, maka mereka meminta sorga karena tahu sorga adalah tempat terdekat pada Allah, mereka mendambakan sorga karena itu tempat orang yang dicintai Allah, mereka mengharap sorga karena di sorga lah mereka akan sering berjumpa dan melihat Allah..


gan, kalo di neraka ada Allah gak ya gan ?
pejamata - 16/04/2012 02:37 PM
#6

lanjut bahasannya ... tapi yang simple2 jangan diarahkan ke njelimet2 ...

ane nyumbang copast dari MR

[quote=MR]
ika Allah swt ada di Arsy maka dimana Allah sebelum Arsy itu ada?

berikut penjelasan saya secara mendetail yg membungkam semua pemahaman mereka, dg dalil Aqur'an, hadits hadits shahih dan syarah fatwa para sahabat dan para Imam mengenai ayat mutasyabih, saya nukilkan dari buku saya kenalilah akidahmu edisi 2.

II.1. AYAT TASYBIH
Mengenai ayat mutasyabih yang sebenarnya para Imam dan Muhadditsin selalu berusaha menghindari untuk membahasnya, namun justru sangat digandrungi oleh sebagian kelompok muslimin yang melenceng dari kebenaran dan makin banyak muncul masa kini, mereka selalu mencoba menusuk kepada jantung tauhid yang sedikit saja salah memahami maka akan terjatuh dalam jurang kemusyrikan, seperti membahas bahwa Allah ada di langit, mempunyai tangan, wajah dll, yang hanya membuat kerancuan dalam kesucian Tauhid Ilahi pada benak muslimin, akan tetapi karena semaraknya masalah ini diangkat ke permukaan, maka perlu kita perjelas mengenai ayat – ayat dan hadits tersebut.

Sebagaimana makna Istiwa, yang sebagian kaum muslimin sesat sangat gemar membahasnya dan mengatakan bahwa Allah itu bersemayam di Arsy, dengan menafsirkan kalimat ”ISTIWA” dengan makna ”BERSEMAYAM atau ADA DI SUATU TEMPAT”. Entah darimana pula mereka menemukan makna kalimat Istiwa adalah semayam, padahal tak mungkin kita katakan bahwa Allah itu bersemayam disuatu tempat, karena bertentangan dengan ayat – ayat dan nash hadits lain.

Bila kita mengatakan Allah ada di Arsy, maka dimana Allah sebelum Arsy itu ada? Dan berarti Allah membutuhkan ruang, berarti berwujud seperti makhluk, sedangkan dalam hadits qudsiy disebutkan Allah Swt turun kelangit yang terendah saat sepertiga malam terakhir, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim hadits No.758, sedangkan kita memahami bahwa waktu di permukaan bumi terus bergilir dan waktu sepertiga malam terakhir terus bergeser ke arah bumi bagian lainnya.

Maka bila disuatu tempat adalah tengah malam, maka waktu tengah malam itu tidak sirna, tapi terus berpindah ke arah barat dan terus ke yang lebih barat, tentulah berarti Allah itu selalu bergelantungan mengitari bumi di langit yang terendah, maka semakin ranculah pemahaman ini dan menunjukkan rapuhnya pemahaman mereka. Jelaslah bahwa hujjah yang mengatakan Allah ada di Arsy telah bertentangan dengan hadits qudsiy diatas, yang berarti Allah itu tetap di langit yang terendah dan tak pernah kembali ke Arsy, sedangkan ayat itu mengatakan bahwa Allah ada di Arsy, dan hadits qudsiy mengatakan Allah di langit yang terendah.

Berkata Hujjatul Islam Almuhaddits Al Imam Malik rahimahullah ketika datang seseorang yang bertanya makna ayat : ”Arrahmaanu ’alal Arsyistawa”, Imam Malik menjawab : ”Majhul, Ma’qul, Imaan bihi wajib, wa su’al ’anhu bid’ah (tidak diketahui maknanya, dan tidak boleh mengatakannya mustahil, percaya akannya wajib, bertanya tentang ini adalah Bid’ah Munkarah), dan kulihat engkau ini orang jahat, keluarkan dia..!”.
Demikian ucapan Imam Malik pada penanya ini, hingga ia mengatakannya : ”kulihat engkau ini orang jahat”, lalu mengusirnya, tentunya seorang Imam Mulia yang menjadi Muhaddits Tertinggi di Madinah Almunawwarah di masanya yang beliau itu Guru Imam Syafii ini tak sembarang mengatakan ucapan seperti itu, kecuali menjadi dalil bagi kita bahwa hanya orang – orang yang tidak baik yang mempermasalahkan masalah ini.

Lalu bagaimana dengan firman Nya : ”Mereka yang berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS. Al Fath : 10),
dan disaat Bai’at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yang turut berbai’at pada sahabat.

Juga sebagaimana hadits qudsiy yg mana Allah berfirman : ”Barangsiapa memusuhi wali-Ku sungguh Ku-umumkan perang kepadanya, tiadalah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan hal – hal yang fardhu, dan Hamba-Ku terus mendekat kepada-Ku dengan hal – hal yang sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada-Ku niscaya Ku-beri permintaannya....” (Shahih Bukhari hadits No.6137)

Maka hadits Qudsiy diatas tentunya jelas – jelas menunjukkan bahwa pendengaran, penglihatan, dan panca indera lainnya, bagi mereka yang taat pada Allah akan dilimpahi cahaya kemegahan Allah, pertolongan Allah, kekuatan Allah, keberkahan Allah, dan sungguh maknanya bukanlah berarti Allah menjadi telinga, mata, tangan dan kakinya.

Masalah ayat atau hadist tasybih (kesaruan makna) dalam ilmu tauhid terdapat dua pendapat dalam menafsirkannya.
1. Pendapat Tafwidh Ma’attanzih
2. Pendapat Ta’wil

III.1.1 Madzhab Tafwidh Ma’attanzih
Madzhab Tafwidh Ma’a Tanzih yaitu mengambil dhahir lafadz dan menyerahkan maknanya kepada Allah swt, dengan I’tiqad Tanzih (mensucikan Allah dari segala penyerupaan)
Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat, ia berkata ”Nu’minu biha wa nushoddiq biha bilaa kaif wala makna”, (Kita percaya dengan hal itu, dan membenarkannya tanpa menanyakannya bagaimana, dan tanpa makna) Madzhab inilah yang juga dipegang oleh Imam Abu Hanifah (imam hanafi).

Dan kini muncullah faham mujjassimah yaitu dhohirnya memegang madzhab tafwidh tapi menyerupakan Allah dengan mahluk, bukan seperti para Imam yang memegang madzhab tafwidh ma'attanzih

II.1.2 Madzhab Takwil
Madzhab Takwil yaitu menakwilkan ayat atau hadist tasybih sesuai dengan ke-Esaan dan Keagungan Allah swt, dan madzhab ini arjah (lebih baik untuk diikuti) karena terdapat penjelasan dan menghilangkan awhaam (khayalan dan syak wasangka) pada muslimin umumnya, sebagaimana Imam Syafii, Imam Bukhari, Imam Nawawi dll. (Syarah Jauharat Attauhid oleh Imam Baajuri)

Pendapat ini berlandaskan dalam Alqur’an dan hadits hadits shahih, juga banyak dipakai oleh para sahabat, tabiin dan imam - imam ahlussunnah waljamaah.

Seperti ayat : ”Nasuullaha fanasiahum” mereka melupakan Allah maka Allah pun lupa dengan mereka, (QS. At-taubah : 67), dan ayat : ”Innaa nasiinaakum” sungguh kami telah lupa pada kalian, (QS. Assajdah : 14).

Dengan ayat ini kita tidak bisa menyifatkan sifat lupa kepada Allah walaupun tercantum dalam Alqur’an, dan kita tidak boleh mengatakan Allah punya sifat lupa, tapi berbeda dengan sifat lupa pada diri makhluk, karena Allah berfirman : ”dan tiadalah Tuhanmu itu lupa” (QS. Maryam : 64)

Dan juga diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569)

Apakah kita bisa mensifatkan sakit kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita?

Berkata Imam Nawawi berkenaan hadits qudsiy diatas dalam kitabnya yaitu Syarah Nawawiy alaa Shahih Muslim bahwa yang dimaksud sakit pada Allah adalah hamba-Nya, dan kemuliaan serta kedekatan-Nya pada hamba-Nya itu. ”Wa ma’na wajadtaniy indahu ya’niy wajadta tsawaabii wa karoomatii indahu” dan makna ucapan : akan kau temui aku disisinya adalah akan kau temui pahalaku dan kedermawanan-Ku dengan menjenguknya (Syarh Nawawi ala Shahih Muslim Juz 16 hal 125)

Dan banyak pula para sahabat, tabiin, dan para Imam ahlussunnah waljamaah yang berpegang pada pendapat Ta’wil, seperti Imam Ibn Abbas, Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Tirmidziy, Imam Abul Hasan Al Asy’ariy, Imam Ibnul Jauziy dll (lihat Daf’ussyubhat Attasybiih oleh Imam Ibn Jauziy).

Maka jelaslah bahwa akal tak akan mampu memecahkan rahasia keberadaan Allah swt, sebagaimana firman Nya : ”Maha Suci Tuhan-Mu Tuhan Yang Maha Memiliki Kemegahan dari apa – apa yang mereka sifatkan, maka salam sejahtera lah bagi para Rasul, dan segala puji atas Tuhan sekalian alam” . (QS. Asshaffat : 180-182). Walillahittaufiq

sumber
[/quote]
shamfar - 16/04/2012 02:56 PM
#7

Quote:
Original Posted By sariputra


gan, kalo di neraka ada Allah gak ya gan ?


kalo sy mengimani Allah ada, gan. shakehand
tanpa harus mencari dimana keberadaannya \)

di post 2 agan bisa baca.. \)
mbahmetal2 - 16/04/2012 03:07 PM
#8

Sebagaimana makna Istiwa, ada yang mengatakan bahwa Allah itu bersemayam di Arsy, dengan menafsirkan kalimat ”ISTIWA” dengan makna ”BERSEMAYAM atau ADA DI SUATU TEMPAT”. Darimana menemukan makna kalimat Istiwa adalah semayam?, padahal tak mungkin kita katakan bahwa Allah itu bersemayam disuatu tempat, karena bertentangan dengan ayat – ayat dan nash hadits lain.
Bila kita mengatakan Allah ada di Arsy, maka dimana Allah sebelum Arsy itu ada? Dan berarti Allah membutuhkan ruang, berarti berwujud seperti makhluk.



Allah bersemayam di arsy bukan berarti Allah "istiwa" atau "ada disuatu tempat" pernyataan ini memang benar

Arsyi itu tempat pertemuan, pertemuan apa or apa yg disakasikan di sono (arsy) ??, Allah hadir atau tempat bertemu di arsy bukan berarti bertemu muke Allah/Wujud Dzat/Kunhi Dzat yg laisa kamitslihi syai'un...ngakak,

shamfar - 16/04/2012 03:21 PM
#9

[quote=pejam] lanjut bahasannya ... tapi yang simple2 jangan diarahkan ke njelimet2 ...

ane nyumbang copast dari MR [/quote]

oke mas
makasih ye sumbang sarannya \)
shamfar - 16/04/2012 03:42 PM
#10

Quote:
Original Posted By mbahmetal2

Allah bersemayam di arsy bukan berarti Allah "istiwa" atau "ada disuatu tempat" pernyataan ini memang benar

Arsyi itu tempat pertemuan, pertemuan apa or apa yg disakasikan di sono (arsy) ??, Allah hadir atau tempat bertemu di arsy bukan berarti bertemu muke Allah/Wujud Dzat/Kunhi Dzat yg laisa kamitslihi syai'un...ngakak,



makasih ye mbah dah mampir...
membahas masalah ke-Tuhanan memang menarik tuk di gali dan membuat kita semakin penasaran..
tapi Allah Maha Tahu, karena akal dan ilmu kite ndak akan mampu kesana.. sehingga rasulullah saw bersabda : Pikirkanlah ciptaan Allah, jangan berfikir tentang (Zat) Allah, karena kalian tidak akan sanggup memikirkannya.”’.

sekedar pengetahuan sj, makna arsy banyak di tafsirkan para ulama, salah satunya berasal dari kata 'arosya-ya'risyu-'arsyan yang artinya bangunan, singgasana atau tahta.
ada juga dalam bangsa Arab yang menunjukkan beberapa makna.

kita tidak tau 'arsy itu berbentuk bagaimana, materi atau non materi..semua kita serahkan pada Allah karena kemiskinan ilmu kita, dan akal kita tak mampu menjangkaunya.
cukup kita mengimani Allah ada. laisa kamitslihi syai-un, walam yakun lahu kufuwan ahad.

untuk selanjutnya TS tidak menggubris hal-hal yang berkaitan dengan Dzat Allah, cukuplah kita memikirkan ciptaan-Nya \)

Biarlah yang rahasia menjadi rahasia, lagi pula sesuatu yg sirr tak patut di tampilkan di forum umum \)




shamfar - 16/04/2012 05:43 PM
#11
Memajang foto para ulama
Memajang foto guru mulia dan orang shalih adalah hal mulia, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : Maukah kuberitahu orang - orang mulia diantara kalian?, mereka yang jika dipandang wajahnya akan membuat orang ingat pada Allah. (HR. Adabul Mufrad olehImam Bukhari)

Mengenai larangan memasang lukisan di masa Nabi shallallahu alaihi wasallam, yang para kuffar menggambar para shalihin dan Nabi di masanya dahulu, dilarang oleh Rasululullah shallallahu alaihi wasallam, karena disembah, namun jika justru untuk menambah ketakwaan kita pada Allah Ta'ala maka hal itu baik, dan
diriwayatkan oleh Hujjatul islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy bahwa salah seorang istri Nabi shallallahu alaihi wasallam memperlihatkan cermin kecil, ketika Ibn Abbas radliyallahu anhu melihatnya maka cermin itu tak menampakkan wajahnya, tapi menampakkan wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Rasul shallallahu alaihi wasallam pernah berkaca dengan cermin itu, maka cermin itu merekam wajah Sang Nabi shallallahu alaihi wasallam dan tak hilang selamanya (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari).
logis - 16/04/2012 06:43 PM
#12

Quote:
Original Posted By shamfar
Memajang foto guru mulia dan orang shalih adalah hal mulia, sebagaimana sabda Nabi saw : Maukah kuberitahu orang - orang mulia diantara kalian?, mereka yang jika dipandang wajahnya akan membuat orang ingat pada Allah. (HR. Adabul Mufrad olehImam Bukhari)

Mengenai larangan memasang lukisan di masa Nabi saw, yang para kuffar menggambar para shalihin dan Nabi di masanya dahulu, dilarang oleh Rasul saw, karena disembah, namun jika justru untuk menambah ketakwaan kita pada Allah swt maka hal itu baik, dan
diriwayatkan oleh Hujjatul islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy bahwa salah seorang istri Nabi saw memperlihatkan cermin kecil, ketika Ibn Abbas ra melihatnya maka cermin itu tak menampakkan wajahnya, tapi menampakkan wajah Rasulullah saw, Rasul saw pernah berkaca dengan cermin itu, maka cermin itu merekam wajah Sang Nabi saw dan tak hilang selamanya (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari).


nanti difitnah tukang kultus (atau kaktus/kaskus/terserah D) bejimane kang????
beruntng banget nyak yang sudah berjumpa dengan Rasulullah (walau dalam mimpi)
sigitwib - 16/04/2012 06:52 PM
#13

nubie numpang ikut belajar gan..




mudah2an dapet pencerahan, aammiiiiinn.. rose:
shamfar - 16/04/2012 07:21 PM
#14

Quote:
Original Posted By logis


nanti difitnah tukang kultus (atau kaktus/kaskus/terserah D) bejimane kang????
beruntng banget nyak yang sudah berjumpa dengan Rasulullah (walau dalam mimpi)


hehe..biarin aja kang D
mereka yang belum mendaki dalam tangga keluhuran tidak akan merasakan nikmatnya bersama para pewaris nabi \)
semoga akang salah satu yg bisa membuka pintu jalannya buat mereka D shakehand

yup, bersyukurnya... bagi-bagi donk kang pengalaman mimpinya \)
shamfar - 16/04/2012 07:23 PM
#15

Quote:
Original Posted By sigitwib
nubie numpang ikut belajar gan..




mudah2an dapet pencerahan, aammiiiiinn.. rose:


Aaamiiin Ya Mujiibas Saa-iliin,
sama-sama gan shakehand

saya juga sedang belajar, mari kita belajar sama-sama \) rose:
logis - 16/04/2012 07:48 PM
#16

Quote:
Original Posted By shamfar


hehe..biarin aja kang D
mereka yang belum mendaki dalam tangga keluhuran tidak akan merasakan nikmatnya bersama para pewaris nabi \)
semoga akang salah satu yg bisa membuka pintu jalannya buat mereka D shakehand

yup, bersyukurnya... bagi-bagi donk kang pengalaman mimpinya \)


waduh justru ane pengen denger cerita orang2 yang sudah berjumpa dengan Rasul walau cuma cerita aye semangat dengerin apeh lagi ngalamin ndiri... qiqiqiqi kagak kesampean masih bejibun dosa ane.... ente dunk yang bagi pengalaman aye nyimak mumpung udah aye bookmark neeh trit..
-salam-
shamfar - 16/04/2012 09:38 PM
#17

Quote:
Original Posted By logis


waduh justru ane pengen denger cerita orang2 yang sudah berjumpa dengan Rasul walau cuma cerita aye semangat dengerin apeh lagi ngalamin ndiri... qiqiqiqi kagak kesampean masih bejibun dosa ane.... ente dunk yang bagi pengalaman aye nyimak mumpung udah aye bookmark neeh trit..
-salam-


hehe...sama donk kang D
ane betumpuk dosa, tapi semoga Allah mengabulkan permintaan kita tuk bertemu dg baginda rasulullah shallallahu alaihi wasallam, saat kita masih hidup, menjelang ajal, dalam alam barzakh dan di akherat kelak..aamiin \)
kalo pengalaman2, kite ym-an aje yee..hehe.

oya ni, ane copasin cerita dari habibana Munzir ttg seseorang perindu rasulullah shallallahu alaihi wasallam rose:

Pahala agung, ketika anda rindu pada Rasul shallallahu alaihi wasallam, saat itulah Rasul shallallahu alaihi wasallam sedang rindu pada anda, saya mempunyai teman disuatu wilayah yg sangat rindu dg Rasul shallallahu alaihi wasallam dan terus menangis jika mendengar kisah Rasul shallallahu alaihi wasallam, namun ia bekum juga mimpi Rasul shallallahu alaihi wasallam,

lalu saya bermimpi, katakan pada pemuda itu tiap kalo ia menangis merindukan ku aku ada disambpingnya, dan aku tidak meninggalkan ranjangnya sampai ia tidur pulas.., namun ketentuan pertemuan adalah ditangan Allah Ta'ala.

orang yg rindu pada Rasul shallallahu alaihi wasallammaka ia telah dirindukan oleh Rasul shallallahu alaihi wasallam.

Subhanallah indah yee..
ane ambil dari link ini
NYANYUKAMBER - 16/04/2012 11:35 PM
#18

Quote:
Original Posted By shamfar

hehe...sama donk kang D
ane betumpuk dosa, tapi semoga Allah mengabulkan permintaan kita tuk bertemu dg baginda rasulullah shallallahu alaihi wasallam, saat kita masih hidup, menjelang ajal, dalam alam barzakh dan di akherat kelak..aamiin \)
kalo pengalaman2, kite ym-an aje yee..hehe.


teringing solawat nabi
izinkan ane sila dimari
mengharap cipratan doa
ikut bersua dengan baginda


shamfar - 17/04/2012 06:36 AM
#19

Quote:
Original Posted By NYANYUKAMBER


teringing solawat nabi
izinkan ane sila dimari
mengharap cipratan doa
ikut bersua dengan baginda




Aaamiiin...rose:
mari kita bergandeng tangan,
pererat barisan,
dalam barisan pengikuti, perindu, pecinta dan pewaris nabi..
semoga kita termasuk orang-orang yg di beri anugrah tuk mencintainya dan merindukannya...aaamiin rose:

Allohumma shalli 'ala sayyidina Muhammad wa alihi wa shohbisi wa sallim.

salken shakehand \)
shamfar - 17/04/2012 07:04 AM
#20
Tabarruk
Banyak orang yang keliru memahami makna hakikat tabarruk dengan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, peninggalan-peninggalannya shallallahu alaihi wasallam, Ahlulbaitnya shallallahu alaihi wasallam dan para pewarisnya yakni para ulama, para kyai dan para wali.
Mengenai benda-benda keramat, maka ini perlu penjelasan yang sejelas - jelasnya, bahwa benda - benda keramat itu tak bisa membawa manfaat atau mudharrat, namun mungkin saja digunakan Tabarrukan (mengambil berkah) dari pemiliknya dahulu, misalnya ia seorang yang shalih, maka sebagaimana diriwayatkan:

•Para sahabat seakan akan hampir saling bunuh saat berdesakan berebutan air bekas wudhunya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam(Shahih Bukhari Hadits No. 186),
•Allah swt menjelaskan bahwa ketika Ya’qub alaihis salam dalam keadaan buta, lalu dilemparkanlah ke wajahnya pakaian Yusuf alaihis salam, maka ia pun melihat, sebagaimana Allah menceritakannya
dalam firman Nya : “(berkata Yusuf as pada kakak kakaknya) PERGILAH KALIAN DENGAN BAJUKU INI, LALU LEMPARKAN KEWAJAH AYAHKU, MAKA IA AKAN SEMBUH DARI BUTANYA” (QS. Yusuf : 93), dan pula ayat : “MAKA KETIKA DATANG PADANYA KABAR GEMBIRA ITU, DAN DILEMPARKAN PADA WAJAHNYA (pakaian Yusuf alaihi salam) MAKA IA (Ya’qub alaihi salam) SEMBUH DARI KEBUTAANNYA” (QS. Yusuf : 96). Ini merupakan dalil Alqur’an, bahwa benda atau pakaian orang - orang shalih dapat menjadi perantara kesembuhan dengan izin Allah tentunya.
• Setelah Rasul shallallahu alaihi wasallamwafat maka Asma binti Abubakar Asshiddiq ra menjadikan baju beliau shallallahu alaihi wasallam sebagai pengobatan, bila ada yang sakit maka ia mencelupkan baju Rasul shallallahu alaihi wasallam itu di air lalu air itu diminumkan pada yang sakit (Shahih Muslim hadits No.2069).
Rasul shallallahu alaihi wasallam sendiri menjadikan air liur orang mukmin sebagai berkah untuk pengobatan, sebagaimana sabda beliau : “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yang sakit pada kami, dengan izin Tuhan kami” (Shahih Bukhari hadits No.5413), ucapan beliau shallallahu alaihi wasallam : “demi air liur sebagian dari kami” menunjukkan bahwa air liur orang mukmin dapat menyembuhkan penyakit, dengan izin Allah Ta'ala tentunya.
Sebagaimana dokter pun dapat menyembuhkan, namun dengan izin Allah pula tentunya, hadits ini menjelaskan bahwa Rasul saw bertabarruk dengan air liur mukminin bahkan tanah bumi, menunjukkan bahwa pada hakikatnya seluruh ala mini membawa keberkahan dari Allah.
• Seorang sahabat meminta Rasul shallallahu alaihi wasallam shalat di rumahnya agar kemudian ia akan menjadikan bekas tempat shalat beliau shallallahu alaihi wasallam itu mushollah di rumahnya, maka Rasul shallallahu alaihi wasallam datang ke rumah orang itu dan bertanya : “dimana tempat yang kau inginkan aku shalat?”. Demikian para sahabat bertabarruk dengan bekas tempat shalatnya Rasul shallallahu alaihi wasallam hingga dijadikan musholla
(Shahih Bukhari hadits No.1130)
• Nabi Musa alaihi salam ketika akan wafat ia meminta di dekatkan ke wilayah suci di Palestina, menunjukkan bahwa Musa alaihi salam ingin di makamkan dengan mengambil berkah pada tempat suci (Shahih Bukhari hadits No.1274).
• Allah memuji Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Umar bin Khattab radliallahu anhu yang menjadikan Maqam Ibrahim alaihi salam (bukan makamnya, tetapi tempat ibrahim alaihi salam berdiri dan berdoa di depan ka’bah yang dinamakan Maqam Ibrahim alaihi salam) sebagai tempat shalat (musholla), sebagaimana firmanNya
: “Dan mereka menjadikan tempat berdoanya Ibrahim sebagai tempat shalat” (QS. Al Imran : 97), maka jelaslah bahwa Allah memuliakan tempat hamba - hambaNya berdoa, bahkan Rasul shallallahu alaihi wasallam pun bertabarruk dengan tempat berdoanya Ibrahim as, dan Allah memuji perbuatan itu.
• Diriwayatkan ketika Rasul shallallahu alaihi wasallam baru saja mendapat hadiah selendang pakaian bagus dari seorang wanita tua, lalu datang pula orang lain yang segera memintanya selagi pakaian itu dipakai oleh Rasul shallallahu alaihi wasallam, maka riuhlah para sahabat lainnya menegur si peminta, maka sahabat itu berkata : “aku memintanya karena mengharapkan keberkahannya ketika dipakai oleh Nabi saw dan kuinginkan untuk kafanku nanti” (Shahih Bukhari hadits No.5689), demikian cintanya para sahabat pada Nabinya shallallahu alaihi wasallam, sampai kain kafan pun mereka ingin yang bekas sentuhan tubuh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
• Sayyidina Umar bin Khattab ra ketika ia telah di hadapan sakratulmaut, yaitu sebuah serangan pedang yang merobek perutnya dengan luka yang sangat lebar, beliau tersungkur roboh dan mulai tersengal - sengal beliau berkata kepada putranya (Abdullah bin Umar ra),
“Pergilah pada ummulmukminin, katakan padanya aku berkirim salam hormat padanya, dan kalau diperbolehkan aku ingin di makamkan dis ebelah Makam Rasul saw dan Abubakar ra”, maka ketika Ummulmukminin telah mengizinkannya maka berkatalah Umar ra : “Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu” (di makamkan di samping makam Rasul shallallahu alaihi wasallam), (Shahih Bukhari hadits No.1328). Dihadapan Umar bin Khattab ra, kuburan Nabi shallallahu alaihi wasallam mempunyai arti yang sangat Agung, hingga kuburannya pun
ingin di sebelah kuburan Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahkan ia berkata : “Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu”.
• Salim bin Abdullah ra melakukan shalat sunnah di pinggir sebuah jalan, maka ketika ditanya ia berkata bahwa ayahku shalat sunnah di tempat ini, dan berkata ayahku bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam shalat di tempat ini, dan dikatakan bahwa Ibn Umar ra pun melakukannya. (Shahih Bukhari hadits No.469).
Demikianlah keadaan para sahabat Rasul shallallahu alaihi wasallam, bagi mereka tempat-tempat yang pernah disentuh oleh Tubuh Muhammad shallallahu alaihi wasallam tetap mulia walau telah diinjak ribuan kaki, mereka mencari keberkahan dengan shalat pula ditempat itu, demikian pengagungan mereka terhadap Sang Nabi shallallahu alaihi wasallam.
• Dalam riwayat lainnnya dikatakan kepada Abu Muslim, wahai Abu Muslim, kulihat engkau selalu memaksakan shalat ditempat itu?, maka Abu Muslim ra berkata : Kulihat Rasul shallallahu alaihi wasallam shalat ditempat ini” (Shahih Bukhari hadits No.480).
• Sebagaimana riwayat Sa’ib ra, : “aku diajak oleh bibiku kepada Rasul shallallahu alaihi wasallam, seraya berkata : Wahai Rasulullah.., keponakanku sakit.., maka Rasul shallallahu alaihi wasallam mengusap kepalaku dan mendoakan keberkahan padaku, lalu beliau berwudhu, lalu aku meminum air dari bekas wudhu beliau shallallahu alaihi wasallam, lalu aku berdiri di belakang beliau dan kulihat Tanda Kenabian beliau shallallahu alaihi wasallam” (Shahih Muslim hadits No.2345).
• Riwayat lain ketika dikatakan pada Ubaidah ra bahwa kami memiliki rambut Rasul shallallahu alaihi wasallam, maka ia berkata: “Kalau aku memiliki sehelai rambut beliau shallallahu alaihi wasallam, maka itu lebih berharga bagiku dari dunia dan segala isinya” (Shahih Bukhari hadits No.168). Demikianlah mulianya sehelai rambut Nabi shallallahu alaihi wasallamdi mata sahabat, lebih agung dari dunia dan segala isinya.
• Diriwayatkan oleh Abi Jahiifah dari ayahnya, bahwa para sahabat berebutan air bekas wudhu Rasul shallallahu alaihi wasallam dan mengusap - usapkannya ke wajah dan kedua tangan mereka, dan mereka yang tak mendapatkannya maka mereka mengusap dari basahan tubuh sahabat lainnya yang sudah terkena bekas air wudhu Rasul shallallahu alaihi wasallam lalu mengusapkan ke wajah dan tangan mereka” (Shahih Bukhari hadits No.369, demikian juga pada Shahih Bukhari hadits No.5521, dan pada Shahih Muslim hadits No.503 dengan riwayat yang banyak).
• Diriwayatkan ketika Anas bin malik ra dalam detik detik sakratulmaut ia yang memang telah menyimpan sebuah botol berisi keringat Rasul shallallahu alaihi wasallam dan beberapa helai rambut Rasul shallallahu alaihi wasallam , maka ketika ia hampir wafat ia berwasiat agar botol itu disertakan bersamanya dalam kafan dan hanutnya (Shahih Bukhari hadits No.5925)
Page 1 of 52 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Spiritual > Akidah Ahlus Sunah Wal jama'ah (Aswaja)