Poetry
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5
Total Views: 7141 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 16 of 110 | ‹ First  < 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 >  Last ›

Kifarin - 16/10/2012 03:02 AM
#301

Dua Sisi


Malam yang setia akan menyampaikan pesanku

Setengah terbata memintamu datang dalam sepiku

Kukais potongan-potongan kata yang tergeletak di sudut hatimu

Sedang kau belum menyadari aku telah lama bersemayam disana

Kurangkum semuanya menjadi sebuah sajak yang terlupakan

Dimana kau enggan untuk menoleh kebelakang


Maafkan aku yang buta dan membatu

Membiarkan semua sajakmu menjadi kepingan debu

walau aku memintamu merangkainya menjadi nyanyian untukku

Tak mampu ku eja semua makna yang kau susun dari tiap kata yang tercampak ku sengaja

Saat kalimat terakhir kau tuliskan, aku merasa kehilangan itu menampar kejam

Meskipun masih ada bait yang tersisa, ku tak tahu harus bicara apa


Mungkin jika luka tak menganga di balik senyum curiga

Kau memintaku dengan manis laksana cinta yang tak pernah habis

Rasakanlah sekejap saja, bahwa apa yang ada tak akan sirna

Percayalah sedetik saja, bahwa sepenggal kata bisa buatmu percaya

Meski namaku tertulis dalam nisan hatimu, akupun rela


by 7
Kufur - 16/10/2012 03:02 AM
#302

Emak Yang Ku Sayang

Di satu waktu kami berdiri menghadap sebuah pohon

'Mak, kenapa daun yang di ujung itu lebih kecil dan segar warnanya?'

'Dedaun itu baru tumbuh, masih bersih terang belum terjamah
'Itu namanya pucuk, Nak'

Di waktu yang lain kami duduk di bawah pohon yang sama

'Mak, kenapa sekarang daun-daun ini lebih rimbun mengisi ranting-ranting?'

'Dedaun itu terus tumbuh dan berkembang, kalau segala pemberian kepadanya bagus, tumbuhnya juga rindang
'Warna dedaunnya pun lebih matang dari sebelumnya'

Di satu musim yang lain, kami duduk -dengan tetap- memperhatikan pohon yang sama

'Mak, kenapa daun-daun di pohon itu jadi berbeda-beda warnanya?'

'Ini pohon ada punya usia, Nak'
'Dari awal muda tumbuh hingga tua
'Sebelum mereka jatuh gugur dan berganti daun baru, mereka perlihatkan indah warna-warni yang takkan terlupa'

Selalu -di satu musim yang berbeda pula- ketika hampir senja
Aku terduduk di bawah pohon yang sama seperti sebelumnya

'Mak, Emak benar. Daun-daun itu jatuh jika tiba waktunya'
'Dan aku juga, ingin bila suatu saat itu tiba, aku jatuh tak jauh di atas tanahmu, Mak'

Hening
Tak ada lagi suara Emak.


by Ly_just_a_named
Kifarin - 16/10/2012 03:03 AM
#303

Oooo sang surya


Dalam getar hati yang memuja

Aku melihat diriku dalam suka

Saat engkau datang dalam cintaku

Bertahun-tahun muntahan busuk dari beberapa hariku yang kelam

Kini, keluar dengan kelegaan yang lapang..

Dulu jiwaku selalu hendak menjerit, tapi jeritan itupun tak mampu meluruhkan luka yang terlanjur menganga.

OOoOoo....Hampir tak kukira sang surya datang mnerangi malamku yang gelap.

Mimpi burukku tentang merapi yang siap meledakpun hilang karna cahayanya yang membangunkan tidur lelapku...

Oooooo sang surya..tak takutkah engkau ikut kelam bersamaku?

Tak takutkah engkau..?

Aku mulai tersenyum bersama tatapan yang memberi jawaban

Bahwa kau ingin bersamaku selamanya..

Hidupku kini bagai sentuhan air sungai jernih yang mengalir.

Bersih, sejuk, dan tiada kegersangan.


by Armelia
Kufur - 16/10/2012 03:03 AM
#304

Merahmu Tak Lagi Merah, Putihmu Tak Lagi Putih


Barangkali karena tak lagi dimerahkan

Barangkali karena tak lagi diputihkan

Warnamu usang,

tiangmu patah.

orang-orang sibuk menjadi uang

orang-orang suka jadi uang

orang-orang mabuk uang

merahmu ada pada uang

putihmu ada pada uang

orang-orang menjadi serakah.


Barangkali karena tak lagi dimerahkan

Barangkali karena tak lagi diputihkan

semangatmu luntur.

merah putih ada di kantong-kantong pejabat

sesekali ada di kantong rakyat

sayang,

merahmu, putihmu

hanya ada di hati rakyatmu yang papah

yang selalu bersemangat bernyanyi INDONESIA RAYA


Merahmu tak lagi merah

Putihmu tak lagi putih...



by lestari jingga
Kifarin - 16/10/2012 03:04 AM
#305

ANGIN PANTAI

Dik, matamu pijar mentari dipeluk senja
jatuh tenggelam di lubuk samudera
membentuk kenangan di rembang ingatan
menjadi anak-anak rindu dikejar gelombang
dan angin berlarian di kelopaknya
sebelum senyap kembali datang
ketika kau menutup mata.

Dik, di pesisir pantai nan senyap, bayanganmu lenyap
kini ada perasaan menderas bagai ombak nerkamkan karang.
Sedang senja membawa pesan kematian
burung camar tegar menera lara
kepaknya karam di debur samudera.

Dik, di sepanjang pantai angin bertiup
seperti ombak bergelayut di punggung laut
menjadi tiada - direnggut maut.
Di sanalah kau dan aku terlahir
sebagai perahu, bertolak kehiliringatan.

Rafael Yanuar (4 Juli 2011)
Kufur - 16/10/2012 03:05 AM
#306

kisah sang setan cinta


Inilah aku, invisible

Siapa yang bisa melihatku?


Inilah aku, can’t be touch

Siapa yang bisa menyentuhku?


Inilah aku, can only be felt

Siapa yang tidap pernah merasakanku?


Inilah aku, few have seen who I really am

Banyak yang belum pernag melihat ketulusanku. Apakah kamu salah satunya?


Inilah aku, few has been hurt by me

Banyak yang belum merasakan duri dariku. Apakah kamu salah satunya?


Inilah aku, never lie

Percayakah kamu padaku?


Inilah aku, never gets old

Ku sudah buktikan itu.


Inilah aku, never dies

Aku percaya kamu tau itu.



by jec.tian
Kifarin - 16/10/2012 03:06 AM
#307

Berlari Dengan Angin


Dengan kecepatan tertinggi

Aku akan berlari bersama angin

Melewati kecuraman tebing

Menembus kenyataan aku akan terus berlari

Aku menutup mataku

Mempercayakan angin untuk menuntun

Ke mana aku akan pergi menuju

Aku akan berlari ke mana pun dia berhembus

Bila aku berhenti

Maka angin pun akan berhenti

Dan aku akan tersesat

Dalam kegelapan tanpa arah



by yarra
Kufur - 16/10/2012 03:06 AM
#308

Canda dikala Buka

Riuhnya tertata rapi di tepian alur zebra
Memakai muka penuh canda
Riuhnya tertata juga di dinding rongga
Merana merasa dahaga

Aroma cita mengikat lidahnya
Belum terasa tapi menyiksa
Liurnya menyapa kaki lima
Meronta-ronta untuk berbuka


by fendyhape
Kifarin - 16/10/2012 03:07 AM
#309

SAAT SEMUA TAK HARUS TERUCAP


Semua sudah kukatakan

Nyaris semuanya kumuntahkan

Tiap kuingatkan tiap itu pula aku bergetar

Tapi kau tetaplah kau, tak jua terpendar


Semua sudah kuberikan

Nyanyian terakhirku sudah kudendangkan

Tiap kuserahkan milikku seketika juga menggeletar

Tapi kau masih kau yang sama, tak pernah buatku berpijar


Sekarang aku gontai penuh peluh kelelahan

Nafasku sudah tak lagi membuatku bertahan

Tiang-tiang hatiku sudah bergelimpangan terbunuh halilintar

Tak ada lagi yang kuucap, kutitipkan saja mataku yang masih setitik-titik bersinar



by yayagyp
Kufur - 16/10/2012 03:07 AM
#310

PEMAKAMAN CINTA

Aku bagaikan setitik air di atas lembah yg grsang
Dgn wajah yg kusam & senyuman yg usang

di kuburan syair2 yg memilukan aku terbaring
menatap kosong saat matahari menyinsing

prlahan bunga kamboja meneteskan air mata
bgitu pula cemara2 menatapku dgn rasa iba

ilalang yg semula bergoyang sesaat terdiam dan bertanya
"ada apa dgn mu wahai kawan????"
aku hanya diam
kerikil2 kecil yg bergelinding pun bertanya
"hai kawan jgn kau berbaring disitu!!!"
aku hanya diam
daun2 yg berguguran krn ciuman angin pula bertanya
"kawan ku mengapa kau hanya diam saja???
aku msh tetap terdiam membisu

tp ketika mayat yg harum baunya terbangun
dan berdiri di depanku dan bertanya
"duhai saudaraku apa yg sedang kau lakukan disini???

aku menjwb: "AKU INGIN MENATAP CINTA"



by kelelawar hitam
Kifarin - 16/10/2012 03:08 AM
#311

KUMIS EMPAT PULUH SATU LEMBAR


Kamu menjulang tinggi ditengah-tengah candi yang kau dirikan

Berhias kumis empat puluh satu lembar, hitam semua

Katamu tegak selalu siap menghujat lurus sejurus pada pandangan

Bagian rasa mana yang tak akan kau sesap, kau nirwana


Kamu luas seperti samudera yang kau hadirkan di depan matamu

Masih berhias kumismu yang masih empat puluh satu lembar, semua hitam

Katamu yang lurus temurus selalu bisa diinjak-injak dan abu-abu

Bentuk seperti apa yang tak bisa kau resapi, kau batu


Satu malam membuatmu terbalik

Kumismu tak lagi empat puluh satu lembar

Satu masa menjungkirmu terbolak-balik

Kumis hitammu itu tak lagi empat puluh satu lembar


by yayagyp
Kufur - 16/10/2012 03:09 AM
#312

SENJA INI AKU MERINDUKANMU LAGI

Kita bertanya cinta
seperti camar di balik awan
merenungkan bagaimana
langit bisa menyentuh samudera.
Sedang senja terbenam ragu-ragu
menyaksikan dua sedjoli
menyantap jagung bakar
mesra-mesraan.

Saat itu, ada hal yang ingin aku pahami dari waktu
adalah tahun di mana batu
yang mengeras di benak kita
pecah oleh setetes maaf.

Kau malah tersenyum
Tahan dulu dukamu
rasakan angin segar masuk
dari jendela yang sudah lama tak pernah kita buka.
Aku menyentuh degup
menikmati senja di pesisir
dan menyaksikan ombak
menghanyutkan sajak yang belum usai kita tulis.

Sudahlah, biarkan menjadi romansa ikan-ikan di lautan aku pun tertawa mendengar kelakarmu.

Kini, setelah menulis puisi
aku merasakan ada pelukan dari belakang
hangatnya demikian relung menyentuh ingatan.
Apakah di sana
kau juga sedang merindukanku?

=)

Rafael Yanuar (11 Agustus 2011)
Kifarin - 16/10/2012 03:11 AM
#313

Mengantar Kata


AKU.

Siapakah AKU?

Tak seorangpun tahu,

Pula dirimu.


Takkan kujelaskan AKU,

Pun kepadamu.


Maka kurajut tulis tentang AKU.

Biarlah dirimu menilai AKU.

Apapun itu.


Bagi mereka,

Yang menjamah takut diriku.

Nilailah AKU disini,

rasakan bosan meresap dalammu.

karena ini,

hanya puisi… Diri


by Lions cave
Kufur - 16/10/2012 03:12 AM
#314

Kepadamu


assalamualaikum

aku datang dengan menyerah.


asalamualaikum.

asalamualaikum.

asalamualaikum.

aku datang dengan pasrah.

aku datang dengan tunduk.


kuceritakan pada kalian sahabat.

Dimasa Nabi Muhamad.

Banyak umat Nabi yang buta Huruh Al-Alquran

Anfal.

Demi Pena Dan Aksaranya

banyak dari tawanan perang yang sanggup membaca dan menulis huruf arab.

Nabi menyuruh setiap tawanan perang mengajar baca dan tulis

tiap orang diberi tugas.

bahwa setiap satu tawanan perang harus mengajar

sepuluh orang belajar baca dan tulis.


aku diburu rasa kematianku atas hati nurani yang

memburuku dengan tombak di tangan kiri

dan trisulanya ditangan kanan

seolah meredup sinar matahari

bagaikan es batu udara yang melingkari kedua kakiku

sedikit hanya sedikit lingkaran itu

melingkari kedua kakiku

aku menggigil beku seperti es batu

sungguh aku takut.


aku diburu kebutaan mataku

seolah terlaknat terkutuk

sosok perempuan setengah tua

Ibu

inspirasi dari segala benih kehidupanku

murung kadang aku begitu

rindu kangen menyatu padu

aku tidak merasa apatis dengan

dengan keinginanku.


yang aku tahu

suatu hari aku bisa ketemu dengan ibuku


aku tidak kenal bapak.

yang aku ingat sampai sekarang

Ibuku pernah bercerita kepadaku

tentang bekas luka hatinya


gigi ibu rompol satu

habis di tinju bapakku


aku merasa tertipu

kenapa dulu bapak berniat membuatku


aku tak malu

sama sekali

aku akui aku begini


maaf

pelarianku


aku sering berlari

menggendong lembaran demi lembaran

aku sering menyebut huruf huruf itu dengan huruf pedang

aku tidak bisa membacanya dengan fasih

aku baca translitanya hampir setiap malam


aku ingin sekali bisa membacanya

ajari aku agar aku bisa membacanya

ingin sekali aku membacanya

ingin sekali aku melagukanya


ajari aku

maukah engkau. ?

a ba ta sa ja



by Aspal_panasku
Kifarin - 16/10/2012 03:13 AM
#315

Aku ingin melukis


bayangkan

dari mulai satu helai rambut

kemudian lurus dan ombakan helai rambut

kemudian setitik pori-pori dikening


alis sehelai alis

kadang kedua alis mata kita berbeda

rekam kuat dalam ingatan kedua alis

mata

kemudian kedua mata

kadang matapun ada yang berbeda


kulit dahi pori dan kulit yang membungkus dua mata kita.

bayangkan kuat rekam dengan ingatan !! simpan kuat-kuat

ingat !! harga dari sebuah ingatan itu melebihi emas .


kulit dan daging tipis yang dibawah mata

tahukan ...


rekam

simpan

genggam

bayangkan



hidung

jika kita bedakan antara sisi kiri dan kanannya

kadang beda kadang pula ada yang sama persis

bentuknya .


~ itulah hidung yang cantik dan langka

~ ....

~ lubang hidung lekukan bawah lubang hidung


Mulut

dagu

pipi


Rekam

sayangilah hidup


aku berdoa

Tuhan aku kesepian siang malam

Tuhan aku kekurangan

Tuhan aku kebingungan


rekam

bilamana tangan dan jemari kita belumlah bisa menguraikanya

sabar kita musti belajar .



by Aspal_panasku
Kufur - 16/10/2012 03:15 AM
#316

Sabak Pintar


Terpekur memandang,

tak percaya.


Mobil beradu kecepatan,

dalam lintasan bercahaya.


Kata terangkai,

kursor berkedip menunggu lanjutan.


Berselancar,

mengelilingi dunia dalam genggaman.


Berbalas surat,

dag dig dug tunggu balasan.


Menyebar pesan,

kondisi kadang kekesalan.


Melagu dendang suara,

biarkan kenang mendominasi.


Memandang wajahmu,

dalam jauh pengobat rindu.



by just_hammam
Kifarin - 16/10/2012 03:15 AM
#317

Catatan pagi kemarin


Senja tadi ketika guratan warna jingga tertutup kelambu petang ini

sepasang merpati terbang menari nari diatas awan

seolah aku merasa bahwa aku ini batu kerikil yang dilempar tangan keatas

dan jatuh ke lelehan aspal ,aku digilas stom, rata diratakan, halus bagi pijakan.

lalu gemuruh badai dan mendung menghardik langit dengan senyuman

merekah bunga bunga bermekaran dan bulir demi bulir aku rasakan

dari bunga dan daun daun yang lelah menopang air

air

jatuh didahiku

merambat melewati selamata kiri diatas hidung

jatuh dibibir kucecap asin


aku kau hanya ingin dicintai dan mencintai

aku bingung

aku mencintai


daun

bambu bambu merunduk

seperti menangis

..

diatas air sekilan tangan

kabut dari utara berhembus keselatan

..

kecipak bader soca malamr ini

membakar semangatku menyanding pagi

menunggu matahari bersinar terang

..

rumput-rumput mengembun

nampak dari jauh terlihat

..

seperti berlian

seperti berlian

bening menembus membias hingga warna hijau terlihat seperti pelangi


fajar

ayam-ayam keluar dari kandang

didepan tanah yang kududuki

ia mencakar-cakar


aku merasa senang

si ayam dapatkan makanan

cacing ..

dia meronta-ronta menggeliat-geliat

dibawa lari oleh si ayam

diparuhnya si cacing berontak


Ya....

ayamlah yang menang

cacing ditelan


kembali aku melihat

riak kecil di air


hampala

hampala


udang wader dan ikan ikan kecil lainya

lari bersembunyi menyelamatkan diri


aku dapat sesuatu

kuambil joran walesan begitu juga reel dan senar

kurakit dengan poper sebagai umpan


Ya ...

kulempar tepat diatas

ketika hampala mengejar mangsanya

dalam hatiku

Hampala



by Aspal_panasku
Kufur - 16/10/2012 03:16 AM
#318

narkoba


Cintaku kepadamu

seperti cintanya seorang pecandu

halus dan pelan

ringan dan membahagiakan

melayang -layang terbang


Kuhirup rokokku dulu

"break"

kutenggak kopi

kusulut api

duduklah engkau disini

merenungi nasib kita dikemudian hari



by Aspal_panasku
Kifarin - 16/10/2012 03:17 AM
#319

Ratapan Sendu sang Garuda


Gelap…

Tersudut di ruang kecil dunia…

Terjerembab…..

Dalam perih luka menganga…


Ingin rasa bebaskan diri

Ingin hati seperti dulu lagi

Namun langkah tak jua beranjak

Tertahan …..

* * *

Kini aku terbang tinggi

Bersama kawan ku ingin berbagi

Hapus sakit, perih yang pernah kurasa


Ingin aku terus terbang, lagi…

Tinggi… tinggi dan terus semakin tinggi

Yang bahkan kini kuabaikan

Sebelah sayap luka kian terpatahkan


Berpacu…..

Ingin aku terus melaju…

Ikuti persaingan , kawan

Tak peduli erangan

Terus melawan arus zaman


Hingga akupun tak berdaya

Kembali….

Aku terjatuh dalam gelap

Tersudut di ruang kecil dunia…



by Finn
Kufur - 16/10/2012 03:18 AM
#320

Preambule


Tanpa sangka,

Tanpa gejolak pikir.


Kukotak karyaku,

Kubagi,

Kucabik dan kucerai.


Di ini kukotak untukmu.

Yang kucinta,

Tentang cinta.


Yang darimu keluar kata,

Karya,

Cita.


Merasuk,

Menusuk,

Merajam….


Biarlah.

Kusembahkan untuk kalian,

Dia dan itu,

Yang mencinta dan dicinta.

Hanya puisi… Cinta.



by Lions cave
Page 16 of 110 | ‹ First  < 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 >  Last ›
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5