Poetry
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5
Total Views: 7141 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 101 of 110 | ‹ First  < 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 >  Last ›

Kufur - 19/10/2012 07:42 PM
#2001

Rasa yang Abadi

Malam semakin larut
Tetapi takan pernah hati mengerut
Semangat tak pernah surut
Mukapun tak akan pernah terberut
Hanya akan ada tinta yang selalu tergerut
Pena yang akan selalu menari
Walaupun di malam hari
Tak akan pernah ada hati yang iri
Yang ada hanyalah hati yang suci
Putih tanpa titik yang menggoresi
Mungkin hanyalah sebuah ilusi Yang tiada henti
Mungkin hanya sebuah imajinasi yang selalu memberi
Tak akan pernah ada kata unuk lari
Selalu maju dengan hati yang berseri
Dengan penuh harapan yang akan mengiringi
Setiap langkah kaki yang akan abadi

Yogyakarta, 18 oktober 2012


by Zaenal Abdullah
Kifarin - 19/10/2012 07:42 PM
#2002

Ampun pada Subuh, Zuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya

Pada Subuh-Mu haturkan ampun
Karena sering kesiangan
Karena asyik bersembunyi dalam selimut
Dan terbangun bersama sinar mentari

Pada Zuhur-Mu haturkan ampun
Karena sering terjebak di jalan
Atau tidur siang
Atau asyik kerja

Pada Ashar-Mu haturkan ampun
Suka mengulur-ulur waktu
karena tanggung menyelesaikan kerja
Sampai mentari pun malu

Pada Maghrib-Mu haturkan ampun
suka bilang ‘ntar-‘ntar
asyik dengan sinetron
asyik dengan kepul rokok

Pada Isya-Mu haturkan ampun
suka menunda-nunda
asyik dengan infotainment
asyik dengan ngobrol
asyik dengan selonjor


by Aba Mardjani
Kufur - 19/10/2012 07:43 PM
#2003

Karena Kami Masih Punya Mimpi


Bumi yang lelah memberi Cinta ..

Terus berjalan ,bersama laju waktu

yang tak kenal henti dan asa

Dengan seretan kaki yang semakin renta ..

Dia Terengah dalam dekapan Anonim kehidupan

Ditengah hijaunya kedamaian yang terlumatkan oleh desakan Industri

atas dasar nama Kesejahteraan yang Dangkal !

Bermodalkan kata-kata sopan santun ..

yang membakar melalui cerobong asap penuh racun

Dia dijamah , dihancur leburkan atas dasar nama Pembangunan yang Buta !

Dengan cara yang tak Termaafkan ..

Kini tangisan Bumi tak lagi berbuah Kehidupan ..

Kini hembusan nafas Bumi tak lagi Menyejukan ..

Bahkan kini kami rindu akan guguran embunnya yang Menyegarkan ..

Kala Derap kehidupan terasa menggempita

Semakin meluluhkan badan ringkihnya

yang menua dan hampir tak bernyawa ..

Lantas bagaimana dengan nasib Kami?

Para penerus kehidupan diBumi ..

Ya ! kami masih mempunyai kewajiban

Kewajiban Membangunkan Bumi yang sudah tua dan penidur ini. .

Mungkin berat ..

Tapi kami mencoba !

Kami mohon ..

Kami mohon !!

Jangan lupakan kami bagaikan lilin kecil

yang semakin redup Cahayanya..

Atau jangan jadikan kami santapan terakhir Bumi

atas perilaku kalian sebelumnya..

Karena sebuah alasan , disini kami Berdiri ..

Karena sebuah alasan , disini kami masih punya Mimpi ..

Dan juga karena sebuah alasan , disini kami masih punya Harga Diri ..

Yang dengan sejatinya alasan kami para laksana penerus kehidupan ..

Adalah bertekad

ingin merubah Bumi ini ..

Menjadi lebih baik lagi ..


by Maulana Gustti
Kifarin - 19/10/2012 07:43 PM
#2004

Malaikat Duniaku, Ibu

Aku terbaring dengan muka pucatku. Dengan getaran tubuhku karena dinginnya hawa yang menusuk sampai tulang belulangku. Aku hanya terkapar. Mengedipkan mata dan hanya menikmati rasa sakit yang Tuhan berikan kepadaku. Tanpa banyak gerak. Tanpa banyak tingkah. Dan aku hanya bisa terdiam menikmati, betapa menyengsarakan rasa sakit itu.

Namun, semua rasa sakit sirna. Rasa lemas dan letihnya tubuhku lenyap karena Tuhan mengirimkanku malaikat yang tulus merawatku dan mendoakanku— ibu. Dia. Dia yang tidak bisa lagi kudefinisikan ketulusannya telah merawatku. Dia. Yang tidak bisa lagi kubalas jasa-jasanya telah menemaniku saat kedinginan menyerangku.

Ibu. Aku mendengar dia menangis karenaku. Aku mendengar isakannya karena melihatku yang terus saja menggigil karena hawa dingin yang menyerangku. Aku, aku enggan menegurnya. Aku enggaan untuk mengatakan “jangan menangis, bu” aku enggan. Rasanya mulutku tak mampu lagi melontarkannya. Aku tidak sanggup untuk menghapus air mata yang mengalir dipipinya. Aku terlalu rapuh jika melihatnya— setetes-pun itu.

Ibu. Aku melihat dia terus berdoa untukku. Aku mendengar bisikan saat aku hanya memejamkan mata dengan tanda petik kepura-puraan. Aku tidak ingin dia mengetahui. Aku tidak ingin melihatnya terus khawatir karenaku. Ya, dan aku pura-pura tertidur. Kamu tahu? Dia berdoa dan terus mengucapkan kata-kata doa didekat telingaku. Aku terenyuh. Aku melihat begitu besarnya sebuah ketulusan yang telah ibu berikan untukku. Sedangkan aku? AH, cukup durhaka jika aku mengatakan sebenarnya jika ibuku sakit. Aku tidak banyak tindakan. Dan aku hanya acuh. Tidak seperti ibu terhadapku.

ibu. Aku merasakan telapak tangannya yang terus memelukku disetiap waktu. Memastikan panas turun dan dia bisa tertidur tanpa lagi beban karena diriku. Ya, hangat telapak tangannya setia memelukku. Telapak tangannya terus dan tak pernah bosan menyentuhku. Ah, dia memang malaikat dunia bagiku. Dia memang segalanya. Aku tidak tahu akan menjadi apa jika didunia ini tidak ada dirinya. Dirinya yang dalam arti terus menyebut namaku dalam doanya, dan menemaniku disetiap saat. Ibu, dalam hati terdalam. Terukir namamu yang terus hadir disela fikiranku. Aku mencintaimu. Melebihi apa-pun itu. Maafkan aku, yang kini hanya menjadi anak yang mungkin tak kau harapkan. Hanya lewat sajak ini kutuliskan. Dan hanya lewat tindakan akan kubuktikan. Bahwa aku, anakmu, dapat menjadi yang engkau impikan. Oh, Ibu. Love you.

WithLove
PutriBunta Susetia
Kufur - 19/10/2012 07:44 PM
#2005

Malam Jum’at

Hujan!
Hanya itu.


by Amirul Huda
Kifarin - 19/10/2012 07:44 PM
#2006

Terbayang Aku di Baitullah

Awal sepuluh hari
Di akhir bulan hijriah ini
Tasbih, tahmid, tahlil, takbir
Belum jua memenuhi diri
Padahal ini yang dinanti
Setelah sepuluh malam akhir
Di bulan yang fitri

Awal sepuluh hari
Di akhir bulan hijriah ini
Kota suci tak lagi sepi
Penuh dengan hamba-hamba Rabbani
yang tunaikan kewajiban suci

Awal sepuluh hari
Di akhir bulan hijriah ini
Terbayang aku di kota suci
Baitullah…Baitullah
RumahMu Ya Allah… RumahMu Ya Allah

Di saat tasbih, tahmid, tahlil, takbir itu
Sunyi menyelimuti diri
Masih terbayang jelas
Baitullah..Baitullah
RumahMu Ya Allah…RumahMu Ya Allah

Awal sepuluh hari
Di akhir bulan hijriah ini
Diriku masih termangu
Tak henti ingin dipanggil
Baitullah…Baitullah
RumahMu Ya Allah…RumahMu Ya Allah
Padahal tasbih, tahmid, tahlil, takbir
Masih enggan menyatu dalam hati


by Ayu Novita Pramesti
Kufur - 19/10/2012 07:45 PM
#2007

Aku Bayi yang Baru Terlahirkan

Seperti bayi yang telah dilahirkan, tak mungkin ia kembali ke rahim.
Seperti aku yang telah melihat terang, tak mungkin lagi aku kembali hidup dalam gelap.
Jikapun engkau menghiba memintaku untuk kembali.
Tak ada jalan kembali.
Kecuali kau membiarkanku hidup dalam kebohongan.

Aku sudah mengetahui setiap modus klaim ketuhanan.
Aku simpulkan bahwa di antara yang dikatakannya adalah dusta.
Tentu kamu tahu bagaimana sakitnya jika dibohongi,
bahkan aku sampai nangis berhari-hari.
Baiklah, ini adalah jalanku, dan aku tak mungkin kembali.
Pilihan bagimu adalah membiarkanku atau mengikutiku.


by Katrokelana
Kifarin - 19/10/2012 07:46 PM
#2008

Kita (Berdua)

Kita dialirkan waktu, masuk ke dalam sebuah kisah romansa
Hasrat yang begitu menyentuh hati, mengusik kalbu
Bercahaya seperti warna hutan pinus di pagi hari
Sebab kita bersisian jalan, meski tak terjangkau pandangan mata
Maka kitapun terlibat rasa, saling merindu

Rindu kita adalah puluhan syair yang kau tulis di atas lembaran kertas
Di tengah hiraumu pada urusan negeri
Akukah yang kau cari selama ini

Cinta kita adalah ribuan doa yang kutiupkan di setiap desah nafas
Mengalir lembut dalam setiap pembuluh arteri
Kaukah pangeran yang kutunggu itu

Rinduku bukan main
Dan sayangku sudah setengah mati padamu
Mungkin kita sama-sama tersiksa dalam penantian panjang
Aku tahu itu
Sebab gerimis telah menyampaikan
Lewat tetesannya di luar jendela kamarku

Malam ini, meski bulan tertutup awan
Aku tetap ingin melihat wajahmu di situ
Tersenyum dan menyapaku dari balik rimbun pepohonan
Tolong dengarkan pangeranku yang keras kepala
Kalau kau cinta padaku, akupun cinta padamu

Jalan ini samar, berkabut, dan hampir tidak terlihat mata
Tapi kuharap kita bisa bertemu di baliknya
Seperti bertemunya Adam dan Hawa di Bukit Jabal Rahmah

Bogor, 18 Oktober 2012


by Aryani_yani
Kufur - 19/10/2012 07:46 PM
#2009

Karena Kita Tak Pernah Tahu Sampai Kapan Akan Punya Waktu


Kadang kita merasa sepertinya semua sudah kita lakukan dengan baik…

Kadang kita merasa biarlah semua berjalan dengan waktu…

Kadang kita merasa bahwa kita sudah tau…

Tapi pernahkah kita berpikir dan bertanya….

Sudahkah kita tau bagaimana diri kita sebenarnya…

Bagaimana hati dan pikiran kita yang sesungguhnya….

Bagaimana perasaan dan pikiran orang-orang yang kita sayangi…

Jujurlah pada diri sendiri….

Agar lebih mudah jujur dengan orang lain…

Lakukanlah sebaik mungkin…

Sebelum kegagalan, kehilangan dan kekecewaaan tiba-tiba menghampiri…

Karena kita tak pernah tau…

Sampai kapan kita akan punya waktu…


by Id Fukha
Kifarin - 19/10/2012 07:47 PM
#2010

Tuhan…Aku Bertanya Pada-Mu


Tuhan, tak pernah sedikitpun aku ragu akan keagungan-Mu

Aku ini hanya hamba-Mu yang hina dan tak berarti

Aku hanya ingin bertanya, tentang karunia yang Engkau berikan padaku

Sebuah karunia tentang cinta..

Tuhan,, benarkah rasa cinta padanya adalah pemberian-Mu?

Jika jawabnya iya, mengapa Engkau tempatkan kami pada perbedaan yang sulit

Aku yakin, semua mahluk yang bernyawa di dunia ini adalah ciptaanmu

Termasuk aku dan dia…

Tapi mengapa Engkau membuat kenyakinan kami menjadi berbeda?

Bolehkah aku mencintai hawa yang tak menjadikanmu Tuhannya?

Jika jawabnya tidak, mengapa Engkau menitipkan rasa cinta padanya?

Mereka berkata itu tak mungkin, begitu juga dia

Dia bilang semuanya tak mungkin, tapi aku lebih percaya pada-Mu

Jika memang dia diciptakan bukan untukku,

Maka ambilah setiap kebahagiaan yang ada saat aku didekatnya

Bawalah bayangnya jauh, hingga aku benar-benar tidak bisa menggapainya

Aku tak ingin terus hidup di bawah bayang-banyangnya yang semu

Namun, jika Engkau memang menggariskan dia menjadi pendampingku

Maka jadikanlah cinta ini semakin mesra, agar aku dan dia

Bisa menggapai Surgmu yang pasti

Maaf jika aku bertanya seperti ini pada-Mu

Aku memang sayang padanya, tapi aku lebih sayang pada-Mu Tuhan

Aku tak mungkin menduakan-Mu dengan yang lain

Namun diapun mungkin berfikiran yang sama

Diapun tak mungkin menduakan Tuhannya

Berikanlah hambamu ini petunjuk,

Hamba hanya ingin mendapatkan kebahagiaan

Dengan atau tanpa dirinya

Berilah aku rahmat-mu

Karena aku yakin Engkau tau yang terbaik untukku

Jika memang aku dan dia tak mungkin bersama, berikanlah aku kekuatan

Untuk bisa menerima kenyataan sesakit apapun itu

Kau maha besar, Engkau yang memberikan bahagia dan kecewa

Di sini aku bersimpuh, berdoa pada-Mu……

Harapku…dia adalah bidadari yang akan menjadi teman disisa hidupku

Amin ya Alloh, Amin ya Robbal Alamin…..


by Boyi Anggara
Kufur - 19/10/2012 07:48 PM
#2011

Melayang


Sendiri….

Anganku melayang…

Angan yang akan selalu kusimpan….

Hanya dengan mu…

Jiwa yang memiliki jiwaku…

Jiwa yang selalu memeluk jiwaku…

Dimanapun ragamu dan ragaku…

Tersenyumlah untukku…

‘Tuk selalu kuatkan langkah-langkah kecilku…


by Id Fukha
Kifarin - 19/10/2012 07:48 PM
#2012

Aku Suka Gerimis Hujan


Aku suka gerimis hujan…

Gerimis yang membasahi wajah…

Perlahan berganti hujan deras membasahi seluruh tubuh ketika aku berlari diantaranya….

Ah indahnya….

Nikmatnya hujan setelah kemarau…

Harum bau tanahnya yang khas…

Suasananya yang sendu bak tangisan langit yang tadinya biru…

Semua aku suka…

Hujan makin sendu merayu….

Membawa jiwaku menujumu….

Disini aku menunggu diantara hujan kesukaanku…


by Id Fukha
Kufur - 19/10/2012 07:49 PM
#2013

Cinta Pertama


Malam ini aku menangisimu

Menangisi satu cinta yang tak pernah tersampaikan

Menangisi satu cinta yang tak pernah berbalas

Malam ini aku menangisimu

Setelah berpuluh tahun berlalu

Aku baru menyadari betapa aku mencintaimu

Betapa rindu tiba-tiba terasa menyesakkan

Betapa lama aku mengabaikanmu

Betapa lama aku membiarkan segalanya terjadi

Tanpa pernah berusaha lebih keras lagi

Untuk mendapatkanmu

Untuk memilikimu

Padahal aku tahu itulah yang seharusnya

Waktu telah berlalu

Terlalu lama aku membiarkanmu berlalu

Tanpa pernah tahu aku mencintaimu

Dan cintaku pun jadi kandas tak berbalas


by Prima Marsudi
Kifarin - 19/10/2012 07:49 PM
#2014

Di Penghujung Akhir


Semarang, 27 Juni 2012

Duduk menanti di tepi fajar

Sendiri, berkawan langit

Merenung, apa yang telah terjadi kemarin

Tidak terasa siang berlalu

Hari ini tak ada yang teraih

Sore tiba, lalu malam menjelang

Saat menutup mata, ia pun datang

Penyesalan

Dan semua yang bisa dikenang

Hanya ada pada mereka yang mau mengenang


by Muhamad Zubair Hasan
Kufur - 19/10/2012 07:50 PM
#2015

Fenomena, Dunia, dan Manusia

Fenomena
silih berganti selalu ada
tak dapat diterka
terjebak dalam salah
Dan problema

Pikiran pun selalu berubah
baik buruk bergelora
Melayang entah ke mana
terjebak dalam dosa

Begitu rasa yang ada
benci dan cinta
suka dan duka
ada dan tiada
yang tersisa hampa
Hingga kehilangan rasa

Kesadaran demikian adanya
tersesat dan terjaga
kebodohan dan bijaksana
akhirnya tak tahu apa-apa

Oh dunia
Selalu berubah
Kemajuan yang menciptakan bencana

Oh manusia
Apa jadinya
Hendak ke mana
Surga atau neraka
Atau tidak ke mana-mana


by Katedrarajawen
Kifarin - 19/10/2012 07:50 PM
#2016

sekeping harap di ujung pagi


malam ini bulan tak terlihat di langitku, sayang

bukan karena terhalang awan mendung

bukan karena bulan mati

bukan pula terkurung hujan nan lebat

malam ini bulan tak terlihat di langitku, sayang

seperti malam-malam sebelum malam ini

langitku begitu gelap tanpamu

seribu bintang berkelip di ujung pagi pun

tak mampu merayu bulanku

bulan yang konon katanya begitu indah pantulkan cahaya

bulan yang konon katanya anggun dalam dingin malam

bulan yang larutkan pandangku dalam senyap

hening…dingin…tanpamu kulepas malam ini sendiri


by Marul Prihastuti
Kufur - 19/10/2012 07:51 PM
#2017

Kisah Remahan Roti


Malam itu bulan bulat sempurna

Di saat kau datang padaku menawarkan benda memesona

yang kusangka cinta..

Itu bukan cinta sayang.

Kau datang dengan sepotong roti..

sepotong roti yang telah pernah kau cicip berdua dengannya

yang telah dia lumat kenikmatannya!

Ah, aku salah kalau mengira itu sepotong roti

karena itu hanya remahan roti yang kau bawa padaku.

Aku harus bagaimana?

Ku genggam remahan itu, ku telan bulat-bulat

terasa getir, manis sekaligus memuakkan

karena kutahu pernah ada tangan dan mulut kalian berdua yang pernah menikmatinya

Tapi itu tak penting sayang, toh kau di sini bersama ku menikmati remahan roti ini

disaksikan bulan bulat sempurna bukan?


by Dini Apriani
Kifarin - 19/10/2012 07:52 PM
#2018

apa kau fikir ?….(gurat tanya..)

Apa kau fikir …..
Dunia akan berpihak kepadamu…
Saat kau TERLUKA…?
Apa kau fikir…
Angin akan berhenti berhembus ketika kesedihan menaungimu..
Apa kau fikir…
Awan akan berubah menjadi hitam ketika resah datang pada hatimu…

Apa kau fikir…
Lautan akan mengering ketika air mata keluar dari mata liarmu…
Apa kau fikir….
Bintang-bintang dalam tata surya akan bertabrakan karena deritamu….
Apa kau fikir….
Apa kau fikir ….
Hujan akan berhenti seketika begitu dirimu terlarut dalam kesendirian …
Apa kau fikir…

Apa kau fikir…
Apakah kau yakin kau benar-benar telah berfikir…?
Awan akan tetap menaungi langit tanpa dirimu….
Angin tidak akan berhenti bertiup karenamu…
dan Hujan tetap akan jatuh kebumi dengan atau tanpa dirimu…

Karena AKU, SAYA, KAMU, MEREKA, KAMI, dan KITA….
Bukan apa..apa…..
tapi
DIA…
DIA…
dialah
TUHAN…
Esa..


by Dwiechanzkawai
Kufur - 19/10/2012 07:52 PM
#2019

cinta yang tersiksa

Embun pagi telah mengering
pancaran mentari membuat dedaunan menguning
Mataku tertegun menatap langit
Melepas hati yang terbelit Kini ku bisa tersenyum
Melihat dunia penuh rasa kagum Setelah kian lama hatiku menangis
Akan cinta yang kian terkikis
Kini ku bisa gembira
Manjalani hidup dengan orang-orang tercinta
Setelah jiwaku berduka Merintih dan tersiksa
Aku bersyukur
Api cinta tak membuatku hancur
Kini ku ingin hidup kembali Mencari makna cinta sejati


by Gusty Da Flores
Kifarin - 19/10/2012 07:53 PM
#2020

Luka Ini Sedemikian Menganga


Telah lama kau payungi aku dengan cerita-cerita indahmu.

terlelap dan bermimpi dalam pesona dongeng2mu.

sedemikian lama itu pula kau goreskan luka ini,

menjejakkan bekas luka yang begitu menganga.

Kini, terbelah sudah hatiku.

bisik warasku telah menyadarkan nalarku dalam tidur panjangnya.

Mampukah engkau menganggukkan keinginanku untukmelupakanmu?

Itulah harapku selama ini.

meski tanpa harap dari restumu, aku bisa menapak terang dengan caraku.

‘kan kubiasakan cara ini mengiringi pendakian awal menapak terang.

Karena aku yakin, kelak aku sempurna dengan caraku.


by Ayick Tigabelas
Page 101 of 110 | ‹ First  < 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 >  Last ›
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5