BERITA DAN POLITIK
Home > CASCISCUS > BERITA DAN POLITIK > Setiap Tahun dari 7000-an Lulusan Kedokteran, Sekitar 35% Tak Lulus Uji Kompetensi
Total Views: 26987 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 36 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›

ts4l4sa - 22/09/2012 09:32 AM
#1
Setiap Tahun dari 7000-an Lulusan Kedokteran, Sekitar 35% Tak Lulus Uji Kompetensi
Setiap Tahun dari 7000-an Lulusan Kedokteran, Sekitar 35% Tak Lulus Uji Kompetensi

Duh 35 Persen Dokter Tak Lulus Uji Kompetensi
Sabtu, 22 September 2012, 01:02 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,BANJARMASIN--Ketua Komite Internsip Dokter Indonesia Profesor Mulyohadi Ali, dr SpF (K) mengatakan 35 persen dokter di Indonesia tidak lulus uji kompetensi. Hal tersebut dikarenakan masih rendahnya sumber daya manusia serta kelengkapan fasilitas pendidikan di Indonesia,kata Mulyohadi usai sosialisasi masalah Jaminan Kesehatan di Banjarmasin, Kamis.

Saat ini banyak kampus Fakultas Kedokteran di Indonesia terakreditasi C yang merupakan akreditasi terendah untuk kelengkapan fasilitas dan tenaga pengajar. Kondisi tersebut, kata dia, mendorong terciptanya lulusan kedokteran yang belum bisa memenuhi syarat kelulusan uji kompetensi sehingga dikhawatirkan akan bisa menghambat perkembangan peningkatan derajat kesehatan masyarakat juga kemampuan para dokter. "Uji kompetensi merupakan syarat untuk bisa mendapatkan izin praktik kedokteran, sehingga bila tidak lulus uji kompetensi dokter bersangkutan harus dikembalikan ke kampus untuk kembali dibina," katanya.

Menurut Mulyohadi yang juga bekerja di Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kementerian Kesehatan RI, dari 72 kampus kedokteran di Indonesia baru sekitar 14 fakultas yang mendapatkan akreditasi A dan sisanya akredetasi B dan paling banyak adalah C. Tentang apakah fakultas kedokteran dengan akreditasi C tidak layak untuk mencetak dokter, Mulyo mengatakan, bahwa di luar negeri tidak ada akreditasi, yang ada hanya layak dan tidak layak.

Dalam setiap tahunnya, kata dia, secara nasional dilakukan uji kompetensi antara 7.000 hingga 7.500 dokter, dari jumlah tersebut rata-rata yang tidak lulus 30-35 persen. "Yang tidak lulus ya harus kembali mengikuti uji kompetensi di waktu selanjutnya, bahkan ada yang pernah ikut uji tersebut hingga 17 kali," katanya.

Kompetensi dokter adalah kemampuan dokter dalam melakukan praktik profesi kedokteran yang meliputi ranah kognitif, psikomotor, dan afektif. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah kurikulum yang menitikberatkan kepada kompetensi dokter sesuai dengan standar kompetensi dokter yang ditetapkan oleh KKI dan sertifikat kompetensi adalah surat tanda pengakuan terhadap kemampuan seorang dokter atau dokter gigi untuk menjalankan praktik kedokteran di seluruh Indonesia setelah lulus uji kompetensi yang dikeluarkan oleh Kolegium.

Setelah lulus uji kompetensi Surat Tanda Registrasi (STR) dokter adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Konsil Kedokteran Indonesia kepada dokter sesuai ketentuan perundang-undangan. Saat ini, tambah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya tersebut, di Indonesia terdapat 100 ribu dokter yang terdaftar di regristasi konsil kedokteran Indonesia.
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/09/22/mapmit-duh-35-persen-dokter-tak-lulus-uji-ko mpetensi

Quote:

Pengangguran Berstatus Sarjana Kedokteran Rupanya Ribuan
Kamis, 25 Februari 2010

Sejak zaman kolonial pemerintah Belanda dulu, penyandang gelar sarjana kedokteran sangat terhormat. Alasannya, pemerintah Belanda hanya membuka sekolah tingkat tinggi jurusan kedokteran dan teknik bangunan saja. Kejadian itu saat dilaksanakannya “Politik Etis” Belanda yang resmi dijalankan tahun 1911.

Namun di tahun 2010 saat ini, mengutip Ketua komisi IX DPR-RI, Dr Ripka Tjiptaning mengungkapkan, saat ini ada ribuan sarjana kedokteran di Indonesia, baik dari perguruan tinggi negeri apalagi perguruan tinggi swasta yang menganggur.

Hal ini akibat dari kebijakan pemerintah yang mempersulit persyaratan izin praktek. Ini sangat ironis karena banyak daerah di Indonesia yang membutuhkan tenaga medis, khususnya para dokter.

Wajar saja kalau terpaksa miris dengan pengaduan dari daerah yang kekurangan dokter. Padahal ada ribuan sarjana kedokteran yang saat ini menganggur karena sistem yang dibuat pemerintah tidak benar. Khususnya dalam pemberian Surat Tanda Registrasi (STR) sebagai izin praktek kedokteran.

Untuk menunggu STR keluar, sarjana kedokteran harus menunggu bertahun-tahun dengan sistem yang berbelit-belit dan terkadang membutuhkan modal yang besar lagi. Akibatnya, banyak sarjana kedokteran yang akhirnya banting stir.

Menurut data Komisi IX DPR-RI, setiap tahunnya ada sekitar 5.000 sarjana kedokteran yang lulus dari Perguruan Tinggi Swasta. Jumlah lebih besar tentunya bisa diperoleh bila digabungkan dengan sarjana kedokteran dari perguruan tinggi negeri yang tersebar se Indonesia.

Namun faktanya, dari 225 juta penduduk Indonesia, hanya terlayani sekitar 72 ribu tenaga dokter saja. Kekurangan ini bukan karena kita kekurangan putra putri terbaik bangsa, atau bukan karena orang Indonesia tidak pintar. Tapi karena sistem yang menghukum kita semua. Seperti dokter spesialis yang syarat diterima jadi PNS maksimal 35 tahun, itu kan sangat jarang sekali ada tapi sistem mengatur demikian.

Banyak dokter-dokter muda potensial yang dimiliki negeri ini, terpaksa tinggal di rumah karena tak bisa bekerja karena tak diizinkan praktik oleh negara, memang aneh. Sementara ada rakyat yang menjerit minta terlayani kesehatannya. Makanya jangan terlalu mengolok dukun adat, kalau tenaga medis modern di negeri ini masih sukar terakses.
http://www.equator-news.com/kalbar-raya/tajuk-rencana/pengangguran-berstatus-sarjana-kedokteran-rupan ya-ribuan


-----------------------

Gua punya seorang teman yang kebetulan menjabat sebagai REKTOR di sebuah PTS besar di Jawa Timur. Universitasnya itu memiliki sebuah fakultas bergengsi, yaitu Fakultas Kedokteran. Meski uang masuknya diatas seratus jutaan, belum termasuk SPP, peminat fakultas kedokterannya cukup besar. Masalahnya, kata teman gua yang Rektor itu, biaya penyelenggaraan pendidikan kedokteran di universitas itu, amatlah mahal! Dia menyampaikan fakta, bahwa hampir tak ada satu pun fakultas Kedokteran milik PTS di Indonesia saat ini, yang pembiayaanya tanpa diberi subsidi yang cukup besar dari universitasnya. Subsidi biasanya dilakukan secara silang, dananya diambilkan dari sumbanangan dan SPP mahasiswa fakultas favorit lainnya seperti fakultas ekonomi dan fakultas ilmu komunikasi. Intinya, penyelenggaraan pendidikan kedokteran di PTS itu, samasekali tak ada untungnya secara bisnis, karena selalu difisit dan disubsidi. Lalu bagaimana mereka tetap exist? Dia melanjutkan penuturannya, di beberapa fakultas kedokteran PTS seperti di Jakarta misalnya, fakultas kedokteran itu membuka usaha sampingan seperti 'rumah salon' untuk mayat. Tapi tetap saja tak mencukupi untuk biaya pendidikan kedokteran itu. Tapi kenapa PTS itu tetap mempertahankan fakultas yang terus merugi itu? Jawabannya hanya satu, yaa untuk gengsi itulah! Sebuah Universitas milik PTS kalau tak memiliki fakultas kedokteran, nilainya dipandang rendah di masyarakat, kata sang Rektor! Wallahu' alam!
BundaMaricrot - 22/09/2012 09:40 AM
#2

dokter karbitan juga banyak krn kualitas FK swasta yg kek tai.... diagnosis typus ternyata liver...

ngemeng2 ane pertemex gaga ea...??
ts4l4sa - 22/09/2012 09:50 AM
#3

Setiap Tahun dari 7000-an Lulusan Kedokteran, Sekitar 35% Tak Lulus Uji Kompetensi

7 Standar Kompetensi Dokter Indonesia

Menjadi dokter memang tidak mudah, karena ini menyangkut nyawa manusia. Tidak sedikit dokter yang gagal ketika melakukan praktik, sehingga pasiennya meninggal atau cacat. Diperlukan dedikasi dan tanggung jawab yang tinggi untuk menjadi seorang dokter. Dokter adalah profesi yang sangat spesial. Untuk itulah standar kompetensi dokter Indonesia diciptakan.

Tujuannya sederhana, standar ini dibuat untuk menjadikan dokter kita berkualitas dan bertanggung jawab. Jangan asal memilih dokter, lihat dulu apakah ia memenuhi standar atau tidak. Standar kompetensi Dokter Indonesia seperti Kode etik Jurnalistik. Itu tidak bisa diabaikan.

Dokter yang bertanggung jawab akan selalu memegangnya sebagai pedoman pekerjaan. Berikut 7 Standar Kompetensi Dokter Indonesia yang dimuat dalam Konsil Kedokteran Indonesia tahun 2006.

Mungkin ini bisa membantu Anda yang ingin menjadi dokter. Atau yang sedang kebingungan mencari dokter

1. Area Komunikasi Efektif

Di sini dokter diwajibkan untuk berkomunikasi dengan baik dan benar. Komunikasinya tidak boleh basa-basi, ia harus efektif. Ia diwajibkan untuk berkomunikasi secara verbal dan nonverbal pada semua kalangan dan tingkatan usia.

2. Area Keterampilan Klinis

Dokter harus bisa melakukan prosedur klinis yang benar ketika menghadapai masalah kedokteran. Prosedur ini pun harus sesuai dengan kebutuhan pasien dan wewenangnya sebagai seorang dokter.

3. Area Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran

Dokter harus bisa melakukan analisis, melakukan identifikasi, memberi penjelasan, dan merancang penyelesaian masalah kesehatan secara ilmiah menurut ilmu kedokteran-kesehatan yang mutakhir. Sehingga pasien mendapatkan hasil yang optimal

4. Area Pengelolaan Masalah Kesehatan

Dokter harus mampu mengelola masalah-masalah kesehatan individu, masyarakat, dan keluarga secara menyeluruh. Dokter harus bisa melakukan semuanya secara berkesinambungan dan kolaboratif. Selain itu, ia harus bersikap koordinatif dalam hal ini.

5. Area Pengelolaan Informasi

Dokter harus bisa menyaring dan mengolah informasi secara kritis. Ia harus mampu menerapkan informasi yang ia punya untuk menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan. Ini terkait dengan pelayanan kesehatan di tingkat primer.

6. Area Mawas Diri dan Pengembangan Diri

Dokter harus selalu melakukan pengembangan terhadap dirinya sendiri. Tidak tertutup dengan perubahan, dan selalu mencari informasi di dunia kedokteran modern. Selain itu, dokter juga harus bertanggung jawab dan sadar akan kemampuannya. Ia tidak boleh memaksakan hal-hal yang tidak ia kuasai terhadap pasien. Dokter juga harus bersikap tenang, ia tidak boleh mencampuradukan antara masalah pribadinya dengan profesionalismenya di lapangan.

7. Area Etika, Moral, Medikolegal, profesionalisme, dan Keselamatan Pasien

Dokter harus berprilaku profesional dalam semua kegiatan praktik kedokteran. Mendukung kebijakan kesehatan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini, dokter juga harus beretika dan mengedapankan moral dalam melakukan praktiknya. Keselamatan pasien diutamakan.
http://www.anneahira.com/standar-kompetensi-dokter-indonesia.htm

Setiap Tahun dari 7000-an Lulusan Kedokteran, Sekitar 35% Tak Lulus Uji Kompetensi

Setiap Tahun dari 7000-an Lulusan Kedokteran, Sekitar 35% Tak Lulus Uji Kompetensi

Uji Kompetensi Dokter Indonesia 2012
REP | 04 August 2012 | 10:31

Setelah beberapa saat yang lalu kita mendengar bahwa uji kompetensi guru telah dimulai dilaksanakan kini giliran Uji Kompetensi Dokter Indonesia dimulai. hari ini uji kompetensi itu dilaksankan di (FK-UMI) Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia kampus II Jalan Urip Sumoharjo, Makasar. Uji Kompetensi ini diikuti kurang lebih 122 dokter.

Uji kompetensi ini meliputi ratusan dokter yang berasal dari berbagai jurusan yang tersebar dibeberapa kota di Indonesia. Diantaranya berasal dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Universitas Ahmad Yani Bandung, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Universitas Hasanuddin, dan UMI sendiri.

Ujian yang dilakukan sama, dengan system yang digunakan pada uji kompetensi guru yakni menggunakan system online. Adapun materi yang diujikan jelas berbeda uji kompetensi dokter meliputi kompetensi mereka dibidang kesehatan. Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Dekan III FK UMI, dr Nasrudin AM SpOG.

FK UMI sendiri menajadi salah satu tempat dari salah satu lokasi ujian kompetensi dokter Indonesia. FK UMI terpilih menjadi tempat penyelenggaraan Uji Kompensi Dokter Indonesia berdasarkan Surat Keputusan (SK) Komite Bersama uji Kompetensi Dokter Indonesia (KBUKDI) Nomor 542/KB/VII/2012 tertanggal 30 Juli 2012 lalu. Selain itu juga FK UMI terpilih karena memilki fasiltas Computer Based Test Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (CBT UKDI).

Dengan lengkapnya peralatan yang ada membuat alumni FK UMI tidak lagi kesulitan untuk mengikuti Uji Kompetensi ini, karena mereka bisa mengikuti Uji Komptensi itu dikampus sendiri. Bahkan sarana ini juga bisa digunakan oleh alumni kedokteran dari fakultas lain untuk bisa mengikuti uji kompetensi tersebut.

Uji kompetensi ini bertujuan untuk mengevaluasi kompetensi dokter Indonesia untuk mendapatkan sertifikat kompetensi sebagai pelaksanaan UU praktik kedokteran untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR). Dengan adanya UKDI maka diharapkan kualitas dokter Indonesia terstandar sehingga kualitas pelayanan kesehatan Indonesia semakin baik.

Hal ini sangat positif karena mengingat banyaknya lulusan dokter yang mempunyai kemampuan dibawah rata-rata karena ada sebagian dari mereka yang diluluskan secara premature untuk memajukan Universitasnya atau karena hal lain yang memaksa mereka harus lulus karena sebab lainnya.

Sebagian dokter ada yang mengatakan Uji kompetensi ini sebagai bentuk ketidak percayaan mereka terhadap kemampuan dokter Indonesia. karena ketika sebagian mereka tidak lulus secara tidak langusung sudah mengecap dokter tersebut belum layak mendapatkan sertifikat padahal ia sudah menjalani profesi ini sekian lamanya.

Tetapi alangkah baiknya bila Uji Kompetensi Dokter ini ditanggapi dengan positif, sehingga benar-benar akan menghilangkan statemen bahwa banyak dokter sekarang yang lulus dengan waktu yang singkat dan belum berkemampuan selayaknya dokter lainnya.
http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/08/04/uji-kompetensi-dokter-indonesia-2012/
Nicotine - 22/09/2012 09:48 AM
#4

waduh kasihan banget gan DR kita
BujangKau - 22/09/2012 09:51 AM
#5

terkadang uang bisa mengalahkan otak gan...
so yang punya uanglah yang bisa menjadi dokter, mengingat biaya ini itu yang luar biasa. walopun gk smua dokter begitu.
Hotpants.Lover - 22/09/2012 09:53 AM
#6

kayanya tapi tetap ga mungkin deh anak tukang batu atau tukang becak bisa jadi dokter. o
ngimpi... D
Khoontol - 22/09/2012 09:54 AM
#7

Tragis betul ya ..... matabelo:


Sudah pelajarannya bikin mumet ,

biayanya mencekik ,

peluang pengabdiannya diminimalis. metal:
halim9082 - 22/09/2012 09:58 AM
#8

wuh ini parah..

gimane bisa nyembuih kalo ujian gak lulus ?
halim9082 - 22/09/2012 09:59 AM
#9

Quote:
Original Posted By Khoontol
Tragis betul ya ..... matabelo:


Sudah pelajarannya bikin mumet ,

biayanya mencekik ,

peluang pengabdiannya diminimalis. metal:


iya gan, moga aja calon2 dokter bisa lebih sabar belajarnya
tongkola - 22/09/2012 10:00 AM
#10

jadi dokter emang harus dibikin susah
halim9082 - 22/09/2012 10:01 AM
#11

Quote:
Original Posted By BujangKau
terkadang uang bisa mengalahkan otak gan...
so yang punya uanglah yang bisa menjadi dokter, mengingat biaya ini itu yang luar biasa. walopun gk smua dokter begitu.


iya juga sih, moga aja tambah baikan
mbia - 22/09/2012 10:05 AM
#12

kasihan masyarakat bisa jadi korban malpraktek dong
Khoontol - 22/09/2012 10:11 AM
#13

Quote:
Original Posted By halim9082
iya gan, moga aja calon2 dokter bisa lebih sabar belajarnya


Ooo .... matabelo:


Kalo gitu ditambahin saja satu kurikulum pelajaran ya Lim.


Pelajaran Sabar D







Kira kira Halim setuju nggak Lim. \)
RyoEdogawa - 22/09/2012 10:13 AM
#14

Bingung baca berita yg sarjana kedokteran nganggur ngakaks

Soalnya, klo baru sarjana kedokteran sih ya jelas aja "nganggur", karena masih harus coass dulu baru deh dapet gelar profesinya (dokter). Mana ada sarjana kedokteran lgs nunggu STR? ngakaks. Wartawannya lucu nih Peace:

FYI: sarjana kedokteran (S.Ked) adalah gelar mahasiswa kedokteran yg sudah lulus dari perkuliahan kampus (pre klinik), klo udah lanjut dan lulus coass, baru deh S.Kednya diganti dgn gelar dr (dokter).
nauseavomit - 22/09/2012 10:19 AM
#15

keknya perlu dibikin biar yang lulus jadi 35% p
INCUBATOR - 22/09/2012 11:40 AM
#16

FACK kedokteran masih jadi favorit menurut ane
dotag - 22/09/2012 11:47 AM
#17

Quote:
Original Posted By Hotpants.Lover
kayanya tapi tetap ga mungkin deh anak tukang batu atau tukang becak bisa jadi dokter. o
ngimpi... D


bapak ane sopir gan..
tapi kk ane jadi dokter, ade ane juga
sedangkan ane ikut profesi bapak ajdi sopir..

(sopir pesawat tapi )
not4given - 22/09/2012 02:12 PM
#18

Quote:
Original Posted By BundaMaricrot
dokter karbitan juga banyak krn kualitas FK swasta yg kek tai.... diagnosis typus ternyata liver...

ngemeng2 ane pertemex gaga ea...??


wkwkwk ini pengalaman pribadi ane gan D

ane didiagnosa masuk angin malah.. padahal gejala thypus nohope:

untung ibu ane curiga dan bawa ane ke laboraturium.. kalo enggak ane dah gak bisa ngaskus lagi saat ini D

wah jangan2 dokter karbitan ituu.. yang asal punya duit bisa masuk fak kedokteran D
Psychonirozim - 22/09/2012 02:15 PM
#19

Quote:
Original Posted By RyoEdogawa
Bingung baca berita yg sarjana kedokteran nganggur ngakaks

Soalnya, klo baru sarjana kedokteran sih ya jelas aja "nganggur", karena masih harus coass dulu baru deh dapet gelar profesinya (dokter). Mana ada sarjana kedokteran lgs nunggu STR? ngakaks. Wartawannya lucu nih Peace:

FYI: sarjana kedokteran (S.Ked) adalah gelar mahasiswa kedokteran yg sudah lulus dari perkuliahan kampus (pre klinik), klo udah lanjut dan lulus coass, baru deh S.Kednya diganti dgn gelar dr (dokter).


baru tau urutannya kaya gitu. thanks gan atas infonya thumbup:
Mr.George - 22/09/2012 02:23 PM
#20

Quote:
Original Posted By not4given
wkwkwk ini pengalaman pribadi ane gan D

ane didiagnosa masuk angin malah.. padahal gejala thypus nohope:

untung ibu ane curiga dan bawa ane ke laboraturium.. kalo enggak ane dah gak bisa ngaskus lagi saat ini D

wah jangan2 dokter karbitan ituu.. yang asal punya duit bisa masuk fak kedokteran D


sapa suruh berobat ke dokter, berobat ke Dukun aja sono D
mana ada diagnosis penyakit "Masuk Angin" ? gw yakin gk ada dokter yg segoblok itu mendiagnosis "masuk angin"
Atau itu hanya karangan lu doang ?

lu kalo mau ngarang pinteran dikit tot, baca2 dulu kek
TOloliyahh....
Page 1 of 36 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›
Home > CASCISCUS > BERITA DAN POLITIK > Setiap Tahun dari 7000-an Lulusan Kedokteran, Sekitar 35% Tak Lulus Uji Kompetensi