Poetry
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5
Total Views: 7141 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 100 of 110 | ‹ First  < 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 >  Last ›

Kufur - 19/10/2012 07:26 PM
#1981

Andai

Andai aku bisa kembali kemasa lalu
Aku ingin bertemu Nabi-ku
Yang telah mengubah hidupku dan semua orang didunia ini
Andai aku bisa kemasa lalu
Aku ingin seperti Khadijah
Yang rela menunggu Nabi-ku
Yang tak lelah bekerja walau hanya seorang janda
Andai aku kemasa lalu
Aku ingin seperti Ismail
Yang rela mengorbankan dirinya
Demi ketaatan pada orang tua
Andai aku bisa seperti Ibrahim
Yang rela mengorbankan putranya
Walau dia sangat cinta anaknya
Demi menjalankan perintah Tuhannya
Andai aku juga bisa seperti Adam dan Hawa
Bercintakan cinta yang sejati
Walau telah dipisahkan oleh Allah
Mereka bertemu dan menyatukan cinta di Padang Arafah


by Hazzhiratul Qudsiah
Kifarin - 19/10/2012 07:27 PM
#1982

Aku Lelah

Aku sudah lelah
Menahan hati yang kian hari makin terluka
Semakin lelah
Mengejar cinta yang tak pasti
Menantikan cinta yang tak pernah peduli
Aku lelah
Menghendaki cinta yang tak punya hati
Yang tak menghiraukanku sama sekali
Jika memang cinta itu bukan untukku
Akan kusudahi rasa lelah ini
Bagaikan kapal yang terombang ambing dilautan luas
Tanpa nahkoda yang mengendalikan
Aku tak ingin tak punya rasa untuk cinta
Aku sudah sangat lelah
Merasakan pahitnya cinta itu
Semakin lelah menentukan pilihanku
Akan kusudahi rasa lelah ini
Tanpa tau sampai kapan aku akan terluka


by Dianaa Saputri
Kufur - 19/10/2012 07:28 PM
#1983

Sampai Berjumpa Kembali

Bolehkah Aku mendambakan seorang Fatimah sementara Aku jauh dari sosok seorang Ali?
Kesepian tidak pernah bohong kepadaku,
Malam, coba ku buat seperti kopi,
Selalu ku isi dengan mengingatmu,
Senyummu dalam ingatanku,
Dengan bahasa sederhana,
Aku ingin berjumpa kembali denganmu


by Andriyan Yuniantoko
Kifarin - 19/10/2012 07:29 PM
#1984

Selendang Bersulam Emas

Seledang bersulam emas
Selendang panjang menutup raga
Terlihat bercahaya terkena sinar
Bersinar bagai bintang
Bertahtakan si benang emas

Selendang bersulam emas
Dikenakan para gadis minang
Melilit leher teduhkan keangkuhan
Menjadi anggun dan menawan

Selendang bersulam emas
Dibuat dengan penuh ketekunan
Jarum tajam tak berarti
Benang emas disambung jua
Menusuk-nusuk dalam liukan
Menjadi indah pada akhirnya

Selendang bersulam emas
Disulam para perajin ranah
Tuk saudagar-saudagar penikmat seni
Diniagakan di pasar ateh

Selendang bersulam emas
Terlipat rapi dalam lemari
Disimpan bundo sejak dulu kala
Disimpan turun temurun
Menjadi pusaka dalam keluarga

Selendang bersulam emas
Bertuah dalam helaian
Simbol adat nan sakral
Syarak berkata adat memakai

Selendang bersulam emas
Sebuah mahakarya ada padanya

Oktober, 2012


by Akbar Pitopang
Kufur - 19/10/2012 07:29 PM
#1985

Dalam Warna

Dalam merah
Mata ku hanya mampu temukan amarah

Dalam biru
Kalbu ku hanya terselimuti kabut sendu

Dalam hijau
Ada setitik kesejukan namun berkawan kesendirian

Dalam putih
Bayangan ku tak sanggup berbagi perih

Dalam hitam
Bayangan ku hilang tertelan suram

Dan dalam gelap
Aku terselimuti kedamaian
Tanpa beban yang menggantung angan


by Enje
Kifarin - 19/10/2012 07:30 PM
#1986

Caraka (Utusan)

Hanya seperti hujan dalam kemarau
Hanya seperti embun di ujung daun
Hanya seperti oase di gurun gersang
Hanya seperti itu dirimu
Hanya seperti mentari dalam pagi
Hanya seperti pelangi di balik percik
Hanya seperti lirik dalam musik
Hanya seperti itu dirimu
Hanya seperti nyawa dalam raga
Hanya seperti denyut dalam jantung
Hanya seperti nadi dalam hati
hanya seperti itu dirimu
dan memang hanya seperti itu
jangan marah
aku hanya sedang jatuh cinta
pada dirimu


by Enje
Kufur - 19/10/2012 07:32 PM
#1987

Jangan Menyerah M4PP4R3PP4


Lihatlah di ujung sana Derita yang tiada akhir bagi kaum marjinal

tataplah wajah-wajah mereka dengan seksama, resapi raut muka mereka

sentuh derita mereka dengan hati jangan dengan ratapan nestapa

mereka bukan komoditas politik, ekonomi, sosial dan budaya

saksikan betapa bahagianya mereka, mengumbar senyum ikhlas bagi semua

bukan senyum manis yang dipaksakan dari bibir yang habis di sulam

bukan senyum mengharap belas kasihmu, senyum mereka ikhlas

senyum yang ingin menghiburmu dan mengatakan inilah senyum termahal di negeri ini

Engkau sehari-hari hanya duduk manis dengan sekelumit masalah yang dibuat-buat

masalah yang tak dapat engkau nikmati karena engkau jadikan komoditas beban bagi pikiranmu

lihat, saksikan dan resapi kehidupan itu maka engkau akan mendapati HIDUP ITU SANGAT INDAH

Jangan menyerah M4PP4R3PP4, SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA


Senja di ibu kota, 2 DZhulhijjah 1433 H


by Andi Amir Mappareppa
Kifarin - 19/10/2012 07:33 PM
#1988

Biola

Kau.. Ini tentang kau
Kau, penggesek biola hijau lentik
Kau, yang dawaimu menyesakki asaku
Terulsah berlenggok, mengayuh kisah dalam derai not nya

Kau.. Ini tentang kau
Kau, yang mengalir dalam ruang-ruangku
Mengalunkan harmoni, nada-nada indah dalam onggokan dagingku
Berdansalah.. Hey, kau penggesek biola hijau

Ini tentang kau, penggesek biola hijau itu..
Kau, yang aku tergolek, hanyut dalam keindahan tarian lentik mu
Berjanjilah, biolamu akan tetap berdawai
Bersenandung, berdansa dengan dentingan gelas-gelas jiwaku


by Inin Nastain
Kufur - 19/10/2012 07:33 PM
#1989

Jokowi, Sanggupkah Engkau Menampung Semua Keluh-kesah Itu?


(1)

Pak Jokowi,

Sesungguhnya aku telah berjanji tak lagi ingin mengusikmu meski lewat puisi

Karena kini sepenuhnya kumengerti bahwasanya,

Sejak menjadi gubernur DKI Jakarta kerutan di keningmu kian bertambah pasti


(2)

Kulihat di televisi, engkau datang menyongsong linangan air mata warga miskin

Engkau menampungnya langsung di perumahan kumuh dan bantaran kali yang bau

Engkau berkeliling kota berkendara kesabaran menikmati kemacetan jalanan ibukota

Engkau mengunjungi rumah susun yang tidak layak huni sambil dikerumuni lelah


(3)

Pak Jokowi, hatimu cuma satu

Sanggupkah engkau menampung semua keluh kesah itu ?

Padahal banjir tahunan belum lagi datang menyergap perjalananmu

Padahal gelombang besar tawuran pelajar masih menunggu sentuhan lembut tanganmu

Padahal premanisme diam-diam membayang menghantui semua gerak-gerik lembutmu

Padahal banyak orang disekelilingmu yang tidak nyaman dengan hadirnya kebersahajaanmu


(4)

Padahal …………………………………… 230;…………………………………… ;…

Padahal …………………………………… 230;…………………………………… ;…

Padahal …………………………………… 230;…………………………………… ;…

…………………………………… 230;…………………………………… ;………….


(5)

Pak Jokowi,

Berapa lama lagi engkau sanggup menampung semua keluh kesah padahal itu ?

Karena, kutak-maui semua sanjungan yang kini melekat erat di tubuh kurusmu itu,

Akan berubah sewaktu-waktu menjadi hujan hujatan yang lebat turun menusuk kalbu.


by Gunawan Wibisono
Kifarin - 19/10/2012 07:34 PM
#1990

Senja dan Kesunyian

ada yang lain hari ini,
angin yang selama ini malu malu menjumputku
tiba-tiba dia dengan binar membangunkan bulu ronaku
aku sampai heran, gerangan apa yang bakal terjadi ? aku bertanya ..

setiap saat akhir-akhir ini,
waktu ,
mencoba menghitungnya dari menit ke menit
beda,
hati dan wajah tidak pernah se semeringah ini
angin memeluk erat, jiwa ingin lepas
tidak tega aku memberi batas

berjalan, berjungkit, batu-batu kecil yang menusuk
riak -riak itu bersenggama dengan pasir sembilu
aku ingin menari dan mencumbu matahari
sudah aku ciptakan orchestra dari sinar - sinar berselubung awan
tapi tetap saja aku dan sepi, .. abadi

ada yang lain hari ini,
disaat senja memungkas matahari
camar - camar menjadi lebih diam
dan nelayan tiada berlayar

bukankah ini yang engkau inginkan ?
sebuah senja dan kesunyian


by Taufan Rahmadi
Kufur - 19/10/2012 07:34 PM
#1991

Seperti Mereka

Jarang tidak makan
aku sudah biasa,
hidup serba kekurangan,
Menjalaninya pun aku rela
Namun,, semoga saja tidak tinggal harapan,
semoga saja Kau kabulkan doaku Ya Tuhan..
Aku hanya ingin bersekolah seperti mereka..
Bisa menuntut ilmu hingga ke negeri Cina..
Menjadi orang yang berguna..
tanpa diriku menerima cela..


by Hasanatul Aini
Kifarin - 19/10/2012 07:35 PM
#1992

Cinta mu tak sempurna

Kamu sudah tau…
aku bukanlah orang kaya,
kenapa masih saja kau ingin tau semua yang aku punya ??

Kamu juga tau…
aku masih menjalani mimpi,
kenapa masih saja kau mencari_cari sesuatu yang akan aku beri ??

Jika kamu lelah berhentilah ??
dan,aku tak akan pasrah untuk menyerah…
mencari warna yang lebih cerah.

karna aku yakin seyakin_yakinnya,
Bahwa kamu tau…
Aku selalu punya cara bagaimana menikmati hidup yang seadanya.

Dengan mu…
atau pun,
Tanpa mu…

Sama saja mimpi ku…
menangis dan tertawa dalam pelukan Bahagia,amiiin

silahkan kamu selesaikan permainan mu…


by Ranka_uin
Kufur - 19/10/2012 07:36 PM
#1993

Bulan Sabit

Malam ini tepat bulan sabit terlihat cerah di atas langit
Kau ingat, dulu aku selalu mengatakan bulan sabit
seumpama dirimu yang tersenyum padaku

Kini, wajahku pucat memandang bulan sabit
Sendiri..
Dia tersenyum padaku
Tapi kau disana saat ini tak lagi tersenyum untukku

Relung hatimu terdalam menyimpan milyaran senyum dan rindu terperi padaku, aku tahu..
Namun tak mungkin kau tunjukkan

90.000 kilometer ditambah luas selat sunda,
ditambah bentangan puluhan kilometer lagi jarak keberadaan kita

Meski kita jauh, kita tetap memandang langit yang sama
Namun hidupku, kini menjadi hidupku sendiri
Dan hidupmu, menjadi hidupmu sendiri

Dear moon,
Jutaan langkah kakiku harus mampu ku seimbangkan, sendiri..


by Tita Juwitasari
Kifarin - 19/10/2012 07:36 PM
#1994

Separuhnya Adalah Luka

Masih tentang cinta yang sama
Yang tak pernah mampu ku mengungkapnya
Ku lukis di sela gerimis
Tertuang dalam gurat dan garis

Hingga…
Ketika ujung pelangi
Menepiskan sebuah mimpi
Untuk menjadi gambarmu di satu sisi

Aku lebur
Dalam guruh dan ombak bisuku
Aku hilang bentuk
Leleh terbawa aliran sungai membiru
Teronggok pada satu muara
Dimana sampan harapku karam tanpa sisa

ah…
Bertanya mungkin tak perlu lagi
Kapan mampu mengais mimpi
Yang berserakan di pelataran hati

Cinta itu tetaplah cinta
Meski separuhnya adalah luka


by Valencya Poetri Widyanti
Kufur - 19/10/2012 07:37 PM
#1995

Utopia

Wajahmu terselip di selaksa jiwa
Tanpa sengaja, tak terduga
Senyummu merdesa
Sarat makna

Bayangmu bagai utopia
Tanpa pernah berubah nyata
Angan yang sempurna
Yang mungkin bernama cinta

Kurasa ini akan abadi
Ya, mungkin lebih baik begini
Walau aku tak takut berbeda
Saat utopia itu jadi nyata
Karena kamu, takkan berubah untukku


by Aulia Pratama Saputra
Kifarin - 19/10/2012 07:37 PM
#1996

Tuhan, Kata Orang Tanah Ini Tanah Surga

Sekarang aku mengerti Tuhan
Mengapa Kau campakkan tanah surga ini dari halaman rumahMu
Tanah ini ternyata berpenghuni para penyamun dan iblis
yang berbentuk dan bermuka anak-anak Adam

Dulu Kau campakkan Adam dari surgaMu karena ia memakan buah khuldi
Buah keparat yang kau jauhkan darinya
Tetapi lihatlah kini, mereka tidak hanya memakan buah keparat itu
Mereka juga memperkebunkan buah keparat itu
Lalu menjejalkannya ke mulut anak-anak mereka
Hingga menjadi karat di darah dan daging orok yang masih pulas
Lihatlah Tuhan, rusaklah kini sepotong tanah surgaMu

Tuhan, sampai kapan kami harus menikmati buah keparat itu?
Ataukah kami harus menunggu hingga kau bangunkan kami
dengan tamparanMu yang keras hingga berdarah-darah tubuh kami?

Tuhan, kata orang tanah ini tanah surga


by Uzee D Portgas
Kufur - 19/10/2012 07:38 PM
#1997

Lupakanmu

Gelap, saat cahaya tak terkecap
Ku dimanja bau suara.
Kututup mata. Biarkan gelap meraja
Aku tenggelam kian dalam
Hitam

Kubayang wajah merona luar sana
Dalam bunga mimpi bermadu rindu

Lidahku kelu, walau hati melagu
Terbalut sendu, saat harus lupakanmu

by Aulia Pratama Saputra
Kifarin - 19/10/2012 07:38 PM
#1998

Kehilangan

Kehilangan
Sesuatu yang seringkali dibenci
Tak aneh mebuatmu marah
Namun tak jarang ditangisi

Ketika kita kehilangan orang tercinta
Dan kita berkata “Aku tak mau kehilangan lagi”
Jangan mimpi! Kita takkan berhenti kehilangan
Bahkan kelahiranmu pun sebabkan kehilangan
Setiap pilihan, akan membuatmu kehilangan

Kau tahu?
Kehilangan apa saat kau memilih?
Ya, piihan itulah yang akan hilang.
Tak ada hal yang bisa dipilih bersama

Kau ingin tak kehilangan?
Aku tahu saatnya. Mungkin, kau takkan kehilangan lagi
Apa kau ingin tahu?
Kau yakin ingin tahu?

Ungkin kau takkan lagi kehilangan
Saat kau telah kehilangan yang paling berharga
“Jiwa” , ya Jiwa
Kau mungkin takkan lagi kehilangan
Saat wajahmu memucat, dan tubuhmu… kaku


by Aulia Pratama Saputra
Kufur - 19/10/2012 07:40 PM
#1999

Terimakasih Untuk Hari Ini, Kamu

Hari ini, hari Kamis tanggal 18 Oktober 2012. Hari dimana aku masih tetap bertahan mengaguminya. Hari dimana aku masih bisa menikmati senyum manisnya. Dan hari dimana aku masih terdiam mencintainya— tanpa sebuah pengungkapan. Ah, lupakan. Aku memang sudah ditakdirkan mencintainya, dengan tanda petik tanpa sebuah pengungkapan untuk dia mengetahui semua yang memang sudah terbendung rasa ini untuknya. Tindakanku? Aku tidak menunggu sang waktu memberi jawaban— dalam arti kebahagiaan. Aku tidak menunggu takdir mempersatukan— yang sudah kuketahui kemustahilannya. Aku tidak menunggu nyali ini terkumpulkan untuk mengatakan. Sama sekali tidak. Biarlah rasa ini tulus tertuju padanya tanpa sebuah balasan. Biarlah hanya aku yang merasakan— sakitnya, perihnya, dan pedihnya cinta tanpa balasan. Biarlah semua mengalir. Karena bagiku, mencintainya dari kejauhan setidaknya bisa memberi kebahagiaan, meski tanpa sebuah ikatan.

Untukmu— yang tak mungkin membaca. Hari ini, kamu berhasil memasok rasa sayang yang aku tujukan kepadamu. Hari ini, kamu mampu membuatku tersenyum simpul karena tingkahmu— meski kau tak menyadarinya. Kamu mampu merubah segala rasa kejenuhan menjadi sebuah keceriaan. Ya, kamu. Kamu memang hebat. Kamu memang magis bagiku. Meski kamu tak pernah tahu dan menyadari, betapa besarnya hadirmu dihadapanku yang memberi sebuah perubahan dari kesedihan menjelma sebuah kebahagiaan. Ah, haruskah aku berteriak didekat telingamu itu dan mengatakan bahwa kamu segalanya dalam hidupku? Atau aku harus mengucapkan terimakasih karena hadirmu bisa membuatku terus tersenyum karenamu? Tidak. Tidak perlu. Biarlah aku merapal dalam doa dan dengan Tuhan-lah aku berterima kasih karena telah menghadirkan dirimu dalam indahnya hariku. Kamu, tetaplah menjadi kamu. Yang menjadi sebab senyumku juga teriak histerisku. Kalau tak keberatan, tengok-lah belakang. Ada aku, yang selalu tersenyum dan terus menyebut namamu dalam rapalan doa-doaku dengan Tuhan disepanjang waktu. Love for you. Orang yang kucintai hanya lewat bisu.


by Putri Bunta Susetia
Kifarin - 19/10/2012 07:41 PM
#2000

IBU


Di malam yg dingin aQ hnya Berselimut kesendirian

Q trbangun mnatap Langit2 kamar Q. trlintas d’benak so2k d’riMU

yg slalu mnemani Q mnjmput Pagi

yg slalu mnemani Q mnikmati sinar Matahari

yg slalu mnemani Q mnyaksikn Bulan N’ Bintang

nyanyian merdu mu mengantrkn aQ kdalam tidur yg lelap

7 Tahun tlah Berlalu hngga saat ini aQ tumbuh mnjdi Lelaki Dewasa smua itu kini

tiada lgi prnah Q rsakn. Senin 25 Des 2004 te2san Butiran Bening mngntarkn kpergian MU

mski sbenar ny aQ tk sanggup tmpa so2k drimu, namun aQ ykin wktu akn mngajarkn aQ untuk Merelakn MU

Ibu…..

Q rndu ingn mntap snyum MU

Q rndu belai kasih syang MU

Q rndu belai lmbut tngan MU

Q rndu kecupan hangat MU. aQ ingin KAU tahu itu

Ibu…..

KAU slalu ada distiap jejak langkah kaki Q

d’stiap hmbusan nafas Q, karna KAU buat aQ mnjdi sngat brarti

ya Allah…

berikn KECUPAN hangat buat nya

sayangi Dia seperti dia mnyayangi

N’ jdikan Do’a ini mnjdi Lentera penerangan untuk nya yg abadi smpai Akhir Masa.

Amien,,,


by Ferdie Andrea
Page 100 of 110 | ‹ First  < 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 >  Last ›
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5