Spiritual
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Spiritual > Kisah Perjalanan Spiritual Para Guru
Total Views: 14588 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 11 of 155 | ‹ First  < 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 >  Last ›

Minibalanar - 25/04/2012 03:10 PM
#201

Kebanyakan orangtua dengan kemampuan khusus selalu berusaha untuk menurunkan ilmu dan keahlian khususnya kepada anak-anaknya, sehingga ilmu dan pengetahuan itu tidak hilang begitu saja dengan sia-sia. Bukan hanya menghindari hilangnya suatu ilmu dan ketrampilan tapi lebih penting lagi yaitu makna dan manfaat dari pengetahuan dan produk dari ketrampilan itu sering sangat berguna bagi banyak orang.

Bertahun-tahun lampau ada seorang ayah sedang mengajarkan kepada anaknya yang baru berumur Sembilan tahun untuk membuat sepatu sebagai persiapan agar anak itu pun memiliki ketrampilan membuat sepatu dan sebagai penghasilannya kelak. Namun suatu hari pisau yang dipakai untuk memotong bagian-bagian dari sepatu tersebut jatuh dari meja dan terpental mengarah kepada wajah si anak dan ternyata melukai mata anaknya. Betapa sedih hati mereka sekeluarga mengalami tragedi seperti itu dan pada saat itu belum ada teknologi pengobatan mata secanggih sekarang, tragedi itu berlanjut malah dalam proses pengobatan kedua mata anak itu sekaligus harus mengalami kebutaan permanen. Hal-hal yang tak terduga seperti itu seringkali menjadi sebuah tragedi yang memilukan untuk sementara waktu bahkan bisa berdampak seumur hidup, sebagian orang mungkin tidak sanggup menerima dan hancur dalam penyesalan.

Namun ayah anak tersebut memasukkan anaknya ke sekolah khusus untuk orang buta dan disana anak itu belajar embaca dengan menggunakan balok-balok kayu yang diukir dalam bentuk-bentuk huruf latin. Balok itu besar, berat dan sulit untuk dipegang sehingga memerlukan waktu dan tenaga untuk terbiasa menggunakan alat-alat tersebut untuk membaca. Anak itu terbiasa bekerja dengan ayahnya yang terampil membuat sepatu dan anak itu mungkin sudah memiliki suatu ide kreatif untuk membuat sesuatu dengan peralatan-peralatan ayahnya. Ia berpikir bahwa pasti ada cara lain yang jauh lebih mudah agar orang buta dapat membaca degan lancar dan efektif.

Selama bertahun-tahun ia mencoba mencari ide dan ingin mengembangkan cara membaca bagi orang buta dengan membuat titik-titik pada lembaran kertas. Dalam membuat titik-titik lubang pada kertas itu ia menggunakan pisau yang ada di ruang kerja ayahnya dan pisau itu juga yang sebetulnya melukai matanya. Akhirnya anak itu pun berhasil menghasilkan sebuah alat bantu membaca yang sangat ringan dan sangat mudah digunakan oleh setiap orang buta untuk belajar membaca dan sekaligus untuk membuat tulisan-tulisan khusus untuk orang-orang buta. Nama anak tersebut adalah Louis Braille.

Benar sekali kata orang bijak: “Bukan apa yang terjadi pada Anda yang membuat perbedaan penting, namun bagaimana Anda bersikap dan menangani apa yang terjadi pada Anda yang membuat perbedaan. Banyak orang yang mengalami tragedi yang mungkin tidak mengakibatkan cacat fisik permanen, sebagian orang hanya mengalami kerugian financial namun berakhir dengan rasa frustasi dan bahkan kelumpuhan mental.

Apa yang terjadi jika Louis Braille tidak mengalami tragedi? Apakah teknik membaca Braille akan tercipta di dunia ini? Mungkin saja akan ada orang lain yang menciptakan sesuatu, tetapi belum tentu secanggih dan sebagus milik Louis Braile. Karya Braile telah menjadi berkat luar biasa bagi banyak orang orang buta di dunia ini dan karyanya telah dipakai untuk penulisan buku-buku dari berbagai aspek pengetahuan yang ada di dunia ini.

Louis Braille menjadi contoh indah bagaimana mengubah tragedi hidup menjadi kemenangan. Di dalam semua penderitaan dan masalah selalu ada peluang untuk menjadi lebih baik dari pada menyerah dan dikalahkan tragedi. Salam Sukses!
Minibalanar - 25/04/2012 03:11 PM
#202

Seorang janda miskin Siu Lan punya anak umur 7 tahun bernama Lie Mei. Kemiskinan membuat Lie Mei harus membantu ibunya berjual kue dipasar, karena miskin Lie Mei tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya.

Pada suatu musim dingin saat selesai bikin kue, Siu Lan melihat keranjang kuenya sudah rusak dan Siu Lan berpesan pada Lie Mei untuk nunggu dirumah karena ia akan membeli keranjang baru.



Saat pulang Siu Lan tidak menemukan Lie Mei dirumah. Siu Lan langsung sangat marah. Putrinya benar-benar tidak tau diri, hidup susah tapi masih juga pergi main-main, padahal tadi sudah dipesan agar menunggu rumah. Akhirnya Siu Lan pergi sendiri menjual kue dan sebagai hukuman pintu rumahnya dikunci dari luar agar Lie Mei tidak dapat masuk. Putrinya mesti diberi pelajaran, pikirnya geram.



Sepulang dari jual kue Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergeletak didepan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa. Jeritan Siu Lan memecah kebekuan salju saat itu. Ia menangis meraung-raung, tetapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera Siu Lan membopong Lie Mei masuk kerumah. Siu Lan mengguncang2 tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei.



Tiba-tiba sebuah bingkisan kecil jatuh dari tangan Lie Mei. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu dan membuka isinya. Isinya sebuah biskuit kecil yg dibungkus kertas usang dan tulisan kecil yang ada dikertas adalah tulisan Lie Mei yang sederhana tapi masih dapat dibaca:



“Mama pasti lupa, hari ini hariistimewa bagi mama, aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah, uangku tidak cukup untuk membeli biskuit yang besar. Mama selamat ulang tahun.“ (Kisah Nyata ini dimuat di harian Xia Wen Pao-Cina, thn 2007).



Refleksi:



Berpikir negatif dan cepat bereaksi tentang orang lain dapat berakibat fatal. Khusus ketika kita berhadapan dengan anak-anak, terkadang memerlukan kepekaan yang tinggi, mereka memerlukan perhatian dan cinta kasih dan kesabaran. Anak-anak tentu tidak sepintar orang dewasa jika ingin berbuat kejahatan, namun anak-anak ternyata mampu mengekspresikan kasih yang tulus dan luar biasa kepada orang dewasa.
Minibalanar - 25/04/2012 03:11 PM
#203

Neal Jeffrey adalah salah satu komunikator terbaik Amerika. Neal terkenal sebagai pemain quarterback yang sangat handal dalam permainan football Amerika dan memimpin tim Football Baylor Bears masuk ke babak final Southwest Conference tahun 1974. Sekarang ini Neal menjadi pembicara terkenal bagi kaum muda hingga pebisnis papan atas. Ia adalah salah seorang pembicara yang paling humoris, tulus dan sangat lugas dan terampil dalam berbicara. Namun yang menarik di balik semuanya ini adalah bahwa Neal sesungguhnya adalah seorang yang gagap, sering terbata-bata dalam mengucapkan kalimat, namun Neal tidak menjadikannya sebagai penghambat malah menjadikannya sebagai aset dalam berkomunikasi.

Neal adalah salah satu contoh pribadi dan pembicara hebat yang seharusnya tidak akan diperhitungkan orang jika sang pembicara adalah seorang yang gagap. Neal Jeffrey sanggup mengubah sesuatu yang dianggap negatif oleh kebanyakan orang menjadi sesuatu yang positif. Setiap kali Neal berbicara beberapa menit maka ia akan memberitahu audience kalau-kalau mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya ia gagap. Dengan senyum lebar ia berkata: “Kadang saya berhenti sebentar, tapi jangan kuatir, sebentar lagi pasti ada yang keluar.” Pendengar pun akan meresponi dengan antusias.

Neal adalah salah satu pribadi yang sanggup mengubah masalah menjadi aset, ia tidak mau menyerahkan hidupnya pada masalah keterbatasannya. Adanya masalah dalam dirinya memaksa Neal menjadi lebih kreatif, lebih banyak belajar dan banyak membaca, meneliti, menekuni minatnya dan hasilnya Dia menjadi orang yang mengalami kebaikan dan bukan kepahitan. Dia menjadi lebih baik bukan dari kegagapannya, tetapi menjadi lebih baik karena gagapnya. Neal berhasil mencapai tujuan hidup dan aktualisasi dirinya.

Setiap orang dengan keterbatasan apa pun dapat menggunakan potensi maksimalnya. Keterbatasan dan kekurangan secara fisik tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah atau tidak berusaha mengembangkan diri secara maksimal. Untuk itu kenali kelemahan, kekurangan dan keterbatasan Anda, pelajari minat dan kemampuan maksimal Anda, asah, latih, kembangkan dan bersiaplah menuju puncak kehidupan Anda.

“Ketika masalah menghalangi Anda, Ingatlah! Satu-satunya jalan menuju puncak gunung adalah melalui lembah.” (Zig Ziglar).
Minibalanar - 25/04/2012 03:12 PM
#204

“Boleh saya melihat bayi saya?” pinta seorang ibu yang baru saja melahirkan anaknya dengan perasaan penuh kebahagiaan. Ketika bayi kecil itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang kelihatan cukup tampan, namun ibu itu kemudian menahan nafasnyanya sejenak. Dokter yang menungguinya pun segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Ternyata bayi itu dilahirkan mengalami cacat pada kedua buah telinga, boleh dibilang anak itu hampir tidak memiliki daun telinga. Waktu membuktikan bahwa pendengaran anak itu ternyata sempurna, dan kini telah tumbuh menjadi seorang anak yang baik, hanya penampilannya saja yang tampak aneh karena cacat pada telinganya.



Suatu hari ketika anak lelaki itu bergegas pulang dari sekolah menuju rumah dan langsung menghampiri ibunya, sambil menangis ia membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang juga akhirnya menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan ketidaknyamanan, kebingunan dan keanehan. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, “Seorang anak laki-laki yang lebih besar mengejekku, katanya, aku ini makhluk aneh.” Demikianlah sering terjadi keanehan sikap dan cara orang memandang kekurangan dari anak lelaki ini.

Anak lelaki itu pun tumbuh dewasa, sesungguhnya ia cukup tampan dari semua sisi wajahnya kecuali cacat pada telinganya. Ternyata setelah ia cukup besar, ia telah sanggup menerima cara pandang orang lain dan Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga ternyata memiliki bakat yang khusus dan mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia juga ingin sekali menjadi ketua kelas. Namun, Ibunya mengingatkan, jangan terlalu tampil menonjol sambil dalam hati ibu merasa kasihan dengan anaknya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga pada pasien-pasiennya dan menawarkan kemungkinan itu untuk anaknya. “Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya, namuan harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,” kata dokter tersebut. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka. Beberapa waktu sudah berlalu, tibalah saatnya sang ayah memanggil anaknya dan berkata “Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia,” kata sang ayah. Sang anak pun dengan gembira menerima persyaratan itu.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru yang sangat tampan pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan karena perubahan yang membuatnya semakin mantap. Ia pun menerima beberapa penghargaan dari sekolahnya.Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan menjadi seorang yang sukses bekerja dalam posisi yang sangat penting sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, dan sedikit memaksa sambil berkata “Ayah! aku ingin mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar padaku, namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.” Ayahnya menjawab, “Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.”Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, “Sesuai dengan perjanjian, sebelum saatnya, kamu tidak boleh mengetahui semua rahasia ini.”

Tahun berganti tahun rahasia itu tetap tersimpan dalam kehidupan sang diplomat. Hingga suatu hari terjadilan saat yang menyedihkan bagi keluarga itu karena sang ibu meninggal dunia. Di hari itu sang ayah dan anak lelakinya itu berdiri di tepi peti jenazah sang ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibakkan rambutnya yang terurai panjang sehingga tampaklah bahwa sang ibu ternyata tidak memiliki dauun telinga sama sekali. Melihat itu tahulah sang anak bahwa orang yang mendonorkan telinga kepadanya ternyata adalah ibunya sendiri, perasaan sedih dan kagum bercampur dalam batinnya. Ayahnya kemudia berkata “Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya, dan tak seorang pun tahu bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya untuk membahagiakan anak yang sangat dikasihinya.” Mendengar itu semua tak habis-habisnya anak itu menangis sambil memeluk ibunya dan sambil berterima kasih atas semua yang telah terjadi. (Sumber: unknown).



Refleksi:

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun didalam hati, harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui. Cinta kasih seorang ibu kepada anaknya seringkali tidak diungkapkan lewat kata-kata, tetapi dengan perbuatan dan pengorbanan yang tulus. Seorang ibu yang ingin membahagiakan anaknya rela mengurangi sesuatu dalam hidupnya demi menambahkan kebahagiaan anak-anaknya.



“A mother is the truest friend we have, when trials heavy and sudden, fall upon us; when adversity takes the place of prosperity; when friends who rejoice with us in our sunshine desert us; when trouble thickens around us, still will she cling to us, and endeavor by her kind precepts and counsels to dissipate the clouds of darkness, and cause peace to return to our hearts.” ~Washington Irving
Minibalanar - 25/04/2012 03:13 PM
#205

Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya sedang membutuhkan pertolongan. Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan mobil Benz wanita itu dan keluar menghampirinya. Mobil Pontiac-nya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya.

Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorang pun berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan tak baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan.

Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri di Sana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu. Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan. Kata pria itu, “Saya di sini untuk menolong anda, Nyonya. Masuk ke dalam mobil saja supaya anda merasa hangat! Ngomong-ngomong, nama saya Bryan Anderson.”

Wah, sebenarnya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita lanjut seperti dia, kejadian itu cukup buruk. Bryan merangkak ke bawah bagian sedan, mencari tempat untuk memasang dongkrak. Selama mendongkrak itu beberapa kali jari-jarinya membentur tanah. Segera ia dapat mengganti ban itu. Namun akibatnya ia jadi kotor dan tangannya terluka.

Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban, wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan mencoba ngobrol dengan pria itu. Ia mengatakan kepada pria itu bahwa ia berasal dari St. Louis dan hanya sedang lewat di jalan ini. Ia sangat berutang budi atas pertolongan pria itu.

Bryan hanya tersenyum ketika ia menutup bagasi mobil wanita itu. Sang nyonya menanyakan berapa yang harus ia bayar sebagai ungkapan terima kasihnya. Berapa pun jumlahnya tidak menjadi masalah bagi wanita kaya itu. Ia sudah membayangkan semua hal mengerikan yang mungkin terjadi seandainya pria itu tak menolongnya.

Bryan tak pernah berpikir untuk mendapat bayaran. Ia menolong orang lain tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan, dan Tuhan mengetahui bahwa banyak orang telah menolong dirinya pada waktu yang lalu. Ia biasa menjalani kehidupan seperti itu, dan idak pernah ia berbuat hal sebaliknya.

Pria itu mengatakan kepada sang nyonya bahwa seandainya ia ingin membalas kebaikannya, pada waktu berikutnya wanita itu melihat seseorang yang memerlukan bantuan, ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada orang itu, dan Bryan menambahkan, “Dan ingatlah kepada saya.”

Bryan menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu. Hari itu dingin dan membuat orang depresi, namun pria itu merasa nyaman ketika ia pulang ke rumah, menembus kegelapan senja.

Beberapa kilometer dari tempat itu sang nyonya melihat sebuah kafe kecil. Ia turun dari mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil, dan menghangatkan badan sebelum pulang ke rumah. Restoran itu nampak agak kotor. Di luar kafe itu ada dua pompa bensin yang sudah tua. Pemandangan di sekitar tempat itu sangat asing baginya.

Sang pelayan mendatangi wanita itu dan membawakan handuk bersih untuk mengeringkan rambut wanita itu yang basah. Pelayan itu tersenyum manis meski pun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya berdiri sepanjang hari. Sang nyonya melihat bahwa pelayan wanita itu sedang hamil hampir delapan bulan, namun pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya memengaruhi sikap pelayanannya kepada para pelanggan restoran. Wanita lanjut itu heran bagaimana pelayan yang tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu pelayanan yang baik kepada orang asing seperti dirinya. Dan wanita lanjut itu ingat kepada Bryan.

Setelah wanita itu menyelesaikan makanannya, ia membayar dengan uang kertas $100. Pelayan wanita itu dengan cepat pergi untuk memberi uang kembalian kepada wanita itu. Ketika kembali ke mejanya, sayang sekali wanita itu sudah pergi. Pelayan itu bingung kemana perginya wanita itu. Kemudian ia melihat sesuatu tertulis pada lap di meja itu.

Ada butiran air mata ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis wanita itu: “Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya. Saya juga pernah ditolong orang. Seseorang yang telah menolong saya, berbuat hal yang sama seperti yang saya lakukan. Jika engkau ingin membalas kebaikan saya, inilah yang harus engkau lakukan: ‘Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti padamu.’ Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $ 100 lagi.

Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan kelahiran bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup.

Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik lembut dan pelan, “Segalanya akan beres. Aku mengasihimu, Bryan Anderson!”

“Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Lukas 6:38. Motivasi untuk memberi bukanlah supaya kita menerima lagi, motivasi memberi adalah karena kita sudah menerima terlebih dahulu. Ketika memberi jangan pernah berharap untuk menerima lagi, ketika kita menerima sesuatu dari seseorang itu juga adalah pemberian Allah
Minibalanar - 25/04/2012 03:14 PM
#206

Pada suatu musim yang sangat kering, saat itu hampir semua binatang mengalami kesulitan untuk mendapatkan air untuk diminum. Demikianlah juga dialami oleh burung-burung, sekali pun mereka dapat terbang ternyata sangat sulit mendapatkan sedikit air untuk diminum.

Ada seekor burung gagak yang menemukan sebuah kendi yang berisi sedikit air di dalamnya. Tetapi ternyata kendi tersebut merupakan sebuah kendi yang bentuknya agak tinggi dan dengan leher kendi sempit. Bagaimana pun juga burung gagak tersebut berusaha untuk mencoba meminum air yang berada dalam kendi, namun dia tetap tidak dapat mencapainya. Burung gagak tersebut hampir merasa putus asa dan merasa akan meninggal karena kehausan.

Tahukah Anda bahwa burung gagak memiliki kecerdikan tersendiri di banding burung lain pada umumnya? Maka kemudian muncul sebuah ide dalam benak burung gagak tersebut. Burung itu dengan tekun mulai mengambil batu-batu kerikil kecil yang ada di samping kendi, kemudian menjatuhkannya ke dalam kendi satu persatu. Setiap kali burung gagak itu memasukkan kerikil ke dalam kendi, permukaan air dalam kendi pun berangsur-angsur naik dan bertambah tinggi hingga akhirnya air tersebut dapat di capai oleh sang burung Gagak, dan ia pun selamat dari kehausan. (Aesop)



Refleksi:

Walaupun dengan pengetahuan sedikit namun jika dipergunakan dengan maksimal, pengetahuan tersebut dapat menolong diri kita pada saat yang tepat. Bukankah banyak keberhasilan besar terjadi karena ide-ide yang awalnya sangat sederhana namun jika dikembangkan akan memberi dampak yang besar.
Bukan dimana Anda mulai yang penting, tetapi jika Anda sudah memulai, itu yang penting. Joe Sabath mengatakan “Anda tidak perlu menjadi hebat untuk memulai, tetapi Anda harus mulai untuk menjadi hebat.”
Minibalanar - 25/04/2012 03:19 PM
#207

Waktu Fidel Castro dan rezimnya mulai menguasai Cuba, sistem ekonomi sosialis yang menggantikan sistem perdagangan bebas, banyak pengusaha yang mengalami kebangkrutan. Carlos Arboleya, adalah salah seorang akuntan di salah satu Bank terbesar waktu itu di Cuba, dan Carlos menjadi salah satu korban dari perubahan ini.

Pada tahun 1960 setelah Castro berkuasa, Carlos mendatangi tempat kerjanya, namun telah dikuasai oleh komunis dan mereka telah menguasai seluruh Bank swasta. Tiga minggu kemudian Castro berhasil membawa keluarganya keluar dari Cuba dan membawa keluarganya ke Amerika.

Masalahnya ketika ia tiba di Amerika adalah bahwa ia hanya memiliki $42 dan ia tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki tempat tinggal, dan tidak kenal siapa pun di sana. Dia kemudian melamar di semua Bank di Miami, namun semuanya menolak, dan akhirnya ia bekerja di pabrik sepatu menangani inventaris.

Carlos bekerja keras dengan antusias dan dengan energi yang luar biasa dan tidak jarang ia harus bekerja lembur. Hasilnya begitu luar biasa, dalam enam belas bulan ia telah menjadi manajer pabrik sepatu tersebut. Tidak lama kemudian Carlos ditawari pekerjaan di Bank di mana pabrik sepatu itu menjalin kerja sama. dari bank tersebut kemudian Carlos menjadi presiden jaringan bank terbesar di Amerika.

Carlos Arboleya melakukan apa yang harus ia lakukan dalam hidupnya untuk menafkahi keluarganya dengan melakukan pekerjaan yang mampu ia kerjakan dengan seluruh energinya, sampai kemudian ia mendapatkan pekerjaan yang ia impikan.

Carlos membuktikan bahwa bukan dimana Anda mulai yang penting, tetapi jika Anda sudah memulai, itu yang penting. Joe Sabath mengatakan “Anda tidak perlu menjadi hebat untuk memulai, tetapi Anda harus mulai untuk menjadi hebat.” Kisah Carlos adalah suatu gambaran kecil dari kisah kesuksesan di Amerika atau di mana pun.

Refleksi:

Ini adalah kisah tentang seorang yang memiliki kemauan yang besar untuk memperjuangkan hidupnya dan keluarganya. Tidak takut menghadapi situasi yang berbeda dan ketika belum sampai pada pekerjaan impiannya, namun ia mengerjakannya dengan energi penuh dan kesuksesan mengejarnya karena ia menujukkan kualitas yang dapat diandalkan. Ini juga dalah bukti yang mengatakan bahwa 80 persen jutawan Amerika adalah orang Amerika generasi pertama yang berjuang dengan semangat tinggi. Pikirkan, lakukan dan mulailah sesuatu dan kerjakanlah dengan sekuat tenaga, dan kesuksesan Anda akan meningkat drastis bahkan mengejar Anda.
Minibalanar - 25/04/2012 03:20 PM
#208

Aku adalah seorang perawat yang khusus merawat penderita stroke. Ada dua
karakter khas yang aku temui dari penderita stroke, mereka sangat ingin hidup –
atau justru ingin segera mati. Salah satu pasien yang cukup berarti bagiku ialah
Albert.

Saat berkeliling melakukan pemeriksaan di rumah sakit, aku melihat Albert, dalam
posisi meringkuk dalam posisi seperti janin dalam kandungan. Ia seorang pria
setengah baya. Tubuhnya ditutupi selimut – dan kepalanya hampir tidak kelihatan
di balik selimutnya. Ia tidak bereaksi saat aku memperkenalkan diri.

Di ruang jaga perawat aku mendapatkan informasi bahwa umur Albert tidak panjang
lagi. Ia hidup sendirian, istrinya telah meninggal, dan anak-anaknya entah
berada dimana. Mungkin aku dapat menolongnya. Meskipun aku seorang janda,
tubuhku bagus dan wajahku masih cantik. Aku jarang bergaul dengan pria di luar
rumah sakit. Anggap saja terapi ini adalah sebuah petualangan bagiku.

Keesokan harinya, aku mengenakan pakaian putih – tetapi bukan seragam perawat
seperti biasanya. Aku masuk ke kamar Albert. Albert langsung membentak,
menyuruhku keluar. Tetapi aku justru duduk di kursi di dekat tempat tidurnya.
Aku berusaha memberinya senyuman sesempurna mungkin.

“Tinggalkan aku ! Aku ingin mati !” seru Albert.

“Apa tidak salah ? di luar banyak wanita cantik menunggumu.” sahutku.

Ia tampak tersinggung. Tetapi aku terus berbicara panjang lebar tentang betapa
senangnya aku bekerja di rumah sakit khusus rehabilitasi stroke ini. Aku
menceritakan betapa bangganya aku saat dapat mendorong seseorang untuk mencapai
potensi maksimum mereka. Aku juga mengatakan, bahwa ini adalah tempat yang penuh
kemungkinan. Ia tidak menyahut sepatah kata pun.

Dua hari kemudian aku mendapatkan kabar dari teman perawat bahwa Albert
menanyakan kapan aku bertugas di kamarnya lagi. Kawan-kawan mulai mengedarkan
gosip bahwa ia adalah ‘pacar’-ku. Aku tidak membantah gosip itu, bahkan aku
selalu berseru kepada orang lain untuk jangan mengganggu ‘Albert’-ku saat keluar
dari kamar Albert. Hal ini memang sengaja kulakukan agar Albert mendengarnya.

Satu minggu kemudian Albert mau belajar duduk dan melatih keseimbangan. Ia juga
bersedia mengikuti latihan fisioterapi asalkan aku mau datang lagi untuk
mengobrol. Dua bulan kemudian, Albert sudah mampu menggunakan sepasang alat
bantu berjalan. Dan pada bulan ke-3, ia sudah meningkat ke penggunaan sebatang
tongkat penyangga.

Pada hari ketika Albert diijinkan pulang, kami merayakannya dengan sebuah pesta.
Aku mengajaknya berdansa. Ia memang bukan pria yang romantis, tapi ia mampu
untuk berdansa dengan baik. Aku tak dapat menahan air mataku saat berpisah
dengannya.

Beberapa waktu setelah perpisahan itu, secara berkala aku selalu mendapatkan
kiriman bunga dari Albert. Dan kadangkala disertai dengan sekantung kacang. Ia
mulai berkebun lagi seperti dulu.

Beberapa tahun kemudian, pada suatu siang, seorang wanita cantik datang ke rumah
sakit. Ia meminta untuk bertemu dengan “si penggoda”. Waktu itu aku sedang
memandikan seorang pasien.

“Oh, jadi itu Anda ?” Wanita itu bertanya. Ia mengatakan bahwa Albert adalah
seorang pria sejati. Ia juga menceritakan bagaimana Albert telah menjadi seorang
motivator yang sangat terkenal di kota tempat tinggalnya. Senyum wanita itu
mengembang ketika ia memberiku sebuah undangan untuk datang ke pesta pernikahan
mereka.

(Magi Hart)
Minibalanar - 25/04/2012 03:21 PM
#209

Bayarlah Di Depan

Saat terlintas keraguan apakah mungkin perbuatan baik yang kecil dan sederhana yang kita lakukan kepada orang lain akan mampu mempengaruhi kehidupan mereka, mungkin Film “PAY IT FORWARD” bisa menjadi pendorong yang memberikan kita semangat untuk selalu tidak jemu-jemu berbuat baik kepada orang lain.

Kisahnya bercerita tentang seorang anak umur delapan tahun bernama Trevor yang berpikir jika dia melakukan kebaikan kepada tiga orang disekitarnya, lalu jika ke tiga orang tersebut meneruskan kebaikan yang mereka terima itu dengan melakukan kepada tiga orang lainnya dan begitu seterusnya, maka dia yakin bahwa suatu saat nanti dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang saling mengasihi. Dia menamakan ide tersebut: “PAY IT FORWARD”

Singkat cerita, Trevor memutuskan bahwa tiga orang yang akan menjadi bahan eksperimen adalah mamanya sendiri (yang menjadi single parent), seorang pemuda gembel yang selalu dilihatnya dipinggir jalan dan seorang teman sekelas yang selalu diganggu oleh sekelompok anak-anak nakal.

Percobaanpun dimulai : Trevor melihat bahwa mamanya yang sangat kesepian, tidak punya teman untuk berbagi rasa, telah menjadi pecandu minuman
keras. Trevor berusaha menghentikan kecanduan mamanya dengan cara rajin mengosongkan isi botol minuman keras yang ada dirumah mereka, dia juga mengatur rencana supaya mamanya bisa berkencan dengan guru sekolah Trevor.
Sang mama yang melihat perhatian si anak yang begitu besar menjadi terharu, saat sang mama mengucapkan terima kasih, Trevor berpesan kepada mamanya “PAY IT FORWARD, MOM”

Sang mama yang terkesan dengan yang dilakukan Trevor, terdorong untuk meneruskan kebaikan yang telah diterimanya itu dengan pergi ke rumah ibunya (nenek si Trevor), hubungan mereka telah rusak selama bertahun-tahun dan mereka tidak pernah bertegur sapa, kehadiran sang putri untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan diantara mereka membuat nenek Trevor begitu terharu, saat nenek Trevor mengucapkan terima kasih, si anak berpesan :”PAY IT FORWARD, MOM”

Sang nenek yang begitu bahagia karena putrinya mau memaafkan dan menerima dirinya kembali, meneruskan kebaikan tersebut dengan menolong seorang pemuda yang sedang ketakutan karena dikejar segerombolan orang untuk bersembunyi di mobil si nenek, ketika para pengejarnya sudah pergi, si pemuda mengucapkan terima kasih, si nenek berpesan : “PAY IT FORWARD, SON”.

Si pemuda yang terkesan dengan kebaikan si nenek, terdorong meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan nomor antriannya di rumah sakit kepada seorang gadis kecil yang sakit parah untuk lebih dulu mendapatkan perawatan, ayah si gadis kecil begitu berterima kasih kepada si pemuda ini, si pemuda berpesan kepada ayah si gadis kecil : “PAY IT FORWARD, SIR”

Ayah si gadis kecil yang terkesan dengan kebaikan si pemuda, terdorong meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan mobilnya kepada seorang wartawan TV yang mobilnya terkena kecelakaan pada saat sedang meliput suatu acara, saat si wartawan berterima kasih, ayah si gadis berpesan:”PAY IT FORWARD”

Sang wartawan yang begitu terkesan terhadap kebaikan ayah si gadis, bertekad untuk mencari tau dari mana asal muasalnya istilah “PAY IT FORWARD” tersebut, jiwa kewartawanannya mengajak dia untuk menelusuri mundur untuk mencari informasi mulai dari ayah si gadis, pemuda yang memberi antrian nomor rumah sakit, nenek yang memberikan tempat persembunyian, putri si nenek yang mengampuni, sampai kepada si Trevor yang mempunyai ide tersebut.

Terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Trevor, Si wartawan mengatur agar Trevor bisa tampil di Televisi supaya banyak orang yang tergugah dengan apa yang telah dilakukan oleh anak kecil ini. Saat kesempatan untuk tampil di Televisi terlaksana, Trevor mengajak semua pemirsa yang sedang melihat acara tersebut untuk Bersedia memulai dari diri Mereka Sendiri Untuk Melakukan Kebaikan Kepada Orang-orang di Sekitar Mereka agar dunia ini menjadi dunia yang penuh kasih.

Namun hidup Trevor sangat singkat, dia ditusuk pisau saat akan menolong teman sekolahnya yang selalu diganggu oleh teman-teman sekelas yang berandalan, selesai penguburan Trevor, betapa terkejutnya sang Mama melihat ribuan orang tidak henti-hentinya datang dan berkumpul di halaman rumahnya sambil meletakkan bunga dan menyalakan lilin tanda ikut berduka cita terhadap kematian Trevor. Trevor sendiripun sampai akhir hayatnya tidak pernah menyadari dampak yang diberikan kepada banyak orang hanya dengan melakukan kebaikan penuh kasih kepada orang lain.

Mungkinkah saat kita terkagum-kagum menikmati kebaikan Tuhan di dalam hidup kita, dan kita bertanya-tanya kepada Tuhan bagaimana cara untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepadaNya, jawaban Tuhan hanya sesederhana ini: “PAY IT FORWARD to OTHERS around YOU (Teruskanlah itu kepada orang lain yang ada disekitarmu).”
Minibalanar - 25/04/2012 03:22 PM
#210

Tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar dengan penuh rasa bangga dan prestise. Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu. Tiba-tiba, dia melihat seseorang anak kecil yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak yang tampak melintas sebelumnya.

“Buk….!” Aah…, ternyata, ada sebuah batu seukuran kepalan tangan yang menimpa Jaguar itu yang dilemparkan si anak itu. Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang. “Cittt….” ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, dimundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu di lemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Di tariknya anak yang dia tahu telah melempar batu ke mobilnya, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.

“Apa yang telah kau lakukan!? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!” Lihat goresan itu”, teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu. “Kamu tentu paham, mobil baru jaguarku ini akan butuh banyak ongkos di bengkel untuk memperbaikinya. “Ujarnya lagi dengan kesal dan geram, tampak ingin memukul anak itu. Si anak tampak menggigil ketakutan dan pucat, dan berusaha meminta maaf. “Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa. “Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun. “Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti….” Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi. “Itu disana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Saya tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak seorang pun yang mau menolongku. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan..” Kini, ia mulai terisak. Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu. “Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda?

Tolonglah, kakakku terluka, tapi saya tak sanggup mengangkatnya.” Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam. Amarahnya mulai sedikit reda setelah dia melihat seorang lelaki yang tergeletak yang sedang mengerang kesakitan. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera dia berjalan menuju lelaki tersebut, di angkatnya si cacat itu menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut yang memar dan tergores, seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya. Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja. “Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatan Bapak.”

Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka. Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Dtelusurinya pintu Jaguar barunya yang telah tergores itu oleh lemparan batu tersebut, sambil merenungkan kejadian yang baru saja dilewatinya. Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele, tapi pengalaman tadi menghentakkan perasaannya. Akhirnya ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat: “Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”

Teman, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan. Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat, sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat sekitar? Tuhan, akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat kalbu kita. Kadang, kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap ujaran-Nya. Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas. Teman, kadang memang, ada yang akan “melemparkan batu” buat kita agar kita mau dan bisa berhenti sejenak. Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita untuk hal yang lain yang memberi makna bagi hidup kita.
Minibalanar - 25/04/2012 03:22 PM
#211

Seorang eksekutif muda sedang beristirahat siang di sebuah kafe terbuka. Sambil sibuk mengetik di laptopnya, saat itu seorang gadis kecil yang membawa beberapa tangkai bunga menghampirinya.

”Om beli bunga Om.”

”Tidak Dik, saya tidak butuh,” ujar eksekutif muda itu tetap sibuk dengan laptopnya.

”Satu saja Om, kan bunganya bisa untuk kekasih atau istri Om,” rayu si gadis kecil.

Setengah kesal dengan nada tinggi karena merasa terganggu keasikannya si pemuda berkata, ”Adik kecil tidak melihat Om sedang sibuk? Kapan-kapan ya kalo Om butuh Om akan beli bunga dari kamu.”

Mendengar ucapan si pemuda, gadis kecil itu pun kemudian beralih ke orang-orang yang lalu lalang di sekitar kafe itu. Setelah menyelesaikan istirahat siangnya, si pemuda segera beranjak dari kafe itu. Saat berjalan keluar ia berjumpa lagi dengan si gadis kecil penjual bunga yang kembali mendekatinya.

”Sudah selesai kerja Om, sekarang beli bunga ini dong Om, murah kok satu tangkai saja.” Bercampur antara jengkel dan kasihan si pemuda mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya.

”Ini uang 2000 rupiah buat kamu. Om tidak mau bunganya, anggap saja ini sedekah untuk kamu,” ujar si pemuda sambil mengangsurkan uangnya kepada si gadis kecil. Uang itu diambilnya, tetapi bukan untuk disimpan, melainkan ia berikan kepada pengemis tua yang kebetulan lewat di sekitar sana.

Pemuda itu keheranan dan sedikit tersinggung. ”Kenapa uang tadi tidak kamu ambil, malah kamu berikan kepada pengemis?” Dengan keluguannya si gadis kecil menjawab, ”Maaf Om, saya sudah berjanji dengan ibu saya bahwa saya harus menjual bunga-bunga ini dan bukan mendapatkan uang dari meminta-minta. Ibu saya selalu berpesan walaupun tidak punya uang kita tidak bolah menjadi pengemis.”

Pemuda itu tertegun, betapa ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak kecil bahwa kerja adalah sebuah kehormatan, meski hasil tidak seberapa tetapi keringat yang menetes dari hasil kerja keras adalah sebuah kebanggaan. Si pemuda itu pun akhirnya mengeluarkan dompetnya dan membeli semua bunga-bunga itu, bukan karena kasihan, tapi karena semangat kerja dan keyakinan si anak kecil yang memberinya pelajaran berharga hari itu.

Tidak jarang kita menghargai pekerjaan sebatas pada uang atau upah yang diterima. Kerja akan bernilai lebih jika itu menjadi kebanggaan bagi kita. Sekecil apapun peran dalam sebuah pekerjaan, jika kita kerjakan dengan sungguh-sungguh akan memberi nilai kepada manusia itu sendiri. Dengan begitu, setiap tetes keringat yang mengucur akan menjadi sebuah kehormatan yang pantas kita perjuangan. (Andrie Wongso)
Minibalanar - 25/04/2012 03:24 PM
#212

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University. Mereka meminta janji.
Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

“Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut. “Beliau hari ini sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat. “Kami akan menunggu,” jawab sang Wanita. Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.

“Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,” katanya pada sang Pimpinan Harvard. Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka.

Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut. Sang wanita berkata padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini, bolehkan?” tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. “Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan.”
“Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.” Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung ?! Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.” Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, “Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?” Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.

Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard. Universitas tersebut adalah Standford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS hingga saat ini.

.

Refleksi:

Banyak orang yang bersikap seperti pimpinan Harvard pada itu, terlalu menilai semua orang berdasarkan penampilan dengan kilauan pakaian dan kendaraan mahal serta asesoris lainya. Padahal pakaian kadang sangat tak berkaitan dengan kualitas seseorang, kadang orang menggunakannya sebagai alat manipulasi. Ketika penilaian terhadap hal fisik mengalahkan penilaian terhadap kualitas jiwa seseorang, maka seringkali orang seperti itu akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga yang seharusnya dapat dia miliki atau raih. Marilah kita terus menerus belajar menerima dan menilai orang bukan karena penampilannya tetapi karena memang setiap orang layak untuk dihormati dan dikasihi apa adanya.
Minibalanar - 25/04/2012 03:24 PM
#213

Suatu hari seorang ibu pensiunan guru berjalan menuju kasir di K-Mart, supermarket yang lumayan terkenal di kota itu. Kaki kirinya terasa sakit, ia berharap tidak lupa untuk meminum semua pilnya tadi pagi. Satu pil untuk tekanan darah tinggi, satu pil untuk pusing-pusing, dan satu pil lagi untuk penyakit rematiknya yang kadang kambuh.

“Syukurlah aku telah pensiun beberapa tahun lalu” katanya kepada diri sendiri. “Masihkah aku kuat mengajar anak-anak sekarang ?” Begitu tiba di depan antrian kasir yang penuh, ia melihat seorang lelaki dengan empat orang anak beserta istrinya yang hamil. Mantan guru itu tidak dapat melepaskan pandangannya dari tato di leher orang itu. “Pasti ia pernah dipenjara”, pikirnya.

Ia terus memperhatikan penampilan pria itu. Dari cara pria itu berpakaian, mantan guru itu berkesimpulan bahwa ia adalah seorang anggota geng. Mata pensiunan tua itu tambah terperanjat ketika melihat kalung yang dikenakannya, bertuliskan “Parlson” – pasti ini adalah nama orang itu. Parlson dikenal sebagai kepala geng di daerah itu, tidak ada satupun orang yang berani padanya. Ia dikenal sebagai orang yang tidak ramah.

Sewaktu Parlson datang ke rombongan antrian, spontan orang-orang menyediakan tempat kepada dia untuk antri terlebih dulu. Setelah Parlson hampir tiba di antrian terdepan, matanya tertuju pada mantan guru itu. “Silahkan Anda lebih dulu” mantan guru itu berkata.

“Tidak, Anda yang harus lebih dulu..” balas lelaki itu. “Tidak, anda membawa istri dan banyak anak, anda harus antri lebih dulu” kata mantan guru itu kepada Parlson.

“Kami sangat menghormati orang tua..” tegas lelaki itu. Dan bersamaan dengan itu, dengan gerak tangannya yang sangat sopan, ia menyilahkan wanita tua itu untuk mengambil tempat didepannya.

Seulas senyum tergurat pada bibirnya ketika sang mantan guru lewat di depan lelaki itu. Tetapi sebagai seorang yang berjiwa guru, ia tidak dapat melewatkan kejadian istimewa ini begitu saja. Mantan guru itu lalu berpaling ke belakang.

“Anda sopan sekali.. terima kasih, siapa yang mengajarkan ini kepada Anda ?” Dengan sikap yang sangat hormat, lelaki itu berkata, “Tentu saja Anda, Ibu Simpson, sewaktu saya masih kelas tiga dulu.” Lelaki itu kemudian mengambil sikap menunduk dengan hormat – lalu pergi menuju antrian yang paling belakang.
Minibalanar - 25/04/2012 03:25 PM
#214

Entah sejak kapan mulainya, sudah lama manusia hidup hanya dengan sebuah tema: memburu kemenangan, mencampakkan kekalahan. Di Jepang dan berbagai belahan dunia lainnya, tidak sedikit manusia yang mengakhiri hidupnya semata-mata karena kalah. Karena semua hal yang melekat pada kekalahan serba negatif: jelek, hina.

Sekolah sebagai tempat di mana masa depan disiapkan rupanya ikut-ikutan. Melalui program serba juara, sekolah ikut memperkuat keyakinan bahwa ‘kalah itu musibah’. Tempat kerja juga serupa. Tidak ada tempat kerja yang absen dari kegiatan sikut-sikutan. Semuanya mau pangkatnya naik. Tidak ada yang mau turun. Lebih-lebih dunia politik, kekalahan hanyalah kesialan. Dan bila boleh jujur, aroma seperti inilah yang mewarnai Indonesia di awal April 2009 menjelang pemilu sekaligus pilpres.

Kalah juga indah

Tidak ada yang melarang manusia mengejar kemenangan. Kemenangan ibarat padi bagi petani, seperti ikan buat nelayan. Ia pembangkit energi yang membuat kehidupan berputar. Ia pemberi semangat agar manusia tidak kelelahan. Namun seberapa besar pun energi maupun semangat manusia, bila putaran waktunya kalah, tidak ada yang bisa menolaknya.

Oleh karena itulah, orang bijaksana belajar melatih diri untuk tersenyum baik di depan kemenangan maupun kekalahan. Berjuang, berusaha, bekerja, berdoa tetap dilakukan. Namun bila hadiahnya kekalahan, hanya senyuman yang memulyakan perjalanan.

Membawa tropi sebagai simbol kemenangan itu indah. Dihormati karena menang juga indah. Tapi tersenyum di depan kekalahan, hanya orang yang pandangannya mendalam yang bisa melakukannya. Ibarat gunung, pemenang-pemenang itu serupa dengan batu-batu di puncak gunung. Mereka tidak bisa duduk di puncak gunung bila tidak ada batu-batu di dasar dan lereng gunung (baca: pihak yang kalah).

Sebagian orang bijaksana malah bergumam, kekalahan lebih memuliakan perjalanan dibandingkan kemenangan. Terutama karena di depan kekalahan manusia sedang dilatih, dicoba, dihaluskan. Kekalahan di jalan ini berfungsi seperti amplas yang menghaluskan kayu yang mau jadi patung berharga mahal. Serupa pisau tajam yang sedang melukai bambu yang akan jadi seruling yang mewakili keindahan.

Kesabaran, kerendahatian, ketulusan, keikhlasan, itulah kualitas-kualitas yang sedang dibuka oleh kekalahan. Serangkaian hadiah yang tidak mungkin diberikan oleh kemenangan. Ia yang sudah membuka pintu ini, akan berbisik: kalah juga indah!. Itu sebabnya seorang guru pernah berpesan: “0ld friends pass away, new friends appear. The most important thing is to make it meaningful“. Semua datang dan pergi (kemenangan, kekalahan, keberuntungan, kesialan), yang paling penting adalah bagaimana mengukir makna dari sana.

Jarang terjadi ada manusia yang mengukir makna mendalam ditengah gelimang kemenangan. Terutama karena kemenangan mudah sekali membuat manusia tergelincir ke dalam kemabukan dan lupa diri. Pengukir-pengukir makna yang mengagumkan seperti Kahlil Gibran, Jalalludin Rumi, Rabindranath Tagore, Thich Nhat Hanh semuanya melakukannya di tengah-tengah kesedihan. HH Dalai Lama bahkan menerima hadiah nobel perdamaian sekaligus penghargaan sebagai warga negara kelas satu oleh senat AS, setelah melewati kesedihan dan kekalahan selama puluhan tahun di pengasingan.

Memaknai kekalahan

Mengukir makna memang berbeda dengan mengukir kayu. Dalam setiap konstruksi makna terjadi interaksi dinamis antara realita sebagaimana apa adanya dengan kebiasaan seseorang mengerti (habit of undestanding). Ia yang biasa mengerti dalam perspektif tidak puas, serba kurang, menuntut selalu lebih, akan melihat kehidupan yang tidak menyenangkan di mana-mana. Sebaliknya, ia yang berhasil melatih diri untuk selalu bersyukur, ikhlas, tulus lebih banyak melihat wajah indah kehidupan.

Belajar dari sini, titik berangkat dalam memaknai kekalahan adalah melihat kebiasaan kita dalam mengerti. Dalam bahasa seorang kawan: the blueprint is found within our mind. Membiarkan kemarahan dan ketidakpuasan mendikte pengertian, hanya akan memperpanjang daftar panjang penderitaan yang sudah panjang.

Seorang guru mangambil sebuah gelas yang berisi air, kemudian meminta muridnya memasukkan sesendok garam ke dalamnya dan diaduk. Setelah dicicipi ternyata asin rasanya. Setelah itu, guru ini membawa murid yang sama ke kolam luas lagi-lagi dengan sesendok garam yang dicampurkan ke air di kolam. Kali ini rasa air tidak lagi asin.

Inilah yang terjadi dengan batin manusia. Bila batinnya sempit dan rumit (fanatik, picik, mudah menghakimi) maka kehidupan menjadi mudah asin rasanya (marah, tersinggung, sakit hati). Tatkala batinnya luas tidak terbatas, tidak ada satu pun hal yang bisa membuat kehidupan jadi mudah asin rasanya.

Dengan modal seperti ini, lebih mudah memaknai kekalahan bila manusia sudah berhasil mendidik diri berpandangan luas sekaligus bebas. Berusaha, bekerja, belajar, berdoa itu adalah tugas-tugas kehidupan. Namun seberapa pun kehidupan menghadiahkan hasil dari sini, peluklah hasilnya seperti kolam luas memeluk sesendok garam (baca: tanpa rasa asin).

Apa yang kerap disebut menang-kalah, sukses-gagal dan bahkan hidup-mati, hanyalah wajah-wajah putaran waktu. Persis ketika jam menunjukkan sekitar jam enam pagi, waktunya matahari terbit. Bila jam enam sore putaran waktu matahari tenggelam. Memaksa agar jam enam pagi matahari tenggelam, tidak saja akan menjadi korban canda tetapi juga korban karena kecewa.

Maafkanlah bila terdengar aneh. Pejalan kaki ke dalam diri yang sudah teramat jauh bila ditanya mau kaya atau miskin, ia akan memilih miskin. Bila diminta memilih antara menang dan kalah, ia akan memilih kalah. Kaya tentu saja berkah, namun sedikit ruang-ruang latihan di sana. Miskin memang ditakuti banyak orang, namun kemiskinan menghadirkan daya paksa yang tinggi untuk senantiasa rendah hati. Menang memang membanggakan, namun godaan ego dan kecongkakannya besar sekali. Kalah memang tidak diinginkan nyaris semua orang, tetapi kekalahan adalah ibunya kesabaran.

Seorang guru meditasi yang sudah sampai di sini pernah berbisik, finally l realize there is no difference between mind and sky. Inilah buah meditasi. Batin menjadi seluas langit. Tidak ada satu pun awan (awan hitam kesedihan, awan putih kebahagiaan) yang bisa merubah langit. Dan ini lebih mungkin terjadi dalam manusia yang sudah berhasil memaknai kekalahan.
Minibalanar - 25/04/2012 03:27 PM
#215

Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya.

Pak tua bijak hanya mendengarkan dgn seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya”, ujar pak tua.

“Pahit, pahit sekali”, jawab pemuda itu sambil meludah ke samping. Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yg tenang itu. Sesampai di sana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.

“Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya,”Bagaimana rasanya ?”

“Segar”, sahut si pemuda.

“Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?” tanya pak tua.

“Tidak,” sahut pemuda itu.

Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata:”Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki?

Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya.
Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yg kamu dapat lakukan; lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak tua itu lalu kembali menasehatkan: “Hatimu adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.? Jadi jangan jadikan hatimu menjadi sempit sebesar gelas, buatlah laksana telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian.”
Minibalanar - 25/04/2012 03:27 PM
#216

Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggallah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang. Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.

Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas. Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja di sawah. Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kilogram beras untuk dibawa ke kantin sekolah memenuhi kebutuhan makan siswa selama sebulan di kantin sekolah.

Sang anak mengerti bahwa ibunya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kilogram beras tersebut dan kemudian berkata kepada ibunya, “Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja di sawah”.

Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata, “Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan ke sekolah, nanti berasnya mama yang akan bawa ke sana”.

Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan ke sekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya. Sang anak akhirnya pergi juga ke sekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.

Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa ibunya datang ke kantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya. Pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata, “Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, di sini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran”. Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.

Awal bulan berikutnya ibu anak itu pun memikul sekantong beras dan masuk ke dalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata, “Masih dengan beras yang sama”. Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata, “Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan, kami akan terima, tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya”.

Sang ibu sedikit takut dan berkata, “Ibu pengawas, beras di rumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : “Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam- macam jenis beras”. Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.

Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali ke sekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata, “Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !”.

Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata, “Maafkan saya Bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis”.

Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut kemudian duduk di atas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.

Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata, “Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja di sawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi.” Selama ini dia tidak memberi tahu anaknya tentang apa yang dilakukannya, karena takut melukai harga diri anaknya.

Ia bercerita kepada ibu pengawas bahwa setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat si ibu pergi kekampung lain untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan ia kembali kekampungnya sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul untuk diserahkan ke sekolah.

Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata, “Bu, sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu.”

Sang ibu buru-buru menolak dan berkata, “Jangan bu, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya dan akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini.”

Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam-diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi Qing Hua dengan nilai 627 point.

Di hari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk di atas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi di sana masih terdapat tiga kantong beras. Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.

Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata, “Inilah sang ibu dalam cerita tadi.” Dan ia mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik ke atas mimbar. Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat ke belakang dan melihat gurunya menuntun seorang ibu yang ternyata adalah mamanya yang berjalan menuju mimbar. Sang ibu dan sang anak pun saling bertatapan. Pandangan mamanya sangat hangat dan lembut kepada anaknya, kemudian sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata: “Oh Mamaku!!”

Pepatah mengatakan: “Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang zaman dan sepanjang kenangan.” Inilah kasih seorang mama yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagiaan serta sukses di masa depannya.
Minibalanar - 25/04/2012 03:28 PM
#217

Randy Males adalah seorang salesman di sebuah toko furniture. Di toko itu mereka menyebut calon pembeli dengan sebutan “ups,” untuk meningkatkan kinerja dan pencapaian para salesman dalam melayani calon pembeli saat mereka datang ke toko. Suatu hari salah seorang salesman mengeluh pada Randy, “Aku tidak mau menjual pada orang seperti mereka!” Randy bertanya apa masalahnya, dan rekan salesman itu menjelaskan bahwa ada sepasang calon pembeli pria dan wanita, yang pria tidak bisa melihat atau mendengar, sementara yang wanita bisa melihat namun tidak bisa mendengar dengan baik. Teman Randy mengatakan kalau dia tidak mau membuang-buang waktu untuk menawarkan produk pada pasangan itu dan tidak mau menjadikan mereka “ups”-nya. Randy bertanya apakah dia boleh mengambil alih “Silahkan, kalau kamu mau membuang waktumu!” jawab salesman tersebut.

Randy mendekati pasangan itu dan langsung berhadapan dari depan mereka karena sang wanita itu hanya bisa melihat dan mengenali barang yang ada di depannya. Wanita itu memberi isyarat yang mengatakan bahwa ia tuli. Randy mengambil kertas dan menulis besar-besar, “Segera Kembali.” Kemudian Randy kembali lagi sambil membawa beberapa lembar kertas “berbicara” dengan pasangan itu dengan kertas-kertas itu. Pasangan itu pulang dengan senyum puas dan membeli apa yang mereka mau, mereka tidak segan-segan mengeluarkan uang banyak untuk membeli apa yang mereka mau.

Esok harinya Randy menerima telepon dari kantor sosial yang melayani orang-orang tuli, dan berterima kasih untuk bantuan Randy yang sangat memuaskan. Randy merasa senang, lalu cepat-cepat mengatakan bahwa ia bukan orang suci dia hanya salesman yang ingin membantu dan melakukan sesuatu yang lebih. Sejak saat itu beberapa pasangan itu datang untuk membeli berbagai kebutuhan melalui Randy, karena Randy mau menempuh mil kedua, Randy mau mengubah masalah menjadi kesempatan.

Refleksi:

Pesan moralnya jelas, berbuat baiklah pada orang . Layanilah orang yang membutuhkan pertolongan dan keuntungan akan menjadi milik Anda. Tidak terlalu sulit sebetulnya untuk mengubah masalah menjadi kesempatan, memang kadang-kadang ada kesulitan tertentu tetapi bukan penghalang untuk mencapai kesuksesan. Dibutuhkan sedikit usaha lebih dan sedikit kreatifitas serta kerelaan untuk menolong dapat mengubah hidup dan berdampak pada hasil yang besar di kemudian hari. Hukum tabur tuai selalu berlau, siapa memberi akan diberi, siapa menolong akan ditolong, siapa membantu akan dibantu dan kesuksesan itu adalah hasil dari perbuatan-perbuatan baik. Mari kita selalu berusaha melakukan sesuatu yang lebih, rela melakukan yang terbaik untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan kita.
Minibalanar - 25/04/2012 03:29 PM
#218

Suatu hari seorang Ibu sangat gembira ketika menerima telegram dari anaknya yang telah bertahun-tahun menghilang dalam perang vietnam. Apalagi ia adalah anak satu-satunya. Maklumlah anak tersebut pergi ditugaskan perang ke Vietnam pada 4 tahun yang lampau dan sejak 3 tahun yang terakhir, orang tuanya tidak pernah menerima kabar lagi dari putera tunggalnya tersebut. Sehingga diduga bahwa anaknya telah gugur di medan perang. Dapat dibayangkan betapa bahagianya perasaan Ibu tersebut, dan dalam telegram tersebut tercantum bahwa anaknya akan pulang besok.

Esok harinya keluarga tersebut telah menyiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan putera tunggal kesayangannya, bahkan pada malam harinya akan diadakan pesta khusus untuk dia, dimana seluruh anggota keluarga maupun rekan-rekan bisnis dari suaminya diundang. Karena ternyata sang Ayah dalam keluarga tersebut adalah Direktur Bank Besar yang terkenal.

Siang harinya si Ibu menerima telepon dari anaknya yang sudah berada di airport “Bu bolehkah saya membawa kawan baik saya?” Ibunya menjawab “Oh sudah tentu, rumah kita besar dan kamar pun cukup banyak, ajaklah kemari dan jangan segan-segan!”

Anaknya diujung telepon menjawab: “Terima kasih bu! Tetapi kawan saya ini adalah seorang yang cacat karena korban perang Vietnam.”

Ibunya pun menjawab cepat“Ooohh tidak jadi masalah! Hanya, bolehkah ibu tahu, bagian mana yang cacat?” – dengan nada suaranya yang agak menurun. Anak itu pun menjawab “Ia kehilangan tangan kanan dan kedua kakinya!”

Si Ibu dengan nada agak berat dan terpaksa, berkata hati-hati agar tidak mengecewakan anaknya: “Asal hanya untuk beberapa hari saja, saya kira tidak jadi masalah” lanjut si ibu.

Malah Anak pemuda itu makin menegaskan: “Bu…masih ada satu hal lagi yang harus saya ceritakan kepada Ibu, kawan saya itu wajahnya juga rusak..! Begitu juga kulitnya, sebagian besar hangus terbakar, karena pada saat mau menolong kawannya ia menginjak ranjau, sehingga bukan hanya tangan dan kakinya hancur melainkan seluruh wajah dan tubuhnya turut terbakar!”

Si Ibu dengan nada kecewa dan kesal berkata “Nak, sebaiknya lain kali saja kita mengundang temanmu itu ke rumah kita, dan untuk sementara kita usulkan saja supaya ia tinggal di hotel, kalau perlu biar ibu yang membayar biayanya.”

Namun si Anak menjawab “Bu, temanku ini ia adalah kawan terbaik saya, saya tidak ingin berpisah dari dia!”

Si Ibu kemudian menjelaskan : “Coba renungkan nak, ayah kamu adalah seorang konglomerat yang ternama dan kita sering kedatangan tamu para pejabat tinggi maupun orang-orang penting yang berkunjung ke rumah kita. Apalagi nanti malam kita akan mengadakan perjamuan malam yang akan dihadiri oleh seorang menteri dan rekan-rekan kerjanya, apa kata mereka apabila mereka nanti melihat seorang anak dengan tubuh yang cacat dan wajah yang rusak. Bagaimana pandangan umum dan bagaimana lingkungan bisa menerima kita nanti? Apakah tidak akan menurunkan martabat kita bahkan jangan-jangan nanti bisa merusak citra binis usaha dari ayahmu nanti.”

Tanpa ada jawaban lebih lanjut dari anaknya telepon diputuskan. Pada malam hari itu sudah dipersiapkan acara penyambutan yang khusus. Orang tua anak tersebut maupun para tamu menunggu kepulanganyam namun hingga jauh malam ternyata anak tersebut tidak pulang. Ibunya mengira anaknya marah dan tersinggung, karena tidak mengijinkan temannya datang dan tinggal di rumah mereka.

Pada jam tiga subuh pagi, tiba-tiba mereka mendapat telepon dari rumah sakit, dan meminta mereka agar segera datang ke rumah sakit untuk mengidetifitaskan mayat dari seorang pemuda yang bunuh diri. Terlihat jelan tanda-tanda dari barang-barang pemuda tersebut kalau ia adalah bekas tentara perang di Vietnam. Ia telah kehilangan tangan dan kedua kakinya dan wajahnyapun telah rusak karena kebakar. Tadinya mereka mengira bahwa itu adalah tubuh dari teman anaknya, namun betapa kagetnya mereka ketika mereka mulai mengenali dengan pasti bahwa ternyata tubuh pemuda tersebut adalah anak mereka sendiri! Karena ingin membela nama dan status kehormatan keluarga akhirnya mereka harus kehilangan putera tunggalnya yang selama ini menghilang dan di kira meninggal! (Hot Illustration for Youth Talks).

Refleksi:

Terkadang begitu sulit bagi seseorang untuk menerima orang yang memiliki cacat kecuali mungkin kalau suatu peristiwa tragis atau pengalaman menyakitkan yang sama-sama kita alami. Sang pemuda itu sesungguhnya hanya mengalami cacat fisik yang membutuhkan pernerimaan dan kasih sayang. Namun ke dua orangtua mereka bukan mengalami cacat fisik namun lebih cenderung sakit mental yang tidak sanggup menerima kekurangan orang lain, dan pada saat bersamaan merupakan kekurangan yang berdampak pada kerugian yang tragis. Terkadang apa yang kita bela dalam hidup ini bukanlah sesuatu yang berguna bagi kita atau bagi orang lain. Mari kita belajar memegang prinsip-prinsip yang benar dan jelas yang bermanfaat bagi diri kita dan bagi banyak orang.
roadjersey - 25/04/2012 03:44 PM
#219

busyet si agan Minibalanar cepet banget postnya td ane baca di page 6 skrg da di page 11 blm sempet pindahin ke words pula. mantab gan ayo lg YbYbcendolb
mate81 - 25/04/2012 03:54 PM
#220

asyik da 11 page tambah banyak nih ilmu ane jd nya gan :2thumbup
Page 11 of 155 | ‹ First  < 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Spiritual > Kisah Perjalanan Spiritual Para Guru