Spiritual
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Spiritual > Kisah Perjalanan Spiritual Para Guru
Total Views: 14588 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 2 of 155 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›

Minibalanar - 22/04/2012 09:18 AM
#21

ILLUMINATA 19


BESOK KAN BISA

Hiduplah seorang anak dalam keluarga yang harmonis. Seperti umumnya anak-anak yang lain, dia menganggap kebersamaan dengan keluarganya adalah sesuatu yang wajar saja. Dia terus bermain, mengusili adik-kakaknya, membuat masalah bagi orang lain. Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau minta maaf, dia selalu berpikir, "Tidak apa-apa. Besok kan bisa."

Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat gembira. Semua begitu saja dijalaninya, dia anggap semua sudah sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi dia tidak mengambil inisiatif untuk berbaikan dengan temannya, "Biar saja. Besok kan bisa."

Ketika dia menginjak dewasa, dia masih sering melihat teman lamanya, tapi mereka tidak pernah saling tegur. Itu bukan masalah karena dia masih punya banyak teman lain. Dia dan teman-teman barunya melakukan segala sesuatu bersama-sama, bermain, mengerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya, mereka semua adalah teman-temannya yang paling baik.

Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia begitu sibuk mengejar karier agar dipromosikan dalam waktu sesingkat mungkin. Tentu, dia rindu juga untuk bertemu teman-temannya, namun dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, bahkan lewat telepon. Ini tidak terlalu mengganggunya karena dia punya banyak teman sekerja yang selalu mau diajak keluar. Dia selalu berkata, "Ah, belum sempat. Besok kan bisa."

Waktu berlalu. Dia bertemu seorang cewek yang jelita dan baik hati. Cewek ini kemudian bersedia dipinangnya. Setelah menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dalam membahagiakan keluarganya. Karena kesibukannya, dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk istrinya, ataupun mengingat hari ulang tahun istrinya dan hari pernikahan mereka. Itu tidak jadi masalah karena istrinya penuh pengertian dan tidak pernah menyalahkannya.

Kadang-kadang dia merasa bersalah juga dan ingin mengatakan kepada istrinya, "Aku sayang kamu," tapi dia tidak pernah melakukannya. Pikirnya, "Nggak buru-buru kok. Besok kan bisa."

Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya, tetapi dia tidak tahu ini akan berpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya dan tidak pernah benar-benar melewatkan waktu dengan ayahnya.

Suatu hari, kemalangan datang, istrinya tewas dalam kecelakaan. Ketika kejadian itu terjadi, dia sedang rapat. Dia tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya akan dijemput maut. Sebelum ia sempat berkata, "Aku sayang kamu," istrinya keburu meninggal. Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur diri melalui anak-anaknya sepeninggal sang istri.

Dia baru sadar bahwa anak-anaknya enggan berkomunikasi dengannya. Segera, anak-anaknya dewasa dan membangun keluarga masing-masing. Tidak ada yang peduli dengan orang tua ini, yang pada masa lalunya jarang meluangkan waktunya untuk mereka.

Saat mulai renta, dia pindah ke rumah jompo yang terbaik. Dia menggunakan uang yang semula disimpannya untuk perayaan ulang tahun pernikahan emasnya. Sejak itu hanya ada orang-orang jompo lain dan perawat di sekitarnya. Kini dia merasa sangat kesepian, suatu perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya! Duuuh...

Saat dia akan meninggal, dia memanggil seorang perawat dan mengatakan, "Andai saja aku menyadari semua ini dari dulu...." Perlahan ia menghembuskan napas terakhirnya, dia meninggal dengan linangan air mata di pipinya.

Ehm..., waktu itu tidak pernah berhenti. Anda terus berlari dan berlari, sebelum benar-benar menyadari bahwa Anda ternyata telah berlari terlalu jauh.

Jika Anda pernah bertengkar, segeralah berbaikan.
Jika Anda kangen dengan suara teman, angkat telepon segera.
Terakhir, tapi ini yang paling penting, jika Anda merasa ingin bilang kepada seseorang bahwa Anda menyayanginya, jangan tunda sampai besok.
Jika Anda selalu berpikir bahwa "besok kan bisa", besok itu tak akan pernah tiba!
Sampai suatu hari Anda sadari bahwa mungkin segala sesuatunya sudah terlambat.

Be Happy!
Minibalanar - 22/04/2012 09:20 AM
#22

ILLUMINATA 20


IKUTI SUARA HATIMU

Betapa hancurnya hati seorang prajurit Perang Dunia I ketika dia mendengar berita bahwa sahabat karibnya gugur dalam medan pertempuran yang jauh dari markas. Dia meminta izin dari letnannya untuk diperbolehkan menjemput tubuh sahabatnya yang gugur itu.

"Kamu boleh saja pergi," kata Sang Letnan, "tetapi usahamu itu tidak sepadan. Kawanmu sudah mati dan kamu malah bisa ikut mati di sana."

Tanpa mempedulikan nasihat atasannya, prajurit muda itu tetap saja pergi. Dengan perjuangan yang luar biasa, akhirnya dia berhasil menemukan sahabatnya. Sembari memanggul mayat sang sahabat, ia pulang ke markas. Di tengah jalan, ternyata prajurit muda itu sendiri tertembak dan terluka parah.

Di markas, Sang Letnan memeriksa keadaan prajurit yang terluka parah itu, dengan sendu Sang Letnan berkata, "Sudah kubilang, usahamu akan percuma saja. Sahabatmu sudah mati dan… kamu juga akan mati...."

"Tidak percuma, Pak.…" lirih prajurit muda itu.

"Apa maksudmu 'tidak percuma'?" tanya Sang Letnan. "Sahabatmu sudah mati!"

"Tidak percuma, Pak," jawab prajurit muda itu. "Ketika saya menemukannya, dia masih hidup… dan dia sempat berkata, 'Bud, aku tahu... kamu pasti datang….'"

Dalam hidup ini, suatu hal dianggap bernilai atau tidak bernilai sangatlah tergantung dari bagaimana kita memandangnya. Pupuklah terus kebijaksanaan, himpunlah keberanian, dan ikuti suara hati Anda; dengan demikian, Anda tidak akan pernah menyesal kemudian.

Be Happy!
Minibalanar - 22/04/2012 09:21 AM
#23

ILLUMINATA 21


PANTULAN BULAN BUKAN BULAN

Hiduplah segerombolan monyet yang tinggal di sebuah hutan. Pada suatu hari, ketika mereka sedang bersenang-senang, mereka melihat pantulan bulan di dalam sumur, serta-merta pemimpin monyet berteriak panik: "Teman-teman, bulan jatuh ke dalam sumur! Sekarang kita tidak punya bulan lagi. Kita harus mengambil bulan itu!" Monyet-monyet lainnya mengiyakan: "Ayo kita ambil bulaaan!"

Jadilah segerombolan monyet tersebut bersidang membahas cara mengambil bulan yang "jatuh". Akhirnya pemimpin monyet mencetuskan ide "cemerlang": "Kita semua harus membentuk rantai, dengan begitu kita bisa mengambil bulan itu dari sumur."

Begitulah, mereka lalu membentuk rantai; monyet pertama bergelayut pada dahan pohon, monyet kedua berpegangan pada ekor monyet pertama, begitu seterusnya dengan monyet-monyet berikutnya. Ketika mereka sudah bergelayutan satu pada yang lainnya, tak dinyana-nyana dahan pohon itu patah, tak kuat menahan beban. Seluruh pasukan monyet itu pun jatuh ke dalam sumur, mati mengenaskan.

Sang Guru yang kebetulan melihat kejadian itu berujar: "Jika para dungu memiliki pemimpin yang sama dungunya, mereka semua akan hancur seperti pasukan monyet yang ingin mengambil pantulan bulan dari dalam sumur."

Bergaul dengan para dungu hanya membawa kehancuran, bergaul dengan para bijak akan membawa kebahagiaan. Lebih baik menjalani kehidupan ini sendiri alih-alih bergaul dengan para dungu yang membawa petaka.

Banyak yang mengatakan bahwa monyet mirip dengan manusia (atau malah manusialah yang mirip dengan monyet?), tapi yang jelas manusia juga mudah terjebak dalam khayalan dan angan-angannya sendiri, sampai akhirnya manusia benar-benar kehilangan arah dan tujuan sebenarnya hidup ini; menganggap pantulan bulan sebagai bulan.

Be Happy!
Minibalanar - 22/04/2012 09:23 AM
#24

ILLUMINATA 22


BARU BAHAGIA KALAU…

Kita menganut kepercayaan bahwa hidup akan jadi lebih baik kalau kita menikah, kalau kita punya anak, kalau anak kita laki-laki atau perempuan. Kemudian kita tidak sabar ketika anak-anak tidak cepat besar dan kita merasa bahwa beban kita masih panjang. Setelah itu kita kesal karena anak-anak kita yang sudah remaja mulai membangkang terhadap kita. Kita merasa bahwa kita seharusnya bisa lebih berbahagia kalau mereka penurut atau mereka segera dewasa.

Kita berkata kepada diri sendiri bahwa kebahagiaan kita baru akan lengkap kalau kita punya mobil yang lebih bagus, kalau kita punya rumah yang lebih lapang, kalau kita bisa berlibur ke mana-mana, kalau kita sudah pensiun, dan seterusnya.

Padahal… pada kenyataannya, kebahagiaan tidak terletak di luar sana, setidaknya ketika kebutuhan dasar sudah tercukupi. Kebahagiaan ada di dalam batin kita sendiri. Tidak ada saat yang lebih baik daripada saat ini juga untuk berbahagia. Kalau tidak sekarang, lalu kapan?

Kebahagiaan adalah suatu cara kita merespon berbagai stimulus eksternal. Kabar baiknya: kita BISA MEMILIH respon kita sendiri, tak pandang apa pun jenis stimulusnya. Inilah kekuatan pikiran yang paling dahsyat. Kita bisa menentukan dan memilih sendiri untuk berbahagia atau untuk tidak berbahagia. Stephen R. Covey, pakar konsep "7 Habits", mengatakan: "The most proactive thing we can do is to BE HAPPY."

Para bijak mengatakan: "There is NO WAY to happiness, since happiness is THE WAY itself." Tidak ada jalan menuju kebahagiaan, karena kebahagiaan adalah sang jalan itu sendiri. Jadi, kebahagiaan adalah suatu cara kita menyikapi perjalanan hidup, suatu proses, bukan tujuan akhir, bukan kalau ini dan itu sudah tercapai…

Jadi, tunggu apa lagi, barukah kita akan berbahagia:

kalau cicilan sudah lunas?
kalau sudah punya mobil?
kalau turun 10 kg?
kalau naik 10 kg?
kalau sudah menikah?
kalau sudah cerai?
kalau sudah punya anak?
kalau anak sudah besar?
kalau sudah pensiun?
kalau hujan?
kalau panas?
kalau panjang umur?
kalau sudah mati?

Pepatah lain mengatakan: "Happiness is not about TO HAVE, but about TO BE." Ya, banyak benarnya juga. Amankan kebutuhan dasar, dan selebihnya… just be happy!

Be Happy!
Minibalanar - 22/04/2012 09:25 AM
#25

ILLUMINATA 23


SIAPA YANG TAK MATI?

Suatu ketika ada seorang janda yang sangat berduka karena anak satu-satunya mati. Sembari membawa jenasah anaknya, wanita ini menghadap Sang Guru untuk meminta mantra atau ramuan sakti yang bisa menghidupkan kembali anaknya.

Sang Guru mengamati bahwa wanita di hadapannya ini tengah tenggelam dalam kesedihan yang sangat mendalam, bahkan sesekali ia meratap histeris. Alih-alih memberinya kata-kata penghiburan atau penjelasan yang dirasa masuk akal, Sang Guru berujar:

"Aku akan menghidupkan kembali anakmu, tapi aku membutuhkan sebutir biji lada."

"Itu saja syaratnya?" tanya wanita itu dengan keheranan.

"Oh, ya, biji lada itu harus berasal dari rumah yang anggota penghuninya belum pernah ada yang mati."

Dengan "semangat 45", wanita itu langsung beranjak dari tempat itu, hatinya sangat entusias, "Guru ini memang sakti dan baik sekali, dia akan menghidupkan anakku!"

Dia mendatangi sebuah rumah, mengetuk pintunya, dan bertanya: "Tolonglah saya. Saya sangat membutuhkan satu butir biji lada. Maukah Anda memberikannya?" "Oh, boleh saja," jawab tuan rumah. "Anda baik sekali Tuan, tapi maaf, apakah anggota rumah ini belum pernah ada yang mati?" "Oh, ada, paman kami meninggal tahun lalu." Wanita itu segera berpamitan karena dia tahu bahwa ini bukan rumah yang tepat untuk meminta biji lada yang dibutuhkannya.

Ia mengetuk rumah-rumah berikutnya, semua penghuni rumah dengan senang hati bersedia memberikan biji lada untuknya, tetapi ternyata tak satu pun rumah yang terhindar dari peristiwa kematian sanak saudaranya. "Ayah kami barusan wafat…," "Kakek kami sudah meninggal…," "Ipar kami tewas dalam kecelakaan minggu lalu…," dan sebagainya.

Ke mana pun dia pergi, dari gubuk sampai istana, tak satu tempat pun yang memenuhi syarat tidak pernah kehilangan anggotanya. Dia malah terlibat dalam mendengarkan cerita duka orang lain. Berangsur-angsur dia menyadari bahwa dia tidak sendirian dalam penderitaan ini; tak seorang pun yang terlepas dari penderitaan. Pada penghujung hari, wanita ini kembali menghadap Sang Guru dalam keadaan batin yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Dia mengucap lirih, "Guru, saya akan menguburkan anak saya." Sang Guru hanya mengangguk seraya tersenyum lembut.

Mungkin saja Sang Guru bisa mengerahkan kesaktian dan menghidupkan kembali anak yang telah mati itu, tetapi kalau pun bisa demikian, apa hikmahnya? Bukankah anak tersebut suatu hari akan mati lagi juga? Alih-alih berbuat demikian Sang Guru membuat wanita yang tengah berduka itu mengalami pembelajaran langsung dan menyadari suatu kenyataan hidup yang tak terelakkan bagi siapa pun: siapa yang tak mati?

Penghiburan sementara belaka bukanlah solusi sejati terhadap peristiwa dukacita mendalam seperti dalam cerita di atas. Penderitaan hanya benar-benar bisa diatasi dengan pengertian yang benar akan dua hal: (1) kenyataan hidup sebagaimana adanya, bukan sebagaimana maunya kita, dan (2) bahwasanya pada dasarnya penderitaan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang bersumber dari dalam diri kita sendiri.

Be Happy!
masdarlene - 22/04/2012 12:06 PM
#26

ada versi ringkasnya gak gan?
kepanjangen nih jadi ngantuk baca nya.
pejam - 22/04/2012 08:02 PM
#27

cerita yang bagus banget, lanjut lagi kang kisah para Gurunya ...
ariesjava - 23/04/2012 02:25 PM
#28

bisa buat sumber inspirasi, semua yang ditulis tees ngena banget di kehidupan sehari-hari. :2thumbup

apalagi yang no 1 tuh. kita sering nglupain kondisi amal kita, selalu merasa cukup dengan hanya sedikit amal yang sebenarnya belum tentu tu amal diterima, ditambah lagi terlalu sering mengingat amal yang sedikit dengan cepat banget lupa akan dosa-dosa
mate81 - 23/04/2012 04:54 PM
#29

keren gan cerita para gurunya, lanjut gan ane menikmati gan YbYb
Minibalanar - 23/04/2012 05:48 PM
#30

ILLUMINATA 24


TIDAK BISA MENYENANGKAN SEMUA

Suatu hari, seorang ayah dan anaknya membawa seekor keledai ke pasar. Dalam perjalanan, beberapa orang melihat mereka dan berkata, "Lihat orang-orang tolol itu, kenapa mereka tidak menunggangi saja keledai mereka?" Sang ayah mendengar cemooh ini dan menyuruh anaknya menunggang keledainya, sedangkan dia sendiri berjalan di samping.

Seorang wanita tua yang melihat pemandangan ini berkata, "Apa jadinya dunia ini? Anak itu enak-enakan menaiki keledai sementara ayahnya yang sudah tua disuruh berjalan kaki!" Mendengar itu, si anak langsung turun dan meminta ayahnya saja yang menunggang keledainya.

Selanjutnya mereka berpapasan dengan seorang wanita muda yang mengatakan, "Kenapa kalian berdua tidak naiki saja keledainya?" Mereka mengikuti nasihat wanita muda itu dan bersama-sama mereka menunggangi keledai mereka.

Tak berapa lama, sekelompok orang mengecam mereka, "Oh, betapa malangnya keledai itu! Dia harus mengangkut kedua orang itu sekaligus. Betapa kejamnya mereka!"

Ketika mendengar hal itu, ayah-anak itu sudah sangat jemu mendengar kritikan demi kritikan. Mereka memutuskan untuk turun dan menggendong keledai mereka saja untuk membungkam omongan orang-orang. Kejadian ini membuat orang-orang menertawakan mereka, "Lihat, manusia keledai menggendong keledai…"

Ketika Anda berusaha menyenangkan semua orang, pada akhirnya Anda tidak akan menyenangkan siapa pun, malahan bisa-bisa Anda hanya menyusahkan diri Anda sendiri. Sepanjang apa yang Anda perbuat tidak merugikan pihak lain dan didasarkan pada etika moral, tidak ada yang salah dengan Anda.

Tentu boleh-boleh saja Anda mendengarkan berbagai pendapat dan masukan, tetapi pada akhirnya, Anda harus mendengarkan suara hati Anda sendiri dan mengambil keputusan yang terbaik bagi diri Anda sendiri. Tak seorang pun yang mengetahui diri Anda lebih daripada diri Anda sendiri.

Be Happy!
Minibalanar - 23/04/2012 05:49 PM
#31

ILLUMINATA 25


IBLIS BELAS KASIH

Sang Guru ditanya, "Bagaimana caranya menumbuhkan belas kasih yang tak terbatas kepada semua makhluk?" Jawabnya, "Kembangkan ketidak-berpihakan." Ini artinya, menyadari kesamaan hakiki semua makhluk hidup—saya tidak lebih hebat dari orang lain, demikian pula orang lain tidak lebih hebat dari yang lain. Kita semua adalah satu.

Hal ini mengingatkan kita pada perumpamaan sederhana tentang burung berkepala dua. Seekor burung memiliki dua kepala dan satu tubuh. Suatu hari, karena dengki, kepala yang satu menipu kepala yang lain untuk menenggak racun; alhasil "seluruh" burung itu mati.

Demikian juga halnya, "orang lain" dan "saya" berbagi tubuh yang sama. Siapa kita dan kehidupan kita tergantung kepada orang lain—tidak ada makanan, teman, orang tua, pekerjaan... yang tanpa "orang lain"—kita semua saling bergantung. Kekonyolan satu orang dapat mengakibatkan kejatuhan seluruh masyarakat.

Sang Guru berkata, "Hati-hati, jangan sampai menjadi Iblis Belas Kasih." Iblis Belas Kasih adalah orang yang berpikir bahwa dirinya betul-betul penuh belas kasih karena melihat dirinya terpisah dari orang lain—bahwa "mereka" tidak disangkal lagi membutuhkan bantuannya. Waspadalah, hal ini bisa menyebabkan ego muncul dan menjadi gemuk lho!

Orang yang benar-benar penuh belas kasih tidak pernah merasa ia penuh belas kasih. Ia sekadar melakukan apa yang dianggapnya paling alamiah di dunia ini. Sekalipun kita sudah selayaknya memuji kebajikan, tidak ada yang perlu dibesar-besarkan karena telah berbuat baik.

Be Happy!
Minibalanar - 23/04/2012 05:50 PM
#32

ILLUMINATA 26


BERKAH RASA SAKIT

Menurut suatu laporan medis: satu dari 400.000 bayi yang lahir setiap tahun akan menjalani kehidupan yang kurang menguntungkan; mereka akan sering melukai diri sendiri, kadang bisa sangat parah dan tanpa menyadarinya.

Anak-anak semacam itu mengidap penyakit keturunan yang disebut familial dysautonomia: mereka tidak mampu merasakan sakit/nyeri. Anak-anak semacam ini bisa bermain-main mengiris tubuhnya sendiri, memegang setrika panas, jatuh dan patah tulang, tanpa pernah menyadari bahwa itu semua tidak semestinya mereka lakukan. Mereka tidak akan mengeluh sakit tenggorokan atau sakit perut sehingga orang tua mereka tidak akan tahu bahwa mereka sedang terkena penyakit, sampai segalanya terlambat.

Adakah di antara kita yang mau hidup seperti itu, tanpa rasa sakit?

Memang, rasa sakit itu tidak mengenakkan, tetapi itu adalah bagian penting jika kita hidup.

Suatu kali, Sang Guru bertanya kepada murid-muridnya: "Siapa yang mau hidup tanpa masalah?" Semua murid tanpa ragu-ragu mengangkat tangan.

Sang Guru melanjutkan bahwa setiap hari dalam perjalanan ke tempat kerja dia melewati sebuah tempat di mana orang-orang yang tinggal di sana tidak punya masalah sama sekali. Sang Guru kembali bertanya: "Apakah ada di antara kalian yang mau bergabung dengan orang-orang bebas masalah ini?"

Para murid berpikir bahwa guru mereka sedang bergurau, namun Sang Guru meyakinkan mereka lagi: "Orang-orang ini tidak pernah bermasalah dengan berita di koran, tidak ada masalah pekerjaan, pernikahan, makanan, dan jelas sudah bebas finansial lho!"

Ketika para murid menjadi makin penasaran, Sang Guru menyelentuk: "Tempat itu adalah pekuburan dan orang-orang di sana sudah almarhum semua...."

Masalah adalah indikator kehidupan. Selama kita hidup, masalah akan senantiasa membayangi. Jika kita mampu "mengenali" bahwa suatu masalah adalah masalah, itu sudah merupakan berkah tersendiri.

Kalau kita kaji lebih dalam, masalah menawarkan "kesempatan" bagi kita untuk memecahkannya. Orang yang berada di puncak adalah orang yang mampu memecahkan masalah. Apa yang selama ini terjadi jika kita mampu mengatasi masalah yang tidak dapat diatasi oleh orang lain?

Ada kalanya, suatu masalah mungkin saja betul-betul getir; memang... tidak semua "obat yang manjur" manis bukan?

Be Happy!
Minibalanar - 23/04/2012 05:50 PM
#33


ILLUMINATA 27


KEBAHAGIAAN ADALAH SEBUAH PILIHAN

Pada suatu zaman di Tiongkok, hiduplah seorang jenderal besar yang selalu menang dalam setiap pertempuran. Karena itulah, ia dijuluki "Sang Jenderal Penakluk" oleh rakyat.

Suatu ketika, dalam sebuah pertempuran, ia dan pasukannya terdesak oleh pasukan lawan yang berkali lipat lebih banyak. Mereka melarikan diri, namun terangsak sampai ke pinggir jurang. Pada saat itu para prajurit Sang Jenderal menjadi putus asa dan ingin menyerah kepada musuh saja.

Sang Jenderal segera mengambil inisiatif, "Wahai seluruh pasukan, menang-kalah sudah ditakdirkan oleh dewa-dewa. Kita akan menanyakan kepada para dewa, apakah hari ini kita harus kalah atau akan menang."

Saya akan melakukan tos dengan keping keberuntungan ini! Jika sisi gambar yang muncul, kita akan menang. Jika sisi angka yang muncul, kita akan kalah! Biarlah dewa-dewa yang menentukan!" seru Sang Jenderal sambil melemparkan kepingnya untuk tos… Ternyata sisi gambar yang muncul!

Keadaan itu disambut histeris oleh pasukan Sang Jenderal, "Hahaha… dewa-dewa di pihak kita! Kita sudah pasti menang!!!" Dengan semangat membara, bagaikan kesetanan mereka berbalik menggempur balik pasukan lawan. Akhirnya, mereka benar-benar berhasil menunggang-langgangkan lawan yang berlipat-lipat banyaknya.

Pada senja pasca-kemenangan, seorang prajurit berkata kepada Sang Jenderal, "Kemenangan kita telah ditentukan dari langit, dewa-dewa begitu baik terhadap kita."

Sang Jenderal menukas, "Apa iya sih?" sembari melemparkan keping keberuntungannya kepada prajurit itu. Si prajurit memeriksa kedua sisi keping itu, dan dia hanya bisa melongo ketika mendapati bahwa ternyata kedua sisinya adalah gambar…

Memang dalam hidup ini ada banyak hal eksternal yang tidak bisa kita ubah; banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan kehendak kita. Namun demikian, pada dasarnya dan pada akhirnya, kita tetap bisa mengubah pikiran atau sisi internal kita sendiri: untuk menjadi bahagia atau menjadi tidak berbahagia. Jika bahagia atau tidak bahagia diidentikkan dengan nasib baik atau nasib buruk, jadi sebenarnya nasib kita tidaklah ditentukan oleh siapa-siapa, melainkan oleh diri kita sendiri.

Ujung-ujungnya, kebahagiaan adalah sebuah pilihan proaktif. "The most proactive thing we can do is to 'be happy'," begitu kata Stephen R. Covey dalam buku 7 Habits-nya.

Be Happy!
Minibalanar - 23/04/2012 05:51 PM
#34

ILLUMINATA 28


APA HARUS SAMPAI KEPEPET?

Seekor katak tercebur ke dalam sebuah lubang di tengah jalan raya. Selama seharian penuh dia berusaha melompat keluar dari lubang itu, tapi usahanya tak kunjung berhasil juga.

Seekor anjing datang dan mengulurkan bantuan untuk mengeluarkan katak yang terjebak itu. Upaya sang anjing belum berbuah jua. Sekawanan hewan lainnya ikut turun tangan untuk menolong katak malang tersebut, namun akhirnya mereka menyerah.

"Kami akan membawakan makanan untukmu," kata kawan-kawannya. "Mungkin kamu masih akan cukup lama di sana." Mereka pun beranjak pergi untuk mencarikan makanan. Tak lama kemudian mereka kembali; mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat: katak itu sudah di luar lubang!

"Kami pikir kamu tidak akan bisa keluar!" seru mereka.

"Habis gimana," jawab si katak, "ada traktor datang ke arahku, nggak ada pilihan dong!"

Pencerahan satu: tekanan tertentu ada kalanya diperlukan agar kita berjuang lebih keras. "Don’t krack under pressure," kata Tag Heuer.

Eh, ada cerita katak lagi. Katak yang direbus perlahan-lahan dalam wajan tidak akan menyadari bahwa dirinya akan mati. Air yang hangat bisa membuainya untuk tetap bersantai di wajan maut itu. Sampai ketika ia merasa kepanasan, ia sudah kehabisan tenaga untuk melompat keluar; terlambat sudah….

Coba kita lemparkan seekor katak ke dalam wajan berisi air panas; kontan saja dia akan melompat sekuat-kuatnya, mungkin lumayan babak belur, tapi dia selamat!

Pencerahan dua: jangan terjebak dalam kenyamanan semu; ketika kondisi berubah dan kita membutuhkan perbaikan, mungkin saat itu kita sudah terlambat. Apa harus sampai kepepet? "Sedia payung sebelum hujan", kata Nenek.

Be Happy!
Minibalanar - 23/04/2012 05:51 PM
#35

ILLUMINATA 29


TAK HARAP KEMBALI

Dalam dunia yang condong menjadi makin sekuler dan materialis ini, kita diajarkan dan terkondisi untuk hidup dengan nilai "take and give". Setiap tindakan memberi tak lepas dari motif perolehan, dalam satu dan lain bentuk. Secara material, mungkin ini relatif ada benarnya, namun tak jarang nilai ini diterapkan juga dalam penjalinan hubungan kasih di antara lawan jenis, antarkawan, bahkan dalam doa-doa sekalipun.

Secara spiritual, penerapan nilai "take and give" bisa menjerumuskan kita ke dalam "materialisme spiritual", yang mana hal ini hanya akan menggembungkan keakuan saja, alih-alih mereduksinya—penderitaan pun terus membayang.

Tindakan "memberi" atau "bermurah hati" merupakan salah satu pondasi spiritual, di samping moralitas. Untuk membangun pondasi spiritual yang kokoh, seyogianya kita memberi tanpa pamrih, tanpa pilih kasih, tanpa embel-embel atau imbal-imbal.

Secara umum, ada dua motivasi yang benar dalam memberi: (1) untuk menolong pihak lain yang membutuhkan; (2) untuk melatih mengikis keakuan. Sama halnya dengan "proaktivitas", tindakan memberi yang benar adalah suatu proses "Inside-Out", bukan "Outside-In". Inside-Out saja, satu arah.

Penggalan syair sebuah lagu anak-anak klasik di bawah ini merupakan sebuah inspirasi luar biasa dalam tindakan memberi (terima kasih kepada penggubahnya):

Kasih ibu kepada beta,
tak terhingga sepanjang masa…
hanya memberi, tak harap kembali,
bagai sang surya menyinari dunia…

Berikut adalah sebuah kisah nyata tentang dua kakak-beradik yang melukiskan keluhuran prinsip "hanya memberi, tak harap kembali".

Seorang anak perempuan berusia 8 tahun menderita sakit karena kelangkaan jenis darah tertentu; keluarganya mencari donor di mana-mana, dan mendapati bahwa hanya adik laki-lakinya yang berusia 6 tahun yang bisa menyelamatkan hidup sang kakak.

Dokter dan ibunya meminta kepada anak laki-laki itu apakah dia bersedia memberikan darahnya untuk menyelamatkan kakaknya. Anak laki-laki itu meminta waktu untuk memikirkannya. Dua hari kemudian, dia berkata kepada ibunya, "Mama, sekarang saya sudah siap."
Mereka pun bersama-sama pergi ke rumah sakit. Dokter membaringkan anak laki-laki itu di sebelah kakaknya dan mengambil darah dari lengannya. Setelah diperoleh sebotol darah, dokter mengalirkan darah sang adik ke tubuh sang kakak yang terbaring lemah. Beberapa menit kemudian, sang kakak berangsur-angsur menjadi makin segar.

Menyaksikan hal itu, sang adik memanggil dokter dan menanyakan sesuatu sambil berbisik agar tidak terdengar oleh kakaknya, "Dokter, apa sekarang saya akan langsung mati?"

Anak itu rupanya tidak paham bahwa jika dia memberikan darah untuk menolong orang lain, itu hanya sebagian dari darahnya saja dan tidak akan membuatnya mati. Itulah sebabnya dia minta waktu untuk mempertimbangkan apakah dia bersedia mati demi menyelamatkan hidup kakaknya.

Be happy!
Minibalanar - 23/04/2012 05:52 PM
#36

ILLUMINATA 30


MEMEGANG KEBENARAN

Pada zaman dahulu, ada seorang pedagang yang mempunyai seorang istri jelita dan seorang anak laki-laki yang sangat dicintainya. Suatu hari istrinya jatuh sakit dan tak berapa lama meninggal. Betapa pedihnya hati pria tersebut. Sepeninggal istrinya, dia mencurahkan segenap perhatian dan kasih sayangnya kepada anak laki-laki semata wayangnya.

Suatu ketika pedagang tersebut pergi ke luar kota untuk berdagang; anaknya ditinggal di rumah. Sekawanan bandit datang merampok desa tempat tinggal mereka. Para penjarah ini merampok habis harta benda, membakar rumah-rumah, dan bahkan menghabisi hidup penduduk yang mencoba melawan; rumah sang pedagang pun tak luput dari sasaran. Mereka bahkan menculik anak laki-laki sang pedagang untuk dijadikan budak.

Betapa terperanjatnya sang pedagang ketika ia pulang dan mendapati rumahnya sudah jadi tumpukan arang. Dengan gundah hati, ia mencari-cari anak tunggalnya yang hilang. Ia menjadi frustrasi ketika mendapati banyak tetangganya yang terbantai dan mati terbakar. Di tengah kepedihan dan keputusasaan, ia menemukan seonggok belulang dan abu di sekitar rumahnya, di dekat tumpukan abu itu tergolek boneka kayu kesayangan anaknya. Yakinlah sudah ia bahwa itu adalah abu jasad anaknya. Meledaklah raung tangisnya… ia menggelepar-gelepar di tanah sembari meraupi abu jasad itu ke wajahnya. Satu-satunya sumber kebahagiaan hidupnya telah terenggut….

Semenjak itu, pria tersebut selalu membawa-bawa abu anaknya dalam sebuah tas. Sampai setahun setelah itu ia suka mengucilkan diri, tenggelam dalam tangis sampai berjam-jam lamanya; kadang orang melihat ia tertawa sendiri, mungkin kala itu ia teringat masa-masa bahagia bersama keluarganya. Ia terus larut dalam kesedihan tak terperikan….

Musim berlalu… sang anak akhirnya berhasil meloloskan diri dari cengkeraman para penculiknya. Ia bergegas pulang ke kampung halamannya. Sesampai di kediaman ayahnya, ia mengetuk pintu rumah sembari berteriak senang, "Ayah, ini aku pulang!"

Sang ayah yang waktu itu lagi tertidur di ranjangnya, terbangun mendengar suara itu. Ia berpikir, "Ini pasti ulah anak-anak nakal yang suka meledekku itu!" "Pergi! Jangan main-main!" Mendengar sahutan itu, sang anak kembali berteriak, "Ayah! Ini aku, anakmu! Dari dalam rumah terdengar lagi, "Jangan ganggu aku terus! Pergi kamu!" Sang anak menggedor pintu dan berteriak lebih lantang, "Buka pintu ayah! Ini betul anakmu!" Mereka saling bersahutan… sang ayah terus bersikeras tidak membuka pintu. Sang anak pun akhirnya putus asa dan berlalu dari rumah itu….

Sang Guru menutup cerita itu dan menyampaikan, "Sebagian orang begitu erat memegang apa yang mereka 'ANGGAP' sebagai kebenaran. Ketika Kebenaran Sejati betul-betul datang, belum tentu mereka membuka pintu hati mereka."

Be happy!
Minibalanar - 23/04/2012 05:52 PM
#37

ILLUMINATA 31


KOPOR ORANG LAIN

Anda menemukan sebuah kopor di teras stasiun kereta. Mungkinkah kopor itu sengaja dibuang? Mungkin kopor itu begitu berharga bagi pemiliknya? Mungkin pemiliknya ada di dalam kereta yang barusan berangkat? Anda memeriksa isi kopor itu, ternyata banyak dokumen berharga dan bahkan sejumlah uang yang cukup besar.

Karena Anda sendiri tidak membawa banyak bawaan, Anda dapat membawa kopor itu dan menyerahkannya di kantor kereta di stasiun berikutnya. Anda putuskan untuk membawa kopor itu, karena Anda tidak yakin dengan kejujuran orang lain yang menemukannya. Anda memilih untuk menanggung beban menemukan pemilik kopor tersebut. Anda merasa bersalah jika tidak melakukannya.

Kala Anda menarik kopor itu ke dalam kereta yang penuh sesak, ternyata kopor yang cukup besar dan berat itu menyita banyak tempat. Bagaimanapun juga, Anda merasa kopor itu begitu penting, karena itu barang orang lain yang ada pada Anda. Ketika Anda pergi ke toilet pun, Anda merasa perlu membawanya serta. Lama-kelamaan, karena makin merepotkan, kopor itu jadi terasa semakin berat. Mulai timbul pemikiran untuk menyerah saja, meninggalkan saja kopor itu, masa bodoh dengan "nasib" kopor itu, toh sebenarnya itu bukan tanggung jawab Anda. Namun, jika bukan Anda, lalu siapa? Bukankah tindakan kebajikan ini sudah separuh jalan?

Ketika Anda kembali berjuang membawa kopor itu, terbersit pemikiran bahwa jangan-jangan kopor itu memang sengaja dibuang oleh pemiliknya. Akankah sang pemilik menghargai dan memberi hadiah? Pikiran jadi makin tidak keruan.

Tiba-tiba, Anda terhenyak, seperti halnya dengan apa pun yang Anda pilih untuk lakukan, Anda tidak akan pernah bisa yakin 100% akan hasilnya. Kenyataannya, hidup Anda pada hari ini sama sekali berbeda dengan apa yang Anda bayangkan tahun lalu. Anda hanya bisa yakin dengan satu hal, yaitu niat Anda, apa yang mendasari Anda untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Dalam kasus kopor itu, semata-mata welas asihlah yang mendorong Anda untuk mengambil alih beban orang lain.

Anda sadar bahwa tindakan Anda tidak sepenuhnya tanpa syarat, karena Anda berharap setidaknya mendapat ucapan terima kasih atau ungkapan penghargaan lainnya. Hasrat yang bercampur dengan ketidakpastian ini membuat kopor itu terasa makin berat saja. Sikap "pembedaan", bahwa Anda membawa barang "orang lain", membuat Anda gerah dan tidak rela penuh, sekalipun Anda merasa wajib membawanya. Jika Anda sanggup mengikhlasinya, kopor itu jadi terasa ringan. Anda hanya perlu berdiri di sepatu sang pemilik dan membayangkan keresahannya. Apakah Anda tega untuk tidak melakukan suatu pertolongan yang Anda sanggup lakukan?

Anda menyadari bahwa karena Anda telah memilih untuk membawanya, Anda harus membawanya dengan bahagia. Hasil akhirnya bagaimana tidak terlalu penting. Anda bisa memilih untuk menikmati kebajikan tindakan Anda dalam proses, saat ini juga, alih-alih memusatkan pikiran akan hasil. Itulah sebabnya, tindakan baik atau jasa diukur dengan niat luhur kita, bukan hasilnya.

Berhubung satu-satunya hal yang bisa kita yakini adalah niat baik kita, kebajikan welas asih membawa sukacita tersendiri dan berbuah seketika. Jika kita bisa memetik buahnya saat ini juga, kenapa menunda kebahagiaan kita? Semakin kita mendalami hal ini, semakin siaplah kita untuk mengambil tugas menolong orang lain. Tindakan menolong tanpa syarat tidak akan menjadi beban, malahan jadi sumber kebahagiaan. Dalam melatih kemurahan hati, semakin banyak kita memberi, semakin banyak kita menerima. Pengorbanan sejati adalah pengorbanan yang tidak terasa seperti pengorbanan.

Jika kita memilih untuk menempuh jalan menolong pihak lain, sesungguhnya kita memilih jalan yang membawa pada kepuasaan dan kebahagiaan yang lebih besar. Seperti diujarkan oleh Sang Guru:

Segala kebahagiaan di dunia ini,
berasal dari keinginan untuk membahagiakan pihak lain.
Segala penderitaan di dunia ini,
berasal dari keinginan untuk membahagiakan diri sendiri saja.

Jika kita hanya peduli pada bawaan sendiri saja, yang melambangkan kepemilikan duniawi kita, tidak saja kebahagiaan kita tidak bertumbuh, namun justru akan surut karena kebahagiaan itu jadi terbatas. Namun, dalam tindakan membahagiakan pihak lain, kita menjadi berbahagia dengan ikut berbahagia atas kebahagiaan pihak lain dan menuai buah kemurahan hati kita. Bermurah hati kepada pihak lain, dengan demikian juga berarti bermurah hati kepada diri sendiri.

Mana yang Anda inginkan? Sebuah dunia di mana orang-orang tidak peduli terhadap bawaan yang tertinggal atau sebuah dunia di mana orang-orangnya peduli terhadap kebahagiaan orang lain? Dunia macam apa yang tengah Anda ciptakan dengan niat dan tindakan Anda saat ini?

Be happy!
Minibalanar - 23/04/2012 05:52 PM
#38

ILLUMINATA 32


KAN SEKARANG SUDAH BISA

Di sebuah kampung nelayan, pada suatu pagi, seorang profesor bisnis yang sedang berlibur bertemu dengan seorang nelayan yang tengah membereskan hasil tangkapannya. Sang profesor tidak tahan untuk tidak menyapanya, "Hai, kenapa kamu selesai bekerja sepagi ini?" "Saya sudah menangkap cukup banyak ikan Pak," jawab nelayan itu, "cukup untuk dimakan sekeluarga dan masih ada sisa untuk dijual."

"Lalu, setelah ini kamu mau apa?" tanya profesor itu lagi. Jawab sang nelayan, "Habis ini saya mau makan siang dengan istri dan anak-anak saya, setelah itu tidur siang sebentar, lalu saya akan bermain dengan anak-anak. Setelah makan malam, saya akan ke warung, bersenda gurau sambil bermain gitar bersama teman-teman."

"Dengarkan kawan," ujar sang profesor, "jika kamu tetap melaut sampai sore, kamu bisa mendapat dua kali lipat hasil tangkapan. Kamu bisa menjual ikan lebih banyak, menyimpan uangnya, dan setelah sembilan bulan kamu akan mampu membeli perahu baru yang lebih besar. Lalu, kamu akan bisa menangkap ikan empat kali lebih banyak. Coba pikir, berapa banyak uang yang bakal kamu dapat!"

Lanjut profesor, "Dalam satu dua tahun kamu akan bisa membeli satu kapal lagi, dan kamu bisa menggaji banyak orang. Jika kamu mengikuti konsep bisnis ini, dalam lima tahun kamu akan menjadi juragan armada nelayan yang besar. Coba bayangkan!"

"Kalau sudah sebesar itu, sebaiknya kamu memindah kantormu ke ibu kota. Beberapa tahun kemudian perusahaanmu bisa 'go public', kamu bisa jadi investor mayoritas. Dijamin, kamu akan jadi jutawan besar! Percayalah! Aku ini guru besar di sekolah bisnis terkenal, aku ini ahlinya hal-hal beginian!"

Dengan takjub, nelayan itu mendengarkan penuturan profesor yang penuh semangat itu. Ketika profesor selesai menjelaskan, sang nelayan bertanya, "Tapi Pak Profesor, apa yang bisa saya perbuat dengan uang sebanyak itu?"

Ups! Anehnya sang profesor belum memikirkan konsep bisnisnya sejauh itu. Cepat-cepat dia mereka-reka apa yang seseorang bisa lakukan dengan uang sebanyak itu.

"Kawan! Kalau kamu jadi jutawan, kamu bisa pensiun. Ya! Pensiun dini seumur hidup! Kamu bisa membeli villa mungil di desa pantai yang indah seperti ini, dan membeli sebuah perahu untuk berwisata laut pada pagi hari. Kamu bisa makan bersama keluargamu setiap hari, bersantai-santai tanpa khawatir apa pun. Kamu punya banyak waktu bersama anak-anakmu, dan setelah makan malam kamu bisa main gitar dengan teman-temanmu di warung. Yeaaa, dengan uang sebanyak itu, kamu bisa pensiun dan hidupmu jadi mudah!

"Tapi, Pak Profesor, kan sekarang ini saya sudah bisa begitu…," lirih sang nelayan dengan lugunya.

Kenapa kita percaya bahwa kita harus bekerja begitu keras dan menjadi kaya raya terlebih dahulu, baru kita bisa merasa berkecukupan? Apakah ada "tujuan yang lebih mulia" dari apa yang Anda lakoni saat ini? Apakah itu benar tujuan mulia atau sekadar dalih rasa takut untuk menjadi apa adanya? Untuk merasa berkecukupan, apa sekarang ini tidak bisa?

Be happy!
Minibalanar - 23/04/2012 05:53 PM
#39

ILLUMINATA 33


JADILAH PELITA

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.

Orang buta itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok."

Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut.

Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!" Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

***

Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!" Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!"

Si buta tertegun…. Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta." Si buta tersipu menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya." Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.

***

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, "Maaf, apakah pelita saya padam?" Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama."

Senyap sejenak… secara berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda orang buta?" Secara serempak pun mereka menjawab, "Iya…," sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.

***

Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka."

***

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).

Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.

Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun mereka bisa melihat.

Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.

Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.

Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.

Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita. Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan:

Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.

Be happy!
Minibalanar - 23/04/2012 05:53 PM
#40

ILLUMINATA 34


SUARA YANG PALING INDAH

Seorang tua yang tak berpendidikan tengah mengunjungi suatu kota besar untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dibesarkan di sebuah dusun di pegunungan yang terpencil, bekerja keras membesarkan anak-anaknya, dan kini sedang menikmati kunjungan perdananya ke rumah anak-anaknya yang modern.

Suatu hari, sewaktu dibawa berkeliling kota, orang tua itu mendengar suara yang menyakitkan telinga. Belum pernah dia mendengar suara yang begitu tidak enak didengar di dusunnya yang sunyi. Dia bersikeras mencari sumber bunyi tersebut. Dia mengikuti sumber suara sumbang itu, dan dia tiba di sebuah ruangan di belakang sebuah rumah, di mana seorang anak kecil sedang belajar bermain biola.

"Ngiiik! Ngoook!" berasal dari nada sumbang biola tersebut.

Saat dia mengetahui dari putranya bahwa itulah yang dinamakan "biola", dia memutuskan untuk tidak akan pernah mau lagi mendengar suara yang mengerikan tersebut.

Hari berikutnya, di bagian lain kota, orang tua ini mendengar sebuah suara yang seolah membelai-belai telinga tuanya. Belum pernah dia mendengar melodi yang begitu indah di lembah gunungnya, dia pun mencoba mencari sumber suara tersebut. Ketika sampai ke sumbernya, dia tiba di ruangan depan sebuah rumah, di mana seorang wanita tua, seorang maestro, sedang memainkan sonata dengan biolanya.

Seketika, si orang tua ini menyadari kekeliruannya. Suara tidak mengenakkan yang didengarnya kemarin bukanlah kesalahan dari biola, bukan pula salah sang anak. Itu hanyalah proses belajar seorang anak yang belum bisa memainkan biolanya dengan baik.

Dengan kebijaksanaan polosnya, orang tua itu berpikir bahwa mungkin demikian pula halnya dengan agama. Sewaktu kita bertemu dengan seseorang yang menggebu-gebu terhadap kepercayaannya, tidaklah benar untuk menyalahkan agamanya. Itu hanyalah proses belajar seorang pemula yang belum bisa memainkan agamanya dengan baik. Sewaktu kita bertemu dengan seorang bijak, seorang maestro agamanya, itu merupakan pertemuan indah yang menginspirasi kita selama bertahun-tahun, apa pun kepercayaan mereka.

Namun ini bukanlah akhir dari cerita.

Hari ketiga, di bagian lain kota, si orang tua mendengar suara lain yang bahkan melebihi kemerduan dan kejernihan suara sang maestro biola. Menurut Anda, suara apakah itu?

Melebihi indahnya suara aliran air pegunungan pada musim semi, melebihi indahnya suara angin musim gugur di sebuah hutan, melebihi merdunya suara burung-burung pegunungan yang berkicau setelah hujan lebat. Bahkan melebihi keindahan hening pegunungan sunyi pada suatu malam musim salju. Suara apakah gerangan yang telah menggerakkan hati si orang tua melebihi apa pun itu?

Itu suara sebuah orkestra besar yang memainkan sebuah simfoni.

Bagi si orang tua, alasan mengapa itulah suara terindah di dunia adalah, pertama, setiap anggota orkestra merupakan maestro alat musiknya masing-masing; dan kedua, mereka telah belajar lebih jauh lagi untuk bisa bermain bersama-sama dalam harmoni.

"Mungkin ini sama dengan agama," pikir si orang tua. "Marilah kita semua mempelajari hakikat kelembutan agama kita melalui pelajaran-pelajaran kehidupan. Marilah kita semua menjadi maestro cinta kasih di dalam agama masing-masing. Lalu, setelah mempelajari agama kita dengan baik, lebih jauh lagi, mari kita belajar untuk bermain, seperti halnya para anggota sebuah orkestra, bersama-sama dengan penganut agama lain dalam sebuah harmoni!"

Itulah suara yang paling indah.

Be happy!
Page 2 of 155 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Spiritual > Kisah Perjalanan Spiritual Para Guru