Poetry
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5
Total Views: 7141 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 108 of 110 | ‹ First  < 103 104 105 106 107 108 109 110 > 

Kifarin - 20/10/2012 09:23 AM
#2141

Jalan Malam Bentara

Aku mulai hafal cahaya malam
Jauh di tikungan sebelum dua candi
gusar menatap buyar pada mereka yang berdatangan
Ku kenali kedai-kedai malam
sepanjang jalan entah di kiri atau
di kanan dua perempuan duduk
diam diam adakah mereka mengenal
bahwa mungkin saja satu dari
laki-laki yang datang
adalah kawan lama?
Seperti seorang kawan lama
yang lama tak ku dengar tegur sapanya
Apakah setiap penyair
selalu begitu, kawan?
Sebentar datang, sekejap jadi bayang
Entah berapa kali angin
turut membuntuti
Mungkin ia ingin mampir sesekali
ketika tak seorang pun menyadari ada bait
yang melekat dalam diri


by Ayu Diah Cempaka
Kufur - 20/10/2012 09:24 AM
#2142

CEMAS

Aku dilanda cemas,
seperti rasa takut yang mengikat.
Di setiap mata yang memandang,
seakan-akan menelanjangi
Terperangah,karena rangkulan hina
yang tercipta saat di langit
berkumandang suara adzan
Saat jemari dosa melambai,
memalingkan wajah dari dunia nyata.
Bermain dalam ilusi yang mengelus,
rawan, terencana melupakan sisi diri
yang terlanjur terlena.
Mengambang aku suara adzan berakhir Iman-ku
tercabik dan aku malu telah melawan-Mu karena peluh
yang menetes ini sesungguhnya darah penyesalan.

* Makassar Nov 2011

by Lina Husaini
Kifarin - 20/10/2012 09:24 AM
#2143

JAKARTA (1)

Terik menyengat,
Sepanjang jalan
terpagari oleh beribu lakon
Pengemis tua menopang dagu
di halte yang teduh,
menatap dengan kepala pening,
roda kendaraan yang berputar.
Sementara di sudut terpencil,
bocah tanpa alas kaki
mengais sampah
karena mengkhayal
tentang cap cay
dan roti berlapis coklat
Hey, Jakarta Geliatmu
selalu sama setiap hari.
Menjanjikan sejuta harapan,
seperti mentari yang baru saja menyembul
ke permukaan bumi,
tapi tanpa syarat
kau gilas ilusi saat terikmu
menembusi ubun-ubun.
merubah peluh jadi darah,
merubah darah jadi nanah,
dan masih kau lukai
dengan lakonmu yang memperdaya.
Jakarta, Sakit-mu yang tersakit adalah,
perih yang mengiris.
Hitam-mu yang terhitam adalah,
legam yang menjelaga.
Tapi kau penuh dengan angan,
hingga nyawa-pun merembes
ibarat selembar kertas.
tak akan berarti apa-apa
tanpa rupiah, senasib koran pagi, yang terbuang
kala berganti edisi petang.

* Jakarta-Harmoni 2012

by Lina Husaini
Kufur - 20/10/2012 09:25 AM
#2144

JAKARTA (2)

Jakarta, kau penakluk
Sepatu-sepatu berkilap
segera berganti sandal jepit,
atau gubuk-gubuk liar segera
memancang gedung-gedung berkaca.
Mendesak manusia-manusia
merapat dalam ratap,
menyaksikan para kaum berdasi berdebat,
tersenyum menepuk pundak,
untuk kemudian, menelikung.
Layar parodi-mu berganti setiap hari.
Memaksa nurani
untuk membalikkan mata.
Mengagungkan darma yang salah
dan menginjak nyali yang teruji.
Jakarta, Bukankah kau kota
yang tak pernah tidur..?.
tapi mengapa kau
tak menghardik saat pematang
di tumbuhi rumput import
mengapa kau diam saja
saat deru mesin meraung
dan menghadang?
Kau tak pernah peduli,
hingga lumpur-lumpur
melumuri wajah kami
Kau salah,
mengarahkan panah kendala
pada kami, karena kami hanyalah kutu
Kau salah, karena kau tahu,
Negri ini penuh terisi
dengan pengerat, dan kutu-kutu
tak pernah punya nyali
untuk sekedar menggerutu.

* Jakarta, Januari 2011

by Lina Husaini
Kifarin - 20/10/2012 09:26 AM
#2145

Suara Dzikir

sayup suara dzikir diterbangkan
aku mengenal abjad matahari,
"Sejak lama aku ingin menjelma
menjadi sungai, mengawan dan meneteskan hujan!"
suara kebajikan menolak keputusasaan
sedemikian bertingkah di jalan berliku
saatnya bagimu
dalam surat kepercayaan iman meneteskan
rasa ihlas tak memilukan soal pertautan
mata air dan hujan sawah ladang dan pintu jendela
tak mungkin tanpa bacaan
sampai menara kubah memasuki cakrawala

* Padang, 10052011

by Chairul Abshar
Kufur - 20/10/2012 09:26 AM
#2146

Aku Saja

aku sendiri yang berangkat
mengaruskan ikhlas memijar rasanya tubuhku
juga penuh sejumlah hiasan bersolek
atas sederetan kebanggaan
hitungan kehendak sebuah pertaruhan
memang sangat melelahkan kaki
bagaimana pun diberangkatkan
ada yang menunggu
bahwa kebebasan terkadang
kumpulan kecemasan
seperti isyarat rembulan yang memucat
tak mengapa
kehendak digelantungkan di kakinya
bersamaku dalam baris baris
saling berkejaran
biasanya tak seorang pun
yang merasa bersalah atau berdosa
sebab memang tak sampai selesai membaca makna dirinya
tetapi dalam kegelisahan memuncak ada semacam tuduhan
seakan hanya aku saja
yang disuruhnya
agar bersedia menggumpalkan
diri sendiri
sebenarnya percakapan
bisa mengalir ramah,
"Milik kita atau bukan sebaiknya
membersihkan bacaan pikiran!"

* Padang, 11122011


by Chairul Abshar
Kifarin - 20/10/2012 09:27 AM
#2147

Kesadaran Mengembara

lihatlah dengan saksama
setiap jaring waktu
catatan sungai sungai
dan nyanyian ladang ladang
sekarang tertangkap menjadi milikmu
berjuta kata namun tak mungkin
kalimat yang singgah
tanpa sebuah rumah
begitu saja ditendang
berceceran sampah memenuhi
sembarang tempat
ingin menemukan
kelopak bunga bermekaran
rasanya bukan di atas ranjang
ruang dengkurmu menjelaskan
lalulalang sebenarnya ruh kejadian
serpihan jejak yang engkau tinggalkan
mungkin menjadi milik orang lain
sesuatu yang ditaklukkan sempurna seluruhnya adalah
kesadaran mengembara
dan biasakan belajar menghafal abjad
dan isyarat atas luas peta nama
dari mereka yang tertangkap

* Padang, 15122011

by Chairul Abshar
Kufur - 20/10/2012 09:28 AM
#2148

Luruh

selalu ketika aku menyeberangkan tidur malam luruh
bersama bunga bunga
yang terbentuk garis keindahan
warna sayap kupu kupu
kumpulan yang berterbangan
dalam sebuah percintaan
mengarungi sekian jauh jalan raya
di udara dan hinggap
di atas oranye flamboyant lekat dahan
akhirnya sampai kepada
sebuah jasirah yang amat setia
menyimpan doa taubatku
yang terbungkus rapih,
"Ampunan-MU meminta luas
menyebar di semua panca indera.
Rindangkan di atasnya
taman kota seluas
semak belukar yang dihinakan.

* Padang, 15102012

by Chairul Abshar
Kifarin - 20/10/2012 09:28 AM
#2149

Di Mesjid Baiturahman Aceh

Tunduk keningku
di gerbang yang tertutup pagar
Gelandangan dan pengemis
menadah waktu
Aku terisak diserambi lantaimu
Mengintip mihrab ruang sujud
dan tawajuh
Jubah kebesaran seorang imam
Pagar besi menahan lenguh lapar,
desah dahaga
Menyebutmu dengan getaran malam
Pun suara burung
menggugah kubah yang tersamar"
Malam ini,
rumahmu bukan rumah bagi kami,
para perindu yang senantiasa memanggilmu"
Bekas telapak tangan
di sajadah hitam terhampar
Jika ku ukir monumen dari suara ruh
yang menyerumu bersamaku
Apakah akan terbuka juga akhirnya
gerbang besi itu?
Kedua tangan terangkat
dengan lafal kuat menghentak
Aku terbang didalamnya
menyentuh kata-kata
Kepada sahabat
yang menitipkan raganya
Gerak jariku meraba,
sampai dimana kaki pengembara
Menjelajah negeri yang mengibarkan sunyi
Di Baiturahman wajahmu terhampar
Di bumi yang mendendangkan
rintihan gempa sebagai hujan

* Banda Aceh, 2012

by Daisy Priyanti
Kufur - 20/10/2012 09:29 AM
#2150

Siapa Mengubur?

Siapa terkubur, siapa mengubur?
Diundakan pintu
aku menadahkan kepalaku
Memandang gelap langit malam
Dan renteng doa tak henti menyapa
Dari bibir waktu
"Kau dengar suara pilu dari detak angin
yang menyentuhmu?"
Tanyaku pada pada basah bumi
Dengan serpihan hati
Aku berdiri diatas tangis dan teriakan
Warga Aceh yang panik akibat gempa
dan tsunami yang membayang
Untuk apa dibangun
monument kematian ini
Jika bukan untuk mengingatkan
kebesaran tunggal
Pemilik segala kehidupan
Tapi kerendahan hati menjadi langka
Senyum terasa mahal dan menyiksa
Bagi nyawa yang masih
meraba dan menduga
Lenyaplah malam
saat kata-kata menjadi biang
Dan monument kematian
Hanya batu yang menanda
Siapa terkubur, siapa mengubur?

* Ulee Lheu, 2012

by Daisy Priyanti
Kifarin - 20/10/2012 09:29 AM
#2151

DI KUIL PNOMPENH

Langkah kaki tanpa sepatu menapak bumi
Sehelai kain menandai
Dengung mantra dari bibirmu
Mengeratkan waktu dengan jarimu
"Menjadi Budha, menjadi Budha.
"Tapi genggam tanganmu, biksu
Terlepas oleh bedil
Tangan dan lehermu terpahat parang dan kelewang
Gelembung darahmu melukis bumi Keriuhan mengalir
cekam sunyi membumbui
Pohon-pohon besar
yang menaungimu, biksu
Mendendangkan mantra untukmu
Saat engkau dibawahnya
terbujur tanpa kepala
Daun-daunnya bergerak
seirama tembang dari gaung genta
Mengantar ruhmu ke surga
Di sudut jembatan kota matamu terbuka
Melihat pancang kepala
para biksu tua dan muda

* Pnom Phen 2012

by Daisy Priyanti
Kufur - 20/10/2012 09:31 AM
#2152

Teriakan Buruh
I

berbagai bendera berkibar
dalam tatanan warna yang beda
tapi semua milik buruh
melambangkan perjuangan
buruh berduyun duyun datang
berniat menyatukan
tekat dan cita cita
yang sama
mendapatkan hak
martabat dan keadilan
dari penguasa

* Jakarta, Mart 2010

by Linda Sarmili
Kifarin - 20/10/2012 09:32 AM
#2153

Teriakan Buruh
II

satu persatu kaum buruh itu
memasuki pintu parlemen
lalu meneriakkan misi perjuangan
kaum buruh Indonesia:mengapa DPR diam saja
membiarkan pemerintah
tidak peduli
dengan nasib buruh
tertekan di pabrik-pabrik
gaji tak dibayar utuh
gaji diutang berbulan bulan
sementara majikan ongkang kaki
menikmati untung perusahaan
dan pemerintah menikmati pajak
yang sudah dikebiri koruptor
mengapa DPR diam saja?


* Jakarta, April 2010

by Linda Sarmili
Kufur - 20/10/2012 09:32 AM
#2154

Teriakan Buruh
III

satu persatu suara buruh duduk bersama
dengar pendapat
dengar pihak DPR
dan pemerintah
kami inginkan nasib kaum buruh Indonesia
di perhatikan
agar negara ini bisa bangkit
dari kemelaratan
semoga cita cita
dan maksud bersama
tidak dibelokkan
ke jalan berbelok-belok
dan berkelok
sehingga tidak mudah digiring
menjadi yellow union.

* Jakarta, Mei 2010

by Linda Sarmili
Kifarin - 20/10/2012 09:33 AM
#2155

Teriakan Buruh
IV

yellow union abad 20
serikat buruh yang didirikan
prancis untuk melawan jerman
serikat buruh tunduk
pada keinginan pemerintah
pada masa perang
benderanya dibuatkan
warna kuning oleh prancis
untuk menbedakan dengan
bendera merah
simbol serikat buruh mandiri
bangsa kita
buruh kita
saat ini punya musuh
yang sama dengan prancis
dan negara berkembang lainnya
kemiskinan
penguasa yang korup
dan pengusaha
yang kikir
serta rakus
buruh kita
di semua wilayah indonesia
kini berperang bukan
lagi melawan penjajahan
yang akan
merampas negara
tetapi melawan pemerintah
yang menekan nasib buruh
serta melawan pengusaha
yang rakus
dan suka mempermainkan
gaji dan nasib buruh.

* Jakarta, Juni 2010

by Linda Sarmili
Kufur - 20/10/2012 09:33 AM
#2156

Bumi Makin Sesak

Langit ada dimana mana
melingkupi segala
tak peduli rupa
bumi terbentang rasa
kita hanya bebas menapak
tanpa bisa memiliki
ketika langit semakin tua
bumi makin sesak
rumput semakin tinggi
semakin menusuk
bencana tak
jera mendera
rindu bara kepada Tuhan
kemana perginya

* Tangerang, Januari 2011

by Evi Melyati
Kifarin - 20/10/2012 09:34 AM
#2157

Kemiskinan

Jika cawan telah kering
seperti jiwamu
jangan lagi berlari
kemiskinan yang mengekang
membuatmu lebih suka
menarik kutang,
membuka pahaku
tahu itu bukan dirimu
mengadulah pada langit
pesantren tempatmu dibesarkan kibarkan bendera
setengah tiang
kembalilah sahabatku
sebelum sesal
datang membayang
berhentilah
seperti kapal
merindukan dermaga

* Tangerang, Fabruari 2011

by Evi Melyati
Kufur - 20/10/2012 09:35 AM
#2158

Nyanyian Untuk Guru

Guratan luka
adalah kepedihan
ketika rindu memanggil
memasung segala benci
dan dendam kala itu,
kami adalah deretan
kertas putih
tanpa makna
selama itu kita berpagut
dalam harapan
masa depan
yang terbentang
begitu jauh
begitu samar
kini kurangkai kata
untuk segala kebersamaan
yang pernah ada
tanah ini telah menjadi saksi
tentang ulah
prestasi dan kenakalanku
aku rindu pada segala
yang kulewati gemuruh angin
dan tanah berdebu
sungguh deras suaramu
memanggil membawaku
keluar dari kegelapan
dari kebodohan
seperti tak ada untuk terima kasihku
kepada bapak guru
kepada ibu guru pembawa cahaya
penerang gelapku
esok masih sangat panjang
jalan masih begitu jauh
cita-cita harus ditegakkan
temaram di kaki langit
mengiringi langkah
tiada berujung

* Tangerang, Maret 2011

by Evi Melyati
Kifarin - 20/10/2012 09:36 AM
#2159

Dipersimpangan

Dalam sebuah kemah
sampai dalam lingkungan
keabadian yang kau tinggalkan
telah hilang segala cahaya
alam ini tak pernah
siap kau tinggalkan
tetapi kini di persimpangan itu
kau benar sampai
dan aku tetap terpaksa
di ujungnya
aku tetap berharap akan
ada cahaya melingkupi
lingkungan keabadianmu
dan hanya doa
untuk segala perjuanganmu

* Tangerang, Desember 2010

by Evi Melyati
Kufur - 20/10/2012 09:38 AM
#2160

ALTERNATIVE ROCK

antara burangrang-wayang,
ketika melintas pindah ke puncak berikut: berpapasan
dengan harry moekti"assalamu'alaikum !"
teriaknya lantang mengangkat
tangan dalam salam metal dua jari,
lalu bersiputar menyerukan gairah
mengguncang kelengangan.
"hanya satu kata *)," teriaknya dengan gairah
mendesah: cinta? harry moekti
sigap menggeleng"yeeeahhh Allah,
you know: Allah!"katanya. melintas di padang eidelweis

*) judul lagu
harry moekti (adegan

05/10/1993

by Beni Setia
Page 108 of 110 | ‹ First  < 103 104 105 106 107 108 109 110 > 
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5