Poetry
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5
Total Views: 7141 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 107 of 110 | ‹ First  < 102 103 104 105 106 107 108 109 110 > 

Kifarin - 20/10/2012 08:22 AM
#2121

KENANGAN 2

wahai senyap tiap malam
kita sering bersama bercengkerama
bahkan saling diam membisu
kenangan apa yang kusimpan
telah kau lumat habis
dalam detik waktu
yang belum berakhir
bahkan wajah lelaki
yang kucintai mulai sulit kuingat
karena begitu lama senyap
itu menemaniku

* Sukabumi, Desember 2010

by Y Alfriyanti
Kufur - 20/10/2012 08:23 AM
#2122

Tuhan, Kemarilah

Tuhan, kemarilah turun ke sini
injak tanah ini dan rasakan
telapak kaki yang terpanggang tanah kering
terpecah karena panas
gulungan ombak yang menari
daun daun jati yang kering rontok dan sebagian terbakar
aku jejaki pantura
hampir setiap senti
kau pun kuharap begitu
Tuhan, kemarilah
turun kesini, lebih dekat lagi
rasakan angin kering
yang menyelusup lewat pori pori
mata mata yang menyedihkan
kau lihat kan Tuhan?

* Plbhn Ratu, Oktober 2010

by Y Alfriyanti
Kifarin - 20/10/2012 08:24 AM
#2123

Melintas di Bumiayu

Saat semua tampak lelap tidur
Aku asyik pandangi bumiayu
di kejauhan
dari pintu gerbong kereta
yang kunaiki menuju pulang
Dalam pelukan pekat malam
tampak titik-titik lampu rumah
tertinggal di belakang
ketika keretaku berlari kencang


by Budi SS
Kufur - 20/10/2012 08:24 AM
#2124

Apa Kabarmu

Ketika angin bertiup
Aku mencoba mencari kabar
tentang dirimu
tapi ternyata
angin tak membawanya
apa kabarmu....gadisku

* April 2012

by Budi SS
Kifarin - 20/10/2012 08:25 AM
#2125

Sebatang Cemara

Sebatang cemara
ditengah sabana
tinggi menjulang
diantara rerumputan hijau
nampak begitu kerdil
tapi sayang
rembulan yang ayu
tidak mau turun
dari langit
lalu hinggap dibatangmu
yang nampak lebih
bahkan serba lebih
dari rerumputan
yang ada disekitarmu
dan kau hanya
menjadi kekaguman
domba domba
serta kuda kuda
yang sedang merumput

* Solo, 10 Desember 2011

by Dwi Rejeki
Kufur - 20/10/2012 08:25 AM
#2126

Katakanlah

Kemarin kau katakan
padaku
bahwa tampangku jelek
sekarang kau katakan lagi
padaku
bahwa sikapku menyebalkan
lalu
apa yang hendak kau katakan
padaku
besok?
katakanlah...

* Solo, 12 Desember 2011

by Dwi Rejeki
Kifarin - 20/10/2012 08:26 AM
#2127

Doa

Sang Hyang
bisikkanlah di telingaku
hari ini
suara lembutMu
supaya aku
sanggup menahan
perih luka
di dada
di hati
di mana-mana
di sekujur tubuhku

* Solo, 16 Desember 2011

by Dwi Rejeki
Kufur - 20/10/2012 08:27 AM
#2128

Kangen

di mana jiwa
menaruh percaya
pada janji
sementara kangenku
senantiasa bersapa
dengan kebohongan
kepada siapa kemesraan
dan kasih sayang dihanyutkan
sedangkan di taman itu
masih terhampar sunyi
menampik segala harapan
kini aku bertanya
pada bunga kebenaran
yang mekar
di atas tanah kehidupan
kau telah menyatu
pada mata api itu panasmu
memisau-misau tiap helai daun
menggugurkan harapan,
menghanguskan setiap impian
lalu jiwa ini kosong
tak bermakna
menjadi kepompong lampus
di tengah hiruk pikuknya
kata-kata hanya kata-kata
apakah karena aku
hanyalah perindu
yang ditakdirkan hanyut
dalam kepulan asapmu
maka aku bertanya
pada bunga kehidupan:
di mana tumbuh benih cinta
yang kau semaikan?

* Solo, 25 Desember 2011

by Dwi Rejeki
Kifarin - 20/10/2012 08:28 AM
#2129

Pembonceng Reformasi

Dulu kau mengaku setia
Pembela sang paduka
Tetapi begitu reformasi tiba
Kau membelot, menghindar
Menyelamatkan diri, keluar

Kau hanya tikus got
Pembonceng reformasi
Menimbun harta, ngotot
Meski harus korupsi

Kini kau berlindung
Di balik penguasa
Meski harus menjunjung
Menjilat, melata

Kau hanya pembonceng
Penjilat bak anjing geladak
Tak peduli coreng moreng
Mengabdi pada penguasa
Meski harus menyalak
Kau hanya pembonceng
Koruptor mencari selamat

(Untuk para pembonceng reformasi,
pengkhianat yang mengaku reformis)

* Jakarta, 21 Mei 2012

by Djunaedi Tjunti Agus
Kufur - 20/10/2012 08:28 AM
#2130

Apa yang Kau Kejar?

Berbelok tajam
Ban pun berderit
Trotoar pun dihantam
Di lampu merah berkelit

Apa yang kau kejar?
Penyeberang menyumpah
Nenek kakek menyingkir
Kau makin tak terarah
Meludah dan mencibir

Apa yang kau kejar?
Nyawa manusia
tak bisa dibayar
Kawan, berhentilah
Cobalah hargai hidup
Jangan cepat goyah
Jika ingin tetap hidup

Sabarlah kawan
Ada yang menantimu
Begitu pun pengguna jalan
Juga kepada yang lain
ada yang menunggu
di rumah

Hargailah nyawamu
Hargai orang lain
Hargai hidupmu dan mereka
Hargai kotamu

Apa yang kau kejar?
Jangan kau diperbudak
harta
setoran
dan nafsu setan

* Kebayoran Baru, 23 Mei 2012

by Djunaedi Tjunti Agus
Kifarin - 20/10/2012 08:29 AM
#2131

Di Pantai Itu

Di pinggir pantai itu
Dulu kita bercengkerama
Kupandangi dirimu
Ombak terus berirama
Mengiringi sapa kita

Kucium ku belai
Kuelus dengan lembut
Kau hanya menyeringai
Kau tak menolak, menurut

Sekitar tak peduli, membisu
Bahkan mendorong aku
meremas, menusukmu
Aku tak tega, tak mau

Di bangku itu, dulu
Aku memandangmu
Melihat penggemarmu
Hatiku berkecamuk, cemburu

Oh, aku tak tega menyantapmu
Karena kau harus dilindungi

Telur penyu
Hingga kini kau terus diburu
Di pantai itu kau dipaksa menunggu
Padahal kau harus dibantu
Maafkan aku tak mampu
Menyelamatkanmu
Dari para pengganggu

Telur penyu
Semoga ada yang peduli
Merawat, menjagamu
Jangan bosan menanti

* Muaro Padang, 2 Mei 2012

by Djunaedi Tjunti Agus
Kufur - 20/10/2012 08:29 AM
#2132

Dalam Gelap

dalam gelapnya malam
ada kesadaran mendatangi hakikat
sebelum meronta jiwa
pada kekekalan api
di kegelapan malam
perjalanan hanya ada
kerinduan ranjang pada desah
terperangkap kusutnya kelambu sepi
sementara birahi
tetap menawarkan dosa dan nanah
di kegelapan malam perjalanan ini
pikiran mengejar kemustahilan
lalu menguburkan diri
pada kehausan abadi
sementara gugusan galaksi
dan bulan setia
mengasuh kenangan buruk
dan perselingkuhan mimpi
di kegelapan malam perjalanan ini
hidup berubah butiran angin
karena kebenaran bahasa
sebatas pendengaran orang tuli
di kota-kota yang kaku dan dingin
lalu kesedihan jadi nafas bumi
merangkaki halaman cermin sendiri
di kegelapan malam perjalanan ini
keinginan pada cahaya
dan hangat matahari
dilebur arus gelap mata hati
yang suntuk
merangkai keping penyesalan diri
menjadi kemurungan nasib
mengalir sepanjang sungai
sementara nikmat
dan hasrat duniawi
menuju laut mati

Tangerang, Januari 2012

by Evi Melyati
Kifarin - 20/10/2012 08:30 AM
#2133

Konser Sunyi

di ujung jalan kosong
kunanti kabar bunga-bunga
sambil memaklumi bumi
yang kian terasing
kecemasan pun merayap
menjejali ruang tamu
menahan keinginan
dan geriap air mata
kini kumasuki konser sunyi
yang gaduh tanpa suara
untuk menghikmati nyanyian
badai dalam renungan mampus
sambil menggali lubang lengang
yang mengubur aroma mawar
menggaungkan kemerduan
gagak hitam
menyambut jiwa sasar
di sini kapal
yang bertahun kutumpangi
terdampar dalam samudra kenangan
bersama pulau-pulau
yang kian temaram oleh impian
yang terapung di atas ombak
dan luka-luka masa lampau
yang semakin bengkak
di samudra gejolak yang riuh
oleh suara kematian
musim tak henti merekayasa hujan
yang arus siapa
menyumpahi keadaan
sepanjang konser sunyi
selain harmoni kegelisahan
dan suara daun berguguran

Tangerang, Pebruari 2010

by Evi Melyati
Kufur - 20/10/2012 08:31 AM
#2134

Garis Cinta

garis-garis cinta yang berlumut
adalah penyerahan birahi
dalam kobaran angan
lalu musim berganti
daun-daun meranggas
cuaca sunyi membeku
di kulkas sendu
dan matahari sendirian
membangun keheningan
lewat dzikir sedih
mengendap bercampur kerikil tajam
dan serpihan debu
tak ada bunga
dan reranting kering
karena panas yang disemburkan
semesta keraguan
dan kupu-kupu tanpa sayap
bergeleparan di pasir
menghayati hambarnya garam
sepanjang pantai kusam
beginilah cinta yang melepuh
hanyut dari derasnya arus sungai
keruh bersama khalwat lumut
dalam perjalanan kabut
pada bayangan hitam
berbentuk maut

Tangerang, Maret 2012

by Evi Melyati
Kifarin - 20/10/2012 09:18 AM
#2135

Ke Penjara

Kamu mencintai tulang dan pori-pori
Bumi kelahiranmu dan semua bangsa
Para korban kebodohan yang terlupa
Tetapi ketika kau tulis kebenaran
Kamu dijebloskan ke penjara
Buku-buku dan pembacamu teraniaya
Akan kukenang Pramoedya
Dengan seluruh keangkuhan saudaraku
Yang tidak sanggup memahami
& mencintaimu
Di langit hatiku hujan telah reda
Tinggal namamu tertulis dan bersinar
Menagih cintaku pada bumi manusia

* Padang, 2012

by Chaerul Abshar
Kufur - 20/10/2012 09:19 AM
#2136

Kotornya Sungaiku

Sungai yang dulu menangis
Di antara batu-batu di pegunungan
Sekarang telah sampai di kota
Dan akan terus menuju ke laut
Tak lagi terdengar derai air terjun
Udara sejuk, nyanyian burung,
semerbak bunga
Telah berganti panas terik dan polusi
Sampah, minyak bekas,
ikan-ikan mati
Tapi aku terus mengalir
Menyilakan kapal-kapal
berbeban berat
Masuk dari muara
Menyambut hangat
hempasan ombak dunia

* Padang, 2012

by Chaerul Abshar
Kifarin - 20/10/2012 09:20 AM
#2137

Suara Sungai

Sungai-sungai kecil,
sungai-sungai besar
Bergelora dalam hidup singkat ini
Pegunungan dan air terjun
memanggil burung-burung mencicit
Menyulut awan putih
Menjadi lautan menyala
Menyepuh nama-namamu
Kota-kota kecil,
kota-kota besar
Gemuruh dalam sunyi hati
Burung-burung menyayat sungai
Mengalirkan cinta
Di ambang usia saat butir-butir pohon
Menunggu undangan
dari langit yang kekal

* Padang 2012

by Chaerul Abshar
Kufur - 20/10/2012 09:21 AM
#2138

Nyanyian Penyu

Seekor penyu pulang ke laut
Setelah meletakkan telurnya di pantai
Malam ini kubenamkan butir-butir
Puisiku di pantai hatimu
Sebentar lagi aku akan balik ke laut.
Puisiku - telur-telur penyu itu
mungkin bakal menetas menjadi tukik-tukik perkasa
yang berenang beribu mil jauhnya
Mungkin juga mati
Pecah, terinjak begitu saja
Misalnya sebutir telur penyu
menetas di pantai hatimu
tukik kecilku
juga kembali ke laut
Seperti penyair mudik
ke sumber matahari
melalui desa dan kota,
gunung dan hutan
yang menghabiskan usianya
Kalau ombak menyambutku kembali
Akan kusebut namamu pantai kasih
Tempat kutanamkan kata-kata
yang dulu melahirkan aku
bergenerasi yang lalu
Betul, suatu hari penyu itu tak pernah datang lagi
ke pantai sebab ia tak bisa lagi bertelur
Ia hanya berenang dan menyelam menuju laut
bertemu langit
di cakrawala abadi

* Padang, 2012

by Chaerul Abshar
Kifarin - 20/10/2012 09:22 AM
#2139

Gulali Merah untuk Adikku

Pagi hari bulan putih mengintip resah membiarkan
jalan-jalan basah Seorang gadis kecil
bermain dengan payungnya
Di taman tak ada burung berebut pakan adikku berlari,
menyaksikan debu yang terbang menanti kawan yang hilang
"Sudah senja, dik" adikku berpangku di bangku taman
"Penjual gulali akan datang
sebentar lagi" Ia berlari ke tengah taman berputar -
putar riang memainkan gambar gulali merah
yang dilukisnya sembarang

by Ayu Diah Cempaka
Kufur - 20/10/2012 09:22 AM
#2140

Jalan Malam Bentara

Aku mulai hafal cahaya malam
Jauh di tikungan sebelum dua candi
gusar menatap buyar pada mereka yang berdatangan
Ku kenali kedai-kedai malam
sepanjang jalan entah di kiri atau
di kanan dua perempuan duduk
diam diam adakah mereka mengenal
bahwa mungkin saja satu dari
laki-laki yang datang
adalah kawan lama?
Seperti seorang kawan lama
yang lama tak ku dengar tegur sapanya
Apakah setiap penyair
selalu begitu, kawan?
Sebentar datang, sekejap jadi bayang
Entah berapa kali angin
turut membuntuti
Mungkin ia ingin mampir sesekali
ketika tak seorang pun menyadari ada bait
yang melekat dalam diri


by Ayu Diah Cempaka
Page 107 of 110 | ‹ First  < 102 103 104 105 106 107 108 109 110 > 
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5