Poetry
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5
Total Views: 7141 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 103 of 110 | ‹ First  < 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 >  Last ›

Kufur - 19/10/2012 08:10 PM
#2041

Ruang Hampa

Kisah kita tertulis dalam ruang hampa
Terlukis dalam kanvas maya
Melebur dalam nuansa semu
Semua menyatu
Membiru
Pilu
Ragu


by Ellya Sulistiyani
Kifarin - 19/10/2012 08:11 PM
#2042

Masih Ada Cinta Hari Ini

Kekerasan,perselisihan,sakit hati
Perang,kedengkian,amarah,pembunuhan
Pemberontakan,bom,terorisme,pelanggaran ham
Semua kekacauan ini memaksaku untuk percaya
Bahwa tak ada lagi cinta

Cinta telah musnah di telan peradaban
Dan manusia harus rela untuk hidup tanpa cinta
Inilah yang dunia bisikkan

Terkadang di saat beratnya perjuangan
Besarnya godaan dan betapa terjalnya jalan yang ku tempuh
Aku tak tahan aku ragu,bimbang
Apakah benar sudah tidak ada lagi cinta?

Sayup sayup kudengar
Jawaban dari hati nuraniku
Dengarkanlah hai umat manusia
Bertahanlah,berharaplah.karena masih ada cinta

Ingatlah
Selama masih ada manusia
Selama bayi masih terlahir
Selama masih ada pikiran waras
Yakinlah masih ada cinta

Karena,manusia tak bisa hidup tanpa cinta
Bayi takkan lahir tanpa cinta
Pikiran akan gila bila cinta tak lagi meneduhkannya
Saat ini masih ada manusia
Bayi masih dilahirkan
Masih ada yang berpikiran waras

Hai jiwaku,hai sahabatku
Lanjutkan perjuanganmu
Jangan berhenti karena beratnya beban bebanmu
Sebab di depan ada pertolongan,ada harapan

Yakinlah
Cinta masih ada hari ini
Cinta yang akan mengangkatmu dari kuburan ini
Dan memang benar
Cinta masih ada hari ini


by Rocky Panjaitan
Kufur - 19/10/2012 08:11 PM
#2043

Salah Pilih

Entah dengan apa kuungkap rasa
Sedangkan kau tiada tampak di mata
Satu keyakinan jiwa
Geletar rindu masih ada

Kemana kan kucari
Dirimu yang telah pergi
Ingin kudaki
Merapi nan tinggi
Teriakkan ilusi
Agar kau menjelma diri

Sayang, Cinta kita nan terlarang
Tak kuat badan menghadang
Badai nan menerjang
Hanya seorang

Kasih
Dengan apa kan kupilih
Kata cinta tuk terkasih
Bahkan Rindu pun telah berbuih
Dan aku pun terlatih
Untuk berdalih
Atas cinta nan salah pilih


by Phalosa Aini
Kifarin - 19/10/2012 08:14 PM
#2044

Heiya


bagaimana aku bisa pergi

bila semua jalan bertutur tunjuk padamu

bagaimana aku bisa terbang lagi

bila semua lapisan atmospher berpihak padamu

padamu dan ya..

padamu

Bagaimana aku bisa menyelam di samudra kebebasan

bila remah mutiara telah terukir namamu

Aku harus bagaimana

Kejelasan tak lagi jadi masalah

bagiku cukup satu

satu yang bisa melindungi kala kelam menyamun di relung batinku

satu yang bisa memahami kelemahan diri namun membuka tangannya dengan lembut menyapa hatiku

Sekarang apa?

kita mau kemana?

semua jalan pikir dan hati seolah menjadi buntu

buntu yang tak pernah menjemukan

buntu yang tak seperti operasi usus buntu

buntu yang tak pernah buat aku bosan

Heiya..

Helaan napas semakin tak tertahan

saat disini kamu berikan bayang dan juga nyata

saat tak disini kau pun menemani setiap jalan dalam remah remah rindu yang kutahankan

Aku ada

Memang mungkin karena kau pun ada

Kita tercipta dalam tempat dan ruang waktu yang berbeda

lalu tiba tiba seolah semesta dan milywaynya berbisik hingga kesudut sudut kelas hati

yang tiap hari yang jemu jemu tuturkan langkah kasih dan sayang diri

Ah

biar sajalah

setidaknya menjaga hati adalah menjadi misteri yang kau,aku dan tuhan tahu

tapi

tetap lah disana

ditempat kutitipkan sebagian bathin di aura mu

yang tak pernah buat ku jemu


by Wiriyanto Aswir
giringkeras - 19/10/2012 08:15 PM
#2045

sepi

hanya sendiri
tak ada yang menemani
tak bisa bernyanyi
hanya bisa bermimpi
Kufur - 19/10/2012 08:16 PM
#2046

Bocah Bodoh


Pagi ini dan pagi selanjutnya, mulai hari ini dan hari selanjutnya.

Langkah kaki ini tanpa semangat, nurani ini sepeti malas.

Tapi… harus Aku jalani tanpa arah, meski ada tujuan di sana.

Ada Tangis, ada tawa. Ada ceria dan ada kemurungan bergemuruh jadi satu, semuanya.

Alunan musik tanpa merdu, bergema keras dalam ruang yang hampa.

Aku harus mengikuti memaksa semua rasa untuk terlihat gembira.

Tanpa arah tapi mulai, tanpa arah tapi berakhir.

Entah ada pada apa, aku tak mengerti hanya coba menyelami.

Pusing sudah kepalaku,

Kosong sudah perutku,

Sakit dalam kelaparan,

Rasanya ingin aku akhiri.

Tapi aku sedang belajar,

Mencoba sabar dan teguh pada suatu keadaan,

Sedikit lagi…

Tuk buktikan pada semuanya kalau aku sanggup, aku mampu dan aku kuat.

Imbalan dengan perjuangan

Sangat jauh sekali untuk perbandingan

Dimana rasa tanggung jawab di perlukan

Dan nurani hati yang di butuhkan

Mana dikurangi, Takkan di tambah

Aku coba

Semangat terus

Menjemput sabar itu


by Panggil Aku Winar
Kifarin - 19/10/2012 08:16 PM
#2047

SAJAK POHON TUMBANG

Aku tumbuh
Orang-orang mulai menanam pohon di kepalaku
Hingga aku bersaksi bahwa daun telah menjadi rumah bagi matahari
Pepohonan menjadi tiang-tiang bagi langit yang menjadi atapnya

Ketika aku percaya,
aku teronggok seperti serpihan kayu yang terselip di sudut mata gergaji
Orang-orang pun terpukau erangan mesin-mesin raksasa yang melahirkan puing-puing
Mereka tertawa untuk menahan tangis yang menggumpal menjadi kegelapan masa depan
Daun-daun menjadi dongeng yang hanya didengar anak-anak dari sebuah buku pelajaran
Akar-akar mengering menjadi sisa kegelisahan masa silam yang tercabut dari ingatan

Aku terdiam
Orang-orang bungkam seraya melempar kebohongan dalam sebuah pesta di kepalaku
Kian senyap kecuali jerit jangkrik yang kehilangan sepetak taman ilalang
dan sebatang pohon Hampalam
Aku bergeser
Orang-orang duduk melingkar di pusara sunyi perbukitan
Lalu manggut-manggut dengan kesedihan yang sedikit dipaksakan
Kucium bangkai tanah yang mengering di hulu kampung halaman
Remahan debunya tak mampu mengubur setiap aroma anyir keserakahan
Pesta bubar
Aku tumbang di ceruk tanah yang tinggal sedepa saja
Aku terhempas di tanah kerontang bersama ranting-ranting yang kehilangan rasa kecewa;
bersama debu-debu yang hanya menjadi penghias kaca spion dan jendela di teras rumah

Aku terkapar bersama langit yang kehilangan atapnya
Tak ada yang memeluk tubuhku seperti daun-daun mendekap matahari
Aku menggelepar dalam dada yang telah siap menjadi liang lahatnya
Orang-orang hanya menyeka kecemasan di leher mereka dengan selembar uang kertas
karena sudah tak ada lagi yang bisa menjadi keringat apalagi air mata
Duka pohon-pohon telah dikubur dalam lipatan dompet dan saku celana
Aku limbung kehilangan ranting dan dedaunan yang tak lagi bersemi di kepalaku

Pohon-pohon menjerit di atas ribuan makam kerabatnya
Aku datang dengan daun-daun kering yang kupungut di halaman gedung-gedung bertingkat
Kutaburkan aroma duka seperti pesan tonggak pohon Ketapi di pelataran rumah
Sepi; meskipun jerit pecah di pusat perkantoran, jalan raya, dan hotel-hotel mewah
Aku menjerit, teringat pohon Ramania yang sedang menunggu ajalnya
setelah datang dari kota dengan sepotong rasa bela sungkawa

Aku terbaring
Angin datang berbisik tentang sejuk udara perkotaan, tapi
aku mendengar gerisik kebohongan itu gugur bersama daun-daun hijau
Angin pun marah. Aku diam saja karena aku sangat peduli dan telah kehilangan air mata
Orang-orang mulai melesat ke pesta jelata di bawah pohon cabe
Pesta gelondongan lumat di lidah dan mulut jera sekali saja
Tak ada rasa sesal di hati kecuali bukit- bukit yang mati di ujung kata

Aku tertegun
Biji mataku terpikat tonggak ilalang yang mulai merobek selangkangan langit
Dari situlah menetes kegelisahan yang menyumbat selokan-selokan
Sungai pun telah begitu kecewa dipaksa makan lumpur dan sampah kolong rumah
Aku bergegas ke muara, berharap masih bisa melarungkan sisa-sisa kesedihan
Tapi sungai sudah tak kuasa menelan segala kekecewaan
Sungai-sungai telah berubah menjadi tempat sumpah serapah
Kepedihanku kandas menjadi sisa-sisa pesta hujan di kaki Sebatung
Aku mematung
Pohon-pohon telah menjelma menjadi fosil masa lalu
Kurangkai sisa-sisa daun kering menjadi sebuah sajak pohon tumbang
Bacalah bait demi bait agar ranting dan daun tumbuh di hatimu
Bila aku tumbang maka teruskanlah kau menjadi batang!

Aku hampir tumbang. Kau jangan diam saja!

Sigam, Maret 2012


by Dian Mardhika
Kufur - 19/10/2012 08:37 PM
#2048

Ingin

ingin kuceritakan padamu
tentang hujan manakala kemarau
datang memecah jalan
agar kita temukan kembali
jejak masa silam
ingin kukisahkan padamu
tentang airmata kala kita tertawa
dalam pelukan bahagia
agar ada yang mengingatkan
kita pada duka ingin kusampaikan padamu tentang maut
saat kita sungguh-sungguh
mencintai hidup agar dengan semua ini
kita bisa merasa cukup


karya Kiki Sulistyo
Kifarin - 19/10/2012 08:37 PM
#2049

Perempuan Itu Punya Cerita

perempuan itu punya cerita
aku tahu, dari gelisah tangan
dan getar bibirnya suatu senja,
kupu-kupu melintasi rambutnya
serupa sampan mengayuh samudera
setelah itu, aku selalu ingin memeluknya
meski hujan seringkali membuat
jarak jadi sempurna aku tahu,
kecemasan ini akan membangkitkan kembali
kenangan tentang kepergian, rumah kelabu
tak lagi menyisakan hangat
percakapan perempuan itu punya cerita aku tahu,
dari semu pipi dan bulir bening
yang jatuh dari matanya seperti segala
yang ditemukan kembali
aku pun tak hendak
membuatnya pergi


karya Kiki Sulistyo
Kufur - 19/10/2012 08:38 PM
#2050

Aubade

ada yang terlupa dari pertemuan kita
semacam tanda untuk segera percaya hingga
yang datang sekarang cuma pesan: kau
telah berdamai dengan tuhan ada yang terlupa
dari perpisahan kita semacam tanda
untuk segera berduka hingga yang datang
sekarang cuma kenangan
di rimbun kemboja
sepasang batu nisan


karya Kiki Sulistyo
Kifarin - 19/10/2012 08:39 PM
#2051

Dermaga

setelah bersentuhan dengan cahaya
hujan kembali ke dermaga
pada lintas camar, di antara kapal-kapal
juga menara yang mencatat cuaca
sementara aku menunggu waktu membuka pintu
terakhir menuju ruang hampa tak terjaga:
matamu, kebiruan angkasa raya
setelah itu aku berlari ke dermaga
mengejar hujan yang telah menuntunmu
menyebrangi kilau kunang
pada malam antara kabut
dan pohon-pohon taman
selamat jalan


karya Kiki Sulistyo
Kufur - 19/10/2012 08:39 PM
#2052

Puisi Laut, Puisi Badai

engkau laut, dikutuk berarak
pada gemuruh antara ombak
dan karang terjal dendang nelayan melukis badai
di pasir pantai perahu istirah,
berpayung matahari merekam tarian kanak-kanak telanjang
hujan dan angin yang bakal tiba jangan langkahi keinginan
berjejak di kehidupan mencipta suara
gaung orang tertawa penghuni laut,
adakah engkau telah menebar harum aroma karang
camar putih menyingkat kepak dan
jaring menumpuk asap ada badai


karya Kiki Sulistyo
pradiska - 19/10/2012 09:46 PM
#2053

gan mampir di puisi ane yee

Spoiler for Penna keriing
Kifarin - 19/10/2012 09:53 PM
#2054

Quote:
Original Posted By pradiska
gan mampir di puisi ane yee

Spoiler for Penna keriing

bagus-bagus puisinya ganD
ane izin copas puisi yg ini ya...


Memahat Harapan

Tak seperti biasa, pagi ini tubuhku menggoda untuk mandi. Mandi pagi
Pagi ini terasa sepi, para sahabat belum bangkit untuk menjemput matahari. Namun entahalah aku tak peduli
Air dingin mulai menyebar diseluruh tubuh, mulai membasahi tulang punggung yang tak kokoh
Menyirami rasa perih tentang bayangan yang ada dibalik elegi pagi

Aku mulai beranjak, segera menyantap rasa pedas problematika
Ingin segera ku ukir jalan hidup ini dengan pahat yang lebih tajam
Pahatan tangan lain begitu indah, cepat tepat dan begitu rapih
Tak seperti pahatanku, begitu rancu ibarat memahat menggunakan kaki

Namun sedikit demi sedikit pahatan tangan ini mulai rapi
Seperti tangan-tangan lain
Tak mudah memang, perlu keringat dan kuatnya hati
Tak pula susah, hanya butuh baja yang dilebur kedalam jiwa

Karya kecil yang berarti mulai mucul, menyembul dibalik bukit harapan
Manghapus semua gagal dan sesal, semakin membawa pada arah kepastian
Aku tak butuh penghargaan untuk karya pahatan ini
Aku hanya butuh seseorang yang mampu memahami


by anggi pradiska
Kufur - 19/10/2012 09:59 PM
#2055

ane cuma bisa berbagi puisi orang lain ganmalus


Nafsu Liar

ketika nafsu liar
merusak sukma
berpacu mendobrak batas
mengoyak dada,
meretak kepala
membuta mata,
menuli telinga
membebal rasa
duh, gusti
mengapa aku selalu
jadi pecundang
ketika harus
melawan jarang?

Surabaya, Jan 2012


karya Rio RM
Kifarin - 19/10/2012 10:00 PM
#2056

Cerita 1

kalau aku bicara
akulah rakyat jelata
yang terengah engah
kalau kamu bicara
kamulah penguasa pongah
dengan mulut berbuncah
kalau mereka bicara
merekalah politikus rakus
yang terus mengendus
ketika aku diam
suara rakyat terbungkam
ketika kamu tak mau diam
tangan penguasa main bekap
ketika mereka tak bisa diam
lidah politikus saling tikam

Surabaya, Des 2011


karya Rio RM
Kufur - 19/10/2012 10:02 PM
#2057

Ibarat Kaca

hidup ibarat kaca
kadang begitu rapuh
dan kadang begitu angkuh
bila pun ia pecah berserakan
itu bukanlah akhir dari keindahan
karena masih ada harapan
dalam perjalanan panjang
kehidupan kan ada yang menyusunnya
kembali utuh
hidup adalah arti
akan jati diri
bilakah ia tak selaras
dengan mimpi
maka biarlah aku berdiri
bukan berhentik
arena hidup sendiri
tak kenal kompromi

Surabaya, Peb 2012


karya Rio RM
Kifarin - 19/10/2012 10:02 PM
#2058

Cerita 2

bicara atau diam
apa bedanya?
aku bicara
rakyat bicara
sampai mulut berbusa
aku diam rakyat bungkam
bersama leleh airmata
tiada telinga mendengar
tiada gaung menggema
ketika bicara menjadi diam
riuh berubah bisu
panggung kehilangan riuh
dalang kehabisan cerita

Surabaya, Nop 2011


karya Rio RM
Kufur - 19/10/2012 10:04 PM
#2059

Begitu Cepat

tidakkah kau sadari
hari begitu cepat berlari
bagai meteor lepas
tak terkendali
tidakkah kau sadari
berapa banyak orang berharap
waktu dapat terulang kembali?

Surabaya, Okt 2011


karya Rio RM
Kifarin - 19/10/2012 10:07 PM
#2060

Ibu

Melepas pergimu dengan ikhlas
rasa berat dan tak mungkin
tapi aku juga tak bisa
menghindari takdir
kehilanganmu membuatku goyah
pedih meluluhlantakkan
hati dan jiwaku maafkan aku ibu
yang tak juga rela melepasmu
musim telah berlalu
tapi rinduku tetap padamu bundaku
duka dunia akankah bertepi?
Tak ada yang bisa kulakukan
Selain pasrah padamu Ya Robby
atas segala permainan hidup
dan nasib yang digariskan
Bunda, kubentang jalanmu
menuju Surga
dalam setiap doa dan airmata
mengiringimu di pembaringan sepi.

Jakarta, Mei 2011


karya Linda Sarmili
Page 103 of 110 | ‹ First  < 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 >  Last ›
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5