DEBATE CLUB
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > [HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part 26
Total Views: 120009 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 2 of 222 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›

arif juve - 07/08/2012 05:38 AM
#21

FOS berarti kebebasan dalam batasan konten atau tema-tema yang terkandung dalam sub forum ini, dimana kita ketahui bahwasannya ada konten2x yang tabu atau tidak pantas dikatakan dalam kehidupan sehari hari, seperti contoh adalah apabila ada pihak-pihak yang berbeda agama bertanya-tanya masalah keagamaan, terkadang hal seperti ini tabu bagi sebagian orang. ABMM memberikan wadah sebagai bagian dari FOS DC untuk tempat tanya jawab seputar keagamaan islam.

NAMUN PERLU DIINGAT : FOS adalah mengenai konten postingan,, bukan mengenai gaya atau cara atau cita rasa atau bagaimana kalian menulisnya dalam bentuk postingan. Oleh karena itu, ABMM akan mengikuti segala general rules di DC dengan tag [HOLY]. Selain itu ABMM memiliki aturan sendiri sebagai bentuk keunikan ABMM dengan thread lain.

Akhir kata, selamat menggunakan konten FOS ABMM.
semak.belukar - 07/08/2012 06:05 AM
#22

Hukum Menggambar Dalam Islam
Bagian 1

Quote:

[Hadits-hadits tentang masalah menggambar dalam Islam telah kami bawakan sebagiannya di sini, silakan dibaca terlebih dahulu. Dan karena banyaknya pembagian yang akan kami sebutkan nantinya, maka butuh kami ingatkan kepada pembaca sekalian agar memperhatikan betul setiap bagian dan harus pandai memisahkan antara pembagian yang satu dengan yang lainnya agar tidak timbul kesalahpahaman dalam memahami apa yang kami tulis]

Sebelum kita mulai pembahasan mengenai hukum gambar bernyawa, maka terlebih dahulu kita harus mengetahui sebab diharamkannya gambar bernyawa dalam syariat Islam. Maka kami katakan:

Ada dua perkara yang menjadi sebab diharamkannya gambar bernyawa:
1. Karena dia disembah selain Allah.
Ini berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu anha dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang gambar-gambar yang ada di gereja Habasyah:
إِنَّ أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيهِمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلكَ الصُّوَرَ فَأُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Mereka (ahli kitab), jika ada seorang yang saleh di antara mereka meninggal, mereka membangun masjid di atas kuburnya dan mereka menggambar gambar-gambar itu padanya. Merekalah makhluk yang paling jelek di sisi Allah pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari no. 427 dan Muslim no. 528)
Juga berdasarkan hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُون 614;
“Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah para penggambar.” (HR. Al-Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109)
Dan sudah menjadi kesepakatan para ulama bahwa dosa yang siksaannya paling besar adalah kesyirikan.
Al-Khaththabi berkata, “Tidaklah hukuman bagi (pembuat) gambar (bernyawa) itu sangat besar kecuali karena dia disembah selain Allah, dan juga karena melihatnya bisa menimbulkan fitnah, dan membuat sebagian jiwa cendrung kepadanya.” Al-Fath (10/471)

2. Dia diagungkan dan dimuliakan baik dengan dipasang atau digantung, karena mengagungkan gambar merupakan sarana kepada kesyirikan.
Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin berkata dalam Al-Qaul Al-Mufid (3/213), “Alasan disebutkannya kuburan bersama dengan gambar adalah karena keduanya bisa menjadi sarana menuju kesyirikan. Karena asal kesyirikan pada kaum Nuh adalah tatkala mereka menggambar gambar orang-orang saleh, dan setelah berlalu masa yang lama merekapun menyembahnya.”
Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah (1/455) disebutkan, “Karena gambar bisa menjadi sarana menuju kesyirikan, seperti pada gambar para pembesar dan orang-orang saleh. Atau bisa juga menjadi sarana terbukanya pintu-pintu fitnah, seperti pada gambar-gambar wanita cantik, pemain film lelaki dan wanita, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang.”

Tambahan:
Sebagian ulama menambahkan illat (sebab) pengharaman yang lain yaitu karena gambar bernyawa menyerupai makhluk ciptaan Allah. Mereka berdalil dengan hadits Aisyah:
إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُشَبِّهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ
“Sesungguhnya manusia yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah mereka yang menyerupakan makhluk Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 5954 dan Muslim no. 5525 dan ini adalah lafazhnya)
Hanya saja sebagian ulama lainnya menolak illat ini dengan beberapa alasan:
1. Makhluk-makhluk Allah sangat banyak, seandainya sebab larangan menggambar adalah karena menyerupai ciptaan Allah, maka keharusannya dilarang juga untuk menggambar matahari, langit, pegunungan, dan seterusnya, karena mereka semua ini adalah makhluk Allah. Padahal para ulama telah sepakat akan bolehnya menggambar gambar-gambar di atas.
2. Dalil-dalil telah menetapkan dikecualikannya mainan anak-anak dari larangan gambar bernyawa, dan tidak diragukan bahwa mainan anak-anak juga mempunyai kemiripan dengan makhluk ciptaan Allah. Tapi bersamaan dengan itu Nabi shallallahu alaihi wasallam mengizinkan Aisyah untuk bermain boneka.
3. Dalil-dalil juga mengecualikan bolehnya menggunakan gambar-gambar bernyawa jika dia tidak dipasang atau digantung atau dengan kata lain dia direndahkan dan dihinakan. Ini berdasarkan hadits Aisyah yang akan datang, dimana Nabi shallallahu alaihi wasallam mengizinkan Aisyah membuat bantal dari kain yang bergambar, padahal gambar tersebut menyerupai ciptaan Allah.
4. Ketiga alasan di atas menghantarkan kita kepada alasan yang keempat yaitu tidak mungkinnya kita memahami hadits Aisyah di atas dengan pemahaman bahwa alasan diharamkannya gambar hanya karena dia menyerupai ciptaan Allah semata. Akan tetapi kita harus memahaminya dengan makna ‘penyerupaan’ yang lebih khusus, yaitu menyerupakan Allah dengan makhluk yang dia gambar tersebut. Ini bisa kita lihat dari kalimat: يُشَبِّهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ Hal itu karena orang-orang Arab tidak pernah mengikutkan huruf ‘ba’ pada maf’ulun bihi (objek). Akan tetapi mereka hanya menggunakan susunan kalimat seperti ini jika pada kalimat tersebut terdapat maf’ulun bih baik disebutkan seperti pada kalimat: كسرْتُ بالزجاجةِ رأسَه (aku memecahkan kepalanya dengan kaca) maupun jika dia dihilangkan seperti pada hadits Aisyah di atas: يُشَبِّهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ, dimana kalimat lengkapnya (taqdirnya) -wallahu a’lam- adalah: الذين يشبهون الله بخلق الله (mereka yang menyerupakan Allah dengan makhluk Allah) yakni dia juga menyerahkan ibadah kepada gambar tersebut sebagaimana dia beribadah kepada Allah, atau dengan kata lain dia berbuat kesyirikan kepada Allah bersama gambar-gambar tersebut.
Makna inilah yang ditunjukkan dalam hadits-hadits ada seperti hadits Ibnu Mas’ud yang tersebut pada illat pertama di atas, dimana penggambar disifati sebagai manusia yang paling keras siksaannya. Dan sudah dimaklumi bahwa manusia yang paling keras siksaannya adalah kaum kafir dan orang-orang musyrik.
Juga hadits Aisyah radhiallahu anha dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang gambar-gambar yang ada di gereja Habasyah:
إِنَّ أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيهِمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلكَ الصُّوَرَ فَأُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Mereka (ahli kitab), jika ada seorang yang saleh di antara mereka meninggal, mereka membangun masjid di atas kuburnya dan mereka menggambar gambar-gambar itu padanya. Merekalah makhluk yang paling jelek di sisi Allah pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari no. 427 dan Muslim no. 528)
Dan tentunya manusia yang paling jelek adalah orang-orang kafir dan musyrik.
Juga hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Saya mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي فَلْيَخْلُقُوا بَعُوضَةً أَوْ لِيَخْلُقُوا ذَرَّةً
“Allah Azza wa Jalla berfirman, “Siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang berkehendak mencipta seperti ciptaan-Ku. Kenapa mereka tidak menciptakan lalat atau kenapa mereka tidak menciptakan semut kecil (jika mereka memang mampu)?!” (HR. Al-Bukhari no. 5953, Muslim no. 2111, Ahmad, dan ini adalah lafazhnya)
Maksud hendak mencipta seperti ciptaan-Ku adalah: Bermaksud menandingi sifat penciptaan Allah, dan ini jelas merupakan kesyirikan dalam rububiah, karenanya dia dikatakan sebagai makhluk yang paling zhalim karena kesyirikan adalah kezhaliman yang paling besar. Adapun bermaksud menyerupai makhluk tanpa bermaksud menyerupai sifat penciptaan, maka hal itu tidak termasuk dalam hadits ini.
Kesimpulannya: Illat (sebab) diharamkannya gambar hanya terbatas pada dua perkara yang disebutkan pertama. Adapun karena menyerupai ciptaan Allah, maka tidak ada dalil tegas yang menunjukkan dia merupakan sebab terlarangnya menggambar, wallahu a’lam.

bersambung....
LuckyBringer - 07/08/2012 06:05 AM
#23

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
Demi waktu matahari sepenggalahan naik,

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
dan demi malam apabila telah sunyi (gelap),

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).
amiy87 - 07/08/2012 06:06 AM
#24

nungguin dari kemaren malah ketinggalan....capedes


========================================

insyaAllah untuk index pertanyaan dan jawaban penting.iloveindonesias
semak.belukar - 07/08/2012 06:07 AM
#25

sambungan - 2

Hukum Menggambar Dalam Islam

Quote:

Setelah kita memahami sebab dilarangnya menggambar, maka berikut kami bawakan secara ringkas hukum menggambar dalam Islam, maka kami katakan:
Gambar terbagi menjadi 2:
1. Yang mempunyai roh. Ini terbagi lagi menjadi dua:
a. Yang 3 dimensi. Ini terbagi menjadi dua:
Pertama: Gambar satu tubuh penuh.
Jika bahan pembuatnya tahan lama -seperti kayu atau batu atau yang semacamnya-, maka hampir seluruh ulama menyatakan haramnya secara mutlak, baik ditujukan untuk disembah maupun untuk selainnya. Sementara dinukil dari Abu Said Al-Ashthakhri Asy-Syafi’i bahwa dia berpendapat: Gambar 3 dimensi hanya haram dibuat jika ditujukan untuk ibadah. Akan tetapi itu adalah pendapat yang lemah.

Adapun yang bahan bakunya tidak tahan lama, misalnya dibuat dari bahan yang bisa dimakan lalu dibentuk menjadi gambar makhluk, seperti coklat, roti, permen, dan seterusnya. Yang benar dalam masalah ini adalah jika dia dibuat untuk dipasang atau digantung maka itu diharamkan. Akan tetapi jika dia dibuat untuk dimakan atau dijadikan mainan anak maka tidak mengapa karena itu adalah bentuk menghinakannya, dan akan diterangkan bahwa mainan anak-anak dikecualikan dari hukum ini.

Kemudian, di sini ada silang pendapat mengenai mainan anak-anak, apakah diperbolehkan atau tidak. Ada dua pendapat di kalangan ulama:
Pertama: Boleh. Ini adalah mazhab Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, dan yang diamalkan oleh kebanyakan ulama belakangan dari mazhab Ahmad. Dan inilah pendapat yang lebih tepat.
Mereka berdalil dengan hadits dari Aisyah radhiallahu ‘anha dia berkata:
كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ لِي صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِي فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ يَتَقَمَّعْنَ مِنْهُ فَيُسَرِّبُهُن 617;َ إِلَيَّ فَيَلْعَبْنَ مَعِي
“Aku pernah bermain dengan (boneka) anak-anak perempuan di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku mempunyai teman-teman yang biasa bermain denganku. Apabila Rasulullah shallaallahu’alaihi wa sallam masuk, mereka bersembunyi dari beliau. Sehingga beliau memanggil mereka supaya bermain bersamaku.” (HR. Al-Bukhari no. 5665 dan Muslim no. 4470)
Pendapat kedua: Tetap tidak diperbolehkan. Ini adalah Mazhab Ahmad dan pendapat dari sekelompok ulama Malikiah dan Syafi’iyah. Pendapat ini juga dinukil dari Ibnu Baththal, Ad-Daudi, Al-Baihaqi, Al-Hulaimi, dan Al-Mundziri.

Catatan:
Perbedaan pendapat mengenai mainan anak 3 dimensi yang dinukil dari para ulama salaf hanya berkenaan dengan mainan yang dibuat dari benang wol, kain, dan semacamnya. Adapun mainan yang terbuat dari plastik -seperti pada zaman ini-, maka para ulama belakangan juga berbeda pendapat tentangnya:
1. Diharamkan. Yang dikenal berpendapat dengan pendapat ini adalah Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah.
2. Boleh, dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama di zaman ini, dan inilah insya Allah pendapat yang lebih tepat.

Kedua: Jika gambarnya hanya berupa sebagian tubuh. Ini juga terbagi dua:
1. Yang tidak ada adalah kepalanya. Hukumnya adalah boleh karena dia tidak lagi dianggap gambar makhluk bernyawa. Ini adalah pendapat seluruh ulama kecuali Al-Qurthubi dari mazhab Al-Maliki dan Al-Mutawalli dari mazhab Asy-Syafi’i, dan keduanya terbantahkan dengan ijma’ ulama yang sudah ada sebelum keduanya.
2. Yang tidak ada adalah selain kepalanya, dan ini juga ada dua bentuk:
a. Jika yang tidak ada itu tidaklah membuat manusia mati, misalnya gambarnya seluruh tubuh kecuali kedua tangan dan kaki. Karena manusia yang tidak mempunyai tangan dan kaki tetap masih bisa hidup. Hukum bentuk seperti ini sama seperti hukum gambar satu tubuh penuh yaitu tetap dilarang.
b. Jika yang tidak ada itu membuat manusia mati, misalnya gambar setengah badan. Karena manusia yang terbelah hingga dadanya tidak akan bisa bertahan hidup. Maka gambar seperti ini boleh karena diikutkan hukumnya kepada gambar makhluk yang tidak bernyawa. Ini merupakan mazhab Imam Empat.

b. Yang 2 dimensi. Yang dua dimensi terbagi lagi menjadi 2:
Pertama: Yang dibuat dengan tangan, baik secara langsung maupun secara tidak langsung seperti menggambar melalui komputer tapi tetap dengan tangan (misalnya dengan memegang mouse) . Ini terbagi juga menjadi dua:
1. Gambarnya tidak bergerak, maka ini juga ada dua bentuk:
• Gambar satu tubuh penuh. Ada dua pendapat besar di kalangan ulama mengenai hukumnya:
a. Haram secara mutlak. Ini adalah riwayat yang paling shahih dari Imam Ahmad, salah satu dari dua sisi dalam mazhab Abu Hanifah, dan sisi yang paling shahih dalam mazhab Asy-Syafi’i.
b. Haram kecuali yang dibuat untuk direndahkan dan dihinakan atau yang dijadikan mainan anak. Ini adalah sisi yang lain dalam mazhab Hanabilah dan Asy-Syafi’iyah, sisi yang paling shahih dalam mazhab Abu Hanifah, dan yang baku dalam mazhab Malik.
Mereka berdalil dengan hadits Aisyah radhiallahu anha berkata: Rasulullah masuk ke rumahku sementara saya baru saja menutup rumahku dengan tirai yang padanya terdapat gambar-gambar. Tatkala beliau melihatnya, maka wajah beliau berubah (marah) lalu menarik menarik tirai tersebut sampai putus. Lalu beliau bersabda:
إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُشَبِّهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ
“Sesungguhnya manusia yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah mereka yang menyerupai penciptaan Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 5954 dan Muslim no. 5525 dan ini adalah lafazhnya)
Dalam riwayat Muslim:
أَنَّهَا نَصَبَتْ سِتْرًا فِيهِ تَصَاوِيرُ فَدَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَنَزَعَهُ ، قَالَتْ : فَقَطَعْتُهُ وِسَادَتَيْنِ
“Dia (Aisyah) memasang tirai yang padanya terdapat gambar-gambar, maka Rasulullah masuk lalu mencabutnya. Dia berkata, “Maka saya memotong tirai tersebut lalu saya membuat dua bantal darinya.”
Maka hadits ini dan yang semisalnya menunjukkan bahwa selama gambar tersebut tidak dipasang dan tidak juga digantung maka dia sudah dikatakan ‘mumtahanah’ (direndahkan/dihinakan).
• Adapun gambar dua dimensi yang tidak satu tubuh penuh (misalnya setengah badan), maka perincian dan hukumnya sama seperti pada pembahasan gambar 3 dimensi, demikian pula pendapat yang rajih di dalamnya.
2. Jika gambar dengan tangan ini bergerak, atau yang kita kenal dengan kartun. Yaitu dimana seseorang menggambar beberapa gambar yang hampir mirip, lalu gambar-gambar ini ditampilkan secara cepat sehingga seakan-akan dia bergerak.
Hukumnya sama seperti gambar yang tidak bergerak di atas, karena hakikatnya dia tidak bergerak akan tetapi dia hanya seakan-akan bergerak di mata orang yang melihatnya.

Kedua: Yang dibuat dengan alat, baik gambarnya tidak bergerak seperti foto maupun bergerak seperti yang ada di televisi.
Ini termasuk masalah kontemporer karena yang seperti ini belum ada bentuknya di zaman para ulama salaf. Gambar dengan kamera dan semacamnya ini baru muncul pada tahun 1839 M yang pertama kali diperkenalkan oleh seorang berkebangsaan Inggris yang bernama William Henry Fox.

Ada dua pendapat di kalangan ulama belakangan berkenaan dengan hal ini:
Pendapat pertama: Diharamkan kecuali yang dibutuhkan dalam keadaan terpaksa, seperti foto pada KTP, SIM, Paspor, dan semacamnya. Ini adalah pendapat masyaikh: Muhammad bin Ibrahim, Abdul Aziz bin Baaz, Abdurrazzaq Afifi, Al-Albani, Muqbil bin Hady, Ahmad An-Najmi, Rabi’ bin Hadi, Saleh Al-Fauzan, dan selainnya rahimahumullah.
Para ulama ini berdalil dengan 5 dalil akan tetapi semuanya tidak jelas menunjukkan haramnya gambar dengan alat ini.

Pendapat kedua: Boleh karena yang dibuat dengan alat bukanlah merupakan gambar hakiki, karenanya dia tidak termasuk ke dalam dalil-dalil yang mengharamkan gambar. Ini adalah pendapat masyaikh: Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin, Abdul Aziz bin Abdillah Alu Asy-Syaikh, Abdul Muhsin Al-Abbad, dan selainnya rahimahumullah.
Para ulama ini berdalil dengan 3 dalil akan tetapi hakikatnya hanya kembali kepada 1 dalil yaitu bahwa gambar dengan alat bukanlah gambar hakiki.

Kami sengaja tidak membawakan dalil-dalil tiap pendapat karena ini hanyalah pembahasan ringkas dan hanya untuk merinci masalah dalam hal ini. Ala kulli hal, pendapat yang lebih tepat menurut kami adalah pendapat yang kedua, yaitu yang berpendapat bahwa gambar dengan alat tidaklah diharamkan pada dasarnya, kecuali jika dia disembah selain Allah atau dia dipasang atau digantung yang merupakan bentuk pengagungan kepada gambar dan menjadi wasilah kepada kesyirikan wallahu a’lam.
Pendapat ini kami pandang lebih kuat karena pada dasarnya gambar dengan alat bukanlah ‘shurah’ secara bahasa. Hal itu karena ‘shurah’ (gambar) secara bahasa adalah ‘at-tasykil’ yang bermakna membentuk sebuah ‘syakl’ (bentuk) atau ‘at-tashwir’ yang bermakna menjadikan sesuatu di atas bentuk atau keadaan tertentu. Jadi ‘shurah’ yang hakiki secara bahasa mengandung makna memunculkan atau mengadakan zat yang tidak ada sebelumnya. Dan makna inilah yang ditunjukkan dalam Al-Qur`an, seperti pada firman-Nya:
وَصَوَّرَكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ
“Dan Dia membentuk kalian di dalam rahim sesuai dengan kehendak-Nya.”
Juga pada firman-Nya:
فِي أَيِّ صُوْرَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ
“Pada bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia membentuk kalian.”
Sementara gambar fotografi tidaklah mengandung makna ‘shurah’ yang kita sebutkan di atas. Karena gambar fotografi bukanlah memunculkan suatu zat/bentuk yang tidak ada sebelumnya, akan tetapi gambar fotografi hanyalah kebalikan dari benda aslinya.


semak.belukar - 07/08/2012 06:09 AM
#26

sambungan - 3
Hukum Menggambar Dalam Islam

Quote:

Hal ini bisa kita pahami dengan memahami prinsip kerja kamera yaitu sebagai berikut:
Kamera terdiri dari lensa cembung dan film, jika dia menerima cahaya (dalam hal ini cahaya berbentuk objek yang dipotret), maka lensa ini akan memfokuskan cahaya tersebut, dimana hasilnya adalah berupa bayangan yang terbalik yang bisa ditangkap oleh layar. Bayangan ini terekam dalam film yang sensitif terhadap cahaya.
Untuk membuktikan hal ini, kita bisa mengambil sebuah lensa cembung (lup). Kita hadapkan lup ini menghadap keluar jendela yang terbuka. Lalu kita letakkan selembar kertas putih di belakang lup tersebut, maka kita pasti akan melihat sebuah bayangan pemandangan luar jendela di kertas putih tadi akan tetapi posisinya terbalik.
Setelah kita memahami prinsip kerja kamera, maka kita tidak akan mendapati makna ‘shurah’ di dalamnya. Yang menjadi ‘shurah’ hakiki dalam kasus di atas adalah cahaya (berbentuk benda) yang datang menuju lensa kamera, sementara cahaya ini yang mengadakan dan membentuknya adalah Allah Ta’ala, bukan kamera dan bukan pula sang fotografer. Kamera sendiri hanya membalik bayangan yang datang tersebut dan kamera ini dioperasikan oleh fotografer.

Sekarang akan muncul pertanyaan: Apakah proses membalik cahaya benda dianggap sebagai ‘shurah’ atau gambar?
Jawabannya: Tidak, dia bukanlah ‘shurah’. Karena ‘shurah’ tidak mungkin ada kecuali ada ‘mushawwir’ (penggambar) dan orang ini harus punya kemampuan menggambar. Sementara membalik cahaya bisa terjadi walaupun tidak ada mushawwir atau orang yang melakukannya tidak paham menggambar. Misalnya: Seseorang berdiri di depan cermin atau air sehingga terlihat bayangannya. Maka bayangan ini hanyalah kebalikan dari benda aslinya, orang yang berdiri tidak melakukan apa-apa, tidak menyentuh apa-apa, bahkan mungkin dia adalah orang yang tidak bisa menggambar sama sekali. Karenanya tidak ada seorangpun yang menamakan bayangan di cermin sebagai ‘shurah’ (gambar), baik secara bahasa maupun secara urf (kebiasaan).
Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin memperumpamakan hal ini seperti memfoto kopi sebuah buku, karena huruf-huruf yang ada di dalam hasil foto kopian adalah hasil tulisan pemilik buku, bukan hasil tulisan orang yang mengoperasikan foto kopi dan bukan bula tulisan dari foto kopi tersebut.
Demikian penjelasannya secara ringkas, wallahu a’lam bishshawab.

Catatan:
Ketika kita katakan bahwa gambar 2 dimensi dengan alat bukanlah gambar secara hakiki, maka itu tidaklah mengharuskan bolehnya menggantung foto-foto karena hal itu bisa menjadi sarana menuju pengagungan yang berlebihan kepada makhluk yang hal itu merupakan kesyirikan.

2. Yang tidak mempunyai roh. Terbagi menjadi:
a. Yang tumbuh seperti tanaman.
Hukumnya boleh berdasarkan pendapat hampir seluruh ulama.
b. Benda mati. Yang ini terbagi:
1. Yang bisa dibuat oleh manusia.
2. Yang hanya bisa dicipta oleh Allah seperti matahari
Hukum gambar yang tidak mempunyai roh dengan semua bentuknya di atas adalah boleh berdasarkan dalil-dalil yang telah kami sebutkan di sini. Karenanya para ulama sepakat akan bolehnya menggambar makhluk yang tidak bernyawa.

Sebagai catatan terakhir kami katakan:
Di sini kami hanya menyebutkan hukum asal gambar dengan semua bentuknya, kami tidak berbicara mengenai hukum gambar dari sisi penggunaannya atau berdasarkan apa yang terdapat dalam gambar tersebut. Karena para ulama sepakat tidak boleh melihat aurat sesama jenis atau lawan jenis atau aurat yang bukan mahramnya atau melihat perkara haram lainnya, sebagaimana mereka sepakat tidak bolehnya melihat sesuatu (baik berupa gambar maupun selainnya) yang menyibukkan dan melalaikan dari ibadah, sebagaimana haramnya menggantung atau memasang sesuatu dengan tujuan diagungkan, baik dia berupa gambar maupun bukan. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

[Sumber bacaan: Mas`alah At-Tashwir oleh Dr. Abdul Aziz bin Ahmad Al-Bajadi, Bayan Tadhlil fii Fatwa Al-Umrani fii Jawaz At-Tashwir oleh Asy-Syaikh Yahya Al-Hajuri, Tahrim At-Tashwir oleh Asy-Syaikh Hamud bin Abdillah At-Tuwaijiry, Hukmu At-Tashwir Al-Futughrafi oleh Walid bin Raasyid As-Saidan, Al-Ibraz li Aqwal Al-Ulama` fii Hukmi At-Tilfazh yang dikumpulkan oleh Luqman bin Abi Al-Qasim]

sumber : Disini
amiy87 - 07/08/2012 06:11 AM
#27

Hidup ini adalah keyakinan dan perjuangan,
"dan perjuangan seorang muslim sejati tdk akan berhenti kecuali ketika kedua telapak kakinya telah menginjak pintu surga"(imam ahmad hanbal)
LuckyBringer - 07/08/2012 06:20 AM
#28

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
Apabila langit terbelah,

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan,

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
dan apabila lautan menjadikan meluap,

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
dan apabila kuburan-kuburan dibongkar,

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang,

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu),

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu),

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan,

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu.

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.

http://quran.com/82
ruvo - 07/08/2012 06:22 AM
#29

Pertanyaan Pembuka buat rumah baru

Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut” (Surat 19:71-72)

Surat 42:13, drs. Muhammad Al-Hilali dan Muhsin Khan mengutip kata-kata nabi Muhammad sebagai berikut: “Umat Yahudi akan dibagi menjadi 71 sekte agama dan umat Kristen akan dibagi menjadi 72 sekte agama dan umat Muslim akan dibagi menjadi 73 sekte agama – semua sekte-sekte agama tersebut akan masuk neraka, kecuali satu”

Apakah predikat anda sebagai seorang Muslim hanya memberi anda hak istimewa untuk menjadi calon penghuni neraka terlebih dahulu; dan keselamatan anda baru datang hanya kalau anda sudah masuk dalam neraka..?

Anda termasuk sekte yang mana..?

alasan pertanyaannya..
Sesungguhnya, Muhammad sendiri tidak tahu pasti apakah dia termasuk salah seorang dalam sekte-sekte itu yang akan dikeluarkan dan diselamatkan dari neraka atau salah seorang yang tetap dibiarkan tinggal di neraka. Hal tersebut jelas ditulis dalam Hadis sebagai berikut: “Aku mendengar Rasul Allah berkata: sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Kuasa memegang satu kelompok dengan tangan kananNya dan satu kelompok yang lain dengan tangan kiriNya, dan berkata ‘ini untuk yang ini, dan ini untuk yang itu, dan aku tidak peduli lagi. Aku tidak tahu di kelompok manakah aku akan berada” [Mishkat al Masabih, Jilid 3, Bab 33:32 (455 W)

ketidaktahuan akan nasibnya sendiri juga tertulis di Al-Quran
Dalam Surat 46:9, Allah memberitahu Muhammad, “Katakanlah: Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”.

maaf saya belum sempat baca jawaban anda tapi begitu buka sudah ganti rumah baru..malu:
dcantripe - 07/08/2012 06:32 AM
#30

d. Asbabun Nuzul [Asbabun Nuzul yakni sebab-sebab turunnya ayat-ayat Al Quran kepada Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam )

Mereka menyatakan bahwa asbabun nuzul yang disebutkan oleh para ulama ahli tafsir hanyalah perkatan yang tidak memeiliki sandaran, karena Al Quran datang untuk mendidik seluruh jiwa manusia, sehingga hukum-hukumnya tidaklah secara khusus diturunkan untuk seseorang atau beberapa orang tertentu saja.
Tidak diragukan lagi bahwa pernyataan ini didasari oleh kebodohan orang yang mengucapkan terhadap Al Qu'ran dan menujukkan bahwa dia tidak memahami metode-metode Al Qur'an. Sekarang bagaimaan dia menjawab ayat-ayat berikut ini, yang artinya:
"Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit." [ QS Al baqoroh 189]
"Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan." [Qs Al baqoroh 217].
"Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pda bulan Haram." [QS Al Baqoroh 217]
Apakah jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam ayat-ayat tersebut datang tanpa ada sebab ?
Bahkan, bagaimana dengan ayat berikut, yang artinya ,
" Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah." [QS Al Mujadilah 1].
Apakah ayat ini turun tanpa sebab? tentu tidak demikian. Sesungguhnya pernyataan mereka itu hanyalah pembangkangan dan penolakan terhadap riwayat. Meskipun dimaklumi secara jelas di kalangan ulama Islam bahwa hukum-hukum yang terkandung dalam ayat-ayat seperti itu tidaklah terbatas pada orang-orang tertentu saja, namun hukum tersebut berlaku bagi mereka dan yang semisal dengan mereka. Jadi, meskipun disebabkan sebabnya tentang seseorang atau orang-orang tertentu, tapi hukumnya tidak terbatas untuk mereka saja, karena yang menjadi patokan adalah keumuman lafazh bukan kekhususan sebab.


2. Dalam memahami dan menfsirkan Al Qur'an, mereka bersandar secara mutlak kepada bahasa arab semata-mata.

Atas dasar itulah kebanyakan mereka menolak sebagian besar hakekat syariat yang didapati dari lafazh-lafazh yang dikhususkan oleh Alloh Azza wa Jalla untuk perkara tertentu, contohnya sholat. Menurut bahasa sholat berarti doa, sedangkan menurut syariat adalah gerakan-gerakan dan ucapan-ucapan tertentu yang dimulai dengan takbir (ihram) dan diakhiri dengan salam. Namun, shalat dalam pengertian syariat ini tidak dikenal di kalangan mereka, salah satu Dai mereka menyatakan bahwa sholat dari Allah berarti rahmat, sedeangkan dari makhluk seperti malaikat, manusia, dan jin berati berdiri, rukuk, doa dan tasbih. Itulah makna sholat dalam ajaran Al Quran menurutnya (yang hanya bersandar kepada makna bahasa saja). Demikian pula ketika mereka memaknai Thawaf, yang diartikan berulang-ulang mengunjungi Baitullah (ka'bah) dari waktu ke aktu, bukan mengelilinginya. Penafsiran seperti ini tidak pernah dikenal di masa-masa pendahulu /salafush shalih umat ini.


3. Mereka membawakan makna ayat-ayat Al Qur'an menurut hawa nafsu dan akal mereka sendiri dengan takwil batil dan pemaksaan, tidak kembali kepada apa yang telah dipahami oleh generasi awal ummat ini. Sebagai misal, mereka menfsirkan ketaan kepada Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dengan ketaan kepada Al Qur'an, karena menurut mereka Al Qur'an itu adalah rasul penghubung antara Alloh Azza wa Jalla dan hamba-Nya, dan bentuk-bentuk penakwilan lain yang menyimpang yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu disini, disebabkan mereka menolak Sunnah Rosul.

sumber
dcantripe - 07/08/2012 06:33 AM
#31

B. Dalam Hal Aqidah


1. Tentang syirik
Melihat definisi syirik yang mereka kemukakan maka kita akan dapati definisi tersebut tidaklah bertentangan, mereka mengatakan bahwa syirik kepada Alloh Azza wa Jalla yaitu meyakini bahwa Alloh Azza wa Jalla memiliki sekutu dalam uluhiyyah atau rububiyyahNya, atau berarti peribadatan kepada selain Alloh Azza wa Jalla .
Namun, dalam prakteknya, mereka memasukkan pengamalan sunnah Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dan menjalankan hukum-hukum Beliau Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam yang terkandung dalam hadits sebagai suatu kesyirikan atau menghidupkan kesyirikan, sebagaimana dikemukakan oleh dua tokoh mereka Abdullah dan Al Khawajah Ahmaduddin.
kalaulah benar, bahwa mengamalkan sunnah Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam merupakan kesyirikan, tentulah Alloh Azza wa Jalla tidak akan memerintahkan para Shohabat rodliallohu anhum untuk tunduk dan patuh kepada keputusan Beliau, sebagaimana firman-Nya yang berarti,
"maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan,dan mereka menerima dengan sepenuhnya." [QS An Nisa' 65].
Demikian pula, Alloh Azza wa Jalla tidak akan menjadikan hal menerima hukum (keputusan) RasulNya sebagai syarat keimanan.
"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka diseru kepada Allah dan RasulNya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, 'Kami mendengar dan kami patuh'. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." [QS An Nur 51].
Sementara tidak ada jalan untuk mentaati hukum-hukum Rosul kecuali dengan mengamalkan sunnahnya.
Sedangkan tokoh lainnya -Berwiz- memandang bahwa syirik itu ada tiga macam, yaitu :
a. memalingkan apa yang-semestinya-khusus untuk Allah kepada selain-Nya
b. Mengikuti selain hukum Allah
c. perpecahan kaum muslimin menjadi beberapa kelompok atau golongan yang salaing berseteru,
berdalil dengan firman Alloh Azza wa Jalla ,"
"…dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." [QS ar Rum 31-32]
Dua macam yang pertama tidaklah menjadi masalah, namun macam yang ketiga itulah yang dikritisi disini.
Perlu diketahui bahwa adanya perpecahan didalam Islam tidaklah dinamai dengan kesyirikan dalam Islam, karena Alloh Azza wa Jalla berfirman,
"Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat aniaya terhadap golongan lainnya, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah." [Qs Al Hujarat 9].
Alloh Azza wa Jalla mengabarkan bahwa dua kelompok yang saling berperang ini adalah sama-sama kaum muslimin. Maka sifat iman yang Alloh Azza wa Jalla sebutkan dalam ayat diatas menepis adanya kesyirikan pada dua kelompok mukminin yang saling berseteru tersebut. Dan ayat yang telah dicomot dan dijadikan dalil oleh Berwiz, jika diteliti bersama dengan ayat yang sebelumnya dari mulai firmanNya,
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah diatas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah." [QS Ar Rum 30].
Niscaya kita dapati bahwa Alloh Azza wa Jalla memerintahkan untuk tetap (teguh) diatas agamaNya dan mentauhidkanNya, dan bahwa hal itu merupakan fitrah manusia yang lurus. Maka tetap teguhlah diatas hal itu dan dirikanlah sholat serta janganlah kembali kepada kesyirikan dan kuam musyrikin yang bercerai berai karena berbeda-beda dalam beribadah kepada selain Allah karena hawa nafsu mereka yang berbeda-beda. Jadi, makna bukan berarti bahwa yang bercerai berai itu dikatakan musyrik, karena yang berecerai berai itu masih diharapkan memperoleh ampunan dari Allah selama mereka tidak mati diatas kesyirikan kepada Alloh Azza wa Jalla .

2. Tentang 'Arsy (singgasana) dan Istiwa' Alloh Azza wa Jalla diatasnya.
Mereka berpendapat bahwa yang diamksud dengan 'arsy (singgasana) Allah bukanlah arsy secara hakiki (yang memiliki dzat, bentuk dan sifat) melainkan yang dimaksud adalah kekuasaan dan kerajaan Nya, sedngkan yang dimasksud dengan istiwa' Alloh Azza wa Jalla diatas arsy adalah menguasai seluruh pengaturan alam dan makhluk, dan bahwa Alloh Azza wa Jalla memiliki kekuasaan penuh atas hal itu. Sama sebagaimana- menurut mereka- bila si fulan memiliki singgasana negara, maka maksudnya bahwa ia memegang seluruh urusan negara tersebut. jadi, menurut mereka bahwa arsy (singgasana) itu adalah kiasan (tentang kekuasaan).
Namun, kita perhatikan Alloh Azza wa Jalla menyebutkan arsy-Nya sebanyak 21 kali di 19 ayat , diantaranya ayat 129 surat At Taubah, ayat 75 surat Az Zumar, dan ayat 17 Surat Al haqqah. Alloh Azza wa Jalla juga menyebutkan tentang istiwa'Nya di atas Arsy-Nya di tujuh tempat, diantaranya ayat 54 surat Al A'raf dan ayat 59 Surat Al Furqon. Penolakan mereka terhadap adanya Arsy (singgasana) Alloh Azza wa Jalla yang hakiki (yang memiliki bentuk, dzat dan sifat) sama dengan apa yang dilontarkan oleh Jahm bin Shafwan tokoh penyebar Jahmiyyah, dan yang sejalan dengannya, sebagai bagian dari penolakan terhadap sifat-sifat Alloh Azza wa Jalla .[tentang sifat-sifat Arsy Allah, lihat : Shahih Bukhori iV/228 dan VIII/176-177, Shahih Muslim VII/83, Sunan Ad Darimi II/262 dan II/447, Sunan At Tirmidzi V/585 dan 590, Fathul Baari XIII/404 dan Ar Raad 'ala Al Jahmiyyah oleh Said bin Utsman Ad Darimi (hal 12) ].

sumber
dcantripe - 07/08/2012 06:35 AM
#32

3. Tentang Kenabian
Kami sebutkan beberapa contoh pendapat mereka dalam masalah kenabian sebagai berikut:
a. Perkara luar biasa (mukjizat)
mereka mengingkari terjadinya perkara luar biasa dari Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam -maka sebagaimana lagi dengan ummatnya- selain mukjizat Al Qur'an. Karenanya, peristiwa-peristiwa seperti terbelahnya bulan-di masa Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam menghadapi kaum musyrikin yang mendustakan kebenaran risalahnya-, mereka katakan bahwa terbelahnya bulan itu merupakan salah satu dari tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat dan bahwa ayat,
"Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan." [QS Al Qomar 1]
tidak ada hubungannya dengan Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam secara tekstual maupun kontekstual.
Pernyataan mereka ini tertolak dengan beberapa sisi :
1).Firman Alloh Azza wa Jalla dalam QS Al Qomar:1 jelas sekali mengabarkan peristiwa terbelahnya bulan dan bahwa pertitiwa itu telah terjadi, karena dalam kalimat itu menggunakan kata kerja lampau. Sementara membawakannya kepada masa akan datang tanpa dalil adalah tertolak.
2). Dalam ayat berikutnya, Alloh Azza wa Jalla berfirman, yg artinya :,
" Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata,'(ini adalah) sihir yang terus menerus.' " [QS Al Qomar : 2]
Ini menunjukkan bahwa terbelahnya bulan menjadi dua merupakan satu mukjizat yang Alloh Azza wa Jalla berikan kepada Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam untuk menampakkan kebenaran nubuwwah dan risalahnya di hadapan kaum musyrikin, yang kemudian didustakan oleh mereka sebagaimana diisyaratkan dalam ayat berikut,
"Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya." [QS Al Qomar 3].
Maka sikap orang-orang Quraisy yang mendustakan mukjizat Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam tersebut menunjukkan bahwa terbelahnya bulan memang telah terjadi di masa lampau ketika itu.
3). Kesaksian lebih dari sepuluh Shohabat rodliallohu anhum yang menyatakan terjadinya peristiwa itu, sebagaimana diriwayatkan dalam kitab shahihain, kitab-kitab sunan dan musnad-musnad yang tidak diingkari oleh seorang msulim pun.

b. Tentang kemaksuman Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam
Mereka berpendapat bahwa kemaksuman Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam hanyalah dalam hal penyampaian Kitabulloh-sebagaimaan juga para Rosul sebelumnya-. Adapun apa yang bersumber dari pikiran, hati beliau, maka tidak selamat dari bisikan syaithon, sehingga dalam hal ini beliau tidaklah maksum.

Namun, banyak dalil dari ayat-ayat Al Qur'an yang menunjukkan babhwa Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam demikian pula dengan para Rosul sebelumnya adalah maksum dan bahwa mereka tidaklah mengatakan sesuatu tentang agama Alloh Azza wa Jalla dengan apa yang bersumber dari hawa nafsu dan pikiran mereka sendiri. Diantara ayat-ayat tsb dalah sebagai berikut, yang artinya :
"…Sesungguhnya hamba-hamba Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka." [QS Al Hijr 42]
Ayat ini menunjukkan bahwa para syaithon tidak kuasa untuk menggoda hamba-hamba Allah (yang ikhlas), maka bagaimana lagi dengan orang-orang yang Allah pilih sebagai Rosul ?.
"Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) ."[QS An Najm 3-4]
Ayat ini menunjukkan bahwa Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam tidaklah mengucapkan sesuatu tentang agama Alloh Azza wa Jalla melainkan atas dasar wahyu dari Allah. Berbicara tentang agama Alloh Azza wa Jalla dari hawa nafsu atau dari bisikan syaithon dengan sengaja adalah suatu kekufuran, sementara Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam maksum (terjaga) dari sifat tersebut. Sampai-sampai Alloh Azza wa Jalla mengancam Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bila Beliau benar-benar mengucapkan sesuatu tentang agama Allah tanpa wahyu dariNya, seperti yang diisyaratkan dalam firmanNya, yang artinya,
" Seandainya di (Muhammad ) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya, Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya." [QS Al Haqqah 44-46].
Tidak ditimpakannya ancaman Alloh Azza wa Jalla tersebut kepada beliau Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam sampai beliau wafat merupakan bukti yang amat jelas bahwa Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam tidaklah mengatakan tentang agama Allah dari hawa nafsunya atau dari bisikan syaithon.

Masih ada lagi penyimpangan-penyimpangan lain dari kelompok sesat ini, baik dalam masalah penafsiran Al Qur'an, masalah Aqidah, Ibadah, Muamalah dan lainnya.

Semoga Alloh Azza wa Jalla memberikan petunjuk dan taufikNya kepada kita untuk tetap istiqomah dan tidak terperdaya oleh tipudaya syaithon dan para pengikutnya.

-allahu 'alam bi shawab-

sumber
BL4CK.D1CK - 07/08/2012 06:43 AM
#33

Quote:
Original Posted By ruvo
Pertanyaan Pembuka buat rumah baru

Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut” (Surat 19:71-72)

Surat 42:13, drs. Muhammad Al-Hilali dan Muhsin Khan mengutip kata-kata nabi Muhammad sebagai berikut: “Umat Yahudi akan dibagi menjadi 71 sekte agama dan umat Kristen akan dibagi menjadi 72 sekte agama dan umat Muslim akan dibagi menjadi 73 sekte agama – semua sekte-sekte agama tersebut akan masuk neraka, kecuali satu”

Apakah predikat anda sebagai seorang Muslim hanya memberi anda hak istimewa untuk menjadi calon penghuni neraka terlebih dahulu; dan keselamatan anda baru datang hanya kalau anda sudah masuk dalam neraka..?

Anda termasuk sekte yang mana..?


kebiasaan asal copas o

makanya kalok belajar jangan cuma dari blog gak jelas o

"Yahudi telah berpecah menjadi 71 golongan, satu golongan di surga dan 70 golongan di neraka. Dan Nashara telah berpecah belah menjadi 72 golongan, 71 golongan di neraka dan satu di surga. Dan demi Allah yang jiwa Muhammad ada dalam tangan-Nya umatku ini pasti akan berpecah belah menjadi 73 golongan, satu golongan di surga dan 72 golongan di neraka." Lalu beliau ditanya: "Wahai Rasulullah siapakah mereka ?" Beliau menjawab: "Al Jamaah."(HR. Ibnu Majah).

Orang-orang Bani Israil akan terpecah menjadi 71 golongan dan umatku akan terpecah kedalam 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, kecuali satu, yaitu Al-Jamaa’ah. (HR. Sunan Ibnu Majah).

"Bahwasannya bani Israel telah berfirqah sebanyak 72 firqah dan akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah, semuanya akan masuk Neraka kecuali satu." Sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya: "Siapakah yang satu itu Ya Rasulullah?" Nabi menjawab: "Yang satu itu ialah orang yang berpegang sebagai peganganku dan pegangan sahabat-sahabatku." (HR. Tirmidzi).

"Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad di tangan-Nya, akan berpecah umatku sebanyak 73 firqah, yang satu masuk Syurga dan yang lain masuk Neraka." Bertanya para Sahabat: "Siapakah (yang tidak masuk Neraka) itu Ya Rasulullah?" Nabi menjawab: "Ahlussunnah wal Jamaah." (HR. Thabrani)

Quote:
Original Posted By ruvo
alasan pertanyaannya..
Sesungguhnya, Muhammad sendiri tidak tahu pasti apakah dia termasuk salah seorang dalam sekte-sekte itu yang akan dikeluarkan dan diselamatkan dari neraka atau salah seorang yang tetap dibiarkan tinggal di neraka. Hal tersebut jelas ditulis dalam Hadis sebagai berikut: “Aku mendengar Rasul Allah berkata: sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Kuasa memegang satu kelompok dengan tangan kananNya dan satu kelompok yang lain dengan tangan kiriNya, dan berkata ‘ini untuk yang ini, dan ini untuk yang itu, dan aku tidak peduli lagi. Aku tidak tahu di kelompok manakah aku akan berada” [Mishkat al Masabih, Jilid 3, Bab 33:32 (455 W)

ketidaktahuan akan nasibnya sendiri juga tertulis di Al-Quran
Dalam Surat 46:9, Allah memberitahu Muhammad, “Katakanlah: Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”.

maaf saya belum sempat baca jawaban anda tapi begitu buka sudah ganti rumah baru..malu:


sok tau anda o
ruvo - 07/08/2012 07:24 AM
#34

Quote:
Original Posted By BL4CK.D1CK
kebiasaan asal copas o

makanya kalok belajar jangan cuma dari blog gak jelas o

"Yahudi telah berpecah menjadi 71 golongan, satu golongan di surga dan 70 golongan di neraka. Dan Nashara telah berpecah belah menjadi 72 golongan, 71 golongan di neraka dan satu di surga. Dan demi Allah yang jiwa Muhammad ada dalam tangan-Nya umatku ini pasti akan berpecah belah menjadi 73 golongan, satu golongan di surga dan 72 golongan di neraka." Lalu beliau ditanya: "Wahai Rasulullah siapakah mereka ?" Beliau menjawab: "Al Jamaah."(HR. Ibnu Majah).

Orang-orang Bani Israil akan terpecah menjadi 71 golongan dan umatku akan terpecah kedalam 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, kecuali satu, yaitu Al-Jamaa’ah. (HR. Sunan Ibnu Majah).

"Bahwasannya bani Israel telah berfirqah sebanyak 72 firqah dan akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah, semuanya akan masuk Neraka kecuali satu." Sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya: "Siapakah yang satu itu Ya Rasulullah?" Nabi menjawab: "Yang satu itu ialah orang yang berpegang sebagai peganganku dan pegangan sahabat-sahabatku." (HR. Tirmidzi).

"Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad di tangan-Nya, akan berpecah umatku sebanyak 73 firqah, yang satu masuk Syurga dan yang lain masuk Neraka." Bertanya para Sahabat: "Siapakah (yang tidak masuk Neraka) itu Ya Rasulullah?" Nabi menjawab: "Ahlussunnah wal Jamaah." (HR. Thabrani)



sok tau anda o


Bilakah lahirnya nama Ahlus Sunnah Waljamaah ?

Dahulu di zamaan Rasulullaah SAW. kaum muslimin dikenal bersatu, tidak ada golongan ini dan tidak ada golongan itu, tidak ada syiah ini dan tidak ada syiah itu, semua dibawah pimpinan dan komando Rasulullah SAW.
Bila ada masalah atau beda pendapat antara para sahabat, mereka langsung datang kepada Rasulullah SAW. itulah yang membuat para sahabat saat itu tidak sampai terpecah belah, baik dalam masalah akidah, maupun dalam urusan duniawi.
Kemudian setelah Rasulullah SAW. wafat, benih-benih perpecahan mulai tampak dan puncaknya terjadi saat Imam Ali kw. menjadi khalifah. Namun perpecahan tersebut hanya bersifat politik, sedang akidah mereka tetap satu yaitu akidah Islamiyah, meskipun saat itu benih-benih penyimpangan dalam akidah sudah mulai ditebarkan oleh Ibin Saba’, seorang yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai pencetus faham Syiah (Rawafid).
Tapi setelah para sahabat wafat, benih-benih perpecahan dalam akidah tersebut mulai membesar, sehingga timbullah faham-faham yang bermacam-macam yang menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW.
Saat itu muslimin terpecah dalam dua bagian, satu bagian dikenal sebagai golongan-golongan ahli bid’ah, atau kelompok-kelompok sempalan dalam Islam, seperti Mu’tazilah, Syiah (Rawafid), Khowarij dan lain-lain. Sedang bagian yang satu lagi adalah golongan terbesar, yaitu golongan orang-orang yang tetap berpegang teguh kepada apa-apa yang dikerjakan dan diyakini oleh Rasulullah SAW. bersama sahabat-sahabatnya.
Golongan yang terakhir inilah yang kemudian menamakan golongannya dan akidahnya Ahlus Sunnah Waljamaah. Jadi golongan Ahlus Sunnah Waljamaah adalah golongan yang mengikuti sunnah-sunnah nabi dan jamaatus shohabah.
Dengan demikian akidah Ahlus Sunnah Waljamaah adalah akidah Islamiyah yang dibawa oleh Rasulullah dan golongan Ahlus Sunnah Waljamaah adalah umat Islam. Lebih jelasnya, Islam adalah Ahlus Sunnah Waljamaah dan Ahlus Sunnah Waljamaah itulah Islam. Sedang golongan-golongan ahli bid’ah, seperti Mu’tazilah, Syiah(Rawafid) dan lain-lain, adalah golongan yang menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW yang berarti menyimpang dari ajaran Islam.

Ahlus sunnah waljamaah ada setelah Muhammad meninggal.. Hadis terakhir hanya propaganda pembenaran sekte.. kalau itu benar tentunya tidak ada ayat seperti di bawah ini..

Dalam Surat 46:9, Allah memberitahu Muhammad, “Katakanlah: Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”.
dcantripe - 07/08/2012 07:50 AM
#35
support4rohingya
Quote:
[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26


REPUBLIKA.CO.ID, "Kami meninggalkan Myanmar karena kami diperlakukan dengan kejam oleh militer. Umat Muslim di sana kalau tidak dibunuh, mereka disiksa," ujar seorang pengungsi, Nur Alam, seperti dikutip BBC, beberapa waktu lalu.

Nur bersama 129 Muslim Rohingya begitu umat Islam yang tinggal di utara Arakan, Myanmar, biasa disebut terpaksa harus meninggalkan tanah kelahirannya.

Ia bersama kawan-kawannya nekat melarikan diri dari Myanmar dengan menumpang perahu tradisional sepanjang 14 meter. Mereka berjejalan di atas perahu kayu dengan bekal seadanya. Akibat mesin perahu yang mereka tumpangi rusak, Muslim Rohingya pun harus rela terkatung-katung di lautan yang ganas.

Hingga akhirnya, mereka ditemukan nelayan Aceh dalam kondisi yang mengenaskan. Menurut Nur, mereka terombang-ambing ombak di lautan ganas selama 20 hari. Kami ingin pergi ke Indonesia, Malaysia, atau negara lain yang mau menerima kami, tutur Nur. Demi menyelamatkan diri dan akidah, mereka rela kelaparan dan kehausan di tengah lautan.

Begitulah potret buram kuam Muslim Rohingya yang tinggal di bagian utara Arakan atau negara bagian Rakhine. Kawasan yang dihuni umat Islam itu tercatat sebagai yang termiskin dan terisolasi dari negara Myanmar atau Burma. Daerah itu berbatasan dengan Bangladesh.

Sejak 1982, Undang-Undang Kewarganegaraan Burma tak mengakui Muslim Rohingya sebagai warga negara Myanmar. Pemerintah di negara itu hanya menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh atau keturunannya. Terjebak dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan seperti itu, kaum Rohingya pun memilih untuk meninggalkan Myanmar.

Tak mudah bagi mereka untuk melepaskan diri dari negara yang dikuasai Junta Militer itu. Tak jarang mereka harus mengalami kekerasan dan penyiksaan oleh pihak keamanan. Setelah mereka keluar dari negara tersebut, mereka tidak diperkenankan untuk kembali.

Selain itu, umat muslim Rohingya seperti terpenjara di tempat kelahirannya sendiri. Mereka tidak bisa bebas bepergian ke mana pun. Meskipun hanya ingin ke kota tetangga saja, pihak militer selalu meminta surat resmi. Saat ini, sekitar 200 ribu Muslim Rohingnya terpaksa tinggal di kamp pengungsi seadanya di Bangladesh.

Sebagian besar dari mereka yang tidak tinggal di tempat pengungsian resmi memilih untuk pergi ke negara lain melalui jalur laut, terutama melalui Laut Andaman. Kemudian, pihak Pemerintah Thailand juga mengabarkan bahwa mereka telah menahan sebanyak 100 orang Rohingya beberapa waktu yang lalu.

Pemerintah negeri Gajah Putih itu menolak menerima mereka sebagai pengungsi. Untuk mengatasi masalah ini, PBB sudah bergerak melalui salah satu organisasinya yang mengurusi pengungsi, UNHCR.

***

Populasi Muslim Rohingya di Myanmar tercatat sekitar 4,0 persen atau hanya sekitar 1,7 juta jiwa dari total jumlah penduduk negara tersebut yang mencapai 42,7 juta jiwa. Jumlah ini menurun drastis dari catatan pada dokumen Images Asia: Report On The Situation For Muslims In Burma pada Mei tahun 1997. Dalam laporan tersebut, jumlah umat Muslim di Burma mendekati angka 7 juta jiwa.

Mereka kebanyakan datang dari India pada masa kolonial Inggris di Myanmar. Sepeninggal Inggris, gerakan antikolonialisasi di Burma berusaha menyingkirkan orang-orang dari etnis India itu, termasuk mereka yang memeluk agama Islam. Bahkan, umat Muslim di Burma sering sekali menjadi korban diskriminasi.

Pada tahun 1978 dan 1991, pihak militer Burma meluncurkan operasi khusus untuk melenyapkan pimpinan umat Islam di Arakan. Operasi tersebut memicu terjadinya eksodus besar-besaran dari kaum Rohingya ke Bangladesh. Dalam operasi khusus itu, militer tak segan-segan menggunakan kekerasan yang cenderung melanggar hak asasi manusia.

Selain itu, State Law and Order Restoration Council (SLORC) yang merupakan rezim baru di Myanmar selalu berusaha untuk memicu adanya konflik rasial dan agama. Tujuannya untuk memecah belah populasi sehingga rezim tersebut tetap bisa menguasai ranah politik dan ekonomi.

Pada 1988, SLORC memprovokasi terjadinya pergolakan anti-Muslim di Taunggyi dan Prome. Lalu, pada Mei 1996, karya tulis bernada anti-Muslim yang diyakini ditulis oleh SLORC tersebar di empat kota di negara bagian Shan. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya kekerasan terhadap kaum Muslim.

Kemudian, pada September 1996, SLORC menghancurkan masjid berusia 600 tahun di negara bagian Arakan dan menggunakan reruntuhannnya untuk mengaspal jalan yang menghubungkan markas militer baru daerah tersebut. Sepanjang Februari hingga Maret 1997, SLORC juga memprovokasi terjadinya gerakan anti-Muslim di negara bagian Karen.

Sejumlah masjid dihancurkan, Alquran dirobek dan dibakar. Umat Islam di negara bagian itu terpaksa harus mengungsi. Burma Digest juga mencatat, pada tahun 2005, telah muncul perintah bahwa anak-anak Muslim yang lahir di Sittwe, negara bagian Rakhine (Arakan) tidak boleh mendapatkan akta kelahiran.

Hasilnya, hingga saat ini banyak anak-anak yang tidak mempunyai akta lahir. Selain itu, National Registration Cards (NRC) atau kartu penduduk di negara Myanmar sudah tidak diberikan lagi kepada mereka yang memeluk agama Islam.

***

Mereka yang sangat membutuhkan NRC harus rela mencantumkan agama Buddha pada kolom agama mereka.

Bahkan, Pemerintah Myanmar sengaja membuat kartu penduduk khusus untuk umat Muslim yang tujuannya untuk membedakan dengan kelas masyarakat yang lain. Umat Muslim dijadikan warga negara kelas tiga. Umat Islam di negera itu juga merasakan diskriminasi di bidang pekerjaan dan pendidikan.

Umat Islam yang tidak mengganti agamanya tak akan bisa mendapatkan akses untuk menjadi tentara ataupun pegawai negeri. Tak hanya itu, istri mereka pun harus berpindah agama jika ingin mendapat pekerjaan.

Pada Juni 2005, pemerintah memaksa seorang guru Muslim menutup sekolah swastanya meskipun sekolah itu hanya mengajarkan kurikulum standar, seperti halnya sekolah negeri, pemerintah tetap menutup sekolah itu.

Sekolah swasta itu dituding mengajak murid-muridnya untuk masuk Islam hanya karena sekolah itu menyediakan pendidikan gratis. Selain itu, pemerintah juga pernah menangkap ulama Muslim di Kota Dagon Selatan hanya karena membuka kursus Alquran bagi anak-anak Muslim di rumahnya. Begitulah nasib Muslim Rohingya.

Nasib buruk yang dialami Muslim Rohingya mulai mendapat perhatian dari Organisasi Konferensi Islam (OKI). Kantor berita Islam, IINA, pada 1 Juni 2011, melaporkan, Sekretariat Jenderal OKI yang bermarkas di Jeddah telah menggelar sebuah pertemuan dengan para pemimpin senior Rohingya. Tujuannya, agar Muslim Rohingya bisa hidup damai, sejahtera, dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Dalam pertemuan itu, para pemimpin senior Rohingya bersepakat untuk bekerja sama dan bersatu di bawah sebuah badan koordinasi. Lewat badan koordiansi itulah, OKI mendukung perjuangan Muslim Rohingya untuk merebut dan mendapatkan hak-haknya.

Pertemuan itu telah melahirkan Arakan Rohingya Union (ARU) atau Persatuan Rohingya Arakan. Lewat organisasi itu, Muslim Rohingya akan menempuh jalur politik untuk mengatasi masalah-masalah yang dialami Muslim Rohingya. Semoga.


sumber
the.D.roger - 07/08/2012 09:47 AM
#36

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

selamet pagi agan2 penghuni ABMM, wah udah rumah baru...
beginikah rasanya rumah baru D
...Kemonyen... - 07/08/2012 09:58 AM
#37

Quote:
Original Posted By the.D.roger
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

selamet pagi agan2 penghuni ABMM, wah udah rumah baru...
beginikah rasanya rumah baru D


Wa alaikum salam..

rasanya beda dengan rumah yang lama.. nohope:
kepalawortel - 07/08/2012 10:13 AM
#38

Quote:
Original Posted By Suicide.Phenom
walikkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk

gak jadi tutp peki \(


coba ikutin cara gw bro , Insha'Allah Berhasil bro
shakehand2

wah sial rumah barunya jam pagi
jam sahur ngacir:
the.D.roger - 07/08/2012 10:21 AM
#39

Quote:
Original Posted By ...Kemonyen...
Wa alaikum salam..

rasanya beda dengan rumah yang lama.. nohope:
yah namanya rumah baru gan... ane mengharapkan suasana baru D
LuckyBringer - 07/08/2012 10:54 AM
#40

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat),

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?",

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
pada hari itu bumi menceritakan beritanya,

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Indonesian
karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Sahih International
That Day, the people will depart separated [into categories] to be shown [the result of] their deeds.
Indonesian
Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka,

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Sahih International
So whoever does an atom's weight of good will see it,
Indonesian
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

[HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part  26

Sahih International
And whoever does an atom's weight of evil will see it.
Indonesian
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

http://quran.com/99
Page 2 of 222 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > [HOLY] Anda Bertanya, Muslim Menjawab - Part 26