Poetry
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5
Total Views: 7141 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 106 of 110 | ‹ First  < 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 > 

Kifarin - 20/10/2012 08:10 AM
#2101

Rindu

Angin masih bertiup
membawa setiap kecemasan
ada ranting yang luruh
menerpa wajah wajah kering dibawahnya
hendak kemanakah perahu ini berlayar
jika ombak begini kencang
disudut manakah
aku hendak berlindung
jika perahu ini tak lagi bertepi
ada butiran luka
ketika rindu jauh memanggil
membasuh setiap kepenatan
acapkali kekerasan menikam
melumatkan batas kesabaran
tidakkah itu cukup
tidakkah itu menyesakkan
awan tersandar di kaki langit
gemuruh rindumu terus memanggil
tangis pilu sederet saudaraku
yang terpasung di tanah kelahiran
sejarah manis berlaku beku
tinggal sepotong awan peluh
menetes di dahinya
meratapi angkara
tak kunjung usai
bersandar pada cinta
yang tercampakkan
ketika malam bertaut
dalam lintasan keabadian alam
ku ingin rinduku sampai
menguak gelap mencurahkan sinar
membawa perahuku kembali berlayar
di tengah jagad tak bertepi

* Padang, Mei 2011

by Chairul Abhsar
Kufur - 20/10/2012 08:10 AM
#2102

ALLAH MAHA BESAR

Terimakasih ya Allah
Atas segala perlindungan
Ampuni aku bila salah
Kepada Mu tempatku mengadu
Terimakasih atas semua rahmah
Saat ini dan masa lalu

Allah Maha Besar
Hanya Allah yangku sembah

Kabulkan doaku
Doa kami, doa anak dan istri
Doa rakyat, doa orang-orang teraniaya
Kubur semua penderitaan

Allah Maha Besar
Beri kami kebaikan, kebahagiaan
Beri kami kekuatan, melawan kenistaan
Melawan kezaliman
Membantu rakyat miskin
Allah, kabulkan doa kami
Amin ya Allah

Jumat, 25 Mei 2012

by Djunaedi Tjunti Agus
Kifarin - 20/10/2012 08:11 AM
#2103

PERANGKAP ROKOK

Merokok, teruslah merokok
Takkan mati karena rokok
Begitu bujukmu, lewat berbagai cara

Merokok adalah gaya, perkasa
Rokok membuat siapa saja enjoy
Terutama pengusahanya makin kaya
Tapi membuat perokok jadi jontor

Tanpa rokok akan linglung
Itu alasanmu, tak bisa berpikir
Padahal sejatinya terkurung
Kecanduan tak terbendung

Candu rokok telah memerangkap
Membuat egois, gelisah
Tak peduli asap rokokmu mengganggu
Tak peduli tempat dan waktu
Tak peduli orang lain menggerutu
Kau terus menghisap, tak kenal waktu
Tak peduli anak menangis minta susu
Putramu malu, tak bisa beli buku

Kau tega dapur istri tak berasap
Kau tak peduli kamar mandi bau asap
Kau tak peduli meski bunuh diri
Kau malah menyalahkan negeri

Kau telah terperangkap
Beribu alasan kau ucap
Tutup saja pabrik rokok
Nasib buruh terancam
Tetapi kenapa kau tak peduli
Orang-orang yang ikut teracuni

Kau telah terperangkap

Bekasi, 19 Juni 2012

by Djunaedi Tjunti Agus
Kufur - 20/10/2012 08:12 AM
#2104

MASIH INGIN MEROKOK?

Meriang, tiba-tiba dingin
Keringat bercucuran
Tak ada lagi daya, tubuh lunglai

Tubuh basah keringat
Dada kiri bagai diremas
Berdiri tak lagi imbang, kepala berat

Segera didorong ke ICU
Dipasangi alat bantu
Obat penenang berperan
Tidur berkepanjangan
Tanpa tahu waktu

Masih untung katamu
Hanya penyempitan
Tak perlu cincin
Tapi tetap wanti-wanti
Jika mapet langsung terkapar
Menjerit, merintih kesakitan

Masih ingin merokok?
Begitu tanyamu, dan memberitahu
Candu rokok membelenggu

Berhentilah, itu jika masih ingin hidup
Terdengar kasar, tapi itu saranmu
Tanpa canda

Berhentilah
Rokok tak ada manfaat
Tinggalkan
Jika masih sayang nyawa
Sayang keluarga

Lawan
Jangan menyerah
Tak ada kata terlambat
Stop merokok
Kenapa harus merusak diri
Memperkaya pengusaha rokok

Jangan biarkan rokok
Merasuki kepala
Buang-buang dana
Ingat, tak ada orang gila
Karena berenti merokok
Lawan!

Jakarta, 4 Juni 2012

by Djunaedi Tjunti Agus
Kifarin - 20/10/2012 08:13 AM
#2105

sebuah mimpi

ada seutas tali
tempatku panjatkan harap
tapi terlampau rapuh
terlalu besar
kuberharap darinya
inikah jalan
yang kau bentangkan itu?
aku tetap berharap
akan ada cahaya
dalam gelap
menepis segala pikiran buruk
masih adakah celah suaramu
membelah batu
mengikis tanah tandus
ketika jalan kiat surut?
segumpal harapan masih kutebar
mimpi semakin jauh
semakin tertinggal
ini jadi pecundang sejati
yang terkapar

* Januari 2012

by Noor Sam
Kufur - 20/10/2012 08:13 AM
#2106

Topeng

ada batu cadas
yang terbelah hujan
angin dan matahari
ketika inginku menelikung deras
menerba seribu wajah
yang tertekan
mestikah melepas jati diri
terpuruk angan semu
angin tetap berjalan
mengitari rasa yang terpendam
bayangan hitam hari sunyi
membelit setiap nafas
dan harap keinginan berlalu beku
dalam bayang yang memagari rupa
tak sanggup aku teruskan
memasangi wajah dengan topeng
berteman dengan dusta
dan sandiwara hati
telah jauh tertinggal
ingin kudekap malam
dalam sahaja ingin kureguk hari
apa adanya tanpa topeng

* Pebruari 2012

by Noor Sam
Kifarin - 20/10/2012 08:14 AM
#2107

di bawah purnama

pada batas langit dan bumi
pada kali pertama
tali gendewa dilesatkan
menikam cinta
di bawah purnamaku
berguru pada alam
pada setiap kesedihan
terhujam aura gelap
yang mesti dipunahkan
mengapa selalu hadir gelisah
diantara degub yang menderu
ada selalu rasa itu
menghantui nafas dan malamku
kini aku bersujud pada waktu
menyerahkan gairah
dan janji semu
pada segala tatap
yang penuh tanya
ini kali menyergap
di ujung hati

* April 2012

by Noor Sam
Kufur - 20/10/2012 08:14 AM
#2108

getaran jiwa

ini kali pertama kurasa
getaran yang sama
seperti kali pertama
bertemu ku bertanya pada diriku
bertanya pada hati
getaran apakah ini?
sementara rinduku
terus mendera
ada rasa yang tumbuh
kian dalam barulah kusadari
jika cinta tak mengenal syarat
dan tak pernah bertanya
ia datang menerpa seperti angin
seperti perangkap yang tak bermata
menjerat dan membangkitkan
segala rindu kini hasrat terasa meluap
mengaliri inci demi inci
detak jantungku
meski kuingin mengakhirinya
ku masih tak mampu

* Maret 2012

by Noor Sam
Kifarin - 20/10/2012 08:15 AM
#2109

Gambaran Senja

Kuburu sejuk angin
agar ia mampu memintal
rambutmu yang mulai memutih.
Namun badai
membuyarkan hasratku mendekapmu.
Kau selalu berupaya membunuh rasa,
hati yang galau sulit kau benahi.
Lenyapkan duka nestapa
mulai ini hari,
karena usia senja
bakal membawa kita
pada kepasrahan menyambut ajal.
Maka badai dan sejuk angin
menjadi sama, selalu menari,
"Pasrah menyambut ajal
tak perlu berlebihan," katamu,
sedangkan senyum sinis terus
menghias bibirmu yang pucat.

Pondok Petir, 2012

by Edi Supardi Emon
Kufur - 20/10/2012 08:16 AM
#2110

Di Kampung Ini

Agar kau senang menghuni kampung ini
Sebaiknya kau akrabi semak itu
Di rerimbunnya akan kau temui
Rahasia mengapa kadal dan serangga
Bersekutu menghindar darimu
Di sudut kampung ini juga
Sepohon kamboja menawarkan senyum
Padahal seratus tahun silam
Sebadan manusia rapuh tulangnya
Tertimbun di situ
Maka senyumlah seperti pohon kamboja
tumbuh di semak menggalang tenteram
Bunganya harum
Bersahabat denganmu
Sepohon kamboja tumbuh di semak ini
Aku semak yang mendamba
Senyum kambojamu
Di kampung ini kubunuh
Semangat kadal dan serangga
Agar kau selalu senyum
Tak menghindar dariku

Pondok Petir, 2012

by Edi Supardi Emon
Kifarin - 20/10/2012 08:16 AM
#2111

Lenggang dan Kupu

Sewaktu-waktu kau melenggang
di belakang punggungku
akh, ruang yang sibuk
masih saja memisahkan kita
menyapa sepi
lantas kau menjelma kupu
terbang di belakang punggungku lagi
menyelinap diam-diam
memintal awan
melukis pelangi
bersamaan menawarkan cerah pagi
yang tak pernah menjelma
dalam mimpi-mimpiku

Kusimpulkan kalau kita
senantiasa diam dalam diam

Pondok Petir, 2012

by Edi Supardi Emon
Kufur - 20/10/2012 08:17 AM
#2112

Murai dan Pemburu

Murai itu kini tak kecil lagi
pandai membuat sarang dari patahan reranting,
mengepakkan sayap, berkelebat menembus belantara.
ia rayu cakrawala, mengelusnya
dengan berjuta kerinduan
menyibak doa, memohon
hidup terkedepankan.

Ketika musim berganti
ia ubah dirinya selayak merpati
membuat sarang di ceruk batang pohon
menyiul jantannya
menjawil senyum.

Di suatu siang yang lembab
pemburu menyambang lembah
pena di tangan kanan
memori catatan lelah di tangan kiri
tiada bedil dan teropong arah.

Desir angin pelan meluruhkan
hijau dedaunan dari rerantingnya
lembah sekejap berpendar
ratusan pasang murai mendendangkan
nyanyian kebersamaan,
kedamaian dan
ketenteraman. "akulah murai kecilmu,
kelincahanku dulu membuat penamu
bergetar," siul sang murai.
Timbunan rasa pemburu menyeruak
ke tumpukan buku, map, menyanding
komputer, terpilin jemari lentik.
"wahai muraiku,
jalani hidupmu dengan
doa," kata si pemburu.

Sejak itu pemburu masuk lembah
tak berpena, tak bermemori.

Bogor, 2011

by Edi Supardi Emon
Kifarin - 20/10/2012 08:18 AM
#2113

Selalu Kau

Selalu kau sergap kesibukan
yang menguras tenaga, mengecoh
sesampahan jadi kayu bakar
selalu kau sesali tangis, kembali
ke asal marah
Maka kau tak mampu mengusir
purbanya hardikan

Hari ini, seperti hari-hari berlalu
kau suguh aku dengan akar roti
sedangkan roti kau makanberbaur dengan si meong

Malam ini, seperti malam-malam berlalu
kau ulang menimbun marah
dan jerit lupa pada segala

Diamlah, sebaiknya kau siapkan
Langkah mencari ridhonya.

Bogor, 2011

by Edi Supardi Emon
Kufur - 20/10/2012 08:18 AM
#2114

Menuju Tuhannya

Barisan laki laki menuju pura
dan perempuan dalam kebaya
wajah wajah pasrah berbagai rupa
berangkat menuju Tuhannya
di gerbang pura
barisan merapat
berharap dinaungi para dewa
hidup telah diserahkan
ada janji yang terucap
pada kalimt suci tengah malam
meski tak bisa merubah dunia
tapi harapan tetap dinyalakan
nyanyian alam memecah hening
mereka larut dalam doa
munuju muara kebesaran pencipta

* Pebruari 2009

by Dwi Rejeki
Kifarin - 20/10/2012 08:19 AM
#2115

Lelah

Aku masih tersandar
di tepi buritan
angin kencang menerpa segala
kupandangi sandal jepit
kutinggal sebelah
aku lelah pandangi langit
kelamarungi belantara tak bertepi
seperti tak ada jalan keluar
hanya berputar
tanpa ada arah terbentang
waktu tersita tanpa tanya
aku terjebak tanpa daya
hanya gundah yang meraja
mengitari seluruh nafasku
ku ingin kembali kayuhi bidukku
menapaki tepian yang tenang
hati hendak berontak
dari kegelapan ini
ketika senja menyambutku
tak harap gelombang menjelang
aku hanya ingin kembali pada tepi

* Maret 2009

by Dwi Rejeki
Kufur - 20/10/2012 08:19 AM
#2116

Rahasiamu

Bulan Berisik
di sela gemuruh hati
yang menggapai
dan aku masih terpaku
akan dirimu, tentangmu, rahasiamu
yang tak pernah kumengerti
tapi bulan kini memerah
oleh suaraku yang telah bebas
dan menemukan dirinya

* April 2009

by Dwi Rejeki
Kifarin - 20/10/2012 08:20 AM
#2117

Dukamu

Jendela hati
yang tak tersingkap
dalam deru angin malam
dendangkan lagu
pecahkan sunyi ini
aku tetap berharap
di balik kisi hati
ada belas luka
yang mengering
dukamu seperti sembiluku
menyeretku jauh
terlempar dari sumbu
membawaku pergi
menjauhi suara hati

* Januari 2009

by Dwi Rejeki
Kufur - 20/10/2012 08:21 AM
#2118

Sepenggal Lakon

Ini sepenggal lakon
yang terlupakan
kisah pilu dua nafas
terpisahkan oleh derajat
yang dikeramatkan
Mereka pemuja kasta
lahir untuk dipuja mati
seperti raja
gemerlap dunia
pisahkan janji suci
persetubuhan yang diharamkan
disaksikan burung-burung
di tanah lepas
berarak iringi rintihan sunyi
mengoyak derajat yang diagungkan

* Mei 2009

by Dwi Rejeki
Kifarin - 20/10/2012 08:21 AM
#2119

DIAM

kucoba pahami arti cinta
kucoba artikan kasih sayangku
tak pernah paksakan
kau hadir disini
ku tak pernah paksakan kau ikuti
ingin kupaksakan
kehendak pelanggaran
terhadap hak
ini bukan cinta menurutku
tapi hari ini terasa sesak dihati
sunyi sudah terlalu sering
menemaniku
dan hari ini rasanya kuingin
sentuh wajahmu
dan hadirkan kau disisiku
tapi tak kan kulakukan menelponmu
cukup kusimpan saja
keinginan ini dalam hati

* Sukabumi, Januari 2011

by Y Alfriyanti
Kufur - 20/10/2012 08:22 AM
#2120

KENANGAN 1

saat awal mengenalmu
rasanya benci saja
yang hadir dalam hatiku
seingatku aku benar benar
tak suka padamu
hanya waktu akhirnya kau selalu
mendekatiku
kita mulai bersama empat tahun ini
akhirnya kita semakin akrab
walau tetap dalam benakku
aku tak pernah memilihmu
untuk menemaniku

* Sukabumi, Nopember 2010

by Y Alfriyanti
Page 106 of 110 | ‹ First  < 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 > 
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5