Poetry
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5
Total Views: 7141 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 110 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›

aokshop888 - 03/10/2012 09:29 PM
#1
Berbagi Puisi Ngumpul Disini
[quote=]
:hn
BERBAGI KISAH MELALUI PUISI
biar suasana hati yang suram :mewek menjadi terang malu
yang kacau marah menjadi tenang :selamat

keep smile for others

berharap si TS dikasih cendolbig
bukan batabig
apa lagi repost:karena bikin berduka

soooo... LETS BEGIIIIIN :ngacir




[/quote]
hansip - 03/10/2012 09:29 PM
#2
Autolock Thread by Hansip
Thread ini adalah thread lanjutan dari http://kask.us/16317780 yang sudah melebihi batas reply.

Terima kasih.
hansip - 03/10/2012 09:29 PM
#3
Autolock Thread by Hansip
Thread ini adalah thread lanjutan dari http://kask.us/15569701 yang sudah melebihi batas reply.

Terima kasih.
hansip - 03/10/2012 09:29 PM
#4
Autolock Thread by Hansip
Thread ini adalah thread lanjutan dari http://kask.us/14784924 yang sudah melebihi batas reply.

Terima kasih.
aokshop888 - 03/10/2012 09:29 PM
#5

Ane Buka dulu ya gan

Spoiler for PUISI PERTAMA


[SIZE="4"][B]JIWA YANG MATI
[/SIZE][/B]
Ku mencari oase dipadang pasir
tapi tak ku temukan
yang ku temui hanyalah hamparan pasir yang berdebu
yang seakan menertawakan keputus asaanku
dehidrasi yang kini ku rasakan
semakin mencekat tenggorokan
seakan tak sanggup lagi kaki ini tu melangkah
menapaki butiran pasir yang berdebu
terasa tak sanggup lagi
ku teruskan perjalanan ini
aku telah lelah dan letih
tak sanggup lagi ku bertahan
di padang yang tandus dan gersang ini
tak sanggup lagi ku bertahan
dalam ketiadaan ini
dalam ketidak berdayaan ini
ku berharap kan datang seorang musyafir
membawa setitik air yang akan menyejukkan jiwa ini
jiwa yang lara karena cinta


aokshop888 - 03/10/2012 09:29 PM
#6

Spoiler for PUISI KEDUA


[SIZE="4"]TERIMA SAJA
[/SIZE]
Angan melayang
Bertanya tentang kesepian
Bongkar pasang
muslihat dunia
seakan tak berujung
tak bertepi tak mengerti dan tak bertuan
mana nyalimu
mana taringmu
kau penipu
kata-kata mu
janji-janji mu
tingkahlaku mu
palsu...
semua palsu
palsu...
semua palsu
palsu...
dan ku anggap palsu
lama ku tertidur
lama ku tersadar
ku memang pecundang
ku memang pengecut
tapi tidak untuk kau permainkan
tidak untuk kau manfaatkan
kan ku kenang semua itu
seumur hidupku
seumur hidupku
seumur hidupku
dalam alunan dawai gitarku
terima saja


aokshop888 - 03/10/2012 09:29 PM
#7

Spoiler for PUISI KETIGA


AKU, POLISI, DAN ANAK SAPI

Ku lantunkan sebuah puisi
puisi yang tercipta
oleh kisah nyata
seorang anak manusia
yang masih sangat muda
siang bolong berlarian
dengan wajah pucatnya
dikejar pak polisi
karena tuduhan mencuri
seekor anak sapi
tetangga
sebelah rumahnya

o'oow pak polisss
Ampuni aku
O'oow Pak polisss
Jangan siksa aku
O'oow Pak polisss
Ampuni aku
O'oow pak polisss
Jangan tarik rambutku
O'oow pak polisss
Ampuni aku
O'oow pak polisss
Jangan donk pak
Ku berjanji tak kan mengulanginya lagi

firststranger - 03/10/2012 09:29 PM
#8

membunuhmu adalah keinginanku

apa sih yang terjadi, ketika bulan sabit itu tertutup awan
apa yang kau harapkan saat jalan ini terlalu panjang
aku hanya ingin kau mati
karena hidupmu terlalu sempurna,
pernahkah kau berpikir bahwa aku iri?
simpan saja semua keelokanmu,
aku sudah tak tahan
aku ingin kau mati segera.
demikian aku juga akan merasa sempurna, dan menunggu orang lain membunuhku




maaf gan. ini tadi puisi ane, ikut berbagi aja.
aokshop888 - 03/10/2012 09:29 PM
#9

Quote:
Original Posted By firststranger
membunuhmu adalah keinginanku

apa sih yang terjadi, ketika bulan sabit itu tertutup awan
apa yang kau harapkan saat jalan ini terlalu panjang
aku hanya ingin kau mati
karena hidupmu terlalu sempurna,
pernahkah kau berpikir bahwa aku iri?
simpan saja semua keelokanmu,
aku sudah tak tahan
aku ingin kau mati segera.
demikian aku juga akan merasa sempurna, dan menunggu orang lain membunuhku




maaf gan. ini tadi puisi ane, ikut berbagi aja.



[COLOR="Red"][B][SIZE="3"]Mantap gan shakehand2
siiiiiiiiiip koq :2thumbup:2thumbup:2thumbup
karyapuisi - 03/10/2012 09:29 PM
#10
onorren tea-
mantap..mantap gan :addfriends:addfriends:addfriends

http://www.kumpulankaryapuisi.blogspot.com/
aokshop888 - 03/10/2012 09:29 PM
#11

Quote:
Original Posted By karyapuisi
mantap..mantap gan :addfriends:addfriends:addfriends

http://www.kumpulankaryapuisi.blogspot.com/


wuiiiiihhh kereeen2 gan
mantaaappp
:addfriends:addfriends:addfriends

bnyk bngt gan
tu blog punya agan y???
Rentamama - 03/10/2012 10:39 PM
#12

Rumah baru tak memberikan perubahan
perasaanku masih dan belum berubah
setelah DIA meninggalkanku mengajarkan aku tabah
sampai malam ini aku tak lagi ingin bernyawa
bukan mati melainkan tidur
untuk menyampaikan inginku bersama rohku
AlbertJL - 04/10/2012 01:57 AM
#13

Mungkin ane bukan berbagi puisi tapi poems..

Spoiler for number one

Ini baru muncul tadi pas lagi di jalan bawa motor.. Masih kasar, maklum pemula malus

Here I am, there you are.
Not the sun, nor the moon
but the sky, I am.
O little earth,
from the moment we exist as nothing
to the moment in apocalypse we vanishing
we will always be one,
one in the horizon.


Carpe Diem!
TinceSukarti - 04/10/2012 02:02 AM
#14

KASIDAH KEPERGIAN

1.
Dengan mata keperihan yang tajam kumaknai kepergianmu.
Di pucuk cuaca tangisku pecah, dan lanskap
–segala lanskap–
segera menjadi kelam.
Sungguh betapa ganjil cinta bertepuk sebelah tangan.
Kepergianmu, saat yang menghidupkan segala ketandusan bagi nafasku.
Di puncak pilu, aku yang tinggal suluk tanpa cumbu menghidupkan bebunyi salvo
kesepian dan rindu.
Kepergianmu adalah maut yang meruak dari sembarang kubur.
Sepanjang gerimis, aku kembali pada mula,
berpulang pada mimpi terkelu.
Sungguh telah kureguk sengak arak dan pahit sajak,
tapi bayangan wajahmu masih saja memanggil tujuh kutuk airmataku.
Kiranya rindu tak sesederhana gerak pisau yang menancap di kurus dadaku.
Bila mungkin ingin
kucuri dirimu dari setiap kepergian
yang menciptakan jarak dan menjauhkan kau dari pelukku,
tapi dalam gelap tak teraba
betapa hanya makna kekeringan yang rebahi ranjang malamku.
Kepergianmu, sesosok kegelapan berpisau yang menguliti ragaku!
Degup laut yang menggelombang adalah duri
–tumbuh runcing di benakku.

2.
Langit kelabu, dan nyanyian senyap bayang-bayang membutakan taifun.
Ingin kuperlihatkan sesuatu padamu,
tapi kata-kata telah kehilangan gaung dalam batinku.
Kubayangkan baringmu di putih ranjang menghangatkan gairahku,
tapi seonggok pohon tak berdaun yang tegak di tepi jalan terlampau gahar
–merintihkan sedu.
Kebisuan melayang-berliuk di angkasa
menyapu segala raung yang pernah difirmankan geludhuk.
Kurasa telah kukubur mendung, tapi dalam kesendirianku
hanya bulan penanggung derita
yang pernah terperangkap–membusuk dalam kalbu.
“Kiranya, cinta yang menangis ini, sayangku,
segarang debur ombak di tengah laut.”
Makin dekat aku pada kenangan wajahmu,
makin akrab aku pada pilu.
Kau, gadis dengan kulit sehangat dekap dan bibir selembut kecup!
Pesonamu adalah sorga hitam bagi hasrat dan kesepian-kesepianku.
Maka, tak ada perempuan, tak ada kecupan, dan aku tertidur dengan mata terjaga.
“Aku makin renta, sayangku, makin luka, dipeluk asmara berduka-duka.”
Di balik jendela, penampakan murung bebatu
dilikut kegirangan rasa belasungkawa,
menjelma angin:
berlarian kecil di kudukku.
“Alang kepalang!
Betapa rindu ini sungguh perih dan keras kepala, sayangku!”
Aku orang buangan, hidup dalam sepi cuaca dan peluk.
Hari-hari yang lewat tanpa cumbu menjelma kelokan jalan
–menyimpan kisah kepergianmu.

3.
Dekat subuh–kupanjat kabut ingatan wajahmu.
Sepi menggerundung,
rindu memiuh memaradekan ngilu.
Aku bertugur,
makin jauh dari kantuk,
makin terpisah dari peluk.
Pulau-pulau yang kesepian mengobarkan lindu.
Setegak pohon purba tepi danau lamat melapuk degerogoti tahun.
Seteguk sajak gelap kuletuskan bagai peluru.
Kepergianmu adalah gema–menghapus kepak kupu-kupu dalam batinku.
Aku suluk mayat ditolaki kubur.
Sorga makin jauh dari sujudku,
takwa makin jauh dari imanku.
Tak ada yang bisa diingat dari sekelumit murung riwayatku
selain derita
selain kesepian sedalam palung
: “sampai di sini saja, kasihku, toh asmara
hanya setitik embun, bergantung rapuh pada daun.”
Kureguk raung halilintar,
kupanggil maut.
Jiwaku beranjak gelap–makin gelap!
Gahar meledak.
Layaknya seteguk sajak gelap yang kuletuskan bagai peluru
Selalu aku yang melebur dalam gelap
dalam sunyi tak berjuntrung.
Diam sangat luas,
begitu luas,
memeram sosokku.
Kiranya, sejak kau meninggalkanku
langit tak berpihak dan bumi begitu khusyuk menolakku.
Masih ingin kusebut namamu
tapi kata yang terucap cuma kelu
cuma bisu.
Sungguh, pernah kudekati jatuhnya bayanganmu,
tapi seluruh kebutaan telah mencuri penglihatanku.
Tatapanku segaib kehendak muskil yang melihat kepulanganmu.
Seteguk sajak gelap kuletuskan bagai peluru.
Sebentang pikiran lumpuh menjadi tembok dalam kemasygulanku.
Kepergianmu, sebentuk kekeringan yang menusuk.
Cinta (sungguh!) adalah arsitek bagi takdir dan kematianku.
Kehampaan dalam bentuk burung menyerbu kesadaranku.
Tak pernah kuminta derita,
tapi ingatan wajahmu selalu memanggil pulang keperihanku.
Lambung yang lapar memekikkan taifun.
Kuingat tahi lalatmu yang mendekam manja di lereng payudara.
Kudengar gaung sedu dalam daging mengeras–meruntuhkan umur
: “sayang, kepergianmu adalah sebilah parang terhunus!”
Tak ada bulan atau sekedar ucap selamat malam bagi hati yang silu.
Seteguk sajak gelap kuletuskan bagai peluru
Kepergianmu, isyarat cuaca dari duka tak terkatakan yang memerah
yang menerbitkan ajal
–”ajalku!”


Cipt. Indra Tjahyadi
AlbertJL - 05/10/2012 02:38 AM
#15

Satu lagi, baru muncul, tanpa judul.. Sekali lagi, masih pemula malus

Tik tik tik
tik tik tik
Jam dinding itu terus berdetik
seolah tak kenal kata berhenti

Bulan dan mentari
datang dan pergi
silih berganti

Setahun dua tahun
Sepuluh bahkan lima puluh tahun

Semua sama
tidak
Semua berbeda

Hanya satu yang sama
janji palsu yang diucap mesra
Aku akan selalu cinta
Selama-lamanya
hendzEB - 05/10/2012 08:09 AM
#16

sesekali kupandangi langit malam
dipenuhi bintang-bintang dan bulan
tersirat bayang wajah manismu dicahaya rembulan malam
aku tau saat ini pula kau pandangi bulan dengan senyuman
AlbertJL - 06/10/2012 11:05 PM
#17

Aku ingin merentangkan sayap
di atas hehijauan dan birunya laut
di bawah semarak awan mendung dan kilau langit sore

Seperti burung gereja,
aku ingin terbang bebas
tanpa cemas dan tak terlekas

Bersenandung riang di naungan mentari yang benderang
di suatu siang
tanpa kata, tanpa bahasa, hanya melodi dan irama
memuji Yang Esa, Sang Maha Kuasa
Kalajeplak - 07/10/2012 01:00 PM
#18
Nona bernama akhiran huruf A
Nona bernama akhiran huruf A


Nona kerudung merah muda
Datang dengan skutik warna senada
Cerah, mirip Hana Tajima
Merona menusuk mata
Diperhias oleh keteraturan warna

Bergemuruh dada mengingat senyumnya
Lengkap dengan lesung pipit kanan saja
Kukunya cantik-cantik diberi warna jingga
Mirip penjual jamu gendong di desa-desa

Gundah gulana si raja kelana
Ketika saya dan nona bertemu mata
Tergambar senyum kecut-kecut mangga muda
Siapa tahu hati nona berbunga-bunga

Sejenaklah nona lepas dari sangkar dara
Meluangkan siang dengan bertukar nama
Jabat tangan saya, walau beda warna
Ruangkan dengan kerendahan hati yang paripurna

Kita begitu berbeda dalam semua
Memungut kisah yang perlahan menjadi saujana
Takkan lagi putih kapas yang terusap jelaga
Melantunkan rasa ada menjadi kembali tiada

Nah, nona kerudung merah muda
Bisakah nona mundur dari pikiran saya?
kunang2kuning - 08/10/2012 05:01 PM
#19
Three Years
Lightning struck in middle of noon,
blind lovers from warmth of love.
Rage and tear arise soon,
the rage of eagle and the tears of dove.

The heart has broken in pieces,
once again honesty distrust.
Like throwing stone to glasses,
shattered into dust.

The broken heart asked a sorry,
he forgive, so no worry.
The broken heart asked a chance,
his rage into love again it change.

His mind overflows with memories of her,
of all that they've shared, all that they knew.
He long for her touch and warm embrace,
the look in her eyes, the smile on her face.

His heart knows to love only her,
did her feel the same too?
Their moments together were precious and few,
He crossed everything for her than she knew.

Given chance rejected,
better alone than together.
How does he mend a broken heart?
his entire world has fallen apart.

Liez, hurt, and chance,
forgotten, forgiven and provided.
suddenly rejection it cease,
so farewell, never meet him please.

tomz ~ Aug 23, 2012


Sumbangan Ane gan....
terinspirasi dari sakitnya di selingkuhin D
TokoAcMobil - 14/10/2012 05:52 PM
#20

keren gan
Page 1 of 110 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5