BUKU new
Home > CASCISCUS > BUKU new > Kasih Selembut Awan
Total Views: 281 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+

Minibalanar - 14/06/2012 06:40 PM
#1
Kasih Selembut Awan
Judul: Kasih Selembut Awan

Penulis: Willy Yanto Wijaya

Penyunting: Handaka Vijjànanda

Penata Letak dan Sampul: Vidi Yulius

Penerbit: Ehipassiko

Ukuran dan ketebalan buku: ± 14 x 21 cm, 144 halaman
Quote:

Kasih Selembut Awan



41 kisah pilihan dalam buku ini akan membawa hati kecil anda berpetualang dalam indahnya dunia cinta dan kasih sayang. Kisah-kisah indah ini bercerita tentang kasih sayang seorang ibu, juga seorang ayah, cinta tulus sepasang kekasih, nilai-nilai persaudaraan serta persahabatan. Tidak hanya pada manusia, anda juga akan menemukan nilai-nilai cinta yang ternyata juga dimiliki oleh hewan. Di buku ini juga, anda akan menyelami kisah-kisah yang menuturkan tentang kesetiaan, balas budi, pengorbanan, kepedulian, dan pemaafan.

Setiap kisah terpilih yang tersajikan dalam buku ini pasti akan menggoreskan kesan mendalam dalam relung hati anda akan betapa indahnya cinta, kelembutan hati dan kasih sayang, seindah dan selembut awan-awan yang berarakan di cakrawala biru.

1. Ember Bocor yang Sedih

2. Ibu Gajah yang Buta

3. Hachiko, Anjing yang Setia

4. Bulan yang Indah

5. Burung Gagak yang Kedinginan

6. Hailibu, Sang Pemburu

7. Kadal di antara Dinding

8. Katak yang Nakal

9. Gadis Kecil yang Kehilangan Uang

10. Ulama, Pedagang Tua, dan Keledai

11. Anak Domba yang Terluka

12. Ego

13. Pohon, Daun, dan Angin

14. Burung Kebahagiaan

15. Balas Budi Burung Bangau

16. Kaki Seribu dan Beban Pikiran

17. Kamu Bukan Ayahku

18. Burung Pipit

19. Kau dan Aku

20. Pohon Apel yang Mengorbankan Segalanya

21. Kesabaran, Kemurahan Hati dan Kerelaan Memaafkan

22. Dua Pilihan

23. Kupu-kupu Putih

24. Angpao dan Nyamuk

25. Momen ke Momen

26. Burung Kecil yang Memadamkan Api

27. Segelas Susu

28. Gadis Kecil Bersepatu Merah

29. Gajah yang Welas Asih

30. Tenzing Norgay

31. Penguburan oleh Burung

32. Sebelum Menceraiku, Gendonglah Aku

33. Welas Asih

34. Raja Kera

35. Bib dan Bob

36. Bangunlah Pikiran Positif

37. Ayah Pilih Kasih

38. Mengapa Cincin di Jari Manis?

39. Kerlip Lentera

40. Aku Menangis Enam Kali untuk Adikku

41. Dandelion
Minibalanar - 14/06/2012 07:35 PM
#2

Ember Bocor Yang Sedih

Udara dingin pegunungan di sela deraian daun. Kemilau jingga keemasan mentari senja tampak memantul berganti-gantian di permukaan air yang beriak dalam dua ember yang dipikul seorang petani. Sebuah rutinitas yang tampaknya dijalani dengan keriangan hati.
Dalam hempasan nafas lelah yang panjang, tersirat binar kepuasandalam raut wajah sang petani pembawa ember air tesebut. Akan tetapi, suatu kala terjadi sesuatu diantara dua ember yang dipikul petani tersebut. Akan tetapi, sutu kala terjadi sesuatu di antara dua ember yang di pikul petani tersebut. Salah stu ember berujar kepada ember yang lain, “hei, cobalah lihat dirimu, ember bocor, bercerminlah. Sadarkah engkau setiap hari membuang setengah dari air yang terisi penuh?” Ember bocor kaget dan menyadari ada sebuah lubang hakus pada dirinya. Sepanjang perjalanan, air yang dibawahnya perlahan menetes keluar dan tersisa setengahnya ketika sampai di tujuan.
Kesedian mulai mengaduk-aduk perasaan ember bocor. Ia mulai merasa dirinya ember yang tak berguna. Ia tak dapat memberikan yang terbaik terhadap sang petani. Setiap hari ia hanya merasa menjadi beban, merugikan petani setengah dari kapasitas yang mestinya bisa ia bawa. Hari demi hari, batin ember bocor terasa semakin hampa dan tersiksa.
Suatu hari, petani menyadari ember bocor yang sedang menangis. Petani menanyakan alasan mengapa ember bocor merasa sedih. Setelah memahami semuanya, petani tersenyum sambil memandang hamparan langit biru, kemudian berujar, “tahukah engkau, kenapa aku bahagia memilikimu? Meskipun sepanjang perjalanan engkau menetes separuh air yang dibawa....”
Ember bocor terperanjat dan bertanya, “ke-ke-kenapa?” petani melanjutkan, “lihatlah hamparan jalan yang setiap hari kita lalui setiap hari. Salah satu sisi jalan ditumbuhi oleh bunga-bunga yang indah bukan? Tahukah engkau bunga-bunga itu tumbuh karena tetesan air yang jatuh darimu? Karena ‘ketidaksempurnaan’ yang engkau milikilah, bunga-bunga indah tersebut tumbuh berkembang!”
Suatu perasaan ringan spontan menggelora dalam diri ember bocor. Ya, dalam segenap kekurangan dan keburukan, ternyata masih ada keindahan yang dapat tumbuh. Keindahan yang mengalir bersama kuntum-kuntum bunga yang terseyum.
Minibalanar - 25/06/2012 10:19 AM
#3

Ibu Gajah yang Buta

Dahulu kala, di sebuah kaki bukit di pegunungan Himalaya, di dekat sebuah kolam teratai, lahirlah seekor bayi gajah. Bayi gajah ini luar biasa indah menawan, putih bersih seperti salju dengan wajah yang sedikit bersemu kemerahan seperti warna batu karang. Belalainya berkilau indah bagaikan utas tali yang berwarna keperakan, gadingnya yang kuat dan kokoh membentuk sedikit lengkungan yang manis.

Ia selalu mengikuti ibunya ke manapun. Ibu Gajah memetik daun terlembut dan buah mangga termanis dari pohon-pohon yang tinggi dan kemudian memberikannya. “Kamu dulu, baru Ibu,” Ibu Gajah berkata. Ia kemudian dimandikan oleh ibunya di kolam teratai yang sejuk diantara semerbak keharuman bunga. Dengan belalainya, Ibu Gajah menghisap air lalu menyemprotkannya ke kepala dan punggung anaknya hingga bersih mengkilap. Kemudian Anak Gajah ini diam-diam mengisi belalainya, dan dengan hati-hati menyemprotkan tepat ke dahi ibunya. Tanpa berkedip, Ibu Gajah balas menyemprotkan air. Balas membalas menyemprot, mereka dengan gembira saling membasahi satu sama lain. Splish! Splash!

Setelah lelah bermain, mereka kemudian beristirahat di atas tanah yang lembut dengan kedua belalai melengkung dan saling membelit satu sama lain. Di bawah bayang-bayang sore hari, Ibu Gajah beristirahat di balik keteduhan pohon jambu air, sambil melihat putranya bermain dengan penuh keriangan bersama anak-anak gajah lainnya.

Gajah kecil tumbuh dan tumbuh hingga ia menjadi gajah tergagah dan terkuat dalam kawanannya. Pada saat yang bersamaan, Ibu Gajah pun menjadi semakin tua. Gadingnya mulai retak dan menguning, dan tidak lama kemudian Ibu Gajah menjadi buta. Anak Gajah yang telah tumbuh dewasa dan kuat ini kemudian memetik daun terlembut dan buah mangga termanis dari pohon-pohon yang tinggi dan memberikannya kepada ibunya yang telah tua dan buta yang amat ia sayangi. “Ibu dulu, baru Aku,” ia berkata.

Ia memandikan ibunya di kolam teratai yang sejuk diantara semerbak keharuman bunga. Dengan belalainya, ia menyemprotkan air ke kepala dan punggung ibunya hingga bersih mengkilap. Setelah itu, mereka kemudian beristirahat di atas tanah yang lembut dengan kedua belalai saling membelit satu sama lain. Di bawah bayang-bayang sore hari, Anak Gajah menuntun ibunya untuk beristirahat di balik keteduhan pohon jambu air. Ia kemudian pergi bersama gajah-gajah yang lain.

Suatu hari seorang raja pergi berburu dan melihat seekor gajah putih yang begitu indah. “Luar biasa indah! Aku harus memilikinya sebagai peliharaan untuk ditunggangi!” Raja lalu menangkap gajah tersebut dan membawanya ke kandang istana. Raja memberikan kain sutra dan permata yang indah serta untaian kalung bunga teratai kepada gajah tersebut. Raja juga memberikannya rumput manis dan buah-buahan yang lezat serta air murni yang segar untuk diminum.

Akan tetapi, gajah tersebut tidak mau makan ataupun minum. Ia terus menerus menangis, dan menjadi semakin kurus dari hari ke hari. “Gajah yang mulia,” Raja berkata, “Aku menyayangimu dan memberimu sutra dan permata. Aku juga memberikan makanan terbaik dan air termurni, namun Engkau tidak juga mau makan dan minum. Lalu apa yang bisa membuatmu bahagia?” Gajah tersebut menjawab, “Sutra dan permata, makanan dan minuman tidak membuatku bahagia. Ibuku yang sudah tua dan buta sedang sendirian di hutan tanpa ada seorangpun yang merawatnya. Walaupun aku akan mati, aku tidak akan makan dan minum sebelum aku memberikannya terlebih dahulu kepada Ibu.”

Raja terharu dan berkata, “Tidak pernah aku menyaksikan kebaikan yang sedemikian rupa, bahkan diantara manusia. Tidaklah benar untuk mengurung gajah ini.” Setelah dilepaskan, gajah tersebut segera berlari diantara bebukitan mencari ibunya. Ia menemukan ibunya di tepi kolam teratai. Ibu Gajah berbaring di atas lumpur, terlalu lemah untuk bergerak. Dengan air mata yang membasahi pelupuk matanya, Anak Gajah tersebut mengisi belalainya dengan air dan menyemprotkan ke kepala dan punggung ibunya hingga bersih mengkilap. “Apakah hujan?” Ibu Gajah bertanya-tanya, “atau anakku telah kembali?” “Ini anakmu, Ibu!” ia berseru, “Raja telah membebaskan aku!” Ketika ia membersihkan mata ibunya, terjadi keajaiban. Penglihatan ibunya pulih kembali. “Semoga Raja hari ini berbahagia sebagaimana kebahagiaanku bisa melihat anakku kembali!” Ibu Gajah berkata.

Anak Gajah kemudian memetik daun terlembut dan buah mangga termanis dari sebuah pohon dan memberikannya kepada ibunya, “Ibu dulu, baru Aku.”
kecapasinreload - 25/06/2012 01:48 PM
#4

Quote:
Original Posted By Minibalanar
Ember Bocor Yang Sedih

Udara dingin pegunungan di sela deraian daun. Kemilau jingga keemasan mentari senja tampak memantul berganti-gantian di permukaan air yang beriak dalam dua ember yang dipikul seorang petani. Sebuah rutinitas yang tampaknya dijalani dengan keriangan hati.
Dalam hempasan nafas lelah yang panjang, tersirat binar kepuasandalam raut wajah sang petani pembawa ember air tesebut. Akan tetapi, suatu kala terjadi sesuatu diantara dua ember yang dipikul petani tersebut. Akan tetapi, sutu kala terjadi sesuatu di antara dua ember yang di pikul petani tersebut. Salah stu ember berujar kepada ember yang lain, “hei, cobalah lihat dirimu, ember bocor, bercerminlah. Sadarkah engkau setiap hari membuang setengah dari air yang terisi penuh?” Ember bocor kaget dan menyadari ada sebuah lubang hakus pada dirinya. Sepanjang perjalanan, air yang dibawahnya perlahan menetes keluar dan tersisa setengahnya ketika sampai di tujuan.
Kesedian mulai mengaduk-aduk perasaan ember bocor. Ia mulai merasa dirinya ember yang tak berguna. Ia tak dapat memberikan yang terbaik terhadap sang petani. Setiap hari ia hanya merasa menjadi beban, merugikan petani setengah dari kapasitas yang mestinya bisa ia bawa. Hari demi hari, batin ember bocor terasa semakin hampa dan tersiksa.
Suatu hari, petani menyadari ember bocor yang sedang menangis. Petani menanyakan alasan mengapa ember bocor merasa sedih. Setelah memahami semuanya, petani tersenyum sambil memandang hamparan langit biru, kemudian berujar, “tahukah engkau, kenapa aku bahagia memilikimu? Meskipun sepanjang perjalanan engkau menetes separuh air yang dibawa....”
Ember bocor terperanjat dan bertanya, “ke-ke-kenapa?” petani melanjutkan, “lihatlah hamparan jalan yang setiap hari kita lalui setiap hari. Salah satu sisi jalan ditumbuhi oleh bunga-bunga yang indah bukan? Tahukah engkau bunga-bunga itu tumbuh karena tetesan air yang jatuh darimu? Karena ‘ketidaksempurnaan’ yang engkau milikilah, bunga-bunga indah tersebut tumbuh berkembang!”
Suatu perasaan ringan spontan menggelora dalam diri ember bocor. Ya, dalam segenap kekurangan dan keburukan, ternyata masih ada keindahan yang dapat tumbuh. Keindahan yang mengalir bersama kuntum-kuntum bunga yang terseyum.


Sungguh sebuah "way of thinking" yang "amazing" banget \)
Thx untuk postingannya yang sangat bermanfaat bro

Saya nggak tau saya ember bocor atau tidak
Namun mudah2an ada bunga2 yang bersemi indah dengan adanya kehadiran saya di sepanjang jalan yang bernama "jalan kehidupan" ini
Minibalanar - 26/06/2012 08:50 AM
#5
Hachiko, Anjing yang Setia
Jika Anda mengunjungi Shibuya, pusat perbelanjaan terpadat di Tokyo, Anda mungkin akan menemukan sebuah patung anjing di salah satu pintu keluar stasiun. Patung ini didirikan untuk mengenang Hachiko, anjing ras Akita yang sangat terkenal akan kesetiaannya.

1923. Di musim dingin yang menggigit, diantara hamparan salju di Prefektur Akita, seekor anak anjing ditinggalkan oleh pemiliknya. Profesor Hidesaburo Ueno yang menemukan anak anjing ini merasa iba, dan membawanya pulang. Anak anjing yang imut dan lucu ini benar-benar menggemaskan dan membawakan kegembiraan hati bagi Profesor Ueno. Setiap hari Profesor selalu berbagi makanan dengannya, memandikannya dan merawatnya. Profesor memberikan nama “Hachiko” kepada anak anjing ini.

Hachiko pun sangat menyukai Profesor. Pada tahun 1924, Hachiko dibawa ke Tokyo oleh Profesor Ueno, yang memang mengajar jurusan pertanian di Universitas Tokyo. Setiap hari Profesor berangkat ke kampus menggunakan densha (kereta api) dari stasiun Shibuya. Setiap hari pula Hachiko selalu menemani Profesor berangkat ke stasiun Shibuya. Setelah Profesor berangkat, Hachiko pun akan pulang ke rumah dengan sendirinya, kemudian sore harinya, datang lagi ke stasiun Shibuya untuk menunggu kepulangan Profesor. Setiap kali Profesor turun dari densha, Hachiko pun terlihat telah menunggunya. Hachiko dan Profesor kemudian akan pulang ke rumah bersama-sama.

Demikianlah hari demi hari Hachiko selalu mengantarkan dan menemani Profesor Ueno.

Suatu hari, Profesor merasa kurang sehat. Walaupun demikian, Profesor tetap berangkat mengajar seperti biasanya. Hachiko pun, seperti biasanya, menemani Profesor berangkat ke stasiun Shibuya. Ketika sedang mengajar, Profesor tiba-tiba limbung dan terjatuh. Profesor Ueno mengalami serangan stroke. Murid-murid dan staf kampus yang kaget, segera membawa Profesor ke rumah sakit. Akan tetapi, nyawa Profesor tidak tertolong lagi.

Hachiko, sore harinya, seperti biasa berangkat lagi dari rumah ke stasiun Shibuya untuk menunggu kepulangan tuannya. Akan tetapi, kali ini, diantara kerumunan orang-orang yang turun dari densha, tidak ada sang Profesor. Hachiko terus menunggu dan menunggu, berharap sosok sang Profesor akan menghampirinya, dan bersama-sama pulang ke rumah.

Siang tergantikan malam. Akan tetapi, Profesor yang ditunggu-tunggu, tidak kunjung datang. Hachiko pun pulang kembali ke rumah.

Keesokan harinya, Hachiko datang lagi ke stasiun Shibuya, menunggu kepulangan sang Profesor. Akan tetapi, lagi-lagi Profesor yang dinanti-nantikan tak kunjung tiba.

Esok harinya, Hachiko datang lagi ke stasiun dan menunggu. Esoknya lagi… dan esoknya lagi. Tidak peduli hamparan salju yang membeku di musim dingin, maupun udara musim panas yang lembab dan gerah, setiap harinya Hachiko pasti selalu datang menunggu.

Para penumpang yang mengetahui bahwa Hachiko sedang menunggu tuannya yang tidak akan pernah kembali lagi, merasa simpati dan mencoba memberitahukan, “Hachiko, tuanmu tidak akan pernah kembali lagi, tidak perlu menunggu lagi.”

Akan tetapi, Hachiko tetap menunggu. Tanpa pernah absen seharipun, selama hampir 11 tahun, Hachiko tetap menunggu…

Suatu pagi, seorang petugas stasiun menemukan tubuh seekor anjing yang sudah kaku meringkuk di pojokan jalan. Anjing itu telah menjadi mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada tuannya pun terbawa sampai mati.

Warga yang mendengar kematian Hachiko pun berdatangan ke stasiun Shibuya. Mereka ingin menghormati untuk terakhir kalinya, menghormati arti dari sebuah kesetiaan yang kadang justru sulit ditemukan pada diri manusia.

Untuk mengenang Hachiko, warga pun membuat sebuah patung di dekat stasiun Shibuya. Jika Anda mengunjungi Shibuya, Anda akan menemukan patung Hachiko di sisi utara stasiun Shibuya saat ini.

Sampai saat ini pun, sekitaran patung Hachiko suka dijadikan tempat janjian bertemu oleh orang-orang ataupun sepasang kekasih. Mereka berharap akan ada kesetiaan seperti yang telah dicontohkan oleh Hachiko saat mereka menunggu maupun berjanji untuk datang.

Oleh orang Jepang, Hachiko dikenang dengan sebutan 忠犬ハチ公 (Chuuken Hachiko) yang berarti “Hachiko yang setia”.
cabolaki - 26/06/2012 09:59 AM
#6

om ini modelnya kayak chicken soup ya?
Minibalanar - 26/06/2012 05:17 PM
#7

Quote:
Original Posted By cabolaki
om ini modelnya kayak chicken soup ya?


Ya bisa dikatakan gitu, tetapi kalau chiken soup kumpulan kisah dari berbagai orang yang nyata D
dp354 - 26/06/2012 07:59 PM
#8

panjang bener wacananya? gk kuat baca gan
tatakadhep - 26/06/2012 10:08 PM
#9

pejwaan...ngakak ngakak
ayooo... dilanjut lagi kisah inspiratif nyaa gan...(pengengratisan)ngakak ngakak
tatakadhep - 26/06/2012 10:09 PM
#10

Quote:
Original Posted By dp354
panjang bener wacananya? gk kuat baca gan


yaaahhh.. si agannn.. keren tau gan...:toast
Minibalanar - 27/06/2012 09:16 AM
#11

Bulan Yang Indah

Ryokan, seorang guru zen, hidup sangat sederhana di sebuah pondok kecil di kaki sebuah gunung. Suatu petang, seorang pencuri mendatangi pondok itu, hanya untuk menemukan tak ada apa pun di situ yang dapat di curi.

Ryokan pulang dengan memergokinya. “kamu mungkin sudah berjalan jauh untuk mengunjunginku,” katanya kepada pencuri itu, “dan kamu tidak semestinya pulang dengan tangan kosong. ambillah pakaianku sebagai hadiah.”

pencuri itu kebingunan. ia mengambil pakaian itu dan menyelonong pergi.

Ryokan sudah duduk telanjang, menatap bulan. “teman yang malang,” ia termenung “aku berharap bisa memberinya bulan yang indah ini.”
Minibalanar - 27/06/2012 09:18 AM
#12

Burung Gagak yang Kedinginan

Di musim dingin yang menusuk, ditambah dengan guyuran hujan yang deras, kadangkala aku mendengar pekikan suara burung. Suara burung yang parau kedinginan itu pastilah suara burung gagak, pikirku. Kadang aku merasa kasihan kepada burung gagak yang kedinginan tersebut. Menurut hukum fisika, benda yang berwarna hitam lebih gampang menyerap panas, namun juga lebih mudah melepaskan panas. Tidak dapat terbayangkan berapa banyak panas tubuh gagak yang terbuang ke atmosfir melalui bulu-bulunya yang hitam tersebut. (Itulah sebabnya orang-orang Nordik (Eropa Utara) memiliki kulit yang demikian putih seperti salju – mungkin ini salah satu bentuk adaptasi terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim).

Beruntung sekali aku masih bisa bersemayam di kamar yang dihangati oleh heater. Tidak terbayangkan bagaimana kalau aku adalah si gagak yang kedinginan tersebut, yang berkoak dalam nada suara rendah yang parau.

Ngomong-ngomong tentang gagak, entah kenapa ada banyak sekali gagak di Jepang ini. Bahkan di seputaran kawasan Tokyo juga tidak jarang aku menemukan gagak (berbeda dengan di kota besar di Indonesia yang hampir tidak ada seekorpun).

Gagak adalah burung yang sangat cerdas. Tidak jarang sampah makanan yang telah dikemas rapi dalam kantong plastik pun bisa dibuka oleh gagak. Anda mungkin juga pernah menonton film dokumenter tentang bagaimana burung gagak di kawasan tertentu memanfaatkan kereta api yang melintas untuk memecahkan semacam biji kenari yang amat keras. Ternyata di balik bulu hitam serta penampilannya yang jelek dan tidak menarik, ternyata gagak masih memiliki kelebihan dalam hal tingkat kecerdasannya.

Bercerita tentang gagak, ada satu kisah dari Rumania yang menarik untuk disimak, mengenai kasih sayang ibu gagak kepada anak-anaknya.



—————————————— 212;—————



Dari semua jenis burung, gagak lah yang paling jelek, terutama anak-anak gagak. Konon, ada legenda bahwa beberapa saat setelah Tuhan menciptakan semua makhluk hidup, Ia memanggil semuanya datang untuk melihat anak-anak keturunan mereka. Ia ingin mengetahui bagaimana wujud anak-anak burung dan binatang tersebut, agar bisa memberikan hadiah dan makanan yang sesuai bagi si kecil.

Mereka pun datang satu per satu, dan Tuhan melihat mereka, membelai dengan lembut dan mengelus anak-anak tersebut, merasa bahagia terhadap setiap anak, karena tiap anak memiliki sesuatu keindahan dalam diri mereka. Maka Tuhan memberkati mereka dan memberikan mereka makanan untuk hidup. Yang terakhir datang adalah ibu gagak, sambil menggendong anak-anaknya yang masih kecil yang amat ia banggakan.

Ketika Tuhan mengarahkan tatapannya ke anak-anak gagak, Ia kaget dan berkata, “Pasti ini bukan makhluk ciptaanku. Tidak mungkin Aku telah menciptakan makhluk sejelek ini. Setiap makhluk ciptaanku memiliki anak-anak yang begitu cantik dan enak dilihat, akan tetapi anak-anakmu sedemikian jelek dan tidak sedap dipandang. Darimana engkau mendapatkan mereka?”

“Darimana aku mendapatkan mereka?” jawab ibu gagak. “Mereka adalah anak-anakku sendiri,” ia berkata dengan bangga.

“Lebih baik engkau pulang kembali dan membawakanku anak-anak yang lain. Yang ini terlalu jelek. Aku tidak bisa melihatnya.”

Terusik dengan kata-kata Tuhan, ibu gagak kemudian pergi dan terbang ke seluruh penjuru bumi untuk mencari anak-anak yang lebih cantik daripada anak-anak yang telah ia tunjukkan kepada Tuhan. Akan tetapi, di matanya tidak ada seekorpun anak burung lain yang lebih cantik dibandingkan anaknya sendiri. Sehingga ia kembali menemui Tuhan dan berkata, “Aku telah keliling seluruh dunia, telah mencari di kedalaman bumi dan ketinggian angkasa, akan tetapi aku tidak menemukan adanya anak burung yang lebih cantik dan lebih imut dibandingkan anak-anakku.”

Tuhan lalu tersenyum dan menjawab, “Agaknya benar. Memang begitulah semua ibu. Di mata mereka, tidak akan ada anak yang lebih cantik dibanding anaknya sendiri.”

Tuhan lalu memberkati anak-anak gagak tersebut dan mengirimkan mereka ke dunia bersama dengan karunia yang Ia berikan.
Minibalanar - 28/06/2012 09:12 PM
#13

Hailibu, Sang Pemburu


Dahulu kala, hiduplah seorang pemburu yang bernama Hailibu. Ia adalah seseorang yang suka menolong orang lain. Daripada menyimpan semua hasil buruannya untuk diri sendiri, biasanya ia membagi-bagikan hasil buruannya kepada para tetangganya. Hal ini membuatnya sangat populer. Suatu hari Hailibu pergi berburu memasuki hutan yang sangat dalam di pegunungan. Di suatu pinggiran hutan yang lebat, ia melihat seekor ular putih kecil yang sedang melingkar dan tidur terlelap di bawah pohon. Karena tidak ingin membuatnya terbangun, Hailibu berjingkat perlahan dan berlalu. Tepat pada momen ini, seekor Bangau kelabu terbang melintas, menerkam ular kecil tersebut, mencengkramnya dan kemudian terbang pergi menukik ke angkasa.

Terbangun dalam kekagetan, ular putih kecil berteriak, “Tolong! Tolong!” Hailibu dengan segera membidikkan anak panahnya dan melepaskan tembakan ke bangau kelabu yang sedang terbang naik ke dinding gunung. Bangau itu mengelak dari anak panah dan menjatuhkan ular kecil tersebut, kemudian terbang pergi. Hailibu berkata kepada ular kecil, “Kamu makhluk kecil yang malang. Pulanglah ke rumah orang tuamu.” Ular kecil itu menganggukkan kepalanya sebagai ungkapan terima kasih dan kemudian menghilang diantara rerimbunan tebal. Hailibu menyarungkan anak panahnya, menggantungkan busur di bahunya dan kemudian pulang.

Hari berikutnya, ketika melewati tempat itu lagi, Hailibu melihat seekor ular putih kecil merangkak datang kepadanya, dikawal oleh sekumpulan pengawal ular. Dalam keheranan Hailibu, ular kecil berkata, “Apa kabar, penyelamatku? Kamu mungkin tidak dapat mengenaliku. Aku adalah putri dari Raja Naga. Kemarin kamu telah menyelamatkan nyawaku. Orangtuaku secara khusus menyuruhku datang kesini untuk mengundangmu datang ke rumah kami, sehingga mereka dapat mengungkapkan rasa terima kasihnya secara pribadi kepadamu.” Ular kecil melanjutkan, “Ketika kamu tiba di sana, janganlah terima apapun yang ditawarkan orang tuaku, melainkan mintalah batu berharga yang disimpan ayahku di dalam mulutnya.

Dengan batu berharga tersebut di mulutmu, kamu akan bisa memahami bahasa dari seluruh kerajaan binatang. Tapi kamu tidak boleh memberitahukan hal ini kepada orang lain, jika tidak, tubuhmu akan berubah menjadi batu, dan kamu akan mati.”

Mendengar hal ini, Hailibu mengangguk dan mengikuti ular kecil tersebut. Jalan yang mereka lewati menuju ke sebuah lembah yang dalam, dan semakin jauh Hailibu berjalan, ia merasa semakin dingin. Mereka kemudian tiba di depan sebuah pintu yang lebar, dan ular putih kecil berkata, “Orangtuaku sedang menunggumu di pintu masuk ruang penyimpanan. Mereka sekarang ada di sini.” Selagi ular kecil berbicara, Raja Naga melangkah maju dan menyambut Hailibu serta berkata dengan rasa hormat, “Engkau telah menyelamatkan putriku tersayang. Saya berterima kasih dari lubuk hati yang terdalam. Ini adalah ruang penyimpanan tempat saya menyimpan harta dan pusaka berharga.

Izinkanlah saya menunjukkannya padamu. Ambil saja apapun barang yang Engkau sukai, mohon jangan merasa sungkan.” Setelah mengatakan hal ini, Raja Naga membuka ruang penyimpanannya dan membawa Hailibu masuk. Ruang itu penuh dengan permata dan mutiara, penuh kilau dan kemegahan.

Raja Naga yang sudah tua tersebut membawanya dari satu ruang ke ruang lain. Setelah mereka melewati seratus delapan ruang tanpa satupun barang dipilih oleh Hailibu, Raja Naga berkata dengan rasa malu, “Tuan, apakah tidak ada satupun barang yang Engkau sukai?” Hailibu menjawab, “Barang-barang tersebut sangat bagus, tapi mereka hanyalah bisa digunakan sebagai pajangan. Mereka tidak berguna untuk seorang pemburu seperti saya. Jika Yang Mulia benar-benar ingin memberikan saya sesuatu sebagai kenang-kenangan, mohon berilah saya batu berharga yang ada di dalam mulut Yang Mulia.” Mendengar hal ini, Raja Naga menundukkan kepala-nya, merenung sejenak, kemudian dengan canggung memuntahkan batu berharga dari mulutnya dan memberikannya kepada Hailibu.

Lantas, Hailibu kini menjadi pemilik dari batu berharga tersebut. Setelah ia meninggalkan Raja Naga, dalam perjalanannya pulang, ia diikuti oleh ular kecil. Ular kecil terus menerus memperingatkannya, “Dengan batu berharga, kamu bisa mengetahui segalanya. Tapi kamu tidak boleh membocorkan apa yang kamu ketahui. Jika tidak, malapetaka akan menimpamu! Jangan sampai lupa!” Sejak saat itu, mudah sekali bagi Hailibu untuk berburu di gunung-gunung, karena ia memahami bahasa dari burung-burung serta binatang liar dan juga mengetahui dengan pasti binatang apa saja yang ada di sisi lain gunung.

Beberapa tahun telah berlalu... Suatu hari ia pergi berburu di gunung-gunung seperti biasanya. Tiba-tiba ia mendengar sekumpulan burung sedang berdiskusi selagi mereka terbang di udara, “Kita harus secepatnya pindah! Besok gunung-gunung sekitar sini akan meletus; ladang-ladang akan diterjang banjir dan tiada yang tahu berapa banyak hewan yang akan mati tenggelam!”

Mendengar hal ini, Hailibu menjadi sangat prihatin dan tidak lagi punya niat untuk berburu. Ia segera bergegas pulang dan berkata kepada para tetangganya, “Kita harus segera mengungsi secepatnya! Kita tidak bisa tinggal di sini lagi! Kalian semua harus mempercayaiku! Jangan tunggu sampai terlambat!” Mereka semua kebingungan terhadap apa yang Hailibu katakan.

Beberapa dari mereka berpikir bahwa tidak mungkin ada bencana yang sedashyat itu, beberapa lagi mengira bahwa Hailibu telah menjadi gila. Tak ada satupun yang mempercayainya. Hailibu, dengan air mata yang membasahi pipinya, berkata kepada mereka dengan putus asa, “Apakah aku harus mati agar bisa meyakinkan kalian?”

Beberapa orang sesepuh desa berkata pada Hailibu, “Kami semua tahu bahwa Engkau tidak pernah berbohong kepada kami selama ini. Tapi sekarang Engkau mengatakan semua ini tentang gunung-gunung meletus dan ladang-ladang diterjang banjir. Dapatkah Engkau memberitahu kami apa yang membuatmu begitu yakin bahwa semua ini akan terjadi?”

Hailibu merenung dan berpikir, “Bencana begitu jelas di depan mata. Bagaimana mungkin aku melarikan diri sendirian dan membiarkan para penduduk desa musnah? Biarlah aku mengorbankan diriku untuk menyelamatkan mereka.” Jadi Hailibu memberitahukan kepada para penduduk desa semua kisahnya, tentang bagaimana ia mendapatkan batu berharga dan menggunakannya untuk berburu; tentang bagaimana ia mendengar sekawanan burung membicarakan malapetaka dan merencanakan pengungsian. Dia juga memberitahukan mereka bahwa sebenarnya ia tidak boleh memberitahukan hal ini kepada orang lain, kalau tidak, tubuhnya akan berubah menjadi batu dan ia akan mati. Selagi Hailibu berbicara, tubuhnya sedikit demi sedikit menjadi batu.

Para penduduk desa, melihat apa yang telah terjadi, merasa sangat sedih dan menyesal. Mereka segera mengungsi ke tempat lain, membawa serta semua ternak mereka. Selagi mereka bergegas pindah, langit mulai menjadi kelam dan hujan deras turun sepanjang malam. Pagi harinya, mereka mendengarkan gelegar halilintar sahut menyahut dan getaran dashyat yang seakan mengguncang hingga ke dasar bumi. Gunung-gunung meletus, mengirimkan air Bah yang membanjiri dan menenggelamkan ladang-ladang.

Tersentuh sedemikian mendalam, para penduduk desa berkata, “Seandainya Hailibu tidak mengorbankan hidupnya untuk kita, kita semua pasti sudah mati ditenggelamkan banjir!” Beberapa lama sesudah itu, penduduk desa menemukan tubuh Hailibu yang telah berubah menjadi batu dan menempatkannya di atas puncak gunung. Generasi demi generasi, mereka memberikan persembahan kepada patung ini sebagai penghormatan dan kenangan terhadap Hailibu, pahlawan yang mengorbankan hidupnya untuk menyelamatkan orang lain. Bahkan hingga saat inipun, konon masih ada satu tempat yang dinamakan “Patung Hailibu”.
Minibalanar - 28/07/2012 01:42 PM
#14

Kadal di antara Dinding

ADA SEBUAH KISAH NYATA YANG TERJADI DI JEPANG. KETIKA SEDANG DI RENOFASI SEBUAH RUMAH, SESEORANG MENCOBAH MERONTOKAN DINDING. RUMAH DI JEPANG BIASANYA MEMILIKI RUANG KOSONG DI ANTARA DINDING YANG TERBUAT DARI KAYU, KETIKA DINDING MULAI RONTOK, DIA MENEMMUKAN SEEKOR KADAL TERPERANGKAP DI ANTARA RUANG KOSONG ITU KARENA KAKINYA TERTANCAP PADA SEBUAH PAKU. DIA MERASA KASIHAN SEKALIGUS PENASARAN. PAKU TERSEBUT TALAH ADA DI SITU 10 TAHUN LALU KETIKA RUMAH ITU PERTAMA KALI DI BANGUN. APA YANG TERJADI ????
BAGAIMANA KADAL ITU DAPAT BERTAHAN DENGAN KONDISI TERPERNGKAP SELAMA 1O TAHUN ??? DALAM KEADAAN GELAP SELAMA 10 TAHUN, TANPA BERGERAK SEDIKITPUN, ITU ADALAH SESUATU YANG MUSTAHIL DAN TIDAK MASUK AKAL. ORANG ITU LALU BERPIKIR, BAGAIMANA KADAL ITU DAPAT BERTAHAN SELAMA 10 TAHUN, TANPAH BERPINDAH DARI TEMPATNYA SEJAK KAKINYA TERTANCAP DARI PAKU ITU, ! ORANG ITU LALU MENGHENTIKAN PEKERJAANYA DAN MEMPERHATIKAN KADAL ITU, APA YANG DI LAKUKAN DAN APA YANG DI MAKANNYA HINGGA DAPAT BERTAHAN. TERNYATA TIDAK LAMA KEMUDIAN TIDAK TAHU DARI MANA DATANGNYA SEEKOR KADAL LAIN MUNCUL DENGAN MAKANAN DI MULUTNYA...........
ORANG ITU MERASA TERHARU MELIHAT ITU. TERNYATA ADA SEEKOR KADAL LAIN YANG SELALU MEMPERHATIKAN KADAL YANG TERPERANGKAP ITU SELAMA 10 TAHUN. SUNGGUH INI SEBUAH CINTA... CINTA YANG INDAH. CINTA DAPAT TERJADI BAHKAN PADA HEWAN YANG KECIL SEPERTI DUA EKOR KADAL ITU. APA YANG DAPAT DILAKUKAN OLEH CINTA ? TENTU SAJA SEBUAH KEAJAIBAN. BAYANGKAN, KADAL ITU TIDAK PERNAH MENYERH DAN TIDAK PERNAH BERHENTI MEMPERHATIKAN PASANGANYA SELAMA 10 TAHUN. BAYANGKAN BAGAIMANA HEWAN YANG KECIL ITU DAPAT MEMILIKI KARUNIA BEGITU MENGAGUMKAN.

Cintailah Orang yang kamu sayangi dengan tulus saat kamu masih dapat memberikan cintamu
Minibalanar - 05/08/2012 08:12 PM
#15

Katak yang Nakal

Seekor anak katak tinggal bersama ibunya yang telah menjanda di sebuah kolam yang besar. Anak katak ini luar biasa nakal dan pembuat onar, ia tidak pernah mau mendengarkan nasehat ibunya dan selalu membuat ibunya sedih dan juga malu.

Kalau Ibu Katak menyuruhnya pergi bermain ke bukit, ia pergi ke tepi pantai. Kalau ibunya minta ia ke desa atas, ia ke desa bawah. Kalau ibunya menyuruhnya ini, ia melakukan itu. Apapun yang ibunya katakan, ia selalu melakukan kebalikannya.

“Apa yang harus aku lakukan terhadap anak ini?” Ibu Katak mengomel. “Kenapa ia tidak bisa bersikap seperti anak-anak katak lainnya? Mereka selalu mendengarkan dan melakukan apa yang disuruh; mereka juga selalu patuh dan baik hati. Aku tidak tahu ia akan jadi apa kalau ia terus bersikap seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu untuk menghentikan kebiasaan buruknya.” Ibu Katak menghela nafas panjang.

“Ha! Ha! Ha!” Anak Katak tertawa. “Hentikan semua omelan itu. Ibu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja sebagaimana adanya.”

“Benarkah itu?” tanya Ibu Katak. “Lalu kenapa kamu bahkan tidak bisa bersuara dengan benar? Kamu bahkan tidak mengeluarkan suara layaknya seekor katak. Sini, Ibu ajari kamu.” Sambil tersenyum, Ibu Katak mengeluarkan suara ‘Kruok! Kruok!’, “Sekarang kamu coba!”

Sambil menyeringai lebar, Anak Katak mengeluarkan suara ‘Kruik! Kruik!’

“Kenapa kamu nakal sekali! Apa kamu ingin membuat Ibu mati penasaran?!” teriak Ibu Katak. “Dengarkanlah Ibu kalau kamu ingin menjadi katak yang baik. Sekarang kamu…”

“Kruik! Kruik!” sahut si Anak Katak, sambil melompat pergi.

Hari demi hari Ibu Katak memarahi anaknya, tapi si Anak Katak tetap saja melakukan apa yang ia inginkan dan selalu melakukan kebalikan dari apa yang dikatakan oleh ibunya. Ibu Katak merasa resah dan sedemikian kuatir mengenai anaknya sampai-sampai Ibu Katak jatuh sakit. Tetap saja, si Anak Katak masih nakal dan bertingkah laku sesukanya.

Suatu hari Ibu Katak, terbaring di ranjang, memanggilnya, “Anakku,” ia berkata, “Ibu merasa tidak akan hidup lama lagi. Ketika Ibu mati, janganlah kubur Ibu di gunung, kuburlah Ibu di samping sungai.” Ibu Katak mengatakan ini karena ia tahu bahwa anaknya akan melakukan kebalikan dari apa yang disuruhnya.

Beberapa hari kemudian, Ibu Katak tiada. Anak Katak menangis dan terus menangis. “Oh, Ibuku yang malang! Aku telah membuat Ibu demikian resah karena tingkah lakuku. Kenapa aku tidak pernah mendengarkan kata-kata Ibu?!” Anak Katak menyalahkan dirinya. “Sekarang Ibu telah pergi. Aku telah membunuh Ibu. Aku membunuh Ibu.”

Anak Katak teringat kembali masa-masa ketika bersama ibunya dan semua masalah serta kenakalan yang telah ia lakukan terhadap ibunya. Lalu ia berkata dalam hati, “Aku selalu melakukan kebalikan dari apa yang Ibu suruh karena aku mengira itu menyenangkan. Akan tetapi kali ini aku akan melakukan sesuai permintaan terakhir Ibu.”

Jadi, Anak Katak mengubur ibunya di samping sungai, walaupun ia merasa hal itu kuranglah bijaksana.

Beberapa minggu kemudian, terjadilah hujan badai. Hujan yang sedemikian deras menyebabkan sungai meluap. Anak Katak tidak bisa tidur karena terus mengkhawatirkan kuburan ibunya akan terhanyut oleh luapan air. Akhirnya ia pergi untuk menjaga kuburan ibunya.

Di tengah guyuran hujan, Anak Katak duduk, dan terus menerus menangis, “Kruok! Kruok! Mohon janganlah menghanyutkan Ibu!” Dan itulah yang dilakukan oleh si Anak Katak setiap kali hujan turun.

Dan sejak saat itulah, katak-katak akan selalu bersuara “Kruok! Kruok!” setiap kali hujan turun.
Minibalanar - 19/10/2012 11:38 PM
#16

Sundul dulu D

Nanti lanjutin di new kaskus D
Home > CASCISCUS > BUKU new > Kasih Selembut Awan