Spiritual
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Spiritual > Kisah Perjalanan Spiritual Para Guru
Total Views: 14588 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 10 of 155 | ‹ First  < 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 >  Last ›

Minibalanar - 25/04/2012 02:38 PM
#181

Di suatu Koran Itali, muncullah berita pencarian orang yang istimewa.
17 Mei 1992 di parkiran mobil ke 5 Wayeli (nama kota , tak tahu aku bener ngak nulisnya), seorang wanita kulit putih diperkosa oleh seorang kulit hitam. Tak lama kemudian, sang wanita melahirkan seorang bayi perempuan berkulit hitam. Ia dan suaminya tiba-tiba saja menanggung tanggung jawab untuk memelihara anak ini. Sayangnya, sang bayi kini menderita leukemia kanker darah dan ia memerlukan transfer sumsum tulang belakang segera. Ayah kandungnya merupakan satu-satunya penyambung harapan hidupnya. Berharap agar pelaku pada waktu itu saat melihat berita ini, bersedia menghubungi Dr. Adely di RS Elisabeth.
Berita pencarian orang ini membuat seluruh masyarakat gempar. Setiap orang membicarakannya. Masalahnya adalah apakah orang hitam ini berani muncul. Padahal jelas, ia akan menghadapi kesulitan besar. Jika ia berani muncul, ia akan menghadapi masalah hukum, dan ada kemungkinan merusak kehidupan rumah tangganya sendiri. Jika ia tetap bersikeras untuk diam, ia sekali lagi membuat dosa yang tak terampuni. Kisah ini akan berakhir bagaimanakah?
Seorang anak perempuan yang menderita leukimia ternyata menyimpan suatu kisah yang memalukan di suatu perkampungan Itali. Martha,35 thn, adalah wanita yang menjadi pembicaraan semua orang. Ia dan suaminya Peterson adalah warga kulit putih, tetapi di antara kedua anaknya, ternyata terdapat satu yang berkulit hitam. Hal ini menarik perhatian setia porang disekitar mereka untuk bertanya. Martha hanya tersenyum kecil berkata pada mereka bahwa nenek berkulit hitam, dan kakeknya berkulit putih, maka anaknya Monika mendapat kemungkinan seperti ini.
Musim gugur 2002, Monika yang berkulit hitam terus menerus mengalami demam tinggi. Terakhir, Dr. Adely memvonis Monika menderita leukimia. “Harapan satu-satunya hanyalah mencari pedonor sumsum tulang belakang yang paling cocok untuknya.” Dokter menjelaskan lebih lanjut. “Diantara mereka yang ada hubungan darah dengan Monika merupakan cara yang paling mudah untuk menemukan pedonor tercocok. Harap seluruh anggota keluarga kalian berkumpul untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang.” Raut wajah Martha berubah, tapi tetap saja seluruh keluarga menjalani pemeriksaan. Hasilnya tak satupun yang cocok. Dokter memberitahu mereka, dalam kasus seperti Monika ini, mencari pedonor yang cocok sangatlah kecil kemungkinannya. Sekarang hanya ada satu cara yang paling manjur, yaitu Martha dan suaminya kembali mengandung anak lagi. dan mendonorkan darah anak untuk Monika. Mendengar usul ini Martha tiba-tiba menjadi panik, dan berkata tanpa suara, “Tuhan..kenapa menjadi begini?” Ia menatap suaminya, sinar matanya dipenuhi ketakutan dan putus asa.
Peterson mengerutkan keningnya berpikir. Dr. Adely berusaha menjelaskan pada mereka, “saat ini banyak orang yang menggunakan cara ini untuk menolong nyawa para penderita leukimia, lagi pula cara ini terhadap bayi yang baru dilahirkan sama sekali tak ada pengaruhnya.” Hal ini hanya didengarkan oleh pasangan suami istri tersebut, dan termenung begitu lama.
Minibalanar - 25/04/2012 02:39 PM
#182


Terakhir mereka hanya berkata, “Biarkan kami memikirkannya kembali.”
Malam kedua, Dr. Adely tengah bergiliran tugas, tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka, pasangan suami-istri tersebut. Martha menggigit bibirnya keras, suaminya Peterson, menggenggam tangannya, dan berkata serius pada dokter. “Ada suatu hal yang perlu kami beritahukan padamu. Tapi harap Anda berjanji untuk menjaga kerahasiaan ini, karena ini merupakan rahasia kami suami-istri selama beberapa tahun.” Dr. Adely menganggukkan kepalanya. Lalu mereka menceritakan: “Itu adalah 10 tahun lalu, dimana Martha ketika pulang kerja telah diperkosa seorang remaja berkulit hitam. Saat Martha sadar, dan pulang ke rumah dengan tergesa-gesa, waktu telah menunjukkan pukul 1 malam. Waktu itu aku bagaikan gila keluar rumah mencari orang hitam itu untuk membuat perhitungan. Tapi telah tak ada bayangan orang satupun. Malam itu kami hanya dapat memeluk kepala masing-masing menahan kepedihan. Sepertinya seluruh langit runtuh.” Bicara sampai sini, Peterson telah dibanjiri air mata, Ia melanjutkan kembali.
“Tak lama kemudian Martha mendapati dirinya hamil. Kami merasa sangat ketakutan, kuatir bila anak yang dikandungnya merupakan milik orang hitam tersebut. Martha berencana untuk menggugurkannya, tapi aku masih mengharapkan keberuntungan, mungkin anak yang dikandungnya adalah bayi kami. Begitulah, kami ketakutan menunggu beberapa bulan. Maret 1993, Martha melahirkan bayi perempuan, dan ia berkulit hitam. Kami begitu putus asa, pernah terpikir untuk mengirim sang anak ke panti asuhan. Tapi mendengar suara tangisnya, kami sungguh tak tega. Terlebih lagi bagaimanapun Martha telah mengandungnya, ia juga merupakan sebuah nyawa. Aku dan Martha merupakan warga Kristen yang taat, pada akhirnya kami memutuskan untuk memeliharanya, dan memberinya nama Monika.”
Mata Dr. Adely juga digenangi air mata, pada akhirnya ia memahami mengapa bagi kedua suami istri tersebut kembali mengandung anak merupakan hal yang sangat mengkuatirkan. Ia berpikir sambil mengangguk-anggukkan kepala, Dr. Adely berkata “Memang jika demikian, kalian melahirkan 10 anak sekalipun akan sulit untuk mendapatkan donor yang cocok untuk Monika.” Beberapa lama kemudian, ia memandang Martha dan berkata, “Kelihatannya, kalian harus mencari ayah kandung Monika. Barangkali sumsum tulangnya cocok untuk Monika. Tetapi, apakah kalian bersedia membiarkan ia kembali muncul dalam kehidupan kalian?” Martha berkata, “Demi anak, aku bersedia berlapang dada memaafkannya. Bila ia bersedia muncul menyelamatkannya. Aku tak akan memperkarakannya.” Dr. Adely merasa terkejut akan kedalaman cinta sang ibu.
Martha dan Peterson mempertimbangkannya baik-baik, sebelum akhirnya memutuskan memuat berita pencarian ini di koran dengan menggunakan nama samaran.

November 2002, di koran Wayeli termuat berita pencarian ini, seperti yang digambarkan sebelumnya. Berita ini memohon sang pelaku pemerkosaan waktu itu berani muncul, demi untuk menolong sebuah nyawa seorang anak perempuan penderita leukimia! Begitu berita ini keluar, tanggapan masyarakat begitu menggemparkan. Kotak surat dan telepon Dr.Adely bagaikan meledak saja, kebanjiran surat masuk dan telepon, orang-orang terus bertanya siapakah wanita ini? Mereka ingin bertemu dengannya, berharap dapat memberikan bantuan padanya. Tetapi Martha menolak semua perhatian mereka, ia tak ingin mengungkapkan identitas sebenarnya, lebih tak ingin lagi identitas Monika sebagai anak hasil pemerkosaan terungkap.
Seluruh media penuh dengan diskusi tentang bagaimana cerita ini berakhir. Orang hitam itu akan munculkah? Jika orang hitam ini berani muncul, akan bagaimanakah masyarakat kita sekarang menilainya? Akankah menggunakan hukum yang berlaku untuk menghakiminya? Haruskah ia menerima hukuman dan cacian untuk masa lalunya, ataukah ia harus menerima pujian karena keberaniannya hari ini?
Saat itu berita pencarian juga muncul di Napulese, memporakporandakan perasaan seorang pengelola toko minuman keras berusia 30 tahun. Ia seorang kulit hitam, bernama Ajili. 17 Mei 1992 waktu itu, ia memiliki lembaran terkelam merupakan mimpi terburuknya di malam berhujan itu. Ia adalah sang peran utama dalam kisah ini. Tak seorangpun menyangka, Ajili yang sangat kaya raya itu, pernah bekerja sebagai pencuci piring panggilan. Dikarenakan orang tuanya telah meninggal sejak ia masih muda, ia yang tak pernah mengenyam dunia pendidikan terpaksa bekerja sejak dini. Ia yang begitu pandai dan cekatan, berharap dirinya sendiri bekerja dengan giat demi mendapatkan sedikit uang dan penghargaan dari orang lain. Tapi sialnya, bosnya merupakan seorang rasialis, yang selalu mendiskriminasikannya. Tak peduli segiat apapun dirinya, selalu memukul dan memakinya. 17 Mei 1992, merupakan ulang tahunnya ke 20, ia berencana untuk pulang kerja lebih awal untuk merayakan hari ulang tahunnya. Siapa menyangka, ditengah kesibukan ia memecahkan sebuah piring. Sang bos menahan kepalanya, memaksanya untuk menelan pecahan piring. Ajili begitu marah dan memukul sang bos, lalu berlari keluar meninggalkan restoran. Ditengah kemarahannya ia bertekad untuk membalas dendam pada si kulit putih. Malam berhujan lebat, tiada seorangpun lewat, dan di parkiran ia bertemu Martha. Untuk membalaskan dendamnya akibat pendiskriminasian, ia pun memperkosa sang wanita yang tak berdosa ini.
Tapi selesai melakukannya, Ajili mulai panik dan ketakutan. Malam itu juga Ia menggunakan uang ulang tahunnya untuk membeli tiket KA menuju Napulese, meninggalkan kota ini. Di Napulese ia bertemu keberuntungannya.
Minibalanar - 25/04/2012 02:40 PM
#183


Ajili mendapatkan pekerjaan dengan lancar di restoran milik orang Amerika.
Kedua pasangan Amerika ini sangatlah mengagumi kemampuannya, dan penikahkannya dengan anak perempuan mereka, Lina, dan pada akhirnya juga mempercayainya untuk mengelola toko mereka.
Beberapa tahun ini, ia yang begitu tangkas, tak hanya memajukan bisnis toko minuman keras ini, ia juga memiliki 3 anak yang lucu. Dimata pekerja lainnya dan seluruh anggota keluarga, Ajili merupakan bos yang baik, suami yang baik, ayah yang baik. Tapi hati nuraninya tetap membuatnya tak melupakan dosa yang pernah diperbuatnya. Ia selalu memohon ampun pada Tuhan dan berharap Tuhan melindungi wanita yang pernah diperkosanya, berharap ia selalu hidup damai dan tentram. Tapi ia menyimpan rahasianya rapat-rapat, tak memberitahu seorangpun.
Pagi hari itu, Ajili berkali-kali membolak-balik koran, ia terus mempertimbangkan kemungkinan dirinyalah pelaku yang dimaksud. Sedikitpun ia tak pernah membayangkan bahwa wanita malang itu mengandung anaknya, bahkan menanggung tanggung jawab untuk memelihara dan menjaga anak yang awalnya bukanlah miliknya. Hari itu, Ajili beberapa kali mencoba menghubungi no.Telepon Dr.Adely. Tapi setiap kali, belum sempat menekan habis tombol telepon, ia telah menutupnya kembali. Hatinya terus bertentangan, bila ia bersedia mengakui semuanya, setiap orang kelak akan mengetahui sisi terburuknya ini, anak-anaknya tak akan lagi mencintainya, ia akan kehilangan keluarganya yang bahagia dan istrinya yang cantik. Juga akan kehilangan penghormatan masyarakat disekitarnya. Semua yang ia dapatkan dengan ditukar kerja kerasnya bertahun-tahun. Malam itu, saat makan bersama, seluruh keluarga mendiskusikan kasus Martha. Sang istri, Lina berkata, “Aku sangat mengagumi Martha. Bila aku diposisinya, aku tak akan memiliki keberanian untuk memelihara anak hasil perkosaan hingga dewasa. Aku lebih mengagumi lagi suami Martha ia sungguh pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat menerima anak yang demikian.”
Ajili termenung mendengarkan pendapat istrinya, dan tiba-tiba mengajukan pertanyaan, “Kalau begitu, bagaimana kau memandang pelaku pemerkosaan itu?” “Sedikitpun aku tak akan memaafkannya! Waktu itu ia sudah membuat kesalahan, kali ini juga hanya dapat meringkuk menyelingkupi dirinya sendiri, ia benar-benar begitu rendah, begitu egois, begitu pengecut! Ia benar-benar seorang pengecut!”, demikian istrinya menjawab dengan dipenuhi api kemarahan. Ajili mendengarkan saja, tak berani mengatakan kenyataan pada istrinya. Malam itu, anaknya yang baru berusia 5 tahun begitu rewel tak bersedia tidur, untuk pertama kalinya Ajili kehilangan kesabaran dan menamparnya. Sang anak sambil menangis berkata :”Kau ayah yang jahat, aku tak mau peduli kamu lagi. Aku tak ingin kau menjadi ayahku”.
Hati Ajili bagai terpukul keras mendengarnya, ia pun memeluk erat-erat sang anak dan berkata, “Maaf, ayah tak akan memukulmu lagi. Ayah yang salah, maafkan papa ya.” Sampai sini, Ajili pun tiba-tiba menangis. Sang anak terkejut dibuatnya, dan buru-buru berkata padanya untuk menenangkan ayahnya, “Baiklah, kumaafkan. Guru TK ku bilang, anak yang baik adalah anak yang mau memperbaiki kesalahannya.”
Malam itu, Ajili tak dapat terlelap, merasa dirinya bagaikan terbakar dalam neraka. Dimatanya selalu terbayang kejadian malam berhujan deras itu, dan bayangan sang wanita. Ia sepertinya dapat mendengarkan jerit tangis wanita itu. Tak henti-hentinya ia bertanya pada dirinya sendiri, “Aku ini sebenarnya
orang baik, atau orang jahat?” Mendengar bunyi napas istrinya yang teratur, ia pun kehilangan seluruh keberaniannya untuk berdiri.
Hari kedua, ia hampir tak tahan lagi rasanya. Istrinya mulai merasakan adanya ketidakberesan pada dirinya, memberikan perhatian padanya dengan menanyakan apakah ada masalah? Dan ia mencari alasan tak enak badan untuk meloloskan dirinya. Pagi hari di jam kerja, sang karyawan menyapanya ramah, “Selamat pagi, manager!” Mendengar itu, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat pasi, dalam hati dipenuhi perasaan tak menentu dan rasa malu. Ia merasa dirinya hampir menjadi gila saja rasanya.
Setelah berhari-hari memeriksa hati nuraninya, Ajili tak dapat lagi terus diam saja, iapun menelepon Dr. Adely. Ia berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya supaya tetap tenang, “Aku ingin mengetahui keadaan anak malang itu.” Dr. Adely memberitahunya, keadaan sang anak sangat parah. Dr.Adely menambahkan kalimat terakhirnya berkata, “Entah apa ia dapat menunggu hari kemunculan ayah kandungnya?” Kalimat terakhir ini menyentuh hati Ajili yang paling dalam, suatu perasaan hangat sebagai sang ayah mengalir keluar, bagaimanapun anak itu juga merupakan darah dagingnya sendiri! Ia pun membulatkan tekad untuk menolong Monika. Ia telah melakukan kesalahan sekali, tak boleh kembali membiarkan dirinya meneruskan kesalahan ini. Malam hari itu juga, ia pun mengobarkan keberaniannya sendiri untuk memberitahu sang istri tentang segala rahasianya. Terakhir ia berkata, “Sangatlah mungkin bahwa aku adalah ayah Monika. Aku harus menyelamatkannya.”
Lina sangat terkejut, marah dan terluka, mendengar semuanya, ia berteriak marah, “Kau PEMBOHONG!”
Minibalanar - 25/04/2012 02:40 PM
#184


Malam itu juga ia membawa ketiga anak mereka, dan lari pulang ke rumah ayah ibunya. Ketika ia memberitahu mereka tentang kisah Ajili, kemarahan kedua suami-istri tersebut dengan segera mereda. Mereka adalah dua orang tua yang penuh pengalaman hidup, mereka menasehatinya, “Memang benar, kita patut marah terhadap segala tingkah laku Ajili di masa lalu. Tapi pernahkah kamu memikirkan, ia dapat mengulurkan dirinya untuk muncul, perlu berapa banyak keberanian besar. Hal ini membuktikan bahwa hati nuraninya belum sepenuhnya terkubur. Apakah kau mengharapkan seorang suami yang pernah melakukan kesalahan tapi kini bersedia memperbaiki dirinya Ataukah seornag suami yang selamanya menyimpan kebusukan ini di dalamnya?”
Mendengar ini Lina terpekur beberapa lama.
Pagi-pagi di hari kedua, ia langsung kembali ke sisi Ajili, menatap mata sang suami yang dipenuhi penderitaan, Lina menetapkan hatinya berkata, “Ajili, pergilah menemui Dr. Adely ! Aku akan menemanimu!” 3 Februari 2003, suami istri Ajili, menghubungi Dr. Adely. 8 Februari, pasangan tersebut tiba di RS Elisabeth, demi untuk pemeriksaan DNA Ajili. Hasilnya Ajili benar-benar adalah ayah Monika. Ketika Martha mengetahui bahwa orang hitam pemerkosanya itu pada akhirnya berani memunculkan dirinya, ia pun tak dapat menahan air matanya. Sepuluh tahun ini ia terus memendam dendam kesumat terhadap Ajili, namun saat ini ia hanya dipenuhi perasaan terharu.
Segalanya berlangsung dalam keheningan. Demi untuk melindungi pasangan Ajili dan pasangan Martha, pihak RS tidak mengungkapkan dengan jelas identitas mereka semua pada media, dan juga tak bersedia mengungkapkan keadaan sebenarnya, mereka hanya memberitahu media bahwa ayah kandung Monika telah ditemukan.
Berita ini mengejutkan seluruh pemerhati berita ini. Mereka terus-menerus menelepon, menulis surat pada Dr. Adely, memohon untuk dapat menyampaikan kemarahan mereka pada orang hitam ini, sekaligus penghormatan mereka padanya. Mereka berpendapat, “Barangkali ia pernah melakukan tindak pidana, namun saat ini ia seorang pahlawan!”
10 Februari, kedua pasangan Martha dan suami memohon untuk dapat bertemu muka langsung dengan Ajili. Awalnya Ajili tak berani untuk menemui mereka, namun pada permohonan ketiga Martha, iapun menyetujui hal ini.
18 Februari, dalam ruang tertutup dan dirahasiakan di RS, Martha bertemu langsung dengan Ajili. Ajili baru saja memangkas rambutnya, saat ia melihat Martha, langkah kakinya terasa sangatlah berat, raut wajahnya memucat. Martha dan suaminya melangkah maju, dan mereka bersama-sama saling menjabat tangan masing-masing, sesaat ketiga orang tersebut diam tanpa suara menahan kepedihan, sebelum akhirnya air mata mereka bersama-sama mengalir. Beberapa waktu kemudian, dengan suara serak Ajili berkata, “Maaf…mohon maafkan aku! Kalimat ini telah terpendam dalam hatiku selama 10 tahun. Hari ini akhirnya aku mendapat kesempatan untuk mengatakannya langsung kepadamu.” Martha menjawab :”Terima kasih kau mau muncul. Semoga Tuhan memberkati, sehingga sumsum tulang belakangmu dapat menolong putriku”.
19 Februari, dokter melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang Ajili. Untungnya, sumsum tulang belakangnya sangat cocok bagi Monika. Sang dokter berkata dengan antusias : “Ini suatu keajaiban!”
22 Februari 2003, sekian lama harapan masyarakat luas akhirnya terkabulkan. Monika menerima sumsum tulang belakang Ajili, dan pada akhirnya Monika telah melewati masa kritis. Satu minggu kemudian, Monika boleh keluar RS dengan sehat walafiat.
Martha dan suami memaafkan Ajili sepenuhnya, dan secara khusus mengundang Ajili dan Dr. Adely datang kerumah mereka untuk merayakannya. Tapi hari itu Ajili tidak hadir, ia memohon Dr. Adely membawa suratnya bagi mereka. Dalam suratnya ia menyatakan penyesalan dan rasa malunya berkata, “Aku tak ingin kembali mengganggu kehidupan tenang kalian. Aku berharap Monika berbahagia selalu hidup dan tumbuh dewasa bersama kalian. Bila kalian menghadapi kesulitan bagaimanapun, harap hubungi aku, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu kalian”. “Saat ini juga, aku sangat berterima kasih pada Monika, dari dalam lubuk hatiku terdalam, dialah yang memberiku kesempatan untuk menebus dosa. Dialah yang membuatku dapat memiliki kehidupan yang benar-benar bahagia di separoh usiaku selanjutnya. Ini adalah hadiah yang ia berikan padaku !”
Minibalanar - 25/04/2012 02:41 PM
#185

Siang itu 13 Pebruari 2008, tanpa sengaja saya bertemu dua manusia super. Mereka makhluk – makhluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberagan Harmoni, dua sosok kecil berumur kira – kira delapan dan sepuluh tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar – lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan “Terima kasih Om…!”

Dan saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka. Kaki – kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki – laik lain itupun menolak dgn gaya yang sama dgn saya, lagi – lagi sayup – sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka, kantong hitam tempat stock tissue daganggan mereka tetap teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta.

Saya melewatinya dengan lirikan ke arah dalam kantong itu, dua pertiganya terisi tissue putih berbalut plastik transparan. Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di wajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang menggayut di langit Jakarta. “Terima kasih ya Mbak, semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka, tak lama si wanita meronggoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

“Maaf, ngak ada kembaliaanya… ada uang pas nggak Mbak?” mereka menyodorkan kembali uang tersebut, si Mbak menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih besar menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

“Om boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan…? suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merongoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian Food Court sebesar empat ribu rupiah. “Nggak punya, tungkas saya…!” lalu tak lama si wanita berkata “Ambil saja kembaliannya, dik…!” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget setengah berteriak ia bilang “Sudah buat kamu saja, gak apa – apa ambil saja…!” namum mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. “Maaf Mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan..!” Akhirnya uang itu diterima si wanita tersebut karena si kecil pergi meninggalkannya.

Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu di genggam saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar “Om.. tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek..!”. “Eeeeh.. nggak usah… nggak usah… biar aja…, nih…!” saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak satunya, “Nanti dulu om, biar ditukar dulu… sebentar”. “Nggak apa – apa…, itu buat kalian” lanjut saya. “Jangan… jangan om, itu uang om sama Mbak yang tadi juga” anak Itu bersikeras. “Sudah nggak apa – apa…. saya ikhlas, Mbak tadi juga pasti ikhlas!” saya berusaha menghalangi, namum ia menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari ke arah saya.

“Ini deh Om …. kalau kelamaan, maaf ya…” ia memberikan saya 8 pack tissue.

“Lho buat apa…?” saya terbenggong…. “Habis teman saya lama sich Om.. maaf tukar pakai tissue aja dulu” Walau dikembalikan ia tetap menolak. Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya.

Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribuan. “Terima kasih Om…!” mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup – sayup terdengar percakapan….”Duit Mbak tadi bagaimana ya..?” suara kecil yang lain menyahut “Lu hafal kan orangnya? mungkin aja kita ketemu lagi, nanti kita kembalikan lagi uangnya”

Percakapan itu sayup – sayup menhilang, saya terhenyak dan kembali ke kantor dengan seribu perasaan. Tuhan …. hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh dan terharu, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra.

Mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta-minta tip dengan berdagang tissue. Dua anak kecil yang bahkan belum akil balik, memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu sangat belia. Saya membandingkan keserakahan yang sering menguasai hidup kita, yang tak pernah ingin sedikitpun berkurang rejeki kita meski dalam rejeki itu sebetulnya ada hak atau milik orang lain.

“Usia memang tidak menjamin kita menjadi bijaksana tapi kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak.”
Minibalanar - 25/04/2012 02:42 PM
#186

Suatu hari saya naik angkutan kota dari Darmaga menuju Terminal Baranangsiang, Bogor. Pengemudi angkot itu seorang pemuda. Di dalam angkot itu telah duduk tujuh orang penumpang, termasuk saya, dan masih ada lima kursi yang belum terisi.

Di tengah jalan terlihat mobil-mobil angkot berusaha saling mendahului untuk berebut penumpang. Namun ada pemandangan aneh saya lihat. Di depan mobil angkot yang kami tumpangi, ada seorang ibu dengan tiga orang anak remaja berdiri di tepi jalan. Setiap ada angkot yang berhenti dihadapannya, dari jauh kami bisa melihat si ibu bicara kepada supir angkot, tetapi mobil-mobil angkot itu melaju kembali. Kejadian ini terulang beberapa kali.
Ketika mobil angkot yang kami tumpangi berhenti di depan si ibu dan ketiga anaknya, si ibu bertanya “Dik, lewat terminal bis ya?”, supir tentu menjawab “ya”.

Yang aneh adalah bahwa si ibu tidak segera naik ke mobil yang kami tumpangi. Kemudian ibu itu berkata “tapi saya dan ke tiga anak saya tidak punya ongkos untuk membayar.” Sambil tersenyum, supir itu menjawab “ngga apa-apa bu, naik saja”, sesaat si Ibu tampak ragu-ragu, namun supir muda itu dengan tegas mengulangi perkataannya “Ayo bu, naik saja, ngga apa-apa.”

Saya terpesona dengan kebaikan Supir angkot yang masih muda itu, di saat jam sibuk dan angkot lain saling berlomba untuk mencari penumpang, tapi si Supir muda ini malah merelakan empat kursi penumpangnya untuk seorang ibu dan tiga anaknya.

Ketika kami tiba di terminal bis, empat penumpang gratisan ini kemudian turun. Si Ibu mengucapkan terima kasih kepada si Supir, “terima kasih banyak yang pak untuk tumpangannya!” “Sama-sama bu,” jawab si supir. Kemudian di belakang ibu itu seorang penumpang pria turun lalu membayar dengan uang Rp. 15.000. Ketika supir muda itu hendak memberikan uang kembalian, karena ongkos satu orang hanya Rp. 3.000,- jadi masih sisa Rp. 12.000, pria itu kemudian berkata bahwa uang itu semuanya untuk ongkos dirinya dan empat orang penumpang gratisan tadi. Kemudian sambil berjalan, pria penumpang itu berkata “Terus jadi orang baik ya, Dik!”

Sore itu saya benar-benar dibuat kagum dengan kebaikan-kebaikan kecil yang saya lihat. Seorang Ibu miskin yang jujur dan polos, kemudian seorang Supir muda yang baik hati, dan selanjutnya seorang penumpang yang budiman.

Betapa indahnya jika kebaikan bersahut dengan kebaikan, jarang sekali peristiwa seperti ini terjadi di tengah kehidupan yang semakin kompleks dengan masalah dan kesulitan, di tengah kompetisi hidup, namun masih ada orang yang memiliki hati yang tulus dan murni untuk menolong orang lain. Mari kita mencontoh dan melatih diri kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan bagi sesama dan memelihara hati yang tulus dan murni untuk menolong orang yang memerlukan uluran tangan kita.
Minibalanar - 25/04/2012 02:42 PM
#187

Bermodal keberanian “menjadi diri sendiri”, Oprah menjadi presenter paling populer di Amerika dan menjadi wanita selebritis terkaya versi majalah Forbes, dengan kekayaan lebih dari US$ 1 Millyar. “The OprahWinfrey Show” telah diputar di hampir seluruh penjuru bumi ini.

Tahukah Anda? Ia lahir di Mississisipi dari pasangan Afro-Amerika dengan nama Oprah Gail Winfrey pada tanggal 29 Januari 1954. Ayahnya mantan serdadu yang kemudian menjadi tukang cukur, sedang ibunya seorang pembantu rumah tangga. Karena keduanya berpisah maka Oprah kecil pun diasuh oleh neneknya di lingkungan yang kumuh dan sangat miskin. Luar biasanya, di usia 3 tahun Oprah telah dapat membaca Injil dengan keras.“Membaca adalah gerai untuk mengenal dunia” katanya dalam suatu wawancaranya. Pada usia 9 hingg 13 tahun, Oprah mengalami pelecehan sexual, dia diperkosa oleh saudara sepupu ibunya beserta teman-temannya dan terjadi berulang kali. Di usia 14 tahun Oprah harus menerima kenyataan hamil dan melahirkan,namun bayinya laki-lakinya meninggal dua minggu setelah dilahirkan. Setelah kejadian itu, Oprah memilih lari ke rumah ayahnya di Nashville. Ayahnya mendidik dengan sangat keras dan disiplin tinggi. Dia diwajibkan membaca buku dan membuat ringkasannya setiap pekan. Walaupun tertekan berat,namun kelak disadari bahwa didikan keras inilah yang menjadikannya sebagai wanita yang tegar, percaya diri dan berdisiplin tinggi. Prestasinya sebagai siswi teladan di SMA membawanya terpilih menjadi wakil siswi yang diundang ke Gedung Putih. Beasiswa pun di dapat saat memasuki jenjang perguruan tinggi.



Karirnya dimulai sebagai penyiar radio lokal saat di bangku SMA. Karir di dunia TV di bangun diusia 19 tahun. Dia menjadi wanita negro pertama dan termuda sebagai pembaca berita stasiun TV lokal tersebut. Oprah memulai debut talkshow TV dalam acara People Are Talking. Dan keputusannya untuk pindah ke Chicago akhirnya membawa Oprah ke puncak karirnya. The Oprah Winfrey Show menjadi acara talkshow dengan rating tertinggi berskala nasional. Sungguh luar biasa! Tayangan acaranya di telivisi selalu sarat dengan nilai kemanusiaan, moralitas dan pendidikan, menyelamatkan keluarga, inspirasi perjuangan hidup. Oprah sadar, bila dia bisa mengajak seluruh pemirsa telivisi, maka bersama, akan mudah mewujudkan segala impiannya untuk membantu mereka yang tertindas atau kekurangan. Oprah juga dikenal dengan kedermawanannya. Berbagai yayasan telah disantuni, antara lain, rumah sakit dan lembaga riset penderita AIDs, berbagai sekolah, penderita ketergantungan, penderita cacat dan banyak lagi. Dan yang terakhir, pada 2 januari 2007 lalu, Oprah menghadiri peresmian sekolah khusus anak-anak perempuan dikota Henley-on-Klip, di luar Johannesburg, Afrika selatan, yang didirikannya bersama dengan pemirsa acara televisinya. Oprah menyisihkan 20 juta pounsterling atau 340 millyar rupiah dari kekayaannya. “Dengan memberi pendidikan yang baik bagi anak2 perempuan ini, kita akan memulai mengubah bangsa ini” ujarnya berharap.



Kisah Oprah Winfrey ialah kisah seorang anak manusia yang tidak mau meratapi nasib. Dia berjuang keras untuk keberhasilan hidupnya, dan dia berhasil. Dia punya mental baja dan mampu mengubah nasib, dari kehidupan nestapa menjadi manusia sukses yang punya karakter, pendirian yang kokoh, semangat hidup dan menyemangati orang lain. Semangat perjuangannya pantas diteladani!

“Tidak masalah siapa Anda, dari mana Anda berasal. Kemampuan untuk bangkit dan menang berasal dari diri Anda sendiri.” -Oprah Winfrey.
Minibalanar - 25/04/2012 02:44 PM
#188

Ketika menjemput teman di bandara sore tadi, tak sengaja saya mendapat pelajaran berharga arti sebuah perkimpoian. Di ruang kedatangan, seorang pria paruh baya menenteng koper dan tas kecil tergopoh menjemput keluarga yang dating menjemputnya.

Sambil berjongkok ia memeluk anaknya yang kecil, perempuan usia lima tahun. Dari hangatnya pelukan erat anak-bapak ini tercermin betapa masing-masing amat rindu. “Apa kabar Dik? Papa kangen sekali sama kamu.” Sang anak tersipu-sipu, Adik juga kangen Pa.” Kemudian ia memandang si sulung. Bocah lelaki usia 10 tahun. “Wah, nak kamu sudah besar sekarang, papa sayang sekali sama kamu” ujarnya sambil merangkulnya dengan erat dan kemudian menciuminya. Mereka saling mengelus kepala. Adegan selanjutnya, adalah tatapan yang tajam dari si pria kepada isterinya, selama beberapa detik ia menatap tajam mata isterinya, saling tersenyum dan berpegangan tangan dan kemudian ia berkata “aku rindu sekali padamu, aku sangat mengasihimu, kemudian ia memberikan ciuman kasih terhadap ibu kedua anaknya, dengan berpelukan agak lama ia menciumi isterinya layaknya pengantin baru.

Rasa iri terbersit di hati melihat adegan tersebut dan saya tidak tahan untuk tidak bertanya.

“Sudah berapa tahun usia perkimpoian Anda,” tanya saya kepada si pria.

“Kami sudah menikah selama 17 tahun,” jawabnya tanpa melepaskan gandengan tangan istrinya.

“Omong-omong, Anda pergi berapa lama sih?” “Dua hari,” jawabnya singkat.

Saya terkejut mendengar jawaban itu. Betapa tidak, melihat kerinduan masing-masing dalam penyambutan mesra itu, saya pikir pria tadi sudah meninggalkan keluarganya selama berbulan-bulan.

“Mengapa Anda tanyakan hal itu,” tanya si pria melihat wajah saya termangu.

“Well, semoga saya bisa seperti Anda dan memiliki cinta kasih serta kerinduan yang besar satu sama lain.” Semoga perkimpoianku akan semesra ini setelah pernikahan kami yang keduabelas.

Kemudian si pria itu menatap langsung kemataku dengan serius seolah-olah menembus dadaku dan ia mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut “Jangan hanya berharap. Pastikan bahwa engkau akan melakukannya! Kemudian ia menjabat tanganku dengan erat sambil berkata “Tuhan besertamu”. (Michael Hargrove).



Kelanggengan dan keberhasilan sebuah keluarga adalah karena faktor kehadiran cinta yang besar dan komitmen yang besar. Hadirnya kasih dan komitmen yang besar membutuhkan usaha yang besar dari semua pihak dalam keluarga terutama orangtua. Pastikan bahwa Anda melakukan tindakan-tindakan yang bermakna bagi kehidupan keluarga Anda dan Anda menjadi saluran kasih yang besar untuk mereka. Salam Sukses!
Minibalanar - 25/04/2012 02:46 PM
#189

Who Moved My Cheese? Buku yang ditulis oleh Spencer Johnson, mengisahkan 4 karakter tokoh, Sniff, Scurry, Hem, dan Haw yang mencari cheese di Maze yaitu suatu labirin yang gelap dan sering menyesatkan. Sniff, si tukang endus dan Scurry, si tukang lacak mulai berlari cepat menyusuri lorong. Dengan menggunakan instingnya, mereka memilih metode trial and error. Sering kali mereka tersesat ke jalan yang salah, tapi mereka terus mencoba mencari jalan yang lain. Sedangkan Hem dan Haw dengan kemampuan berpikir dan belajarnya juga berusaha mencari cheese yang lezat. Akhirnya keempatnya menemukan tumpukan cheese di suatu tempat bernama Cheese Station C. Mereka sangat bersuka cita dan mulai menikmati kelezatan Cheese tersebut sepuasnya. Setelah itu, setiap hari mereka rutin mengunjungi Cheese Station C. Sniff dan Scurry selalu bangun pagi menuju tempat itu, melepas sepatu, mengikat keduanya dan menggantungkan di lehernya, dan sebelum menikmati cheese, mereka memeriksa tempat itu apabila ada perubahan. Hem dan Haw mula-mula juga selalu bangun pagi namun lama kelamaan karena mereka sudah tahu jalan menuju cheese itu, mereka mulai bangun siang dan berjalan santai. Hem dan Haw merasa bahagia dan puas dengan tempatnya yang baru sehingga mereka menjadi arogan.

Suatu hari mereka berempat menemukan bahwa Cheese Station C kosong. Cheese telah hilang!! Sniff dan Scurry tidak kaget dengan kenyataan itu karena mereka sadar bahwa cheese itu lama-lama akan habis karena setiap hari dimakan. Mereka siap dengan keadaan yang tak terelakkan ini. Segera saja Sniff dan Scurry memakai sepatu dan langsung berlari mencari cheese yang baru. Mereka melihat bahwa Cheese Station C telah berubah, maka merekapun memutuskan untuk berubah. Beda sekali dengan reaksi Hem dan Haw dalam menghadapi ini. Mereka kaget, marah, dan berteriak keras “Who Moved My Cheese?”. Hem menilai keadaan ini tidak adil karena mereka merasa berhak menikmati cheese itu selamanya dan menyalahkan orang lain yang telah memindahkan cheese itu. Sedang Haw mulai berpikir, bagaimana hal ini bisa terjadi. Mereka berdua takut, bagaimana mereka akan bisa hidup tanpa cheese itu. Ada apa sih?! Mana Cheese nya? Siapa sih yang memindahkan Cheeseku? Kembalikan Cheese nya dong?” Hem berseru sambil marah-marah. Haw juga tidak bisa percaya kalau cheese mereka telah hilang. Kedua kurcaci ini tidak tahu berbuat apa. Mereka berdiri saja, tidak bisa bergerak seperti patung. Haw menyarankan, ”mungkin sebaiknya kita berhenti menganalisa situasinya dan pergi saja mencari Cheese baru”. Tapi Hem tidak setuju, ”pokoknya aku akan menyeledikinya hingga tuntas”.

Di lain tempat, Sniff dan Scurry masih berlari kesana kemari tanpa kenal lelah mencari cheese yang baru. Berulang kali mereka melewati jalan buntu dan memasuki tempat yang kosong, tidak ada cheese. Tapi mereka terus mencoba. Akhirnya mereka sampai di suatu tempat bernama Cheese Station N yang berisi cheese. Cheese di situ ternyata lebih lezat dari cheese di tempat yang lama. Mereka menikmatinya dengan puas.

Hem dan Haw masih terus mendatangi Cheese Station C dan berharap cheesenya kembali. Tapi harapan mereka sia-sia. Hem diam dan putus asa. Sedang Haw mulai tidak tahan dengan keadaan seperti itu dan mencoba mencari cara untuk bisa menemukan cheese itu. Keduanya lantas memahat dinding tempat itu, ternyata cheese yang dicari tetap tidak dapat ditemukan. Haw mengajak Hem mencari cheese yang baru di luar. Tapi Hem menolak karena dia masih yakin cheesenya akan kembali dan berpikir bahwa belum tentu mereka akan memukan cheese di luar sana. Diam-diam Haw juga didera rasa takut untuk memasuki tempat-tempat asing yang gelap dan menyesatkan. Tapi dia telah membayangkan bahwa di luar sana dia akan mendapatkan cheese yang lezat. Haw menertawakan kebodohannya. Mengapa dia hanya membayangkan tapi tidak berusaha keluar? Karena Hem tidak mau diajak, Haw pergi sendiri.

Di sepanjang perjalanan dia disergap rasa takut yang amat sangat. Ada kalanya dia ingin kembali ke tempat semula yang enak dan aman, tapi dia menyadari bahwa disitu tidak ada cheese lagi. Anehnya, semakin lama dia merasa langkahnya semakin ringan. Dia merasa nyaman telah terbebas dari rasa takutnya dan sangat menikmati saat melakukan hal-hal baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Di sepanjang jalan dia memberi tanda dengan menuliskan sesuatu di dinding. Dia berharap hal itu bisa dijadikan jejak yang dapat diikuti Hem, sahabatnya, jika Hem berniat menyusulnya.

Akhirnya dia sampai di Cheese Station N dan menjumpai Sniff dan Scurry yang tengah menikmati cheese. Haw begitu gembira dengan penemuannya dan bersama-sama Sniff dan Scurry menikmati cheese yang lezat. Haw hanya bisa berharap berharap Hem segera dapat melepaskan diri dari rasa takut dan segera bergerak ke tempat lain.

Who Move My Cheese? adalah cerita tentang perubahan yang terjadi pada suatu tempat dengan lorong-lorong yang ruwet di mana empat karakter mencari “cheese” – cheese ini adalah metafora tentang apa yang kita inginkan dalam hidup: pekerjaan, suatu hubungan, uang, tumah besar, kebebasan, kesehatan, pengakuan, kedamaian hati, atau sekedar aktivitas sederhana seperti lari pagi atau main golf, misalnya. Setiap kita boleh punya bayangan tentang apa itu cheese yang kita anggap patut kita dapat dan bisa membuat kita bahagia.

Empat karakter dalam cerita tersebut menggambarkan bagian dari kita yang sederhana dan yang kompleks. Si Tikus: Sniff dan Scurry dan Si Littlepeople: Hem dan Haw. Kadang kita bertindak seperti Sniff yang segera mencium adanya perubahan. Bisa jadi kita bisa seperti Scurry yang bisa segera bertindak begitu tahu ada perubahan. Barangkali kita lebih sering seperti Hem yang menyangkal dan menolak perubahan karena takut perubahan itu akan membawanya kepada situasi yang lebih buruk. Atau mungkin kita seperti Haw yang belajar beradaptasi karena melihat bahwa perubahan justru bisa membawanya kepada sesuatu yang jauh lebih baik!

Sebenarnya apa yang membuat kita takut untuk berubah? Ketakutan, pada porsi yang tepat, baik juga bagi kita, bisa membuat kita waspada, dan melakukan tindakan tertentu agar kondisi tidak menjadi lebih buruk. Tetapi terlalu ketakutan sehingga kita tidak berani melakukan apa pun tentu tidak baik. Jadi seperti Haw, pertanyaannya ketika kita ragu dan ketakutan untuk bertindak adalah ”What would you do if you weren’t afraid?”

Beberapa pembelajaran yang dapat di ambil dari buku ini adalah :

Jangan pernah takut menghadapi suatu perubahan dalam hidup.
Jika Anda Tidak Mau Melakukan Perubahaan, Pasti Anda Akan Musnah atau Akan terjebak di kondisi Seperti Itu Terus.
Satu hal yg sangat penting dari perubahaan ”Lebih baik Terlambat dari pada tidak sama sekali”.
Perubahan akan terjadi, baik anda mngharapkan atau tidak. Perubahan akan mengejutkan apabila kita tidak menghendakinya & tidak menyadarinya.
Saat anda berhenti dari rasa takut, pasti anda akan merasakan lebih baik.
Dengan menaruh perhtian pada perubahan kecil sejak awal akan membntu anda beradapasi dengan perubahan yang lebih besar di masa yang akan datang.
Cara yang cepat untuk berubah adalah dapat mentertawakan kebodohan diri sendiri, sehingga kita dapat merelakannya & cepat² bergerak maju.
Minibalanar - 25/04/2012 02:51 PM
#190

Ada satu cerita pendek yang ditulis oleh Ernest Hemingway yang bercerita tentang satu keluarga yang tinggal di kota kecil di Spanyol. Suatu hari diceritakan terjadi suatu pertengakaran hebat antara ayah dengan anaknya yang masih remaja dalam keluarga itu. Entah karena kemarahan atau kata-kata keras yang keluar dari mulut sang ayah, keesokan harinya sang ayah menemukan ranjang anaknya kosong dan anaknya telah kabur dari rumah.

Dengan diliputi rasa sedih dan gelisah sang ayah terus mencari anaknya, dan akhirnya diketahui bahwa anak itu telah pergi ke kota Madrid. Sang ayah menyadari akan bahaya dan dampak dari pergaulan buruk dan tindak kriminal di kota besar seperti Madrid, maka ia bergegas menuju kota Madrid. Namun ia juga kebingungan mencari dimana keberadaan anaknya, dia tidak dapat menemukan anaknya di kota yang sangat besar seperti itu.

Kemudia ia mempunyai ide untuk memasukkan pencarian anaknya ke surat kabar ibu kota, dan kemudian ia menuliskan di koran “El Liberal,” dengan tulisan “PACO, PULANGLAH! TEMUI PAPA DI HOTEL MONTANA SELASA SIANG, SEMUA SUDAH DIMAAFKAN.”

Pada selasa siang seperti dituliskan di surat kabar “El Liberal” sang ayah pergi menuju hotel Montana, dan betapa kagetnya sang ayah ketika tiba disana, ia melihat ada 800 anak yang berkumpul untuk mencari ayah mereka. Istilah “Paco” adalah sebutan atau nama panggilan untuk seorang anak laki-laki di Spanyol, jadi wajar saja banyak anak yang datang kesana. Namun jumlah 800 anak sangatlah banyak, dan memberi petunjuk bahwa banyak sekali anak-anak yang kehausan kasih dari ayah mereka. Seringkali konflik dan perbedaan pendapat antar orangtua dan anak terjadi dalam rumah tangga, dan anak-anak mudah sekali tersinggung oleh sikap dan kata-kata orangtua mereka. Mudah sekali bagi mereka untuk mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan rumah atau mengambil sikap acuh tak acuh dan tak mau berbicara lagi dengan orangtua mereka. Peristiwa di atas memberi suatu pelajaran bahwa banyak sekali anak-anak yang terlantar di luar sana dan sangat membutuhkan kasih. Mereka mengharapkan uluran tangan dan kasih sayang serta pengampunan atas kesalahan yang mungkin mereka pernah lakukan. Dengan sedikit perhatian, perasaan dikasihi, dirindukan dan dengan jaminan pengampunan, mereka akan segera kembali kepada orangtuanya. Kebanyakan anak-anak remaja sulit sekali untuk merendahkan diri mereka lalu datang meminta maaf kepada orangtuanya. Saya yakin bahwa 800 “Paco” berharap bertemu dengan ayah mereka sambil membuka kedua tangan mereka menunggu ia berlari untuk kemudian dipeluk ayahnya. Mereka membutuhkan suatu rasa aman dan suatu penerimaan dan jaminan bahwa mereka diampuni. Mereka ingin mendengar kata-kata dari orangtua mereka: “Semua sudah dimaafkan, kamu dimaafkan, pulanglah ke keluargamu, kami mengasihimu!”



“Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” Lukas 15:7
Minibalanar - 25/04/2012 02:53 PM
#191

Suatu perlombaan lari 400 meter diadakan untuk menguji siapakah manusia tercepat di dunia. Lomba itu sangat diminati oleh banyak orang, oleh karena memiliki hadiah yang sangat besar dan merupakan perlombaan bergengsi. Semua peserta telah bersiap di garis Start dan akan menempuh jarak yang sama, serta memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mencapai garis Finish dan mendapatkan hadiah.

Setelah siap, tanda mulai pun dilakukan dengan tembakan pistol, semua peserta pun melesat dengan sigap dan dengan sekuat tenaga dan saling berusaha untuk saling mendahului satu sama lain. Sorak sorai penonton pun bergemuruh menambah serunya pertandingan. Tiba-tiba terjadilah sebuah insiden kecil, pada tikungan ke dua, dua orang atet sepertinya bersinggungan, dan karena gesekan itu keduanya menjadi melambat dan tertinggal oleh pelari lain.



Sebagian penonton memperhatikan dengan serius insiden kecil tersebut dan sebagian besar bersorak-sorak gemuruh melihat pelari yang terus berusaha berada di depan barisan dan saling bersaing satu sama lain. Salah satu atlet yang bersinggungan tadi merasa sangat terganggu dan seketika ia memutuskan untuk berhenti dan menyatakan protes dan berteriak kepada atlet lain, “mengapa engkau menyenggol aku,? Kemudian ia berteriak kepada panitia “ini tidak fair, ada kecurangan dibiarkan saja.” Karena tidak ada yang memberi respon, ia malah berteriak kepada penonton “Ini curang, saya minta pertandingan diulang!

Akibat protes orang itu, atlet kedua yang bersinggungan dengan orang tersebut menoleh kebelakang dan akhirnya juga semakin tertinggal jauh dari peserta lain, dan juga menjadi kesal. Sebagian besar penonton tidak mempedulikan sama sekali insiden kecil itu dan tetap fokus dan bersorak untuk penonton yang berlari paling depan dan akhirnya memenangkan pertandingan. Semua penonton berteriak-teriak bersorak-sorak melihat kemenangan itu, dan sang juara pun mengelilingi lapangan sekali lagi sambil melambaikan tangan kepada para penonton.

Dalam kehidupan ini kita sering mendengar lontaran “God is not fair!” Jika berandai-andai tentang apa yang dilakukan Tuhan, maka kita akan menemukan bahwa seringkali kelihatannya keputusan Tuhan itu tidak cocok dengan keinginan kita. Banyak peristiwa dalam kehidupan ini kelihatannya seperti dunia yang tidak adil, namun di sisi lain bagi banyak orang kehidupan di dunia ini adalah arena perjuangan hidup, yang seringkali menuntut perjuangan, ketabahan, kreativitas, kesabaran dan ketekunan. Jikalau kita hanya melihat kehidupan dari sisi negatif saja maka segala sesuatu akan menjadi negatif, yang muncul hanya ketidak puasan, menyalahkan keadaan bahkan tidak jarang mempersalahkan Tuhan sebagai penyebab kegagalan.

Dengan berpikir positif, seseorang dapat melahirkan sikap optimis dan melihat peluang keberhasilan. Sikap seperti inilah yang dibutuhkan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Keberhasilan hidup dan kemenangan seringkali dipengaruhi oleh cara kita melihat hidup dan semua permasalahan di dalamnya. Masalah pasti akan datang dan akan dialami oleh setiap orang, namun cara menghadapi dan cara menangani masalah itu akan memberikan hasil yang berbeda. Para pemenang selalu fokus pada usaha untuk mencapai garis finish, semua kesulitan dan rintangan dihadapi dengan berani dan selalu berusaha untuk mencapai keberhasilan utama. Salam Sukses!
Minibalanar - 25/04/2012 02:55 PM
#192

Di akhir abad 19 ada seorang anak orang kaya dan anak seorang miskin yang hidup di daerah yang sama. Sang anak orang kaya itu selalu mengenakan pakaian-pakaian bagus dan mahal, tinggal di rumah yang sangat bagus dan memiliki banyak makanan yang sangat bergizi. Sedangkan si anak miskin itu selalu mengenakan pakaian sederhana, di rumah yang sangat sederhana dan kadang-kadang tidak memiliki makanan yang cukup.

Suatu hari kedua anak itu bermain bersama dan terjadi perkelahian yang kemudian dimenangkan oleh anak yang kaya. Si anak itu miskin bangkit dan membersihkan debu dari tubuh dan pakaiannya, dan berkata “kalau saya bisa makan seperti makanan yang kamu makan, saya juga pasti bisa menang.” Lalu kemudian anak miskin itu pergi meninggalkan anak kaya itu. Anak kaya itu terdiam dan terkejut dengan apa yang ia dengar, hatinya tertusuk karena dia tahu apa yang dikatakan anak itu ada benarnya.

Anak orang kaya itu tidak pernah melupakan pengalaman hari itu, dan sejak hari itu ia mengubah sikap dan gaya hidupnya, ia menolak semua pencitraan anak emas oleh karena ia anak orang kaya. Dia dengan sengaja mencoba merasakan penderitaan orang miskin. Keluarganya sering merasa malu dengan apa yang ia pakai, tapi anak itu tidak pernah merasa malu dengan apa yang dia pakai. Anak itu tidak pernah lagi membanggakan kekayaan orangtuanya atau menggunakan kekayaannya walau pun keluarganya sering memaksanyan untuk menggunakannya.

Sejarah tidak mencatat nama anak miskin yang bertengkar dengan anak orang kaya ini, namun sejarah mencatat nama, karya dan keputusan anak orang kaya yang punya belas kasihan pada orang miskin ini. Sejarah mencatat namanya, Albert Schweitzer yang lahir di Jerman, 14 Januari 1875 dan meninggal 4 September 1965. Ketika ia telah mencapai gelar tertinggi di beberapa bidang sekaligus, menjadi seorang ahli fisika, filsuf, teolog dan dokter kelas dunia. Komitmennya adalah untuk memperhatikan dan mengasihi orang miskin dan hal itu tidak terbendung. Justru ketika ia telah mencapai puncak aktualisasi dirinya, Albert Schweitzer memutuskan untuk melayani orang-orang miskin di Afrika sebagai pendeta dan dokter misionaris.

Tidak banyak orang yang seperti Schweitzer dan yang berdampak bagi dunia. Ia bukan hanya dikagumi di Afrika, namun ia telah menjadi contoh bagaimana seorang pribadi dalam kualitas maksimalnya mendedikasikan dirinya bagi kesejahteraan orang banyak. Tidak banyak orang yang mencapai kepuasan hidup, karena kebanyakan orang berusaha mensejahterakan dirinya sendiri. Schweitzer mendapatkan kepuasan hidup melalui mensejahterakan orang lain. Suatu penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang fokusnya pada diri sendiri, tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang besar dan tidak akan bahagia. Jika Anda ingin menghasilkan sesuatu yang besar dan ingin menjadi seorang yang berbahagia, dedikasikanlah hidup Anda untuk kepentingan banyak orang.



”Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16.
“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.” 1 Yohanes 4:7.
Minibalanar - 25/04/2012 02:55 PM
#193

Ketika saya duduk di sekolah dasar, saya terlibat perdebatan sengit dengan seorang anak lelaki di kelasku. Saya sudah lupa topik perdebatan kami, namun saya tidak pernah lupa pelajaran yang saya peroleh hari itu.

Saya yakin sekali bahwa sayalah yang benar dan teman saya yang salah. Sementara itu dia juga merasa yakin bahwa dialah yang benar dan saya salah. Maka guru kami memutuskan untuk memberikan pelajaran yang sangat penting untuk merelai kami berdua. Ia menyuruh kami maju ke depan kelas, dan menyuruh saya berdiri di satu sisi meja dan menyuruh teman saya untuk berdiri di sisi berlawanan. Kemudian guru kami meletakkan benda yang cukup besar dan berbentuk bundar di atas meja di tengah-tengah kami. Kemudian guru itu bertanya kepada saya “warna apa benda ini?” Dengan jelas saya melihat bahwa benda yang berada di depan saya berwarna hitam. Kemudian guru itu bertanya pada teman saya “warna apa benda yang ada dihadapanmu? “Putih!” sahutnya. Aku tak percaya mendengar jawabannya, sebab jelas-jelas bahwa benda yang berada dihadapan saya berwarna hitam, tetapi mengapa teman saya berkata bahwa benda itu berwarna putih, sejenak kami mempertahankan pendapat kami masing-masing dengan yakin.

Guru kami kemudian meminta kami bertukar posisi, saya berdiri di posisi teman saya dan teman saya berdiri di tempat saya berdiri sebelumnya. Kemudian guru kami bertanya kepada saya “sekarang, apa warna benda yang ada di depanmu?” dengan terpaksa saya menjawab “putih!” dan guru kami bertanya kepada teman saya “apa warna benda yang ada di depanmu?” dengan yakin teman saya menjawab “hitam!” sebab benda itu ternyata mempunyai dua sisi dengan warna yang berbeda, dari sisi satu berwarna hitam dan di sisi lain berwarna putih.

Hari itu saya mendapatkan pelajaran berharga. Kita mesti dapat menempatkan diri pada posisi orang lain dan melihat situasinya melalui apa yang mereka pandang, supaya kita benar-benar memahami persfektif mereka. (Judie Paxton).

Seringkali kegagalan berkomunikasi dan kegagalan menyampaikan pesan atau keinginan seseorang mengalami kegagalan oleh karena seseorang terlalu memaksakan persfektifnya dan menganggapnya dengan yakin bahwa dialah yang benar dan melihat orang lain yang salah. Terkadang kita belum membaca dan belum memahami situasi orang lain secara lengkap namun sudah mengambil kesimpulan dan mengambil sikap berlawanan sehingga komunikasi atau relasi menjadi bermasalah. Mampu menempatkan diri dengan baik pada posisi orang lain dan benar-benar dapat memahami situasi mereka akan membuat komunikasi dan relasi menjadi jauh lebih baik dan terhindar dari konflik-konflik yang merugikan.
Minibalanar - 25/04/2012 02:55 PM
#194

Thomas Wheeler, CEO Massahusetts Mutual life Insurance Company, dengan isterinya sedang melintasi jalan raya antar Negara bagian, dan Wheeler melihat petunjuk bahwa bensin mobilnya nyaris habis. Wheeler dengan segera keluar dari jalur bebas hambatan dan menemukan stasiun pompa bensin yang sudah tua dan hanya memiliki satu mesin pengisi bensin.

Setelah meminta satu-satunya petugas yang ada disitu untuk mengisi bensin penuh dan mengecek oli, Wheeler berjalan-jalan mengitari pompa bensin untuk melemaskan kakinya. Ketika kembali ke mobil ia melihat petugas itu sedang mengobrol akrab dengan isterinya. Obrolan mereka pun langsung berhenti ketika ia membayar bensinya. Ketika hendak masuk ke dalam mobil, Wheeler melihat petugas itu melambaikan tangan sabil berkata “Asyik sekali mengobrol denganmu!”

Setelah memasuki jalan raya, Wheeler bertanya kepada isterinya apakah ia mengenal lelaki itu, isterinya langsung mengiyakan bahwa mereka pernah satu sekolah di SMA dan pernah pacaran kira-kira setahun. Astaga! Ujar Wheeler, “Untung kamu menikah dengan saya, kalau tidak kau akan jadi isteri petugas pompa bensin dan bukan isteri direktur utama.

Sayangku! jawab isterinya, “kalau aku menikah dengannya, dia yang akan menjadi direktur utama, dan kau ….. kau akan menjadi petugas pompa bensin!



Penting sekali untuk menyadari siapa yang paling mempengaruhi dan paling memberi sumbangsih dalam hidup kita dan mengahargai bahwa kesuksesan tidak pernah merupakan hasil dan usaha pribadi.
Minibalanar - 25/04/2012 02:57 PM
#195

Selama delapan tahun berturut turut penulis itu dengan tekun dan bersemangat menulis cerita-cerita, novel, dan artikel-artikel untuk dipublikasikan, namun selama delapan tahun itu juga semua tulisannya ditolak. Untungnya penulis muda itu tidak pernah menyerah, dia tetap tekun menulis dan mengirimkan tulisannya kepada penerbit. Dia menghabiskan waktunya di angkatan laut untuk menulis laporan dan surat menyurat, dia belajar bagaimana menulis dengan singkat padat dan jelas. Setelah ia pensiun dari angkatan laut, ia ingin lebih serius untuk menulis, namun selama delapan tahun ia merasakan penolakan yang cukup berat, ia telah menuliskan ratusan cerita dan artikel, namun semuanya ditolak. Tentunya akan ada perasaan-perasaan frustrasi ketika seseorang gagal mengahasilkan suatu tulisan untuk publik selama bertahun-tahun, ia merasa tidak ada yang berhasil. Sampai pada suatu hari ada seorang editor yang memberikan surat yang memberikan kata-kata pemberi semangat dalam surat penolakannya: “Usaha kamu bagus.”

Mungkin bagi kebanyakan orang kata-kata tersebut hanya kata-kata klise semata, namun penulis muda ini sampai mencucurkan air mata ketika membaca kalimat itu. Ia merasa mendapatkan kekuatan baru dan harapan untuk bertahan dan harapan untuk terus menulis. Akhirnya setelah bertahun-tahun berusaha lagi, ia menulis sebuah buku yang memengaruhi seluruh bangsa Amerika dan menjadikannya tekenal sebagai penulis tahun 70-an. Ia adalah Alex Haley dalam Novelnya “The Roots” yang dibuat menjadi salah satu film mini seri yang sangat laris sepanjang masa.

Pesannya jelas: Kalau Anda memiliki mimpi dan Anda merasa memiliki hasrat dan kemampuan, kejarlah dan jangan pernah menyerah. Bertahan dan jangan mundur! Siapa yang tahu bagian mana dan saat mana Anda akan menemukan kesusksesan Anda. Mungkin dalam usaha dan karya berikutnya ada orang yang akan berkata pada Anda “usaha Anda bagus.” Mungkin ada kata-kata lain yang akan memberikan semangat dan harapan bagi Anda, Ingat! Sukses mungkin ada dibalik usaha Anda selama ini, dibalik bukit atau gunung perjuangan Anda mungkin Anda akan menemukan kota impian Anda, kesuksesan Anda. Salam Sukses!

Diadaptasi dari “Something to Smile About,” Zig Ziglar.
Minibalanar - 25/04/2012 02:58 PM
#196

lex Haley, penulis Roots, mempunyai sebuah gambar di ruang kantornya, gambar seekor kura-kura duduk di atas pagar. Gambar tersebut digantungnya untuk mengingatkan akan sebuah pelajaran penting yang diperolehnya dulu tentang sikap hidup dan kerendahan hati. Ia berkata “Kalau Anda melihat seekor kura-kura di atas pagar, Anda tahu ia pasti pernah dibantu.”

Alex melanjutkan, “setiap kali saya mulai berpikir, Wow! Hebat sekali hasil pencapaianku! Wow! Hebat sekali hAsil kerjaku!, kemudian saya melihat gambar itu dan saya mengingat bagaimana “kura-kura ini” yaitu “Saya sendiri,” naik ke atas pagar (posisi dan keberhasilan), menjadi sadar karena ada orang lain yang juga menolong saya berada di atas sana. Sehingga tidak patut mengabil kredit dan kebanggaan pribadi seolah-olah semua keberhasilan hidup ini adalah karena diri kita sendiri. Seperti ungkapan Albert Einstein, bahwa dalam hidupnya, ratusan kali muncul dalam pikirannya bahwa ia berhutang kepada banyak orang yang teah mengajarkan banyak pelajaran-pelajaran di kelas dan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Keberadaan dan keberhasilan seseorang tidak pernah sama sekali terbentuk oleh usaha satu orang, sehingga tidak patut membanggakan diri atau menyobongkan diri.

Kesombongan akan menjatuhkan seseorang dengan cepat atau lambat, tidak ada orang yang senang bergaul atau bekerja sama dengan orang yang sombong, namun orang yang rendah hati akan mendapatkan banyak kesempatan dan penghormatan dari orang lain.
Minibalanar - 25/04/2012 02:58 PM
#197

Rolando dan Ronaldo adalah sepasang anak kembar yang terlahir dari keluarga yang berantakan. Ibunya adalah seorang penjudi, dan ayahnya adalah juga penjudi dan pemabuk. Ibu mereka lebih dahulu meninggal pada saat bayi kembar ini lahir. Sang Ayah yang kemudian merawat mereka dan kemudian menyekolahkan mereka, sampai pada akhirnya sang Ayah meninggal dunia. Karena tidak memiliki keluarga yg bersedia menampung ke dua anak kebar ini, akhirnya mereka tinggal di sebuah panti asuhan yg berbeda. Berita mengenai nasib malang kedua bocah kembar ini sempat menghiasi koran tempat lahir mereka di Negara Mexico.

Empat puluh tahun kemudian setelah perpisahan tersebut, seorang pemimpin redaksi surat kabar ternyata ingin mengetahui keberadaan kedua anak kembar tersebut dan kemudian mengutus team wartawan mereka untuk melakukan pencarian data.



Mereka menemukan Rolando sedang berada dalam sebuah bar di daerah Guadelajara dalam kondisi mabuk berat dan nampaknya memiliki kebiasaan berhari-hari tidak mandi. Kemudian mereka pun mewawancarai Rolando, dan bertanya mengapa dia sampai begini? Rolando sambil menunjukkan kekesalannya berteriak… “Aku begini karena AYAHku! Apa yang bisa diharapkan dari ayah pemabuk? Yach Inilah aku, seorang pemabuk juga. Buah yang jatuh tak Jauh dari pohonnya.” teriaknya.

Sementara wartawan yang lain juga telah menemukan Ronaldo, di dia berada di Mexico City sebagai seorang Direktur sebuah konsorsium internasional yang memiliki keluarga mapan dan bahagia. Mereka mewawancarainya, dan bertanya kepadanya, apa yang menjadi motivasinya sehingga dia bisa menjadi seorang yang berhasil dan sehebat ini. Jawaban Ronaldo memiliki persfektif yang bertolak belakang dengan Rolando meskipun dengan objek pembicaaran yang sama, yaitu ayah merek. Ronaldo berkata bahwa alasan utama keberhasilannya adalah Ayahnya. “Ayahku dulu adalah seorang pemabuk dan penjudi, dan aku ingin membuktikan kalau aku bisa menjadi orang hebat walaupun lahir dari keluarga pemabuk dan penjudi,” katanya dengan mata berkaca-kaca.



Mindset dan penilaian terhadap sebuah peristiwa dalam pikiran seseorang sangat menentukan ke arah mana kehidupan yang sedang dijalani. Satu peristiwa menyakitkan dapat membunuh dan menghancurkan hidup dan masa depan seseorang jika dilihat dari persfektif negatif, namun sebuah peristiwa tragis juga dapat dijadikan sebuah refleksi dan batu loncatan untuk mengubah arah hidup dan meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Tidak mudah untuk mengambil pilihan-pilihan terbaik dalam situasi yang sulit dan menjadikannya sebuah kemenangan, namun lebih tidak mudah jika kita salah memilih dan menghancurkan hidup. Apakah seseorang melihat hidupnya dari sisi negatif atau sebaliknya dari sisi yang positif, terntu hasilnya akan berbeda dan bertolak belakang, oleh karena itu harus mengambil pilihan dengan bijaksana. Hidup ini adalah PILIHAN, seperti kata Albert Camus “Hidup adalah kumpulan dari piliihan-pilihan hidup.” Selamat memilih, salam sukses!
Minibalanar - 25/04/2012 02:59 PM
#198

Pada 27 Januari 2006 seorang anak remaja belia mendapat penghargaan tinggi dari pemerintah China karena diketahui telah melakukan “perjuangan Luar Biasa”. Diantara 9 orang peraih penghargaan itu, ia merupakan satu-satunya anak kecil yang terpilih dari 1,4 milyar penduduk China. Yang membuatnya luar biasa adalah cinta kasih dan pengabdian pada ayahnya. Sejak ia berusia 10 tahun (tahun 2001) anak ini ditinggal pergi oleh ibunya yang sudah tidak tahan lagi hidup bersama suaminya yang sakit keras dan miskin. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan.



Kondisi ini memaksa bocah ingusan yang belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah dan mencari makan untuk Ayahnya, juga untuk dirinya sendiri. Zhang Da juga harus mencari obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk ayahnya. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa bocag Zhang Da dimulai.



Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah. Hidup harus terus berjalan, tapi tidak mengasihani diri apalagi melakukan kejahatan. Ia memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan ayahnya.

Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah dengan berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan.



Setelah jam pulang sekolah di siang hari hingga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan. Hidup seperti ini ia jalani selama 5 tahun tetapi badannya tetap sehat dan kuat. Zhang Da merawat Ayahnya yang sakit sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat ayahnya.

Ia menggendong ayahnya ke WC, ia memandikan ayahnya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan ayahnya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih.

Zhang Da menyuntik sendiri ayahnya. Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Yang membuatnya luar biasa adalah ia telah belajar bagaimana menjadi seorang perawat dan memberikan suntikan pada ayahnya. Setelah ia rasa mampu, ia memberanikan diri untuk menyuntik ayahnya sendiri. Sekarang pekerjaan menyuntik ayahnya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, Zhang Da menajdi terampil.



Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, pembawa acara (MC) bertanya kepadanya,



“Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu? Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah?

Besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!”



Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu.” Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar ia pun menjawab,

“Aku mau mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama kembalilah!”

Semua yang hadir pun spontan menitikkan air mata karena terharu. Tidak ada yang menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan ayahnya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya?

Mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit? Mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, pasti semua akan membantunya. Mungkin apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku mau Mama kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan ayahnya.

Kisah di atas bukan saja mengharukan namun juga menimbulkan kekaguman. Seorang anak berusia 10 tahun dapat menjalankan tanggung jawab yang berat selama 5 tahun. Kesulitan hidup telah menempa anak tersebut menjadi sosok anak yang tangguh dan pantang menyerah.

Tokoh Zhang Da boleh dibilang langka dan sangat berbeda dengan anak-anak modern. Saat ini banyak anak yang segala sesuatunya selalu dimudahkan oleh orang tuanya. Karena alasan sayang, orang tua selalu membantu anaknya, meskipun sang anak sudah mampu melakukannya. Keadaan bisa menghancurkan tapi bisa menempa kehidupan kita untuk menjadi tangguh.
Minibalanar - 25/04/2012 03:00 PM
#199

Carol Farmer adalah seorang guru yang merasakan bahwa pekerjaannya sebagai guru tidaklah menyenangkan. Hal itu disadarinya setelah ia mengajar selama dua semester dan ia merasa sangat tidak cocok dalam posisi itu. Walau pun ia sudah mencoba mengusahakan yang terbaik dan menginvestasikan banyak uang untuk pekerjaan itu, namun ia tetap merasakan bahwa menjadi guru bukan panggilan hidupnya.
Sebetulnya ia ingin sekali menjadi seorang desainer, oleh karena itu tanpa ragu-ragu ia mulai mengubah arah hidupnya dengan meninggalkan sama sekali profesi guru, kemudian ia mulai mengejar impiannya menjadi seorang desainer.
Dalam mimpinya Farmer ingin menghasilkan uang lebih banyak dari pekerjaan desainer dari pada sebagai pengajar. Sewaktu ia mengajar ia hanya mendapat $5.000 per tahun, namun ketika ia mulai menjadi desainer ia langsung mendapatkan $5.012 dan sebagai desainer pemula ia sudah mencapai mimpinya.
Selanjutnya Farmer mendapatkan tawaran dari kliennya dengan bayaran sebesar $22.000 setahun, jumlah itu berarti empat kali lipat dari gajinya sebagai guru pada dua tahun yang lalu. Tak lama kemudian pendapatannya meningkat menjadi $35.000 per tahun, namun hal itu tidak membuat dia merasa cepat puas, malah mimpinya sekarang lebih besar dari itu.
Farmer kemudian membangun perusahaannya sendiri dan ia dapat menghasilkan $100.000. di tahun pertamanya, jumlah itu berarti duapuluh kali lipat dibanding penghasilannya sebagai guru sepuluh tahun lalu. Pada tahun 1976 Carol Farmer membangun sebuah perusahaan bernama Doody Company dan dalam tiga tahun ia menghasilkan $15 Juta. Jumlah karyawannya meningkat pesat dari enam orang menjadi dua ratus orang. Banyak orang mengakui dan mengagumi keberhasilan Farmer, dan ia diminta untuk membagikan pengalamannya dengan para pendidik di Harvard University.

Kebanyakan orang takut untuk mengubah arahnya ketika mereka melihat sesuatu yang aneh dan bahkan ketika mereka menyadari bahwa mereka sebetulnya salah jurusan, salah memilih bidang pekerjaan, tidak sedikit yang bertahan dan mengalami kebuntuan atau kegagalan. Terlalu sering orang melihat masalah sebagai rintangan dan mengadu nasib tanpa berani memutar haluan ketika mereka tahu mereka tidak cocok di satu bidang. Namun Carol Farmer telah menunjukkan bagaimana caranya mengubah arah secepat ia menyadari kemampuan maksimalnya dan impian dalam hidupnya. Farmer berani mengambil resiko dengan berganti profesi, namun bukan tanpa perhitungan, justru dibutuhkan perhitungan matang, keberanian dan tekad bulat untuk mengubah kekecewaan menjadi keberuntungan.
Jika Anda sekarang menyadari bahwa Anda berada di jalur yang salah dan Anda menyadari dan memiliki suatu impian yang jauh lebih menyenangkan dan lebih menguntungkan di seberang sana. Buatlah perhitungan yang matang, bersiaplah secepat mungkin merubah arah dan mengejar impian Anda. Belajarlah dari orang-orang yang telah berhasil di bidang Anda.
Minibalanar - 25/04/2012 03:00 PM
#200

Marian Anderson lahir tanggal 27 Februari 1897 merupakan salah seorang penyanyi yang paling terkenal di abad keduapuluh. Toscanini berkata bahwa suara Anderson memerintah di gedung opera di Amerika dan Eropa. Kritikus musik Alan Blyth berkata “Suaranya adalah kontralto, kaya bersemangat keindahan intrinsik.” Sebagian besar karier bernyanyi dihabiskan tampil di konser dan resital di tempat musik utama dan dengan orkestra besar di seluruh Amerika Serikat dan Eropa antara 1925 dan 1965. Dia mempunya range suara yang sangat luar biasa, dari soprano hingga kontralto yang sangat rendah. Sebagai seorang Afrika-Amerika, Anderson menjadi tokoh penting dalam perjuangan untuk seniman hitam untuk mengatasi masalah rasial di Amerika Serikat pada pertengahan abad kedua puluh.

Marian Anderson memulai karirnya dengan menggosok lantai dengan bayaran sepuluh sen per jam, dengan tekun ia menabung uangnya hingga ia sanggup membeli sebuah biola di toko penggadaian. Gerejanya mengenali bakatnya dan membayar guru vocal profesional untuk membimbingnya. Waktu gurunya mengatakan dia sudah siap, Anderson pergi ke New York, dan di sana para kritikus menyerang habis dengan kritikan-kritikan pedas. Marian pulang untuk mengumpulkan kekuatan kembali dengan di dukung oleh ibunya dan gerejanya.



Waktu itu karena masalah RAS di Amerika masih sangat kuat, ia ditolak dan penolakan terhadap Anderson menjadi sorotan masyarakat internasional pada tingkat yang biasanya hanya ditemukan oleh selebriti profil tinggi dan politisi.

Maka ia pergi ke Eropa dan menggebrak benua Eropa dengan suara bulat dan kuat, indah dan memukau. Kembali ke Amerika dengan bantuan dari Presiden Franklin D. Roosevelt dan First Lady Eleanor Roosevelt, Anderson melakukan konser terbuka pada Paskah Minggu, 9 April 1939, di Lincoln Memorial Washington, DC, dikerumunan lebih dari 75.000 orang dan penonton.



Dia terus untuk memecahkan hambatan bagi seniman hitam di Amerika Serikat, menjadi orang kulit hitam pertama, Amerika atau sebaliknya, untuk tampil di Metropolitan Opera di New York City pada tanggal 7 Januari 1955.

Penampilannya sebagai Ulrica dalam Un Ballo Giuseppe Verdi di maschera di Met adalah satu-satunya waktu dia menyanyikan peran opera di panggung. Ketika Martin Luther King Jr, berpidato tentang kebebasan “I Have a dream,” orang-orang berkata bahwa suara Marian lebih memukau dari pidato King.

Suatu hari seorang wartawan bertanta kepada Marian ketika ia berada di puncak karirnya, “Apa momen terbaik dalam hidupmu, setelah mencapai puncak karir seperti ini?.” Tanpa ragu Marian menjawab bahwa saat paling berkesan dalam hidupnya adalah ketika ia pulang suatu saat dan memberitahukan kepada ibunya tidak perlu mencucikan baju lagi untuk orang lain. Ada banyak momen-momen berharga dengan banyak penghargaan-penghargaan, namun momen bersama ibunya adalah yang terbaik. “Apa yang telah diberikan oleh ibu Anda?”, kata wartawan itu. “Semua yang dia punya,” sahut Marian.

Itulah kesuksesan, memberikan semua yang kita bisa berikan untuk mensukseskan hidup seseorang.” Kehidupan yang miskin dan sulit tidak mematahkan semangat Marian mencapai aktualisasi diri dan potensi maksimal. Biar bagaimana pun untuk mencapai sukses membutuhkan dukungan dari banyak pihak, terlebih lagi kegigihan dari pribadi yang mau berjuang dan menghargai dukungan orang lain. Salam Sukses!
Page 10 of 155 | ‹ First  < 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Spiritual > Kisah Perjalanan Spiritual Para Guru