Poetry
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5
Total Views: 7141 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 4 of 110 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›

Kifarin - 15/10/2012 09:56 AM
#61

Yang Hilang

Katakan saja perempuan ini lelah,
Bukankah engkau yang ajakku mendaki bukit turuni lembah?
Mengapa pula tanyamu masih menjelma gundah?
Semu ada, tersirat dalam kisah
Ambigu nyata bawaku ke tempat - tempat terindah

Lihatlah ke sana,
ke arah matahari haru dalam bilik kecilmu
Akankah kau temukan aku?
si Perempuan bisu,
gelap yang terselubung beledu, atau semacam tubuh membatu

Mohon ampun atas tembok angkuh itu
Satu diantara seribu, sesuatu yang absen itu adalah aku

Anggap saja perempuan ini lemah
Bukankah aku sejatinya hanya gumpalan tanah?
Seumpama tanah ini lebur kembali, sudikah kiranya engkau letakkan ros putih untuk sedikit temani sepi?

Menemukanmu membuatku semakin ingin pergi
Lari menjauhi jeritan - jeritan sekian hati
Lari bersembunyi jauh ke tempat terbuang,
yang berkumpul di dalamnya orang - orang hilang

Aku bercerita tentang Perempuan ini
Aku, ada
namun entah di mana


by my steReopain
Kufur - 15/10/2012 11:23 AM
#62

Perginya Sang Fajar


Cahaya fajar, siang benderang

Tenggelam di malam kelam


Mentari merenung, adakah sinarnya

Menghidupi makhluk segala?

Berharap, tak berkesah?


Akankah fajar baru menjelang?

Ataukah patah asa, akhir dunia?


Entahlah, mentari hari ini sirna

Telah berpancar sedaya upaya


Biarlah mentari esok berkiprah

Dan hari ini tidur damai

Di pelukan mesra purnama



by vadis
Kifarin - 15/10/2012 11:24 AM
#63

Tidak Sedang Ujian

Kita tidak sedang ujian
Karena kamu bukan pilihan
Melainkan jadi keputusan

Kita tidak sedang ujian
Seperti esai yang terus dijabarkan
Dan kamu belum juga paham

Jangan pula terus pertanyakan
Setiap saat tentang perasaan
Karena, kita tidak sedang ujian


by lauradamerosa
Kufur - 15/10/2012 11:25 AM
#64

Layang-layang


jika kau punya cinta, terbangkan bersama layang-layang

jika kau tak punya, kubur dalam-dalam

jika kau punya cinta tapi terkubur dalam-dalam

ambil bambu kertas dan benang, buatlah layang-layang

jika kau beruntung

langit akan menghalau mendung

dan angin, dengan sukarela pasti segera turun gunung


Jika kau punya kisah, kejarlah layang-layang

sematkan ekor panjang,

dan semoga kisahmu tersampaikan pada angkasa terbentang

Jika kau tak punya apa-apa

carilah cinta



by Bampi73
Kifarin - 15/10/2012 11:29 AM
#65

Tears


air mata -- murni, tak ternoda.

melihatnya indah,

namun tidak jujur.

tertipu dengannya, sama dengan masuk ke pelosok hutan rimba.

berat untuk keluar darinya, seakan terkunci tak tau jalan keluar.

jika tidak mempercayainya,

dia akan membuat kita berfikir akan kemurniannya.



by Jebol 28
Kufur - 15/10/2012 11:33 AM
#66

DIA dan dia


2006

Suara itu. Baru sekali aku dengar dengan jelas.

Siapa DIA? akupun tak memahaminya.

Siapa aku? aku tidak yakin DIA mengingatku.


2009-

Dan DIA hilang dari hidupku.

tapi DIA masih dibenakku.


-2009

DIA hadir. Kembali. Dihidupku.

Dengan segala perubahannya.


2010

Tunggu, aku salah.

DIA tidak kembali. tapi itu dia

Siapa dia? akupun tak memahaminya.

Siapa aku? aku tidak yakin dia mengingatku


2011

aku sadar telah terjerumus untuk kedua kali.

kesalahn fatal konyol.

DIA dan dia begitu sama. itu yg kulihat.

tapi bagi orang lain, mereka tidak terlihat sama dari segi manapun.


2012, segara datang

lengkap sudah kesamaan DIA dan dia diamataku.



by Jebol 28
Kifarin - 15/10/2012 11:34 AM
#67

Putih - Abu - Hitam


Indah,

itu yang aku rasakan


salah?

ya


ini adalah warna abu ku,

ingin putih? Tentu

Ingin hitam? mungkin


Ingin rasanya ku hapus cinta abu ku,

namun apa daya,

aku menikmatinya,



by hijau
Kufur - 15/10/2012 11:35 AM
#68

SAJAK PENYAIR MATI

Penyair mati ketika sajaknya hanya sampah
Sewaktu mahkota kepala meminta tumpah ruah
Dengan semua keAkuan diatas logika membumi
Kata-kata itu dari tanah, udara dan air, kawan!

Sajak penyair itu mati tanpa doa para peziarah
Hanya buih kata-kata keAkuan nisan kuburmu
Mati ketika apa yang didapat dari alam kau ingkari
Perut bumi itu semua sajak, bukan isi kepala penyair!

Penyair itu dibunuh sajak-sajaknya sendiri
Ketika tawa penyair mengangkangi bisik tanya anak alam
Penyair itu mati tanpa kesucian puluhan makna kata, tak satu pun…
Mati karena sajak yang membuatnya jadi penyair tanpa pijak bumi

Yayag YP
19/10/2011
Kifarin - 15/10/2012 11:36 AM
#69

Aku, Terlalu...


Melesak dingin ucapmu

Sesak dadaku

Diammu menancap sembilu

Di jantungku

Oleh tanganku

Sendiri

Nyeri


Terlalu besar rasa bersemayam

Tanpa terpahami

Hanya asa ingin cipta pelangi

Di pendar matamu

Di hangat rengkuhmu

Di ujung harap menghapus semu


Kupinta,

Secercah senyum

Lumatkan semua gundah

Hujani hati terbakar resah

Mu..untuk Ku..



by nixyan
Kufur - 15/10/2012 11:37 AM
#70

Tuhan, Sembunyikan Rindu Dariku


#1

Isi kepalaku pagi ini masih disekitaran kenangan lima tahun lalu,
tentangmu.
Entahlah ini sebuah kesalahan atau bukan, tapi kau memenjarakan imaji
dan menyesaklah aku di sana. Terkurung bersama ribuan kenangan dan teror-teror senyummu,
kau candu.


#2

Ingat saat pertama kita bertemu, bertukar sapaan, lalu bertukar pandang. Hentakan di dadaku bagai letupan mercon yang ramai dimainkan anak-anak di malam lebaran atau tahun baru. Kemudian lahirlah begitu banyak kekupu di perutku, hingga mengganggu lelap tiap kali merebah diri. Lagi-lagi aku terkurung di sana, dalam matamu yang lindap.


#3

Lalu pada suatu sore, kau ajak aku makan di warung sederhana. Meneliti wajahmu, seperti ingin mengatakan sesuatu. Rasa penasaran membuatku mengira-ngira, yah ungkapkanlah segera. Aku membatin. Namun, hingga makan bersama telah usai yang kutunggu meluncur mulus dari mulutmu tak juga terucap. Cinta, mengajariku kesabaran.


#4

Pada akhirnya aku mengerti yang tak terucap darimu, tapi terbaca dari tindakanmu. Ah, cinta memang tak cukup melalui kata.


#5

Kenangan itu tumbuh subur bersama bayang-bayang yang kau kirim pada tidurku. Entah karena harga barang yang naik tiba-tiba, hingga membuat perhatianmu ikut terkena inflasi. Aku seperti pedagang kaki lima yang sibuk mengaso di sepanjang jalan, jalan yang pernah kita lalui. Kau tahu, bagaimana beratnya menanggung beban rindu? Tak bisa tidur satu hari satu malam saja belum cukup. Aku, lima tahun saja masih belum cukup.

#6

Isi kepalaku, hingga saat ini masih dipenuhi tentangmu. Tuhan bisakah rindu kau sembunyikan dariku? Sungguh aku hanya ingin melepas dengan ikhlas, agar lima tahun mendatang aku tak lagi bersama kenangan.

20 September 2011


by lestari jingga
Kifarin - 15/10/2012 11:38 AM
#71

Satu Hari Jelang Tangis Darah

Detakdetik jelang kontemplasi
Engkau justru berbagi bising merah
Knalpotknalpot sudahlah memekakkan telinga

Detakdetik jelang kontemplasi
Tawatawa sukasuka
Tangistangis lukaluka
Menggenapi adonan sumpah serapah yang bermandi darah diatas penutupnya
Barabara asapasap
Merajam pori memotong nadi

Detakdetik jelang kontemplasi
Dimensi tanpa ventilasi
Kedap membunuh cahaya dan nada
Kicaukicau burung sirna begitupun bungabunga
Pohonpohon mati dan sungai kering merona
Sisasisa asap sesekali keluar dari rantingranting gosong muda

Detakdetik jelang kontemplasi
Jelaga memekat lekat di tungkunya
Api membakar hampir paripurna

: satu hari jelang tangis darah


by Tetes Embun Pagi
Kufur - 15/10/2012 11:39 AM
#72

Darah Padi

pekik dalam mimpi, merasuk dalam padi
tak kurang dari 231 juta kepala terpana

O, opera antiklimaks
peran tak berganti ganti, sebagai padi
dituai mati

mati satu tumbuh seribu, bayi bayi
tangis mereka, hutang berkati kati
berapa kali pagi berganti,

tapi janji tak pernah ditepati
kata kata menjadi doa, remuk digilas waktu
tangan tangan terkepal, malu mengeja kasih

tak kurang dari 231 juta kepala berkata
tulang jadi abu,
airmata jadi batu


HariDjogja
13mar2010
Kifarin - 15/10/2012 11:40 AM
#73

What The Hell?


Lembayung hari ini terasa dingin

Meski beberapa hari kebelakang gerah mendesak

Peluh yang tak henti merangkak

Di musim penghujan


Aku sudah menetapkan siapa kirana hatiku

Sudah ku pampang jelas namamu disitu

Agar semua orang sejagat-raya tahu

Kau milikku dan aku milikmu


Hell, harus seberapa kerasnyakah ku yakinkan padamu

Membuktikan bahwa aku,

Atas izin Tuhanku,

Takkan berpaling darimu


Aku tak kan, Hell

Tolong jangan membisu dalam amarahmu

Percayakan hatiku di hatimu

Aku cinta kamu, Hell


: teruntuk Suhaeli Hamdhawi



by souLYncher
Kufur - 15/10/2012 11:40 AM
#74

gamang tenang


dalam bimbang, hati adalah cahaya. menyeruak dalam jiwa

jadi biarkan saja rasa ini terus berkuasa...

dalam diam, sepi

aku bisa jadi diri sendiri...



by key.lanie
Kifarin - 15/10/2012 11:41 AM
#75

Tubuh-tubuh Terpasung

Engkau terpedaya
Tersesat di matanya, mata bercahaya yang mampu membuka pintu neraka
Namun mereka berkata bahwa itu adalah kutukan para dewata
Di sanalah tempat bersemayam kebencian Hera sang dewi durjana
Maka mereka membutakan tajam pandangnya

Jeritan lirih yang meminta hati, disanalah semua di awali
Rayuan yang membuat Adam lupa diri Melemparkannya dari taman surga, berkelana sebagai makhluk biasa
Mereka tutup mulut kejinya! beribu teriakan tak hendak membuat kerikil menjadi mutiara

Sejatinya, tubuhnya adalah gugusan bukit dan lembah dimana surga terhampar indah
Tubuh yang terperangkap dalam pasung abadi,
kekang - kekang berduri yang memaksanya berdiri setinggi padi
Terpenjara dalam jeruji yang membatasi tembok - tembok alienasi, berkawan periuk nasi

Sementara di luar sana tangan dan kaki mereka bebas liar merambah belantara
Meninggalkan tubuh terpasung diantara debu dan arang
Tempat kuali dan periuk bergemerontang


by my steReopain
Kufur - 15/10/2012 11:43 AM
#76

Lapang


tak perlu menyisakan benci

serta praduga ;

telah lapang meski menyisakan lubang


khusyuk menguap peluh

hingga hendak bersimpuh


jejak kan hilang

oleh waktu yang jalang


mengembara,

menuju praduan bermandi cahaya ;

meski dengan lubang di dada



by RIf
Kifarin - 15/10/2012 11:44 AM
#77

TERULANG LAGI


terulang lagi..

hhah

aku menertawakan kebodohan ku

dari bayang cermin didepan ku

tersenyum sinis

memandang wajah lugu itu yang kembali tersakiti



by maru
Kufur - 15/10/2012 11:44 AM
#78

Clianta Disana

Mata tak tahu bentuk rupa
Hanya bayangan tanpa nyata
Muncul kepermukaan jika bicara
Tanpa rasa benci dan dusta

Engkau satu permata langka
Berdinding iman, saleha, takwa
Tiada menyambut tangan neraka
Satu dari keajaiban dunia

Mungkinkah engkau itu?
Sebelah kiri sayapku?
Duduk menunggu untuk bersatu
Kemudian terbang ke langit biru

Jika kita tak satu benang
Biarkan engkau aku kenang
Sebagai bidadari yang hilang
Dari hati yang dalam

191009 1623


by Shin Elqi
Kifarin - 15/10/2012 12:40 PM
#79

Rindu untuk Nabil

Membidik angkasa
ku aduk awan hitam yang menggelayut manja di langit senja

"Hujan kapan datang?
sudah lama aku tak mencium harum bumi.terasa hangat sangat ketika ia pertama kali turun."

"Bersabarlah kawan!aku pun merasakan hal yang sama denganmu."

"Ah...
engkau ini...
kenapa kita tak saling cemburu?
mencintai satu

aku edelweis...
menanti sampai mati pun aku akan tetap merekah indah
dan manusia akan selalu tersenyum tatkala menatapku

kau butiran debu...
bila ia datang
kau akan luruh jadi genangan,kenangan."

"Sobat...
cemburu adalah keputusan yang egois.
bahagia adalah pilhan,sebuah fermentasi rasa yang tergantung dari mana kau melihatnya,
tergantung dari bagaimana kau menyikapi keadaanmu sekarang.

kata orang memang semestinya begitu.
tapi tak selamanya yang banyak itu benar.
namun lebih cenderung pada pembenaran.
benar...
benar menurut siapa?

jika kau merasa tak ada keindahan dalam hidupmu,maka berinisiatiflah,
ciptakan keindahan itu sendiri,untukmu sendiri.
dan sekarang itulah yang aku lakukan.

meski nanti aku akan hanyut bersama ramai rinai hujan
kesabaranku menunggu
akan terbayar oleh nyanyian katak di persawahan
pun euforia para petani
keabadianmu tak sedikit pun membuatku iri
saat itu dunia ini akan larut dalam simfoni
kau juga kan?
darimana hangat dan harum bumi yg kau inginkan itu bisa tercipta,bila aku dan hujan tak menyatu?"

-blarrr-
pandanganku buyar
lalu ku reguk habis racun itu
sebotol rindu padamu,tanpa jemu



by Dhanielo Lfc
terrydaayu - 15/10/2012 12:54 PM
#80

Coba share puisi ane gan malu

Quote:

Jika saja sang fajar mau menyapa
Mungkin embun enggan beranjak
Enggan meninggalkan dedaunan'
Enggan menanggalkan bau basah

Riakku berdetak
Mengalir menyelusuri kehidupan
Menawan candu yang berbatas

Larutku terdiam dalam kelam
Menepis duka yang mendalam
Meninggalkan terang yang berbisik
Mengintip dari balik awan
Awan yang tenggelam dalam kalbu

Ingatkan diri pada bilik yang tabu
Yang merindukan cahya terangkan kalbu
Menyusuri jalan yang berliku
Tuk gapai mimpi dan citaku...

Page 4 of 110 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5