Anak
Home > LOEKELOE > WEDDING & FAMILY > Anak > Share & Diskusi: Pendidikan Pra Sekolah dan Persiapan Masuk SD
Total Views: 1143 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 4 |  1 2 3 4 > 

katara1 - 29/08/2012 09:41 AM
#1
Share & Diskusi: Pendidikan Pra Sekolah dan Persiapan Masuk SD
Selamat Pagi Momod yang Cantik,

Halo teman Pendekar Anak, Ayah dan Bunda, Om dan Tante...
Ijinkan buka tret diskusi dan share disini tanpa didahului dengan artikel copas p

saya ingin diskusi berkembang berdasarkan pengetahuan dan pemikiran/gagasan dan pendapat teman2 secara terbuka, sehingga menambah perspektif ortu dalam melihat permasalahan ini dan mengambil manfaat untuk pendidikan dan pengajaran anaknya.

perkenalkan saya ortu juga, bukan dari bisnis pendidikan prasekolah maupun pendidikan dasar dan menengah jadi, ini bukan trit promo D
karena saya tidak berlatar belakang formal psikologi maupun paedagogi (ilmu pendidikan), maka bila salah silakah dikoreksi, dan siapa saja silakan berkontribusi...kalau ada yang bagus dan kebetulan ada stok serta waktu, cendol tersedia cendols

please tidak nge-junk, tidak ribut, tidak sara, tidak promo (beberapa promo sangat bermanfaat buat forum terkait dg topik ndak masalah). kalau keterlaluan dan diinginkan, batas juga tersedia kok malus

sori teesna galak kiss:


---selesai basa basi ---mari diskusi dengan pengantar sederhana:

Sebagian Ortu kuatir anaknya tidak bisa segera baca-tulis pada saat masuk SD, dan terburu-buru mengajarkan calistung pada usia dini dan melihat bahwa kurikulum SD adalah berat.
Di sisi lain banyak informasi yang menunjukkan mengenai adanya pengajaran calistung pada usia dini, expose yang cukup banyak dari para ortu yang anak2nya pada usia dini sudah bisa calistung di media, tekanan dari sekolahnya sendiri (paud/TK) yang mentargetkan anak2 didiknya segera diajarkan dan bisa calistung, dll....

Karena itu timbul banyak pertanyaan dan kekuatiran, banyak ambisi dan banyak kerisauan orang tua, intinya materi apa yang harus diberikan dalam mendidik dan mengembangkan anak usia prasekolah?

--------
dari tret sebelah tante TSL menuliskan komentar menarik:

Quote:
Original Posted By TheLostSoul
anakku udah mau 3 tahun tant... sampe sekarang belum diajarin menulis. masuk PAUD pun cuma buat menambah teman dan sosialisasi aja, ga ada target tertentu. sejauh ini anakku kurang tertarik menulis atau mewarnai, lebih suka main masak2an atau minta dibacain buku bergambar.

tapi jujur tant, kadang bertanya2, nanti ketinggalan ga ya kemampuan baca tulisnya terutama kalau masuk SD nanti? khawatir liat kurikulum anak SD yg udah berat banget \(

oya, waktu anak setahunan aku suka belajar sambil bermain dgn flashcard bergambar, jadi pas 1,5 tahun udah banyak kosakatanya. tapi aku ga ajarin yg berupa tulisan. biarin aja yg penting ada kosakata sebagai modal mengekspresikan sesuatu.

baru sekarang2 aku ajarin secara lisan 'huruf M...untuk benda yang rodanya 4 itu apa?' aku sambil nunjuk mobil dan anakku akan mencari2 benda di sekitar yg aku tunjuk dan terdengar berawalan huruf M. jadi anakku tahu bahwa huruf itu ada fungsinya.


IMHO itu bagus karena seharusnya memang tidak memaksakan

role playing seperti masak2an atau main boneka itu penting dan bermanfaat dalam perkembangan sosial - psikologis, dan tentu saja motorik.
ngga usah kuatir kalau anak berkebutuhan khusus aja bisa maka anak normal pasti bisa. komprominya kalau anaknya sudah berminat, bisa diperkenalkan ke baca-tulis.
good point juga kalau sudah minta dibacakan buku cerita, karena sudah terbuka satu pintu untuk tahap berikutnya.

[*]untuk membangkitkan minat belajar, emaknya harus dekat dengan buku dan sesering mungkin anak liat bapak/emaknya 'bergaul dengan buku" selanjutnya bisa mulai melibatkan dia.
[*]kalau dia suka role playing boneka, carilah buku cerita bergambar dg satu atau dua baris tulisan. dongengin halaman-halaman tersebut dengan membacakan tulisan itu pada awal atau akhir penjelasan halaman ybs.
[*]belajar baca tulis akan lebih menarik kalau dia suka buku
[*]kesukaan pada b

uku akan timbul kalau dia lihat banyak hal menarik dan disukai pada buku
tugas ortu: menunjukkan bahwa buku memiliki banyak hal bagus dan keren...:rescell

soal kekuatiran masuk SD, gw boleh sharing yaa..., teman2 silakan sharing anak2nya masing2

mungkin sebagai benchmark bila dianggap sebagai sekolah yg termasuk menuntut aspek kognitif termasuk kemampuan calistung, test di sd-RSBI sesuai order dinas meliputi

[*]pendidikan. testnya ada 4 bagian dengan porsi penilaian yang sama:
[*]sosial, emosional, kemandirian >-- pakai baju, pakai sepatu
>[*]berbahasa-- memperkenalkan diri (identitas, alamat, ortu) ini bahasa and/or english (anggota badan)
[*]kognitif >-- calistung? sederhana
[*]motorik >-- menggunting, melipat, mewarnai, pasang kancing baju


untuk tahun ini nilai kognitif umumnya bagus, diatas 80, namun jangan kuatir ada juga yang 65. passing grade berdasarkan total nilai, bukan per bagian. bahkan ada yg 34 untuk komponen pertama...\(nilai rata2 66, paling rendah di sekolah ini, mungkin diterima karena kuota luar jakarta). grade tahun lalu ada beberapa yang dibawah 70, minimal kalau ndak salah ingat 65-an

soo....sosial emosional kemandirian justru merupakan aspek yang penting, akan mempengaruhi kemampuan penyesuaian diri belajar di tingkat pendidikan formal. karena harus melalui proses panjang maka harus diajarkan sejak dini

kalau calistung mah kursus 3 bulan juga bisa. mungkin bisa dimulai kalau saat TK B benar2 ngga bisa apa2...D....

kelihatannya semua ortu memiliki kekuatiran yang sama, tapi percayalah, sepanjang normal, anak memiliki kemampuan yg lebih baik dari estimasi ortunya. overall kekuatiran dari kemampuan kognitif sama sekali tidak terbukti. yang jadi masalah justru sosial-emosional-kemandirian....
DDAAAAfg - 29/08/2012 09:43 AM
#2

Quote:
Original Posted By katara1
Selamat Pagi Momod yang Cantik,

Halo teman Pendekar Anak, Ayah dan Bunda, Om dan Tante...
Ijinkan buka tret diskusi dan share disini tanpa didahului dengan artikel copas p

saya ingin diskusi berkembang berdasarkan pengetahuan dan pemikiran/gagasan dan pendapat teman2 secara terbuka, sehingga menambah perspektif ortu dalam melihat permasalahan ini dan mengambil manfaat untuk pendidikan dan pengajaran anaknya.

perkenalkan saya ortu juga, bukan dari bisnis pendidikan prasekolah maupun pendidikan dasar dan menengah jadi, ini bukan trit promo D
karena saya tidak berlatar belakang formal psikologi maupun paedagogi (ilmu pendidikan), maka bila salah silakah dikoreksi, dan siapa saja silakan berkontribusi...kalau ada yang bagus dan kebetulan ada stok serta waktu, cendol tersedia cendols

please tidak nge-junk, tidak ribut, tidak sara, tidak promo (beberapa promo sangat bermanfaat buat forum terkait dg topik ndak masalah). kalau keterlaluan dan diinginkan, batas juga tersedia kok malus

sori teesna galak kiss:


---selesai basa basi ---mari diskusi dengan pengantar sederhana:

Sebagian Ortu kuatir anaknya tidak bisa segera baca-tulis pada saat masuk SD, dan terburu-buru mengajarkan calistung pada usia dini dan melihat bahwa kurikulum SD adalah berat.
Di sisi lain banyak informasi yang menunjukkan mengenai adanya pengajaran calistung pada usia dini, expose yang cukup banyak dari para ortu yang anak2nya pada usia dini sudah bisa calistung di media, tekanan dari sekolahnya sendiri (paud/TK) yang mentargetkan anak2 didiknya segera diajarkan dan bisa calistung, dll....

Karena itu timbul banyak pertanyaan dan kekuatiran, banyak ambisi dan banyak kerisauan orang tua, intinya materi apa yang harus diberikan dalam mendidik dan mengembangkan anak usia prasekolah?

--------
dari tret sebelah tante TSL menuliskan komentar menarik:



IMHO itu bagus karena seharusnya memang tidak memaksakan

role playing seperti masak2an atau main boneka itu penting dan bermanfaat dalam perkembangan sosial - psikologis, dan tentu saja motorik.
ngga usah kuatir kalau anak berkebutuhan khusus aja bisa maka anak normal pasti bisa. komprominya kalau anaknya sudah berminat, bisa diperkenalkan ke baca-tulis.
good point juga kalau sudah minta dibacakan buku cerita, karena sudah terbuka satu pintu untuk tahap berikutnya.

[*]untuk membangkitkan minat belajar, emaknya harus dekat dengan buku dan sesering mungkin anak liat bapak/emaknya 'bergaul dengan buku" selanjutnya bisa mulai melibatkan dia.
[*]kalau dia suka role playing boneka, carilah buku cerita bergambar dg satu atau dua baris tulisan. dongengin halaman-halaman tersebut dengan membacakan tulisan itu pada awal atau akhir penjelasan halaman ybs.
[*]belajar baca tulis akan lebih menarik kalau dia suka buku
[*]kesukaan pada b

uku akan timbul kalau dia lihat banyak hal menarik dan disukai pada buku
tugas ortu: menunjukkan bahwa buku memiliki banyak hal bagus dan keren...:rescell

soal kekuatiran masuk SD, gw boleh sharing yaa..., teman2 silakan sharing anak2nya masing2

mungkin sebagai benchmark bila dianggap sebagai sekolah yg termasuk menuntut aspek kognitif termasuk kemampuan calistung, test di sd-RSBI sesuai order dinas meliputi

[*]pendidikan. testnya ada 4 bagian dengan porsi penilaian yang sama:
[*]sosial, emosional, kemandirian >-- pakai baju, pakai sepatu
>[*]berbahasa-- memperkenalkan diri (identitas, alamat, ortu) ini bahasa and/or english (anggota badan)
[*]kognitif >-- calistung? sederhana
[*]motorik >-- menggunting, melipat, mewarnai, pasang kancing baju


untuk tahun ini nilai kognitif umumnya bagus, diatas 80, namun jangan kuatir ada juga yang 65. passing grade berdasarkan total nilai, bukan per bagian. bahkan ada yg 34 untuk komponen pertama...\(nilai rata2 66, paling rendah di sekolah ini, mungkin diterima karena kuota luar jakarta). grade tahun lalu ada beberapa yang dibawah 70, minimal kalau ndak salah ingat 65-an

soo....sosial emosional kemandirian justru merupakan aspek yang penting, akan mempengaruhi kemampuan penyesuaian diri belajar di tingkat pendidikan formal. karena harus melalui proses panjang maka harus diajarkan sejak dini

kalau calistung mah kursus 3 bulan juga bisa. mungkin bisa dimulai kalau saat TK B benar2 ngga bisa apa2...D....

kelihatannya semua ortu memiliki kekuatiran yang sama, tapi percayalah, sepanjang normal, anak memiliki kemampuan yg lebih baik dari estimasi ortunya. overall kekuatiran dari kemampuan kognitif sama sekali tidak terbukti. yang jadi masalah justru sosial-emosional-kemandirian....


seperti biasa..kuot dolo ya
ini mak dark bkn sih?
TheLostSoul - 29/08/2012 10:18 AM
#3

iya om moet, itu mak dark \) liat locationnya.

mak, aku baca sekilas dulu ya... malem nanti aku ikutan diskusi. Alhamdulillah ada thread dgn open subject gini. jd bisa berkembang diskusinya.

:toast
katara1 - 29/08/2012 04:00 PM
#4

Quote:
Original Posted By DDAAAAfg
seperti biasa..kuot dolo ya
ini mak dark bkn sih?


sudah dijawab mak tante soul yaa malus

Quote:
Original Posted By TheLostSoul
iya om moet, itu mak dark \) liat locationnya.

mak, aku baca sekilas dulu ya... malem nanti aku ikutan diskusi. Alhamdulillah ada thread dgn open subject gini. jd bisa berkembang diskusinya.

:toast


silakan tante, moga2 bisa sesuai dengan selera para pendekar dan ada manfaatnya buat kita semua D
wiraspy - 29/08/2012 05:26 PM
#5

ijin baca2 dulu ya Mak \)
moethell - 29/08/2012 09:30 PM
#6

ponakan gw umur 5 th blm bisa calistung hammer:
bonyok nya gak ngajarin sih..padahal dari segi yg ts kasih (4bagian test)
ketiganya udah gape banget...bijimane tuh ..harus di kursus in dolo ya biar gampang msk sd nya o
katara1 - 29/08/2012 11:22 PM
#7

Quote:
Original Posted By wiraspy
ijin baca2 dulu ya Mak \)


silakan om, abis baca share yee

Quote:
Original Posted By moethell
ponakan gw umur 5 th blm bisa calistung hammer:
bonyok nya gak ngajarin sih..padahal dari segi yg ts kasih (4bagian test)
ketiganya udah gape banget...bijimane tuh ..harus di kursus in dolo ya biar gampang msk sd nya o


kalo jaman dulu katanya masuk SD baru dikenalin huruf
kalau sekarang ponakan ente mau masuk sekolah yg mensyaratkan kudu bisa baca tulis, ya mau ngga mau diajarin, bagusnya lewat sekolah dan diberi iklim & dukungan di rumah, atau terpaksanya kursus..
derryll - 30/08/2012 01:06 AM
#8

izin cerita ya mak dark malu:
ponakan ane (cewe) umur baru 20 bulan udah bisa mengeja, tp msh dalam bentuk verbal bukan mengeja lsg dari buku ya, misalkan ane bilang m..a ma..m...a ma nah pasti diterusin sama dia...MAMA.
tp masih terbatas juga, baru bs dua suku kata dan harus vokal dan konsonan yg sama.
nah klo gt apa berpengaruh gk ya klo misalkan tuh nanti anak udh mulai belajar membaca/mengenal huruf?
TheLostSoul - 30/08/2012 03:54 AM
#9

Lanjut diskusinya...

Sejauh ini aku lebih concern dengan aspek sosial, emosional, kemandirian, dan berbahasa anakku. Menurut aku, sangat penting anakku bisa bergaul dengan baik dengan semua orang, baik yg lebih tua maupun muda; dapat mengendalikan emosinya dengan baik; bisa makan, main, mandi, ke toilet, pakai baju dan sepatu sendiri; dan tidak pemalu serta bisa berkomunikasi dengan baik dengan orang lain tanpa malu2.

Hal2 seperti ini yang sulit diajarkan kepada anak, karena kadang teori2 yang kita baca atau dengar belum tentu sesuai dan bisa diterapkan ke anak. Harus pinter2 lihat sifat dan karakter anak, kalau nggak pas caranya bisa2 anak akan sulit memahaminya dan sulit untuk bisa menerapkannya.

Sejauh ini, menurut aku, yang paling sulit adalah melatih anak dalam mengendalikan emosinya. Anak2 seringkali sulit menggambarkan dan mengendalikan emosinya, jadi kita selaku orang tua suka bingung memahami dan mengatasinya.

Kalau kemampuan lainnya mungkin dapat dilatih dgn memberikan kepercayaan kepada anak sesuai dgn tahapan usianya. Misalnya untuk makan kita beri kepercayaan anak makan sendiri walaupun dalam prosesnya berantakan kemana2 dan menggunting kita beri kepercayaan memegang gunting (didampingi proses mengguntingnya) walau hasil guntingannya berantakan kemana2. Ga pernah terlupakan wajah anak yg berkaca2 bangga pas pertama kali diizinkan menggunting dan hasilnya dibantu untuk jadi kerajinan tangan.

Tapi sayangnya sekolah2 di Indonesia lebih mementingkan pendidikan akademis (hardskill) daripada softskill anak, seharusnya pendidikan dan penilaiannya berimbang agar anak seimbang perkembangan kemampuannya.

Banyak kita lihat di lingkungan sekitar kita, orang2 yg pinter secara akademis setelah dewasa prestasi dan karirnya biasa2 tapi justru orang2 yg dinilai lemah dr segi akademis atau malah ga sekolah tinggi2 malah lebih sukses dan berhasil hidupnya. Atau orang2 sangat pintarnya malah memanfaatkan segala cara untuk memperkaya diri sendiri, ga peduli dengan efeknya terhadap orang2 dan lingkungan sekitarnya.

Tapi apa pun pendidikan yg diterima anak di luaran, sebenernya pendidikan utama adalah dari orang tuanya di rumah. Tanpa adanya peran orang tua dalam pendidikan anak, anak2 bisa seperti layang2 yg putus dan terbang tanpa arah.
katara1 - 30/08/2012 07:52 AM
#10

Quote:
Original Posted By derryll
izin cerita ya mak dark malu:
ponakan ane (cewe) umur baru 20 bulan udah bisa mengeja, tp msh dalam bentuk verbal bukan mengeja lsg dari buku ya, misalkan ane bilang m..a ma..m...a ma nah pasti diterusin sama dia...MAMA.
tp masih terbatas juga, baru bs dua suku kata dan harus vokal dan konsonan yg sama.
nah klo gt apa berpengaruh gk ya klo misalkan tuh nanti anak udh mulai belajar membaca/mengenal huruf?


gw ngga bisa beropini apakah akan mempengaruhi kelak:

[*]biasanya spelling hurud diajarkan dalam bentuk lagu, nyanyian, ABCD... karena memang irama lagu/musik merupakan entry point yang menyenangkan buat anak2. irama twinkle2 litle star...in english atau bahasa sama saja.
[*]soal mulai dari huruf atau langsung suku kata atau kata, masing2 metode ada. kalau spelling huruf merupakan pendekatan klasik dari jaman dulu. hasilnya lama ngga ngerti2...satu huruf independen dan satu kata/suku kata adalah dua hal berbeda yang abstrak buat anak2.
[*]metode ini yang di challange oleh glen doman, dengan pendekatan kata menjadi picture "mama" pada flash card, diasosiasikan langsung dengan gambar "mama". subyektif ini lebih mudah karena anak hanya pakai indra visualnya ngga pake mikir berat untuk menyambungkan.
[*]secara co-incidence metode ini mirip dengan iqro, panduan belajar baca Alquran yang berbeda dengan metode jaman dulu yang mulai dari huruf2 namanya 'buku Turutan"-cmiiw



sedikit tips: mulailah dg yg paling dekat dg dia "nama sendiri, ortu, mainan kesukaan....

kalau ditanyakah apakah anak bisa? jawabannya bisa, pertanyaannya apakah ini saat yang optimal? >-- nanti gw kasih link pendapat psikolog dibawah

pertanyaan selanjutnya: apakah kita akan menjadikan anak sebagai "beo" mengatakan apa yang tidak dipahaminya, atau sabar menunggu sampai dia menyerap sesuai dengan kemampuan pemahamannya dan memaknai apa yang dilakukan/dipelajari?

seberapa cemerlang anak2 yang dilatih di usia dini akan cemerlang - kita batasi saja dalam hal akademik?

catatan gw dari bisnis pendidikan tinggi: gw tidak melihat istimewanya secara signifikan anak2 yang belajar di usia lebih muda. kelebihannya hanya mereka lebih muda saja. tapi secara overall performance ngga....
secara umum mereka potensial bermasalah dengan etika. sikap. kecermatan, kesabaran dan kesempurnaan (umumnya malah nggak perfeksionis, banyak yng asal selesai, asal lewat, asal lulus). (disclaimer: bukan hasil penelitian, hanya catatan gw ketika berhadapan dg anak2 supaya ngga salah treatment)
IPK mereka umumnya tinggi karena memang standarnya berbeda. say dulu pakai distribusi normal, sekarang standar. juga untuk fairness di dunia kerja - mengimbangi PT2 yang obral nilai. kan ngga lucu kalau dalam seleksi admin, anak ITB dg IPK 2,97 kalah dengan anak PTS di depok dengan IPK 3,9, which is ini pernah kejadian sementara gw yakin si anak ITB jauh lebh cemerlang.

yg muncul tetaplah sebagian kecil individu yang memang memiliki bekal kecerdasan baik secara genetik, keseimbagan kecerdasan2nya dan kematangan yang memadai.

Quote:
Original Posted By TheLostSoul
Lanjut diskusinya...

Sejauh ini aku lebih concern dengan aspek sosial, emosional, kemandirian, dan berbahasa anakku. Menurut aku, sangat penting anakku bisa bergaul dengan baik dengan semua orang, baik yg lebih tua maupun muda; dapat mengendalikan emosinya dengan baik; bisa makan, main, mandi, ke toilet, pakai baju dan sepatu sendiri; dan tidak pemalu serta bisa berkomunikasi dengan baik dengan orang lain tanpa malu2.

Hal2 seperti ini yang sulit diajarkan kepada anak, karena kadang teori2 yang kita baca atau dengar belum tentu sesuai dan bisa diterapkan ke anak. Harus pinter2 lihat sifat dan karakter anak, kalau nggak pas caranya bisa2 anak akan sulit memahaminya dan sulit untuk bisa menerapkannya.

Sejauh ini, menurut aku, yang paling sulit adalah melatih anak dalam mengendalikan emosinya. Anak2 seringkali sulit menggambarkan dan mengendalikan emosinya, jadi kita selaku orang tua suka bingung memahami dan mengatasinya.

Kalau kemampuan lainnya mungkin dapat dilatih dgn memberikan kepercayaan kepada anak sesuai dgn tahapan usianya. Misalnya untuk makan kita beri kepercayaan anak makan sendiri walaupun dalam prosesnya berantakan kemana2 dan menggunting kita beri kepercayaan memegang gunting (didampingi proses mengguntingnya) walau hasil guntingannya berantakan kemana2. Ga pernah terlupakan wajah anak yg berkaca2 bangga pas pertama kali diizinkan menggunting dan hasilnya dibantu untuk jadi kerajinan tangan.

Tapi sayangnya sekolah2 di Indonesia lebih mementingkan pendidikan akademis (hardskill) daripada softskill anak, seharusnya pendidikan dan penilaiannya berimbang agar anak seimbang perkembangan kemampuannya.

Banyak kita lihat di lingkungan sekitar kita, orang2 yg pinter secara akademis setelah dewasa prestasi dan karirnya biasa2 tapi justru orang2 yg dinilai lemah dr segi akademis atau malah ga sekolah tinggi2 malah lebih sukses dan berhasil hidupnya. Atau orang2 sangat pintarnya malah memanfaatkan segala cara untuk memperkaya diri sendiri, ga peduli dengan efeknya terhadap orang2 dan lingkungan sekitarnya.

Tapi apa pun pendidikan yg diterima anak di luaran, sebenernya pendidikan utama adalah dari orang tuanya di rumah. Tanpa adanya peran orang tua dalam pendidikan anak, anak2 bisa seperti layang2 yg putus dan terbang tanpa arah.


thumbup: gw setuju kalau soft skill dan hard skill sama pentingnya dalam membekali hidup anak di masa depannya kelak...

rasanya kita perlu definisikan kata "keberhasilan" apakah berhasil di karir, dunia kerja/profesi dan materi; atau berhasil dalam keseluruhan aspek secara seimbang dimana karir dan materi tidak terlalu penting?

so mari kita concern pada mempersiapkan anak menghadapi tantangan hidupnya sendiri dan bisa menjalani persoalan2 hidupnya dengan baik.

gw no comment soal yang menentukan keberhasilannya adalah softskill. gw kebetulan sering menyaksikan orang2 yang berbeda di tempat yang berbeda dengan posisi yang berbeda2 dari bawah ke atas, sesekali juga terlibat dalam proses seleksi dan penempatan atau fit-proper. Dari pengamatan gw faktornya banyak, ada yg kliatan ada yg ngga, ada yg bisa dirasakan ada yg ngga, okelah dari kecerdasan, kemampuan bahasa, networking, persaudaraan (serius), "modal" kasak-kusuk, kemampuan politicking, keberuntungan dll....ada yg bersih ada yg nggak.
ini di indo ya, which is sebagian besar organisasi ngga punya HR mapping, planning, carrier planning dll. sampai level tertentu saja sistem bekerja, namun kalau sudah 2-3 level di bawah direksi, faktor lain penjadi penting...

katakanlah di birokrasi: kenapa banyak orang yg mandeg jadi kabag saja? siapa yg jadi asdep/dep-nya? pantaskah atau lebih hebatkah mereka dibanding kabag2 yg karirnya mentok? apa yg dapat kita lihat kalau ada mutasi2 yg sangat cepat, dalam hitungan bulan? which is dalam common sense saja itu ngga bener...
katara1 - 30/08/2012 07:56 AM
#11
Kata Pakar
Psikolog: Jangan Paksakan Calistung di PAUD, Bisa Rusak Mental Anak



Jakarta Pendidikan membaca-menulis-berhitung (calistung) yang diajarkan pada pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga dijadikan tes saringan masuk SD dinilai tidak benar dan tidak wajar. Calistung bisa diajarkan di PAUD, asal tidak dipaksakan karena bisa merusak mental anak.

"Memang di Indonesia itu (calistung di PAUD) menjadi lumrah. Pertanyaannya sekarang kita mau memakai standar yang mana? Membiasakan yang benar atau membenarkan yang biasa? Indonesia sejak dulu itu membenarkan yang biasa. Ohh itu sudah biasa anak TK belajar menulis supaya bisa. Tetapi kalau dilihat standar konvensi internasional, misalnya di Finlandia, anak itu boleh membaca itu umur 7 tahun. Akhirnya belajar di TK standarnya," jelas psikolog Kasandra Putranto.

Hal itu dikatakan Kasandra usai jumpa pers di Komnas Perlindungan Anak (PA), Jalan TB Simatupang, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Rabu (6/6/2012).

Kasandra mengatakan, calistung bisa dan boleh saja diajarkan di PAUD, asal tidak wajib dan tidak dipaksakan. Karena kemampuan satu anak dengan anak yang lain berbeda-beda.

"Saya sebagai psikolog menyatakan, kalau anaknya mampu ya nggak apa-apa. Kalau anaknya nggak mampu itu yang menjadi masalah," imbuhnya.

PAUD yang mengajarkan calistung, imbuhnya, meletakkan standar yang tinggi pada anak. Sehingga bila anak merasa tidak mampu, maka akan dianggap bodoh.

"Jadinya mereka diletakkan pada standar yang ketinggian, mereka semua teman-temannya harus bisa nulis. Jadi bisa dibayangin nggak konsep diri mereka kaya gimana? Misalkan, kamu bodoh, yang lainnya bisa kok kamu nggak bisa," jelas dia.

Penilaian 'bodoh' bila tak mampu melakukan calistung di PAUD ini, bisa mengancam mental anak itu. Apalagi, jika calistung distandardisasikan di PAUD.

"Itulah yang saya bilang, membenarkan yang biasa bukan yang benar. Sudah jelas nggak benar tapi dibiasakan. Problemnya adalah memang akhirnya ada bahayanya. Nah kalau anak ikut contoh itu maka akan merusak konsep diri mereka. Memang sih di satu sisi bagus, karena kita punya standar yang tinggi. Tapi bagaimana yang tidak mampu? Itu kan bisa merusak mental mereka," jelas Kasandra.

Sebelumnya dalam detikhealth, Komnas PA bahkan merilis data pada Maret 2012 lalu bahwa terjadi 2.386 kasus pelanggaran dan pengabaian terhadap anak sepanjang tahun 2011. Angka ini naik 98% dibanding tahun lalu. Mayoritas anak-anak ini stres karena kehilangan masa bermainnya. Anak-anak sudah disibukkan dengan tetek bengek seperti les, sekolah, dan kursus bahkan sejak usia balita.

"Negara gagal memberi jaminan perlindungan kepada anak-anak. Kalau kita lihat sistem kurikulum di PAUD, anak-anak harus dapat membaca, menulis dan berhitung baru bisa masuk SD. Padahal harusnya anak usia dini itu hanya dikenalkan dengan konsep-konsep dasar kehidupan saja seperti bersosialisasi dan bergaul," kata Arist Merdeka Sirait, ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak dalam acara diskusi pers di Plaza Bapindo, Jakarta (20/3/2012).

Arist menyoroti kurikulum PAUD yang terlalu kaku ini membuat anak-anak menjadi tertekan. Ia juga menegaskan menegaskan bahwa mutu pendidikan di Indonesia lebih rendah dibandingkan Vietnam. Salah satu alasannya adalah karena anak-anak tidak diberikan alternatif kurikulum selain yang diajarkan di sekolah.

"Tuntutan-tuntutan ini menyebabkan anak-anak menjadi stres. Orangtua banyak membebani dan menuntut anak-anaknya dengan berbagai macam kegiatan. Namun orangtua ini juga tidak siap menjadi orangtua karena alasan sibuk," kata Arist.

Anak-anak yang stres justru tidak akan berkembang sebab mereka rentan depresi dan terjerumus dalam perilaku berbahaya. Orangtua sebaiknya memberikan kebebasan pada anak-anaknya untuk memilih aktifitasnya. Selain itu, orangtua harus sering-sering melakukan komunikasi dengan anak-anaknya secara kekeluargaan, bukan hanya menyuruh dan memarahi.

(nwk/nrl)

sumber: http://news.detik.com/read/2012/06/06/151625/1934354/10/psikolog-jangan-paksakan-calistung-di-paud-bi sa-rusak-mental-anak
wiraspy - 30/08/2012 02:05 PM
#12

Quote:
Original Posted By katara1
silakan om, abis baca share yee



kalo jaman dulu katanya masuk SD baru dikenalin huruf
kalau sekarang ponakan ente mau masuk sekolah yg mensyaratkan kudu bisa baca tulis, ya mau ngga mau diajarin, bagusnya lewat sekolah dan diberi iklim & dukungan di rumah, atau terpaksanya kursus..


share apa ya Mak? anak ane baru 2,5 taon D

belom bisa calistung..., ngomong aja masih belom "bener" D
suka dibalik-balik ngomongnya. Kalo diajarin, suka cengengesan D

tapi.....,

nalarnya udah jalan mak D.
Alhamdulillah nurut juga \)
Ane lebih mengutamakan sosial, emosional si anak dahulu D

untuk PAUD?? ane gak minat masukin ke PAUD D
mendingan diajarin di rumah sendiri D
katara1 - 30/08/2012 03:24 PM
#13

Quote:
Original Posted By wiraspy
share apa ya Mak? anak ane baru 2,5 taon D

belom bisa calistung..., ngomong aja masih belom "bener" D
suka dibalik-balik ngomongnya. Kalo diajarin, suka cengengesan D

tapi.....,

nalarnya udah jalan mak D.
Alhamdulillah nurut juga \)
Ane lebih mengutamakan sosial, emosional si anak dahulu D

untuk PAUD?? ane gak minat masukin ke PAUD D
mendingan diajarin di rumah sendiri D


bagus mas, no problem. kalau bisa sendiri kenapa tidak? keuntungan paud adalah sosialisasi, toh kita bisa berikan di lingkungan yang lain...

yg perlu diperhatikan adalah juga tempat belajar agama, misal kalau di islam katakan TPA. ati2, kadang mereka kebablasan juga....(gw pernah post di sini dulu, di TPA kadang bablas anak TK sudah disuruh pisah dan nyambung huruf arab :think\), dimana seharusnya diajarin dasar dan moral kaya cerita nabi2 dan sahabat2nya....

lagian sih masa balita cuma 5 tahun, puas-puasin deh sama dia, setelah itu kita mesti berbagi waktunya dengan waktu sekolah dan teman2nya D
wiraspy - 31/08/2012 08:59 AM
#14

Quote:
Original Posted By katara1
bagus mas, no problem. kalau bisa sendiri kenapa tidak? keuntungan paud adalah sosialisasi, toh kita bisa berikan di lingkungan yang lain...

yg perlu diperhatikan adalah juga tempat belajar agama, misal kalau di islam katakan TPA. ati2, kadang mereka kebablasan juga....(gw pernah post di sini dulu, di TPA kadang bablas anak TK sudah disuruh pisah dan nyambung huruf arab :think\), dimana seharusnya diajarin dasar dan moral kaya cerita nabi2 dan sahabat2nya....

lagian sih masa balita cuma 5 tahun, puas-puasin deh sama dia, setelah itu kita mesti berbagi waktunya dengan waktu sekolah dan teman2nya D


benul kk...
menurut ane, PAUD cocok bagi anak yang ditinggal ortunya kerja, atau ortunya gak bisa nemenin si kecil tiap harinya D

Biasanya masa balita disebut juga golden age D.., ituh kata orang sih D
puas-puasin membentuk anak dan menjalin hubungan yang lebih baek dengan si calon pemimpin bangsa, penemu-penemu baru, dan penerus sejarah hidup kita kelak \)
moethell - 31/08/2012 09:12 AM
#15

Quote:
Original Posted By wiraspy
benul kk...
menurut ane, PAUD cocok bagi anak yang ditinggal ortunya kerja, atau ortunya gak bisa nemenin si kecil tiap harinya D

Biasanya masa balita disebut juga golden age D.., ituh kata orang sih D
puas-puasin membentuk anak dan menjalin hubungan yang lebih baek dengan si calon pemimpin bangsa, penemu-penemu baru, dan penerus sejarah hidup kita kelak \)


si maho wira :genit bisa ngemeng gini
wiraspy - 31/08/2012 09:22 AM
#16

Quote:
Original Posted By moethell
si maho wira :genit bisa ngemeng gini


kan id ane baru dipinjem ama seseorang.... D

mungkin terkontaminasi gitooo... think:
Ramley - 10/09/2012 02:10 AM
#17

Quote:
Original Posted By wiraspy


benul kk...
menurut ane, PAUD cocok bagi anak yang ditinggal ortunya kerja, atau ortunya gak bisa nemenin si kecil tiap harinya D

Biasanya masa balita disebut juga golden age D.., ituh kata orang sih D
puas-puasin membentuk anak dan menjalin hubungan yang lebih baek dengan si calon pemimpin bangsa, penemu-penemu baru, dan penerus sejarah hidup kita kelak \)


Waduh bos... PAUD bukan cuma sebagai tempat bocah di drop pagi dan pick siang/sore lah. PAUD nggak akan maksimal hasilnya kalau nggak ada koordinasi aktif dari orang tua, praktisi (dokter anak, psikolog anak), dan gurunya secara efektif, konsisten, & kontinyu. Monitoring & evaluasi serta follow up dirumah dari orang tua kepada anak juga sama pentingnya. Sampai meskipun ada beberapa PAUD yang berani memberikan pelatihan intensif bagi pengasuh untuk follow up dirumah, tapi tetap, peran orang tua sangat lebih efektif dan berdaya guna untuk melaksanakan follow up action dari edukasi yang sudah diperolehnya di PAUD.

Balita memang golden age, karena di usia itulah basic affective, behavior, & cognitive akan terbentuk dan selama hidupnya akan menjadi basis semua aktualisasi affective, behavior, & cognitive. So, beri dia stimulus dan practice yang bermanfaat sehingga dewasanya nanti dia bisa menjadi manusia yang sempurna.
abee1984 - 10/09/2012 12:03 PM
#18

      baca2 dl yah D
anak baru 1minggu malu:
wiraspy - 10/09/2012 12:49 PM
#19

Quote:
Original Posted By Ramley
Waduh bos... PAUD bukan cuma sebagai tempat bocah di drop pagi dan pick siang/sore lah. PAUD nggak akan maksimal hasilnya kalau nggak ada koordinasi aktif dari orang tua, praktisi (dokter anak, psikolog anak), dan gurunya secara efektif, konsisten, & kontinyu. Monitoring & evaluasi serta follow up dirumah dari orang tua kepada anak juga sama pentingnya. Sampai meskipun ada beberapa PAUD yang berani memberikan pelatihan intensif bagi pengasuh untuk follow up dirumah, tapi tetap, peran orang tua sangat lebih efektif dan berdaya guna untuk melaksanakan follow up action dari edukasi yang sudah diperolehnya di PAUD.

Balita memang golden age, karena di usia itulah basic affective, behavior, & cognitive akan terbentuk dan selama hidupnya akan menjadi basis semua aktualisasi affective, behavior, & cognitive. So, beri dia stimulus dan practice yang bermanfaat sehingga dewasanya nanti dia bisa menjadi manusia yang sempurna.


Itu emang tujuan utama PAUD Om \)
tapi dalam pelaksanaannya masih ane liat kurang sesuai dengan tujuan utamanya tadi.
Kurang maksimal kalo Om bilang di atas D.
Bagaimanapun juga tetep peran ortu di rumah sangatlah penting \)
darkangel1 - 10/09/2012 01:13 PM
#20

Quote:
Original Posted By Ramley
Waduh bos... PAUD bukan cuma sebagai tempat bocah di drop pagi dan pick siang/sore lah. PAUD nggak akan maksimal hasilnya kalau nggak ada koordinasi aktif dari orang tua, praktisi (dokter anak, psikolog anak), dan gurunya secara efektif, konsisten, & kontinyu. Monitoring & evaluasi serta follow up dirumah dari orang tua kepada anak juga sama pentingnya. Sampai meskipun ada beberapa PAUD yang berani memberikan pelatihan intensif bagi pengasuh untuk follow up dirumah, tapi tetap, peran orang tua sangat lebih efektif dan berdaya guna untuk melaksanakan follow up action dari edukasi yang sudah diperolehnya di PAUD.

Balita memang golden age, karena di usia itulah basic affective, behavior, & cognitive akan terbentuk dan selama hidupnya akan menjadi basis semua aktualisasi affective, behavior, & cognitive. So, beri dia stimulus dan practice yang bermanfaat sehingga dewasanya nanti dia bisa menjadi manusia yang sempurna.


lanjut om...

Quote:
Original Posted By wiraspy
Itu emang tujuan utama PAUD Om \)
tapi dalam pelaksanaannya masih ane liat kurang sesuai dengan tujuan utamanya tadi.
Kurang maksimal kalo Om bilang di atas D.
Bagaimanapun juga tetep peran ortu di rumah sangatlah penting \)


banyakan latah ya om?
makanya ortu harus sadar tanggung jawab utama pada dirinya, tapi jangan lebay juga yee ;)

Quote:
Original Posted By abee1984
      baca2 dl yah D
anak baru 1minggu malu:


wah selamat yaa.....:selamat:
Page 1 of 4 |  1 2 3 4 > 
Home > LOEKELOE > WEDDING & FAMILY > Anak > Share & Diskusi: Pendidikan Pra Sekolah dan Persiapan Masuk SD