Poetry
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5
Total Views: 7141 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 105 of 110 | ‹ First  < 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 > 

Kufur - 19/10/2012 10:24 PM
#2081

Kalau Aku Harus Mati

Kalau aku harus mati
pada detik ini juga
jujur aku rela
aku sangat siap
aku pasrah
tetapi jujur
hatiku sangsi
adakah orang
yang akan sudi
mengucurkan air mata?

* Rumah Bari, Juni 2011


karya Hery Firyansyah
Kifarin - 19/10/2012 10:24 PM
#2082

Rindu

kucoba pahami arti cinta
kucoba artikan kasih sayang
kutak pernah paksakan
kau hadir disini
kutak pernah paksakan
kau ikuti ingin
kupaksakan kehendak
pelanggaran terhadap hak
ini bukan cinta menurutku
tapi hari ini
terasa sesak dihati
sunyi sudah terlalu
sering menemaniku
dan hari ini
rasanya kuingin
sentuh wajahmu
dan hadirkan kau disisiku
tapi tak kan kulakukan
menelponmu
cukup kusimpan saja
keinginan ini dalam hati

* Sukabumi, Jan 2011


karya Yanti Alfriyanti
Kufur - 19/10/2012 10:25 PM
#2083

Saat Mengenalmu

saat awal mengenalmu
rasanya benci saja
yang hadir dalam hatiku
seingatku aku benar benar
tak suka padamu
hanya waktu akhirnya
kau selalu mendekatiku
kita mulai bersama
empat tahun ini
akhirnya kita semakin akrab
walau tetap dalam benakku
aku tak pernah memilihmu
untuk menemaniku

* Sukabumi, Nop 2010


karya Yanti Alfriyanti
Kifarin - 19/10/2012 10:25 PM
#2084

Saling Diam

wahai senyap
tiap malam
kita sering bersama
bercengkerama
bahkan saling diam
membisu kenangan
apa yang kusimpan
telah kau lumat habis
dalam detik waktu
yang belum berakhir
bahkan wajah lelaki
yang kucintai mulai
sulit kuingat
karena begitu lama
senyap itu menemaniku

* Sukabumi, Des 2010


karya Yanti Alfriyanti
Kufur - 19/10/2012 10:28 PM
#2085

Tuhan, Peluk Aku

Tuhan,
kemarilah turun ke sini
injak tanah ini
dan peluk aku
lalu rasakan telapak kaki
yang terpanggang
tanah kering terpecah
karena panas
gulungan ombak
yang menari
daun daun jati
yang kering rontok
dan sebagian terbakar
aku jejaki pantura
hampir setiap senti
kau pun kuharap begitu

Tuhan,
kemarilah
turun kesini,
lebih dekat lagi
rasakan angin kering
yang menyelusup
lewat pori pori
mata mata
yang menyedihkan
kau lihat kan Tuhan?

* Pel Ratu, Okt 2010


karya Yanti Alfriyanti
Kifarin - 19/10/2012 10:27 PM
#2086

DOA

Lirihku semoga jadi doa
Tangisanku semoga jadi sesal
Nafasku semoga jadi tasbih
Tatapanku semoga jadi rahmat
Perkenankanlah Ya Rabb
Harapanku semoga jadi kenyataan
Resahku semoga jadi jawaban
Deritaku semoga jadi kesabaran
Pelitaku semoga jadi impian
Kabulkanlah Ya Rabb
Telah menghadirkan cahaya
Melaksanakan kepingan sisa harapan
Tuk meraih ampunanMu Ya Rabb

* Jakarta, 4 Agustus 2011


karya Dwi Rejeki
Kufur - 19/10/2012 10:29 PM
#2087

DI Ujung Ramadhan

Kala kerinduan belumlah usai
Kala penghayatan dalam doa
belumlah sempurna
Menapaki lajunya perjalanan
yang tiada henti
Menyusuri lorong
yang penuh liku menghadang
Kuingin Kau basuh dalam renunganku
Saat Kau pancarkan cahaya
dalam bulan nan mulia
Mengharapkan ampunan
dalam sujudku yang panjang
Masihkah kan kupalingkan wajah ini?
Ingin kuhapus semua noda dan dosa
Ingin kuhempas semua
kobaran emosi dalam dada
Meluruhkan jiwa
yang sarat dengan hasrat
Tenggelam dalam tangisan penuh sesal
Sanggupkah kan kutapaki hariku?
Menyongsong esok
yang telah siap menanti
Semoga di penghujung Ramadhan
Ampunan Illahi kan terpancar
lewat pribadi yang luhur

* Jakarta, 2 Agustus 2011


karya Dwi Rejeki
Kifarin - 19/10/2012 10:31 PM
#2088

Untuk Kekasih

Duhai Kekasihku
Aku hanyalah insan lemah
Yang sering berbuat dosa
Pun sering menyesalinya
Namun slalu terulang lagi
Duhai Kekasihku
Jikalau kami masih menyiakan waktu
Jika segunung dosa
masih membumbung
Adakah ampunanMu kan menyambut?
Tuk menghadirkan cahaya kerinduan Duhai Kekasihku
Ingin kuterbang tinggi
Namun satu sayap
tak kan mampu menapaki
Adakah sayap lain kan mengantarku
Menggapai RidhoMu nan hakiki
Duhai Kekasihku
Biarlah di Ramadhan ini masih kusendiri
Sekiranya ku masih diberi kesempatan
Menyempurnakan doa yang tertunda
Sampai tiba waktunya
tuk melabuhkan hatiku


* Jakarta, 3 Agustus 2011


karya Dwi Rejeki
Kufur - 19/10/2012 10:31 PM
#2089

Marhaban Ya Ramadhan

Tak terasa hari masih menjelang
Dan menyisakan semangat juang
Tuk melewati masa panjang
Yang bersemayam tak kan pernah lekang
Ramadhan telah datang
Menghantarkan pesona gemilang
Meraih selongsong harapan
Laksana gemerlapnya bintang-bintang Marhaban Ya Ramadhan
Telah sampaikan pada sucinya bulan
Dimana segala amal dilipat gandakan
Dan Asma-Mu dikumandangkan

* Jakarta, 5 Agustus 2011


karya Dwi Rejeki
Kifarin - 19/10/2012 10:32 PM
#2090

Perjalanan

di kegelapan malam perjalanan ini
ada kesadaran mendatangi hakikat
sebelum meronta jiwa
pada kekekalan api

di kegelapan malam perjalanan ini
hanya ada kerinduan ranjang
pada desah terperangkap
dalam kusutnya kelambu sepi
sementara birahi
tetap menawarkan dosa dan nanah

di kegelapan malam perjalanan ini
pikiran-pikiran mengejar kemustahilan
lalu menguburkan diri
pada kehausan abadi
sementara gugusan galaksi
dan bulan setia
mengasuh kenangan buruk
dan perselingkuhan mimpi

di kegelapan malam perjalanan ini
hidup pelan-pelan berubah butiran angin
karena kebenaran bahasa
sebatas pendengaran orang tuli
di kota-kota yang kaku dan dingin
lalu kesedihan menjadi nafas bumi
sedang merangkaki halaman
cermin sendiri

di kegelapan malam perjalanan ini
keinginan pada cahaya
dan hangat matahari
dilebur arus gelap mata hati
yang suntuk merangkai
keping penyesalan diri
menjadi kemurungan
nasib mengalir sepanjang sungai
sementara nikmat dan hasrat duniawi
menuju laut mati

Januari 2010


karya Noorsam
Kufur - 19/10/2012 10:33 PM
#2091

Purnama Ramadhan

Memandang purnama
yang terang bercahaya
Laksana hamba mengiba cintaNya
Menghias harapan menjadi doa
Merasakan indahnya
saat berkhalwat denganNya

* Jakarta,1 Agustus 2011


karya Dwi Rejeki
Kifarin - 19/10/2012 10:34 PM
#2092

Suara Daun

di ujung jalan kosong kunanti kabar bunga
sambil memaklumi bumi
yang kian terasing
kecemasan pun merayap
menjejali ruang tamu
menahan keinginan-keinginan
dan geriap air mata
kini kumasuki konser sunyi
yang gaduh tanpa suara
untuk menghikmati nyanyian badai
dalam renungan mampus
sambil menggali lubang
lengang yang mengubur aroma mawar
menggaungkan kemerduan
gagak hitam menyambut jiwa sasar
di sini kapal yang bertahun-tahun
kutumpangi terdampar dalam samudra
kenangan malam bersama pulau-pulau
yang kian temaram
oleh impian yang terapung
di atas ombak dan luka-luka
masa lampau yang semakin bengkak
di samudra gejolak yang riuh
oleh suara kematian
musim tak henti-hentinya
merekayasa hujan yang arus
siapa menyumpahi keadaan
sepanjang konser sunyi selain harmoni
kegelisahan dan suara daun berguguran

Pebruari 2010


karya Noorsam
Kufur - 19/10/2012 10:34 PM
#2093

Garis Cinta

menempuh garis-garis cinta yang berlumut
adalah menyerahkan birahi
dalam kobaran angan
lalu musim berganti daun-daun meranggas
cuaca sunyi membeku
di kulkas sendu dan matahari sendirian
membangun keheningan
lewat dzikir-dzikir sedih
kepastian mengendap
bercampur kerikil tajam dan serpihan debu
tak ada bunga-bunga
para reranting kering
karena panas yang disemburkan
semesta keraguan dan kupu-kupu
tanpa sayap bergeleparan di pasir
menghayati hambarnya garam
sepanjang pantai kusam
beginilah cinta yang melepuh
hanyut dari derasnya
gelombang sungai keruh
bersama khalwat lumut
dalam perjalanan kabut mengepul
pada bayangan hitam
berbentuk maut

Kangen di mana jiwa
menaruh percaya
pada janji
sementara kangenku
senantiasa bersapa
dengan kebohongan
kepada siapa
kemesraan dan kasih sayang
dihanyutkan
sedangkan di taman itu
masih terhampar sunyi
menampik segala
warna-warni harapan
kini aku bertanya
pada bunga kebenaran
yang mekar di atas tanah
kehidupan kau telah menyatu
pada mata api itu panasmu
memisau-misau
pada tiap helai daun
menggugurkan harapan,
menghanguskan setiap impian
lalu jiwa ini kosong
tak bermakna
menjadi kepompong
lampus di tengah hiruk pikuknya
kata-kata
hanya kata-kata
apakah karena aku
hanyalah perindu
yang ditakdirkan untuk hanyut
dalam kepulan asapmu
maka aku bertanya
pada bunga kehidupan:
di mana tumbuh benih cinta
yang kau semaikan?


karya Noorsam
RadenAlJaidan - 20/10/2012 07:55 AM
#2094

Jerit Hati
By : RadenAlJaidan
Guratan cahaya pelita senja menyayat mata sang nista
terus menerus mengguyur tubuh rapuh penuh peluh
ditengah tertawaan dan tindasan penjara fatamorgana
membuat nurani kehilangan cahayanya
tersamar diantara gelapnya nafsu angkara

nyalanya geliat lidah api dunia
dengan lahap mengunyah kemerdekaan kita
menjadikan kita katak nista dalam tempurung tak berhingga
layaknya kakek tua dengan buah simalakama
ditengah persimpangan hidup dan mati dirinya

jerit hatiku terlontar dengan suara lantang
di tengah hingar bingar padang pasir gersang
dengan gebyar auman para singa nanar yang lapar
yang siap memangsa sesamanya untuk jadi penguasa

ringkih kakek tua yang mengembara
mencari sebutir kebahagiaan
jeritan perawan yang menjaga mahkotanya
ditengah gempuran bandot nista
tangis sedih bocah tanpa ayah bunda
memaksa hati ini menjerit jerit kalap

haruskah ku jual nurani ini
demi memahami cerita sang dunia
perlukah kuhentikan langkah ini
dalam mencari ridho NYA
akankah ku abaikan jerit ini bersama jerit mereka

kita tidak pernah tau akhir cerita kita semua
tetaplah baik dan semakin baik setiap harinya
Maka ketika cerita kita berakhir, kita akan
meninggalkan dunia dalam keadaan bersinar spt cahaya
yang sedang berpijar layaknya aurora
Kifarin - 20/10/2012 08:05 AM
#2095

Di Pagi Buta

Di Pagi buta
segala hantu pun belum terjaga
berlari mengejar bis
jam kerja antrian panjang
di pintu gerbang memoles wajah
menyemprotkan wewangian
buruh hotel menjual jasa
harus wangi, bersih, segar
dan pintar tersenyum ramah
persetan dengan masalah rumah
yang menumpuk tetap harus senyum
berada di dalam bangunan
megah hotel berbintang
akhir bulan upah hanya 2 jam
mampir di tangan
semua budgeting harus diisi
negosiasi upah selalu
ditolak pengusaha
alasan pengusaha, hotel rugi
pendapatan anjlok
tetapi ini harga diri kami
harus terus berjuang keras
bertanya kapan penyesuaian gaji

* Bandung, Maret 2011


by Arman Sunarto
Kufur - 20/10/2012 08:05 AM
#2096

Bukan Salahku

dulu sering kusisipkan satu koin
bukan untuk telpon rumahmu
tapi untuk lempar kaca jendela kamarmu
pemberi tanda aku datang
lalu kita duduk bersama
di depan beranda
banyak cerita banyak tawa
banyak mimpi
berakhir begitu saja
kau memilih pulang lebih dulu
dan aku masih ingin disini
bukan salahku bila kita tak sejalan
benda terkutuk itu telah membawamu pulang
sebelum kau selesaikan etape pertamamu
sebelum kau coba Laptop terbarumu yang kita beli berdua
kenapa tak pernah cerita padaku atau kau masih ragukan aku?

* Bandung, Mei 2011


by Arman Sunarto
Kifarin - 20/10/2012 08:06 AM
#2097

Hutan Beto

lihatlah suasana baru
hutan beton berdiri
saling bersaing
tapi kemiskinan baru pun
semakin nyata
semua datar datar saja
pergerakan kecil maupun besar
tak terlihat sama sekali
syukurlah bila sudah menikmati keadaan ini
akupun ingin diam saja
kerja tidur
makan tidur
kerja makan
tidur lagi

* Bandung, Juni 2011

by Arman Sunarto
Kufur - 20/10/2012 08:06 AM
#2098

Buku Tebal

buku tebal ini hampir menjenuhkan
bergelayut di punggung
ah...sebaiknya tak kubawa
kusimpan dalam lemari saja
dan aku mau bersantai
udara cukup panas biarkan
aku berlari sesaat tanpamu
aku rindu ibu
aku ingin lari
ke pelukanmu dan kubilang:
"Ibu aku rindu teh manismu"
kini ribuan mil jarak kita
aku cuma punya pohon ini
yang selalu kududuki dahannya
pejamkan mata dan ayunkan kaki
seakan berada dalam pelukan ibu ibu,
maaf aku selalu bolos
kalau ingat berayun
dalam pelukanmu.

* Bandung, April 2011

by Arman Sunarto
Kifarin - 20/10/2012 08:08 AM
#2099

Ramadhan

Seperti Ramadhan yang lalu
aku tetap bersimpuh
dalam tetes keringat
kepasrahan seorang hamba
meski hati tertasa teduh
oleh tembang tembang memuji kekuasaan illahi
kesepian telah luruh
menghimpit sanubari
jika dunia tak kidapatkan
bawakan saja janji surga
tapi apa jadi mungkin
jika khilaf seluruh mendera
jangan tinggalkan aku
ya Robbi, penguasa alam
dalam awal perjalanan
hingga akhi Ramadhan
biarkan aku terjerat
dalam kasihMu
Jika dengan tangis harus kudapat
dimana engkau sembunyikan diri
dimana engkau berhenti
pencarkan cahaya
meski malam larut
dilindungi barisan Malaikat
lagu pujian tetap mengalun
melupakan duka dunia
aku tetap merapat dalam sajakku
berniat melupakan kepahitan
malam Ramadhan
dan hidup yang singkat

* Bukittinggi, Juli 2011

by Chairul Abhsar
Kufur - 20/10/2012 08:09 AM
#2100

Kesucian Ramadhan

Malam merangkak
Naik bulan berbinar sungguh
dalam balutan
kesucian Ramadhan
aku tetap termangu
sekejab hati luruh
dalam tanya
meretas hidup tanpa syukur
selalu dirambati
kekesalan hilaf
semua kini tampak nyata
Ya Rabbi,
aku rindu ampunanmu
beri aku kesempatan lagi
jangan jadikan
ini Ramadhan terakhir
belum cukup ibadahku
Jika ini yang terakhir
beri berkah pintu maafMu
untuk ibadahku
yang sangat sederhana
dan cerita hidup yang kelam
Ya Rabbi, beri aku waktu
merajut hati di jalanMu
mengais hari
yang telah disia-siakan
kudamba cahaya
penerang gelapku
tolong aku Ya rabbi...

* Padang,Juli 2011

by Chairul Abhsar
Page 105 of 110 | ‹ First  < 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 > 
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5